Anda di halaman 1dari 47

Menghitung Dosis Obat

Obat untuk anak biasanya dihitung menurut berat badan. Ada yang dihitung kebutuhan
sehari dibagi 3 dosis, ada yang dihitung per kali, lalu diberikan tiga dosis. Sayangnya
kemasan obat sering tidak seragam. Kapsul A dan B dari obat yang sama berisi dosis
yang lain. Satu sendok dapat berisi miligram obat yang berbeda.
Penurun demam

Obat standar biasanya parasetamol (generik) yang dijual dengan nama dagang Tempra,
Panadol, Sanmol, Bodrexin dll. Dosis parasetamol adalah 10-15 mg/kgBB/kali. Misalnya
anak dengan berat badan 10 kg memerlukan parasetamol 100-150 mg setiap kali
pemberian. Sayangnya, takaran parasetamol berbeda-beda. Satu sendok 5 ml dapat berisi
parasetamol 125 mg, 160 mg, atau 250 mg (bentuk Forte). Setiap 0,1 ml drops berisi
parasetamol 10 mg.

Masa kerja parasetamol agak pendek, sehingga sering memerlukan 4 kali pemberian/hari.
Parasetamol tidak merangsang lambung, tetapi pemberian terlalu banyak dan terlalu lama
menyebabkan gangguan fungsi hati.

Obat standar lain misalnya ibuprofen (Proris). Dosis adalah 10 mg/kgBB/kali. Setiap
sendok obat 5 ml dari Proris Suspensi berisi 100 mg, sedangkan Proris Forte berisi 200
mg. Proris sebaiknya diberikan setelah makan untuk menghindari iritasi lambung.
Obat pilek

Yang paling sering adalah pseudo-ephedrin, misalnya Alco, Actifed, Neo-Triaminic.


Kemasan dalam bentuk drops memudahkan pemberian untuk anak kecil. Untuk bayi
kurang dari 1 tahun diberikan 0,2-0,4 ml setiap kali, boleh diulang 3 kali sehari. Obat ini
menyebabkan mengantuk.
Obat batuk

Obat batuk hitam masih menjadi standar. Boleh diberikan. Selain itu sering digunakan
Bisolvon atau Mucopect untuk mengencerkan lendir.
Obat diare

Sebenarnya sebagian besar diare disebabkan oleh virus dan akan sembuh sendiri dalam 3-
4 hari. Obat terpenting adalah menjaga agar tidak terjadi kekurangan cairan tubuh.
Pemberian larutan gula-garam merupakan hal paling penting. Pedialyte merupakan cairan
gula-garam yang komposisinya sudah disesuaikan dengan kebutuhan anak. Berikan
sebanyak jumlah feses yang keluar, kira-kira 30-50 cc setiapo mencret. Bila
menggunakan oralit, harus di encerkan karena komposisi oralit dirancang untuk orang
dewasa. Oralit untuk 200 ml diencerkan sampai 300 ml.
Takaran obat sering menyusahkan.

Drops. Sering digunakan untuk memberikan obat berbentuk cair untuk bayi. Ada pipet
dengan ukuran, misalnya 0,4 ml; 0,3 ml. Ada pula pipet yang digunakan untuk
menghtung tetesan, misalnya 3 x 10 tetes. Obat berbentuk tetesan jangan diberikan
langsung ke mulut bayi karena bisa kelebihan bila obat menetes dengan cepat.Pipet juga
jangan langsung, karena pipet menjadi kotor bila tersentuh mulut.

Sendok obat. Satu sendok the dimaksudkan sama dengan satu sendok obat, yang berkuran
5 ml. Biasanya ada gars di tengah menunjukkan 2,5 ml. Satu sendok makan artinya 15
ml.

Puyer. Dokter di Indonesia masih suka memberi puyer. Biasakan untuk meminta copy
resep sehingga kita tahu apa yang diberikan kepada bayi. Buka puyer dan tuangkan isinya
ke dalam sendok kecil. Lalu berikan air, di aduk dengan sendok kecil lain sampai larut.
Pemberian puyer agak repot karena seringkali rasanya pahit, obat sulit larut dan lain-lain.
Puyer yang terkena udara sering menjadi basah karena sifatnya menarik air, jangan
digunakan lagi.

PENENTUAN DOSIS OBAT


AWAS OVER D0SIS !

DOSIS OBAT

Teori Y, dosis obat diukur dr Miligram per Kilogram berat badan pasien (mg/kg).

Contoh :
INH (isoniazid) obat TBC (tuberculosis) diberikan kpd anak dgn dosis antara 5-10 mg.
Bila berat badan anak 10 kg, maka dosisY berkisar 50-100 mg, atau bisa diambil dosis
tengahY 75 mg.

Pd praktikY, dosis jg ditentukan brdasarkn pertimbangan :


Usia, Kondisi pasien, Riwayat kesehatan pasien & keluargaY, AdaY obat penyerta, dll.

KETERBATASAN & KESALAHAN TAKARAN

Hal ini biasa terjadi pd jenis obat cair/sirup.


Disebabkan krn tdk ada ukuran tepat pd alat penakar atau
pemahaman singkatan takaran dosis
yg salah serta pemahaman satuan ukuran dosis yg kurang.

Contoh :
1. Sirup mesti diminum 3 x sehari 0,5 cc.
Namun dlm pipet takaran tdk trcantum ukuran tsb.
Atau dipipet yg tertulis malah 2,5 ml & 5 ml

2. Obat diminum 1,5 sdt.


Yg salah, "sdt" diartikan sbg "sendok teh",
padahal yg dimaksud adlh "sendok takar".
Walhasil yg trjadi adlh, obat ditakar dgn sendok teh.
Satuan takar "cc" (centimeter cubic) = "ml" (mililiter).
Jadi bila dlm resep trtulis 5 cc = 5ml.

Solusi trbaik utk alat takar obat cair adlh Gelas Takar,
yg memiliki ukuran takar dari 2,5 ml - 10 ml.
Sebab, sendok takar sirop hanya memiliki 2 ukuran, yaitu 2,5 ml & 5 ml

Sbg alat takar obat cair, Pipet memiliki ukuran sndiri2.


1. Ukuran pd Pipet sirop vitamin =
0,3 ml - 0,6 ml.

2. Ukuran pd Pipet obat penurun panas =


0,4 ml - 0,8 ml

3. Ukuran pd Pipet obat anti jamur =


0,5 ml - 1 ml

Apotik wajib mmberikan pipet sesuai dgn dosis obat yg diresepkan dokter agar bs dipakai
kalangan awam.
Jika ukuran pipet tdk sesuai, boleh ditukar.

DAMPAK SALAH TAKAR


A. Bila takaran dosis kurang

1. Penderita lama sembuhY. Kalaupun sembuh hanya smentara

2. BiasaY kuman penyakit dlm tubuh menjadi lbh kuat

B. Bila takaran dosis brlebihan

Bila yg dikonsumsi adlh obat keras, keadaan ginjal & lever terganggu/tdk sehat akan
menyebabkan keracunan dan over dosis; krn obat tsb tdk bisa dinetralkan oleh ginjal &
lever

Menghitung Dosis Obat


admin
Dec 12 |00:00
Obat untuk anak biasanya dihitung menurut berat badan. Ada yang
dihitung kebutuhan sehari dibagi 3 dosis, ada yang dihitung per kali,
lalu diberikan tiga dosis. Sayangnya ekmasan obat sering tidak seragam.
Kapsul A dan B dari obat yang sama berisi dosis yang lain. Satu sendok
dapat berisi miligram obat yang berbeda.

Penurun demam

Obat standar biasanya parasetamol (generik) yang dijual dengan nama dagang Tempra,
Panadol, Sanmol, Bodrexin dll. Dosis parasetamol adalah 10-15 mg/kgBB/kali. Misalnya
anak dengan berat badan 10 kg memerlukan parasetamol 100-150 mg setiap kali
pemberian. Sayangnya, takaran parasetamol berbeda-beda. Satu sendok 5 ml dapat berisi
parasetamol 125 mg, 160 mg, atau 250 mg (bentuk Forte). Setiap 0,1 ml drops berisi
parasetamol 10 mg.

Masa kerja parasetamol agak pendek, sehingga sering memerlukan 4 kali pemberian/hari.
Parasetamol tidak merangsang lambung, tetapi pemberian terlalu banyak dan terlalu lama
menyebabkan gangguan fungsi hati.

Obat standar lain misalnya ibuprofen (Proris). Dosis adalah 10 mg/kgBB/kali. Setiap
sendok obat 5 ml dari Proris Suspensi berisi 100 mg, sedangkan Proris Forte berisi 200
mg. Proris sebaiknya diberikan setelah makan untuk menghindari iritasi lambung.

Obat pilek

Yang paling sering adalah pseudo-ephedrin, misalnya Alco, Actifed, Neo-Triaminic.


Kemasan dalam bentuk drops memudahkan pemberian untuk anak kecil. Untuk bayi
kurang dari 1 tahun diberikan 0,2-0,4 ml setiap kali, boleh diulang 3 kali sehari. Obat ini
menyebabkan mengantuk.

Obat batuk

Obat batuk hitam masih menjadi standar. Boleh diberikan. Selain itu sering digunakan
Bisolvon atau Mucopect untuk mengencerkan lendir.

Obat diare

Sebenarnya sebagian besar diare disebabkan oleh virus dan akan sembuh sendiri dalam 3-
4 hari. Obat terpenting adalah menjaga agar tidak terjadi kekurangan cairan tubuh.
Pemberian larutan gula-garam merupakan hal paling penting. Pedialyte merupakan cairan
gula-garam yang komposisinya sudah disesuaikan dengan kebutuhan anak. Berikan
sebanyak jumlah feses yang keluar, kira-kira 30-50 cc setiapo mencret. Bila
menggunakan oralit, harus di encerkan karena komposisi oralit dirancang untuk orang
dewasa. Oralit untuk 200 ml diencerkan sampai 300 ml.

Takaran obat sering menyusahkan.

