Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH SEMINAR TEORI AKUNTANSI

Judul :
KONSEP LABA

Kelompok : XI
Eva Listiyana C.1610213
Dhiya Ramadhanty C.1610868
Nur Ismi Dewi C.1610886

UNIVERSITAS DJUANDA BOGOR


Maret 2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam semoga terlimpahcurahkan kepada
baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW. Tak lupa kami mengucapkan terima
kasih kepada Dosen Teori Akuntansi kami yaitu Bapak Indra Cahya Kusuma. SE., M.Si
dan rekan-rekan yang telah membantu kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Makalah ini memuat tentang “Konsep Laba”. Dimana mencakup tentang pengertian
laba, karakteristik laba, elemen Laba, jenis-jenis laba, pengukuran dan pengakuan Laba,
Tujuan Pelaporan Laba, Keunggulan dan Kelemahan Laba Akuntansi, dan lain sebagainya.

Sekian yang dapat terucap dari kami. Semoga makalah ini dapat memberikan
pengetahuan yang lebih luas kepada para pembacanya. Makalah ini memiliki kelebihan dan
kekurangan, sehingga penyusun membutuhkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat
membangun. Terima kasih.

Bogor, 9 Maret 2019

Kelompok 11,

i
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................................ ii

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................... 2

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Tinjauan Pendapat Penelitian Terdahulu ............................................. 3
2.2 Tinjauan Teori ..................................................................................... 3
2.2.1 Definisi Laba ............................................................................. 4
2.2.2 Karakteristik Laba ..................................................................... 4
2.2.3 Laba Ekonomi ........................................................................... 4
2.2.3.1 Definisi Laba Ekonomi ................................................. 4
2.2.3.2 Sifat Laba Ekonomi ...................................................... 5
2.2.3.3 Konsep Capital Maintenance ....................................... 5
2.2.4 Laba Akuntansi ......................................................................... 7
2.2.4.1 Definisi Laba Akuntansi ............................................... 7
2.2.4.2 Sifat Laba Akuntansi..................................................... 7
2.2.4.3 Permasalahan Laba Akuntansi ...................................... 8
2.2.4.4 Konsep Laba Akuntansi ................................................ 8
2.2.4.5 Perbedaan Accounting Income dan Money Income ...... 8
2.2.4.6 Kelebihan dan Kekurangan Laba Akuntansi ................ 9
2.2.5 Perbandingan Laba Ekonomi dan Laba Akuntansi ................... 9
2.2.6 Skala Pengukuran Laba............................................................. 10
2.2.7 Pengukuran Laba ...................................................................... 10
2.2.8 Pengakuan Laba ........................................................................ 12
2.2.9 Tujuan Pelaporan Laba ............................................................. 13
2.2.10 Elemen Laba ............................................................................. 14
2.2.11 Elemen Non-Operasional .......................................................... 14

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Kasus 1 (Konsep Laba Akuntansi dan Ekonomi) ............................... 15

ii
3.2 Kasus 2 (Konsep Laba Capital Maintenance) .................................... 16
3.3 Kasus 3 (Konsep Laba Capital Maintenance) .................................... 17

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan .......................................................................................... 18
4.2 Saran .................................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 19

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Salah satu fungsi akuntansi adalah melakukan pengukuran termasuk pengukuran
prestasi, hasil usaha, laba, maupun posisi keuangan. Salah satu isu berat dalam pengukuran
itu adalah pengukuran laba. Pengukuran laba ini bukan saja penting untuk menentukan
prestasi perusahaan tetapi juga penting sebagai infromasi bagi pembagian laba, penentuan
kebijakan investasi, dan pembagian hasil.

Laba merupakan elemen yang paling menjadi perhatian pemakai karena angka laba
diharapkan cukup kaya untuk merepresentasi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Dari
sudut pandang perekayasa akuntansi, konsep laba dikembangkan untuk memenuhi tujuan
menyediakan informasi tentang kinerja perusahaan secara luas.

Laba adalah kenaikan modal (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi sampingan atau
transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian
lain yang mempunyai badan usaha selama satu periode, kecuali yang timbul dari
pendapatan (revenue) atau investasi pemilik.

Pengertian laba secara umum adalah selisih dari pendapatan di atas biaya-biayanya
dalam jangka waktu (periode) tertentu. Laba sering digunakan sebagai suatu dasar untuk
pengenaan pajak, kebijakan deviden, pedoman investasi serta pengambilan keputusan, dan
unsur prediksi.

Dalam teori ekonomi, para ekonom mengartikan laba sebagai suatu kenaikan dalam
kekayaan perusahaan, sedangkan dalam akuntansi, laba adalah perbedaan pendapatan yang
direalisasi dari transaksi yang terjadi pada waktu dibandingkan dengan biaya-biaya yang
dikeluarkan pada periode tertentu. Meskipun akuntansi tidak harus dapat mengukur dan
menyajikan laba ekonomi, akuntansi paling tidak harus menyediakan informasi laba yang
dapat digunakan pemakai untuk mengukur laba ekonomi yang gilirannya untuk
menentukan nilai ekonomi perusahaan.

