Anda di halaman 1dari 7

BAB 1

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Farmasi adalah ilmu yang mempelajari cara membuat mencampur,
meracik formulasi obat, identifikasi kombinasi analisis dan standarisasi /
pembekuan obat serta pengobatan, termasuk pula sifat sifat obat dan
distribusinya serta penggunaannya yang aman. Dalam dunia farmasi,
terdapat beberapa cabang ilmu yang harus dipelajari oleh seorang
mahasiswa. Bukan hanya ilmu meracik obat, tapi seorang farmasi juga
harus memahami bagaimana sifat fisika dari obat tersebut sehingga dikenal
dengan ilmu Farmasi Fisika.
Farmasi Fisika merupakan suatu ilmu yang menggabungkan antara
ilmu Fisika dengan ilmu Farmasi. Ilmu Fisika mempelajari tentang sifat-
sifat fisika suatu zat baik berupa sifat molekul maupun tentang sifat
turunan suatu zat. Sedangkan ilmu Farmasi adalah ilmu tentang obat-obat
yang mempelajari cara membuat, memformulasi senyawa obat menjadi
sebuah sediaan jadi yang dapat beredar di pasaran. Gabungkan kedua ilmu
tersebut akan menghasilkan suatu sediaan farmasi yang berstandar baik,
berefek baik, dan mempunyai kestabilan yang baik pula (Attwood, 2008).
Sifat fisika suatu zat dapat diketahui dari percobaan-percobaan
salah satunya penentuan bobot jenis dan rapat jenis dari zat tersebut. Ahli
farmasi seringkali menggunakan besaran pengukuran kerapatan dan bobot
jenis apabila mengadakan perubahan massa dan volume. Bobot jenis suatu
zat adalah perbandingan antara bobot zat dibanding dengan volume zat
pada suhu tetentu (Biasanya 25oC). Sedangkan rapat jenis adalah
perbandingan antara bobot jenis suatu zat dengan bobot jenis air pada suhu
tertentu (biasanya dinyatakan sebagai 25o/25o, 25o/4o, 4o/4o). Untuk bidang
farmasi, biasanya 25o/25o (Sutoyo, 1993).
Penentuan bobot jenis dapat dilakukan dengan beberapa metode
diantarannya hidrometer, Mohr Westphal, densimeter, dan yang paling
umum digunakan adalah metode piknometer. Pinsip metode ini didasarkan
atas penentuan massa cairan dan penentuan ruang yang ditempati cairan
ini. ruang piknometer dilakukan degan menimbang air. Ketelitian metode
piknometer akan bertambah sampai suatu optimum tertentu dengan
bertambahnya volume piknometer. Optimum ini terletak sekitar isi ruang
30 ml. ada dua tipe piknometer yaitu tipe botol dengan tipe pipet (Roth,
Herman J, 1994)
Cara penentuan bobot jenis ini sangat penting diketahui oleh
seorang calon farmasi, karena dapat mengetahui kemurnian dari suatu
sediaan khususnya yang berbentuk cairan / larutan. Disamping itu, dengan
mengetahui bobot jenis suatu zat, maka akan mempermudah dalam
memformulasi obat. Karena dengan mengetahui bobot jenisnya maka kita
dapat menentukan apakah suatu zat dapat bercampur atau tidak dengan zat
lainnya. Berdasarkan uraian di atas, maka kami melakukan penentuan
bobot jenis dan rapat jenis dengan menggunakan alat yang disebut dengan
piknometer.
I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud Percobaan
Untuk mengetahui dan memahami cara penetapan Bobot Jenis dan
Rapat Jenis suatu bahan zat cair dengan menggunakan metode tertentu.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Menentukan bobot jenis dan rapat jenis dari oleum ricini, talcum
dan gliserin dengan menggunakan piknometer.
I.2.3 Prinsip Percobaan
Penetapan bobot jenis suatu larutan dengan penimbangan pikno
kosong dan pikno yang berisi cairan, selisih kedua timbangan
dibandingkan volume larutan uji dan hasilnya adalah bobot jenis larutan
tersebut.
BAB 1V
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Tabel Hasil Pengamatan
No. Nama Bahan Volume Massa Bobot Jenis Rapat Jenis
(ml) (g) (g/cm3)
1. Talkum 6 10 1,66 1,66