Drops. Sering digunakan untuk memberikan obat berbentuk cair untuk bayi. Ada pipet
dengan ukuran, misalnya 0,4 ml; 0,3 ml. Ada pula pipet yang digunakan untuk
menghtung tetesan, misalnya 3 x 10 tetes. Obat berbentuk tetesan jangan diberikan
langsung ke mulut bayi karena bisa kelebihan bila obat menetes dengan cepat.Pipet juga
jangan langsung, karena pipet menjadi kotor bila tersentuh mulut.

Sendok obat. Satu sendok the dimaksudkan sama dengan satu sendok obat, yang berkuran
5 ml. Biasanya ada gars di tengah menunjukkan 2,5 ml. Satu sendok makan artinya 15
ml.

Puyer. Dokter di Indonesia masih suka memberi puyer. Biasakan untuk meminta copy
resep sehingga kita tahu apa yang diberikan kepada bayi. Buka puyer dan tuangkan isinya
ke dalam sendok kecil. Lalu berikan air, di aduk dengan sendok kecil lain sampai larut.
Pemberian puyer agak repot karena seringkali rasanya pahit, obat sulit larut dan lain-lain.
Puyer yang terkena udara sering menjadi basah karena sifatnya menarik air, jangan
digunakan lagi.

KUMPULAN DOSIS OBAT


ANTIASMA & BRONKHODILATOR

1. Golongan obat : ADRENEGIK SELEKTIF Beta-2

SALBUTAMOL

Dosis :

 DEWASA

- Dosis lazim th/ = 2-4 mg/x

- Dosis max = 8 mg

 ANAK

- Dosis lazim th/ = < 2 thn : 0,2 mg/kgBB (4x/hari)

- 2-6 thn : 1-2 mg


- 6-12 thn : 2 mg

Pemakaian : 3 – 4 x / hari

Sediaan : Tab 2 mg, 4 mg

TERBUTALIN (sulfat)

Dosis :

 DEWASA

- Dosis lazim th/ = 2,5 mg

- Dosis max = 5 mg

 ANAK

- Dosis lazim th/ = < 7 thn : 0,075 mg

- 7 – 15 thn : 2,5 mg

Pemakaian : 2 – 3 x / hari

Sediaan : BRASMATIC, Tab 2,5 mg , Syrup 1,5 mg/5 ml

2. Golongan obat : XANTIN

AMINOFILIN

Dosis :

 DEWASA

- Dosis lazim th/ = 100-300 mg

- Dosis max = 300-600 mg

 ANAK: Dosis lazim th/ = 5 mg/kgBB

Pemakaian : 3- 4 x / hari

Sediaan : Inj 24 mg/ml – amp 10 ml, Tab 200 mg

TEOFILIN
Dosis :

 DEWASA

- Dosis lazim th/ = 130 – 150 mg

- Dosis max = 500 mg

 ANAK

- Dosis lazim th/ = < 1 thn : 65 – 75 mg

- 6 -12 thn : 65 -150 mg

Pemakaian : 3 – 4x / hari

Sediaan : AMILEX Syrup 130 mg/15 ml, Tab 150 mg, NITRASMA KapTab 150 mg

MUKOLITIK

3. Golongan obat : MUKOLITIK

BROMHEKSIN

Dosis :

 DEWASA: Dosis lazim th/ = 4-8 mg

 ANAK: unknown

Pemakaian : 3 x / hari

Sediaan : BRONEX Tab 8 mg, BISOLVON Inj 2mg/ml, Eliksir 4 mg/5 ml, Kapsul 8
mg, Syrup 10mg/5 ml

ASETILSISTEIN

Dosis :

 DEWASA: Dosis lazim th/ = 200 mg

 ANAK: Dosis lazim th/ = 100 mg

Pemakaian : 3 x / hari
Sediaan : Fluimucil Granula 200 mg/kantong, Kapsul 200 mg, Tablet Eff. 600 mg,
Fluimucil Pediatric Granula 100 mg /kantong

KARBOSISTEIN

Dosis :

 DEWASA: Dosis lazim th/ = 750 mg

 ANAK

- Dosis lazim th/ = 2 – 5 thn : 62,5 – 125 mg (4x)

- 6 – 12 thn : 250 mg

Pemakaian : 3 – 4 x / hari

Sediaan : MUCOTAB Syrup 250 mg / 5 ml, Tab 375 mg, MUCOPRONT Syrup 300
mg / 5 ml,

MUCICLAR Syrup 100 mg / 5 ml

AMBROKSOL

Dosis :

 DEWASA: Dosis lazim th/ = 15 – 30 mg

 ANAK: unknown

Pemakaian : 3 x / hari

Sediaan : Syrup 15 mg/ml, Tab 30 mg, MUCOS Syrup 30 mg/ml

ANALGETIK – ANTIPIRETIK

4. Golongan obat : PARA AMINO FENOL

PARACETAMOL

Dosis :

 DEWASA

- Dosis lazim th/ = 500 – 1000 mg


- Dosis max = 4000 mg/hari

 ANAK

- 3 bln – 1 thn : 60 – 120 mg

- 1 – 5 thn : 120 – 250 mg

- 6 – 12 thn : 250 – 500 mg

(maksimum 4 dosis / 24 jam)

Pemakaian : 4 x / hari ( tiap 4-6 jam /hari )

Sediaan : Tab 500 mg, Syrup 120 / 5 ml

5. Golongan obat : SALISILAT (p.c)

ASETOSAL / ASPIRIN

Dosis :

 DEWASA

- Dosis lazim th/ = 300 – 900 mg

- Dosis max = 4 gram / hari

 ANAK: kontraindikasi: REYE SYNDROME

Pemakaian : 4 x / hari (tiap 4-6 jam /hari )

Sediaan : Tab 100 mg, 500 mg

6. Golongan obat : AINS (p.c)

IBUPROFEN

Dosis :

 DEWASA

ANTI INFLAMASI

- Dosis lazim th/ = 1,2 – 1,8 g/hari


- Dosis max = 2,4 gram / hari (terbagi dlm 3 – 4 dosis)

ANALGETIK

- Dosis lazim th/ = 0,6 – 1,2 g / hari (terbagi dlm 3 – 4 dosis)

 ANAK: 20 – 40 mg/kgBB/hari (dosis terbagi) à JUVENIL ARTHRITIS

( TIDAK DIANJURKAN Untuk ANAK BB < 7 kg )

Pemakaian : 3 – 4 x / hari

Sediaan : Tab 200 mg, 400 mg

FENOPROFEN

Dosis :

 DEWASA

- Dosis lazim th/ = 200 – 600 mg

- Dosis max = 3 gram / hari

 ANAK: Tidak boleh

Pemakaian : 3 – 4 x / hari

Sediaan : NALFON Kapsul 300 mg, KapTab Ss. 600 mg

NATRIUM DIKLOFENAK

Dosis :

 DEWASA

- Dosis lazim th/ = 75 – 150 mg/hari

- Dosis max = 150 mg / hari

 ANAK

- 1-12 tahun, JUVENIL ARTHRITS, p.o / p.rect,

- 1 – 3 mg/kgBB/hari (dalam dosis terbagi)


Pemakaian : 2 – 3 x / hari

Sediaan : Tab 25 mg, 50 mg

INDOMETASIN

Dosis :

 DEWASA: 50 – 200 mg/hari (dalam dosis terbagi)

 ANAK : Tidak dianjurkan

Pemakaian : 2 – 4 x / hari

Sediaan : Kapsul 25 mg

ANTIHISTAMIN

7. Golongan obat : ANTI HISTAMIN (AH-1)

KLORFENIRAMIN MALEAT ( CTM )

Dosis :

 DEWASA

- Dosis lazim th/ = 4 mg

- Dosis max = 24 mg/hari

 ANAK

- < 1 thn : tidak dianjurkan

- 1 – 2 thn : 1 mg 2 x/hari

- 2 – 5 thn : 1 mg tiap 4 – 6 jam, Dosis max = 6 mg/hari

- 6 – 12 thn : 2 mg tiap 4 – 6 jam, Dosis max = 12 mg/hari

Pemakaian : 4 x / hari ( realtif, tergantung kebutuhan)

Sediaan : Tab 4 mg

DIFENHIDRAMIN KLORIDA
Dosis :

 DEWASA: 25 – 50 mg

 ANAK: 5 mg/kgBB/hari

Pemakaian : 3 x / hari

Sediaan : Inj 10 mg/ml, Syrup 12,5 mg/5 ml

DEKSKLORFENIRAMIN MALEAT

Dosis :

 DEWASA: 2 mg

 ANAK

- 2 – 6 thn : 0,5 mg

- 6 – 12 thn : 1 mg

Pemakaian : 3 – 4 x / hari

Sediaan : POLARAMINE Tab 2 mg, Syrup 2 mg/5 ml

8. Golongan obat : ANTI HISTAMIN (AH-1) NON SEDATIF

LORATADIN

Dosis :

 DEWASA: 10 mg / hari

 ANAK

- 2-12 thn (dibawah 30 kg) : 5 mg/hari

- Lebih dari 30 kg : 10 mg/hari

Pemakaian : 1 x / hari

Sediaan : Tab 10 mg, CLARITIN Tab 10 mg,

Syrup 5 mg/5 ml
ASTEMIZOL

Dosis :

 DEWASA: 10 mg/hari

 ANAK: 6 – 12 thn : 5 mg/hari

Pemakaian : 1 x / hari

Sediaan : PROALERT Syrup 5 mg/5 ml, Tab 10 mg

TERFENADIN

Dosis :

 DEWASA: 60 – 120 mg / hari

 ANAK

- 3 – 6 thn : 15 mg 2x / hari

- 6 – 12 thn : 30 mg 2x / hari

Pemakaian : 1 – 2 x / hari

Sediaan : NADANE Tab 60 mg, Tab Forte 120 mg, Suspensi 30 mg / 5 ml

9. Golongan obat : ANTI HISTAMIN (AH-2)

SIMETIDIN

Dosis :

