Anda di halaman 1dari 5

KELOMPOK III

TON C

NAMA ANGGOTA KELOMPOK :


1. dr. Nurul Hikmawati
2. dr. Putu Cindra Prameswari
3. dr. Pritami
4. dr. Reza Bayu Alvianto
5. dr. Ricky Kurniawan
6. dr. Risdiarti
7. dr. Rosi Oktarina
8. dr. Satria Nita Pintak
9. dr. Syaruni
10. dr. Tetty Aprillam

PENUGASAN WASBANG DAN NILAI NILAI DASAR BELA NEGARA

1. Apa yang anda ketahui tentang wawasan kebangsaan ? (cari beberapa pendapat ahli dan
simpulkan)

Wawasan kebangsaan terdiri dari 2 kata yaitu wawasan dan kebangsaan, Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (2002) dinyatakan bahwa secara etimologis istilah “wawasan”
berarti: (1) hasil mewawas, tinjauan, pandangan dan dapat juga berarti (2) konsepsi cara
pandang. Wawasan Kebangsaan sangat identik dengan Wawasan Nusantara yaitu cara
pandang bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan nasional yang mencakup perwujudan
Kepulauan Nusantara sebagai kesatuan politik, sosial budaya, ekonomi dan pertahanan
keamanan (Suhady dan Sinaga, 2006).

“Kebangsaan” berasal dari kata “bangsa” yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(2002) berarti kelompok masyarakat yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan
sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri. Sedangkan “kebangsaan” mengandung arti (1)
ciri-ciri yang menandai golongan bangsa, (2) perihal bangsa; mengenai (yang bertalian
dengan) bangsa, (3) kesadaran diri sebagai warga dari suatu negara.
Dengan demikian wawasan kebangsaan dapat diartikan sebagai konsepsi cara pandang
yang dilandasi akan kesadaran diri sebagai warga dari suatu negara akan diri dan
lingkungannya di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Atau dengan kata lain
wawasan kebangsaan yaitu prespektif dan pengetahuan yang mengandung kemampuan
seseorang atau sekelompok orang untuk memahami keberadaan Jati Diri sebagai suatu
bangsa dalam memandang diri dan bertingkah laku sesuai Falsafah Hidup Bangsa dalam
lingkungan kedalam maupun keluar.

2. Bagaimana menanamkan wawasan kebangsaan kepada generasi muda ?

a. Pembekalan mental spiritual di kalangan masyarakat agar dapat menangkal


pengaruh-pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan norma-norma
kehidupan bangsa Indonesia.
b. Upaya peningkatan perasaan cinta tanah air (patriotisme) melalui pemahaman dan
penghayatan wawasan kebangsaan.
c. Pengawasan yang ketat terhadap eksploitasi sumber daya alam nasional dan
terciptanya suatu pemerintahan yang bersih dan berwibawa (legitimate), bebas
KKN, dan konsisten melaksanakan peraturan atau undang-undang.
d. Kegiatan-kegiatan lain yang bersifat kecintaan terhadap tanah air yang
mempertahankan semangat juang untuk membela negara, bangsa, dan tanah air
serta mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara dan UUD 1945 sebagai
landasan berbangsa dan bernegara.
e. Pendidikan formal, yaitu dengan cara memberikan pendidikan dari mulai dasar
sampai dengan pendidikan tinggi, dalam hal ini pelajaran pendidikan
kewarganegaraan, sejarah dan sebagainya menjadi cara penting untuk
menumbuhkan jiwa nasionalisme dalam tataran pendidikan formal
f. Pendidikan non formal dengan cara masuk ke dalam berbagai organisasi yang
berkaitan dengan kebangsaan seperti seni kebudayaan, paskibra, dan pramuka
g. sosial media, melalui sosial media share pengetahuan atau jaringan komunikasi
dan informasi semakin mudah dan cepat dijangkau oleh berbagai kalangan
terutama generasi muda saat ini
h. Penanaman nilai Pancasila dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu melalui
pelajaran pendidikan kewarganegaraan dan Pancasila, berbagai macam
perlombaan, pelatihan sejak dini melalui ajaran-ajaran yang sesuai dengan butir-
butir Pancasila seperti budaya senyum, salam, sapa, sopan santun dan lain
sebagainya.

i. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama efektif apabila diajarkan sejak dini
di lingkungan keluarga seperti sholat berjamaah, mengaji, mengkaji kitab, dan
memberikan pemahaman tentang larangan dan kewajiban agama.

3. Apa faktor penghambat penerapan wawasan kebangsaan kepada generasi muda ?

Sejak era globalisasi, kebebasan dan keterbukaan dalam menyampaikan pendapat,


menjadi ciri kehidupan masyarakat sehari – hari. Di satu sisi, pencapaian ini tentu saja
merupakan kemajuan dan prestasi besar bangsa. Namun di sisi lain, tidak dapat
disangkal, bahwa keseharian kehidupan masyarakat telah diwarnai pola pikir, pola sikap
dan pola tindak individualistis dan kelompok. Masyarakat luas, dalam berbagai tataran,
telah mengadopsi nilai – nilai baru yang belum sepenuhnya dipahami serta diyakini
kebenaran dan kesesuaiannya dengan karakter bangsa. Sementara, nilai – nilai luhur
bangsa dianggap sebagai nilai lama yang usang dan sudah tidak relevan dengan semangat
reformasi yang sarat dengan semangat perubahan. Semangat perubahan telah diartikan
secara hitam putih dan bahkan cenderung pragmatis tanpa memperhatikan dampak yang
diakibatkannya.

Dinamika kehidupan nasional berjalan sangat dinamis tapi kontra produktif bagi
penguatan wawasan kebangsaan. Dampak demokratisasi tidak didasari dengan
pemahaman nilai-nilai Pancasila telah memunculkan sikap individualistis yang sangat
jauh berbeda dengan nilai-nilai Pancasila yang lebih mengutamakan semangat
kegotongroyongan, keseimbangan, kerjasama, saling menghormati, kesamaan, dan
kesederajatan dalam hubungan manusia dengan manusia.

4. Apa solusi pemecahan masalahnya ?

Berbagai dampak reformasi yang kita hadapi saat ini, perlu disikapi oleh segenap
komponen bangsa melalui pemahaman yang benar, utuh dan menyeluruh dalam konteks
semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Semangat tersebut merupakan kata kunci dari
aktualisasi dan implementasi nilai-nilai luhur Pancasila yang harus terus ditumbuh
kembangkan oleh generasi penerus. Seluruh komponen bangsa harus mampu menyikapi
berbagai permasalahan, perbedaan dan kemajemukan dengan berpedoman pada empat
konsensus nasional yang dibangun oleh para pendiri bangsa. Seluruh anak bangsa harus
proaktif untuk menciptakan, membina, mengembangkan dan memantapkan persatuan dan
kesatuan bangsa yang kerap menghadapi potensi perpecahan. Generasi penerus harus
mampu menghidupkan kembali sikap dan budaya gotong royong, saling toleransi dan
musyawarah untuk mufakat yang hakikinya merupakan ciri bangsa Indonesia sejak dulu.
Primordialisme, masalah SARA, masalah ketidakadilan, masalah korupsi dan
kesenjangan sosial ekonomi secara bertahap harus dapat dikurangi dan bahkan
dihilangkan. Hal ini perlu ditegaskan kembali mengingat hal tersebut dapat menjadi titik
retak rasa persatuan dan kesatuan bangsa bila tidak dapat ditemukan solusi pemecahan
masalahnya. Oleh karena itu, pemuda harus mampu mempelopori untuk memahami,
menghayati dan mengimplementasikan nilai – nilai kehidupan berbangsa dan bernegara
sebagai daya tangkal terhadap berbagai potensi yang mengancam keutuhan NKRI.
5. Bagaimana pendapat saudara terhadap perkembangan bangsa Indonesia ke depan ?
Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan dan
masalah yang harus dihadapi bersama. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa
merupakan kewajiban seluruh rakyat Indonesia karena negara ini tidak hanya terdiri atas
satu golongan suku, ras, dan agama, tetapi banyak sekali golongan yang ada di tanah air
kita tercinta.
Pemuda juga diharapkan tetap terus menempa dirinya menjadi pribadi-pribadi yang
memiliki kematangan intelektual, kreatif, percaya diri, inovatif, dan memiliki
kesetiakawanan sosial dan semangat pengabdian terhadap masyarakat, bangsa dan negara
yang tinggi.

Mengadakan kontak lintas budaya dan media ops antar budaya untuk memperkaya
budaya bangsa Indonesia, pengarahan pendidikan sejak dini terhadap perkembagan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Kepemimpinan Nasional harus solid, kuat dan mendapat
dukungan yang kuat dari rakyat. Ini harus didukung oleh patriotisme dan dedikasi yang
tinggi dari setiap komponen bangsa serta rasa persatuan dan kesatuan yang kokoh dari
seluruh warga bangsa.