100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
908 tayangan30 halaman

Introduksi Kitab Suci

Dokumen ini memberikan pengantar singkat tentang Kitab Suci kepada siswa seminari. Ia menjelaskan bahwa Kitab Suci terdiri atas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang masing-masing terbagi lagi menjadi beberapa kitab yang ditulis pada berbagai zaman. Dokumen ini memberikan gambaran umum tentang jenis-jenis kitab dalam Kitab Suci beserta penjelasan singkat mengenai isi dari masing-masing kitab.

Diunggah oleh

Onces Heato
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
908 tayangan30 halaman

Introduksi Kitab Suci

Dokumen ini memberikan pengantar singkat tentang Kitab Suci kepada siswa seminari. Ia menjelaskan bahwa Kitab Suci terdiri atas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang masing-masing terbagi lagi menjadi beberapa kitab yang ditulis pada berbagai zaman. Dokumen ini memberikan gambaran umum tentang jenis-jenis kitab dalam Kitab Suci beserta penjelasan singkat mengenai isi dari masing-masing kitab.

Diunggah oleh

Onces Heato
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGANTAR

Kitab Suci, bersama Tradisi Suci dan Dogma/Magisterium merupakan pilar/sumber iman
yang harus dipahami, diikuti dan dilaksanakan oleh orang-orang Katolik.
Atas dasar itu maka, para siswa seminari yang sedang mempersiapkan dirinya untuk
menjadi imam, harus mendapat input yang baik tentang sumber-sumber iman tersebut,
khususnya Kitab Suci. Untuk mengantarkan para siswa Seminari (Kelas Persiapan Pertama)
kepada pemahaman yang baik tentang Kitab Suci, maka kami memberikan input awal
“introduksi kepada Kitab Suci” ini. Sebagai sebuah introduksi, maka bahan-bahan yang
disajikan lebih merupakan informasi yang sifatnya umum, point-point mendasar yang nantinya
akan diperdalam kembali pada tema-tema berikutnya secara lebih detail.
Diktat ini akan dijabarkan dalam tiga bab. Bab I, Informasi umum tentang Kitab Suci; Bab
II, Memahami Kitab Suci menurut Gereja Katolik; dan Bab III, Peran Kitab Suci Bagi Gereja.
Sebagaimana telah kami singgung di atas, bahwa keseluruhan informasi yang diberikan dalam
diktat ini sifatnya umum, disesuaikan dengan kebutuhan siwa dan kemampuan mereka untuk
memahaminya.
Kami berharap bahwa materi ini bermanfaat dalam kerangka memperkaya khasana
akademik para seminaris. Lebih dari itu, semoga panggilan mereka bertumbuh sejalan dengan
pengayaan intelektual yang mereka peroleh.
BAB I
KITAB SUCI:
INTRODUKSI UMUM

Meskipun kita sering membaca atau mendengarkan Kitab Suci, tetapi boleh jadi banyak
dari kita yang belum mendapat informasi yang cukup memadai secara pengetahuan. Bahkan
banyak juga yang belum bisa membedakan mana kelompok Kitab Perjanjian Lama dan mana
yang termasuk kelompok Kitab Perjanjian Baru. Memiliki Kitab Suci di rumah, apapun itu
bentuknya, bahasanya, belum tentu menjadi jaminan apakah kita juga tahu bagaimana Buku
Suci ini akhirnya sampai ke tangan kita? Bagaimana bentuk aslinya, kapan ditulis, siapa yang
menulis, ditujukan kepada siapa, pesannya yang mau disampaikan, dan lain sebagainya.

1. Kitab Suci
Istilah Alkitab berasal dari kata “Al-Kitab” (bahasa Arab) yang berarti “buku” atau “kitab”.
Dalam bahasa bahasa Inggris disebut the Bible atau Holy Bible yang berarti Kitab Suci, yang
diambil dari kata Yunani, “biblos” – Kitab. Alkitab adalah Kitab Suci yang
diinspirasikan/diilhamkan Allah kepada para penulis sehingga mereka menulis kitab Suci sesuai
dengan keinginan Allah, tanpa salah, secara keseluruhannya, bukan hanya dalam bentuk
pikiran, tetapi juga kata-katanya adalah pilihan Allah, secara sempurna. Kitab Suci berisi tulisan
tentang wahyu Tuhan dan rencana keselamatan umat manusia. Istilah “Kitab Suci” lebih akrab
di hati umat Katolik. Karena Allah dan Sabda-Nya adalah suci, maka kitab (buku) yang
memuat sabda-Nya disebut Kitab Suci. Sedangkan “Alkitab”, lebih akrab di hati umat
Protestan.
Pada abad ke tiga orang-orang Mesir sudah mengumpulkan tulisan-tulisan yang dibuat pada
papirus. Papirus dibuat dari sejenis tanaman buluh (bambu pendek) yang tumbuh di delta Sungai
Nil, yaitu di Biblos. Berbentuk lembaran-lembaran yang bisa digulung atau dilipat, mirip kertas.
Nama tempat di mana tanaman itu tumbuh, yaitu Biblos kemudian diartikan kertas atau kitab
(buku). Dalam bentuk jamak (banyak) dipakai istilah Biblia artinya kitab luar biasa, yaitu
Alkitab atau Kitab Suci.

2. Kitab (buku) dalam Kitab Suci


Menurut Gereja Katolik, jumlah buku (kitab) dalam Kitab Suci kita ada 72 (atau bisa juga
disebut 73 kitab), 46 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru. Tapi, dulu Paus dan
para Uskup dalam Konsili Trente (tahun 1545-1563) menganggap Kitab Ratapan sebagai bagian
dari Kitab nabi Yeremia, maka sebenarnya jumlahnya 72 kitab. Gereja Protestan hanya
mengakui 66. Kitab-kitab dalam Kitab Suci ditulis dalam beberapa bentuk literatur
(kesusastraan/ karya sastra) yang berbeda.

A. Perjanjian Lama
Kitab Perjanjian Lama itu nama lainnya Kitab-kitab Yahudi. Isinya tulisan tentang
hubungan Tuhan dengan Israel, sebagai “bangsa pilihan”. Ditulis antara tahun 900 SM hingga
160 SM. Ke-46 kitab dalam Kitab Perjanjian Lama dapat dibagi dalam empat
bagian/kelompok: 5 Kitab Pentateukh, 16 Kitab Sejarah, 7 Kitab Sastra Kebijaksanaan, serta 18
Kitab Para Nabi.
Perjanjian Lama dipengaruhi oleh tulisan-tulisan (karya sastra - literatur) negara-negara
tetangga Israel di Timur Tengah waktu itu. Israel meminjam kebudayaan bangsa-bangsa
sekitarnya, dan meniru bentuk-bentuk tulisan mereka.
1) Pentateukh
Pentateukh (lima buku/gulungan) adalah lima buku pertama dalam Kitab Perjanjian
Lama, terdiri dari: Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamat, Kitab Bilangan, dan
Kitab Ulangan. Kelima kitab inilah yang menjadi kitab utama dan cikal-bakal seluruh kitab-
kitab dalam Perjanjian Lama.
Banyak kisah-kisah Kitab Suci yang terkenal ditemukan dalam kitab-kitab Pentateukh,
seperti: Kisah penciptaan, Adam dan Hawa, panggilan Abraham, bahtera Nuh, dan kisah-
kisah lain tentang asal-mula bangsa Israel dan pelarian mereka di bawah pimpinan Musa
1
dari perbudakan Mesir. Sepuluh Perintah Allah dan hukum-hukum lainnya menyangkut
hidup dan ibadat bangsa Israel juga ditemukan dalam Kitab Pentateukh. Oleh sebab itu,
Kitab Pentateukh disebut juga Kitab Hukum atau Kitab Taurat.
2) Kitab Sejarah
Sesuai namanya, Kitab Sejarah berisi kisah tentang sejarah bangsa Israel dan campur
tangan Allah dalam sejarah mereka. Dalam kelompok Kitab Sejarah itu diceritakan
berbagai kisah atau cerita bersejarah yang penting, misalnya tentang: Para tokoh terkenal,
baik pria maupun wanita, dalam sejarah Israel dapat ditemukan dalam kitab-kitab ini,
termasuk tentang Raja Daud dan Raja Salomo, juga Debora, Yudit, Ratu Ester.
Kitab-kitab Sejarah mau mengungkapkan suatu pola hubungan yang sangat menarik
dan khas antara Tuhan dengan Bangsa Pilihan-Nya. Bentuk hubungannya dirumuskan
dalam perjanjian, “Apabila mereka setia pada Tuhan dan pada hukum-hukum-Nya, maka
hidup mereka sejahtera dan Tuhan melindungi mereka dari para musuh. Tetapi, apabila
mereka menyembah allah-allah lain dan hidup penuh cela di hadapan Tuhan, maka
bencana datang susul-menyusul menimpa mereka.”
Kitab Sejarah ini terdiri dari 16 kitab:

Nama Nama Singkatan


No Singkatan No
Kitab Kitab
1 Yosua Yos 9 2 Tawarikh 2 Taw
2 Hakim-hakim Hak 10 Ezra Ezr
3 Rut Rut 11 Nehemia Neh
4 1 Samuel 1 Sam 12 Tobit Tob
5 2 Samuel 2 Sam 13 Yudit Ydt
6 1 Raja-raja 1 Raj 14 Ester Est
7 2 Raja-raja 2 Raj 15 1 Makabe 1 Mak
8 1 Tawarikh 1 Taw 16 2 Makabe 2 Mak

3) Kitab Sastra Kebijaksanaan

Kitab Sastra Kebijaksanaan agak berbeda dalam gaya penulisan serta isinya.
Termasuk di antaranya Mazmur, yaitu doa-doa yang ditulis dalam bentuk puisi. Lalu ada
juga kitab-kitab yang berisi nasihat tentang bagaimana mencapai hidup bahagia; seperti
dalam Amsal dan Putera Sirakh. Kidung Agung, salah satu puisi cinta paling sensual yang
pernah ditulis, menggambarkan kasih mesra Tuhan yang begitu besar bagi umat-Nya. Sastra
Kebijaksanaan, yaitu:

No Nama Kitab Singkatan


1 Ayub Ayb
2 Mazmur Mzm
3 Amsal Ams
4 Pengkotbah Pkh
5 Kidung Agung Kid
6 Kebijaksanaan Salomo Keb
7 Putera Sirakh Sir

4) Kitab Para Nabi


Kumpulan kitab ini disebut Kitab Para Nabi karena berisi tulisan-tulisan para nabi di
Israel. Tulisan yang mengajarkan iman kepada Allah dengan benar. Pada jaman itu para
Nabi mempunyai peran yang sangant dibutuhkan, mereka membantu bangsa Israel untuk
tetap beriman kepada Allah. Jadi para Nabi itu dipilih sendiri oleh Allah untuk
menjalankan tugas: menjaga agar Bangsa Israel (sebagai bangsa terpilih) tetap setia pada
perjanjian yang telah mereka buat dengan Tuhan, dan menegur bangsa Israel untuk bertobat
kalau mereka menyimpang dari hukum Tuhan.

2
Dengan tulisan-tulisan tersebut, Bangsa Israel diingatkan terus-menerus akibat/efek
kalau mereka tidak setia pada Allah, dan apa yang didapat kalau mereka setia. Selain itu
kitab-kitab para Nabi ini juga menubuatkan tentang kedatangan Sang Mesias, dan
menjelaskan seperti apakah Mesias yang akan datang itu. Dalam Kitab Nabi ditemukan
kisah tentang kelahiran Sang Mesias (Penebus, yaitu Yesus Kristus) di Betlehem dari
seorang perawan, juga tentang gambaran apa saja yang akan dilakukan dan apa yang akan
terjadi dengan Sang Mesias selama hidup-Nya. Ini daftar kitab, yang disebut Kitab-kitab
Para Nabi:

Catatan: Dari antara Kitab Sejarah, Kitab Sastra Kebijaksanaan, dan kitab nabi-nabi; ada 7
kitab di antaranya disebut sebagai kitab Deuterokanonika, yaitu: Tobit, Yudit, Tambahan-
tambahan pada kitab Ester (dihitung dalam Kitab Ester), Kebijaksanaan Salomo, Yesus bin
Sirakh, Barukh, Tambahan-tambahan pada Kitab Daniel (dihitung dalam Kitab Daniel),
Kitab I Makabe, dan Kitab II Makabe.

No Nama Singkatan No Nama Singkatan

1 Yesaya Yes 10 Obaja Ob


2 Yeremia Yer 11 Yunus Yun
3 Ratapan Rat 12 Mikha Mi
4 Barukh Bar 13 Nahum Nah
5 Yehezkiel Yeh 14 Habakuk Hab
6 Daniel Dan 15 Zefanya Zef
7 Hosea Hos 16 Hagai Hag
8 Yoel Yl 17 Zakharia Za
9 Amos Am 18 Maleakhi Mal

B. Perjanjian Baru

Kitab Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab. Dulu semuanya itu ditulis dalam bahasa Yunani
antara tahun 50 Masehi hingga 140 Masehi. Yang disebut Kitab Perjanjian Baru itu meliputi:
Injil, Kisah Para Rasul, Epistula atau Surat-surat dan Kitab Wahyu.
Tema penting dalam Perjanjian Baru adalah tentang: Yesus Kristus. Kemudian tema inilah
yang dijabarkan lagi dengan keterangan, tentang: Pribadi Yesus Kristus itu bagaimana, ajaran-
Nya apa saja, mengapa Yesus harus menderita sengsara, bagaimana wafat dan kebangkitan, dan
tentang identitas-Nya sebagai Mesias yang dijanjikan, lalu bagaimana Dia yang adalah Tuhan
menganggap kita sebagai umat dan sekaligus saudara-Nya.
Mengapa Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani?” Alasannya bahasa Yunani
pada waktu adalah bahasa percakapan yang paling umum dipergunakan di wilayah Timur
Tengah yang berbeda-beda suku (semacam bahasa internasional). Kitab Suci Katolik berbeda
dari Protestan.

1) Injil

Umumnya kita mengenal bahwa yang dimaksudkan dengan Injil itu jumlahnya empat.
Kata Injil dalam bahasa Yunani 'euaggelion'; atau bahasa Latin 'evangelium', diartikan
“Kabar Baik”. Kabar Baik yang dimaksud menunjuk pada pribadi “Yesus Kristus”, jadi
bukan hanya kitab atau bukunya, sebab buku bisa rusak. Kalau begitu kita sekarang harusnya
tahu, yang menambah iman kita ketika memegang Injil itu bukan terutama bukunya, tetapi
maksud dari tulisan dalam kitab itu, yaitu tentang Yesus Kristus.
Gereja mengakui bahwa Yesus itulah pemenuhan rencana penyelamatan Allah untuk
seluruh umat manusia. Yesus itulah yang dikisahkan dengan cara masing-masing oleh empat
orang penulis terkenal, yaitu: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Selanjutya Gereja
Katolik menerima dan mengakui empat tulisan Injil yaitu: Matius, Markus,Lukas, dan
Yohanes.

3
2) Kisah Para Rasul
Menurut tradisi kuno, buku Kisah Para Rasul ditulis oleh St. Lukas Tentang waktu
penulisan buku ini, hingga saat ini para alhi belum sepakat kapan waktu yang persis
penulisannya. Kitab ini berisi catatan tentang: Iman, pertumbuhannya dan cara hidup Gereja
Perdana; ada juga di dalamnya kisah Kenaikan Yesus ke surga, turunnya Roh Kudus atas
Gereja pada hari Pentakosta, kemartiran Sto. Stefanus dan bertobatnya Sto. Paulus.

