Aplikasi Reverse Osmosis untuk Aquades
Aplikasi Reverse Osmosis untuk Aquades
Menurut Widayat (2007), standar kualitas air baku untuk air umpan unit RO
adalah seperti ditampilkan pada Tabel 1.
Tabel 2.1. Standar Kualitas Air Baku Untuk Air Umpan Unit Reverse Osmosis
No. Parameter Satuan Air Baku (Max)
1. Warna Pt. Co Scale 100
2. Bau - Relatif
3. Kekeruhan NTU 20
4. Besi mg/liter 2,0
5. Mangan mg/liter 1,3
6. Klorida mg/liter 4000
7. Bahan Organik mg/liter 40
8. TDS mg/liter 12000
Aliran permeat
Setelah didapat 5 data,
ditampung ke bak Setelah selesai, tutup
lakukan pengulangan
penampung, sedangkan semua kran, lalu cabut
proses RO dengan
aliran konsentrat di kembali alat RO dari
mengurangi laju alir
buang ke saluran sumber listrik
influent
pembuangan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
350
300
250
200
Permeat
150
100 Konsentrat
50
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu, t(menit)
250
200
150
Permeat
100
Konsentrat
50
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu, t(menit)
Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa nilai TDS pada grafik RUN 1
menunjukkan nilai yang fluktuatif, ditunjukan pada konsentrasi zat terlarut
konsentrat lebih besar daripada permeat karena semakin lama waktu laju alir yang
digunakan semakin sedikit zat terlarut atau semakin murni permeat yang dihasilkan.
Sedangkan pada grafik RUN 2 cenderung meningkat dan stabil hal ini dapat
diartikan bahwa air yang telah melewati membran atau permeat sudah murni
dengan kata lain zat terlarutnya nol.
Berikut terlampir grafik hubungan konsentrasi, DHL permeat dan konsentrat
terhadap waktu pada RUN 1 dan RUN 2:
500
400
300 Permeat
200
Konsentrat
100
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)
500
400
300 Permeat
200
Konsentrat
100
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)
Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa nilai DHL pada grafik RUN 1
konsentrat mengalami kenaikan pada menit ke 20 sedangkan pada permeat terjadi
kenaikan pada menit ke 40. Sedangkan pada grafik RUN 2 konsentrat terjadi
penurunan pada menit ke 20 sedangkan pada konsentrat penurunan terjadi paada
menit 30. Nilai DHL pada aliran permeat lebih kecil dibandingkan nilai yang ada
pada aliran konsentrat seperti yang ditunjukkan pada grafik hubungan antara DHL
terhadap waktu pada permeat dan konsentrat. Hal ini membuktikan bahwa ion-ion
dan partikel terlarut telah tertahan oleh membran akan keluar bersama aliran
konsentrat.
Untuk menentukan efisiensi pemisahan maka dapat ditentukan dengan
menghitung persen zat terlarut yang ditolak atau % Rejection yang menyatakan
hubungan antara konsentrasi influen dan permeat, semakin besar nilai R maka
proses pemisahan semakin baik artinya permeat yang dihasilkan semakin murni,
hal ini diperoleh pada RUN 1 dengan nilai influen 197 mg/l dan nilai permeatnya
sebesar 0 mg/l pada saat menit ke 50 dan pada saat RUN 2 dengan nilai influen dan
permeat yang sama (197 mg/l dan 0 mg/l) yang dilakukan dari menit 10 sampai
menit ke 50 sebesar 100% maka dapat diartikan permeat yang dihasilkan murni dan
tidak terdapat zat terlarut yang lolos pada membran.
