0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
160 tayangan17 halaman

Asuhan Kebidanan Persalinan Normal

Dokumen tersebut membahas tentang laporan pendahuluan dan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. N yang mengalami persalinan kala I fase aktif. Terdapat penjelasan mengenai konsep teori persalinan normal, etiologi, dan fisiologi persalinan serta tanda-tanda awal persalinan.

Diunggah oleh

ledyana mahira
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
160 tayangan17 halaman

Asuhan Kebidanan Persalinan Normal

Dokumen tersebut membahas tentang laporan pendahuluan dan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. N yang mengalami persalinan kala I fase aktif. Terdapat penjelasan mengenai konsep teori persalinan normal, etiologi, dan fisiologi persalinan serta tanda-tanda awal persalinan.

Diunggah oleh

ledyana mahira
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

DAN
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF
PADA NY. “N” GIIP1001 UK MINGGU INPARTU KALA I FASE AKTIF

Disusun oleh :
LEDYANA FAUQOL ‘ADATI MAHIRA
NIM. 1302460003

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI D-IV KEBIDANAN KEDIRI
2016

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Teori


A. Definisi
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran yang terjadi pada kehamilan cukup
bulan (37 – 42 minggu) lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang belangsung
dalam waktu 18 – 24 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin
(Sumarah. 2009: 2)
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi, yaitu janin dan uri yang telah cukup bulan
atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir, atau melalui jalan lain, dengan bantuan
atau tanpa bantuan, atau kekuatan sendiri.
(Lailiyana. 2011: 1)
Persalinan merupakan proses normal, berupa kontraksi uterus involuter yang efektif dan
terkoordinasi, yang menyebabkan penipisan dan dilatasi serviks secara progresif serta
penurunan dan pelahiran bayi dan plasenta.
(Benson, Ralph C. 2008: 149)
Persalinan adalah proses dimana bayi, placenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu.
(JNPK – KR . 2008.37)
Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan.
(37 - 42 minggu). Lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18
jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin
( Sarwono Prawiroharjo. 2009 . 100)
B. Etiologi
Hormon-hormon yang dominan pada saat kehamilan yaitu :
1. Estrogen
Berfungsi untuk meningkatkan sensitifitas otot rahim dan memudahkan penerimaan
rangsangan dari luar seperti rangsangan oksitosin, rangsangan prostaglandin, rangsangan
mekanis.
2. Progesteron
Berfungsi menurunkan sensitifitas otot rahim, menyulitkan penerimaan rangsangan dari luar
seperti oksitosin, rangsangan prostaglandin, rangsangan mekanis dan menyebabkan otot
rahim dan otot polos relaksasi.
Beberapa teori yang memungkinkan terjadinya proses persalinan
a. Teori Keregangan
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu. Setelah melewati
batas waktu tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat mulai. Keadaan uterus
yang terus membesar dan menjadi tegang mengakibatkan iskemia otot-otot tertentu. Hal
ini mungkin merupakan faktor yang dapat menganggu sirkulasi uteroplasenter sehingga
plasenta mengalami degenerasi.
b. Teori Penurunan Progesteron
Proses penuaan plasenta terjadi mulai umur kehamilan 28 minggu, dimana terjadi
penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami penyempitan dan buntu. Villi
koriales mengalami perubahan-perubahan dan produksi progresteron mengalami
penurunan, sehingga otot rahim lebih sensitif terhadap oksitosin. Akibatnya otot rahim
berkontraksi setelah tercapai tingkat penurunan progresteron tertentu.
c. Teori Oksitosin Internal
Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofise parst posterior. Perubahan keseimbangan
estrogen dan progresteron dapat mengubah sensitifitas otot rahim, sehingga sering
terjadi kontraksi braxton hicks. Menurunnya konsentrasi progresteron akibat tuanya
kehamilan maka oksitosin dapat meningkatkan aktifitas, sehingga persalinan dimulai.
d. Teori Prostaglandin
Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur kehamilan 15 minggu, yang
dikeluarkan oleh desidua. Pemberian prostaglandin pada saat hamil dapat menimbulkan
kontraksi otot rahim sehingga terjadi persalinan.
e. Teori Hipotalamus – Pituitari dan Glandula Suprarenalis
Teori ini menunjukkan pada kehamilan dengan anensefalus sering terjadi keterlambatan
persalinan karena tidak terbentuk hipotalamus.
f. Teori Berkurangnya Nutrisi
Berkurangnya nutrisi pada janin dikemukakan oleh hipokrates untuk pertama kalinya.
Bila nutrisi pada janin berkurang maka hasil konsepsi akan segera dikeluarkan.
g. Faktor Lain
Tekanan pada ganglion servikale dan pleksus frankinhauseryang terletak di belakang
serviks. Bila ganglion ini tertekan, maka kontraksi uterus dapat dibangkitkan.

(Sumarah. 2009: 2)

