Anda di halaman 1dari 22

MIKROMERITIK

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kita telah mengetahui bahwa di dalam bidang ke farmasian, kita
berkecimpung dalam dunia pengobatan. Dalam dunia pengobatan kita
mengenal beberapa bentuk sediaan-sedian obat. Diantara sediaan
obat tersebut ada yang berupa seperti sediaan padat, semi padat
maupun cair. Serbuk adalah salah satu bentuk sediaan padat yang
mempunyai ukuran partikel yang patut sangat kita ketahui seorang
farmasis.
Mikromeritik merupakan ilmu yang mempelajari tentang ilmu dan
teknologi partikel kecil. Pengetahuan dan pengendalian ukuran, serta
kisaran ukuran partikel sangat penting dalam bidang farmasi.Dari segi
kestabilan fisik, dan respon farmakologis, bergantung pada ukuran
partikel yang dicapai dari produk itu. Dalam bidang pembuatan tablet
dan kapsul, pengendalian ukuran partikel sangat penting sekali dalam
mencapai sifat aliran yang diperlukan dan pencampuran yang benar
dari granul dan serbuk.
Ukuran partikel tidak hanya mempengaruhi luas permukaan suatu
sediaan obat, yang secara langsung mempengaruhi cepat atau
lambatnya absorbsi obat dan membantu daya larut suatu bahan obat
tapi juga dapat mempengaruhi aktivitas biologik dan efek terapinya.
Mengingat pentingnya mikromeritik dalam bidang farmasi, maka
sudah sewajarnya jika mahasiswa farmasi memahami mengenai
mikromeritik ini, termasuk cara-cara dalam melakukan pengukuran
ukuran partikel suatu zat. Banyak metode yang digunakan dalam
menentukan ukuran partikel suatu bahan yaitu metode mikroskopik,
metode ayakan dan cara sedimentasi.

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

Namun, dalam percobaan ini yang digunakan adalah metode


ayakan karena metode ini lebih sederhana, mudah dan murah serta
waktunya relatif cepat.
B. MAKSUD
Untuk mengetahui cara pengukuran partikel dengan metode
mikroskopi dan pengayakan (shieving), untuk melakukan pengukuran
kerapatan ruahan dan mampat, untuk melakukan pengukuran sudut
diam dan daya alir, untuk menentukan indeks kompresibilitas dan
perbandingan hausner, untuk menentukan berat jenis cairan.
C. TUJUAN
1. Melakukan pengukuran partikel dengan metode mikroskopi dan
pengayakan (shieving).
2. Melakukan pengukuran kerapatan ruahan dan mampat.
3. Melakukan pengukuran sudut diam dan daya alir.
4. Menentukan indeks kompresibilitas dan perbandingan hausner.
5. Menentukan berat jenis cairan.

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. LANDASAN TEORI
Mikromeritik biasanya diartikan sebagai ilmu dan teknologi
tentang partikel yang kecil. Ukuran partikel dapat dinyatakan
dengan berbagai cara. Ukuran diameter rata-rata, ukuran luas
permukaan rata-rata, volume rata-rata dan sebagainya. Pengertian
ukuran partikel adalah ukuran diameter rata-rata (Martin, 1990).
Melalui beberapa tahap perjalanannya di mulai dari fase
farmakokinetik, khususnya pada proses disolusi atau pelepasan
obat dari bentuk sediaan dan pada proses absorbsi dari obat itu
sendiri, fase farmakodinamik dan fase biofarmasi. Maka dari itu
diperlukan ilmu yang mempelajari tentang ukuran partikel itu
sendiri, ilmu tersebut dinamakan mikromeritik oleh Dalla Valle.
Dalam mikromeritik, metode yang digunakan adalah metode
mikroskopis optik, metode ayakan dan metode sedimentasi atau
sedimentasi (pengendapan). Adapun Keuntungan dan kekurangan
dari percobaan mikromiretik ini yaitu keuntungan dari percobaan
mikromiretik ini adalah untuk mengetahui ukuran partikel suatu zat,
luas permukaan, diameter rata-rata, ukuran luas permukaan rata-
rata, volume rata-rata dan sebagainya. Sedangkan kerugian dari
mikromiretik adalah hanya untuk partikel-partikel kecil saja dan
tidak untuk partikel-partikel yang berukuran besar (Parrot, 1970).
Berdasarkan metode mikroskopis, suatu emulsi atau
suspensi, diencerkan atau tidak diencerkan, dinaikkan pada suatu
slide dan ditempatkan pada pentas mekanik. Di bawah mikroskop
tersebut, pada tempat di mana partikel terlihat, diletakkan
mikrometer untuk memperlihatkan ukuran partikel tersebut.
Keuntungan dari metode ini, pemandangan dalam mikroskop dapat