3) Epistola
Epistola itu kata lain dari Surat-surat yang ditulis oleh para “Rasul” Yesus; atau para
murid Yesus pada tahun-tahun awal Gereja dan disebarluaskan. Epistola menjadi bagian
terbanyak dari Kitab Perjanjian Baru. Terbagi dalam dua kelompok: Surat-surat Paulus dan
Surat-surat Apostolik. Semua surat waktu itu sudah ditulis dengan susunan atau gaya
penulisan surat di jaman modern, yaitu:
 Identitas pengirim, alamat tujuan, dan salam pembuka
 Doa, biasanya dalam bentuk ucapan syukur.
 Isi surat yang berisi: penjelasan tentang ajaran-ajaran Kristiani, dan tanggapan atas
situasi atau keadaan penerima surat.
 Pembicaraan tentang rencana perjalanan misi penulis surat
 Diakhiri dengan nasehat-nasehat praktis, dan salam perpisahan.
Surat-surat Paulus ditulis oleh Rasul Paulus atau salah seorang muridnya; tak lama
sesudah wafat dan kebangkitan Yesus, yaitu antara tahun 54-80 Masehi. Surat-surat tersebut
menggambarkan perkembangan awal ajaran dan praktek Kristiani. Ada 14 Surat Paulus,
yaitu:

No Nama Kitab Singkatan No Nama Kitab Singkatan


1 Roma Rom 8 1 Tesalonika 2 Tes
2 1 Korintus 1 Kor 9 2 Tesalonika 2 Tes
3 2 Korintus 2 Kor 10 1 Timotius 1 Tim
4 Galatia Gal 11 2 Timotius 2Tim
5 Efesus Ef 12 Titus Tit
6 Filipi Flp 13 Filemon Flm
7 Kolose Kol 14 Ibrani Ibr

4) Surat-surat Apostolik
Surat-surat ini ditujukan bukan kepada sekelompok (suatu komunitas) atau orang
tertentu, tetapi kepada pembaca umum (universal). Surat-surat Apostolik ditulis oleh
beberapa penulis antara tahun 65 Masehi hingga 95 Masehi. Ada 7 Surat Apostolik, yaitu:
No Nama Kitab Singkatan
1 Yakobus Yak
2 1 Petrus 1 Pet
3 2 Petrus 2 Pet
4 1 Yohanes 1 Yoh
5 2 Yohanes 2 Yoh
6 3 Yohanes 3 Yoh
7 Yudas Yud

5) Kitab Wahyu
Kitab terakhir dalam Perjanjian Baru adalah Kitab Wahyu, yang ditulis sekitar sesudah
tahun 90 Masehi. Kitab ini banyak memakai bahasa simbol. Pesan yang mau disampaikan
itu tentang kisah “pertarungan” antara Gereja dengan kekuatan-kekuatan jahat yang berakhir
dengan kemenangan Yesus.

4
3. Bagaimana Kitab Suci ditulis.
1) Penyusunan Perjanjian Lama
Tidak cukup pasti diketahui siapa yang menulis Kitab Taurat, tetapi memang tidak
disangkal nabi Musa memegang peran yang unik dan penting dalam berbagai peristiwa yang
ditulis dalam kitab-kitab ini. Diperkirakan hampir selama lebih dari 2000 tahun, nabi Musa
dianggap sebagai penulis dari Kitab Taurat, karena itu kitab ini sering disebut Kitab Nabi
Musa. Dan karena Nabi Musa banyak sekali berbicara tentang Hukum Allah dalam Kitab-
kitab itu, maka kadang juga disebut Kitab "Hukum Nabi Musa" atau Kitab Taurat Musa.
Sebagai orang Katolik, kita percaya kalau Kitab Suci itu karya manusia atas inspirasi Ilahi,
dan karenanya identitas para manusia pengarangnya tidaklah penting.
Dari tradisi kuno dikisahkan sebagai berikut, Nabi Musa menaruh satu set kitab di dalam
Tabut Perjanjian (The Ark of The Covenant). Itu terjadi kira-kira 3300 tahun yang lalu. Lama
kemudian, Kitab Para Nabi dan Naskah-naskah ditambahkan ke dalam kumpulan Kitab
Taurat; sehingga terbentuklah Kitab-kitab Perjanjian Lama. Tapi kapan persisnya isi dari
Kitab-kitab Perjanjian Lama itu ditentukan dan dianggap sudah lengkap, tidaklah diketahui
secara pasti. Walau demikian yang jelas, setidaknya sejak lebih dari 100 tahun sebelum
kelahiran Yesus Kristus, Kitab-kitab Perjanjian Lama sudah ada seperti yang kita kenal
sekarang.
Kitab-kitab Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani (Hebrew) untuk bangsa Israel,
sebagai umat pilihan Allah. Tetapi setelah orang-orang Yahudi terusir dari tanah Palestina
dan akhirnya menetap di berbagai tempat, maka orang-orang Yahudi perlahan lupa dan
bahkan kehilangan bahasa aslinya; dan tanpa disadari mereka mulai memakai dan berbicara
dalam bahasa Yunani (Greek), yang pada waktu itu merupakan bahasa internasional. Situasi
ini memberi alasan, mengapa menjadi penting sekali bagi mereka untuk membuat terjemahan
seluruh Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani. Maksudnya agar orang-orang Yahudi
itu tidak kehilangan akar sejarahnya dan asal-usulnya.
Selanjutnya dikisahkanlah pada waktu itu di Alexandria banyak sekali hidup orang
Yahudi dan sudah berbahasa Yunani. Selama pemerintahan Ptolemeus Philadelphus II (285 -
246 SM) pekerjaan menerjemahkan seluruh Kitab Suci orang Yahudi (bahasa Ibrani) ke
dalam bahasa Yunani dimulai. Menurut tradisi kuno pekerjaan itu dilakukan oleh oleh 70
atau 72 ahli-kitab Yahudi; dimana 6 orang dipilih mewakili masing-masing dari 12 suku
bangsa Israel. Terjemahan ini diselesaikan sekitar tahun 250 - 125 SM dan disebut
Septuaginta, yaitu dari kata Latin yang berarti 70 (LXX), sesuai dengan jumlah penterjemah.
Kitab Taurat Musa ini sangat terkenal pada waktu itu, bahkan menjadi dasar
pembentukan berbagai hukum. Karena begitu terkenalnya maka diakui sebagai Kitab Suci
resmi (kanon Alexandria) oleh kaum Yahudi yang terusir, dan yang sudah tinggal di Asia
Kecil dan Mesir. Pada waktu itu bahasa Ibrani adalah bahasa yang nyaris mati, dan bahkan
orang-orang Yahudi di Palestina umumnya sudah berubah berbicara dalam bahasa Aram.
Maka masuk akal jika terjemahan Septuaginta itulah yang juga selalu dibaca dan digunakan
oleh Yesus, para Rasul, dan para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru. Ada 300 kutipan dari
Kitab Perjanjian Lama yang ditemukan dalam Kitab Perjanjian Baru, yang persis berasal dari
terjemahan Septuaginta.
Selanjutnya setelah Yesus disalibkan dan wafat, para pengikut-Nya tidak menjadi punah
atau habis, tetapi malahan menjadi semakin banyak dan iman mereka tambah kuat. Sekitar
tahun 100 Masehi, para rabbi (imam dan pengajar Yahudi) berkumpul di Jamnia, Palestina.
Kegiatan berkumpul ini yang disebut dengan istilah “Konsili”. Mereka berkumpul selain
sebagai reaksi terhadap pertumbuhan Gereja yang begitu pesat, juga untuk menetapkan kitab-
kitab mana saja yang memenuhi syarat atau bisa disebut Kitab Suci. Dalam konsili Jamnia
ini para rabi Yahudi membuat empat syarat atau kriteria, untuk menentukan kanon (ukuran)
suatu kitab (buku) bisa disebut Kitab Suci mereka.
Berdasar peristiwa inilah nantinya muncul perbedaan pendapat antara Gereja Katolik
dan Gereja protestan soal jumlah Kitab Suci. Dan dari sini muncul istilah “protokanonik” =
kanon daftar Kitab Suci yang pertama, yaitu memuat kitab-kitab dalam bahasa ibrani saja.
Dan nanti muncul istilah “Deuterokanonik” = kanon daftar Kitab Suci yang kedua, yang
memuat kitab-kitab menurut terjemahan Septuaginta (berbahasa Yunani, juga termasuk kitab
5
yang tidak ada salinan aslinya dalam bahasa Ibrani). Jadi syarat kitab Protokanonik menurut
Rabi Yahudi adalah:
 Ditulis (ada teks asli) dalam bahasa Ibrani;
 Sesuai dengan Kitab Taurat;
 lebih tua dari jaman Ezra (sekitar 400 SM);
 Ditulis di Palestina.
Dengan alasan dan syarat-syarat di atas dibuanglah tujuh buku dari kanon Alexandria,
seperti yang tercantum dalam Septuaginta, yaitu: Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo,
Sirakh, Barukh, 1 Makabe, 2 Makabe, berikut tambahan-tambahan dari kitab Ester dan
Daniel (yang kesemuanya diterjemahkan dari bahaya Yunani). Alasan penolakan adalah
karena kitab-kitab itu tidak ada dalam versi Ibraninya.
Sebagai catatan penting: ketujuh kitab dan dua tambahan kitab yang ditolak itu, kelak
disebut sebagai Kitab Deuterokanonika. Kumpulan Kitab Deutrokanonik inilah yang nanti
oleh gereja Protestan ditolak. Selain itu, dalam kitab Deuterokanonik ada disisipkan Surat Nabi
Yeremia pada Kitab Barukh. Surat Nabi Yeremia dianggap sebagai pasal 6 dari kitab
Barukh, jadi tidak dihitung tersendiri.
Gereja Katolik tidak mengakui konsili Jamnia. Alasannya adalah para rabbi Yahudi
menolak tujuh kitab yang disebut Deuterokanonik, tetap sekaligus mereka juga terus
menggunakan terjemahan Septuaginta.
Pada konsili di Hippo tahun 393 Masehi dan konsili Kartago tahun 397 Masehi, Gereja
Katolik secara resmi menetapkan 46 kitab hasil dari kanon Alexandria sebagai kanon bagi
Kitab-kitab Perjanjian Lama. Bahkan selama enam belas abad, kanon Alexandria diterima
secara bulat oleh Gereja. Masing-masing dari tujuh kitab yang ditolak oleh konsili Jamnia,
dikutip oleh para Patriarch Gereja (para Bapa Gereja = Penulis suci, seperti St. Polycarpus,
St. Irenaeus, Paus St. Clement, dan St. Cyprianus) sebagai kitab-kitab yang setara dengan
kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Lama. Para Bapa Gereja itu hidup pada abad-abad
pertama, dan tulisan-tulisan mereka - meskipun tidak dimasukkan dalam Perjanjian Baru -
menjadi bagian dari Deposit Iman (kumpulan ajaran iman yang penting).
2) Penyusunan Perjanjian Baru
Seperti Kitab-kitab Perjanjian Lama, Kitab-kitab Perjanjian Baru juga tidak ditulis oleh
satu orang , tetapi hasil karya setidak-tidaknya delapan orang. Kitab Perjanjian Baru terdiri
dari 4 kitab Injil, 14 surat Rasul Paulus, 2 surat Rasul Petrus, 1 surat Rasul Yakobus, 1 surat
Rasul Yudas, 3 surat Rasul Yohanes, dan Wahyu Rasul Yohanes dan Kisah Para Rasul yang
ditulis oleh Santo Lukas, yang juga menulis Kitab Injil yang ketiga.
Seluruh kitab Injil mulai Injil Matius sampai kitab Wahyu Yohanes, ada kira-kira
menghabiskan waktu 50 tahun. Itu berarti Tuhan Yesus sendiri, sejauh yang kita ketahui,
tidak pernah menuliskan satu barispun dari kitab Perjanjian Baru. Tuhan Yesus juga tidak
pernah memerintahkan para Rasul untuk menuliskan apapun yang diajarkan oleh-Nya.
Tetapi Tuhan Yesus hanya berkata: "Maka pergilah dan ajarlah segala bangsa" (Matius
28:19-20), "Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku" (Lukas 10:16).
Apa yang Yesus perintahkan kepada para murid, persis sama seperti apa yang Yesus
sendiri lakukan. Tuhan Yesus menyampaikan Firman Allah kepada orang-orang melalui
kata-kata yang meyakinkan, mengajar, dan mentobatkan mereka dengan bertemu muka. Jadi
bukan melalui sebuah buku yang bisa rusak dan hilang, atau disalah tafsirkan dan bisa
diubah-ubah isinya. Begitu juga para Rasul (murid-murid pertama) mengajar generasi
seterusnya. Semacam warisan ajaran yang dilanjutkan turun-temurun dari satu generasi ke
generasi berikut.
Tidak satu barispun dari kitab-kitab Perjanjian Baru dituliskan, sampai setidak-tidaknya
10 tahun setelah wafat Tuhan Yesus. Menurut tradisi kuno, diperkirakan Tuhan Yesus
disalibkan pada tahun 33 Masehi, dan kitab Perjanjian Baru yang pertama ditulis yaitu surat
1 Tesalonika baru ditulis sekitar tahun 50 Masehi. Sedangkan kitab terakhir yang ditulis yaitu
kitab Wahyu Yohanes pada sekitar tahun 90-100 Masehi.

