Anda di halaman 1dari 137

Universitas Sumatera Utara

Repositori Institusi USU http://repositori.usu.ac.id


Fakultas Kesehatan Masyarakat Skripsi Sarjana

2017

Pelaksanaan Sistem Pencatatan Dan


Pelaporan Terpadu Puskesmas
(SP2TP) Di Wilayah Kerja Puskesmas
Terjun Kecamatan Medan Marelan
Tahun 2017

Lubis, Naimatussaadah

http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/1609
Downloaded from Repositori Institusi USU, Univsersitas Sumatera Utara
PELAKSANAAN SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN
TERPADU PUSKESMAS (SP2TP) DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS TERJUN KECAMATAN MEDAN MARELAN
TAHUN 2017

SKRIPSI

OLEH :
NAIMATUSSAADAH LUBIS
NIM: 131000314

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017

Universitas Sumatera Utara


PELAKSANAAN SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN
TERPADU PUSKESMAS (SP2TP) DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS TERJUN KECAMATAN MEDAN MARELAN
TAHUN 2017

Skripsi ini diajukan sebagai


salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat

OLEH
NAIMATUSSAADAH LUBIS
NIM: 131000314

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017

Universitas Sumatera Utara


PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul


“PELAKSANAAN SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN
TERPADU PUSKESMAS (SP2TP) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
TERJUN KECAMATAN MEDAN MARELAN TAHUN 2017” ini beserta
seluruh isinya adalah benar hasil karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan
penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika
keilmuan yang berlaku dalam masyarakat. Atas pernyataan ini, saya siap
menanggung resiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian
ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau
klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Medan, September 2017

Naimatussaadah Lubis
131000314

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara
ABSTRAK
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) merupakan
sumber pengumpulan data dan informasi di tingkat Puskesmas. Segala data dan
informasi baik faktor utama dan tenaga pendukung lain yang menyangkut
puskesmas untuk dikirim ke pusat serta sebagai bahan laporan untuk kebutuhan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sistem administrasi pencatatan dan
pelaporan dalam pelaksanaan SP2TP dari aspek input (sumber daya manusia,
material dan kebijakan), aspek proses (pencatatan dan pelaporan masing-masing
program kepetugas SP2TP dan menginput laporan data dalam pelaporan (LB)),
dan aspek output (ketepatan waktu, kelengkapan data, dan keakurata data)
diwilayah kerja Puskesmas Terjun Kecamatan Medan Marelan.
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. Dengan informan
sebanyak 8 orang dengan kategori Kepala Puskesmas Terjun, Koordinator SP2TP
Puskesmas Terjun, 5 orang pelaksana kegiatan program dan Koordinator SP2TP
di Dinas Kesehatan Kota Medan.
Hasil penelitian diperoleh bahwa pelaksanaan sistem pencatatan dan
pelaporan terpadu (SP2TP) di wilayah kerja Puskesmas Terjun sudah terlaksana
meskipun belum optimal, ditemukan beberapa masalah yaitu, belum adanya
koordinasi yang baik antara koordinator SP2TP dengan petugas program SP2TP,
belum adanya dukungan sumber daya manusia khusus pelaksanaan SP2TP baik
secara kualitas dan kuantitas, belum adanya dukungan alat teknologi dalam
pengerjaan laporan sehingga masih adanya petugas mencatat, dan menginput data
laporan secara manual serta dalam pelaporan laporannya selalu tidak tepat waktu
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, belum adanya buku pedoman khusus
untuk membantu pelaksanaan SP2TP, dan tidak adanya kebijakan khusus dari
penanggung jawab SP2TP di Puskesmas terjun dalam menangani setiap
keterlambatan laporan yang terjadi, perlu adanya koordinasi antara petugas
masing-masing program dengan koordinator SP2TP yang baik dan terbuka agar
pelaksanaan program ini berjalan lancar, serta adanya sarana dan prasarana yang
memadai untuk mendukung pelaksanaan SP2TP di puskesmas.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah input SP2TP dari SDM,
pengetahuan dan pelatihan tentang SP2TP di Puskesmas Terjun masih kurang
baik secara kualitas dan kuantitas. Proses SP2TP di Puskesmas Terjun masih
belum optimal sesuai dengan pedoman. Output dari pengelolaan SP2TP di
Puskesmas Terjun yang berupa informasi kesehatan kualitasnya kurang baik.

Kata Kunci: Pelaksanaan, Sistem, Pencatatan, Pelaporan, Puskesmas.

Universitas Sumatera Utara


ABSTRACT
Integrated Reporting and recording system of clinics (SP2TP) is a source
of information and data collection on the level of the Health Centre. All data and
information is both a major factor and other supporting personnel concerning the
clinics to be sent to the Centre as well as a report for your needs. The purpose of
this research is to know the administrative system of recording and reporting in
the implementation of SP2TP of the inputs (human resources, materials and
policy), aspects of the process (the recording and reporting of each program to
the SP2TP officer and reporting of data in the report input (LB)), and output
(timeliness, completeness and accuracy of the data, the data) the working relic of
Health Centre Terjun Subdistrict Medan Marelan.
This research is descriptive research with qualitative approach. Data
collection is done with the interview. With an informant as much as 8 people with
category Head Falls SP2TP, Coordinator of the Health Centre Plunge, 5 people
implementing activities program and coordinator of the SP2TP in the health
service of the city of Medan.
The research results obtained that the implementation of the integrated
reporting and recording system (SP2TP) in the region had already started to
Plunge even though the clinic has not been optimal, found several problems, not
the existence of a good coordination between the Coordinator of SP2TP with the
SP2TP program officer, not the existence of specialized human resources support
the implementation of the SP2TP both in quality and quantity, not to support
technology tools in the workmanship of the report so that it is still the presence of
the clerk records , and enter data manually as well as reports in the reporting of
the results are not always timely in accordance with time, yet the existence of a
special handbook to assist the implementation of SP2TP, and the absence of a
specific policy of person in charge SP2TP in Clinics plunge in dealing with any
delay in reporting the case, need for coordination between the officers of each
program with a good SP2TP Coordinator and open so that the implementation of
this program in full swing , as well as the existence of adequate facilities and
infrastructure to support the implementation of the SP2TP in the Health Centre.
Conclusion of this research is SP2TP input from human resources,
knowledge and training on SP2TP in Health Centre Plunge still lacking both in
quality and quantity. The process of SP2TP in Health Centre Plunge still not
optimized in accordance with the guidelines. The output of SP2TP management in
health centers health information in the form of falls and the quality is not good.

Keywords: Implementation, Systems, Record-Keeping, Reporting, Health


Centre.

Universitas Sumatera Utara


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

Skripsi yang berjudul “PELAKSANAAN SISTEM PENCATATAN DAN

PELAPORAN TERPADU PUSKESMAS (SP2TP) DI WILAYAH KERJA

PUSKESMAS TERJUN KECAMATAN MEDAN MARELAN TAHUN

2017”. Skripsi ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan untuk memperoleh

gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara.

Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai

pihak, baik secara moril maupun materil. Untuk itu pada kesempatan ini penulis

menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada :

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera

Utara.

2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si., selaku Dekan Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes., selaku Ketua Departemen Administrasi dan

Kebijakan Kesehatan sekaligus sebagai Pembimbing I.

4. dr. Fauzi, SKM., Selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak

membimbing dan meluangkan waktu, memberikan saran, dukungan, nasihat,

serta arahan dalam penyelesaian skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara


5. Dr. Juanita, SE, M.kes., dan dr. Heldy B.Z., MPH., selaku Dosen Penguji

yang telah banyak memberikan saran dan kritik demi penyempurnaan skripsi

ini.

6. Ir. Etty Sudaryati, MKM, Ph.D., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang

telah memberikan perhatiannya kepada penulis selama mengikuti pendidikan

di Fakultas Kesehatan Masyarkat Universitas Sumatera Utara.

7. dr. Surya S. Pulungan selaku Kepala Puskesmas Terjun Kecamatan Medan

Marelan dan seluruh staf yang telah memberi izin dan bantuan dalam

pelaksanaan penelitian.

8. Seluruh Dosen dan Staf Akademik Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan ilmu dan bantuan

selama masa perkuliahan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

9. Drg. Hj. Usma Polita Nasution, M.Kes., selaku Kepala Dinas Kesehatan Kota

Medan yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian ini.

10. Terkhusus dan teristimewa untuk orang tua tercinta, Ayahanda Drs.

Syahminan Lubis, S.H dan Ibunda Nur Minta Siregar, BA yang telah

membesarkan, mendidik, dan memberikan kasih sayang yang begitu berharga

serta memberi dukungan dan doa bagi penulis dalam menyelesaikan

pendidikan dan penulisan skripsi ini.

11. Abang dan Kakak yang penulis sayangi Muhammad Sopian Lubis, S.H dan

Aisyaturrodiah Lubis, S.H yang telah banyak memberikan doa, nasihat, kasih

sayang, perhatian, dukungan serta motivasi dalam penyelesaian skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara


12. Para sahabat tersayang (Saufi Ichwana, SKM., Widya Novita Sari, SKM.,

Rafida, Evi Anggraini, Wina Wahyuni dan kawan-kawan seperjuangan di

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumarera Utara) terima kasih

atas dukungan, motivasi serta doa-doanya selama ini. .

13. Teman-teman seperjuangan PBL di Desa Lidah Tanah, Kabupaten Serdang

Bedagai, Fitri Adelina, Irma Yulita, Wilda Susanti, SKM., Siti Namira,

SKM., Josua Matulesi yang selalu memberikan dukungan dan motivasi

kepada penulis.

14. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah

memberikan dukungan dan bantuan selama penulisan skripsi ini.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi Penulis dan para pembaca dan

agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya, serta penulis menyadari bahwa

skripsi ini kemungkinan masih banyak kekurangan, baik dari penulisan,

pemahaman materi, pemakaian bahasa, penyampaian materi, dan lain-lain. Oleh

sebab itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk

kesempurnaan Skripsi ini.

Medan, September 2017


Penulis

Naimatussaadah Lubis
Nim. 131000314

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ....................................i


HALAMAN PENGESAHAN ...........................................................................ii
ABSTRAK .........................................................................................................iii
ABSTRACT .......................................................................................................iv
KATA PENGANTAR .......................................................................................v
DAFTAR ISI .....................................................................................................viii
DAFTAR TABEL.............................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR .........................................................................................xii
DAFTAR ISTILAH ....................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN .....................................................................................xiv
RIWAYAT HIDUP ...........................................................................................xv

BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................1


1.1 Latar Belakang ................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ...........................................................................7
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................8
1.4 Manfaat Penelitian ..........................................................................8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................9


2.1 Konsep Sistem ................................................................................9
2.2.1 Pengertian Sistem .................................................................9
2.2.2 Sistem Kesehatan ..................................................................10
2.2.3 Data dan Sistem Informasi ...................................................10
2.2 Definisi Pencatatan dan Pelaporan .................................................13
2.3 Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) ....14
2.4.1 Pengertian SP2TP .................................................................14
2.4.2 Tujuan SP2TP ......................................................................17
2.4.3 Ruang Lingkup SP2TP .........................................................18
2.4.4 Kegiatan-Kegiatan Yang Dilakukan SP2TP .........................18
2.4.5 Pengorganisasian SP2TP ......................................................19
2.4.6 Pengolahan, Analisa dan Pemanfaatan SP2TP .....................21
2.4.7 Proses SP2TP ........................................................................21
2.4.8 Pemanfaatan Data SP2TP .....................................................28
2.4 Definisi Puskesmas .........................................................................29
2.5.1 Struktur Organisasi Puskesmas ............................................30
2.5.2 Asas Pengelolaan Puskesmas................................................32
2.5.3 Upaya kesehatan Puskesmas .................................................33
2.5.4 Pengorganisasian Puskesmas ................................................34
2.5 Kerangka Pikir ................................................................................35

Universitas Sumatera Utara


BAB III METODE PENELITIAN.................................................................39
3.1 Jenis Penelitian .............................................................................39
3.2 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian .......................................39
3.2.1 Lokasi Penelitian ...............................................................39
3.2.2 Waktu Penelitian ...............................................................39
3.3 Informan Penelitian ......................................................................39
3.4 Metode Pengumpulan Data ..........................................................39
3.5 Jenis dan Sumber Data .................................................................40
3.6 Instrumen Pengambilan Data........................................................40
3.7 Definisi Operasional .....................................................................40
3.8 Triangulasi ....................................................................................42
3.9 Metode Analisis Data ..................................................................42

BAB IV HASIL PENELITIAN ......................................................................43


4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ..........................................................43
4.1.1 Gambaran Umum Puskesmas Terjun .................................43
4.1.2 Wilayah KerjaPuskesmas Terjun .......................................43
4.1.3 Sumber Daya Manusia Puskesmas Terjun .........................45
4.1.4 Karakteristik Informan ......................................................45
4.2 Input SP2TP di Puskesmas Terjun ...............................................46
4.2.1 SDM ..................................................................................46
4.2.1.1 Masa Kerja Petugas Program di Puskesmas
Terjun ....................................................................47
4.2.1.2 Masa Kerja Koordinator SP2TP di Puskesmas
Terjun .....................................................................47
4.2.1.3 Masa Kerja Kepala Puskesmas di Puskesmas
Terjun .....................................................................48
4.2.1.4 Pengetahuan Informan Tentang Sistem
Pelaksanaan Pencatatan dan Pelaporan Terpadu
di Puskesmas (SP2TP) di Wilayah Kerja
Puskesmas Terjun ................................................48
4.2.1.5 Pelatihan SP2TP yang pernah diikuti Informan
di Puskesmas Terjun ............................................50
4.2.2 Material .............................................................................51
4.2.2.1 Perolehan Data, Pengumpulan Data Dan
Kendala Dalam Pengumpulan Data di
Wilayah Puskesmas Terjun ..............................51
4.2.2.2 Ketersediaan Buku pedoman SP2TP, Buku I
dan Buku II, Seri A, B, dan C serta
Formulir SP2TP dan Buku Register .................53
4.2.2.3 Sarana Dan Prasarana Yang Digunakan
Untuk Membuat Laporan SP2TP .....................54
4.2.3 Kebijakan SP2TP ...............................................................55
4.2.3.1 Monitoring Sistem Pencatatan dan Pelaporan
Terpadu Puskesmas (SP2TP) di Wilayah

Universitas Sumatera Utara


Kerja Puskesmas Terjun Kecamatan Medan
Marelan..................................................................55
4.3 Prosses SP2TP di Puskesmas Terjun ..........................................57
4.3.1 Pencatatan dan Pelaporan Masing-Masing Program
ke Petugas SP2TP ..............................................................57
4.3.2 Menginput Laporan Data Dalam Pelaporan .......................61
4.4 Output SP2TP di Puskesmas Terjun ............................................63
4.4.1 Ketepatan Waktu ...............................................................63
4.4.2 Kelengkapan Data ..............................................................64
4.4.3 Keakuratan Data .................................................................66

BAB V PEMBAHASAN ................................................................................68


5.1 Input SP2TP di Puskesmas Terjun ..............................................68
5.1.1 SDM ..................................................................................68
5.1.2 Material SP2TP di Puskesmas Terjun ................................72
5.1.3 Kebijakan SP2TP di Puskesmas Terjun ............................. 78
5.2 Proses SP2TP di Puskesmas Terjun ...........................................80
5.3 Output SP2TP di Puskesmas Terjun ..........................................85

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................89


6.1 Kesimpulan ..................................................................................89
6.2 Saran ............................................................................................90

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................92


DAFTAR LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR TABEL
Halaman

Tabel 4.1 Jumlah Kelurahan di Puskesmas Terjun Kecamatan Medan


Marelan 2016 ................................................................................. 44

Tabel 4.2 Jumlah Sumber Daya Manusia di Puskesmas Terjun Kecamatan


Medan Marelan 2016 ..................................................................... 45

Tabel 4.3 Karakteristik Informan ................................................................... 45

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Pikir ................................................................................35


Gambar 4.1 Keterangan Peta Wilayah Kerja Puskesmas Terjun ........................44

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR ISTILAH

Depkes RI : Departemen Kesehatan Republik Indonesia


Dinkes : Dinas Kesehatan
Ditjen Binkesmas : Direktur Jendral Bina Kesehatan Masyarakat
Ispa : Infeksi Saluran Pernapasan Akut
KB : Keluarga Berencana
KIA : Kesehatan Ibu dan Anak
KMS : Kartu Menuju Sehat
KTP : Kartu Tanda Pengenal
LB : Laporan Bulanan
LT : Laporan Tahunan
PD3I : Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
Permenkes : Peraturan Menteri Kesehatan
PJP : Pembangunan Jangka Panjang
Posyandu : Pos Pelayanan Terpadu
PP : Peraturan Pemerintah
RKK : Rekam Kesehatan Keluarga
SDM : Sumber Daya Manusia
Simpus : Sistem Informasi Manajemen Puskesmas
SK Menkes : Surat Keputusan Menteri Kesehatan
SPT : Sistem Pelaporan Terpadu
SP2TP : Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas
SP3 : Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas
UKM : Upaya Kesehatan Masyarakat
UKP : Upaya Kesehatan Perorangan
UU : Undang-Undang

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pedoman Wawancara

Lampiran 2 Matriks Pedoman Wawancara SP2TP

Lampiran 3 Surat Izin Survei Pendahuluan dari FKM USU

Lampiran 4 Surat Izin Pendahulan Dinas Kesehatan Kota Medan

Lampiran 5 Surat Izin Peneltian dari FKM USU

Lampiran 6 Surat Izin Penelitian Dinas Kesehatan Kota Medan

Lampiran 7 Surat Keterangan Selesai Penelitian dari Puskesmas Terjun

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Naimatussaadah Lubis

Tempat/Tanggal Lahir : Rantau Prapat, 20 Januari 1996

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Suku Bangsa : Mandailing

Nama Ayah : Drs. Syahminan lubis, S.H

Suku Bangsa Ayah : Mandailing

Nama Ibu : Nur Minta Siregar, BA

Suku Bangsa Ibu : Mandailing

Alamat : Jl. Kapuk Dusun XII Desa Bandar Khalipah


Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
Sumatera Utara
Pendidikan Formal

1. SD Negeri 064976 Medan : 2001-2007


2. MTS Al-Washliyah Tembung : 2007-2010
3. MAN 3 Medan : 2010-2013
4. Lama Studi Di Fkm USU : 2013-2017

Universitas Sumatera Utara


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Indonesia mulai

dikembangkan sejak dicanangkannya Pembangunan Jangka Panjang (PJP) yang

pertama tahun 1971. Pemerintah mengembangkan puskesmas dengan tujuan

untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang sebagian

terbesar masih tinggal dipedesaan. Puskesmas sebagai tulang punggung

penyelenggaraan upaya pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat diwilayah

kerjanya berperan menyelenggarakan upaya kesehatan untuk meningkatkan

kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar

memperoleh derajat kesehatan yang optimal (Permenkes No. 44 Tahun 2016).

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014

menyatakan puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan

perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan

preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya

diwilayah kerjanya.

Pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat melalui puskesmas

didasarkan pada misi puskesmas sebagai pusat pengembangan kesehatan (Centre

for Health Development) di wilayah kerjanya. Manajemen kesehatan yang baik

akan terwujud jika didukung dengan sistem Informasi kesehatan yang handal

(Muninjaya, 2011).

Universitas Sumatera Utara


Manajemen puskesmas yang merupakan bagian dari tatanan administrasi

kesehatan dibawah koordinasi Dinkes Kabupaten/Kota seharusnya diintegrasikan

kedalam strategi pengembangan Kabupaten Sehat 2010. Dengan demikian,

gerakan reformasi puskesmas di Indonesia sejalan dengan gerakan reformasi

kesehatan ditingkat Kabupaten/Kota. Untuk itu, gugus kerja (integreted taskforce)

di tingkat Kabupaten/Kota juga harus dibentuk (Muninjaya, 2004).

Salah satu sumber informasi manajemen puskemas (SIMPUS) di Negara

Indonesia adalah Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP).

Sistem informasi puskesmas (SIMPUS) dan sistem pelaporan terpadu (SPT) telah

dikembangkan di berbagai jajaran dinas kesehatan kabupaten yang ada di

Indonesia. SIMPUS merupakan perangkat lunak yang digunakan puskesmas

untuk merekam data kunjungan pasien rawat jalan. Data kunjungan pasien

disimpan dan digunakan untuk membuat data pelaporan pada periode waktu

tertentu yang selanjutnya data tersebut dikirimkan ke Dinas Kesehatan. Data

pelaporan antar puskesmas ditingkat kabupaten memiliki struktur data yang sama.

SPT SIMPUS merupakan sistem informasi yang digunakan di tingkat kesehatan.

Sistem ini dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dinas kesehatan dalam

mengelola data-data yang dimiliki.

Di puskesmas, Sistem Pencatatan dan Pelaporan yang disebut sebagai

Sistem Pencatatan Dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) telah diberlakukan

sejak tahun 1981. SP2TP secara potensial, dapat berperan banyak dalam

menunjang proses manajemen puskesmas. Namun berbagai data SP2TP yang

tersedia untuk menunjang manajemen puskesmas belum dapat dimanfaatkan

Universitas Sumatera Utara


secara optimal oleh karena berbagai hal yang berkaitan dengan rancangan sistem

tersebut. Disamping itu, kapasitas sumber daya yang terbatas di puskesmas, baik

dari segi manusia maupun sarana pendukungnya, tidak memungkinkan

memanfaatkan data SP2TP secara optimal dan informasi lainnya dalam

menunjang manajemen puskesmas (Depkes RI, 1997).

Berdasarkan pendapat Tiara (2011), yang dikutip oleh Pontoh (2013)

bahwa Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu puskesmas (SP2TP) adalah

kegiatan Pencatatan dan Pelaporan data umum, sarana, tenaga dan upaya

pelayanan kesehatan di puskesmas yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri

Kesehatan RI Nomor 63/MENKES/SK/II/1981. Data SP2TP berupa umum dan

demografi, ketenagaan, sarana, kegiatan pokok puskesmas. Menurut Yusran

(2008), yang dikutip oleh Pontoh (2013) yaitu sistem Pencatatan dan Pelaporan

Terpadu Pukesmas (SP2TP) merupakan kegiatan pencatatan dan pelaporan

puskesmas secara menyeluruh (terpadu) dengan konsep wilayah kerja puskesmas.

Sistem pelaporan ini diharapkan mampu memberikan informasi baik bagi

puskesmas maupun untuk jenjang administrasi yang lebih tinggi, guna

mendukung manajemen kesehatan.

Sejak pelaksanaan SP2TP dari tahun 1981 berbagai permasalahan dihadapi

antara lain banyaknya variabel yang harus dilaporkan sehingga menambah beban

tugas petugas. Berbagai upaya telah dilakukan guna memecahkan masalah yang

ada, sampai akhirnya dikeluarkan keputusan Direktur Jendral Pembinaan

Kesehatan Masyarakat No. 590/BM/DJ/INFO/V/96 Tentang Penyederhanaan

Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas. Sesuai dengan keputusan

Universitas Sumatera Utara


tersebut, diperlukan pedoman SP2TP untuk pegangan bagi pelaksana diberbagai

tingkat administrasi, terutama bagi petugas puskesmas sebagai sumber data

(Depkes RI, 1997).

Peran informasi sangat penting terhadap organisasi. Sistem informasi

merupakan suatu cara yang sudah tertentu untuk menyediakan informasi yang

dibutuhkan oleh organisasi untuk beroperasi dengan sukses. Kegiatannya terdiri

dari input untuk menyediakan data, proses untuk memproses dan mengolah data,

output untuk menghasilkan laporan, penyimpanan untuk memelihara dan

menyimpan data, serta kontrol yang menjamin suatu sistem informasi berjalan

sesuai dengan yang diharapkan.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan dan wawancara dengan pengurus

sistem pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP) di Dinas Kesehatan

Kota Medan tentang SP2TP diketahui bahwa dari 39 puskesmas yang ada di kota

Medan, Puskesmas Terjun yang menjadi pilihan objek penelitian penulis. Hal ini

dikarenakan pada survey awal penelitian di Dinas Kesehatan Kota Medan

Puskesmas Terjun yang sering terlambat dalam pengiriman laporan bulanan. Dari

hasil penelitian awal yang dilakukan di puskesmas terjun diperoleh beberapa

permasalahan yaitu: (1) Puskesmas Terjun paling sering terjadi keterlambatan

dalam pengiriman laporan bulanan sistem pencatatan dan pelaporan terpadu

puskesmas (SP2TP) oleh petugas puskesmas, yang seharusnya pengiriman

laporan bulanan dilakukan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya, (2) tidak

adanya data LB2 didalam laporan SP2TP Puskesmas Terjun; (3) Data yang diolah

sering terjadi kesalahan dalam pencatatan dan pelaporannya.

Universitas Sumatera Utara


Adanya keterlambatan pelaporan SP2TP, data laporan bulanan yang tidak

lengkap serta data yang diolah sering terjadi kesalahan. Hal ini menunjukkan

adanya berbagai kesulitan yang sedang dihadapi baik oleh pengelola SP2TP

maupun pengelola program di puskesmas sehingga pelaksanaan SP2TP belum

berjalan efektif. Adapun yang menjadi kesulitan dalam pelaksanaan SP2TP di

Puskesmas Terjun yaitu kurangnya/minimnya tenaga kerja (SDM), pencatatan

masih dilakukan secara manual artinya belum menggunakan komputerisasi, tidak

adanya koordinasi antara pengelola pelaporan dengan petugas program di

Puskesmas Terjun tentang waktu yang ditetapkan dalam pengiriman laporan

SP2TP, belum tersedianya buku pedoman tentang SP2TP dan belum

terlaksananya pelatihan untuk mengolah data SP2TP dan pelatihan komputer bagi

koordinator SP2TP dan petugas program di Puskesmas Terjun.

Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya oleh Suryani (2013) SP2TP

di wilayah Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu Provinsi Nusa Tenggara Barat

menyatakan bahwa pencatatan pada laporan sistem pencatatan dan pelaporan

terpadu puskesmas (SP2TP) semua puskesmas di Kabupaten Dompu dalam

pekerjaanya masih bersifat manual, pelaporan pada sistem pencatatan dan

pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP) masih belum lengkap karena tidak ada

koordinasi, tidak ada buku petunjuk, sulitnya transportasi, mati lampu (listrik),

tidak ada honor khusus. Pelaksanaan pada sistem pencatatan dan pelaporan

terpadu puskesmas (SP2TP) masih ada yang bermasalah karena belum lengkap

dan belum tepat waktu dalam pelaporannya. Walaupun pengawasan pada sistem

pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP) sudah dilakukan ditiap

Universitas Sumatera Utara


puskesmas di Kabupaten Dompu karena setiap laporan yang masuk ke Dinas

Kesehatan selalu dilakukan analisis tapi tidak dapat membantu dalam

kelengkapan laporan yang dikirim oleh puskesmas.

Informasi atau laporan haruslah mempunyai kualitas yang relevan, tepat

waktu dan efisien agar dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan sebagai dasar

pengambilan keputusan. Sebagaimana di jelaskan dalam Undang-Undang Nomor

36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan menyatakan untuk menyelenggarakan upaya

kesehatan yang efektif dan efisien diperlukan informasi kesehatan. Informasi atau

laporan haruslah mempunyai kualitas yang relevan, tepat waktu dan efisien agar

dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Sedangkan informasi yang dibuat dengan cara manual mempunyai resiko terhadap

kebenaran dan keakuratan kemungkinan terjadi kesalahan baik yang disengaja

maupun yang tidak disengaja akan lebih besar, sehingga keakuratan informasinya

pun berkurang.

