PERKEMBANGAN ARSITEKTUR
RUMAH
ADAT
KAJANG
KELOMPOK 6
ZULFADLI (60100119030)
MUHAMMAD FADLAN R (60100119049)
ALYFIAH ANNISA ZALZABILA (60100119051)
I
DAFTAR ISI
LETAK SUKU KAJANG ........................................................ 1
KEPERCAYAAN SUKU KAJANG ...................................... 1
PELAPISAN SOSIAL SUKU KAJANG ................................ 2
RITUAL SUKU KAJANG ..................................................... 2
KOSMOLOGI RUMAH ADAT SUKU KAJANG .............. 3
BAGIAN RUMAH ADAT SUKU KAJANG ......................... 4
KONSTRUKSI RUMAH ADAT SUKU KAJANG .............. 5
POLA PEMUKIMAN SUKU KAJANG ............................... 7
ORNAMEN RUMAH ADAT SUKU KAJANG .................... 8
MATERIAL RUMAH ADAT SUKU KAJANG .................... 8
REFERENSI ............................................................................ 9
1
LETAK SUKU KAJANG KEPERCAYAAN SUKU KAJANG
S
uku Kajang adalah salah satu suku yang terdapat di Kabupaten
Bulukumba, Sulawesi Selatan.. Jarak dari ibukota kecamatan,
ibukota kabupaten dan ibukota propinsi ke lokasi kawasan adat
berturut-urut adalah: 25 km, 57 km, dan 270 km. Masyarakat suku
Kajang dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu Rilalang Embayya (Tanah
Kamase-masea) lebih dikenal dengan nama Kajang Dalam atau Kawasan
Adat Ammatoa dan
Ipantarang Embayya
(Tanah Kausayya) atau
lebih dikenal dengan nama
Kajang Luar.
P
ada dasarnya masyarakat Ammatoa kajang mayoritas beragama islam
Pada masyaraakat dengan mencampurbaurkan dengan ajaran Patuntung(sumber
kajang dalam masih kuat kebenaran). Ajaran patuntung mengajarkan manusia wajib
memegang adat dan tradisi menyandarkan diri pada 3 pilar utama yaitu ; menghormati TAU RIE A’RANA
nenek moyang, dipihak lain (TUHAN), tanah yang diberikan TAU RIE A’RANA, dan nenek moyang.
mereka akan tinggal di
kawasan adat ammatoa, TAU RIE A’RANA menurunkan wahyu pada masyarakat kajang
sedangkan kajang luar sama melalui manusia pertama yang bernama Ammatoa (seseorang yang di
sekali tidak mengisolasikan diri dari pergaulan dengan masyarakat luar di tuakan). Masyarakat Kajang meyakini kalau tempat pertama kali Ammatoa
luar adat mereka dan akan bermukim diluar diluar kawasan adat. Secara fisik diturunkan ke bumi ada di Tana Toa yang menjadi tempat tinggal mereka.
masyarakat Kajang Dalam dan Kajang Luar dibatasi oleh pagar sehingga Ditempat ini juga mereka percaya manasuia pertama diciptakan, dengan
variasi perubahan akan terlihat dari jaraknya dari kawasan adat utamanya proses turunnya To Manurung (manusia dari langit) atas perintah TAU RIE
pada tempat bermukim. Sementara nilai-nilai budaya yang sifatnya non fisik A’RANA dengan menunggangi seekor burung kajang. Yang kemudian nama
masih tetap dipertahankan. burung inilah yang dijadikan nama suku “KAJANG”. Pasang dan Amma-Toa
adalah dua hal yang sangat penting dan dapat dianalogikan sebagai kitab suci
dan rasul pada agama Islam.
