Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Stroke adalah infark regional kortikal, subkortikal atau pun infark regional di

batang otak yang terjadi karena kawasan perdarahan atau penyumbatan suatu arteri

sehingga jatah oksigen tidak dapat disampaikan kebagian otak tertentu. Stroke

merupakan penyebab utama kecacatan pada orang dewasa. Empat juta orang Amerika

mengalami defisit neurologi akibat stroke; dua pertiga dari defisit ini bersifat sedang

sampai parah. Kemungkinan meninggal akibat stroke inisial adalah 30% sampai 35% dan

kemungkinan kecacatan mayor pada orang yang selamat adalah 35% sampai 40%.

Sekitar sepertiga dari semua pasien yang selamat dari stroke akan mengalami stroke

ulangan pada tahun pertama.

Secara umum stroke dapat dibagi menjadi 2. Pertama stroke iskemik yaitu stroke

yang disebabkan oleh penyumbatan pada pembuluh darah diotak. Kedua stroke

hemoragik yaitu stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak. Faktor-

faktor resiko stroke antara lain umur, hipertensi, diabetes mellitus, aterosklerosis,

penyakit jantung, merokok dan obat anti hamil2.

Melihat fenomena di atas, stroke merupakan penyakit yang menjadi momok bagi

manusia. Selain itu, stroke menyerang dengan tiba-tiba. Orang yang menderita stroke

sering tidak menyadari bahwa dia terkena stroke. Tiba-tiba saja, penderita merasakan dan

mengalami kelainan seperti lumpuh pada sebagian sisi tubuhnya, bicara pelo, pandangan

kabur, dan lain sebagainya tergantung bagian otak mana yang terkena. Oleh karena itu

penting bagi kita untuk mempelajari tentang patofisologi, mekanisme, manifestasi klinis,
prosedur diagnostik dan penatalaksanaan stroke. Karena keterbatasan tempat kali ini

penulis hanya akan membahas patofisiologi dan penatalaksanaan stroke disebabkan

penulis memandang lebih pentingnya membahas masalah tersebut daripada yang lain.

Pertambahan kasus stroke yang tidak diimbangi dengan perbaikan penatalaksanaan di

rumah sakit menyebabkan dalam dekade terakhir stroke merupakan penyebab kematian

nomor 1 di rumah-rumah sakit di Indonesia (Informasi Rumah Sakit. Depkes RI 1997).

Kematian akibat stroke terutama terjadi pada fase akut dan umumnya terjadi pada saat

penderita sudah berada di rumah sakit. Oleh karena itu disamping usaha prevensi primer

perbaikan penatalaksanaan stroke di rumah sakit merupakan hal yang harus dilaksanakan.

CVA (Cerebro Vascular Accident) merupakan kelainan fungsi otak yang timbul

mendadak yang disebabkan karena terjadinya gangguan peredaran darah otak yang dan

bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja dengan gejala-gejala berlangsung selama 24

jam atau lebih yang menyebabakan cacat berupa kelumpuhan anggota gerak, gangguan

bicara, proses berpikir, daya ingat dan bentuk-bentuk kecacatan lain hingga

menyebabkan kematian (Muttaqin, 2008:234).

2. Tujuan

1. Untuk mengetahui patofisiologi penyakit stroke.

2. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari penyakit stroke.


BAB II

TINJAUAN TEORI

1. Pengertian

CVA Infark adalah sindrom klinik yang awal timbulnya mendadak, progresif

cepat, berupa defisit neurologi fokal atau global yang berlangsung 24 jam terjadi karena

trombositosis dan emboli yang menyebabkan penyumbatan yang bisa terjadi di sepanjang

jalur pembuluh darah arteri yang menuju ke otak. Darah ke otak disuplai oleh dua arteria

karotis interna dan dua arteri vertebralis. Arteri-arteri ini merupakan cabang dari

lengkung aorta jantung (arcus aorta) (Suzanne, 2002: 2131).

2. Etiologi

Beberapa penyebab CVA infark (Muttaqin, 2008: 235)

a. Trombosis serebri

Terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga menyebabkan

iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan edema dan kongesti disekitarnya.

Trombosis biasanya terjadi pada orang tua yang sedang tidur atau bangun tidur. Terjadi

karena penurunan 3 aktivitas simpatis dan penurunan tekanan darah. Trombosis serebri

ini disebabkan karena adanya:

1) Aterosklerostis: mengerasnya/berkurangnya kelenturan dan elastisitas dinding

pembuluh darah.

