Anda di halaman 1dari 30

Konstruksi Bahan Tekstil

Konstruksi suatu bahan tekstil menentukan berat jatuhnya bahan (drape),


keawetan dan tekstur bahan. Ada metode dasar konstruksi bahan, yaitu:

a) Tenunan (woven)
b) Rajutan (knitted)
c) Anyaman
d) Buhul
e) Kaitan
f) Renda
g) Kempa
h) Bahan tidak ditenun (non woven)

a) Tenunan (Woven)

Kalau Anda memperhatikan selembar kain, maka Anda akan mengetahui


arah panjang dan lebar kain, serta pinggir kain atau tepi kain. Ketika Anda
mengamati kain dengan lebih teliti maka Anda bisa melihat kain dengan lebih teliti
maka Anda bisa melihat susunan benang-benang yang sejajar dan searah dengan
tepi kain dan benang-benang yang melintang.

Benang-benang yang sejajar pinggir kain disebut dengan Benang Lusi.


Sedangkan benang yang melintang disebut dengan Benang Pakan. Benang lusi dan
benang pakan saling menyilang satu sama lain.

Setiap bahan tenunan mempunyai pinggir atau tepi kain (selvage) sepanjang
kedua sisi kain dan biasanya dibuat lebih tebal dengan cara memakai benang gintir
atau memperbanyak jumlah benang lusi dibandingkan pada bagian tengah kain.
Lebar pinggir kain bervariasi seAndar 0,5 cm sampai 1 cm. Hal ini bertujuan untuk
menguatkan kain dan melindungi benang-benang supaya tidak mudah bertiras.

Selalu pastikan bahwa benang-benang pakan ada pada sudut yang tepat
pada tepi kain (selvage). Hal ini menunjukkan bahwa bahan terletak pada lajurnya
atau sesuai dengan arah serat (grain line) suatu hal yang harus dipertimbangkan
ketika Anda memotong bahan.
Kekencangan dari suatu tenunan tergantung pada jumlah benang-benang
lusi dan benang-benang pakan dalam setiap 1 cm2. Hal ini biasa disebut dengan
Tetal Kain. Banyaknya benang lusi per 1 cm dan benang pakan per 1 cm masing-
masing disebut dengan tetal lusi dan tetal pakan.

Konstruksi tenunan dibedakan berdasarkan silang tenunan, yaitu silang


dasar dan silang dasar yang divariasi. Ada tiga macam silang dasar, yaitu silang
polos, silang kepar, dan silang satin. Dalam perkembangannya ada bermacam
silang tenunan tetap pada dasarnya merupakan variasi dari ketiga silang dasar
tersebut, kecuali untuk tenunan yang berpola (patterned).

(1) Kain Tenun Dengan Silang Polos


Silang polos merupakan silang paling tua dan paling banyak digunakan
diantara persilangan yang lain. Diperkirakan 80% dari semua silang tenunan
adalah silang polos dan turunannya. Silang polos merupakan silang yang paling
sederhana dengan permukaan yang sama antara bagian baik dan bagian buruk
kain.

Karena persilangan antara benang-benang pakan dan lusi pada silang


polos paling banyak jika dibandingkan dengan silang yang lain, maka silang
polos adalah tenunan paling kuat. Selain kuat anyaman polos mudah diberi
desain, misalnya permukaan dicap, dibatik, disulam dan lain sebagainya.
Beberapa tenunan dengan anyaman polos yang terkenal adalah kain muslin,
mori, nansook, voile, organdi, blaco dan sebagainya.

Konstruksi Contoh Bahan

Gambar 2.1 Konstruksi silang polos dan hasilnya


(2) Kain Tenun Dengan Silang Kepar (Twill)
Silang kepar adalah suatu persilangan yang benang-benang lusinya
menyilang di atas atau di bawah dua benang pakan atau lebih, dengan silangan
benang lusi sebelah kiri atau kanan bergeser satu benang pakan atau lebih
untuk membentuk garis diagonal atau garis kepar.

Kain dengan silang kepar jarang dicap karena tekstur permukaannya


sudah menarik dengan adanya garis-garis kepar tersebut. Namun kain kepar
yang berasal dari serat sutera atau serat lain yan ringan sering dicap. Kain
kepar tidak mudah kotor karena kotoran hanya cenderung menempel pada
permukaan garis kepar.

Beberapa tenunan dengan silang kepar antara lain drill, jeans, denim,
gabardin dan sebagainya.

Konstruksi Contoh Bahan

Gambar 2.2 Konstruksi silang kepar dan hasilnya

(3) Kain Tenun Dengan Silang Satin


Efek yang panjang, baik arah lungsi maupun kearah pakan menempati
sebagian besar permukaan kain, tidak ada titik silang, yang berimpit melainkan
tersebar merata. Pergeseran yang panjang-panjang membuat efek kain yang
lebih berkilau dibanding dengan tekstil dengan efek pendek-pendek. Namun
kekurangannya adalah tenunan cenderung menjadi kendor.

Satin biasanya dibuat dari benang-benang filamen sutera maupun serat


buatan seperti rayon, nilon dan sebagainya. Satin dibuat dari benang kapas,
kainnya dimerser disebut sateen atau satine.
Konstruksi Contoh Bahan

Gambar 2.3 Konstruksi silang satin dan hasilnya

Karena sedikitnya jumlah silangan pada satin menyebabkan benang-


benang berimpit satu sama lain dan menghasilkan sifat-sifat kain yang lebih
halus, berkilau, lembut dan melangsai. Satin terutama baik dipakai sebagai kain
lapis karena dengan banyaknya jumlah lusi maka tenunan lebih kuat dan
karena satin licin, tidak menempel pada badan karena keringat.

b) Rajutan (Knitted)

Berbeda dengan kain tenun yang dibuat dengan menyilangkan dua macam
benang yaitu benang lusi dan benang pakan, maka kain rajut pada dasarnya dibuat
dengan cara membentuk sengkelit-sengkelit. Dari satu macam benang saja yang
searah dengan lebar kain atau yang searah dengan panjang kain.

