Anda di halaman 1dari 18

A.

Definisi
Menurut Obgynacea (2009) dalam Amin dan Hardhi (2015) Pre Eklamsia
adalah kelainan multi organ spesifik pada kehamilan yang ditandai dengan hipertensi,
edema, dan pretonoria tetapi tidak menunjukan tanda-tanda kelainan vaskular dan
hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasa muncul setelah kehamilan 20
minggu.

Menurut Varne (2007) dalam Nita dan Mustika (2013), Pre Eklamsia adalah
sekumpulan gejala yang secara spesifik hanya muncul selama kehamilan dengan usia
lebih dari 20 minggu (kecuali dalam penyakit trovoblastik) dan dapat didiagnosis
dengan kriteria sebagai berikut:
1. Ada peningkatan tekanan darah selama kehamilan (sistolik lebih dari 140
mmHg atau distolik lebih dari 90 mmHg) yang sebelumnya normal disertai
proteinuria (> 0,3 gram protein selama 24 jam atau >30 mg/dl dengan hasil
reagen urine >+1)
2. Apabila hipertensi selama kehamilan muncul tanpa proteinuria, perlu dicurigai
adanya pre eklamsia seiring kemajuan kehamilan, jika muncul nyeri kepala,
gangguan penglihatan, nyeri pada abdomen, nilai trambosit rendah, kadar
enzim ginjal abnormal.

Menurut Wiknjosastro (2002) dalam Mitayani (2013) Pre Eklamsia adala penyakit
tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul dalam kehamilan.
Penyakit ini umumny terjadi dalam triwulan ke 3 kehamilan, tetapi terjadi
sebelumnya, misalnya pada molahidatidosa.

B. Etiologi
Menurut Bobak (2005), Manuaba (2007) dalam Nita dan Mustika (20130, ada
bebrapa faktor resiko tertentu yang berkaitan dengan perkembangan penyakit:
1. Primigravida, kira-kira 85% pre eklamsia terjadi kehamilan pertama
2. Grand multigravida
3. Janin besar
4. Distensi rahim berlebihan : Hidramnion, hamil ganda, molahidatidosa, preklamsia
terjadi pada 14% sampai 20% kehamilan dengan janin lebih dari 1
5. Morbid obisetas atau kegemukan dan penyakit menyertai hamil seperti diabetes
melitus
6. Pada ibu yang mengalami hipertensi kronis atau penyakit ginjal, insiden dapat
mencapai 25%
7. Jumlah umur ibu 35 tahun

Pre eklamsia ialah suatau penyakit yang tidak terpisahkan dari preklemsia ringan
sampai berta, sindrom HELLP, atau eklampsia. Pre eklamsia berkisar antara 3%
sampai 5% dari kehamilan yang dirawat.
C. Klasifikasi pre eklamsia
Menurut varney (2007), Manuaba (2017), Bobak (2005) dalam Nita dan Mustika
(2013) pre eklamsia digolongkan kedalam pre eklamsia ringan dan pre eklamsia berat
dengan gejala dan tanda sebagai berikut:
1. Pre eklamsia ringan
a) Tekanan darah
Kenaikan darah sistol >30 mmHg atau diastol >15 mmHg (dari tekanan
sebelum hamil). Pada kehamilan 20 minggu atau lebih dari atau sistol
>140 (<160 mmHg) diastol >90 mmHg (<110 mmHg) dengan interval
pemeriksaan 6 jam.
b) Kenaikan berat badan 1 kg atau lebih dalam seminggu.
c) Protein uria 0,3 gram atau lebih dengan tingkat kualitatif plus 1 sampai 2
pada urine kateter atau urine aliran pertengahan.
d) Edema dependen, bengkang dimata, wajah, jari, bunyi pulmoner, tidak
terengar.
e) Hiperfleksi +3, tidak ada klonus dipergelangan kaki.
f) Pengeluaran urine sama dengan masukan > 30 ml/perjam.
g) Nyeri kepala sementara, tidak ada gangguan penglihatan, tidak ada nyeri
ulu hati.
2. Pre eklamsia berat
a) Tekanan darah 160/110 mmHg.
b) Oligouira, urine kurang dari 400 cc/24 jam.
c) Protenurine lebih dari 3 gr/liter
d) Keluhan subjektif seperti nyeri epigastrium, gangguan penglihatan, nyeri
kepala, edema paru dan sianosis, gangguan kesadaran.
e) Pemeriksaan kadar enzim hati menigkat disertai icterus, pendarahan
retina, trombosit kurang dari 100.000/mm.

