Anda di halaman 1dari 4

KAKAWIN RAMAYANA

Sira Ta Triwikrama Pita

Pinaka Bapa Bhatara Wisnu Mang Janma

Inaka Nikang Buwana Kabeh

Ya Ta Donira Nimittaning Janma

 Ida Wantah Ajin Sanghayng Tri Wirakrama Kaanggeh Aji Ritatkalaning


Shanghyang Ari Manuma Wantah Jaga Ngerahayuang Daging Jagate
Sami Asapunika Gumanti Tatujon Ida Mawinan Manresti

Bhagawad Gita Bab 8

1. Sloka 8.7
tasmāt sarves ̣u kāles ̣u
mām anusmara yudhya ca
mayy arpita-mano-buddhir
mām evais ̣yasy asaḿśayaḥ

tasmāt—karena itu; sarves ̣u—pada segala; kāles ̣u—waktu; mām—Aku;


anusmara—ingat terus; yudhya—bertempur; ca—juga; mayi—kepada-
Ku; arpita—menyerahkan diri; manaḥ—pikiran; buddhiḥ—kecerdasan;
mām—kepada-Ku; evā—pasti; es ̣yasi—engkau akan mencapai;
asaḿśayaḥ—tidak dapat diragukan.

Terjemahan

Wahai Arjuna, karena itu, hendaknya engkau selalu berpikir tentang-Ku


dalam bentuk Krishna dan pada waktu yang sama melaksanakan tugas
kewajibanmu, yaitu bertempur. Dengan kegiatanmu dipersembahkan
kepada-Ku pikiran dan kecerdasanmu dipusatkan kepada-Ku, tidak dapat
diragukan bahwa engkau akan mencapai kepada-Ku.
Penjelasan

Ajaran yang disampaikan kepada Arjuna ini penting sekali untuk semua
orang yang sibuk dalam kegiatan material. Krishna tidak mengatakan
bahwa seseorang harus meninggalkan tugas-tugas kewajiban maupun
kesibukannya. Ia dapat melanjutkan kegiatan itu dan pada waktu yang
sama berpikir tentang Krishna dengan cara mengucapkan mantra Hare
Krishna. Ini akan membebaskan Diri-Nya dari pengaruh material dan
menyebabkan pikiran dan kecerdasannya tekun dalam Krishna. Dengan
mengucapkan nama-nama Krishna, seseorang akan dipindahkan ke planet
yang paling utama, Krishnaloka. Kenyataan ini tidak dapat diragukan.

2. Sloka 8.8

abhyāsa-yoga-yuktena

cetasā nānya-gāminā

paramaḿ purus ̣aḿ divyaḿ

yāti pārthānucintayan

abhyāsa-yoga—dengan latihan; yuktena—dengan menekuni semadi;


cetasā—oleh pikiran dan kecerdasan; na anya-gāminā—tanpa pikiran dan
kecerdasan disesatkan; paramam—Yang Mahakuasa; purus ̣am—
Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa; divyam—rohani; yāti—seseorang
mencapai; pārtha—wahai putera Pṛthā; anucintayan—senantiasa berpikir
tentang.
Terjemahan

Orang yang bersemadi kepadaku sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha


Esa, dengan pikirannya senantiasa tekun ingat kepada-Ku, dan tidak
pernah menyimpang dari jalan itu, dialah yang pasti mencapai kepada-
Ku, wahai Pārtha.

Penjelasan

Di dalam ayat ini Sri Krishna menegaskan bahwa ingat kepada Krishna
sangat penting. Ingatan seseorang terhadap Krishna dihidupkan kembali
dengan cara mengucapkan mahamantra, Hare Krishna. Dengan latihan
ini, yaitu mengucapkan dan mendengar getaran suara Tuhan Yang Maha
Esa, telinga, lidah dan pikiran seseorang dijadikan tekun. Semadi batin
tersebut mudah sekali dipraktekkan dan membantu seseorang untuk
mencapai kepada Tuhan Yang Maha Esa. Purus ̣am berarti kepribadian
yang menikmati. Walaupun para makhluk hidup termasuk tenaga pinggir
dari Tuhan Yang Maha Esa, mereka dipengaruhi secara material. Mereka
menganggap Diri-Nya yang menikmati, tetapi sebenarnya mereka bukan
kepribadian tertinggi yang menikmati. Di sini dinyatakan dengan jelas
bahwa Kepribadian Yang Paling Utama yang menikmati ialah
Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Sendiri dalam berbagai manifestasi
dan penjelmaan-Nya yang berkuasa penuh sebagai Narayana, Vasudeva,
dan sebagainya.
Seorang penyembah dapat senantiasa memikirkan tujuan
sembahyangnya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dalam salah satu di antara
aspek-aspek-Nya—Narayana, Krishna, Rāma, dan sebagainya—dengan
cara mengucapkan mantra Hare Krishna. Latihan ini akan menyucikan
penyembah tersebut sehingga pada akhir riwayatnya, dia akan
dipindahkan ke kerajaan Tuhan karena dia senantiasa mengucapkan
mantra itu. Latihan yoga berarti bersemadi kepada Roh Yang Utama di
dalam hati; begitu pula, dengan mengucapkan mantra Hare Krishna
seseorang dapat memusatkan pikirannya agar selalu mantap kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Pikiran selalu berubah-ubah. Karena itu, pikiran
harus dipaksakan supaya memikirkan Krishna. Salah satu contoh yang
sering dikemukakan ialah ulat yang berpikir untuk menjadi kupu-kupu,
dan dengan demikian badannya diubah menjadi kupu-kupu dalam
kehidupan itu juga. Begitu pula, kalau kita senantiasa berpikir tentang
Krishna, pasti pada akhir kehidupan, kita akan mempunyai badan dengan
sifat yang sama seperti Krishna.

KAKAWIN ARJUNA WIWAHA

Stuti nira tan tulus, sinauran paramarta siwa

Anakku hawus katon, abimatanta temunta kabeh,

Hana panganugrahanku, cadu sakti winimba sara,

Papupasti sastra kastu, pangarannya nihan ulati

Arti dalam Bahasa Bali atau Teteges:

Pangastawan Ida Sang Arjuna during mawastan puput, kacawis olih Ida Bhatara
Siwa. “cening pyanakan bapa, suba sinah sarat idewa pangguhang idewa maka
sami. Ne ada paican bapa cadusakti marupa sanjata. Panah pasupati kalumrah
wastannyanne, ne tingalin”.

Arti dalam bahasa Indonesia:

Puja pujinya tidak melanjut, dijawab oleh Dewa Siwa. “Wahai anakku,
harapanmu telah tampak dan semua kau ketemukan. Ada anugrahku kepadamu
berupa empat kekuatan berwujud panah. Namanya adalah panah Pasupati,
lihatlah!”