Sistem pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas merupakan sumber

pengumpulan data dan informasi ditingkat puskesmas. Segala data dan informasi

baik faktor utama dan tenaga pendukung lain yang menyangkut puskesmas untuk

dikirim ke pusat serta sebagai bahan laporan untuk kebutuhan. Dengan demikian

kajian terhadap kegiatan SP2TP sangatlah penting mengingat data hasil kegiatan

puskesmas menjadi informasi dipuskesmas dan untuk memenuhi administrasi

pada jenjang yang lebih tinggi dalam tingkat pembinaan, perencanaan, dan

penetapan kebijaksanaan. Sehingga bermanfaat untuk peningkatan upaya

kesehatan puskesmas melalui: perencanaan, (perencanaan mikro), penggerakan

Universitas Sumatera Utara


dan pelaksanaan (lokakarya mini puskesmas), pengawasan, pengendalian, serta

penilaian (stratifikasi).

Dampak dari pada keterlambatan pelaporan atau tidak adanya laporan

bulanan SP2TP yaitu tidak tersedianya data yang up to date yang dapat digunakan

sebagai informasi yang akurat/relevan bagi orang yang membutuhkan dan

dijadikan bahan referensi penelitian. Dan tanpa adanya pencatatan dan pelaporan

maka tidak adanya umpan balik dilintas sektor dari Dinas Kesehatan Kota ke

puskesmas, Dinas Kesehatan Kota ke Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas

Kesehatan Provinsi ke Pusat untuk memberikan informasi sistem apa yang harus

dievaluasi kembali untuk memperbaiki mutu dalam pelayanan kesehatan, selain

itu tanpa adanya pencatatan dan pelaporan maka kegiatan atau program apapun

yang dilaksanakan tidak akan terlihat dan terdokumentasi wujudnya menjadi

informasi untuk pengambilan keputusan selanjutnya dan tidak tersedianya data

yang lengkap untuk kemudian dijadikan laporan tahunan atau buku profil tahunan

puskesmas.

Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas ternyata dapat diketahui

adanya masalah dalam pelaksanaan pelaporan Puskesmas Terjun Kecamatan

Medan Marelan. Maka dengan demikian penulis ingin mengetahui mengenai

Pelaksanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas di wilayah

kerja Puskesmas Terjun Kecamatan Medan Marelan.

1.2 Permasalahan Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, dapat diambil

rumusan masalah dari penelitian ini yaitu: Mengapa sistem administrasi

Universitas Sumatera Utara


pencatatan dan pelaporan di Puskesmas Terjun Kecamatan Medan Marelan tidak

tercatat dengan rapi sehingga mengakibatkan terjadinya keterlambatan dan

ketidaklengkapan dalam pelaporan data SP2TP?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu: Untuk mengetahui sistem

administrasi pencatatan dan pelaporan dalam pelaksanaan SP2TP di wilayah

kerja Puskesmas Terjun Kecamatan Medan Marelan.

1.4 Manfaat Penelitian

a. Bagi Puskesmas

Sebagai masukan atau input bagi Puskesmas Terjun Kecamatan Medan

Marelan dalam Pelaksanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu

Puskesmas (SP2TP);

b. Bagi Peneliti

Untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman dan dapat dijadikan sebagai

dasar penelitian selanjutnya.

Universitas Sumatera Utara


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Sistem

2.2.1 Pengertian Sistem

Telah disebutkan bahwa objek dan subjek kajian administrasi kesehatan

adalah sistem kesehatan (health sytem). Dengan demikian untuk dapat

melaksanakan administrasi kesehatan, perlu dipahami apa yang disebut dengan

sistem kesehatan tersebut. Jika menyebut perkataan sistem, ada banyak macamnya

pengertian dari sistem tersebut. Beberapa di antaranya yang di pandang cukup

penting adalah:

1. Berdasarkan pendapat Ryans, yang dikutip oleh (Azwar, 2010), Sistem adalah

gabungan dari elemen-elemen yang saling dihubungkan oleh suatu proses

atau struktur dan berfungsi sebagai kesatuan organisasi dalam upaya

menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan;

2. Berdasarkan pendapat John McManama, yang dikutip oleh (Azwar, 2010),

Sistem adalah suatu struktur konseptual yang terdiri dari fungsi-fungsi yang

saling berhubungan yang bekerja sebagai satu unit organik untuk mencapai

keluaran yang diinginkan secara efektif dan efisien;

3. Sistem adalah kumpulan dari bagian-bagian yang berhubungan dan

membentuk satu kesatuan yang majemuk, dimana masing-masing bagian

bekerja sama secara bebas dan terkait untuk mencapai sasaran kesatuan dalam

suatu situasi yang majemuk pula (Azwar, 2010);

Universitas Sumatera Utara


4. Sistem adalah satu kesatuan yang utuh dan terpadu dari berbagai elemen yang

berhubungan serta saling mempengaruhi yang dengan sadar dipersiapkan

untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Azwar, 2010).

Penggunaan pendekatan sistem dalam pekerjaan informasi atau pekerjaan

lainnya adalah untuk memudahkan pengelolaan terhadap objek bersangkutan agar

dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

2.2.2 Sistem Kesehatan

Sedangkan pengertian kesehatan sebagaimana dalam Peraturan Presiden

Nomor 72 Tahun 2012 Tentang Sistem Kesehatan Nasional pada Pasal 1 ayat (1)

Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial

yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan

ekonomis.

Untuk itu adapun pengertian dari sistem kesehatan yaitu gabungan antara

pengertian sistem dan pengertian kesehatan. Untuk Indonesia sistem kesehatan

dikenal dengan nama sistem kesehatan nasional (SKN). Sebagaimana dalam Pasal

1 ayat (2) Tahun 2012 Tentang Sistem Kesehatan Nasional, yang selanjutnya

disingkat SKN adalah pengelolaan kesehatan yang diselenggarakan oleh semua

komponen bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna

menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

2.2.3 Data dan Sistem Informasi

Informasi sangat erat hubungannya dengan data. Informasi berasal dari

data. Oleh karena itu, sebelum dijelaskan mengenai informasi akan dijelaskan

terlebih dahulu arti data (Hasibuan, 2011).

Universitas Sumatera Utara


Berdasarkan pendapat Gordon B. Davis yang dikutip oleh Hasibuan

(2011), data adalah bahan mentah bagi informasi, dirumuskan sebagai kelompok

lambang tidak acak yang menunjukkan jumlah-jumlah, tindakan-tindakan, hal-hal

dan sebagainya. Data-data disusun untuk mengolah tujuan-tujuan menjadi

susunan data, susunan kearsipan dan pusat data atau landasan data.

Jadi jelas kiranya bahwa data merupakan sumber informasi, merupakan

bahan informasi dan dengan sendirinya erat hubungannya dengan informasi.

Berdasarkan pendapat Gordon B. Davis, yang dikutip oleh Hasibuan

(2011) menyatakan bahwa informasi tersebut adalah data yang telah diolah

menjadi suatu bentuk yang penting bagi sipenerima dan yang mempunyai nilai

yang nyata atau yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang sekarang

atau keputusan-keputusan yang akan datang.

Dengan demikian kajian terhadap sistem informasi dan pengambilan

keputusan diarahkan untuk mempelajari proses pengambilan keputusan strategis

pada sebuah organisasi (keputusan kunci). Untuk pengambilan keputusan

strategis, diperlukan informasi yang akurat dan menyeluruh tentang organisasi,

terutama tentang bagaimana sistem yang ada dalam organisasi dapat tetap berjalan

sesuai dengan misinya mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Muninjaya, 2004).

Jelaslah bahwa agar informasi itu menjadi berguna harus disampaikan kepada

orang yang tepat, pada waktu yang tepat dan dalam bentuk yang tepat pula

(Hasibuan, 2011).

Pada umumnya data dan informasi diperlukan dalam manajemen,

pelaksanaan, dan pengembangan pembangunan kesehatan. Untuk

Universitas Sumatera Utara


menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan efisien diperlukan informasi

kesehatan. Informasi kesehatan digunakan sebagai masukan pengambilan

keputusan dalam setiap proses manajemen kesehatan baik manajemen pelayanan

kesehatan, manajemen institusi kesehatan, maupun manajemen program

pembangunan kesehatan atau manajemen wilayah. Disamping itu, dalam upaya

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, pemerintah memberikan kemudahan

kepada masyarakat untuk memperoleh akses terhadap informasi kesehatan. Dalam

rangka peningkatan sistem informasi kesehatan nasional, Menteri Kesehatan telah

menetapkan kebijakan strategi pengembangan sistem informasi kesehatan

nasional yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor

46 Tahun 2014 Tentang Sistem Informasi Kesehatan.

Dalam peraturan pemerintah Nomor 46 Tahun 2014 Tentang Sistem

Informasi Kesehatan pada Pasal 1 ayat (3) yang dimaksud dengan informasi

kesehatan adalah data kesehatan yang telah diolah atau diproses menjadi bentuk

yang mengandung nilai dan makna yang berguna untuk meningkatkan

pengetahuan dalam mendukung pembangunan kesehatan. Sedangkan yang

dimaksud dengan data kesehatan yang terdapat pada ayat (2) adalah angka dan

fakta kejadian berupa keterangan dan tanda-tanda yang secara relatif belum

bermakna bagi pembangunan kesehatan.

Sebagaimana yang dituangkan dalam pasal 1 ayat (1) Peraturan

Pemerintah Nomor 46 Tahun 2014 Tentang Sistem Informasi Kesehatan, yang

dimaksud dengan sistem informasi kesehatan adalah seperangkat tatanan yang

meliputi data, informasi, indikator, prosedur, perangkat, teknologi, dan sumber

Universitas Sumatera Utara


daya manusia dan dikelola secara terpadu untuk mengarahkan tindakan atau

keputusan yang berguna dalam mendukung pembangunan kesehatan.

2.2 Definisi Pencatatan dan Pelaporan

1. Pencatatan

Catatan berisi keterangan-keterangan yang di simpan di unit kesehatan

mengenai pekerjaan unit, keadaan kesehatan masyarakat, dan pasien perorangan,

serta keterangan mengenai hal-hal ketatausahaan misalnya staf, peralatan dan

perlengkapan (McMahon dkk,1999).

Catatan biasanya berupa informasi dalam buku catatan atau arsip, catatan

dapat juga tersimpan dalam pita rekaman atau komputer. Catatan merupakan

ingatan tata usaha dan merupakan perangkat penting untuk mengawasi dan

menilai pekerjaan, pencatatan membantu para pengawas:

a. Mempelajari apa yang terjadi;

b. Membuat keputusan yang efektif;

c. Menilai kemajuan pencapaian tujuan.

Catatan harus tepat, mudah diperoleh, tersedia bila diperlukan, dan berisi

informasi yang berguna bagi manajemen. Informasi tidak selalu dicatat kecuali

bila diketahui akurat dan ada gunanya.

Sedangkan pencatatan adalah kegiatan atau proses pendokumentasian

suatu aktivitas dalam bentuk tulisan diatas kertas, file komputer, dan lain-lain

dengan ilustrasi tulisan, grafik, gambar, dan suara (Mubarak, 2012).

Manfaat pencatatan adalah sebagai berikut:

a. Memberi informasi tentang keadaan masalah/kegiatan;

Universitas Sumatera Utara


b. Sebagai bukti dari suatu kegiatan/ peristiwa;

c. Bahan proses belajar dan bahan penelitian;

d. Sebagai pertanggungjawaban;

e. Bahan pembuatan laporan;

f. Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi;

g. Bukti hukum;

h. Alat komunikasi dalam penyampaian peran serta mengingatkan kegiatan

peristiwa khusus (Mubarak, 2012).

2. Pelaporan

Laporan adalah keterangan yang disampaikan kepada tingkat lain dari

pelayanan kesehatan. Laporan juga merupakan perangkat manajemen penting

yang mempengaruhi tindakan selanjutnya (McMahon dkk, 1999).

Jenis-jenis laporan (lisan, tertulis atau melalui telepon atau radio bilamana perlu)

Isinya (informasi statistik mengenai kelahiran, kematian, dan kesakitan, atau

keterangan mengenai perkembangan atau kesulitan program), dan frekuensi serta

kegunaannya akan berbeda dari satu negara ke negara lain.

Sedangkan pengertian pelaporan adalah catatan yang memberikan

informasi tentang kegiatan tertentu dan hasilnya disampaikan kepihak yang

berwenang atau berkaitan terhadap kegiatan tersebut.

2.3 Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP)

2.3.1 Pengertian SP2TP

Berdasarkan pendapat Ahmad (2005), yang dikutip oleh Pontoh (2013)

menyatakan SP2TP adalah kegiatan Pencatatan dan Pelaporan data umum, sarana,

Universitas Sumatera Utara


tenaga, dan upaya pelayanan kesehatan di puskesmas yang bertujuan agar

didapatnya semua data hasil kegiatan puskesmas (termasuk puskesmas dengan

tempat tidur, puskesmas pembantu, puskesmas keliling, Bidan Desa dan

posyandu) dan data yang berkaitan, serta dilaporkannya data tersebut kepada

jenjang administrasi diatasnya sesuai kebutuhan secara benar, berkala dan teratur,

guna menunjang pengelolaan upaya kesehatan masyarakat.

Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas merupakan sumber

pengumpulan data dan informasi ditingkat puskesmas. Segala data dan informasi

baik faktor utama dan tenaga pendukung lain yang menyangkut puskesmas untuk

dikirim ke pusat seta sebagai bahan laporan untuk kebutuhan. Berdasarkan

pendapat Lapau (1989), yang dikutip oleh Pontoh (2013) menyatakan yaitu data

yang dikumpul oleh puskesmas dan dirangkum kelengkapan dan kebenarannya.

Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) ialah laporan yang

dibuat semua puskesmas pembantu, posyandu, puskesmas keliling bidan-bidan

desa dan lain-lain yang termasuk dalam wilayah kerja puskesmas. Jenis data yang

dikumpulkan dan dicatat dalam SP2TP adalah seluruh kegiatan di puskesmas

yang meliputi data:

1. Data umum dan demografi wilayah kerja puskesmas;

2. Data ketenagaan puskesmas, dan;

3. Data sarana yang dimiliki puskesmas (Pontoh, 2013).

Berdasarkan pendapat Santoso (2008) yang dikutip oleh Pontoh (2013)

Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) merupakan instrumen vital

dalam sistem kesehatan. Informasi tentang kesakitan, penggunaan pelayanan

Universitas Sumatera Utara


kesehatan di puskesmas, kematian, dan berbagai informasi kesehatan lainnya

berguna untuk pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan di tingkat

Kabupaten/Kota maupun Kecamatan.

Berdasarkan pendapat Tiara (2011) yang dikutip oleh Pontoh (2013)

Pencatatan dan pelaporan indikator keberhasilan suatu kegiatan. Tanpa ada

pencatatan dan pelaporan, kegiatan atau program apapun yang dilaksanakan tidak

akan terlihat wujudnya. Output dari pencatatan dan pelaporan ini adalah sebuah

data dan informasi yang berharga dan bernilai bila menggunakan metode yang

tepat dan benar. Jadi, data dan informasi merupakan sebuah unsur terpenting

dalam sebuah organisasi, karena data dan informasilah yang berbicara tentang

keberhasilan atau perkembangan organisasi tersebut.

Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas mencakup 3 hal yakni:

1. Pencatatan, pelaporan, dan pengolahan;

2. Analisis;

3. Pemanfaatan.

Pencatatan hasil kegiatan oleh pelaksana dicatat dalam buku-buku register

yang berlaku untuk masing-masing program. Data tersebut kemudian

direkapitulasikan kadalam format laporan SP3 yang sudah dibukukan.

Koordinator SP3 di puskesmas menerima laporan-laporan dalam format buku

tadi dalam 2 rangkap, yaitu satu untuk arsip dan yang lainnya untuk dikirim ke

Koordinator SP3 di Dinas Kesehatan Kabupaten. Koordinator SP3 di Dinas

Kesehatan Kabupaten meneruskan ke masing-masing pengelola program di Dinas

Kesehatan Kabupaten.

Universitas Sumatera Utara


Dari Dinas Kesehatan Kabupaten, setelah diolah dan dianalisis di kirim ke

Koordinator SP3 di Dinas Kesehatan Provinsi dan seterusnya dilanjutkan proses

untuk pemanfaatannya. Laporan SP2TP mempergunakan sistem tahun kalender.

Periode laporan dari puskesmas ke Dati II adalah bulanan dan tahunan. Periode

laporan dari Dati II ke Dati I dan pusat adalah triwulan.

2.3.2 Tujuan SP2TP

Tujuan Sistem Informasi Manajemen di puskesmas adalah untuk

meningkatkan kualitas manajemen puskesmas secara lebih berhasil guna dan

berdaya guna, melalui pemanfaatan secara optimal data SP2TP dan informasi lain

yang menunjang.

Berdasarkan pendapat Ahmad (2005), yang dikutip oleh Pontoh (2013),

Tujuan dimaksud dapat terwujud apabila .

1. Data S2TP dan data lainnya diolah disajikan dan diinterprestasikan sesuai

dengan petunjuk Pengolahan dan Pemanfaatan data SP2TP.

2. Pengolahan, analisis, interprestasi dan penyajian dilakukan oleh para

penanggung jawab masing-masing kegiatan di puskesmas dan mengelola

program disemua jenjang administrasi.

3. Informasi yang diperoleh dari pengolahan dan interprestasi data SP2TP dan

sumber lainnya dapat bersifat kualitatif (seperti meningkat, menurun, dan

tidak ada perubahan) dan bersifat kuantitatif dalam bentuk angka seperti

jumlah, persentase dan sebagainya.

Tujuan umum dari Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas

(SP2TP) ini ialah data dan informasi yang akurat tepat waktu dan mutakhir secara

Universitas Sumatera Utara


periodik dan teratur pengolahan program kesehatan masyarakat melalui

puskesmas di berbagai tingkat administrasi (Syafrudin dkk, 2009). Adapun tujuan

khususnya ialah:

1. Tersedianya data yang meliputi keadaan fisik, tenaga, sarana dan kegiatan

pokok puskesmas akurat, tepat waktu dan mutakhir secara teratur;

2. Terlaksananya pelaporan data secara teratur diberbagai jenjang administrasi

sesuai dengan peraturan yang berlaku;

3. Digunakan data tersebut untuk pengambilan keputusan dalam rangka

pengelolaan program kesehatan masyarakat melalui puskesmas diberbagai

tingkat administrasi (Syafrudin dkk, 2009).

2.3.3 Ruang Lingkup SP2TP

1. SP2TP dilakukan oleh semua puskesmas termasuk puskesmas pembantu

dan puskesmas keliling;

2. Pencatatan dan pelaporan mencakup:

a. Data umum dan demografi wilayah kerja puskesmas;

b. Data ketenagaan di puskesmas;

c. Data saran yang dimiliki puskesmas;

d. Data kegiatan pokok puskesmas (18 upaya pokok) baik didalam

gedung maupun diluar gedung.

3. Pelaporan dilakukan secara periodik (bulanan, triwulan, semester dan

tahunan).

2.3.4 Kegiatan-kegiatan yang dilakukan SP2TP

1. Mengkompilasi data dari puskesmas;

Universitas Sumatera Utara


2. Mentabulasi data upaya kesehatan yang dilakukan;

3. Menyusun kartu indeks penyakit;

4. Menyusun sensus harian mengolah data kesakitan;

5. Menyajikan dalam bentuk narasi, tabel, grafik sesuai kebutuhan;

6. Melakukan analisa untuk kebutuhan pemantauan, intervensi, serta

perencanaan dimasa mendatang;

7. Membuat peta wilayah puskesmas termasuk sarana kesehatan.

2.3.5 Pengorganisasian SP2TP

Untuk kelancaran kegiatan SP2TP di puskesmas, maka dibentuk

pengorganisasian yang terdiri dari:

1. Penanggung jawab (Kepala Puskesmas); tugas penanggung jawab adalah

memberikan bimbingan kepada koordinator SP2TP dan para pelaksana

kegiatan di puskesmas;

2. Koordinator (petugas yang ditunjuk kepala puskesmas), koordinator SP2TP

bertugas:

a. Mengumpulkan laporan dari masing-masing pelaksana kegiatan;

b. Bersama dengan para pelaksana kegiatan membuat laporan bulanan

SP2TP dan mengirimkan laporan tersebut ke Dinas Kesehatan Dati II

paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya;

c. Bersama dengan para pelaksana kegiatan membuat laporan tahunan

SP2TP dan mengirimkan laporan tersebut ke Dinas Dati II paling lambat

31 Januari tahun berikutnya;

d. Menyimpan arsip laporan SP2TP dari masing-masing pelaksana kegiatan;

Universitas Sumatera Utara


e. Bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan SP2TP kepada kepala

puskesmas;

f. Mempersiapkan pertemuan berkala setiap 3 bulan yang dipimpin oleh

Kepala Puskesmas dengan pelaksanaan kegiatan untuk menilai

pelaksanaan kegiatan SP2TP.

3. Anggota (pelaksanaan kegiatan di puskesmas), pelaksana kegiatan SP2TP

bertugas:

a. Mencatat setiap kegiatan pada kartu individu dan register yang ada;

b. Mengadakan bimbingan terhadap puskesmas pembantu dan bidan di

Desa;

c. Melakukan rekapitulasi data dari hasil pencatatan dan laporan puskesmas

pembantu serta bidan di Desa menjadi laporan kegiatan yang menjadi

tanggung jawabnya. Hasil dari rekapitulasi ini merupakan bahan untuk

mengisi/ membuat laporan SP2TP;

d. Setiap tanggal 5 mengisi/membuat laporan SP2TP dari hasil kegiatan

masing-masing dalam dua rangkap dan disampaikan kepada koordinator

SP2TP puskesmas. Dengan rincian satu rangkap untuk arsip koordinator

SP2TP puskesmas dan satu rangkap oleh koordinator SP2TP puskesmas

disampaikan ke Dinas Kesehatan Dati II;

e. Mengolah dan memanfaatkan data hasil rekapitulasi untuk tindak lanjut

yang diperlukan dalam rangka meningkatkan kinerja kegiatan yang

menjadi tanggung jawabnya;

f. Bertanggung jawab atas kebenaran isi laporan kegiatannya.

Universitas Sumatera Utara


2.3.6 Pengolahan, analisa dan pemanfaatan SP2TP

1. Dilaksanakan pada setiap jenjang administrasi;

2. Pemanfaatan di sesuaikan dengan tugas dan fungsi dalam pengambilan

keputusan;

3. Di Puskesmas digunakan untuk pemantauan pelaksanaan program

operasionalisasi dan early warning sytem;

4. Pada Dati II digunakan untuk pemantauan, pengendalian dan pengambilan

tindak koreksi yng diperlukan;

5. Dati I digunakan untuk perencanaan program dan pemberian bantuan yang

diperlukan;

6. Pada tingkat pusat digunakan untuk pengambilan kebijaksanaan pada

tingkat nasional;

2.3.7 Proses SP2TP

1. Pencatatan SP2TP

Kegiatan pokok puskesmas baik didalam gedung maupun diluar gedung

puskesmas, puskesmas pembantu dan bidan di desa harus dicatat. Bentuk

pencatatan berdasarkan pada sasaran, yaitu: catatan individu (catatan ibu, bayi

dan balita); catatan keluarga (kesehatan keluarga tertentu); dan catatan

masyarakat (biasanya pada kegiatan survei komunitas apabila ditemukan masalah

komunitas yang lebih diarahkan pada ibu dan anak balita). Bentuk catatan

berdasarkan kegiatan, yaitu: catatan pelayanan kesehatan anak; catatan pelayanan

kesehatan; catatan pelayanan kesehatan ibu; catatan imunisasi; catatan kunjungan

rumah; catatan persalinan; catatan kelainan; catatan kematian ibu dan bayi; dan

Universitas Sumatera Utara


catatan rujukan. Sementara bentuk catatan berdasarkan proses pelayanan, yaitu;

catatan awal/masuk; catatan pengembangan berisi kemajuan/perkembangan

pelayanan; catatan pindah dan catatan keluar (Mubarak, 2012). Dengan demikian

perlu adanya mekanisme pencatatan yang baik, formulir yang cukup serta cara

pengisian yang benar dan teliti. Untuk memudahkan pencatatan dapat formulir

standar yang telah ditetapkan dalam sistem pencatatan dan pelaporan terpadu

puskesmas (SP2TP).

a. Formulir pencatatan

Formulir pencatatan SP2TP terdiri dari: (Depkes RI, 1997)

1) Rekam Kesehatan Keluarga (RKK) atau yang disebut “family folder”;

2) Kartu Tanda Pengenal (KTP);

3) Kartu Rawat Jalan;

4) Kartu Rawat Tinggal;

5) Kartu Penderita Kusta;

6) Kartu Indeks Penyakit Khusus Kusta;

7) Kartu penderita TB Paru;

8) Kartu Indeks Penyakit Khusus TB Paru;

9) Kartu Ibu;

10) Kartu Anak;

11) KMS Balita;

12) KMS Anak Sekolah;

13) KMS Ibu Hamil;

14) KMS Usila;

Universitas Sumatera Utara


15) Kartu Tumbuh Kembang Balita;

16) Kartu Rumah;

17) Register adalah formulir untuk mencatat/merekap data kegiatan didalam

dan diluar gedung puskesmas yang telah dicatat di kartu-kartu dan catatan

lainnya.

b. Mekanisme pencatatan

Pada prinsipnya seorang pasien yang berkunjung pertama kali atau

kunjungan ulang ke puskesmas harus melalui loket untuk mendapatkan kartu

tanda pengenal atau mengambil berkasnya dari petugas loket. Pasien tersebut

disalurkan pada unit pelayanan yang dituju. Apabila pasien mendapat pelayanan

kesehatan diluar gedung puskesmas, maka pasien tersebut akan dicatat dalam

register yang sesuai dengan pelayanan yang diterima (Depkes RI, 1997).

2. Pelaporan SP2TP

Pelaporan terpadu puskesmas menggunakan tahun kelender yaitu dari

bulan Januari sampai dengan Desember dalam tahun yang sama. Sesuai dengan

Keputusan Direktur Jendral Pembinaan Masyarakat No. 590/BM/DJ/INFO/V/96

diberlakukan formulir laporan yang baru. Sedangkan kebutuhan Dati II dan Dati I

diberikan kesempatan mengembangkan variabel laporan sesuai dengan kebutuhan,

dengan memperhatikan kemampuan/beban kerja petugas di puskesmas.

a. Formulir laporan dari puskesmas ke daerah tingkat II adalah sebagai berikut:

1) Laporan bulanan;

a) Data kesakitan (LB I);

b) Data Obat-obatan (LB 2);

Universitas Sumatera Utara


c) Data kegiatan gizi, KIA/KB, imunisasi, termasuk pengamatan

penyakit menular (LB 3);

d) Data kegiatan puskesmas (LB 4).