D. Manifestasi Klinis
Pada pre eklamsia ringan gejalanya meliputi:
a) Edema pada pretibial, dinding abdomen, lumboskral, wajah atau tangan.
b) Kenaikan berat badan ibu 1 kg atau lebih perminggu selama 2 kali berturut-turut.
c) Timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda-tanda preklamsia berat.
d) Proteinuria : secara kuantatif lebih dari 0,3 gr/liter dalam 24 jam atau secara
kualitatif positif 2 (+2)
e) Kenaikan tekanan sistol 30 mmHg atau lebih diastol 15 mmHg atau lebih dari
tekanan darah sebelum hamil pada kehamilan 20 minggu.
Atau lebih sistol 140 mmHg kurang 160 mmHg diastole 90 mmHg sampai
kurang 110 mmHg (Ratna dewi pudiasturi,2012)
Pada pre eklamasi berat gejalanya sudah seperti :
a) nyeri kepala hebat pada bagian depan dan belakang kepala yang diikuti dengan
peningkatan tekanan darah yang abnormal. Sakit kepala tersebut terus menerus
dan tidak berkurang dengan pemberian aspirin atau obat sakit kepala lain.
b) Gangguan penglihatan pasien akan melihat kilatan-kilatan cahaya, pandangan
kabur, terkadang bisa terjadi kebutaan sementara
c) Iritabel ibu merasa gelisah dan tidak bertoleransi dengan suara berisik atau
gangguan lainnya
d) Terjadi gangguan kesadaran

E. Patofisiologi
Menurut levono (2009) dalam nita dan mustika (2013), semua teori mengenai
patofisiologi pre eklamsia harus mempertimbangkan pengamatan bahwa gangguan
hipertensi akibat kehamila jauh lebih besar kemungkinan terjadi pada wanita :
1) Terpajan ke virus korion untuk pertama kali
2) Terpajan kevilus korion dalam jumlah besar, seperti pada kehamilan kembar atau
mola hidatidiformis
3) Telah menghidap penyakit vascular
4) Secara genetis memiliki predisposisi mengalami hipertensi yang timbul kehamilan
Menurut manuaba (2010) dalam nita dan mustika (2013)
Perubahan patologi berbagai organ penting dijabarkan sebagai berikut :
1) Perubahan hati. Perdarahan yang tidak teratur, terjadi nekrosis trombosis pada
lobus hati
2) Rasa nyeri di epigasterium karena pendarahan subkasuler
3) Retina. Spasme arteriol,edema sekitar diskus optikus,ablasio retina (lepasnya
retina)
4) Otak. Spasme pembuluh darah arteriol otak menyebabkan anemia jaringan otak
5) Paru-paru berbagai tingkat edema, brokopneumonia sampai abses,yang
menimbulkan sesak napas
6) Jantung. Perubahan degenerasi lemak dan edema, terhentinya fungsi jantung
7) Perubahan ginjal. Spasme arteriol menyebabkan aliran darah keginjal menurun
sehingga filtrasi glomenurus berkurang penyerapan air dan garam tubulus tetap,
terjadi edema pada tungkai dan tangan,paru dan organ lain
8) Perubahan pembuluh darah. Permeabilitas terhadap protein makin tinggi sehingga
terjadi vasasi protein ke jaringan,protein ekstra vaskuler menarik air sehingga
menimbullkan edema,hemikonsentrasi darah yang menyebabkan gangguan fungsi
metabolisme tubuh dan thombrosis
Pada pra eklamsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi
garam dan air, pada biospy ginjal ditemukan spasme yang hebat pada artiola
glomelurus pada beberapa kasus lumen arteola maka tekanan darah akan naik,
sebagai usaha kenaikan tekanan perifer agar oksigen jaringan dapat tercukupi.

