Anda di halaman 1dari 26

1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Sebagian besar komponen penting yang diperlukan dalam
peningkatan kesehatan adalah obat. Obat merupakan semua zat baik
kimiawi, hewani, maupun nabati yang dalam dosis layak dapat
menyembuhkan, meringankan bahkan mencegah penyakit. Proses
pemindahan molekul obat dari bentuk padat ke dalam larutan pada suatu
medium disebut disolusi.
Dalam dunia kefarmasian para apoteker dan pakar-pakar kimia
senantiasa merancang sediaan obat supaya mampu merancang terobosan
baru dalam menciptakan suati produk yang berkualitas, baik dari segi
kesetabilan obat maupun efek yang ditimbulkan. Sudah sepantasnya.
Sebagai seorang farmasis kitaharus selalu menggali informasi terkini
mengenai teknologi obatdari berbagai segi. Disini yang paling ditekankan
yaitu pada preformulasi. Preformulasi merupakan metode perancangan
suatu riset dalamrangka menyusun konsep baru yang nantinya harus
mampu menghasilkan suatu maha karya yang bernilai
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari
bentuk sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarutan suatu zat aktif
sangat penting artinya karena ketersediaan suatu obat sangat tergantung
dari kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum
diserap ke dalam tubuh.
Suatu bahan obat yang diberikan dengan cara apapun dia harus
memiliki daya larut dalam air untuk kemanjuran terapeutiknya. Senyawa-
senyawa yang relatif tidak dapat dilarutkan mungkin memperlihatkan
absorpsi yang tidak sempurna, atau tidak menentu sehingga menghasilkan
respon terapeutik yang minimum. Daya larut yang ditingkatkan dari
senyawa-senyawa ini mungkin dicapai dengan menyiapkan lebih banyak
turunan yang larut, seperti garam dan ester dengan teknik seperti
mikronisasi obat atau kompleksasi.

1
2

Melihat pentingnya pengetahuan tentang disolusi, khususnya


dalam pembuatan sediaan maka diadakanlah percobaan ini.
I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud Percobaan
Agar mahasiswa mampu mengetahui dan memahami cara
menentukan konstanta kecepatan disolusi suatu zat
I.2.2 Tujuan Percobaan
Menentukan laju disolusi asam salisilat dengan medium air suling
dengan menggunakan alat disolusi
I.3 Prinsip Percobaan
Penentuan konstanta kecepatan disolusi dari asam salisilat
berdasarkan kadar asam salisilat yang terdisolusi dalam medium air suling
pada suhu 370C dengan menggunakan alat disolusi dan penentuan
kadarnya dengan menggunakan metode titrasi alkalimetri dengan
penambahan indikator fenolftalein yang dititrasi dengan NaOH 0,01 N
hingga terjadi perubahan warna dari bening menjadi ungu kemerah
mudaan pada menit ke 5, 10, 15, 20, dan 25.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
II.1 Definisi
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari
bentuk sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat
penting artinya bagi ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari
kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum diserap
ke dalam tubuh. Sediaan obat yang harus diuji disolusinya adalah bentuk
padat atau semi padat, seperti kapsul, tablet atau salep (Martin, 1993).
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larutan
dalam cairan pada tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang
diberikan secara oral dalam bentuk tablet atau kapsul tidak dapat
diabsorbsi sampai partikel-partikel obat larut dalam cairan pada suatu
tempat dalam saluran lambung-usus. Dalam hal dimana kelarutan suatu
obat tergantung dari apakah medium asam atau medium basa, obat tersebut
akan dilarutkan berturut-turut dalam lambung dan dalam usus halus.
Proses melarutnya suatu obat disebut disolusi (Martin, 1993).
Bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan dalam
saluran cerna, obat tersebut mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk
padatnya. Kalau tablet tersebut tidak dilapisi polimer, matriks padat juga
mengalami disintegrasi menjadi granul-granul, dan granul-granul ini
mengalami pemecahan menjadi partikel-partikel halus. Disintegrasi,
deagregasi dan disolusi bisa berlangsung secara serentak dengan
melepasnya suatu obat dari bentuk dimana obat tersebut diberikan (Agoes,
2008)
Mekanisme disolusi, tidak dipengaruhi oleh kekuatan kimia atau
reaktivitas partikel-partikel padat terlarut ke dalam zat cair, dengan
mengalami dua langkah berturut-turut (Martin, 1993):
1. Larutan dari zat padat pada permukaan membentuk lapisan
tebal yang tetap atau film disekitar partikel

