Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keperawatan merupakan profesi yang dinamis dan berkembang secara terus menerus dan terlibat
dalam masyarakat yang berubah, sehingga pemenuhan dan metode keperawatan kesehatan berubah,
karena gaya hidup masyarakat berubah dan perawat sendiri juga dapat menyesuaikan dengan perubahan
tersebut. Definisi dan filosofi terkini dari keperawatan memperlihatkan trend holistic dalam
keperawatan yang ditunjukkan secara keseluruhan dalam berbagai dimensi, baik dimensi sehat maupun
sakit serta dalam interaksinya dengan keluarga dan komunitas. Tren praktik keperawatan meliputi
perkembangan di berbagai tempat praktik dimana perawat memiliki kemandirian yang lebih besar.
Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh perkawinan, adopsi dan kelahiran yang
bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental,
emosional, dan sosial dari individu-individu yang ada didalamnya terlihat dari pola interaksi yang
saling ketergantungan untuk mencapai tujuan bersama (Friedman, 1998).
Keperawatan keluarga dapat difokuskan pada anggota keluarga individu, dalam konteks keluarga,
atau unit keluarga. Terlepas dari identifikasi klien, perawat menetapkan hubungan dengan masing-
masing anggota keluarga dalam unit dan memahami pengaruh unit pada individu dan masyarakat.
Tujuan keperawatan keluarga dari WHO di Eropa yang merupakan praktek keperawatan termodern saat
ini adalah promoting and protecting people health merupakan perubahan paradigma dari cure menjadi
care melalui tindakan preventif dan mengurangi kejadian dan penderitaan akibat penyakit .
Perawat keluarga memiliki peran untuk memandirikan keluarga dalam merawat anggota
keluarganya, sehingga keluarga mampu melakukan fungsi dan tugas kesehatan, Friedmen menyatakan
bahwa keluarga diharapkan mampu mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga, diantaranya fungsi
afektif, sosialisasi, reproduksi, ekonomi, dan fungsi perawatan keluarga. Perawatan kesehatan keluarga
adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan pada keluarga sebagai unit pelayanan untuk mewujudkan
keluarga yang sehat.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Trend dan Isu Keperawatan Keluarga

Trend adalah sesuatu yang sedang booming, actual, dan sedang hangat diperbincangkan.
Sedangkan isu adalah suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diperkirakan terjadi atau tidak terjadi di
masa mendatang, menyangkut ekonomi, moneter, sosial, politik, hukum, pembangunan nasional,
bencana alam, hari kiamat, kematian, ataupun tentang krisis. Jadi, trend dan isu keperawatan keluarga
merupakan sesuatu yang booming, actual, dan sedang hangat diperbincangkan serta desas-desus dalam
ruang lingkup keperawatan keluarga.

Adapun trend dan isu dalam keperawatan keluarga, diantaranya:


1) Global
a) Dunia tanpa batas (global village) mempengaruhi sikap dan pola perilaku keluarga. Kemajuan
dan pertukaran iptek yang semakin global sehingga penyebarannya semakin meluas.
b) Kemajuan teknologi di bidang transportasi sehingga tingkat mobilisasi penduduk yang tinggi
seperti migrasi yang besar-besaran yang berpengaruh terhadap interaksi keluarga yang berubah.
c) Standar kualitas yang semakin diperhatikan menimbulkan persaingan yang ketat serta
menumbuhkan munculnya sekolah-sekolah yang mengutamakan kualitas pendidikan.
d) Kompetisi global dibidang penyediaan sarana dan prasarana serta pelayanan kesehatan menuntut
standar profesionalitas keperawatan yang tinggi.
e) Rendahnya minat perawat untuk bekerja dengan keluarga akibat system yang belum
berkembang.
f) Pelayanan keperawatan keluarga belum berkembang tapi DEPKES sudah menyusun pedoman
pelayanan keperawatan keluarga dan model keperawatan keluarga di rumah tapi perlu
disosialisasikan.
g) Keperawatan keluarga/ komunitas dianggap tidak menantang.
h) Geografis luas namun tidak ditunjang dengan fasilitas.
i) Kerjasama lintas program dan lintas sector belum memadai.
j) Model pelayanan belum mendukung peranan aktif semua profesi.
2) Pelayanan
a) SDM belum dapat menjawab tantangan global dan belum ada perawat keluarga.