2. Gliserin 25 59,77153 1,10512932 1,10512932

3. Oleum Ricini 25 53,4302664 0,859001336 0,859001336

IV.2 Perhitungan
1. Bobot Jenis Talkum
a. Bobot Jenis Nyata
Diketahui : Skala atas : 11
Skala bawah : 10
Ditanya : Volume Nyata?
Penyelesaian :
Skala Atas + Skala Bawah
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑁𝑦𝑎𝑡𝑎 =
2
11 + 10
= 2

= 14,5 ml
b. Bobot Jenis Mampat
Diketahui : Skala atas : 10
Skala bawah : 8
Ditanya : Volume Mampat?
Penyelesaian :
Skala Atas + Skala Bawah
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑁𝑦𝑎𝑡𝑎 =
2
10 + 8
= 2

= 9 ml
2. Oleum Ricini
Volume zat = 25 ml
31,9511+31,9564+31,9582
Volume pikno kosong = 3

= 31,9552 g
53,403+53,4302+53,4302
Volume Pikno Kosong + Oleum Ricini = 3

= 53,4302 g
b−a (g)
Bobot Jenis Oleum Ricini = Volume zat (ml)
53,4302−31,9552
= 25

= 0,85900 g/cm3
3. Bobot Jenis Gliserin
Diketahui :
Volume zat = 25 ml
32,0806+32,0840+320852
Volume pikno kosong = 3

= 32,0833
𝟓𝟗,𝟕𝟏𝟏𝟓+𝟓𝟗,𝟕𝟏𝟏𝟕+𝟓𝟗,𝟕𝟏𝟏𝟗
Volume pikno kosong + Gliserin = 𝟑

= 59,711533
b−a (g)
Bobot Jenis Gliserin = Volume zat (ml)
59,711533−32,0833
= 25