2) Hiperkoagulasi: darah yang bertambah kental yang akan menyebabkan viskositas

hematokrit meningkat sehingga dapat melambatkan aliran darah cerebral


3) Arteritis: radang pada arteri

b .Emboli

Dapat terjadi karena adanya penyumbatan pada pembuluhan darah otak oleh

bekuan darah, lemak, dan udara. Biasanya emboli berasal dari thrombus di jantung yang

terlepas dan menyumbat sistem arteri serebri. Keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan

emboli:

1) Penyakit jantung, reumatik

2) Infark miokardium

3) Fibrilasi dan keadaan aritmia : dapat membentuk gumpalan-gumpalan kecil yang dapat

menyebabkan emboli cerebri

4) Endokarditis : menyebabkan gangguan pada endokardium

3. Faktor resiko terjadinya stroke

Ada beberapa faktor resiko CVA infark (Muttaqin, 2008: 236):

1) Hipertensi.

2) Penyakit kardiovaskuler-embolisme serebri berasal dari jantung: Penyakit arteri

koronaria, gagal jantung kongestif, hipertrofi ventrikel kiri, abnormalitas irama (khususnya

fibrilasi atrium), penyakit jantung kongestif.

3) Kolesterol tinggi

4) Obesitas

5) Peningkatan hematocrit

6) Diabetes Melitus
7) Merokok

4.Patofisiologi

1. Klasifikasi ( Arief Mansoer, dkk, 2000) berdasarkan Klinik

a. Stroke Hemoragik (SH) Stroke yang terjadi karena perdarahan Sub arachnoid, mungkin

disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah tertentu, biasanya terjadi saat pasien

melakukan aktivitas atau saat aktif. Namun bisa juga terjadi saat istirahat, kesadaran pasien

umumnya menurun.

b.Stroke Non Hemoragik (SNH) Dapat berupa iskemia, emboli dan trombosis serebral, biasanya

terjadi setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau dipagi hari. Tidak terjadi iskemi yang

menyebabkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder, kesadaran pasien

umumnya baik.

2. Berdasarkan Perjalanan Penyakit

a.Trancient Iskemik Attack (TIA) atau serangan iskemik sepintas Merupakan gangguan

neurologis fokal yang timbul mendadak dan hilang dalam beberapa menit (durasi rata-rata 10

menit) sampai beberapa jam (24 jam)

b. Stroke Involution atau Progresif Adalah perjalanan penyakit stroke berlangsung perlahan

meskipun akut. Munculnya gejala makin bertambah buruk, proses progresif beberapa jam

sampai beberapa hari.

c. Stroke Complete Gangguan neurologis yang timbul sudah menetap atau permanen, maksimal

sejak awal serangan dan sedikit memperlihatkan parbaikan dapat didahului dengan TIA yang

berulang.
5. Manisfestasi klinis

1. Menurut Hudak dan Gallo dalam buku keperawatn Kritis (1996: 258-260), yaitu:

a. Lobus Frontal

1) Deficit Kognitif: kehilangan memori, rentang perhatian singkat, peningkatan distraktibilitas

(mudah buyar), penilaian buruk, tidak mampu menghitung, memberi alasan atau berpikir abstrak.

2) Deficit Motorik: hemiparese, hemiplegia, distria (kerusakan otot-otot bicara), disfagia

(kerusakan otot-otot menelan).

3) Defici aktivitas mental dan psikologi antara lain: labilitas emosional, kehilangan kontrol diri

dan hambatan sosial, penurunan toleransi terhadap stres, ketakutan, permusuhan frustasi, marah,

kekacuan mental dan keputusasaan, menarik diri, isolasi, depresi.

b. Lobus Parietal

1) Dominan :

a. Defisit sensori antara lain defisit visual (jarak visual terpotong sebagian besar pada hemisfer

serebri), hilangnya respon terhadap sensasi superfisial (sentuhan, nyeri, tekanan, panas dan

dingin), hilangnya respon terhadap proprioresepsi (pengetahuan tentang posisi bagian tubuh).

b. Defisit bahasa/komunikasi -Afasia ekspresif (kesulitan dalam mengubah suara menjadi pola-

pola bicara yang dapat dipahami) -Afasia reseptif (kerusakan kelengkapan kata yang diucapkan)

-Afasia global (tidak mampu berkomunikasi pada setiap tingkat


-Aleksia (ketidakmampuan untuk mengerti kata yang dituliskan)

-Agrafasia (ketidakmampuan untuk mengekspresikan ide-ide dalam tulisan).

2) Non Dominan

-Defisit perseptual (gangguan dalam merasakan dengan tepat dan menginterpretasi

diri/lingkungan) antara lain:

-Gangguan skem/maksud tubuh (amnesia atau menyangkal terhadap ekstremitas yang

mengalami paralise)

-Disorientasi (waktu, tempat dan orang)

-Apraksia (kehilangan kemampuan untuk menggunakan objek-objak dengan tepat)

-Agnosia (ketidak mampuan untuk mengidentifikasi lingkungan melalui indra)

-Kelainan dalam menemukan letak obyek dalam ruangan

-Kerusakan memori untuk mengingat letak spasial obyek atau tempat

-Disorientasi kanan kiri

c. Lobus Occipital: deficit lapang penglihatan penurunan ketajaman penglihatan, diplobia

(penglihatan ganda), buta.

d.Lobus Temporal: defisit pendengaran, gangguan keseimbangan tubuh.

