0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
114 tayangan24 halaman

Aplikasi Reverse Osmosis untuk Aquades

Reverse osmosis merupakan proses pemisahan larutan melalui membran semipermeabel dengan tekanan yang melebihi tekanan osmosis. Praktikum ini menggunakan air kran sebagai baku yang diolah menjadi permeat dan konsentrat melalui alat reverse osmosis. Permeat merupakan air hasil pemurnian tanpa ion, sedangkan konsentrat mengandung pengotor yang tertahan membran.

Diunggah oleh

Lidya karin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
114 tayangan24 halaman

Aplikasi Reverse Osmosis untuk Aquades

Reverse osmosis merupakan proses pemisahan larutan melalui membran semipermeabel dengan tekanan yang melebihi tekanan osmosis. Praktikum ini menggunakan air kran sebagai baku yang diolah menjadi permeat dan konsentrat melalui alat reverse osmosis. Permeat merupakan air hasil pemurnian tanpa ion, sedangkan konsentrat mengandung pengotor yang tertahan membran.

Diunggah oleh

Lidya karin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2019/2020


JUDUL : Aplikasi Reverse Osmosis (RO) untuk Memenuhi
Kebutuhan Aquades di Laboratorium
PEMBIMBING : Dianty Rosirda, S.T, M.T

Tanggal Praktikum : 4 September 2019


Tanggal Penyerahan : 11: September 2019
Oleh
Oleh :
Kelompok : VII
Nama : 1. Siti Atika Mayapramesti (171431028)
2. Siti Fauziah (171431029)
3. Syahidah Ash-shoffi (171431030)
Kelas : 3 Analis Kimia

PROGRAM STUDI DIPLOMA III ANALIS KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Aquades merupakan air hasil penyulingan yang bebas dari zat pengotor
sehingga bersifat murni, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memiliki rasa. Pada
aplikasinya, aquades digunakan sebagai pelarut. Selain itu, aquades dibutuhkan
pula untuk membersihkan alat-alat laboratorium dari pengotor (Khotimah, 2017).
Parameter yang digunakan untuk mengetahui kualitas aquades yaitu di antaranya
TDS (Total Dissolved Solid), pH (Power of Hydrogen) dan DHL (Daya Hantar
Listrik) (Khotimah, 2017).
Kebutuhan aquades yang sangat banyak seringkali menjadi suatu kendala.
Proses pemurnian air menjadi aquades yang dilakukan dengan destilasi atau ion
exchange memerlukan proses yang cukup panjang dan seringkali tidak efektif.
Maka dari itu, digunakan metode lain dalam proses pemurnian air ini, yaitu metode
Reverse Osmosis.

1.2 TUJUAN PRAKTIKUM


1. Membuat kurva atau grafk hubungan antara kadar zat terlarut (solute) di
aliran permeat dan konsenrat terhadap waktu atau volume permeat.
2. Menentukan persen zat terlarut yang ditolak (% Reject).
3. Menentukan DHL, TDS, PH, dan kekeruhan pada air hasil pengolahan
Reverse Osmosis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 REVERSE OSMOSIS


Proses osmosis adalah proses berpindahnya massa pelarut melalui membran
semipermeabel dari larutan dengan konsentrasi rendah (TDS rendah) menuju
larutan dengan konsentrasi tinggi (TDS tinggi), sehingga terjadi kesetimbangan
konsentrasi. Adanya perpindahan massa melalui membran tersebut disebabkan
adanya driving force atau dinamakan tekanan osmosis yaitu berupa tekanan
hidrostatis (Said, 2003).
Apabila dalam suatu sistem tersebut diberikan tekanan yang lebih besar
dibandingkan tekanan osmosisnya, maka aliran perpindahan (difusi) akan berbalik
menjadi dari larutan dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah melalui
membran semipermeabel. Sementara, massa pelarut yang terdapat di dalam larutan,
misalnya garam dan kontaminan lainnya akan tertinggal sehingga menjadi lebih
pekat (Said, 2003). Perbedaan proses osmosis dan reverse osmosis dapat dilihat
pada Gambar 1.

Gambar 2.1. Perbandingan proses osmosis dan reverse osmosis

Pada proses pemisahan menggunakan RO, membran akan mengalami


perubahan karena memampat dan menyumbat (fouling). Makin besar tekanan dan
suhu biasanya membran makin mampat dan menjadi tidak reversible. Normalnya
membran bekerja pada suhu 21-35oC. Fouling membran dapat diakibatkan oleh zat-
zat dalam air baku seperti kerak, pengendapan koloid, oksida logam, bahan organik
dan silika. Oleh sebab itu, cairan yang masuk ke proses RO harus terbebas dari
partikel-partikel besar agar tidak merusak membran. Pada praktiknya, cairan
sebelum masuk ke proses RO dilakukan serangkaian pengolahan terlebih dahulu,
biasanya dilakukan pre-treatment dengan koagulasi dan flokulasi yang dilanjutkan
dengan adsorbsi karbon aktif dan mikrofiltrasi.

Menurut Widayat (2007), standar kualitas air baku untuk air umpan unit RO
adalah seperti ditampilkan pada Tabel 1.

Tabel 2.1. Standar Kualitas Air Baku Untuk Air Umpan Unit Reverse Osmosis
No. Parameter Satuan Air Baku (Max)
1. Warna Pt. Co Scale 100
2. Bau - Relatif
3. Kekeruhan NTU 20
4. Besi mg/liter 2,0
5. Mangan mg/liter 1,3
6. Klorida mg/liter 4000
7. Bahan Organik mg/liter 40
8. TDS mg/liter 12000

2.2 APLIKASI PENGGUNAAN REVERSE OSMOSIS


Beberapa aplikasi penggunaan reverse osmosis dalam industri yaitu
desalinasi air payau dan air laut, demineralisasi untuk air umpan boiler (Boiler Feed
Water), pemisahan protein dari whey, treatment khusus untuk industri kimia,
makanan, tekstil dan kertas, pervaporasi (pervarporation), misalnya permisahan
alkohol-air (Ghozali, 2008). Selain itu, proses reverse osmosis pun dilakukan untuk
pemurnian aquades untuk keperluan laboratorium. Kualitas aquades yang dapat
digunakan untuk keperluan laboratorium tersebut dapat diketahui berdasarkan
beberapa parameter, yaitu TDS (Total Dissolved Solid), pH (Power of Hydrogen)
dan DHL (Daya Hantar Listrik) (Khotimah, 2017).
Standar mutu aquades yang menjadi acuan yaitu standar mutu air demineral
menurut SNI 01- 3553-2006 dan SNI 01-6241-2000 ditunjukkan pada Tabel 2. Air
demineral merupakan air yang diperoleh melalui proses pemurnian seperti destilasi,
deionisasi dan proses yang setara.
Tabel 2.2 Standar Mutu Air Demineral
Parameter Standar Mutu Sumber
TDS Maksimal 10mg/L SNI 01- 3553-2006
pH 5,0-7,5 SNI 01- 3553-2006
DHL Maksimal 1,3 mS/cm SNI 01-6241-2000

2.3 PENENTUAN KOEFISIEN REJECTION


Menurut Ghozali (2008), untuk menentukan keberhasilan proses pemisahan
dengan cara tersebut, maka dapat dilakukan dengan cara menentukan koefisien
rejection (R) yang menyatakan hubungan antara konsentrasi atau kadar garam di
aliran influent dan di aliran effluent (permeat) yang ditulis sebagai berikut:
𝐶𝑚−𝐶𝑝 𝐶𝑚−𝐶𝑝
𝑅= atau %𝑅 = × 100 %
𝐶𝑚 𝐶𝑚

Dengan: Cm = konsentrasi zat terlarut di aliran influen


Cp = konsentrasi zat terlarut di aliran permeat.
Semakin besar nilai R, maka proses pemisahan semakin baik, artinya permeat
semakin murni. Efisiensi penyisihan membran RO yang tinggi menyebabkan
terjadinya penyisihan mineral-mineral alami pada air baku.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 ALAT DAN BAHAN


3.1.1 Alat 3.1.2 Bahan
Seperangkat alat reverse osmosis Air kran
Alat ukur TDS dan DHL
Alat ukur pH meter / indikator pH
universal
Gelas Kimia
Stopwatch

3.2 LANGKAH KERJA

Pelajari alat Reverse


Osmosis yang terdiri dari
5 tabung filter yang berisi Sambungkan alat RO ke Buka semua valve (kran)
media filter, periksa sumber listrik di aliran influen
influen, permeat, dan
konsentrat.

Bila aliran berjalan


normal, maka mulai
mengukur DHL, TDS, pH Ukur DHL, TDS, pH, dan Catat tekanan operasi
dan laju alir di aliran kekeruhan di aliran pada skala antara 1-3 Bar
permeat dan konsentrat umpan. (15-45 psi).
(lakukan tiap selang 10
menit)

Aliran permeat
Setelah didapat 5 data,
ditampung ke bak Setelah selesai, tutup
lakukan pengulangan
penampung, sedangkan semua kran, lalu cabut
proses RO dengan
aliran konsentrat di kembali alat RO dari
mengurangi laju alir
buang ke saluran sumber listrik
influent
pembuangan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Siti Atika Mayapramesti (171431028)

Reverse osmosis (RO) merupakan proses perpindahan massa larutan dari


larutan yang memiliki konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang rendah melalui
membran semipermiabel dengan menggunakan driving force berupa perbedaan
tekanan yang melebihi tekanan osmosisnya. Tahapan reverse osmosis yang pertama
yaitu tahap penyaringan padatan tersuspensi. Tahap penyaringan awal ini bertjuan
agar membran pada alat reverse osmosis tidak bekerja begitu berat. Setelah proses
penyaringan padatan tersuspensi, air dialirkan menuju membran. Pada membran ini
terjadi proses pemisahan antara padatan terlarut yang akan tertahan pada membran
dan kemudian dialirkan menuju keluar yang disebut dengan konsentrat.
Pada praktikum percobaan reverse osmosis ini air baku yang di gunakan
berasal dari air kran, prinsip keja dari mesin reverse osmosis yaitu air baku dihisap
dengan pompa dan dialirkan ke membran semipermiabel, air yang masih
mengandung pengotor akan tertahan dan dibuang pada aliran keluaran, air ini
disebut dengan konsentrat. Sedangkan air hasil reverse osmosis disebut dengan
permeat merupakan air yang tidak mengandung ion kation yang merupakan air
dengan kadar zat terlarut total (TDS) dan daya hantar listrik (DHL) relatif rendah
yang nantinya dapat di gunakan untuk mengetahui kemurnian dari air yang
dihasilkan dengan menghitung persen zat terlarut yang ditolak atau % Rejection.
Laju alir influen pada run 1 yaitu 812,8 ml/menit dan laju alir influen pada
run 2 sebesar 779,6 mL/menit. Pada setiap RUN dilakukan selama 50 menit dengan
dilakukan pengambilan data selama 10 menit sekali. dilakukan pengukuran DHL
dan TDS pada aliran konsentrat dan permeat dengan tekanan yang terukur pada
setiap laju alir ±0,7 𝑘𝑔/𝑐𝑚2. Pada proses Reverse Osmosis, apabila diberi tekanan
yang semakin besar, maka proses pemisahan akan semakin baik sehingga
dihasilkan air (H2O) semakin murni (kadar garam atau zat terlarut semakin kecil).
Kemudian data yang diperoleh dibuat grafik hubungan antara konsentrasi zat
terlarut di aliran permeat dan konsentrat terhadap waktu.
Berikut terlampir grafik hubungan konsentrasi, TDS permeat dan konsentrat
terhadap waktu pada RUN 1 dan RUN 2:

Grafik TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan


Konsentrat pada RUN 1
400
Konsentrasi,TDS(mg/l)

350
300
250
200
Permeat
150
100 Konsentrat
50
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu, t(menit)

Grafik TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan


Konsentrat pada RUN 2
300
Konsentrasi,TDS(mg/l

250

200

150
Permeat
100
Konsentrat
50

0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu, t(menit)

Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa nilai TDS pada grafik RUN 1
menunjukkan nilai yang fluktuatif, ditunjukan pada konsentrasi zat terlarut
konsentrat lebih besar daripada permeat karena semakin lama waktu laju alir yang
digunakan semakin sedikit zat terlarut atau semakin murni permeat yang dihasilkan.
Sedangkan pada grafik RUN 2 cenderung meningkat dan stabil hal ini dapat
diartikan bahwa air yang telah melewati membran atau permeat sudah murni
dengan kata lain zat terlarutnya nol.
Berikut terlampir grafik hubungan konsentrasi, DHL permeat dan konsentrat
terhadap waktu pada RUN 1 dan RUN 2:

Grafik DHL terhadap Waktu untuk Permeat dan


Konsentrat pada RUN 1
700
600
DHL (µS/cm)

500
400
300 Permeat
200
Konsentrat
100
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)

Grafik DHL terhadap Waktu untuk Permeat dan


Konsentrat pada RUN 2
700
600
DHL (µS/cm)

500
400
300 Permeat
200
Konsentrat
100
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)

Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa nilai DHL pada grafik RUN 1
konsentrat mengalami kenaikan pada menit ke 20 sedangkan pada permeat terjadi
kenaikan pada menit ke 40. Sedangkan pada grafik RUN 2 konsentrat terjadi
penurunan pada menit ke 20 sedangkan pada konsentrat penurunan terjadi paada
menit 30. Nilai DHL pada aliran permeat lebih kecil dibandingkan nilai yang ada
pada aliran konsentrat seperti yang ditunjukkan pada grafik hubungan antara DHL
terhadap waktu pada permeat dan konsentrat. Hal ini membuktikan bahwa ion-ion
dan partikel terlarut telah tertahan oleh membran akan keluar bersama aliran
konsentrat.
Untuk menentukan efisiensi pemisahan maka dapat ditentukan dengan
menghitung persen zat terlarut yang ditolak atau % Rejection yang menyatakan
hubungan antara konsentrasi influen dan permeat, semakin besar nilai R maka
proses pemisahan semakin baik artinya permeat yang dihasilkan semakin murni,
hal ini diperoleh pada RUN 1 dengan nilai influen 197 mg/l dan nilai permeatnya
sebesar 0 mg/l pada saat menit ke 50 dan pada saat RUN 2 dengan nilai influen dan
permeat yang sama (197 mg/l dan 0 mg/l) yang dilakukan dari menit 10 sampai
menit ke 50 sebesar 100% maka dapat diartikan permeat yang dihasilkan murni dan
tidak terdapat zat terlarut yang lolos pada membran.
Standar mutu aquades yang menjadi acuan yaitu standar mutu air demineral
menurut SNI 01- 3553-2006 dan SNI 01-6241-2000. Air demineral merupakan air
yang diperoleh melalui proses pemurnian seperti destilasi dan deionisasi. Dimana
batas maksimal dari parameter DHL yaitu sebesar 10 mg/l dan TDS sebesar 1,3
ms/cm. Artinya aquades yang dihasilkan dapat dikatakan sebagai aquades yang baik
karena memenuhi standar, tetapi pada RUN 1 menit ke 10 TDS yang di hasilkan
sebesar 60 mg/l hal ini di sebabkan karena air yang masuk ke dalam mesin reverse
osmosis belum terjadi pretreatment yang baik atau proses penyaringannya belum
sempurna karena masih terdapat banyak zat terlarut sehingga melebihi batas
maksimalnya yaitu 10 mg/l.

2. Siti Fauziah (171431029)


Pada praktikum kali ini, dilakukan percobaan Reverse Osmosis menggunakan
air baku dari kran di Laboratorium Pilot Plant Gedung TKA, Politeknik Negeri
Bandung. Reverse Osmosis ialah salah satu metode pengolahan air dengan
memisahkan air dari komponen-komponen yang tidak diinginkan seperti ion-ion
dan zat terlarut dengan menggunakan membran semi-permeabel sehingga
didapatkan air dengan tingkat kemurnian tinggi dengan menggunakan driving force
perbedaan tekanan antara influen dan efluen. Air yang telah dimurnikan(lolos
membran) ditampung untuk dapat digunakan, sementara air yang tidak dapat
melewati membran akan dibuang pada saluran pembuangan. Maka, terdapat dua
selang yang terhubung ke dalam alat RO, yakni selang efluen konsentrat(air tak
murni) dan permeat(air murni).
Kemurnian dalam air dapat diketahui dari nilai DHL dan TDS yang terukur
dan nantinya akan dapat menghitung % Reject. Maka dari itu selama proses
berlangsung kami mengamati dan mengukur DHL dan TDS baik dari aliran
konsentrat maupun permeat pada tekanan operasi tertentu setiap 10 menit sekali.
Nilai DHL dapat dinyatakan kedalam seberapa banyak garam-garam terlarut yang
dapat terionisasi, semakin besar nilai DHL maka semakin banyak kandungan
garam-garam terlarutnya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan kemurnian air yang
tinggi, maka harus diperoleh nilai DHL yang rendah yang dapat menyatakan bahwa
di dalam air tersebut sudah tidak ada lagi atau sedikit mengandung garam-garam
terlarut. Parameter lain yang diamati adalah pH dan kekeruhan ( Turbidy ).
Laju alir pertama sebesar 812,8 ml/menit dengan nilai TDS sebesar 197 mg/L.
Tekanan yang terbaca pada alat sebesar 0,7 mPa. Waktu divariasikan tiap setengah
10 menit sekali, dimulai dari 0 hingga 50 menit. Waktu yang singkat ini didasarkan
oleh keluaran konsentrat dalam jumlah yang cukup banyak sehingga kemungkinan
membutuhkan wadah penampung yang besar pula. Setiap setengah 10 menit sekali
dilakukan pengukuran volume air yang keluar dari selang konsentrat maupun
permeat. Dilakukan pula pengukuran TDS dan DHL untuk membandingkan nilai
konsentrat serta permeatnya.
Berikut merupakan grafik TDS permeat dan konsentrat terhadap waktu proses
RO pada RUN 1 :

Grafik TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan


Konsentrat pada RUN 1
400

300
TDS (mg/L)

200
Permeat
100 Konsentrat
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)

Grafik ini menunjukkan bahwa nilai TDS permeat pada run 1 tidak stabil, dapat
diindikasikan bahwa air yang telah melewati membran belum murni sehingga
masih terdapat padatan yang terlarut di dalamnya. Sedangkan, nilai TDS konsentrat
lebih besar dibandingkan dengan TDS permeat karena mengandung partikel-
partikel pengotor yang tak lolos membran.
Berikut merupakan grafik TDS permeat dan konsentrat terhadap waktu proses
RO pada RUN 2 :

Grafik TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan


Konsentrat pada RUN 2
300
250
TDS (mg/L)

200
150
Permeat
100
50 Konsentrat
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)

Grafik ini menunjukkan bahwa nilai TDS permeat pada run 2 sudah stabil pada nilai
0, dapat diindikasikan bahwa air yang telah melewati membran sangat murni
sehingga sama sekali tak ada padatan yang terlarut di dalamnya (TDS=0).
Sedangkan, nilai TDS konsentrat masih lebih besar dibandingkan dengan TDS
permeat karena masih banyak mengandung partikel-partikel pengotor yang tak
lolos membran.
Berikut merupakan grafik DHL permeat dan konsentrat terhadap waktu
proses RO pada RUN 1 & RUN 2:
Grafik DHL terhadap Waktu untuk Permeat dan
Konsentrat pada RUN 1
700
600
500
DHL (µS/cm)

400
300 Permeat
200 Konsentrat
100
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)

Grafik DHL terhadap Waktu untuk Permeat dan


Konsentrat pada RUN 2
700
600
DHL (µS/cm)

500
400
300 Permeat
200
Konsentrat
100
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu, t(menit)

Pada grafik tersebut menunjukan bahwa hasil nilai DHL permeat dan pada run 1
dan run 2 sangat baik untuk di jadikan parameter keberhasilan proses reverse
osmosis ini, namun diharapkan bisa lebih rendah lagi. Hal ini disebabkan karena
tekanan operasi yang digunakan cukup rendah yaitu 0,7 mPa (0,5 bar), 0,72 dan
0,79 mPa. Dimana literatur menyebutkan bahwa proses reverse osmosis yang
umum dilakukan dengan keberhasilan proses yang tinggi yaitu menggunakan
tekanan 2-80 bar dan dapat disimpulkan dari data diatas bahwa semakin besar
tekanan yang digunakan maka proses pemisahan semakin baik sehingga nilai DHL
nya pun semakin mendekati 0 artinya semakin murni dan baik air yang dihasilkan.
Efisiesi pemisahan ditentukam dengan menghitung %Reject. Hasil %
Rejection pada run 1 yang paling baik hanya terjadi pada menit ke 50. Dengan nilai
TDS awal (umpan) yaitu 197 mg/L kemudian TDS akhir (permeat) yaitu 0 mg/L,
maka diperoleh nilai %reject pada praktikum ini yaitu sebesar 100% . Sementara
itu untuk % Rejection pada run 2 disemua titik didapat sebesar 100%. Nilai %reject
yang besar menunjukkan bahwa proses pemisahan sangat baik yang artinya permeat
semakin murni.

3. Syahidah Ash-Shoffi (171431030)

Pada praktikum kali ini dilakukan proses pemurnian air kran dengan metode
Reverse Osmosis (RO) untuk memenuhi kebutuhan aquades di Laboratorium
Teknik Kimia Atas, Jurusan Teknik Kimia. Proses reverse osmosis terjadi karena
adanya perbedaan tekanan sehingga zat terlarut akan berpindah dari larutan
berkonsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah melalui membran semipermeabel.
Padatan berupa ion-ion dan pengotor akan tertahan pada membran, sehingga hasil
yang didapatkan dari proses RO ini berupa air murni dengan nilai TDS dan DHL
yang rendah.
Air yang digunakan sebagai bahan baku ini berupa air kran dengan nilai TDS
197 mg/L dan memiliki pH 6. Berdasarkan standar (Widayat, 2007), air kran ini
memenuhi syarat sebagai air baku untuk air umpan RO karena nilai TDS nya tidak
lebih dari 12.000 mg/L. Maka dari itu, tidak perlu dilakukan pre-treatment untuk
air baku ini. Air aquades yang dihasilkan (permeat) ditampung dalam bak khusus,
sementara zat pengotor (konsentrat) yang terpisahkan akan dibuang melalui kran
yang berbeda.
Dilakukan pengamatan setiap 10 menit sekali agar dapat diketahui nilai TDS,
DHL, pH, dan kekeruhan tiap satuan waktu pada tekanan operasi tertentu. Proses
ini dilakukan pada 2 laju alir yang berbeda, yaitu RUN 1 pada laju alir 812,8
mL/menit dan RUN 2 pada laju alir 779,6 mL/menit. Berdasarkan pengukuran,
didapatkan hasil sebagai berikut :
Grafik TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan
Konsentrat pada RUN 1
400

TDS (mg/L) 300

200
Permeat
100 Konsentrat
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)

Grafik tersebut menunjukkan bahwa padatan terlarut pada aliran konsentrat lebih
banyak dibandingkan pada aliran permeat. Hal ini berarti zat pengotor maupun ion-
ion telah terpisahkan melalui membran dan semakin lama waktu operasi semakin
sedikit zat terlarut pada aliran permeat.
Selanjutnya, pada RUN 2 didapatkan hasil :

Grafik TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan


Konsentrat pada RUN 2
300
250
TDS (mg/L)

200
150
Permeat
100
50 Konsentrat
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)

Grafik tersebut menunjukkan bahwa nilai TDS pada RUN 2 sebesar 0 di aliran
permeat, artinya tidak terdapat padatan terlarut pada aquades yang dihasilkan.
Dapat dikatakan bahwa air tersebut murni tanpa adanya zat pengotor karena telah
terpisahkan (di aliran konsentrat).
Parameter yang diukur selanjutnya yaitu DHL. Daya hantar listrik merupakan
suatu kemampuan air untuk menghantarkan listrik. Hal ini menyatakan adanya ion-
ion yang terlarut di dalam air. Hasil pengukuran DHL pada RUN 1 dan RUN 2
adalah sebagai berikut :
Grafik DHL terhadap Waktu untuk Permeat dan
Konsentrat pada RUN 1
700
600
DHL (µS/cm) 500
400
300 Permeat
200
Konsentrat
100
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)

Grafik DHL terhadap Waktu untuk Permeat dan


Konsentrat pada RUN 2
700
600
DHL (µS/cm)

500
400
300 Permeat
200
Konsentrat
100
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)

Kedua grafik di atas menyatakan nilai DHL yang rendah pada aliran permeat
walaupun masih lebih besar dibandingkan nilai TDS nya. Hal ini berarti terdapatnya
ion-ion terlarut dalam jumlah yang sedikit, sementara zat pengotornya telah
terpisahkan.
Dari data yang dihasilkan, dapat ditentukan efisiensi pemisahan (%
rejection). Diketahui bahwa %rejection pada 10 menit pertama sebesar 69,54%,
kemudian pada menit ke 20 meningkat menjadi 94,92% hingga lama kelamaan
menjadi 100%. Hal ini berarti semakin lama waktu proses RO, semakin efisien
pemisahan yang terjadi karena nilai TDS yang dihasilkan yaitu 0 mg/L. Artinya,
aquades yang dihasilkan bersifat murni tanpa adanya pengotor.
Berdasarkan pengamatan, aquades yang dihasilkan melalui proses reverse
osmosis ini dapat dikatakan sebagai aquades yang baik. Hal ini dapat dilihat dari
parameter yang ditentukan berdasarkan standar SNI 01- 3553-2006 dan SNI 01-
6241-2000 yang menyatakan bahwa nilai TDS maksimal 10 mg/L, DHL maksimal
1,3 mS/cm, dan pH 5,0-7,5. Namun, pada 10 menit pertama belum memenuhi, yaitu
nilai TDS nya sebesar 60 mg/L hal ini dapat dikarenakan air yang masuk ke dalam
mesin RO belum tersaring secara sempurna.
BAB V
KESIMPULAN

1. Efisiensi proses (%rejection) mula-mula 69.54% dan meningkat hingga


menjadi 100% seiring dengan lamanya waktu proses.
2. Nilai TDS pada aliran permeat (aquades yang dihasilkan) mula-mula sebesar
60 mg/L dan menurun hingga menjadi 0 mg/L seiring berjalannya waktu
proses.
3. Nilai DHL pada aliran permeat di setiap waktu proses menunjukkan nilai
yang lebih kecil dari standar mutu aquades yaitu kurang dari 1,3 mS/cm.
Selain itu, nilai pH sebesar 6 dan kekeruhan sebesar 0 NTU. Keduanya
memasuki standar mutu air demineral (aquades) berdasarkan SNI 01- 3553-
2006 dan SNI 01-6241-2000.
DAFTAR PUSTAKA

Ghozali, Mukhtar. 2008. Reverse Osmosis. Program D-IV Teknik Perancangan


Sanitasi Permukiman, Kerjasama Pusat Pendidikan Keahlian Teknik BPSDM
Departemen KIMPRASWIL-POLBAN.

Khotimah, Husnul dkk. 2017. Karakterisasi Hasil Pengolahan Air Menggunakan


Alat Destilasi. Jurnal Chemurgy, Vol. 01, No. 2, Desember 2017.

Said, Nusa Idaman. 2003. Aplikasi Teknologi Osmosis Balik untuk Memenuhi
Kebutuhan Air Minum di Kawasan Pesisir Atau Pulau Terpencil. Kelompok
Teknologi Pengelolaan Air Bersih dan Limbah Cair, Pusat Pengkajian dan
Penerapan Teknologi Lingkungan, BPPT.

Standard Nasional Indonesia. 01-3553-2006. Air Minum Dalam Kemasan. Badan


Standardisasi Nasional, Jakarta.

Standard Nasional Indonesia. 01-6241-2000. Air Demineral. Badan Standardisasi


Nasional, Jakarta.

Widayat, Wahyu. 2007. Aplikasi Teknologi Pengolahan Air Asin Desa Tarupa
Kecamatan Taka Bonerate Kabupaten Selayar. JAI Vol. 3, No.1 2007.

Yoshi, Linda A. dan I Nyoman Widiasa. 2016. Sistem Desalinasi Membran Reverse
Osmosis (RO) untuk Penyediaan Air Bersih. Prosiding Seminar Nasional
Teknik Kimia “Kejuangan”, Pengembangan Teknologi Kimia untuk
Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia.
LAMPIRAN

A. Data Pengamatan dan Hasil


Aliran umpan/influent :
- TDS = 197 mg/L
- pH = 6
- Rata-rata laju alir RUN 1 = 812,8 mL/menit
- Rata-rata laju alir RUN 2 = 779,6 mL/menit

RUN 1
Tabel 1. Data Pengamatan TDS dan DHL pada Laju Alir 812,8 mL/menit
Konsentrasi di aliran Konsentrasi di aliran
Permeat Konsentrat Tekanan
Waktu TDS DHL TDS DHL Operasi
(menit) (mg/L) (µS/cm) (mg/L) (µS/cm) (Bar)
0
10 60 39,9 320 541 0,7
20 10 43,7 327 568 0,8
30 10 49,9 63 603 0,76
40 9 74,5 251 592 0,72
50 0 29,5 248 564 0,74

Tabel 2. Data Pengamatan pH dan Kekeruhan pada Laju Alir 812,8


mL/menit
Konsentrasi di aliran Konsentrasi di aliran
Permeat Konsentrat
Waktu Kekeruhan Kekeruhan
(menit) pH (NTU) pH (NTU)
0
10 5 0 6 0
20 5 0 6 0
30 5 0 6 0
40 5 0 6 0
50 5 0 6 0

RUN 2
Tabel 3. Data Pengamatan TDS dan DHL pada Laju Alir 779,6 mL/menit
Konsentrasi di aliran Konsentrasi di aliran
Permeat Konsentrat Tekanan
Waktu TDS DHL TDS DHL Operasi
(menit) (mg/L) (µS/cm) (mg/L) (µS/cm) (Bar)
0
10 0 67 246 611 0,75
20 0 54,3 245 568 0,75
30 0 20,4 247 579 0,76
40 0 23,1 245 616 0,72
50 0 32,5 245 638 0,76

Tabel 4. Data Pengamatan pH dan Kekeruhan pada Laju Alir 779,6


mL/menit
Konsentrasi di aliran Konsentrasi di aliran
Permeat Konsentrat
Waktu Kekeruhan Kekeruhan
(menit) pH (NTU) pH (NTU)
0
10 5 0 6 0
20 5 0 6 0
30 5 0 6 0
40 5 0 6 0
50 5 0 6 0

Tabel 5. Perbandingan aquades yang dihasilkan dengan standar SNI 01-


3553-2006 dan SNI 01-6241-2000
Parameter Standar Mutu Memenuhi/
Menit TDS DHL pH TDS DHL pH Tidak
(mg/L) (mS/cm) (mg/L) (mS/cm)
10 60 0,0399 5 ≤10 ≤1,3 5,0-7,5 Tidak
20 10 0,0437 5 ≤10 ≤1,3 5,0-7,5 Ya
30 10 0,0499 5 ≤10 ≤1,3 5,0-7,5 Ya
40 9 0,0745 5 ≤10 ≤1,3 5,0-7,5 Ya
50 0 0,0295 5 ≤10 ≤1,3 5,0-7,5 Ya

10 0 0,0670 5 ≤10 ≤1,3 5,0-7,5 Ya


20 0 0,0543 5 ≤10 ≤1,3 5,0-7,5 Ya
30 0 0,0204 5 ≤10 ≤1,3 5,0-7,5 Ya
40 0 0,0231 5 ≤10 ≤1,3 5,0-7,5 Ya
50 0 0,0325 5 ≤10 ≤1,3 5,0-7,5 Ya

B. Grafik Hasil Data Pengamatan


1. Hubungan Konsentrasi, DHL pada Permeat dan Konsentrat selama waktu
Proses

RUN 1
Grafik DHL terhadap Waktu untuk Permeat dan
Konsentrat pada RUN 1
700
600
DHL (µS/cm) 500
400
300 Permeat
200
Konsentrat
100
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)

Gambar 1. Grafik Hubungan Konsentrasi, DHL terhadap Waktu untuk


Permeat dan Konsentrat pada laju alir pada RUN 1

RUN 2

Grafik DHL terhadap Waktu untuk Permeat dan


Konsentrat pada RUN 2
700
600
DHL (µS/cm)

500
400
300 Permeat
200
Konsentrat
100
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)

Gambar 2. Grafik Hubungan Konsentrasi, DHL terhadap Waktu untuk


Permeat dan Konsentrat pada laju alir pada RUN 2

2. Hubungan Konsentrasi, TDS pada Permeat dan Konsentrat selama waktu


Proses

RUN 1
Grafik TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan
Konsentrat pada RUN 1
400

300
TDS (mg/L)
200
Permeat
100 Konsentrat
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)

Gambar 3. Grafik Hubungan Konsentrasi, TDS terhadap Waktu untuk


Permeat dan Konsentrat pada laju alir pada RUN 1

RUN 2

Grafik TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan


Konsentrat pada RUN 2
300
250
TDS (mg/L)

200
150
Permeat
100
50 Konsentrat
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu (menit)

Gambar 4. Grafik Hubungan Konsentrasi, TDS terhadap Waktu untuk


Permeat dan Konsentrat pada laju alir pada RUN 2

C. Menghitung Efisiensi

𝐶𝑚 − 𝐶𝑝
%𝑅 = × 100 %
𝐶𝑚
Contoh perhitungan : RUN 1 pada waktu 10 menit :

𝑚𝑔
197 ⁄𝐿 − 60 𝑚𝑔/𝐿
%𝑅 = 𝑚𝑔 × 100 %
197 ⁄𝐿
%𝑅 = 69,54 %
D. Efisiensi Pemisahan (% Reject)

RUN 1
Tabel 6. Efisiensi Pemisahan pada Laju Alir 812,8 mL/menit
Efisiensi
Waktu TDS Influen TDS Permeat
Pemisahan
(menit) (mg/L) (mg/L)
(%)
10 197 60 69,54
20 197 10 94,92
30 197 10 94,92
40 197 9 95,43
50 197 0 100

RUN 2
Tabel 7. Efisiensi Pemisahan pada Laju Alir 812,8 mL/menit
Efisiensi
Waktu TDS Influen TDS Permeat
Pemisahan
(menit) (mg/L) (mg/L)
(%)
10 197 0 100
20 197 0 100
30 197 0 100
40 197 0 100
50 197 0 100

Anda mungkin juga menyukai