C. Fisiologis
1) Faktor yang mempengaruhi persalinan:
a. Passage : jalan lahir terdiri dari bagian keras (tulang-tulang panggul dan sendi-sendinya)
dan bagian lunak (otot-otot, jaringan, dan ligamen). Tulang-tulang panggul meliputi 2
tulang pangkal paha (ossa coxae), 1 tulang kelangkang (ossa sacrum, dan 1 tulang
tungging (ossa coccygis).
b. Power: his dan tenaga meneran adalah kekuatan his atau kontraksi dan kekuatan
mengejan ibu yang sangat penting dalam proses persalinan. Tiap his dimulai sebagai
gelombang dari salah satu sudut (tuba) masuk ke dalam dinding uterus. Di tempat
tersebut ada suatu pacemaker tempat gelombang his berasal. Gelombang bergerak ke
dalam dan ke bawah dengan kecepatan 2 cm/detik untuk mengikutsertakan uterus.
Sifat his yang sempurna dan efektif:
1. Adanya koordinasi dari gelombang kontraksi, sehingga kontraksi simetris.
2. Kontraksi paling kuat atau adanya di fundus uteri.
3. Sesudah tiap his, otot-otot korpus uteri menjadi lebih pendek dari sebelumnya,
sehingga serviks tertarik dan membuka karena serviks kurang mengandung otot.
4. Adanya relaksasi.
Frekuensi his adalah jumlah his dalam waktu tertentu, biasanya dihitung dalam waktu
10 menit. Misalnya, pada akhir kala I frekuensi his menjadi 2-4 kali kontraksi dalam 10
menit. Aplitudo/ intensitas his adalah kekuatan his:
1. Pada saat relaksasi: 6-12 mmHg
2. Pada akhir kala I: 60 mmHg
3. Pada akhir kala II: 60-80 mmHg
Durasi his adalah lamanya setiap his berlangsung (detik). Lamanya his terus meningkat,
mulai dari hanya 20 detik pada permulaan partus sampai 60-90 detik pada akhir kala I atau
permulaan kala II. Interval adalah waktu relaksasi/ jangka waktu antara 2 kontraksi.
c. Passanger: kepala janin merupakan bagian yang paling besar dan keras daripada bagian-
bagian lain janin yang akan dilahirkan. Janin dapat mempegaruhi jalannya persalinan
dengan besarnya dan posisi kepala. Pengetahuan tentang ukuran-ukuran janin (kepala,
bahu, bokong) sangat penting dalam meramalkan jalannya persalinan dengan adanya
kelainan presentasi kepala.
d. Psikologis ibu: keadaan psikologis adalah keadaan emosi, jiwa, pengalaman, adat
istiadat, dan dukungan dari orang-orang tertentu yang dapat mempengaruhi proses
persalinan. Kondisi psikologis ibu melibatkan emosi dan persiapan intelektual,
pengalaman tentang bayi sebelumnya, kebiasaan adat, dan dukungan dari orang terdekat
pada kehidupan ibu. Psikologis ibu dapat mempengaruhi persalinan apabila ibu
mengalami kecemasan, stres, bahkan depresi. Hal ini mempengaruhi kontraksi yang
dapat memperlambat proses persalinan. Disamping itu, ibu yang tidak siap mental juga
akan sulit diajak kerja sama dalam proses persalinannya. Untuk itu sangat penting bagi
bidan dalam mempersiapkan mental ibu menghadapi proses persalinan.
e. Penolong: peran dari penolong persalinan adalah mengantisipasi dan menangani
komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan janin. Dalam hal ini proses persalina
tergantung dari kemampuan atau ketrampilan dan kesiapan penolong dalam menghadapi
proses persalinan.
(Lailiyana. 2011: 11)

2) Tanda dan gejala persalinan yang akan terjadi (tanda peringatan awal)
a. Lightening adalah penurunan janin dan uterus masuk ke dalam rongga pelvik, 2 sampai
3 minggu sebelum awitan persalinan.
b. Kontraksi Braxton Hicks adalah kontraksi yang tidak teratur dan intermiten yang telah
terjadi sepanjang kehamilan, menyebabkan ketidaknyamanan, dan menghasilkan nyeri
tarik pada abdomen dan lipatan paha.
c. Perubahan serviks meliputi pelunakan, “pematangan”, dan pendataran serviks yang akan
menyebabkan keluarnya lendir yang bercampur darah.
d. Ruptur membran amnion bisa terjadi sebelum awitan persalinan. Jika wanita tersebut
memcurigai bahwa membran tersebut telah pecah, ia harus menghubungi petugas
kesehatan, dan segera diperiksa karena dikhawatirkan adanya kemungkinan adanya
prolaps tali pusat.
e. Peningkatan energi atau meningkatkan ketegangan dan keletihan bisa terjadi segera
sebelum persalinan.
f. Penurunan berat badan sekitar 0,45-1,35 Kg bisa terjadi dalam 2 sampai 3 hari sebelum
awitan persalinan.
(Straight, Barbara R. 2005: 164)
3) Karakteristik persalinan yang sebenarnya (true labor)
a. Kontraksi terjadi dengan interval yang teratur.
b. Kontraksi dimulai dari punggung dan menjalar ke sekitar abdomen, meningkat intensitas
dan durasinya, dan secara bertahap memiliki interval yang pendek.
c. Berjalan akan meingkatkan intensitas kontraksi.
d. Biasanya terdapat “lendir bercampur darah” (lendir berwarna kemerahan dikeluarkan
dari saluran serviks waktu persalinan mulai).
e. Serviks menjadi menipis dan berdilatasi.
f. Sedasi tidak menghentikan kontraksi.
(Straight, Barbara R. 2005: 166)

4) Karakteristik persalinan palsu (false labor).


1. Kontraksi terjadi dengan interval yang tidak teratur.
2. Kontraksi terlokalisasi terutama di abdomen, intensitas tetap sama atau bervariasi, dan
itervalnya tetap panjang.
3. Berjalan tidak menambah intensitas kontraksi dan sering kali mengurangi nyeri.
4. Lendir bercampur darah biasanya tidak ada. Jika ada biasanya kecoklatan dan bukannya
merah terang dan bisa disebabkan baru saja dilakukan pemeriksaan pelvik atau
sanggama.
5. Tidak terdapat perubahan serviks
6. Sedasi cenderung menurunkan jumlah kontraksi.
(Straight, Barbara R. 2005: 166)

