Anda di halaman 1dari 11

IOSR Journal of Dental and Medical Sciences (IOSR-JDMS)
e-ISSN: 2279-0853, p-ISSN: 2279-

0861.Volume 14, Issue 7 Ver. I (July. 2015), PP 73-78 www.iosrjournals.org

Otitis Eksterna Akut : Patofisiologi, Manifestasi Klinis, dan


Tatalaksana
Murtaza Mustafa1, P. Patawari2, MM, Sien3, RK. Muniandy4, P. Zinatara5
1-4
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Sabah Malaysia, Kota
Kinabalu, Sabah, Malaysia
5
Departemen Fisiologi, Ibrahim Medical College, Dhaka, Bangladesh

Abstrak
Otitis eksterna akut (Acute Otitis Eksterna) adalah peradangan pada telinga luar dan
liang telinga. Terdapat empat kategori otitis eksterna yaitu otitis eksterna lokal akut, otitis
eksterna difus, otitis eksterna kronik, dan otitis eksterna maligna (ganas). Kejadian otitis
eksterna banyak dijumpai di Eropa, dan dapat lebih tinggi di negara-negara
berkembang. Faktor predisposisi untuk OEA adalah berenang terutama bila berenang di
air yang tidak bersih (tercemar). Pertumbuhan bakteri dan kerusakan (gangguan) pada
kulit liang telinga yang memungkinkan infeksi yang semakin berkembang. Kelainan
(penyakit) kulit kronis seperti dermatitis atopik, psoriasis atau kelainan produksi keratin
dapat menyebabkan infeksi dan otitis eksternal. Patogen yang sering dikaitkan dengan
penyakit ini diantaranya, Pseudomonasaeruginosa, Staphylococcusepidermidis,
Staphylococcusaureus, jamur, dan ragi. Pengobatan pilihan yang digunakan adalah
tetes telinga antibiotik dengan atau tanpa kortikosteroid. Jamur atau otomycosis
memerlukan debridemen dan perawatan lokal. Infeksi jamur yang resisten mungkin
memerlukan itrakonazol oral. Otitis eksterna maligna (MOE  malignant otitis eksterna)
dapat mengalami komplikasi serius termasuk osteomielitis pada basis tengkorak (SBO
skull base osteomielitis), kelumpuhan beberapa saraf kranial termasuk kelumpuhan
pada wajah (palsi wajah). Dapat memerlukan antibiotik IV jangka panjang, cenderung
kambuh dengan mortalitas yang signifikan. Tindakan pencegahan dapat dengan
mengeringkan telinga dengan pengering udara dan menghindari manipulasi liang telinga
eksterna. Pedoman praktik klinis tentang AOE oleh American Academy of
0tolaryngology - Head Neck Surgery dapat sangat bermanfaat.
Kata kunci: Otitis eksterna, liang telinga eksternal, patofisiologi, manifestasi klinis, dan
tatalaksana.
Pendahuluan
0titis eksterna, atau swimmer’s ear (telinga perenang) adalah peradangan pada
telinga bagian luar dan liang telinga. Otitis eksterna dan otitis media, merupakan dua
penyebab paling sering dari "sakit telinga"[1] . Otitis media atau infeksi liang telinga
eksternal (EAC eksternal auditory canal) serupa dengan infeksi kulit dan jaringan
lunak di bagian tubuh lain. Infeksi saluran telinga eksternal dapat dibagi menjadi empat
kategori: (a) otitis eksterna akut yang terlokalisasi (b) otitis eksterna difus (c) otitis
eksterna kronis, dan (d) otitis eksterna maligna [2,3,4]. Insidensi otitis eksterna terbilang