2) Laporan sentinel, berikut adalah bentuk laporan sentinel;

a) Laporan bulanan sentinel (LB 1S). Laporan yang memuat data

penderita penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, penyakit

infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serta Diare menurut umur dan

status imunisasi. Puskesmas yang memuat LB 1S adalah puskesmas

yang ditunjuk, yaitu ( 1 Puskesmas dari tiap Dati II) dengan periode

laporan bulanan serta dilaporkan ke Dinas Kesehatan Dati II, Dati I,

dan pusat (Ditjen PPM dan PLP);

b) Laporan bulanan sentinel (LB 2S). Dalam laporan ini memuat data

KIA, Gizi, Tetanus neonatorium, dan penyakit akibat kerja. Laporan

ini diberikan ke Dinas Kesehatan Dati I, Dati II, dan pusat (Ditjen

Binkesmas);

3) Laporan tahunan. Laporan tahunan meliputi data berikut;

a) Data dasar puskesmas (LT-1);

b) Data kepegawaian (LT-2);

c) Data peralatan (LT-3).

b. Alur pelaporan

Laporan dari Dati II dikirimkan ke Dinas Kesehatan Dati I Kanwil Depkes

Provinsi serta Pusat dalam bentuk rekapitulasi dari laporan SP2TP. Laporan

tersebut meliputi sebagai berikut: (Mubarak, 2012)

Universitas Sumatera Utara


1) Laporan triwulan :

a) hasil entri data/ rekapitulasi laporan LB 1

b) hasil entri data/ rekapitulasi laporan LB 2

c) hasil entri data/ rekapitulasi laporan LB 3

d) hasil entri data/ rekapitulasi laporan LB 4

2) Laporan tahunan :

a) hasil entri data/ rekapitulasi laporan LT 1

b) hasil entri data/ rekapitulasi laporan LT 2

c) hasil entri data/ rekapitulasi laporan LT 3

c. Frekuensi pelaporan

1) Laporan dari puskesmas ke Dati II (Depkes RI, 1997).

Laporan ini menggunakan formulir standar yang terdiri dari:

a) Laporan LB1, LB2, LB3 dan LB4, dilakukan setiap bulan dan paling

lambat tanggal 10 bulan berikutnya dikirim ke Dinas Kesehatan Dati

II. Khusus laporan LB2, satu kopi laporan dikirimkan pula ke gudang

farmasi Dati II (GFK).

b) Laporan bulanan sentinel LB1S dan LB2S setiap tanggal 10 bulan

berikutnya dikirim ke Dinas Kesehatan Dati II, Dati I, dan Pusat

(untuk LB1S ke Ditjen PPM dan PLP dan LB2S ke Ditjen

Binkesmas).\

c) Laporan tahunan (LT-1, LT-2, dan LT-3) dikirimkan selambat

lambatnya tanggal 31 januari tahun berikutnya. Khusus untuk laporan

Universitas Sumatera Utara


LT-2 (data kepegawaian) hanya di isi bagi pegawai yang baru/belum

pernah mengisi formulir data kepegawaian.

2) Laporan dari Dati II ke Dati I dan Pusat

Laporan ini dalam disket hasil entry data/ rekapitulasi dari laporan

SP2TP. Frekuensi laporan adalah:

a) Laporan triwulan:

Laporan ini dikirimkan paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya dari

triwulan yang dimaksud kepada:

i) Kepala Dinas Kesehatan Dati I;

ii) Kepala Kantor Wilayah Depkes Provinsi;

iii) Depkes RI. Cq. Ditjen Binkesmas

b) Laporan tahunan

Laporan ini dikirimkan paling lambat akhir bulan februari dari tahun

berikutnya, kepada:

i) Kepala Dinas Kesehatan Dati I;

ii) Kepala Kantor Wilayah Depkes Provinsi;

iii) Depkes RI Cq. Ditjen Binkesmas.

d. Mekanisme pelaporan

1) Tingkat puskesmas

a) Laporan dari puskesmas pembantu dan dari bidan di desa disampaikan

ke pelaksana kegiatan di puskesmas;

Universitas Sumatera Utara


b) Pelaksana kegiatan merekapitulasi data yang dicatat baik di dalam

gedung maupun diluar gedung serta laporan yang diterima dari

puskesmas pembantu dan bidan di desa;

c) Hasil rekapitulasi oleh pelaksana kegiatan dimasukkan ke formulir

laporan dalam dua rangkap, untuk disampaikan kepada koordinator

SP2TP puskesmas;

d) Hasil rekapitulasi oleh pelaksana kegiatan diolah dan dimanfaatkan

untuk tindak lanjut yang diperlukan dalam rangka meningkat kinerja

kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya.

2) Tingkat Dati II

a) Pengolahan data SP2TP di Dati II menggunakan piranti lunak yang

ditetapkan oleh Departemen Kesehatan;

b) Laporan SP2TP dari puskesmas yang diterima oleh Dinas Kesehatan

Dati II (Koordinator SP2TP Dati II), disampaikan kepada pelaksana

SP2TP untuk direkapitulasi/ dientri data;

c) hasil rekapitulasi data, setiap tanggal 15 disampaikan ke pengelola

program di Dati II;

d) Hasil rekapitulasi/ entri data, dikoreksi, diolah dan dimanfaatkan

sebagai bahan untuk umpan balik, bimbingan teknis ke puskesmas dan

tindak lanjut yang diperlukan dalam rangka meningkatkan kinerja

program;

e) Hasil rekapitulasi/ entri data setiap 3 bulan dibuat dalam 3 disket

untuk dikirimkan ke Dinas Kesehatan Dati I, Kanwil Depkes Provinsi

Universitas Sumatera Utara


dan Departemen Kesehatan Cq. Direktoran Jendral Pembinaan

Kesehatan Masyarakat.

3) Tingkat Dati I

a) Pengolahan dan pemanfaatan data SP2TP di Dati I mempergunakan

piranti lunak yang sama dengan Dati II;

b) Laporan dari Dinas Kesehatan Dati II, diterima oleh Dinas Kesehatan

Dati I dan Kantor Wilayah Departemen Kesehatan (koordinator tim

SP2TP) dalam bentuk disket diteruskan kepada pelaksana SP2TP,

untuk dikompilasi/direkapitulasi;

c) Hasil kompilasi disampaikan kepada pengelola program Dati I/Kanwil

Departemen Kesehatan untuk diolah dan dimanfaatkan dalam rangka

tindak lanjut, bimbingan dan pengendalian yang diperlukan;

d) Hasil kompilasi yang telah diolah tersebut diumpan balikkan ke Dinas

Kesehatan Dati II.

4) Tingkat Pusat

Hasil olahan yang dilaksanakan oleh Ditjen Pembinaan Kesehatan

Masyarakat paling lambat 2 bulan setelah berakhirnya triwulan tersebut

disampaikan kepada pengelola program terkait dan pusat data kesehatan

untuk dianalisis dan dimanfaatkan serta dikirimkan ke Kanwil Depkes

Provinsi sebagai umpan balik.

2.3.8 Pemanfaatan data SP2TP

1. Untuk memenuhi kebutuhan administrasi pada jenjang yang lebih tinggi

dalam rangka pembinaan, perencanaan dan penetapan kebijaksanaan;

Universitas Sumatera Utara


2. Dimanfaatkan puskesmas untuk meningkatkan upaya kesehatan

puskesmas, melalui:

a. Perencanaan (perencanaan mikro);

b. Penggerakan dan pelaksanaan (loka karya mini pusksmas);

c. Pengawasan, pengendalian dan penilaian (stratifikasi).

2.4 Definisi Puskesmas

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 44 Tahun 2016 Tentang Pedoman

Manajemen Puskesmas, Pusat Kesehatan Masyarakat yang dikenal dengan

sebutan puskesmas adalah Fasilitas Kesehatan tingkat pertama yang bertanggung

jawab atas kesehatan masyarakat diwilayah kerjanya pada satu atau bagian

wilayah kecamatan.

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 75 tahun 2014 Tentang

Pusat Kesehatan Masyarakat dalam Pasal 1 angka 2 puskesmas adalah fasilitas

pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan

upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan

upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang

setinggi-tingginya diwilayah kerjanya.

Jika ditinjau dari sistem pelayanan kesehatan di Indonesia, maka peranan

dan kedudukan puskesmas adalah sebagai ujung tombak sistem pelayanan

kesehatan di Indonesia. Ini disebabkan karena peranan dan kedudukan puskesmas

di Indonesia adalah amat unik. Sebagai sarana pelayanan kesehatan terdepan di

Indonesia, maka puskesmas kecuali bertanggung jawab dalam menyelenggarakan

Universitas Sumatera Utara


pelayanan kesehatan masyarakat, juga bertanggung jawab dalam

menyelenggarakan pelayanan kedokteran.

Sesuai dengan strategi jangka panjang pembangunan berwawasan

kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat pada tahun 2010 dan kebutuhan

pembangunan sektor kesehatan di era desentralisasi ini, Depkes pusat sudah

menetapkan visi dan misi puskesmas. Visi pembangunan kesehatan melalui

puskesmas adalah terwujudnya kecamatan sehat tahun 2010.

Untuk mewujudkan visi puskesmas tersebut maka, ada tiga misi yang

harus di emban oleh puskesmas yaitu:

1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan;

2. Memberdayakan masyarakat dan keluarga dalam pembangunan;

3. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar yang mutu.

Sesuai dengan misinya, puskesmas memiliki fungsi sebagai penggerak

pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat dan

keluarga dalam pembangunan kesehatan, dan sebagai pusat pelayanan kesehatan

tingkat pertama.

2.4.1 Struktur Organisasi Puskesmas

Struktur organisasi puskesmas bergantung pada kegiatan dan beban tugas

setiap puskesmas. Penyusunan struktur organisasi puskesmas disatu

Kabupaten/Kota dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sedangkan

penempatannya dilakukan dengan peraturan daerah. Pola struktur organisasi

puskesmas adalah, (Syafrudin, 2009) :

1. Kepala Puskesmas;

Universitas Sumatera Utara


2. Unit Tata Usaha (bertanggung jawab membantu Kepala Puskesmas dalam

pengelolaan):

a. Data dan informasi;

b. Perencanaan dan penilaian;

c. Keuangan;

d. Umum dan Kepegawaian.

3. Unit Pelaksana Teknis Fungsional Puskesmas;

a. Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM);

b. Upaya Kesehatan Perorangan.

4. Jaringan Pelayanan Puskesmas;

a. Unit Puskesmas Pembantu;

b. Unit Puskesmas Keliling;

c. Unit Bidan di Desa/Komunitas.

Dalam Peraturan Pemerintah Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 Pasal 34

ayat (1) organisasi puskesmas disusun oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

berdasarkan kategori, upaya kesehatan dan beban kerja puskesmas. Organisasi

puskesmas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri atas:

a. Kepala Puskesmas;

b. Kepala Sub bagian Tata Usaha;

c. Penanggungjawab UKM dan Keperawatan Kesehatan Masyarakat;

d. Penanggungjawab UKP, Kefarmasian dan Laboratorium, dan;

e. Penanggungjawab Jaringan Pelayanan Puskesmas dan Jejaring Fasilitas

Pelayanan Kesehatan.

Universitas Sumatera Utara


2.4.2 Asas Pengelolaan Puskesmas

Sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama di Indonesia,

pengelolaan program kerja puskesmas berpedoman pada empat asas pokok yakni:

1. Asas pertanggung jawaban wilayah

Dalam asas dijelaskan bahwa puskesmas harus bertanggung jawab atas

semua masalah kesehatan yang terjadi di wilayah kerjanya. Karena adanya

asas yang seperti ini, maka program kerja puskesmas tidak dilaksanakan

secara pasif saja, melainkan harus secara aktif yakni memberikan pelayanan

kesehatan sedekat mungkin dengan masyarakat. Lebih dari pada itu, karena

Puskesmas harus bertanggung jawab atas semua masalah kesehatan yang

terjadi di wilayah kerjanya, maka banyak dilakukan berbagai program

pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit yang merupakan bagian

dari pelayanan kesehatan masyarakat.

2. Asas peran serta masyarakat

Dalam menyelenggarakan program kerjanya, puskesmas harus melaksanakan

asas peran serta masyarakat. Artinya, berupaya melibatkan masyarakat dalam

menyelenggarakan program kerja tersebut.

3. Asas keterpaduan

Dalam menyelenggarakan program kerjanya, puskesmas harus melaksanakan

asas keterpaduan. Artinya, berupaya memadukan kegiatan tersebut bukan saja

dengan program kesehatan lain (lintas program), tetapi juga dengan program

dari sektor lain (lintas sektoral).

Universitas Sumatera Utara


4. Asas rujukan

Dalam menyelenggarakan program kerjanya, puskesmas harus melaksanakan

asas rujukan. Artinya, jika tidak mampu menangani suatu kesehatan harus

merujuknya kesarana kesehatan yang lebih mampu. untuk pelayanan

kedokteran jalur rujukannya adalah rumah sakit. Sedangkan untuk pelayanan

kesehatan masyarakat jalur rujukan adalah berbagai kantor kesehatan,

(Azwar, 2010).

2.4.3 Upaya Kesehatan Puskesmas

Untuk memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh

(chomprehensive health care service) kepada seluruh masyarakat di wilayah

kerjanya. Puskesmas menjalankan beberapa upaya kesehatan masyarakat

esensial sebagaimana yang terdapat pada pasal 36 ayat (2) Peraturan Menteri

Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat yang

meliputi program:

1. Pelayanan promosi kesehatan;

2. Pelayanan kesehatan lingkungan;

3. Pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana;

4. Pelayanan gizi; dan

5. Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit.

Selain upaya kesehatan masyarakat esensial terdapat pula upaya kesehatan

pengembangan. Dalam pasal 36 ayat (4) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75

Tahun 2014 yang dimaksud dengan upaya kesehatan masyarakat pengembangan

merupakan upaya kesehatan masyarakat yang kegiatannya memerlukan upaya

Universitas Sumatera Utara


yang sifatnya inovatif dan /atau bersifat ekstensifikasi dan intensifikasi

pelayanan, disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan, kekhususan wilayah

kerja dan potensi sumber daya yang tersedia di masing-masing puskesmas.

2.4.4 Pengorganisasian Puskesmas

Pengorganisasian tingkat puskesmas didefinisikan sebagai proses

penetapan pekerjaan-pekerjaan pokok untuk dikerjakan, pengelompokan

pekerjaan, pendistribusian otoritas/wewenang dan pengintegrasian semua tugas-

tugas dan sumber-sumber daya untuk mencapai tujuan puskesmas secara efektif

dan efisien. Secara aplikatif pengorganisasian tingkat puskesmas adalah

pengaturan pegawai puskesmas dengan mengisi struktur organisasi dan tata kerja

puskesmas yang ditetapkan oleh peraturan daerah Kabupaten/Kota disertai dengan

pembagian tugas dan tanggung jawab serta uraian tugas pokok dan fungsi

(tupoksi), serta pengaturan dan pengintegrasian tugas dan sumber daya puskesmas

untuk melaksanakan kegiatan dan program puskesmas dalam rangka mencapai

tujuan puskesmas (Pontoh, 2013).

Berdasarkan definisi tersebut, fungsi pengorganisasian puskesmas

merupakan alat untuk memadukan (sinkronisasi) dan mengatur semua kegiatan

yang dihubungkan dengan personil/pegawai, finansial, material, dan metode

puskesmas untuk mencapai tujuan puskesmas yang telah disepakati bersama

antara pimpinan dan pegawai puskesmas. Pengorganisasian puskesmas meliputi

hal-hal berikut:

1. Cara manajemen puskesmas merancang struktur formal puskesmas untuk

penggunaan sumber daya puskesmas secara efisien;

Universitas Sumatera Utara


2. Bagaimana puskesmas mengelompokan kegiatannya, dimana setiap

pengelompokkan diikuti penugasan seorang penanggung jawab program yang

diberi wewenang mengawasi stafnya;

3. Hubungan antara fungsi, jabatan, tugas, dan pegawai puskesmas;

4. Cara pimpinan puskesmas membagi tugas yang harus dilaksanakan dalam

unit kerja dan mendelegasikan wewenang untuk mengerjakan tugas tersebut

(Peraturan Menteri No. 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan

Masyarakat).

2.5 Kerangka Pikir

Kerangka pikir ini bertujuan untuk melihat bagaimana Pelaksanaan Sistem

Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) di wilayah kerja

Puskesmas Terjun Kecamatan Medan Marelan melalui indikator masukan

(input), proses (process), dan luaran (output). Oleh karena itu kerangka pikir

disusun sebagai berikut:

INPUT A. Pencatatandan
PROSES OUTPUT
A. SDM/Tenaga A. Pencatatan dan
A. Ketepatan Waktu
1. Masa Kerja pelaporan masing-
B. Kelengkapan Data
2. Pengetahuan masing program ke
C. Keakuratan Data
3. Pelatihan petugas SP2TP
SP2TP B. Menginput laporan
B. Material data dalam
1. Tersedianya pelaporan (LB)
data
2. Buku pedoman
SP2TP
3. Formulir Gambar 2.1
SP2TP
4. Ketersediaan Kerangka Pikir
sarana dan
prasarana
C. Kebijakan
SP2TP
Universitas Sumatera Utara
Kerangka pikir ini menggunakan pendekatan teori sistem. Teori sistem

terdiri dari input, process, output (Azwar, 2010).

1. Unsur Input terdiri dari SDM/Tenaga, Material, Fasilitas,.

a. SDM/Tenaga merupakan tenaga kerja manusia, baik tenaga kerja

pimpinan maupun tenaga kerja operasional/pelaksana. Dalam

pelaksanaan program SP2TP SDM/Tenaga yang dimaksud dalam

penelitian ini adalah menyangkut tenaga pelaksana dalam

penyelenggaraan program SP2TP di Puskesmas Terjun. Agar

terlaksananya pelaksanaan program SP2TP dengan baik maka dalam

unsur man ini perlu diperhatikan usia, masa kerja, pengetahuan,

pelatihan, dan ketersediaan tenaga kerja;

b. Material, bahan yang diperlukan untuk mencapai tujuan. yaitu alat

kelengkapan yang digunakan dalam proses pencatatan dn pelaporan yaitu

berupa tersedianya data, tersedianya buku pedoman dan formulir SP2TP

serta buku register, serta ketersediaan instrumen pencatatan dan

pelaporan dalam SP2TP (ketersediaan format pencatatan dan pelaporan,

bagan alur pelaporan);

c. Kebijakan, rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar

rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara

bertindak, adapun kebijakan yang ada dalam pelaksanaan SP2TP berupa

target waktu yang ditentukan dalam Keputusan Direktur Jendral

Pembinaan Kesehatan Masyarakat No. 590/BM/DJ/INFO/V/96 Tentang

Universitas Sumatera Utara


Penyederhanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas

(SP2TP).

2. Unsur proses ( process) adanya pelaksanaan progrm dimana komponen yang

satu saling berkaitan mempengaruhi komponen sistem ke komponen sistem

yang lain.

a. Pencatatan dan pelaporan masing-masing program ke petugas SP2TP

Kegiatan atau proses pendokumentasian suatu aktivitas dalam bentuk

tulisan. Pencatatan dilakukan diatas kertas, disket, pita nama dan pita

film. Bentuk catatan dapat berupa tulisan, grafik, gambar dan suara

(Mubarak, 2012). Pencatatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

kegiatan pencatatan dilakukan dengan mencatat hasil pengamatan,

pengukuran dan atau penghitungan pada setiap langkah/tahapan kegiatan

sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang telah dibakukan.

Sumber data dalam proses pencatatan dipuskesmas ini yakni pencatatan

yang terdiri dari pencatatan dalam gedung dan pencatatan diluar gedung.

Sedangkan laporan adalah keterangan yang disampaikan kepada tingkat

lain dari pelayanan kesehatan. Laporan juga merupakan perangkat

manajemen penting yang mempengaruhi tindakan selanjutnya (McMahon

dkk, 1999). Pelaporan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

kegiatan untuk menyusun sekumpulan data hasil pencatatan untuk

disampaikan kepada pihak terkait sebagai bentuk pertanggungjawaban

dan atau pemberitahuan atas kegiatan dan hasil kegiatan yang teah

dilaksanakan.

Universitas Sumatera Utara


b. Menginput laporan data dalam pelaporan (LB)

Menginput laporan data dalam pelaporan (LB) adalah kegiatan

pengumpulan data-data yang diperoleh dari hasil pencatatan dan

pelaporan masing-masing kegiatan program yaitu LB1, LB2, LB3, LB4,

yang mana data- data yang diperoleh dari masing-masing kegiatan

program tersebut di input dan dimasukkan ke dalam formulir SP2TP oleh

koordinator SP2TP.

3. Unsur keluaran (output) yaitu berupa kualitas informasi meliputi ketepatan

waktu, kelengkapan data dan keakuratan data.

a. Ketepatan waktu, dalam mengirim laporan data SP2TP ke Dinas Kesehatan

dati II haruslah tepat waktu sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

b. Kelengkapan data, data yang dilaporkan haruslah lengkap, sesuai dengan

pedoman SP2TP.

c. Keakuratan data, data yang diolah dan dilaporkan haruslah bebas dari

kesalahan artinya data tersebut harus akurat.

Universitas Sumatera Utara


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Berdasarkan jenis penelitian, maka jenis penelitian yang digunakan adalah

deskriptif, yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama

untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif

dengan metode kualitatif.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Terjun Kecamatan

Medan Marelan.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2017 sampai dengan selesai.

3.3 Informan Penelitian

1. Kepala Puskesmas Terjun

2. Koordinator SP2TP Puskesmas Terjun

3. Penanggung Jawab Program Puskesmas Terjun

4. Koordinator Dinas Kesehatan Kota Medan

3.4 Metode Pengumpulan Data

1. Wawancara mendalam (indepth interview) yaitu melakukan tanya jawab

terhadap informan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Universitas Sumatera Utara


2. Pengamatan (observasi) yaitu mengamati kegiatan, sarana dan prasarana

kegiatan pencatatan dan pelaporan terpadu di Puskesmas Terjun.

3.5 Jenis dan Sumber Data

1. Data Primer diperoleh melalui wawancara mendalam (indepth interview)

kepada informan dengan berpedoman pada panduan pertanyaan yang telah

dipersiapkan. Informan diwawancarai pada waktu yang berbeda, untuk itu

penelitian menggunakan alat bantu berupa alat tulis, kamera digital, tipe

recorder alat untuk perekam, dan pedoman wawancara.

2. Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari laporan SP2TP di

Puskesmas Terjun Kecamatan Medan Marelan dan referensi buku-buku serta

hasil penelitian yang berhubungan dengan Pencatatan dan Pelaporan

Terpadu.

3.6 Instrumen Pengambilan Data

Instrumen yang digunakan dalam penelitian berupa daftar pertanyaan sebagai

pedoman wawancara kepada informan.

3.7 Definisi Operasional

1. Sistem adalah suatu struktur konseptual yang terdiri dari fungsi-fungsi yang

saling berhubungan yang bekerja sebagai satu unit organik untuk mencapai

keluaran yang diinginkan secara efektif dan efisien (John McManama);

2. Pencatatan adalah catatan berisi keterangan-keterangan yang di simpan di unit

kesehatan mengenai pekerjaan unit, keadaan kesehatan masyarakat, dan

Universitas Sumatera Utara


pasien perorangan, serta keterangan mengenai hal-hal ketatausahaan misalnya

staf, peralatan dan perlengkapan;

3. Pelaporan adalah keterangan yang disampaikan kepada tingkat lain dari

pelayanan kesehatan. Laporan juga merupakan perangkat manajemen penting

yang mempengaruhi tindakan selanjutnya;

4. Berdasarkan pendapat Ahmad (2005) yang dikutip oleh Pontoh (2013) SP2TP

adalah kegiatan Pencatatan dan Pelaporan data umum, sarana, tenaga, dan

upaya pelayanan kesehatan di puskesmas yang bertujuan agar didapatnya

semua data hasil kegiatan puskesmas (termasuk puskesmas dengan tempat

tidur, puskesmas pembantu, puskesmas keliling, bidan desa dan posyandu)

dan data yang berkaitan, serta dilaporkannya data tersebut kepada jenjang

administrasi diatasnya sesuai kebutuhan secara benar, berkala dan teratur,

guna menunjang pengelolaan upaya kesehatan masyarakat;

5. Puskesmas adalah salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang

amat penting di Indonesia. Adapun yang dimaksudkan dengan puskesmas

ialah suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat

pembangunan kesehatan, pusat pembinaan peran serta masyarakat dalam

bidang kesehatan serta pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama yang

menyelenggarakan kegiatan secara menyeluruh, terpadu dan

berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalam

suatu wilayah tertentu.

Universitas Sumatera Utara


3.8 Triangulasi

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Triangulasi Sumber yaitu

melalui wawancara mendalam dengan semua informan yaitu Kepala Puskesmas

Terjun Kecamatan Medan Marelan, koordinator pelaporan SP2TP di Puskesmas

Terjun Kecamatan Medan Marelan, penanggung jawab program di wilayah kerja

Puskesmas Terjun Kecamatan Medan Marelan, dan informan tambahan yaitu

koordinator SP2TP di Dinas Kesehatan Kota Medan.

3.9 Metode Analisis Data

Untuk mengetahui dan menjelaskan pelaksanaan Sistem Pencatatan dan

Pelaporan Terpadu Puskesmas Terjun Kecamatan Medan Marelan dilakukan

secara kualitatif beradasarkan keterangan serta alasan yang dinyatakan oleh

informan (Bungin, 2007).

Universitas Sumatera Utara


BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian


4.1.1 Gambaran Umum Puskesmas Terjun

Puskesmas Terjun merupakan salah satu puskesmas yang menjadi pusat

pembangunan. Pembinaan pelayanan kesehatan masyarakat seoptimal

mungkin,secara merata di kecamatan Medan Marelan. Puskesmas ini melayani

kesehatan masyarakat di lima kelurahan yaitu kelurahan Rengas Pulau,Kelurahan

Tanah 600, Kelurahan Paya Pasir, Kelurahan Terjun dan kelurahan Labuhan Deli.

Puskesmas ini didirikan pada tahun 1979 dan diresmikan oleh walikota madya

Medan Bapak A.S Rangkuti.Puskesmas Terjun menyediakan fasiitas rawat inap.

Kecamatan Marelan berbatasan dengan sebagai berikut :

Sebelah Utara : Berbatasan dengan Medan Belawan.

Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Medan Labuhan.

Sebelah Timur : Berbatasan dengan Medan Helvetia.

Sebelah Barat : Berbatasan dengan Deli Serdang.

4.1.2 Wilayah Kerja Puskesmas Terjun

Batasan wilayah kerja puskesmas yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan

berdasarkan geografis, demografis, sarana transportasi, masalah kesehatan

setempat, sumber daya dan lain-lain. Luas wilayah kerja puskesmas terjun 447

HA meliputi 5 kelurahan dengan jumlah penduduk 125.487 jiwa.

