0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
488 tayangan27 halaman

Pengelolaan Lingkungan Wisma Afod Makassar

Dokumen ini memberikan informasi tentang pengelolaan lingkungan hidup untuk usaha Wisma Afod di Makassar. Wisma ini memiliki izin gangguan tetapi belum memiliki izin pembuangan limbah cair atau penyimpanan limbah B3. Wisma ini beroperasi sejak 2009 dan menyediakan 35 kamar serta fasilitas parkir, taman, dan laundry untuk mendukung operasionalnya.

Diunggah oleh

Onank Irwanto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
488 tayangan27 halaman

Pengelolaan Lingkungan Wisma Afod Makassar

Dokumen ini memberikan informasi tentang pengelolaan lingkungan hidup untuk usaha Wisma Afod di Makassar. Wisma ini memiliki izin gangguan tetapi belum memiliki izin pembuangan limbah cair atau penyimpanan limbah B3. Wisma ini beroperasi sejak 2009 dan menyediakan 35 kamar serta fasilitas parkir, taman, dan laundry untuk mendukung operasionalnya.

Diunggah oleh

Onank Irwanto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DOKUMEN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

(DPLH)
A. Identitas Penanggung Jawab Usaha Dan/Atau Kegiatan
1. Nama Usaha : Wisma Afod
2. Alamat Usaha : Jl. AP. Pettarani Selatan I No. 12
Kelurahan Mannuruki Kecamatan
Tamalate Kota Makassar
3. No. Tlp/Fax : 08114404100
4. Nama Penanggung Jawab : Mujianto Munaji
Usaha/atau kegiatan
5. Jabatan Penanggung jawab : Pemilik
Usaha/atau kegiatan
6. Instansi yang membina usaha : Dinas Pariwisata Kota Makassar
dan/atau kegiatan
B. Perizinan yang DimiliKI
1. Izin Usaha dan/atau kegiatan :
Tabel 1. Jenis Izin/ Rekomendasi yang dimiliki

No. dan
Jenis Masa
No Tanggal Pemberi Izin
izin/Rekomendasi Berlaku s.d
Penerbitan
Kantor
Pelayanan
503/0250/IG-
1 Izin Gangguan Adiministrasi 2009
P/09/KPAP
Perizinan Kota
Makassar
Sumber: Pemrakarsa, 2017

2. Izin Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH)


Tabel 2. Jenis Izin PPLH yang dimiliki

No. dan
Jenis Masa
No Tanggal Pemberi Izin
izin/Rekomendasi Berlaku s.d
Penerbitan
Izin Pembuangan
1 -belum ada- -belum ada- -belum ada-
Limbah Cair

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 1
Izin Tempat
2 -belum ada- -belum ada- -belum ada-
Penyimpanan Limbah B3
Sumber: Pemrakarsa
C. Usaha dan/atau Kegiatan Yang Telah Berjalan
1. Nama usaha dan/ : Wisma Afod
Atau kegiatan
2. Lokasi Usaha dan/atau Kegiatan
a. Alamat : Jl. AP. Pettarani Selatan I No. 12
b. Kelurahan : Mannuruki
c. Kecamatan : Tamalate
d. Kota : Makassar
e. Provinsi : Sulawesi Selatan
f. Letak Geografis : 119°25’50.91” BT dan 05°10’16.54” LS
g. Batas-batas
- Sebelah Utara : Permukiman
- Sebelah Selatan : Jalan
- Sebelah Timur : Permukiman
- Sebelah Barat : Permukiman

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 2
Gambar 1. Peta Lokasi Kegiatan

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup Page | 3


3. Bidang Usaha
Bidang usaha adalah Wisma/Penginapan.
4. Mulai Beroperasi
Usaha dan/atau kegiatan Wisma Afod beroperasi mulai bulan tahun
2009.
5. Deskripsi Usaha
a. Kegiatan Utama
Kegiatan utama adalah usaha yang bergerak dalam bidang jasa
pelayanan penginapan atau wisma. Wisma yang merupakan rumah
peristirahatan atau penginapan yang dikelola oleh pihak swata
maupun pemerintah. Wisma merupakan sejenis fasilitas akomodasi,
baik milik perorangan maupun perusahaan yang diperuntukkan
khusus bagi tamu hendak menginap. Wisma juga dapat berupa
rumah pribadi yang dikonversi untuk kepentingan tamu. Fasilitas
yang akan ditawarkan di wisma sederhana saja, sebagian besar
tanpa menediakan keperluan makan dan minum tamunya.
Ciri khas yang menjadi pembeda antara wisma dengan hotel
berbintang adalah tarifnya yang cenderung lebih murah. Selain itu,
wisma cenderung dikelola oleh pemiliknya sendiri, berbeda dengan
hotel yang dikelola oleh staf penuh waktu. Hotel mengharuskan
adanya kehadiran staf selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu di
hotel, sedangkan wisma memiliki jadwal kehadiran staf yang lebih
terbatas. Pemilik wisma bertempat tinggal terpisah dengan wisma
miliknya, namun tetap berada di area yang berdekatan.
Di dalam wisma, terdapat seorang atau lebih housekeeper (penjaga
rumah). Tugas Housekeeper ini adalah untuk membantu tamu yang
menginap serta menyiapkan sarapan bagi para tamu. Selain itu,
housekeeper juga bertanggung jawab penuh pada kebersihan
wisma. Wisma harus dijaga kebersihannya bahkan pada saat kosong