F. Pemeriksa penunjang
Menurut Amin dan Hardhi (2015) pemeriksaan penunjang pada ibu hamil pre
eklamsia yaitu sbb :
1) Pemriksaan darah lengkap dengan hapusan darah
a) Penurunan hemoglobil ( nilai rujukan atau kadar normal hemoglobinadalah
untuk wanita hamil adalah 12-14 gr %)
b) Hematokrit meningkat (nilai rujukan 150-450 ribu/ mm
2) Urinalis
Ditemukan protein dalam urine
3) Pemriksaan fungsi hati
a) Blirubin meningkat (N=< 1 mg/ dl)
b) Serum glutamat pirufat transaminase (SGPT) menigkat (N=15-45 U u/ml)
c) Serum glumat oxaloacetic transaminase (SGOT) meningkat (N=<31 u/ ml)
d) Total protein serum menurun (N=6,7-8,7 g/dl)
4) Tes kimia darah
Asam urat meningkat (N=2,4-2,7 mg/ dl
5) Radiologi
a) Ultrasonografi
Ditemukan retradasi pertumbuhan janin intra uterus pernafasan intrauterus
lambat, aktivitas janin lambat.
b) Kardiotgrafi
Diketahui denyut jantung bayi lemah

G. Penatalaksanaan pre eklamsia ( menurut Amin & Hradhi,2015)


Tujuan utama penangan pre eklamsia adalaha mencegah terjadinya ekslamsia,
melahirkan bayi tanpa asifiksia dengan skor APGAR baik, dan mencegah mortalitas
meteral maternetal dan perinatal.
1) Pre eklamsia ringan
Istirahat ditempat tidur merupakan terapi utama dalam penanganan pre eklamsia
ringan. Istrihat dengan berbaring pada sisi tubuh menyebabkan aliran darah ke
plasenta dan aliran darah ke ginjal meningkat.
2) Pre eklamsia berat
Pada pre eklamsia berat segera harus diberi obat sedatif kuat untuk mencegah
timbulnya kejang. Apabila sudah 12-24 jam bahya akut sudah diatasi,tindakan
terbaik adalah menghentikan kehamilan. Sebagai pengobatan mencegah kejang
dapat diberikan larutan magnesium sulfat (MgSO4) 20% dengan dosis 4 gr secara
intravena loading dose dalam 4-5 menit. Kemudian dianjurkan dengan MgSO4
40% sebanyak 12 gr dalam 500 cc ringer laknat (RL).

H. Komplikasi pre eklamsia (menurut nita & mustika,2013)


1) Awal
a) Kejang meningkat kemungkinan mortalitas materal 10 kali lipat. Penyebab
kematian maternl karena ekslamsia sdalah : kolaps sirkulas (henti jantung,
edema plunoma, dan syok) pendarahan seberal dan gagal ginjal.
b) Kejang meningkat kemungkinan kematian fatal 40X lipat, biassanya
disebabkan oleh hipoksia,asidosis dan asolusio plasenta
c) Kebutaan atu pralesis dapat terjadi karena lepasnya retina atau pendarahan
intrakranial
d) Perdarahan post partum
e) Toksik delirium
f) Luka karena kejang
g) Aspirasi pneumonia
2) Komplikasi jangka panjang
a) 40% sampai 50% dengan pre ekslamsia berat atau ekslamsia memiliki
kemungkinan kejadian ini pada kehamilan berikutnya
b) Hipertensi permanen, terjadi pada 30% sampai 50% pasien dengan pre
ekslamsia
c) Komplikasi yang dapat ditimbulkan karena hipertensi (menurut dr Tufan
nugroho, 2015)
 Pertumbuhan janin lambat
 Kematian janin
 Persalinan premature
 Solusio plasenta