Siapapun yang melakukan kegiatan bisnis pasti memiliki alasan ekonomis mengapa ia
terus melakukan bisnis. Biasanya alasan ekonomis itu adalah untuk mendapatkan laba.
Oleh karena itu, para pelaku bisnis harus bisa memiliki pandangan tentang apa yang
dimaksud sebagai laba menurutnya dan bagaimana menentukan laba tersebut. Banyak
1
perbedaan pandangan dan praktik di masyarakat dalam pengukuran laba ini. Karena
perbedaan pandangan tersebutlah maka muncul berbagai polemik atau perbedaan persepsi
tentang konsep laba ini.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Apa itu laba dan karakteristiknya?
2. Bagaimana konsep laba akuntansi dan laba ekonomi?
3. Bagaimana pengukuran dan pengakuan laba?
4. Apa saja elemen laba dan elemen non-operasional?
5. Contoh kasus mengenai konsep laba?

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pendapat Penelitian Terdahulu


Menurut Purnamasari dan Iwan (2010) dalam penelitiannya, laba seringkali dipandang
sebagai indikator penting dalam keberhasilan kinerja perusahaan. Mereka berpendapat
bahwa laba merupakan sebuah kata yang memiliki banyak makna. Tidak hanya berpusat
pada laba materi semata. Laba sosial juga merupakan bentuk laba yang dapat kita temukan
dalam sebuah organisasi. Laba sosial pun bisa berbeda-beda makna bagi setiap
organisasinya. Dan dalam penelitiannya mereka mengatakan bahwa makna “laba” bagi
sebuah yayasan, terutama yayasan pendidikan semakin dibutuhkan pada saat ini.
Menurut Prasetyo (2012) dalam penelitiannya, menurut Pedagang kaki lima dengan
keterbatasan ilmu akuntansi pasti memiliki persepsi yang berbeda dalam menentukan laba.
Bagi pedagang kaki lima yang terpenting dalam kegiatan usaha mereka adalah jumlah
produk yang telah mereka jual dikurangi biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan
baku produk mereka. Konsep laba menurut kesembilan pedagang kaki lima sebagai
informan pada dasarnya hampir sama, yaitu menghitung jumlah produk yang telah mereka
jual sebagai dasar untuk memperhitungkan laba yang didapat. Laba tersebut digunakan
untuk memenuhi kebutuhan dan sisanya digunakan untuk modal lagi.

2.2 Tinjauan Teori


2.2.1 Definisi Laba
Laba merupakan suatu konsep akuntansi yang memiliki berbagai sudut pandang,
tergantung dari siapa yang menilai dan bagaimana tujuan penilaiannya tersebut. Oleh
karena itu, para ahli dan organisasi akuntansi memberikan definisi berbeda tentang konsep
laba.
Menurut Commite On Terminology (Sofyan Syafri H.: 2004) mendefinisikan laba
sebagai jumlah yang berasal dari pengurangan harga pokok produksi, biaya lain dan
kerugian dari penghasilan atau penghasilan operasi.
Menurut Belkaoui (1993), laba merupakan suatu pos dasar dan penting dari ikhtisar
keuangan yang merniliki berbagai kegunaan dalam berbagai konteks. Laba pada umumnya
dipandang sebagai suatu dasar bagi perpajakan, determinan pada kebijakan pembayaran
dividen, pedoman investasi, pengambilan keputusan, dan unsur prediksi.

3
Menurut Stice, Sokusen (2004), laba adalah pengambilan atas investasi kepada
pemilik. Hal ini mengukur nilai yang dapat diberikan oleh entitas kepada investor dan
entitas masih memiliki kekayaan yang sama dengan posisi awalnya.
IAI tidak menerjemahkan income dengan istilah laba, tetapi dengan istilah
penghasilan. Dalam PSAK 1 Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
(IAI, 1994) mengartikan laba sebagai penghasilan (income), yaitu kenaikan manfaat
ekonomi selama satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva
atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari
konstribusi penanam modal. (Paragraf. 70). Selanjutnya dalam paragrap 74 disebutkan
bahwa, definisi penghasilan baik pendapatan (revenue) maupun keuntungan (gains).

2.2.2 Krakteristik Laba


Dari berbagai definisi laba di atas, dapat disimpulkan bahwa laba secara konseptual
memiliki karakteristik umum sebagai berikut :
1. Kenaikan kemakmuran yang dimiliki atau dikuasai suatu entitas
2. Perubahan terjadi dalam suatu periode sehingga harus diidentifikasi kondisi
kemakmuran awal dan kemakmuran akhir
3. Perubahan dapat dinikmati, didistribusi, atau ditarik oleh entitas yang menguasai
kemakmuran, asalkan kemakmuran awal dipertahankan
Kemakmuran dapat berupa aset bersih perusahaan, modal pemegang saham,
kekayaan, investasi, sumber daya ekonomik, atau apapun yang dapat dinilai dengan
uang.

2.2.3 Laba Ekonomi


2.2.3.1 Definisi Laba Ekonomi
Laba dari sisi ekonomi murni didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan seorang
investor dari hasil penanaman modalnya setelah dikurangi seluruh biaya yang berhubungan
dengan penanaman modal tersebut.
Laba ekonomi mengukur perubahan nilai pemegang saham. Karenanya, laba
ekonomi berguna jika tujuan analisis adalah menentukan tingkat analisis pengembalian
pada pemegang saham yang tepat untuk periode berjalan (tanpa menggunakan harga pasar).
Dengan kata lain, laba ekonomi merupakan indikator dasar kinerja perusahaan, mengukur
dampak keuangan seluruh kejadian pada suatu periode secara komprehensif.