2
b) Penghargaan / reward rendah.
c) Bersikap pasif.
d) Biaya pelayanan kesehatan rawat inap mahal.
e) Pengetahuan dan keterampilan perawat masih rendah.
3) Pendidikan
a) Lahan praktik terbatas; pendirian pendidikan keperawatan cenderung “mudah”
b) Penelitian terkait pengembangan dan uji model masih terbatas.
c) Sarana dan prasarana pendidikan sangat terbatas.
d) Rasio pengajar : mahasiswa belum seimbang.
e) Keterlibatan berbagai profesi selama pendidikan kurang.
4) Profesi
a) Standar kompetensi belum disosialisasikan.
b) Belum ada model pelayanan yang dapat menjadi acuan.
c) Kompetensi berbagai jenjang pendidikan tidak berbatas.
d) Mekanisme akreditasi belum berjalan dengan baik.
e) Peranan profesi di masa depan dituntut lebih banyak.
f) Perlu pengawalan dan pelaksanaan undang-undang praktik keperawatan.
B. Tugas Perkembangan Keluarga
a) Membina hubungan intim yang memuaskan.
b) Menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis.
c) Mendiskusikan rencana memiliki anak / KB
C. TREND DAN CURRENT ISSUE KEPERAWATAN KELUARGA
a) Dunia tanpa batas (global vilage) mempengaruhi sikap dan pola perilaku keluarga.
b) Kemajuan dan pertukaran IPTEK
c) Kemajuan teknologi transportasi migrasi dan mudah interaksi keluarga berubah
d) Kesiapan untuk bersaing secara berkualitas dan sekolah-sekolah berkualitas
e) Kompetensi global tenaga kesehatan/ keperawatan.
Dalam Bidang Pelayanan :
a) SDM belum dapat menjawab tantangan global dan belum ada perawat keluarga.
b) Penghargaan / reward rendah.
c) Bersikap pasif.
d) Biaya pelayanan kesehatan rawat inap mahal.
e) Pengetahuan dan keterampilan perawat masih rendah
f) Rendahnya minat perawat untuk bekerja dengan keluarga akibat system yang belum
berkembang.

3
g) Pelayanan keperawatan keluarga belum berkembang (DEPKES sudah mneyusun pedoman
pelayanan keperawatan keluarga dan model keperwatan keluarga di rumah & perlu
disosialisasikan).
h) Keperawatan keluarga/ komunitas dianggap tidak menantang.
i) Geografis luas namun tidak ditunjang dengan fasilitas.
j) Kerjasama lintas program dan lintas sector belum memadai.
k) Model pelayanan belum mendukung peranan aktif semua profesi
Dalam Bidang Pendidikan:
a) Lahan praktik terbatas; pendirian pendidikan keperawatan cenderung “mudah”
b) Penelitian terkait pengembangan dan uji model masih terbatas.
c) Sarana dan prasarana pendidikan sangat terbatas. o Rasio pengajar : mahasiswa belum
seimbang.
d) Keterlibatan berbagai profesi selama pendidikan kurang.
Dalam Bidang Profesi:
a) Standar kompetensi belum disosialisasikan
b) Belum ada model pelayanan yang dapat menjadi acuan
c) Kompetensi berbagai jenjang pendidikan tidak berbatas.
d) Mekanisme akreditasi belum berjalan dengan baik.
e) Peranan profesi di masa depan dituntut lebih banyak.
f) Perlu pengawalan dan pelaksanaan undang-undang praktik keperawatan.
 Tujuan Perawatan Kesehatan di keluarga
a) Membantu klien memelihara atau meningkatkan status kesehatan dan kualitas hidupnya.
b) Meningkatkan keadekuatan dan keefektifan perawatan pada anggota keluarga dengan
masalah kesehatan dan kecacatan.
c) Menguatkan fungsi keluarga dan kedekatan antar keluarga.
d) Membantu klien untuk tinggal atau kembali ke rumah dan mendapatkan perawatan yang
diperlukan rehabilitasi atau perawatan paliatif.
 Tujuan keperawatan keluarga dari WHO di europe yang merupakan praktek
keperawatan termodern saat ini adalah :
a) Promoting and protecting people health. Merupakan perubahan pradigma dari cure
menjadi care melalui tindakan preventif.
b) Mengurangi kejadian dan penderitaan akibat penyakit .

D. Beberapa Tren dan Issu dalam Keperawatan keluarga


1. Perubahan Bidang Profesi Keperawatan
a. Perubahan ekonomi Perubahan ekonomi membawa dampak terhadap pengurangan berbagai
anggaran untuk pelayanan kesehatan, sehingga berdampak terhadap orientasi manajemen
kesehatan atau keperawatan dari lembaga sosial ke orientasi bisnis.
b. Kependudukan