5) Kala persalinan
1. Kala satu persalinan. Dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang teratur dan
meningkat (frekuensi dan kekuatannya) hingga serviks membuka lengkap (10cm). Kala
persalinan terdiri atas dua fase, yaitu fase laten dan fase aktif.
a. Fase laten:
1. Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan
serviks secara bertahap.
2. Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.
3. Pada umumnya, fase laten berlangsung hampir atau hingga 8 jam.
4. Kontraksi mulai teratur tetapi lamanya masih di antara 20-30 detik.
b. Fase aktif:
1. Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara bertahap (kontraksi
dianggap adekuat/ memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam 10 menit, dan
berlangsung selama 40 detik atau lebih).
2. Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap atau 10 cm, akan terjadi
dengan kecepatan rata-rata 1 cm per jam (nulipara atau primigravida) atau lebih dari
1 cm hingga 2 cm (multipara).
3. Terjadi penurunan bagian terbawah janin.
(JNPK-KR. 2007: 37)
2. Kala dua persalinan.
a. Kala dua dimulai dengan dilatasi lengkap serviks dan berakhir dengan kelahiran
bayi. Durasi dapat berbeda antara primipara (lebih lama) dan multipara (lebih
pendek), tetapi kala ini seharusnya selesai 1 jam setelah dilatasi lengkap.
b. Kontraksi kuat dengan interval 2 sampai 3 menit, dengan durasi 50 sampai 90 detik.
c. Bayi baru lahir keluar dari jalan lahir dengan bantuan gerakan-gerakan atau
mekanisme utama persalinan berikut ini:
(1) Turun
(2) Fleksi
(3) Rotasi internal
(4) Ekstensi
(5) Rotasi eksternal (restitusi)
(6) Pengeluaran
d. “Crowning” terjadi saat kepala bayi atau bagian terendah bayi tampak pada lubang
vagina.
e. Episiotomi (insisi bedah pada perineum) bisa dilakukan untuk mempermudah
kelahiran dan menghindar laserasi pada perineum.
(Straight, Barbara R. 2005: 167)