4
Menurut Hendriksen, Laba ekonomi adalah perbedaan antara total pendapatan
moneter dan biaya total. Biaya-biaya total mencakup biaya eksplisit dan implisit. Laba
ekonomi didapat dari total pendapatan dikurangi oleh biaya peluang (opportunity cost).
Laba ekonomi biasanya lebih rendah dari laba akuntansi. Laba ekonomi menjadi salah satu
faktor penting untuk memutuskan apakah perusahaan bisa masuk kepangsa pasar tertentu
atau bahkan keluar dari market tersebut.

2.2.3.2 Sifat Laba Ekonomi


Von Bohm Bawerk pada akhir abad XIX telah memperkenalkan pendapat bahwa
laba bukan saja unsur kas, dia memperkenalkan konsep laba non moneter. Kemudian pada
awal abad XX Fischer, Lindahl, dan Hick menjelaskan sifat-sifat laba ekonomi mencakup
tiga tahap, yaitu sebagai berikut :
1. Physical Income, yaitu konsumen barang dan jasa pribadi yang sebenarnya
memberikan kesenangan fisik dan pemenuhan kebutuhan, laba jenis ini tidak dapat
diukur.
2. Real Income, adalah ungkapan kejadian yang memeberikan peningkatan terhadap
kesenangan fisik. Dengan kata lain, kepuasan timbul karena kesenangan fisik yang
timbul dari keuntungan yang diukur dengan pembayaran uang yang dilakukan untuk
membeli barang dan jasa sebelum dan sesudah dikonsumsi.
3. Money Income, merupakan hasil uang yang diterima dan dimaksudkan untuk konsumsi
dalam memenuhi kebutuhan hidup. Menurut Fischer, money income lebih dekat pada
pengertian akuntansi tentang income.

2.2.3.3 Konsep Capital Maintenance


Menurut konsep ini laba baru disebut ada setelah modal yang dikeluarkan masih
tetap ada (capital maintenance atau return of capital) atau biaya yang telah tertutupi (cost
recovery) atau pengembalian modal return of capital.
Konsep ini dinyatakan baik dalam ukuran uang yang disebut financial capital atau
dalam ukuran tenaga beli yang disebut physical capital. berdasarkan kedua konsep ini,
konsep capital maintenance menghasilkan empat konsep sebagai berikut:
1. Financial Capital (Dalam Ukuran Uang)
a. Money Maintenance
Yaitu financial capital yang diukur menurut unit uang. Menurut konsep ini, modal
yang ditanamkan pemilik tetap terpelihara sehingga menurut konsep ini laba adalah

5
perubahan net asset dengan menyesuaikan transaksi modal yang dijabarkan dalam
ukuran uang.
b. General Purchasing Power Money Maintenance
Yaitu financial capital yang diukur menurut tenaga beli yang sama. Menurut konsep
ini, tenaga beli dari modal yang diinvestasikan pemilik tetap dipertahankan
sehingga menurut konsep ini laba adalah perubahan net asset setelah disesuaikan
transaksi modal yang diukur dengan tenaga beli yang sama.
2. Physical Capital (Dalam Ukuran Tenaga Beli Umum)
a. Productive Capacity Maintenance, yaitu physical capital yang diukur menurut
konsep uang. Menurut konsep ini, kapasitas produksi perusahaan dipertahankan,
kapasitas produksi dapat diartikan sebagai kapasitas fisik, kapasitas untuk
berproduksi, (volume) barang dan jasa yang sama. Konsep ini sama dengan Current
Value Accounting.
Current value (nilai sekarang) dapat dihitung dengan tiga metode:
1) Capitalization atau Present Value Method
Yaitu jumlah bersih dari arus kas yang diharapkan diterima selama umur
ekonominya yang didiskontokan pada saat sekarang. Untuk menghitung ini
perlu diketahui:
a) Arus kas dari penggunaan/penjualan aset tersebut
b) Jangka waktu arus kas tersebut
c) Jumlah sisa umur aktiva tersebut
d) Discount rate (tingkat diskonto)
2) Current Entry Price
Yaitu jumlah kas/aktiva lainnya dibutuhkan untuk mendapatkan aktiva yang
sejenis. Istilah yang sering ada adalah sebagai berikut:
a) Replacement Cost Used adalah jumlah kas yang diperlukan untuk
mendapatkan aset yang serupa yang memiliki umur pemakaian yang sama
di pasaran barang bekas.
b) Reproduction Cost adalah jumlah kas/aktiva yang diperlukan untuk
mendapatkan aset yang persis sama dengan aktiva yang ada sekarang (aset
yang baru).
3) Current Exit Price
Adalah jumlah kas yang diterima atau utang yang dianggap lunas apabila
aset tersebut dijual. Umumnya nilai ini bermakna:
6
a) Harga penjualan yang ada dalam keadaan pasar bebas bukan harga yang
timbul karena terpaksa.
b) Harga jual pada saat berlangsungnya pengukuran/pencatatan.
b. General Purhasing Power, Productive Capacity Maintenance, yaitu physical
capital yang diukur dengan unit tenaga beli yang sama. Menurut konsep ini
kapasitas produksi fisik perusahaan yang diukur dalam unit tenaga beli yang sama
dipertahankan.