Apabila Anda mengamati selembar kain rajut, Anda akan melihat alur-alur
pada kain itu baik ke arah panjang kain maupun ke arah lebar kain. Alur-alur ini
terbentuk oleh rangkaian sengkelit. Menurut arah alur tersebut istilah baris
sengekelit (wale) dan deret jeratan (course), baris sengkelit (wale) adalah satu
deretan sengkelit ke arah panjang kain yang dalam pembuatannya dibentuk oleh
sebuah jarum. Sedangkan deret sengkelit (course) adalah satu deretan sengkelit
rajut ke arah lebar kain.

Konstruksi kain rajut berbeda dengan kain tenun, maka sifat-sifatnya pun
berbeda pula. Kain rajut pada umumnya mulur dan daya elastisitasnya lebih tinggi
daripada kain tenun, sehingga kain rajut cocok untuk pakaian-pakaian yang
berukuran tubuh (body size) dan mengikuti bentuk tubuh tanpa mengganggu
gerakan tubuh (press body). Hal ini disebabkan karena adanya lengkungan
sengkelit pada kain rajut dapat mudah tertarik ke segala arah.

Kelemahan dari rajutan adalah apabila sehelai benangnya putus maka akan
mudah menjalar melepaskan sengkelit lainnya, sehingga lubang kain menjadi
bertambah besar. Tetapi dengan perkembangan teknologi di bidang rajut, telah
banyak dibuat kain rajut yang kokoh seperti kain tenun tanpa mengurangi
elastisitasnya.

Konstruksi bahan rajutan bermacam, diantaranya adalah sebagai berikut.

Kain Rajut Rata/Polos (Plain Single Jersey)

Adalah yang dikenal dengan pola-pola vertikal berbentuk “V” pada permukaan
bahan, dan deretan-deretan horizontal dari setengah lingkaran pada bagian
belakang. Rajutan ini mulur (stretch) pada bagian horizontalnya.

Konstruksi Contoh Bahan

Gambar 2.4 Konstruksi kain rajut rata dan hasilnya

(1) Kain Rajut Trikot (Triko)


Rajutan lusi termasuk rajutan triko dan rajutan raschel. Triko mempunyai
tekstur rib yang halus serta drape lembut dan seringkali digunakan untuk bahan
pelapis (lining), pakaian sehari-hari (casual) dan pakaian dalam (lingerie).
Konstruksi Contoh Bahan

Gambar 2.5 Konstruksi kain rajut trikot dan hasilnya

(2) Kain Rajut Double (Double Knits)


Dirajut dengan dua jarum dan dua benang secara serentak sehingga seolah-
olah dirajut. Bagian baik dan bagian buruk bahan kelihatan sama. Rajutannya
stabil dan kuat, banyak memberikan keleluasaan dengan tidak mulur maupun
kendur.

Konstruksi Contoh Bahan

Gambar 2.6 Konstruksi kain rajut double dan hasilnya

c) Anyaman
Anyaman bukanlah suatu hasil tenunan, tetapi dibuat dari satu susunan
benang yang disilangkan miring dari kiri ke kanan dan kembali lagi. Anyaman ini
bisa dikerjakan dengan tangan ataupun mesin.
Gambar 2.7 Hasil anyaman

Bahan anyaman bisa Anda buat dari beraneka bahan. Asal bahan itu tidak
mudah putus dan pipih serta lentur maka bahan itu bisa dianyam, misalnya: kulit,
benang, plastik, rafia, bambu, rotan, dan bahan alami yang lain, seperti rumput,
rumputan, mendong, agel, enceng gondok yang sudah dikeringkan, pelepah pisang,
akar wangi dan sebagainya.

Hasil dari anyaman bisa berupa tas dari kulit yang dianyam, anyaman kain,
plastik, sepatu, rompi, atau garnitur busana dan pelengkap busana. Juga untuk
lenan rumah seperti taplak meja, alat rumah tangga misalnya alat dapur, hiasan
dinding, kerajinan tangan dan sebagainya.

Anyaman dapat dibuat dalam bentuk pipih atau bulat, misalnya veterband,
tali sepatu dan ikat pinggang.

d) Buhul
Salah satu teknik membuat kain adalah membuat buhul atau simpul. Contoh
dari buhul adalah macrame dan filet. Teknik macrame berasal dari Arab. Pada
mulanya hanya berupa simpul-simpul yang sederhana, tetapi kemudian
berkembang dengan variasi antara simpul-simpul tersebut dan menghasilkan motif
yang bermacam-macam. Buhul terdiri dari dua kali simpul, yang pertama disebut
setengah buhul. Kedua, setengah buhul lagi yang menguatkan ikatan setengah
buhul pertama sehingga tidak terlepas. Motif buhul bisa merupakan garis-garis
horisontal, vertikal dan diagonal. Dari rangkaian buhul tersebut dapat dihasilkan
bermacam-macam barang kerajinan dan aksesori busana, seperti tas, ikat
pinggang, rompi (vest), syal/selendang dan sebagainya.
Gambar 2.8 Contoh hasil buhul/makrame

e) Kaitan

Teknik membuat kain yang lain adalah mengait dan hasilnya dinamakan
crochet (kaitan). Kaitan dibuat dari benang kait, misalnya benang wol, benang
akrilik, benang katun, benang nilon maupun jerami (raffia) dan lainnya.

Mengait menggunakan jarum kait (haak-pen/Belanda, Crochet


needle/Inggris) dari ukuran kecil sampai besar, disesuaikan dengan benang yang
dipergunakan. Jarum kait yang kecil (jarum bernomor kecil) dipakai benang yang
kecil (halus). Benang yang besar menggunakan jarum kait yang besar (jarum
bernomor besar).