3. Kala tiga (kala plasenta)


a. Kala ini dimulai dengan kelahiran bayi dan berakhir dengan kelahiran plasenta. Kala
tiga terjadi dalam dua fase pelepasan plasenta.
b. Tanda-tanda lepasnya plasenta meliputi uterus menjadi globular, fundus naik ke
abdomen, tali pusat memanjang, dan peningkatan perdarahan (mengalir pelan atau
mengalir deras).
c. Kontraksi uterus mengontrol perdarahan uterus dan membantu pelepasan dan
pengeluaran plasenta.
d. Pada umumnya, obat-obatan oksitosik diberikan untuk membantu kontraksi uterus.
(Straight, Barbara R. 2005: 168)
4. Kala empat (pemulihan dan hubungan interaksi)
a. Kala ini berlangsung dari 1 sampai 4 jam setelah kelahiran.
b. Ibu dan bayi pulih dari proses fisik kelahiran.
c. Organ-organ ibu mengalami penyesuaian awal kembali ke keadaan sebelum hamil.
d. Sistem tubuh bayi baru lahir mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan ekstrauterin
dan menjadi stabil.
e. Uterus berkontraksi di garis tengah abdomen dengan pertengahan fundus di antara
umbilikus dan simfisis pubis.
(Straight, Barbara R. 2005: 168)
D. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada Kala Satu Persalinan
a) Kenali tanda gejala:
1. Penipisan dan pembukaan serviks.
2. Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan pada serviks (frekuensi minimal 2
kali dalam 10 menit).
3. Cairan lendir bercampur darah melalui vagina.
(JNPK-KR. 2007: 37)
b) Anamnesis:
Tanyakan pada ibu:
1. Nama, umur dan alamat.
2. Gravida dan para.
3. Hari pertama haid terakhir.
4. Kapan bayi akan lahir (menurut taksiran ibu)
5. Riwayat alergi obat-obatan tertentu.
6. Riwayat kehamilan yang sekarang.
7. Pemeriksaan antenatal.
8. Masalah selama kehamilan.
9. Kapan mulai kontraksi?
10. Apakah kontraksi teratur? Seberapa sering terjadi kontraksi?
11. Apakah ibu masih merasakan gerakan bayi?
12. Apakah selaput ketuban sudah pecah? Jika ya, apa warna cairan ketuban? Apakah
kental atau encer? Kapan saat selaput ketuban pecah?
13. Apakah keluar cairan bercampur darah dari vagina ibu? Apakah berupa bercak atau
darah segar pervaginam?
14. Kapankah ibu terakhir makan dan minum.
15. Apakah ibu mengalami kesulitan untuk berkemih?
16. Riwayat kehamilan sebelumnya.
a. Apakah ada masalah selama persalinan sebelumnya?
b. Berapa berat badan bayi yang paling besar yang pernah ibu lahirkan?
c. Apakah ibu mempunyai bayi bermasalah pada kehamilan atau persalinan
sebelumnya?
17. Riwayat medis lainnya. Misal: masalah pernapasan, hipertensi, gangguan
jantung,dll.
18. Masalah medis saat ini. Misal: sakit kepala, gangguan kesehatan, pusing atau
epigatrium bagian atas. Jika ada, periksa tekanan darah dan dan protein dalam urin
ibu.
19. Pertanyaan tentang hal-hal yang belum jelas atau berbagai bentuk kekhawatiran
lainnya.
(JNPK-KR. 2007: 38)
c) Pemeriksaan fisik
1. Pemeriksaan abdomen:
a. Menentukan tinggi fundus uteri.
b. Memantau kontraksi uterus.
c. Memantau denyut jantung janin.
d. Menentukan presentasi.
e. Menentukan penurunan bagian terbawah.
(JNPK-KR. 2007: 39)
2. Tanda-tanda vital:
a. Tekanan darah: diukur tiap 4 jam sekali, kecuali jika ada keadaan yang tidak
normal harus lebih sering dicatat dan dilaporkan.
b. Nadi: nadi yang normal menunjukkan wanita dalam kondisi yang baik. Jika lebih
dari 100 kemungkinan ibu dalam kondisi infeksi,ketosis , atau perdarahan. Nadi
diukur tiap 1-2 jam pada awal persalinan.
c. Suhu: harus dalam rentang yang normal. Pireksia menunjukkan keadaan infeksi
atau ketosis. Suhu diukur tiap 4 jam.
(Lailiyana. 2011: 28)
3. Periksa dalam:
a. Periksa genitalia eksterna, perhatikan apakah ada benjolan termasuk kondiloma,
varikositas vulva atau rektum, atau luka parut di perineum.
b. Nilai cairan vagina dan tentukan apakah ada bercak darah, perdarahan pervaginam
atau mekonium.
c. Nilai vagina, ada tidaknya luka parut.
d. Nilai pembukaan dan penipisan serviks.
e. Pastikan tali pusat atau bagian kecil janin tidak teraba pada saat pemeriksaan
dalam.
f. Nilai penurunan bagian terbawah janin dan tentukan apakah bagian tersebut telah
masuk ke dalam rongga panggul.
g. Jika bagian terbawah adalah kepala, pastikan penunjuknya (ubun-ubun kecil,
ubun-ubun besar atau fontanela magna) da celah (sutura) sagitalis untuk menilai
derajat penyusupan atau tumpang tindih tulang kepala dan apakah ukuran kepala
janin sesuai dengan ukuran jalan lahir.
4. Mencatat dan mengkaji hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik.
a. Gunakan informasi yang ada untuk menentukan apakah ibu sudah inpartu,
tahapan dan fase persalinan.
b. Tentukan ada tidaknya masalah atau penyulit yang harus ditatalaksana secara
khusus.
c. Setiap kali selesai melakukan penilaian, lakukan kajian data yang terkumpul, dan
buat diagnosis berdasarkan informasi tersebut. Susun rencana penatalaksanaa
asuhan ibu bersalin, dan harus didasarkan pada kajian hasil temuan dan diagnosis.
d. Jelaskan temuan, diagnosis dan rencana penatalaksanaan kepada ibu dan
keluarganya sehingga mereka mengerti tentang tujuan asuhan yang akan
diberikan.
(JNPK-KR. 2007: 43)
d) Teknik mengurangi nyeri selama proses persalinan
a. Kehadiran pendamping yang terus-menerus,sentuhan yang nyaman, hiburan dan
dorongan dari orang yang mendukung.
b. Perubahan posisi dan pergerakan.
c. Sentuhan dan masase.
d. Tekanan kontra untuk megurangi tegangan pada ligamentum sakro iliaka.
e. Pijatan ganda pada pinggul.
f. Penekanan pada lutut.
g. Panas buatan dan dingin buatan (superfisial).
h. Berendam dalam air.
i. Pengeluaran suara.
j. Visualisasi dan pemusatan perhatian.
k. Musik.
(Lailiyana. 2011: 33)
e) Penggunaan partograf.
Partograf adalah alat untuk mencatat hasil observasi dan pemeriksaan fisik ibu dalam
proses persalinan serta merupakan alat utama dalam mengambil keputusan klinik
khususnya pada persalinan kala satu. Observasi dimulai sejak ibu datang, apabila ibu
datang masih dalam fase laten, maka hasil observasi ditulis di lembar observasi bukan
lembar partograf. Karena partograf dipakai setelah ibu masuk fase aktif.
(Sumarah. 2009: 64)
Untuk menggunakan partograf dengan benar, petugas harus mencatat kondisi ibu dan
janin sebagai berikut:
a. Denyut jantung janin. Catat setiap jam.
b. Air ketuban. Catat warna air ketuban setiap melakukan pemeriksaan vagina:
o U : selaput utuh
o J : selaput pecah, air ketuban jernih.
o M : air ketuban bercampur mekonium.
o D : air ketuban bernoda darah.
c. Perubahan bentuk kepala janin (molding atau molase):
a. 0 : tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah dapat diraba.
b. 1 : tulang- tulang kepala janin hanya saling bersentuhan
c. 2 : tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih, tetapi masih dapat
dipisahkan.
d. 3 : tulang-tulang kepala janin tumpang tindih, dan tidak dapat dipisahkan.
d. Pembukaan mulut rahim (serviks). Dinilai pada setiap pemeriksaan pervaginam dan
diberi tanda silang (x).
e. Penurunan. Mengacu pada bagian kepala (dibagi 5 bagian) yang teraba (pada
pemeriksaan abdomen/ luar) di atas simfisis pubis; catat dengan tanda lingkaran (O)
pada setiap pemeriksaan dalam. Pada posisi 0/5, sinsiput (S) atau paruh atas kepala
berada di simfisis pubis.
f. Waktu. Menyatakan berapa jam waktu yang telah dijalani sesudah pasien diterima.
g. Jam: catat jam sesungguhnya.
h. Kontraksi. Catat setiap setengah jam; lakukan palpasi untuk menghitung banyaknya
kontraksi dalam 10 menit dan lamanya masing-masing kontraksi dalam hitungan
detik. (kurang dari 20 detik, antara 20-40 detik, lebih dari 40 detik)
i. Oksitosin. Bila memakai oksitosin, catatlah banyaknya oksitosin per volume cairan
infus dan dalam tetesan per menit.
j. Obat yang diberikan. Catat semua obat lain yang diberikan.
k. Nadi. Catatlah setiap 30-60 menit dan tandai dengan sebuah titik besar.
l. Tekanan darah. Catatlah setiap 4 jam dan tandai dengan anak panah.
m. Suhu badan. Catatlah setiap 2 jam.
n. Protein, aseton, dan volume urin. Catatlah setiap kali ibu berkemih.
Bila temuan-temuan melintas ke arah kanan dari garis waspada, petugas kesehatan
harus melakukan penilaian terhadap kondisi ibu dan janin dan segera mencari
rujukan yang tepat.
(Saifuddin, Abdul Bari. 2009: 104)
Lembar belakang partograf merupakan bagian untuk mencatat hal-hal yang terjadi
selama proses persalinan dan kelahiran, serta tindakan-tindakan yang dilakukan sejak
kala I sampai kala IV. Sangat penting untuk membuat keputusan klinik terutama pada
pemantauan kala IV. Lembar belakang ini dapat digunakan untuk menilai sejauh mana
asuhan persalinan yang bersih dan aman telah dilakukan.
(Lailiyana. 2011: 36)
f) Persiapan asuhan persalinan
1. Mempersiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi.
2. Persiapan perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obatan yang diperlukan.
3. Persiapan rujukan
4. Memberikan asuhan sayang ibu:
a. Dukungan emosional.
b. Mengatur posisi.
c. Pemberian cairan dan nutrisi.
(JNPK-KR. 2007: 50)
g) Kenali tanda bahaya kala satu
1. Tekanan darah>140/90 mmHg dengan sedikitnya satu tanda lain/ gejala
preeklamsia.
2. Suhu > 38oC.
3. Nadi >100 denyut/ menit.
4. DJJ <100 atau >160 denyut/ menit.
5. Kontraksi <2 dalam 10 menit, berlangsung <40 detik, lemah untuk dipalpasi.
6. Pembukaan serviks melewati garis waspada pada fase aktif dalam partograf.
7. Ketuban mengandung mekonium, darah dan berbau.
8. Volume urine tidak cukup dan kental.
(Lailiyana. 2011: 44)