Universitas Sumatera Utara


Puskesmas Terjun terdiri dari 5 kelurahan yaitu:

Tabel 4.1 Jumlah Kelurahan di Puskesmas Terjun Kecamatan Medan


Marelan 2016

No Kelurahan Jumlah Lingkungan


1 Kelurahan Terjun 22 Lingkungan
2 Kelurahan Rengas Pulau 35 Lingkungan
3 Kelurahan T.600 11 Lingkungan
4 Kelurahan P.Pasir 9 Lingkungan
5 Kelurahan L.Deli 11 Lingkungan
JUMLAH 88 Lingkungan

Pada wilayah kerja Puskesmas Medan Marelan,terdapat 3 Puskesmas

pembantu,yaitu :

1. Puskesmas Pembantu Tanah 600.


2. Puskesmas Pembantu Labuhan Deli.
3. Puskesmas Pembantu Rengas Pulau.

Keterangan Peta Wilayah Kerja Puskesmas Terjun

Gambar 4.1

Universitas Sumatera Utara


4.1.3 Sumber Daya Manusia Puskesmas Terjun

Adapun tenaga kesehatan yang terdapat di Puskesmas Terjun Kecamatan

Medan Marelan adalah:

Tabel 4.2 Jumlah Sumber Daya Manusia di Puskesmas Terjun Kecamatan


Medan Marelan 2016

No Kelurahan Jumlah Lingkungan


1 Jumlah Dokter Spesialis -
2 Jumlah Dokter Umum 3
3 Jumlah Dokter Gigi 2
4 Jumlah Asisten Apoteker 3
5 Jumlah Sarjana Non Medis 1
6 Jumlah Paramedis 26
7 Jumlah Perawat Gigi 2
8 Jumlah Tenaga Tata Usaha 1
9 Jumlah Petugas Sanitasi/Kesling 1

4.1.4 Karekteristik Informan

Karakteristik dari masing-masing informan pada penelitian ini, dapat

dilihat pada tebel berikut :

Tabel 4.3 Karakteristik Informan

Umur/
No Informan Pendidikan Jabatan
Tahun
1 dr. Surya S. Pulungan 55 S1 Kepala Puskesmas

2 Elisa Fitri, Am. Keb 35 DIII Koordinator SP2TP

3 Suharni Siregar 56 DIII Petugas Gizi

4 Nikmahyani 47 S1 Petugas KIA

Universitas Sumatera Utara


5 Nurhayati 46 DIII Petugas Imunisasi

Petugas Pengamatan
6 Muhardi Suryanto 51 DIII
Penyakit Menular

Asisten
7 Nurmadiah 53 Asisten Apoteker
Apoteker

Koordinator SP2TP
8 Restu 54 S1
Dinkes Kota Medan

4.2 Input SP2TP di Puskesmas Terjun

4.2.1 SDM

Sumber daya manusia adalah pegawai yang siap, mampu, dan siaga dalam

mencapai tujuan-tujuan organisasi. Dengan begitu adapun yang dikatakan sebagai

sumber daya manusia dalam organisasi puskesmas yaitu orang-orang yang

mengabdikan diri dalam bidang tertentu diwilayah kerja puskesmas serta harus

mempunyai wewenang untuk melakukan upaya jenis tertentu dalam bidang yang

digelutinya dalam penyelenggaraan program di puskesmas.

Sumber daya manusia meliputi tingkat pengetahuan atau wawasan serta

kemampuan, dan masa kerja (lama bekerja) merupakan pengalaman individu yang

akan menentukan pertumbuhan dalam pekerjaan dan jabatan, pengetahuan dengan

tingkat pengetahuan ini dapat mempengaruhi kemampuan berpikir dan skill

dalam pelaksanaan dan pengetahuan tentang SP2TP.

Universitas Sumatera Utara


4.2.1.1 Masa Kerja Petugas Program di Puskesmas Terjun

Petugas program atau juga pelaksana kegiatan program adalah mereka

yang terlibat langsung dalam laporan SP2TP. Dalam penelitian ini mereka adalah

penanggung jawab kegiatan yang dilakukan didalam gedung Puskesmas Terjun

yaitu; penanggung jawab Gizi, KIA, imunisasi, dan petugas pengamat penyakit

menular.

Berikut ini pernyataan dari beberapa informan terkait masa kerja petugas

program kegiatan di Puskesmas Terjun:

“saya bekerja sudah hampir kurang lebih 20 tahun gitu dek.” (Informan 2)
“kalau saya dek tugas kira-kira sudah hampir 22 tahun.”(Informan 3)
“saya sudah bertugas di puskesmas selama 16 tahun lebih kurang dek.”
(Informan 4)
“mengenai sudah berapa lama saya bertugas di puskesmas iya kurang lebih
22 tahun lah dek.”(Informan 5)
“kalau saya menjadi pegawai di puskesmas sudah sekitar 20 tahun
dek.”(Informan 6)

Berdasarkan pernyataan di atas diketahui bahwa masa kerja informan

terbilang sudah cukup lama dan terbilang sudah cukup berpengalaman dalam

bertugas.

4.2.1.2 Masa Kerja Koordinator SP2TP di Puskesmas Terjun

Koordinator SP2TP adalah petugas yang mengumpulkan laporan bulanan

dari masing-masing pelaksana kegiatan dan koordinator SP2TP bertanggung

jawab atas kelancaran pelaksanaan SP2TP.

Hasil wawancara tentang masa kerja Koordinator SP2TP di Puskesmas

Terjun. Berikut pernyataan dari informan:

“saya sudah bertugas sebagai koordinator SP2TP baru jalan 4 tahun ini
dek, kalau untuk pendidikan terakhir saya DIII kebidanan dek.” (Informan
1).

Universitas Sumatera Utara


Berdasarkan pernyataan diatas diketahui bahwa masa kerja Koordinator

SP2TP di Puskesmas Terjun masih terbilang baru artinya koordinator SP2TP di

puskesmas Terjun tersebut masih belum cukup berpengalaman sebagai

penanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan SP2TP.

4.2.1.3 Masa Kerja Kepala Puskesmas di Puskesmas Terjun

Kepala Puskesmas bertanggung jawab atas Pelaksanaan Sistem pencatatan

dan Pelaporan Terpadu di puskesmas, serta membimbing Koordinator SP2TP dan

para pelaksana kegiatan di Puskesmas. untuk itu masa kerja sangat mempengaruhi

dalam menjabat sebagai Kepala Puskesmas.

Hasil wawancara tentang masa kerja kepala puskesmas di Puskesmas

Terjun. Berikut pernyataan dari informan:

“usia saya lebih kurang 55 tahun, untuk pendidikan terakhir saya adalah
profesi dokter, kalau untuk masa kerja ya dek kurang lebih 9 tahun dek.”
(Informan 7).

Berdasarkan pernyataan diatas diketahui bahwa masa kerja Kepala

Puskesmas Terjun masih terbilang belum cukup lama.

4.2.1.4 Pengetahuan Informan Tentang Sistem Pelaksanaan Pencatatan dan


Pelaporan Terpadu di Puskesmas (SP2TP) di Wilayah Kerja
Puskesmas Terjun

Selain dilihat dari masa kerja informan, pengetahuan informan juga dapat

mempengaruhi kinerja informan tentang pelaksanaan SP2TP. Pengetahuan

tentang SP2TP disini mengenai pemahaman informan tentang tata cara pengisian,

pencatatan, pelaporan, pengolahan data dan penyajian informasi SP2TP, serta

siapa yang bertanggung jawab untuk data laporan program SP2TP di wilayah

Puskesmas.

Universitas Sumatera Utara


Berikut beberapa pernyataan dari informan terkait pengetahuan Petugas

Program tentang SP2TP:

“menurut saya SP2TP itu hanya sebatas laporan bulanan saja. Dan
sepengetahuan saya yang bertanggung jawab untuk pelaksanaan SP2TP
Kepala Puskesmas tapi yang bertanggung jawab untuk laporan setahu saya
koordinator SP2TP yang sekaligus sebagai petugas SP2TP yang bertugas
mengkordinir seluruh programer yang ada di puskesmas ini agar
mengumpulkan seluruh kegiatan di puskesmas.” (Informan 2).

“laporan dari hasil rekapan seluruh kegiatan program puskesmas yang


akan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kota setiap bulan. Kalau penanggung
jawab untuk program SP2TP Kepala Puskesmas dek, karena dari semua
kegiatan yang ada di puskesmas kan Kepala Puskesmas yang bertanggung
jawab termasuk program SP2TP.” (Informan 4).

“....Kalau SP2TP itu laporan bulanan kegiatan puskesmas. setahu saya


Kepala Puskesmas yang bertanggung jawab untuk program SP2TP dek.”
(Informan 6).

Pernyataan lain diberikan oleh informan 1, sebagai berikut:

“SP2TP itu adalah kegiatan untuk merangkap seluruh program kegiatan


yang ada di Puskesmas Terjun baik didalam gedung puskesmas maupun di
luar gedung puskesmas yang dilaporkan rutin setiap bulannya dalam
bentuk format khusus terdiri dari LB1, LB2, LB3 dan LB4. Kalau untuk
penanggung jawab data laporan SP2TP Kepala Puskesmas dek.”
(Informan 1).

Pernyataan lain juga diberikan oleh informan 7, sebagai berikut:

“....menurut saya SP2TP itu kegiatan mengumpulkan program-program


pskesmas secara global...yang bertanggung jawab terhadap SP2TP ya
koordinator SP2TP dek karena kan dia yang mengumpulkan sampai
mengirimkan data ke Dinas Kesehatan Kota Medan.” (Informan 7).

Berdasarkan hasil wawancara menunjukkan bahwa pengetahuan informan

tentang Sistem Pelaksanaan Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas

(SP2TP) menyatakan bahwa SP2TP merupakan bentuk laporan bulanan dari hasil

kegiatan yang ada di puskesmas dan yang bertanggung jawab untuk program

Universitas Sumatera Utara


SP2TP ini adalah Kepala Puskesmas, karena Kepala Puskesmas sebagai

penanggung jawab terhadap manajemen puskesmas, artinya seluruh kegiatan

puskesmas termasuk kegiatan program SP2TP dalam setiap pencatatan dan

pelaporannya diketahui oleh Kepala Puskesmas.

4.2.1.5 Pelatihan SP2TP yang pernah diikuti Informan di Puskesmas Terjun

Pelatihan terkait SP2TP disini merupakan pendidikan non formal yang

diperoleh oleh tenaga pengelola SP2TP berkenaan dengan cara mengelola SP2TP

terkait pengelolaan data.

Berikut beberapa pernyataan dari informan terkait pelatihan tentang

SP2TP yang pernah diikuti informan di Puskesmas Terjun:

“hmm...untuk pelatihan SP2TP belum pernah dek, dan setahu saya


pelatihan itu memang tidak pernah dibuat oleh pihak Dinas Kesehatan
Kota.” (Informan 3).

“selama saya bekerja di puskesmas ini saya tidak pernah mengikut


pelatihan SP2TP, dan belum pernah diadakannya pelatihan utnuk SP2TP
itu dek.” (Informan 6).

Hasil pernyataan menunjukkan tidak ada dan tidak pernah diadakannya

pelatihan tentang SP2TP di Puskesmas Terjun. Pernyataan serupa juga di

sampaikan oleh koordinator SP2TP di Puskesmas Terjun, berikut pernyataan

informan:

“sepengetahuan saya dek, selama saya bekerja di puskesmas ini kurang


lebih empat tahun, saya tidak pernah mengikuti pelatihan dan itu memang
belum ada digerakkan dari pihak Dinas Kesehatan, seharusnya itu memang
dilaksanakan untuk menambah pengetahuan tentang SP2TP khususnya
bagi saya sebagai koordinator SP2TP. ”(Informan 1)

Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh dari informan dapat

menunjukkan bahwa informan yang ada di Puskesmas Terjun terkait informan

Universitas Sumatera Utara


dalam pelaksanaan program SP2TP khususnya belum pernah mengikuti pelatihan

SP2TP tersebut dan juga pelatihan SP2TP itu belum pernah diadakan dari Dinas

Ksehatan Kota Medan untuk para petugas kegiatan laporan data SP2TP dan juga

koordinator SP2TP.

4.2.2 Material

Material adalah alat kelengkapan yang digunakan dalam proses pencatatan

dan pelaporan berupa tersedianya data dari berbagai jenis kegiatan secara lengkap

dan akurat untuk kemudian direkap dan dientri kedalam formulir SP2TP, buku

pedoman pencatatan dan pelaporan terpadu, formulir SP2TP dan ketersediaan

sarana dan prasarana.

4.2.2.1 Perolehan Data, Pengumpulan Data Dan Kendala Dalam


Pengumpulan Data di Wilayah Puskesmas Terjun

Data yang diperoleh dari kegiatan baik dari dalam gedung puskesmas

maupun dari luar gedung puskesmas. Data yang diperoleh dari dalam gedung

puskesmas yaitu diperoleh dari penanggung jawab program di puskesmas yang

diperoleh dari kunjungan pasien di puskesmas, sedangkan data yang diluar

gedung puskesmas diperoleh dari laporan pustu dan posyandu.

Berikut beberapa pernyataan dari informan terkait ketersediaan data di

Puskesmas Terjun:

“Untuk data tersedia dek, sumber data di dapat dari dalam gedung
puskesmas berupa data kunjungan puskesmas, register kunjungan, dan
diagnosa penyakit, kartu KB, dan kartu status, dan data yang didapat dari
luar gedung puskesmas di peroleh dari pustu, setiap bulannya pihak pustu
melaporkan kegiatannya ke Puskesmas Terjun dengan cara pihak pustu
datang ke Puskesmas Terjun untuk memberikan laporannya ke petugas
masing-masing program.” (Informan 2).

Universitas Sumatera Utara


“Puskesmas Terjun memperoleh data dari dalam dan luar gedung
puskesmas, dari dalam gedung puskesmas diperoleh dari kegiatan rutin
puskesmas dan kalau laporan dari luar gedung puskesmas hanya dari
puskesmas pembantu saja, untuk itu laporan yang didapat hanya dari pustu
saja, dan pihak pustu melaporkan kegiatannya setiap bulannya dengan
mengirimkannya langsung ke Puskesmas Terjun.” (Informan 4).

“Data laporan bulanan diperoleh dari kegiatan sehari-hari puskesmas dan


juga dari pustu, dan setiap bulannya pihak pustu mengirimkan laporan ke
Puskesmas Terjun.” (Informan 5).

Berdasarkan dari pernyataan informan diatas menunjukkan bahwa data

laporan bulanan setiap bulannya diperoleh dari dalam gedung puskesmas, dan

dari luar gedung puskesmas. Dari dalam gedung puskesmas yaitu kegiatan rutin

yang dilakukan puskesmas seperti kunjungan puskesmas, register kunjungan, dan

diagnosa penyakit, kartu KB, dan kartu status. Sedangkan data laporan bulanan

yang diperoleh dari luar gedung puskesmas didapat dari puskesmas pembantu,

yang mana puskesmas pembantu mengirimkan laporan bulanan setiap bulannya

ke Puskesmas Terjun sesuai dengan target waktu yang telah di tentukan dan

memberikannya kepada masing-masing petugas program kegiatan.

Pernyataan lain diberikan oleh informan 1 sebagai berikut:

“Laporan data diperoleh dari masing-masing program yang ada di


puskesmas dan juga pustu, sedangkan data obat-obatan diperoleh dari
ruang obat yang ada di puskesmas ini. Namun data obat-obatan itu di
bedakan dalam pengirimannya, artinya petugas apoteker langsung yang
mengirim laporan data obat-obatan ke pihak farmasi dinas kesehatan kota
medan. Akan tetapi, seharusnya pihak apoteker puskesmas tetap
menyetorkan hasil laporannya ke saya, tapi saya tidak pernah memperoleh
laporan tersebut.”(Informan 1).

Dalam hal perolehan data tersebut informan selalu menemukan kendala

dalam pengumpulan data laporan bulanan, berikut pernyataan dari beberapa

informan terkait kendala dalam pengumpulan laporan bulanan:

Universitas Sumatera Utara


“hmm... untuk kendala pasti ada ya seperti lamanya data laporan yang
dikirimkan pustu ke puskesmas sehingga menyebabkan petugas kegiatan
terlambat dalam merekapitulasi data laporan tersebut.” (Informan 2).

“....Kalau kendala pasti ada, karena pihak pustu selalu terlambat dalam
melaporkan kegiatan setiap bulannya dari jangka waktu yang diberikan.”
(Informan 4).

4.2.2.2 Ketersediaan Buku pedoman SP2TP, Buku I dan Buku II, Seri A, B,
dan C serta Formulir SP2TP dan Buku Register
Mengenai buku pedoman, sampai saat ini pihak puskesmas belum ada

memperoleh buku pedoman SP2TP tersebut. Berikut pernyataan dari beberapa

informan:

“Buku pedoman enggak ada dek, tapi formulir sama register ada di
puskesmas ini.” (Informan 2).
“Enggak ada itu buku pedoman disini dek, tapi untuk formulir dan register
selalu ada.” (Informan 3).
“Buku pedoman enggak ada disediakan dek, tapi kalau register dan
formulir ada dek.” (Informan 4).
“Buku pedoman enggak ada, tapi formulir dan register ada disediakan
dek.” (Informan 5).
“Buku pedoman tidak tersedia, dan memang tidak pernah ada, tapi untuk
formulir SP2TP dan buku register sudah tersedia di puskesmas ini.”
(Informan 6).

Berdasarkan dari pernyataan informan diatas menunjukkan bahwa untuk

persediaan buku pedoman SP2TP, Buku 1 dan Buku 2, Seri A, B, dan C sampai

saat ini belum tersedia di puskesmas terjun, bahka belum ada diberikan dari pusat

sampai sekarang ini, sedangkan persediaan untuk formulir SP2TP dan buku

register sudah tersedia di Puskesmas Terjun.

Pernyataan serupa juga diberikan oleh informan 1 sebagai berikut:

“Kalau buku pedoman sih belum ada dk, dari saya bertugas di puskesmas
ini kayaknya nggak ada buku pedoman SP2TP, saya belum pernah lihat,

Universitas Sumatera Utara


dan kalau format laporan saya dapat sudah ada formatnya di komputer,
karena dari mulai awal saya kerja di puskesmas ini saya dapatkan
formatnya sudah ada kian di komputer, dan formulir SP2TP sudah selalu
tersedia di puskesmas namun untuk wilayah pustu tidak tersedia biasanya
pihak pustu dan posyandu memberi nama laporan bulanan perawatan.
Begitu juga untuk register SP2TP sudah tersedia di puskesmas ini.”
(Informan 1).

Berdasarkan pernyataan informan diatas menunjukkan bahwa diketahui

tidak adanya buku pedoman SP2TP yang tersedia atau apaupun itu mengenai

sistematik pencatatan dan pelaporan yang dapat digunakan untuk membantu

kelancaran program SP2TP di Puskesmas Terjun.

4.2.2.3 Sarana Dan Prasarana Yang Digunakan Untuk Membuat Laporan


SP2TP
Ketersediaan sarana dan prasarana dalam SP2TP adalah fasilitas yang

dipakai langsung atau alat untuk mencapai tujuan seperti adanya alat tulis kantor

dan form SP2TP untuk pengelolaan SP2TP, serta tersedianya layanan internet,

dan program pendukung seperti komputer, dan printer dalam pengelolaan SP2TP.

Berikut pernyataan dari beberapa informan terkait ketersediaan sarana dan

prasarana di Puskesmas Terjun:

“Untuk sarana tersedia seperti kelengkapan ATK, kelengkapan data, dan


untuk prasarana itu sendiri belum sepenuhnya terpenuhi, iya artinya lihat
aja dek pengerjaan kami belum menggunakan komputer. Memang ada
komputer tapi bukan untuk pengerjaan SP2TP, selain itu jaringan internet
juga belum terpenuhi. Sehingga dalam pengerjaan laporan bulanan ini
sangat terbatas.”(Informan 2).

“Untuk ketersediaan sarana sudah ada seperti kelengkapan ATK, kalau


untuk prasarana belum tersedia untuk pengerjaan laporan bulanan SP2TP,
karena pengerjaan laporan SP2TP belum menggunakan komputer, akan
tetapi komputer sudah ada Puskesmas Terjun ini tapi bukan untuk
pengerjaan laporan bulanan dan juga belum tersedianya jaringan internet
di puskesmas ini.”(Informan 5).
“Untuk sarana dan prasarana seperti komputer dan printer ada tapi itu tidak
dipergunakan dalam pengerjaan laporan data SP2TP, karena Laporan

Universitas Sumatera Utara


SP2TP disini dicatat, diolah dan dilaporkan secara manual saja.”(Informan
1).

Berdasarkan pernyataan informan diatas menunjukkan bahwa sudah

tersedianya sarana di puskesmas seperti kelengkapan ATK, dan ketersediaan data,

sedangkan untuk prasarana di Puskesmas Terjun belum terpenuhi karena dapat

dilihat dari pengerjaan setiap masing-masing program pembuatan laporan bulanan

SP2TP masih secara manual, artinya didalam pengolahan data laporan belum

menggunakan alat teknologi komputer dan belum tersedianya jaringan internet di

puskesmas ini.

Seharusnya di masing-masing program sudah terpenuhi kebutuhan

komputer sehingga memudahkan para programer dalam bekerja mengolah data

hingga menginput laporan program mereka masing-masing.

4.2.3 Kebijakan SP2TP


4.2.3.1 Monitoring Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas
(SP2TP) di Wilayah Kerja Puskesmas Terjun Kecamatan Medan
Marelan

Kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan

dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara

bertindak. Istilah ini dapat diterapkan pada pemerintahan, organisasi dan

kelompok sektor swasta, serta individu. Kebijakan disini berbeda dengan

peraturan dan hukum, jika hukum dapat memaksakan atau melarang suatu

prilaku, akan tetapi kebijakan hanya menjadi pedoman tindakan yang paling

mungkin memperoleh hasil yang diinginkan.

Dalam pelaksanaan SP2TP kebijakan yang dimaksud disini yaitu

mengenai target waktu. Target waktu pencapaian pengolahan SP2TP yang dimulai

Universitas Sumatera Utara


dari jenjang pelayanan kesehatan tingkat Desa (Pustu, Polindes dan Poskesdes)

sampai ke puskesmas dan dari puskesmas sampai ke Dinas Kesehatan Kota

dengan ketentuan sesuai dengan pedoman paling lambat setiap tanggal bulan 10

pada bulan berikutnya untuk laporan bulanan dan untuk laporan tahunan paling

lambat tanggal 31 Januari pada tahun berikutnya.

Berikut pernyataan informan terkait kebijakan SP2TP di wilayah kerja

Puskesmas Terjun:

“Untuk kebijakan itu sudah ada dibuat secara nasional. Dalam hal ini
kebijakan SP2TP yaitu kebijakan tentang target waktu, tapi yang namanya
dalam pelaksanaan suatu kegiatan pasti tidak terlepas dari namanya
masalah, untuk itu mengenai target waktu yang ditentukan sudah di
upayakan semaksimal mungkin” (Informan 2).

“laporan dari wilayah diupayakan setiap tanggal 5 sudah direkap dan


sudah terkumpul kepada saya sebagai koordinator SP2TP tapi itu nggak
jalan, laporan saya terima dari programer selalu lewat waktunya,
selanjutnya saya sebagai koordinator SP2TP menginputnya kedalam
formulir SP2TP dan tanggal 10 dikirim ke Dinas Kesehatan Kota Medan.”
(Informan 2).

Berdasarkan pernyataan informan menunjukkan bahwa mengenai

kebijakan dalam SP2TP yaitu adanya target waktu, dan target waktu disini sudah

jelas ada ditetapkan namun hanya saja dalam pelaksanannya di pihak Puskesmas

Terjun belum melakukannya dengan tepat waktu, dalam hal ini pelaporan laporan

bulanan memang sering terlambat, hal ini dibenarkan oleh koordinator SP2TP di

Puskesmas Terjun dan juga di perkuat dengan pernyataan dari Kepala Puskesmas

Terjun, dibuktikan melalui hasil wawancara sebagai berikut:

“Kebijakan yang dilaksanakan mengikuti aturan nasional yang ada, untuk


kebijakan SP2TP secara khusus di Puskesmas ini belum ada. Sudah
dilkasanakan dengan efektif, tapi ya nak namanya suatu program apalagi
ditambah di puskesmas ini programnya banyak jadi sedikit banyaknya

Universitas Sumatera Utara


walaupun sudah efektif akan tetapi masih ada kurang lebihnya.” (Informan
7).

Komitmen dari Dinas Kesehatan Kota Medan adalah menargetkan untuk

laporan SP2TP tepat waktu hal ini diperoleh dari hasil wawancara dengan

informan 8 di Dinas Kesehatan Kota Medan, sebagai berikut:

“target waktu yang diberikan kepada puskesmas tentang pengiriman


laporan bulanan setiap tanggal 7 dan paling lama tanggal 10 bulan
berikutnya. Dan kalaupun ada yang terlambat pihak Dinas Kesehatan
hanya memberitahukan lewat telepon atau sms saja.”(Informan 8).

Berdasrkan hasil wawancara dengan seluruh pernyataan informan

menunjukkan bahwa untuk target waktu Dinas Kesehatan Kota Medan

menargetkan agar smua laporan tepat waktu dikirimkan sebelum tanggal 10 setiap

bulannya, dan jika terlambat ada pemberitahuan melalui telepon ataupun sms.

4.3 Proses SP2TP di Wilayah Kerja Puskesmas Terjun


4.3.1 Pencatatan dan Pelaporan Masing-Masing Program ke Petugas SP2TP

Pencatatan adalah proses mencatat kegiatan pokok puskesmas yang

dilakukan didalam gedung seperti rawat inap dan rawat jalan, maupun kegiatan

diluar gedung. Proses pencatatan data merupakan rangkaian kegiatan dalam

menunjang ketersediaan data dan informasi.

Mencatatat semua kegiatan yang dilakukan didalam gedung puskesmas

yaitu pencatatan diloket dengan menggunakan RKK termasuk kartu status,

register kunjungan, kartu KB, dan register nomor indeks serta penambahan

catatan pada layanan yang dituju sudah dilakukan petugas loket dan layanan,

dibuktikan dengan pernyataan dari informan sebagai berikut:

“pencatatan biasanya dilakukan oleh para programernya masing-masing.


Dalam membuat laporan bulanan setiap bulannya”(Informan 2).

Universitas Sumatera Utara


“Kalau pencatatan disini itu sebenarnya lengkap, namun kendalanya
kadang-kadang laporan itu terlambat masuk secara bersamaan. Karena
memang ada beberapa laporan yang itemnya itu banyak mislanya program
gizi dn KIA, program ini yang sering terlambat masuk karena banyaknya
laporan yang mau direkap program KIA dan Gizi.” (Informan 1).

Berdasarkan pernyataan informan diatas menunjukkan bahwa pencatatan

laporan bulanan SP2TP yakni para programer yang melakukan kegiatan dari tiap-

tiap unit yang ada di Puskesmas. semua yang dicatat kemudian akan dijadikan

sebagai suatu informasi berupa laporan bulanan.

Ada beberapa kendala yang ditemukan oleh petugas program dalam

merekap laporan ini seperti tidak adanya fasilitas yang menunjang sehingga

muncullah situasi yang membuat perekapan terlambat. Berikut pernyataan dari

beberapa informan:

“sumber data di dapat dari dalam gedung puskesmas berupa data


kunjungan puskesmas, register kunjungan, dan diagnosa penyakit, kartu
KB, dan kartu status, dan data yang didapat dari luar gedung puskesmas di
peroleh dari pustu, setiap bulannya pihak pustu melaporkan kegiatannya ke
Puskesmas Terjun dengan cara pihak pustu datang ke puskesmas terjun
untuk memberikan laporannya ke petugas masing-masing program, untuk
kendala pasti ada ya seperti lamanya data laporan yang dikirimkan pustu
ke puskesmas sehingga menyebabkan petugas kegiatan terlambat dalam
merekapitulasi data laporan tersebut.” (Informan 2).

“Laporan bulanan biasanya diperoleh dari dalam dan luar gedung


puskesmas, dari luar gedung puskesmas hanya dari pustu saja, dan setiap
bulannya pustu melaporkan datanya ke puskesmas dengan cara
mengirimkannya ke puskesmas terjun. Kendala pasti ada ya paling data
laporannya terlambat masuk ke puskesmas sehingga membuat petugas
kegiatan terlambat melakukan rekapitulasi data laporan.” (Informan 3).