A. Konsep dasar keperawatan maternitas

A. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dasar dalam proses keprawatan. Pengkajian
merupakan tahap yang paling menentukan bagi tahap selanjutnya kemampuan
mengidentifikasi masalah keperawatan.
Pengkajian adalah pengumpulan data klien untuk informasi staus kesehatan klien
(menurut Nikmatur. R & Saiful W,2012)
1) Identitas klien meliputi nama,alamat,umur,pekerjaan,alamat,suku bangsa dll
2) Persepsi dan harapan klien sehubung kehamilan
Meliputi alasan klien datang kerumah sakit,adanya dampak perubahan
terhadap kehamilan, ibu tinggal dengan siapa,orang yang terpenting bagi ibu,
3) Kebutuhan dasar khusus
a) Ketidaknyaman,istirahat,tidur
Adanya gangguan sejak terjadi kehamilan,tergnggu istirahat
b) Keselamatan
Pergerakan meliputi kesulitan berjalan,gangguan penglihatan,gangguan
pendengaran
c) Cairan
Meliputi perubahan jumlah cairan yang diminum, selama kehamilan
d) Nutrisi
Mulut,nafsu makan
e) Eliminasi
Meliputi perubahan BAB dalam kehamilan, gangguan kandung kemih
f) Oksigen
Gangguan pernafasan
g) Seksual
Meliputi dampak kehamilan bagi perubahan peran sebagai istri dan
perubahan suami istri
h) Keluarga berencana
i) Kebutuhan psiko-sosial-spritual
j) Anjuran
Meliputi peningkatan kalori, pengurangan lemak dan gula, penambahan
makanan berserat
k) Riwayat keperawatan/kesehatan
Meliputi keluhan utama,riwayat kehamilan, riwayat kehamilan
persalinan,riwayat kesehatan keluarga.
l) Pola fungsi kesehatan
m) Pemeriksaan fisik
n) Pemeriksaan pennjang
o) Terapi
Penyimpanan KDM

TEKANAN DARAH

Meningkat (TD>140/90 Hamil<20 minggu normal

Hipertensi kronik Superimposed pre eklamsia Hamil >20 minggu

Pre eklamsia kejang Kejang (+)

eklamsia
Vaso spasme pada Penurunan pengisian
pembuluh darah darah di ventrikel kiri

Voleme dan tekanan Proses 1cardiac output Kelebihan volume cairan


darah menurun menurun
Keluar keringat berlebih
Merangsang medula System syaraf simpatis
kulit
oblongata meningkat

jantung HCI meningkat paru

Penumpukan darah
Kompresi saraf simfatik Perisaltic turun
meningkat gangguan irama
LEADP meningkat
jantung aliran turbulent emboli

Kongesti vena pulmonal

Gangguan rasa nyaman nyeri


Proses perpindahan cairan
karena perbedaan
konstipasi Akumulasi gas meningkat tekanan

Ketikdakseimbangan Timbul gangguan fungsi


nurisi alveoli

Akal dingin Metabolisme tubuh Gangguan pertukaran gas

Perubahan perfusi vasokonterksi Pembuluh darah


jaraingan perifer
B. Diagnosa keperawatan
Menurut Amin huda & hardhi kusumha (2015), masalah yang lazim muncul
pada pasien pre eklamsia adalah :
1) Nyeri berhubngan dengan peningkatan tekanan darah
2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
mual & muntah
3) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kerusakan fungsi glomerolus
sekunder terhadap penurunan cardiac output
4) Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubngan dengan terjadinya
vasospasme arterional,edema serebral,perdarahan.
5) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penimbunan cairan pada paru
(odema paru)
6) Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan kontraksi uterus dan pembukaan
jalan lahir
7) Konstipasi

