Anda di halaman 1dari 7

Amoebiasis adalah penyakit infeksi usus besar yang disebabkan oleh parasit komensal usus.

Penyakit ini tersebar hampir diseluruh dunia terutama di daerah negara tropis yang sedang
berkembang. Umumnya disebabkan karena faktor kepadatan penduduk, higiene individu dan sanitasi
lingkungan hidup serta kondisi sosial ekonomi dan kultural yang kurang menunjang perilaku kesehatan.

Kasus amoebiasis masih sering di jumpai, baik di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) maupun
dalam praktek kedokteran sehari-hari, tetapi penanganannya kadangkala kurang memadai, sehingga
akan terjadi komplikasi (penyulit) yang lebih berbahaya. Maka ada baiknya diketahui tentang kasus
amoebiasis agar bisa dilakukan penanganan dan pencegahan yang tepat.

Kuman Penyebab Amoebiasis.

Entamoeba histolytica merupakan protozoa usus, sering hidup sebagai komensal (apatogen=tidak
menimbulkan penyakit) di usus besar manusia. Apabila kondisi tubuh mengizinkan dapat berubah
menjadi patogen (membentuk koloni di dinding usus, menembus dinding usus dan menimbulkan
peradangan). Siklus hidupnya ada 2 macam yaitu bentuk trofozoit yang dapat bergerak dan bentuk kista
yang bisa bertahan.

Jenis Kasus Amoebiasis

Kuman amoeba bisa menginfeksi di dalam usus, menimbulkan kasus Amoebiasis Usus Akut, Amoebiasis
Usus Kronis (carrier), atau infeksi di luar usus terutama mengakibatkan penyakit Amoebiasis Hati dan
Amoebiasis Paru.

Gejala Klinis Amoebiasis

Amoebiasis Carrier (cyst passer) : tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali, karena amoeba yang
berada dalam lumen usus besar, tidak mengadakan invasi ke dinding usus.

Amoebisis Usus Ringan : timbulnya gejala perlahan-lahan, biasanya mengeluh perut kembung, kadang-
kadang nyeri perut ringan seperti kejang. Diare ringan, 4-5 kali sehari, tinja berbau busuk, bercampur
darah dan lendir, sedikit nyeri tekan di daerah uluhati.

Amoebisis Usus Sedang : keluhan dan gejala klinis lebih berat dibandingkan disentri ringan, tetapi masih
mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Tinja disertai darah dan lendir dengan keluhan perut kram,
demam dan lemah badan.

Amoebiasis Usus Berat : mengalami diare disertai darah yang banyak, lebih dari 15 kali sehari, demam
tinggi (40 derajat celcius-40,5 derajat celcius), disertai mual dan anemia.

Amoebiasis kronik : gejalanya menyerupai disentri amoeba ringan, serangan diare diselingi dengan
periode normal atau tanpa gejala. Serangan diare biasanya terjadi karena kelelahan, demam atau
makanan yang sukar dicerna.
Penanganan Penyakit Amoebiasis

Obat amoebisid (pemusnah amoeba) tidak bekerja efektif di semua tempat infeksi, terutama bila
diberikan dosis tunggal, sehingga dikombinasikan untuk meningkatkan efektifitas pengobatan. Segera
konsultasikan dengan dokter, di pusat pelayanan kesehatan terdekat.

Pencegahan Masalah Amoebiasis

Makanan dan air minum sebaiknya di masak dulu dengan baik, karena kista akan binasa bila dipanaskan
50 derajat Celcius selama 5 menit. Penting sekali adanya jamban keluarga, isolasi dan pengobatan
terhadap carrier. Khusus untuk seorang carrier (pembawa kista penyakit) dilarang bekerja sebagai juru
masak atau segala pekerjaan yang berhubungan dengan makanan.