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

diproyeksikan ke sebuah layar di mana partikel-partikel tersebut


lebih mudah diukur, atau pemotretan bisa dilakukan dari slide yang
sudah disiapkan dan diproyeksikan ke layar untuk diukur. Kerugian
dari metode ini adalah bahwa garis tengah yang diperoleh hanya
dari dua dimensi dari partikel tersebut, yaitu dimensi panjang dan
lebar. Tidak ada perkiraan yang bisa diperoleh untuk mengetahui
ketebalan dari partikel dengan memakai metode ini. Tambahan lagi,
jumlah partikel yang harus dihitung (sekitar 300-500) agar
mendapatkan suatu perkiraan yang baik dari distribusi , menjadikan
metode tersebut memakan waktu dan jelimet. Namun demikian
pengujian mikroskopis dari suatu sampel harus selalu
dilaksanakan, bahkan jika digunakan metode analisis ukuran
partikel lainnya, karena adanya gumpalan dan partikel-partikel
lebih dari satu komponen seringkali bisa dideteksi dengan metode
ini (Parrot, 1970).
Suatu metode yang paling sederhana, tetapi relatif lama dari
penentuan ukuran partikel adalah metode analisis ayakan. Di sini
penentunya adalah pengukuran geometrik partikel. Sampel diayak
melalui sebuah susunan menurut meningginya lebarnya jala
ayakan penguji yang disusun ke atas. Bahan yang akan diayak
dibawa pada ayakan teratas dengan lebar jala paling besar.
Partikel, yang ukurannya lebih kecil daripada lebar jala yang
dijumpai, berjatuhan melewatinya. Mereka membentuk bahan halus
(lolos). Partikel yang tinggal kembali pada ayakan, membentuk
bahan kasar. Setelah suatu waktu ayakan tertentu (pada
penimbangan 40-150 gsetelah kira-kira 9 menit) ditentukan melalui
penimbangan, persentase mana dari jumlah yang telah ditimbang
ditahan kembali pada setiap ayakan. Keuntungan dari metode
pengayakan antara lain sederhana, praktis, mudah, dan cepat,
tidak membutuhkan keahlian tertentu dalam melakukan metodenya,
dapat diketahui ukuran partikel dari kecil sampai besar serta lebih
mudah diamati. Selain keuntungan, pada metode ayakan juga

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

terdapat banyak kerugian yakni tidak dapat diketahui bentuk


partikel secara pasti seperti pada metode mikroskopi.ukuran
partikel tidak pasti karena ditentukan secara kelompok
(berdasarkan keseragaman) juga tidak dapat ditentukan diameter
partikel karena ukuran partikel diperoleh berdasarkan nomor mesh
ayakan. adanya agregasi karena adanya getaran sehingga
memengaruhi validasi data.dan tidak juga dapat menyebabkan
erosi pada bahan-bahan granul (Parrot, 1970).
Bobot jenis suatu zat adalah perbandingan bobot zat
terhadapair dengan volume yang ditimbang di udara pada suhu
yang sama.
Penetapan bobot jenis digunakan hanya untuk senyawa
berbentuk cairan, kecuali dinyatakan pada perbandingan bobot zat
di udara pada suhu yang telah ditetapkan. Sedangkan kerapatan
adalah massa per unit volume suatu zat pada temperatur tertentu.
Sifat ini merupakan salah satu sifat fisika yang paling sederhana
dan sekaligus merupakan salah satu sifat fisika yang paling
definitive, dengan demikian dapat digunakan untuk menentukan
kemurnian suatu zat (Martin, 1993).
Bobot jenis adalah rasio bobot suatu zat terhadap bobot zat
baku yang volumenya sama pada suhu yang sama dan dinyatakan
dalam desimal. Penting untuk membedakan antara kerapatan dan
bobot jenis. Kerapatan adalah massa per satuan volume, yaitu
bobot zat per satuan volume. Misalnya, satu mililiter raksa berbobot
13,6 g, dengan demikian kerapatannya adalah13,6 g/mL. Jika
kerapatan dinyatakan sebagai satuan bobot dan volume, maka
bobot jenis merupakan bilangan abstrak. Bobot jenis
menggambarkan hubungan antara bobot suatu zat terhadap
sebagian besar perhitungan dalam farmasi dan dinyatakan memiliki
bobot jenis 1,00. Sebagai perbandingan, bobot jenis gliserin adalah
1,25 , artinya bobot gliserin 1,25 kali bobot volume air yang setara,
dan bobot jenis alkohol adalah 0,81 , artinya bobot jenis alkohol