 DEWASA

- Dosis lazim th/ = 400 – 800 mg (2x)

- Dosis max = 2,4 g / hari

 ANAK: > 1 thn : 25 – 30 mg/kgBB/hari

Pemakaian : 2 x / hari

Sediaan : Tab 200 mg


RANITIDIN

Dosis :

 DEWASA: 150 – 300 mg (2x)

 ANAK: 2 – 4 mg/kgBB/hari (2x), Max 300 mg/hari

Pemakaian : 2 x / hari

Sediaan : Tab 150 mg, ZANTADIN Tab 300 mg

FAMOTIDIN

Dosis :

 DEWASA: 20 – 40 mg

 ANAK: Tidak Dianjurkan

Pemakaian : 1 x / hari (sebelum tidur malam)

Sediaan : Tab 20mg. 40 mg

ANTIBIOTIKA

10. Golongan obat : MAKROLID

ERITROMISIN

Dosis :

 DEWASA

- Dosis lazim th/ = 250 – 500 mg (tiap 6 jam) ATAU

- 500 – 1000 mg (tiap 12 jam)

- Dosis max = 4 g/ hari

 ANAK

- Dosisi lazim th/ = < 2 thn : 125 mg (tiap 6 jam)

- 2-8 thn : 250 mg (tiap 6 jam)


- > 8 Thn : sama dgn Dosis Dewasa

Pemakaian : 2 – 4 x / hari

Sediaan : Kapsul 250 mg. 500 mg, Syrup 200 mg / 5 ml

KLARITROMISIN

Dosis :

 DEWASA

- 250 mg – tiap 12 jam ( selama 7 hari )

- 500 mg – tiap 12 jam ( selama 14 hari ) à Inf BERAT

 ANAK

- BB < 8 kg : 7,5 mg – 2x/hari

- 8 – 11 kg (1-2 thn) : 62,5 mg – 2x/hari

- 12 – 19 kg (3 – 6 thn) : 125 mg – 2x/hari

- 20 – 29 kg (7 – 9 thn) : 187,5 mg – 2x/hari

- 30 – 40 kg (10 – 12 thn) : 250 mg – 2x/hari

Pemakaian : 2 x / hari

Sediaan : ABBOTIC KapTab 250 mg, 500 mg,

Dry Syrup 125 mg/ 5 ml

AZITROMISIN

Dosis :

 DEWASA: 500 mg – 1 x / hari, (selama 3 hari)

 ANAK

- > 6 bulan : 10 mg/kgBB, 1x / hari ( u/ 3 hari )

- BB 26 – 35 kg : 300 mg, 1x / hari ( u/ 3 hari )


- BB 36 – 45 kg : 400 mg, 1x / hari ( u/ 3 hari )

Pemakaian : 1x / hari

Sediaan : ZITHROMAX KapTab 250 mg, 500 mg,

Inj 276 mg/vial, Dry Syrup 600 mg/15 ml, 900 mg/22,5 ml

11. Golongan obat : KUINOLON

SIPROFLOKSASIN

Dosis :

 DEWASA

- ISPA : 250 – 750 mg

- ISK : 250 – 500 mg

- (untuk kasus akut: 250 mg – 2x/hari, slm 3 hari)

 ANAK: TIDAK DIANJURKAN

Pemakaian : 2x / hari

Sediaan : Tab 250 mg, 500 mg

ASAM NALIDIKSAT

Dosis :

 DEWASA

- 1 g – tiap 6 jam (selama 7 hari)

- Infeksi kronis : 500 mg – tiap 6 jam

 ANAK

- > 3 bulan, 50 mg/kgBB/hari

- jangka panjang : 30 mg/kgBB/hari

Pemakaian : 2 x/ hari
Sediaan : Tab Se. 500 mg

12. Golongan obat : TETRASIKLIN

TETRASIKLIN

Dosis :

 DEWASA: 250 – 500 mg – tiap 6 jam

 ANAK: Tidak Dianjurkan !

Pemakaian : 2 x / hari

Sediaan : Kapsul 250 mg, 500 mg

DOKSISIKLIN

Dosis :

 DEWASA

- 100-200 mg

- Acne : 50 mg/hari selama 6-12 minggu

 ANAK: Tidak Dianjurkan !

Pemakaian : 1 x / hari

Sediaan : Kapsul 100 mg

OKSITETRASIKLIN

Dosis :

 DEWASA: 250 – 500 mg tiap 6 jam

 ANAK: Tidak Dianjurkan !

Pemakaian : 2x / hari

Sediaan : Inj 50 mg/vial, Salep Mata 1%,

Salep 3% @ tube 5 gr
13. Golongan obat : PENISILIN (a.c)

AMPISILIN

Dosis :

 DEWASA

- 250 – 1000 mg – tiap 6 jam

- ISK : 500 mg – tiap 8 jam

 ANAK: Setengah Dosis Dewasa

Pemakaian : 3-4 x / hari

Sediaan : KapTab 250 mg, 500 mg, Dry Syrup 125 mg/5 ml, 250 mg/ 5 ml, Serbuk Inj.

500 mg/vial, 1000 mg/ vial

AMOKSISILIN

Dosis :

 DEWASA: 250 – 500 mg – tiap 8 jam

 ANAK: < 10 tahun : 125 – 250 mg – tiap 8 jam

Pemakaian : 3 x / hari

Sediaan : Kapsul 250 mg, KapTab 500 mg,

Dry Syrup 125 mg/5 ml, 250 mg/ 5 ml

FENOKSIMETIL PENISILIN ( Penc-V)

Dosis :

 DEWASA: 500 – 750 mg – tiap 6 jam

 ANAK

- < 1 thn : 62,5 mg

- 1 – 5 thn : 125 mg
- 6 – 12 thn : 250 mg

Pemakaian : 4 x / hari (tiap 6 jam)

Sediaan : Tab 250 mg. 500 mg

14. Golongan obat : SULFONAMID-TRIMETOPRIM

KOTRIMOKSAZOL

Dosis :

 DEWASA

- Dosis lazim th/ = 960 mg – tiap 12 jam

- Dosis Max = 1,44 g – tiap 12 jam

 ANAK

- Dibawah 2 tahun & ibu hamil TIDAK dianjurkan

- 6 – 12 tahun 480 mg

- 6 bulan – 5 thn : 240 mg

- 6 minggu – 5 bulan : 120 mg

Pemakaian : 2x / hari (tiap 12 jam)

Sediaan : Suspensi 240 mg/5ml fl = 60 ml,

Tab 480 mg, 120 mg

15. Golongan obat : KLORAMFENIKOL

KLORAMFENIKOL

Dosis :

 DEWASA

- 500 mg

- 50 mg/kgBB/hari
 ANAK: 50 – 100 mg/kgBB/ hari

Pemakaian : 4 x / hari

Sediaan : Kapsul 250 mg, Suspensi 125 mg/5 ml (60 ml)

TIAMFENIKOL

Dosis :

 DEWASA: 1 g/kgBB/hari – bagi 4 dosis

 ANAK: 25 mg/kgBB/ hari – bagi 4 dosis

Pemakaian : 4 x / hari

Sediaan : Kapsul 250 mg, 500 mg

AMUBISID

16. Golongan obat : METRONIDAZOL

METRONIDAZOL

Dosis :

 DEWASA: 800 mg – tiap 8 jam – selama 5 hari

 ANAK

- 1 – 3 thn : 200 mg – tiap 8 jam

- 3 – 7 thn : 200 mg – tiap 6 jam

- 7 – 10 thn : 200 – 400 tiap 8 jam

Pemakaian : 3 – 4 x / hari

Sediaan : Tab 250 mg, 500 mg

TINIDAZOL

Dosis :

 DEWASA: 2 g/ hari – selama 2-3 hari


 ANAK: 50-60 mg/kgBB/hari – selama 3 hari

OBAT, DOSIS & JADWAL PEMBERIAN DLM PRESKRIPSI DOKTER


Filed under: farmasi kedokteran - Administrator @ 2:36 am

OBAT, DOSIS & JADWAL PEMBERIAN


DLM PRESKRIPSI DOKTER

Kuliah Ibu Mae Sri Hartati Wahyuningsih tgl 6 dan 7 September 2004

Sebagai calon dokter, kuliah farmasi kali ini bertujuan agar kita dapat memahami
pengetahuan obat sebagai penunjang keberhasilan penatalaksanaan kesehatan. Materi
yang akan dibahas meliputi batasan obat, kategori obat, derivate obat, dosis obat, dan
cara pemberian obat.

I. BATASAN OBAT

Sebagai bahan kimia, obat identik dengan racun. Yang membedakan adalah cara
pemberian dan dosisnya. Bila indeks terapinya sempit, seperti digoksin dan xantine,
tingkat toksisitasnya akan semakin tinggi.

Berdasarkan Permenkes RI No. 242/1990, OBAT JADI: merupakan sediaan atau paduan
bahan-bahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi/menyelidiki sistem fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan,
pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.

Kegunaan obat, antara lain:


Diagnosis

Contohnya barium sulfat (BaSO4) yang digunakan sebagai cairan kontras dalam
pemeriksaan radiology untuk melihat fungsi organ tertentu.

Pencegahan

Misalnya Vaksin yang diberikan pada adik bayi.

Mengurangi/menghilangkan gejala

Untuk menghilangkan gejala simtomatis ada golongan analgetika yang udah kita kenal
seperti Antalgin, Paracetamol.

Menyembuhkan penyakit

Diantaranya antibiotic, yang harus kita tegaskan aturan minumnya agar tak terjadi
resistensi.

Memperelok tubuh

Obat jerawat, pemutih kulit,dll.

II. KATEGORI OBAT

1. MENURUT UU FARMASI

Obat Bebas

Obat ini dijual bebas biasanya bertanda lingkaran hijau.

Obat Bebas Terbatas

Tandanya lingkaran biru, jenis ini dapat diperoleh tanpa resep dokter namun ada
pembatasan aturan minum yang biasanya dicantumin di kemasan. Contohnya: antimo,
procold,dll.