4
Sedangkan perubahan kependudukan dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia dan
bertambahnya umur harapan hidup, maka akan membawa dampak terhadap lingkup dari praktik
keperawatan. Pergeseran tersebut terjadi yang dulunya lebih menekankan pada pemberian
pelayanan kesehatan atau perawatan pada “hospital-based” ke “comunity based”.
c. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kesehatan Atau Keperawatan
Era kesejagatan identik dengan era komputerisasi, sehingga perawat di tuntut untuk menguasai
teknolgi komputer di daam melaksanakan MIS (Manajemen Information System) baik di tatanan
pelayanan maupun pendidikan keperawatan
d. Tuntutan Profesi Keperawatan
Karakteristik Profesi yaitu:
1. Memiliki dan memperkaya tubuh pengetehuan (body of knowledge) melalui penelitian
2. Memiliki kemampuan memberikan pelayanan yang unik kepada orang lain
3. Pendidikan yang memenuhi standar
4. Terdapat pengendalian terhadap praktik
5. Bertanggungjawab dan bertanggung gugat(Accounttable) terhadap tindakan keperawatan yang
dilakukan gabung
6. Merupakan karier seumur hidup
7. Mempunyai fungsi mandiri dan kolaborasi
2. Dampak Perubahan
1) Praktik keperawatan
a. Pengurangan anggaran Perawat indonesia saat ini di hadapkan pada suatu dilema,di satu sisi dia
harus terus mengupayakan peningkatan kualitas layanan kesehatan, dilain pihak pemerintah
memotong alokasi anggaran untuk pelayan keperawatan. Keadaan ini dipicu dengan menjadikan
rumah sakit swadan dimana juga berdampak terhadap kinerja perawat. Dalam melaksanakn
tugasnya perawat sering jarang mengadakan hubungan interpersonal yang baik karena mereka
harus melayani pasien lainnya dan dikejar oleh waktu.
b.Otonomi dan akuntabilitas Dengan melibatkan perawat dalam pengambilan suatu keputusan di
pemerintahan, merupakan hal yang sangat positif dalam meningkatkan otonomi dan akuntabilitas
perawat indonesia. Peran serta tesebut perlu di tingkatkan terus dan di pertahankan. Kemandirian
perawat dalam melaksanakan perannya sebagai suatu tantangan. Semakin meningkatnya otonomi
perawat semakin tingginya tuntutan kemampuan yang harus di persiapkan.

5
c.Teknologi Penguasaan dan keterlibatan dalam perkembangan IPTEK dalam praktek keperawatan
bagi perawat Indonesia merupakan suatu keharusan.
d.Tempat praktik Tempat praktik keperawatan di masa depan meliputi pada tatanan
klinik(RS);komunitas;dan praktik mandiri di rumah/berkelompok (sesuai SK MENKES
R.I.647/2000 tentang registrasi dan praktik keperawatan).
e. Perbedaan batas kewenangan praktik
Belum jelasnya batas kewenangan praktik keperawatan pada setiap jenjang pendidikan, sebagai
suatu tantangan bagi profesi keperawatan.
2) Tantangan Pendidikan Keperawatan Di masa depan pendidikan keperawatan dihadapkan pada
suatu tantangan dalam meningkatkan kualitas lulusannya dituntut menguasai kompetensi-
kompetensi profesional. Isi kurikulum program pendidikan ke depan, juga harus menyesuaikan diri
dengan perubahan-perubahan yang terjadi.
3) Tantangan Perubahan Iptek Riset keperawatan akan menjadi suatu kebutuhan dasar yang harus
dilaksanakan oleh perawat di era global. Meningkatnya kualitas layanan, sangat ditentukan oleh
hasil kajian-kajian dan pembaharuan yang dilaksanakan berdasarkan hasil penelitian. (Kuntoro,
2010)
E. Isu Terbaru Dalam Keperawatan Keluarga
Menurut Friedman dkk (2013), berdasarkan kajian kami terhadap literatur dan diskusi profesional
dengan kolega di bidang keperawatan keluarga, isu penting dalam keperawatan keluarga saat ini:
1. Isu Praktik:
a. Kesenjangan bermakna antara teori dan penelitian serta praktik klinis.
Kesenjangan antara pengetahuan yang ada dan penerapan pengetahuan ini jelas merupakan masalah
di semua bidang dan spesialisasi di keperawatan, meskipun kesenjangan ini lebih tinggi
dikeperawatan keluarga. Keperawatan yang berpusat pada keluarga juga masih dinyatakan ideal
dibanding praktik yang umum dilakukan. Wright dan Leahey mengatakan bahwa faktor terpenting
yang menciptkan kesenjangan ini adalah “ cara perawat menjabarkan konsep masalah sehat dan sakit.
Hal ini merupakan kemampuan “berfikir saling memengaruhi”: dari tingkat individu menjadi tingkat
keluarga (saling memengaruhi)”. Penulis lain yaitu Bowden dkk menyoroti bahwa kecenderungan
teknologi dan ekonomi seperti pengurangan layanan dan staf, keragaman dalam populasi klien yang
lebih besar. Sedangkan menurut Hanson kurangnya alat pengkajian keluarga yang komperehensif dan
strategi intervensi yang baik, perawat terikat dengan model kedokteran (berorientasi pada individu