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

0,81 kali bobot volume air yang setara. Bobot jenis dinyatakan
dalam desimal dengan beberapa angka di belakang koma
sebanyak akurasi yang diperlukan pada penentuannya. Pada
umumnya, dua angka di belakang koma sudah mencukupi. Bobot
jenis dapat dihitung, atau untuk senyawa khusus dapat ditemukan
dalam United States Pharmacopeia (USP) atau buku acuan lain.
Bobot jenis suatu zat dapat dihitung dengan mengetahui bobot dan
volumenya (Ansel, 2006).
Bobot jenis suatu zat dapat di hitung dengan mengetahui
bobotdan volumenya melalui persamaan berikut (Ansel,2004 ).
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑧𝑎𝑡 (𝑔)
Bobot jenis = 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑠𝑒𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑎𝑖𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑡𝑎𝑟𝑎 (𝑚𝐿)

Kerapatan adalah massa per unit volume suatu zat


padatemperatur tertentu. Sifat ini merupakan salah satu sifat fisika
yang palingsederhana dan merupakan salah satu sifat fisika yang
paling definitive,dengandemikian dapat digunakan untuk
menentukan kemurniaan suatu zat (Ansel,2004).
Rapatan diperoleh dengan membagi massa suatu obyek
dengan volumenya (Petrucci,1985)
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 (𝑚)
= 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 (𝑣)

British standard 2955 (1958) mendefenisikan tiga istilah


yang untuk partikel itu sendiri. Partikel kepadatan massa partike
l dibagidengan volumenya. Istilah yang berbeda muncul dari cara
dimana volumedidefenisikan (Gibson, 2005):
1. Kerapatan partikel sejati adalah ketika volume diukur tidak
termasuk baik terbuka dan tertutup pori-pori dan merupakan
property fundamental dari suatu material.
2. Kerapatan partikel jelas adalah ketika volume diukur meliputi
intrapartikel pori-pori
3. Kerapatan partikel yang efektif adalah volume dilihat oleh fluida
bergerak melewati partikel. Itu sangat penting dalam proses

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

seperti sedimentasi atau fluidization tetapi jarang digunakan


dalam bentuk sediaan padat.
Pengetahuan dan pengendalian ukuran, serta kisaran
ukuran partikel sangat penting dalam farmasi. Jadi ukuran, dan
karenanya juga luas permukaan, dari suatu partikel dapat
dihubungkan secara berarti pada sifat fisika, kimia dan farmakologi
dari suatu obat. Secara klinik ukuran partikel suatu obat dapat
mempengaruhi penglepasannya dari bentuk-bentuk sediaan yang
diberikan secara oral, parenteral, rektal dan topikal. Formulasi yang
berhasil dari suspensi, emulsi dan tablet, dari segi kestabilan fisik
dan respon farmakologis, juga bergantung pada ukuran partikel
yang dicapai dalam produk tersebut. Dalam bidang pembuatan
tablet dan kapsul, pengendalian ukuran partikel penting sekali
dalam mencapai sifat aliran yang diperlukan dan pencampuran
yang benar dari granul dan serbuk. Hal ini membuat seorang
farmasis kini harus mengetahuhi pengetahuan mengenai
mikromimetik yang baik (Ansel, 1989).
Penerapan penentuan bobot jenis dan kerapatan dalam
bidang farmasi dengan mengetahui bobot jenis kita dapat
mengetahui kemurnian dari suatu sediaan khususnya yang
berbentuk larutan. Disamping itu dengan mengetahui bobot jenis
suatu zat, maka akan mempermudah dalam memformulasi obat
karena dengan mengetahui bobot jenisnya maka kita dapat
menentukan apakah suatu zat dapat bercampur atau tidak dengan
zat lainnya (Ansel, 1989).

