Makalah sp2tp
Makalah sp2tp
SP2TP/SP3
Disusun Oleh :
Rasa terima kasih yang terdalam kami hanturkan kepada semua pihak yang
telah ikut serta membantu penyusunan Makalah ini. Terlebih ucapan terima kasih
itu kami sampaikan kepada dosen pembimbing. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat, khususnya pada bidang pelajaran “ Sistem Informasi Kesehatan“.
Penyusun,
Kelompok 2
DAFTAR ISI
C. Tujuan Penulisan……………………………………………………………..2
BAB II................................................................................................................................. 3
PEMBAHASAN ................................................................................................................. 3
A. Pengertian SP2TP/SP3…………………………………………………….…3
B. Tujuan SP2TP…………………………………………………………….….5
C. Ruang Lingkup SP2TP………………………………………………….…...5
D. Pencatatan……………………………………………………………….…...5
E. Pelaporan……………………………………………………………….……7
F. Frekuensi
Pelaporan…………………………………………………………………………..8
G. Pengorganisasian
Puskesmas……………………………………………………………..8
H. Manfaat
SP2TP……………………………………………………………………………..….12
I. Mekanisme Sistem Pencatatan dan Pelaporan
Puskesmas……..………..12
J. Hambatan
SP2TP……………………………………………………………………………...13
B. Saran………………………………………………………………………..15
PENDAHULUAN
Pencatatan dan pelaporan adalah indikator keberhasilan suatu kegiatan. Tanpa ada
pencatatan dan pelaporan, kegiatan atau program apapun yang dilaksanakan tidak akan
terlihat wujudnya. Output dari pencatatan dan pelaporan ini adalah sebuah data dan
informasi yang berharga dan bernilai bila menggunakan metode yang tepat dan benar.
Jadi, data dan informasi merupakan sebuah unsur terpenting dalam sebuah organisasi,
karena data dan informasilah yang berbicara tentang keberhasilan atau perkembangan
organisasi tersebut.
Puskesmas merupakan ujung tombak sumber data kesehatan khususnya bagi dinas
kesehatan kota dan Sitem Pencatatan dan Pelaporan Terpadi Puskesmas juga merupakan
fondasi dari data kesehatan. Sehingga diharapakan terciptanya sebuah informasi yang
akurat, representatif dan reliable yang dapat dijadikan pedoman dalam penyusunan
perencanaan kesehatan. Setiap program akan menghasilkan data. Data yang dihasilkan
perlu dicatat, dianalisis dan dibuat laporan. Data yang disajikan adalah informasi tentang
pelaksanaan progam dan perkembangan masalah kesehatan masyarakat. Informasi yang
ada perlu dibahas, dikoordinasikan, diintegrasikan agar menjadi pengetahuan bagi semua
staf puskesmas. Pencatatan harian masing-masing progam Puskesmas dikombinasi
menjadi laporan terpadu puskesmas atau yang disbut dengan system pencatatan dan
pelaporan terpadu Puskesmas (SP2TP).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana system pencatatan dan pelaporan puskesmas ?
2. Bagaimana tujuan dari system pencatatan dan pelaporan puskesmas ?
3. Bagaimana ruang lingkup dari system pencatatan dan pelaporan puseksmas ?
4. Bagaimana pengorganisasian di puskesmas ?
5. Bagaimana mekanisme system pencatatan dan pelaporan puskesmas ?
6. Bagaimana frekuensi dan alur pelaporan sp2tp ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui system pencatatan dan pelaporan puskesmas.
2. Untuk mengetahui tujuan dari system pencatatan dan pelaporan puskesmas.
3. Untuk mengetahui ruang lingkup dari system pencatatan dan pelaporan
puseksmas.
4. Untuk mengetahui pengorganisasian di puskesmas.
5. Untuk mengetahui mekanisme system pencatatan dan pelaporan puskesmas.
6. Untuk mengetahui frekuensi dan alur pelaporan sp2tp.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian SP2TP/SP3
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) merupakan instrumen vital dalam
sistem kesehatan. Informasi tentang kesakitan, penggunaan pelayanan kesehatan di
puskesmas, kematian, dan berbagai informasi kesehatan lainnya berguna untuk
pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan di tingkat kabupaten atau kota maupun
kecamatan (Santoso, 2008).
Pencatatan dan pelaporan adalah indikator keberhasilan suatu kegiatan. Tanpa ada
pencatatan dan pelaporan, kegiatan atau program apapun yang dilaksanakan tidak akan
terlihat wujudnya. Output dari pencatatan dan pelaporan ini adalah sebuah data dan
informasi yang berharga dan bernilai bila menggunakan metode yang tepat dan benar.
Jadi, data dan informasi merupakan sebuah unsur terpenting dalam sebuah organisasi,
karena data dan informasilah yang berbicara tentang keberhasilan atau perkembangan
organisasi tersebut (Tiara, 2011).
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas mencakup 3 hal: (1) pencatatan, pelaporan,
dan pengolahan; (2) analisis; dan (3) pemanfaatan. Pencatatan hasil kegiatan oleh
pelaksana dicatat dalam buku-buku register yang berlaku untuk masing-masing program.
Data tersebut kemudian direkapitulasikan ke dalam format laporan SP3 yang sudah
dibukukan. Koordinator SP3 di puskesmas menerima laporan-laporan dalam format buku
tadi dalam 2 rangkap, yaitu satu untuk arsip dan yang lainnya untuk dikirim ke
koordinator SP3 di Dinas Kesehatan Kabupaten. Koordinator SP3 di Dinas Kesehatan
Kabupaten meneruskan ke masing-masing pengelola program di Dinas Keseh atan
Kabupaten. Dari Dinas Kesehatan Kabupaten, setelah diolah dan dianalisis dikirim ke
koordinator SP3 di Dinas Kesehatan Provinsi dan seterusnya dilanjutkan proses untuk
pemanfaatannya. Frekuensi pelaporan sebagai berikut: (1) bulanan; (2) tribulan; (3)
tahunan. Laporan bulanan mencakup data kesakitan, gizi, KI A, imunisasi, KB, dan
penggunaan obat-obat. Laporan tribulanan meliputi kegiatan puskesmas antara lain
kunjungan puskesmas, rawat tinggal, kegiatan rujukan puskesmas pelayanan medik
kesehatan gigi. Laporan tahunan terdiri dari data dasar yang meliputi fasilitas pendidikan,
kesehatan lingkungan, peran serta masyarakat dan lingkungan kedinasan, data ketenagaan
puskesmas dan puskesmas pembantu. Pengambilan keputusan di tingkat kabupaten dan
kecamatan memerlukan data yang dilaporkan dalam SP3 yang bernilai, yaitu data atau
informasi harus lengkap dan data tersebut harus diterima tepat waktu oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten, sehingga dapat dianalisis dan diinformasikan (Santoso, 2008).
Puskesmas merupakan ujung tombak sumber data kesehatan khususnya bagi dinas
kesehatan kota dan Sitem Pencatatan dan Pelaporan Terpadi Puskesmas juga merupakan
fondasi dari data kesehatan. Sehingga diharapakan terciptanya sebuah informasi yang
akurat, representatif dan reliable yang dapat dijadikan pedoman dalam penyusunan
perencanaan kesehatan. Setiap program akan menghasilkan data. Data yang dihasilkan
perlu dicatat, dianalisis dan dibuat laporan. Data yang disajikan adalah informasi tentang
pelaksanaan progam dan perkembangan masalah kesehatan masyarakat. Informasi yang
ada perlu dibahas, dikoordinasikan, diintegrasikan agar menjadi pengetahuan bagi semua
staf puskesmas. Pencatatan harian masing-masing progam Puskesmas dikombinasi
menjadi laporan terpadu puskesmas atau yang disbut dengan system pencatatan dan
pelaporan terpadu Puskesmas (SP2TP) (Tiara, 2011).
SP2TP adalah kegiatan pencatatan dan pelaporan data umum, sarana, tenaga dan
upaya pelayanan kesehatan di Puskesmas yang telah disederhanakan sesuai dengan
keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat nomor
590/BM/DJ/Info/V/96 tentang penyederhanaan SP2TP (Modul pedoman
pelaksanaan SP2TP).