= 1,10512 g/cm3

IV.2 Pembahasan
Bobot jenis adalah rasio bobot suatu zat terhadap bobot zat baku
volumenya sama pada suhu yang sama dan dinyatakan dalam desimal
(Ansel, 1989). Dalam bidang farmasi bobot jenis suatu zat atau cairan
digunakan sebagai salah satu metode analisis yang berperan dalam
menentukan senyawa cair, digunakan pula untuk uji identitas dan
kemurnian dari senyawa obat terutama dalam bentuk cairan, serta dapat
pula diketahui tingkat kelarutan atau daya larut suatu zat (Pratama, 2008)
Pengujian bobot jenis dilakukan untuk menentukan 3 macam bobot
jenis yaitu bobot jenis sejati, nyata, dan mampat. Bobot jenis sejati yaitu
massa partikel dibagi volume partikel tidak termasuk rongga yang terbuka
dan tertutup. Bobot jenis nyata adalah massa partikel dibagi volume
partikel tidak termasuk pori/lubang terbuka tetapi termasuk pori yang
tertutup. Sedangkan bobot jenis efektif adalah massa partikel dibagi
volume partikel termasuk pori yang terbuka dan tertutup (Lachman, 1994).
Bobot jenis dapat ditentukan dengan menggunakan berbagai tipe
piknometer, neraca mohr westhpal, hidrometer dan alat-alat lain (Martin,
1993)
Rapat jenis adalah massa per unit volume suatu zat pada
temperatur tertentu. Sifat ini merupakan salah satu sifat fisika yang paling
sederhana dan sekaligus merupakan salah satu sifat fisika yang paling
definitive, dengan demikian dapat digunakan untuk menentukan
kemurnian suatu zat (Martin, 1993)
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah piknometer,
piknometer digunakan untuk mencari bobot jenis. Pikonometer terbuat
dari kaca untuk Erlenmeyer kecil dengan kapasitas antara 10 ml – 50 ml.
Pinsip dari piknometer yaitu penimbangan pikno kosong yang berisi
cairan, selisih kedua timbangan dibandingkan volume larutan uji dan
hasilnya adalah bobot jenis larutan tersebut (Voight, 1994)
Dalam praktikum ini kita akan menentukan bobot jenis dari suatu
zat cair dan zat padat. Adapun sampel yang kami gunakan untuk zat cair
yaitu gliserin 25 ml dan oleum ricini 25 ml, sedangkan untuk zat padat
yaitu talkum sebanyak 10 g.
Hal pertama yang akan dilakukan yaitu penentuan bobot jenis zat
cair pada sampel tgliserin. Untuk melakukan praktikum ini, hal yang
pertama yang akan kita lakukan yaitu menyiapkan alat dan bahan yang
akan digunakan. Bahan dan Alat tersebut dibersihkan dengan alkohol
70%, alasan penggunaan alkohol 70% adalah desinfektan yang dapat
membunuh bakteri atau mikroorganisme pada jaringan mati (Tjay dan
Rahardja, 2015). Kemudian pikonometer dimasukkan ke dalam oven
selama 15 menit. Alasannya yaitu untuk membebaskan lemak dan
mempercepat proses pengeringan pada sisa-sisa air yang terdapat pada
piknometer (Roth, 1988). Setelah dipanaskan dioven pikno tersebut
dikeluarkan, kemudian ditimbang tiga kali yang bertujuan agar data yang
dihitung lebih akurat dan akan dibandingkan dengan data sebelumnya
(Parrot,1970). Dimasukkan gliserin 25 ml ke dalam piknometer. Setelah
itu ditimbang piknometer yang sudah dimasukkan gliserin tesebut
menggunakan neraca analitik sebanyak 3 kali dengan tujuan yang sama
seperti sebelumnya. Lalu dicatat hasilnya dan dihitung bobot jenisnya.
Langkah kedua kita akan menentukan bobot jenis zat cair dari
oleum ricini dengan menggunakan perlakuan yang sama seperti pada
penentuan bobot jenis dan rapat jenis dari Gliserin.
Terakhir, penentuan bobot jenis pada zat padat. Pada percobaan ini
dilakukan untuk mengetahui bobot jenis nyata dan mampat dari Talkum.
Bahan yang digunakan adalah Talkum sebanyak 10 gr. Dimasukkan
volume nyata talkum dengan cara melihat skala atas dan skala paling
bawah dari permukaan talkum kemudian dibagi 2. Kemudian untuk
mengukur volume mampat, gelas ukur yang berisi talkum diketuk-ketuk
hingga 100 kali. Kemudian dihitung volume mampat dengan
menggunakan rumus yang sama dengan volume nyata.
Hasil dari perhitungan bobot jenis zat cair gliserin adalah 1,10512
g/cm3 sedangkan menurut Dirjen POM (1979) bobot jenis dari gliserin
adalah 1,2620 g/cm3. Kemudian hasil dari zat cair oleum ricini adalah
0,85900 g/cm3 dan menurut literatur Ash (2004) bobot jenis oleum ricini
0,961 g/cm3, sehingga dapat disimpulkan kedua hasil perhitungan dari zat
cair gliserin dan oleum ricini berbeda dengan literatur. Terakhir
perhitungan bobot jenis zat padat yaitu talkum sebanyak 10 gr dengan
hasil yang kami dapat adalah 1,66 g/cm3. Sedangkan menurut Rowe
(2009) bobot jenis dari talkum adalah 1,955 g/cm3
Kemungkinan kesalahan adalah pada saat melakukan pemanasan
pada piknometer, kurangnya ketelitian saat penimbangan bahan pada
neraca analitik dan tertinggalnya bahan (oleum ricini dan gliserin) pada
gelas ukur saat dimasukan ke dalam piknometer. Kesalahan lainnya
menurut Rogelwalker (2009) adalah kesalahan pada saat pembacaan skala
pada alat, cairan yang digunakan sudah tidak murni lagi dan pengaruh
suhu dari pemegang alat juga berpengaruh pada alat.