tinggi. Di Belanda, diperkirakan sebanyak 12-14 per 1000 populasi per tahun, dan telah
terbukti mempengaruhi lebih dari 1% populasi sampel (maksudnya orang-orang yang
dimonitor untuk diteliti) di Inggris selama periode 12 bulan [5]. Dari faktor-faktor
predisposisi terjadinya otitis eksterna akut, hanya berenang yang terbukti meningkatkan
risiko [6]. Berenang di air yang tidak bersih adalah penyebab tersering munculnya
swimmer’s ear (istilah oktitits eksterna), namun dapat juga air yang terperangkap di
saluran telinga setelah mandi, terutama pada derah berudara lembab [7]. Penyempitan
saluran telinga akibat pertumbuhan tulang ke arah liang telinga (disebut surfer’s ear)
dapat menjebak debris-debris yang kemudian dapat menyebabkan infeksi [8]. Saturation
divers (ini orang2 yang kerjanya nyelam bisa sampe lama bgt di laut yang bener2 dalam,
bisa sampe berhari2) juga melaporkan otitis eksterna selama pajanan saat bekerja [9]
(alias menyelam). Bahkan tanpa pajanan terhadap air, penggunaan benda seperti korek
telinga atau benda kecil lainnya untuk membersihkan saluran telinga dapat
menyebabkan kerusakan pada kulit, dan memungkinkan kondisi ini untuk berkembang
[10]. Jika kulit liang telinga meradang, otitis eksternal dapat dipercepat dengan
kebiasaan menggaruk saluran telinga dengan suatu benda, atau dengan membiarkan
air terperangkap dalam jangka waktu yang lama [10]. Dua faktor yang diperlukan untuk
terjadinya otitis eksternal adalah (1) keberadaan mikroorganisme yang dapat
menginfeksi telinga dan (2) gangguan pada integritas kulit saluran telinga yang
memungkinkan infeksi terjadi. Jika kulit sehat dan tidak terluka, hanya paparan patogen
konsentrasi tinggi, seperti perendaman dalam kolam yang terkontaminasi oleh limbah,
yang memungkinkan memicu episode. Namun, jika terdapat kondisi kulit kronis yang
mempengaruhi kulit saluran telinga, seperti dermatitis atopic, dermatitis seboroik,
psoriasis atau kelainan produksi keratin, atau jika ada kerusakan pada kulit akibat
trauma, bahkan bakteri normal yang ditemukan di tliang telinga dapat menyebabkan
infeksi dan gejala otitis eksterna [11]. Tindakan profilaksis seperti mengeringkan telinga
dengan pengering rambut dan menghindari manipulasi liang telinga eksterna dapat
membantu mencegah kekambuhan [12]. Patogen yang umumnya terkait dengan otitis
eksterna akut adalah Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus epidermidis,
Staphyococcusaureus, dan Streptococcuspyogenes [13]. Jamur dan ragi biasanya
ditemukan pada pasien dengan otitis eksterna kronis atau pasien immunocompromised
[14]. Penatalaksanaan meliputi debridemen yang diikuti dengan pembaluant dan
perawatan topikal dengan agen yang bersifa asam atau antibakteri, dengan atau tanpa
kortikosteroid [15]. Yang sering digunakan adalah tetes telinga antibiotik dengan atau
tanpa steroid [15]. Makalah ini mengulas literatur saat ini, patofisiologi, diagnosis, dan
pengobatan otitis eksterna.

Patofisiologi
Auditorycanal. Struktur kanal auditori yang unik berkontribusi terhadap terjadinya
otitis eksterna, dimana merupakan satu-satunya jalan buntu kulit (cul-de-sac) di tubuh
manusia. Kanal pendengaran eksternal bersifat hangat, gelap dan cenderung menjadi
lembab, menjadikannya lingkungan yang sangat baik untuk pertumbuhan bakteri dan
jamur. Kulit liang telinga sangat tipis, sepertiga luarnya menutupi tulang rawan,
sedangkan sisanya memiliki dasar tulang. Liang telinga mudah trauma. Keluarnya
debris, sekret dan benda asing didesak oleh kurva di pertemuan tulang rawan dan
tulang. Adanya rambut, terutama rambut tebal yang umum pada pria yang tua, dapat
menjadi penghalang debris, sekret dan benda asing untuk keluar dari liang.
Pendengaran eksternal memiliki beberapa pertahanan khusus. Serumen menciptakan
lapisan asam yang mengandung lisozim dan zat lain yang mungkin menghambat
pertumbuhan bakteri dan jamur. Serumen yang kaya lipid ini bersifat hidrofobik sehingga
dapat mencegah air menembus ke dalam kulit dan tidak menyebabkan maserasi.
Serumen yang terlalu sedikit dapat memudahkan terjadinya infeksi, namun dalam
jumlah berlebihan atau terlalu kental dapat menyebabkan obstruksi, retensi air dan
debris, dan infeksi. Defence mechanism lainnya pada liang telinga yaitu adanya migrasi
unik epitel yang terjadi dari membran timpani ke arah luar, membawa debris-debris
[16,17]. Ketika pertahanan-pertahanan ini gagal atau ketika epitel kanal pendengaran
eksternal rusak, otitis externa akan muncul. Ada banyak pencetus infeksi ini tetapi yang
paling umum adalah kelembaban berlebihan yang meningkatkan pH dan
menghilangkan/berkurangnya serumen. Dengan hilangnya serumen yang berperan
sebagai pelindung, debris keratin akan menyerap air, yang menciptakan media bergizi
untuk pertumbuhan bakteri [12]. Panjang liang telinga yaitu 2,5 cm (dari concha auricle
kemembran timpani). Sepertiga eksterna merupakan tulang rawan; dan sisanya
berbentuk terowongan yang menyusuri melalui tulang temporal. Aconstriction, theis
thmus, pada peralihan bagian tulang dan tulang rawan, membatasi masuknya lilin(wax)
dan benda asing ke membran timpani. Kulit liang telinga lebih tebal di bagian tulang
rawan (cartilagenuous part) dan memiliki dermis yang lebih matang (well developed) dan
lapisan subkutan. Sementara lapisan kulit bagian osseus lebih tipis dan melekat kuat
pada periosteum dan tidak memiliki lapisan subkutan. Folikel rambut banyak terdapat di
sepertiga luar kanal [18]. Flora di kanal eksternal mirip dengan flora kulit di tempat lain,
sedikit didominasi oleh Staphylococcus epidermidis, Staphylococcusaureus,
Corynebacterium dan bakteri anaerob tingkat rendah seperti Propinobacteriumacnes.
Patogen yang bertanggung jawab untuk infeksi telinga tengah (Streptococcus
pneumonia, Haemophilusinfluenzae, atau Moraxellacatarrhalis) jarang ditemukan pada
kanal auditori eksternal ketika membran timpani utuh [19,20].
Lapisan epitel menyerap kelembaban dari lingkungan. Deskuamasi dan denusi
(pengelupasan) lapisan superfisial epitel dapat terjadi. Dalam lingkungan lembab yang
hangat ini, organisme dalam canal dapat berkembang dan menginvasi kulit yang
mengalami maserasi. Peradangan dan nanah selanjutnya dapat terjadi. Organisme
invasif termasuk dari flora kulit normal dan basil gram negatif, terutama Pseudomonas
aeruginosa. Otitis media invasif adalah infeksi nekrotikans (organisme yang
menyebabkan nekrotik jaringan) yang sering dikaitkan dengan Pseudomonas
pseudomonas. Organisme mendapatkan akses ke jaringan yang lebih dalam dari
saluran telinga dan menyebabkan vaskulitis lokal, trombosis, dan nekrosis jaringan.
Mikroangiopati diabetik pada kulit yang melapisi tulang temporal menyebabkan perfusi
dan melieu lokal yang buruk yang memperburuk invasi oleh Pseudomonas aeruginosa
[18].
Pada tahun 1949, Fabricant dan rekan, adalah otolog pertama yang mempelajari
pH kulit EAC(eksternal auricular canal -liang) telinga normal [21]. Pada tahun 1957
Fabricant, membandingkan temuan awalnya dengan pH individu yang terkena otitis
eksterna akut [22] yang usia dan jenis kelaminnya disesuaikan dengan kelompok
control. VanBalen dan rekan [5], membandingkan efikasi (lebih bermanfaat mana) dari
tiga terapi umum pada otitis eksterna akut; tetes telinga yang mengandung asam asetat
atau asam asetat dengan kortikosteroid atau kortikosteroid dengan antibiotik. Kim dan
rekan, mempertimbangkan korelasi antara tingkat AOE(acute otitis eksterna) dan
perubahan pH setelah pengasaman dibandingkan dengan larutan antibiotik [24]. Ayush
dan rekan, mempelajari pH liang telinga pada individu normal dan pasien dengan AOE,
variasinya yaitu berupa perubahan suhu dan kelembaban, gejala yang berbeda dan
jumlah gejala pada presentasi, dan didapatkan bahwa pH EAC normal relatif lebih asam
dibandingkan dengan kulit lengan bawah (forearm) dan menjadi lebih basa ketika
terkena AOE, kemudian ke pH asam setelah terapi. Namun, tidak ada perubahan
signifikan pada pH telinga yang diamati dengan perubahan suhu dan kelembaban [25].

