Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dalam meracik suatu bentuk sediaan obat, tentunya ada beberapa faktor atau
aspek yang perlu diperhatikan agar sediaan yang dihasilkan bisa sesuai, salah
satunya adalah bentuk keseragaman ukuran partikel.Ukuran partikel dari bahan
obat merupakan penentu untuk beberpa sifat zat.Hal ini berlaku baik untuk bahan
yang berada dalam kondisi berbentuk serbuk atau bubuk maupun yang diracik
dalam bentuk sediaan tablet, granular, salep,suppositoria dan emulsi.
Pada tahun-tahun terakhir ini, perhatian lebih banyak tercurah pada aspek
biofarmasi.Ukuran partikel misalnya, pengaruh kecepatan melarut obat sukar larut
melalui ukuran partikelnya, yang berkaitan erat dengan kerja pembebasan obat
dan reabsorbsi.
Ukuran partikel inilah yang nantinya bisa menentukan suatu efek dari obat
tersebut melalui beberapa tahap perjalanannya mulai dari fase farmakokinetik,
khususnya pada proses disolusi atau pelepasan obat dari bentuk sediaan dan pada
proses absorbsi dari obat itu sendiri, fase farmakodinamik dan fase biofarmasi.
Maka dari itu diperlukan ilmu yang mempelajari tentang ukuran partikel itu
sendiri, ilmu tersebut dinamakan mikromeritik oleh Dalla Valle. Dalam
mikromeritik, metode yang digunakan adalah, metode mikroskopis optik, metode
ayakan dan metode sedimentasi atau pengendapan. Metode yang akan digunakan
dalam praktikum kali ini adalah metode ayakan. Dalam pembahasan kali ini akan
membahas tentang mikromeritik dengan menggunakan metode ayakan (Alfred,
1993)
Dengan adanya mikromeritik setidaknya seorang ahli farmasi bisa
memahami bagaimana cara mengukur diameter partikel dari suatu sediaan,
apalagi jika ukuran partikelnya sangat mikroskopis setelah memalui proses
pengayakan tentunya akan sangat susah untuk mengukur diameter partikelnya
I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami cara pengukuran diameter partikel
suatu zat dengan menggunakan metode tertentu.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Mengukur diameter partikel dari laktosa dan magnesium stearat
dengan metode ayakan.
I.3 Prinsip Kerja Percobaan
Prinsip kerja dari praktikum ini adalah pengukuran partikel dari
serbuk berdasarkan atas penimbangan residu yang tertinggal pada ayakan
yaitu dengan melewatkan serbuk pada ayakan dari nomor Mesh terendah ke
nomor Mesh tertinggi yang digerakkan dengan mesin penggetar dengan
waktu dan kecepatan tertentu.
.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Dasar Teori