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

B. URAIAN BAHAN
1. Aquadest (Ditjen POM 1979, Hal. 96)
Nama Resmi : AQUA DESTILLATA
Nama Lain : Air Suling
Berat Molekul : 18,02 gr/mol
Rumus Molekul : H2 O
Rumus Struktur : H—O—H
Pemeriaan :Cairan jernih, tidak berbau,tidak
berwarna.
Stabilitas : Air adalah salah satu bahan kimia yang
stabil dalam bentuk Fisik (es , air , dan
uap). Air harus disimpan dalam wadah
yang sesuai. Pada saat penyimpanan
dan penggunaannya harus terlindungi
dari kontaminasi partikel - pertikel ion
dan bahan organik yang dapat
menaikan konduktivitas dan jumlah
karbon organik. Serta harus terlindungi
dari partikel - partikel lain dan
mikroorganisme yang dapat tumbuh
dan merusak fungsi air.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
2. Aspirin (Ditjen POM 2014, Hal. 1995)
Nama Resmi : Acidum acetylsalicylium
Nama Lain : Asam asetilsalisilat
Berat Molekul : 180,16 g/mol
Rumus Molekul : C9H8O4

Rumus Struktur :

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk


hablur putih, tidak berbau dan rasa
asam.
Kelarutan : Agak sukar larut dalam air, mudah
larut dalam etanol, dan larut dalam
klorofm.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
3. Tween 80 (Ditjen POM 1995, Hal. 687)
Nama Resmi : POLYSORBATUM-80
Nama Lain : Polisorbat-80
Berat Molekul : 1310 g/mL
Rumus Molekul : C64H124O26

Rumus Struktur :
Pemerian : Cairan kental seperti minyak, jernih
dan kuning, bau asam lemak khas.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol
(95%) P, dalam etil asetat P, dan
dalam metanol P, sukar larut dalam
parafin dan minyak biji.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat Kegunaan
Stabilitas : Stabil pada elektrolit dan asam lemah,
dan basa. Berangsur-angsur akan
tersaponiFarmakope Indonesiakasi
dengan asam kuat dan basa.

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

BAB III

METODE KERJA

A. ALAT PRAKTIKUM
Adapun alat yang digunakan adalah timbangan, mikroskop,
mikrometer okuler, mikrometer objektif, objek glass, deck glas, pipet
tites, ayakan, vibrator, kuas, shacker, gelas ukur 100 mL dan 250
mL, mistar.
B. BAHAN PRAKTKUM
Adapun bahan yang digunakan adalah aquadest,
parasetamol, aspirin/asetosal, kertas perkamen.
C. CARA KERJA
1. Mengukur diameter partikel secara mikroskopi
Dibuat suspensi encer partikel (serbuk amilum diencerkan
dengan aquades secukupnya) yang akan dianalisa dan buat
sediaan yang cukup (3-5 sediaan) diatas objek glas. Kemudian
dilakukan “grouping” : ditentukan ukuran yang diperoleh
menjadi beberapa bagian. Ukur partikel dan golongkan
kedalam group yang telah ditentukan dan ukurlah 100 partikel.
Kemudian dibuat kurva distribusi ukuran partkel dan tentukan
harga diameter partikel.
2. Mengukur diameter partikel menurut metode ayakan
Disusun beberapa ayakan dengan nomor tertentu berurutan
dari atas ke bawah, makin besar nomor ayakan yang
bersangkutan. Dimasukkan 100 g granul paracetamol ke dalam
ayakan paling atas pada bobot tertentu yang ditimbang
sekama. Diayak serbuk yang bersangkutan selama 5 menit
pada getaran tertentu pada alat shaker. Ditimbang serbuk yang
terdapat pada masing-masing ayakan. Keudiat buat kurva
distribusi % bobot diatas / dibawah ayakan.