Standar mutu aquades yang menjadi acuan yaitu standar mutu air demineral
menurut SNI 01- 3553-2006 dan SNI 01-6241-2000. Air demineral merupakan air
yang diperoleh melalui proses pemurnian seperti destilasi dan deionisasi. Dimana
batas maksimal dari parameter DHL yaitu sebesar 10 mg/l dan TDS sebesar 1,3
ms/cm. Artinya aquades yang dihasilkan dapat dikatakan sebagai aquades yang baik
karena memenuhi standar, tetapi pada RUN 1 menit ke 10 TDS yang di hasilkan
sebesar 60 mg/l hal ini di sebabkan karena air yang masuk ke dalam mesin reverse
osmosis belum terjadi pretreatment yang baik atau proses penyaringannya belum
sempurna karena masih terdapat banyak zat terlarut sehingga melebihi batas
maksimalnya yaitu 10 mg/l.
300
TDS (mg/L)
200
Permeat
100 Konsentrat
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)
Grafik ini menunjukkan bahwa nilai TDS permeat pada run 1 tidak stabil, dapat
diindikasikan bahwa air yang telah melewati membran belum murni sehingga
masih terdapat padatan yang terlarut di dalamnya. Sedangkan, nilai TDS konsentrat
lebih besar dibandingkan dengan TDS permeat karena mengandung partikel-
partikel pengotor yang tak lolos membran.
Berikut merupakan grafik TDS permeat dan konsentrat terhadap waktu proses
RO pada RUN 2 :
200
150
Permeat
100
50 Konsentrat
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)
Grafik ini menunjukkan bahwa nilai TDS permeat pada run 2 sudah stabil pada nilai
0, dapat diindikasikan bahwa air yang telah melewati membran sangat murni
sehingga sama sekali tak ada padatan yang terlarut di dalamnya (TDS=0).
Sedangkan, nilai TDS konsentrat masih lebih besar dibandingkan dengan TDS
permeat karena masih banyak mengandung partikel-partikel pengotor yang tak
lolos membran.
Berikut merupakan grafik DHL permeat dan konsentrat terhadap waktu
proses RO pada RUN 1 & RUN 2:
Grafik DHL terhadap Waktu untuk Permeat dan
Konsentrat pada RUN 1
700
600
500
DHL (µS/cm)
400
300 Permeat
200 Konsentrat
100
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)
500
400
300 Permeat
200
Konsentrat
100
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu, t(menit)
Pada grafik tersebut menunjukan bahwa hasil nilai DHL permeat dan pada run 1
dan run 2 sangat baik untuk di jadikan parameter keberhasilan proses reverse
osmosis ini, namun diharapkan bisa lebih rendah lagi. Hal ini disebabkan karena
tekanan operasi yang digunakan cukup rendah yaitu 0,7 mPa (0,5 bar), 0,72 dan
0,79 mPa. Dimana literatur menyebutkan bahwa proses reverse osmosis yang
umum dilakukan dengan keberhasilan proses yang tinggi yaitu menggunakan
tekanan 2-80 bar dan dapat disimpulkan dari data diatas bahwa semakin besar
tekanan yang digunakan maka proses pemisahan semakin baik sehingga nilai DHL
nya pun semakin mendekati 0 artinya semakin murni dan baik air yang dihasilkan.
Efisiesi pemisahan ditentukam dengan menghitung %Reject. Hasil %
Rejection pada run 1 yang paling baik hanya terjadi pada menit ke 50. Dengan nilai
TDS awal (umpan) yaitu 197 mg/L kemudian TDS akhir (permeat) yaitu 0 mg/L,
maka diperoleh nilai %reject pada praktikum ini yaitu sebesar 100% . Sementara
itu untuk % Rejection pada run 2 disemua titik didapat sebesar 100%. Nilai %reject
yang besar menunjukkan bahwa proses pemisahan sangat baik yang artinya permeat
semakin murni.
Pada praktikum kali ini dilakukan proses pemurnian air kran dengan metode
Reverse Osmosis (RO) untuk memenuhi kebutuhan aquades di Laboratorium
Teknik Kimia Atas, Jurusan Teknik Kimia. Proses reverse osmosis terjadi karena
adanya perbedaan tekanan sehingga zat terlarut akan berpindah dari larutan
berkonsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah melalui membran semipermeabel.
Padatan berupa ion-ion dan pengotor akan tertahan pada membran, sehingga hasil
yang didapatkan dari proses RO ini berupa air murni dengan nilai TDS dan DHL
yang rendah.
