Kompres Dingin Turunkan Nyeri Infus Anak
Kompres Dingin Turunkan Nyeri Infus Anak
DISUSUN
Oleh :
Hendry Ubaidillah
Setyo Budi
Heldyan
Deva
1
TAHUN 2019
Kata Pengantar
Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah melimpahkan berkat Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami selaku penulis
dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah
ini membahas mengenai Pengaruh kompres dingin dengan ice pack untuk
menurunkan nyeri sebelum pemasangan infus pada anak usia sekolah yang
dirawat di Ruang Flamboyan C RSKD Balikpapan . Makalah ini dibuat dengan
tujuan agar kita dapat memperoleh suatu ilmu yang berguna dalam bidang studi
keperawatan dan dengan adanya makalah ini di harapkan dapat membantu dalam
proses pembelajaran dan dapat menambah pengetahuan para pembaca.
2
Kelompok IX
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
3
berdampak besar pada kehidupan anak. Nyeri dapat mengganggu aktivitas anak
sehingga anak kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain karena anak terfokus
pada nyeri yang dirasakan. Dampak nyeri yang lain berupa kesulitan tidur,
penurunan minat anak untuk melakukan kegiatan, dan meningkatnya kecemasan.
Ketidakmampuan untuk mengurangi nyeri dapat menimbulkan
ketidakberdayaan dan keputusasaan (Wong, 2012). Upaya pengurangan nyeri
dapat dilakukan melalui terapi farmakologik yaitu dengan menggunakan obat-
obatan dan terapi non farmakologik tanpa menggunakan obat-obatan meliputi
relaksasi, hipnotis, guided imagery, massage, terapi musik, kompres hangat dan
kompres dingin (Dochter, 2013). Kompres dingin merupakan terapi
nonfarmakologi yang cocok diberikan sebelum dilakukan pemasangan infus.
Dingin akan menimbulkan mati rasa sebelum rasa nyeri timbul. Kompres dingin
dapat menimbulkan efek anastesi lokal pada luka tusuk akibat pemasangan infus
(Potter & Perry, 2013). Kompres dingin menggunakan es memperlambat konduksi
serabut saraf perifer dan menurunkan pelepasan mediator inflamasi dan nosiseptor
sehingga menimbulkan efek anastesi kulit yang relatif cepat (Waterhouse, 2013).
Kompres dingin dipilih sebagai intervensi untuk mengurangi nyeri akibat
pemasangan infus pada penelitian ini didasarkan pada hasil penelitian sebelumnya
yang menunjukkan kompres dingin lebih efektif dibanding kompres hangat, serta
berdasarkan teori Kozier (2012) yang mengatakan pada kompres dingin,
pengalihan persepsi nyeri menjadi rasa dingin yang lebih dominan adalah salah
satu tipe transendensi yang telah tercapai sehingga pasien merasa lebih nyaman,
sedangkan pada kompres hangat tidak mempunyai efek yang sama dengan
kompres dingin. Kompres hangat juga tidak mempunyai efek anestesi lokal yang
dapat mengurangi nyeri lokal.
Perawat harus menghormati kekhawatiran anak terhadap cedera tubuh dan
reaksi terhadap nyeri sesuai dengan periode perkembangannya, ketika
memberikan perawatan pada anak (Hockenberry & Wilson, 2009). Oleh karena
itu, diperlukan upaya menurunkan nyeri akibat prosedur yang diberikan pada anak
dan tindakanpengkajian nyeri pada anak yang mendapat prosedur tersebut. Upaya
ini sebagai langkah penerapan prinsip perawatan atraumatik pada anak. Perawatan
4
atraumatik sebagai bentuk perawatan terapeutik perawat melalui penggunaan
tindakan yang mengurangi cedera dan nyeri. Berbagai teknik dapat dilakukan
perawat, baik secara non-farmakologik maupun farmakologik untuk menurunkan
nyeri. Perawat dapat melakukan teknik distraksi, relaksasi, imajinasi terbimbing,
stimulasi kulit dan pemberian terapi topikal (Hockenberry & Wilson, 2009).