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

3. Menentukan kerapatan ruahan


Diayak terlebih dahulu zat padat dengan ayakan 1,0 mm. Di
timbang kosong gelas ukur 100 ml. Kemudian masukan zat
padat ke dalam gelas ukur hingga 60 ml. Ditimbang gelas ukur
dan serbuk. Tentukan bobot zat padat. Kemudian hitung
kerapatan bulk.
4. Menentukan kerapatan mampat
Ditimbang zat padat sebanyak 100 gram. Dimasukkan
kedalam gelas ukur 250 ml. Diketuk sebanyak 10, 350, dan 500
kali ketukan. Diukur volume yang terbentuk. Kemudian dihitung
kerapatan mampat.
5. Menentukan bobot jenis cairan
Disiapkan piknometer yang kering dan bersih. Kemudian
ditimbang piknometer yang kosong. Isi piknometer dengan air
suling dan timbang. Buang air suling lalu keringkan dan isi
cairan tween 80.kemudian dihitung bobot jenisnya.

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL
1. Percobaan mikromeritik
a. Metode ayakan
Ukuran
Ukuran pori rata-rataa=
Nomor Berat zat yang %
(rata-rata) % tertinggal
ayakan tertinggal (g) tertinggal
(mm) X ukuran
pori
35/40 0,462 0,11 gr 0,217 % 0,100
40/60 0,337 0,17 gr 0,336 % 0,113
60/120 0,187 0,135 gr 0,267 % 0,1
120/170 0,107 0,105 gr 0,21 % 0,022
170/230 0,076 50,065 gr 98,97 % 7,521
Jumlah
50,59 gr 100 % 7,9
(∑)

b. Metode mikroskop
Batas atas 17 garis
Batas bawah 1 garis
Jangkauan kelas 17 – 1 = 16 garis
Banyaknya kelas 9 garis
Interval kelas 1,71 garis

Mid Frekuensi tiap


Kelompok ukuran
ukuran kelompok nd
(µm)
(d) (µm) ukuran (n)
1 – 2,7 0,01 – 0,027 0,0185 0,0185 59
2,8 – 4,5 0,028 – 0,045 0,0365 0,0365 51
4,6 – 6,3 0,046 – 0,063 0,0545 0,0545 33
6,4 – 8,1 0,064 – 0,081 0,0725 0,0725 15
8,2 – 9,9 0,082 – 0,099 0,0905 0,0905 9
10 – 11,7 011 – 0,117 0,1085 0,1085 14
11,8 – 13,5 0,118 – 0, 135 0,1265 0,1265 7
13,6 – 15,3 0,136 – 0,153 0,1445 0,1445 6
15,4 – 17,1 0,154 – 0,171 0,2395 0,2395 6
Jumlah (∑) 200 11,362

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

B. PEMBAHASAN
Mikromeritik adalah cabang ilmu pengetahuan dan teknologi
yang mempelajari tentang partikel-partikel kecil.
Berat jenis didefinisikan sebagai massa suatu bahan per
satuan volume bahan tersebut. Bentuk persamaannya adalah :
Berat Jenis atau ρ
Satuan dari berat jenis adalah kg/dm3, gr/cm3 atau gr/ml. Berat
jenis mempunyai harga konstan pada suatu temperatur tertentu dan
tidak tergantung pada bahan cuplikan atau sampel. Dikenal
beberapa alat yang dapat digunakan untuk menentukan berat jenis
yaitu aerometer, piknometer, dan neraca whestpal.
Massa jenis atau densitas atau rapatan adalah pengukuran
massa setiap satuan volume benda. Semakin tinggi massa jenis
suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap volumenya.
Massa jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi
dengan total volumenya.
Pada praktikum mikromeritik kita menggunakan sampel
aspirin yang bertujuan untuk dihitung diameter partikel dari aspirin
tersebut.
Pada praktikum bobot jenis kita menggunakan sampel
aquadest dan tween 80, disini kita menggunakan dua sampel
berbeda yang bertujuan untuk membandingkan bobot jenis diantara
keduanya.
Pada praktikum densitas kita menggunakan sampel yang
sama pada pada praktikum mikromeritik yaitu aspirin yang
bertujuan untuk menghitung berapa volume zat padat (aspirin) yang
terbentuk.
Adapun hasil yang didapatkan pada percobaan mikromeritik
menggunakan metode ayakan yaitu pada nomor ayakan 30/40 =
0,100 ; nomor ayakan 40/60 = 0,113 ; nomor ayakan 60/120 = 0,1 ;
nomor ayakan 120/170 = 0,022 ; nomor ayakan 170/230 = 7,521.