2. Penurunan Kesadaran

6. Pemeriksaan Penunjang
Periksaan penunjang pada pasien CVA infark:

a. Laboratorium :

b. Pada pemeriksaan paket stroke: Viskositas darah pada apsien CVA ada peningkatan VD

> 5,1 cp, Test Agresi Trombosit (TAT), Asam Arachidonic (AA), Platelet Activating

Factor (PAF), fibrinogen (Muttaqin, 2008: 249-252)

c. Analisis laboratorium standar mencakup urinalisis, HDL pasien CVA infark mengalami

penurunan HDL dibawah nilai normal 60 mg/dl, Laju endap darah (LED) pada pasien

CVA bertujuan mengukur kecepatan sel darah merah mengendap dalam tabung darah

LED yang tinggi menunjukkan adanya radang. Namun LED tidak menunjukkan apakah

itu radang jangka lama, misalnya artritis, panel metabolic dasar (Natrium (135-145

nMol/L), kalium (3,6- 5,0 mMol/l), klorida,) (Prince, dkk ,2005:1122)

d. Pemeriksaan sinar X toraks: dapat mendeteksi pembesaran jantung (kardiomegali) dan

infiltrate paru yang berkaitan dengan gagal jantung kongestif (Prince,dkk,2005:1122)

e. Ultrasonografi (USG) karaois: evaluasi standard untuk mendeteksi gangguan aliran darah

karotis dan kemungkinan memmperbaiki kausa stroke (Prince, dkk, 2005:1122).

f. Angiografi serebrum: membantu menentukan penyebab dari stroke secara Spesifik

seperti lesi ulseratrif, stenosis, displosia fibraomuskular, fistula arteriovena, vaskulitis

dan pembentukan thrombus di pembuluh besar (Prince, dkk, 2005:1122).

g. Pemindaian dengan Positron Emission Tomography (PET): mengidentifikasi seberapa

besar suatu daerah di otak menerima dan memetabolisme glukosa serta luas cedera

(Prince, dkk ,2005:1122)

h. Ekokardiogram transesofagus (TEE): mendeteksi sumber kardioembolus potensial

(Prince, dkk, 2005:1123)


i. CT scan: pemindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi hematoma,

adanya jaringan otak yang infark atau iskemia dan posisinya secara pasti. Hasil

pemeriksaan biasanya didapatkan hiperdens fokal, kadang pemadatan terlihat di ventrikel

atau menyebar ke permukaan otak (Muttaqin, 2008:140).

j. MRI: menggunakan gelombang magnetik untuk memeriksa posisi dan besar / luasnya

daerah infark (Muttaqin, 2008:140).

k. Penatalaksanaan medis :

1. Ada bebrapa penatalaksanaan pada pasien dengan CVA infark (Muttaqin, 2008:14):

a. Untuk mengobati keadaan akut, berusaha menstabilkan TTV dengan :

1) Mempertahankan saluran nafas yang paten

2) Kontrol tekanan darah

3) Merawat kandung kemih, tidak memakai keteter

4) Posisi yang tepat, posisi diubah tiap 2 jam, latihan gerak pasif.

b. Terapi Konservatif

1) Vasodilator untuk meningkatkan aliran serebral

2)Anti agregasi trombolis: aspirin untuk menghambat reaksi pelepasan agregasi

thrombosis yang terjadi sesudah ulserasi alteroma.

3)Anti koagulan untuk mencegah terjadinya atau memberatnya trombosisiatau

embolisasi dari tempat lain ke sistem kardiovaskuler.

4)Bila terjadi peningkatan TIK, hal yang dilakukan:

c. Hiperventilasi dengan ventilator sehingga PaCO2 30-35 mmHg


d. Osmoterapi antara lain: Infus manitol 20% 100 ml atau 0,25-0,5 g/kg BB/ kali

dalam waktu 15-30 menit, 4-6 kali/hari. Infus gliserol 10% 250 ml dalam waktu 1 jam,

4 kali/hari e. Posisi kepala head up (15-30⁰)

f. Menghindari mengejan pada BAB

g. Hindari batuk

h. Meminimalkan lingkungan yang panas

2. Kompliksi

Ada beberapa komplikasi CVA infark (Muttaqin, 2008: 253)

a.Dalam hal imobilisasi: Infeksi pernafasan (Pneumoni), nyeri tekan pada

decubitus, Konstipasi

b.Dalam hal paralisis: Nyeri pada punggung, Dislokasi sendi, deformitas

c.Dalam hal kerusakan otak: Epilepsy, Sakit kepala

d.Hipoksia serebral

e.Herniasi otak

f.Kontraktur

7.Pathways

8. Konsep Asuhan Keperawatan

1.Pengkajian

1 BIODATA

Pengkajian biodata di fokuskan pada:


Umur: karena usia di atas 55 tahun merupakan resiko tinggi terjadinya serangan stroke.Jenis

kelamin: laki-laki lebih tinggi 30% di banding wanita. Ras: kulit hitam lebih tinggi angka

kejadiannya.