6
dan penyakit), dan sistem pemetaan yang kita lakukan serta sistem diagnostik keperawatan
menyebabkan penerapan perawatan yang berfokus pada keluarga sulit diwujudkan.
b. Kebutuhan untuk membuat perawatan keluarga menjadi lebih mudah untuk di integrasikan dalam
praktik.
Dalam beberapa tahun ini, terjadi restrukturisasi pelayanan kesehatan besar-besaran, yang mencakup
perkembangan pesat sistem pengelolaan perawatan berupa sistem pemberian layanan kesehatan yang
kompleks, multi unit, dan multi level sedang dibentuk. Sebagian dari restruturisasi ini juga termasuk
kecenderungan pasien dipulangkan dalam “keadaan kurang sehat dan lebih cepat” dan pengurangan
jumlah rumah sakit, pelayanan dan staf, serta pertumbuhan pelayanan berbasis komunitas. Perubahan
ini me nyebabkan peningkatan tekanan kerja dan kelebihan beban kerja dalam profesi keperawatan.
Waktu kerja perawat dengan klien individu dan klien keluarga menjadi berkurang. Oleh karena itu,
mengembangkan cara yang bijak dan efektif untuk mengintegrasikan keluarga ke dalam asuhan
keperawatan merupakan kewajiban perawat keluarga. Menurut Wright dan Leahey, mengatasi
kebutuhan ini dengan menyusun wawancara keluarga selama 15 menit atau kurang. Pencetusan
gagasan dan strategi penghematan waktu yang realistik guna mempraktikan keperawatan keluarga
adalah isu utama praktik dewasa ini.
c. Peralihan kekuasaan dan kendali dari penyedia pelayanan kesehatan kepada keluarga. Berdasarkan
pembincangan dengan perawat dan tulisan yang disusun oleh perawat keluarga, terdapat kesepakatan
umum bahwa peralihan kekuasaan dan kendali dari penyedia pelayanan kesehatan ke pasien atau
keluarga perlu dilakukan. Kami percaya hal ini masih menjadi sebuah isu penting pada pelayanan
kesehatan saat ini. Menurut Wright dan Leahey dalam Robinson, mengingatkan kita bahwa terdapat
kebutuhan akan kesetaraan yang lebih besar dalam hubungan antara perawat dan keluarg, hubungan
kolaboratif yang lebih baik, dan pemahaman yang lebih baik akan keahlian keluarga. Perkembangan
penggunaan Internet dan email telah memberikan banyak keluarga informasi yang dibutuhkan untuk
belajar mengenai masalah kesehatan dan pilihan terapi mereka. Gerakan konsumen telah memengaruhi
pasien dan keluarga untuk melihat diri mereka sebagai konsumen, yang membeli dan mendaptkan
layanan kesehatan seperti layanan lain yang mereka beli. Dilihat dari kecenderungan ini, anggota
keluarga sebaiknya diberikan kebebasan untuk memutuskan apa yang baik bagi mereka dan apa yang
mereka lakukan demi kepentingan mereka sendiri.
d. Bagaimana bekerja lebih efektif dengan keluarga yang kebudayaannya beragam.