Air yang digunakan sebagai bahan baku ini berupa air kran dengan nilai TDS
197 mg/L dan memiliki pH 6. Berdasarkan standar (Widayat, 2007), air kran ini
memenuhi syarat sebagai air baku untuk air umpan RO karena nilai TDS nya tidak
lebih dari 12.000 mg/L. Maka dari itu, tidak perlu dilakukan pre-treatment untuk
air baku ini. Air aquades yang dihasilkan (permeat) ditampung dalam bak khusus,
sementara zat pengotor (konsentrat) yang terpisahkan akan dibuang melalui kran
yang berbeda.
Dilakukan pengamatan setiap 10 menit sekali agar dapat diketahui nilai TDS,
DHL, pH, dan kekeruhan tiap satuan waktu pada tekanan operasi tertentu. Proses
ini dilakukan pada 2 laju alir yang berbeda, yaitu RUN 1 pada laju alir 812,8
mL/menit dan RUN 2 pada laju alir 779,6 mL/menit. Berdasarkan pengukuran,
didapatkan hasil sebagai berikut :
Grafik TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan
Konsentrat pada RUN 1
400
200
Permeat
100 Konsentrat
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)
Grafik tersebut menunjukkan bahwa padatan terlarut pada aliran konsentrat lebih
banyak dibandingkan pada aliran permeat. Hal ini berarti zat pengotor maupun ion-
ion telah terpisahkan melalui membran dan semakin lama waktu operasi semakin
sedikit zat terlarut pada aliran permeat.
Selanjutnya, pada RUN 2 didapatkan hasil :
200
150
Permeat
100
50 Konsentrat
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)
Grafik tersebut menunjukkan bahwa nilai TDS pada RUN 2 sebesar 0 di aliran
permeat, artinya tidak terdapat padatan terlarut pada aquades yang dihasilkan.
Dapat dikatakan bahwa air tersebut murni tanpa adanya zat pengotor karena telah
terpisahkan (di aliran konsentrat).
Parameter yang diukur selanjutnya yaitu DHL. Daya hantar listrik merupakan
suatu kemampuan air untuk menghantarkan listrik. Hal ini menyatakan adanya ion-
ion yang terlarut di dalam air. Hasil pengukuran DHL pada RUN 1 dan RUN 2
adalah sebagai berikut :
Grafik DHL terhadap Waktu untuk Permeat dan
Konsentrat pada RUN 1
700
600
DHL (µS/cm) 500
400
300 Permeat
200
Konsentrat
100
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)
500
400
300 Permeat
200
Konsentrat
100
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)
Kedua grafik di atas menyatakan nilai DHL yang rendah pada aliran permeat
walaupun masih lebih besar dibandingkan nilai TDS nya. Hal ini berarti terdapatnya
ion-ion terlarut dalam jumlah yang sedikit, sementara zat pengotornya telah
terpisahkan.
Dari data yang dihasilkan, dapat ditentukan efisiensi pemisahan (%
rejection). Diketahui bahwa %rejection pada 10 menit pertama sebesar 69,54%,
kemudian pada menit ke 20 meningkat menjadi 94,92% hingga lama kelamaan
menjadi 100%. Hal ini berarti semakin lama waktu proses RO, semakin efisien
pemisahan yang terjadi karena nilai TDS yang dihasilkan yaitu 0 mg/L. Artinya,
aquades yang dihasilkan bersifat murni tanpa adanya pengotor.
Berdasarkan pengamatan, aquades yang dihasilkan melalui proses reverse
osmosis ini dapat dikatakan sebagai aquades yang baik. Hal ini dapat dilihat dari
parameter yang ditentukan berdasarkan standar SNI 01- 3553-2006 dan SNI 01-
6241-2000 yang menyatakan bahwa nilai TDS maksimal 10 mg/L, DHL maksimal
1,3 mS/cm, dan pH 5,0-7,5. Namun, pada 10 menit pertama belum memenuhi, yaitu
nilai TDS nya sebesar 60 mg/L hal ini dapat dikarenakan air yang masuk ke dalam
mesin RO belum tersaring secara sempurna.