2. KELUHAN UTAMA.

Biasanya klien datang ke rumah sakit dalam kondisi: penurunan kesadaran atau koma serta

disertai kelumpuhan dan keluhan sakit kepala hebat bila masih sadar.

3. UPAYA YANG TELAH DILAKUKAN.

Jenis CVA Bleeding memberikan gejala yang cepat memburuk.Oleh karena itu klien

biasanya langsung di bawa ke Rumah Sakit.

4. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU.

Perlu di kaji adanya riwayat DM, Hipertensi, Kelainan Jantung, Pernah TIAs, Policitemia

karena hal ini berhubungan dengan penurunan kualitas pembuluh darah otak menjadi

menurun.

5. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG.

Kronologis peristiwa CVA Bleeding sering setelah melakukan aktifitas tiba-tiba terjadi

keluhan neurologis misal: sakit kepala hebat, penurunan kesadaran sampai koma.

6. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA.

Perlu di kaji mungkin ada anggota keluarga sedarah yang pernah mengalami stroke.

7. PEMENUHAN KEBUTUHAN SEHARI-HARI.

Apabila telah mengalami kelumpuhan sampai terjadinya koma maka perlu klien

membutuhkan bantuan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dari bantuan sebagaian

sampai total.Meliputi: mandi makan/minum bab / bak berpakaian berhias aktifitas

mobilisasi
2. PEMERIKSAAN FISIK DAN OBSERVASI.

a. Sistem Respirasi (Breathing) : batuk, peningkatan produksi sputum, sesak nafas,

penggunaan otot bantu nafas, serta perubahan kecepatan dan kedalaman pernafasan. Adanya

ronchi akibat peningkatan produksi sekret dan penurunan kemampuan untuk batuk akibat

penurunan kesadaran klien. Pada klien yang sadar baik sering kali tidak didapati kelainan

pada pemeriksaan sistem respirasi.

b. Sistem Cardiovaskuler (Blood) : dapat terjadi hipotensi atau hipertensi, denyut jantung

irreguler, adanya murmur

c. Sistem neurologi

1) Tingkat kesadaran: bisa sadar baik sampai terjadi koma. Penilaian GCS untuk menilai

tingkat kesadaran klien

2) Refleks Patologis Refleks babinski positif menunjukan adanya perdarahan di otak/

perdarahan intraserebri dan untuk membedakan jenis stroke yang ada apakah bleeding atau

infark

3) Pemeriksaan saraf kranial

a) Saraf I: biasanya pada klien dengan stroke tidak ada kelainan pada fungsi penciuman

b) Saraf II: disfungsi persepsi visual karena gangguan jarak sensorik primer diantara

sudut mata dan korteks visual. Gangguan hubungan visula-spasial sering terlihat

pada klien dengan hemiplegia kiri. Klien mungkin tidak dapat memakai pakaian

tanpa bantuan karena ketidakmampuan untuk mencocokkan pakaian ke bagian tubuh.

c) Saraf III, IV dan VI: apabila akibat stroke mengakibatkan paralisis seisi otot-otot

okularis didapatkan penurunan kemampuan gerakan konjugat unilateral disisi yang

sakit
d) Saraf VII persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah asimetris, otot wajah

tertarik ke bagian sisi yang sehat

e) Saraf XII: lidah asimetris, terdapat deviasi pada satu sisi dan fasikulasi. Indera

pengecapan normal.

d. Sistem perkemihan (Bladder): terjadi inkontinensia urine

e. Sistem reproduksi: hemiparese dapat menyebabkan gangguan pemenuhan kebutuhan

seksual

f. Sistem endokrin: adanya pembesaran kelejar kelenjar tiroid

g. Sistem Gastrointestinal (Bowel) : adanya keluhan sulit menelan, nafsu makan

menurun, mual dan muntah pada fase akut. Mungkin mengalami inkontinensia alvi

atau terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus. Adanya gangguan pada

saraf V yaitu pada beberapa keadaan stroke menyebabkan paralisis saraf trigeminus,

didapatkan penurunan kemampuan koordinasi gerakan mengunyah, penyimpangan

rahang bawah pada sisi ipsilateral dan kelumpuhan seisi otot-otot pterigoideus dan

pada saraf IX dan X yaitu kemampuan menelan kurang baik, kesukaran membuka

mulut.

h. Sistem muskuloskeletal dan integument: kehilangan kontrol volenter gerakan motorik.