Obat Keras

Harus dengan resep dokter, bertanda lingkaran merah dengan huruf K di tengahnya.
Obat Narkotika

Kemasannya bertanda lingkaran putih dengan palang merah di tengahnya.

2. MENURUT BENTUK FISIK

Obat Baku (bahan baku)

Merupakan substansi yang belum dicampur dengan bahan lain. Diistilahkan formula
magistralis.

Obat Jadi (Obat standart/generik)_ Formula officinalis.:Obat dengan komposisi dan nama
teknis standar seperti dalam buku Farmakope Indonesia atau buku resmi lain yang
ditetapkan pemerintah.

Obat Paten (Obat jadi dengan nama dagang)_ Formula spesialistis, Obat ini terdaftar
dengan nama pabrik atau yang dikuasakan.

Obat Asli (Obat tradisional) :Merupakan obat-obat yang didapat lansung dari bahan-
bahan alami, istilahnya ‘reservoir’.

Banyak tanaman asli Indonesia yang terbukti berkhasiat secara klinis misalnya, anti
hipertensi kapsol yang berasal dari Kapsus.sp, digoxin dari digitalis purpurea, vincristin,
vinblastine dari tapak dara, dll. (hiks.. kenapa yang mematenkan justru orang asingL
ayo..semangat !)

Obat Baru (belum diketahui khasiat dan keamanan)

Jangan sekali-kali meresepkan ini, ya.. Obat ini masih butuh uji klinik untuk dapat
beredar di masyarakat.

3. MENURUT CARA PEMBERIAN

Obat dalam : Obat ini masuk ke dalam sirkulasi sistemik, baik per oral, i.v, i.m, dll.

Obat luar : Biasanya dimasukkan ke tubuh melalui kulit (dioleskanàtopical), dalam resep
ditulis ‘u.e’ = usus externus
4. MENURUT KHASIAT/EFEK OBAT

Berdasarkan efek farmakologinya obat-obatan diklasifikasikan mejadi kelas terapi


menurut DOEN (Daftar Obat Essensial Nasional).

Contoh:

Phenobarbital

Tempat kerja dalam tubuh à Bekerja pada SSP

Aktivitas terapeutik/penerapannya à Sedatif-hipnotikMekanisme kerja farmakologi

à Depresan SSP

Sumber asal atau sifat obat à Turunan asam berbiturat

5. BERDASARKAN SIFAT KIMIA OBAT

§ ASAM —> Acetosal, Barbital, Vitamin C —> Acetosal, Barbital, Vitamin C

—> Acetosal, Barbital, Vitamin C

§ BASA —> Alukol, Bisacodil, HCT —> Alukol, Bisacodil, HCT

—> Alukol, Bisacodil, HCT

§ GARAM —> NaCl, Papaverin HCl—> NaCl, Papaverin HCl

—> NaCl, Papaverin HCl


§ ESTER —> Kloramfenikol palmitat, Glyceril guayacolat—> Kloramfenikol palmitat,
Glyceril guayacolat

—> Kloramfenikol palmitat, Glyceril guayacolat

§ KRISTAL MENGANDUNG AIR —> Ampicillin trihidrat, Codein HCl —> Ampicillin
trihidrat, Codein HCl

—> Ampicillin trihidrat, Codein HCl

—> Acetosal, Barbital, Vitamin C —> Alukol, Bisacodil, HCT—> NaCl, Papaverin HCl
—> Kloramfenikol palmitat, Glyceril guayacolat —> Ampicillin trihidrat, Codein HCl

TATANAMA OBAT
(Sesuai monografi FI_ Farmakope Indonesia)

NAMA LATIN : Acidum acetyl salicylicum, Acetaminophenum, Methampyronum

NAMA INDONESIA : Asam asetil salisilat, Asetaminofen, metampiron

NAMA GENERIK : Asetosal, Parasetamol, Antalgin

(Sesuai monografi FI_ Farmakope Indonesia)

III. DERIVAT OBAT

Sekelompok/segolongan obat yang diturunkan/ berasal dari senyawa yang sama


(senyawa induk) masing-masing mempunyai struktur/rumus kimia yang berbeda.
Umumnya digunakan untuk sekelompok obat yang mempunyai khasiat sama.
Turunan ini didapatkan dari hasil "manipulasi molekuler" suatu senyawa induk
dengan struktur kimia tertentu.

Tujuan dibuat derivate adal;ah untuk mendapatkan obat baru dengan:

efek sama, dengan potensi lebih tinggi, dan efek samping obat lebih kecil.
Contohnya; penicillin à ampicillin efek berbeda à Obat lain. Contoh :
sulfanilamidum yang merupakan anti infeksi, carbonic anhydrase inhibitor, dapat
diturunkan menjadi:

1. sulfisimidinum yang merupakan anti infeksi dengan penambahan PABA

2. chlortiazide ( saluric) lalu fursemide yang merupakan diuretik kuat


3. chlorpropamidum yang merupakan antidiabetikum oral.

IV. DOSIS OBAT

Adalah sejumlah obat dalam satuan berat/isi/ unit yang memberikan efek terapetik
pada penderita dewasa.

MACAM-MACAM DOSIS

~ dosis lazim adalah dosis yang biasa diberikan untuk suatu obat.

~ dosis terapeutik adalah range dosis yang masih aman untuk terapi.

Dosis yang lain:

Dosis toksik : dosis di atas dosis terapi sehingga dapat menimbulkan toksisitas

Dosis letalis : dosis toksik yang bila diberikan dapat mengakibatkan kematian

Dosis permulaan : dosis permulaan yang diberikan kepada penderita (initial dose)

Dosis pemeliharaan : dosis obat yang berfungsi untuk menjaga agar kadar obat
dalam darah tetap

berada dalam dosis terapeutik (maintenance dose)

Dosis maksimum : dosis di antara dosis terapeutik & dosis toksik, tapi blm bersifat
toksik serius

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DOSIS


1. FAKTOR OBAT:

Sifat Fisika : Kelarutan obat (air/lipid); Bentuk (Kristal/Amorf)

Sifat Kimia : Asam, Basa, Garam, Ester, PH

Toksisitas

2. FAKTOR CARA PEMBERIAN:

o Oral : Dimakan / Diminum :

o Parenteral : Subkutan, im, iv :

o Rektal, Vaginal, Uretral

o Lokal, Topikal

3. FAKTOR PENDERITA:

o Umur : Anak, dewasa, geriatrik

o BB : Normal, obesitas

o Ras : Metabolisme obat

o Sensitivitas individual

4. INDIKASI DAN PATOFISIOLOGI PENYAKIT:


Penyebab penyakit

Keadaan patofisiologis

DOSIS OBAT UNTUK ANAK(Pediatrik)

KATEGORI ANAK:

Anak premature : lahir kurang 35 minggu

Anak baru lahir : Neonatus s/d 28 hari

Bayi : infant s/d 1 tahun

Balita : 1-5 tahun

Anak : 6-12 tahun

PENENTUAN DOSIS ANAK

Dalam menentuklan dosis anak, ada beberapa masalah yang harus kita perhatikan.

Organ (hepar, ginjal, SSP) belum berfungsi secara sempurna, metabolisme obat belum
maksimal

Distribusi cairan tubuh berbeda dengan orang dewasa

§ Neonatus >29,7% dari dewasa

§ Bayi 6 bulan >20,7% dari dewasa

§ Anak s/d 7 th. >5,5% dari dewasa

Faktor lain yang perlu diperhatikan

§ Farmakokinetika obat (ADME)

· Perbedaan absorpsi (perbedaan kepadatan sel)


· Perbedaan distribusi (% cairan ekstrasel & cairan tubuh total

· Perbedaan metabolisme (ensimatik yang belum sempurna)

· Perbedaan ekskresi (glomerulus belum berkembang lengkap)

CARA MENGHITUNG DOSIS ANAK (PEDIATRIC THERAPEUTIC

Ada lebih dari 30 rumus untuk menghitung dosis yang akan diberikan pada anak. Di
antaranya sbb.

1. DASAR PERBANDINGAN ATAS UKURAN FISIK ANAK SECARA INDIVIDUAL

Ada 2 cara, yaitu:

a. Sesuai dengan berat badan anak (Kg)

b. Sesuai dengan LPTa (m2)

2. DASAR PERBANDINGAN DENGAN DOSIS DEWASA

a.Perbandingan umur (dewasa 20-24tahun) n

Rumus Young (anak<12 th) Da =————Dd (mg)

n+12

n Rumus Dilling Da=———– Dd (mg) 20

Keterangan: Da = Dosis obat untuk anak Dd = Dosis obat untuk dewasa

n = Umur anak dalam tahun

b. Perbandingan berat badan (dewasa 70 kg)

BBa

Rumus Clark = ——–Dd (mg)

70
Keterangan: Bba = berat badan anak (kg)

c. Perbandingan luas permukaan tubuh (LPT) (Dewasa = 1,73 cm2) LPT (anak)

Rumus (Crawford-Terry-Rourke) =——————–Dd (mg)

1,73

Catatan: Perhitungan dosis menggunakan dasar perbandingan dengan dosis dewasa punya
kelemahan sbb.

Perhitungan dosis menggunakan dasar perbandingan dengan dosis dewasa punya


kelemahan sbb.

Umur—-Tidak tepat (variasi BB & LPT)

BB ——-Tidak dapat bagi semua obat

LPT —– Tidak praktis

DOSIS OBAT UNTUK OBESITAS

Definisis obesitas adalah berat badan > 20% BB ideal, akibatnya ada perbedaan
komposisi komponen tubuh dengan BB normal.

Menurut Rische, BB ideal = (T-100) x 0,9 (Kg) ; T = Tinggi (cm)

Yang harus diperhatikan dalam penghitungan dosis:

Lipofilisitas obat

Jika suatu obat bersifat lipofilik maka distribusi obat naik , T 1/2 eliminasi lebih lama.

Mis. Benzodiazepin

Daya larut obat dalam lemak kecil.