BAB V
KESIMPULAN
Said, Nusa Idaman. 2003. Aplikasi Teknologi Osmosis Balik untuk Memenuhi
Kebutuhan Air Minum di Kawasan Pesisir Atau Pulau Terpencil. Kelompok
Teknologi Pengelolaan Air Bersih dan Limbah Cair, Pusat Pengkajian dan
Penerapan Teknologi Lingkungan, BPPT.
Widayat, Wahyu. 2007. Aplikasi Teknologi Pengolahan Air Asin Desa Tarupa
Kecamatan Taka Bonerate Kabupaten Selayar. JAI Vol. 3, No.1 2007.
Yoshi, Linda A. dan I Nyoman Widiasa. 2016. Sistem Desalinasi Membran Reverse
Osmosis (RO) untuk Penyediaan Air Bersih. Prosiding Seminar Nasional
Teknik Kimia “Kejuangan”, Pengembangan Teknologi Kimia untuk
Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia.
LAMPIRAN
RUN 1
Tabel 1. Data Pengamatan TDS dan DHL pada Laju Alir 812,8 mL/menit
Konsentrasi di aliran Konsentrasi di aliran
Permeat Konsentrat Tekanan
Waktu TDS DHL TDS DHL Operasi
(menit) (mg/L) (µS/cm) (mg/L) (µS/cm) (Bar)
0
10 60 39,9 320 541 0,7
20 10 43,7 327 568 0,8
30 10 49,9 63 603 0,76
40 9 74,5 251 592 0,72
50 0 29,5 248 564 0,74
RUN 2
Tabel 3. Data Pengamatan TDS dan DHL pada Laju Alir 779,6 mL/menit
Konsentrasi di aliran Konsentrasi di aliran
Permeat Konsentrat Tekanan
Waktu TDS DHL TDS DHL Operasi
(menit) (mg/L) (µS/cm) (mg/L) (µS/cm) (Bar)
0
10 0 67 246 611 0,75
20 0 54,3 245 568 0,75
30 0 20,4 247 579 0,76
40 0 23,1 245 616 0,72
50 0 32,5 245 638 0,76
RUN 1
Grafik DHL terhadap Waktu untuk Permeat dan
Konsentrat pada RUN 1
700
600
DHL (µS/cm) 500
400
300 Permeat
200
Konsentrat
100
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)
RUN 2
500
400
300 Permeat
200
Konsentrat
100
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)
RUN 1
Grafik TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan
Konsentrat pada RUN 1
400
300
TDS (mg/L)
200
Permeat
100 Konsentrat
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)
RUN 2
200
150
Permeat
100
50 Konsentrat
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)
C. Menghitung Efisiensi
𝐶𝑚 − 𝐶𝑝
%𝑅 = × 100 %
𝐶𝑚
Contoh perhitungan : RUN 1 pada waktu 10 menit :
𝑚𝑔
197 ⁄𝐿 − 60 𝑚𝑔/𝐿
%𝑅 = 𝑚𝑔 × 100 %
197 ⁄𝐿
%𝑅 = 69,54 %
D. Efisiensi Pemisahan (% Reject)
RUN 1
Tabel 6. Efisiensi Pemisahan pada Laju Alir 812,8 mL/menit
Efisiensi
Waktu TDS Influen TDS Permeat
Pemisahan
(menit) (mg/L) (mg/L)
(%)
10 197 60 69,54
20 197 10 94,92
30 197 10 94,92
40 197 9 95,43
50 197 0 100
RUN 2
Tabel 7. Efisiensi Pemisahan pada Laju Alir 812,8 mL/menit
Efisiensi
Waktu TDS Influen TDS Permeat
Pemisahan
(menit) (mg/L) (mg/L)
(%)
10 197 0 100
20 197 0 100
30 197 0 100
40 197 0 100
50 197 0 100