Nomor jarum kait ukuran standar internasional adalah dari 0.60 sampai
dengan 7.00. Contoh hasil kaitan ialah blus, vest (rompi), selendang, taplak meja,
seprei, tas, topi, dan lainnya.

Ada bermacam-macam kaitan antara lain:

 Kaitan Biasa
 Kaitan Tunisia
 Kaitan Irish
 Kaitan Amerika
 Kaitan Renda
(1) Kaitan Biasa

Mula-mula dibuat sengkelit, kemudian dibuat kaitan yang merupakan rangkaian


tusuk rantai. Ada berbagai macam setik kaitan, yaitu tusuk setengah erat
(kaitan tunggal), tusuk erat (kaitan rangkap), tusuk setengah tangkai, tusuk
tangkai, tusuk tangkai ganda, tusuk tangkai lipat tiga. Berbagai macam tusuk
kaitan ini dirangkaikan sehingga merupakan suatu rangkaian kaitan yang
dibentuk menjadi benda kaitan, seperti taplak meja, selendang, dan lainnya.

Mengait tusuk rantai

1. Mengait tusuk setengah erat

2. Mengait tusuk erat

3. Mengait tusuk setengah tangkai 4. Mengait tusuk tangkai

5. Mengait tusuk tangkai 6. Mengait tusuk tangkai tiga

Gambar 2.9 Kaitan Biasa


(2) Kaitan Motif Tunisia
Kaitan Tunisia atau kaitan afghan biasanya menggunakan benang yang kasar
dan memakai jarum yang besar, panjang, dan rata. Kaitan Tunisia menghasilkan
kaitan yang rata, padat, dan bertepi. Bahan yang dihasilkan oleh kaitan Tunisia
kelihatan agak seperti rajutan (knit), jika Anda kurang teliti kadangkala susah
membedakan antara hasil rajutan atau kaitan (crochet)

1 2 3 4

Kaitan Triko Kaitan Renda Aghan

Gambar 2.10 Kaitan Motif Tunisia


(3) Kaitan Irish

Kaitan Irish merupakan kaitan yang berbentuk bunga-bunga. Kaitan ini dapat
dihubungkan satu dengan lainnya, sehingga merupakan rangkaian kaitan untuk
tas, taplak meja, penutup seprai tempat tidur (bed-cover), dan sebagainya.

Gambar 2.11 Kaitan Irish

(4) Kaitan Amerika

Kaitan Amerika hampir sama dengan kaitan irish. Bedanya, motif pada kaitan
amerika merupakan motif bunga yang rata/datar, sedangkan pada kaitan irish
bermotif bunga timbul. Dari kaitan yang rata tersebut dirangkaikan menjadi
satu, sehingga merupakan suatu patchwork (tambal) yang dipergunakan untuk
penutup seprei tempat tidur (bed cover), tas, taplak meja, vest (rompi), dan
lainnya

Gambar 2.12 Kaitan Amerika


(5) Kaitan Renda Jepitan Rambut (Hair-pin Crochet)

Tipe kaitan ini biasanya dipergunakan untuk menghasilkan potongan renda


panjang (strip), yang dapat dipakai untuk hiasan-hiasan pinggir ataupun sisipan.
Kadangkala potongan strip renda digabungkan bersama untuk membentuk
"ban" lebar sebagai hiasan kelim rok bawah (skirt), stola (selendang panjang
dan lebar), ataupun taplak meja. Alat yang dipakai ialah jarum kait dan pen
khusus berbentuk “U”.

Setelah benang dikaitkan pada pen, kemudian dirajut dan dilepaskan setelah
selesai pengerjaannya, baru dibentuk dan digabungkan sesuai desain dan
kebutuhan.

Gambar 2.13 Kaitan Renda Jepitan Rambut (Hair-pin Crochet)

f) Renda
Yang dimaksud dengan renda di sini adalah kain renda (lace), yang dibuat
dengan tangan ataupun dengan mesin. Dalam rumah tangga dipergunakan untuk
taplak meja, tirai jendela, sebagai pakaian (dress/gaun), pakaian dalam (lingerie),
dan saputangan. Corak kain renda dapat terdiri atas dua bagian yaitu bagian yang
merupakan dasar dan bagian lainnya merupakan sekelompok motif-motif tertentu,
misalnya motif bunga. Benang linen biasanya dapat dibuat renda yang nyata
(dengan benang besar), yang dikerjakan dengan tangan atau mesin. Tetapi,
benang kapas, rayon, nilon, atau sutra dibuat dengan mesin. Ada beberapa macam
renda, yaitu filet, renda simpul (frivolite), dan tula (tulle).

Gambar 2.14 Kain renda (lace)

Gambar 2.15 Renda Frivolite


g) Kempa
Biasanya dibuat langsung dari serat wol. Bulu-bulu pada permukaan
tenunan, ikatannya kurang kuat, sehingga dapat bebas bergerak pada bulu benang
sebelah dalam. Serat wol akan menggelembung dalam air dan saling
mengait/menjerat satu sama lainnya dan akan tetap dalam keadaan demikian
ketika dikempa.

Karena obat kempa dan proses kempa, bulu wol akan menyusut, sehingga
tenunan menjadi padat. Padat eratnya tenunan dipengaruhi oleh obat kempa, juga
oleh kelembaban dan kenaikan suhu (panas) yang dipergunakan dalam proses
kempa.