C. Intervensi keperawatan
1. Nyeri b.d peningkatan tekanan darah
no Diagnosa keperawatan noc intervensi
1 Nyeri akut b.d a. Pain level 1) Paint management
peningkatan tekanan b. Pain control
a. Lakukan
darah c. Comfort level
pengkajian nyeri
Batasan karekteristik :
b. Obsernasi reaksi
a. Perubahan selera 1) Kriteria hasil :
nonvernar dari
makan a. Mampu
ketidak
b. Perubahan tekanan mengontro
nyamanan
darah nyeri (tahu
c. Gunakan teknik
c. Perubahan penyebab
komunikasi
frekwensi jantung nyeri)
terapeutik
d. Sikap melindungi b. Melaporkan
d. Kaji kultur yang
area nyeri bahwa nyeri
mempengaruhi
e. Indikasi nyeri berkurang
nyeri
yang dapat c. Mampu
e. Evaluasi
diamati mengenal nyeri
pengalaman
f. Dilatasi pupil (skala nyeri)
nyeri pada masa
g. Melaporkan nyeri d. Menyatakan
lampau
rasa nyaman
f. Bantu pasien dan
keluarga
menemukan
dukungan
g. Kurangi faktor
nyeri
h. Ajarkan non
farmakologi
i. Kaji tipe nyeri
j. Tingkatkan
istirahat
2) Anaalgestic
administrasion :
a. Tentukan lokasi
krakteristik
kualitas, dan
derajat nyeri
sebelum
pemberian obat
b. Cekintruksi
dokter tentang
obat,dosis, dan
frekuensi
c. Cek riwayat
elergi
d. Pilih analgestik
diperlukan
e. Pilih rute
pemberian IV,IM
untuk
pengobatan nyeri
secera teratur
f. Monitor ttv
sesudah
pemberian
anagelstik
pertama kali

2. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual & muntah
no Diagnosa keperawatan noc intervensi
2 Ketidak seimbangan a. Nutrional status 1) Nutricion
nutri kurang dari b. Nutrional status : management :
kebutuhan b.d mual & food and fluid a) Kaji adanya
muntah intake alergi makanan
Batasan karakteristik : c. Weigh control b) Kolaborasi
a. Kram abdomen 1) Kriteria hasil dengan ahali
b. Nyeri abdomen a) Adanya gizi untuk
c. Mengindari peningkatan pemberian
makanan berat badan makanan yang
d. Berat badan 20% sesuai dengan dibutuhkan
atau lebih dibawah tujuan pasien
berat badan ideal b) Berat badan c) Anjurkan pasien
e. Diare yang ideal untuk
f. Ketidakmampuan c) Mampu meningkatkan
makan mengidentifikasi intake Fe
kebutuhan d) Anjurkan klien
nutrisi untuk
d) Tidak terjadi meningkatkan
penurunan berat protein dan
badan vitamin C
e) Berikan subtansi
gula
2) Nutricion
monitoring :
a) BB pasien
dalam bats
normal
b) Monitor adanya
penurunan BB
c) Monitor intraksi
anak atau orang
tua selama
makan
d) Monitor
linhkungan
e) Monitor turgor
kulit
f) Monitor kadar
albumin,
protein, dan hb
dan kadar Ht
g) Monitor mual
dan muntah
h) Monitor
pertumbuhan
dan
perkembangan
i) Catat adanya
edema

3. Kelebihan volume cairan b.d kerusakan fungsi glomelurus sekunder terhadap


penurunan cardiac output.
no Diagnosa keperawatan noc intervensi
3 Kelebihan volume 1) Kriteria hasil 1) Fluid management
cairan b.d kerusakan a) Terbebas dari a) Timbang
fungsi glomelurus edema, efusi, popok/pembalut
sekunder terhadap anaskara jika Elektrolit and
penurunan cardiac b) Bunyi nafas acid base balance
output bersih, tidak ada b) Fluid balance
Batasan karakteristik : dispneu/ortipeni c) Hydratoin
a) Bunyi nafas a a) diperlukan
adventitus c) Terbebas dari b) Pertahankan
b) Gangguan distensi vena catatn intake
elektrolit jugularis dan aoutput
c) Anasarka d) Memelihara yang akurat
d) Ansetiatas tekanan vena c) Pasang urine
e) Azotemia sentral, tekanan kateter jika
f) Perubahan status kapiler, paru, diperlukan
mental output d) Monitor hasil hb
yang sesuai
dengan retensi
cairan (BUN,
Hmt, osmolitas
urine
e) Monitor ttv
f) Kaji lokasi
edema
g) Monitor
masukan
makanan dan
cairan hitung
intake kalori
h) Kolabiarsi
pemberian
diuretic
i) Kolaborasi
dengan dokter
2) Fluid monitoring :
a) Tentukan
riwayat jumlah
dan tipe intake
cairan
b) Tentukan factor
penyebab resiko
dari
ketidakseimban
gan cairan (
hipertermia,
terapi diureutic)
c) Minotor berat
badan
d) Catat akurat
intake dan
output
e) Monitor adanya
distensi leher,
ronci, edema,
perifer,
penambahan BB
f) Monitor tanda
dan gejala dari
edema

4. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d terjadinya vasospasme arterional,


edema serebral, perdarahan
no Diagnosa keperawatan noc intervensi
4 Ketidakefektifan a) Circulacion status 1) Peripheral
perfusi jaringan b) Tissure perfusion sensation
perifer b.d terjadinya Kriteria hasil : management
vasospasme arterional, 1) Mendemostrasikan (manajemen
edema serebral, status sirkulasi yang sensai perifer )
perdarahan ditandai dengan : a) Monitor
Batasan karakteristik : a) Tekanan sistole adanya daerah
a) Tidak ada nadi dan diastole dalam tertentu yang
b) Perubahan fungsi rentang normal hanya peka
motoric b) Tidak ada terhadap
c) Perubahan ortostatik panas /dingin
karakteristik kulit hipertensi /tajam/ tumpul
d) Perubahan tekanan c) Tidak adanya b) Monitor
darah peningkatan adanya
diekstremitas tekanan darah paretese
e) Kelambatan 2) Mendemostrasikan c) Ontruksi
penyumbahan luka kemampuan kognitif keluarga
perifer yang ditandai dengan : untuk
a) Berkomunikasi mengorsebvas
dengan jelas dan i kulit jika ada
sesuai dengan isi atau learsi
kemampuan d) Gunakan
b) Menunjukkan sarung tangan
perhatian, untuk proteksi
konsetrasi dan e) Monitor
orientasi kemampun
c) Memproses BAB
informasi f) Kolaborasi
d) Membuat pemberian
keputusan dengan analgetik
benar g) Monitor
3) Menunjukan fungsi adanya
sensorik motorik tromboplebitis
cranial yang utuh.
5. Gangguan pertukaran gas b.d penimbuhan cairan pada paru-paru (edema paru)
no Diagnosa keperawatan noc intervensi
5 Ganguan pertukaran a. Respiratory status : gas 1) Airway
gas b.d penimbuhan exchange management :
cairan pada paru-paru b. Respiratory status : a. Buka jalan
(edema paru) ventilation napas,
c. Vital sign status gunakan
Batasan karakteristik : teknik chin
a. pH darah arteri 1) Kriteria hasil : lift atau jaw
normal a. Mendemostrasikan trust bila
b. pH arteri abnormal peningkatan ventilasi perlu
c. pernapasan dan oksigenasi yang b. Posisikan
abnormal (mis adekuat pasien untuk
kecepatan, irama, b. Memelihara memaksimal
kedalaman, ) kebersihan paru-paru kan ventilasi
d. warna kulit dan bebas dari tanda- c. Identifikasi
abnormal (mis tanda distress pasien
pucat, kehitaman,) pernapasan perlunya
e. konfusi c. Mendemostrasikan pemasangan
f. sianosis (pada batuk efektif dan suara alat jalan
neonatus saja) nafas yang bersih, napas
g. diaphoresis tidak sianosis fan d. Pasang mayo
h. sakit kepala saat dyspneu (mampu bila perlu
bangun mengeluarkan sputum, e. Lakukan
i. hiperkapnia mampu bernafas suction
j. hipoksemia dengan mudah, tidak f. Berikan
k. iritabilitas ada pursd lips) pelembab
l. napas cuping d. Ttv dalam rentang udara
hidug normal g. Monitor
respirasi dan
status O2
2) Respiratory
monitoring :
a. Monitor rata-
rata
kedalaman,
irama, dan
usaha
respirasi
b. Catat adanya
pergerakan
dad, amati
kesimentrian,
penggunaan
otot
tambahan
c. Monitor
suara napas
d. Catat lokasi
trakea
e. Monitor
kelelahan
otot
diagfragma
(gerakan
paradoksi)
f. Auskultasi
suara napasa,
catat area
penurunan /
tidak adanya
ventilasi dan
suara
tambahan