Ilmu pengetahuan dan teknologi tentang partikel-partikel kecil oleh
Dalla Valle dinamakan Mikromeritik. Dispersi koloid mempunyai sifat
karakteristik yaitu partikel-partikelnya tidak dapat dilihat di bawah
mikroskop biasa, sedangkan partikel-partikelnya dari emulsi dan suspensi
farmasi serta serbuk halus ukurannya berada dalam jarak penglihatan
mikroskop. Partikel-partikel yang ukurannya sebesar serbuk kasar, granulat
tablet atau granulat garam, ukurannya berada dalam jarak pengayakan
(Martin, 1994).
Pengetahuan dan pengendalian ukuran, serta kisaran ukuran partikel
sangat penting dalam farmasi. Jadi ukuran, dan karenanya juga luas
permukaan, dari suatu partikel dapat dihubungkan secara berarti pada sifat
fisika, kimia dan farmakologi dari suatu obat. Secara klinik ukuran partikel
suatu obat dapat mempengaruhi penglepasannya dari bentuk-bentuk sediaan
yang diberikan secara oral, parenteral, rektal dan topikal. Formulasi yang
berhasil dari suspensi, emulsi dan tablet, dari segi kestabilan fisik dan
respon farmakologis, juga bergantung pada ukuran partikel yang dicapai
dalam produk tersebut. Dalam bidang pembuatan tablet dan kapsul,
pengendalian ukuran partikel penting sekali dalam mencapai sifat aliran
yang diperlukan dan pencampuran yang benar dari granul dan serbuk. Hal
ini membuat seorang farmasis kini harus mengetahuhi pengetahuan
mengenai mikromimetik yang baik (Ansel, 1989).
Satuan ukuran partikel yang sering dipakai dalam mikromeitik
adalah micrometer (m) juga disebut micron, dan , sama dengan 10 -6 m.
Partikel merupakan fasa terdispersi dan dapat berupa padatan, misalnya
serbuk. Berdasarkan metoda pengukurannya, ukuran serbuk digolongkan
dalam rentang ukuran sebagai berikut :
1. Rentang pengayakan (sive range) > 45
2. Rentang bawah pengayakan (subsieve range) 1 50
3. Rentang submikron (submicron range) < 1
Pengetahuan dan pengendalian ukuran, serta kisaran ukuran partikel
sangat penting dalam farmasi, diantaranya yaitu:
1. Secara klinik ukuran partikel suatu obat dapat mempengaruhi pelepasan
zat aktif dari berbagai bentuk sediaan yang diberikan baik secara oral
(melalui mulut), parenteral (injeksi), rekta (melalui anus), maupun
topical (melalui kulit).
2. Di bidang pembuatan tablet dan kapsul, pengendalian ukuran partikel
sangat penting dan banyak membantu dalam mencapai sifat aliran yang
diperlukan dan pencampuran yang benar dari granul dan serbuk.
3. Suatu formulasi yang baik , yaitu sediaan (obat jadi) berupa suspensi,
emulsi, maupun tablet dilihat dari segi kestabilannya secara fisik
maupun farmakologik (efek, khasiat obat ) akan tergantung pada ukuran
partikel yang terdapat dalam obat jadi tersebut.
Ukuran partikel dapat dinyakan dengan berbagai cara. Ukuran
diameter rata- rata dan beberapa cara pengukuran partikel yaitu :
1. Metode Miroskopik
Dalam metode mikroskopik pengkuran diameter rata-rata dari sistm
diperoleh dengan pengukuran partikel secara acak sepanjang garis yang
ditentukan. Partikel yang tersusun secara acak diatur diameternya
dengan rekuensi yang sama dalam berbagai arah, sehingga partikel
tersebut dianggap sebagai partikel yang berbentuk bola dengan diameter
yang sama. Untuk memperoleh data yang statistik minimal harus diukur
200 partikel pada serbuk pharsetik. Pengukuran biasanya dengan
menggunakan mikroskopik mempunyai daya pisah yang bagus. Alat
optik mikroskopik harus mempunyai jarum penunjuk yang digerakkan
dengan kalibrasi mikrometer sekrup (Tim Teaching, 2016).
Metode ini digunakan apabila partikelnya lebih kecil yaitu
partikel dengan ukuran Angstrom. Dari 10-1000 Angstrom (1 Angstrom
= 0,001 mikrometer), mikroskop ini mempunyai jelajah ukur dari 12
mikrometer sampai kurang lebih 100 mikrometer (Effendy, 2003).
2. Metode Pengayakan
Metode ayakan merupakan metode yang paling sederhana untuk
mengukur ukuran rata-rata partikel. Ayakan dapat dibuat dari kawat
dengan ukuran lubang tertentu, dimana lubang dinyatakan dalam
ukuran rinci. Dalam menentukan ukuran partikel dengan ayakan,
ayakan disusun bertingkat dengan ayakan yang paling kasar diletakkan
paling atas pada penggerak, dan serbuk contoh dituangkan pada ayakan
paling atas. Biasanya batas penggunaan ayakan dalam mengukur suatu
partikel dinyatakan dalam 44 mikron. Pada metode ini terdapat dua
jenis ayakan yang dapat digunakan, yaitu ayakan OPN dan ayakan
Mesh. Pada ayakan OPN jika nomor ayakan semakin kecil maka
serbuk yang dihasilkan semakin kecil pula, dan sebaliknya jika nomor
ayakan semakin besar maka semakin besar pula atau serbuk kasar yang
dihasilkan. Berbeda dengan ayakan OPN, pada ayakan Mesh jika
semakin kecil nomor ayakan maka serbuk yang dihasilkan semakin
kasar, dan sebaliknya semakin besar nomor ayakan maka semakin halus
atau semakin kecil serbuk yang dihasilkan. Istilah mesh adalah nomor
yang menyatakan jumlah luabang tiap inci. Ayakan standar adalah
ayakan yang telaha dikalibrasi dan yang paling umum adalah ayakan
menurut standar Amerika (Parrot, 1971).
Cara ini dapat dilakukan dengan cara bahan yang akan diukur
partikelnya diletakkan di atas ayakan dengan nomor rendah jika
menggunakan ayakan Mesh. Kemudian dibawahnya ditempatkan
ayakan dengan ayakan dengan nomor mesh yang lebih tinggi. Perlu
diingat bahwa ayakan dengan nomor Mesh rendah mempunyai ukuran
lubang relatif besar dibandingkan dengan ayakan dengan nomor Mesh
tinggi. Atau dengan kata lain partikel melalui ayakan nomor mesh 100
ukuran partikel lebih kecil dibanding dengan partikel yang melalui
ayakan nomor Mesh 30 (Effendy, 2003).
3. Metode Sedimentasi
Cara sedimentasi dapat digunakan untuk mengukur bobot jenis
suatu senyawa polimer. Namun dapat juga untuk menetapkan ukuran
partikel suatu zat padat. Metode sedimentasi di dasarklan pada hukum
Stoke, hukum Stoke menyatakan bahwa ada hubungan antara kecepatan
dengan bobot jenis, viskositas dan diameter partikel. Serbuk yang akan
diukur disuspensikan dalam cairan, dimana serbuk tidak dapat larut.
Suspensi ini ditempatkan pada sebuah pipet yang bervariasi. Sampel ini
diuapkan untuk dikeringkan dan residunya ditimbang. Setiap sampel
ditarik yang mempunyai ukuran partikel yang lebih kecil dari yang
dihubungkan dengan kecepatan. Pengendapan terjadi karena semua
partikel dengan ukuran yang lebih panjang akan jatuh ke level bawah
dari ujung pipet (Parrot, 1971).
Ukuran partikel dalam kisaran ukuran yang terayak bisa diperoleh
dengan sedimentasi gravitasi, yang dinyatakan dalam hukum Stokes.
h s
V=
t
= d2 -o) g / 18