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 4
untuk memastikan kenyamanan ketika sewaktu-waktu ada tamu
datang untuk menginap.
6. Skala Besaran Kegiatan
Adapun skala besaran kegiatan usaha wisma diuraikan sebagai
berikut.
a. Luas Lahan dan Luas Lantai
Luas lahan kegiatan Pembangunan Wisma adalah sekitar 4.373,44
m2. Rincian luas lahan dan luas lantai bangunan dapat dilihat
pada tabel 3.
Tabel 3. Jenis Penggunaan Lahan

Luas Areal
No JenisPenggunaan Keterangan
(M2)
1 Bangunan 1.885,35 tapak bangunan
Area parkiran 700,00 belakang bangunan
2
terbuka
Taman/RTH 670,45 Depan & belakang
3
bangunan
Ruang Terbuka 1.117,64 Tapak bangunan
4.
Non Hijau
Total 4.373,44
Sumber : Pemrakarsa, 2017
b. Jumlah Kamar
Rencana jumlah kamar yang disediakan untuk kegiatan wisma
adalah sekitar 35 unit kamar.
c. Tenaga Kerja
Operasional wisma yang dibangun oleh pemrakarsa membutuhkan
tenaga kerja dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 4. Jenis dan Jumlah Tenaga Kerja Wisma Afod

Jenis Jumlah Karyawan


Kualifikasi Jumlah Asal
Pekerjaan Pria Wanita
Resepsionis 2 - S1/SMA 2 Lokal
Room Boy 12 - SMA/SMK 12 Lokal
Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup
Page | 5
Teknisi 1 - SMA/SMK 1 Lokal
Laundry 2 - SMA/SMK 2 Lokal
Security 2 - SMA/SMK 2 Lokal
Total 19 19
Sumber : Pemrakarsa, 2017
d. Operasional Wisma
Kegiatan operasional Wisma adalah kegiatan memanfaatkan
setiap kamar pada setiap bangunan untuk keperluan hunian,
administrasi dan kegiatan-kegiatan lain untuk kepentingan
penghuni dan tenaga kerja Wisma.
e. Operasional Sistem Air Bersih
Penyediaan air bersih bersumber dari air tanah yang berjumlah 2
titik yang berada di dalam lokasi kegiatan. Air bersih
dimanfaatkan untuk kebutuhan MCK penghuni, pengelola dan
lain-lain.
Menurut SNI 03-7065-2005, kebutuhan air untuk Wisma adalah
100 liter/orang/hari. Jika jumlah kamar Wisma diasumsikan terisi
setiap hari maka kebutuhan air untuk penyewa kamar wisma
adalah 35 x 100 liter/hari atau setara dengan 3.500 liter/hari (3,5
m3/hari). Sedangkan untuk pengelola wisma yang berjumlah 19
orang maka kebutuhan air adalah 19 orang x 100 liter/hari atau
setara 1.900 liter/hari (1,9 m3/hari). Sehingga total kebutuhan air
adalah 5.400 liter/hari (5,4 m3/hari).
f. Listrik
Energi listrik merupakan salah satu energi yang dibutuhkan
selama operasional Wisma yang bersumber dari PT PLN
(Persero). Kapasitas energi listrik yang dmemiliki sekitar 25 kVA.
g. Pemeliharaan Wisma dan Fasilitasnya
Pemeliharaan bangunan meliputi pemeliharaan Wisma bagian
dalam dan bagian luar Wisma. Pemeliharaan dilakukan secara
berkala berupa pengecatan, perbaikan, dan penggantian material
Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup
Page | 6
serta bagian-bagian tertentu yang mengalami kerusakan.
Kegiatan pemeliharaan juga termasuk pemeriksaan mesin
pendukung operasional Wisma seperti mesin pompa, mesin
pendingin dan jaringan instalasi mekanis dan elektris yang
terdapat pada Wisma
7. Kegiatan Pendukung
a. Operasional Ruang Parkir
Ruang parkir merupakan sarana yang disediakan oleh
pemrakarsa untuk memenuhi ruang parkir kendaraan mobil dan
motor akibat aktifitas penghuni dan pengelola Wisma. Pada
lokasi ini ruang parkir tersedia parkiran terbuka. Area parkir pada
area terbuka memiliki luas 700,00 m2 yang dapat memuat 56 SRP.
Berdasarkan ukuran kebutuhan ruang parkir pada Lampiran
Keputusan Dirjen Perhub Darat No. 272/HK.105/DRJD/96 tahun
1996, kebutuhan ruang parkir untuk kegiatan tempat
penginapan/Wisma adalah 0,2-1,0 SRP/kamar. Berdasarkan acuan
tersebut, maka Wisma dengan jumlah kamar 35 unit wajib
menyediakan 7-35 SRP (1 SRP = 12.5 m 2) atau luas sekitar 87,5
m2 – 437,5 m2. Jika dibandingkan dengan ketersediaan lahan
parkir Wisma yakni seluas 700 m2 maka dianggap sudah
memenuhi standar (1,6 SRP/kamar).
b. Operasional Laundry
Laundry adalah bagian dari housekeeping yang bertanggung
jawab atas pencucian semua linen, baik itu house laundry
maupun guest laundry. Untuk aktivitas cuci pakaian (laundry),
maka kebutuhan air untuk mencuci per cycle pencucian = 2.5
galon = 9.5 liter. Jika diasumsikan pencucian pakaian tamu
perhari adalah 4 potong, maka kebutuhan air untuk laundry = 35
x 4 x 9.5 = 1.330 liter/hari atau sekitar 1,3 m3/hari.