Contoh kain yang dikempa adalah laken sedangkan serabut yang dikempa
ialah felt.

h) Bahan Tidak Ditenun (Non Woven)


Ada beberapa konstruksi bahan atau proses yang tidak dapat diklasifikasikan
sebagai rajutan ataupun tenunan. Non-woven dibentuk dari serat-serat yang
dilumatkan, direkatkan atau dicampurkan bersamaan dengan bahan kimia, uap
pemanasan (thermal) atau dengan cara mekanis. Dengan demikian meniadakan
pintalan, tenunan, ataupun rajutan. Penggunaan praktisnya terutama untuk fashion
terbatas, disebabkan kurang jatuh (drape), kurang kuat, dan biasanya terlalu tebal
untuk pakaian. Tetapi masing-masing mempunyai makna yang perlu diperhatikan.
Sebuah contoh adalah, felting yaitu salah satu metode tertua di dunia dari
pembuatan bahan, mungkin telah mendahului tenunan.

Netting dan braiding adalah teknik-teknik lama, kedua-duanya dipergunakan


dalam pembuatan renda (lace).

Fusing, bonding, laminating adalah pengembangan secara modern yang


menggunakan Adhesives (perekat) untuk saling mengisi serat-serat yang pendek
atau bahan yang direkatkan/dilem bersamaan.
2) Macam Kain Berdasarkan Berat Kain
Selain Anda mengetahui persilangan pada tenunan yang menghasilkan kekuatan serta
efek yang dihasilkan, Anda juga harus mengetahui penggolongan kain berdasarkan
beratnya. Berdasarkan berat kain digolongkan menjadi 4 yaitu:

(a) Kain ringan dengan berat 60 gr/m2


(b) Kain menengah dengan berat 60-140 gr/m2 /medium
(c) Kain setengah berat dengan berat 140-250 gr/m2
(d) Kain berat > 250 gr/m2

Dengan Anda mengetahui berat kain, maka Anda dapat memilih bahan menurut
jatuhnya bahan sesuai dengan desain.

Contoh jenis kain berdasarkan beratnya.

No. Berat Nama Kain Contoh Bahan

1. Ringan Kain Batiste


Kain Lawn
Kain Nainsook
Kain Voile
Kain Organdy
Kain Dimity
Kain sutra (silk)
2. Menengah Kain Cambridge
(medium) Kain Mori
Kain Gingham
Kain Chambray
Kain Blacu
Kain Tetoron
Satin
Kain Arrow
Gishkin
No. Berat Nama Kain Contoh Bahan

3. Kain Kain Celana


Setengah
Berat

4. Kain Berat Kain Tweed


Kain Kanvas

Gambar 2.16 Contoh Bahan berdasarkan berat kain

3) Penyempurnaan Bahan Tekstil

Proses penyempurnaan (finishing) dapat didefinisikan sebagai pengerjaan serat,


benang, atau kain yang ditujukan untuk mengubah penampilan, pegangan, dan daya
guna/fungsi dari bahan-bahan tersebut.

a. Penyempurnaan penampilan bahan dapat berupa pewarnaan yang sama dan


merata pada seluruh permukaan bahan (pencelupan), atau pewarnaan satu warna
atau lebih pada tempat-tempat tertentu pada permukaan bahan (pencapan).
Permukaan bisa menjadi mengkilap, berkerut-kerut, atau lainnya.
b. Penyempurnaan pada pegangan bahan dapat berupa pegangannya menjadi lemas,
penuh, kaku, atau lainnya.
c. Penyempurnaan daya guna bahan berupa beberapa sifat khusus, misalnya bahan
menjadi tidak kusut, tidak tembus air, tidak tembus udara, tahan api, dan
sebagainya.
Hasil dari proses penyempurnaan tekstil ada yang bersifat sementara, artinya
dengan sekali atau dua kali pencucian akan hilang, dan ada yang bersifat permanen
artinya baru hilang setelah berkali-kali dicuci.
a) Proses Penyempurnaan Pembuatan Bahan Tekstil
Proses ini bertujuan untuk menghilangkan bulu-bulu yang berupa ujung-
ujung serat yang menonjol/keluar dari permukaan benang atau kain. Bulu-bulu
serat hanya terdapat pada benang staple. Bulu-bulu serat akan mengurangi kilap
bahan, kelicinan permukaan bahan, dan akan menahan kotoran sehingga bahan
cepat kotor. Bahan tekstil yang harus dibakar bulunya yaitu yang menghendaki
permukaan licin dan mengkilap, corak permukaan kelihatan, kotoran yang
menempel mudah dihilangkan pada waktu pencucian, tidak gatal waktu dipakai dan
sebagainya. Misalnya kain sapu tangan, kain serbet, kain yang akan di-merser,
benang jahit, bahan pelapis (lining/voering), dan sebagainya.

(1) Menghilangkan Kanji

Proses ini bertujuan untuk menghilangkan kanji atau zat penguat yang
diberikan pada benang lusi yang akan ditenun. Adanya kanji atau zat
penguat akan mengganggu pengerjaan penyempurnaan selanjutnya
yang berakibat hasil prosesnya kurang/tidak sempurna. Zat-zat
penghilang kanji tersebut dapat berupa asam sulfat atau enzim yang
mampu melarutkan kanji sehingga untuk selanjutnya mudah dihilangkan
dengan pencucian.

(2) Menghilangkan Lemak


Proses ini bertujuan melepaskan zat perekat alam serisin dari filamen serat
sutra. Penghilangan tersebut terdiri atas pemanasan dalam larutan alkalin atau
larutan sabun. Proses ini juga digunakan untuk menghilangkan minyak-minyak
yang terdapat pada serat-serat buatan.

Proses pemasakan bertujuan untuk menghilangkan kotoran-kotoran dan


zat-zat yang terdapat pada bahan tekstil, yang dapat
mengganggu/menghambat proses-proses penyempurnaan selanjutnya.

(3) Mengelantang (Bleaching)


Pengelantangan merupakan proses penghilangan atau perusakan secara
kimia zat warna atau pigmen alam yang terkandung dalam serat,
sehingga bahan menjadi putih bersih. Proses pengelantangan dilakukan
apabila:
 Bahan yang dikehendaki berwarna putih bersih, misalnya kain putih,
pakaian putih, kain seprai, sarung bantal, dan sebagainya.