2.2.4 Laba Akuntansi


2.2.4.1 Definisi Laba Akuntansi
Accounting Income adalah perbedaan antara realisasi penghasilan yang berasal dari
transaksi perusahaan pada periode tertentu dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk
mendapatkan penghasilan itu. Menurut Belkaoui, laba akuntansi secara operasional
didefinisikan sebagai perbedaan antara pendapatan realisasi yang timbul dari transaksi
periode tersebut dan biaya historis yang sepadan dengannya.
Laba akuntansi adalah perbedaan antara total pendapatan moneter dan jumlah biaya
moneter yang dihitung dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Pendapatan moter
adalah sejumlah penerimaan yang didapat perusahaan setelah menjual produknya
dipasaran. Biaya moneter adalah biaya eksplisit suatu perusahaan yang berguna untuk
mempertahankan produksinya contohnya biaya upah tenaga kerja, biaya sewa, dan bahan
baku Didalam laba akuntansi terdapat beberapa komponen pokok seperti laba kotor, laba
usaha, laba sebelum pajak, laba sesudah pajak.

2.2.4.2 Sifat Laba Akuntansi


Definisi laba menurut Belkaoui mengandung lima sifat, yaitu:
1. Laba akuntansi didasarkan pada transaksi yang benar-benar terjadi.
2. Laba akuntansi didasarkan pada postulat “periodik” laba.
3. Laba akuntansi didasarkan pada prinsip revenue yang memerlukan pemahaman khusus
tentang pengukuran dan pengakuan pendapatan.
4. Laba akuntansi memerlukan perhitungan terhadap biaya dalam bentuk biaya historis
yang dikeluarkan perusahaan.
5. Laba akuntansi didasarkan pada prinsip matching antara pendapatan dengan biaya yang
relevan dan berkaitan dengan pendapatan tersebut.

7
2.2.4.3 Permasalahan Laba Akuntansi
Permasalahan yang sering dihadapi mengenai laba akuntansi adalah menentukan
nilai ekonomi, harga, modal, skala, dan pengukuran pertukaran. Nilai ekonomi adalah
preferensi seseorang terhadap suatu produk berdasarkan kegunaan di masa yang akan
datang dibanding dengan produk lainnya. Apabila terjadi pertukaran, maka akan terjadi
pertukaran harga (exchange price) yang ditetapkan berdasarkan nilai uang. Jenis harga
dalam menentukan laba akuntansi, yaitu:
1. Harga historis (historical cost)
2. Harga sekarang (current price) atau harga ganti (replacement cost) atau exit price
3. Harga nanti atau harga ganti nanti atau harga exit price nanti
4. Harga diskonto atau computed amount

2.2.4.4 Konsep Laba Akuntansi


Pada laba akuntansi dikenal konsep Replacement Cost Incoeme dengan dua
komponen laba, yaitu:
1. Current Operating Profit, yang dihitung dari pengurangan biaya pengganti
(replacement cost) dari penghasilan.
2. Realized holding gain and loss, yang dihitung dari perbedaan antara replacement cost
dari barang yang dijual dengan biaya historis dari barang yang sama. Laba rugi ini dapat
dibagi dua:
a. Yang direalisasi dan “accrued” selama periode itu.
b. Yang direalisasi pada periode itu tetapi “accrued” pada periode sebelumnya.

2.2.4.5 Perbedaan Accounting Income dengan Money Income


Money Income berbeda dengan Accounting Income dalam hal:
1. Money income dihitung berdasarkan nilai replacement cost, sedangkan accounting
income berdasarkan historical cost.
2. Money income hanya mengikuti gain yang accrued pada periode itu.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa money income dapat dihitung sebagai
berikut:
Pm = Pa – Z + W
Dan menurut Belkaoui, Accounting Income dapat dirumuskan sebagai berikut:
Pa = X + Y + Z
Keterangan :
Pm = Money Income

8
Pa = Accounting income
W = Holding gain and loss yang belum direalisasi
X = Current operating profit
Y = Realisasi dan “accrued” holding gain pada periode itu
Z = Realisasi holding gain and loss pada periode itu tetapi “accrued” pada periode
sebelumnya

2.2.4.6 Kelebihan dan Kekurangan Laba Akuntansi


1. Kelebihan Laba Akuntansi
Karakteristik dari pengertian laba akuntansi mengandung beberapa keunggulan, yakni:
a. Terbukti bahwa laba akuntansi bermanfaat bagi para pemakainya dalam
pengambilan keputusan ekonomi.
b. Laba akuntansi yang telah diukur dan dilaporkan secara obyektif dapat diuji
kebenarannya sebab didasarkan pada transaksi nyata yang didukung oleh bukti.
c. Memenuhi prinsip “Conservatisme”, karena yang diakui hanya laba yang direalisasi
dan tidak memperhatikan perubahan nilai.
d. Laba akuntansi bermanfaat untuk tujuan pengendalian terutama berkaitan dengan
pertanggungjawaban manajemen dan fungsi-fungsi manajemen.
2. Kekurangan Laba Akuntansi
a. Konsepsi laba dianggap belum dirumuskan dengan jelas, belum ada landasan
teoritis jangka panjang dalam pelaporan laba akuntansi tersebut.
b. Generally Accepted Accounting Principle (GAAP), masih memungkinkan dan
membolehkan perhitungan laba atas penerapan metode dan teknik akuntansi yang
tidak konsisten.
c. Laba akuntansi gagal mengakui kenaikan nilai kativa yang belum direalisasi dalam
satu periode karena prinsip history cost dan prinsip realisasi
d. Laba akuntansi yang didasarkan pada prinsip history cost, realisasi, dan
conservatisme dapat menghasilkan data yang tidak relevan.