7
Kemungkinan, isu ini lebih banyak mendapatkan perhatian dikalangan penyedia pelayanan kesehatan,
termasuk perawat, dibandingkan isu lainnya pada saat ini. Kita tinggal di masyarakat yang beragam,
yang memiliki banyak cara untuk menerima dan merasakan dunia, khusunya keadaan sehat dan sakit.
Dalam pengertian yang lebuh luas, budaya (termasuk etnisitas, latarbelakang agama, kelas sosial,
afiliasi regional dan politis, orientasi seksual, jenis kelamin, perbedaan generasi) membentuk persepsi
kita, nilai, kepercayaan, dan praktik. Faktor lainnya, seperti pengalaman sehat dan sakit, membentuk
cara kita memandang sesuatu. Meskipun terdapat semua upaya tersebut guna dapat bekerja lebih efektif
dengan keluarga yang beragam, memberikan perawatan yang kompeten secara budaya tetap menjadi
tantangan yang terus dihadapi.
e. Globalisasi keperawatan keluarga menyuguhkan kesempatan baru yang menarik bagi perawat
keluarga.
Dengan makin kecilnya dunia akibat proses yang dikenal sebagai globalisasi, perawat keluarga
disuguhkan dengan kesempatan baru dan menarik utnuk belajar mengenai intervensi serta program
yang telah diterapkan oleh negara lain guna memberikan perawatan yang lebih baik bagi keluarga.
Globalisasi adalah proses bersatunya individu dan keluarga karena ikatan ekonomi, politis, dan
profesional. Globalisasi mempunyai dampak negatif yang bermakna bagi kesehatan yaitu ancaman
epidemi diseluruh dunia seperti HIV/AIDS menjadi jauh lebih besar. Akan tetapi sisi positifnya,
pembelajaran yang diperoleh perawat amerika dari perawat diseluruh dunia melalui konferensi
internasional, perjalanan, dan membaca literatur kesehatan internasional memberikan pemahaman yang
bermanfaat. Sebagai contoh, di Jepang, pertumbuhan keperawatan keluarga sangat mengesankan.
Disana, perawat telah mengembangkan kurikulum keperawatan keluarga disekolah keperawatan dan
telah menghasilkan teori keperawatan yang berfokus pada keluarga dan sesuai dengan nilai dan
konteks Jepang. Menurut Sugishita Keperawatan keluarga mengalami pertumbuhan yang pesat di
Jepang, yang ditandai dengan publikasi dan upaya penelitian yang dilakukan di Jepang. Negara lain,
seperti Denmark, Swedia, Israel, Korea, Chili, Meksiko, Skotlandia, dan Inggris juga mengalami
kemajuan bermakna di bidang kesehatan keluarga dan keperawatan keluarga. Kita harus banyak
berbagi dan belajar dari perawat dibeberapa negara ini.
2. Isu Pendidikan: Muatan apa yang harus diajarkan dalam kurikulum keperawatan keluarga dan
bagaimana cara menyajikannya?
Menurut Hanson dan Heims, yang melaporkan sebuah survei pada sekolah keperawatan di Amerika
Serikat yang mereka lakukan terkait cakupan keperawatan keluarga di sekolah tersebut, terdapat

8
perkembangan pemaduan muatan keperawatan keluarga dan ketrampilan klinis kedalam program
keperawatan pascasarjana dan sarjana. Masih belum jelas muatan apa yang tepat diberikan untuk
program sarjana dan pascasarjana dan bagaimana cara mengajarkan ketrampilan klinis. Tidak
kesepakatan mengenai fokus program sarjana dan pascasarjana terkait dengan keperawatan keluarga.
Akan tetapi, terdapat beberapa konsensus bahwa praktik keperawatan tingkat lanjut pada keperawatan
keluarga melibatkan pembelajaran muatan dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk bekerja dengan
seluruh keluarga dan individu anggota keluarga secara bersamaan. Perawat keluarga dengan praktik
tingkat lanjut dapat bekerja sebagai terapis keluarga pada keluarga yang bermasalah. Akan tetapi, masih
belum jelas muatan dan ketrampilan apa yang dibutuhkan dalam keperawatan keluarga untuk para
perawat yang dipersiapkan di program praktik tingkat lanjut lainnya (program perawat spesialis klinis
dan praktisi). Bahasa lebih lanjut mengenai cakupan dan level muatan dan ketrampilan klinis perlu
dilakukan.
3. Isu Penelitian:
Kebutuhan untuk meningkatkan penelitian terkait intervensi keperawatan keluarga
Dibidang keperawatan keluarga, perawat peneliti telah membahas hasil kesehatan dan peralihan
keluarga yang terkait dengan kesehatan. Teori perkembangan, teori stres, koping, dan adaptasi, teori
terapi keluarga, dan teori sistem telah banyak memandu penilitian para perawat penilti keluarga.
Penelitian dilakukan lintas disiplin, yang menunjukkan bahwa “tidak ada satupun disiplin yang
memiliki keluarga” menurut Gillis dan Knafl dalam Friedman dkk (2013). Kelangkaan penelitian
keperawatan yang nyata terletak dibidang studi interveni. Menurut Knafl dalam Friedman dkk (2013)
kurangnya studi intervensi dalam keperawatan keluarga “mengejutkan.” Menurut Janice Bell dalam
editor journal of family nursing, dalam editorial “Wanted :Family Nursing Intervention,” mengeluhkan
mengenai kurangnya naskah penelitian intervensi keperawatan yang ia terima untu dikaji. Dengan tidak
memadainya jumlah studi intervensi,kita mengalami kekurangan bukti ilmiah yang dibutuhkan untuk
mendukung evikasi strategi dan program keperawatan keluarga. Selain itu,dibutuhkan penelitian
keperawatan keluarga yang sebenarnya: sebagian besar penelitian keperawatan keluarga sebenarnya
merupakan penelitian yang terkait dengan keluarga ( yang berfokus pada anggota keluarga),bukan
penelitian keluarga (yang berfokus pada seluruh keluarga sebagai sebuah unit).
4. Isu kebijakan:
Kebutuhan akan lebih terlibatnya perawat keluarga dalam membentuk kebijakan yang memengaruhi
keluarga.