Teknik mengurangi nyeri pada anak saat prosedur pungsi vena yang sudah
banyak diteliti adalah menggunakan anestesi topikal, tehnik distraksi dan
kehadiran orang tua (Gilboy& Hollywood,2009). Salah tindakan yang sering
digunakan perawat untuk saat prosedur pungsi vena adalah kompres dingin atau
kirbat es. Kompres dingin merupakan tindakan nonfarmakologik untuk
menurunkan nyeri tanpa efek samping dan berbiaya ringan (Movahedi, Rostami,
Salsali, Keikhaee& Moradi, 2006). Kompres dingin yang mudah dalam
penggunaannya adalah cool pack /kantong jelly dingin.
Kompres dingin merupakan stimulasi area permukaan kulit (Hockenberry &
Wilson, 2009). Efek fisiologis kompres dingin adalah meredakan nyeri dengan
membuat area menjadi mati rasa, memperlambat aliran impuls nyeri, dan
meningkatkan ambang nyeri. Kompres dingin dapat digunakan pada berbagai
kondisi nyeri, termasuk nyeri akut karena trauma atau pembedahan, artritis,
spasme otot dan sakit kepala (Lewis, Dirksen, Heitkemper, Bucher & Camera,
2011).
Data dari Rekam Medis RSKD Balikpapan jumlah anak yng dirawat di
Ruang Flamboyan C pada tahun 2017 sebanyak 568 anak, dan meningkat pada
tahun 2018 sebanyak 587 anak, dengan kasus terbesar Bronchopnemonia dan
DHF Di Ruang Flamboyan C Rumah Sakit Dr Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan
merupakan bangsal perawatan pasien anak dan ibu nifas yang merawat anak sakit
karena suatu kondisi tertentu dan ibu post partum. Upaya yang telah dilakukan di
Ruang Flamboyan C untuk mengatasi nyeri pada anak akibat pemasangan infus,
antara lain menenangkan anak dengan cara menjelaskan tentang prosedur dan
meyakinkan anak bahwa prosedur tersebut hanya mengakibatkan sedikit nyeri.
Dampak dari usaha yang sudah dilakukan menurut penjelasan Kepala Ruangan
yaitu dapat mengurangi ketakutan yang dirasakan oleh anak saat pemasangan
5
infus, akan tetapi masih dijumpai kebanyakan anak yang menunjukkan respon
terhadap nyeri seperti berteriak, menangis dan bertindak agresif seperti menggigit,
memukul, menendang. Kompres dingin dengan ice pack sebelum pemasangan
infus belum pernah dilakukan di ruang Flamboyan C yang bertujuan untuk
menurunkan tingkat nyeri pada pasien-pasien selama dirawat di ruang Flamboyan
C. Berdasarkan fenomena dan hasl penelitian sebelumnya, penulis tertarik untuk
melakukan desain inovatif tentang penerapan kompres dingin dengan ice pack
sebelum pemasangan infus terhadap penurunan tingkat nyeri anak di Ruang
Flamboyan C Rumah Sakit Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Anak diharapkan dapat tumbuh kembang dengan baik serta terhindar dari
trauma dan cedera karena penyakit dan hospitalisasi
Tujuan Khusus
- Menurunkan nyeri pada anak akibat pemasangan infus.
- Menurunkan dampak nyeri pada kehidupan anak.
- Sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya
6
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Konsep Nyeri
1. Definisi Nyeri
International Association for Study of Pain (IASP), menyatakan bahwa
nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang
didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau
menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan (James & Ashwill, 2007).
Berman, Snyder, Kozier, dan Erb (2009) menyatakan bahwa nyeri adalah
sensasi yang sangat tidak menyenangkan dan sangat individual yang tidak
dapat dibagi dengan orang lain.
2. Klasifikasi Nyeri
a. Berdasarkan Lama/Durasinya
1) Nyeri Akut
2) Nyeri Kronik
7
b. Berdasarkan Sumbernya
1) Nyeri Kutaneus/ Superfisial, yaitu nyeri yang berasal dari kulit atau
jaringan subkutan, contohnya: luka akibat teriris kertas yang
menimbulkan nyeri tajam dengan sedikit rasa terbakar.
2) Nyeri Somatik Dalam, yaitu nyeri yang berasal dari ligament,
pembuluh darah, tulang, tendon dan syaraf. Nyeri menyebar dan
cenderung berlangsung lebih lama dibandingkan nyeri kutaneus,
contohnya adalah nyeri pergelangan kaki yang terkilir.
3) Nyeri Viseral, nyeri yang dihasilkan dari stimulasi reseptor nyeri
dalam rongga abdomen, cranium dan thorak. Nyeri viseral seringkali
disebabkan karena spasme otot, iskemia, atau regangan jaringan.