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan kunci dan

informan tambahan di puskesmas, sudah melakukan kegiatan pada tahap

Universitas Sumatera Utara


pencatatan SP2TP, namun berdasarkan data SP2TP yang diperoleh dari

puskesmas terdapat beberapa kolom yang tidak terisi seperti di data kesakitan

(penyakit bakteri, penyakit virus, penyakit karena arthropoda, penyakit kelamin,

penyakit infeksi, penyakit susunan saraf, penyakit saluran pernafasan, kecelakaan

dan keracunan), di data Gizi dan KIA (Jumlah anak balita dapat vit.A, Jumlah ibu

nifas dapat vit. A, jumlah ibu hamil dapat obat tambahan darah, jumlah balita

dapat syrup tambahan darah, jumlah bumil dapat kapsul yodium, jumlah

penduduk dapat kapsul yodium, jumlah WUS, jumlah WUS baru dengan LILA,

jumlah murid SD kelas 1 di vaksin DT1 dan DT II, jumlah murid SD kelas VI di

vaksinasi TT I dan TT I, pengamatan penyakit menular, tetanus neonatorium,

malaria, rabies, filaria, frambusia, ispa dan kusta) dan di data kegiatan puskesmas

(data rawat tinggal, kegiatan perawatan kesehatan masyarakat), serta lampiran

data LB2 yang tidak ada. Sehingga dalam pelaporan data-data yang disebutkan

diatas kosong dan ditulis dengan garis penghubung dengan kata lain kegiatannya

tidak dilaksanakan dan sebagian yang kosong tersebut data belum selesai dicatat

dari masing-masing program hal ini karena sebagian data diperoleh dari pustu

oleh karena itu pihak program yang ada dipuskesmas terpaksa menunggu

datangnya laporan dari Pustu sehingga hal ini yang sering mengakibatkan

keterlambatan dalam perekapan data laporan.

Pelaksanaan kegiatan program menerima laporan dari Pustu seharusnya

paling lama tanggal 3 setiap bulannya namun yang terjadi laporan yang diterima

pelaksana kegiatan program dari pihak Pustu selalu terlambat, sehingga pelaksana

kegiatan program juga telat dalam merekap laporannya secara otomatis pelaksana

Universitas Sumatera Utara


program juga terlambat mengirimkan laporannya ke koordinator SP2TP, yang

seharusnya koordinator SP2TP menerima rekapan laporan dari masing-masing

program yaitu paling lambat tanggal 5 setiap bulannya.

Rekapitulasi dilakukan dengan cara pelaksana kegiatan program mencatat

hasil rekapitulasi data dari pustu, posyandu dan hasil kegiatan puskesmas kedalam

formulir laporan SP2TP setiap tanggal 5 setiap bulannya, namun pihak

koordinator selalu mengalami kendala dalam menerima hasil rekapitulasi tersebut

dari pelaksana kegiatan masing-masing program. Di buktikan dari pernyataan

beberapa Informan sebagai berikut:

“Data yang saya terima dari pustu kemudian saya rekap dan setelah selesai
saya setor ke koordinator SP2TP, biasanya itu saya setor setiap tanggal 5
tapi kadang bisa jadi sampai tanggal 7 baru saya setor ke koordinator
SP2TP, untuk pelaporan ya pasti ada kendalanya kan dek, kendala disini
karena lamanya masuk laporan dari pustu yang mana pustu selalu
menyetorkan laporannya pada tanggal 3 dan terkadang bisa sampai tanggal
5 baru disetor ke puskesmas.” (Informan 2).

“Seharusnya pelaksana kegiatan program menerima laporan dari Pustu


paling lama tanggal 3 setiap bulannya, akan tetapi kenyataannya pihak
Pustu selalu terlambat dalam mengirimkan laporannya setiap bulan ke
pelaksana kegiatan program, belum lagi dari pelaksana kegiatan program
seharusnya mereka mengumpulkan hasil rekapan laporannya ke
koordinator SP2TP paling lama tanggal 5 setiap bulannya, namun yang
saya peroleh pelaksana kegiatan program selalu meminta saya untuk
menunggu mereka menyelesaikan rekapan laporannya sampai terkadang
lewat waktu yang sudah ditentukan.” (Informan 1).

Berdasarkan hasil wawancara diperoleh kesimpulan, bahwa pelaporan

yang dilakukan masing-masing program ke petugas SP2TP yang seharusnya

paling lama tanggal 5 setiap bulannya hasil dari rekapitulasi laporan tersebut

sudah dikumpulkan ke Koorinator SP2TP namun pada kenyataannya tidak

konsisten.

Universitas Sumatera Utara


4.3.2 Menginput Laporan Data Dalam Pelaporan

Setelah pelaksana kegiatan masing-masing program melakukan

rekapitulasi terhadap laporan masing-masing program, selanjutnya koordinator

SP2TP dan sekaligus petugas SP2TP melakukan pengumpulan laporan terpadu

yang telah direpitulasi oleh masing-masing program setelah itu koordinator dan

sekaligus petugas SP2TP melakukan penginputan laporan data dan

memasukkannya kedalam formulir SP2TP. Berikut wawancara yang diperoleh

dari beberapa Informan sebagai berikut:

“seperti biasanya setelah laporan data itu dicatat dan direkapitulasi oleh
pelaksana masing-masing program yang melakukan pengumpulan data
dari pelaksana kegiatan masing-masing program itu saya sendiri sebagai
koordinator SP2TP dan sekaligus sebagai petugas SP2TP, dan setelah itu
laporan data itu baru saya input dan kemudian dimasukkan kedalam
formulir laporan SP2TP.” (Informan 1).

“laporan data untuk LB2 ya saya sendiri sebagai penanggung jawab obat
yang mengumpulkan merekap dan juga mengirimkannya ke Dinas
Kesehatan Kota.” (Informan 6)

Berdasarkan hasil pernyataan informan menunjukkan bahwa selama ini di

Puskesmas Terjun yang melakukan pengumpulan data dari pelaksana kegiatan

msing-masing program adalah sepenuhnya dilakukan koordinator SP2TP yang

sekaligus sebagai petugas SP2TP, dan setelah dikumpulkan maka barulah laporan

data di input dan dimasukkan kedalam formulir SP2TP. Akan tetapi khusus

laporan data obat-obatan atau LB2 itu pihak penanggung jawab program yang

melakukan pengumpulan laporan data hingga mengirimkannya sendiri ke Dinas

Kesehatan Kota.

Setelah semua laporan data kegiatan program lengkap dimasukkan

kedalam formulir SP2TP, Koordinator SP2TP sekaligus petugas SP2TP

Universitas Sumatera Utara


melaporkan hasil laporan SP2TP ke penanggung jawab pelaksana SP2TP (Kepala

Puskesmas) hasil wawancara dengan Koordinator SP2TP yang sekaligus petugas

SP2TP di Puskesmas Terjun, hal ini dibuktikan melaului wawancara dengan

Informan sebagai berikut:

“seperti biasanya sebelum dikirim ke Dinas Kesehatan Kota saya


melaporkan hasil laporan SP2TP ke Kepala Puskesmas untuk
mendapatkan tanda tangannya terlebih dahulu.” (Informan 1).

Berdasarkan pernyataan informan diatas menunjukkan bahwa laporan

akan diserahkan terlebih dahulu kepada Kepala Puskesmas untuk mendapatkan

persetujuan dan tandangannya.

Setelah laporan SP2TP mendapatkan persetujuan dan tandatangan dari

Kepala Puskesmas barulah Koordinator SP2TP yang sekaligus sebagai petugas

SP2TP mengirim Laporan Bulanan (LB1, LB2, LB3, LB4) yang dilakukan setiap

bulannya dan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya dikirim ke Dinas

Kesehatan Kota, namun di Puskesmas Terjun hanya melaporkan LB1, LB3,LB4

saja setiap bulannya, dan laporan profil puskesmas serta kepegawaian hal ini

dibuktikan melalui hasil wawancara dengan Informan sebagai berikut:

“kalau data yang saya laporkan dari puskesmas adalah hanya laporan
bulanannya saja yaitu LB1, LB3, LB4.” (Informan 1).

Berdasarkan pernyataan informan diatas menunjukkan bahwa laporan

bulanan yang rutin pihak Puskesmas Terjun laporkan ke Dinas Kesehatan adalah

LB1, LB3 dan LB4 sedangkan LB2 selalu beda pelaporannya ke Dinas Kesehatan

hal ini karena penanggung jawab obat-obatan langsung yang melaporkannya ke

Dinas Kesehatan di bagian GFK hal ini karena penanggung jawab obat-obat selalu

terlambat dalam melakukan pengumpulan laporan datanya.

Universitas Sumatera Utara


Untuk laporan tahunan puskesmas tidak lagi melaporkan laporan tahunan

dalam bentuk LT1, LT2, LT3, hal ini diperoleh berdasarkan pernyataan Informan

sebagai berikut:

“ya laporan tahunan itu sekarang diganti dengan laporan profil puskesmas,
kepegawaian dan laporan inventaris puskesmas dan laporan itu pun juga
dilaporkan setiap bulan, untuk yang melaporkannya pihak Koordinator
SP2TP.” (Informan 1).

Hal senada pun juga disampaikan oleh pihak Dinas Kesehatan bahwa

Puskesmas Terjun dalam pengiriman Laporan Bulannya selalu mengalami

keterlambatan. Berikut pernyataan yang diperoleh dari Informan:

“Sepengetahuan saya dari setiap pengiriman Laporan Bulanan yang


dikirimkan oleh pihak Puskesmas Terjun, mereka mengirimkan laporannya
hampir selalu lewat dari waktu yang telah ditentukan sebelumnya yaitu
tanggal 10 bulan berikutnya paling lama, namun kenyataannya mereka
mengirimkan laporan bulanannya tersebut terkadang sampai 3 bulan
telatnya, misal untuk Laporan Bulan januari yang seharusnya dikirim paling
lambat tanggal 10 bulan berikutnya berarti Februari kan, nah akan tetapi
mereka mengirimkan laporan bulan januari tersebut bisa di bulan maret atau
bulan april gitu.”(Informan 8).
4.4 Output SP2TP di Puskesmas Terjun
4.4.1 Ketepatan Waktu

Ketepatan waktu pelaporan disini dapat diartikan ketepatan waktu

pelaporan laporan ke Dinas Kesehatan Kota Medan. Ketepatan waktu dalam

pengiriman laporan SP2TP yaitu mulai dari jenjang administrasi yang terbawah

sampai ke Dinas Kesehatan Kota, tidak semua jenjang admnistrasi (Pustu, ke

puskesmas dan puskesmas ke Dinas Kesehatan) tepat waktu sesuai dengan

pedoman SP2TP, berikut pernyataan dari beberapa informan:

“laporan dari pustu diterima puskesmas paling lama tanggal 5 setiap


bulannya, karena tanggal 7 sudah harus selesai direkap oleh pelaksana
kegiatan masing-masing program dan selanjutnya koordinator menginput

Universitas Sumatera Utara


laporan dan kemudian tanggal 10 sudah dikirimkan ke Dinas Kesehatan
Kota. ” (Informan 1).

“banyak puskesmas yang tidak tepat waktu dalam pelaporannya, ya artinya


kebanyakan puskesmas menunda laporannya, untuk puskesmas yang tidak
tepat waktu biasanya nanti mereka akan mengumpulkan diakhir tahun
sebelum adanya evaluasi, data yang dikirim sebelumnya hanya data
seadanya dulu, biasanya yang paling lama terlambat dalam pelaporannya
yaitu Puskesmas Terjun.”(Informan 8).

Berdasarkan pernyataan informan diatas menunjukkan bahwa data SP2TP

untuk Puskesmas Terjun dalam pelaporannya ke Dinas Kesehatan belum

sepenuhnya dilakukan dengan tepat waktu, kendala dari keterlambatan pelaporan

data SP2TP tersebut adalah kurangnya koordinasi petugas SP2TP dengan

pelaksana kegiatan masing-masing program, terlambatnya data yang dikumpulkan

dari Pustu secara rutin dengan batas waktu yang sudah ditentukan hingga hal ini

menyebabkan banyak data yang tidak relevan antara data di Dinas Kota I dengan

Dinas Kesehatan Dati I. Seharusnya data yang diterima dari Pustu paling lama

tanggal 3 dan setelah itu direkapitulasi paling lama tanggal 5 oleh pelaksana

kegiatan masing-masing program kemudian laporan datanya dikumpulkan ke

Koordinator SP2TP yang sekaligus Petugas SP2TP dikirmkan tanggal 7

dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kota paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.

4.4.2 Kelengkapan Data

Kelengkapan data disini dapat diartikan kelengkapam data pencatatan baik

data yang diperoleh dari luar gedung puskesmas baik itu dari pustu dan posyandu

yang setiap bulannya memberikan laporannya ke puskesmas sesuai dengan waktu

yang telah di tentukan, maupun data yang diperoleh dari dalam gedung

Universitas Sumatera Utara


puskesmas, yaitu dari kegiatan puskesmas setiap harinya, berikut pernyataan dari

beberapa informan:

“data diperoleh dari masing-masing program yang ada di puskesmas dan


juga pustu, akan tetapi data obat-obatan diperoleh dari obat yang ada di
puskesmas ini. Namun data obat-obatan dibedakan dalam pengirimannya,
artinya petugas apoteker langsung yang mengirim laporan data obat-obatan
ke pihak farmasi Dinas Kesehatan Kota Medan. Akan tetapi, seharusnya
pihak apoteker puskesmas tetap menyetorkan hasil laporannya ke saya,
tapi saya tidak pernah memperoleh laporan tersebut.” (Informan 1).

“sepengetahuan saya Puskesmas Terjun dalam pengiriman datanya setiap


bulannya sudah lengkap, yaitu dengan mengirimkan data LB1,LB3,LB4
setiap bulannya, akan tetapi LB2 itu langsung dikirimkan ke GFK farmasi
di Dinas Kesehatan Kota Medan.”(Informan 8).

Berdasarkan pernyataan informan diatas menunjukkan bahwa kelengkapan

data SP2TP setiap bulannya sudah sesuai dengan peraturan yang ada yaitu adanya

data LB1, LB2, LB3, LB4 yang dibuat setiap bulannya. Yang data tersebut

diperoleh dari dalam gedung puskesmas berupa kegiatan puskesmas setiap

harinya yang dicatat oleh masing-masing petugas program, dan data yang di

peroleh dari luar gedung puskesmas yang di peroleh dari posyandu dan pustu yang

di kirimkan setiap bulannya sesuai dengan target waktu yang telah di tentukan.

Akan tetapi, untuk data LB2 tidak pernah di terima oleh pihak Koordinator

SP2TP, karena petugas Program obat-obatan tidak pernah memberikan laporan

tersebut kepada Koordinator SP2TP Puskesmas Terjun, yang seharusnya pihak

program membuat data tersebut dalam dua rangkap yang mana satu rangkap di

kirimkan ke Dinas Kesehatan Kota Medan, dan yang satu rangkap lagi di pegang

oleh Koordinator SP2TP puskesmas Terjun untuk sebagai arsip di Puskemas

Terjun.

Universitas Sumatera Utara


4.4.3 Keakuratan Data

Keakuratan data disini dapat diartikan sebagai kebenaran data yang dibuat

setiap bulannya oleh masing-masing petugas program yang ada di puskesmas ini.

Sehingga data tersebut berguna untuk menunjang keberhasilan suatu kegiatan

puskesmas, karna data yang dibuat puskesmas akan dikirimkan setiap bulannya ke

Dinas Kesehatan Kota Medan, berikut pernyataan dari informan:

“data yang dicatat setiap bulannya oleh masing-masing petugas program


yang ada di puskesmas, yaitu dari hasil kegiatan yang ada di puskesmas
ini, dan data yang diterima dari posyandu dan pustu setiap bulannya, akan
tetapi ya dek, karna mengejar target waktu tersebut dan laporan data
tersebut belum selesai dikerjakan maka laporan data yang dikirmkan
tersebut yaitu data yang bulan kemarinnya, karna waktu pengiriman sudah
terlambat, akan tetapi data tersebut di perbaiki lagi, seperti data Gizi, KIA,
KB ini yang belum siap datanya dikerjakan oleh petugas programnya,
sehinggan data tersebut yang dikirimkan data yang bulan-bulan
sebelumnya.”(Informan 1).

“sepengetahuan saya dek data yang dikirimkan oleh puskesmas seharusnya


data yang memang benar-benar akurat, karna kan dek data yang
dikirimkan oleh pihak puskesmas itu sebagai bahan pertimbangan untuk
membuat suatu program lebih baik lagi, sehingga adanya feed back dari
Dinas Kesehatan Kota Medan ke puskesmas, agar dapat diketahui masalah
kesehatan mana yang harus di perbaiki lagi, supaya menghasilkan program
kesehatan yang lebih baik lagi.”(Informan 8).

Berdasarkan pernyataan informan diatas menunjukkan bahwa data

SP2TP yang di buat setiap bulannya belum menghasilkan data yang akurat, karna

dari pernyataan Koordinator SP2TP bahwa data yang di buat oleh petugas

program masih membuat data yang sama dari bulan sebelumnya, karna untuk

mengejar waktu pelaporan ke Dinas Kesehatan Kota Medan, sehingga data yang

belum siap tersebut dimasukkan dengan data yang sama dengan bulan

sebelumnya. Yang seharusnya data tersebut harus benar-benar akurat karna data

yang dikirmkan ke Dinas Kesehatan Kota Medan untuk melihat program

Universitas Sumatera Utara


kesehatan mana yang masih buruk sehingga harus di tingkatkan lagi dan

mempunyai feed back ke puskesmas untuk membuat suatu program berjalan

dengan baik sehingga dapat lebih meningkatkan program kesehatan yang lebih

baik lagi.

Universitas Sumatera Utara


BAB V

PEMBAHASAN

5.2 Input SP2TP di Puskesmas Terjun

5.2.1 SDM

Berdasarkan hasil penelitian menyebutkan bahwa seluruh informan

bermasam-macam, dari segi usia informan di puskesmas yaitu Kepala Puskesmas

55 tahun dan yang berkedudukan sebagai Koordinator SP2TP 35 tahun,

sedangkan informan yang bertugas sebagai pelaksana kegiatan program rata-rata

berusia 34-56 tahun, dan informan berusia antara 34-55 tahun, sehingga bisa

dirata-ratakan seluruh petugas yang terkait dalam pengolah laporan SP2TP di

wilayah kerja Puskesmas Terjun berada pada usia 30-50 tahun, hingga

produktifitasnya masih tinggi dan umur seseorang memiliki pengaruh yang kuat

terhadap tingkat pengetahuan atau wawasan. Jenis kelamin pengelola SP2TP

mayoritas adalah perempuan ini berkaitan sebagian besar pegawai Puskesmas

berprofesi sebagai bidan, namun tidak ada kaitannya mengenai perbedaan antara

pria dan wanita dalam kemampuan memecahkan masalah. Masa kerja pada

pengolah data SP2TP pada tingkat Puskesmas Terjun yaitu penanggung jawab

Puskesmas atau Kepala Puskesmas selama 9 Tahun, Koordinator SP2TP 4 tahun,

penanggung jawab program lebih kurang 20 Tahun.

Tidak jauh berbeda dengan penelitian Puspita, (2013) di Puskesmas

Umbulsari Kabupaten Jember yang menunjukkan bahwa SDM dari pada

pelaksana SP2TP tidak memiliki pengalaman yang cukup dalam memegang

perannya masing-masing, serta tidak memiliki pengetahuan yang luas tentang

Universitas Sumatera Utara


SP2TP dan tidak memiliki pendidikan formal yang mendukung, terutama kepada

petugas khusus pelaksana program SP2TP rata-ratanya tamatan SMA.

Setelah dilakukan wawancara dengan seluruh informan yang ada diperoleh

bahwa pengetahuan informan tentang SP2TP belum begitu memahami makna dari

SP2TP masih ada informan yang menganggap bahwa ada beberapa petugas yang

tidak mengetahui bahwa laporan yang di buat adalah sebagian dari SP2TP, hal ini

akan membuat petugas mengenyampingkan proses dan hasil dari laporan karena

mereka kurang mengetahui pemanfaatan dari pelaporan terpadu puskesmas.

Kurangnya pengetahuan informan tentang SP2TP di Puskesmas Terjun sesuai

dengan wawancara yang dilakukan menunjukkan bahwa tidak pernah

diadakannya pelatihan tentang SP2TP hal ini yang menjadi penghambat

tercapainya tujuan dari pelaksanaan program SP2TP di Puskesmas Terjun.

Menurut Werther dan Davis (1996) yang dikutip oleh Sutrisno (2015),

menyatakan bahwa sumber daya manusia adalah pegawai yang siap, mampu, dan

siaga dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi. Dengan begitu adapun yang

dikatakan sebagai sumber daya manusia dalam organisasi puskesmas yaitu orang-

orang yang mengabdikan diri dalam bidang tertentu diwilayah kerja puskesmas

serta harus mempunyai wewenang untuk melakukan upaya jenis tertentu dalam

bidang yang digelutinya dalam penyelenggaraan program di puskesmas.

Sumber daya manusia merupakan faktor masukan (input) terpenting dalam

mencapai keberhasilan. Seperti halnya puskesmas sebagai organisasi pelayanan

kesehatan memiliki tanggung jawab penuh dalam menyelenggarakan pelayanan

kesehatan di kecamatan. Termasuk melaksanakan kegiatan pencatatan dan

Universitas Sumatera Utara


pelaporan tepadu yang merupakan produk informasi manajemen puskesmas.

dengan peran begitu besar perlu didukung oleh sumber daya manusia yang cukup

baik jumlah maupun kualitas. Faktor individual merupakan faktor yang dapat

mempengaruhi kinerja, faktor individual itu sendiri terdiri dari kemampuan dan

keahlian, latarbelakang pendidikan, pengetahuan, lama bekerja serta usia dan jenis

kelamin.

Pengetahuan dan pemahaman petugas tentang tahapan proses SP2TP

sebagian besar hanya sekedar tahu jika laporan yang mereka buat akan diserahkan

ke Dinas Kesehatan Kota bersifat rutin setiap bulannya, belum dapat

mengaplikasikan terbukti kurangnya pemanfaatan dari informasi yang diperoleh

dari SP2TP. Penanggung jawab program disini yaitu koordinator SP2TP secara

keseluruhan tidak pernah mengikuti pelatihan pegolahan dan pemanfaatan data,

sedangkan penanggung jawab puskesmas disini yaitu Kepala Puskesmas

memahami secara detail tentang tahapan SP2TP namun tidak di aplikasikan dalam

pemanfaatannya serta masih mengenyampingkan pentingnya suatu laporan dari

hasil pelayanan yanag telah dilaksanakan.

Pengetahuan tentang SP2TP sangatlah penting dan berfungsi sebagai

peningkatan pemahaman terhadap pentingnya pengolahan SP2TP yang akan

dimanfaatkan untuk sistem informasi kesehatan di puskesmas. Tingkat pendidikan

informan juga akan mempengaruhi pengetahuan dan keahlian informan, dimana

dengan tingkat pendidikan ini dapat memepengaruhi kemampuan berpikir dan

skill dalam proses SP2TP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenjang

Universitas Sumatera Utara


pendidikan informan yang terlibat dalam pengolahan SP2TP di Puskesmas Terjun

rata-rata tamatan dari DIII Bidan.

Keberhasilan pelaksanaan SP2TP sangat ditentukan oleh faktor manusia

yang melaksanakan prosedur sistem informasi. Pengetahuan dan keterampilan

merupakan hal mendasar yang harus dimiliki oleh petugas dalam melaksanakan

kegiatan sistem informasi kesehatan. Untuk itu sudah seharusnya puskesmas perlu

dibekali dengan sumber daya manusia yang kompeten dan handal, agar dapat

melaksanakan kegiatan pencatatan dan pelaporan SP2TP secara efektif dan

efesien.

Berdasarkan pendapat Handoko (2005) pelatihan adalah proses pendidikan

jangka pendek yang menggunakan prosedur yang sistematis dan terorganisir,

selanjutnya pelatihan pengembangan didefinisikan sebagai praktek jalan manusia

yang fokus adalah mengindetifikasi, menilai dan melalui pembelajaran yang

direncanakan membantu pengembangan kompetensi kunci yang memungkinkan

orang untuk melakukan pekerjaan saat ini atau masa depan. Definisi tersebut

menggambarkan bahwa pelatihan merupakan kegiatan yang dirancang untuk

mengembangkan sumber daya manusia melalui rangkaian kegiatan identifisikan,

pengkajian serta proses belajar yang terencana. Hal ini dilakukan melalui upaya

untuk membantu mengembangkan kemampuan yang diperlukan agar dapat

melaksanakan tugas, baik sekarang maupun dimas yang akan datang. Ini berarti

bahwa pelatihan dapat dijadikan sebagai sarana yang berfungsi untuk

memperbaiki maslah kinerja organisasi, seperti efektivitas, efesiensi dan

produktivitas.

Universitas Sumatera Utara


Bentuk pelatihan SP2TP yang dilakukan untuk SP2TP adalah pengolahan,

perekapan, dan penyajian data menjadi informasi kesehatan, secara langsung ada

dua bentuk pelatihan yaitu pelatihan data SP2TP dan pelatihan komputer. Sebagai

besar pengelola SP2TP tidak pernah mengikuti pelatihan SP2TP dan pelatihan

komputer, hal ini juga menjadi penghambat tercapainya tujun organisasi, karena

data yang dikirim ke puskesmas masih bersifat manual sehingga menggunakan

waktu yang lama untuk merekap dan melaporkan kembali ke Dinas Kesehatan,

untuk itu perlu adanya pelatihan dan bimbingan teknis yang diselenggarakan oleh

Dinas Kesehatan Kota kepada seluruh koordinator SP2TP di Puskesmas Kota

Medan, agar SDM di puskesmas lebih mempunyai keahlian dalam pengelolaan

data menjadi informasi yang lebih baik lagi.

5.2.2 Material SP2TP di Puskesmas Terjun

Dari hasil penelitian di Puskesmas Terjun data yang diperoleh dari hasil

kegiatan yang telah dilaksanakan oleh puskesmas, baik kegiatan didalam gedung

puskesmas maupun diluar gedung puskesmas. sedangkan laporan sentinel tersebut

tidak pernah ada dilaporkan hal ini karena Puskesmas Terjun bukan puskesmas

yang dipilih oleh Dinas kesehatan untuk melaporkan kegiatan laporan sentinel.

Tidak jauh berbeda dengan penelitian Puspita, (2013) di Puskesmas

Umbulsari Kabupaten Jember, diperoleh data yang diterima di dapat dari kegiatan

didalam puskesmas dan kegiatan yang ada di luar gedung puskesmas.

Tersedianya data dari berbagai jenis kegiatan secara lengkap dan akurat,

untuk kemudian direkap dan dientri kedalam formulir SP2TP, yaitu formulir

pencatatan sebanyak 59 terdiri dari kartu dan register, sedangkan formulir

Universitas Sumatera Utara


pelaporan terdiri dari formulir LB1, LB2, LB3, LB4, LB1S, LB2S, LT1, LT2,

LT3.