2.2.5 Perbandingan Laba Ekonomi dan Laba Akuntansi

No Aspek Pembeda Laba Akuntansi Laba Ekonomi


1 Sudut pandang Perekayasa akuntansi, Pemegang saham
penyusun standar, dan

9
penyusun statement
keuangan
2 Dasar pengukuran Biaya historis Biaya kesempatan, nilai
pasar, nilai likuidasi
3 Makna “ekonomik” Kelayakan ekonomik Kelayakan ekonomik
jangka panjang jangka pendek
4 Makna “depresiasi” Alokasi biaya Penurunan nilai ekonomis
5 Unit pengukur Nominal rupiah Daya beli
6 Konsep dasar yang Kontinuitas usaha atau asas Likuidasi atau nilai tunai
melandasi akrual
7 Sasaran Pengukuran Laba uang/nominal Laba real
8 Fungsi Aset Sisa Potensi Jasa Simpanan atau persediaan
nilai

2.2.6 Skala Pengukuran Laba


Dalam metodelogi pengukuran terdapat empat macam skala yaitu: skala nominal,
skala ordinal, skala interval dan skala rasio. Bila dihubungkan dengan waktu maka skala
pengukuran laba dibagi dua yaitu :
1. Skala rupiah nominal, dalam skala ini jumlah rupiah yang digunakan sebagai unit
pengukur adalah jumlah rupiah yang telah terjadi dan tercatat dalam akuntansi.
2. Skala daya beli konstan, dalam skala ini pada dasarnya menggunakan unit moneter
seperti pada skala rupiah nominal akan tetapi skala pengukurnya dibuat seragam
dalam bentuk unit daya beli yang konstan dengan cara pengindeksan skala rupiah
nominal.

2.2.7 Pengukuran Laba


Pengukuran terhadap laba merupakan penentuan jumlah rupiah laba yang dicatat
dan disajikan dalam laporan keuangan.
Secara konseptual ada 3 (tiga) pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur
laba. Pengukuran tersebut adalah pendekatan transaksi, pendekatan kegiatan dan
pendekatan mempertahankan kapital/kemakmuran (capital maintenance).

10
1. Pendekatan Transaksi (Transaction Approach)
Pendekatan transaksi menganggap bahwa perubahan aktiva/hutang (laba) terjadi
hanya karena adanya transaksi, baik internal maupun eksternal. Transaksi eksternal
timbul karena adanya transaksi yang melibatkan perubahan aktiva/hutang dengan pihak
luar perusahaan. Transaksi internal timbul dari pemakaian atau konversi aktiva dalam
perusahaan.
Pendekatan ini memiliki beberapa kebaikan yaitu:
a. Komponen laba dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara. Misalnya: atas dasar
produk/konsumen.
b. Laba operasi dapat dipisahkan dari laba non operasi
c. Dapat dijadikan dasar dalam penentuan tipe dan kuantitas aktiva dan hutang yang
ada pada akhir periode
d. Efisiensi usaha memerlukan pencatatan transaksi eksternal untuk berbagai tujuan
e. Berbagai laporan dapat dibuat dan dikaitkan antara laporan yang satu dengan yang
lainnya.
2. Pendekatan Kegiatan (Activities Approach)
Laba dianggap timbul bila kegiatan atau peristiwa tertentu telah dilaksanakan. Jadi
laba bisa timbul pada tahap perencanaan, pembelian, produksi, penjualan dan
pengumpulan kas. Dalam penerapannya, pendekatan ini merupakan dari pendekatan
transaksi. Hal ini disebabkan pendekatan kegiatan dimulai dengan transaksi sebagai
dasar pengukuran.
Kebaikan pendekatan kegiatan adalah:
a. Laba yang berasal dari produksi dan penjualan barang memerlukan jenis evaluasi
dan prediksi yang berbeda dibandingkan laba yang berasal dari pembelian dan
penjualan surat berharga yang ditujukan pada usaha memperoleh capital gain.
b. Efisiensi manajemen dapat diukur dengan lebih baik bila laba diklasifikasikan
menurut jenis kegiatan yang menjadi tanggung jawab manajemen.
c. Memungkinkan prediksi yang lebih baik karena adanya perbedaan pola perilaku
dari jenis kegiatan yang berbeda.
3. Pendekatan Mempertahankan Kapital/Kemakmuran (Capital Maintenance)
Atas dasar pendekatan ini, laba diukur dan diakui setelah kapital awal dapat
dipertahankan. Dalam konsep mempertahankan kemakmuran, kapital disini
dimaksudkan sebagai kepital dalam arti kekayaan bersih dalam artian luas dan dalam
berbagai bentuknya. Jadi kapital diartikan sebagai sekelompok kekayaan tanpa
11
memeperhatikan siapa yang memiliki kekayaan tersebut. Kam (1990) mendefiniskan
laba (income) merupakan perubahan dalam kapital perusahaan diantara dua titik waktu
yang berbeda (awal dan akhir), diluar perubahan karena investasi oleh pemilik dan
distribusi kepada pemilik, dimana kapital dinyatakan dalam bentuk nilai (value) dan
didasarkan pada skala pengukuran tertentu (Paragraf 194).
Dengan demikian laba dapat diukur dari selisih antara tingkat kemakmuran pada
akhir periode dengan tingkat kemakmuran pada awal periode. [Laba = total aktiva neto
(akhir periode) – kapital yang diinvestasikan (awal periode)]. Konsep pengukuran laba
ini disebut dengan konsep mempertahankan kapital/kemakmuran (wealth or capital
maintenance concept).
Kapital yang digunakan dalam konsep ini adalah kapital neto (net worth) atau
aktiva neto. Kapital dinyatakan dalam bentuk nilai ekonomi pada skala pengukuran
tertentu. Pengukuran terhadap kapital sangat dipengaruhi oleh nilai (unit pengukur),
jenis kapital dan skala pengukuran. Perbedaan terhadap ketiga faktor tersebut akan
mengakibatkan perbedaan besarnya laba yang diperoleh.