AMOEBIASIS (Amebiasis)

By omkutjing

1. Identifikasi

Infeksi oleh protozoa ada dalam 2 bentuk; dalam bentuk kista yang infektif dan bentuk lain yang lebih
rapuh, berupa trofosoit yang patogen. Parasit bisa menjadi komensal atau menyerang jaringan dan naik
ke saluran pencernaan atau menjadi penyakit ekstraintestinal. Kebanyakan infeksi tidak memberikan
gejala, namun muncul gejala klinis pada kondisi tertentu. Penyakit pada saluran pencernaan bervariasi
mulai dari akut atau berupa disenteri fulminan dengan gejala demam, menggigil, diare dengan darah
atau diare mukoid (disenteri amoeba), hingga hanya berupa perasaan tidak nyaman pada abdomen
dengan diare yang mengandung darah atau lendir dengan periode konstipasi atau remisi. Amoeba
granulomata (ameboma), kadang-kadang dikira sebagai kanker, bisa muncul di dinding usur besar pada
penderita dengan disenteri intermiten atau pada kolitis kronis. Luka pada kulit, di daerah perianal,
sangat jarang terjadi sebagai perluasan langsung dari lesi saluran pencernaan atau abses hati yang
disebabkan oleh amoeba, lesi pada penis bisa terjadi pada orang dengan perilaku homoseksual aktif.
Penyebaran melalui aliran darah mengakibatkan abses di hati, atau yang lebih jarang di paru-paru atau
di otak.

Kolitis yang disebabkan oleh amoeba sering dikelirukan dengan berbagai bentuk penyakit radang usus
seperti kolitis ulserativa; harus hati-hati dalam membedakan kedua penyakit ini karena pemberian
kortikosteroid bisa memperburuk kolitis oleh amoeba. Amoebiasis juga mirip dengan berbagai penyakit
saluran pencernaan non-infeksi dan infeksi. Sebaliknya, ditemukannya amoeba dalam tinja bisa dikira
sebagai penyebab diare pada orang yang penyakit saluran pencernaannya disebabkan oleh sebab lain.
Diagnosa dibuat dengan ditemukannya trofosoit atau kista pada spesimen tinja segar, atau preparat
apus dari aspirat atau kerokan jaringan yang didapat dari proctoscopy atau aspirat dari abses atau dari
potongan jaringan. Adanya trofosoit yang mengandung eritrosit mengindikasikan adanya invasive
amoebiasis.

Pemeriksaan sebaiknya dilakukan pada spesimen segar oleh seorang yang terlatih karena organisme ini
harus di bedakan dari amoeba non patogen dan makrofag. Tes deteksi antigen pada tinja saat ini telah
tersedia; tetapi tes ini tidak dapat membedakan organisme patogen dari organisme non-patogen.
Diharapkan kelak dikemudian hari, pengujian spesifik terhadap Entamoeba histolityca telah tersedia.
Diperlukan adanya laboratorium rujukan. Banyak tes serologis yang tersedia sebagai tes tambahan
untuk mendiagnosa amoebiasis ekstraintestinal, seperti abses hati dimana pemeriksaan tinja kadang-
kadang hasilnya negatif. Tes serologis terutama imunodifusi HIA dan ELISA, sangat bermanfaat untuk
mendiagnosa penyakit invasif. Scintillography, USG dan pemindaian CAT sangat membantu menemukan
dan menentukan lokasi dari abses hati amoeba dan sebagai penegakan diagnosa apabila disertai dengan
ditemukannya antibodi spesifik terhadap Entamoeba histolityca.

2. Penyebab penyakit.

Entamoeba histolityca adalah parasit yang berbeda dengan E. hartmanni, Escherishia coli atau protozoa
saluran pencernaan lainnya. Membedakan E. histolityca patogen dengan organisme non-patogen yang
secara morfologis sama yaitu E. dispar didasarkan pada perbedaan imunologis dan pola isoenzim nya.
Ada 9 patogen dan 13 nonpatogen zymodemes (yang di klasifikasikan sebagai E. dispar) telah
diidentifikasi dan di isolasi dari 5 benua. Kebanyakan kista yang ditemukan dalam tinja orang tanpa
gejala adalah E. dispar.