3
4

2. Difusi dari lapisan tersebut pada massa dari zat cair.


3. Langkah pertama,. larutan berlangsung sangat singkat.
Langka kedua, difusi lebih lambat dan karena itu adalah langkah
terakhir.
II.1.2 Mekanisme Disolusi (Shargel, 1998)
Adapun mekanisme disolusi dapat digambarkan sebagai berikut :

Lapisan film (h) dgn


konsentrasi = Cs
Krista
l
Massa larutan dengan
konsentrasi = Ct

Difusi layer model (theori film)


Pada waktu suatu partikel obat memngalami disolusi, molekul-
molekul obat pada permukaan mula-mula masuk ke dalam larutan
menciptakan suatu lapisan jenuh obat-larutan yang membungkus
permukaan partikel obat padat. Lapisan larutan ini dikenal sebagai lapisan
difusi. Dari lapisan difusi ini, molekul-molekul obat keluar melewati
cairan yang melarut dan berhubungan dengan membrane biologis serta
absorbsi terjadi. Jika molekul-molekul obat terus meninggalkan larutan
difusi, molekul-molekul tersebut diganti dengan obat yang dilarutkan dari
permukaan partikel obat dan proses absorbsi tersebut berlanjut.
Jika proses disolusi untuk suatu partikel obat tertentu adalah cepat,
atau jika obat diberikan sebagai suatu larutan dan tetap ada dalam tubuh
seperti itu, laju obat yang terabsorbsi terutama akan tergantung pada
kesanggupannya menembus menembus pembatas membran. Tetapi, jika
laju disolusi untuk suatu partikel obat lambat, misalnya mungkin karena
karakteristik zat obat atau bentuk dosis yang diberikan , proses disolusinya
sendiri akan merupakan tahap yang menentukan laju dalam proses
absorbsi. Perlahan-lahan obat yang larut tidak hanya bisa diabsorbsi pada
suatu laju rendah, obat-obat tersebut mungkin tidak seluruhnya diabsorbsi
5

atau dalam beberapa hal banyak yang tidak diabsorbsi setelah pemberian
ora, karena batasan waaktu alamiah bahwa obat bisa tinggal dalam
lambung atau saluran usus halus.
Pemikiran awal dilakukannya uji hancurnya tablet didasarkan pada
kenyataan bahwa tablet itu pecah menjadi lebih luas dan akan
berhubungan dengan tersedianya obat di dalam cairan tubuh. Namun
sebenarnya uji hancur hanya waktu yang diperlukan tablet untuk hancur di
bawah kondisi yang ditetapkan dan lewatnya partikel melalui saringan. Uji
ini tidak memberi jaminan bahwa partikel-partilkel tersebut akan melepas
bahan obat dalam larutan dengan kecepatan yang seharusnya. Untuk itulah
sebabnya uji disolusi dan ketentuan uji dikembangkan bagi hampir seluruh
produk tablet

II.2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi diolusi (Martin, 1993):


1. Suhu
Meningginya suhu umumnya memperbesar kelarutan (Cs) suatu
zat yang bersifat endotermik serta memperbesar harga koefisien difusi
zat.
2. Viskositas
Turunnya viskositas pelarut akan memperbesar kecepatan disolusi
suatu zat sesuai dengan persamaan Einstein. Meningginya suhu juga
menurunkan viskositas dan memperbesar kecepatan disolusi.
3. pH pelarut
pH pelarut sangat berpengaruh terhadap kelarutan zat-zat yang
bersifat asam atau basa lemah. Untuk asam lemah: Jika (H+) kecil atau
pH besar maka kelarutan zat akan meningkat. Dengan demikian,
kecepatan disolusi zat juga meningkat. Untuk basa lemah: Jika (H+)
besar atau pH kecil maka kelarutan zat akan meningkat. Dengan
demikian, kecepatan disolusi juga meningkat.
6