9
Hanson, dalam bahasanya mengenai reformasi pelayanan kesehatan, mendesak perawat keluarga lebih
terlibat di tiap level sistem politis guna menyokong isu keluarga. Kami setuju dengan beliau.
Praktisnya, semua legislasi domestik yang dikeluarkan ditingkat lokal, negara bagian atau nasional
mempunyai dampak pada keluarga. Sebagai advokat keluarga, kita perlu baik secara sendiri-sendiri
maupun bersama menganalisis isu dan kebijakan yang tengah diusulkan dan membantu merumuskan
dan mengimplementasikan kebijakan dan regulasi yang positif. Mendukung calon dewan yang
mendukung calon keluarga dan menjadi relawan untuk melayani komisi kesehatan dan komisi yang
terkait dengan kesehatan dan dewan organisasi adalah jalan penting lain untuk “ membuat suatu
perbedaan” kita perlu mendukung keluarga agar mempunyai hak mendapatkan informasi, memahami
hak dan pilihan mereka, serta lebih cakap dalam membela kepentingan meraka sendiri.
F. Trend dan Isu Keperawatan Keluarga di Indonesia
Perkembangan keperawatan di Indonesia sejak tahun 1983 sangat pesat, di tandai dengan buka nya
Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) di Universitas Indonesia Jakarta sejak tahun 1985 dan tahun
1985 telah menjadi fakultas keperawatan, kemudian disusul PSIK di Universitas Padjadjaran Bandung,
berkembang lagi di 7 Universitas Negeri di Indonesia pada tahun 1999, serta mulai berkembang pada
sekolah tinggi ilmu kesehatan dengan jurusan keperawatan yang pengelolaannya dimiliki oleh
masyarakat. Perkembangan tersebut juga ditunjang oleh Departemen Kesehatan pada tahun 90-an
dengan program pokok Perawatan Kesehatan Masyarakat di Puskesmas yang sasarannya adalah
keluarga. Namun, perkembangan jumlah keluarga yang menerus meningkat dan banyaknya keluarga
yang rawan kesehatan (risiko), keperawatan komunitas mungkin tidak dapat menjangkau meskipun
salah satu sasarannya adalah keluarga yang rawan (berisiko). Dengan keadaan demikian keperawatan
komunitas (masyarakat) memfragmentasi menjadi keperawatan yang spesifik diantaranya keperawatan
keluarga. Akibatnya, jelas sekali bahwa keperawatan keluarga menjadi sasaran yang spesifik dengan
masalah keperawatan (kesehatan) yang spesifik pula.
Sesuai dengan perkembangan terjadi pula perubahan yang di motori oleh Dirtjen Dikti Pendidikan
Nasional dengan Konsorsium Ilmu Kesehatan yang menyajikan secara tersendiri mata kuliah perawatan
keluarga pada kurikulum D-3 keperawatan dan pendidikan ners di Indonesia sejak tahun 1999.

Tuntutan professional yang tinggi sebenarnya tidak berlebihan, keadaan ini sesuai tuntutan
pemerintah di bindang kesehatan untuk membangun “Indonesia Sehat 2010” dengan strategi :

1. pembangunan berwawasan kesehatan

10
2. desentralisasi
3. profesionalisme
4. jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat (JPKM)

Asuhan keperawatan keluarga dapat segera dilakuakan oleh perawat dengan berbagai persyaratan
yang harus dipenuhi, yaitu :