3. Distribusi penyakit.

Amoebiasis ada dimana-mana. Invasive amoebiasis biasanya terjadi pada dewasa muda. Abses hati
terjadi terutama pada pria. Amoebiasis jarang terjadi pada usia dibawah 5 tahun dan terutama di bawah
2 tahun, pada usia ini disenteri biasanya karena shigella. Angka prevalensi kista yang di publikasikan,
biasanya didasarkan pada bentuk morfologi dari kista, sangat bervariasi dari satu tempat ketempat lain.
Pada umumnya, angka ini lebih tinggi di tempat dengan sanitasi buruk (sebagian besar daerah tropis), di
institusi perawatan mental dan diantara para homoseksual pria, (kemungkinan kista dari E. dispar). Di
daerah dengan sanitasi yang baik, infeksi amoeba cenderung terjadi di rumah tangga dan institusi.
Proporsi dari pembawa kista yang menunjukkan gejala klinis biasanya rendah.
4. Reservoir : Manusia; biasanya penderita kronis atau pembawa kista yang tidak menampakkan gejala.

5. Cara penularan.

Penularan terjadi terutama dengan mengkonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi tinja dan
mengandung kista amoeba yang relatif resisten terhadap klorin. Penularan mungkin terjadi secara
seksual melalui kontak oral-anal. Penderita dengan disentri amoeba akut mungkin tidak akan
membahayakan orang lain karena tidak adanya kista dan trofosoit pada kotoran.

6. Masa inkubasi : Bervariasi, mulai dari beberapa hari hingga beberapa bulan atau tahun, biasanya 2 – 4
minggu.

7. Masa penularan : Selama ada E. histolytica, kista dikeluarkan melalui tinja dan ini bisa berlangsung
selama bertahun-tahun.

8. Kekebalan dan kerentanan.

Semua orang rentan tertulari, orang-orang yang terinfeksi E. dispar tidak akan menjadi sakit. Infeksi
ulang mungkin tejadi tetapi sangat jarang.

9. Cara pemberantasan.

A. Tindakan pencegahan.

1) Memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang kebersihan perorangan, terutama pembuangan


tinja yang saniter, dan mencuci tangan sesudah buang air besar dan sebelum memasak atau menjamah
makanan. Menyebarkan informasi tentang risiko mengkonsumsi buah atau sayuan mentah atau yang
tidak dimasak dan minum air yang tidak terjamin kebersihannya.
2) Membuang tinja dengan cara yang saniter.

3) Melindungi sumber air umum dari kontaminasi tinja. Saringan air dari pasir menghilangkan hampir
semua kista dan filter tanah diatomaceous menghilangkan semua kista. Klorinasi air yang biasanya
dilakukan pada pengolahan air untuk umum tidak selalu membunuh kista; air dalam jumlah sedikit
seperti di kantin atau kantong Lyster sangat baik bila di olah dengan yodium dalam kadar tertentu,
apakah itu dalam bentuk cairan (8 tetes larutan yodium tincture 2% per quart air atau 12,5 ml/ltr larutan
jenuh kristal yodium) atau sebagai tablet pemurni air (satu tablet tetraglycin hydroperiodide, Globaline
®, per quart air). Biarkan lebih kurang selama 10 menit (30 menit jika dingin) sebelum air bisa diminum.
Filter yang mudah dibawa dengan ukuran pori kurang dari 1,0 µm efektif untuk digunakan. Air yang
kualitasnya diragukan dapat digunakan dengan aman bila di rebus selama 1 menit.

4) Mengobati orang yang diketahui sebagai “carriers”; perlu ditekankan pentingnya mencuci tangan
dengan baik sesudah buang air besar untuk menghindari infeksi ulang dari tetangga atau anggota
keluarga yang terinfeksi.

5) Memberi penyuluhan kepada orang dengan risiko tinggi untuk menghindari hubungan seksual oral
yang dapat menyebabkan penularan fekal-oral.

6) Instansi kesehatan sebaiknya membudayakan perilaku bersih dan sehat bagi orang-orang yang
menyiapkan dan mengolah makanan untuk umum dan menjaga kebersihan dapur dan tempat-tempat
makan umum. Pemeriksaan rutin bagi penjamah makanan sebagai tindakan pencegahan sangat tidak
praktis. Supervisi yang ketat perlu dilakukan terhadap pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat ini.