Di mana : v = kecepatan pengendapan,
h = jarak yang ditempuh selama waktu t
dst = garis tengah Stokes
= kekentalan (viskositas ) medium disperse
g = percepatan gravitasi
s = bobot jenis partikel
o = bobot jenis media
Berikut ini adalah Sifat-sifat turunan dari suatu serbuk.
1. Porositas
Porositas atau rongga () dari serbuk didefisisikan sebagai
perbandingan volume rongga terhadap volume bulk dari suatu
pengepakan. Volume bulk, Vb merupakan volume yang ditempatkan
oleh serbuk. Porositas dinyatakan dalam persen.
2. Susunan Pengepakan
Susunan pengepakan yang ideal yakni :
a. Paling dekat atau Rhombohedral.
b. Paling longar, sebagian besar terbuka atau pengepakan kubus atau most
open, loosest
Partikel-partikel serbuk umumnya bisa mempunyai tiap susunan
antara kedua pengepakan ideal dan kebanyakan serbu-serbuk dalam
praktek mempunyai porositas antara 30-50 %.
3. Kerapatan Partikel
Kerapatan secara umum didefinisikan sebagai berat per satuan
volume. Ada 3 tipe kerapatan yakni :
a. Kerapatan sebenarnya ()
Merupakan kerapatan dari bahan padat yang nyata (sebenarnya).
Kerapatan sebenarnya dari serbuk-serbuk dapat ditentukan dengan
menggunakan suatu Densitometer Helium.
b. Kerapatan Granul (g)
Dapat ditentukan dengan suatu metoda yang serupa dengan metoda
pemindahan cairan, dengan menggunakan air raksa yang dapat mengisi
ruang-ruang kosong tetapi tidak berpenetrasi kedalam pori-pori dalam
dari partikel-partikel.
c. Kerapatan Bulk (b)
Dapat didefinisikan sebagai massa dari suatu serbuk dibagi dengan
volume bulk. Kerapatan bulk dapat ditentukan dari volume bulk dan
berat suatu serbuk kering dalam sebuah gelas ukur. Kerapatan bulk dari
suatu serbuk bergantung pada distribusi ukuran partikel, bentuk
partikel, dan kecenderungan partikel untuk melekat satu dengan
lainnya.
4. Bulkiness
Volume bulk spesifik merupakan kebalikan dari kerpatan bulk
yang biasa disebut bulkiness atau bulk saja. Bulk merupakan suatu hal
yang perlu dipertimbangkan dalam pengemasan serbuk.
5. Sifat Aliran
Serbuk Bulk agak analog dengan cairan Non Newton yang
menunjukan aliran plastik dan kadang-kadang dilatasi, partikel
partikel dipengaruhi oleh gaya tarik-menarik sampai derajat yang
bervariasi, oleh karena itu serbuk dapat mengalir bebas ataupun
melekat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat aliran dari serbuk yakni
ukuran partikel, porositas, dan kerapatan serta kehalusan permukaan.
Untuk memperbaiki karakteristik aliran dapat ditambahkan pelincir
(glidant) pada serbuk glanular seperti Magnesium Stearat, Amilum, dan
talk. Untuk mengukur serbuk yang mengalir per satuan waktu melalui
lubang corong dapat menggunakan suatu pencatat pengukuran aliran
serbuk sehingga dapat diperoleh konsenterasi pelincir optimum yakni 1
% atau kurang.
6. Pengompakan
Jika serbuk dikompakan pada tekanan kira-kira 5 kg/cm2,
porositas serbuk yang tersusun dari partikel-partikel yang kaku akan
lebih tinggi daripada porsitas serbuk-srbuk dalam packingyang sangat
berdekatan seperti ditentukan oleh percobaan pengetukkan sehingga
serbuk-serbuk ini akan dilatan yakni menunjukan pengembangan yang
tidak diharapkan, bukan kontraksi dibawah pengaruh tekanan.
TABEL ISTILAH KELARUTAN LIHAT DI IRES....