1. Telah menyelesaikan pendidikan formal Ners (perawat) yang diakui. Pendidikan formal di
Indonesia adalah D-3 keperawatan yang menghasilkan perawat professional “pemula” dan PSIK
yang menghasilkan Ners, yang memiliki kemampuan professional yang tinggi, yaitu (1)
keterampilan intelektual, (2) keterampilan teknis, dan (3) keterampilan interpersonal dengan
berlandaskan etik dan melaksanakan profesinya sesuai dengan standar praktik keperawatan.
2. Telah melakukan proses registrasi sebagai ners (perawat). Perawat yang telah menyelesaikan
secara formal pendidikannya harus melalui proses legislasi sebagai ners (perawat) dengan tahap
:
a. Registrasi adalah proses pendaftaran seorang ners (perawat) yang telah lulus pendidikan
formal di dinas kesehatan provinsi, sesuai dengan keputusan Menkes No 1239 tahun 2001.
b. Sertifikasi adalah proses penilaian terhadap kemampuan seorang ners (perawat) untuk
dinyatakan cakap melaksanakan kewenangan (kompetensi) yang dimiliki. Namun, belum
dilalui sehingga setelah tahap registrasi seorang ners (perawat) akan memperoleh lisensi.
c. Lisensi adalah proses pembelian bukti tertulis setelah seorang ners (perawat) dinyatakan
cakap untuk dapat melaksanakan kewenangannya. Di Indonesia disebut dengan surat izin
perawat (SIP).
3. Memiliki institusi yang mempunyai kewenangan untuk memberikan asuhan keperawatan
keluarga. Meskipun telah mempunyai SIP, kegiatan keperawatan keluarga yang diberikan
kepada kliennya harus mempunyai institusi berbadan hukum yang secara legal bertanggung
jawab terhadap pelaksanaan keperawatan, mutu asuhan yang diberikan, dan untuk meningkatkan
kepercayaan publik, serta dapat dilakukan upaya tanggung gugat oleh klien bila tidak sesuai
standar asuhan.
4. Mematuhi standar praktik dan etik profesi yang ditetapkan oleh PPNI atau pemerintah. Standar
praktik yang ada bertujuan agar asuhan yang diberikan ners (perawat) mempunyai mutu sesuai

11
dengan kaidah profesi. Etik profesi yang dapat mengendalikan bagaimana seorang ners
(perawat) berperilaku yang santun kepada klien dan tidak merugikan klien atau publik.

Bentuk pelayanan yang dapat diberikan oleh perawat keluarga adalah perawatan kesehatan
dirumah. Agar mempunyai arah yang pasti terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga,
Departemen Kesehatan telah menerbitkan surat keputusan No. HK.00.06.5.1.311 bulan januari 2012
tentang penerapan pedoman perawatan kesehatan dirumah.

Dengan gambaran situasi diatas, kesempatan sangat besar dimiliki oleh seorang ners (perawat)
untuk mewujudkannya, dan hal ini merupakan tantangan yang cukup berat bila seorang professional
tidak mampu mewujudkannya. Karena bagaimanapun juga tidak ada alasan bahwa tidak mendapat
dukungan secara profesi dan pemerintah.

G. Kriteria kesejahteraan keluarga di indonesia

Berikut ini merupakan tahapan-tahapan keluarga sejahtera :


1. keluarga prasejahtera
keluarga - keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasar secara minimal, seperti
kebutuhan akan pengajaran, agama, sandang, pangan, dan kesehatan.
2. keluarga sejahtera tahap I
keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tatapi belum
dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan sosial psikologis seperti kebutuhan akan pendidikan,
keluarga berencana, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan tempat tinggal dan
transportasi.
3. keluarga sejahtera tahap II
keluarga-keluarga yang disamping dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, juga telah dapat
memenuhi seluruh kebutuhan sosial psikologisnya, akan tetapi belum dapat memenuhi
keseluruhan kebutuhan pengembangan seperti kebutuhan untuk menabung dan memperoleh
informasi.
4. keluarga sejahtera tahapan III
keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, kebutuhan sosial
psikologis dan kebutuhan pengembangan, namun belum dapat memberikan sumbangan yang
maksimal terhadap masyarakat, seperti secara teratur memberikan sumbangan dalam bentuk

12
materi dan keuangan untuk kepentingan sosial kemasyarakatan serta peran secara aktif dengan
menjadi pengurus lembaga kemasyarakatan atau yayasan sosial, keagamaan, kesenian, olahraga
dan pendidikan.
5. keluarga sejahtera tahap IV
keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan baik yang bersifat dasar, sosial
psikologis, maupun pengembangan serta telah dapat pula memberikan sumbangan yang nyata
dan berkelanjutan bagi masyarakat.
H. Beberapa permasalahan mengenai trend dan isu keperawatan keluarga yang muncul di
Indonesia :
a) Sumberdaya tenaga kesehatan yang belum dapat bersaing secara global serta belum adanya perawat
keluarga secara khusus di negara kita.
b) Penghargaan dan reward yang dirasakan masih kurang bagi para tenaga kesehatan.
c) Pelayanan kesehatan yang diberikan sebagian besar masih bersifat pasif.
d) Masih tingginya biaya pengobatan khususnya di sarana.
e) Sarana pelayanan kesehatan yang memiliki kualitas baik.
f) Pengetahuan dan keterampilan perawat yang masih perlu ditingkatkan.
g) Rendahnya minat perawat untuk bekerja dengan keluarga akibat system yang belum berkembang.
h) Pelayanan keperawatan keluarga yang belum berkembang meskipun telah disusun pedoman
pelayanan keluarga namun belum disosialisaikan secara umum.
i) Geografis Indonesia yang sangat luas namun belum di tunjang dengan fasilitas transportasi yang
cukup.
j) Kerjasama program lintas sektoral belum memadai.
k) Model pelayanan belum mendukung peran aktif semua profesi.
l) Lahan praktek yang terbatas, sarana dan prasarana pendidikan juga terbatas.
m) Rasio pengajar dan mahasiswa yang tidak seimbang.
n) Keterlibatan berbagai profesi selama menjalani pendidikan juga kurang.
Trend dan Isu Nasional :
a) Semakin tingginya tuntutan profesionalitas pelayanan kesehatan.
b)Penerapan desentralisasi yang juga melibatkan bidang kesehatan. Peran serta masyarakat yang
semakin tinggi dalam bidang kesehatan.