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 7
8. Informasi kegiatan dan Kondisi lingkungan sekitar
Wisma Afod terletak di dalam kawasan permukiman padat.
Sehingga dikelilingi berbagai macam kegiatan. Adapun jenis
aktivitas usaha dan/atau kegiatan di sekitar Wisma Afod yakni
Cafe/Rumah Makan, Perkantoran, dan Sekolah Menengah Atas
(SMA/MAN/SMK).
9. Kegiatan yang menjadi sumber dampak dan besaran dampak
a. Operasional Wisma.
Operasional Wisma Afod hampir sama dengan jasa penginapan
lainnya. Wisma afod dibuka setiap hari mulai hari senin sampai
dengan minggu. Sistem penyewaan kamar di wisma dikenakan
perhari/permalam. Kegiatan operasional Wisma memanfaatkan
setiap kamar pada setiap bangunan untuk keperluan hunian,
administrasi dan kegiatan-kegiatan lain untuk kepentingan
penghuni dan tenaga kerja Wisma
b. Operasional sistem air bersih.
Menurut SNI 03-7065-2005, kebutuhan air untuk Wisma adalah
100 liter/orang/hari. Jika jumlah kamar Wisma diasumsikan terisi
setiap hari maka kebutuhan air untuk penyewa kamar wisma
adalah 35 x 100 liter/hari atau setara dengan 3.500 liter/hari (3,5
m3/hari). Sedangkan untuk pengelola wisma yang berjumlah 19
orang maka kebutuhan air adalah 19 orang x 100 liter/hari atau
setara 1.900 liter/hari (1,9 m3/hari). Sehingga total kebutuhan air
adalah 5.400 liter/hari (5,4 m3/hari).
c. Operasional area parkir.
Ruang parkir disediakan untuk menampung kendaraan penghuni
kamar yang datang kelokasi kegiatan untuk menginap.
d. Operasional Laundry
Laundry merupakan suatu bagian dari departemen housekeeping
yang bertugas dan bertanggung jawab untuk memperoses

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 8
semua aktivitas pencucian baik untuk keperluan operasional
wisma maupun tamu wisma. Aktivitas pencucian untuk wisma
antara lain lain seperti seprai, sarung bantal, horden dan lain-lain
sedangkan kebutuhan tamu untuk mencuci pakaian mereka
selama menginap di wisma.
10. Uraian mengenai komponen kegiatan yang telah berjalan dan dan
dampak lingkungan yang ditimbulkan
a. Opersioanl Wisma
Kegiatan operasional wisma menimbulkan dampak lingkungan
antara lain:
- Peningkatan volume limbah padat dan cair dari operasional
mesin wisma
- Penurunan nilai estetika dan amenitas
- Peningkatan potensi kebakaran
b. Operasional sistem air bersih.
Operasional sistem air bersih berpotensi menimbulkan dampak
lingkungan antara lain:
- Penurunan kuantitas air dari pemakaian air tanah untuk
aktifitas MCK karyawan.
c. Operasioanl area parkir
Kegiatan operasional area parkir berpotensi menimbulkan
dampak lingkungan anatara lain:
- Aksesibilitas yang lebih baik dengan terakomodirnya
kendaraan keluar masuk pada area parkir.
- Penurunan kualitas udara dan timbulnya kebisingan yang
bersumber dari bunyi mesin dan knalpot kendaraan.
d. Operasional laundry
Kegiatan operasional laundry berpotensi menimbulkan dampak
lingkungan antara lain:
- Peningkatan volume limbah padat dan cair dari
- Penurunan kualitas air
- Penurunan kuantitas air

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 9
D. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup
Dampak lingkungan hidup yang akan terjadi akibat kegiatan
wisma diprakirakan melalui proses pelingkupan, yaitu dengan
memahami jenis kegiatan yang akan dilakukan dan komponen
lingkungan sekitarnya yang kemungkinan akan terkena dampak.
Setelah dampak-dampak tersebut teridentifikasi, selanjutnya
ditentukan upaya-upaya dalam pengelolaan lingkungan hidup dan
pemantauan lingkungan hidup.
Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Nomor P.102/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2016 tentang
Pedoman penyusunan dokumen lingkungan hidup bagi usaha
dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin usaha dan/atau kegiatan
tetapi belum memiliki dokumen lingkungan hidup, maka pada bagian
ini akan diuraikan dampak lingkungan yang ditimbulkan, upaya
pengelolaan lingkungan hidup, dan upaya pemantauan lingkungan
hidup dari kegiatan oleh operasional Wisma Afod. Berdasarkan hasil
analisis yang diperkirakan komponen terkena dampak, maka
komponen yang dikelola adalah komponen lingkungan yang terjadi
pada tahap operasional, adapun tahap prakonstruksi dan konstruksi
tidak dibahas lagi dalam dokumen ini karena sudah lama beroperasi.
Tahap Operasional
Jenis-jenis kegiatan yang dilakukan pada tahap operasional
Wisma Afod yang memerlukan pengelolaan lingkungan hidup adalah
operasional wisma, operasional sistem air bersih, operasional parkir
dan operasional laundry.
A. Operasional Wisma

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 10
1. Estetika dan Amenitas
a. Sumber Dampak

Bersumber dari aktifitas makan minum pengelola, tenaga kerja


dan sampah-sampah dari aktifitas wisma.

b. Jenis Dampak

Jenis dampak adalah penurunan nilai estetika dan amenitas


akibat timbulan sampah.
c. Besaran Dampak

Besaran dampak timbulan sampah adalah volume dan jumlah


tumpukan dan luas sebaran sampah di dalam lokasi.
Berdasarkan standar SNI 3242:2008, timbulan sampah untuk
kota besar adalah 3 L/orang/hari. Jika terdapat 54 orang
termasuk penghuni, pengelola, dan tenaga kerja operasional
wisma maka akan dihasilkan sampah sekitar 162 L/hari.
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup


 Pendekatan teknologi
- Menyediakan tempat sampah pada setiap ruang wisma.
- Menyediakan bak sampah umum di depan bangunan
wisma.
- Sampah dari setiap ruangan yang telah dimasukkan/
dikemas dalam kantong plastik kemudian di bawa ke TPS
sehingga sampah tidak mudah berserakan.
- Melakukan pemisahan dan pemilahan antara sampah
organik dan anorganik, biodegradable (dapat terurai) dan
abiodegradable (tidak dapat terurai).

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 11
- Jenis sampah organik yang mudah membusuk atau terurai
harus ditangani atau diangkut ke TPA tidak lebih dari 1 x 24
jam agar tidak menimbulkan bau yang dapat mengganggu
kenyamanan lingkungan.
- Melakukan pengangkutan limbah padat secara teratur ke
TPA;
 Pendekatan sosial ekonomi
- Menulis peringatan-peringatan atau slogan mengenai
kebersihan dan keindahan di areal wisma, misalnya
’buanglah sampah anda pada tempat nya ’kebersihan dan
keindahan adalah tujuan kita bersama’, dan lain-lain.
 Pendekatan institusi
- Bekerjasama dengan Pemerintah Kecamatan dan Kelurahan
dalam pengangkutan dan pengelolaan sampah.
2) Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup
Lokasi pengelolaan lingkungan;dilakukan di lokasi kegiatan.
3) Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup
Periode pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup;
dilakukan selama tahap operasional wisma.
e. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup


Melakukan pengamatan langsung di lapangan mengenai
jenis dan produksi sampah yang dihasilkan.
2) Lokasi Pemantauan Lingkungan Hidup
Lokasi pemantauan lingkungan;dilakukan dalam lokasi
kegiatan dan di sekitar lokasi kegiatan.
3) Periode Pemantauan Lingkungan Hidup

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 12
Periode pemantauan lingkungan hidup dilakukan 1 kali
dalam 6 bulan selama operasional wisma.

f. Institusi Pengelola dan Pemantauan Lingkungan Hidup

Pelaksana : Pemrakarsa
Pengawas : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
- Pemerintah Wilayah Kecamatan dan Kelurahan
- LPM Kelurahan Mannuruki
Pelaporan : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
2. Limbah Cair
a. Sumber Dampak

Bersumber dari kegiatan operasional wisma yang menghasilkan


limbah cair domestik.
b. Jenis Dampak

Jenis dampak adalah timbulnya limbah cair domestik dari


kegiatan wisma.
c. Besaran Dampak

Limbah cair yang dihasilkan adalah sekitar 4.664 liter/hari atau


4,5 m3/hari (sekitar 80% penggunaan air wisma).
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup


 Pendekatan teknologi
- Saluran air dilengkapi filter untuk menyaring material yang
terikut pada limbah cair.
- Membuat bak pengolah air limbah dalam lokasi kegiatan.
2) Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 13
Lokasi pengelolaan lingkungan;dilakukan di dalam lokasi
kegiatan.
3) Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup
Periode pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup;
dilakukan selama tahap operasional wisma.
e. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup


Melakukan pemantauan langsung di lapangan mengenai
limbah cair yang dihasilkan.
2) Lokasi Pemantauan Lingkungan Hidup
Lokasi pemantauan lingkungan;dilakukan di lokasi kegiatan.
3) Periode Pemantauan Lingkungan Hidup
Periode pemantauan lingkungan hidup dilakukan 1 kali
dalam 6 bulan selama operasional wisma.
f. Institusi Pengelola dan Pemantauan Lingkungan Hidup

Pelaksana : Pemrakarsa
Pengawas : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
- Dinas Kesehatan Kota Makassar
- Pemerintah Wilayah Kecamatan dan Kelurahan
- LPM Kelurahan Mannurki
Pelaporan : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
3. Potensi Kebakaran
a. Sumber Dampak

Bersumber dari tahapan kegiatan atau aktifitas penghuni,


pengelola dan pekerja wisma.
b. Jenis Dampak

Jenis dampak adalah potensi kebakaran di lokasi kegiatan.


c. Besaran Dampak
Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup
Page | 14
Besaran dampak adalah jumlah kejadian kebakaran selama
operasional wisma.
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup


 Pendekatan teknologi
- Manajemen Sistem Pencegahan dan Penanggulangan
Kebakaran (MSPK); seperti menyediakan sarana dan
prasarana pencegahan dan penanggulangan kebakaran.
- Menyediakan APAR di setiap lantai.
- Pihak pengembang menyiapkan hydrant yang dapat
mengcover semua lantai.
 Pendekatan sosial ekonomi
- Pengembang meminta user wisma untuk melakukan
penyediaan APAR di dalam ruang wisma.
2) Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup
Lokasi pengelolaan lingkungan hidup; dilakukan di dalam
lokasi.
3) Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup
Periode pengelolaan lingkungan hidup; dilakukan selama
operasional Wisma.
e. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup


Melakukan pengamatan langsung terhadap ketersediaan
APAR.
2) Lokasi Pemantauan Lingkungan Hidup
Lokasi pemantauan lingkungan hidup;dilakukan di dalam
lokasi.

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 15
3) Periode Pemantauan Lingkungan Hidup
Periode pemantauan lingkungan hidup dilakukan 1 kali
dalam 6 bulan selama operasional wisma.
f. Institusi Pengelola dan Pemantauan Lingkungan Hidup

Pelaksana : Pemrakarsa
Pengawas : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
- Dinas Ketenagakerjaan Kota Makassar
- Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar
- Pemerintah Wilayah Kecamatan dan Kelurahan
- LPM Kelurahan Mannuruki
Pelaporan : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
B. Operasional Ruang Parkir
1. Kualitas Udara dan Kebisingan
a. Sumber Dampak

Bersumber dari emisi gas buang dan bunyi mesin dan knalpot
kendaraan bermotor yang keluar masuk kompleks wisma.
b. Jenis Dampak

Jenis dampak adalah penurunan kualitas udara dan timbulnya


kebisingan di dalam lokasi.
c. Besaran Dampak

Perubahan kualitas udara dan kebisingan dibandingkan dengan


Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan No. 69 Tahun 2010
tentang Baku Mutu dan Kriteria Kerusakan Lingkungan Hidup.
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup


 Pendekatan teknologi
- Menyiapkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di dalam lokasi
kegiatan.
Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup
Page | 16
- Memasang rambu/pengumuman di lokasi parkir untuk tidak
membunyikan mesin dengan keras.
2) Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup
Lokasi pengelolaan lingkungan hidup; di areal parkir wisma.
3) Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup
Periode pengelolaan lingkungan hidup; dilakukan selama
operasional parkir.
e. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup


Melakukan pengukuran langsung kualitas udara di lapangan
dan analisis di laboratorium serta kebisingan dengan alat
sound level meter.
2) Lokasi Pemantauan Lingkungan Hidup
Lokasi pemantauan lingkungan hidup;di areal parkir wisma.
3) Periode Pemantauan Lingkungan Hidup
Periode pemantauan lingkungan hidup dilakukan 1 kali
dalam 6 bulan selama operasional parkir.
f. Institusi Pengelola dan Pemantauan Lingkungan Hidup

Pelaksana : Pemrakarsa
Pengawas : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
- Dinas Kesehatan Kota Makassar
- Pemerintah Wilayah Kecamatan dan Kelurahan
- LPM Kelurahan Mannuruki
Pelaporan : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
2. Aksesibilitas (Kemacetan Lalu Lintas)
a. Sumber Dampak

Bersumber dari kendaraan yang keluar masuk lokasi wisma.


b. Jenis Dampak

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 17
Jenis dampak adalah menurunnya gangguan aksesibilitas
dengan ketersediaan ruang parkir lokasi kegiatan.
c. Besaran Dampak

Besaran dampak adalah luas area parkir yang tersedia di lokasi.


Area parkir yang disediakan dapat menampung 56 SRP.
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup


 Pendekatan teknologi
- Menyediakan lapangan parkir secara proporsional sesuai
besar bangkitan – tarikan pergerakan arus lalulintas akibat
kegiatan Wisma.
- Area parkir harus tertata dengan baik dan mempunyai
ruang bebas di sekitarnya.
- Menyiapkan petugas parkir untuk mengoptimalkan
pemakaian parkir dengan mengatur kendaraan yang masuk
– keluar lokasi.
- Antara jalan masuk dan jalan keluar harus dibedakan/
dipisahkan untuk menghindari terjadinya konflik arus
lalulintas.
- Memasang rambu lalu lintas “dilarang berhenti” atau
“dilarang parkir” di depan jalan keluar masuk areal wisma.
 Pendekatan institusi
- Bekerjasama dengan Dinas Perhubungan Kota Makassar
dan Satlantas Polrestabes Makassar untuk melakukan
pengaturan lalulintas dan pemasangan rambu-rambu lalu
lintas.
2) Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 18
Lokasi pengelolaan lingkungan hidup; dilakukan pada areal
parkir di lokasi kegiatan.
3) Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup
Periode pengelolaan lingkungan hidup; dilakukan selama
tahap operasional wisma.
e. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup


Melakukanpengamatan langsung di lapangan dengan
penghitungan volume lalulintas kemudian dianalisis untuk
mendapatkan nilai indeks tingkat pelayanan jalan.
2) Lokasi Pemantauan Lingkungan Hidup
Lokasi pemantauan lingkungan hidup;dilakukan di Jalan
Pelita Raya depan lokasi kegiatan.
3) Periode Pemantauan Lingkungan Hidup
Periode pemantauan lingkungan hidup dilakukan 1 kali
dalam 6 bulan selama operasional wisma.
f. Institusi Pengelola dan Pemantauan Lingkungan Hidup

Pelaksana : Pemrakarsa
Pengawas : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
- Dinas Perhubungan Kota Makassar
- Satlantas Polrestabes Makassar
- Pemerintah Wilayah Kecamatan dan Kelurahan
- LPM Kelurahan Mannuruki
Pelaporan : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
-

C. Operasional Sistem Air Bersih


1. Kuantitas Air

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 19
a. Sumber Dampak

Bersumber dari operasional sistem air bersih dalam kegiatan


operasional wisma.
b. Jenis Dampak

Jenis dampak adalah penurunan kuantitas air tanah akibat


operasional wisma yang memerlukan air secara kontinu.
c. Besaran Dampak

Besaran dampak adalah perubahan level muka air tanah dalam


lokasi. Kebutuhan air untuk kegiatan wisma adalah sekitar air
adalah 5.400 liter/hari (5,4 m3/hari)
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup


 Pendekatan teknologi
- Halaman wisma tidak sepenuhnya tertutup oleh material
kedap air, agar air hujan atau air larian dapat meresap ke
dalam tanah (re-charge).
- Mendukung program pemerintah Lubangi Bumi Simpan Air
(LBSA) dengan membuat biopori atau sumur resapan pada
halaman wisma.
- Menanam tanaman peneduh dalam lokasi yang berfungsi
sebagai penahan air dalam tanah dan infiltrasi.
 Pendekatan sosial ekonomi
- Melakukan pendataan level permukaan sumur masyarakat
sekitar (jika ada) khususnya pada bulan kemarau.
2) Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup
Lokasi pengelolaan lingkungan hidup; dilakukan pada lokasi
sumur dalam lokasi.

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 20
3) Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup
Periode pengelolaan lingkungan hidup; dilakukan selama
operasional sistem air bersih pada tahap operasional wisma.
e. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup


Melakukan pemantauan langsung di lapangan mengenai
level permukaan air tanah dan upaya pengelolaan yang
dilakukan dalam meminimalkan dampak.
2) Lokasi Pemantauan Lingkungan Hidup
Lokasi pemantauan lingkungan hidup;dilakukan dalam lokasi
kegiatan.
3) Periode Pemantauan Lingkungan Hidup
Periode pemantauan lingkungan hidup dilakukan 1 kali
dalam 6 bulan selama operasional wisma.
f. Institusi Pengelola dan Pemantauan Lingkungan Hidup

Pelaksana : Pemrakarsa
Pengawas : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
- Pemerintah Wilayah Kecamatan dan Kelurahan
- LPM Kelurahan Mannuruki
Pelaporan : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
D. Operasional Laundry
1. Estetika dan Amenitas
a. Sumber Dampak

Bersumber dari sisa pembungkus detergen dan sampah-


sampah dari aktifitas laundry.
b. Jenis Dampak

Jenis dampak adalah penurunan nilai estetika dan amenitas


akibat timbulan sampah.
Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup
Page | 21
c. Besaran Dampak

Besaran dampak timbulan sampah adalah volume dan jumlah


tumpukan dan luas sebaran sampah di dalam lokasi.
Berdasarkan standar SNI 3242:2008, timbulan sampah untuk
kota besar adalah 3 L/orang/hari. Jika terdapat 35 kamar maka
akan dihasilkan sampah sekitar 105 L/hari.
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup


 Pendekatan teknologi
- Menyediakan tempat sampah pada setiap ruang laundry.
- Menyediakan bak sampah umum di depan bangunan
laundry.
- Sampah dari setiap ruangan yang telah dimasukkan/
dikemas dalam kantong plastik kemudian di bawa ke TPS
sehingga sampah tidak mudah berserakan.
- Melakukan pemisahan dan pemilahan antara sampah
organik dan anorganik, biodegradable (dapat terurai) dan
abiodegradable (tidak dapat terurai).
- Jenis sampah organik yang mudah membusuk atau terurai
harus ditangani atau diangkut ke TPA tidak lebih dari 1 x 24
jam agar tidak menimbulkan bau yang dapat mengganggu
kenyamanan lingkungan.
- Melakukan pengangkutan limbah padat secara teratur ke
TPA;
 Pendekatan sosial ekonomi
- Menulis peringatan-peringatan atau slogan mengenai
kebersihan dan keindahan di areal laundry, misalnya

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 22
’buanglah sampah anda pada tempat nya ’kebersihan dan
keindahan adalah tujuan kita bersama’, dan lain-lain.
 Pendekatan institusi
- Bekerjasama dengan Pemerintah Kecamatan dan Kelurahan
dalam pengangkutan dan pengelolaan sampah.
2) Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup
Lokasi pengelolaan lingkungan;dilakukan di lokasi kegiatan.
3) Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup
Periode pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup;
dilakukan selama tahap operasional laundry.
e. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup


Melakukan pengamatan langsung di lapangan mengenai
jenis dan produksi sampah yang dihasilkan.
2) Lokasi Pemantauan Lingkungan Hidup
Lokasi pemantauan lingkungan;dilakukan dalam lokasi
kegiatan dan di sekitar lokasi kegiatan.
3) Periode Pemantauan Lingkungan Hidup
Periode pemantauan lingkungan hidup dilakukan 1 kali
dalam 6 bulan selama operasional laundry.
f. Institusi Pengelola dan Pemantauan Lingkungan Hidup

Pelaksana : Pemrakarsa
Pengawas : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
- Pemerintah Wilayah Kecamatan dan Kelurahan
- LPM Kelurahan Mannuruki
Pelaporan : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
2. Kualitas Air
a. Sumber Dampak

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 23
Bersumber dari kegiatan operasional laundry yang
menghasilkan limbah cair domestik.
b. Jenis Dampak

Jenis dampak adalah timbulnya limbah cair domestik dari


kegiatan laundry.
c. Besaran Dampak

Limbah cair yang dihasilkan adalah 1.064 liter/hari atau sekitar


1,1 m3/hari (sekitar 80% penggunaan air laundry).
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup


 Pendekatan teknologi
- Saluran air dilengkapi filter untuk menyaring material yang
terikut pada limbah cair.
- Membuat bak pengolah air limbah dalam lokasi kegiatan.
2) Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup
Lokasi pengelolaan lingkungan; dilakukan di dalam lokasi
kegiatan.
3) Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup
Periode pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup;
dilakukan selama tahap operasional laundry.
e. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup


Melakukan pemantauan langsung di lapangan mengenai
limbah cair yang dihasilkan.
2) Lokasi Pemantauan Lingkungan Hidup
Lokasi pemantauan lingkungan;dilakukan di lokasi kegiatan.
3) Periode Pemantauan Lingkungan Hidup

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 24
Periode pemantauan lingkungan hidup dilakukan 1 kali
dalam 6 bulan selama operasional laundry.
f. Institusi Pengelola dan Pemantauan Lingkungan Hidup

Pelaksana : Pemrakarsa
Pengawas : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
- Dinas Kesehatan Kota Makassar
- Pemerintah Wilayah Kecamatan dan Kelurahan
- LPM Kelurahan Mannurki
Pelaporan : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
3. Kuantitas Air
a. Sumber Dampak

Bersumber dari operasional sistem air bersih dalam kegiatan


operasional laundry.
b. Jenis Dampak

Jenis dampak adalah penurunan kuantitas air tanah akibat


operasional laundry yang memerlukan air secara kontinu.
c. Besaran Dampak

Besaran dampak adalah perubahan level muka air tanah dalam


lokasi. Kebutuhan air untuk kegiatan laundry adalah sekitar
1.330 liter/hari atau sekitar 1,3 m3/hari.
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup


 Pendekatan teknologi
- Halaman wisma tidak sepenuhnya tertutup oleh material
kedap air, agar air hujan atau air larian dapat meresap ke
dalam tanah (re-charge).

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 25
- Mendukung program pemerintah Lubangi Bumi Simpan Air
(LBSA) dengan membuat biopori atau sumur resapan pada
halaman laundry dan sekitar wisma.
- Menanam tanaman peneduh dalam lokasi yang berfungsi
sebagai penahan air dalam tanah dan infiltrasi.
 Pendekatan sosial ekonomi
- Melakukan pendataan level permukaan sumur masyarakat
sekitar (jika ada) khususnya pada bulan kemarau.
2) Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup
Lokasi pengelolaan lingkungan hidup; dilakukan pada lokasi
sumur dalam lokasi.
3) Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup
Periode pengelolaan lingkungan hidup; dilakukan selama
operasional sistem air bersih pada tahap operasional laundry.
e. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup

1) Bentuk Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup


Melakukan pemantauan langsung di lapangan mengenai
level permukaan air tanah dan upaya pengelolaan yang
dilakukan dalam meminimalkan dampak.
2) Lokasi Pemantauan Lingkungan Hidup
Lokasi pemantauan lingkungan hidup;dilakukan dalam lokasi
kegiatan.
3) Periode Pemantauan Lingkungan Hidup
Periode pemantauan lingkungan hidup dilakukan 1 kali
dalam 6 bulan selama operasional laundry.
f. Institusi Pengelola dan Pemantauan Lingkungan Hidup

Pelaksana : Pemrakarsa

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 26
Pengawas : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
- Pemerintah Wilayah Kecamatan dan Kelurahan
- LPM Kelurahan Mannuruki
Pelaporan : - Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
Rangkuman kegiatan dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan serta
upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan
hidup yang telah dijelaskan di atas selanjutnya terangkum dalam matriks
berikut ini.

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup


Page | 27

Anda mungkin juga menyukai