II.2 Uraian Bahan


II.2.1 Alkohol (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama lain : Etanol, Akohol
RM / BM : C2H5OH / 46,07 g/mol
Rumus struktur :

Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih mudah menguap dan


mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah
terbakar dengan memberikan nyala biru tidak
berasap
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P.
Khasiat : Anti septik dan desinfektan
Kegunaan : Zat tambahan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari
cahaya, di tempat sejuk, jauh dari nyala api.
II.2.2 Laktosa (Dirjen POM, 1995)
Nama resmi : LACTOSUM
Nama lain : Laktosa, saccarum lactis
RM / BM : C11H22O11 / 342,30 g/mol
Rumus struktur :

Pemerian : Serbuk atau masa hablur, keras, putih atau putih krem.
Tidak berbau, dan rasa sedikit manis. Stabil diudara,
tetapi mudah menyerap bau.

Kelarutan : Mudah dan pelan-pelan larut dalam air dan lebih


mudah larut dalam air mendidih, sangat sukar larut
dalam etanol, tidak larut dalam kloroform dan dalam
eter
Khasiat : Zat tambahan?
Kegunaan : Zat tambahan?
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
II.2.3 Magnesium Stearat (Dirjen POM,1995)
Nama resmi : MAGNESII STEARAS
Nama ilmiah : Magnesium stearat
RM / BM : C16H19N3O5S.3H3O / 419,45 g/mol?
Rumus Struktur :

Pemerian : Serbuk halus, putih, bau lemah khas, mudah


melekat dikulit, bebas dari butiran.
Kelarutan : Tidak larut dalam air, dalam etanol, dan dalam eter.
Khasiat : ?
Kegunaan : Zat aktif?
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

BAB III
METODE KERJA
3.1 Waktu Dan Tempat
Pelaksanaan praktikum kali ini bertempat dilaboratorium
farmasetika, hari kamis 13 oktober 2016 pukul 13.00 sampai pukul 18.00.
3.2 Metode
Menggunakan metode ayakan bertingkat
3.3 Alat Dan Bahan
3.3.1 Alat

