Anda di halaman 1dari 6

Resensi Buku

Fiksi dan Nonfiksi

KD 3.18 Menganalis isi dari minimal satu buku fiksi dan


nonfiksi yang sudah dibaca.

KD 4.18 Mereplikasi isi buku ilmiah yang dibaca dalam


bentuk resensi.

Edro Farhan Suyitno

X MIPA 4
Karya Internet

Resensi Fiksi

Judul : Negeri 5 Menara

Pengarang : Ahmad Fuadi

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : Agustus 2009

Kota Terbit : Jakarta

Jumlah Halaman : 423

ISBN : 978-979-22-4861-6

Sinopsis

Novel 5 Menara, karya sastra miliki Ahmad Fuadi yang telah diangkat ke film
layar lebar. Mengusung tema religius dan moralitas. Tokoh utama dalam novel ini
bernama Alif.Alif lahir di tanah Minangkabau, ia dilahirkan di pinggir Danau
Maninjau dan tidak pernah ia menginjak tanah di luar Minangkabau. Sejak kecil,
Alif memiliki cita-cita menjadi B. J. Habibie.Karena itu ia sudah berencana
setelah lulus SMP ingin melanjutkan pendidikan ke SMU negeri di Padang,
dengan harapan dapat memudahkan langkahnya untuk menorobos kuliah di
jurusan yang sesuai.

Di sisi lain, Amak Alif menginginkan ia jadi penerus Buya Hamka, membuat
mimpi dan harapan Alif kandas. Alif diberi pilihan, ingin sekolah agama atau
menuntut ilmu di pondok pesantren. Sempat kesal, namun akhirnya Alif ikhlas,
karena ia tak ingin mengecawakan harapan orang tuanya, terutama ibu. Alif pun
menuruti keinginan ibunya dan masuk pondok.

Alif mendapatkan saran dari pamannya yang di Cairo untuk melanjutkan di


pondok yang ada di Jawa Timur, yaitu Pondok Madani (Pondok Pesantren
Modern Gontor).Awalnya amak Alif berat, karena ia lebih memilih untuk mondok
di Jawa. Namun dengan pertimbangan Alif yang belum pernah menginjak tanah di
luar ranah minang, akhirnya amaknya merestui keinginan Alif.
Awal, Alif dengan setengah hati menuntut ilmu di pondok, karena ia harus
merelakan cita-citanya yang ingin kuliah di ITB, agar bisa seperti Habibie. Alif
berubah pikiran saat mendengar kalimat bahasa Arab pada hari pertama di Pondok
Madani, ia tetap melanjutkan pendidikan di pesantren. Kalimat yang dapat
merubah pikirannya itu adalah mantera sakti yang diberikan Kiai Rais (pimpinan
pondok), yaitu ‘Man Jadda Wajada’ yang berarti ‘siapa yang bersungguh-sungguh
pasti akan berhasil’.

Di Pondok Madani, Alif memiliki teman baru yang berasal dari berbagai
daerah, ada Raja dari Medan, Dulmajid dari Sumenep, Said dari Surabaya, Atang
dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Alif menyadari bahwa kehidupan di pesantren
tak semudah dan sesanti menjalani di sekolah formal. Sehari-hari, Alif dan teman-
temannya dipadati dengan aktivitas pondok, seperti hafalan Al-Qur’an, belajar
siang dan malam, mempelajari bahasa Inggris dan Arab pada 6 bulan pertama.
Karena Pondok Madani tidak menerapkan bahasa Indonesia.

Di Pondok Madani, semua santri diwajibkan berbahasa Inggris dan Arab. Dan
juga disertai peraturan yang ketat, pelanggaran kecil pun akan dikenakan
hukuman. Di tahun pertama, Alif dan teman-teman merasa begitu berat, karena
masih proses penyesuaian diri dengan peraturan yang ada. Hal yang paling berat
di hadapi adalah saat momen ujian, semua santri belajar dalam waktu 24 jam
nonstop, hanya beberapa menit ada waktu untuk tidur. Karena mereka memang
harus mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi ujian yang akan
berlangsung 15 hari. Masuk tahun kedua, Alif dan teman-temannya merasakan
hidup lebih berwarna dan penuh pengalaman berkesan. Persahabatan terasa begitu
kompak, hingga pada suatu hari ada hal yang tidak terduga, Baso, sahabat Alif
yang paling pintar memutuskan untuk keluar dari pondok, karena masalah
ekonomi dan keluarga.