4. Pengadukan
Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi tebal lapisan difusi (h).
jika pengadukan berlangsung cepat, maka tebal lapisan difusi akan
cepat berkurang.
5. Ukuran Partikel
Jika partikel zat berukuran kecil maka luas permukaan efektif
menjadi besar sehingga kecepatan disolusi meningkat
6. Polimorfisme
Kelarutan suatu zat dipengaruhi pula oleh adanya polimorfisme.
Struktur internal zat yang berlainan dapat memberikan tingkat
kelarutan yang berbeda juga. Kristal meta stabil umumnya lebih
mudah larut daripada bentuk stabilnya, sehingga kecepatan
disolusinya besar
7. Sifat Permukaan Zat
Pada umumnya zat-zat yang digunakan sebagai bahan obat bersifat
hidrofob. Dengan adanya surfaktan di dalam pelarut, tegangan
permukaan antar partikel zat dengan pelarut akan menurun sehingga
zat mudah terbasahi dan kecepatan disolusinya bertambah.
II.2.4 Metode penentuan keepatan disolusi (Martin, 1993)
1. Metode Suspensi
Serbuk zat padat ditambahkan ke dalam pelarut tanpa pengontrolan
terhadap luas permukaan partikelnya. Sampel diambil pada waktu-
waktu tertentu dan jumlah zat yang larut ditentukan dengan cara yang
sesuai.
2. Metode Permukaan Konstan
Zat ditempatkan dalam suatu wadah yang diketahui luasnya
sehingga variable perbedaan luas permukaan efektif dapat diabaikan.
Umumnya zat diubah menjadi tablet terlebih dahulu, kemudian
ditentukan seperti pada metode suspensi.
7

II.2.5 Prinsip Kerja Alat Disolusi (Dirjen POM, 1995)


Alat terdiri dari sebuah wadah tertutup yang terbuat dari kaca atau
bahan transparan yang inert, suatu batang logam yang digerakkan oleh
motor dan keranjang yang berbentuk silinder dan dipanaskan dengan
tangas air pada suhu 370C.
Alat yang digunakan adalah dayung yang terdiri dari daun dan
batang sebagai pengaduk. Batang berada pada posisi sedemikian sehingga
sumbunya tidak lebih dari 2 mm pada setiap titik dari sumbu vertikel
wadah dan berputar dengan halus tanpa goyangan yang berarti.
II.2 Uraian Bahan
1. Air suling (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi :Aqua destillata
Nama lain : Air suling, Aquadest
RM/BM : H2O/18,02
Rumus Struktur :

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak


mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai zat pelarut.
2. NaOH (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : Natrium Hydroxydium
Nama lain : Natrium hidroksida
RM/BM : NaOH/40.00
Rumus Struktur :
Na - OH
Pemerian :.Bentuk batang, massa hablur atau keeping-keping,
.rapuh dan mudah meleleh basah,sangat Alkalis
.dan korosif
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%)
8

Penyimpanan : Mengandung tidak kurang dari 97,5% akali jumlah


dihitung sebagai NaOH dan tidak lebih dari 2,5%
NaCO3
Kegunaan : Sebagai zat tambahan
3. Fenolftalein (Dirjen POM , 1979)
Nama resmi: Phenolphthaleinum
Sinonim : Fenolftalein
RM/BM : C20H14O4/ 318,33
Rumus struktur :

Pemerian :Serbuk hablur, putih atau putih kekuningan lemah,


tidak berbau, stabil diudara.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam etanol,
agak sukar larut dalam eter.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai indikator
4. Asam salisilat (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi :Acid salicylum
Nama Lain :Asam salisilat, asam hidoksi benzoat
RM/BM :C7H6O3/138,12
Rumus struktur : COOH
HO

Pemerian : Hablur putih biasanya berbentuk jarum halus


ataumerah jambu dan berbau mirip mentol
Kelarutan :Sukar larut dalam air dan dalam benzena mudah
dalam air mendidih agak sukar dalam kolroform
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
9

Penggunaan :Sebagai sampel


5. Alkohol (Dirjen POM, 1995)
Nama resmi : Aethanolum
Nama lain : Etanol, Alcohol, Ethyl alkohol
RM/BM : C2H6O/46,07
Rumus struktur :

Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap, dan


mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah
terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak
berasap
Kelarutan :Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform I
dan dalam eter P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
ditempat sejuk, jauh dari nyala api.
Kegunaan : Sebagai zat tambahan.
10

BAB III
METODE PEMBUATAN
III.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum
Praktikum disolusi dilaksanakan pada tanggal 30 November pukul
15:00 WITA. Pelaksanaan praktikum bertempat di Laboratorium
Teknologi Farmasi, Jurusan Farmasi, Fakultas Olahraga dan Kesehatan,
Universitas Negeri Gorontalo.
III.2 Alat dan Bahan
III.2.1 Alat
1. Gelas ukur 50 Ml
2. Gelas Kimia
3. Buret
4. Statif dan Klem
5. Dispo
6. Tabung disolusi
7. Ultraturax
8. Vial
9. Neraca analitik.
10. Kain lap halus
III.2.2 Bahan
1. Alkohol 70%.
2. Tisu.
3. Asam Salisilat
4. Indikator PP
5. Aquades
6. NaOH
7. Aluminium foil
III.3 Cara Kerja
III.3.3 Disolusi Obat
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Dibersihkan alat yang akan digunakan dengan alkohol 70%.