2
PELAPISAN SOSIAL SUKU RITUAL SUKU KAJANG
KAJANG
Ritual Nganre Sassang(memberi makan bayangan)
Ritual ini dilakukan pada jum’at malam yang
dimaksudkan untuk melancarkan rezeki kelurga yang
D
alam masyarakat Ammatoa
Kajang secara fisik tidak melakukan ritual ini.
terlihat adanya tanda-tanda
Ritual Attunu Panrolik ( membakar linggis)
pelapisan sosial misalnya dalam hal
desain rumah dan pakaian. Sistem Ritual ini biasanya dilakukan apabila terjadi
pelapisan sosial bagimasyarakat konflik yang berhubungan dengan kejujuran yang
Ammatoa Kajang sangat ditentukan dihadiri seluruh masyarakat suku kajang dan dipimpin
oleh tingkat “kesholehan” yang oleh Puto Gassing Makkule atau pattunu panrolik.
bersangkutan yang telah menguasai
Patuntung dengan prinsip Ritual Addingingi (mendinginkan bumi)
“Kamasemasea” (kesederhanaan). Ritual ini dilakukan setahun sekali dan
Bagi masyarakat Ammatoa Kajang dipimpin ole Lagiria (pemimpin pemangku adat).
konsep hidup kamase-masea adalah Ritual ini bertujuan untuk membersihkan bumi dari hal
bentuk kehidupan yang ideal dan jahat sehingga rezeki masyarakatnya diperlancar.
“cukup” (Kajang: Ganna) yang
dalam kehidupan sehari-hari, konsep Ritual Doti (santet)
kesederhanaan nampak dalam
Doti merupakan sejenis santet yang di gunakan
wujud pakaian yang berwarna hitam
untuk melukai atau membunuh seseorang.
dan rumah yang seragam sebagai
lambang kesderhanaa.
3
KOSMOLOGI RUMAH ADAT Dalam hubungannya dengan orientasi rumah tradisional yang dalam
bahasa Kajang disebut “Panjolang” semua menghadap ke Barat. Hal ini
SUKU KAJANG dapat dipahami karena sesungguhnya arah barat, tidak lain menunjuk pada
suatu “tempat” yang terletak di sebelah barat yakni, apa yang mereka
M
asyarakat ammatoa Kajang dalam kesehariannya, maupun dalam namakan sebagai Pa’rasangang iraya (perkampungan sebelah
berarsitektur dalam banyak hal masih berpedoman pada barat).Dimana dalam sejarah leluhur Kajang disebutkan bahwa tempat itu
kepercayaan leluhur mereka (Kajang Tomariolo). Mereka merupakan tempat pertama kali leluhur mereka menginjakkan kaki di bumi
percaya bahwa sumber kekuatan utama yang mengendalikan alam semesta ini. Dan pada akhir hidupnya, leluhur tersebut memilih tempat untuk kembali
dan kehidupaan manusia ada pada Tau Rie A’rana yang tidak lain adalah di Pa’rasangang ilau (perkampungan di sebelah timur)..
Tuhan Yang Maha Esa. Dan bersemayam “di atas. Hal ini tercermin dari
sebuah ungkapan dalam pasang “Nai riboting langi” ketika
menggambarkan proses kembalinya leluhur mereka yang I ke Tau Rie
A’rana yang telah
mengutusnya ke
bumi. Konsep ini
merupakan
pencerminan dari
konsep
kosmologis yang
mengenal 3
pelapisan jagad
raya. Alam atas
alam, tengah dan
alam bawah yang
diwujudkan
dalam arsitektur
rumah tradisional
Kajang.
4
BAGIAN RUMAH ADAT SUKU
KAJANG
Para / bagian atas ; tempat menyimpan bahan makanan. Di
bawah atap bagian kiri dan kanan terdapat loteng yang
berfungsi sebagai rak (para-para) tempat penyimpanan
bahan dan alat pertanian.
1
Kale Balla / bagian tengah ; sebagai tempat manusia
menetap atau bertempat tinggal.
2
Siring / bagian bawah ; tempat melakukan kegiatan
menenun, menumbuk padi atau jagung dan tempat ternak.
3
Konsep ini sekaligus merupakan pengejewantahan dari
wujud fisik manusia yang terdiri dari kepala, badan, dan
kaki.
5
KONSTRUKSI RUMAH ADAT
SUKU KAJANG
BAGIAN ATAP / KEPALA BAGIAN TENGAH / BADAN rumah. Bagian ini biasanya ditinggikan 1-2
genggam(18-20 cm) dan dibatasi oleh dinding.