2.2.8 Pengakuan Laba


Laba merupakan selisih antara pendapatan dan biaya, secara umum laba diakui
sejalan dengan pengakuan pendapatan dan biaya. Dalam Konsep Dasar Penyusunan dan
Penyajian Laporan Keuangan, IAI (1994) menyebutkan bahwa laba (income) akan diakui
apabila kenaikan manfaat ekonomi dimasa mendatang yang berkaitan dengan peningkatan
aktiva atau penurunan kewajiban telah terjadi dan jumlahnya dapat diukur dengan andal
(Paragraf 92).
Pada umumnya pengakuan laba dari transaksi penjualan ada dua cara yaitu:
1. Metode Laba diakui Pada Periode Penjualan (Akrual Basic)
Ketentuan metode ini adalah sebagai berikut:
a. Laba diakui seluruh pada periode dimana penjualan dilakukan.
b. Pada tahun berikutnya, tidak diakui adanya laba tetapi hanya mencatat penerimaan
kas dan mengurangi piutang.
c. Hasil penagihan (pembayaran) setelah tahun penjualan dianggap sebagai
pengambilan pokok piutang angsuran.
d. Apabila konsumen dibebani bunga maka pencatatan atas bunga dilakukan dengan
mengakui pendapatan bunga.

12
2. Metode laba kotor diakui proporsional sesuai dengan penerimaan kas (Cash
Basic)
Ketentuan akuntansi pada metode laba diakui proporsional dengan penerimaan kas
adalah sebagai berikut:
a. Laba penjualan yang timbul pada saat transaksi dilakukan, dimasukkan kedalam
rekening Laba Kotor Belum Direalisasikan (LKBD)
b. Setiap akhir tahun, perusahaan mengakui adanya Laba Kotor Direalisasi (LKD).
LKD = %LKBD x jumlah kas yang diterima tahun yang bersangkutan (tidak
termasuk bunga)
c. Persentase LKD dicatat dengan rumus:
%LKD = Harga jual – Harga pokok x 100%
Harga Jual
d. LKD adalah merupakan pengakuan laba secara bertahap dari LKBD, yang
kemudian diakui sebagai laba periode yang bersangkutan di laporan rugi- laba.
e. Pendapatan bunga dicatat dan diakui tersendiri di luar LKD.
f. LKBD yang belum disesuaikan menjadi LKD, akan disajikan di Neraca pada sisi
pasiva di bawah kelompok hutang.

2.2.9 Tujuan Pelaporan Laba


Tujuan pelaporan laba adalah untuk menyediakan informasi yang bermanfaat bagi
pihak yang berkepentingan dalam pelaporan keuangan untuk memprediksi arus kas masa
depan dengan berbagai cara. Sebagai contoh, investor dan kreditor dapat menggunakan
informasi yang terkandung dalam laporan laba rugi untuk mengevaluasi kinerja masa lalu
perusahaan, memberikan dasar untuk memprediksi kinerja masa depan, dan membantu
menilai resiko kegagalan perusahaan dalam mencapai arus kas tertentu dimasa yang akan
datang.
Adapun informasi tentang laba perusahaan dapat digunakan untuk:
1. Sebagai indikator efisiensi penggunaan dana yang tertanam dalam perusahaan yang
diwujudkan dalam tingkat kembalian (rate of return on invested capital)
2. Sebagai pengukur prestasi manajemen
3. Sebagai dasar penentuan besarnya pengenaan pajak
4. Sebagai alat pengendalian alokasi sumber daya ekonomi suatu negara
5. Sebagai dasar kompensasi dan pembagian bonus.
6. Sebagai alat motivasi manajemen dalam pengendalian perusahaan
13
7. Sebagai dasar untuk kenaikan kemakmuran
8. Sebagai dasar pembagian deviden

2.2.10 Elemen Laba


Ada dua konsep yang digunakan untuk menghitung menentukan elemen laba
perusahaan, yaitu:
1. Konsep Laba Periode (Earnings), dimaksudkan untuk mengukur efisiensi
suatu perusahaan dan memusatkan perhatiannya pada laba operasi periode
berjalan yang berasal dari kegiatan normal perusahaan.
2. Laba Komprehensif (Comprehensive Income), adalah aktiva bersih (ekuitas)
perusahaan selama satu periode, yang berasal dari semua transaksi dan kegiatan
lain dari sumber selain sumber yang berasal dari pemilik.