Dengan kepergian Baso, Alif dan sisa teman lainnya tergugah semangatnya
untuk menyelesaikan pendidikan di Pondok Madani dan menjadi orang sukses
yang mampu mewujudkan impian, yaitu menginjakkan kaki di benua Eropa dan
Amerika. Dan akhirnya, mimpi mereka berenam telah menjadi nyata. Alif dan
teman-teman telah berada di lima negara yang berbeda, sesuai apa yang mereka
impikan dan dilukis di awan. Alif berada di Amerika, Atang di Afrika, Raja di
Eropa, Baso berada di Asia, lalu Said dan Dulmajid di Negara Kesatuan Republik
Indonesia tercinta.

Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Allah.swt Maha
Pendengar.

MAN JADDA WAJADDA…


Kelebihan

Penulis, A. Fuadi, menggambarkan kehidupan di pesantren bagitu nyata,


sehingga banyak orang yang ingin tahu lebih dalam akan dunia pesantren sebagai
pusat pendidikan islam. Sangat kental dengan motivasi, atas dasar tekad,
perjuangan, keluarga dan persahabatan impian sebesar apa pun bisa diraih.

Kekurangan

Terdapat sedikit kekurangan, yaitu dari klimaks ceritanya yang tak begitu
menonjol. Dan ada kurang penjelasan mengenai kehidupan dari beberapa tokoh di
akhir cerita.
Karya Sendiri

Risensi Nonfiksi

Judul : Budidaya Itik Raja

Pengarang : Mahmud Hasan

Penerbit : Pustaka Baru Press

Tahun Terbit : 2013

Kota Terbit : Yogyakarta

Jumlah Halaman : viii + 192

Cetakan : Pertama

ISBN : 602-1674-06-5

Sinopsis

Salah satu jenis itik hibrida pedaging yang telah dikembangkan dan memiliki
sifat unggul adalah itik raja. Itik raja merupakan hasil persilangan antara itik
mojosari jantan dan itik alabio betina. Itik yang dikenal dengan nama itik MA
(mojosari-alabio) ini diperuntukkan sebagai itik pedaging karena mampu
menghasilkan bobot 1.2-1.4 kilogram hanya dalam waktu enam minggu.

Keunggulan lainnya, itik raja memiliki aroma dan rasa yang berbeda dengan
itik lainnya. Aroma daging itik tidak terlalu manis serta daging yang dihasilkan
lebih tebal, empuk, putih, dan gurih sehingga banyak disukai oleh konsumen. Itik
raja juga lebih mudah diolah dibandingkan dengan jenis itik lainnya. Bagi
pengolah itik profesional, tentu penyajiannya pun akan semakin kaya cita rasa.
Itik raja dapat dikembangkan di seluruh wilayah Indonesia karena memiliki
daya adaptasi yang tinggi dengan kondisi iklim Indonesia. Jika dibandingkan
dengan itik lainnya, itik raja memiliki daya tahan hidup lebih tinggi dengan
tingkat stres yang lebih rendah, baik stres akibat perubahan cuaca maupun stres
akibat adanya suara-suara bising. Hal inilh yang membuat itik raja tahan terhadap
penyakit.

Kelebihan

Dengan bahasanya mudah di mengerti dan kelengkapan materi tentang tata


cara budidaya itik raja pada buku, dapat memberi pedoman bagi orang yang ingin
memulai beternak itik raja atau yang sudah beternak. Dan didalam juga terdapat
gambar-gambar yang menarik dan membuat pembaca lebih faham tentang isi dari
buku ini.

Kekurangan

Gambarnya yang masih bewarna hitam putih, membuat pembaca susah


membedakan jenis-jenis itik yang ada pada buku. Dan juga menjadi kurang
menarik.