 Bahan akan dicelup atau dicap dengan warna-warna muda dan cerah,
misalnya merah, kuning, orange, dan sebagainya. Proses
pengelantangan yang dilakukan untuk tujuan ini bersifat setengah
putih, terutama dilakukan pada bahan yang terbuat dari serat alam
atau campuran.

b) Penyempurnaan Tambahan
Penyempurnaan tambahan dilakukan untuk mempe-roleh tekstur
(lembut, kaku), kilau, pola timbul, serta sifat tahan gesekan pada kain.
Pelaksanaannya dapat dikerjakan secara mekanis atau kimiawi.

(1) Mengalander
Penyetrikaan (calandering) merupakan proses penyem-purnaan mekanik yang
dilakukan dengan melewatkan bahan kain dalam kondisi terbentang melalui
suatu susunan rol logam yang dipanaskan dan rol lunak, misalnya dari kertas
wol dan lainnya.

Terdapat bermacam-macam cara penyetrikaan, tergantung pada hasil


akhir yang dikehendaki. Misalnya penyetrikaan sederhana atau kilap
biasa, kilap tinggi, buram, moire (corak riak-air), Embosing (pahatan,
digunakan untuk menghasilkan corak pada permukaan kain). Setiap jenis
penyetrikaan akan memberikan hasil yang berbeda.

(2) Memerser
Tujuan Proses merserisasi yaitu untuk mendapatkan kilap yang tinggi
dan permanen pada kapas. Proses ini dilakukan dengan mengerjakan
benang/kain kapas dalam larutan kaustik soda atau alkali kuat lainnya,
kemudian diikuti dengan proses netralisasi dan pencucian. Proses
merserisasi selain memberikan kilap lebih tinggi juga memberikan efek
lainnya, yaitu:
 Bahan menyusut
 Kekuatan bahan bertambah tinggi
 Daya serap terhadap air meningkat
 Daya gabung terhadap zat warna bertambah tinggi
 Pegangan bahan menjadi lebih penuh.

(3) Menggaru Bulu


Penyempurnaan menggaru bulu bertujuan untuk membuat agar
permukaan kain berbulu, sehingga menjadi hangat jika dipakai, karena
kain berbulu akan dapat menahan panas.
Penyempurnaan ini dilakukan secara mekanika, yaitu dengan mesin
penggaru bulu dimana serat-serat pada permukaan kain ditusuk-tusuk
dan dikait-kait oleh jarum lurus dan jarum bengkok sehingga ujung-
ujung serat pada benang akan keluar dan menyerupai bulu pada
permukaan kain.
Untuk membuat kain berbulu, diperlukan syarat-syarat tertentu yang
meliputi:
 Benang pakan dibuat dari serat panjang
 Antihan benang pakan sekecil mungkin
 Kain harus lunak
Proses menggaru bulu dilakukan dalam pembuatan kain selimut, flanel,
dan sebagainya.

(4) Mengeriting (Krep)

Penyempurnaan krep bertujuan untuk membuat permukaan kain menjadi


tidak rata atau berkerut. Ada dua cara yaitu: a) cara mekanik, dan b)
cara kimia.

 Penyempurnaan krep cara mekanik dilakukan dengan mengerjakan kain


pada mesin kalender Embossing, di mana permukaan rol kerasnya bermotif
kerut-kerut. Tetapi penyempurnaan ini bersifat sementara, karena akan
hilang oleh pencucian berkali-kali dan oleh penyetrikaan.
 Penyempurnaan krep cara kimia dilakukan dengan mencapkan pasta cap
yang mengandung kaustik soda, asam sulfat, seng klorida, atau lainnya
pada permukaan kain kapas. Oleh zat-zat penggelembung tersebut, serat
kapas akan menyusut dalam pencucian, sedangkan bagian yang tidak dicap
akan kusut sehingga menimbulkan efek kerut pada permukaan kain yang
disebut efek plise. Hasilnya berupa bahan krep seersucker, crinkle (kain
kelobot).
(5) Mengempa

Suatu proses penyempurnaan dengan melewatkan kain di bawah sebuah


Roler yang terus menerus dikempa untuk meratakan permukaannya.
Hasilnya, kain menjadi halus dan sempurna mengkilat. Namun sifatnya
sementara karena serat kain terbuka kembali selama pencucian.

(6) Menguatkan Tenunan


Proses penyempurnaan juga dapat digunakan untuk menguatkan
bahan/tenunan.

(a) Penyempurnaan tahan kusut (anti crease)


Tahan kusut adalah kombinasi antara ketahanan (resistance) dari suatu
bahan terhadap kekusutan dan sekaligus kemampuan untuk kembali
(recovery) ke bentuk semula. Titik berat sifat tahan kusut ini adalah
kemampuan pengembalian ke bentuk semula.