2.2.11 Elemen Non-Operasional


1. Extrordinary Items, adalah peristiwa atau transaksi yang memiliki pengaruh
material dan jarang tejadi serta tidak berasal dari faktor yang sifatnya berulang-
ulang dalam kegiatan normal perusahaan.
2. Penghentian Segmen Bisnis. Segmen bisnis merupakan komponen dari entitas
yang kegiatannya menunjukkan lini bisnis yang terpisah atau berdasarkan kelas
konsumen.
3. Perubahan Akuntansi. Perubahan yang dilakukan yaitu merubah prinsip
akuntansi, yaitu perubahan yang terjadi dimana perubahan memilih metode
akuntansi yang berbeda dengan metode yang sebelumnya dipakai.
4. Penyesuaian Periode Sebelumnya. Jumlah penyesuaian periode sebelumnya
dibebankan atau dikredit ke saldo laba ditahan awal periode.

14
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Kasus 1 (Konsep Laba Akuntansi dan Ekonomi)


Sebagai ilustrasi berikut diuraikan perbedaan konsep laba menurut akuntansi dan
ekonomi yang diambil dari Wild,Subramanyam, and Halsey (2007).
Seseorang membeli apartemen dengan harga $100.000,00 secara tunai. Apartemen
tersebut diperkirakan berumur 50 tahun dan mempunyai nilai sisa $75.000,00. Apartemen
tersebut selanjutnya disewakan dengan harga $12.000,00 per tahun. Pada akhir tahun
pertama nilai apartemen tersebut dinilai seharga $125.000,00.
Hasil dan Pembahasan:
a. Berdasarkan informasi tersebut dapat diketahui terjadi kenaikan harga apartemen
sebesar $25.000,00 dan pendapatan sewa sebesar $12.000,00.
b. Secara akuntansi perusahaan mengalami keuntungan sebesar $11.500,00 yang
diperoleh dari pendapatan sewa $12.000,00 dikurangi penyusutan per tahun $500,00.
Penjelasan:
1. Penyusutan per tahun = $100.000,00 - $75.000,00 : 50 tahun = $500,00
2. Laba = $12.000,00 - $ 500,00 = $ 11.500,00
c. Secara ekonomi dapat dikatakan bahwa pada akhir tahun pertama, perusahaan
mengalami keuntungan sebesar $ 37.000,00.
Penjelasan:
1. Harga beli = $100.000,00
2. Pendapatan sewa = $12.000,00 per tahun
3. Nilai tahun pertama = $125.000,00
4. Laba = ($125.000,00 - $100.000,00) + $ 12.000,00 = $37.000,00
d. Berdasarkan ilustrasi tersebut dapat dikatakan bahwa penghasilan secara ekonomi
merupakan aliran kas bersih ditambah present value dari aliran kas bersih pada masa
yang akan datang.
e. Penghasilan diukur dengan aliran kas masuk ditambah dengan perubahan dalam harga
pasar kekayaan bersih. Dengan demikian, maka penghasilan meliputi penghasilan yang
telah direalisasi (cash flow) dan yang belum direalisasi yang berupa keuntungan atau
kerugian karena memiliki (holding gain/loss). Dengan kata lain laba diperoleh dengan
mengakui penghasilan yang belum terjadi karena belum direalisasi.

15
3.2 Kasus 2 (Konsep Laba Capital Maintenance)
PT Fash Food Indonesia Tbk memiliki kekayaan bersih sebesar Rp629.491.106.000,00
pada tanggal 1 Januari 2008 dan pada tanggal 31 desember 2008 menjadi
Rp784.758.815.000,00 untuk mempertahankan kapasitas produksi fisik perusahaan yang
sebenarnya diperlukan biaya Rp781.627.389.000,00 sedangkan tingkat harga umum naik
10 % selama periode itu.
Hasil dan Pembahasan:
a. Laba menurut konsep financial capital
1. Money Maintenance:
Net Asset 31 Desember 2008 Rp 784.758.815.000,00
Net Asset 01 Januari 2008 Rp 629.491.106.000,00 _
Laba Rp 155.267.709.000,00
2. General Purchasing Power Money Maintenance:
Net Asset 31 Desember 2008 Rp 784.758.815.000,00
Net Asset 01 Januari 2008 Rp 629.491.106.000,00
Penyesuaian GPL:
10% x Rp 629.491.106.000 Rp 62.949.110.600,00 +
Rp 692.440.216.600,00 –
Laba Rp 92.318.598.400,00
b. Laba menurut konsep physical capital
1. Productive Capacity Maintenance:
Net Assets 31 Desember 2008 Rp 784.758.815.000,00
Bagian yang diperlukan untuk mempertahankan
kapasitas produksi perusahaan Rp 781.627.389.000,00 –
Laba Rp 3.131.426.000,00
2. GPP Productive Capacity Maintenance:
Net Asset 31 Desember 2008 Rp 784.758.815.000,00
Bagian untuk mempertahankan kapasitas produksi
yang diperlukan:
Net Asset 1 Januari 2008 Rp 781.627.389.000
Penyesuaian GPL:
10 % x Rp. 781.627.389.000 Rp 78.162.738.900 +
Rp. 859.790.127.900,00 –
Rugi (Rp 75.031.312.900,00)
16
3.3 Kasus 3 (Konsep Laba Capital Maintenance)
PT Sipangko Jaya memiliki kekayaan bersih sebesar Rp10.000.000,00 pada tanggal 1
Januari 2000 dan pada tanggal 31 Desember 2000 menjadi Rp15.000.000,00. Untuk
mempertahankan kapasitas produksi fisik perusahaan yang sebenarnya, diperlukan biaya
Rp12.500.000,00, sedangkan tingkat harga umum naik 10% selama periode itu. Hitunglah
laba menurut keempat konsep capital maintenance!
Hasil dan Pembahasan:
1. Money Maintenance
Net Asset 31 Desember 2000 Rp 15.000.000,00
Net Asset 1 Januari 2000 Rp 10.000.000,00 _
Laba Rp 5.000.000,00
2. GPP Money Maintenance
Net Asset 31 Desember 2000 Rp 15.000.000,00
Net Asset 1 Januari 2000 Rp 10.000.000,00
Penyesuaian GPL:
10% x Rp 10.000.000,00 Rp 1.000.000,00 +
Rp 11.000.000,00 _
Laba Rp 4.000.000,00
3. Productive Capacity Maintenance
Net Asset 31 Desember 2000 Rp 15.000.000,00
Biaya yang diperlukan untuk mempertahankan
kapasitas produksi perusahaan Rp 12.500.000,00 _
Laba Rp 2.500.000,00
4. GPP Productive Capacity Maintenance
Net Asset 31 Desember 2000 Rp 15.000.000,00
Biaya yang diperlukan untuk mempertahankan
kapasitas produksi perusahaan:
Net Asset 1 Januari 2000 Rp 12.500.000,00
Penyesuaian GPL:
10% x Rp 12.500.000,00 Rp 1.250.000,00 +
Rp 13.750.000,00 _
Laba Rp 1.250.000,00

17
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Laba atau keuntungan dapat didefinisikan dengan dua cara. Laba dalam ilmu ekonomi
murni didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan seorang investor sebagai hasil
penanaman modalnya, setelah dikurangi biaya-biaya yang berhubungan dengan
penanaman modal tersebut (termasuk di dalamnya, biaya kesempatan). Sementara itu, laba
dalam akuntansi didefinisikan sebagai selisih antara harga penjualan dengan biaya
produksi. Perbedaan diantara keduanya adalah dalam hal pendefinisian biaya. Laba
merupakan selisih antara pendapatan dan biaya secara akrual.

Dalam teori ekonomi, para ekonom mengartikan laba sebagai suatu kenaikan dalam
kekayaan perusahaan, sedangkan dalam akuntansi, laba adalah perbedaan pendapatan yang
direalisasi dari transaksi yang terjadi pada waktu tertentu dibandingkan dengan biaya-biaya
yang dikeluarkan pada periode tertentu.

Meski berbeda namun keduanya saling berkaitan, pengukuran laba tergantung


bagaimana cara pandang si pelaku bisnis dan bagaimana mereka menetukan laba tersebut.
Karena pada dasarnya baik individu maupun perusahaan memiliki konsep yang berbeda-
beda. Perbedaan hanya terletak pada benda atau produk dan jasa yang akan dinilai serta
bagaimana unit ukur yang digunakan.

4.2 Saran
a. Kami harap pembaca atau penyusun selanjutnya dapat melakukan perbaikan-
perbaikan untuk selanjutnya dalam penyusunan makalah, seperti penambahan
materi, perbaikan penulisan, dan lain sebagainya.
b. Sebaiknya penggunaan konsep-konsep pengukuran laba dengan konsep yang
lainnya dikombinasikan guna menutupi kelemahan-kelemahan penggunaan konsep
nilai saat ini agar tujuan atas pengukuran dan pelaporan laba dapat bermanfaat bagi
semua pihak.

18
DAFTAR PUSTAKA

Arby, Ulfa Fauziah. 2010. Konsep Laba. Dikutip dari:


http://fauziahupearby.blogspot.com/2010/05/teori-akuntansi-materi-konsep
laba.html (Diakses 9 Maret).

Fiesta, Anggun. 2016. Konsep Laba dan Pengukurannya. Dikutip dari


http://anggunteroiakuntasi.blogspot.com/2016/12/konsep-laba-dan-
pengukurannya-di.html (Diakses 10 Maret).
Harahap, Sofyan Syafri. 2001. Teori Akuntansi (Edisi Revisi – Cetakan Keempat).
Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI). Standar Akuntansi Keuangan. Dikutip dari


http://iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/pernyataan-sak (Diakses 10
Maret).
Iqbal, Muhammad. 2013. Konsep Laba. Dikutip dari:
https://www.academia.edu/25709923/Konsep_Laba (Diakses 9 Maret).

Purnamasari, Dian dan Iwan Triyuwono. 2010. Tafsir Hemeneutik Intensionalisme Atas
“Laba” Yayasan Pendidikan. Jurnal Akuntansi Multiparadigma: Vol. 1 No. 3
Desember 2010.

Prasetyo, Irvan. (2012). Analisis Pemahaman Konsep Laba Pedagang Kaki Lima Di
Surabaya Dengan Paradigma Hermeneutik. Surabaya: Jurnal Ilmiah Akuntansi.

Riahi-Belkaoui, Ahmed. 2012. Accounting Theory (Edisi Lima – Buku Dua). Jakarta:
Salemba Empat.

19