Manifestasi Klinis
Otitis media eksterna lokal dapat muncul sebagai pustula atau furunkel yang terkait
dengan folikel rambut; saluran telinga luar yang eritematosa, edematosa dan dapat diisi
dengan nanah dan serpihan debris kulit. Staphylococcus aureus adalah patogen yang
paling sering menjadi penyebab. Erysipelas yang disebabkan oleh kelompok A.
Streptococcus dapat melibatkan concha dan kanal. Nyeri dapat bersifat parah. Bulla
perdarahan (haemorragic bullae) berwarna merah-merah kebiruan mungkin ada pada
dinding kanal osseus dan juga pada membran timpani. Adenopati di daerah drainase
limfatik sering ditemukan. Lokal dan sistemik biasanya bersifat kuratif. Insisi mungkin
diperlukan untuk meringankan rasa sakit yang parah [18].

Otitis eksterna difus akut (swimmer’s ear) terjadi terutama pada cuaca lembab yang
panas. Telinga terasa gatal dan semakin nyeri. Kulit liang telinga edema dan merah.
Basil Gram-negatif, terutama P.pseudomonas biasanya berperan penting. Otitis
eksternal dengan perdarahan hebat yang disebabkan oleh P.pseudomonas dikaitkan
dengan bak mandi kayu yang biasa digunakan untuk berendam air panas [26].
Manajemen awal yaitu dengan membersihkan debris-debris, dengan irigasi dengan
larutan saline hipertonik (3%) dan pembersihan dengan campuran alkohol (70% hingga
95%) dan asam asetat. Larutan hidrofilik seperti 50% larutan Burow dapat digunakan
selama 1 hingga 2 hari untuk mengurangi peradangan. Sumbu kapas (cotton wick)
dapat digunakan untuk meningkatkan distribusi agen ototopikal ketika kanal
membengkak. Regimen fluoroquinolone otic selama sepuluh hari seperti ofloxacin atau
ciprofloxacine-dexamethasonotic atau tetes telinga dari neomycin saja atau dengan
polymixin yang dikombinasikan dengan hydrocortisone cukup efektif dalam mengurangi
peradangan dan infeksi lokal [27,28].
Otitis eksterna kronis disebabkan oleh iritasi dari drainase (secret) yang melalui
membran timpani yang perforasi. Penyebabnya adalah otitis media supuratif kronis. Bisa
menyebabkan sangat gatal. Penatalaksanaan lebih diutamakan padagangguan telinga
tengahnya. Penyebab langka otitis eksterna kronis termasuk TBC, sifilis, frambusia,
kusta, dan sarkoidosis [18].

Otitis eksterna maligna invasif adalah infeksi nekrotikans hebat yang menyebar dari
epitel skuamosa saluran telinga ke area yang berdekatan dari jaringan lunak, pembuluh
darah, tulang rawan dan tulang [4,29]. Nyeri hebat dan bengkak jaringan di sekitar
mastoid dan disertai dengan drainase nanah dari kanal. Resiko tinggi terutama pada
pasien tua, diabetes, immunocompromised. Dapat mengancam jiwa bila terjadi
penyebaran ke tulang temporal dan kemudian ke sinus sigmoid, bulbus jugularis, basis
cranii, meninges, dan otak. Kelumpuhan wajah permanen sering terjadi, dan saraf
kranial 9, 11, dan 12 juga dapat terganggu [30]. P.pseudomonas merupakan penyebab
tersering. Tingkat kerusakan tulang dan jaringan lunak dapat diidentifikasi menggunakan
CT dan MRI [4]. Tes diagnostik untuk underlying disease harus dilakukan. Kanal harus
dibersihkan, jaringan rusak maupun debris diangkat, dan diberikan obat tetes telinga
dengan antibiotik anti-pseudomonal dengan steroid. Terapi sistemik dengan rejimen
untuk menghambat aktivitas Pseudomonas spp. harus digunakan selama 4-6 minggu.
Kombinasi ceftazidime, cefepime, atau piperacillin dengan aminoglikosida (gentamisin
atau tobramycin) harus dipertimbangkan [30]. Kuinolon sediaan oral dengan aktivitas
melawan Pseudomonas spp, seperti ciprofloxacin, telah menjadi terapi yang efektif pada
awal perjalanan otitis eksternal [31] .

Otitis eksterna nekrotikans (otitis eksterna maligna) adalah bentuk otitis eksterna yang
jarang, terjadi terutama pada penderita diabetes lanjut usia, yang lebih mungkin dan
lebih parah ketika diabetesnya tidak terkontrol dengan baik. Bahkan lebih jarang, dapat
berkembang karena immunocompromised. Dimulai sebagai infeksi saluran telinga luar,
infeksi meluas ke liang telinga bertulang (part oseuss) dan jaringan lunak yang lebih
dalam di sekitar part osseus. Keterlambatan diagnosis dan terapi dapat berakibat
kematian. Tanda penting otitis eksterna maligna (MOE) adalah rasa sakit yang hebat
dan persistent ( sampai mengganggu tidur) dan bertahan bahkan setelah
pembengkakan liang telinga eksternal mungkin mereda dengan pengobatan antibiotik
topikal [32, wp, 14]. Ini juga dapat menyebabkan osteomielitis basis tengkorak ( SBO),
dimanifestasikan oleh beberapa palsi saraf kranial [14].

Otomycosis atau otitis eksterna jamur. Jamur diidentifikasi pada sekitar 10 persen dari
kasus otitis eksterna [33]. Patogen yang paling umum adalah Aspergillus (80%-
90%kasus, diikuti oleh Candida). Infeksi jamur klasik biasanya hasil perawatan jangka
panjang dari bakteri otitis eksterna yang mengubah flora normal liang telinga. Infeksi
bakteri dan jamur campuran sering terjadi [34]. Infeksi ini sering asimptomatik dan
diagnosis dibuat dengan keluarnya cairan yang “unik” di saluran pendengaran eksternal.
Keluhan paling umumnya berupa rasa tidak nyaman pruritus (rasa gaatal) dan perasaan
penuh di telinga. Pruritusnya dapat cukup kuat, yang memicu pasien untuk menggaruk
dan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut pada epidermis. Sekret dan tinitus juga sering
terjadi [34]. Spesies Aspergillus, khususnya A. niger, dapat tumbuh di dalam cerumen
dan debris keratinaceous yang mengalami deskuamasi di saluran pendengaran
eksternal, terkadang membentuk koloni berbulu kehijauan atau kehitaman. Otomikosis
biasanya tidak menimbulkan banyak keluhan dan tidak berakibat fatal, namun pada
pasien dengan immunocompromised berat, Aspergillus dapat menyebabkan nekrotikan
otitis eksterna [35].

Otitis eksterna non infeksius. Penyakit sistemik [12] dapat menyebabkan otitis
eksterna termasuk atopik dermatitis, psoriasis, dermatitis seboroik, jerawat, dan lupus
erythematosus. Lesi biasanya terjadi di saluran pendengaran eksternal dan di tempat
lain pada tubuh, terutama leher kepala. Seringkali ada riwayat keluarga dan kasus yang
berulang yang berulang. Pemeriksaan dan riwayat dermatologis yang menyeluruh harus
selalu menjadi bagian dari evaluasi pasien dengan otitis eksterna. Manifestasi pada
saluran pendengaran eksternal dapat berkisar dari eritema ringan dan pengelupasan
(sisik) dengan dermatitis atopik, hingga penskalaan (sisik) yang melekat dengan
psoriasis, hingga perubahan inflamasi lokal pada jerawat. . Pruritus merupakan gejala
yang paling umum [12]. Pengendalian penyakit di tempat lain akan mengurangi
manifestasi di saluran telinga dan karenanya menjadi landasan pengobatan. Selain itu,
otitis dari semua penyakit ini, kecuali jerawat, akan merespons terhadap terapi
krim/larutan steroid topical dosis rendah. Steroid, bagaimanapun dapat menyebabkan
pertumbuhan bakteri dan jamur yang berlebihan pada pasien dengan kulit yang sudah
terganggu. Jadi, zat bersifat acidic sering ditambahkan. Jerawat biasanya merespons
terhadap cream benzoil peroksida topikal dan cream antibiotik. Dermatitis seboroik pada
telinga eksternal dapat diobati dengan shampo obat yang digunakan untuk kulit kepala.
Kasus-kasus sulit harus dirujuk ke dokter kulit [33]. Dermatitis kontak, iritan atau alergi,
dapat melibatkan pinna serta kanal pendengaran eksternal. Bentuk alergi biasanya
timbul secara akut dengan pruritus eritematosa, lesi edematosa dan eksudatif,
sedangkan dermatitis kontak sering memiliki onset yang lebih berbahaya disertai
likhenifikasi (penebalan pada kulit, biasanya krn digaruk2, ini neurodermatitis,
tampilannya bisa kaya kulit pohon)

Treatment
Medikasi yang efektif untuk saluran telinga termasuk zat yang mengasamkan
dan yang bersifat mengeringkan, digunakan baik secara tunggal atau dalam kombinasi.
Ketika kulit liang telinga meradang akibat otitis eksterna akut, penggunaan asam asetat
encer dapat terasa sangat perih [36]. Larutan Burow sangat efektif terhadap otitis
eksternal bakteri dan jamur, merupakan campuran buffered aluminium sulfat dan asam
asetat, dan tersedia tanpa resep di Amerika Serikat [37]. Larutan topikal maupun
suspensi dalam bentuk tetes telinga adalah sediaan pengobatan terbaik untuk otitis
eksternal. Beberapa mengandung antibiotik, baik antibakteri atau antijamur, dan lainnya
hanya dirancang untuk sedikit mengasamkan lingkungan saluran telinga untuk
mencegah pertumbuhan bakteri. Beberapa juga mengandung antiinflamasi steroid, yang
membantu mengatasi pembengkakan dan gatal-gatal. Walaupun ada bukti bahwa
steroid efektif dalam mengurangi lamanya waktu perawatan yang diperlukan, otitis
eksterna jamur (otomycosis) dapat disebabkan akibat penggunaan tetes telinga yang
mengandung steroid dalam jangka panjang [37]. Antibiotik oral sebaiknya tidak
digunakan untuk mengobati otitis eksterna akut tanpa komplikasi [37]. Antibiotik oral
tidak cukup berespons terhadap bakteri yang menyebabkan kondisi ini dan memiliki efek
samping yang signifikan termasuk peningkatan risiko infeksi oportunistik [37].
Sebaliknya, produk topikal justru lebih baik [37].
Pada otomycosis, pembersihan saluran telinga dengan penyedotan merupakan
pengobatan utama. Obat tetes telinga yang bersifat mengasamkan, diberikan tiga
hingga empat kali sehari selama lima sampai tujuh hari biasanya cukup untuk
menyelesaikan pengobatan [12]. Karena infeksi dapat bertahan tanpa gejala, pasien
harus dievaluasi pada akhir perjalanan pengobatan. Pembersihan lebih lanjut dapat
dilakukan sesuai kebutuhan. Jika infeksi tidak membaik dengan obat kios/konter seperti
clotrimazole 1% (Lotrimin) yang juga memiliki beberapa aktivitas antibakteri, studi in vitro
menunjukkan bahwa obat topikal thimerosol (Merthiolate) dan Mcresyacetate (Cresylate)
adalah agen yang lebih efektif tetapi lebih berantakan (mungkin maksudnya
penggunaannya lebih berantakan, ga yang clean rapi begicu) [34]. Jika membran
timpani mengalami perforasi, larutan Toinaftate 1% (Tinactin) sebaiknya digunakan
untuk mencegah ototoksisitas [34]. Semua agen topikal ini digunakan secara topikal
dengan dosis tiga atau empat tetes setiap hari selama tujuh hari. Infeksi Aspergillus
mungkin resisten terhadap clotrimazole dan mungkin memerlukan penggunaan
itraconazole oral (Sporanox) [33].
Tidak seperti otitis eksterna biasa, Maligna OE memerlukan antibiotik oral atau
intravena untuk pengobatannya. Pseudomonas merupakan pathogen penyebab yang
paling umum, kontrol diabetes juga merupakan bagian penting dari terapi MOE. Ketika
MOE tidak terdiagnosis dan tidak diobati, infeksi terus berlanjut dan semakin memburuk
dan dalam hitungan minggu atau bulan dapat menyebar lebih dalam ke kepala dan
melibatkan tulang-tulang tengkorak (mengakibatkan osteomielitis basis tengkorak
(SBO)), beberapa kelumpuhan saraf kranial dapat terjadi, termasuk saraf wajah
(menyebabkan kelumpuhan wajah), saraf laring rekuren (menyebabkan kelumpuhan pita
suara), dan saraf koklea (menyebabkan tuli). Organisme yang menginfeksi hampir selalu
Pseudomonas aeruginosa, tetapi dapat juga disebabkan jamur (Aspergillus atau mucor).
MOE dan SBO tidak dianjurkan pembedahan, tetapi pembedahan eksplorasi dapat
memfasilitasi kultur organisme ‘baru/tidak biasa’ yang tidak berespon terhadap antibiotik
anti-pseudomonal yang biasa digunakan secara empiris (ciprofloxacin sebagai obat
pilihan, antibiotik anti-pseudomonal yang disebutkan sebelumnya) (jadi intinya dilakukan
pembedahan explorasi ini untuk mendapatkan bakteri atau organisme lain yang ga
respon sama pengobatan empiris, biar bisa dikultur biar ketahuan organismenya apa,
dll). Temuan bedah yang biasa ditemukan adalah selulitis difus tanpa pembentukan
abses lokal. Skull Base Osteomielitis dapat meluas ke puncak os petros pada tulang
temporal atau lebih rendah ke sisi berlawanan dari basis tengkorak [32]. Penggunaan
terapi oksigen hiperbarik sebagai tambahan terapi antibiotik masih kontroversial [32].
Karena dasar tengkorak (skull base) terlibat secara progresif, saraf kranial yang
berdekatan dan cabang-cabangnya, terutama saraf wajah dan saraf vagus, dapat
terkena, yang mengakibatkan kelumpuhan wajah dan suara serak. Jika kedua saraf
laring rekuren lumpuh, sesak napas dapat terjadi dan terpaksa dilakukan trakeotomi.
Tuli dapat terjadi, biasanya dalam perjalanan penyakit karena resistensi relatif dari
struktur telinga bagian dalam. Pemindaian (scan) Gallium kadang-kadang digunakan
untuk mendokumentasikan tingkat infeksi namun tidak dibutuhkan untuk manajemen
penyakit. SBO merupakan penyakit kronis yang dapat membutuhkan berbulan-bulan
untuk perawatan antibiotik IV, cenderung kambuh, dan memiliki tingkat kematian yang
tinggi [32]. Pedoman praktik klinis pada AOE oleh American Academy of 0tolaryngology
(AA0) - Bedah Leher Kepala bermanfaat [37] .