Terdapat hemiplegia atau hemiparesis atau hemiparese ekstremitas. Kaji adanya

dekubitus akibat immobilisasi fisik.

3. SOSIAL INTERAKSI.

Biasanya di jumpai tanda kecemasan karena ancaman kematian diekspresikan dengan

menangis, klien dan keluarga sering bertanya tentang pengobatan dan kesembuhannya.
4. Pola Fungsi kesehatan

a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

Biasanya ada riwayat perokok, penggunaan alkohol, penggunaan obat kontrasepsi oral.

b. Pola nutrisi dan metabolisme

Adanya gejala nafsu makan menurun, mual muntah pada fase akut, kehilangan sensasi

(rasa kecap) pada lidah, pipi, tenggorokan, disfagia ditandai dengan kesulitan menelan,

obesitas (Doengoes, 2000: 291)

c. Pola eliminasi

Gejala menunjukkan adanya perubahan pola berkemih seperti inkontinensia urine, anuria.

Adanya distensi abdomen (distesi bladder berlebih), bising usus negatif (ilius paralitik),

pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus. (Doengoes,

1998 dan Doengoes, 2000: 290)

d. Pola aktivitas dan latihan

Gejala menunjukkan danya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan

sensori atau paralise/ hemiplegi, mudah lelah. Tanda yang muncul adalah gangguan tonus

otot (flaksid, spastis), paralitik (hemiplegia) dan terjadi kelemahan umum, gangguan

penglihatan, gangguan tingkat kesadaran (Doengoes, 1998, 2000: 290)

e. Pola tidur dan istirahat

Biasanya klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena kejang otot/nyeri otot
f. Pola hubungan dan peran

Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesukaran untuk

berkomunikasi akibat gangguan bicara.

g. Pola persepsi dan konsep diri

Klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah, tidak kooperatif.

h. Pola sensori dan kognitif

Pada pola sensori klien mengalami gangguan penglihatan/ kekaburan pandangan,

perabaan/sentuhan menurun pada muka dan ekstremitas yang sakit. Pada pola kognitif

biasanya terjadi penurunan memori dan proses berpikir.

i. Pola reproduksi seksual

Biasanya terjadi penurunan gairah seksual akibat dari beberapa pengobatan stroke,

seperti obat anti kejang, anti hipertensi, antagonis histamin.

j. Pola penanggulangan stress

Klien biasanya mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah karena gangguan proses

berpikir dan kesulitan berkomunikasi.

l. Integritas ego

Terdapat gejala perasaan tak berdaya, perasaan putus asa dengan tanda emosi yang labil

dan ketidaksiapan untuk marah, sedih dan gembira, kesulian mengekspresikan diri

(Doengoes, 2000: 290)


M. Pola tata nilai dan kepercayaan

Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena tingkah laku yang tidak stabil,

kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh. (Marilynn E. Doenges, 2000)

5.PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Pemeriksaan radiologi

1. CT scan: didapatkan hiperdens fokal, kadang-kadang masuk ventrikel, atau menyebar

ke permukaan otak. (Linardi Widjaja, 1993), edema, hematoma, iskemia dan infark

(Doengoes, 2000: 292)

2. MRI: untuk menunjukkan area yang mengalami hemoragik. (Marilynn E. Doenges, 2000:

292) 3. Angiografi serebral: untuk mencari sumber perdarahan seperti aneurisma atau

malformasi vaskuler. (Satyanegara, 1998) atau membantu menenukan penyebab stroke

yang lebih spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri, adanya titik oklusi atau

ruptur (Doengoes, 2000: 292)

4. Pemeriksaan foto thorax: dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat

pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada

penderita Stroke. (Jusuf Misbach, 1999), menggambarkan perubahan kelenjar lempeng

pineal daerah berlawanan dari massa yang meluas (Doengoes, 2000: 292)

b. Pemeriksaan laboratorium

1. Pungsi lumbal: pemeriksaan likuor yang merah biasanya dijumpai pada perdarahan

yang masif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya warna likuor masih normal

(xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama. (Satyanegara, 1998). Tekanan normal biasanya


ada trombosis, emboli dan TIA. Sedangkan tekanan yang meningkat dan cairan yang

mengandungdarah menunjukkan adanya perdarahan subarachnoid atau intrakranial.