Program pokok puskesmas memerlukan data yang selalu siap pakai dan

sudah dianalisa dan disajikan dalam bentuk tabel ataupun grafik dan dilaporkan

secara naratif, data yang dilaporkan tersebut adalah informasi tentang pelaksanaan

program pengembangan masalah kesehatan masyarakat, dan jenis data berasal

dari kegiatan harian puskesmas yang dibagi berdasarkan lokasi pencatatan data

yaitu data dari pencatatan didalam gedung dan diluar gedung puskesmas.

pelaporan yang dimuat dari dalam gedung puskesmas adalah semua data yang

diperoleh dari pencatatan kegiatan harian program yang dilaksanakan didalam

gedung puskesmas seperti data dari poli gigi, gizi, KIA, KB, Laboratorium. Data

yang berasal dari luar gedung puskesmas adalah data yang dibuat berdasarkan

catatan harian kegiatan program yang dilaksanakan diluar gedung puskesmas

yaitu pustu seperti kegiatan posyandu, UKS, dan kesehatan lingkungan.

Menurut Direktoral Jenderal Kesehatan Masyarakat (1997) Formulir

laporan dari puskesmas ke Dinas Kesehatan Kota adalah Laporan Bulanan berupa

LB1 yaitu Laporan Bulanan penyakit, LB2 berupa Laporan Bulanan Pemkaian

dan Lembar Pemakaian Obat (LPLPO), LB3 berupa Laporan Bulanan Gizi, KIA,

Imunisasi, dan Pengamatan Penyakit Menular dan LB4 berupa berisi Laporan

Hasil Kegiatan puskesmas. Laporan bulanan sentinentil (Laporan Program

Khusus dari Puskesmas Terpilih) LB1S dan LB2S. Laporan Tahunan LT1 tentang

laporan sumber daya manusia puskesmas, LT2 tentang ketenagaan dan

administrasi kepegawaian puskesmas, LT3 tentang laporan peralatan puskesmas.

Universitas Sumatera Utara


Pengelolaan SP2TP diatur dalam buku pedoman SP2TP yang terdiri dari 6

buku yaitu: Buku I tentang konsep dasar sistem manajemen puskesmas dan sistem

pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP), Buku II seri A batasan

operasional SP2TP, Buku II seri B berisi petunjuk pengisisan formulir pelaporan

SP2TP, Buku II seri C tentang petunjuk pengisisan formulir pelaporan, daftar

tabulasi, dasar penyakit, indeks klas terapi, daftar singkatan dan Buku III petunjuk

pengolahan dan pemanfaatan data SP2TP.

Saat ini di puskesmas khususnya Puskesmas Terjun tidak tersedianya

petunjuk teknis SP2TP atau tidak adanya buku pedoman SP2TP yang dimiliki

Puskesmas terjun. Kegiatan progarm SP2TP dilaksanakan hanya mengacu pada

contoh yang sudah ada dari pengalaman-pengalaman petugas yang melaksanakan

program SP2TP sebelumnya dan dilaksanakan hanya berdasarkan rutinitas.

Kegiatan program akan terlaksana dengan baik jika didukung oleh aspek legaltas

tertulis berupa pedoman pelaksanan kegiatan program.

Padahal sesuai dengan SK Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan

Masyarakat Nomor 590/BM/DJ/INFO/1996, sangat jelas dinyatakan petunjuk

teknis SP2TP dimanfaatkan sebagai acuan dan pedoman dalam melaksanakan

kegiatan pengolahan, penyajian dan interpretasi data SP2TP baik di Puskesmas

maupun di Dinas Kesehatan Kota, sehingga diperoleh informasi yang dijadikan

bahan dalam penentuan prioritas masalah, upaya pemecahan masalah serta tindak

lanjut dalam menunjang tugas pokok serta fungsi dan tugas tanggung jawab

(Depkes RI, 1997).

Universitas Sumatera Utara


Formulir SP2TP ada dan tersedia di Puskemas Terjun, namun tidak

lengkap di pustu tidak ada form pencatatan SP2TP untuk itu mereka

mengumpulkan hasil rekapan dengan nama laporan bulanan perawatan. Karena

ketidaksediaan form pencatatan pustu menggunakan buku-buku yang dibuat

sendiri dalam setiap kegiatan sesuai dengan kebutuhan puskesmas. Form SP2TP

untuk pengelolaan SP2TP, yaitu formluir pencatatan SP2TP terdiri dari:

1) Rekam Kesehatan Keluarga (RKK) atau yang disebut “family folder”;

2) Kartu Tanda Pengenal (KTP);

3) Kartu Rawat Jalan;

4) Kartu Rawat Tinggal;

5) Kartu Penderita Kusta;

6) Kartu Indeks Penyakit Khusus Kusta;

7) Kartu penderita TB Paru;

8) Kartu Indeks Penyakit Khusus TB Paru;

9) Kartu Ibu;

10) Kartu anak;

11) Kartu Balita;

12) KMS Anak Sekolah;

13) KMS Ibu Hamil;

14) KMS Usila;

15) KMS Tumbuh Kembang Balita;

16) Kartu Rumah;

Universitas Sumatera Utara


17) Register adalah formulir untuk mencatat/merekap data kegiatan didalam dan

diluar gedung puskesmas yang telah dicatat di kartu-kartu dan catatan

lainnya.

Jenis-jenis register ada 42 macam yang dimaksud adalah: register nomor

indeks pengunjung puskesmas, kunjungan rawat jalan, rawat inap, KIA, kohort

ibu, kohort balita, deteksi tumbuh kembang, gizi, kapsul minyak beryodium,

pengamatan penyakit menular, kusta, pemeriksaan kontak penderita kusta,

pemeriksaan anak sekolah (untuk penyakit kusta), malaria, pes, antraks, rabies,

kohort TB paru, kasus DBD, pemberantasan sarang nyamuk DBD, Acute Flaccid

Paralysis (AFP), tetanus neonatorum, frambusia, filariasis, buku inventarisasi

peralatan puskesmas, perawatan gawat darurat puskesmas, kohort pembinaan

keluarga, rawat jalan gigi, laboratorium, PKM, PSM, data dasar kesehatan

lingkungan, kegiatan penjaringan, kegiatan UKS, data dasar sekolah, kegiatan

posyandu, pelayanan kesehatan olahraga, pembinaan kelompok/klub olah raga,

registrasi perawatan kesehatan masyarakat untu keluarga dan individu (Reg. A),

register perawatan kesehatan masyarakat untuk kelompok/masyarakat (Reg. B).

Seharusnya melalui staf TU (Tata Usaha) menyediakan form pencatatan

secara lengkap untuk menunjang dan mempermudah petugas dalam proses

pengelolaan SP2TP agar laporan dari wilayah benar-benar terpadu serta

menggunakan form pencatatan dan formulir pelaporan yang sama hal ini

dimaksudkan juga agar mempermudah koordinator dalam proses perekapan

laporan SP2TP untuk kebutuhan jenjang administrasi di atasnya. Dalam pedoman

SP2TP form pencatatan harus tersedia di semua fasilitas pelayanan kesehatan,

Universitas Sumatera Utara


agar pencatatan dan pelaporannya terpadu mulai dari tingkat desa, kecamatan dan

kota.

Ketersediaan sarana adalah fasilitas yang dipakai langsung atau alat untuk

mencapai tujuan seperti adanya alat tulis kantor (ATK) di Puskesmas Terjun,

untuk ketersediaan ATK sudah cukup.

Sedangkan ketersediaan prasarana dalam melaksanakan pencatatan dan

pelaporan SP2TP secara umum belum membawa perubahan dalam menyediakan

data SP2TP, hal ini karena ketersediaan pendukung teknolgi dalam menunjang

pelaksanan program SP2TP belum tersedia.

Tersedianya layanan internet dan program pendukung seperti komputer,

printer dalam pengelolaan SP2TP, sistem informasi akan memberikan kemudahan

bagi para penggunanya untuk menghasilkan informasi yang dipercaya, relevan,

tepat waktu, sangat dipahami, dan teruji sehingga membantu pengambilan

keputusan serta dapat meningkatakan efektifitas kerja karyawan dalam mencatat

semua kegiatan-kegiatan operasional organisasi.

Meskipun dipuskesmas sudah ada beberapa unit komputer, dan printer

akan tetapi teknologi komputer disini tidak dimanfaatkan untuk melaksanakan

kegiatan pengolahan data SP2TP sehingga sampai saat ini data SP2TP tersbut

masih dilakukan dengan cara sederhana yaitu cara mencatat dan merekapnya

dilakukan dengan manual. Saat ini teknologi komputer yang tersedia di

puskesmas hanya digunakan sebagai alat mengetik surat-surat atau kegiatan

tambahan saja mengenai laporan-laporan puskesmas yang sederhana.

Universitas Sumatera Utara


5.1.3 Kebijakan SP2TP di Puskesmas Terjun

Dari hasil penelitian di Puskesmas Terjun dan Dinas Kesehatan Kota

Medan target waktu Dinas Kesehatan kota Medan menunjukkan bahwa kebijakan

yang dipakai pihak Puskesmas Terjun adalah kebijakan nasional artinya kebijakan

yang telah sesuai dengan pedoman yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Kota

yaitu mengenai menargetkan agar semua laporan tepat waktu dikirimkan, sebelum

tanggal 10 setiap bulannya, dan jika terlambat pihak Dinas Kesehatan Kota

Medan hanya mengingatkannya dengan memberitahu melalui telepon ataupun

sms.

Tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan Puspita, (2013)

di Puskesmas Umbulsari Kabupaten Jember, menunjukkan bahwa agar semua

laporan tepat waktu dilaporkan ke Dinas kesehatan Kota sebelum tanggal 10 pada

bulan berikutnya dan jika terlambat ada pemberitahuan melalui telpon dan surat

panggilan.

Berdasarkan wawancara dengan seluruh informan yang ada diperoleh

bahwa dalam menerapkan kebijakan tersebut selalu ada kendalanya, sebagaimana

yang telah disampaikan oleh Kepala Puskesmas Terjun sebelumnya. Adapun

kendala yang ditemukan Diketahui dari hasil penelitian bahwa data yang

dikirimkan ke Dinas Kesehatan Kota Medan dari Puskesmas Terjun selama ini

selalu melewati dari target waktu. hal ini sudah tidak sesuai dengan pedoman

SP2TP yang seharusnya pelaporan laporan bulanan tersebut harus sudah sampai di

Dinas Kesehatan Kota sebelum tanggal 10.

Universitas Sumatera Utara


Dalam pelaksanaan SP2TP yang dikatakan kebijakan disini yaitu suatu

pedoman tindakan yang dapat memperoleh hasil yang diinginkan. Kebijakan yang

dibicarakan dalam pelaksanaan SP2TP adalah tentang pedoman target waktunya

dalam pengiriman laporan bulanan ke Dinas Kesehatan Kota. Kebijakan

sebagaimana yang telah diatur berdasarkan keputusan Direktur Jenderal

Pembinaan Kesehatan Masyarakat Nomor: 590/BM/DJ/INFO/V/96 tentang

Penyederhanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP).

Keseluruhan pembahasan Input (SDM) di Puskesmas Terjun ditemukan

kurangnya pengetahuan tentang SP2TP, rata-rata petugas belum pernah

mengikuti pelatihan SP2TP yang mencakup pelatihan pengolahan data, bahan

(material) berupa data, buku pedoman formulir SP2TP, untuk data dalam

mengolah laporan diperoleh dari masing-masing kegiatan yang telah dilakukan

baik dari dalam puskesmas maupun dari luar gedung puskesmas, sedangkan untuk

buku pedoman SP2TP tidak tersedia, dan untuk sarana dan prasarana juga belum

terpenuhi, kurangnya pemanfaatan teknologi informasi karena komputer yang

belum mencukupi dan jaringan internet yang tidak terpenuhi sehingga pencatatan

dan pelaporan masih dilakukan secara manual, untuk kebijakan disini adalah

tentang target waktu dalam pelaporan data setiap bulannya pencapaian pelaporan

masing-masing jenjang administrasi berbeda, di tingkat puskesmas terjun data

yang dilaporkan setiap bulannya selalu terlambat untuk itu perlu komitmen dari

semua pimpinan dari jenjang puskesmas dan Dinas Kesehatan agar kualitas

informasi kesehatan lebih baik.

Universitas Sumatera Utara


5.3 Proses SP2TP di Puskesmas Terjun

Dari hasil penelitian diketahui bahwa Puskesmas Terjun telah melakukan

pencatatan kegiatan yang dilaksanakan di dalam dan luar gedung puskesmas

dalam hal ini didalam gedung yaitu kegiatan seperti KIA, KB, Gizi, poli gigi dan

laboratorium, sedangkan luar gedung yaitu kegiatan dari pustu yang mana dalam

hal ini laporan dari puskesmas pembantu yang disampaikan ke pelaksana kegiatan

di puskesmas. Kemudian pelaksana kegiatan merekaptulasi data yang dicatat baik

didalam gedung maupun diluar gedung.

Tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan Tahir, (2015) di

Puskesmas Abeli Kota Kendari, bahwa proses pencatatan data SP2TP dalam hal

pengolahan datanya masih dilakukan secara sederhana dikarenakan tidak

mencukupinya perangkat komputer dan masih awamnya petugas untuk

menggunakan komputer, ini salah satu penyebab terhambatnya proses pencatatan

di Puskesmas Abeli.

Berdasarkan wawancara dengan seluruh informan yang ada tahap

pencatatan SP2TP di Puskesmas Terjun belum sesuai dengan pedoman SP2TP

karena pencatatan yang dilakukan masih banyak data yang ada di formulir kosong

untuk direkap, hal ini karena ada kegiatan yang tidak dilakukan puskesmas dan

juga hal ini terjadi kekosongan data karena tidak terdapat penderita dan juga

karena belum sampainya laporan data yang diterima puskesmas dari pustu

sehingga rekapitulasi terhadap pencatatan sering terjadi kekosongan data. Padahal

ini seharusnya melakukan secara rutin dan dilakukan pencatatan setiap bulannya.

Universitas Sumatera Utara


Pencatatan dalam SP2TP meliputi pencatatan kegiatan pokok puskesmas

yang dilakukan didalam dan diluar gedung puskesmas, rawat inap, dan pustu.

Masing-masing kegiatan dalam tahap pencatatan sebagai berikut:

1. Mencatat kegiatan didalam gedung puskesmas menggunakan RKK termasuk

kartu status, KTP, register kunjungan, kartu KB dan register nomor indeks.

2. Mencatat kegiatan diluar gedung puskesmas.

3. Merekap/mencatat data kegiatan didalam dan diluar gedung puskesmas

Muninjaya (2004), yang dikutip oleh Pontoh berpendapat bahwa untuk

pengembangan efektifitas sistem informasi manajemen puskesmas, standar mutu

(input, proses, dan output) perlu dikaji dan dirumuskan kembali, masing-masing

komponen terutama proses pencatatan dan pelaporannya perlu di tingkatkan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komponen input dan komponen

proses berpengaruh signifikan dan searah terhadap pelaksanaan sistem pencatatan

dan pelaporan terpadu puskesmas di wilayah kerja Puskesmas Terjun. Semakin

baik komponen input dan komponen proses maka akan semakin baik pula sistem

pelaksanaan pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas di wilayah Puskesmas

Terjun.

Saat ini di Puskesmas Terjun Pencatatan yang dilakukan masih belum

optimal artinya komponen input dan komponen prosess belum dilaksanakan

secara optimal. Input SP2TP di Puskesmas Terjun belum sepenuhnya terpenuhi

sehingga dalam pencatatan data dan pengolahan data SP2TP hasilnya tidak

maksimal sebagaimana Keputusan Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan

Universitas Sumatera Utara


Masyarakat Nomor: 590/BM/DJ/INFO/V/96 Tentang Penyederhanaan Sistem

Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP).

Setelah dilakukan pencatatan di puskesmas maka kegiatan selanjutnya

pelaporannya. Pelaporan terpadu puskesmas menggunakan tahun kalender yaitu

bulan Januari sampai dengan Desember dalam tahun yang sama. Kegiatan

menerima dan merekapitulasi data yang dicatat didalam dan luar gedung

puskesmas kemudian dicatat hasil rekapitulasi tersebut kedalam formulir SP2TP

serta membuat laporan SP2TP merupakan tugas pelaksana kegiatan SP2TP.

Kegiatan mengumpulkan laporan SP2TP dan membuat laporan SP2TP dari

masing-masing pelaksana kegiatan kemudian melaporkan hasil tersebut ke

penanggung jawab SP2TP merupakan tugas koordinator SP2TP, sedangkan

kegiatan melaporkan laporan bulanan dan tahunan dilakukan koordinator SP2TP

bersama pelaksana kegiatan, arsip laporan SP2TP kemudian disimpan koordinator

SP2TP. Kegiatan merekap data dilakukan oleh penanggung jawab program

sebagai pelaksana kegiatan dan sudah sesuai dengan pedoman SP2TP (Depkes RI,

1997).

Akan tetapi berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di

Puskesmas Terjun, pelaporan SP2TP di Puskesmas Terjun yang dilaksanakan oleh

puskesmas adalah setelah pelaksana kegiatan melakukan pencatatan terhadap

semua kegiatan yang ada di dalam dan diluar gedung puskesmas kemudian data

tersebut direkapitulasi dan kemudian dikumpulkan ke koordinator yang sekaligus

petugas SP2TP untuk kemudian di input kedalam formulir SP2TP oleh

koordinator SP2TP yang juga sekaligus sebagai petugas SP2TP. Sebagaimana

Universitas Sumatera Utara


yang telah diketahui berdasarkan hasil penelitian di Puskesmas Terjun

penginputan data dalam laporan bulanan SP2TP disini masih dilakukan secara

sederhana yaitu tidak menggunakan teknologi komputer.

Seperti diketahui tugas koordinator yaitu mengkoordinasi untuk

mengumpulkan data dari masing-masing pelaksana kegiatan namun berdasarkan

hasil penelitian koordinator SP2TP juga ikut melakukan rekapitulasi data tersebut

untuk membantu para programer hal ini karena banyaknya kegiatan item yang

harus dicatat dan direkap hasilnya. Dan berdasarkan hasil penelitian yang

dilakukan koordinator tidak mengumpulkan laporan bulanan secara lengkap yang

dilaporkan hanya LB1, LB3 dan LB4, sedangkan untuk LB2 petugas pelaksana

kegiatan itu sendiri yang melaporkannya langsung ke Dinas kesehatan Kota, akan

tetapi meskipun dilaporkan oleh pelaksana kegiatan itu sendiri secara langsung ke

GFK harusnya pelaksana kegiatan tersebut membuat laporannya dua rangkap

yang mana satu rangkapnya diberikan ke Koordinator SP2TP sebagai arsip di

puskesmas namun kenyataanya pelaksana kegiatan yang memegang program LB2

tidak membuatnya dalam dua rangkap.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan mengenai pengiriman laporan yang

dilakukan Puskesmas Terjun ke Dinas Kesehatan Kota memang berjalan sama

seperti puskesmas lainnya, yaitu diantar langsung ke Dinas Kesehatan Kota oleh

Koordinator SP2TP, namun dalam mengirimkan laporannya ke Dinas Kesehatan

Kota tidak sesuai dengan tanggal yang sudah ditentukan.

Untuk laporan LB1S dan LB2S berdasarkan hasil penelitian laporan

tersebut tidak pernah dilaporkan dan juga dibuat, hal ini karena Puskesmas Terjun

Universitas Sumatera Utara


tidak termasuk puskesmas yang dipilih oleh Dinas kesehatan Kota, sesuai dengan

peraturan yang ada bahwa untuk LB1S hanya dilakukan oleh Puskesmas yang

ditunjuk pihak Dinas Kesehatan Dati II dan LB2S hanya untuk puskesmas yang

mempunyai rawat inap (Depkes RI, 1997). Sedangkan untuk laporan tahunan

berdasarkan hasil penelitian LT1 diganti dengan laporan profil puskesmas,

LT2/laporan kepegawaian ini tetap dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kota setiap

bulannya dan untuk LT3/ laporan inventaris tetap dilaporkan ke Dinas Kesehatan

Kota dalam setiap enam bulan sekali, namun berdasarkan penelitian yang

dilakukan laporan ini sudah hampir lebih kurang 2 tahun tidak dilaporkan ke

Dinas Kesehatan Kota.

Kondisi tersebut tidak terlepas dari kurangnya koordinasi antara program

di tiap-tiap ruangan, koordinator memang melakukan penyampaian tentang target

waktu laporan yang dikumpul, selebihnya jika para programer belum juga

mengumpulkan hasil data yang direkap tersebut ke koordinator SP2TP maka

program kegiatan itu sendiri yang akan melaporkan langsung ke Dinas Kesehatan

Kota.

Berkaitan dengan permasalahn pengiriman laporan SP2TP diperlukan

dukungan berupa dukungan pengadaan fasilitas yang memadai, perbaikan

tatalaksana pengiriman laporan, serta pengadaan tenaga ahli khusus bekerja di

program SP2TP yang telah mendapatkan pelatihan terlebih dahulu, hal ini

diharapkan akan meningkatkan pola pengiriman laporan SP2TP Puskesmas ke

Dinas Kesehatan.

Universitas Sumatera Utara


5.4 Output SP2TP di Puskesmas Terjun

Ketepatan waktu pelaporan adalah penyampaian atau penerimaan menjadi

faktor penting dalam arus laporan atas dasar pertimbangan laporan diperlukan

untuk bahan pengambilan kebijaksanaan pada saat tertentu atau secara berkala.

Keterlambatan penyampaian atau penerimaan laporan akan mengganggu

mekanisme pengambilan keputusan.

Ketepatan waktu dalam pengiriman laporan SP2TP mulai dari jenjang

administrasi yang terbawah sampai ke Dinas Kesehatan Kota sangatlah penting,

karena informasi yang telah usang tidak mempunyai nilai lagi. Informasi

merupakan dasar dalam pengambilan keputusan, jika pengambilan keputusan

tersebut terlambat, maka akan berdampak pada organisasi selaku pengguna

sistem informasi tersebut. Oleh karena itu maka sebaiknya informasi yang

dihasilkan harus tepat waktu.

Ketepatan waktu pelaporan disini dapat diartikan ketepatan waktu

pelaporan laporan bulanan Puskesmas Terjun ke Dinas Kesehatan Kota Medan,

sesuai tanggal pelaporan yang harusnya dikumpul tiap bulan ke Dinas Kesehatan

Kota Medan yaitu pada tanggal 7 dibulan berjalan dan paling lambat laporan itu

dikumpulkan pada tanggal 10 bulan berikutnya.

Dari hasil penelitian yang dilakukan di Puskesmas Terjun diperoleh

informasi bahwa untuk puskesmas yang paling sering terlambat dalam

pengiriman laporan bulanannya ke Dinas Kesehatan Kota Medan adalah

Puskesmas Terjun. Dari pengecekan validitas temuan/kesimpulan yang dilakukan

oleh peneliti dengan menggunakan triangulasi sumber adalah untuk menjamin

Universitas Sumatera Utara


validitas dan realibilitas informasi yang diperoleh. Alasan menggunakan metode

triangulasi adalah untuk mendapatkan informai yang tepat, lengkap dan

dipercaya. Salah satunya dengan melakukan wawancara yang mendalam dengan

koordinator SP2TP di Dinas Kesehatan Kota Medan dan membandingkan dengan

informasi yang diperoleh saat peneliti mewanwancarai informan kunci di

Puskesmas Terjun.

Berdasarkan hasil wawancara di Dinas Kesehatan Kota dengan

koordinator SP2TP menjelaskan bahwa secara umum pengiriman laporan bulanan

Puskesmas Terjun masih belum optimal. Kondisi tersebut dibuktikan dari hasil

wawancara yang diperoleh dari koordinator SP2TP di Dinas Kesehatan Kota yang

menyampaikan bahwa memang masih ada beberapa puskesmas di kota Medan

yang sering terlambat dalm pengiriman laporan ke Dinas Kesehatan Kota, namun

dari beberapa puskesmas tersebut salah satunya Puskesmas Terjun yang kerap

sekali terlambat dalam pengiriman laporan dan dengan jangka waktu yang cukup

lama baru laporan tersebut dikirimkan ke Dinas Kesehan Kota.

Untuk pelaporan laporan bulanan hampir dilaporkan lewat dari waktu

yang telah ditentukan. Misalnya yaitu laporan untuk bulan Januari dilaporkan di

bulan maret, padahal yang diketahui sesuai ketentuan yang telah ditentukan

seharusnya laporan disetor ke Dinas Kesehatan pada tanggal tujuh di bulan

berjalan dan paling lambat tanggal sepuluh bulan berikutnya, sehingga

Puskesmas Terjun dikatakan sangat terlambat dari kata tepat waktu oleh pihak

Dinas Kesehatan Kota Medan.

Universitas Sumatera Utara


Menurut peneliti permasalahan tersebut tidak terlepas dari koordinasi antar

petugas pelaksana kegiatan di dalam gedung maupun di luar gedung puskesmas

dengan koordinator SP2TP serta penanggung jawab puskesmas itu sendiri, tidak

tersedianya sarana dan prasarana yang menjadi penunjang seperti komputer, dan

jaringan wifi, tidak adanya petugas khusus yang melakukan analisis dan

penginputan data hal inilah yang menyebabkan laporan tidak tepat waktu

disampaikan ke Dinas Kesehatan Kota, dan sangat berpengaruh pada kualitas

laporan SP2TP.

Sebagaimana yang telah diatur dalam peraturan pemerintah Republik

Indonesia Nomor 46 Tahun 2014 Tentang Sistem Informasi Kesehatan, sistem

informasi kesehatan adalah seperangkat tatanan yang meliputi data, informasi,

indikator, prosedur, perangkat, teknologi, dan sumber daya manusia yang saling

berkaitan dan dikelola secara terpadu untuk mengarhkan tindakan atau keputusan

yang berguna dalam mendukung pembangunan kesehatan. Dengan kata lain

secara tidak langsung SP2TP merupakan salah satu sistem informasi kesehatan

yang didalamnya mencakup tentang pencatatan dan pelaporan kesehatan yang ada

di puskesmas. Untuk itu agar mendapatkan informasi yang akurat terkait

pencatatan dan pelaporan SP2TP maka peraturan pemerintah nomor 46 tahun

2014 tentang sistem informasi kesehatan agar pengolahan data hingga

pelaporannya dilakukan secara elektronik artinya dilakukan dengan komputer

serta pengirimnya dilakukan secara online.

Hasil penelitian di Puskesmas Terjun bahwa komponen prosess dengan

komponen output tidak terpenuhi secara optimal sehingga hasil dari pelaksanaan

Universitas Sumatera Utara


pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas tidak berhasil secara optimal.

Berdasarkan wawancara dengan sekuruh informan diperoleh bahwa proses masih

dilakukan secara manual tidak dilakukan sebagaimana dalam peraturan

pemerintah nomor 46 tahun 2014 sehingga output yang dihasilkan tidak mencapai

keberhasilan yang maksimal.

semakin baik komponen prosess dan komponen output maka akan

semakin baik pula terhadap hasil yang diperoleh dalam sistem pencatatan dan

pelaporan terpadu puskesmas. terpenuhinya perangkat proses dalam pencatatan

dan pengolahan data maka output yang dikeluarkan akan menghasilkan hasil yang

akurat dan tepat waktu.

Agar pengiriman laporn SP2TP dapat berjalan baik, sebaiknya pihak Dinas

Kesehatan Kota perlu mengembangkan media pengiriman laporan secara

elektronik (email), diadakannya fasilitas internet sehingga dapat mengurangi

beban waktu yang dikeluarkan pada proses pelaporan laporan bulanan dan hal

yang paling penting yaitu agar laporan tersebut tepat waktu diterima oleh pihak

Dinas Kesehatan Kota.