Ayakan bertingkat Cawan porselin

Neraca analitik Spatula

3.3.2 Bahan

Alkohol Kertas perkamen

Laktosa
Magnesium stearat
Tissu

3.4 Cara Kerja


a. Laktosa
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Membersihkan alat dengan menggunakan tisu.
3. Menyusun ayakan bertingkat dari bawah ke atas yaitu dari nomor mesh
100,60, dan 44.
4. Menimbang bahan laktosa sebanyak 25 Mg dengan menggunakan
neraca analitik.
5. Menuangkan laktosa kedalam ayakan paling atas kemudian ayakan
ditutup.
6. Mengayak bahan laktosa selama 10 menit dengan kecepatan konstan.
7. Menimbang laktosayang tertinggal pada masing-masing ayakan
dengan menggunakan neraca analitik.
8. Mencatat berat laktosa yang diperoleh dari masing-masing ayakan.
9. Menghitung diameter dari partikel laktosa.
b. Magnesium stearat
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Membersihkan alat dengan menggunakan tisu.
3. Menyusun ayakan bertingkat dari bawah ke atas yaitu dari nomor
mesh 100,60, dan 44.
4. Menimbang bahan magnesium stearat sebanyak 25 Mg dengan
menggunakan neraca analitik.
5. Menuangkan magnesium stearat kedalam ayakan paling atas
kemudian ayakan ditutup.
6. Mengayak bahan magnesium stearat selama 10 menit dengan
kecepatan konstan.
7. Menimbang magnesium stearat yang tertinggal pada masing-masing
ayakan dengan menggunakan neraca analitik.
8. Mencatat berat magnesium stearat yang diperoleh dari masing-masing
ayakan.
9. Menghitung diameter dari partikel magnesium stearat.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.I Hasil Pengamatan Dan Perhitungan


IV.1.1 Tabel
N Jenis Nomor [a] [d] [a x d] Diameter
o Sampel Mesh Bobot Persen Rata-Rata
Yang Diuji Yang Tertinggal
Tertinggal (%)
(G)
1 Laktosa 44 16,06 64,24 1031,83 11,16
60 5,68 22,71 128,97 1,39
100 1,36 5,45 7,43 0,08

23,10 92,40 1168,23 12,63

2 Magnesiu 44 9,61 38,44 369,50 3.95


m Stearat 60 13,27 53,09 704,66 7,54
100 0,46 1,85 0,85 0,009

23,35 93,38 1075,01 11,49

IV.I.2 Perhitungan
a. Laktosa
jumlah bobot tertinggal
Bobot yang tertinggal : x 100 =
jumlah seluruh
16,06
44 : x 100 = 64,24%
25
5,68
60 : x 100 = 22,71%
25
1,36
100 : x 100 = 5,45%
25
b. Magnesium Stearat
jumlah bobot tertinggal
Bobot yang tertinggal : x 100 =
jumlah seluruh
9,61
44 : x 100 = 38,44%
25
13,27
60 : x 100 = 59,09%
25
0,46
100 : x 100 = 1,85%
25
2. Diameter rata-rata pada tablet
a. Laktosa
a xd
Diameter :
d
1031,83
44 : x 100 = 11,16
92,40
128,97
60 : x 100 = 1,39
92,40
7,43
100 : x 100 = 0,08
92,40
b. Magnesium Stearat
a xd
Diameter :
d x 100%
369,50
44 : x 100 = 3,95
93,38
704,66
60 : x 100 = 7,54
93,38
0,85
100 : x 100 = 0,009
93,38
3. Diameter rata-rata
a. Laktosa