10
11

3. Dimasukkan asam salisilat dalam tabung disolusi


4. Diatur kecepatan ultraturax 50 rpm
5. Dilakukan pengadukan dengan variasi 5, 10, 15, 20 dan 25 menit.
6. Diambil sampling asam salisilat menggunakan dispo setelah 5
menit pengadukan.
7. Dimasukkan kedalam botol vial dan diberi label
8. Ditetesi indicator pp sebanyak 3 tetes
9. Dititrasi larutan sampling dengan NaOH 0,1 N
10. Diamati sampel sampai terjadi perubahan warna menjadi ungu
11. Dihitung volume titran
12. Dilakukan percobaan yang sama dengan kecepatan 100 rpm pada
variasi waktu 5, 10, 15, 20 dan 25 menit.
12

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan

IV.2 Perhitungan
Volume titran
Waktu ( menit )
50 rpm (mL) 100 rpm (mL)

5 0,6 2,5
10 1,5 3,3
15 1,8 3,9
20 2 4,2
25 3,7 5,5
1 mL NaOH setara dengan 6,906 mg asam salisilat
Kecepatan 50 rpm
Ma1 = kesetaraan x vitran
= 6,906 x 0,6
= 4,14
Ma2 = 6,906 x 1,5
= 10,35
Ma3 = 6,906 x 1,8
= 12,43
Ma4 = 6,906 x 2
= 13,81
Ma5 = 6,906 x 3,7
= 25,55

12
13

Mb1 = Ma1 x 10
900
= 4,14 x 10
900
= 0,046
Mb2 = Ma2 x 10
900
= 10,35 x 10
900
= 0,115
Mb3 = Ma3 x 10
900
= 12,43 x 10
900
= 0,138
Mb4 = Ma4 x 10
900
=13,81 x 10
900
= 0, 153
Mb5 = Ma5 x 10
900
= 25,55 x 10
900
= 0,283
14

MT1 = Mb1 = 0,046


MT2 = Mb2 + [10 ] x mb1
900
= 0,115 + [10] x 0,046
900
= 0,115
MT3 = Mb3 + [10] x ( mb1 + mb2 )
900
= 0,138 + [10] x ( 0,046 + 0,0115)
900
= 0,138 + [10] x ( 0,161 )
900
= 0,139
MT4 = Mb4 + [10] x (mb1 + mb3)
900
= 0, 153 + [10] x ( 0,046 + 0,138)
900
= 0,153 + [10] x ( 0,299 )
900
= 0,156
MT5 = Mb5 + [10] x (mb1 + mb2+ mb3 + mb4 )
900
= 0,283 + [10] x ( 0,046 + 0,0115 + 0,138 + 0,153 )
900
= 0,283 + [10] x ( 0,452)
900
= 0,288
15

WAKTU Ma Mb Mt
5 menit 4,14 0,046 0,046
10 menit 10,35 0,115 0,115
15 menit 12,43 0,138 0,139
20 menit 13,81 0,153 0,156
25 menit 25,55 0,283 0,288

Konsentrasi 100 rpm


Ma1 = kesetaraan x v titran
= 6,906 x 2,5
= 17,26
Ma2 = 6,906 x 3,3
= 22,78
Ma3 = 6,906 x 3,9
= 26,93
Ma4 = 6,906 x 4,2
= 29,00
Ma5 = 6,906 x 5,5
= 37,98

Mb1 = Ma1 x 10
900
= 17,26 x 10
900
= 0,191
Mb2 = Ma2 x 10
900
= 22,78 x 10
900
= 0,253
16

Mb3 = Ma3 x 10
900
= 26,93 x 10
900
= 0,299
Mb4 = Ma4 x 10
900
= 29,00 x 10
900
= 0,322
Mb5 = Ma5 x 10
900
= 37,98 x 10
900
= 0,422