Atap terbuat dari daun rumbia dan lembaran– 1). Latta’ Riolo; berada pada bagian depan rumah Ruang ini berfungsi sebagai tempat tidur suami-
lembarannya kurang lebih 1,5 m. Pada bubungan yang mempunyai fungsi seperti; pada bagian depan istri pemilik rumah dan anak gadisnya.
atas depan dan belakang dipasang hiasan kayu sebelah kiri berfungsi sebagai dapur (Kajang:
(anjong) berupa ekor ayam. pa‟paluang). Latta’ riolo ini dibatasi
oleh tiang tengah (possi bola) dan
Timpak laja pada bagian muka dan belakang balok melintang yang disebut
berbentuk segitiga sama kaki selain sebagai “pa’pahentulang”. Latta’ riboko
penutup para untuk melindungi bahan makanan
dari rembesan air hujan dan terdapat lubang kecil 2). Latta’ Tangnga; merupakan
sebagai penghawaan. Timpak laja 2 susun salah ruang bagian tengah mempunyai
satu ciri khas rumah masyarakat Ammatoa fungsi sebagai ruang ruang
kajang. perjamuan untuk tamu yang Latta’ tangnga
dihormati (panggada’kang), ruang
makan (pa’nganreang) dan juga
sebagai tempat tidur laki-laki yang
sudah dewasa atau remaja. Untuk Dapur Latta’ riolo
tamu wanita dilarang duduk di Latta
tangnga kecuali ada tuan rumah
perempuan di ruang tersebut.
3). Latta’ riboko (tala-tala);
merupakan bagian belakang badan
6
KONSTRUKSI RUMAH ADAT
SUKU KAJANG
BAGIAN BAWAH / KAKI
Tiang–tiangnya ditanam ke dalam tanah dan kayunya hanya dapat
bertahan kurang lebih 10 tahun. Kayu ini biasanya disebut Bitti dan
istimewanya bila ada yang lapuk bisa langsung diganti tanpa perlu
membongkar rumah. Tinggi tiang ke lantai kurang lebih 2 meter dengan
Jumlah tiang 16 buah (4 x 4) dengan jarak antar tiang 1–2 meter dan Luas
rumah sekitar 6 x 9 meter.
Tangga diletakkan pas didepan pintu keluar. Sama seperti rumah adat
bugis lainnya jumlah anak tangganya ganjil (11 buah) tanpa makna tertentu
dan dibuat sesederhana mungkin
Dinding terbuat dari papan yang di ketam dan di pasang melintang.
Jendela–jendela kecil yang berukuran 40 x 60 cm yang diletakkan
sedikit lebih tinggi dari lantai.
Pintu keluar hanya ada satu buah, yaitu yang diletakkan pada bagian
tengah muka bangunan. Cat sama sekali tidak mereka gunakan. Mereka
banyak menggunakan pasak dan tali sembilu bambu.
7
POLA PEMUKIMAN SUKU KAJANG
P
ada kawasan ammatoa kajang
menggunakan pola pemukiman secara Hutan adat Tupalo
U
berkelompook dengan dipengaruhi sistim
kekerabatan dimana anggota keluarga yang sudah B T
Kajang dalam (kawasan
berkeluarga dan merasa mampu untuk mandiri S Adat Ammatoa
cenderung menetap disekitar rumah keluarga inti.
Hal ini diakibatkan karena kondisi alam/lingkungan Kajang Luar
mereka tinggal dan tergantung dari
letak/tersedianya lahan kosong yang mereka miliki. Hutan adat
Karanjang
8
ORNAMEN RUMAH MATERIAL RUMAH ADAT SUKU KAJANG
ADAT SUKU KAJANG
RANGKA UTAMA
Bubungan berbentuk ekor ayam.
KAYU BESI (SAPPU) KAYU HITAM (AMORA) KAYU BITTI
Tanduk kerbau yang digantungkan pada
DINDING RUMAH DAN LANTAI ATAP
tiang tengah PAPAN (KAYU NA’NASA) BAMBU
9
REFERENSI
( Ritual sakral suku Kajang Bulukumba )
OFFICIAL YOUTUBE ( Ritual Attunu Panroli dan
Adddingngi )
REPOSITORY.UNG.CO ( Menguak nilai-nilai tradisi rumah adat suku
Kajang Bulukumba)
SULSELTOTRAVEL.COM ( kepercayaan dan mitos suku kajang )
AMMATOA.COM ( penjelasan lengkap suku Kajang di kabupaten
Bulukumba )
BOOMBASTIS.CO ( doti, ilmu hitam suku Kajang )