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

Adapun pada metode mikroskop hasil yang didapatkan yaitu


partikel yang paling kecil yaitu satu garis sedangkan partikel yang
paling besar yaitu 17 garis.
Adapun hasil densitas pada kerapatan ruahan yaitu 0,824
gr/mol, sedangkan pada ruahan mampat yaitu 0,917 gr/mol.
Adapun bobot jenis yang didapatkan setelah melakukan
percobaan yaitu 1,071 gr/mol.
Pengaruh densitas bulk dengan mampat terjadi perubahan.
Sebelum diberi ketukan volume aspirin di dalam gelas ukur yaitu 98
mL, setelah diberi ketukan menggunan alat shacker volume aspirin
berubah menjadi 88 mL.
Adapun menurut farmakope Indonesia edisi III bobot jenis
tween 80 yaitu 1,06 gr/mol – 1,09 gr/mol. Hal tersebut menunjukkan
bahwa hasil percobaan yang dilakukan masuk dalam range.
Menurut farmakope Indonesia edisi III diameter aspirin yaitu
5 mm.

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Pada percobaan pengukuran diameter partikel secara mikroskop
diperoleh hasil partikel terbsesar yaitu 17 garis dan partikel
terkecil 1 garis
2. Pada percobaan pengukuran diameter partikel menggunakan
metode ayakan diperoleh hasil yaitu nomor pengayakan 35/40
ukuran pori rata-rata 0,100, nomor pengayakan 40/60 ukuran
pori rata-rata 0,113, nomor pengayakan 60/120 ukuran pori rata-
rata 0,1, nomor pengayakan 120/170 ukuran pori rata-rata 0,022,
dan nomor pengayakn 170/230 ukuran pori rata-rata 7,521.
3. Pada percobaan menentukan kerapatan ruahan diperoleh hasil
yaitu 0,824 gr/mol
4. Pada percobaan menentukan kerapatan mampat diperoleh hasil
yaitu 0,917 gr/mol
5. Pada percobaan menentukan bobot jenis diperoleh hasil yaitu
1,071 gr/mol
B. SARAN
Sebaiknya dalam melakukan praktikum alat-alat yang
digunakan harus bagus dan tidak pecah agar praktikan lebih
teliti dalam melakukan percobaan.

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H.C., 2006, Pemastian mutu obat. EGC,Jakarta.

Ansel, H, C., Price, S, J., 2004, Kalkulasi Farmasetik Panduan untuk


Apoteker. EGC, Jakarta

Ansel, H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Universitas


Indonesia Press, Jakarta

Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan


Republik Indonesia : Jakarta.

Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan


Republik Indonesia : Jakarta.

Ditjen POM. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Departemen Kesehatan


Republik Indonesia : Jakarta.

Martin, A., Swarbick, J., dan Cammarata, A., 1990.Farmasi Fisik Dasar
dan Kimia Fisik, Universitas Indonesia Press, Jakarta

Parrot, E.L. (1970). Pharmaceutical Technology Fundamental


Pharmaceutics. Burgess, Publishing Company,

Martin, Alfred. 1993. Farmasi Fisika Edisi II. Universitas Indonesia Press:
Jakarta.
Petrucci, R., 1985, General Chemistry, Erlangga, Jakarta.
Gibson, R.S. 2005. Principle of Nutritional and Assessment. Oxford
University Press. Newyork.

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

LAMPIRAN

A. PERHITUNGAN

𝑉𝑜 − 𝑉𝑓
Indeks kompresibilitas asetosal = 100 𝑉𝑜
98 − 88
= 100 98

= 10,204
𝑉𝑜
Perbandingan housner = 𝑉𝑓
90
= 88

= 1,114

Perhitungan bobot jenis cairan (Tween 80)

Kel 1

Dik : Berat piknometer kosong = 23,92 gr

Piknometer + Aquadest = 48,24 gr

Piknometer + Tween 80 = 46,07 gr


𝑃𝐾𝑇− 𝑃𝐾
Peny : Bobot jenis = 𝑃𝐾𝐴− 𝑃𝐾

46,07 − 23,92
= 48,24 − 23,92

22,15
= 24,32

= 0,911 gr/mol

Kel 2

Dik : Berat piknometer kosong = 15,24 gr

Piknometer + Aquadest = 35 gr

Piknometer + Tween 80 = 43,96 gr


𝑃𝐾𝑇− 𝑃𝐾
Peny : Bobot jenis = 𝑃𝐾𝐴− 𝑃𝐾

43,96 − 15,24
= 35 − 15,24

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

31,72
= 9,76

= 3,35 gr/mol

Kel 3

Dik : Berat piknometer kosong = 16,04 gr

Piknometer + Aquadest = 41,38 gr

Piknometer + Tween 80 = 43,19 gr


𝑃𝐾𝑇− 𝑃𝐾
Peny : Bobot jenis = 𝑃𝐾𝐴− 𝑃𝐾

43,19 −16,04
= 41,38 −16,04

Kel 4

Dik : Berat piknometer kosong = 20,93 gr

Pikno + Aquadest = 45,77 gr

Pikno + Propilenglikol = 46,62 gr


𝑃𝐾𝑇− 𝑃𝐾
Peny : Bobot jenis = 𝑃𝐾𝐴− 𝑃𝐾

46,62 − 20,93
= 45,77− 20,93

25,69
= 24,84

= 1,034 gr/mol

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

B. GAMBAR

Asetosal 200 mg Shacker

Aquadest Tween 80

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

C. SKEMA KERJA

1. Mengukur diameter partikel secara mikroskopi


Buatlah suspense encer partikel

Lakukan (grouping) tentukan ukuran partikel yang terkecil


dan terbesar bagi jarak ukur menjadi beberapa bagian

ukur partikel dan golongkan kedalam grub


yang telah ditentukan dan ukur 100 partikel

buat kurva distribusi ukuran partikel dan tentukan


harga diameter partikel

2. Mengukur diameter partikel dengan metode pengayakan


Susun beberapa ayakan dengan nomor tertentu
berurutan dari atas ke bawah makin besar nomor ayakan

masukkan 200 mg asetosal ke dalam ayakan paling atas

ayak selama 5 menit dengan getaran tertentu

timbang serbuk yang terdapat pada masingmasing ayakan

buat kurva distribusi % bobot diatas / dibawah ayakan

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

3. Menentukan kerapatan ruahan


Ayak terlebih dahulu zat padat dengan ayakan ≥ 1,0 mm

Timbang kosong gelas ukur 100 mL


Kemudian masukkan zat padat ke
dalam gelas ukur hingga 60 mL

Timbang gelas ukur yang berisikan zat padat


Tentukan bobot zat padat

Hitung kerapan bulk

4. Menentukan kerapatan mampat


Timbang zat padat 100 gram

Masukkan ke dalam gelas ukur 250 gram

Ketuk sebanyak 100, 350, dan 500 kali ketukan

Ukur volume yang terbentuk

Hitung kerapatan mampat

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.


MIKROMERITIK

5. Menentukan bobot jenis


Piknometer yang bersih dan kering

Timbang piknometer kosong

Isi piknometer dengan air suling lalu timbang

Tuang air suling, keringkan da nisi cairan tween 80

Hitung bobot jenis

KELOMPOK 3 ANDI AMALIA DWI UTAMI, S.Farm.