Penatalaksanaan pada Kala Dua Persalinan


a) Kenali tanda gejala
 Dorongan untuk meneran
 Tekanan yang semakin kuat pada rektum dan vagina
 Perineum menonjol dan menipis
 Vulva dan sfinter ani membuka
(JNPK-KR. 2007: 75)
b) Persiapan penolong persalinan
 Perlengkapan perlindungan diri
 Persiapan tempat persalinan, peralatan, dan bahan
 Mempersiapkan tempat dan lindungan untuk kelahiran bayi
 Persiapan ibu dan keluarga
 Asuhan sayang ibu
 Membersihkan perineum ibu
 Mengosongkan kandung kemih
Jangan melakukan kateterisasi kandung kemih secara rutin sebelum atau setelah
kelahiran bayi dan atau plasenta
 Amniotomi
Apabila selaput ketuban belum pecah dan pembukaan sudah lengkap maka perlu
dilakukan tindakan amniotomi.
 Mendiagnosis kala dua persalinan dan membimbing ibu untuk meneran
 Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang nyaman untuk proses persalinannya
 Menolong kelahiran bayi
 Posisi ibu saat melahirkan
Apapun posisi yang dipilih oleh ibu, pastikan ada alas kain di bawah ibu dan
kemudahan menjangkau semua peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk
membantu kelahiran bayi. Tempatkan juga kain atau handuk bersih diatas perut
ibu sebagai alas untuk meletakkan bayi baru lahir.
 Pencegahan laserasi
Indikasi untuk melakukan episiotomi untuk mempercepat kelahiran bayi bila
didapatkan:
1. Gawat janin dan bayi akan segera dilahirkan dengan tindakan.
2. Penyulit kelahiran pervaginam (sungsang, distosia bahu, ekstraksi cunam, atau
ekstraksi vakum).
3. Jaringan parut pada perineum atau vagina yang memperlambat kemajuan
persalinan.
 Melahirkan kepala
Melindungi perineum dan mengendalikan keluarnya kepala bayi secara bertahap
dan hati-hati dapat mengurangi regangan berlebihan (robekan) pada vagina dan
perineum.
Setelah kepala bayi lahir, minta ibu untuk berhenti meneran dan bernapas cepat.
Periksa leher bayi apakah terlilit oleh tali pusat.
 Melahirkan bahu
 Melahirkan seluruh tubuh bayi
 Memotong tali pusat
 Pemantauan selama kala dua persalinan
Pantau, periksa dan catat:
1. Nadi ibu setiap 30 menit.
2. Frekuensi dan lama kontraksi setiap 30 menit.
3. DJJ setiap selesai meneran atau setiap 5-10 menit.
4. Penurunan kepala bayi setiap 30 menit melalui pemeriksaan abdomen (periksa
luar) dan periksa dalam setiap 60 menit atau jika ada indikasi, hal ini dilakukan
lebih cepat.
5. Warna caira ketuban jika selaputnya sudah pecah (jernih atau bercampur
mekonium atau darah).
6. Apakah ada presentasi majekan atau tali pusat di samping atau terkemuka.
7. Putaran paksi luar segera stelah bayi lahir.
8. Kehamilan kembar yang tidak diketahui sebelum bayi pertama lahir.
9. Catat semua pemeriksaan dan intervensi yang dilakukan pada catatan persalinan.
(JNPK-KR, 2007: 76)