Kadar protein total meningkat pada kasus trombosis sehubungan dengan proses inflamasi

(Doengoes, 2000: 292)

2. Pemeriksaan darah rutin

3. Pemeriksaan kimia darah: pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula darah dapat

mencapai 250 mg dalam serum dan kemudian berangsur-angsur turun kembali. (Jusuf

Misbach, 1999)

4. Pemeriksaan darah lengkap: unutk mencari kelainan pada darah itu sendiri. (Linardi

Widjaja, 1993)

6. PRIORITAS KEPERAWATAN

1. Meningkatkan perfusi dan oksigenasi serebral yang adekuat

2.Mencegah/meminimalkan komplikasi dan ketidakmampuan yang bersifat permanen

3.Membantu pasien untuk menemukan kemandiriannya dalam melakukan aktivitas sehari-

hari

4.Memberikan dukungan terhadap proses koping dan mengintegrasikan perubaahan dalam

konsep diri pasien

5.Memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosisnya dan kebutuhan

tindakan/rehabilitasi
7.TUJUAN PEMULANGAN

1.Fungsi serebral membaik/meningkat, penurunan fungsi neurologis dapat

diminimalkan/dapat didtabilkan

2.Komplikasi dapat dicegah dan diminimalkan

3.Kebutuhan pasien sehari-hari dapat dipenuhi oleh pasien sendiri atau dengan bantuan

yang minimal dari orang lain

4.Mampu melakukan koping dengan cara yang positif, perencanaan untuk masa depan

5.Proses dan prognosis penyakit dan pengobatannya dapat dipahami

8. Diagnosa Keperawatan

1.Perubahan perfusi jaringan otak (serebral) berhubungan dengan perdarahan intracerebral,

edema serebral, gangguan oklusi (Marilynn E. Doenges, 2000: 293)

2.Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan,parastesia,

hemiparese/hemiplagia (Donna D. Ignativicius, 1995, doengoes, 2000: 295)

3.Gangguan persepsi sensori : perabaan yang berhubungan dengan penekanan pada saraf

sensori, penurunan penglihatan (Marilynn E. Doenges, 2000)

4.Kurangnya pemenuhan perawatan diri yang berhubungan dengan hemiparese/hemiplegi,

kerusakan neuromuskuler, kehilangan kontrol/koordinasi otot, penurunan

kekuatan/ketahanan, kerusakan perseptual, nyeri, depresi (Donna D. Ignativicius, 1995,

Doengoes, 2000: 301)


5.Resiko gangguan nutrisi berhubungan dengan kelemahan otot mengunyah dan menelan

( Barbara Engram, 1998)

6.Resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan tirah baring lama (Barbara Engram,

1998)

9. Rencana Asuhan Keperawatan

Rencana keperawatan dari diagnosa keperawatan diatas adalah:

1.Perubahan perfusi jaringan otak (serebral) berhubungan dengan perdarahan intracerebral,

edema serebral, gangguan oklusi dibuktikan oleh perubahan tingkat kesadaran, kehilangan

memori, perubahan respon motorik/sensori, gelisah, defisit sensori, bahasa, intelektual dan

emosi.

Tujuan: Perfusi jaringan otak dapat tercapai secara optimal Kriteria hasil:

-Klien tidak gelisah, mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik, fungsi kognitif

dan motorik/sensori

-Tidak ada tanda TIK meningkat

-Menunjukkan tidak ada kelanjutan deteriorasi/kekambuhan defisit

-Tanda-tanda vital stabil (nadi : 60-100 kali permenit, suhu: 36-36,7 C, pernafasan 16-20 kali

permenit)
Rencana tindakan

a.Berikan penjelasan kepada keluarga klien tentang sebab-sebab gangguan perfusi jaringan

otak dan akibatnya

b.Anjurkan kepada klien untuk bed rest total

c.Observasi dan catat tanda-tanda vital dan kelainan tekanan intrakranial tiap dua jam

d.Berikan posisi kepala lebih tinggi 15-30 dengan letak jantung (beri bantal tipis)

e.Anjurkan klien untuk menghindari batuk dan mengejan berlebihan

f.Ciptakan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung

g.Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat neuroprotektor

Rasional

1) Keluarga lebih berpartisipasi dalam proses penyembuhan

2) Untuk mencegah perdarahan ulang

3) Mengetahui setiap perubahan yang terjadi pada klien secara dini dan untuk penetapan

tindakan yang tepat

4) Mengurangi tekanan arteri dengan meningkatkan draimage vena dan memperbaiki

sirkulasi serebral

5) Batuk dan mengejan dapat meningkatkan tekanan intra kranial dan potensial terjadi

perdarahan ulang
6) Rangsangan aktivitas yang meningkat dapat meningkatkan kenaikan TIK. Istirahat total

dan ketenangan mungkin diperlukan untuk pencegahan terhadap perdarahan dalam

kasus stroke hemoragik / perdarahan lainnya

7) Memperbaiki sel yang masih viabel

2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan, parastesia, hemiparese/hemiplagia