D=
a xd =
1168,23
= 12,64
d 92,40

b. Magnesium Stearat
D=
a xd =
1075,01
= 11,51
d 93,38

IV.II Pembahasan
Metode dalam mengukur diameter partikel terbagi atas 3, yaitu metode
mikroskopis optik, metode ayakan dan metode sedimentasi/pengendapan.Untuk
praktikum kali ini metode yang digunakan adalah metode ayakan, dimana kita
menimbang dan mengayak sampel dengan ayakan dengan nomor ayakan tertentu.
Dalam pengukuran partikel dengan menggunakan metode ini, kegiatan pertama
yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Alat
tersebut yaitu, ayakan dengan nomor Mesh masing-masing 44, 60, dan 100, kaca
arloji yang digunakan sebagai wadah sampel saat akan ditimbang, neraca analitik
yang digunakan untuk menimbang dan sendok tanduk yang dipakai untuk
memindahkan sampel dari wadah ke dalam ayakan. Untuk bahan yang digunakan
adalah Laktosa dan Magnesium stearat sebagai sampel yang akan di ukur diameter
partikelnya, alkohol dan tissue untuk membersihkan alat dan kertas perkamen
sebagai wadah sampel untuk ditimbang.
Langkah selanjutnya, membersihkan ayakan dengan cara mengoleskan
alkohol 70%. Hal ini bertujuan untuk menghindari mikroorganisme yang ada pada
alat karena penyimpanan yang cukup lama.Selain itu juga untuk menghindari
terjadinya kesalahan perhitungan penimbangan akibat tertutupnya lubang ayakan
dengan zat-zat asing.
Setelah itu, ayakan mulai disusun dari bawah keatas berdasarkan banyaknya
lubang atau sesuai dengan nomor Mesh dari nomor terkecil sampai terbesar
.Dalam percobaan ini digunakan ayakan berdasarkan nomor Mesh. Nomor Mesh
yang digunakan adalah 44, 60, dan 100 .Nomor Mesh Tidak berbanding lurus
dengan ukuran partikel maksudnya, semakin besar nomor Mesh maka semakin
halus ukuran partikel. Atau, semakin besar nomor Mesh maka akan semakin
banyak pula jumlah lubang yang terdapat pada ayakan. Demikian juga jika nomor
Mesh semakin kecil maka akan semakin kasar pula ukuran partikel dan jumlah
lubang pada ayakan semakin sedikit. Selain Mesh sering juga digunakan ayakan
berdasarkan nomor OPN, ayakan OPN semakin besar nomor OPN maka ukuran
partikel semakin kasar dan jumlah lubang pada ayakan semakin sedikit begitu
juga sebaliknya.
Kemudian, sampel laktosa dan magnesium stearat ditimbang secara
bergantian dengan menggunakan neraca analitik. Sebelum ditimbang, kertas
Perkamen dan kaca arloji yang digunakan sebagai wadah sampel harus dikalibrasi
terebih dahulu, tujuannya agar tidak terjadi kesalahan pada saat penimbangan
.Jumlah laktosa dan magnesium stearat yang ditimbang masing-masing sebanyak
25 g.
Setelah sampel ditimbang, sampel tersebut dimasukkan kedalam ayakan
dengan nomor Mesh terkecil ke terbesar atau urutan yang pertama.Sampel yang
pertama diayak adalah Laktosa .Kemudian, ayakan ditutup dan digoyang secara
mekanik selama 10 menit dengan kecepatan yang konstan. Setelah itu, sampel
yang tertinggal pada ketiga ayakan di letakkan di atas kertas perkamen secara
terpisah yang di beri label berdasarkan nomor Mesh .Kemudian sisa ayakan
tersebut ditimbang dengan menggunakan neraca analitik. Hasil dari penimbangan
tadi dihitung dengan menggunakan rumus untuk mendapatkan diameter rata-rata
partikel.
Kemudian dilanjutkan dengan sampel kedua yaitu Magnesium stearat.
Prosesnya sama dengan sampel yang pertama. Pertama menimbang Magnesium
stearat, kemudian diayak dengan ayakan yang sudah disusun sesuai dengan nomor
Mesh dan hasil dari pati jagung yang tersisa pada tiap ayakan dikeluarkan dan
ditimbang untuk diukur diameter partikelnya.
Kemungkinan kesalahan yang bisa terjadi dalam percobaan kali ini antara
lain :
Kesalahan penimbangan hasil ayakan
Ayakan yang tidak bersih sehingga mempengaruhi hasil
Hasil ayakan yang berkurang karena terbang oleh angin
Adanya sampel yang melekat pada kaca arloji dan sendok tanduk sehingga
mempengaruhi hasil
Adanya sampel yang terbuang karena kesalahan praktikan

BAB VI
PENUTUP
VI.1 Kesimpulan
Dari praktikum mikromeritik kali ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
Diperoleh diameter partikel dari pati jagug adalah 18,7410 m dan diameter
partikel dari gula pasir adalah 11,6676 m.
VI.2 Saran
1. Sebaiknyapara praktikan lebih teliti dalam melaksanakan praktikum
2. Sebaiknya fasilitas dalam laboratorium lebih dilengkapi lagi.

Martin Alfred dkk. 1993. Farmasi Fisika Edisi Ketiga.


Universitas
Indonesia : Jakarta