Pencegahan
Pencegahan kekambuhan otitis eksterna terutama terdiri dari menghindari banyak
pencetus dan gangguan dermatologis. Hal ini sangat penting untuk pasien dengan
kondisi serumen kental yang tidak biasa, saluran pendengaran eksternal yang
menyempit atau alergi sistemik [17]. Setelah mandi atau berenang, saluran
pendengaran eksternal harus dikeringkan menggunakan pengering rambut pada
pengaturan panas terendah. Kemudian obat tetes yang bersifat mengasamkan dapat
diteteskan. Beberapa penulis [38,39] merekomendasikan menggabungkan agen asam
dengan tetes alkohol (Swim Ear) untuk bertindak sebagai zat astringen (???), tetapi
banyak dokter merasa ini terlalu keras dan lebih memilih menggunakan larutan Burow
sebagai zat astringen (Star-0tic). Manipulasi kulit saluran pendengaran eksternal (seperti
menggaruk atau membersihkan terlalu sering dan dalam) harus dihindari [34], karena
setiap kali saluran pendengaran eksternal dibersihkan dan serumen dikeluarkan, saluran
menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, jika terdapat trauma dan terbukti
membuat kanal pendengaran eksternal basah, penggunaan agen pengasaman dengan
hidrokortison adalah tindakan pencegahan yang harus dilakukan [38, 40]. Jika cerumen
sulit dihilangkan, agen aceruminolytic seperti Cerumenex atau bahkan larutan baking
soda 4% dapat digunakan untuk melunakkan cerumen terlebih dahulu sehingga
menghindari trauma pada saluran pendengaran eksternal [38]. Orang yang sering
berenang harus menggunakan pelindung untuk melindungi telinga mereka dari air.
Sumbat telinga yang kedap air dapat bertindak sebagai iritan lokal dan telah terbukti
mempengaruhi saluran telinga terhadap otitis eksterna. Topi renang ketat terbukti
melindungi lebih baik daripada earplug [17,41]. Pasien dengan otitis eksterna akut
sebaiknya tidak melakukan olahraga air selama setidaknya tujuh hingga 10 hari [41],
meskipun beberapa penulis memungkinkan perenang kompetitif untuk kembali setelah
tiga hari perawatan selama semua rasa sakit telah teratasi [40]. Lainnya akan
memungkinkan kembali dengan penggunaan penyumbat telinga yang pas [17].

Kesimpulan
Otitis externa adalah peradangan pada telinga luar dan liang telinga. Terapi yang sering
digunakan adalah tetes telinga antibiotik, dengan atau tanpa kortikosteroid. Pada
otomysosis otitis externa pembersihan dengan penyedotan, dan dengan tetes telinga
yang bersifat asam yang diberikan beberapa kali sehari adalah pengobatan pilihan.
Otitis eksterna maligna (MOE) dapat mengakibatkan komplikasi serius.