Perhitungan dosis didasarkan pada Berat badan tanpa lemak (BBTL).

Mis. Digitoxin, kanamycin, Streptomycin

Daya larut obat dalam lemak besar.

Perhitungan dosis didasarkan Berat badan nyata (BBN).


Mis. Thiopental

DOSIS UNTUK GERIATRIK (Umur > 65 tahun)

Ketika umur bertambah, terjadi perubahan fisiologi dan patologi tubuh yang menentukan
perubahan konsentrasi obat di dalam tubuh karena perubahan fase farmakokinetika =
ADME.

Penentuan dosis obat:

1. Dasar : à Pola MIC à Pola kurva log dosis respon

2. Dasar: Clearance individual

DOSIS LAZIM/TERAPEUTIK (tertulis dalam pustaka)

Dosis sekali : Bisacodyl, 5-10 mg/dosis tunggal

Dosis sehari : Diazepam,5-30 mg dalam dosis terbagi; Dexamethason, 0,5-2 mg/hari.

Dosis/kgbb/kal :Etambutol, 15-25 mg/kgbb/ dosis tunggal.

Dosis/kgbb/hari :Ampisilin, 50-150 mg/kgbb/ hari. Dalam dosis terbagi tiap 6 jam

Dosis untuk efek berbeda :Ex:Phenobarbital Sedative-hipnotik:30mg/3-4dd;


Antikonvulsan:30-60mg/2-3 dd.

Ex:Phenobarbital Sedative-hipnotik:30mg/3-4dd; Antikonvulsan:30-60mg/2-3 dd.

V. JADWAL PEMBERIAN OBAT

Hal-hal yang harus kita pertimbangkan adalah sbb.

1. Tujuan terapi / Indikasi penyakit

– sistemik / lokal

– onset dan durasi

2. Kondisi pasien

– menerima / menyenangkan
– aman, dapat menelan dll.

3. Sifat fisika-kimia obat

– Stabilitas

– Iritasi

MACAM-MACAM CARA PEMBERIAN OBAT

OR A L

PARENTERAL

INHALASI

MEMBRAN MUKOSA

KULIT/TOPIKAL

Farmakogenetika, Metode Baru Penentu Dosis Obat

Boston (23 Feb.'09). Sebuah sistem baru yang digunakan


untuk menentukan dosis warfarin, yakni obat pengencer darah,
dapat membantu mencegah pembekuan darah yang
berbahaya, dan juga menghindarkan pasien dari pendarahan
yang parah.

Beberapa pasien membutuhkan lebih dari dua kali dosis mingguan daripada
pasien lainnya, sehingga metode baru penentuan dosis ini akan membantu
memperkirakan dengan lebih baik tentang siapa yang memerlukan lebih banyak
dosis dan siapa yang memerlukan lebih sedikit.

Dosis warfarin yang tepat adalah penting, karena obat ini pada hakikatnya
adalah racun tikus, dan dapat mencegah pembekuan darah. Dosis yang terlalu
tinggi akan menyebabkan pasien mengalami pendarahan hingga meninggal,
sementara dosis yang terlalu rendah akan menyebabkan stroke atau serangan
jantung akibat bekuan darah.

Penelitian ini, yang dipimpin oleh Dr. Teri Klein dari Stanford University di
California, memeriksa informasi klinik dan genetik dari 4043 pasien guna
menghasilkan sebuah algoritma komputer yang dapat memperkirakan pasien
mana yang membutuhkan dosis yang lebih tinggi atau yang lebih rendah.

Pendekatan baru ini dinamakan "farmakogenetika", yang menggunakan


informasi genetika pasien untuk memperkirakan tanggapan tubuh para pasien
terhadap obat-obatan.

Para ilmuwan mengatakan bahwa algoritma tersebut dengan akurat


mengidentifikasikan sejumlah besar pasien yang memerlukan dosis warfarin
sebesar 21 mg atau kurang per minggunya, dan juga sejumlah pasien yang
memerlukan dosis sebesar 49 mg atau lebih per minggunya.

"Farmakogenetika memiliki peran yang potensial untuk meningkatkan manfaat


dan mengurangi bahaya bagi orang yang tanggapan terhadap obatnya tidak
tergolong 'rata-rata' ", kata Dr. Janet Woodcock dan Lawrence Lesko dari US
FDA.

Memahami Obat
Obat tidak hanya memiliki efek terapi tetapi juga efek samping yang tidak
diharapkan. Efek samping obat ini bisa ringan (pusing, mual atau gatal) dan bisa
sangat berbahaya, merusak organ hati (hepatotoksik), merusak ginjal
(neprotoksik) atau berpotensi menimbulkan sel cancer (carcinogenic). Dokter
akan memilihkan obat dengan efek samping minimal yang aman bagi pasiennya.

Setiap obat mempunyai DOSIS TERAPI (dosis yang memberikan efek


perbaikan/menyembuhkan), DOSIS MAKSIMAL (batas dosis yang masih
dibolehkan/aman bagi pasien) dan DOSIS LETHAL (dosis yang membuat pasien
mati). Makin ‘pendek’ jarak dosis lethal suatu obat makin berbahaya. Contohnya,
obat tidur, obat anti diabetes, obat hipertensi.

Disamping itu ada sejumlah obat/tanaman obat yang memiliki efek khas yaitu
EFEK ADIKSI, bisa membuat orang yang mengkonsumsinya menjadi ‘ketagihan’
atau ketegantungan. Kelompok obat ini digolongkan sebagai OBAT
BERBAHAYA. Dokter hanya memberikan obat ini untuk kasus tertentu
(misalnya nyeri hebat pada pasien patah tulang, nyeri pada kanker, kesulitan
tidur). Itupun dalam pengawasan yang ketat, baik dosisnya maupun lama
pemberiannya. Yang termasuk golongan obat dengan efek adiksi adalah
NARKOTIKA (morfin), PSIKOTROPIKA dan Zat Adiktif lainnya. Rokok
(Nikotin) dan kopi (Cafein) termasuk memiliki efek adiksi yang ringan.

Jadi, obat itu bisa BERMANFAAT, jika dipakai sesuai indikasinya (tujuan
spesifik dari efek obat), sesuai dosisnya dan mempertimbangkan efek samping
obat terhadap kondisi fisik organ dari setiap pasien. Dokterpun butuh waktu
yang panjang, kuliah selama 6-7 tahun agar bisa memakai obat untuk kebaikan
dan kesembuhan penyakit pasien. Dan, obat akan SANGAT BERBAHAYA jika
dipakai oleh para remaja dan orang-orang yang tidak memahami obat.

Adiksi/Ketergantungan
Orang akan mengalami ketergantungan jika minum obat dalam jangka waktu
tertentu. Butuh ratusan batang rokok dan puluhan gelas kopi serta waktu yang
lama untuk membuat seseorang ‘ketagihan’ terhadap rokok dan kopi. Narkoba?
Hanya butuh beberapa tablet! Bahkan narkoba ‘generasi baru’ memiliki efek
adiksi yang sangat kuat. Hanya minum sekali atau dua kali sudah langsung
ketagihan. Jika sudah ‘ketagihan’ orang akan sulit untuk keluar. Coba lihat,
peringatan bahaya apapun yang ditulis dibungkus rokok, orang tetap membeli
rokok dan tetap asyik merokok!

• Ketergantungan fisik dan psikis


• Peningkatan dosis
• Gejala putus obat
• Over dosis

Ketergantungan Fisik
Zat obat ini dianggap oleh tubuh sebagai salah satu unsur yang ‘harus ada’,
disamping hormon, enzym, oksigen dan zat makanan. Tanpa adanya obat ini
dalam darah, sistem organ-organ tubuh menjadi kacau balau.

Ketergantungan Psikis
Memori otak penderita terhadap obat sangat dominan. Setiap hari yang
dipikirkan lebih dahulu adalah obat. Tidak ada lagi sekolah, pekerjaan, cita-cita
bahkan masa depan. Sahabat, pacar, keluarga bahkan orang tua tidak lagi
penting. Yang paling penting adalah obat!

Peningkatan Dosis
Untuk menimbulkan efek yang diinginkan (halusinasi, mimpi indah, bayangan
indah) penderita membutuhkan sejumlah dosis. Dosis ini akan meningkat terus,
2 butir obat, 4 tablet akhirnya belasan tablet harus diminum. Yang berbahaya
adalah jika peningkatan dosis ini mendekati atau mencapai DOSIS LETHAL! Ini
tidak disadari oleh penderita.
Gejala Putus Obat
Penderita akan mengalami kondisi ini jika obat menghilang dalam darah dan
penderita tidak mendapatkan obat. Gejala yang muncul adalah ‘unjuk rasa’ dari
setiap organ. Sakit kepala, mual-muntah-bahkan mencret tidak terkendali. Sesak
nafas, berdebar-debar. Nyeri hebat disetiap titik ditubuhnya. Gelisah, ketakutan
dan sulit tidur.

Anehnya sakit yang ‘ribuan volt’ ini langsung lenyap begitu penderita
‘mendapatkan’ obat. Gejala putus obat adalah pengalaman yang menakutkan
bagi penderita. Ini menjadi satu alasan penderita melakukan apa saja hanya
untuk mendapatkan obat, untuk menghindarkan dirinya dari gejala putus obat.
Setiap pemakai obat kronis pasti pernah mengalami episode ini.

Over Dosis
Para pengguna Narkoba yang kronis sesungguhnya berada ‘sangat dekat’ dengan
area ini. Over dosis sering kali terjadi dan ini tidak disadari oleh penderita.
Peningkatan dosis yang terjadi secara perlahan-lahan atau mencoba memakai
jenis narkoba ‘edisi baru’ dengan dosis yang biasa dipakai. Padahal setiap obat
dosisnya tidak sama. Efeknya bisa berbeda. Dalam dosis toksik (over dosis) obat-
obatan ini menekan pusat nafas di otak. Kematian terjadi oleh karena depresi
pusat pernafasan. Pemberian oksigen atau nafas buatan dalam kondisi emergensi
tidak akan menolong, sebab masalahnya ada di pusat pernafasan di otak, bukan
diparu-parunya. Jika tidak di’obati’, semua pemakai narkoba akan FINISH dan
‘game over’ dititik ini.

Efek Buruk dan Komplikasi Narkoba


• Gangguan/kegagalan hati
• Gangguan/kegagalan ginjal
• HIV-AIDS
Pemakaian jarum suntik bergantian, tidak steril
• Hepatitis
• Cita-cita dan masa depan anak hilang

Keracunan DEFINISI
KERACUNAN ASETAMINOFEN

Lebih dari 100 jenis produk yang mengandung asetaminofen bisa dibeli secara bebas,
tanpa resep dokter. Sediaan untuk anak-anak tersedia dalam bentuk sirup, tablet dan
kapsul.
Asetaminofen bisa ditemukan dalam beberapa obat berikut:
 Tylenol
 Anacin-3
 Liquiprin
 Panadol
 Tempra.

Kandungan asetaminofenn dalam beberapa jenis sediaan obat dan kekuatannya:


Supositoria (tablet/kapsul yang dimasukkan ke dalam anus atau vagina) : 120 mg, 125
mg, 300 mg, 600 mg
- Tablet kunyah : 80 mg
- Kekuatan normal : 325 mg
- Kekuatan ekstra : 500 mg
- Elixir: 325 mg/sendok teh, 160 mg/sendok teh, 120 mg/ sendok teh
- Sirup : 160 mg/sendok teh, 130 mg/sendok teh
- Obat tetes : 100 mg/mL, 120 mg/2,5 mL

Asetaminofen adalah obat yang sangat aman, tetapi bukan berarti tidak berbahaya.
Sejumlah besar asetaminofen akan melebihi kapasitas kerja hati, sehingga hati tidak lagi
dapat menguraikannya menjadi bahan yang tidak berbahaya. Akibatnya, terbentuk suatu
zat racun yang dapat merusak hati.
Keracunan asetaminofen pada anak-anak yang belum mencapai masa puber, jarang
berakibat fatal. Pada anak-anak yang berumur lebih dari 12 tahun, overdosis
asetaminofen bisa menyebabkan kerusakan hati.

Gejala keracunan asetaminofen terjadi melalui 4 tahapan:


1. Stadium I (beberapa jam pertama) : belum tampak gejala
2. Stadium II (setelah 24 jam) : mual dan muntah; hasil pemeriksaan menunjukkan
bahwa hati tidak berfungsi secara normal
3. Stadium III (3-5 hari kemudian) : muntah terus berlanjut; pemeriksaan
menunjukkan bahwa hati hampir tidak berfungsi, muncul gejala kegagalan hati
4. Stadium IV (setelah 5 hari) : penderita membaik atau meninggal akibat gagal hati.

Gejalanya lainnya yang mungkin ditemukan:


- berkeringat
- kejang
- nyeri atau pembengkakan di daerah lambung
- nyeri atau pembengkakan di perut bagian atas
- diare
- nafsu makan berkurang
- mual dan/atau muntah
- rewel
- koma.
Gejala mungkin baru timbul 12 jam atau lebih setelah mengkonsumsi asetaminofen.

Tindakan darurat yang dapat dilakukan di rumah adalah segera memberikan sirup ipekak
untuk merangsang muntah dan mengosongkan lambung.
Di rumah sakit, dimasukkan selang ke dalam lambung melalui hidung untuk menguras
lambung dengan air. Untuk menyerap asetaminofen yang tersisa, bisa diberikan arang
aktif melalui selang ini.
Kadar asetaminofen dalam darah diukur 4-6 jam kemudian.
Jika anak telah menelan sejumlah besar asetaminofen (terutama jika kadarnya dalam
darah sangat tinggi), biasanya diserikan asetilsistein untuk mengurangi efek racun dari
asetaminofen, yang diberikan setelah arang dikeluarkan.

Kegagalan hati bisa mempengaruhi kemampuan darah untuk membeku, karena itu
diberikan suntikan vitamin K1 (fitonadion). Mungkin perlu diberikan transfusi plasma
segar atau faktor pembekuan.

Prognosis tergantung kepada jumlah asetaminofen yang tertelan dan tindakan


pengobatan. Jika pengobatan dimulai dalam waktu 8 jam setelah keracunan, atau dosis
yang tertelan masih dibawah dosis racun, maka prognosisnya sangat baik.

KERACUNAN ASPIRIN

Aspirin atau obat yang mirip dengan Aspirin (salisilat) biasanya tidak dianjurkan
diberikan kepada anak-anak dan remaja karena memiliki resiko terjadinya sindroma
Reye.
Tetapi pada penyakit tertentu (misalnya artritis rematoid juvenil) pemberian Aspirin
kepada anak-anak/remaja dibenarkan/diperlukan.

Aspirin ditemukan pada:


 Aspirin
 Ecotrin
 Anacin (kaplet dan tablet)
 Alka Seltzer
 Bufferin.

Overdosis Aspirin (salisilisme) pada anak yang telah meminum Aspirin dosis tinggi
selama beberapa hari biasanya lebih berat.
Bentuk salisilat yang paling beracun adalah minyak wintergreen (metil salisilat), yang
merupakan komponen dari obat gosok dan larutan penghangat. Seorang anak dapat
meninggal karena menelan kurang dari 1 sendok teh metil salisilat murni.

Gejala awal dari salisilisme adalah mual dan muntah, diikuti dengan pernafasan yang
cepat, hiperaktivitas, peningkatan suhu tubuh dan kadang kejang.
Anak menjadi mengantuk, mengalami kesulitan dalam bernafas dan pingsan.
Kadar Aspirin yang tinggi dalam darah menyebabkan anak menjadi sering berkemih, dan
hal ini bisa menyebabkan dehidrasi.

Dilakukan pengurasan lambung sesegera mungkin. Jika anak dalam keadaan sadar,
diberikan arang aktif melalui mulut atau melalui selang yang dimasukkan ke dalam
lambung.

Untuk mengatasi dehidrasi ringan, anak diharuskan minum sebanyak mungkin (susu
maupun jus buah).
Untuk dehidrasi yang lebih berat, diberikan cairan melalui infus.
Demam diatasi dengan kompres hangat.
Untuk mengatasi perdarahan bisa diberikan vitamin K1.

Prognosis tergantung kepada kadar salisilat dalam darah. Kadar yang bisa menimbulkan
keracunan adalah 150-300 mg/kg berat badan.

KERACUNAN BAHAN KAUSTIK

Yang dimaksud dengan bahan kaustik adalah asam dan alkali kuat.
Bahan kaustik (jika tertelan) bisa menyebabkan luka bakar dan secara langsung
menyebabkan kerusakan pada mulut, kerongkongan serta lambung.

Beberapa keperluan rumah tangga yang mengandung bahan kaustik adalah pembersih
jamban dan sabun pencuci piring; beberapa diantaranya mengandung bahan kaustik yang
paling berbahaya, yaitu natrium hidroksida dan asam sulfat.
Bahan tersebut terdapat dalam bentuk padat maupun cair. Pada sediaan padat, rasa panas
yang ditimbulkan menempel pada permukaan yang lembab sehingga anak segera berhenti
memakannya. Sedangkan sediaan cair tidak menempel, lebih mudah ditelan dan bisa
menyebabkan kerusakan pada seluruh bagian kerongkongan.

Segera timbul nyeri dan sifatnya bisa berat. Daerah yang terbakar menjadi bengkak dan
menelan menimbulkan nyeri.
Pernafasan menjadi dangkal, dengan denyut nadi yang cepat dan lemah. Kadang
pembengkakan menyebabkan tersumbatnya saluran udara.
Sering terjadi syok (tekanan darah sangat rendah).

Bahan kaustik menyebabkan keruskan pada dinding kerongkongan atau lambung.


1 minggu atau lebih setelah keracunan, pada dinding kerongkongan maupun lambung
yang mengalami kerusakan bisa terjadi perforasi (pembentukan lubang), yang
kemungkinan disebabkan oleh muntah maupun batuk.

Anak yang berhasil melalui masa awal kerusakan pada akhirnya bisa meninggal akibat
infeksi karena bahan kaustik dari kerongkongan merembes ke dalam rongga dada.
Meskipun pada awalnya hanya menimbulkan gejala yang rignan, tetapi beberapa minggu
kemudian bisa terjadi penyempitan pada kerongkongan.

Pada kasus berat dengan bahan kaustik yang sangat kuat, kematian terjadi akibat:
- tekanan darah yang sangat rendah
- penyumbatan saluran pernafasan
- perforasi kerongkongan
- kerusakan jaringan
- peradangan paru-paru.
Dengan bantuan endoskopi bisa diketahui beratnya kerusakan yang telah terjadi pada
kerongkongan sehingga dapat ditentukan tindakan yang harus segera diambil.
Untuk melarutkan bahan kaustik, sebaiknya anak diberik minum sebanyak mungkin,
yang terbaik adalah minum susu. Susu tidak hanya bersifat melindungi dan melembutkan
selaput lendir, tetapi juga merupakan pengganti dari protein jaringan yang merupakan
target dari bahan kaustik.
Baju yang terkena bahan kaustik segera dilepas dan kulit yang terkena segera dicuci
bersih.
Sebaiknya tidak dilakukan perangsangan muntah dan pengurasan lambung karena bisa
memperburuk kerusakan yang telah terjadi.

Antibiotik diberikan jika anak mengalami demam atau terdapat tanda-tanda perforasi
kerongkongan.
Pada kasus yang ringan, anak didorong untuk minum sebanyak mungkin cairan. Jika anak
tidak mau minum, cairan bisa diberikan melalui infus.

Jika saluran pernafasan tersumbat oleh pembengkakan kerongkongan, mungkin perlu


dilakukan trakeostomi (pembuatan lubang pada trakea).
Jika terjadi penyempitan, dilakukan pembedahan untuk memasukkan sebuah selang ke
dalam kerongkongan agar kerongkongan tidak menutup sepenuhnya; terapi dilatasi bisa
dilakukan beberapa bulan kemudian. Untuk mengurangi peradangan, bisa diberikan
kortikosteroid.

KERACUNAN TIMAH HITAM

Keracunan timah hitam (plumbisme) biasanya merupakan suatu keadaan kronis


(menahun) dan kadang gejalanya kambuh secara periodik.
Kerusakan yang terjadi bisa bersifat permanen (misalnya gangguan kecerdasan pada
anak-anak dan penyakit ginjal progresif pada dewasa).

Timah hitam ditemukan pada


 Pelapis keramik
 Cat
 Batere
 Solder
 Mainan.

Pemaparan oleh timah hitam dalam jumlah relatif besar bisa terjadi melalui beberapa
cara:
 Menelan serpihan cat yang mengandung timah hitam
 Membiarkan alat logam yang mengandung timah hitam (misalnya peluru, pemberat
tirai, pemberat alat pancing atau perhiasan) tetap berada dalam lambung atau persendian,
dimana secara perlahan timah hitam akan larut
 Meminum minuman asam atau memakan makanan asam yang telah terkontaminasi
karena disimpan di dalam alat keramik yang dilapisi oleh timah hitam (misalnya buah, jus
buah, minuman berkola, tomat, jus tomat, anggur, jus apel)
 Membakar kayu yang dicat dengan cat yang mengandung timah hitam atau batere di
dapur atau perapian
 Mengkonsumsi obat tradisional yang mengandung senyawa timah hitam
 Menggunakan perabotan keramik atau kaca yang dilapisi timah hitam untuk
menyimpan atau menyajikan makanan
 Minum wiski atau anggur yang terkontaminasi oleh timah hitam
 Menghirup asap dari bensin yang mengandung timah hitam
 Bekerja di tempat pengolahan timah hitam tanpa menggunakan alat pelindung (seperti
respirator, ventilasi maupun penekan debu).
Pemaparan timah hitam dalam jumlah yang lebih kecil, terutama melalui debu atau tanah
yang telah terkontaminasi oleh timah hitam, bisa meningkatkan kadar timah hitam pada
anak-anak; karena itu perlu diberikan pengobatan meskipun tidak ditemukan gejala.

Pada dewasa, serangkaian gejala yang khas bisa timbul dalam waktu beberapa minggu
atau lebih, yaitu berupa perubahan kepribadian, sakit kepala, di dalam mulut terasa
logam, nafsu makan berkurang dan nyeri perut samar-samar yang berakhir dengan
muntah, sembelit serta nyeri kram perut. Pada dewasa jarang terjadi kerusakan otak.

Pada anak-anak, gejalanya diawali dengan rewel dan berkurangnya aktivitas bermain
selama beberapa minggu. Kemudian gejala yang serius timbul secara mendadak dan
dalam waktu 1-5 hari menjadi semakin memburuk, yaitu berupa:
- muntah menyembur yang berlangsung terus menerus
- berjalan goyah/limbung
- kejang
- linglung
- mengantuk
- kejang yang tak terkendali dan koma.
Gejala kerusakan otak tersebut terutama terjadi akibat pembengkakan otak.

Baik pada anak-anak maupun dewasa bisa terjadi anemia.


Beberapa gejala bisa menghilang secara spontan, tetapi jika kembali terjadi pemaparan
oleh timah hitam, gejalanya akan kembali memburuk.

Resiko tinggi ditemukan pada anak-anak yang tinggal di rumah tua/lama yang dicat
dengan cat yang mengandung timah hitam.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan kadar timah hitam di dalam darah.
Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan pengukuran jumlah timah hitam yang dibuang
melalui air kemih, analisa contoh sumsum tulang serta rontgen perut dan tulang panjang.

Kapsul succimer akan berikatan dengan timah hitam dan membantu melarutkannya di
dalam cairan tubuh sehingga dapat dibuang ke dalam air kemih.
Efek sampingnya adalah ruam kulit, mual, muntah, diare, nafsu makan berkurang, terasa
logam di mulut dan kelainan pada fungsi hati (kadar transaminase).
Jika kadar timah hitam cukup tinggi sehingga kemungkinan akan terjadi kerusakan otak,
maka penderita segera dirawat.
Dimercaprol dan kalsium dinatrium edetat diberikan melalui serangkaian suntikan.
Pengobatan dilakukan selama 5-7 hari untuk menghindari berkurangnya cadangan logam
yang penting dalam tubuh (terutama seng).
Dimercaprol seringkali menyebabkan muntah, karena itu diberikan cairan infus.
Pengobatan ini mungkin perlu diulangi dengan selang waktu tertentu.

Setelah pengobatan dihentikan, kadar timah hitam dalam darah biasanya kembali
meningkat karena timah hitam yang tersisa di dalam jaringan tubuh dilepaskan. Untuk
membantu membuangnya, penisilamin per-oral diberikan 2 hari setelah pemberian
kalsium dinatrium edetat.
Untuk menggantikan hilangnya logam lain selama pemakaian penisilamin, seringkali
diberikan suplemen zat besi, seng dan tembaga.

Efek samping dari kalsium dinatrium edetat kemungkinan terjadi akibat berkurangnya
seng, yaitu berupa kerusakan ginjal, kadar kalsium darah yang tinggi, demam serta diare.
Kerusakan ginjal biasanya bersifat sementara.
Penisilamin bisa menyebabkan ruam kulit, proteinuria (protein dalam air kemih) dan
penurunan jumlah sel darah putih. Efek tersebut bersifat sementara dan akan menghilang
pada saat pemakaian penisilamin dihentikan.
Pada beberapa penderita, dimercaprol bisa menyebabkan hemolisis (penghancuran sel
darah merah).

Obat-obat tersebut tidak digunakan sebagai tindakan pencegahan pada pekerja timah
hitam atau siapapun yang terpapar oleh kadar timah hitam yang tinggi, karena dapat
meningkatkan penyerapan timah hitam. Yang terpenting adalah mengurangi pemaparan
oleh timah hitam.
Jika anak-anak memiliki kadar timah hitam sebesar 10 mikrogram/dL atau lebih, maka
sebaiknya pemaparan oleh timah hitam dikurangi.

Pemulihan sempurna mungkin memerlukan waktu beberapa bulan sampai beberapa


tahun, dan kemungkinan akan meninggalkan efek saraf yang permanen.
Setelah mengalami keracunan timah hitam, sistem saraf dan otot bisa tidak berfungsi
sebagaimana mestinya, Sistem pembuluh darah dan ginjal juga bisa mengalami
gangguan.
Anak yang bertahan hidup bisa mengalami kerusakan otak yang permanen.

KERACUNAN ZAT BESI

Sejumlah besar zat besi bisa menyebabkan diare, muntah, peningkatan jumlah sel darah
putih dan kadar gula darah yang tinggi.
Jika dalam waktu 6 jam pertama tidak timbul gejala dan kadar zat besi di dalam darah
rendah, maka kecil kemungkinan terjadinya keracunan.
Zat besi ditemukan pada:
 Fero-sulfat (Feosol, Slow Fe)
 Fero-glukonat (Fergon)
 Fero-fumarat (Femiron, Feostat)
 Suplemen mineral
 Suplemen vitamin.

Gejala overdosis zat besi biasanya terjadi melalui beberapa tahap:


1. Stadium 1 (dalam waktu 6 jam)
- muntah
- rewel
- diare
- nyeri perut
- kejang
- mengantuk
- penurunan kesadaran
- perdarahan lambung (gastritis hemoragika) akibat iritasi saluran pencernaan.
Jika kadar zat besi di dalam darah tinggi, juga bisa terjadi:
- pernafasan dan denyut nadi cepat
- tekanan darah rendah
- peningkatan keasaman darah.
Tekanan darah yang sangat rendah atau penurunan kesadaran selama 6 jam
pertama menunjukkan bahwa keadaannya sangat serius.
2. Stadium 2 (dalam waktu 10-14 jam), terjadi perbaikan semu yang berlangsung
selama 24 jam.
3. Stadium 3 (antara 12-48 jam).
Bisa terjadi syok (tekanan darah sangat rendah), aliran darah ke jaringan
berkurang dan kadar gula darah turun.
Kadar zat besi dalam darah mungkin normal, tetapi pemeriksaan menunjukkan
adanya kerusakan hati.
Gejala lainnya adalah:
- demam
- peningkatan jumlah sel darah putih
- kelainan perdarahan
- kelainan konduksi listrik di jantung
- disorientasi
- gelisah
- mengantuk
- kejang
- penurunan kesadaran.
Bisa terjadi kematian.
4. Stadium 4 (setelah 2-5 minggu) : bisa terjadi komplikasi seperti penyumbatan
usus, sirosis atau kerusakan otak.
Jika hasil pemeriksaa darah menunjukkan kadar zat besi yang rendah, dilakukan
observasi selama 6 jam dan jika tidak timbul gejala, anak tidak perlu dirawat.
Jika kadar zat besi tinggi atau timbul gejala, maka anak perlu dirawat.

Di rumah sakit dilakukan pengurasan lambung.


Digunakan arang aktif, meskipun tidak banyak menyerap zat besi.
Mungkin perlu dilakukan pencucian usus untuk membuang zat besi.
Suntikan deferoksamin (yang akan mengikat zat besi di dalam darah) diberikan kepada
anak yang memiliki kadar zat besi tinggi atau menunjukkan gejala.

Kekurangan zat besi akibat pengobatan dan perdarahan bisa menyebabkan anemia.
Rontgen lambung atau usus bagian atas dilakukan 6 minggu atau lebih setelah keracunan,
untuk mengetahui adanya penyempitan organ akbiat iritasi lapisan saluran pencernaan.

Prognosis biasanya baik, hanya sekitar 1% yang meninggal. Resiko kematian pada anak
yang mengalami syok dan kesadarannya menurun adalah sebesar 10%.

Kematian bisa terjadi bahkan dalam waktu 1 minggu setelah keracunan, tetapi jika dalam
waktu 48 jam gejala-gejalanya telah hilang, maka akan terjadi pemulihan sempurna.

KERACUNAN HIDROKARBON

Hidrokarbon adalah senyawa organik yang hanya terdiri dari hidrogen dan karbon.
Hidrokarbon banyak ditemukan di dalam minyak bumi, gas alam dan batubara.

Keracunan hidrokarbon biasanya terjadi karena anak menelan hasil penyulingan minyak
bumi, seperti bensin, minayk tanah, pengencer cat dan hidrokarbon terhalogenasi
(misalnya karbon tetraklorida yang banyak ditemukan di dalam larutan dan pencair dry-
cleaning atau etilen diklorida).

Kematian banyak terjadi pada remaja yang dengan sengaja menghirup atsiri. Sejumlah
kecil bahan tersebut (terutama dalam bentuk cairan yang mudah mengalir) bisa masuk ke
dalam paru-paru dan menyebabkan kerusakan pada paru-paru.
Cairan yang lebih kental, yang digunakan pada semir furnitur, sangat berbahaya karena
bisa menyebabkan iritasi dan pneumonia aspirasi yang berat.

Gejalanya terutama menyerang paru-paru dan usus; pada kasus yang sangat berat juga
menyerang otak.
Pada awalnya anak mengalami batuk dan tersedak, kemudian pernafasan menjadi cepat.
Kulitnya tampak kebiruan karena berkurangnya kadar oksigen dalam darah. Selanjutnya
terjadi muntah dan batuk yang menetap disertai megap-megap.

Pada anak yang lebih besar, sebelum terjadinya muntah, mereka mengeluh merasa
terbakar/panas di lambung.
Gejala neurologis meliputi mengantuk, koma dan kejang. Gejala yang lebih berat
ditemukan pada anak yang telah menelan cairan yang lebih encer, minyak anjing laut
mineral atau h idrokarbon halogenasi (misalnya karbon tetraklorida).

Bisa terjadi kerusakan pada ginjal dan sumsum tulang.


Pada kasus yang berat, terjadi pembesaran jantung, denyut jantung yang tidak teratur dan
henti jantung.
Peradangan paru-paru yang cukup berat biasanya menyebabkan kematian dalam waktu
24 jam. Pemulihan pneumonia berlangsung dalam waktu 1 minggu; tetapi jika
penyebabnya adalah karena menelan minyal anjing laut mineral, masa pemulihan
biasanya memerlukan waktu 5-6 minggu.

Pada kasus yang berat, pneumonia dapat dilihat pada rontgen dada dalam waktu 2 jam
setelah keracunan; pada 90% kasus, pneumonia bisa terlihat pada rontgen dada dalam
waktu 6-8 jam.
Jika dalam waktu 24 jam tidak tidak timbul gejala pneumonia, maka tidak akan terjadi
pneumonia.

Kerusakan atau infeksi ginjal bisa terlihat dari hasil penghitungan sel darah putih dan
analisa air kemih.
Untuk memperkuat diagnosis dan membantu menentukan rencana pengobatan, dilakukan
pengukuran kadar oksigen dan karbondioksida dalam darah arteri.

Jika anak berada dalam keadaan sadar, segera minum segelas susu untuk melarutkan
bahan yang tertelan dan mengurangi peradangan lambung.
Jika terdapat tanda-tanda pneumonia (misalnya pernafasan cepat, denyut jantung cepat
atau batuk), anak harus dibawa ke rumah sakit.

Jika terjadi pneumonia diberikan terapi oksigen, ventilator, cairan infus dan pengawasan
ketat.

ANTIDOTUM & ZAT ANTITOKSIK

Antidotum adalah penawar racun, sedangkan antitoksik adalah penawar terhadap zat
yang beracun (toksik) terhadap tubuh.

ANTIDOTUM

Antidotum lebih difokuskan terhadap over dosis atau dosis toksik dari suatu obat.
Kondisi suatu obat dapat menimbulkan keracunan bila digunakan melebihi dosis
amannya. Selain itu, perbedaan metabolisme tubuh setiap orang terhadap dosis obat juga
mempengaruhi.
Obat dapat menjadi racun bila dikonsumsi dalam dosis berlebihan. Dalam hal ini, obat
tidak akan menyembuhkan melainkan berbahaya. Umumnya akan timbul efek
sampingnya.

Praktisi kesehatan seperti dokter dan apoteker harus berhati-hati


dalam memilih dosis obat yang sesuai dengan kondisi penderita.
Obat yang sama dapat diberikan dalam dosis yang berbeda kepada
bayi, anak-anak, dewasa dan usia lanjut. Hal ini disebabkan
perbedaan kesempurnaan pembentukan organ-organ tubuh
terutama hati dalam tiga jenis manusia tersebut.

Pengobatan terhadap keracunan obat yang umum


untuk keracunan yang terjadi kurang dari 24 jam
yaitu dengan membilas lambung bila obat baru
ditelan, memuntahkan obat sampai tindakan khusus untuk mempercepat
pengeluaran obat dari tubuh. Setelah bilas lambung, karbon aktif dan
suatu pencahar perlu diberikan.

Pada keracunan yang parah dibutuhkan antidotum yang memang terbukti


menolong terhadap efek keracunan obat tertentu, misal asam Folinat
untuk keracunan metotrexat.

Nalokson, atropin, chelating agent, natrium tiosulfat, metilen biru merupakan antidotum
spesifik yang sangat ampuh dan sering menimbulkan reaksi pengobatan yang dramatis.
Namun, sebagian terbesar kasus keracunan harus dipuaskan dengan pengobatan gejalanya
saja, dan inipun hanya untuk menjaga fungsi vital tubuh, yaitu pernafasan dan sirkulasi
darah.

Racun akan didetoksikasi oleh hepar secara alamiah dan racun atau metabolitnya akan
diekskresi melalui ginjal dan hati. Selama keracunan hanya perlu dipertahankan
pernapasan dan sistem kardiovaskuler (fungsi vital).

ZAT ANTITOKSIK

Saat ini manusia sering terkena zat-zat toksik baik dari makanan, air dan lingkungan. Di
rumah pun bukan berarti tidak berbahaya karena masih ada kemungkinan keracunan
insektisida maupun herbisida. Tergantung dari sifat yang dimiliki oleh zat toksik tersebut,
sehingga bisa terserap melalui lambung, usus, paru-paru dan atau kulit.

Untungnya, hati (liver) memiliki kemampuan mendetoksifikasi zat-zat toksik tersebut


sehingga dapat dikeluarkan melalui urine, empedu dan udara. Namun, apabila kecepatan
penyerapan melebihi kecepatan ekskresinya, zat toksik itu akan menumpuk dalam
konsentrasi kritis dan mengakibatkan munculnya efek toksik dari zat tersebut.
Zat-zat tosik seperti sulfida, arsenik, logam berat dapat masuk ke dalam tubuh dan
menyebabkan efek keracunan. Untuk itu, dibutuhkan zat antitoksik seperti
Desferrioksamin Metansulfonat untuk keracunan besi akut.

Air Kelapa Atasi Keracunan Obat


Tags: air kelapa, anafilaktik, atasi keracunan, keracunan obat, manfaat
air kelapa, mengatasi keracunan, syok

Air kelapa selain mengandung berbagai ion yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, juga
memiliki kemampuan untuk menawarkan racun yang masuk ke dalam tubuh. Air kelapa
ini sudah lama digunakan oleh nenek moyang untuk mengobati berbagai penyakit seperti:
panas dalam, demam, kekurangan cairan, dll.

Selain itu, air kelapa juga dapat digunakan untuk mengatasi keracunan obat. Keracunan
obat ini dapat menimbulkan berbagai gejala dan tanda (symptom and sign), mulai dari
urtikaria, Syndrom Steven Johnson (SJS). Di mana pada keadaan ini timbulnya berbagai
kelainan pada kulit yaitu keluarnya bintik-bintik kemerahan dan terasa gatal. Selain itu
gejala keracunan obat lainnya pada keadaan lebih berat dapat menimbulkan Syok
Anafilaktik (=shock anafilactic) yang dapat membahayakan keselamatan jiwa penderita.
Gejala mulai dari ringan sampai berat seperti: penglihatan terasa gelap, tekanan darah
menurun, denyut nadi cepat sampai menimbulkan hilangnya kesadaran. Dan bila tidak
ditangani segera akan menimbulkan kematian.

Keracunan obat ini dapat terjadi di mana saja. Bila kita mengalami hal tersebut atau ada
orang lain yang mengalami keracunan obat, cara yang terbaik adalah dengan membawa
orang tersebut ke Rumah Sakit segera. Di fasilitas kesehatan biasanya sudah disediakan
berbagai obat yang dapat digunakan untuk mengatasi syok anafilaktik ini. Akan tetapi,
bila hal di atas tidak mungkin dilakukan cara yang terbaik adalah dengan meletakkan
penderita pada posisi kepala lebih rendah dari anggota badan (posisi trendelenburg).
Posisi ini bertujuan untuk meningkatkan tekanan perfusi di dalam jaringan otak
(cerebral).

Tindakan selanjutnya adalah dengan memberi minum orang tersebut dengan Air Kelapa.
Berdasarkan pengalaman saya sendiri, penggunaan air kelapa ini sangat manjur untuk
mengatasi berbagai keracunan yang disebabkan oleh obat, baik itu obat yang dibeli di
warung atau di toko obat oleh penderita maupun dari petugas kesehatan.

Bila Anda berobat dengan petugas kesehatan atau di Rumah Sakit, biasanya dilakukan uji
kulit (skin test) terlebih dahulu untuk menguji apakah seseorang alergi terhadap obat
tersebut atau tidak. Namun, bila Anda membeli obat di warung atau toko obat, Anda tidak
tahu apakah alergi atau tidak terhadap obat yang dikonsumsi.

Oleh karena itu, penggunaan Air Kelapa untuk mengatasi keracunan obat ini layak untuk
digunakan. Semakin cepat, semakin baik.

Anda mungkin juga menyukai