7) Disinfeksi dengan cara merendam buah dan sayuran dengan disinfektan adalah cara yang belum
terbukti dapat mencegah penularan E. histolytica. Mencuci tangan dengan baik dengan air bersih dan
menjaga sayuran dan buah tetap kering bisa membantu upaya pencegahan; kista akan terbunuh dengan
pengawetan, yaitu dengan suhu diatas 50oC dan dengan iradiasi.

Penggunaan kemopropilaktik tidak dianjurkan.


B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar.

1). Laporan kepada instansi kesehatan setempat; pada daerah endemis tertentu; di sebagian besar
negara bagian di AS dan sebagian besar negara didunia penyakit ini tidak wajib dilaporkan, Kelas 3C
(lihat tentang pelaporan penyakit menular).

2). Isolasi : Untuk penderita yang di rawat di rumah sakit, tindakan kewaspadaan enterik dilakukan pada
penanganan tinja, baju yang terkontaminasi dan sprei. Mereka yang terinfeksi dengan E. histolityca
dijauhkan dari kegiatan pengolahan makanan dan tidak diizinkan merawat pasien secara langsung.
Ijinkan mereka kembali bekerja sesudah kemoterapi selesai.

3). Disinfeksi serentak : Pembuangan tinja yang saniter.

4). Karantina : Tidak diperlukan.

5). Imunisasi kontak : Tidak dilakukan.

6). Investigasi kontak dan sumber infeksi : Terhadap anggota rumah tangga dan kontak lain yang
dicurigai sebaiknya dilakukan pemeriksaan tinja secara mikroskopis.

7). Pengobatan spesifik : Disentri amoebik akut dan amoebiasis ekstraintestinal sebaiknya diobati
dengan metronidazole (Flagyl), diikuti dengan iodoquinol (Diodoquin), paromomycin (Humatin®) atau
diloxanide furoate (Furamide®). Dehydroemetine (Mebadin®), diikuti dengan iodoquinol, paromomycin
atau diloxanide furoate, adalah pengobatan alternatif yang cocok untuk penyakit saluran pencernaan
yang sukar disembuhkan atau yang berat. Pada penderita dengan abses hati dengan demam yang
berlanjut 72 jam sesudah terapi dengan metronidazole, aspirasi non-bedah bisa dilakukan. Kadang-
kadang klorokuin ditambahkan pada terapi dengan metronidazole atau dehydroemetine untuk
pengobatan abses hati yang sulit disembuhkan. Kadang-kadang abses hati membutuhkan tindakan
aspirasi bedah jika ada risiko pecah atau abses yang semakin melebar walaupun sudah diobati.
Pembawa kista yang tidak mempunyai gejala diobati dengan iodoquinol, paromomycin atau diloxanide
furoate. Metronidazole tidak direkomendasikan untuk digunakan selama kehamilan trimester pertama,
namun belum ada bukti adanya teratogenisitas pada manusia. Dehydroemetin merupakan
kontraindikasi selama kehamilan. Diloxanide furoate dan dehydroemetin tersedia di CDC Drug Service,
CDC, Atlanta, telp 404-639-3670.

C. Penanggulangan Wabah:

Terhadap mereka yang diduga terinfeksi sebaiknya dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk
menghindari “false positive” dari E. histolityca atau oleh etiologi lain. Investigasi epidemiologis dilakukan
untuk mengetahui sumber dan cara penularan. Jika sumber penularan bersifat “common source”,
misalnya berasal dari air atau makanan, tindakan yang tepat perlu dilakukan untuk mencegah penularan
lebih lajut.

D. Implikasi bencana :

Buruknya fasilitas sanitasi dan fasilitas pengolahan makanan memudahkan timbulnya KLB amoebiasis,
terutama pada kelompok masyarakat yang sebagian besar adalah pembawa kista.

E. Tindakan internasional : tidak a

Anda mungkin juga menyukai