6. Gangguan rasa nyaman b.d kontraksi iterus dan pembukaan jalan lahir
no Diagnosa keperawatan noc intervensi
6 Gangguan rasa a. Ansiety 1) Anxiety reducion
nyaman b.d iterus b. Fear leavel (penurunan
pembukaan jalan lahir c. Sleep deprivation kecemasan)
d. Comfofrt, redlines for a. Gunakan
Batasan karakteristik : enchandced pendekatan
a. Ansietas yang
b. Menangis 1) Kriteria hasil : menenangka
c. Gangguan pola a. Mampu n
tidur mengontrol b. Nyatakan
d. Takut kecemasan dengan jelas
e. Ketidakmampuan b. Status lingkungan harapan
untuk rileks yang nyaman tergadap
f. Iritabilitas c. Mengontrol nyeri pelaku pasien
g. Merintih d. Kualitas tidur dan c. Jelaskan
h. Melporkan merasa istirhat yang semua
panas adekuat prosedur dan
i. Melaporkan e. Agresi apa yang
perasaan tidak pengendalian diri dirasakan
nayaman f. Respon terhdap selama
j. Melaporkan gejala pengobatan prosedur
disterss g. Control gejala d. Pahami
k. Melaorkan rasa h. Dapat mengontrol presektif
lapar kekuatan pasien
l. Berkeluh kesah i. Suport social terhadap
j. Keinginan untuk situasi stres
hidup e. Dorong
pasien untuk
mengunkapk
an perasaan
2) Enviroment
management
confort pain
management

7. Konstipasi
no Diagnosa noc intervensi
keperawatan
7 Konstipasi a. Bowel elimination 1) Constipation/impacti
Batasasan b. Hydration on management
karakteristik : 1) Kriteria hasil : a. Monitor tanda
a. Nyeri a. Mempertahankan dan gejala
abdomen bentuk feses lunak konstipasi
b. Nyeri tekan setiap 1-3 hari b. Monitor feses
abdomen b. Bebas dari frekuesi,
dengan ketidaknyamanan konsstensi dan
teraba dan konstipasi volume
resistensi c. Feses lunak dan c. Monitor bising
otot tidak berbentuk usus
c. Anoreksia d. Monitor tanda
d. Darah merah dan gelaja ruptur
pada feses usus/peritonitis
e. Perubahan e. Jelaskan etiologi
pada pola dan rasionalisasi
defekasi tindakan
f. Penurunan terhadap pasien
frekuensi f. Pantau tanda-
g. Penurunan tanda gejala
volume feses konstipasi
h. Distensi g. Konsultasi
abdomen dengan dokter
i. Keletihan h. Memantau bising
umum usus
j. Sakit kepala i. Menyusun
k. Bising usus jadwal ke toilet
hiperaktif j. Anjurkan pasien
l. Peningkatan hubungan asupan
tekanan diet tinggi serat
abdomen k. Anjurkan pasien
m. Rembesen atau keluarga
feses cair pasien
penggunaan obat
yang tepat dari
obat pencahar
D. Implementasi keperawatan

keperawatan, selanjutnya rencana tindaakan tersebut diterapkan dalam situasi

yang nyata untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Tindakan keperawatan harus

mendetail agar semua tenaga keperawatan dapat menjalankan tugasnya dalam jangka

waktu yang telah ditetapkan

E. Evaluasi

perkembangan ibu dengan berpedoman kepada hasil dan tujuan yang hendak

dicapai. Evaluasi dari proses keperawatan adalah menilai hasil yang diharapkan

terhadap perubahan perilaku ibu dan untuk mengetahui sejauh mana masalah ibu

dapat teratasi.
LAPORAN PENDAHULUAN PRE EKLAMSIA

OLEH :

Kelompok 5

St.khadija makkarumpa (1711038)

Shania angnes thasya mageline (1711037)

St. Nurliavi (1711039)

Suci amelia (171140)

Safitri (1711036)

Akademi keperawatan mappa oudang makassar

TA 2018/2019