6
3) Kesimpulan:
Gereja Katolik dan iman Katolik sudah ada sebelum Kitab Suci ditetapkan. Beribu-
ribu orang bertobat menjadi Kristen melalui khotbah para Rasul dan missionaris di berbagai
wilayah, dan mereka percaya kepada kebenaran Ilahi seperti kita percaya sekarang, dan
bahkan menjadi orang-orang kudus tanpa pernah melihat ataupun membaca satu
kalimatpun dari kitab Perjanjian Baru.
Itu semua bisa terjadi karena alasan yang sangat sederhana ini, yaitu dengan cara yang
sama orang non-Katolik menjadi Katolk pada masa kini, lewat mendengar Firman Allah
dari pemberitaan orang-orang Katolik sendiri, dan melalui kesaksian cara hidup umat yang
baik dan menarik hati.
4. Penetapan Kitab Perjanjian Baru
 Siapa yang memutuskan kanonisasi (ukuran) Kitab Perjanjian Baru sebagai kitab-kitab
yang berasal dari inspirasi Ilahi ?
 Kita tahu bahwa Kitab Suci tidak jatuh dari langit, jadi dari mana kita tahu bahwa kita
bisa percaya kepada setiap kitab-kitab tersebut ?
Para Uskup Gereja Katolik yang pertama kali membuat daftar kitab-kitab yang diakui
penulisannya atas inspirasi Illahi:
 Mileto, uskup Sardis pada tahun 175 M;
 Santo Irenaeus, uskup Lyons - Perancis pada tahun 185 M;
 Eusebius, uskup Caesarea pada tahun 325 M.
Pada tahun 382 Masehi, pertama sekali pada kesempatan Konsili di Roma, Paus Damasus
menulis dekrit (ketetapan resmi) yang berisi daftar kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru yang terdiri dari 73 kitab. Konsili Hippo di Afrika Utara pada tahun 393 menetapkan ke 73
kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Konsili Kartago di Afrika Utara pada tahun
397 menetapkan kanon kitab-kitab, yang kurang lebih sama untuk Kitab Suci Perjanjian Lama
dan Perjanjian Baru. Sebagai catatan saja, kaum Protestan juga mengakui hasil dari ketiga
konsili di atas sebagai ajaran resmi. Paus Santo Innocentius I (401-417) pada tahun 405 Masehi
menyetujui kanonisasi ke 73 kitab dalam Kitab Suci tersebut dan menutup persoalan tentang
kanonisasi Kitab Suci.
Jadi kanonisasi Kitab Suci secara resmi diputuskan di abad ke empat oleh konsili-konsili
Gereja Katolik dan para Paus. Sebelum kanon Kitab Suci ditetapkan, ada banyak perdebatan.
Ada yang beranggapan kalau beberapa kitab Perjanjian Baru seperti surat Ibrani, surat Yudas,
kitab Wahyu, dan surat 2 Petrus, adalah bukan hasil inspirasi Ilahi. Sementara pihak lain
berpendapat kalau beberapa kitab yang tidak dikanonisasi seperti: Gembala Hermas, Injil Petrus
dan Thomas, surat-surat Barnabas dan Clement adalah hasil inspirasi Ilahi. Keputusan resmi
Gereja Katolik menyelesaikan perdebatan ini sampai 1100 tahun kemudian. Hingga jaman
Reformasi Protestan, tidak ada lagi perdebatan tetang kitab-kitab dalam Kitab Suci.
Melihat sejarah di atas, Gereja Katolik menggunakan otoritasnya untuk menentukan kitab-
kitab yang mana yang termasuk dalam Kitab Suci dan memastikan bahwa segala yang tertulis
dalam Kitab Suci adalah hasil inspirasi Ilahi. Jika bukan karena Gereja Katolik, maka umat
Kristen tidak akan dapat mengetahui yang mana yang benar.
5. Dasar yang dipakai untuk terjemahan Kitab Suci Kristiani sekarang
Ketika Kabar Gembira telah tersebar luas dan banyak orang menjadi Kristen, terjemahan
Kitab Suci dari teks asli pun mulai dibuat dengan bahasa setempat. Tujuannya supaya isi Kitab
Suci (Kabar Gembira tentang Yesus Kristus) bisa lebih mudah diajarkan dan dipahami.
Persoalan muncul karena tidak semua hasil terjemahan itu terjamin kebenarannya seperti dalam
teks asli.
Kemudian hari muncullah karya besar terjemahan yang dibuat oleh St. Hieronimus. Ia
menerjemahkan dari teks Yunani ke dalam bahasa Latin, yang kemudian disebut "Vulgata"
pada abad ke-empat. Pada waktu kebutuhan Kitab Suci sangat besar, dan juga bahaya salah
menterjemahkan juga besar. Oleh karena itu St. Hieronimus, yang mungkin pada waktu itu
adalah orang yang paling terpelajar, atas perintah Paus Santo Damasus pada tahun 382,
membuat terjemahan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Latin dan mengkoreksi versi-versi
7
yang ada dalam bahasa Yunani. Lantas di Bethlehem antara tahun 392-404, dia juga
menterjemahkan Kitab-kitab Perjanjian Lama langsung dari bahasa Ibrani (jadi bukan dari
Septuaginta) ke dalam bahasa Latin, kecuali kitab Mazmur yang direvisi dari versi Latin yang
sudah ada.
Hasil terjemahan St. Hieronomus ini adalah terjemahan Kitab Suci terlengkap yang diakui
resmi oleh Gereja Katolik, yang nilainya tak terukur menurut para ahli Kitab Suci masa kini,
dan terus mempengaruhi versi-versi lainnya sampai pada jaman Reformasi Protestan. Dari
Vulgata inilah dihasilkan terjemahan dalam bahasa Inggris yang terkenal yaitu Douai-Rheims
Bible.
6. Teks Asli Kitab Suci banyak yang Hilang
Sampai dengan diciptakannya mesin cetak pada tahun 1450, semua Kitab Suci adalah hasil
salinan tangan yang kita sebut manuskrip. Kitab Suci lengkap tertua yang masih ada hingga
sekarang berasal dari abad ke-empat, dan isinya sama dengan Kitab Suci yang dipegang oleh
umat Katolik yaitu terdiri dari 73 kitab. Apa yang terjadi dengan manuskrip-manuskrip asli
yang ditulis oleh para penulis kitab Injil? Ada beberapa alasan akan hilangnya kitab - kitab asli
tersebut :
a. Beberapa ratus tahun pertama adalah masa-masa penganiayaan terhadap umat Kristen.
Para penguasa yang menindas Gereja Katolik menghancurkan segala hal yang
menyangkut Kekristenan yang bisa mereka temukan. Selanjutnya, kaum kafir (non-
Kristen) juga secara berulang-ulang menyerang kota-kota dan perkampungan Kristen
dan membakar dan menghancurkan gereja dan segala benda-benda religius yang dapat
mereka temukan disana. Lebih jauh lagi, mereka bahkan memaksa umat Kristen untuk
menyerahkan kitab-kitab suci dibawah ancaman nyawa, lantas membakar kitab-kitab
tersebut.
b. Media atau sarana yang dipakai untuk menuliskan ayat-ayat Kitab Suci, yaitu papirus -
sangat mudah hancur dan tidak tahan lama. Kamu masih ingatkan apa itu Papirus ?
Begitu juga dengan sarana lain yaitu perkamen (pengganti kertas yang terbuat dari kulit
binatang) memang lebih tahan lama tetapi sulit didapat, juga mahal. Kedua bahan
untuk menulis (sebelum ada kertas) inilah yang dimaksud dalam 2 Yohanes 1:12 dan 2
Timotius 4:13.
c. Umat Kristen jaman dahulu setelah membuat salinan Kitab Suci, juga tidak terlalu
peduli untuk menjaga kitab aslinya. Mereka menganggap tidak penting menyimpan teks
kuno yang sudah usang. Alasannya sederhana saja, mereka percaya penuh kepada
Gereja Katolik yang mengajarkan lewat Tradisi melalui mulut para Paus dan para
uskup-uskupnya. Apalagi dari sejak dulu sudah ditetapkan kalau Umat Katolik tidak
melandaskan ajaran-ajarannya hanya pada Kitab Suci saja, tetapi juga kepada Tradisi
yang hidup. Dan itu semua disebut ajaran Gereja Katolik yang infallible (tidak mugkin
sesat).
7. Penjaga Setia Hasil Terjemahan Kitab Suci kuno
Bagaimanapun semua umat Kristen (Katolik ataupun Protestan) berhutang budi kepada
para kaum religius, imam, biarawan dan biarawati yang menyalin, memperbanyak, memelihara
dan menyebarluaskan Kitab Suci selama berabad-abad. Terutama Para biarawan jaman dahulu
adalah orang-orang terpelajar, dengan salah satu kegiatan utama mereka adalah menyalin isi
Kitab Suci, dan biara-biara menjadi pusat penyimpanan naskah-naskah Kitab Suci ini.
Untuk menyalin satu Kitab Suci lengkap, para biarawan itu membutuhkan waktu yang
panjang untuk mengerjakannya, berdasarkan sejumlah besar perkamen yang memuat lebih dari
35.000 ayat-ayat Kitab Suci. Alasan inilah yang menjelaskan mengapa pada waktu itu, banyak
orang biasa tidak mampu memiliki setidaknya satu set Kitab Suci lengkap di rumah-rumah
mereka. Pada umumnya orang jaman dulu ya hanya punya salinan dari beberapa pasal atau bab
dalam Kitab Suci yang paling terkenal atau disukai.
Kitab Suci pada abad pertengahan umumnya ditulis dalam bahasa Latin. Begitu juga doa-
doa dan perayaan misa dengan bahasa Latin. Ternyata alasannya itu dilakukan bukan untuk
menyulitkan umat yang ingin membaca Kitab Suci, umat biasa dilarang boleh baca Kitab Suci.
Alasan yang benar adalah kebanyakan orang pada masa itu tidak mampu membaca, sementara

8
mereka yang bisa membaca, biasanya juga mengerti bahasa Latin (bahasa resmi untuk Gereja
pada waktu itu). Pun pula mereka yang bisa membaca lebih menyukai membaca Vulgata. Maka
waktu itu memang tidak ada alasan atau keberatan kalau Kitab Suci tidak diterjemahkan ke
bahasa-bahasa setempat secara besar-besaran. Tetapi sekarang situasinya telah berbeda.
Terjemahan KS ke berbagai bahasa, bahkan bahasa local berkembang sangat pesat.
8. Proses Pembagian Bab dan Ayat dalam Kitab Suci
Seperti sudah kita bicarakan di atas, Kitab Suci itu kumpulan sejumlah kitab dari zaman
berbeda, dan kemudian disatukan dalam susunan kanon. Jadi bisa kita bayangkan sekarang
betapa susahnya membaca teks Kitab Suci, walaupun hanya satu perikop pada waktu itu.
Naskah-naskah asli (kuno) Kitab Suci tidak ada penomoran pasal dan ayat seperti yang
sekarang ada di Kitab Suci kita. Pada zaman dahulu, naskah-naskah bahasa Ibrani dibagi atas
paragraf-paragraf (parashot), yang dibedakan dengan dua huruf abjad Ibrani, contohnya
huruf “Pe” menandai paragraf "terbuka" atau yang mulai dengan baris baru; sedangkan
huruf “Samekh” menandai paragraf "tertutup" yang dimulai pada baris yang sama setelah
sebuah spasi jeda. Atau juga tanda yang paling sering digunakan adalah tanda baca khusus “sof
passuq”, yaitu simbol untuk "tanda titik" untuk stop penuh atau ganti kalimat, mirip dengan
"tanda titik dua" (colon, ":") dalam ortografi huruf Latin.
Mencermati kerumitnya, Maka kalau Yesus bisa membaca Kitab Suci dan berkotbah
dengan baik, itu berarti Yesus adalah seorang yang benar-benar cerdas.
Dalam perkembangan selanjutnya, semua kitab kecuali yang pendek-pendek, sudah dibagi
dengan memakai sejumlah "pasal-pasal" atau bab, untuk satu halaman penuh. Ini dimulai sejak
awal abad ke-13 Masehi. Kemudian sejak pertengahan abad ke-16, tiap pasal atau bab barulah
dibagi lagi atas "ayat-ayat" yang terdiri dari beberapa baris atau kalimat pendek. Kadang-kala
satu kalimat dibagi atas beberapa ayat seperti Efesus 2:8-9 atau Efesus 3:1-3; dan kadang kala
terdapat lebih dari satu kalimat dalam satu ayat, seperti Kejadian 1:2. Karena itu penomoran
dengan pasal atau bab dan ayat itu disebut bagian parateks (teks yang ditambahkan atau yang
menyertai) Kitab Suci.
Adalah Uskup Agung Stephen Langton (Uskup Canterbury) dan Kardinal Hugo de Sancto
Caro mengembangkan suatu skema pembagian sistematik Kitab Suci di awal abad ke-13. Sistem
yang dibuat oleh Langton ini mendasari pembagian pasal atau bab dalam Kitab Suci pada
zaman modern.
Sedangkan untuk penomoran ayat-ayat Kitab Suci (versifikasi) terjadi bersamaan dengan
permulaan pencetakan dan penerjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa-bahasa lain. Untuk
Kitab Perjanjian Lama biasanya dilakukan dengan mengikuti tanda titik yang sudah ada pada
naskah Ibrani. Banyak pendapat ahli mengatakan ini merupakan jasa Rabbi Isaac Nathan ben
Kalonymus (pembuat konkordansi Kitab Suci pertama) pada sekitar tahun 1440.
Namun sebenarnya Orang pertama yang membagi pasal-pasal (bab) Kitab Suci Perjanjian
Baru ke dalam ayat-ayat adalah pakar Kitab Suci dari ordo Dominikan asal
Italia St.Pagnini (1470–1541), tetapi sistemnya tidak pernah dipakai luas. Orang berikutnya
adalah Robert Estienne yang membuat penomoran ayat dalam karyanya, “Perjanjian Baru
dalam bahasa Yunani”, edisi tahun 1551. Hasil kerja Robert Estienne inilah yang diterima luas,
dan sekarang digunakan dalam hampir semua Kitab Suci modern.
9. Kitab-kitab yang disahkan Gereja Katolik sebagai Kitab Suci
Jauh sebelum terjadi perpecahan oleh kelompok Protestan, ada banyak versi-versi Kitab
Suci yang beredar pada masa itu. Dan ada banyak juga kesalahan-kesalahan yang disengaja –
muncul kelompok heretic (penafsir dan pengajar sesat atau bidaah). Mereka itu sengaja
melawan Gereja dan menyebarkan ajaran-ajaran ciptaan sendiri. Tetapi Ada juga kesalahan-
kesalahan yang tidak disengaja, “human error”. Apalagi pekerjaan menyalin Kitab Suci itu
hanya dilakukan dengan tulisan tangan, ayat demi ayat, yang banyak menghabiskan waktu dan
tenaga.
Maka pada saat Konsili di Florence pada abad XV, Gereja Katolik menegaskan lagi
keputusan dari konsili-konsili sebelumnya, tentang kitab-kitab yang diterima sebagai Kitab
Suci.
9
Setelah peristiwa Reformasi Protestan, melalui Konsili Trente (1546), Gereja Katolik
mengeluarkan ketetapan baku (dekrit), yang mensahkan Vulgata (versi bahasa Latin) sebagai
satu-satunya versi yang diakui dan sah dipakai umat Katolik. Kitab Suci ini direvisi oleh Paus
Sixtus V (1590) dan juga oleh Paus Clement VIII (1593).
Tahap terakhirnya adalah pada waktu dilakukan konsili Vatikan I, kembali Gereja Katolik
menegaskan keputusan konsili-konsili sebelumnya tentang Kitab Suci.
Inilah Daftar Kitab yang diterima Gereja Katolik sebagai Kitab Suci dan ringkasan isinya.
Kitab Suci terdiri dari 2 jilid:
 Kitab Suci Perjanjian Lama
 Kitab Suci Perjanjian Baru
1) Perjanjian Lama :
Perjanjian lama ditulis dalam 3 bahasa: sebagian besar dalam bahasa Ibrani kuno
(akhir-akhir ini dipakai kembali sebagai bahasa nasional Isael), sebagian kecil ditulis dalam
bahasa Aram (yaitu Kitab Ezra dan sebagian Kitab Daniel), tetapi yang dalam bahasa Aram
tidak dipakai lagi saat ini. Bahasa Aram hanya dipakai sebagai bahasa harian pada zaman
Yesus. Sebagian kitab juga ditulis dalam bahasa Yunani (2Makabe dan Kitab
Kebijaksanaan Salomo).
 Pentateukh (Lima gulungan Kitab / Torah Musa): Kejadian, Keluaran, Imamat,
Bilangan, Ulangan.
 Kitab-kitab Sejarah: Mulai saat pendirian Israel, pembuangan ke Babel sampai
dengan menjelang Kristus: Yosua, Hakim-hakim, Ruth, Samuel, Raja-Raja,
Tawarikh, Esra dan Nehemia, Makabe, Tobit, Ester, Yudit.
 Kitab-kitab Sastra Kebijaksanaan: Mazmur, Ayub, Amsal, Pengkhotbah, Kidung
Agung, Kebijaksanaan Salomo, Yesus bin Sirakh
 Kitab Nabi-Nabi: Kitab nabi-nabi dikelompokkan menjadi dua berdasar banyaknya
atau panjangnya tulisan. Nabi-nabi besar (ada 4 Nabi): Yesaya, Yeremia,
Yehezkiel, Daniel. Nabi-nabi kecil (12 nabi): Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus,
Mikha, Nahum, Habakuk, Zafanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.
 Kitab Barukh dan Ratapan disendirikan: Barukh tentang kisah orang-orang Israel
perantauan menjelang perjanjian baru. Ratapan berisi kumpulan lagu dukacita atas
kehancuran Israel oleh Kerajaan Babel.
2) Perjanjian Baru :
a) Keempat Injil :
 Matius : ditujukan pada orang Israel yang telah percaya pada Yesus, entah di
Palestina atau diperantauan, Injil menekankan Yesus sebagai Raja yang mulia,
Sang Mesias dari Allah, Injil Matius dilambangkan dengan manusia bersayap.
 Markus : Injil markus adalah Injil yang pertama ditulis, Ia menulis untuk
seluruh warga Kristen yang masih baru, maka tujuan tulisannya pertama-tama
ingin meneguhkan jemaat Kristen perdana, karena itu bahasanya lebih
sederhana. Injil Markus menegaskan bahwa Yesus memang adalah “Yang
Terpilih”. Injil Markus dilambangkan dengan seekor Singa.
 Lukas : Injil Lukas ditulis bersama Kisah para Rasul, ditujukan bagi orang-
orang Kristen yang tersebar di luar Palestina, karena itu ia seringkali dalam
Injilnya menjelaskan berbagai tradisi orang Yahudi untuk para pembacanya. Ia
menyusun Injilnya dengan bahasa yang halus dan teliti (karena Lukas adalah
seorang terpelajar). Injil Lukas dilambangkan dengan seekor sapi jantan yang
bersayap.
 Yohanes: Injil Yohanes ditulis bersama-sama dengan 3 surat Yohanes dan
Kitab Wahyu. Injil ini ditujukan bagi pembaca kaum Yunani, karena itu
bahasanya sangat tinggi dan bernilai filsafat mendalam, menggunakan bahasa
yang sangat berbeda dengan ketiga Injil yang lain. Injil Yohanes menekankan
ajaran-ajaran Kristen mengenai keutamaan-keutamaan rohani di atas hal-hal

10
duniawi, karenanya Injil Yohanes dilambangkan dengan burung rajawali. Perlu
pelajaran khusus untuk mendalami Injil ini.
b) Kisah Para Rasul: Kisah jemaat perdana setelah Yesus naik ke surga. Mulai dari
persatuan jemaat mula-mula dengan umat Yahudi, pertobatan Paulus sampai
dengan terbentuknya jemaat Kristen dari kalangan luar Yahudi.
c) Surat-surat Paulus: terdiri dari surat-surat Paulus, kepada jemaat-jemaat Kristen di
luar Palestina, dengan masalahnya masing-masing yang khas, juga kepada orang-
orang tertentu yang dikenalnya: Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose,
Tesalonika, Timotius, Titus, Filemon. Surat kepada orang Ibrani disendirikan
karena diyakini tidak ditulis oleh Paulus, walaupun memakai ‘bahasa’ Paulus.
d) Surat-surat Katolik: Surat-surat para rasul kepada jemaat Kristen universal
(katolik), berisi ajaran dan anjuran tentang keutamaan-keutamaan Kristen:
Yakobus, Petrus, Yohanes, Yudas.
e) Wahyu kepada Yohanes: Kitab yang penuh simbol dan makna, tidak mudah
memahaminya, berisi tentang nubuat-nubuat dan tanda-tanda. Perlu pelajaran
khusus untuk mendalami Kitab ini, terutama Sejarah Kristen dan Filsafat Yunani
dan Ibrani.
3) Penjelasan Tentang Deuterokanonika :
 Disebut Apokrip oleh gereja protestan: Kitab yang dapat baik dibaca dipelajari tapi
bukan termasuk Kitab Suci.
 Diakui sebagai bagian dari Kitab Suci oleh Gereja Katolik, Anglikan dan Gereja
Ortodoks Yunani.
 Gereja Katolik meneruskan tradisi dan ketetapan jemaat Kristen perdana waktu itu,
sementara jemaat reformasi kembali menyesuaikan diri dengan daftar kitab yang
dikeluarkan oleh para ahli Yahudi tersebut.
4) Kesimpulan
a) Berdasarkan sejarah, yang disebut Kitab Suci adalah sebuah Kitab Gereja
Katolik.
b) Perjanjian Baru ditulis, disalin dan dikoleksi oleh umat Kristen Katolik.
c) Kanon resmi dari kitab-kitab yang membentuk Kitab Suci - Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru - ditentukan secara penuh kuasa oleh Gereja Katolik pada abad I
d) Oleh karena itu, dari Gereja Katolik-lah kaum Protestan bisa memiliki Kitab
Suci.
e) Menuruti akal sehat dan logika, Gereja Katolik yang memiliki otoritas untuk
menentukan Firman Allah yang infallible (tidak bisa sesat), pasti juga Gereja
Katolik memiliki otoritas yang infallible – (tidak bisa sesat), dan juga bimbingan
dari Roh Kudus.
f) Seperti telah kamu semua ketahui sekarang; kalau kita menolak ajaran oleh
Gereja Katolik, pastilah sama sekali kita tidak memiliki dasar untuk percaya
apakah tulisan dalam Kitab Suci benar Firman Allah yang asli atau tidak. Tetapi
kalau kita anda percaya kepada isi Kitab Suci sebagai yang benar, berarti kita
harus percaya kepada otoritas Gereja Katolik yang menjamin keaslian Kitab
Suci.
g) Makanya harus kamu tahu juga, sangat aneh kalau orang Protestan menerima
Kitab Suci tetapi menolak otoritas Gereja Katolik. Logikanya itu begini lhooo....
orang Protestan seharusnya tidak mengutip isi Kitab Suci sama sekali, karena
mereka tidak memiliki pegangan untuk menentukan kitab-kitab mana saja yang
asli, kecuali tentunya kalau mereka menerima kuasa pengajaran dari Gereja
Katolik.
h) Istilah Deuterokanonik (kanon kedua – pada abad XVI) ketika Martin Luther
(kelompok protestan) menolak Kitab PL dalam Septuaginta, yang diterjemahkan
dari bahasa Yunani. Protestan hanya mengakui Kitab PL dari bahasa Ibrani
(bahasa ibrani hanya dipakai oleh orang Yahudi), yang disebut sebagai
Protokanonik (kanon pertama).
i) Alasan Protestan mengikuti Hieronimus, kitab dalam bahasa Yunani boleh
dibaca untuk memberikan pengajaran dan teladan hidup, tetapi tidak boleh
11
dipandang sama seperti Kitab lainnya. Jadi hanya kitab dalam bahasa Ibrani
yang adalah Kitab Suci.
j) Katolik memakai kitab Deuterokanonik sama seperti kitab lainnya dalam Kitab
Suci, yaituu sebagai Sabda Allah. Katolik setia memakai kitab yang
diterjemahkan dari bahasa Yunani (bahasa resmi untuk semua pihak pada jaman
Yesus), yaitu Septuaginta, yang sudah dipakai sejak Gereja perdana, sebagai
Tradisi Iman. Sikap ini ditegaskan pada saat konsili Terente, bahwa kitab PL
ada 45 (termasuk Deuterokanonik).
k) Kaum Protestan menyebut kitab Deuterokanonik sebagai kitab apokrip (tidak
dikenal = tersembunyi). Tetapi sebenarnya dengan istilah apokrip, protestan mau
mengatakan dalam arti kitab pseudepigrapa (tiruan atau palsu). Sedangkan bagi
Katolik yang pantas disebut apokrip (palsu) adalah Injil Thomas, Injil
Magdalena, Injil Yudas, wasiat Musa, dll.
l) Selain kitab-kitab Deuterokanonik, Martin Luther (penggagas kelompok
Protestan) juga menolak empat kitab dalam Perjanjian Baru, yaitu: Surat Ibrani,
Surat Yakobus, Surat Yudas, dan Kitab Wahyu. Keempatnya hanya dilihat
sebagai lampiran atau tambahan pada PB, sama dengan ketujuh kitab
Deuterokanonik dalam PL.
m) Gereja Katolik sudah menetapkan secara permanen Kanon Kitab Suci pada
konsili Trente 8 April 1546, dalam dekrit De Canonicis Scripturis (tentang Kanon
Kitab Suci). Penetapan ini hanya menegaskan dari apa yang sudah dihayati dan
diakui sejak jaman Para Rasul.
10. Perbedaan dan Persamaan Antara Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB)
Perbedaan yang dimaksud bukan berarti adanya pertentangan, saling berlawanan.
Perbedaan keduanya lebih dalam hal jangkauan dan keluasan pembahasannya, namun
demikian PL dan PB tidak saling bertentangan.
Sementara Persamaan antara PL dan PB tidak dimaksudkan bahwa keduanya untuk
sejajar dalam kedudukan dan nilainya begitu saja. Persamaan yang dimaksud bahwa PL dan PB
adalah dua “perjanjian” yang kebenarannya saling menguatkan satu dengan yang lain.
Contoh perbedaan PL dan PB:
a. PL bercerita tentang hubungan Allah dengan bangsa Israel, tetapi PB lebih banyak
bercerita tentang hubungan Allah (melalui Yesus dan Para Rasul) dengan jemaat-
Nya (gereja-Nya).
b. PL menolong kita mengerti sifat-sifat Allah yang suci, adil dan benar, tetapi PB
lebih menekankan kepada sifat-sifat Allah yang kasih, sabar dan pemurah.
c. PL memberikan panggilan keselamatan dari satu orang (Abraham) kepada satu
bangsa (Israel). Tetapi PB memberikan panggilan keselamatan dari satu bangsa
(Israel) kepada bangsa-bangsa lain.
d. PL memberikan gambaran penebusan dosa melalui korban bakaran yang tidak
sempurna karena harus dilakukan berkali-kali, tetapi PB memberikan aplikasi
penebusan yang sempurna dalam Yesus Kristus, yang dilakukan sekali dan untuk
selama-lamanya.

Contoh persamaan PL dan PB:


a. PL percaya pada Allah sebagai Pencipta alam semesta dan isinya demikian juga
PB.
b. PL menceritakan tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa, PB menegaskan
bahwa dosa telah menguasai manusia.
c. PL mencatat bagaimana Allah menyatakan Diri-Nya dan kehendak- Nya dan PB
secara konsisten melihat penyataan Diri Allah itu secara lebih luas dan lengkap.
d. PL melihat bayang-bayang janji keselamatan, PB melihat fakta janji keselamatan
itu dengan jelas.
12
e. PL membicarakan nubuat Mesias yang akan datang sedangkan PB menggenapkan
nubuat datangnya Mesias di dalam Yesus Kristus.

11. Bagaimana Membaca PL dan PB dalam Kitab Suci


PL dan PB adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. PL dan PB yang berdiri
sendiri adalah seperti satu bagian cerita yang belum selesai atau seperti satu pembahasan yang
tidak memiliki kesimpulan (konklusi).
PL adalah sepenuhnya Firman Allah, yang berisi cara Allah memperkenalkan Diri- Nya
dan rencana-Nya. Poin penting inilah yang dikembangkan dan terus menerus semakin diperjelas
dan dipertegas dengan lebih lengkap sampai kepada puncaknya, yaitu ketika Allah
memperkenalkan Diri-Nya dalam Yesus Kristus di Perjanjian Baru. Maka Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru adalah Firman Allah, dan masing-masing adalah “bagian” dari Kebenaran
Firman Allah. Tetapi kamu harus tahu dengan baik ya, yang disebut “bagian” bukanlah
keseluruhan. Itu berarti baru akan lengkap dan sempurna kalau antara PL dan PB itu dibaca
dalam satu kesatuan. PB jelas tidak lengkap tanpa PL. Ketergantungan PB pada PL ditunjukkan
bahkan dari pertama halaman kitab PB dimulai. Contohnya, Mat. 1:1 "Inilah silsilah Yesus...." .
Hal ini baru akan menjadi jelas bagi pembaca jika ia terlebih dahulu membaca dan mempelajari
PL.
PL ingin memimpin pembacanya kepada Kristus, sebagai puncak berita yang ingin
disampaikan oleh Kitab Suci; karena Yesus Kristus itu pengantara bagi Perjanjian yang baru
(Ibr. 9:15). Seluruh rangkaian peristiwa PL, juga termasuk pengajaran-pengajaran hukum dan
nubuat-nubuat yang disampaikan oleh para nabi-nabi PL; semuanya itu (baik secara langsung
maupun tidak langsung) menunjuk kepada gambaran akan kedatangan, hidup dan misi Kristus
di dunia ini.
Ada beberapa inti kesimpulan harus diperhatikan kalau kita membaca baik PL dan PB,
yaitu:
a. Yesus adalah pusat dari sejarah PL . Ketika berjalan dengan dua murid di jalan
Emaus, Lukas mencatat bahwa "Ia (Yesus) menjelaskan kepada mereka apa YANG
TERTULIS TENTANG DIA dalam SELURUH KITAB SUCI, mulai dari KITAB-
KITAB MUSA dan segala KITAB NABI-NABI."
b. Yesus adalah penggenapan Hukum Taurat. Dalam Mat. 5:17 Yesus berkata, "jangan
kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan HUKUM TAURAT atau
KITAB PARA NABI. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk
menggenapinya."
c. Yesus adalah penggenapan dari nubuat-nubuat PL. Tuhan Yesus berkata kepada 10
murid-Nya yang dicatat di Lukas 24:44-47, "Inilah perkataan-Ku, yang telah
Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama dengan kamu, yakni bahwa harus
digenapi semua YANG ADA TERTULIS tentang AKU dalam KITAB TAURAT
MUSA dan KITAB NABI-NABI DAN KITAB MAZMUR. Lalu Ia membuka
pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: Áda
tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada
hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan
pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem."
d. Namun suatu teguran yang sangat ironis karena sekalipun Allah telah menyatakan
maksud rencana-Nya dalam Yesus Kristus melalui para nabi dan utusan-utusan-Nya,
bangsa Yahudi tetap saja menolak Yesus dan tidak mau menerima Dia. Seperti yang
dikatakan dalam Yoh. 5:39.40, ketika Yesus sedang bercakap-cakap dengan orang-
orang Yahudi, Ia berkata: "Kamu menyelidiki KITAB-KITAB SUCI, sebab kamu
menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun

13
Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu TIDAK MAU
DATANG KEPADA-KU untuk memperoleh hidup itu."
e. Oleh karena itu pada bahasan yang terakhir ini, marilah kita menyadari betapa
pentingnya menempatkan Kristus sebagai pusat sejarah PL dan PB. Karena di dalam
Kristuslah kita dapat melihat kepenuhan Allah dinyatakan. Biarlah mulai saat ini kita
bisa melihat PL dengan terang PB, supaya kita dapat menggali kekayaan Firman
Tuhan (Alkitab) dengan sebaik mungkin.

12. Catatan Tambahan cara membaca teks:


1. Luk. 3:1 - dibaca: Injil menurut Santo Lukas bab 3, ayat 1.
2. Luk. 3:1-10 - dibaca: Injil menurut Santo Lukas bab 3, ayat 1 sampai ayat 10.
3. Luk. 3:1-10. 15 - dibaca: Injil menurut Santo Lukas bab 3, ayat 1 sampai ayat 10, dan
ayat 15.
4. Luk. 3:1-10. 15. 4:1 - dibaca: Injil menurut Santo Lukas bab 3, ayat 1 sampai ayat 10,
dan ayat 15, dilanjutkan bab 4, ayat 1
5. 1 Yoh. 2:1-4 - dibaca: Surat Pertama Rasul Yohanes bab 2, ayat 1 sampai ayat 4
6. 3 Yoh 1-4 - dibaca: Surat ketiga Rasul Yohanes ayat 1 sampai ayat 4 (karena surat ini
hanya punya 1 bab saja, jadi bab tidak disebut).
7. Fil. 1-3 - dibaca: Surat Rasul Paulus kepada Filemon ayat 1 sampai ayat 3.
8. 2 Tes. 1:1-5 - dibaca: Surat kedua Rasul Paulus kepada umat di Tesalonika bab 1,
ayat 1 sampai ayat 5
9. Ibr. 1:1-4 - dibaca: Surat kepada Orang Ibrani bab 1, ayat 1 sampai ayat 4
10. Kej. 1:1-10 - dibaca: Kitab Kejadian bab 1, ayat 1 sampai ayat 10.
11. Yes. 1:1-10 - dibaca: Kitab (Nubuat) Yesaya bab 1, ayat 1 sampai 10
12. 1 Sam. 1:1-10 - dibaca: Kitab Pertama Samuel bab 1, ayat 1 sampai 10
13. 2 Taw. 1:1-10 - dibaca: Kitab Pertama Tawarikh bab 1, ayat 1 sampai 10
14. Kis. 1:1-10 - dibaca: (Kitab) Kisah Para Rasul bab 1, ayat 1 sampai 10.

14
BAB II
MEMAHAMI KITAB SUCI
MENURUT AJARAN GEREJA KATOLIK
1. Pengantar: Mengapa kita harus membaca dan belajar Kitab Suci?
Manusia mengalami banyak kesulitan untuk mengenal Allah, jika ia hanya mengandalkan
akal budinya. Oleh karena itu, diperlukan Wahyu Ilahi untuk menerangi manusia, tidak hanya
untuk menerangi akal budinya, tetapi juga untuk mengenal persoalan agama dan susila (bdk.
KGK, 37-38). Salah satu sumber yang dapat menolong manusia untuk mengenal Allah adalah
Kitab Suci. Kitab Suci memberi sokongan dan tenaga kepada kehidupan Gereja. Kitab Suci
adalah penguat iman, makanan bagi jiwa dan mata air bagi kehidupan rohani. Kitab Suci
adalah jiwa bagi teologi dan pewartaan pastoral. Kitab Suci adalah “Pelita bagi kakiku dan
terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105). Oleh karena itu, Gereja mendorong para pengikutnya
untuk sentiasa membaca Kitab Suci (bdk. KGK. 131-133, 141-142 ). Apa yang dikatakan oleh
Katekismus tersebut merupakan jawaban dari pertanyaan di atas.
1.1. Apakah Kitab Suci itu?
Kitab Suci adalah “Wahyu Allah”. Wahyu atau pernyataan Allah tentang diri-Nya ini tidak
terlepas dari kenyataan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (bdk. Kej 1:
26). Artinya kita adalah mahluk rohani yang diciptakan menurut gambaran Allah, yang
dilengkapi oleh akal budi dan kehendak bebas, sehingga kita dapat mengetahui, memilih dan
mengasihi. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa Tuhan Sang Pencipta itu ada,
dengan melihat segala ciptaan-Nya yang ada di sekitar kita. Tuhan juga dapat kita kenal melalui
suara hati nurani kita. Melalui hati nurani, kita dapat membedakan hal yang benar dan yang
salah. Tuhan juga secara khusus memberikan wahyu kepada kita untuk mencapai tujuan akhir
yang direncanakan-Nya melalui para nabi, yang mencapai puncaknya di dalam Yesus Kristus
Putera-Nya, dan kemudian dilanjutkan oleh para rasul Kristus. Wahyu ini disebut Wahyu
umum.

Berdasarkan cara menyampaikannya Wahyu umum dibagi menjadi dua bentuk: yaitu Kitab
Suci (tertulis) dan Tradisi Suci (lisan). Kitab Suci adalah Wahyu ilahi yang disampaikan secara
tertulis di bawah inspirasi Roh Kudus. Sementara Tradisi Suci adalah Wahyu ilahi yang tidak
tertulis, yang diturunkan oleh para rasul sejak awal oleh inspirasi Roh Kudus, sesuai dengan apa
yang mereka terima dari Yesus dan diteruskan oleh Gereja Katolik. Gereja Katolik mengajarkan
bahwa untuk menerima wahyu Allah secara lengkap, kita membutuhkan Kitab Suci, Tradisi
Suci, dan wewenang mengajar Gereja (Magisterium). Ketiga hal ini disebut sebagai pilar iman,
yang ditujukan untuk menjaga dan mengartikan wahyu publik dari Allah dengan murni.
1.2. Kitab Suci: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
Kitab Suci merupakan Sabda Allah yang melukiskan rencana keselamatan Allah yang
dimulai sejak awal mula penciptaan dunia, sampai penggenapannya di dalam diri Kristus. Oleh
karena itu, untuk mempelajari Kitab Suci, kita perlu melihat hubungan erat antara Perjanjian
Lama (sebelum kedatangan Kristus) dan Perjanjian Baru (saat dan setelah kedatangan Kristus),
dan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya, untuk mendapat pengertian yang
menyeluruh dan pemahaman yang benar akan Sabda Allah itu. Perjanjian Lama melatar-
belakangi Perjanjian Baru, satu kesatuan dengan Perjanjian Baru. Sebab “Perjanjian Baru
terselubung dalam Perjanjian Lama, dan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru.”
(Katekismus Gereja Katolik, 129).
1.3. Penulisan Kitab Suci melibatkan akal budi para penulisnya
Kitab Suci merupakan Sabda Allah yang disampaikan melalui tulisan para penulis kitab.
Mereka ditunjuk oleh Allah untuk menuliskan apa yang diinginkan Allah sendiri (KGK, 106).
Sang penulis lalu menuliskan apa yang dikehendaki Allah dengan melibatkan kemampuannya,
seperti gaya bahasa, cara penyusunan, latar belakang budaya, dst. Kitab Suci ditulis oleh
banyak orang dengan gaya dan bentuknya masing-masing. Meskipun demikian, Kitab Suci
harus dilihat sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi, yang mengungkapkan kehendak
dari Allah yang satu dan sama.
15
1.4. Kitab Suci itu diberikan kepada Gereja Katolik sebagai pedoman
Rasul Paulus menegaskan: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk
mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam
kebenaran” (2 Tim 3:16). Penegasan St. Paulus ini merupakan dasar, mengapa kita harus belajar
Kitab Suci. Kitab Suci mendapatkan tempat yang sangat penting dalam Gereja Katolik. Hal ini
dapat kita lihat dari berbagai dokumen Gereja yang senantiasa bersumber pada Kitab Suci.
Peran penting Kitab Suci juga ditunjukan dalam perayaan liturgi Gereja Katolik. Paus
Benediktus XVI dalam pengajaran apostoliknya,Verbum Domini, mengajarkan bahwa Kitab Suci
mendapatkan tempat di dalam sakramen-sakramen, liturgi, brevier, buku-buku doa dan
pemberkatan, lagu-lagu, dll. (lih. Verbum Domini, 52- 71)
2. Prinsip umum belajar Kitab Suci
2.1. Gereja ada terlebih dahulu sebelum Kitab Suci.
Sejarah Gereja kita menunjukan bahwa Tradisi Suci, yaitu pengajaran iman Kristiani yang
berasal dari pengajaran lisan Kristus dan para rasul itu sudah ada terlebih dahulu daripada
pengajaran yang tertulis. Demikian pula, Gereja sudah ada terlebih dahulu sebelum keberadaan
kitab-kitab Perjanjian Baru. Yesus tidak membentuk Kitab Suci, namun Yesus membentuk
Gereja, yang Ia dirikan di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18). Gereja pulalah yang menentukan
kanon seluruh Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Para pengarang/
penulis suci dari kitab-kitab Perjanjian Baru adalah para anggota Gereja yang diilhami oleh
Tuhan, sama seperti para penulis suci yang menuliskan kitab-kitab Perjanjian Lama.
2.2. Kitab Suci menegaskan pentingnya Tradisi Suci
Jemaat Perdana “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul,…” (lih. Kis 2:42; 2 Tim 1:14). Hal
ini sudah terjadi sebelum kitab Perjanjian Baru ditulis, jauh sebelum kanon Perjanjian Baru
ditetapkan (akhir abad IV). Kitab Suci juga mengatakan bahwa pengajaran Para Rasul
disampaikan secara lisan, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi,
percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2
Tim 2:2). Pengajaran para rasul tersebut disampaikan “baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2
Tes 2:15). Ajaran yang diteruskan/ diberitakan melalui pewartaan Para Rasul inilah yang
disebut dengan Tradisi suci (1 Kor 11:2, 23; 2 Yoh 12, 3 Yoh 13). “Masih banyak hal-hal lain lagi
yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya
dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25).
Apa yang ditegaskan oleh teks-teks Kitab Suci (PB) di atas menunjukan kepada kita bahwa
Kitab Suci sendiri memberikan informasi yang kuat mengenai tradisi suci yang dibuat dan
dihidupi oleh Para Rasul, dan hal itu mereka teruskan kepada Gereja, baik di awal
pembentukan Gereja, maupun sampai ke zaman kita saat ini. Jika dahulu tradisi itu diteruskan
oleh Para Rasul, maka saat ini tradisi tersebut dirawat dan diteruskan oleh Gereja melalui para
Uskup, pengganti para Rasul.
2.3. Kitab Suci memerlukan otoritas untuk mengajarkannya.
Rasul Petrus mengatakan bahwa ada hal-hal di dalam Kitab Suci yang memang sulit untuk
dicerna, dan ketidakhati-hatian dalam penafsiran akan mendatangkan kesalahan yang fatal (lih.
Kis 8:30-31; 2 Pet 1:20-21; 2 Pet 3:15-16). Banyak agama lain yang menggunakan Kitab Suci
untuk menentang kebenaran iman kita, khusunya tentang Tritunggal Maha Kudus, dan bahwa
Yesus adalah sungguh- sungguh Tuhan. Bahkan sesama kristiani kita sendiri (Protestan) sering
menyerang Gereja Katolik dengan menggunakan Kitab Suci, mis. Tentang Bunda Maria. Hal
itu terjadi karena mereka salah dalam membaca Kitab Suci. Kitab Suci tidak boleh dimengerti
seenaknya saja. Apalagi menelan bulat-bulat kata-kata atau kalimat yang ada di dalamnya. Kita
hanya dapat memahami pesan Kitab Suci dengan baik dan benar, jika kita memiliki
pengetahuan yang cukup tentangnya.

2.4. Kristus memberikan otoritas kepada Gereja – mulai dari Para Rasul-Nya untuk mengajar
dalam nama-Nya.
Gereja bertahan sampai pada akhir zaman, oleh karena Kristus melalui kuasa Roh Kudus
menjaganya dari kesesatan (lih. Mat 16:18; 18:18; 28:19-20; Luk 10:16; Yoh 14:16). Dalam
pesan-Nya sebelum naik ke Surga, Tuhan Yesus mengatakan: "Karena itu pergilah, jadikanlah
16
semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah
mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai
kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat 28:19). Dan kepada Petrus Ia berpesan:
“Engkaulah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan Gereja-Ku, dan alam maut takkan
menguasainya. Kepadamu akan kuberikan kunci Kerajaan Sorga, dan apa yang kauikat di dunia ini
akan terikat di sorga, dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga (Mat 16:18-19).
Kutipan teks Kitab Suci di atas menegaskan tentang peran utama para Rasul untuk
mengajar dan membaptis. Tugas kepemimpinan diserahkan kepada Petrus. Petrus adalah
pemegang kunci Kerajaan Surga, yang menentukan orang untuk dapat masuk ke sana atau
tidak! Orang orang yang terikat oleh ajaran para Rasul, dan dalam wibawa Petrus-lah yang
dapat masuk ke Kerajaan Surga. Wibawa dan otoritas para Rasul ini kini hadir nyata dalam diri
Paus dan para Uskup. Paus di dalam dirinya, dan dalam kebersamaan dengan para Uskup
(dalam Konsili) memiliki kuasa mengajar yang tidak dapat salah (infalibilitas), karena diinginkan
oleh Tuhan Yesus sendiri, melalui kuasa Roh Kudus yang menaungi mereka. Inilah yang
disebut dengan kuasa mengajar Gereja atau Magisterium.
Magisterium/ Wewenang mengajar ini hanya ada untuk melayani Sabda Allah, sehingga ia
tidak berada di atas Kitab Suci maupun Tradisi Suci, namun melayani keduanya. Tugas
mengajar ini sama sekali tidak mengubah atau berbeda dengan Kitab Suci dan Tradisi, tetapi
menjaga dan mengawasi. Sama seperti seorang wasit dalam pertandingan olahraga, tidak
menciptakan aturan baru, tetapi menjaga agar peraturan yang sudah ditetapkan dijalankan
dengan sebaik-baiknya oleh pemain dalam pertandingan.
Paus Benediktus XVI dalam pengajaran Apostoliknya, Verbum Domini, menegaskan bahwa
apa yang tertulis di dalam Kitab Suci bukanlah sesuatu yang dapat diinterpretasikan oleh
masing-masing individu dengan bebas tanpa melihat apa yang menjadi pandangan Gereja.
Sabda Allah yang bersumber pada Roh Kudus diberikan kepada Gereja. Oleh Roh Kudus,
Gereja menentukan buku-buku yang masuk ke dalam kanon Kitab Suci. Dengan demikian,
Gereja mempunyai otoritas untuk menginterpretasikan Kitab Suci sesuai dengan maksud yang
ingin disampaikan oleh Roh Kudus (lih. Verbum Domini, 29-30). Atau seperti apa yang
dikatakan oleh St. Agustinus: “Saya tak akan dapat percaya kepada Injil, jika saya tidak
dibimbing oleh otoritas Gereja Katolik untuk melakukannya”.
Sejarah mencatat bahwa Kitab Suci yang ada pada kita sekarang terbentuk pertama kali
menurut kanon yang ditetapkan oleh Paus Damasus pada tahun 382, Konsili Hippo (393),
Carthago (397) dan Kalsedon/ Chalcedon (451) yang kemudian diteguhkan oleh banyak konsili
sampai Konsili Trente (1545- 1563). Maka jelas sekali bahwa Gereja-lah, yang atas ilham Roh
Kudus, menentukan kitab-kitab mana saja yang dapat menjadi Kitab Suci. Sebelum Kitab Suci
ditulis, Gereja mengandalkan Tradisi Suci, yaitu pengajaran lisan para rasul. Gereja-lah yang
menjadi tiang penopang dan tonggak kebenaran (bdk. 1Timoteus 3:15). Jadi jika ada orang yang
mengatakan bahwa Kitab Suci saja “cukup” (hanya satu-satunya) sebagai pedoman iman, itu
tidaklah benar, sebab asal mula Kitab Suci itu sendiri melibatkan Tradisi Suci dan Gereja, yang
dipimpin oleh Magisterium.
2.5. Kitab Suci: menyelesaikan masalah Jemaat berdasarkan Tradisi Suci.
Saat terjadi krisis dalam Jemaat Perdana (Tahun 40-an – tentang sunat), kitab Perjanjian
Baru belum ada. Namun atas inspirasi Roh Kudus, dan atas kesaksian Rasul Petrus, maka
Konsili Yerusalem menetapkan bahwa sunat tidak lagi diperlukan bagi para pengikut Kristus
(Kis 15). Konsili Yerusalem menterjemahkan kembali tradisi sunat dalam Perjanjian Lama (lih.
Kej 17, Kel 12:48). Di dalam Konsili itu, para Rasul dan pemimpin Gereja lainnya berkumpul
untuk memeriksa Sabda Tuhan, yang tertulis atau yang tidak, dan membuat suatu pengajaran
apostolik sesuai dengan ajaran Kristus. Maka di sini terlihat jelas bahwa Gereja adalah “tiang
penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15). Kristus memeritahkan para Rasul untuk
mendirikan Gereja. Dan Ia mempercayakan kepada Gereja untuk mengajar dan menafsirkan
semua firman-Nya.

17
3. Prinsip untuk menafsirkan Kitab Suci
Konsili Vatikan II mengajarkan tiga cara umum untuk menafsirkan Kitab Suci sesuai
dengan inspirasi Roh Kudus:
3.1. Memperhatikan isi dan kesatuan seluruh Kitab Suci
Untuk mengerti dan mengartikan ayat-ayat dalam Kitab Suci, kita hraus menempatkannya
sesuai dengan pesan Kitab Suci secara keseluruhan. Mengartikan satu paragraf atau bahkan satu
kalimat saja namun tidak memperhatikan kaitannya dengan ayat yang lain, dapat
mengakibatkan kesalahan/kesesatan. Contohnya, seorang atheis mengutip Mzm 14:1, dan
berkata “Tidak ada Allah”. Tetapi sebenarnya, keseluruhan kalimat itu berkata, “Orang bebal
berkata dalam hatinya: “Tidak ada Allah”. Maka arti yang disampaikan dalam Kitab Suci tentu
sangat berbeda dengan pengertian orang atheis tersebut.
3.2. Membaca Kitab Suci dalam terang Tradisi hidup seluruh Gereja
Gereja mengajarkan bahwa kita harus menginterpretasikan Kitab Suci sesuai dengan
Tradisi hidup seluruh Gereja, sebab “Kitab Suci terlebih duhulu ditulis di dalam hati Gereja
daripada di atas perkamen (kertas dari kulit)” (Dei Verbum, 16). Di dalam Tradisi Suci inilah
Roh Kudus menyatakan Sabda Allah dan makna rohani dari Kitab Suci. Tradisi Suci tercermin
dari tulisan Para Bapa Gereja, dan ajaran- ajaran definitif yang ditetapkan oleh Magisterium,
seperti yang dihasilkan dalam Konsili-konsili, Bapa Paus maupun yang dijabarkan dalam
doktrin Gereja.
3.3. Memperhatikan “analogi iman”
Analogi iman maksudnya bahwa wahyu Allah berisi kebenaran- kebenaran yang
tetap/tidak berubah dan tidak bertentangan satu sama lain. Gereja Katolik percaya bahwa Roh
Kudus yang meng-inspirasikan Kitab Suci, juga membimbing dan menjaga Tradisi Suci serta
tugas mengajar Gereja (Magisterium). Maka tidak mungkin ajaran Gereja Katolik bertentangan
dengan Kitab Suci, karena Roh Kudus tidak mungkin bertentangan dengan diri-Nya sendiri.
Karena Gereja menjaga kemurnian ajaran dalam Kitab Suci, maka untuk menafsirkan Kitab
Suci, kita harus melihat kaitannya dengan ajaran/ doktrin Gereja.
Analogi iman yang berdasarkan ajaran Gereja berperan sebagai “penjaga” yang membantu
kita agar kita tidak sampai salah jalan dalam menafsirkan Kitab Suci. Kita mempunyai
kebebasan dalam menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci. Namun agar kita tidak salah, maka kita
harus setia berpegang pada pengajaran Gereja. Magisterium inilah yang bertugas menafsirkan
Sabda Allah dengan tepat dan asli, baik yang tertulis (Kitab Suci) maupun yang lisan (Tradisi
Suci), agar dapat diteruskan sesuai dengan yang diterima oleh para rasul.
3.4. Menghindari penafsiran sekular dan fundamentalis
Paus Benediktus XVI dalam Ekshortasi Apostolik, Verbum Domini mengingatkan dua
kesalahan fatal yang tidak boleh dilakukan oleh umat Katolik dalam memahami Kitab Suci.
Dua kesalahan itu adalah metode sekular dan metode fundamentalisme.
Metode sekular hanya menekankan sisi sejarah dari Kitab Suci. Kitab Suci hanya dilihat
sebagai buku dari masa lampau yang tidak mempunyai kaitan dengan saat ini. Metode ini
mengesampingkan sisi-sisi Ilahi dari Kitab Suci dan menolak campur tangan Tuhan dalam
sejarah manusia (bdk. Verbum Domini, 35). Menyandarkan metode ilmiah (tanpa iman) dalam
memahami Kitab Suci membuat Kitab Suci hanya menjadi buku sejarah atau buku sastra biasa.
Metode fundamentalisme mengambil kata demi kata di Kitab Suci dan menganggap bahwa
kata-kata tersebut didikte langsung oleh Tuhan. Metode ini menolak peran penulis Kitab Suci
dan wewenang Gereja sebagai pemberi interpretasi Kitab Suci yang otentik. Mereka
menganggap bahwa interpretasi merakalah yang paling benar. Metode ini tidak melihat Sabda
Allah secara keseluruhan.
Perlu diingat bahwa Kitab Suci mempunyai dua macam arti, yakni: ‘literal/ harafiah’ dan
‘spiritual/ rohaniah’. Arti rohaniah dibagi menjadi tiga macam, yaitu: alegoris, moral dan
anagogis (bdk. KGK, 115-117; Verbum Domini, 37).

18
Keempat macam arti ini secara jelas menghubungkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
a. Arti literal/ harafiah: berdasarkan atas penuturan teks yang ada secara tepat. St.
Thomas Aquinas mengatakan: “Tiap arti [Kitab Suci] berakar di dalam arti harafiah” (St.
Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I, I, q10 ad 1). Jadi dalam membaca Kitab suci,
kita harus mengerti akan arti kata-kata yang dimaksud secara harafiah yang ingin
disampaikan oleh pengarangnya, baru kemudian kita melihat apakah ada maksud
rohani yang lain. Arti rohani ini timbul berdasarkan arti harafiah.
b. Arti alegoris: arti yang lebih mendalam yang diperoleh dari suatu kejadian. Arti ini
menghubungkan peristiwa PL dengan pemenuhannya dalam PB. Contohnya:
1) Penyeberangan bangsa Israel melintasi Laut Merah adalah tanda kemenangan
yang diperoleh umat beriman melalui Pembaptisan (lih.Kel14:13-31; 1Kor 10:2).
2) Kurban anak domba Paska di Perjanjian Lama merupakan gambaran kurban
Yesus Sang Anak Domba Allah pada Perjanjian Baru (Kel 12: 21-28; 1 Kor 5:7).
3) Abraham yang rela mengurbankan anaknya Ishak adalah gambaran dari Allah
Bapa yang rela mengurbankan Yesus Kristus Putera-Nya (Kej 22: 16; Rom
8:32).
4) Tabut Perjanjian Lama adalah gambaran dari Bunda Maria, Sang Tabut
Perjanjian Baru. Karena pada tabut Perjanjian Lama tersimpan dua loh batu
kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16), roti manna (Kel 25:30), tongkat Harun
sang imam(Ibr 9:4); sedangkan pada rahim Maria Sang Tabut Perjanjian Baru
tersimpan Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Roti Hidup (Yoh
6:35), Sang Imam Agung (Ibr 8:1).
c. Arti moral: arti yang mengacu kepada hal-hal yang baik yang ingin disampaikan
melalui kejadian-kejadian di dalam Kitab Suci. Hal-hal itu ditulis sebagai “contoh bagi
kita …sebagai peringatan” (1 Kor 10:11).
1) Ajaran Yesus agar kita duduk di tempat yang paling rendah jika diundang ke
pesta (Luk 14:10), maksudnya adalah agar kita berusaha menjadi rendah hati.
2) Peringatan Yesus yang mengatakan bahwa ukuran yang kita pakai akan
diukurkan kepada kita (Mrk 4: 24) maksudnya agar kita tidak lekas menghakimi
orang lain.
3) Melalui mukjizat Yesus menyembuhkan dua orang buta, yang berteriak-teriak,
“Yesus, Anak Daud, kasihanilah kami!” (Mat 20: 29-34) Yesus mengajarkan
agar kita tidak lekas menyerah dalam doa permohonan kita.
d. Arti anagogis: arti yang menunjuk kepada surga sebagai ‘tanah air abadi’. Contohnya:
1) Gereja di dunia ini melambangkan Yerusalem surgawi (lih. Why 21:1-22:5).
2) Surga adalah tempat di mana Allah akan menghapuskan setiap titik air mata
(Why 7:17).
Bagaimana menginterpretasikan Kitab Suci dengan menggunakan ke-4 prinsip di atas?
Contoh: Keluaran bab 16, Allah menurunkan Manna di Padang Gurun.
 Secara harafiah, memang Allah memberi makan bangsa Israel dengan manna yang turun
dari langit selama 40 tahun saat mereka mengembara di padang gurun.
 Secara alegoris, roti manna menjadi gambaran Ekaristi, di mana Yesus sebagai Roti
Hidup adalah Roti yang turun dari surga (Yoh 6:51), menjadi santapan rohani kita umat
beriman yang masih berziarah di dunia ini.
 Secara moral, kisah ini mengajarkan kita untuk tidak cepat mengeluh dan bersungut-
sungut (Kel 16:2-3) kepada Allah. Umat Israel yang bersungut-sungut akhirnya dihukum
Allah sehingga tak ada dari generasi mereka yang dapat masuk ke tanah terjanji (selain
Yoshua dan Kaleb).
19
 Secara anagogis, kita diingatkan bahwa seperti roti manna yang berhenti diturunkan
setelah bangsa Israel masuk ke Tanah Kanaan, maka Ekaristi-pun akan berakhir pada
saat kita masuk Surga, yaitu saat kita melihat Tuhan dalam keadaan yang sebenarnya (1
Yoh 3:2).
5. Peran Gaya Bahasa dalam Kitab Suci
Seperti halnya pada karya tulis pada umumnya, peran gaya bahasa juga sangat penting
dalam Kitab Suci. Mengapa? Karena Allah berbicara kepada kita dengan menggunakan bahasa
manusia. Oleh karena itu kita perlu memahami gaya bahasa yang digunakan, agar dapat lebih
memahami isinya. Gaya bahasa yang digunakan dalam Kitab Suci tidaklah rumit, sehingga
siapa saja dapat menangkap maksudnya. Namun ada beberapa perikop dalam dalam Kitab Suci
yang menuntut kita untuk belajar lebih, khususnya soal gaya bahasa yang digunakannya. Gaya
bahasa yang dimaksud adalah sbb:
 Simili: adalah perbandingan langsung antara kedua hal yang tidak serupa. Misalnya, pada
kitab Dan 2:40, digambarkan kerajaan yang ke-empat ‘yang keras seperti besi’, maksudnya
adalah kekuatan kerajaan tersebut, yang dapat menghancurkan kerajaan lainnya.
 Metafor: adalah perbandingan tidak langsung dengan mengambil sumber sifat-sifat yang
satu dan menerapkannya pada yang lain. Contohnya, “Jiwaku haus kepada Allah Yang
hidup” (Mzm 42:3). Sesungguhnya, jiwa yang adalah rohani tidak mungkin bisa haus,
seperti tubuh haus ingin minum. Jadi ungkapan ini merupakan metafor untuk menjelaskan
kerinduan jiwa kepada Allah.
 Bahasa perkiraan: adalah penggambaran perkiraan, seperti jika dikatakan pembulatan
angka-angka perkiraan. Misalnya,“Yesus memberi makan kepada lima ribu orang laki-
laki” (Mat 14: 21; Mrk 6:44; Luk 9:14; Yoh 6:10) dapat berarti kurang lebih 5000 orang,
dapat kurang atau lebih beberapa puluh.
 Bahasa fenomenologi: adalah penggambaran sesuatu seperti yang nampak, dan bukannya
seperti mereka adanya. Kita mengatakan ‘matahari terbit’ dan ‘matahari terbenam’,
meskipun kita mengetahui bahwa kedua hal tersebut merupakan akibat dari perputaran
bumi. Demikian juga dengan ucapan bahwa ‘matahari tidak bergerak’ (Yos 10: 13-14).
 Personifikasi/ antropomorfis : adalah pemberian sifat-sifat manusia kepada sesuatu yang
bukan manusia. Contohnya adalah ungkapan ‘wajah Tuhan’ atau ‘tangan Tuhan’ (Kel 33:
20-23), meskipun kita mengetahui bahwa Tuhan adalah Allah adalah Roh (Yoh 4:24)
sehingga tidak terdiri dari bagian-bagian tertentu.
 Hyperbolisme: adalah pernyataan dengan penekanan efek yang besar, sehingga
kekecualian tidak terucapkan. Contohnya adalah ucapan rasul Paulus, “Semua orang
telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom 3:23); di sini tidak
termasuk Yesus, yang walaupun Tuhan juga sungguh-sungguh manusia dan juga tidak
termasuk Bunda Maria yang walaupun manusia tetapi sudah dikuduskan Allah sejak
dalam kandungan (tanpa dosa asal).
Selanjutnya, ada juga kekecualian juga terjadi pada kondisi berikut:
 Perumpamaan apa yang disampaikan belum tentu terjadi. Contoh Yoh 10:6 “Itulah yang
dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka…” yang kemudian dilanjutkan
oleh Yesus, yang mengumpamakan Ia sebagai ‘pintu’ (Yoh 10:7). Demikian juga dengan
Mat 13:33 yang mengatakan bahwa Yesus mengajar dengan perumpamaan. Di sini
perumpamaan belum tentu terjadi secara nyata.
 Harafiah sejalan dengan akal sehat, namun jika tidak masuk akal, maka tidak mungkin
dimaksudkan secara harafiah. Jadi misalnya, pada saat Yesus mengatakan bahwa raja
Herodes adalah ‘serigala’ (Luk 13:32), maka kita tidak akan mengartikan bahwa pada
waktu itu pemerintah di jaman Yesus dikepalai oleh mahluk mamalia, berambut,
berekor, berkuping lancip yang bernama Herodes.
 Harafiah kontradiktif/bertentangan pada Allah, maka gaya bahasa yang diucapkan
tidak dimaksudkan untuk diartikan secara harafiah. Contoh: Mat 23:9, Yesus berkata
“Jangan memanggil seorangpun sebagai bapa di bumi ini”, padahal baru sesaat sebelumnya
20
Yesus mengulangi perintah ke-4 dari kesepuluh perintah Allah, “Hormatilah ibu bapa-
mu” (Mat 19:19) dan Ia juga menyebut Abraham sebagai “bapa” (Mat 3:9). Dalam hal
ini, Yesus ingin menyatakan otoritas ilahi yang mengatasi otoritas duniawi.
Contoh- contoh ayat dan interpretasinya:
a. Ayat-ayat yang menunjukkan tipologis Perjanjian Lama digenapi dalam Perjanjian
Baru. 2/3 dari Kitab Suci kita adalah Perjanjian Lama. Ini menunjukkan bahwa
Perjanjian Lama mengambil bagian yang cukup penting di dalam Kitab Suci, yang
akhirnya dipenuhi di dalam Perjanjian Baru. Maka Perjanjian Baru perlu dibaca
dalam terang Perjanjian Lama dan demikian pula sebaliknya. Tipologi maksudnya
adalah bahwa PL merupakan tanda/ tipe yang dipenuhi maknanya di dalam PB.
Tipologi menerangkan bagaimana Kristus dan Gereja-Nya telah dinyatakan secara
figuratif di dalam PL. Contohnya sbb:
 Yoh 3:14 Yesus sendiri mengajarkan bahwa “Ular [tembaga] yang ditinggikan di
padang gurun” yang disebutkan dalam Bil 21:9 melambangkan penyaliban-Nya
di gunung Golgota.
 Mat 12:40, Yesus mengajarkan bahwa masa 3 hari Nabi Yunus berada di dalam
perut ikan besar (Yun 1:17), merupakan gambaran dari 3 hari Yesus berada di
dalam kubur, sebelum kebangkitan-Nya.
 Luk 24:26-27, sewaktu Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya dalam
perjalanan ke Emaus, Ia sendiri menghubungkan isi Kitab Suci [Perjanjian
Lama] yang digenapi di dalam diriNya sebagai Mesias yang menderita, wafat
dan bangkit dengan mulia [dalam Perjanjian Baru].
 1Pet 3:19-21, Rasul Petrus menyatakan bahwa air bah pada jaman Nabi Nuh
merupakan gambaran/ kiasan Pembaptisan.
 Rom 5:14, Rasul Paulus menyebutkan bahwa manusia pertama Adam adalah
“gambaran” dari Kristus, [dengan Kristus sebagai manusia sempurna]; sebab
dosa datang karena Adam, dan keselamatan datang karena Kristus, Putera Allah
yang menjelma menjadi manusia.
 Wahyu 11:19- 12:1-2: Bunda Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru: Di dalam
Kitab Perjanjian Lama, yaitu di Kitab Keluaran bab 25 sampai dengan 31, kita
melihat bagaimana ’spesifik-nya’ Allah saat Ia memerintahkan Nabi Musa untuk
membangun Kemah suci dan Tabut Perjanjian. Allah sangat mementingkan
kekudusan Tabut suci itu, yang di dalamnya diletakkan roti manna (Kel 25:30),
dan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16), dan tongkat imam
Harun (Bil 17:10; Ibr 9:4). Betapa lebih istimewanya perhatian Allah pada
kekudusan Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, karena di dalamnya
terkandung PuteraNya sendiri, Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Sang Sabda yang
menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Imam Agung yang Tertinggi (Ibr 8:1)! (Lihat
pula bagaimana Allah menguduskan Tabut Perjanjian Lama dalam 2 Sam 6:6-7,
1 Taw 13:9-10, dan juga perbandingan ayat 2 Sam 6:9; dengan Luk 1:43; 2 Sam
6:11 dengan Luk 1:56). Persyaratan kekudusan Bunda Maria -Sang Tabut
Perjanjian Baru- pastilah jauh lebih tinggi daripada kekudusan Tabut Perjanjian
Lama yang tercatat dalam Kitab Keluaran, Samuel dan Tawarikh itu. Bunda
Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, harus kudus, dan tidak mungkin berdosa,
karena Allah sendiri masuk dan tinggal di dalam rahimnya. Itulah sebabnya
Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa oleh Allah.
b. Contoh ayat- ayat yang harus dilihat kaitannya baik dengan ayat- ayat lainnya,
maupun dengan Tradisi Suci dan pengajaran Magisterium Gereja:
Ayat- ayat tentang keselamatan:
Yoh 3:16 mengatakan bahwa siapa yang percaya pada Yesus akan memperoleh
hidup kekal, atau “diselamatkan”; lalu pada Ef 2:8 ada perkataan “diselamatkan oleh
iman”, maka ada banyak orang Kristen non- Katolik mengatakan bahwa Kitab Suci
mengajarkan bahwa kita diselamatkan hanya oleh iman saja. Padahal ayat-ayat Kitab
Suci yang lain memberikan pengajaran yang lebih menyeluruh, misalnya pada Ef 2:8
21
sendiri dikatakan: “Karena kasih karunia kita diselamatkan oleh iman”, sehingga di
sini saja kita tahu bahwa bukan hanya iman yang menyelamatkan kita.
Ayat yang lain mengajarkan iman yang menyelamatkan itu “bekerja oleh kasih”
(Gal 5:6). Artinya kita harus melakukan perintah Tuhan agar dapat diselamatkan
(Mat 19:17), dan perintah ini adalah hukum kasih kepada Tuhan dan sesama (Mat
22:37-40; Mrk 12:30-31). Kitab Suci juga mengajarkan bahwa keselamatan dalam
Kristus diperoleh dengan iman melalui pertobatan dan pembaptisan dalam nama-Nya,
demi penebusan dosa (Kis 2:38-41). Rasul Yakobus, bahkan dengan jelas mengatakan
bahwa kita dibenarkan karena perbuatan-perbuatan kita dan bukan hanya karena
iman (Yak 2:24). Kristus sendiri menyatakan bahwa agar seseorang dapat masuk
dalam Kerajaan Allah (diselamatkan), ia harus dilahirkan kembali dengan air dan Roh
(Yoh 3:5). Dengan demikian, untuk mengetahui gambaran yang menyeluruh tentang
keselamatan, maka kita harus melihat Kitab Suci secara keseluruhan.
Magisterium Gereja Katolik mengajarkan demikian:
 KGK 1257: Tuhan sendiri mengatakan bahwa Pembaptisan itu perlu untuk
keselamatan (Bdk. Yoh 3:5). Karena itu, Ia memberi perintah kepada para
murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa (Bdk. Mat
28:19-20; DS 1618; LG 14; AG 5). Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan
orang-orang, …Gereja tidak mengenal sarana lain dari Pembaptisan, untuk
menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi. Karena itu, dengan
rela hati ia mematuhi perintah yang diterimanya dari Tuhan, supaya
membantu semua orang yang dapat dibaptis, untuk memperoleh “kelahiran
kembali dari air dan Roh”. Tuhan telah mengikatkan keselamatan pada
Sakramen Pembaptisan, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada sakramen-
sakramen-Nya.
 KGK 1815: Anugerah iman tinggal di dalam dia yang tidak berdosa
terhadapnya (Bdk. Konsili Trente: DS 1545). Tetapi “iman tanpa perbuatan
adalah mati” (Yak 2:26) Iman tanpa harapan dan kasih tidak sepenuhnya
mempersatukan orang beriman dengan Kristus dan tidak menjadikannya
anggota yang hidup dalam Tubuh-Nya.
 KGK 1816 Murid Kristus harus mempertahankan iman dan harus hidup
darinya, harus mengakuinya, harus memberi kesaksian dengan berani dan
melanjutkannya; Semua orang harus “siap-sedia mengakui Kristus di muka
orang-orang, dan mengikuti-Nya menempuh jalan salib di tengah
penganiayaan, yang selalu saja menimpa Gereja ” (LG 42, Bdk. DH
14).Pengabdian dan kesaksian untuk iman sungguh perlu bagi keselamatan:
“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan
mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi barang siapa
menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan
Bapa-Ku yang di surga” (Mat 10:32-33)
c. Ayat- ayat yang menyebutkan adanya ‘saudara- saudara’ Yesus. Perikop Luk
8:19-21 atau juga Mat 12:46-50, Mrk 3:31-35, memang berjudul: Yesus dan
sanak saudara-Nya. Bahkan dalam Mat 13:55 dan Mrk 6:3 disebutkan nama
saudara- saudara-Nya itu yaitu: Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon. Oleh karena
itu ada banyak orang menyangka bahwa Yesus mempunyai saudara- saudara
kandung, atau artinya Bunda Maria mempunyai anak- anak lain selain Yesus.
Namun tentu ini tidak benar!
Di dalam Kitab Suci, istilah “saudara” dipakai untuk menjelaskan banyak arti.
Kata “saudara” (dari kata Yunani, ‘adelphos’ ) memang dapat berarti saudara
kandung, namun dapat juga berarti saudara seiman (Kis 21:7), saudara sebangsa
(Kis 22:1), ataupun kerabat, seperti pada kitab asli bahasa Ibrani yang
mengatakan Lot sebagai saudara Abraham (Kej 14:14), padahal Lot adalah
keponakan Abraham.
Jadi untuk memeriksa apakah Yakobus dan Yusuf itu adalah saudara Yesus,
kita melihat kepada ayat-ayat yang lain, yaitu ayat Matius 27:56 dan Markus
22
15:40, yang menuliskan nama-nama perempuan yang ‘melihat dari jauh’ ketika
Yesus disalibkan. Mereka adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan
Yusuf/ Yoses, dan ibu anak-anak Zebedeus (Mat 27:56); atau Maria Magdalena,
Maria ibu Yakobus Muda, Yoses dan Salome (Mrk 15:40). Maka di sini, Kitab
Suci menunjukkan bahwa Maria ibu Yakobus ini tidak sama dengan Bunda
Maria. Maria ibu Yakobus dan Yoses (Yusuf) dicatat dalam Kitab Suci sebagai
salah satu wanita yang menyaksikan penyaliban Kristus (Mat 27:56; Mrk 15:40)
dan kubur Yesus yang kosong/ kebangkitan Yesus (Mrk 16:1; Luk 24:10)
Mungkin yang paling jelas adalah kutipan dari Injil Yohanes, yang menyebutkan
bahwa yang hadir dekat salib Yesus adalah, Bunda Maria, saudara Bunda Maria
yang juga bernama Maria yang adalah istri Kleopas, dan Maria Magdalena
(Yoh 19:25). Jadi di sini jelaslah bahwa Maria (saudara Bunda Maria) ini adalah
istri Kleopas, yang adalah juga ibu dari Yakobus dan Yusuf/Yoses. Kleopas
adalah salah satu dari murid-murid Yesus yang berjalan ke Emmaus dan
mengalami penampakan diri Yesus setelah kebangkitan-Nya (Luk 24:18).
Kesimpulannya, Yakobus dan Yoses ini bukanlah saudara kandung Yesus.
6. Lectio Divina
Bapa Gereja dan konsili-konsili Gereja mengajarkan kita untuk senantiasa berdoa dalam
membaca Kitab Suci. Orang yang membaca Sabda Allah dan merenungkannya di dalam doa,
merupakan percakapan intim dan personal dengan Tuhan. Hal tersebut akan membawa
seseorang pada kesempurnaan kehidupan Kristiani. Namun, kita tidak boleh terjebak pada
interpretasi pribadi. Teks-teks di dalam Kitab Suci harus senantiasa dimengerti dalam kesatuan
dengan Gereja.
6.1. Pengertian Lectio Divina
Tradisi Gereja Katolik mengenal apa yang disebut sebagai “lectio divina” untuk membantu
kita sampai kepada persahabatan yang mendalam dengan Tuhan. Caranya ialah dengan
mendengarkan Tuhan berbicara kepada kita melalui sabda-Nya. “Lectio” sendiri adalah kata
Latin yang artinya “bacaan” dan “divina” berarti ilahi; jadi lectio divina artinya bacaan ilahi
atau bacaan rohani. Lectio divina adalah cara berdoa dengan membaca dan merenungkan Kitab
Suci untuk mencapai persatuan dengan Tuhan Allah Tritunggal.
Di samping itu, dengan berdoa sambil merenungkan Sabda-Nya, kita dapat semakin
memahami dan meresapkan Sabda Tuhan dan misteri kasih Allah yang dinyatakan melalui
Kristus Putera-Nya. Melalui lectio divina, kita diajak untuk membaca, merenungkan,
mendengarkan, dan akhirnya berdoa ataupun menyanyikan pujian yang berdasarkan sabda
Tuhan, di dalam hati kita. Penghayatan sabda Tuhan ini menolong kita untuk sadar bahwa
Allah hadir dan membimbing kita sepanjang hari. Jika kita rajin dan tekun melaksanakannya,
maka kita akan mengalami eratnya persahabatan kita dengan Allah.
6.2. Empat hal yang melekat pada Lectio Divina
Meskipun terjemahan bebas dari kata lectio adalah bacaan, nanum proses yang terjadi
dalam lectio divina bukan hanya sekedar membaca. Proses tersebut menyangkut empat hal,
yaitu: lectio, meditatio, oratio dan contemplatio.
Lectio: bukan sekedar membaca tulisan, melainkan juga membuka keseluruhan diri kita
terhadap Sabda yang menyelamatkan. Kita membiarkan Kristus, Sang Sabda, untuk berbicara
kepada kita, dan menguatkan kita. Maka saat kita sudah menentukan bacaan yang akan kita
renungkan, maka kita harus membacanya dengan kesadaran bahwa ayat-ayat tersebut sungguh
ditujukan oleh Tuhan kepada kita.
Meditatio: mengulangi kata-kata ataupun frase dari perikop yang kita baca, yang menarik
perhatian kita. Tujuannya adalah untuk menyerahkan diri kita kepada pimpinan Allah. Dengan
pengulangan tersebut, Sabda itu akan menembus batin kita sampai kita dapat menjadi satu
dengan teks itu. Kita mengingatnya sebagai sapaan Allah kepada kita.
Oratio/doa: tanggapan hati kita terhadap sapaan Tuhan. Setelah dipenuhi oleh Sabda yang
menyelamatkan, maka kita memberi tanggapan. St. Cyprianus, “Melalui Kitab Suci, Tuhan
berbicara kepada kita, dan melalui doa kita berbicara kepada Tuhan.” Maka dalam lectio

23
divina, kita mengalami komunikasi dua arah: kita berdoa dengan merenungkan Sabda-Nya, dan
kemudian kita menanggapinya. Tanggapan tersebut dapat berupa: 1) syukur: jika kita
menemukan pertolongan dan peneguhan; 2) pertobatan: jika kita menemukan teguran; ataupun
3) pujian kepada Tuhan: jika kita menemukan pernyataan kebaikan dan kebesaran-Nya.
Contemplatio: Saat kita mengalami kedekatan dengan Allah, berada dalam hadirat Allah.
Kontemplasi adalah karunia dari Tuhan, bukan hasil usaha kita ataupun penghargaan atas
usaha kita. St. Teresa menggambarkan keadaan ini sebagai doa persatuan dengan Allah di
mana kita “memberikan diri kita secara total kepada Allah, menyerahkan sepenuhnya kehendak
kita kepada kehendak-Nya.”
Ke-empat fase ini membuat kelengkapan lectio divina. Jika lectio diumpamakan sebagai fase
perkenalan, maka meditatio adalah pertemanan, oratio persahabatan dan contemplatio sebagai
persatuan.
6.3. Bagaimana caranya memulai lectio divina?
Karena maksud dari lectio divina adalah untuk menerapkan Sabda Allah dalam kehidupan
kita, dan dengan demikian hidup kita diubah dan dipimpin olehnya, maka langkah-
langkah lectio divina adalah sebagai berikut:
 Ambillah sikap doa, bawalah diri kita dalam hadirat Allah. Resapkanlah kehadiran
Tuhan di dalam hati kita. Mohonlah agar Tuhan sendiri memimpin dan mengubah
hidup kita melalui bacaan Kitab Suci hari itu.
 Mohonlah kepada Roh Kudus untuk membantu kita memahami perikop itu dengan
pengertian yang benar.
 Bacalah perikop Kitab Suci tersebut secara perlahan dan dengan seksama, jika mungkin
ulangi lagi sampai beberapa kali.
 Renungkan untuk beberapa menit, akan satu kata atau ayat atau hal-hal yang
disampaikan dalam perikop tersebut dan tanyakanlah kepada diri kita sendiri, “Apakah
yang diajarkan oleh Allah melalui perikop ini kepadaku?”
 Tutuplah doa dengan satu atau lebih keputusan praktis yang akan kita lakukan, dengan
menerapkan pokok-pokok ajaran yang disampaikan dalam perikop tersebut di dalam
hidup dan keadaan kita sekarang ini.
 Resapkanlah kehadiran Tuhan dalam aktivitas kita hari itu. Dengan kesadaran ini kita
dapat selalu mengarahkan dan mempersembahkan segala sesuatu yang kita lakukan
hari itu demi kemuliaan nama-Nya.
6.4. Contoh merenungkan Kitab Suci dengan lectio divina
Mari kita melihat bacaan Injil dari Mat 18:21-19:2. Di dalam perikop tersebut diceritakan
perumpamaan tentang pengampunan. Pada saat kita merenungkan perikop ini, maka kita dapat
bertanya pada diri sendiri, apakah yang Tuhan inginkan agar kita terapkan dalam kehidupan
kita sehari hari?
Maka kita bisa membayangkan salah satu tokoh dalam perikop itu, misalnya, kita menjadi
hamba itu yang berhutang sepuluh ribu talenta. Namun oleh belas kasihan raja [yaitu Tuhan],
maka hutang hamba itu dihapuskan. Namun kemudian kita berjumpa dengan orang yang telah
menyakiti hati kita, dan kita merasa sulit untuk mengampuni. Dengan demikian, kita bersikap
seperti hamba itu, yang walaupun sudah diampuni dan dihapuskan hutangnya, namun tidak
dapat/ sukar mengampuni orang lain. Mari dengan jujur melihat, apakah kita pun pernah atau
sering bersikap seperti hamba yang tidak berbelas kasihan ini? Siapakah kiranya orang yang
Tuhan inginkan agar kita ampuni? Tanyakanlah kepada Tuhan dalam hati, “Tuhan,
tunjukkanlah kepadaku, adakah aku pernah bersikap demikian? Siapakah yang harus
kuampuni…?
Sambil terus merenungkan ayat demi ayat dalam perikop tersebut, bercakap-cakaplah
dengan Tuhan dalam keheningan batin. Mungkin Tuhan ingin mengingatkan kita akan ayat ini,
“Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti Aku telah mengasihani engkau?”
(Mat 18:33). Jika ayat itu yang sungguh berbicara pada kita hari ini, maka kita mengingatnya
dan mengulanginya kembali dalam hati, sebagai perkataan Tuhan yang ditujukan kepada kita.
24
Dan semakin kita merenungkannya, semakin hiduplah perkataan itu di batin kita, dan bahkan
kita dapat mendapat dorongan untuk menerapkannya.
Atau jika pada saat ini kita masih terluka atas perlakuan seseorang kepada kita, maka,
kitapun dapat membawanya ke hadapan Kristus. Kita dapat pula menyatakan kepada-Nya,
betapa kita ingin mengampuni, namun rasa sakit masih begitu mendalam dan nyata dalam hati
kita. Maka, mungkin ayat yang berbicara adalah beberapa ayat sesudahnya yang berkata,
“Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Iapun menyembuhkan mereka di
sana.” (Mat 19:2). Kita dapat membayangkan bahwa kita berada di antara orang yang
berbondong-bondong itu, dan memohon agar Ia menyembuhkan luka-luka batin kita. Biarlah
ayat Mat 19:2 meresap dalam hati kita, dan kita ulangi berkali-kali sepanjang hari, “… dan
Tuhan Yesus-pun menyembuhkan luka-luka batinku di sana.” Biarkan jamahan Tuhan yang
menyembuhkan banyak orang pada 2000 tahun yang lalu menyembuhkan kita juga pada saat
ini. Dengan kita mengalami kesembuhan batin, maka sedikit demi sedikit Tuhan membantu kita
untuk mengampuni, sebab kekuatan kasih-Nya memampukan kita melakukan sesuatu yang di
luar batas kemampuan kita sebagai manusia.
Pada akhirnya, lectio divina ini tidak akan banyak berguna jika kita hanya berhenti
pada meditatio/permenungan, tapi tanpa langkah selanjutnya. Kita harus menanggapi apa yang
Tuhan sampaikan lewat sabda-Nya, dan membuat keputusan tentang apakah yang akan kita
lakukan selanjutnya, setelah menerima pengajaran-Nya. Maka langkah berikut, kita dapat
mengadakan percakapan/oratio yang akrab dengan Tuhan Yesus, entah berupa ucapan syukur,
pertobatan, atau permohonan, yang semua dilakukan atas dasar kesadaran kita akan besarnya
kasih Tuhan kepada kita. Kesadaran akan kasih Kristus inilah yang sedikit demi sedikit
mengubah kita, dan mendorong kita untuk memperbaiki diri, supaya dapat mengikuti teladan-
Nya, untuk mengasihi orang-orang di sekitar kita, terutama anggota keluarga kita sendiri:
suami, istri, orang tua, dan anak-anak. Kasih-Nya ini pula yang membangkitkan di dalam hati
kita rasa syukur, atas pengampunan dan pertolongan-Nya pada kita. Dengan memandang
kepada Yesus, kita dapat melihat dengan jujur ke dalam diri kita sendiri, untuk menemukan hal-
hal yang masih harus kita perbaiki, agar kita dapat hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai
murid- murid-Nya.
Jika melalui lectio divina akhirnya kita mampu mengalahkan kehendak diri sendiri untuk
mengikuti kehendak Allah, maka kita perlu sungguh bersyukur. Sebab sesungguhnya, ini
adalah karya Roh Kudus yang nyata dalam hidup kita. Perubahan hati, atau pertobatan terus
menerus yang menghantar kita lebih dekat kepada Tuhan dengan sendirinya mempersiapkan
kita untuk bersatu dengan-Nya dalam contemplatio. Dalam contemplatio ini, hanya ada Allah saja
di dalam hati dan pikiran kita. Kerajaan-Nya memenuhi hati kita, sehingga kehendak-Nya
sepenuhnya menjadi kehendak kita. “Jadilah padaku ya Tuhan, menurut kehendak-Mu…” Dan
dalam keheningan dan kedalaman batin kita masuk dalam persatuan dengan Dia.
Jika arti doa yang sesungguhnya adalah “turun dengan pikiran kita menuju ke dalam hati,
dan di sana kita berdiri di hadapan wajah Tuhan, yang selalu hadir, selalu memandang kita, di
dalam diri kita,” Pandangan kepada Yesus ini adalah suatu bentuk penyangkalan diri, di mana
kita tidak lagi menghendaki sesuatu yang lain daripada kehendak Allah. Dengan pandangan ini
kita mempercayakan seluruh diri kita ke dalam tangan-Nya, dan kita semakin terdorong untuk
mengasihi dan mengikuti Dia yang terlebih dahulu mengasihi kita.
6.5. Buah-buah dari lectio divina
Buah-buah lectio divina adalah compassion-mengashi dan operatio-melakukan. Dengan
persatuan kita dengan Tuhan, maka kita membuka diri juga untuk lebih memperhatikan dan
mengasihi sesama dan ciptaan Tuhan yang lain. Kita juga didorong untuk melakukan tindakan
nyata untuk membantu sesama yang membutuhkan pertolongan, ataupun untuk selalu
mengusahakan perdamaian dengan semua orang. Dengan demikian perbuatan kita menjadi
kesatuan dengan doa kita, atau dengan perkataan lain kita memiliki perpaduan sikap Maria dan
Marta (lih. Luk 10:38-42).

7. Kesimpulan
Untuk memberitahukan rencana keselamatanNya, Allah berbicara pada GerejaNya melalui
Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Ketiga hal ini adalah karunia Allah yang tidak
25
terpisahkan untuk menyampaikan kebenaran melalui GerejaNya. Perlu kita ingat bahwa Rasul
Paulus sendiri berkata bahwa Gereja adalah “jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan
dasar kebenaran” (1Tim 3:15). Karena wahyu Allah dinyatakan dalam Kitab Suci dan Tradisi
Suci dan keduanya berasal dari Allah, kita harus menerima dan menghormati keduanya dengan
hormat yang sama.
Dengan demikian, Kitab Suci harus dibaca dalam terang Tradisi Suci, dengan
memperhatikan analogi iman; dan interpretasi suatu ayat dalam Kitab Suci harus
memperhatikan artinya dalam kesatuan seluruh Kitab Suci. Selanjutnya, di dalam hal iman dan
moral, kita harus menginterpretasikan Kitab Suci denganmenempatkan pemahaman
Magisterium Gereja di atas pemahaman pribadi, karena kepada merekalah telah dipercayakan
tugas mengartikan Wahyu Allah secara otentik. Namun hal ini janganlah sampai mengurangi
semangat kita untuk membaca Kitab Suci, karena Gereja mengajarkan kita agar kita rajin
membaca Kitab Suci dan mempelajarinya, sebab melalui Kitab Suci kita dibawa pada
”pengenalan yang mulia akan Kristus” (Flp 3:8). Ini adalah suatu tantangan buat kita semua
yang mengatakan bahwa kita mengenal dan mengasihi Yesus.
Dengan menyadari bahwa penulisan Kitab Suci melibatkan Roh Kudus sebagai Penyebab
(autor) dan sang penulis Kitab, maka tidak dapatlah dikesampingkan factor-faktor keilahian
dalam Kitab Suci, maupun faktor latar belakang penulisnya. Dengan demikian harus dihindari
kedua cara interpretasi ini: 1) yang meniadakan faktor keilahian dalam Kitab Suci, dan hanya
menganggapnya sebagai buku sejarah (hermenetik sekular); dan 2) yang menganggap ketiadaan
faktor latar belakang sejarah, dengan menganggap Kitab Suci sebagai hasil ‘dikte’ dari Roh
Kudus tanpa ada keterlibatan sang manusia penulis (fundamentalisme). Dengan melihat adanya
kerjasama antara ilham Roh Kudus dan manusia penulisnya, Kitab Suci diartikan dengan
menggunakan empat prinsip; yaitu bahwa setiap ayat mempunyai makna literal (apa
kejadiannya), allegoris (apa yang harus dipercaya), moral (apa yang harus dilakukan) dan
anagogis (apa tujuan akhirnya). Di samping itu, untuk mengetahui keempat arti tersebut, peran
gaya bahasa penulis Kitab sangatlah penting untuk dipahami.
Akhirnya, permenungan akan makna Sabda Tuhan dapat dilakukan dengan cara lectio
divina, yang terdiri dari empat tahapan yaitu membaca Kitab Suci (lectio), merenungkannya
(meditatio), berdoa (oratio), menghayati persatuan dengan Allah (contemplatio). Selanjutnya, buah
yang ditunjukkannya adalah belas kasihan dan perbuatan baik (compassio dan operatio) yang
membawa kepada pertumbuhan hidup rohani menuju kekudusan dalam persahabatan yang erat
dengan Allah dan sesama.

***

26
BAB III
PERANAN KITAB SUCI BAGI GEREJA
Salah satu pilar iman Katolik adalah Kitab Suci. Namun pertanyaanya, “apakah orang
Katolik menyadari betul peran Kitab Suci bagi dirinya dan pertumbuhan imanny?” Pertanyaan
ini penting untuk direnungkan, untuk membantu kita menyadari betapa pentingnya membaca,
memahami dan menghidupi pesan-pesan Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini
adalah beberapa alasan mengapa kita harus membaca Kitab Suci.
1. Kitab Suci dan Iman
Kitab Suci sering disebut Buku Iman karena menjadi sumber dan pedoman iman Kristiani.
Kaitan antara Kitab Suci dengan iman inilah yang dapat menjadi motivasi yang mendasar bagi
seorang Kristiani untuk membacanya. Seperti kita ketahui, dasar iman Katolik ialah:
Magisterium, Tradisi dan Kitab Suci.
Secara umum iman berarti menerima suatu kebenaran tertentu dan segala sesuatu yang
berkaitan dengan kebenaran ini. Tetapi, iman yang sejati juga menyangkut sikap hati manusia;
orang yang memiliki iman yang sejati mempercayakan diri kepada Allah yang diimaninya dan
sepenuhnya mengandalkan Pribadi yang diimaninya itu. Dengan kata lain, orang itu
menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah yang diimaninya itu.
Pertanyaan yang muncul kemudian: Allah yang bagaimana yang diimani, yang kepada-Nya
orang menyerahkan diri? Orang yang memiliki iman yang benar menyerahkan diri pada Allah
yang sejati, yakni Allah sebagaimana adanya. Untuk dapat dungguh-sungguh beriman, orang
memerlukan dua hal: 1). mengetahui siapakah Allah yang sesungguhnya (iman yang benar)
dan 2).menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah dan mengandalkannya (iman sejati).
Bisa jadi orang hanya memiliki salah satu dari keduanya. Ia mengetahui siapa Allah
sesungguhnya, tetapi tidak mengandalkan-Nya. Atau sebaliknya, ia sungguh-sungguh
mengandalkan Allah, tetapi tidak mengenal siapakah Allah yang diimaninya.
2. Allah yang sejati
Setiap orang harus mengambil keputusan Allah yang mana atau seperti apa yang akan
dipercaya dan diandalkannya. Umat Kristiani yakin bahwa mereka memiliki iman yang sejati
dan benar. Umat Kristiani sepenuhnya mempercayakan diri pada Allah sebagaimana Ia
berkenan menyatakan diri. Ia menyatakan diri melalui ciptaan-Nya, melalui sejarah umat Israel
dan terutama melalui Yesus Kristus. Allah yang demikian diperkenalkan dalam Kitab Suci
Kristiani. Dengan kata lain, di dalam Kitab Suci, orang Kristiani dapat berjumpa dengan Allah
yang seharusnya dipercaya dan diandalkan oleh manusia. Selain itu, orang dapat belajar
bagaimana harus menyerahkan diri kepada Allah yang sejati dan mengandalkan-Nya.
Orang yang menyatakan diri Kristiani selayaknya membaca Kitab Sucinya. Hanya dengan
cara demikian,ia dapat berjumpa dengan Allah yang diimaninya dan dapat mengenal-Nya
dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai ia tidak mengenal Allah yang dipercayainya dan
justru mengimani Allah “ciptaannya” sendiri, yakni Allah menurut angan-angannya sendiri.
3. Motivasi internal
Keinginan untuk membaca Alkitab bisa muncul karena dorongan yang muncul dari dalam
diri seorang beriman. Dorongan ini antara lain bisa berupa kerinduan untuk mengenal Kristus
secara lebih mendalam, kerinduan untuk berdialog dengan Allah, dan kerinduan untuk hidup
sesuai dengan kehendak Allah.
4. Mengenal Kristus
Semua orang Kristiani menyebut diri sebagai pengikut Yesus. Aneh bila orang mau
mengikuti seorang yang tidak dikenalnya. Kalau mau mengikuti Yesus, orang harus mengenal
Yesus. Bagaimana caranya? Dengan berjumpa dengan-Nya dalam Sabda yang tertulis dalam
Kitab Suci. Jadi dengan mengenal Kitab Suci orang mengenal Yesus. Bagaimana mau
mencintai kalau tidak mengenal? Dengan mengenal Kitab Suci kita mencintainya; dengan
mengenal Yesus kita juga mencintai-Nya.

27
Yesus Krisus adalah manusia yang harus menjadi teladan dan pedoman hidup kita. Kita
diundang untuk mengikuti jejak-Nya. Dalam menjalani kehidupan ini baiklah kita terus
menyadari keberadaan Kristus bersama kita. Ia berjalan bersama kita dan menyertai kita setiap
saat. Baiklah kita selalu bertanya: Bila Kristus sendiri menghadapi persoalan yang sedang saya
hadapi, bagaimana sukap-Nya dan apa yang akan dilakukan-Nya?
Ketika membaca Injil kita menyaksikan apa yang dikerjakan oleh Yesus dan mendengarkan
apa yang diajarkan-Nya. Karena itu, semakin banyak membaca Injil, kita akan mengenal
Kristus dengan lebih lengkap. Karena itu, ketika membaca kisah-Nya, bailah kita mengajukan:
Apa yang dikatakan perikop ini mengenai Yesus? Apa yang dapat saya teladani dari Yesus
dalam perikop tersebut? Atau apa yang diajarkan Yesus kepada saya?
5. Bercakap-cakap dengan Allah
Dalam Kitab Suci tersimpan Sabda Allah yang hidup dan selalu aktual bagi kehidupan
manusia. Dalam KItab Suci Allah berbicara kepada kita. Ketika Kitab Suci dibaca, Alah
berbicara kepada kita. Kemudian dalam doa kita menanggapi Sabda yang disampaikan kepada
kita itu.
Tetapi, apa yang disampaikan Allah dalam pembicaraan itu dan apa yang dapat kita dengar
dari-Nya? Allah memperkenalkan siapa diri-Nya, apa yang dikehendaki-Nya dalam kehidupan
kita, tujuan hidup kita, menghibur kita ketika sedih dan patah semangat, menegur kita ketika
melakukan kesalahan. Karena itu, sediakanlah waktu, bukalah Kitab Suci dan bacalah. Biarlah
Allah menyapa Anda dalam setiap kesempatan hidup.
6. Hidup dari Sabda
Tujuan utama membaca Kitab Suci adalah mendengarkan Sabda Allah dan hidup dari
Sabda itu. Tujuan ini terdengar muluk dan tidak mungkin dapat tercapai. Tetapi, sekalipun
tidak tercapai, bila orang tekun membacanya, orang akan dapat merasakan hal itu terwujud
dalam dirinya.
Sabda Allah yang berdaya perlu menjadi kawan karib setiap orang beriman, waktu lahir,
waktu hidup dan waktu berpulang kepada Sumber dan Asal Sabda Allah itu. Sebab “Kitab Suci
dapat memberi hikmat dan menuntun kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
Sgala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan
kesalahan untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2
Tim.3:15-16). Dengan demikian, Sabda Tuhan itu akan menjadi “pelita bagi kakiku dan terang
bagi jalanku.” (Mzm.119:105). Memang “segala sesuatu yang tertulis dahulu, telah ditulis untuk
menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan
penghiburan dari Kitab Suci.”(Rm.15:4)
7. Motivasi eksternal
Dorongan untuk membaca Kitab Suci juga bisa muncul dari luar diri seorang beriman. Bisa
jadi ia tergerak untuk menanggapi situasi sosial yang dihadapinya sebagai seorang beriman.
Untk itu, ia perlu mendengarkan Sabda Allah yang tertulis dalam Kitab Suci. Pada lain
kesempatan mungkin ada yang mempertanyakan hal-hal yang berkaitan dengan iman. Tidak
cukup kalau orang hanya mengetahui imannya, tetapi juga perlu bisa
mempertanggungjawabkannya. Persoalan yang berkembang dalam dunia modern pun
mendorong orang beriman untuk membaca Kitab Suci supaya bisa menanggapinya sebagai
seorang beriman.
8. Sumber inspirasi
Setiap orang Katolik diundang untuk menggali isi Kitab Suci dan untuk mempergunakan
warisan iman ini untuk menerangi langkah hidup mereka dalam dunia nyata yang mereka
jalani. Banyak hal dalam Kitab Suci yang dapat menjadi sumber inspirasi dan tuntunan bagi
jiwa muda mereka. Dalam Kitab Suci dijumpai banyak orang yang dipanggil Tuhan untuk
menjadi utusan-Nya. Tuhan memanggil mereka sebagai pelaksana rencana-Nya sendiri. Banyak
tokoh dalam Kitab Suci akan dapat menjadi teladan dan yang pantas menjadi idola.

28
Banyak dari antara kita yang terlibat dalam masalah sosial, dengan memberi perhatian
kepada orang-orang miskin dan tertindas. Apakah kita hanya ikut-ikutan dalam keterlibatan kita
itu? Kalau demikian, perbuatan-perbuatan yang mulia ini akan kehilangan maknanya. Tetapi,
bukalah Kitab Suci dan lihatlah bagaimana Tuhan Yesus dan para nabi melakukan hal-hal
tersebut. Kalau kita mau sungguh-sungguh mengikuti Yesus, teladanilah perbuatan-Nya,
jadikanlah perhatian-Nya perhatian kita juga
9. Mempertanggungjawabkan iman
Kita semua menyadari keberadaan kita di tengah kaum beragama lain. Sejak masa kecil
kita, kita hidup bersama mereka. Sejak waktu itu pula orang bertanya kepada kita tentang iman
kita dan bahkan mempertanyakan iman kita. Pertama-tama, pertanyaan mereka menunjukkan
bahwa keberadaan kita dengan iman kita diakui. Pertanyaan-pertanyaan mereka sering kali
tidak pernah kita duga sebelumnya atau kita belum pernah mendengar pertanyaan seperti itu.
Banyak dari antara pertanyaan itu berkaitan erat dengan Kitab Suci. Ketidaktahuan kita akan
Kitab Suci akan membuat kita kebingungan ketika kita dihadapkan pada pertanyaan yang
seolah-olah menunjukkan bahwa iman kita ternyata tidak sesuai dengan Kitab Suci kita sendiri!
Beberapa contoh dapat disebutkan misalnya, mereka bekata: yang hendak dikurbankan oleh
Abraham itu sebenarnya bukan Ishak melainkan Ismael. Mereka berkata lagi: Injil orang
Kristen itu yang benar adalah Injil Barnabas. Mengapa ada empat Injil yang bebeda satu dengan
yang lain, mana yang benar? Mengapa kalian, orang Katolik, berdoa kepada Maria, itu kan
tidak ada dasar Kitab Sucinya? Mengapa kalian memasang patung dalam gereja, itu kan
menyembah berhala dan tidak sesuai dengan Kitab Suci?
Tidak ada jalan lain untuk menghadapi masalah-masalah seperti itu, selain membaca Kitab
Suci. Membaca dan memahaminya dengan benar akan membuat kita teguh berdiri pada iman
kita tanpa ada yang sanggup meruntuhkan iman kita.
***

29

Anda mungkin juga menyukai