Universitas Sumatera Utara


BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang Pelaksanaan Sistem

Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) di wilayah kerja

Puskesmas Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2017, masih belum

maksimal ditemukan kendala dalam pelaksanaannya, yaitu:

1. Petugas SP2TP di Puskesmas Terjun diketahui memiliki masa kerja yang

cukup berpengalaman namun belum pernah mendapatkan pelatihan SP2TP,

yaitu tentang pelatihan dalam mengolah data SP2TP dan pelatihan komputer.

2. Pelaksanaan SP2TP di wilayah Puskesmas Terjun untuk pencatatan SP2TP

dilakukan oleh program masing-masing kegiatan yang dilakukan dengan cara

sederhana masih dengan cara manual artinya pencatatan dan perekapan belum

memakai komputerisasi.

3. Pengumpulan data yang belum tepat waktu oleh pemegang program kepada

petugas SP2TP, berdampak pada proses pengolahan data SP2TP yaitu data

yang diolah menjadi tidak tepat waktu sesuai dengan target waktu yang telah

ditentukan.

4. Proses pengumpulan data SP2TP yang terlambat menyebabkan proses

pengolahan data SP2TP juga ikut terlambat sehingga pada akhirnya

pengiriman laporan data SP2TP ke Dinas Kesehatan Kota Medan mengalami

keterlambatan.

Universitas Sumatera Utara


5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan serta kesimpulan, maka

dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:

1. Bagi pihak pemerintah Dinas Kesehatan Kota Medan

a. Perlu diadakan pengembangan sistem pencatatan dan pelaporan elektronik

baik dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan maupun dari Dinas Kesehatan

ke Puskesmas agar memudahkan pelaporan data antar puskesmas dan

Dinas Kesehatan Kota Medan.

b. Untuk meningkatkan efektifitas pelaksanaan SP2TP di Puskesmas Terjun,

pihak Dinas Kesehatan Kota Medan perlu mengupayakan peningkatan

kualitas dan kuantitas komponen input dengan penekanan yang lebih

besar pada aspek pengetahuan petugas SP2TP di puskesmas, melalui

pendidikan dan pelatihan SP2TP baik formal maupun informal .

c. Kepala Puskesmas sebagai pembimbing, perlu meningkatkan pengawasan

bagi petugas SP2TP dalam melakukan pencatatan, pengolahan data

sampai pelaporan sehingga pelaporan tersebut bisa tepat waktu sesuai

dengan peraturan Departemen Kesehatan RI No. 590/BM/DJ/INFO/V/96

yang ditetapkan tanggal 10 Mei 1996.

2. Bagi pihak Puskesmas Terjun

a. Untuk mencapai suatu keberhasilan dalam pencatatan dan pelaporan

seharusnya ada koordinasi yang baik dan terpadu antara petugas

pelaksana program kegiatan dengan koordinator SP2TP.

Universitas Sumatera Utara


b. Untuk tercapainya ketapatan waktu dalam pelaporan SP2TP dari

puskesmas ke Dinas Kesehatan Kota Medan, kepala puskesmas sebagai

penanggung jawab, seharusnya mengadakan rapat evaluasi tentang SP2TP

minimal satu kali dalam tiga bulan.

c. Tersedianya buku pedoman SP2TP, serta sarana dan prasarana yang

memadai dan terpenuhi dalam melaksanakan program pencatatan dan

pelaporan SP2TP.

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul, 2010. Pengantar Administrasi Kesehatan, Tangerang: Binarupa


Aksara.

Bungin B. 2007. Penelitian Kualitatif, Jakarta: Media Group.

Depkes RI 1997. Pedoman Sistem Informasi Manajemen Puskesmas. Jakarta.

Handoko, 2005. Manajemen Jilid II. Gajah Mada University Press.

Hasibuan, Malayu, S.P., 2011. Manajemen Dasar, Pengertian, Dan Masalah,


Jakarta: Bumi Aksara.

Keputusan Direktur Jendral Pembinaan Kesehatan Masyarakat No.


590/BM/DJ/INFO/V/96 Tentang Penyederhanaan Sistem Pencatatan
dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP).

Keputusan Menteri Kesehatan R.I No. 63/MENKES/SK/II/1981 Tentang


Penetapan Berlakunya Penyelenggaraan Pelaksanaan Sistem
Pencatatan dan Pelaporan Terpadu di Puskesmas.

McMahon Rosemasry, Barton Elizabeth, Piot Maurice, 1999. Manajemen


Pelayanan Kesehatan Primer, Jakarta: Kedokteran EGC.

Mubarak, 2012. Ilmu Kesehatan Masyarakat Konsep dan Aplikasi dalam


Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.

Muninjaya, Gde A.A., 2004. Manajemen Kesehatan Edisi 2, Jakarta:


Kedokteran EGC.

2011. Manajemen Kesehatan Edisi 3, Jakarta: Kedokteran EGC.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan


Masyarakat.

Nomor 44 Tahun 2016 Tentang Pedoman Manajemen Puskesmas

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2014 Tentang Sistem


Informasi Kesehatan.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72Tahun 2012 Tentang Sistem


Kesehatan Nasional.

Universitas Sumatera Utara


Pontoh, Idham, 2013. Dasar-Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Jakarta: In
Media.

Puspita, Siska Jufia., 2013. Kajian Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu
Puskesmas (SP2TP) Wilayah Kerja Puskesmas Umbulsari Kabupaten
Jember
Suryani, 2013. Jurnal Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas
(SP2TP) Di Wilayah Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu Provinsi
NTB.

Sutrisno Edi, 2015. Manajemen Sumber Daya Manusia, Surabaya: Kharisma


Putra Utama.

Syafrudin, 2009 Organisasi dan Manajemen Pelayanan Kesehatan Dalam


Kebidanan, Jakarta: Trans Info Media.

Syafrudin, EVK Theresia, Jomima, 2009. Ilmu Kesehatan Masyarakat Untuk


Mahasiswa Kebidanan, Jakarta: Trans Info Media.

Tahir, Irdayanti., 2015. Evaluasi Pelaksanaan Program Sistem Pencatatan


dan Pelaporan Terpadu Puskesmas di Puskesmas Abeli Kota Kencari.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

Universitas Sumatera Utara


LAMPIRAN 1

PEDOMAN WAWANCARA PELAKSANAAN SISTEM PENCATATAN DAN


PELAPORAN TERPADU PUSKESMAS (SP2TP) DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS TERJUN KECAMATAN MEDAN MARELAN TAHUN 2017

I. Identitas Informan
Nama :
Umur : tahun
Jenis Kelamin : LK/PR
Pendidikan :
Asal Instansi :
Tanggal Wawancara :

II. Daftar Pertanyaan


A. Kepala Puskesmas Terjun
1. Menurut Bapak apakah SP2TP itu, dan tujuan dari SP2TP?
2. Sudah berapa lama bapak bertugas di puskesmas?
3. Siapakah yang bertanggung jawab terhadap program SP2TP di
puskesmas ini?
4. Sebagai kepala puskesmas disini bagaimana peran bapak dalam
pelaksanaan SP2TP?
5. Bagaimana tentang sarana dan prasarana dalam pelaksanaan SP2TP di
puskesmas ini?
6. Menurut bapak kebijkan seperti apa yang dilakukan dalam pelaksanaan
SP2TP di Puskesmas Terjun? Apakah kebijakan tersebut telah
dilaksanakan dengan efektif, jika belum bagaimana upaya bapak agar
kebijakan tersebut mencapai keberhasilan?
7. Harapan apa yang bapak harapkan utnuk program SP2TP ini agar
dalam pengumpulan data hingga pelaporan data bulanan mencapai
keberhasilan sesuai target?

B. Koordinator SP2TP di Puskesmas Terjun


1. Menurut Ibu apakah SP2TP, siapakah yang bertanggung jawab untuk
data laporan program SP2TP di wilayah kerja Puskesmas Terjun,
apakah ibu setiap bulan melakukan koordinasi dengan pelaksanaan
setiap program?
2. Sudah berapa lama Ibu bertugas sebagai koordinator SP2TP di
Puskesmas Terjun?
3. Apakah ibu pernah mengikuti pelatihan SP2TP, jika iya, kapan dan jika
belum mengapa?

Universitas Sumatera Utara


4. Menurut ibu bagaimana tentang ketersediaan sarana dan prasarana
dalam pelaksanaan SP2TP?
5. Menurut ibu siapakah yang bertugas menginput laporan bulanan di
Puskesmas Terjun, dan apakah ada tenaga khusus yang bertugas di
program SP2TP yang bekerja di puskesmas ini?
6. Menurut ibu apakah disetiap puskesmas sudah diberikan buku pedoman
SP2TP, buku 1 dan buku 2 seri A,B dan C serta buku formulir SP2TP
dan buku register SP2TP? Dan bagaimana dengan Puskesmas Terjun?
7. Menurut ibu sebagai petugas SP2TP (koordinator SP2TP) di Puskesmas
Terjun ini apakah ada kebijakan dari Ibu berikan kepada pelaksana tiap-
tiap program agar dalam pelaksanaan SP2TP di Puskesmas Terjun
mencapai keberhasilan, jika ya, kebijakan seperti apa yang Ibu berikan?
Jika tidak, mengapa?
8. Menurut Ibu dari manakah data SP2TP itu diperoleh?
9. Bagaimana pendapat ibu tentang proses pencatatan laporan bulanan
(LB) selama ini, dan sumber data dari mana yang Ibu gunakan? Dan
siapa yang mencatat?
10. Bagaimana pendapat ibu tentang proses pelaporan laporan bulanan
(LB) selama ini, tepat waktukah para programer melaporkan datanya ke
petugas SP2TP (koordinator SP2TP)?Dan laporan bulanan apa saja
yang petugas kerjakan, apakah sudah lengkap, dan laporan apakah yang
dikirim ke Dinas Kesehatan Kota tiap bulannya, serta apakah hambatan
yang anda rasakan pada saat proses pelaporan data berlangsung?
11. Setiap tanggal berapa pengiriman laporan bulanan dikirim ke Dinas
Kesehatan Kota, apakah rutin pelaporannya, dan siapa yang bertugas
mengirim laporan bulanan ini, dan upaya apa yang dilakukan agar
pengiriman laporan bulanan tepat waktu?
12. Menurut Ibu sebenarnya di puskesmas ini sudah sesuai targetkah dalam
pengumpulan data SP2TP tersebut?
13. Menurut Ibu sebenarnya di Puskesmas ini, setiap tanggal berapakah
pelaksana program menyetorkan laporan data bulanan kepada ibu
selaku koordinator SP2TP?
14. Menurut Ibu setiap tanggal berapakah pihak puskesmas menerima data
dari pustu setiap bulannya?
15. Menurut Ibu apakah setiap laporan data bulanan yang hendak dikirim
ke Dinas Kesehatan Kota Medan diketahui oleh Kepala Puskesmas
Terjun?
16. Menurut Ibu apakah data yang dibuat petugas program setiap bulannya
sudah akurat?
17. Harapan apa yang ibu harapkan dari pihak pemerintah untuk program
SP2TP ini khususnya laporan bulanan agar mencapai keberhasilan?

Universitas Sumatera Utara


C. Pelaksana Program di Puskesmas Terjun
1. Menurut Bapak/Ibu apakah SP2TP itu,dan siapakah yang bertanggung
jawab untuk data laporan program SP2TP di wilayah Puskesmas
Terjun?
2. Apakah setiap bulan Bapak/Ibu melakukan koordinasi dengan petugas
SP2TP (koordinator SP2TP) mengenai data laporan rutin SP2TP?
3. Apakah Bapak/Ibu pernah mengikuti pelatihan SP2TP, jika ya kapan
dilakukan dan jika belum mengapa?
4. Menurut Bapak/Ibu siapakah yang bertugas merekap laporan bulanan di
Puskesmas Terjun, apakah ada tenaga khusus yang bertugas di program
SP2TP yang bekerja di puskemas ini?
5. Menurut Bapak/Ibu apakah disetiap puskesmas sudah diberikan buku
panduan SP2TP, buku 1 dan buku 2, seri A,B, dan C serta buku
formulir SP2TP dan buku register SP2TP, dan bagaimana dengan
Puskesmas Terjun?
6. Menurut Bapak/Ibu apakah ada format laporan yang dimiliki, dan dari
manakah format itu diperoleh?
7. Bagaimana sarana dan prasarana yang ada di Puskesmas terjun terkait
dengan pembuatan laporan SP2TP?
8. Menurut Bapak/Ibu bagaimana pengumpulan data tersebut diperoleh,
serta apakah ada kendala dalam pengumpulan data tersebut?jika ya
seperti apa?
9. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang proses pencatatan laporan
bulanan (LB) selama ini?
10. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang proses pelaporan laporan
bulanan (LB) selama ini, serta apakah hambatan yang dirasakan pada
saat proses pelaporan data berlangsung?
11. Harapan apa yang Bapak/Ibu harapkan dari pihak pemerintah untuk
program SP2TP ini, khususnya laporan bulanan agar mencapai
keberhasilan?

D. Koordinator SP2TP di Dinas Kesehatan Kota Medan


1. Siapakah yang Ibu ketahui petugas Puskesmas Terjun yang bertugas
untuk melaporkan laporan bulanan SP2TP ke Dinas Kesehatan Kota?
2. Bagaimana menurut Ibu mengenai format laporan SP2TP yang dimiliki
puskesmas selama ini?apakah sudah sesuai dengan format yang
dibakukan serta apakah ada buku panduan yang dimiliki tiap tiap
puskesmas?
3. Bagaimana menrut Ibu pencatatan laporan bulanan di Puskesmas
Terjun selama ini?

Universitas Sumatera Utara


4. Bagaimana menurut Ibu mengenai pelaporan di Puskesmas Terjun?
5. Setiap tanggal berapa laporan bulanan SP2TP yang dilaporkan
puskesmas ke Dinas Kesehatan Kota yang Ibu ketahui? Dan apa yang
Ibu lakukan jika pihak puskesmas belum juga mengirimkan laporan
bulanan terkait SP2TP?
6. Menurut Ibu apakah data yang dikirmkan Puskesmas Terjun setiap
bulannya sudah lengkap?
7. Menurut Ibu apakah data yang dikirimkan puskesmas setiap bulannya
sudah data yang benar-benar akurat?
8. Menurut Ibu apakah ada sanksi yang diberikan pihak Dinas Kesehatan
kota terhadap puskesmas yang terlambat dalam pengirman laporan
bulanan?

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 2

Matriks 1 : Monitoring Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu


Puskesmas (SP2TP) menurut Koordinator SP2TP Puskesmas
Terjun Kecamatan Medan Marelan

No. Pertanyaan Informan 1


18. Menurut Ibu apakah SP2TP itu adalah kegiatan untuk merangkap
SP2TP, siapakah yang seluruh program kegiatan yang ada di Puskesmas
bertanggung jawab Terjun baik didalam gedung puskesmas maupun di
untuk data laporan luar gedung puskesmas yang dilaporkan rutin
program SP2TP di setiap bulannya dalam bentuk format khusus
wilayah kerja terdiri dari LB1, LB2, LB3 dan LB4. Kalau untuk
Puskesmas Terjun, penanggung jawab data laporan SP2TP Kepala
apakah ibu setiap bulan Puskesmas dek, untuk koordinasi kurang dek
melakukan koordinasi karena saya dapatkan laporan setiap bulannya
dengan pelaksanaan dengan meminta dari para programer.
setiap program?
19. Sudah berapa lama Ibu saya sudah bertugas sebagai koordinator SP2TP
bertugas sebagai baru jalan 4 tahun ini dek, kalau untuk pendidikan
koordinator SP2TP di terakhir saya DIII kebidanan dek
Puskesmas Terjun?
20. Apakah ibu pernah Sepengetahuan saya dek, selama saya bekerja di
mengikuti pelatihan puskesmas ini kurang lebih empat tahun, saya
SP2TP, jika iya, kapan tidak pernah mengikuti pelatihan dan itu memang
dan jika belum belum ada digerakkan dari pihak dinas kesehatan,
mengapa? seharusnya itu memang dilaksanakan untuk
menambah pengetahuan tentang SP2TP khususnya
bagi saya sebagai koordinator SP2TP.
21. Menurut Ibu bagaimana Untuk sarana dan prasarana seperti komputer dan
tentang ketersediaan printer ada tapi itu tidak dipergunakan dalam
sarana dan prasarana pengerjaan laporan data SP2TP, karena Laporan
dalam pelaksanaan
SP2TP disini dicatat, diolah dan dilaporkan secara
SP2TP?
manual saja.
22. Menurut ibu siapakah Seperti biasa setelah laporan data itu dicatat dan
yang bertugas direkapitulasi oleh pelaksana masing-masing
menginput laporan program yang melakukan pengumpulan data dari
bulanan di Puskesmas pelaksana kegiatan masing-masing program itu
Terjun, dan apakah ada saya sendiri sebagai koordinator SP2TP dan
tenaga khusus yang sekaligus sebagai petugas SP2TP, dan setelah itu
bertugas di program laporan data itu baru saya input dan kemudian
SP2TP yang bekerja di dimasukan kedalam formulir laporan SP2TP.
puskesmas ini?
23. Menurut ibu apakah Kalau buku pedoman sih belum ada dek, dari saya

Universitas Sumatera Utara


disetiap puskesmas bertugas di puskesmas ini kayaknya nggak ada
sudah diberikan buku buku pedoman SP2TP, saya belum pernah lihat,
pedoman SP2TP, buku 1 dan kalau format laporan saya dapat sudah ada
dan buku 2 seri A,B dan formatnya di komputer, karena dari mulai awal
C serta buku formulir saya kerja di puskesmas ini saya dapatkan
SP2TP dan buku formatnya sudah ada kian di komputer. Dan
register SP2TP? Dan formulir SP2TP sudah selalu tersedia di
bagaimana dengan puskesmas namun untuk wilayah pustu tidak
Puskesmas Terjun? tersedia biasanya pihak pustu dan posyandu
memberinama laporan bulanan parewatan. Begitu
juga untuk register SP2TP sudah tersedia di
puskesmas ini.

24. Menurut ibu sebagai Untuk kebijakan itu sudah ada dibuat secara
petugas SP2TP nasional. Dalam hal ini kebijakan SP2TP yaitu
(koordinator SP2TP) di kebijakan tentang target waktu, tapi yang namanya
Puskesmas Terjun ini dalam pelaksanaan suatu kegiatan pasti tidak
apakah ada kebijakan terlepas dari namanya masalah, untuk itu
dari Ibu berikan kepada mengenai target waktu yang ditentukan sudah di
pelaksana tiap-tiap upayakan semaksimal mungkin.
program agar dalam
pelaksanaan SP2TP di
Puskesmas Terjun
mencapai keberhasilan,
jika ya, kebijakan
seperti apa yang Ibu
berikan? Jika tidak,
mengapa?
25. Menurut Ibu dari Laporan data diperoleh dari masing-masing
manakah data SP2TP itu program yang ada di puskesmas dan juga pustu,
diperoleh? sedangkan data obat-obatan diperoleh dari ruang
obat yang ada di puskesmas ini. Namun data obat-
obatan itu di bedakan dalam pengirimannya,
artinya petugas apoteker langsung yang mengirim
laporan data obat-obatan ke pihak farmasi dinas
kesehatan kota medan. Akan tetapi, seharusnya
pihak apoteker puskesmas tetap menyetorkan hasil
laporannya ke saya, tapi saya tidak pernah
memperoleh laporan tersebut.
26. Bagaimana pendapat ibu Kalau pencatatan disini itu sebenarnya lengkap,
tentang proses namun kendalanyakadang-kadang laporan itu
pencatatan laporan terlambat masuk secara bersamaan, karena
bulanan (LB) selama ini, memang ada beberapa laporan yang itemnya itu
dan sumber data dari banyak misalnya program Gizi dan KIA, program
mana yang Ibu ini yang sering terlambat masuk karena banyaknya
laporan yang mau direkap program KIA dan Gizi.

Universitas Sumatera Utara


gunakan? Dan siapa Untuk sumber data diperoleh dari pustu dan
yang mencatat? programer di puskesmas terjun dan yang mencatat
masing-masing dari petugas program di
puskesmas terjun.

27. Bagaimana pendapat ibu Proses pelaporan selama ini kurang baik, karena
tentang proses pelaporan tidak pernah tepat waktu dalam melaporkan
laporan bulanan (LB) datanya kepada saya selaku petugas SP2TP dan
selama ini, tepat juga koordinator SP2TP. Untuk laporan yang saya
waktukah para kerjakan biasanya, setelah petugas masing-masing
programer melaporkan program mencatatnya dan merekapitulasinya maka
datanya ke petugas saya sendiri yang akan melakukan penginputan
SP2TP (koordinator data yang saya peroleh dari masing-masing
SP2TP)? Dan laporan programe, untuk maslah lengkapnya data lengkap,
bulanan apa saja yang laporan yang dikirim ke dinas kesehatan kota
petugas kerjakan, setiap bulannya laporan bulanan LB1 LB 3 dan
apakah sudah lengkap, LB4
dan laporan apakah yang
dikirim ke Dinas
Kesehatan Kota tiap
bulannya, serta apakah
hambatan yang anda
rasakan pada saat proses
pelaporan data
berlangsung?
28. Setiap tanggal berapa Seperti ketentuan yang ada, laporan seharusnya
pengiriman laporan dikirimkan ke dinas paling lama tanggal 10. Tapi
bulanan dikirim ke karena laporan yang saya terima dari programer
Dinas Kesehatan Kota, selalu lewat waktunya dan setelah itu
apakah rutin menginputnya kedalam formulir untuk itu saya
pelaporannya, dan siapa mengirimkan laporannya setiap tanggal 10 bulan
yang bertugas mengirim berikutnya, pelaporannya selalu rutin yang
laporan bulanan ini, dan bertugas mengirimkan biasanya saya sendiri tapi
upaya apa yang dan apabila terlambat maka saya akan titip
dilakukan agar keteman yang hendak ke dinas kesehatan akan
pengiriman laporan tetapi jika salah satu data laporan dari salah satu
bulanan tepat waktu? program belum selesai maka yang
mengirimkannya petugas program itu sendiri. Dari
saya upaya yang harus dilakukan yaitu adanya
kerja sama antara programer dengan koordinator.
29. Menurut Ibu sebenarnya Laporan dari wilayah diupayakan setiap tanggal 5
di puskesmas ini sudah sudah direkap dan sudah terkumpul kepada saya
sesuai target kah dalam sebagai koordinator SP2TP tapi itu enggak
pengumpulan data berjalan, laporan saya terima dari programmer
selalu lewat waktunya, selanjutnya saya sebagai

Universitas Sumatera Utara


SP2TP tersebut? koordinator SP2TP menginputnya kedalam
formulir SP2TP dan tanggal 10 dikirim ke Dinas
Kesehatan Kota Medan.

30. Menurut Ibu sebenarnya Seharusnya pelaksana kegiatan program menerima


di puskesmas ini, setiap laporan dari Pustu paling lama tanggal 3 setiap
tanggal berapakah bulannya, akan tetapi kenyataannya pihak Pustu
pelaksana program selalu terlambat dalam mengirimkan laporannya
menyetorkan laporan setiap bulan ke pelaksana kegiatan program,
data bulanan kepada ibu belum lagi dari pelaksana kegiatan program
selaku koordinator seharusnya mereka mengumpulkan hasil rekapan
SP2TP? laporannya ke koordinator SP2TP paling lama
tanggal 5 setiap bulannya, namun yang saya
peroleh pelaksana kegiatan program selalu
meminta saya untuk menunggu mereka
menyelesaikan rekapan laporannya sampai
terkadang lewat waktu yang sudah ditentukan.

31. Menurut Ibu setiap laporan dari pustu diterima Puskesmas paling lama
tanggal berapakah pihak tanggal 5 setiap bulannya, karena tanggal 7 sudah
puskesmas menerima harus selesai direkap oleh pelaksana kegiatan
data dari pustu setiap masing-masing program dan selanjutnya
bulannya? koordinator menginput laporan dan kemudian
tanggal 10 sudah dikirimkan ke Dinas Kesehatan
Kota.
32. Menurut Ibu apakah seperti biasanya sebelum dikirim ke Dinas
setiap laporan data Kesehatan Kota saya melaporkan hasil laporan
bulanan yang hendak SP2TP ke Kepala Puskesmas untuk mendapatkan
dikirim ke Dinas tanda tangannya terlebih dahulu.
Kesehatan Kota Medan
diketahui oleh Kepala
Puskesmas Terjun?
33. Menurut Ibu apakah data yang dicatat setiap bulannya oleh masing-
data yang dibuat petugas masing petugas program yang ada di puskesmas,
program setiap bulannya yaitu dari hasil kegiatan yang ada di puskesmas
sudah akurat? ini, dan data yang diterima dari posyandu dan
pustu setiap bulannya, akan tetapi ya dek, karna
mengejar target waktu tersebut dan laporan data
tersebut belum selesai dikerjakan maka laporan
data yang dikirmkan tersebut yaitu data yang
bulan kemarinnya, karna waktu pengiriman sudah
terlambat, akan tetapi data tersebut di perbaiki
lagi, seperti data Gizi, KIA, KB ini yang belum
siap datanya dikerjakan oleh petugas programnya,
sehinggan data tersebut yang dikirimkan data yang
bulan-bulan sebelumnya.

Universitas Sumatera Utara


34. Harapan apa yang ibu Harapan saya dari pemerintah untuk program
harapkan dari pihak SP2TP ini yaitu terpenuhinya sarana dan prasarana
pemerintah untuk untuk mendukung pengerjaan program SP2TP,
program SP2TP ini seperti terpenuhinya komputer, serta jaringan
khususnya laporan internet agar dalam pengerjaannya tidak lagi
bulanan agar mencapai manual melainkan sudah harus online hal ini
keberhasilan? mempermudah dalam penginputan data serta
dalam pengiriman sehingga bisa menghemat
waktu dan tepat waktu dalam pengirimannya.

Matriks 2 : Pendapat Informan Tentang SP2TP,dan siapakah yang


bertanggung jawab untuk data laporan program SP2TP di
wilayah Puskesmas Terjun

Informan Pernyataan
2 Menurut saya SP2TP itu hanya sebatas laporan bulanan saja. Dan
yang bertanggung jawab untuk itu Kepala Puskesmas tapi yang
bertanggung jawab untuk laporan setahu saya ya koordinator
SP2TP yang sekaligus sebagai petugas SP2TP yang bertugas
mengkoordinir seluruh programer yang ada di puskesmas ini agar
mengumpulkan seluruh kegiatan di puskesmas.
3 Merangkum seluruh kegiatan puskesmas yang dilaporkan
puskesma yang dilaporkan setiap bulannya ke dinas kesehatan
kota. Penanggung jawab untuk program SP2TP ya koordinator
SP2TP dia semua yang menghandel kegiatan laporan SP2TP.
4 Laporan dari hasil rekapan seluruh kegiatan program puskesmas
yang akan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kota setiap bulan.
Penanggung jawab untuk program SP2TP Kepala Puskesmas dk,
karena dari semua kegiatan yang ada di puskesmas kan kepala
puskesmas yang bertanggung jawab termasuk program SP2TP.
5 Kegitan pelaporan rutin seluruh kegiatan yang ada di puskesmas
terjun setiap bulannya ke Dinas Kesehatan Kota.
Untuk penanggung jawan program SP2TP menurut saya ya
Kepala Puskesmas dek.
6 SP2TP adalah laporan bulanan kegiatan puskesmas. kepala
puskesmas yang bertanggung jawab untuk program SP2TP ini dk.

Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa SP2TP

merupakan bentuk laporan bulanan dari hasil kegiatan yang ada di puskesmas dan

pihak yang bertanggung jawab untuk program SP2TP ini adalah Kepala

Puskesmas, karena Kepala Puskesmas sebagai penanggung jawab terhadap

Universitas Sumatera Utara


manajemen Puskesmas, artinya seluruh kegiatan puskesmas termasuk kegiatan

program SP2TP dalam setiap pencatatan dan pelaporannya diketahui oleh Kepala

Puskesmas.

Matriks 3 : Koordinasi Dengan Petugas SP2TP (Koordinator SP2TP)


Mengenai Data Laporan Rutin SP2TP

Informan Pernyataan
2 Koordinasi dalam hal ini kurang dk, pihak dari koordinator SP2TP
nggak pernah melakukan koordinasi dengan para programer
kegiatan.
3 Untuk koordinasi munkin ada tapi kurang dek.
4 Nggak ada dek koordinasi antara koordinator SP2TP dengan
programer kegiatan
5 Koordinasi sampai saat ini nggak ada dibuat, paling ya untuk
mendapatkan data biasanya koordinator sendiri yang meminta nya
ke saya.
6 Koordinasi yang dilakukan kurang dk

Dari hasil pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa tidak adanya atau

kurangnya koordinasi yang dilakukan antara petugas pelaksan kegiatan masing-

masing program dengan koordinator SP2TP, sehingga menyebabkan hasil

program yang dijalankan tidak berjalan baik.

Matriks 4 : Pelatihan SP2TP yang Pernah Diikuti Oleh Informan

Informan Pernyataan
2 Nggak pernah dek, dan nggak pernah diadakan pelatihan.
3 Belum pernah dek, dan setau saya pelatihan itu memang tidak
pernah dibuat oleh pihak Dinas Kesehatan Kota.
4 Belum pernah dek saya mengikuti pelatihan SP2TP.
5 Nggak pernah ada dek dibuatnya pelatihan SP2TP.
6 Selama saya bekerja dipuskesmas ini saya tidak pernah mengikuti
pelatihan SP2TP, dan memang belum pernah adanya diadakan
pelatihan untuk SP2TP itu dek.

Berdasarkan dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa petugas

masing-masing program tidak pernah mengikuti yang namanya pelatihan untuk

Universitas Sumatera Utara


SP2TP, dan juga belum pernahnya diadakan untuk pelatihan SP2TP baik untuk

koordinator SP2TP maupun untuk petugas masing-masing program kegiatan

SP2TP.

Matriks 5 : Pihak yang Bertugas Merekap Laporan Bulanan di Puskemas


Terjun

Informan Pernyataan
2 Yang bertugas merekap laporan biasanya masing2 program,
misalnya saya petugas gizi maka saya yang merekap laporannya.
Karena untuk tenaga khusus enggak ada dek.
3 Yang merekap laporan masing-masing program kegiatan yang
dipegangnya untuk tenaga khusus enggak ada dek.
4 Untuk merekap laporan biasanya ya masing-masing petugas
program itu sendiri. Karena enggak ada tuh dek tenaga khusus.
5 Merekap laporan ya kami dek sebagai petugas program masing-
masing, tapi tekadang koordinator juga ikut membantu merekapnya.
Soalnya untuk tenaga khusus enggak ada dek.
6 Kalau untuk merekap ya saya sendiri dek sebagai petugas obat-
obatan, data laporannya pun mengenai pemakaian obat-obatan di
Puskesmas Terjun.

Berdasarkan dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa yang

bertugas merekap laporan bulanan yaitu petugas masing-masing program kegiatan

SP2TP, dikarenakan tidak adanya tenaga khusus dalam pelaksanaan pengerjaan

laporan bulanan SP2TP, akan tetapi petugas SP2TP selaku Koordinator SP2TP

terkadang juga ikut membantu pekerjaan pelaksana kegiatan masing-masing

program untuk merekapitulasi data laporan bulanan.

Matriks 6 : Ketersediaan Buku Pedoman SP2TP, Buku 1 dan Buku 2, Seri


A, B, dan C Serta Formulir SP2TP dan Buku Register

Informan Pernyataan
2 Buku pedoman enggak ada dek, tapi formulir sama register ada di
puskesmas ini.
3 Enggak ada itu buku pedoman disini dek, tapi untuk formulir dan
register selalu ada.
4 Buku pedoman enggak ada disediakan dek, tapi kalau register dan

Universitas Sumatera Utara


formulir ada dek.
5 Buku pedoman enggak ada, tapi formulir dan register ada disediakan
dek.
6 Buku pedoman tidak tersedia, dan memang tidak pernah ada, tapi
untuk formulir SP2TP dan buku register sudah tersedia di puskesmas
ini.
Berdasarkan dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa untuk

persediaan buku pedoman SP2TP, Buku 1 dan Buku 2, Seri A, B, dan C sampai

saat ini belum tersedia di puskesmas terjun, bahka belum ada diberikan dari pusat

sampai sekarang ini, sedangkan persediaan untuk formulir SP2TP dan buku

register sudah tersedia di Puskesmas Terjun.

Matriks 7 : Ketersediaan Format Laporan SP2TP di Puskesmas Terjun

Informan Pernyataan
2 Ya, ada format laporan. Diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota.
3 Format laporan ada. Yang didapatkan dari Dinas Kesehatan
Kota.
4 Format laporan sudah ada. Format tersebut di peroleh dari
Dinas Kesehatan Kota.
5 Format laporan ada, dan format tersebut diperoleh dari Dinas
Kesehatan Kota.
6 Format laporan sudah tersedia, yang diperoleh dari Dinas
Kesehatan Kota.

Berdasarkan dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa format

laporan SP2TP di Puskesmas Terjun sudah tersedia, sehingga dalam pengerjaan

pelaporannya harus sudah sesuai dengan format yang diberikan, yang mana

format tersebut digunakan oleh tiap-tiap programer, dan tiap-tiap programer

memiliki format yang berbeda-beda yang dipakai untuk merekap data.

Universitas Sumatera Utara


Matriks 8 : Sarana Dan Prasarana Yang Digunakan Untuk Membuat
Laporan SP2TP

Informan Pernyataan
2 Untuk sarana tersedia seperti kelengkapan ATK, kelengkapan
data, dan untuk prasarana itu sendiri belum sepenuhnya
terpenuhi, iya artinya lihat aja dek pengerjaan kami belum
menggunakan komputer. Memang ada komputer tapi bukan
untuk pengerjaan SP2TP, selain itu jaringan internet juga
belum terpenuhi. Sehingga dalam pengerjaan laporan bulanan
ini sangat terbatas.
3 Ketersediaan ATK sudah tersedia dan untuk prasarana belum
terpenuhi dek.
4 Sarana sudah ada akan tetapi untuk prasarananya belum
terpenuhi dek.
5 Untuk ketersediaan sarana sudah ada seperti kelengkapan ATK,
kalau untuk prasarana belum tersedia untuk pengerjaan laporan
bulanan SP2TP, karena pengerjaan laporan SP2TP belum
menggunakan komputer, akan tetapi komputer sudah ada
Puskesmas Terjun ini tapi bukan untuk pengerjaan laporan
bulanan dan juga belum tersedianya jaringan internet di
puskesmas ini.
6 Di puskesmas ini sarana sudah ada dek, tapi kalau untuk
prasarananya belum terpenuhi dan juga belum tersedia juga
untuk jaringan internetnya.

Berdasarkan dari pernyataan diatas dapat disimpulkan sudah tersedianya

sarana di puskesmas seperti kelengkapan ATK, dan ketersediaan data, sedangkan

untuk prasarana di Puskesmas Terjun belum terpenuhi karena dapat dilihat dari

pengerjaan setiap masing-masing program pembuatan laporan bulanan SP2TP

masih secara manual, artinya didalam pengolahan data laporan belum

menggunakan alat teknologi komputer dan belum tersedianya jaringan internet di

puskesmas ini.

Universitas Sumatera Utara


Matriks 9 : perolehan data, pengumpulan data, dan kendala dalam
pengumpulan data

Informan Pernyataan
2 Untuk data tersedia, sumber data di dapat dari dalam gedung
puskesmas berupa data kunjungan puskesmas, register kunjungan,
dan diagnosa penyakit, kartu KB, dan kartu status, dan data yang
didapat dari luar gedung puskesmas di peroleh dari pustu, setiap
bulannya pihak pustu melaporkan kegiatannya ke Puskesmas Terjun
dengan cara pihak pustu datang ke puskesmas terjun untuk
memberikan laporannya ke petugas masing-masing program, untuk
kendala pasti ada ya seperti lamanya data laporan yang dikirimkan
pustu ke puskesmas sehingga menyebabkan petugas kegiatan
terlambat dalam merekapitulasi data laporan tersebut.
3 Laporan bulanan biasanya diperoleh dari dalam dan luar gedung
puskesmas, dari luar gedung puskesmas hanya dari pustu saja, dan
setiap bulannya pustu melaporkan datanya ke puskesmas dengan
cara mengirimkannya ke puskesmas terjun. Kendala pasti ada ya
paling data laporannya terlambat masuk ke puskesmas sehingga
membuat petugas kegiatan terlambat melakukan rekapitulasi data
laporan.
4 Puskesmas Terjun memperoleh data dari dalam dan luar gedung
puskesmas, dari dalam gedung puskesmas diperoleh dari kegiatan
rutin puskesmas dan kalau laporan dari luar geung puskesmas
hanya dari puskesmas pembantu saja, untuk itu laporan yang
didapat hanya dari pustu saja, dan pihak pustu melaporkan
kegiatannya setiap bulannya dengan mengirimkannya langsung ke
Puskesmas Terjun. Kalau kendala pasti ada, karena pihak pustu
selalu terlambat dalam melaporkan kegiatan setiap bulannya dari
jangka waktu yang diberikan.
5 Data laporan bulanan diperoleh dari kegiatan sehari-hari puskesmas
dan juga dari pustu, dan setiap bulannya pihak pustu mengirimkan
laporan ke Puskesmas Terjun, kalau kendala pasti ada, dalam
pengiriman data yang terlambat, sehingga para petugas program
terlambat dalam merekapitulasi data laporan.
6 Laporan dari luar gedung puskesmas yang didapat dari pustu, dan
pihak pustu yang mengirimkan ke puskesmas laporan bulanan setiap
bulannya, kendala pasti ada, seperti keterlambatan dalam
pengiriman laporan dari target waktu yang telah ditentukan.

Berdasarkan dari pernyataan informan diatas dapat disimpulkan bahwa

data laporan bulanan setiap bulannya diperoleh dari dalam gedung puskesmas,

dan dari luar gedung puskesmas. Dari dalam gedung puskesmas yaitu kegiatan

Universitas Sumatera Utara


rutin yang dilakukan puskesmas seperti kunjungan puskesmas, register kunjungan,

dan diagnosa penyakit, kartu KB, dan kartu status. Sedangkan data laporan

bulanan yang diperoleh dari luar gedung puskesmas didapat dari puskesmas

pembantu, yang mana puskesmas pembantu mengirimkan laporan bulanan setiap

bulannya ke Puskesmas Terjun sesuai dengan targer waktu yang telah di tentukan

dan memberikannya kepada masing-masing petugas program kegiatan.

Matriks 10 : Proses Pencatatan Laporan Bulanan (LB) di Puskemas Terjun

Informan Pernyataan
2 Pencatatan dilakukan oleh para petugas program masing-
masing dalam membuat laporan bulanan setiap bulannya.
3 Pencatatan dilakukan oleh masing-masing petugas program
akan tetapi koordinator SP2TP juga sering membantu dalam
proses pencatatan laporan bulanan ini, dikarenakan laporan
yang seharusnya sudah diberikan kepada koordinator SP2TP
akan tetapi laporan tersebut belum diberikan kepadanya.
4 Selama ini petugas program yang melakukan pencatatan
kegiatan, dan membuat laporan bulanan setiap bulannya.
5 Untuk pencatatan yang mengerjakannya pihak petugas kegiatan
program masing-masing, dan bahkan koordinator juga sering
andil dalam membantu pencatatan laporan bulanan karena
targer waktu yang ditentukan sudah lewat dan sudah terlambat.
6 Pencatatan bulanan selama ini dikerjakan oleh masing-masing
petugas program.

Berdasarkan dari pernyataan informan diatas dapat disimpulkan bahwa

proses pencatatan di Puskesmas Terjun dilakukan oleh para petugas masing-

masing program kegiatan yang ada di puskesmas setiap bulannya. Akan tetapi jika

target waktu yang ditentukan sudah lewat, maka koordinator SP2TP juga ikut

andil dalam pencatatan bulanan.

Universitas Sumatera Utara


Matriks 11 : Proses Pelaporan Laporan Bulanan (LB) Selama ini di
Puskesmas Terjun, Serta Kendala yang Ditemukan Dalam
Pelaporannya

Informan Pernyataan
2 Data yang saya terima dari pustu kemudian saya rekap dan
setelah selesai saya setor ke koordinator SP2TP, biasanya itu
saya setor setiap tanggal 5 tapi kadang bisa jadi sampai
tanggal 7 baru saya setor ke koordinator SP2TP, untuk
pelaporan ya pasti ada kendalanya kan dek, kendala disini
karena lamanya masuk laporan dari pustu yang mana pustu
selalu menyetorkan laporannya pada tanggal 3 dan terkadang
bisa sampai tanggal 5 baru disetor ke puskesmas.
3 Menurut saya pelaporan di puskesmas ini cukup baik ya dk,
untuk program yang saya pegang itu imunisasi, setelah saya
lakukan pencatatan laporan data baik dari dalam puskesmas
dan pustu kemudian saya rekap setelah itu saya setor ke
koordinator SP2TP selaku petugas SP2TP di puskesmas ini,
untuk kendala pasti ada dek, ya biasanya tentang waktu yang
terkadang lewat untuk meaporkan laporan data bulanan itu
dek, penyebabnya karena pengerjaan kami yang belum
menggunakan komputer, jadi kami merekap data secara
manual.
4 Prosesnya pelaporan dipuskesmas sejauh ini sudah baik, data
diberikan dari pustu setiap tanggal 3,terkadang bisa
melewatin tanggal waktu yang diberikan, setelah data yang
dikirim dari pustu ke puskesmas data tersebut di berikan ke
masing-masing program kegiatan, dan program kegiatan
merekap laporannya, dan setelah selesai di rekap diberikan ke
koordinator SP2TP yang sudah mempunyai target waktunya
di tanggal 5. Kendala ya selalu ada, karena peraturan yang
berlaku tanggal 5 laporan bulanan sudah diberikan ke
koordinator SP2TP, tapi kenyataan yang terjadi lebih banyak
melewati batas waktu dibandingkan dengan ketepatan waktu
pelaporan bulanan ke koordinator SP2TP.
5 Puskesmas pembantu memberikan laporan bulanan setiap
bulannya ke puskesmas, dan setelah pustu memberikan
laporannya kami selaku petugas program kegiatan
merekapnya, dan setelah selesai direkap kami berikan ke
koordinator SP2TP. Kendalanya yang terjadi selama ini
masalah keterlambatan memberikan laporan ke koordinator
SP2TP.
6 Data yang masuk dari puskesmas pembantu direkap oleh
masing-masing petugas program, dan setelah selesai kami
rekap kami berikan ke koordinator SP2TP. Kendala iya pasti
ada, karena seharusnya laporan diberikan ke koordinator

Universitas Sumatera Utara


SP2TP setiap tanggal 5, akan tetapi laporan bulanan diberikan
selalu lewat dari target waktu yang telah ditentukan.

Berdasarkan dari pernyataan informan diatas dapat disimpulkan bahwa

data laporan bulanan di dapatkan setiap bulannya dari puskesmas pembantu yang

mana target waktu yang di berikan kepada puskesmas pembantu setiap tanggal 3

sudah memberikan laporannya ke Puskesmas Terjun, dan masing-masing program

menerima laporannya dan merekap laporan tersebut, dan setelah selesai direkap

masing-masing program kegiatan memberikan laporannya dan menyetor

laporannya ke koordinator SP2TP di tanggal 5. Akan tetapi kenyataannya tidak

sesuai dengan yang diharapkan, karna pihak pustu selalu terlambat dalam

pengiriman laporannya ke masing-masing petugas program kegiatan, sehingga

masing-masing program kegiatan juga terlambat memberikan laporannya ke

koordinator SP2TP, apalagi di lihat dari pengerjaannya yang masih menggunakan

sistem manual dan belum menggunakan komputer, sehingga semakin

memperlama pekerjaan tersebut.

Matriks 12 : Harapan Informan Dari Pihak Pemerintah Untuk Program


SP2TP Ini, Khususnya Laporan Bulanan Agar Mencapai
Keberhasilan

Informan Pernyataan
2 Dari saya ya agar pemerintah lebih memperhatikan sarana
dan prasarana sebagai pendukung dalam pengerjan laporan
data setiap bulannya, misalnya tersedianya komputer,
dengan terpenuhinya komputer maka pengerjaan laporan
SP2TP tidak lagi dilakukan secara manual, dan tersedianya
jaringan internet, dengan adanya jaringan internet maka
dalam pengiriman pelaporan bulannya ke Dinas Kesehatan
akan lebih mudah karena dapat dilakukan dengan cara
online tidak dengan manual lagi hal ini dapat menghemat
waktu. itu menurut saya dek.
3 Harapan saya mengenai program SP2TP ini, ya pihak

Universitas Sumatera Utara


pemerintah sudah menggalakkan sistem online agar lebih
memudahkan pekerjaan dan dapat menghemat waktu
sehingga laporan pun setiap bulannya dapat dikirim tepat
waktu. dan juga pihak pemerintah haruslah membuat
pelatihan untuk koordinator SP2TP, agar lebih memahami
tentang SP2TP itu.
4 Dari saya yang paling penting seharusnya ya agar
pemerintah lebih memperhatikan sumber daya yang
tersedia di puskesmas, karena di sini, banyak pekerjaan
yang kami rangkap sehingga pekerjaan yang lain
terbengkalai. Dan juga sudah membuat sistem online
dalam program SP2TP ini,untuk dapat memudahkan
pekerjaan dan menghemat waktu, sehingga laporan setiap
bulannya dapat dkirim tepat waktu ke Dinas Kesehatan
Kota Medan.
5 Seharusnya pemerintah agar memperhatikan sarana dan
prasarana yang ada di puskesmas khusunya sebagai
pendukung dalam pengerjaan laporan data setiap bulannya,
seperti tersedianya komputer dan jaringan internet.
6 Untuk program ini sangat penting halnya pencatatan dan
pelaporan, jadi untuk mendapatkan hasil yang lebih
optimal untuk itu diperlukan suatu sarana dan prasarana
yang dapat mendukung aktivitas program ini misalnya
komputer yang memadi dan jaringan internet yang baik,
dengan terpenuhinya hal ini maka pencatatan dan
pelaporan dapat dilakukan secara online dengan begini
maka sedikit resiko yang dihadapi misal dapat menghemat
waktu dan juga mendapatkan hasil data yang lebih optimal.

Berdasarkan hasil pernyataan diatas dpat disimpulkan bahwa, pihak

puskesmas sangat membutuhkan fasilitas sarana dan prasarana yang sangat

mendukung kegiatan pelaksanaan program ini, yaitu terpenuhinya komputer dan

jaringan internet, agar SIK di puskesmas ini berjalan, dengan adanya SIK secara

online maka hal ini dapat mengurangi resiko terhadap pelaksanaan program ini,

yang tadinya sering terlambat dalam pengiriman laporan karena banyaknya

waktunya yang diperlukan dalam pengerjaan secara manual, dengan demikian jika

adanya sistem online mungkin bisa lebih membantu untuk menghemat waktu

dalam pelaksanaan program ini. Serta puskesmas ini juga mengharpkan agar

Universitas Sumatera Utara


pelatihan terhadap SP2TP dapat terlaksana hal ini dapat membantu informan

dalam menambah pengetahuan secara mendalam mengenai pemahaman tentang

SP2TP ini.

Matriks 13 : Monitoring Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu


Puskesmas (SP2TP) menurut Kepala Puskesmas Terjun
Kecamatan Medan Marelan
No. Pertanyaan Informan 7
1. Menurut Bapak apakah kegiatan mengumpulkan program-program
SP2TP itu, dan tujuan puskesmas secara global.
dari SP2TP?
2. Sudah berapa lama bapak saya lebih kurang 55 tahun, untuk pendidikan
bertugas di puskesmas? terakhir saya adalah profesi dokter, kalau untuk
masa kerja ya dek kurang lebih 9 tahun dek.
3. Siapakah yang Yang bertanggung jawab terhadap program
bertanggung jawab SP2TP ya koordinator SP2TP, karena dia yang
terhadap program SP2TP melakukan pengumpulan data dari para
di puskesmas ini? programer dan mengirimkannya ke Dinas
Kesehatan Kota Medan.

4. Sebagai kepala Dalam pelaksanaan SP2TP peran saya itu


Puskesmas disini menangani seluruh Puskesmas yang mana
bagaiman peran bapak tanggung jawab saya dalam melakukan pelatihan
dalam pelaksanaan Simpus, sosialisasi dan juga membuat lokakarya
SP2TP mini.

5. Bagaimana tentang untuk sarana dan prasarana di puskesmas ini


sarana dan prasarana sudah ada namun belum mencukupi. Misalnya
dalam pelaksanaan jaringan internet belum terpenuhi padahal dengan
SP2TP di puskesmas ini? adanya jaringan internet maka kegiatan
puskesmas termsuk SP2TP akan berjalan dengan
baik.
6. Menurut bapak kebijkan Kebijakan yang dilaksanakan mengikuti aturan
seperti apa yang nasional yang ada, untuk kebijakan SP2TP secara
dilakukan dalam khusus di Puskesmas ini belum ada. Sudah
pelaksanaan SP2TP di dilkasanakan dengan efektif, tapi ya nak namanya
Puskesmas Terjun? suatu program apalagi ditambah di puskesmas ini
Apakah kebijakan programnya banyak jadi sedikit banyaknya
tersebut telah walaupun sudah efektif akan tetapi masih ada
dilaksanakan dengan kurang lebihnya.
efektif, jika belum
bagaimana upaya bapak
agar kebijakan tersebut
mencapai keberhasilan?

Universitas Sumatera Utara


7. Harapan apa yang bapak Harapan saya lebih penting diutamakan dalam
harapkan utnuk program program SP2TP ini adalah sarana dan
SP2TP ini agar dalam prasaranananya lebih diperhatikan lagi oleh pihak
pengumpulan data hingga Dinas kesehatan Kota, yang mana harus dibuat
pelaporan data bulanan secara nasional dengan sisitem online, dan juga
mencapai keberhasilan diperhatikan sumber dayanya.
sesuai target?

Matriks 14 : Monitoring Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu (SP2TP)


Menurut Koordinator SP2TP di Dinas Kesehatan Kota Medan

No. Pertanyaan Informan 8


1. Siapakah yang Ibu Biasanya sih yang mengirimkan laporan bulanan
ketahui petugas itu kalau nggak salah koordinator SP2TP
Puskesmas Terjun yang Puskesmas Terjun itu sendiri, eh tapi kadang
bertugas untuk orangnya ganti- ganti nak, ya nggak tentu gitu
melaporkan laporan nak yang datang melaporkan laporan
bulanan SP2TP ke Dinas bulanannya.
Kesehatan Kota?
2. Bagaimana menurut Ibu Format yang dimiliki puskesmas sesuai dengan
mengenai format laporan yang diberikan oleh pusat dan setiap puskesmas
SP2TP yang dimiliki sama bentuk formatnya, dan itu masih manual
puskesmas selama artinya masih seperti bentuk berkas atau kertas
ini?apakah sudah sesuai biasa. Untuk buku panduan saya kurang tau nak,
dengan format yang saya aja baru dengar ni apa iya ada panduan
dibakukan serta apakah untuk SP2TP.
ada buku panduan yang
dimiliki tiap tiap
puskesmas?
3. Bagaimana menurut Ibu Lebih kurang sepengetahuan saya untuk
pencatatan laporan pencatatan dipuskesmas sejauh ini masih
bulanan di Puskesmas menggunakan format yang diberikan pusat ke
Terjun selama ini? puskesmas, dan pencatatannya masih dilakukan
dengan manual artinya dalam mencatat data
laporannya masih tulis tangan.
4. Bagaimana menurut Ibu Untuk pelaporannya sepengetahuan saya dari
mengenai pelaporan di setiap pengiriman laporan bulanan yang
Puskesmas Terjun? dikirimkan oleh pihak Puskesmas Terjun, mereka
mengirimkan laporannya hampir selalu lewat
dari waktu yang telah ditentukan sebelumnya
yaitu tanggal 10 bulan berikutnya paling lama,
namun kenyatannya mereka mengirimkan
laporan bulanannya tersebut terkadang sampai
tiga bulan telatnya.

Universitas Sumatera Utara


5. Setiap tanggal berapa Kalau untuk tanggal pelaporan bulanan setahu
laporan bulanan SP2TP saya tanggal 7 harusnya sudah sampai di Dinas
yang dilaporkan Kesehatan Kota dan paling lambat itu pun
puskesmas ke Dinas tanggal 10 bulan berikutnya, tapi untuk saat ini
Kesehatan Kota yang Ibu masih banyak puskesmas yang sering lewat
ketahui? Dan apa yang waktunya dalam mengirimkan laporan bulanan
Ibu lakukan jika pihak tersebut, namun dari sekian banyak puskesmas
puskesmas belum juga tercatat disini puskesmas terjun yang paling
mengirimkan laporan sering mengalami keterlambatan dalam
bulanan terkait SP2TP? pengiriman laporan bulanan tersebut, misal ya
nak lamanya itu sampai terkadang laporan untuk
bulan januari itu dilaporkan mereka dibulan
maret artinya sampai 2 atau 3 bulan lamanya
baru dikirim laporannya nak. Untuk saat ini saya
hanya cukup memberitahukannya via telepon
dan sms aja nak, kalau sudah masuk bulannya
dan belum mengirimkannya saya
memberitahukannya hanya dengan telpon aja dan
sms.
6. Menurut Ibu apakah data sepengetahuan saya Puskesmas Terjun dalam
yang dikirmkan pengiriman datanya setiap bulannya sudah
Puskesmas Terjun setiap lengkap, yaitu dengan mengirimkan data
bulannya sudah lengkap? LB1,LB3,LB4 setiap bulannya, akan tetapi LB2
itu langsung dikirimkan ke GFK farmasi di
Dinas Kesehatan Kota Medan.

7. Menurut Ibu apakah data sepengetahuan saya dek data yang dikirimkan
yang dikirimkan oleh puskesmas seharusnya data yang memang
puskesmas setiap benar-benar akurat, karna kan dek data yang
bulannya sudah data yang dikirimkan oleh pihak puskesmas itu sebagai
benar-benar akurat? bahan pertimbangan untuk membuat suatu
program lebih baik lagi, sehingga adanya feed
back dari Dinas Kesehatan Kota Medan ke
puskesmas, agar dapat diketahui masalah
kesehatan mana yang harus di perbaiki lagi,
supaya menghasilkan program kesehatan yang
lebih baik lagi.
8. Menurut Ibu apakah ada Sanksi belum ada nak, ya paling kalau mereka
sanksi yang diberikan melewati target waktu yang diberikan itu hanya
pihak Dinas Kesehatan menegurnya saja dengan mengingatkan agar
kota terhadap puskesmas tidak melakukan keterlambatan lagi dalam
yang terlambat dalam pengiriman laporan bulanan di bulan berikutnya.
pengirman laporan
bulanan?

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara