Anda di halaman 1dari 12

KIMIA ANORGANIK III TUGAS KELOMPOK

MAKALAH KIMIA ANORGANIK III


(REAKSI EFEK TRANS)

DOSEN PEMBIMBING :
HALIDA SOPHIA, M.Si
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 5 : ARINA NADENGGAN SIDAURUK ( 1503112213)
RAHMA DANI HARAHAP ( 1503113300 )
DITA YOLANDA ( 1503110334 )
NOVI INDRIYANI ( 103112424 )

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2017
KIMIA ANORGANIK III TUGAS KELOMPOK

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
berkat-Nya, sehingga dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Reaksi
Efek Trans”. Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini merupakan sebagai tugas
kelompok pada mata kuliah Kimia Anorganik III .

Akhirnya dengan segala kerendahan hati izinkanlah penulis untuk menyampaikan


terima kasih kepada ibu Halida Sophia, M.Si. selaku dosen pembimbing mata kuliah
Kimia Anorganik III.

Sebagai harapan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat serta menambah
pengetahuan tidak hanya bagi penulis tetapi juga bagi semua pihak. Oleh sebab itu kritik
dan saran yang bersifat membangun, sangat penulis harapkan demi kemajuan kita
bersama dalam meningkatkan kualitas diri.

Pekanbaru, 26 September 2017

Penyusun
KIMIA ANORGANIK III TUGAS KELOMPOK

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Senyawa kompleks merupakan senyawa yang tersusun dari suatu ion logam pusat
dengan satu atau lebih ligan yang menyumbangkan pasangan elektron bebasnya kepada
ion logam pusat. Donasi pasangan elektron ligan kepada ion logam pusat menghasilkan
ikatan kovalen koordinasi sehingga senyawa kompleks juga disebut senyawa koordinasi.
Jadi semua senyawa kompleks atau senyawa koordinasi adalah senyawa yang terjadi
karena adanya ikatan kovalen koordinasi antara logam transisi dengan satu atau lebih
ligan.
Senyawa kompleks dapat mengalami reaksi substitusi. Reaksi substitusi adalah
reaksi di mana 1 atau lebih ligan dalam suatu kompleks digantikan oleh ligan lain. Karena
ligan memiliki pasangan elektron bebas sehingga bersifat nukleofilik (menyukai inti
atom), maka reaksi tersebut juga dikenal sebagai reaksi substitusi nukeofilik (SN).
Berdasarkan mekanisme reaksinya, reaksi substitusi dapat dibagi menjasi SN1 (substitusi
nukleofilik orde-1 ) dan SN2 (substitusi nukleofilik orde-2). Pada reaksi substitusi
terdapat faktor istimewa yang dikenal dengan efek trans. Hal inilah yang akan dibahas
dalam makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah


1. Berapa pembagian reaksi subsitusi pada senyawa kompleks ?
2. Apa yang dimaksud dengan efek trans pada subsitusi senyawa kompleks ?
3. Apa yang dimaksud dengan kekuatan efek trans?
4. Apa yang dimaksud dengan pengamatan gejala efek trans?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui pembagian reaksi subsitusi pada senyawa kompleks.
2. Mempelajari efek trans pada subsitusi senyawa kompleks.
3. Mengetahui kekuatan efek trans.
4. Mengetahui pengamatan gejala efek trans.

BAB II
PEMBAHASAN
KIMIA ANORGANIK III TUGAS KELOMPOK

2.1 Pembagian Reaksi Substitusi pada Senyawa Kompleks


Reaksi substitusi adalah reaksi di mana 1 atau lebih ligan dalam suatu kompleks
digantikan oleh ligan lain. Karena ligan memiliki pasangan elektron bebas sehingga
bersifat nukleofilik (menyukai inti atom), maka reaksi tersebut juga dikenal sebagai
reaksi substitusi nukeofilik (SN).
Berdasarkan mekanismenya reaksi substitusi dapat dibedakan menjadi :
1. SN1: substitusi nukleofilik orde-1
Mekanisme reaksi diawali dengan pemutusan salah satu ligan, ini berlangsung
lambat sehingga merupakan tahap penentu reaksi (rate determining step). Dengan
demikian konstanta laju reaksi (k) hanya dipengaruhi oleh jenis kompleks dan sama
sekali tidak dipengaruhi oleh jenis ligan pengganti. Mekanisme SN1 dimana terjadi
kompleks terdisosiasi, melepaskan ligan yang akan digantikan, kekosongan dalam kulit
koordinasi, lalu diisi oleh ligan yang baru. Jalur tersebut dapat dinyatakan sebagai
beriku :

[L5MX]n+ lambat X- + [L5M](n+1) + +Y- [L5MY]n+ ....(2.1)


Cepat
Intermediet terkoordinasi lima

Hal yang penting disini ialah bahwa tahap pertama dimana X - dilepaskan,
berlangsung relatif lambat, jadi menentukan laju berlangsungnya proses total. Dengan
perkataan lain, sekali kompleks antara terbentuk, yang hanya terkoordinasi 5, akan segera
bereaksi dengan ligan baru Y-. Hukum laju bagi proses seperti itu adalah

V = k [L5MX] ..............................................(2.2)

Bila mekanisme ini beroperasi, maka laju reaksi yang diperlukan berbanding
langsung dengan konsentrasi [L5MX]n+ tetapi tidak bergantung kepada konsentrasi ligan
baru, Y-. Lambang SN1 mempunyai arti subsitusi, nukleofilik, unimolekular. Contoh dari
reaksi ini adalah :

[Co(CN-)5(H2O)]2- → [Co(CN-)5]2- + H2O ( Reaksi lambat ) ..............(2.3)


KIMIA ANORGANIK III TUGAS KELOMPOK

[Co(CN-)5]2- + Y- → [Co(CN-)5(Y-)]2- ( Reaksi cepat ) ................(2.4)

Hal ini dapat terjadi karena harga nilai k dari H 2O lebih kecil dari pada ligan
yang lain sehingga reaksi dapat berjalan dengan lambat.

2. SN2 : substitusi nukleofilik orde-2

Pada tahap penentu laju reaksi terjadi pemutusan maupun pembentukan ikatan.
Pada saat ikatan antara ion pusat dengan ligan terganti baru mulai melemah sudah terjadi
pembentukan ikatan yang sudah hampir sempurna antara ion pusat dengan ligan
pengganti. Dengan demikian tahap penentu utama laju reaksi adalah pembentukan ikatan
antara ion pusat dengan ligan pengganti dan hanya sedikit dipengaruhi oleh pemutusan
ikatan antara ion pusat dengan ligan terganti.

Mekanisme SN2 , dalam hal ini ligan baru menyerang kompleks asli secara
langsung membentuk kompleks teraktifkan berkoordinasi 7, yang kemudian melepaskan
ligan yang ditukar, seperti ditunjukkan dalam skema berikut :

Gambar 2.1 Skema Mekanisme SN2.

Jika mekanisme ini beroperasi, laju reaksi akan sebanding dengan konsentrasi
[L5MX]n+ kali konsentrasi Y- , hukum laju akan menjadi :

V = k[L5MX][Y-] .......................................................................(2.5)

Lambang SN2 menyatakan subsitusi, nukleofilik, bimolekuler. Hukum laju kedua


reaksi subsitusi tidak membuktikan bahwa reaksi yang berlangsung menurut mekanisme
SN1 dan SN2, walaupun hanya mendekati.
KIMIA ANORGANIK III TUGAS KELOMPOK

2.2 Efek Trans pada Reaksi Substitusi Senyawa Kompleks

Pada tahun 1893, Alfred Werner berhasil mensintesis dua senyawa kompleks
dengan komposisi yang sama yaitu PtCl 2(NH3)2. Keduanya adalah molekul netral, tetapi
berbeda dalam hal warna dan kelarutannya. Pertama, α berwarna oranye-kuning,
dipreparasi dari reaksi ion tetrakloridoplatinat(II) dengan amonia, dan yang kedua β
berwarna kuning belerang, dipreparasi dari reaksi ion klorida dengan kation
diaminaplatina(II), menurut persamaan reaksi:

Keduanya tentu merupakan bentuk isomer dari geometri koordinasi empat, dan ini
tentulah bukan geometri tetrahendron yang tidak mempunyai isomer melainkan suatu
geometri bujur sangkar dengan kemungkinan isomer cis dan trans.

Mekanisme substitusi senyawa kompleks bujursangkar yang kemudian dikenal


dengan istilah efek trans, dipelajari secara lebih mendalam oleh Chernuyeav (1926). Efek
trans menunjuk pada efek yang sangat signifikan dari ligan nonlabil pada kelabilan ligan-
ligan trans terhadap dirinya sendiri. Dari contoh tersebut merupakan substitusi menurut
diagram mekanisme yaitu (1) substitusi ligan Cl¯ dalam [PtCl 4]2- oleh ligan NH3, dan (2)
substitusi ligan NH3 dalam [Pt(NH3)4]2+ oleh ligan Cl¯.

Substitusi pertama pada kedua persamaan reaksi tersebut berupa penggantian


salah satu ligan Cl¯ atau NH3 dan tentu saja hanya memberikan satu kemungkinan hasil.
Akan tetapi substitusi kedu akan memberikan dua kemungkinan hasil pada keduanya
yaitu bentuk cis dan trans. Namun, kenyatannya, reaksi (1) hanya efektif menghasilkan
bentuk cis saja sedangkan rekasi (2) hanya efektif menghasilkan bentuk trans saja.
Dengan demikian hasil isomer yang stabil adalah isomer yang dibentuk secara substitusi
pada posisi trans terhadap ligan Cl¯yang kemudian dikenal dengan efek trans. Oleh
karena itu, efek trans dapat dipandang sebagai kecendrungan ligan melabilkan posisi
trans terhadap dirinya sendiri.
KIMIA ANORGANIK III TUGAS KELOMPOK

Gambar 2.2 Mekanisme efek trans pada sintesis [PtCl2(NH3)2]

Hasil tersebut dapat dipikirkan bahwa substitusi tahap pertama oleh NH3 pada reaksi (1)
mengakibatkan ikatan Cl-Pt- pada posisi Cl-Pt- NH 3 lebih kuat daripada ikatan Cl-Pt-Cl,
sehingga subtitusi lanjut oleh NH3 akan memilih posisi yang lebih lemah yaitu dengan
hasil bentuk cis. Demikian juga sebaliknya pada reaksi (2); substitusi pertama oleh ligan
Cl mengakibatkan ikatan -Pt- NH3 pada posisi Cl-Pt- NH3 lebih lemah daripada ikatan
H3N-Pt- NH3, sehingga subtitusi lanjut akan menghasilkan isomer trans.

2.3 Kekuatan Efek Trans

Urutan kekuatan efek trans, misalnya untuk ligan Cl-, NH3, dan NO2-, ditunjukkan
oleh reaksinya ligan-ligan ini dengan [PtCl4]2- dengan urutan reaksi yang berbeda.
Ternyata hasilnya adalah senyawa kompleks trans jika mengikuti urutan (1), tetapi cis
jika mnegikuti urutan reaksi (2) sebagaimana ditunjukkan diagram Gambar
KIMIA ANORGANIK III TUGAS KELOMPOK

Gambar 2.3 Mekanisme efek trans pada reaksi [PtCl4]2- dengan NH3dan NO2

Oleh karena itu, dapat disusun diagram reaksi secara umum yang menghasilkan
seri ligan berdasarkan kekuatan pengarah trans sebagaimana ditunjukkan Gambar

Gambar 2.4 Diagram efek trans pada reaksi [PtCl2AB] dengan NH3
Urutan kira-kira dari pengaruh trans yang makin naik adalah

H2O, OH-, NH3 < Cl-, Br- < SCN-, I- ,NO2-


C6H5- < SC(NH2)2, CH- < H-, PR3 < C2H4, CN- , CO
Deret efek trans terbukti sangat berguna untuk menerangkan prosedur sintetik
yang telah dikenalkan dan mencari prosedur sintetik yang berguna. Sebagai contoh
ditinjau sintetis isomer cis dan trans dari [Pt(NH3)2Cl2]. Sintetis isomer cis dicapai
dengan mereaksikan ion [PtCl4]2- dengan amonia. Karena Cl- mempunyai pengaruh
KIMIA ANORGANIK III TUGAS KELOMPOK

mengarahkan trans lebih besar dari pada NH3, susitusi NH3 kedalam [Pt(NH3)Cl3]- kurang
layak terjadi pada posisi trans terhadap NH3 yang sudah ada, sehingga isomer cis lebih
disukai.

Pemilhan bentuk trans tersebut sesungguhnya dikaitkan dengan waktu laju reaksi
substitusi, dan menurut Langford dan Gray, untuk rekasi umum:

[PtCl3L]n- + Y- → [PtCl2YL]m- + Cl- ....................................(2.6)

ligan L tertentu menyebabkan hasil senyawa kompleks trans terbentuk lebih cepat
daripada kompleks cis; dengan demikian, hasil akhir didominasi oleh kuantitas kompleks
trans. Urutan L tersebut adalah:

2.4 Pengamatan Gejala Efek Trans

Pengamatan gejala efet trans dipelajari melalui dua macam teori, yang paling
utama adalah teori polarisasi elektristatik yang dikembangkan oleh A.A Grinberg (1927)

dan teori ikatan- yang dikembangkan oleh J. Chatt (1955) dan L.E. Orgel (1956).

Menurut teori polarisasi, jika T adalah gugus pengarah trans, maka dalam kompleks
[MX3T] gugus T bersifat lebih negatif atau lebih mudah terpolarisasi daripada ligan lain
sehingga ikatan kimia M-X menjasi lemah.

Seperti ditunjunkkan Gambar dalam [MX4] (a) muatan positif atom pusat M
terdistribusi merata sehingga tidak ada efek trans karena semua ligan X sama; ingat
bahwa ligan adalah donor pasangan elektron, sehingga kutub negatif ligan X selalu
KIMIA ANORGANIK III TUGAS KELOMPOK

mengarah kepada atom pusat M. Tetapi dalam [MX 3T] (b), sifat polarisasi T yang elbih
kuat menyebabkan atom pusat M terpolarisasi sedemikian sehingga muatan positif atom
pusat lebih terkonsentrasi pada arah ligan T dan akibatnya melemahkan atau melabilkan
ikatan trans M-X pada posisi M-X-T. Dengan demikian, urutan kenaikan efek trans dapat
dikaitkan dengan semakin kuatnya sifat polarisasi atau semakin menurutnya
elektronegativitas ligan T.

Gambar 2.5 Diagram model teori polarisasi pada efek trans

Menurut teori ikatan- , kenaikan urutan efek trans secara garis besar paralel

dengan urutan kenikan kapasitas ikatan M-L( ) dari ligan. Gugus pengarah trans T ini

menyediakan orbital -kosong ang diisi elektron dari atom pusat sehingga rapatan

elektron pada daerah trans-M-X menjadi melemah dan akibatnya memungkinkan


masuknya ligan baru Y.

BAB III
KESIMPULAN
Senyawa kompleks merupakan senyawa yang tersusun dari suatu ion logam pusat
dengan satu atau lebih ligan yang menyumbangkan pasangan elektron bebasnya kepada
KIMIA ANORGANIK III TUGAS KELOMPOK

ion logam pusat. Senyawa kompleks dapat mengalami reaksi substitusi. Reaksi substitusi
adalah reaksi di mana 1 atau lebih ligan dalam suatu kompleks digantikan oleh ligan lain.
Karena ligan memiliki pasangan elektron bebas sehingga bersifat nukleofilik (menyukai
inti atom), maka reaksi tersebut juga dikenal sebagai reaksi substitusi nukeofilik (SN).
Efek trans menunjuk pada efek yang sangat signifikan dari ligan nonlabil pada kelabilan
ligan-ligan trans terhadap dirinya sendiri. Dari contoh tersebut merupakan substitusi
menurut diagram mekanisme yaitu (1) substitusi ligan Cl¯ dalam [PtCl4]2- oleh ligan NH3,
dan (2) substitusi ligan NH3 dalam [Pt(NH3)4]2+ oleh ligan Cl¯.
KIMIA ANORGANIK III TUGAS KELOMPOK

DAFTAR PUSTAKA

Sugiyarto, K. H. 2012. Dasar-Dasar Kimia Anorganik Transisi . Graha Ilmu, Yogyakarta