4) Pimpinan Persalinan
 Pimpinan kala II sangatlah penting karena tali pusat bisa terjepit, atau terjadi
sirkulasi retro.
 Berikan semangat agar ibu berusaha sebaik mungkin melahirkan bayinya dengan
spontan dan selamat.
 Berilah petunjuk cara mengejan dengan baik.
 Jangan lupa memberitahukan jika akan melakukan episiotomi, agar ibu siap jika
merasakan tambahan rasa sakit.
 Bila terlalu kesakitan bisa dipertimbangkan untuk pemberian analgesik ringan.
 Bila ada keluarga, terutama suami ingin mendampingi sebaiknya permintaan ini
dipenuhi.
 Keberadaan suami disampingnya akan menambah semangat ibu, sehingga
persalinan lebih lancar.
 Setelah bayi dan plasenta sudah lahir, suami sudah tidak berfungsi dan dianjurkan
untuk keluar sementara, karena akan dilakukan penjahitan luka episiotomi.
 Observasi secara ketat pada CHPB sehingga asfiksia dini dapat ditentukan sebagai
indikasi terminasi persalinan.
 Yang penting diperhatikan adalah lingkaran bundle, sebagai tanda ruptura uteri yang
mengancam.
 Peningkatan lingkaran bundle juga merupakan indikasi terminasi persalinan.
 Kejadian patologis yang mengancam jiwa harus disampaikan pada pasien untuk
konfirmasi bahwa persalinan harus diakhiri dengan tindakan proaktif operasi.
 Jangan lama minta informed consent, sehingga tindakan menjadi terlindung dengan
landasan hukum kedokteran.
(Manuaba, 2007: 325)
Penatalaksanaan pada Kala Tiga Persalinan
a) Manajemen aktif kala tiga
 Syarat: janin tunggal/ memastikan tidak ada lagi janin di uterus.
 Tujuan: membuat kontraksi uterus efektif.
 Keuntungan:
1. Lama kala III lebih singkat.
2. Jumlah perdarahan berkurang sehingga dapat mencegah perdarahan post partum.
3. Menurunkan kejadian retensio plasenta.
 Manajemen aktif kala III terdiri dari:
1. Pemberian oksitosin 10 IU.
a. Sebelum memberikan oksitosin, bidan harus melakukan pengkajian dengan
melakukan palpasi pada abdomen untuk meyakinkan hanya ada bayi tunggal,
tidak ada bayi kedua.
b. Dilakukan pada 1/3 paha bagian luar.
c. Bila 15 menit plasenta belum lahor, maka berikan oksitosin ke-2, evaluasi
kandung kemih apakah penuh. Bila penuh, lakukan kateterisasi.
d. Bila 30 menit belum lahir, maka berikan oksitosin ke-3 sebanyak 10 mg dan rujuk
pasien.
2. Penegangan tali pusat terkendali
a. Klem dipindahkan 5-10 cm dari vulva.
b. Tangan kiri diletakkan diatas perut memeriksa kontraksi uterus. Ketika
menegangkan tali pusat tahan uterus.
c. Saat ada kontrasi uterus, tangan di atas perut melakukan gerakan dorso kranial
dengan sedikit tekanan. Cegah agar tidak terjadi inversio uteri.
d. Ulangi lagi bila plasenta belum lepas.
e. Pada saat plasenta sudah lepas, ibu dianjurkan sedikit meneran dan penolong
sambil terus menegangkan tali pusat.
f. Bila plasenta sudah tampak di vulva, lahirkan dengan kedua tangan. Perlu
diperhatikan bahwa selaput plasenta mudah tertinggal sehingga untuk mencegah
hal itu maka plasenta ditelangkupkan dan diputar dengan hati-hati searah dengan
jarum jam.
(Sumarah. 2009: 147)
3. Masase fundus uterus
a. Tangan diletakkan diatas fundus uteri.
b. Gerakan tangan dengan pelan, sedikit ditekan, memutar searah jarum jam. Ibu
diminta bernafas dalam untuk mengurangi ketegangan atau rasa sakit.
c. Kaji kontraksi uterus 1-2 menit, bimbing pasien dan keluarga untuk melakukan
masase uterus.
d. Evaluasi kontraksi uterus setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan 30 menit
pada jam ke-2.
(Sumarah. 2009: 149)
b) Pemeriksaan plasenta meliputi:
1. Selaput ketuban utuh atau tidak.
2. Ukuran plasenta:
a. Bagian maternal: jumlah kotiledon, keutuhan pinggir kotiledon.
b. Bagian fetal: utuh atau tidak.
3. Tali pusat: jumlah arteri dan vena, adakah arteri atau vena yang terputus untuk
mendeteksi plasenta suksenturia. Insersi tali pusat, apakah sentral, marginal serta
panjang tali pusat.

c) Pemantauan kala tiga


1. Perdarahan. Jumlah darah diukur, disertai dengan bekuan darah atau tidak.
2. Kontraksi uterus: bentuk uterus, intensitas.
3. Robekan jalan lahir/ laserasi, ruptura perineum.
4. Tanda vital:
a. Tekanan darah bertambah tinggi dari sebelum persalinan.
b. Nadi bertambah cepat.
c. Temperatur bertambah tinggi.
d. Respirasi: berangsur normal.
e. Gastrointerstinal: normal, pada awal persalinan mungkin muntah.
5. Personal hygiene.
(Sumarah. 2009: 150)
d) Pendokumentasian kala tiga
Hal-hal yang perlu dicatat selama kala tiga sebagai berikut:
1. Lama kala tiga.
2. Pemberian oksitosin berapa kali.
3. Bagaimana pelaksanaan penegangan tali pusat terkendali?
4. Perdarahan.
5. Kontraksi uterus.
6. Adakah laserasi jalan lahir.
7. Vutal sign ibu.
8. Keadaan bayi baru lahir.
(Sumarah. 2009: 147)