SP2TP adalah kegiatan pencatatan dan pelaporan data umum, sarana, tenaga dan upaya
pelayanan kesehatan di Puskesmas yang bertujuan agar didapatnya semua data hasil
kegiatan Puskesmas (termasuk Puskesmas dengan tempat tidur, Puskesmas Pembantu,
Puskesmas keliling, bidan di Desa dan Posyandu) dan data yang berkaitan, serta
dilaporkannya data tersebut kepada jenjang administrasi diatasnya sesuai kebutuhan
secara benar, berkala dan teratur, guna menunjang pengelolaan upaya kesehatan
masyarakat (Ahmad, 2005).
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas adalah kegiatan pencatatan dan
pelaporan data umum, sarana, tenaga dan upaya pelayanan kesehatan di Puskesmas yang
ditetapkan melalui SK MENKES/SK/II/1981. Data SP2PT berupa Umum dan demografi,
Ketenagaan, Sarana, Kegiatan pokok Puskesmas. Menurut Yusran (2008) Sistem
Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) merupakan kegiatan pencatatan
dan pelaporan puskesmas secara menyeluruh (terpadu) dengan konsep wilayah kerja
puskesmas. Sistem pelaporan ini ini diharapkan mampu memberikan informasi baik bagi
puskesmas maupun untuk jenjang administrasi yang lebih tinggi, guna mendukung
manajemen kesehatan (Tiara, 2011).
Tujuan umum
a. Meningkatkan kualitas manajemen Puskesmas secara berhasil guna dan berdaya
guna melalui pemanfaatan secara optimal data SP2TP dan infomasi lain yang
menunjang.
Tujuan khusus
a. Sebagai dasar penyusunan perencaaan tingkat Puskesmas.
b. Sebagai dasar penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan pokok Puskesmas
(lokakarya mini).
C. RUANG LINGKUP
Pelaksanaan SP2TP menganut konsep wilayah kerja Puskesmas. Oleh karena itu
mencakup semua kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas. Jenis data yang dikumpulkan
dan dicatat dalam SP2TP adalah seluruh kegiatan di Puskesmas yang meliputi data:
D. PENCATATAN
Kegiatan pokok Puskesmas baik yang dilakukan di dalam gedung (semua data yang
diperoleh dari pencatatan kegiatan harian program yang dilakukan dalam gedung
Puskesmas seperti tekanan darah, laboratorium, KB, dan lain-lain) maupun di luar gedung
Puskesmas (data yang dibuat berdasarkan catatan harian yang dilaksanakan di luar
gedung Puskesmas, seperti kegiatan posyandu, UKS dan lain-lain), Puskesmas tempat
tidur dan Puskesmas Pembantu serta Bidan di desa, harus dicatat. Dengan demikian perlu
adanya mekanisme pencatatan yang baik, formulir yang cukup serta cara pengisian yang
benar dan teliti (Modul pedoman pelaksanaan SP2TP). Jenis formulir tersebut sebagai
berikut (Barsasella, 2012):
-Rekam Kesehatan Keluarga (RKK)/Family Folder, Merupakan himpunan kartu-kartu
individu suatu keluarga yang memperoleh pelayanan kesehatan di Puskesmas.
-Kartu rawat jalan/kartu Rekam Medik Pasien merupakan alat untuk mencatat identitas
pasien dan status pasien rawat jalan yang berkunjung ke Puskesmas.
-Kartu Indeks Penyakit, Alat bantu untuk mencatat identitas pasien riwayat dan
perkembangan penyakit, khusus penderita penyakit TB Paru dan Kusta.
-Kartu Ibu, Merupakan alat bantu untuk mengetahui identitas, status kesehatan, dan
riwayat kehamilan sampai kelahiran.
-Kartu anak, Adalah alat bantu untuk mencatat identitas, status kesehatan, pelayanan
preventif ,promotif-kuratif-rehabilitatif yang diberikan kepada balita dan anak pra
sekolah.
-KMS balita, anak sekolah, Alat bantu untuk mencatat identitas, pelayanan dan
pertumbuhan yang telah diperoleh balita dan anak sekolah.
-KMS ibu hamil, Alat untuk mengetahui dan mencatat perkembangan kesehatan ibu
hamil dan pelayanan kesehatan yang diterima ibu hamil.
-KMS usia lanjut, Alat untuk mencatat kesehatan usia lanjut secara pribadi di balik fisik
maupun psikososial dan digunakan untuk memantau kesehatan, deteksi dini penyakit dan
evaluasi kemajuan kesehaan usia lanjut.
-Register, Merupakan formulir untuk mencatat atau merekap data kegiatan di dalam dan
di luar gedung puskesmas yang telah di catat di kartu dan catatan lainnya.
Ada beberapa jenis register sebagai berikut :
Pelaporan terpadu Puskesmas menggunakan tahun kalender yaitu dari bulan Januari
sampai dengan Desember dalam tahun yang sama. Sesuai dengan keputusan
Direktur Jendral Pembinaan Kesehatan Masyarakat nomor 590/BM/DJ/Info/V/96
diberlakukan formulir laporan yang baru. Sedangkan untuk kebutuhan Dati II dan
Dati I diberikan kesempatan pengembangan variabel laporan sesuai dengan
kebutuhan dengan memperhatikan kemampuan/beban kerja petugas di Puskesmas.
Adapun Laporan dari Puskesmas ke Dati II adalah sebagai berikut:
1. Laporan bulanan
-LB 1 (data kesakitan)
-LB 2 (data obat-obatan
-LB 3 (data gizi, KIA, pengamatan penyakit menular)
-LB 4 (data kegiatan puskesmas)
2. Laporan sentinel
-Data dasar Puskesmas (LT 1)
-Data kepegawaian (LT 2)
-Data peralatan (LT 3)
4. Laporan tahunan
-Hasil entri data/rekapitulasi laporan LT 1
1) Laporan Triwulan
-Hasil entri data/rekapitulasi
laporan LB 1
-Hasil entri data/rekapitulasi
laporan LB 2
-Hasil entri data/rekapitulasi
laporan LB 3
-Hasil entri data/rekapitulasi
laporan LB 4
2) Laporan tahunan
-Hasil entri data/rekapitulasi
laporan LT 1
-Hasil entri data/rekapitulasi
laporan LT 2
-Hasil entri data/rekapitulasi
laporan LT 3
3) Laporan kejadian luar biasa (KLB) dan wabah
Laporan ini mengacu pada petunjuk laporan KLB dan wabah serta keputusan
direktur jendral PPM dan PLP nomor 451-I/PD.03.04.IS/1991 tentang pedoman
penanggulangan KLB
F. FREKUENSI PELAPORAN
G. PENGORGANISASIAN PUSKESMAS
Pengorganisasian tingkat Puskesmas didefinisikan sebagai proses penetapan pekerjaan-
pekerjaan pokok untuk dikerjakan, pengelompokan pekerjaan, pendistribusian
otoritas/wewenang dan pengintegrasian semua tugastugas dan sumber-sumber daya untuk
mencapai tujuan Puskesmas secara efektif dan efisien. Secara aplikatif pengorganisasian
tingkat Puskesmas menurut penulis adalah pengaturan pegawai Puskesmas dengan
mengisi struktur organisasi dan tata kerja (SOTK) Puskesmas yang ditetapkan oleh
Peraturan Daerah Kabupaten/Kota disertai dengan pembagian tugas dan tanggung jawab
serta uraian tugas pokok dan fungsi (Tupoksi), serta pengaturan dan pengintegrasian
tugas dan sumber daya Puskesmas untuk melaksanakan kegiatan dan program Puskesmas
dalam rangka mencapai tujuan Puskesmas. Berdasarkan definisi tersebut, fungsi
pengorganisasian Puskesmas merupakan alat untuk memadukan (sinkronisasi) dan
mengatur semua kegiatan yang dihubungkan dengan personil/pegawai, finansial, material,
dan metode Puskesmas untuk mencapai tujuan Puskesmas yang telah disepakati bersama
antara pimpinan dan pegawai Puskesmas. Pengorganisasian Puskesmas meliputi hal-hal
berikut (Sulaeman, 2009):
4) Cara pimpinan Puskesmas membagi tugas yang harus dilaksanakan dalam unit kerja
dan mendelegasikan wewenang untuk mengerjakan tugas tersebut.
a) Penggalangan kerjasama dalam bentuk dua pihak, yakni antara dua sektor terkait,
misalnya antara puskesmas dengan sektor tenaga kerja pada waktu
menyelenggarakan upaya kesehatan kerja.
b) Penggalangan kerjasama dalam bentuk banyak pihak, yakni antar berbagai sektor
terkait, misalnya antara puskesmas dengan sektor pendidikan, sektor agama,
sektor kecamatan pada waktu menyelenggarakan upaya kesehatan sekolah.
Ada 2 (dua) hal yang perlu pengorganisasian tingkat Puskesmas, yakni: (1)
Pengaturan berbagai kegiatan yang ada di dalam RO (Rancangan Operasional)
Puskesmas, sehingga membentuk satu kesatuan program yang terpadu dan sinergi untuk
mencapai tujuan Puskesmas, dan (2) Pengorganisasian pegawai Puskesmas, yaitu
pengaturan tugas dan tanggung jawab setiap pegawai Puskesmas, sehingga setiap
kegiatan dan program mempunyai penanggung jawabnya. Dengan memahami fungsi
pengorganisasian Puskesmas akan lebih memudahkan mempelajari fungsi penggerakan
dan pelaksanaan (actuating/aktuasi) dan akan diketahui gambaran pembimbingan dan
pengarahan yang diperlukan oleh pegawai Puskesmas sesuai dengan pembagian tugas dan
tanggung jawab (Sulaeman, 2009).
Tugas penanggung jawab adalah memberikan bimbingan kepada koordinator SP2TP dan
para pelaksana kegiatan di Puskesmas.
2) Bersama dengan para pelaksana kegiatan membuat laporan bulanan SP2TP dan
mengirimkan laporan tersebut ke DInas Kesehatan Dati II paling lambat tanggal 10 bulan
berikutnya.
3) Bersama dengan para pelaksana kegiatan membuat laporan tahunan SP2TP dan
mengirimkan laporan tersebut ke Dinas Dati II paling lambat 31 Januari tahun berikutnya.
1) Mencatat setiap kegiatan pada kartu individu dan register yang ada.
3) Melakukan rekapitulasi data dari hasil pencatatan dan laporan Puskesmas Pembantu
serta Bidan di Desa menjadi laporan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. Hasil
dari rekapitulasi ini merupakan bahan untuk mengisi/membuat laporan SP2TP.
5) Mengolah dan memanfaatkan data hasil rekapitulasi untuk tindak lanjut yang
diperlukan dalam rangka meningkatkan kinerja kegiatan yang menjadi tanggung
jawabnya.
6) Bertanggung jawab atas kebenaran isi laporan kegiatannya.
2. KIA = Kunjungan Neonatal ke-2 (N2); K-1; K-4; jumlah bumil yang risti; jumlah
persalinan oleh dukun; jumlah bayi BBLR <2500 gram; dll
4. P2M = Imunisasi (bayi, bumil); DBD (abatisasi selektif, ABJ); Kusta (jumlah
penderita); ISPA (Penumonia)
8. Kesehatan Lingkungan
Kunjungan Pasien
Kunjungan seseorang ke Puskesmas, Pustu, baik untuk mendapatkan yankes atau sekedar
cari surat keterangan sehat/ sakit 2 kategori :
a. Kunjungan Baru = seorang pertama kali datang ke Puskesmas/ Pustu dapatkan yankes,
dicatat hanya 1 kali seumur hidup
b. Kunjungan Lama = seorang yang datang ke puskesmas/ pustu dan seterusnya untuk
dapatkan yankes
Kategori lain :
- Kunjungan Ibu Hamil : setiap kehamilan dianggap kunjungan baru, pada kunjungan
kedua dst untuk pemeriksaan = kunjungan lama tidak ditentukan oleh periode,
diberlakukan ‘Episode of Illness’
- Kunjungan ibu menyusui, termasuk ibu yang abortus, selama periode 2 tahun dihitung =
kunjungan baru
- Kunjungan balita setiap tahun (setelah ulang tahun) sebagai kunjungan baru. Untuk
kunjungan kedua dst dari tahun yang bersangkutan = kunjungan lama
Kasus di Puskesmas
1. Kasus Baru : NEW EPISODE OF ILLNESS = pernyataan pertama kali seseorang
menderita penyakit tertentu sebagai hasil diagnosis dokter/ tenaga para medis
2. Kasus Lama = kunjungan ke-2 dari kasus baru yang dinyatakan belum sembuh,
untuk kunjungan selanjutnya dari kasus lama (periode/ tahun sama) selama belum
sembuh kunjungan kasus lama
Khusus penderita kusta hanya dikenal kasus baru = saat pertama kali penemuannya,
kunjungan ke-2 dst dihitung sebagai kasus lama dan kunjungan kasus lama
H. MANFAAT SP2TP
1. Jenis register yang dipakai oleh pelaksana program untuk pencatatan hasil
kegiatan registrasi yang berlaku sesuai ketentuan dan kebutuhan program
dalam pemantauan dan evaluasi
2. Data yang diterima masing-masing pelaksana kegiatan :
- Puskesmas (dalam maupun luar gedung);
- BP, BKIA swasta
- petugas
- W1 dan W2 (KLB)
dicatat dalam buku register masing-masing program
3. Masing-masing pelaksana program merekapitulasi data ke lembar transformasi dan
dipindahkan ke format laporan SP3 standard
4. Rekapitulasi bentuk laporan dikirim :
- koordinator SP3 2 lembar dan rangkap 2:
arsip dan dikirim ke koordinator SP3 Dati II
- masing-masing pengelola program terkait di Dati II
5. Pengolahan di Pemerintah Daerah (Dati II dan Dati I) :
- pengolahan data dari hasil laporan tingkat Puskesmas dilakukan Dati II dan hasil
entry data dikirimkan ke Koordinator SP3 Dati I
- pengolahan data dari hasil laporan tingkat Dati II dan untuk pengelola program
mengolah data sesuai kebutuhan masing-masing program
J. HAMBATAN SP2TP
b. Berdasar perkiraan dokter puskesmas, kegiatan PP menyita hampir 50 persen dari jam
kerja efektif khususnya yang rnempunyai beban kerja tinggi seperti bidan desa karena
sumber data berasal dari masing-masing wilayah desa.
d. Pengelompokan umur tidak sama antara formulir satu dengan yang lain sehingga
menyulitkan dan menambah pekerjaan.
e. Laporan dan administrasi JPS-BK terialu rumit, laporan harus dipilahpilah untuk setiap
program, ditambah lagi jumlah kunjungan pasien yang memanfaatklan program JPS-BK
yang meningkat.
f. Kegiatan pelaporan pada akhir bulan sering mengganggu tugas pokok puskesmas.
g. Keterbatasan sarana berupa formulir, komputerl mesin ketik, serta sarana transportasi
berupa kendaraan ataupun biaya bensin untuk melaksanakan kegiatan ke masyarakat.
i. Pengisian ICD untuk diagnosa penyakit seringkali tidak tepat oleh karena dalam
pencatatan pada kartu status pasien pada umumnya petugas hanya mengisikan gejala atau
keluhan.
l. Kurang umpan balik dari tingkat atas (Dinas Kesehatan tingkat 11).
m. SDM untuk analisis data kurang sehingga pemanfaatan data di tingkat puskesmas
kurang.
o. Laporan bulanan PKL tidak sama dengan LB4 kesing (SP2TP) sehingga pencatatan
yang dibuat juga harus berbeda.
p. Untuk membuat laporan tahunan tidak cukup dengan melihat data kegiatan yang telah
dicatat tapi hams melihat dari instansi lain.
PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN
Penulis menyadari terdapat banyak kekurangan dalam makalah ini,untuk itu penulis
mengharapkan kritik maupun saran dari pembaca. Demi kesempurnaan makalah ini
selanjutnya
DAFTAR PUSTAKA