Tujuan:

Klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya

Kriteria hasil:

-Tidak terjadi kontraktur sendi (mempertahankan posisi optimal dan mempertahankan fungsi

secara optimal)

-Bertambahnya kekuatan otot

-Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas

-Mempertahankan integritas kulit

Rencana tindakan

a. Ubah posisi klien tiap 2 jam

b. Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstrimitas yang tidak sakit

c. Lakukan gerak pasif pada ekstrimitas yang sakit

d. Berikan papan kaki pada ekstrimitas dalam posisi fungsionalnya

e. Tinggikan kepala dan tangan


f. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien

Rasional

1) Menurunkan resiko terjadinnya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek pada

daerah yang tertekan

2) Gerakan aktif memberikan massa, tonus dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi

jantung dan pernapasan

3) Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak dilatih untuk digerakkan

3. Gangguan persepsi sensori: perabaan yang berhubungan dengan penekanan pada sar af

sensori

Tujuan: Meningkatnya persepsi sensorik: perabaan secara optimal.

Kriteria hasil:

-Klien dapat mempertahankan tingakat kesadaran dan fungsi persepsi

-Klien mengakui perubahan dalam kemampuan untuk meraba dan merasa

-Klien dapat menunjukkan perilaku untuk mengkompensasi terhadap perubahan sensori

Rencana tindakan

a. Tentukan kondisi patologis klien

b. Kaji kesadaran sensori, seperti membedakan panas/dingin, tajam/tumpul, posisi bagian

tubuh/otot, rasa persendian

c. Berikan stimulasi terhadap rasa sentuhan, seperti memberikan klien suatu benda untuk

menyentuh, meraba. Biarkan klien menyentuh dinding atau batas-batas lainnya.


d. Lindungi klien dari suhu yang berlebihan, kaji adanya lindungan yang berbahaya.

Anjurkan pada klien dan keluarga untuk melakukan pemeriksaan terhadap suhu air

dengan tangan yang normal

e. Anjurkan klien untuk mengamati kaki dan tangannya bila perlu dan menyadari posisi

bagian tubuh yang sakit. Buatlah klien sadar akan semua bagian tubuh yang terabaikan

seperti stimulasi sensorik pada daerah yang sakit, latihan yang membawa area yang sakit

melewati garis tengah, ingatkan individu untuk merawata sisi yang sakit.

f. Hilangkan kebisingan/stimulasi eksternal yang berlebihan.

g. Lakukan validasi terhadap persepsi klien

Rasional

1) Untuk mengetahui tipe dan lokasi yang mengalami gangguan, sebagai penetapan rencana

tindakan

2) Penurunan kesadaran terhadap sensorik dan perasaan kinetik berpengaruh terhadap

keseimbangan/posisi dan kesesuaian dari gerakan yang mengganggu ambulasi,

meningkatkan resiko terjadinya trauma.

3) Melatih kembali jaras sensorik untuk mengintegrasikan persepsi dan intepretasi diri.

Membantu klien untuk mengorientasikan bagian dirinya dan kekuatan dari daerah yang

terpengaruh.

4) Meningkatkan keamanan klien dan menurunkan resiko terjadinya trauma.

5) Penggunaan stimulasi penglihatan dan sentuhan membantu dalan mengintegrasikan sisi

yang sakit.

6) Menurunkan ansietas dan respon emosi yang berlebihan/kebingungan yang

berhubungan dengan sensori berlebih.


7) Membantu klien untuk mengidentifikasi ketidakkonsistenan dari persepsi dan integrasi

stimulus.

4. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan hemiparese/hemiplegi

Tujuan: Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi

Kriteria hasil:

-Klien dapat melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan kemampuan klien

-Klien dapat mengidentifikasi sumber pribadi/komunitas untuk memberikan bantuan sesuai

kebutuhan

Rencana tindakan

a. Tentukan kemampuan dan tingkat kekurangan dalam melakukan perawatan diri

b. Beri motivasi kepada klien untuk tetap melakukan aktivitas dan beri bantuan dengan

sikap sungguh

c. Hindari melakukan sesuatu untuk klien yang dapat dilakukan klien sendiri, tetapi

berikan bantuan sesuai kebutuhan

d. Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukannya atau

keberhasilannya

e. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi/okupasi

Rasional

1) Membantu dalam mengantisipasi/merencanakan pemenuhan kebutuhan secara individual

2) Meningkatkan harga diri dan semangat untuk berusaha terus-menerus

3) Klien mungkin menjadi sangat ketakutan dan sangat tergantung dan meskipun bantuan

yang diberikan bermanfaat dalam mencegah frustasi adalah penting bagi klien untuk
melakukan sebanyak mungkin untuk diri-sendiri untuk mempertahankan harga diri dan

meningkatkan pemulihan

4) Meningkatkan perasaan makna diri dan kemandirian serta mendorong klien untuk

berusaha secara kontinyu

5) Memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi dan

mengidentifikasi kebutuhan alat penyokong khusus

5. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan otot

mengunyah dan menelan

Tujuan: Tidak terjadi gangguan nutrisi

Kriteria hasil:

-Berat badan dapat dipertahankan/ditingkatkan

-Hb dan albumin dalam batas normal

Rencana tindakan

a. Tentukan kemampuan klien dalam mengunyah, menelan dan reflek batuk

b. Letakkan posisi kepala lebih tinggi pada waktu, selama dan sesudah makan

c. Stimulasi bibir untuk menutup dan membuka mulut secara manual dengan menekan

ringan diatas bibir/dibawah dagu jika dibutuhkan

d. Letakkan makanan pada daerah mulut yang tidak terganggu

e. Berikan makan dengan berlahan pada lingkungan yang tenang

f. Mulailah untuk memberikan makan peroral setengah cair, makan lunak ketika klien dapat

menelan air

g. Anjurkan klien menggunakan sedotan meminum cairan

h. Anjurkan klien untuk berpartisipasidalam program latihan/kegiatan


i. Kolaborasi dengan tim dokter untuk memberikan ciran melalui iv atau makanan melalui

selang

Rasional

1) Untuk menetapkan jenis makanan yang akan diberikan pada klien

2) Untuk klien lebih mudah untuk menelan karena gaya gravitasi

3) Membantu dalam melatih kembali sensori dan meningkatkan kontrol muskuler

4) Memberikan stimulasi sensori (termasuk rasa kecap) yang dapat mencetuskan usaha

untuk menelan dan meningkatkan masukan

5) Klien dapat berkonsentrasi pada mekanisme makan tanpa adanya distraksi/gangguan dari

luar

6) Makan lunak/cairan kental mudah untuk mengendalikannya didalam mulut, menurunkan

terjadinya aspirasi

7) Menguatkan otot fasial dan dan otot menelan dan menurunkan resiko terjadinya tersedak

8) Dapat meningkatkan pelepasan endorfin dalam otak yang meningkatkan nafsu makan
DAFTAR PUSTAKA Ali, Wendra, 1999,

Petunjuk Praktis Rehabilitasi Penderita Stroke

, Bagian Neurologi FKUI /RSCM, UCB Pharma Indonesia, Jakarta. Carpenito, Lynda Juall,

2000,

Buku Saku Diagnosa Keperawatan

, Edisi 8, EGC, Jakarta. Depkes RI, 1996,

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan,

Diknakes, Jakarta. Doenges, M.E., Moorhouse M.F.,Geissler A.C., 2000,

Rencana Asuhan Keperawatan

, Edisi 3, EGC, Jakarta. Engram, Barbara, 1998,

Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah

, Volume 3, EGC, Jakarta. Harsono, 1996,

Buku Ajar Neurologi Klinis

, Edisi 1, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Harsono, 2000,

Kapita Selekta Neurologi

, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Hudak C.M., Gallo B.M., 1996,

Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik

, Edisi VI, Volume II, EGC, Jakarta. Ignatavicius D.D., Bayne M.V., 1991,
Medical Surgical Nursing, A Nursing Process Approach

, An HBJ International Edition, W.B. Saunders Company, Philadelphia.

27

Ignatavicius D.D., Workman M.L., Mishler M.A., 1995,

Medical Surgical Nursing, A Nursing Process Approach

,2

nd

edition, W.B. Saunders Company, Philadelphia. Islam, Mohammad Saiful, 1998,

Stroke: Diagnosis Dan Penatalaksanaannya

, Lab/SMF Ilmu Penyakit Saraf, FK Unair/RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Juwono, T., 1993,

Pemeriksaan Klinik Neurologik Dalam Praktek

, EGC, Jakarta. Lismidar, 1990,

Proses Keperawatan

, Universitas Indonesia, Jakarta. Mardjono M., Sidharta P., 1981,

Neurologi Klinis Dasar

, PT Dian Rakyat, Jakarta. Price S.A., Wilson L.M., 1995,


Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit

, Edisi 4, Buku II, EGC, Jakarta. Satyanegara, 1998,

Ilmu Bedah Saraf

, Edisi Ketiga, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Susilo, Hendro, 2000,

Simposium Stroke, Patofisiologi Dan Penanganan Stroke, Suatu Pendekatan Baru Millenium III

, Bangkalan. Widjaja, Linardi, 1993,

Patofisiologi dan Penatalaksanaan Stroke

, Lab/UPF Ilmu Penyakit Saraf, FK Unair/RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

GET