Penatalaksanaan pada Kala Empat Persalinan


 Pemantauan:
Masa postpartum merupakan saat paling kritis untuk mencegah kematian ibu, terutama
kematian disebabkan karena perdarahan. Selama kala IV, petugas harus memantau ibu
setiap 15 menit pada jam pertama setelah kelahiran plasenta, dan setiap 30 menit pada jam
kedua setelah persalinan. Jika kondisi ibu tidak stabil, maka ibu harus dipantau lebih
sering. Yang harus diperiksa yaitu:
1. Fundus
Rasakan apakah fundus berkontraksi kuat dan berada di atau bawah umbilikus. Periksa
fundus:
• Setiap 15 menit pada jam pertama setelah persalinan.
• Setiap 30 menit pada jam kedua setelah persalinan.
• Masase fundus jika perlu untuk menimbulkan kontraksi.
2. Perineum
Periksa luka robekan pada perineum dan vagina yang membutuhkan jahitan
3. Memperkirakan pengeluaran darah
Dengan memperkirakan darah yang menyerap pada kain atau dengan menentukan
berapa banyak kantong darah 500 cc dapat terisi.
• Tidak meletakkan pispot pada ibu untuk menampung darah.
• Tidak menyumbat vagina dengan kain untuk menyerap darah.
• Pengeluaran darah abnormal > 500 cc.
4. Lokhia
Periksa apakah ada darah keluar langsung pada saat memeriksa uterus. Jika uterus
berkontraksi kuat, lokhia kemungkinan tidak lebih dari menstruasi.
5. Kandung kemih
Periksa untuk memastikan kandung kemih tidak penuh. Kandung kemih yang penuh
mendorong uterus ke atas dan menghalangi uterus berkontraksi sepenuhnya.
(Saifuddin, Abdul Bari. 2009: 119)
6. Tekanan darah
Pastikan tekanan darah yang normal <140/90 mmHg.
7. Suhu
Pastikan suhu tubh normal <38oC. Suhu yang tinggi mungkin disebabkan dehidrasi
karena persalinan yang lama, atau tidak cukup minum, atau infeksi.
(Lailiyana. 2011: 83)
8. Kondisi bayi baru lahir
• Apakah bayi bernapas dengan baik?
• Apakah bayi kering dan hangat?
• Apakah bayi siap disusui/ pemberian ASI memuaskan?
(Saifuddin, Abdul Bari. 2009: 119)
2.2 Konsep Manajemen Kebidanan pada Ibu Bersalin Kala I

Tanggal : tanggal dilakukan pengkajian


Jam : jam dilakukan pengkajian
Tempat : tempat dilakukan pengkajian
No register : nomer register masuk pasien di RS
I. Data Subyektif
1. Biodata

Umur : merupakan termasuk golongan resiko tinggi atau tidak, usia yang reproduktif
untuk hamil dan melahirkan yaitu antara usia 20-35 tahun

(Manuaba, 2008; 235)


Pendidikan : mengetahui tingkat pengetahuan ibu sehingga mempermudah dalam pemberian
KIE.

2. Keluhan Utama
1. Kontraksi semakin lama semakin kuat dan intensitasnya progresif.
2. Kontraksi dimulai dari punggung dan menjalar ke sekitar abdomen, meningkat
intensitas dan durasinya dan secara bertahap memiliki interval yang pendek.
3. Berjalan meningkatkan intensitas kontraksi
4. Keluarnya lendir bercampur darah
5. Servik menipis dan membuka
(Straight, Barbara R. 2005: 167)

3. Riwayat Kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu.


Mengkaji riwayat persalinan yang lalu untuk multipara. Untuk mengetahui bagaimana
riwayat persalinan, keadaan bayinya terdahulu, jenis kelamin, penolong, tempat persalinan
dan apakah terdapat komplikasi saat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu.
4. Riwayat menstruasi
Data ini penting sebagai acuan untuk mengetahui usia kehamilan ibu saat ini.
(Ilmu Kebidanan. 2009:467)

II. Data Obyektif


1. Inspeksi
a. Pengeluaran lendir bercampur darah (bloody show) dari vagina
b. Waspada adanya garis atau batas menonjol diatas simpisis (retraksi ring) → rupture
uterus.
(Sumarah. 2009: 62)

2. Palpasi
a. Meraba pada abdomen untuk mengetahui adanya kontraksi uterus
b. Teraba keras menunjukkan adanya kontraksi yang baik
(Straight, Barbara R. 2005: 292)

3. Auskultasi
a. Observasi DJJ
b. DJJ normal = 120 – 160 x / menit
c. Didengar setelah fase terkuat his lewat
(Lailiyana. 2011: 42)

4. Pemeriksaan Lain
a. Pemeriksaan Dalam
1) Pematangan servik / perlunakan servik
2) Perndataran servik
3) Pembukaan servik
b. Pemeriksaan kantong ketuban
(Sumarah. 2009: 61)

III. Analisa Data


G...P... dengan Kala I Fase... janin mati/hidup, tunggal/ganda
IV. Penatalaksanaan

1. Menginformasikan hasil pemeriksaan dan asuhan yang akan diberikan


2. Mengobservasi DJJ dan kontraksi uterus setiap 30 menit
3. Mengobservasi Tekanan darah tiap 4 jam, suhu tiap 2 jam, nadi tiap 30 – 60 menit
4. Mengatur posisi sesuai keinginan ibu
5. Memberi asupan cairan an nutrisi pada ibu
6. Menganjurkan ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya
7. Menganjurkan ibu untuk tidak mengejan saat pembukaan belum lengkap dan bidan belum
memimpin persalinan
2.3 Konsep Manajemen Kebidanan pada Ibu Bersalin Kala II
I. Data subyektif
 Ibu merasa ingin meneran bersama dengan terjadinya kontraksi
(JPNK-KR. 2007:75)
 Ibu merasa adanya peningkatkan tekanan pada rekum / vagina
(JPNK-KR. 2007:77)
 Rasa sakit dari fundus merata ke seluruh uterus sampai berlanjut ke punggung bawah
(Walsh, Linda V. 2008: 317)
 Wanita merasa pula tekanan kepada rectum dan hendak buang air besar
(Prawirohardjo, Sarwono. 2005. 184 )
II. Data obyektif
 Vulva – vagina dan sfingter ani membuka
 Meningkatnya pengeluaran lender bercampur darah
 Pembuka serviks telah lengkap
 Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina
(JNPK-KR 2007: 77)
 Penonjolan prenium
(Sumarah. 2008: 83)
 Kontraksi secara sering, kuat dan sedikit lebih lama sekitar setiap 2 menit berlangsung
selama 60 sampai 90 detik intensitas kuat
 Penonjolan rektum, penonjolan perineum dan kemajuan kepala janin yang dapat terlihat
pada introitus vagina
(Varney, Helen. 2008: 753)
III. Analisa Data
G...P...UK Inpartu kala II
IV. Penatalaksanaan