Kain-kain yang bersifat tahan kusut misalnya: cuci pakai (wash and wear),
kering diangin-anginkan (drip dry), tanpa disetrika (non-ironing), anti kusut
(anti crease), dan sebagainya. Kain dari serat selulosa mudah sekali kusut
dalam pemakaian. Penampilan-nya menjadi kurang menarik, sehingga
memerlukan penganjian dan penyetrikaan yang sifatnya sementara, dan
kusut kembali karena pencucian. Untuk mendapatkan kain selulosa yang
bersifat anti kusut permanen, diperlukan proses penyempurnaan dengan
resin, juga untuk kain campuran selulosa dengan serat buatan. Kain serat
sintetik tidak memerlukan penyempurnaan tahan kusut karena sifat-sifat
dari serat sintetik sudah anti kusut.
(b) Penyempurnaan anti susut (anti-shrink/ sanforized)

Tujuan penyempurnaan anti susut, adalah membuat kain mempunyai


daya susut sekecil mungkin, sehingga pada penggunaannya tidak
berubah walaupun dicuci berulang kali. Untuk penyempurnaan anti
susut ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu sebagai berikut:
 Penyempurnaan cara mekanik, banyak dilakukan pada kain
kapas. Menyusutnya tidak lebih dari 1%, dapat diberi label
Sanforized.
 Penyempurnaan cara kimia, banyak dilakukan pada kain rayon
dan serat sintetik. Dikerjakan dengan resin atau zat kimia lainnya
yang dapat menutupi sifat serat yang menarik air, sehingga daya
serap air terhadap serat menjadi kecil, yang mengurangi sifat
menyusutnya.
 Penyempurnaan cara mekanik-kimia, sering dilakukan pada kain
dari campuran serat selulosa dan serat buatan, misalnya kain
poliester/rayon, poliester/ kapas, atau lainnya. Menyusutnya tidak
lebih dari 1%.

(c) Penyempurnaan tahan air dan tolak air


Definisi tahan air (water proof) adalah suatu permu-kaan yang dapat
menahan air dan udara, sedangkan tolak air (water repellent) adalah suatu
permukaan yang dapat menahan air, tetapi udara masih mungkin dapat
menembus.

Untuk kain yang tahan air (water proof) penyempurnaan dilakukan


dengan cara melapisi permukaan dengan lapisan karet/lateks, seperti
kain untuk jas hujan (rain coats).
Untuk kain yang bersifat tolak air (water repellent), dipergunakan
zat-zat yang dapat menolak seperti emulsi malam, sabun-sabun
logam, dan zat aktif permukaan, yang melapisi benang-benangnya
saja tetapi tidak menutupi pori-pori antar benang, sehingga udara
masih dapat menembus. Zat-zat tersebut bersifat tidak permanen
yang dapat hilang dengan pencucian berkali-kali.
(d) Penyempurnaan tahan api

Penyempurnaan tahan api dimaksudkan untuk melindungi tekstil


yang mudah terbakar menjadi sukar terbakar atau lambat terbakar.
Serat-serat mineral bersifat tidak dapat terbakar, misalnya serat
asbes. Serat-serat protein dan beberapa serat sintetik yang
termoplastik akan melelh sewaktu terbakar dan melekat pada kulit,
sehingga memungkinkan luka bakar lebih dalam. Serat selulosa
mudah sekali terbakar dan memberikan letikan api setelah api
padam. Konstruksi kain yang tebal dengan anyaman-anyaman
terbuka akan terbakar dengan cepat, sedangkan kain berbulu akan
terbakar bulunya terlebih dahulu, baru kainnya.
Penyempurnaan tahan api dilakukan dengan cara merendam sambil
diperas (impregnasi) dalam larutan yang mengandung borak, natrium
silikat, atau lainnya. Zat-zat ini mempunyai titik leleh yang rendah
sehingga dengan adanya api, garam tersebut akan segera meleleh
dan menutupi kain sebagai suatu lapisan seperti gelas yang tidak
dapat terbakar dengan segera, karena zat-zat tersebut menghasilkan
suatu gas yang tidak dapat terbakar sewaktu pemanasan.

(7) Menstabilisasi

Proses penyempurnaan juga bertujuan untuk menstabil-kan bahan.

(a) Penyempurnaan dengan proses stensering

Merupakan proses utama pada penyempurnaan kain, yang dikerjakan


pada mesin stenter, dengan tujuan untuk membuat kain menjadi
kering dan mengatur supaya penampilannya menarik. Variasi suhu
serta penarikan yang diberikan menyebabkan kain lembut atau keras,
penuh atau tipis. Dalam proses ini, corak kain yang berbentuk garis
atau kotak-kotak yang berubah oleh proses sebelumnya dapat
dikembalikan ke bentuk semula. Adanya pengerjaan Stentering dapat
diketahui dengan adanya bekas lubang-lubang jarum atau bekas
jepitan pada pinggir kain.
Kain yang mudah mulur, misalnya kain rajut (knit), dengan
permukaan berkerut-kerut seperti kain krep atau kain yang
menghendaki pegangan lembut, pada umumnya tidak dikeringkan
dengan mesin stenter, tetapi dengan mesin pengering sengkelit (lup)
untuk menstabilkannya.

(b) Penyempurnaan Dekatis

Proses ini menghasilkan kain-kain terutama wool worsted atau


woolen bermuka halus, tahan terhadap kekusutan dan pegangannya
empuk. Proses dekatis ini serupa dengan penyetrikaan dengan uap
yang memberikan sifat kain menjadi sangat berkilau karena
permukaan kain menjadi halus. Cara pengerjaan: kain kering
digulung dengan tegangan pada silinder yang berlubang-lubang.
Selanjutnya, dialirkan uap air melalui silinder tersebut, dan akan
menerobos kainnya. Uap air dan panas menyebabkan kain bersifat
plastik sehingga tegangan yang terdapat pada kain menjadi kendur
dan kusut-kusutnya menghilang. Selanjutnya, kain dikeringkan
dengan cara melewatkan udara dingin melalui kain tersebut, yang
berakibat serat-serat kain akan stabil. Penyempurnaan dekatis
sekarang banyak juga dikerjakan pada kain campuran wol dengan
serat sintetis atau serat sintetis dengan kapas.

4) Penyelidikan Bahan Tekstil


a) Pengamatan Secara Visual
Dengan memperhatikan, meraba, mengepal sehelai kain saja mungkin
belum dapat secara angsung diketahui sifat-sifatnya, demikian juga dengan asal
seratnya. Hal ini disebabkan karena kemajuan teknik penyempurnaan bahan tekstil,
sehingga sering tidak dapat dibedakan antara kain yang asli dengan yang tiruan.

Beberapa pengamatan secara visual tentang sifat yang perlu diketahui untuk
menentukan jenis serat adalah sebagai berikut.
(1) Panjang serat
Untuk penelitian asal serat sehelai kain, perlu dicabut sehelai benang untuk
diperiksa kemungkinan golongan seratnya.

(2) Kekuatan serat


Serat sutra adalah serat yang terkuat diantara serat-serat lainnya seperti nilon,
wol dan kapas. Dalam keadaan basah, serat rayon berkurang kekuatannya,
sedangkan serat kapas akan lebih kuat daripada dalam keadaan kering

(3) Kehalusan serat


Serat sutra adalah serat yang terhalus di antara serat-serat asli yang lain seperti
serat sintetis dan serat rayon.

(4) Kilau serat


Serat kapas kurang berkilau kecuali dimerser. Serat linen kilaunya bagus dan
jelas, kilau serat sutra sangat bagus dan lembut, serat rayon berkilau tajam
seperti logam, sedangkan serat wol tidak berkilau karena bergelombang.

(5) Keriting serat


Serat wol adalah satu-satunya yang memiliki keriting asli, ini menyebabkan kain
wol berpori sehingga mempunyai sifat penyekat panas.

(6) Daya lentur


Serat wol berdaya lentur besar, demikian pula serat sintetis dan serat sutra.
Serat selulosa tidak memiliki daya lentur yang baik, tetapi dapat diproses
sehingga berdaya lentur yang besar, contohnya proses pembuatan bahan mulur
(stretch).

(7) Daya serap air dan udara


Serat wol berdaya serap sampai 40% tetapi belum terasa basah, daya serap
serat sutra sampai 30%, linen 20% kapas 8,5%.

Bila usaha mencari asal serat tekstil belum ditemukan dengan cara
memerhatikan serat-seratnya, dapat dilakukan dengan mempergunakan
bantuan alat mikroskop. Tiap-tiap serabut kalau diperbesar 100 x akan
menunjukkan bermacam-macam gambaran penampang serat-seratnya baik
gambar penampang melintang ataupun membujur dari setiap serat tekstilnya.
 Cara memutuskan benang. Apabila berasal dari serat kapas, benang mudah
diputus karena berserat pendek. Serat linen benangnya sukar diputus. Serat
wol bersifat lentur, bila diputus akan memanjang dulu/elastis, ujung benang
seperti spiral (berombak). Serat sutra juga bersifat lentur, ujung benangnya
halus dan tidak berumbai. Serat rayon mudah putus, dan ujung benang
bercabang.
 Cara lain untuk mengetahui asal serat adalah dengan menggunakan bahan
kimia, yaitu sebagai berikut.
 Asam sulfat melarutkan serat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
 Kaustik soda (soda api) melarutkan serat yang berasal dari hewan,
seperti wol dan sutra.
 Kupramonium melarutkan kapas.
 Aseton melarutkan kain asetat.
 Fenol 90% melarutkan nilon.
b) Penyelidikan Dengan Uji Pembakaran
Uji pembakaran adalah untuk mengetahui secara pasti serat-serat yang tidak
dikenal. Percobaan dengan pengujian yang paling mudah untuk dilakukan adalah
dengan pembakaran.

Prosedur ini memerlukan ketelitian dan secara singkat menyalakan seberkas


serat, atau potongan kecil bahan, sambil mengamati proses pembakaran sebelum
memadam-kan apinya. Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut.

(1) Serat-serat protein


Serat-serat seperti wol, rambut/bulu binatang lainnya dan sutra akan segera
mengeriting oleh api dengan sedikit meleleh, terbakar dengan lambat,
meninggalkan butiran abu hitam yang lembut padat, bisa diremuk, dengan
berbau seperti rambut yang terbakar. Wol akan padam segera setelah sumber
apinya dialihkan

(2) Serat-serat selulos


Jenis serat ini yaitu katun, linen/flak dan rayon. Pengapian dilakukan dengan
segera hingga serat terbakar dengan cepat, dan tercium bau seperti kertas
yang terbakar. Abu yang ditinggalkan lembut seperti bedak. Rayon akan
terbakar tanpa nyala atau meleleh sehingga tidak meninggalkan butiran seperti
plastik, sisanya hanya bulu kapas ringan.

(3) Asetat dan sinteti


Bahan ini meleleh langsung dari api sebelum terbakar dan meninggalkan
butiran abu hitam, bentuknya tidak rata dan rapuh, baunya seperti asam cuka.
Poliester mengerut dengan api, lelehannya akan meninggalkan butiran bulat
yang keras berwarna abu-abu atau coklat, berbau kimiawi. Nilon seperti di atas
meninggalkan butiran abu-abu yang keras, susah diremuk, berbau seperti daun
seledri. Pengujian lain untuk asetat adalah dengan menggunakan larutan
aseton (cairan yang biasa dipakai untuk menghilangkan cat kuku). Aseton
menghancurkan asetat dan melarutkan serat-serat bila dikenakan pada bahan
tekstil.

Serat-serat anorganik tidak terbakar. Walaupun begitu, lapisan poliester yang


dipergunakan di atas adalah metalik yang akan terbakar.
c) Pengamatan Dengan Meraba
Permukaan bahan yang halus mencerminkan permukaan yang lebih ringan
daripada permukaan buram, kusam, atau berbulu, sehingga pengamatan visual
dihubungkan dengan sesuatu yang dapat diraba (tactile). Benda-benda yang
"terasa" halus juga "kelihatan" halus.

(1) Yang dapat diraba (tactile)


Perubahan-perubahan pada permukaan bahan-bahan karena pengaturan dari
benang-benang individual pada tenunan atau rajutan dapat dirasakan di kulit.
Dengan rabaan dapat dirasakannya lembut, kasar, jatuhnya bahan (drape),
atau kaku dan berat.

(2) Yang dapat didengar (audible)


Gesekan dapat diciptakan oleh permukaan bahan dengan saling menggosokkan
sehingga dapat didengar, misalnya gemersik dari sutra taffeta.

d) Penyelidikan Tentang Sifat-sifat Serat


Struktur fisika dan kimia sangat mempengaruhi sifat-sifat serat yang
meliputi daya kekuatan, kemuluran dan elastisitas, daya serap, kelenturan, dan
ketahanan terhadap gosokan, zat kimia dan lainnya.

(1) Daya mulur


Daya mulur atau elastisitas adalah kemampuan serat untuk kembali ke
panjang semula setelah mengalami tarikan. Kain yang dibuat dari serat
yang mulur dan elastisitasnya baik, stabilitas dimensinya juga baik dan
tahan kusut. Makin tinggi derajat penarikan, makin tinggi kekuatan serat
dan makin rendah mulurnya.
Cara mengetahui tingkat daya mulur (%) bahan tekstil dengan
menggunakan ujicoba sebagai berikut:

k 2  k1
Daya Mulur (%)   100%
k1

Keterangan:
k1 = Kain sebelum ditarik
k2 = Kain sesudah ditarik
Contoh:
Bahan ukur sebelum ditarik 5 cm dan sesudah ditarik menjadi 8 cm.
Berapakah daya mulurnya?
k 2  k1
Rumus: Daya Mulur (%)  100%
k1

85
  100%
5

= 0,6%
Jadi daya mulur kain tersebut adalah 0,6%.

(2) Daya serap

Jumlah uap air yang diserap oleh serat berbeda-beda, tergantung dari
kelembaban relatif, suhu udara, dan seratnya. Beberapa jenis serat
menyerap uap lebih banyak daripada jenis serat lainnya, ditentukan oleh
struktur kimia dari seratnya. Misalnya, serat-serat selulosa akan
menyerap uap air lebih banyak sehingga lebih enak dipakai, mudah
menyerap keringat dan tidak menimbulkan listrik statik, cocok dipakai
pada udara lembab dan panas.
Cara mengetahui tingkat daya serap bahan tekstil adalah dengan
menggunakan ujicoba memasukkan kain ke dalam air. Kemudian
menggunakan rumus sebagai berikut:
s 2 s1
Daya Serap (%)   100%
s1

Keterangan:
s1 = volume air sebelum dimasuki kain
s2 = volume air sesudah kain diangkat dengan pinset

Contoh:
Bahan ukur dengan ukuran 20 cm x 20 cm dengan berat kain ringan
dimasukkan dalam air (80 ml). sewaktu diangkat dengan pinset tersisa
75 ml. Berapakah daya serapnya?
s 2 s1
Rumus: Daya Serap (%)   100%
s1
80  75
  100%
80

= 0,06%
Jadi daya serap kain tersebut adalah 0,06%.
(3) Daya susut (sanforized)

Susutnya bahan pada waktu pencucian dapat disebabkan karena


regangan-regangan yang tidak dapat dihindarkan pada waktu pembuatan
kain tersebut sejak pembuatan benang. Serat kain menyerap air
sehingga diameter serat menjadi bertambah besar dan panjangnya
berkurang.
Cara mengetahui tingkat daya susut bahan tekstil adalah dengan
menggunakan ujicoba pada kain. Ambil ukuran pada bagian tengah kain
misalnya 5 x 5 cm. Selanjutnya rendam kain tersebut didalam air sabun
selama  30 menit. Kemudian cek kembali ukuran Anda, jika tetap berarti
kain tidak susut. Jika ada perubahan, untuk menghitung daya susutnya
dapat mempergunakan rumus sebagai berikut:
t 1 t 2
Daya Susut (%)   100%
t1

Keterangan:
t1 = panjang kain sebelum direndam
t2 = panjang kain sebelum direndam
(Rumus ini berlaku untuk panjang dan lebar kain).

(4) Daya luntur (fast colour)

Merupakan penyempurnaan yang dilakukan pada bahan tekstil yang


bertujuan untuk menguatkan warna dari pudar. Berdasarkan sifat-sifat
zat warna, biasanya zat warna yang larut dalam air, ketahanan lunturnya
kurang/ tidak baik. Zat pewarna yang tidak larut dalam air, ketahanan
lunturnya tinggi, misalnya zat warna bejana untuk pencelupan serat
selulosa dan wol, serta nilon. Zat warna belerang digunakan untuk
pencelupan serat kapas, zat warna naftol untuk pencelupan serat
selulosa, batik, poliester, asetat, rayon dan sebagainya.
Adapun cara untuk mengetahui kuat tidaknya warna pada suatu bahan
tekstil dapat dilakukan hal sebagai berikutt:
 Siapkan katun warna, 10 x 10 2 lb.
 Rendam bahan dalam air dengan detergent selama 30 menit.
 Angkat, keringkan dan setrika.
 Bandingkan dengan yang sudah direncam dengan bahan yang tidak
direndam.
d. Tugas

1. Lakukan uji pembakaran pada 10 bahan tekstil yang berbeda!.


2. Lakukan dengan kelompok ujicoba penyelidikan bahan teksil dengan cara
a. Secara visual
b. Uji pembakaran
c. Pengamatan dengan meraba
e. Test Formatif

1. Apakah tujuan Anda mempelajari pengetahuan bahan tekstil?


2. Apakah yang dimaksud dengan bahan utama?
3. Jelaskan penggolongan serat tekstil yang berasal dari alam!
4. Jelaskan istilah penyempurnaan di bawah ini!
d. Mercerized
e. Sanforized
f. Fast colour
5. Jelaskan ciri-ciri dari uji coba pembakaran serat yang berasal dari:
a. Serat protein
b. Serat selulosa
c. Serat buatan