MT1 = Mb1 = 0,191


MT2 = Mb2 + 10 x mb1
900
= 0,253 + 10 x 0,191
900
= 0,225
MT3 = Mb3 + 10 x ( mb1 + mb2 )
900
= 0,299 + 10 x ( 0,191 + 0,253)
900
= 0,138 + 10 x ( 0,444 )
900
= 0,303
17

MT4 = Mb4 + 10 x (mb1 + mb2 + mb3 )


900
= 0, 322 + 10 x ( 0,191 + 0,253 + 0,299 )
900
= 0,322 + 10 x ( 0,743 )
900
= 0,330
MT5 = Mb5 + 10 x (mb1 + mb2+ mb3 + mb4 )
900
= 0,422 + 10 x ( 0,191 + 0,0,253 + 0,299 + 0,322)
900
= 0,433
WAKTU Ma Mb Mt
5 menit 17,26 0,191 0,191
10 menit 22,78 0,299 0,255
15 menit 26,93 0,299 0,303
20 menit 29,00 0,092 0,330
25 menit 37,98 0,422 0,433

Tabel kecepatan
Kecepatan 50 rpm
WAKTU ( menit ) Mt dm/dt
5 menit 0,046 0,0092
10 menit 0,115 0,0115
15 menit 0,139 0,00926
20 menit 0,156 0,0078
25 menit 0,288 0,01152
18

Kecepatan 100 rpm


WAKTU ( menit ) Mt dm/dt
5 menit 0,191 0,0382
10 menit 0,255 0,0255
15 menit 0,303 0,0202
20 menit 0,330 0,0165
25 menit 0,433 0,0173

Grafik
6

3 50 rpm
100 rpm
2

0
5 10 15 20 25

IV.3 Pembahasan
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari
bentuk sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarutan suatu zat aktif
sangat penting artinya karena ketersediaan suatu obat sangat tergantung
dari kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum
diserap ke dalam tubuh (Martin, 1993).
Suatu bahan obat yang diberikan dengan cara apapun dia harus
memiliki daya larut dalam air untuk kemanjuran terapeutiknya. Senyawa-
senyawa yang relatif tidak dapat dilarutkan mungkin memperlihatkan
absorpsi yang tidak sempurna, atau tidak menentu sehingga menghasilkan
19

respon terapeutik yang minimum. Daya larut yang ditingkatkan dari


senyawa-senyawa ini mungkin dicapai dengan menyiapkan lebih banyak
turunan yang larut, seperti garam dan ester dengan teknik seperti
mikronisasi obat atau kompleksasi (Martin, 1993).
Sifat-sifat kimia, fisika, bentuk obat dan juga fisiologis dari sistem
biologis mempengaruhi kecepatan absorbsi suatu obat dalm tubuh. Oleh
karena itu konsentrasi obat, bagaimana kelarutannya dalam air, ukuran
molekulnya, pKa dan ikatan proteinnya adalah faktor-faktor kimia dan
fisika yang harus dipahami untuk mendesain suatu sediaan. Hal ini
meliputi faktor difusi dan disolusi obat (Martin, 1993).
Pada saat suatu sediaan obat masuk ke dalam tubuh, selanjutnya
terjadi proses absorbsi ke dalam sirkulasi darah dan akan didistribusikan
ke seluruh cairan dan jaringan tubuh. Apabila zat aktif pada sediaan obat
tersebut memiliki pelarut yang cepat, berarti efek yang ditimbulkan juga
akan semakin cepat, begitu juga sebaliknya (Gennaro, 1990).
Pada percobaan ini ingin ditentukan konstanta kecepatan disolusi
suatu zat. Zat yang akan diukur kecepatan atau laju disolusinya adalah
Asam Salisilat yang melarut ke dalam media disolusi, dimana medium
disolusi yang digunakan adalah air suling. Kemudian ditentukan kadarnya
dengan menggunakan titrasi alkalimetri dimana titran yang digunakan
adalah NaOH dengan penambahan indikator fenolftalein.
Hal yang pertama dilakukan yaitu menyediakan dan membersihkan
alat menggunakan alkohol 70%. Menurut Mulyono (2008) dibersihkannya
alat menggunakan alkohol 70% karena untuk membebaskan debu dan
membebas lemakkan alat yang akan dipakai.
Selanjutnya diisi labu disolusi dan alat disolusi dengan aquadest
sebanyak 900 mL, lalu dicampurkan 1 gram asam salisilat dalam bejana
dan diatur temperatur alat disolusi 370C. Menurut Agoes (2008) dengan
maksud agar sesuai dengan suhu fisiologis suhu tubuh manusia. Hal ini
sebagai pembanding jika obat tersebut berada dalam tubuh manusia.
20

Pada percobaan ini, digunakan air suling sebagai media disolusi.


Menurut Genarro (1990), digunakan air karena air merupakan komponen
paling besar yang berada di dalam tubuh manusia, jadi obat seakan-akan
berdisolusi di dalam tubuh, selain itu karena mengingat kelarutan dari obat
yang digunakan.
Adapun volume dari labu disolusi yang digunakan adalah 900 ml.
Digunakan volume 900 mL dikarenakan menurut Agoes (2008), hal ini
dianalogikan terhadap suatu gelembung udara, maka gelembung udara
tersebut akan masuk ke pori-pori dan bekerja sebagai barier pada interfase
sehingga mengganggu disolusi obat.
Hal selanjutnya dijalankan ultra turax dengan kecepatan 50 rpm.
Digunakannya ultra turax dikarenakan menurut Agoes (2008) agar sediaan
tersebut dapar bercampur dengan baik dan juga dikarenakan untuk
menguji obat tersebut melarut dalam tubuh.
Kemudian pada menit ke-lima setelah alat disolusi dijalankan,
diambil campuran aquadest dengan asam salisilat sebanyak 10 mL dengan
menggunakan dispo yang sudah bersama dengan kertas sarig. Menurut
Alache (1990), ini bertujuan untuk mengelakkan molekul-molekul asam
salisilat yang tidak larut. Kemudian dimasukkan kedalam vial
Diusahakan setiap pengambilan larutan, diganti dengan air sesuai
dengan banyak volume yang diambil sebelumnya. Menurut Agoes (2008)
hal ini bertujuan untuk mempertahankan kondisi sink. Kondisi Sink adalah
suatu kondisi yang mengacu pada kapasitas medium disolusi, volume
media setidaknya lebih besar dari tiga kali yang dibutuhkan untuk
membentuk larutan jernih substansi obat.
Hal selanjutnya yang dilakukan kembali pengambilan larutan asam
salisilat sebanyak 10 ml pada menit ke-10, 15, 20,dan 25 dan diusahakan
setiap selesai pengambilan larutan diganti dengan 10 mL air.
Hal selanjutnya dijalankan ultra turax dengan kecepatan 100 rpm.
Kemudian pada menit ke-5, 10, 15, 20 dan 25 diambil larutannya
menggunakan dispo yang sudah berada bersamaan dengan kertas saring.ke
21

dalam vial dan diusahakan setiap pengambilan larutan, diganti dengan air
sesuai dengan volume yang diambil sebelumnya.
Hal selanjutnya ditetesi setiap vial menggunakan indikator
penoftalein. Menurut Alfian (2008) digunakannya indikator PP agar untuk
menentukkan titik akhir titrasi dengan adanya perubahan warna, dari tidak
berwarna berubah menjadi ungu.
Hal selanjutnya dilakukan titratsi. Dalam metode ini digunakan
metode alkalimetri. Digunakan metode alkalimetri dikarenakan menurut
Ansel (1985), sampel yang digunakan dalam hal ini yaitu asam salisilat
bersifat asam sehingga dinetralisasi dengan menggunakan basa (NaOH).
Dari hasil yang diperoleh, dapat dilihat bahwa kecepatan
pengadukan mempengaruhi konsentrasi asam salisilat. Terlihat bahwa
konsentrasi asam salisilat semakin bertambah seiring cepatnya proses
pengadukan dalam selang waktu 5, 10, 15, 20, dan 25 menit. Semakin
lama pengadukan,konsentrasi asam salisilat semakin besar. Hal tersebut
telah sesuai dengan literatur. Dikarenakan menurut Marin (1993), Semakin
lama waktu yang digunakan, semakin banyak pula volume titran yang
dikeluarkan untuk mendapatkan titik akhir titrasi.
Menurut Alache (1993), faktor-faktor kesalahan yang mungkin
mempengaruhi hasil yang diperoleh antara lain suhu larutan disolusi yang
tidak konstan., ketidaktepatan jumlah dari medium disolusi, setelah dipipet
beberapa mL, terjadi kesalahan pengukuran pada waktu pengambilan
sampel menggunakan pipet volume, kekeliruan praktikan dalam
menentukan volume titrasi dan titik akhir titrasi.dan suhu yang dipakai
tidak tepat.
22

BAB V
PENUTUP
IV.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa laju
disolusi pada kecepatan 100 rpm menghasilkan konsentrasi asam salisilat
yang lebih besar dibandingkan pada kecepatan 50 rpm. Pada menit ke 25
menghasilkan nilai konsentrasi asam salisilat lebih tinggi dibandingkan
dengan menit ke 20.
IV.2 Saran
V.2.1 Saran Asisten
Asisten lebih memperhatikan praktikan pada saat melakukan
praktikum, terutama saat melakukan setiap perlakuan pada suatu
percobaan saat praktikum berlangsung.
V.2.2 Saran Laboratorium
Lebih melengkapi sarana dan pra sarana dalam laboratorium untuk
memperlancar jalannya prakrikum.
V.2.3 Saran Jurusan
Sarana dan prasarananya sebaiknya ditingkatkan kembali agar kualitas
kerja lebih baik lagi.
V.2.4 Saran untuk Praktikan
Diharapkan agar praktikan lebih mengasah kemampuannya dalam
melakukan percobaan yang berhubungan dengan kimia sehingga dapat
memahami serta melakukan dengan baik praktikum yang akan
dilaksanakan

22
23

DAFTAR PUSTAKA

Agoes. 2008. Seri Farmasi Industri Sistem Penghantaran Obat Pelepasan


Terkendali. Bandung: ITB

Alache. 1993. Farmasetika dan Biofarmasetika Edisi II. Surabaya: Airlanga Press

Alfian. B. 2008. Disolusi Obat. Makassar: Universitas Muslim Indonesia.

Ansel, Howard C., 1985, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: UI Press,

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departement


Kesehatan Republik Indonesia

Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departement


Kesehatan Republik Indonesia

Lachman, L., Lieberman, H.A., and Kanig, J.L., 1986. The Theory and Practice of
Industrial Pharmacy,2nd ed., Lea and Febiger, Philadelphia.
Lachman L., Lieberman H.A., Kanig J.L., (1994), Teori dan Praktek Farmasi.
Industri diterjemahkan oleh Suyatni S., Edisi II. Jakarta: UI Press.
Martin, A., et.all., 1993,. Farmasi Fisika Edisi III, Bagian II. Jakarta: Penerbit UI

Mulyono. K. 2008. Farmasi dan Biofarmasetika. Jakarta: Penerbit UI

Gennaro, A. R., et all., 1990. Remingto’s Pharmaceutical Sciensces “, Edisi 18th,


Pensylvania: Marck Publishing Company

Parrot, E. L. 1994. Pharmaceutical Technologi United States. Amerika:


Publishing Company
Rowe et al. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients Sixth Edition. London:
Pharmaceutical Press
24

LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1
Diagram Alir
1. Uji disolusi

Asam salisilat

- Ditimbang 1 gr
- Dimasukkan pada labu disolusi yang berisi air
- Diatur suhu thermostat pada suhu 37°C
- Diatur kecepatan ultra turax 50 rpm
- Dilakukan pengadukan dengan variasi waktu 5, 10, 15, 20,
dan 25 menit.
- Diambil sampling salisilat menggunakan dispo setelah 5, 10,
15, 20, dan 25 menit pengadukan.
- Dimasukan tiap-tiap larutan kedalam botol vial.
- Ditetesi 3 tetes indicator pp
- Dititrasi dengan NaOH 0,1 N
- Diamati sampel sampai terjadi perubahan warna
- Dicatat hasil dalam bentuk table

Warna Ungu
25

Lampiran 2
Skema Kerja

Dimasukan Asan Diatur kecepatan


salisilat 1 g kedalam ultraturax
tabung disolusi

Diambil samping
Dilakukan
asam salisilat
pengadukan dengan
menggunakan dispo
viarasi waktu yang
setelah waktu yang
telah ditentukan
ditentukan

Dimasukan kedalam Ditetes sebanyak 3


botol vial dan diberi tetes dengan indikator
label pp
26

Diamati sampel Dititrasi larutan


sampai terjadi sampling dengan
perubahan warna NaOH 0,1 N.
menjadi ungu,

Dihitung Volume
Titran