1. Menginformasikan hasil pemeriksaan dan asuhan yang akan diberikan


2. Memimpin mengedan
3. Menolong persalinan sesuai standar Asuhan Persalinan Normal

2.4 Konsep Manajemen Kebidanan pada Ibu Bersalin Kala III


I. Data subjektif
Ibu mengatakan merasa mules-mules
II. Data objektif
1. Terdapat tanda-tanda pelepasan plasenta
Tali pusat bertambah panjang, terdapat semburan darah, uterus menjadi globuler
2. Kontraksi uterus baik
3. Tidak terdapat janin kedua
III. Interpretasi Data
P… A… Kala III
IV. Penatalaksanaan
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan dan asuhan yang akan diberikan
2. Menyuntikkan oksitosin 10 IU secara IM pada 1/3 paha atas bagian luar.
3. Melakukan penegangan tali pusat terkendali.
4. Melakukan massage uterus segera setelah plasenta lahir lahir.
5. Mengajarkan ibu dan keluarga cara melakukan masase uterus.

2.5 Konsep Manajemen Kebidanan pada Ibu Bersalin Kala IV


I. Data subjektif
Ibu mengatakan merasa lega telah melahirkan dengan selamat
II. Data objektif
1. Fundus
Rasakan apakah fundus berkontraksi kuat dan berada di atau bawah umbilikus. Periksa
fundus:
• Setiap 15 menit pada jam pertama setelah persalinan.
• Setiap 30 menit pada jam kedua setelah persalinan.
• Masase fundus jika perlu untuk menimbulkan kontraksi.
2. Perineum
Periksa luka robekan pada perineum dan vagina yang membutuhkan jahitan
3. Memperkirakan pengeluaran darah
Dengan memperkirakan darah yang menyerap pada kain atau dengan menentukan berapa
banyak kantong darah 500 cc dapat terisi.
• Tidak meletakkan pispot pada ibu untuk menampung darah.
• Tidak menyumbat vagina dengan kain untuk menyerap darah.
• Pengeluaran darah abnormal > 500 cc.
4. Lokhia
Periksa apakah ada darah keluar langsung pada saat memeriksa uterus. Jika uterus
berkontraksi kuat, lokhia kemungkinan tidak lebih dari menstruasi.
5. Kandung kemih
Periksa untuk memastikan kandung kemih tidak penuh. Kandung kemih yang penuh
mendorong uterus ke atas dan menghalangi uterus berkontraksi sepenuhnya.
(Saifuddin, Abdul Bari. 2009: 119)
6. Tekanan darah
Pastikan tekanan darah yang normal <140/90 mmHg.
7. Suhu
Pastikan suhu tubh normal <38oC. Suhu yang tinggi mungkin disebabkan dehidrasi karena
persalinan yang lama, atau tidak cukup minum, atau infeksi.

III. Analisa Data


P… A… Kala III
IV. Penatalaksanaan
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan dan asuhan yang akan diberikan
2. Melakukan observasi tanda bahaya nifas
3. Memfasilitasi pemenuhan nutrisi

POHON MASALAH

Hamil

TM I TM II TM III

Primi Multi
Teori Teori Teori Teori Teori Teori Faktor
Kerega- Penurunan Oksitosin Prostaglandi Hipotalamus Berkurangnya Lain
ngan Progresteron Internal n Pituitary Nutrisi
dan
Glandula
Suprarenalis

Tanda Permulaan Persalinan Tanda Inpartu


1. Lightening 1. Penipisan dan pembukaan serviks
2. Fundus uteri turun 2. Konrtraksi uterus yang mengakibatkan
3. Sering kencing perubahan pada servik
4. Sakit pada bagian perut dan pinggang 3. Cairan lendir bercampur darah melalui
karena kontraksi Braxton Hicks vagina
5. Serbik menjadi lembek, sekresi
meningkat

Kala Pembukaan (KALA I)



18 – 24 Jam

Fase Laten Fase Aktif


↓ ↓
Ø 0 – 3 jam Ø 3 – 10 jam
↓ ↓
8 jam 7 jam

Fase Akselerasi Fase Dilatasi Max Fase Deselerasi


↓ ↓ ↓
Ø 3 – 4 jam Ø 4 – 9 jam Ø 9 – 10 jam
↓ ↓ ↓
2 jam 2 jam 2 jam

1. Dukungan Emosional 2. Mengatur Posisi 3. Pemberian


- Pujian Cairan dan
- Bernafas saat kontraksi - Posisi sesuai Nutrisi
- Memijat punggung keinginan
- Menyeka muka dengan lembut 4. Keleluasaan ke
- Suasana keluarga dan rasa nyaman kamar mandi

DAFTAR PUSTAKA

Stright, Barbara R. 2005. Keperawatan Ibu-Bayi Baru Lahir. Jakarta: EGC

Sumarah, dkk. 2009. Perawatan Ibu Bersalin. Yogyakarta: Fitramaya

JNPK – KR. 2008. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta

Gde Manuaba, Ida Bagus. dkk. 2008. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC

Varney, Helen. 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC


Simkin, Penny. 2008. Kehamilan, Melahirkan & Bayi: Paduan Lengkap. Jakarta: Arcan

Mansjoer, Arif. 2005. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius

Walsh, Linda V. 2008. Buku Ajar Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC

Saifuddin, Abdul Bari. 2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Baston, Helen, Jennifer Hall. 2012. Midwifery Essentials: Persalinan. Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai