0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan27 halaman

Pengaruh Model Make A Match pada Matematika

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Make A Match pada materi persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel terhadap pemahaman siswa di SMP Negeri 17 Tegal. Penelitian ini membandingkan hasil belajar siswa yang diajar dengan model Make A Match dengan model konvensional, dengan fokus pada materi persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan27 halaman

Pengaruh Model Make A Match pada Matematika

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Make A Match pada materi persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel terhadap pemahaman siswa di SMP Negeri 17 Tegal. Penelitian ini membandingkan hasil belajar siswa yang diajar dengan model Make A Match dengan model konvensional, dengan fokus pada materi persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

“PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH PADA

MATERI PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN LINEAR SATU


VARIABEL TERHADAP PEMAHAMAN SISWA PADA MATA
PELAJARAN MATEMATIKA DI SMP NEGERI 17 TEGAL TAHUN
PELAJARAN 2019/2020”

PROPOSAL PENELITIAN

Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah


Metode Penelitian Pendidikan Matematika
Dosen Pengampu: Drs. Ponoharjo, M.Pd

Oleh:
Adikis Saputra
NPM 1716500002

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2018

i
HALAMAN PENGESAHAN

Proposal penelitian yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Make A MATCH Pada Materi
Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel Terhadap Pemahaman Siswa Pada Mata
Pelajaran Matematika di SMP Negeri 17 Tegal Tahun Pelajarn 2019/2020”
Yang diajukan oleh:
Nama : Adikis Saputra
NPM : 1716500002
Telah disetujui dan disahkan untuk ditindak lanjuti dalam penyusunan skripsi

Pembimbing 1 Pembimbing 2

Drs.Ponoharjo, M.Pd
NIP. 195903051985031005 NIPY.

Disahkan,
Ketua Program Studi

Rizqi Amaliyakh S, M.Pd


NIPY.

ii
Daftar Pustaka

PROPOSAL PENELITIAN ........................................................................................................................ i


HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................................................................... ii
Daftar Pustaka ........................................................................................................................................... iii
BAB I ............................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ................................................................................................................ 1
B. Identifikasi Masalah ....................................................................................................................... 2
C. Pembatasan Masalah ...................................................................................................................... 2
D. Rumusan Masalah .......................................................................................................................... 3
E. Tujuan Penelitian ............................................................................................................................ 3
F. Manfaat Penelitian .......................................................................................................................... 3
BAB II .......................................................................................................................................................... 5
TINJAUAN TEORITIK, KERANGKA ANALISIS DAN HIPOTESIS ............................................... 5
A. Tinjauan Teoritik ............................................................................................................................... 5
B. Kerangka Analisis ......................................................................................................................... 14
C. Hipotesis ......................................................................................................................................... 15
BAB III......................................................................................................................................................... 6
METODE PENELITIAN ........................................................................................................................... 6
A. Pendekatan dan Desain Penelitian ................................................................................................ 6
B. Populasi, Prosedur Sampling dan Sampel Penelitian ................................................................... 17
C. Variabel Penelitian dan Indikator Variabel .................................................................................. 18
D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ................................................................................... 19
E. Teknik Analisis Data ........................................................................................................................ 21
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................ 24

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Matematika merupakan mata pelajaran sulit bagi sebagian besar siswa, kesulitan
tersebut dapat memicu keaktifan siswa untuk selalu bertanya dan tergantung pada guru untuk
menyelesaikan setiap soal-soal yang dihadapi. Karena terlalu sering bertanya siswa kurang
mandiri dan tidak mencoba soal baru sehingga siswa hanya tergatung pada contoh soal dan
soal-soal yang diberikan dari guru saja padahal guru bukan satu-satunya sumber untuk
mendapatkan ilmu atau pengetahuan.

Proses pembelajaran yang baik bukan hanya terlihat dari siswa dapat memahami materi
pelajarannya saja karena hal tersebut cenderung menekan dan memaksa jiwa seseorang siswa
dapat memahami materinya. Namun, bagaimana seorang siswa dapat memahami materi dengan
cara yang menyenangkan dan tidak menimbulkan perasaan tertekan dalam dirinya, sehingga
dengan sendirinya proses belajar mengajar akan terlibat aktif. Pada dasarnya keaktifan siswa di
kelas terlihat dari aktivitas yang dilakukan siswa karena jika aktivitas belajar siswa efektif maka
akan mempengaruhi hasil belajar yang baik dan siswa dapat dengan cepat memahami mata
pelajaran yang disampaikan oleh guru tersebut.

Dalam interaksi belajar mengajar terdapat berbagai macam model pembelajaran yang
bertujuan agar proses belajar mengajar dapat berjalan baik. Secara umumnya, model
pembelajaran adalah cara atau teknik penyajian sistematis yang digunakan oleh guru dalam
mengorganisasikan pengalaman proses pembelajaran agar tercapai tujuan dari sebuah
pembelajaran. Definisi singkat lainnya yaitu suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan
pembelajaran. Hal ini juga bertujuan untuk menciptakan proses belajar mengajar aktif serta
memungkinkan timbulnya sikap keterkaitan siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar
secara menyeluruh. Pembelajaran yang efektif tersebut harus diimbangi dengan kemampuan
guru dalam menguasai model pembelajaran dan materi yang akan diajarkan.

Pemahaman dalam pembelajaran adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan


seseorang mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal

1
2

ini ia tidak hanya hapal secara verbalitas, tetapi memahami konsep dari masalah atau
fakta yang ditanyakan, maka operasionalnya dapat membedakan, mengubah, mempersiapkan,
menyajikan, mengatur, menginterpretasikan, menjelaskan, mendemonstrasikan, memberi
contoh, memperkirakan, menentukan, dan mengambil keputusan.

Salah satu alternatif untuk pengajaran tersebut adalah menggunakan model


pembelajaran Make-A Match (Mencari Pasangan). Penerapan model pembelajaran yang
bervariasi akan mengatasi kejenuhan siswa sehingga dapat dikatakan bahwa model
pembelajaran sangat berpengaruh terhadap tingkat pemahaman siswa. Seperti materi persamaan
linier adalah suatu persamaan yang memiliki variabel dengan pangkat tertingginya adalah 1
(satu). Persamaan linier satu variabel merupakan suatu persamaan yang memiliki satu variabel
dengan pangkat tertingginya adalah 1(satu). Contoh persamaan linear satu variabel.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis dapat mengidentifikasi beberapa
permasalahan dalam penelitian ini yang akan dijadikan bahan penelitian selanjutnya.
1. Siswa kurang termotivasi dalam belajar matematika, sehingga prestasi belajar siswa
pada pelajaran matematika rendah
2. Matematika terlalu banyak rumus, sehingga siswa merasa malas untuk mempelajari
pelajaran matematika
3. Kurangnya variasi guru dalam menjelaskan materi pelajaran
4. Matematika selalu dianggap dengan mata pelajaran yang menakutkan dan sangat sulit
untuk dipahami oleh siswa
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, akan dilakukan uji coba
pembelajaran dengan membandingkan prestasi belajar matematika siswa yang
menggunakan model make a match dengan membandingkan prestasi belajar matematika
siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Dikatakan berpengaruh
apabila prestasi belajar matematika pada kelas yang menggunakan model make a match
lebih tinggi daripada prestasi belajar yang menggunakan model pembelajaran
konvensional. Prestasi yang dimaksud adalah nilai tes pembelajaran pada kelas VII SMP
Negeri 17 Tegal semester ganjil dalam bentuk angka.
3

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dirumuskan di atas, maka dapat penulis rumuskan
masalah sebagai berikut:
1. Apakah ada pengaruh pemahaman matematika yang diajar dengan menggunakan Make a
Match lebih baik daripada yang menggunakan konvensional?
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1) Mengetahui apakah prestasi matematika yang diajar dengan menggunakan Make a


Match lebih baik daripada yang menggunakan konvensional
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini dapat menjadi bahan kajian dalam menambah pengetahuan dalam
bidang pendidikan khususnya penggunaan model make a match untuk meningkatkan
prestasi belajar pada mata pelajaran matematika. Penelitian ini juga diharapkan dapat
memberikan kontribusi terhadap pembelajaran matematika yang inovatif dan melibatkan
peran aktif siswa dalam proses belajar mengajar.
2. Manfaat Praktis
Selain manfaat teoritis terdapat juga manfaat praktis sebagai berikut:
a. Bagi Guru
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi guru dalam memilih model-model
pembelajaran inovatf untuk tujuan mengembangkan prestasi siswa
b. Bagi Peserta Didik
Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika,
mengembangkan kemampuan pemecahan masalah, kemampuan berpikir kritis dan kreatif,
mempunyai kesadaran akan pentingnya ilmu matematika, memperoleh kerjasama dengan
kelompok, dan semakin percaya diri.
c. Bagi Sekolah
4

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam upaya meningkatkan
kualitas pembelajaran di sekolah tersebut serta menjadikan tolak ukur untuk menilai sejauh
mana pengaruh model pembelajaran yang digunakan sekolah tersebut dapat dipahami dan
dimengerti oleh siswa dengan model yang dijadikan penelitian.
d. Bagi Peneliti
1. Hasil penelitian ini dapat memberikan kebanggaan bagi penulis, karena penelitian ini
merupakan pengalaman awal penulis dalam meneliti dan menyusun karya ilmiah.
2. Hasil penelitian ini dapat menjadi referensi penulis dan peneliti lain untuk melakukan
penelitian lebih lanjut.
e. Bagi Pembaca
Penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan referensi atau informasi dalam pembuatan
proposal skripsi maupun skripsi.
BAB II

TINJAUAN TEORITIK, KERANGKA ANALISIS DAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Teoritik
1. Belajar
Menurut Bell-Gradler dalam Udin S.Winataputra (2008) pengertian belajar adalah proses
yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skills, and
attitude. Kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan sikap (attitude) tersebut
diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui
rangkaian proses belajar sepanjang hayat.

2. Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut (Agus Suprijono, 2009:54), “Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang


lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin
oleh guru atau diarahkan oleh guru”.

Menurut Vygotsky, model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang


menekankan peserta didik mengonstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial dengan orang
lain.

Dari beberapa pendapat diatas, dapat diartikan model pembelajaran kooperatif


merupakan model pembelajaran yang didalamnya mengkondisikan para peserta didik bekerja
secara bersama-sama di dalam kelompok-kelompok kecil untuk membantu satu sama lain
dalam belajar dan setiap anggota kelompok harus bertanggung jawab atas pembelajarannya
agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dengan demikian model pembelajaran kooperatif
meliputi semua jenis kerja kelompok yang menekankan peserta didik mengonstruksi
pengetahuan melalui interaksi dengan orang lain.

5
6

Menurut Vygotsky, bahwa pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif


dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas lebih efektif. Model pembelajaran
kooperatif secara efektif dengan ciri-ciri sebagai berikut:

a. Memudahkan peserta didik belajar sesuatu yang bermanfaat.


b. Pengetahuan, nilai, dan keterampilan diakui oleh mereka yang berkompenten menilai.
Berdasarkan belajar kelompok peserta didik biasanya lebih mudah paham akan apa yang
disampaikan oleh temannya sendiri. Menurut Nasution bahwa bahasa yang digunakan oleh
peserta didik lebih mudah ditangkap oleh peserta didik lain. Selain itu dalam pembelajaran
kooperatif terdapat beberapa keuntungan seperti:
a. Memudahkan peserta didik melakukan penyesuaian sosial
b. Meningkatkan sikap tenggang rasa
c. Meningkatkan motivasi belajar intrinsik
d. Meningkatkan sikap positif terhadap belajar dan pengalaman belajar
e. Menghilangkan sikap mementingkan diri sendiri atau egois.

Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif


Menurut (Wiwiek Tamsyani, 2014), pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran
yang mengutamakan kerjasama diantara peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri:
a. Untuk menuntaskan materi belajarnya, peserta didik belajar dalam kelompok secara
bekerjasama.
b. Kelompok dibentuk dari peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c. Jika dalam kelas terdapat peserta didik yang heterogen (berbeda).
d. Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada perorangan
Tujuan Pembelajaran Kooperatif sebagai berikut:
a. Hasil belajar akademik, yaitu untuk meningkatkan kinerja peserta didik dalam tugas-tugas
akademik.
b. Penerimaan terhadap keragaman, yaitu agar peserta didik menerima teman-temannya yang
mempunyai berbagai macam latar belakang.
7

c. Pengembangan keterampilan sosial, yaitu untuk mengembangkan keterampilan sosial


peserta didik diantaranya: berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain,
memancing teman untuk bertanya, mau mengungkapkan ide, dan bekerja dalam kelompok.

Fase-fase Model Pembelajaran Kooperatif:


Fase Indikator Aktivitas Guru
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang
Menyampaikan tujuan dan
1 ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi
memotivasi peserta didik
peserta didik.
Guru menyajikan informasi kepada peserta didik
2 Menyajikan informasi
dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Mengorganisasikan peserta Guru menjelaskan kepada peserta didik bagaimana
3 didik ke dalam kelompok- caranya membentuk kelompok belajar dan membantu
kelompok belajar setiap kelompok agar melakukan transisi efisien.
Membimbing kelompok Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada
4
bekerja dan belajar saat mengerjakan tugas.
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang
5 Evaluasi telah dipelajari atau masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil kerjanya.
Guru mencari cara untuk menghargai upaya atau hasil
6 Memberikan penghargaan belajar peserta didik baik individu maupun
kelompok.

Menurut (Wiwiek Tamsyani, 2014), bahwa model pembelajaran kooperatif


memiliki kelebihan dan kelemahan diantaranya sebagai berikut:
a. Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif
(1) Mendorong peserta didik untuk berpikir secara inisiatif, jujur, dan terbuka.
(2) Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.
(3) Dapat membentuk dan mengembangkan sel konsep pada diri peserta didik.
(4) Membantu dalam menggunakan ingatan dan membangun situasi belajar yang baru.
(5) Melatih peserta didik untuk menyampaikan gagasan/ide.
8

(6) Melatih peserta didik untuk menghargai gagasan/ide orang lain.


(7) Menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam kelompok dan sosial.

b. Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif


1) Kadang hanya beberapa peserta didik yang aktif dalam kelompok.
2) Kendala teknis, seperti kurang tempat duduk.
3) Memakan waktu lebih banyak.
Ketujuh komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang diperlukan dalam
kegiatan pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran pendidik dapat terarah bahwa peserta
didik akan bekerja secara bersama-sama untuk membantu satu sama lain dalam belajar dan
dapat bertanggungjawab atas pembelajarannya, agar tujuan pembelajaran peserta didik
dapat tercapai. Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang
diharapkan dapat memudahkan peserta didik melakukan penyesuaian sosial dan
meningkatkan sikap positif terhadap belajar dan pengalaman belajar.

3. Model Pembelajaran Make a Match


Metode Make a Match (membuat pasangan) merupakan salah satu jenis dari metode
dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1994).
Salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai
suatu konsep atau topic dalam suasana yang menyenangkan.
Penerapan metode ini dimulai dengan teknik, yaitu siswa disuruh mencari pasangan
kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat
mencocokkan kartunya diberi poin, (Rusman, 2012:223).
Model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match atau mencari pasangan
merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar
siswa. Pembelajaran Make a Match adalah pembelajaran menggunakan kartu-kartu.
Kartu-kartu tersebut terdiri dari kartu yang berisi pertanyaan dan kartu yang berisi jawaban
dari pasangan pertanyaan yang tersedia.
Model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match ini sangat efektif membantu
siswa dalam memahami materi melalui permainan mencari kartu jawaban dan pertanyaan,
sehingga dapat menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan.
9

Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan dibandingkan


dengan model pembelajaran lainnya. Begitu pula dengan pembelajaran Make a Match,
adapun kelebihan dan kelemahannya adalah sebagai berikut :
a. Kelebihan pembelajaran Make a Match :
1) Siswa dapat belajar dengan aktif karena guru hanya berperan sebagai
pembimbing, sehingga siswa yang mendominasi dalam aktifitas pembelajaran.
2) Siswa dapat mengidentifikasi permasalahan yang terdapat dalam kartu yang
ditemukannya.
3) Dapat meningkatkan antusiasisme siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
4) Dengan penyelesaian soal (masalah), maka otak siswa akan bekerja lebih baik,
sehingga proses belajarpun akan menjadi lebih baik.
5) Siswa dapat mengenal siswa lainnya, karena dalam proses pembelajaran terjadi
interaksi antar siswa untuk membahas soal dan jawaban yang dihadapi.
b. Kelemahan pembelajaran Make a Match :
1) Diperlukan bimbingan dari guru untuk melakukan kegiatan.
2) Guru memerlukan waktu untuk mempersiapkan alat dan bahan pelajaran yang
memadai. Memerlukan waktu yang lebih banyak, sehingga waktu yang tersedia
harus dibatasi jangan sampai siswa terlalu banyak bermain-main dalam proses
pembelajaran.

Langkah-langkah dalam pembelajaran Make a Match, diantaranya :

1. Siapkan kartu-kartu
Kartu-kartu tersebut terdiri dari kartu berisi pertanyaan-pertanyaan dan kartu-kartu
lainnya berisi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.
2. Guru membagi komunitas kelas menjadi 3 kelompok
Kelompok pertama merupakan kelompok pembawa kartu-kartu berisi pertanyaan-
pertanyaan. Kelompok kedua adalah kelompok pembawa kartu-kartu berisi
jawaban-jawaban. Kelompok ketiga adalah kelompok nilai. Aturlah posisi
kelompok-kelompok tersebut berbentuk huruf U. Upayakan kelompok pertama dan
kedua berjajar saling berhadapan.
3. Guru membunyikan peluit sebagai tanda dimulainya pembelajaran
10

Jika masing-masing kelompok sudah berada di posisi yang telah ditentukan, maka
guru akan membunyikan peluit sebagai tanda dimulainya kegiatan pembelajaran.
Kedua kelompok saling bergerak mencari pasangannya, pasangan yang cocok
antara pertanyaan dan jawabannya. Guru memberikan kesempatan kepada mereka
untuk berdiskusi. Kondisikan kelas supaya tetap tenang agar kegiatan berlangsung
maksimal.
4. Kelompok penilai memberikan penilaian
Pasangan-pasangan yang sudah terbentuk wajib menunjukan pertanyaan-jawaban
kepada kelompok penilai, yaitu kelompok ketiga. Kemudian kelompok penilai
membaca apakah pasangan pertanyaan-jawaban itu cocok.
5. Pertukaran posisi
Setelah penilaian dilakukan, aturlah sedemikian rupa kelompok pertama dan
kelompok kedua bersatu kemudian memposisikan dirinya sebagai penilai.
Sementara kelompok penilai pada sesi pertama tersebut diatas dipecah menjadi dua,
sebagian anggota memegang kartu pertanyaan dan sebagian lainnya memegang
kartu jawaban. Posisikan mereka dalam membentuk huruf U. Kegiatan ini
dilakukan sama seperti kelompok sebelumnya sampai penilaian.

Perlu diketahui bahwa tidak semua peserta didik baik yang berperan sebagai
pemegang kartu pertanyaan, pemegang kartu jawaban, maupun penilai mengetahui dan
memahami secara pasti apakah betul kartu pertanyaan-jawaban yang mereka pasangkan
sudah cocok. Berdasarkan kondisi inilah guru memfasilitasi diskusi untuk memberikan
kesempatan kepada seluruh peserta didik mengonfirmasikan hal-hal yang mereka lakukan
yaitu memasangkan pertanyaan-jawaban dan melaksanakan penilaian. (Agus Suprijono,
2009:94)

4. Pendekatan Konvensional

Pendekatan konvensional merupakan pembelajaran biasa yang paling sering


dilakukan oleh guru-guru disekolah. Pada pembelajaran ini guru memberikan penjelasan
atau penuturan secara lisan kepada sejumlah siswa. Siswa mendengarkan dan mencatat
seperlunya. Siswa bersifat pasif pada umumnya, yaitu menerima saja apa yang dijelaskan
11

oleh guru. Guru dalam melaksanakan tugasnya itu sering menggunakan berbagai alat
bantu, seperti papan tulis, kapur serta gambar-gambar.

Pembelajaran konvensional ini lebih banyak menggunakan ceramah, guru


memegang peran sebagai sumber informasi bagi siswa. Pembelajaran dengan pendekatan
Konvensional dalam penelitian ini yaitu Model Pembelajaran Ekspositori. Dimana guru
lebih mendominasi proses pembelajaran yang meliputi menerangkan materi pelajaran,
memberikan contoh-contoh penyelesaian soal-soal serta menjawab semua pertanyaan yang
diajukan siswa. Wartono dalam Sunarto (2009) memberikan gambaran ciri-ciri
pembelajaran konvensional, yaitu :

1) Bahan pelajaran disajikan kepada kelompok siswa dikelas sebagai keseluruhan tanpa
memperhatikan siswa secara individual.
2) Kegiatan pembelajaran umumnya berbentuk ceramah, tugas tertulis, dan media lain
menurut pertimbangan guru.
3) Siswa umumnya bersifat pasif, karena harus mendengarkan penejelasan guru.
4) Kecepatan belajar siswa umumnya ditentukan oleh kecepatan guru dalam mengajar.
5) Keberhasilan belajar umumnya ditentukan oleh guru secara subyektif.
6) Diperkirakan hanya sebagian kecil saja dari siswa yang menguasai materi pelajaran
secara tuntas.
Seperti pendekatan pembelajaran lainnya, pendekatan konvensional ini juga memiliki
keunggulan dan kelemahan. Menurut Sunarto (2009) terdapat keunggulan dan kelemahan
dalam pendekatan pembelajaran ini. Keunggulan dari pendekataan ini adalah “dapat
digunakan untuk siswa dalam jumlah yang besar dan dapat menyelesaikan suatu materi
pelajaran dengan cepat”. Kelemahan dari penedekatan pembelajaran ini yaitu :

a. Siswa seringkali tidak aktif dalam proses pembelajaran, sehingga pembelajaran jadi
kurang efektif.
b. Terutama bagi siswa yang belum cukup dewasa, pembelajaran konvensional ini sering
menimbulkan kesulitan.
12

5. Prestasi Belajar Siswa

Kata prestasi menurut Poerwadarminta (2004:768) adalah “hasil yang telah dicapai,
hasil yang telaah dilakukan, hasil yang telah dikerjakan”. Kaitannya dengan belajar maka
prestasi belajar merupakan hasil yang telah dicapai setelah melakukan kegiatan belajar, yaitu
berupa perubahan tingkah laku yang menetap. Prestasi belajar siswa, dipahami sebagai
kemampuan yang utuh yang mencangkup kemampuan kognitif, kemampuan psikomotor,
dan kemampuan afektif atau perilaku.

Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai seseorang setelah ia melakukan perubahan
belajar, baik disekolah maupun diluar sekolah. Prestasi belajar mengacu pada perilaku
kognitif yang bervariasi dari ingatan sederhana tentang fakta hingga tipe kompleks dari
berpikir. Prestasi belajar terjadi pada waktu singkat, seperti halnya setelah selesai
pelajaran, setelah satu semester atau satu kursus (Susongko, 2012:6)

“Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan dan ketrampilan yang


dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai
yang diberikan oleh guru” (Tu’u, 2004:75)

Penilaian dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat
pencapaian kompetensi siswa, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan
kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran, (Rusman, 2012:13).
Penilaian dilakukan secara konsisten, sistematis, dan terprogram dengan menggunakan tes
dalam bentuk penilaian hasil karya berupa tugas, portofolio. Penilaian hasil belajar
menggunakan standar penilaian pendidikan dan panduan penilaian kelompok mata
pelajaran.

Mengetahui prestasi belajar setiap siswa perlu dikatakan penilaian atau evaluasi.
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis dan
menafsirkan data tentang proses yang berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang
bermakna pengambilan keputusan. Penilaian proses dan hasil belajar bertujuan untuk
menentukan tingkat pencapaian tujuan pendidikan atau tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan dalam kurikulum, garis-garis besar program pengajaran atau dalam perangkat
perencanaan kegiatan pemvelajaran lainnya.
13

Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan suatu perubahan tingkah laku
dikategorikan sebagai hasil belajar, jadi hasil belajar itu harus membawa perubahan dan
perubahan itu terdapat dalam keadaan sadar dan disengaja, dan bentuk dari hasil belajar itu
dapat berupa pengetahuan, keterampilan ataupun nilai-nilai hidup.

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat


digolongkan menjadi dua (Slameto, 2010:54) yaitu:

7) Faktor intern
Faktor intern adalah factor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, factor
intern terdiri dari:
1) Faktor jasmaniah (kesehatan dan cacat tubuh)
2) Faktor psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan
kesiapan)
3) Faktor kelelahan
8) Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor yang ada diluar individu, faktor ekstern terdiri dari:
1) Faktor keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana
rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua dan latar belakang
kebudayaan)
2) Faktor sekolah (mmetode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi
siswa dengan siswa, disipin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran
diatas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah)
3) Faktor masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, temn bergaul
dan bentuk kehidupan masyarakat)

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar


merupakan tingkat kemampuan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak, dan
menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar, yang
berwujud nilau angka atau huruf.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar sebagai berikut faktor
internal yang terdiri dari faktor kecerdasan, faktor jasmaniah atau faktor fisiologis,
14

sikap, minat, bakat dan faktor motivasi, sedangkan faktor eksternal meliputi faktor
keadaan keluarga, keadaan sekolah dan faktor lingkungan masyarakat.

6. Teori Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel


Persamaan linier adalah suatu persamaan yang memiliki variabel dengan pangkat
tertingginya adalah 1 (satu). Persamaan linier satu variabel merupakan suatu persamaan
yang memiliki satu variabel dengan pangkat tertingginya adalah 1(satu). Contoh
persamaan linear satu variabel.
Pertidaksamaan linier satu variabel adalah suatu pertidaksamaan yang memiliki
variabel dengan pangkat tertingginya adalah 1 (satu). Hampir sama dengan persamaan
linear satu variabel, pembedanya adalah tanda “=” tidak ada dalam pertidaksamaan linear
satu variabel. Tanda sama dengan diganti dengan atau . Contoh persamaan linear satu
variabel.

B. Kerangka Analisis
Mengatasi permasalahan siswa yang kurang focus terhadap materi ajar yang
diberikan guru, maka diperlukan suatu alternatif model pembelajaran yang lebih tepat dan
menarik.
Pembelajaran matematika sangat menuntut keaktifan dan penalaran siswa dan guru
sebagai fasilitator dituntut untuk membantu siswa dalam proses pembelajaran. Dalam
keseluruhan proses pendidikan di sekolah kegiatan belajar merupkan kegiatan paling
pokok. Oleh karena itu, berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan bergantung kepada
bagaimana proses belajar yang dialami siswa sebagai siswa. Penerapan model pembelajarn
yang tepat berpengaruh pada keberhasilan proses pembelajaran.
Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru dalam
mengembangkan model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas
keterlibatan siswa secara efektif di dalam proses pembelajaran. Pengembangan model yang
tepat pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang
meningkatkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan sehingga siswa dapat
meraih prestasi yang optimal.
15

Kegiatan penelitian dimulai dengn pemberian pembelajaran dengan model


pembelajaran kooperaif tipe Make a Match pada kelas eksperimen dan pembelajaran pada
kelas control. Selanjutnya pada kelas eksperimen dan kelas kontrol diberi materi pelajaran
matematika dengan materi pokok yang sama maka dari proses pembelajaran dengan
metode yang tepat akan tercapai prestasi belajar yang optimal.

C. Hipotesis
Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan hipotesis sebagai berikut: “ Prestasi
belajar matematika berpengaruh terhadap pemahaman siswa yang menggunakan model
pembelajaran Make a Match lebih baik daripada prestasi belajar siswa yang menggunakan
pendekatan pembelajaran konvensional”.
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Desain Penelitian


1. Pendekatan Penelitian
Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui yang lebih baik antara model
pembelajaran tipe Make a Match dan model pembelajaran konvensional terhadap pengaruh
pemahaman siswa pada siswa kelas VII semester gnjil SMP Negeri 17 Kota Tegal Tahun
Pelajaran 2019/2020.
Menurut Sugiyono (2013:8) penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode
penelitian yang berlandaskan pada filsafat positifisme digunakan untuk meneliti pada
populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara
random, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat
kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

2. Desain Penelitian
Rancangan atau desain eksperimen merupakan langkah-langkah lengkap yang perlu
diambil sebelum eksperimen dilakukan supaya data yang semestinya diperlukan dapat
diperoleh sehingga akan membawa kepada analisis objektif dan kesimpulan yang berlaku
untuk persoalan yang sedang dibahas (Sudjana, 2005).
Desain eksperimental adalah kisi-kisi atau blue print dari prosedur yang
memungkinkan peneliti untuk menguji hipotesis agar tercapai kesimpulan yang valid
tentang hubungan Antara variabel independen dan dependen (Best, 1982:68) dalam
(Susongko, 2016:59).

16
17

Tabel 1.1
Desain Penelitian
Make a Match (A1) Konvensional (A2)

Pemahaman tinggi Y1 Y2
(B1)
Pemahaman rendah Y3 Y4
(B2)

Keterangan:
Y1 : Prestasi belajar kelompok peserta didik yang mengikuti perlakuan model
pembelajaran tipe Make a Match dengan pemahaman tinggi.
Y2 : Prestasi belajar kelompok peserta didik yang mengikuti perlakuan model
pembelajaran konvensional dengan pemahaman tinggi.
Y3 : Prestasi belajar kelompok peserta didik yang mengikuti perlakuan model
pembelajaran tipe Make a Match dengan pemahaman rendah.
Y4 : Prestasi belajar kelompok peserta didik yang mengikuti perlakuan model
pembelajaran konvensional dengan pemahaman rendah.

B. Populasi, Prosedur Sampling dan Sampel Penelitian


1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang memiliki karakteristik tertentu,
dapat berupa: manusia, hewan, tumbuhan, benda dan lain-lain (Rachman, 1993).
Dalam penelitian ini populasinya adalah peserta didik kelas VII semester ganjil
SMP N 17 Tegal tahun pelajaran 2019/2020 dikelompokkan menjadi 6 kelas.

2. Prosedur Sampling
Prosedur sampling atau teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel
yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data
18

sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh


sampel yang representative (Rahman, 1993).
Prosedur pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Cluster
Random Sampling. Dengan cara undian diambil lima kelas dari sepuluh kelas yaitu
dua kelas untuk kontrol, dua kelas untuk eksperimen dan satu kelas untuk uji coba.

3. Sampel Penelitian
Menurut Rachman (1993) sampel adalah bagian dari populasi sebagai contoh
atau monster yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu. Sampel harus
mencerminkan populasi. Untuk prosedur sampling sudah dipaparkan sebelumnya, dan
berikut yang akan dijadikan sampel penelitian:

Tabel 1.2
Sampel Penelitian
No Kelas Jumlah Peserta Didik
1. VII A 29
2. VII C 27
3. VII D 28
4. VII B 28
5. VII F 30
Jumlah 142

Pengambilan sampel dilakukan dengan pengundian terhadap kelompok


dalam populasi. Dibuat 6 gulungan kertas yang masing-masing diberi tulisan sesuai
dengan urutan tulisan kelas yaitu VII A, VII B, VII C, VII D, VII E, VII F.

C. Variabel Penelitian dan Indikator Variabel


1. Variabel Penelitian
Menurut Sugiyono (2009:60), variabel penelitian pada dasarnya adalah segala
sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga
19

diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Sutrisno Hadi
mendefinisikan variabel sebagai gejala yang bervariasi (Arikuntoro, 2010:159).
Kerlinger (dalam Sugiyono, 1973) menyatakan bahwa variabel adalah konstrak
atau sifat yang akan dipelajari. Kerlinger juga mengatakan bahwa variabel dapat
dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda (different values).
Dalam penelitian ini ada dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat.
a. Variabel Bebas
Sugiyono (2012:39) mengatakan bahwa variabel bebas (independen) adalah
merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau
timbulnya variabel dependen (terikat). Jadi variabel bebas dalam penelitian ini adalah
model pembelajaran tipe Make a Match serta model pembelajaran konvensional.
b. Variabel Terikat
Variabel terikat (dependen) merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang
menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2012:39). Jadi variabel terikat
pada penelitian ini adalah pemahaman siswa pada mata pelajaran matematika.
2. Indikator Variabel

Indikator pada variabel bebasnya adalah silabus sedangkan pada variabel terikatnya adalah
menggunakan tes untuk pemahaman siswa pada mata pelajaran matematika.

D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data


1. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diharapkan, maka dalam penelitian ini teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi dan tes.
1. Dokumentasi
Dokumentasi adalah pencarian data dengan cara menghimpun keterangan-
keterangan yang diperoleh dari dokumen atau catatan tertentu. Penelitian ini dapat
memperoleh data yang bersumber dari jurnal, buku cetak, hasil penelitian, majalah,
surat kabar, legger nilai, prasasti, notulen dan lain sebagainya (Basukiyatno, 2010:69).
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumentasi bisa
berupa tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang (Sugiyono,
20

2013:329). Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh


daftar nama siswa, dan nilai ujian akhir semester I kelas VII SMP Negeri 17 Tegal
tahun pelajaran 2019/2020.
2. Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk
mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki
oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2010:193). Metode tes digunakan untuk
memperoleh data tentang hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini yang akan dilakukan
adalah tes pemahaman yang diberilan pada kelas control dan kelas eksperimen.
Sebelum tes digunakan untuk memperoleh data hasil penelitian, terlebih dahulu
diadakan uji coba tes pada kelas uji coba. Jenis tes yang diberikan berupa tes yang
bersifat obyektif yaitu berupa tes pilihan ganda yang terdiri dari 4 pilihan yaitu a, b, c
dan d berjumlah 25 item dengan pemberian waktu 80 menit.

2. Instrumen Pengumpulan Data


Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah instrument berupa tes
mata pelajaran matematika pokok bahasan persamaan dan pertidaksamaan linear
satu variabel. Instrumen tes pemahaman disusun berdasarkan materi matematika
SMP kelas VII semester I pada materi persamaan dan pertidaksamaan linear satu
variabel.

Langkah-langkah dalam penyusunan instrumen tes adalah sebagai berikut:


a. Menentukan tujuan diadakannya tes. Tujuan diadakannya tes yaitu untuk
memperoleh prestasi belajar matematika peserta didik kelas XI semester genap
tahun pelajaran 2019/2020 materi pokok statistika.
b. Pembatasan terhadap bahan yang akan disusun. Bahan yang akan diteskan
adalah materi pokok statistika.
c. Menentukan bentuk tes dan tipe tes. Bentuk soal yang digunakan dalam
penelitian ini adalah soal pilihan ganda.
d. Menyusun kisi-kisi tes.
21

e. Menyusun tes prestasi belajar. Tes prestasi belajar matematika disusun


berdasarkan ranah kognitif. Ada 3 ranah kognitif yang dijadikan pedoman, yaitu
pengetahuan, pemahaman dan penerapan. Sedangkan tingkat kesukaran soal
meliputi mudah, sedang dan sukar. Dalam hal penelitian ini tipe soal yang
digunakan bentuk pilihan ganda dengan alternatif jawaban hanya satu jawaban
yang benar.

E. Teknik Analisis Data


Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang
diperoleh dari hasil pengumpulan data sebelumnya dengan cara mengorganisasikan data
kedalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam
pola, memilih mana yang penting dan mana yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan
sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2011:335).
1. Uji Instrumen Tes Pemahaman Siswa
Data penelitian diperoleh dengan menggunakan instrument tes. Teknik pengujian
instrumen yang digunakan dalam penelitian sebagai berikut :
a. Uji Validitas Instrumen
“Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana kecepatan dan
kecermatan suatu instrumen pengukur (tes) dalam melakukan fungsi ukurnya”
(Susongko, 2010). Alat ukur yang valid adalah alat ukur yang mampu mengukur apa
yang diukur atau yang dapat meenuhi fungsinya sebagai alat ukur.
b. Uji Reliabilitas Instrumen
Menurut Arikunto (2006), “reliabilitas berhubungan dengan masalah
kepercayaan”. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang
tingkat tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap.
Uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan KR-20, karena dalam
pengujiannya apabila jawaban dari setiap soal benar maka bernilai 1 dan apabila
jawaban setiap soal salah maka bernilai 0 (Susongko, 2010:77).
c. Daya Beda
22

Menurut Arikunto (2012) daya beda merupakan kemampuan suatu soal


untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dan siswa
yang kurang pandai (berkemampuan rendah).

d. Tingkat Kesukaran Soal


Tingkat kesukaran soal ditunjukan oleh besarnya angka presentase dari
penempuh yang mendapat jawaban betul.
2. Analisis Data Sebelum Penelitian
a. Uji Normalitas.
Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah data yang diperoleh berdistribusi
normal atau tidak. Menurut Sudjana (2005:261), uji normalitas data dapat
menggunakan uji Lilliefors.
b. Uji Homogenitas.
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui varian sampel homogen atau tidak
(heterogen). Menurut Sudjana (2005:263), uji yang dapat dapat digunakan adalah
uji Barlet.
c. Uji Kesetaraan Sampel
Uji kesetaraan dilakukan sebelum penelitian untuk mengetahui kemampuan
generalisasi yaitu apakah pemahaman belajar matematika siswa kelas VII semester
I antara kelas eksperimen, kelas kontrol dan kelas uji coba berasal dari titik tolak
sama, maka digunakan uji analisis satu arah (ANAVA) untuk menguji kesetaraan
sampel dalam penelitian ini.

3. Analisis Data Sesudah Penelitian


Sebelum dilakukan uji hipotesis, terlebih dahulu harus dilakukan uji prasyarat yaitu uji
normalitas dan uji homogenitas.
a. Uji Normalitas.
Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah data yang diperoleh berdistribusi
normal atau tidak. Menurut Sudjana (2005:261), uji normalitas data dapat
menggunakan uji Lilliefors.
23

b. Uji Homogenitas.
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui varian sampel homogen atau tidak
(heterogen). Menurut Sudjana (2005:263), uji yang dapat dapat digunakan adalah
uji Barlet.

c. Uji Hipotesis
1) Untuk mengetahui hipotesis yang pertama dengan menggunakan uji
proporsi satu pihak kanan.
2) Untuk menguji hipotesis yang kedua yaitu dengan menggunakan Uji Anava
satu arah.
d. Uji lanjut Hipotesis
Apabila ada hasil analisis varians diketahui terdapat perbedaan rata-rata
pemahaman belajar siswa dari kedua perlakuan maka analisis dilanjutkan dengan
Uji Benferroni karena jumlah sampel pada tiap perlakuan tidak sama.
24

DAFTAR PUSTAKA

Arikuntoro, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Budiningsih, A. (2004). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Huda, M. (2013). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Huda, M. (2013). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Susongko, P. (2012). Penilaian Hasil Belajar. Tegal: Universitas Pancasakti.

Taufan, A. (2011). Efektivitas Model Pembelajaran Make a Match Tethadap Hasil Belajar Siswa Kelas XI di
MA Nahdiatusy Subban Sayung Demak. Skripsi IAIN Walisongo.

Yamin, M. (2013). Strategi & Metode dalam Model Pembelajaran. Jakarta: GP Press Group.

Anda mungkin juga menyukai