13
c) Munculnya perhatian dari pihak pemerintah mengenai masalah kesehatan masyarakat seperti
diberikannya bantuan bagi keluarga miskin serta asuransi kesehatan lainnya bagi keluarga yang
tidak mampu.
I. Trend dan Isu Keperawatan Keluarga di Global

Isu praktik : globalisasi keperawatan keluarga menyuguhkan kesempatan baru yang menarik bagi
perawat keluarga. Dengan makin kecilnya dunia akibat proses yang dikenal sebagai globalisasi, perawat
keluarga disuguhkan dengan kesempatan baru dan menarik untuk belajar mengenai intervensi serta
program yang telah diterapkan oleh negara lain guna memberikan perawatan yang lebh baik bagi
keluarga. Globalisasi adalah proses bersatunya individu dan keluarga karena ikatan ekonomi, politis dan
profesional, globalisasi mempunyai damfak negatif yang bermakna bagi kesehatan yaitu ancaman
epidemi diseluruh dunia seperti human imunodeficiency virus/ aquired immune deficiency syndrome
(HIV/AIDS) menjadi jauh lebih besar. Akan tetapi sisi positifnya, pembelajaran yang diperoleh perawat
amerika dari perawat diseluruh dunia melalui konferensi internasional, perjalanan dan membaca
literatur kesehatan internasional memberikan pemahaman yang sangat bermanfaat. Sebagai contoh, di
jepang, pertumbuhan keperawatan keluarga sangat mengesankan. Disana, perawat telah
mengembangkan kurikulum keperawatan keluarga disekolah keperawatan dan telah menghasilkan teori
keperawatan yang berfokus pada keluarga dan sesuai dengan nilai dan konteks jepang. Keperawatan
keluarga mengalami pertumbuhan yang pesat di jepang yang ditandai dengan publikasi dan upaya
penelitian yang dilakukan di jepang (sugisita,1999). Negara lain, seperti denmark, swedia, israel, korea,
chili, meksiko, skotlandia dan inggris juga mengalami kemajuan bermakna dibidang kesehatan keluarga
dan keperawatan keluarga. Kita mesti banyak berbagi dan belajar dari perawat di beberapa negara ini.

14
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Sikap dan pola perilaku keluarga dapat dipengaruhi oleh dunia tanpa batas (global village).
Kemajuan teknologi di bidang transportasi mengakibatkan tingkat mobilisasi penduduk yang tinggi
seperti migrasi yang besar-besaran yang berpengaruh terhadap interaksi keluarga yang berubah.
Pelayanan keperawatan keluarga belum berkembang tapi DEPKES sudah menyusun pedoman
pelayanan keperawatan keluarga dan model keperawatan keluarga di rumah tapi perlu disosialisasikan
serta munculnya perhatian dari pihak pemerintah mengenai masalah kesehatan masyarakat seperti
diberikannya bantuan bagi keluarga miskin serta asuransi kesehatan lainnya bagi keluarga yang tidak
mampu. Rendahnya minat perawat untuk bekerja dengan keluarga akibat system yang belum
berkembang.
B. Saran

Pelayanan keperawatan keluarga harus dikembangkan karena keperawatan keluarga dapat


mengurangi kejadian atau penderitaan akibat penyakit dengan perubahan paradigma dari cure menjadi
care melalui tindakan preventif.

15
DAFTAR PUSTAKA

Makhfudli, F. E. (2013). Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika

Ali, Z. (2010). Pengantar Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC.

Https://www.slideshare.net/septianraha/tren-dan-isu-keperawatan-keluarga. diakses pada tanggal 27


November 2018

Kuntoro, A. (2010). Buku Ajar Manajemen Keperawatan. Yogyakarta: Nuha Medika

Wahid Iqbal Mubarak, N. C. (2012). Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep dan Aplikasi. Jakarta:
Salemba Medika.

Friedman,dkk. (2013) Buku Ajar Keperawatan Keluarga Riset, Teori, & Praktik. Jakarta: EGC

16