Obstruksi usus akan mengakibatkan nyeri viseral.
c. Berdasarkan Lokasi/Letak
1) Nyeri Radiasi
Nyeri alih adalah nyeri yang dirasakan jauh dari jaringan yang
menyebabkan nyeri. Nyeri alih contohnya yaitu nyeri bagian visera
abdomen yang dirasakan didaerah kulit yang jauh dari organ penyebab
nyeri.
Nyeri yang tidak dapat dilacak adalah nyeri yang sulit diatasi, misalnya
nyeri pada keganasan tingkat lanjut/ kanker maligna.
8
d. Nyeri Neuropatik
Nyeri yang disebabkan oleh kerusakan sistem saraf pusat atau tepi.
Nyeri neuropatik berlangsung lama, tidak menyenangkan, dan dapat
digambarkan sebagai rasa terbakar, tumpul, dan gatal; nyeri tajam,
seperti ditembak dapat juga dirasakan.
e. Nyeri Phantom
1) Nyeri Fisik
Nyeri fisik adalah nyeri yang bisa terjadi karena stimulus fisik (mis.
fraktur femur).
2) Nyeri Psycogenic
3. Fisiologi Nyeri
9
saraf dan akhirnya sampai di dalam massa berwarna abu-abu di medulla
spinalis. Pesan nyeri dapat berinteraksi dengan selsel saraf inhibitor,
mencegah stimulus nyeri sehingga tidak mencapai otak atau ditransmisi tanpa
hambatan ke korteks serebral. Sekali stimulus mencapai korteks cerebral,
maka otak menginterprelasikan kualilas nyeri dan memproses informasi
tentang pengalaman dan pengetahuan yang lalu serta asosiasi kebudayaan
dalam upaya mempersepsikan nyeri (Potter dan Perry, 2006).
a. Reseptor Nyeri
10
terdapat pada tulang, pembuluh darah, syaraf, otot, dan jaringan
penyangga lainnya, karena struktur reseptornya komplek, nyeri yang
timbul merupakan nyeri yang tumpul dan sulit dilokalisasi. Reseptor nyeri
jenis ketiga adalah reseptor viseral, reseptor ini meliputi organ-organ
viseral seperti jantung, hati, usus, ginjal dan sebagainya. Nyeri yang
timbul pada reseptor ini biasanya tidak sensitif terhadap pemotongan
organ, tetapi sangat sensitif terhadap penekanan, iskemia dan inflamasi
(Potter dan Perry, 2006; Tamsuri, 2007).
Ketika serabut C dan serabut A-delta mentransmisikan impuls
dari serabut saraf perifer, maka akan melepaskan mediator biokimia yang
mengaktikan atau membuat peka terhadap respon nyeri, misalnya kalium
dan prostaglandin dilepaskan ketika sel-sel lokal mengalami kerusakan.
Transmisi stimulus nyeri berlanjut disepanjang serabut saraf aferen sampai
transmisi tersebut berakhir di bagian kornu dorsalis, neurotransmitter
seperti substansi P dilepaskan, sehingga menyebabkan suatu transmisi
sinapsis dari saraf perifer (sensori) ke saraf traktus spinotalamus. Hal ini
memungkinkan impuls nyeri ditransmisikan lebih jauh ke dalam system
saraf pusat Tubuh mampu menyesuaikan diri atau memvariasikan resepsi
nyeri seiring dengan transmisi stimulus nyeri. Terdapat serabut-serabut
saraf di traktus spinotalamus yang berakhir di otak tengah, menstimulasi
daerah tersebut untuk mengirim stimulus kembali ke bawah kornu dorsalis
di medulla spinalis. Serabut ini disebut sistem nyeri desenden, yang
bekerja dengan melepaskan neuroregulator yang menghambat transmisi
stimulus nyeri (Potter dan Perry, 2006).
b. Neuroregulator
11
celah sinaps di antara dua serabut. Serabut saraf tersebut adalah serabut
eksitator atau inhibitor. Neuromodulator memodifikasi aktivitas neuron
dan menyesuaikan atau memvariasikan transmisi stimulus nyeri tanpa
secara langsung mentransfer tanda saraf melalui sinaps. Neuromodulator
diyakini tidak bekerja secara langsung, yakni dengan meningkatkan dan
menurunkan efek neurotransmitter tertentu. Endorphin merupakan salah
satu contoh neuromodulator. Terapi farmakologis untuk nyeri secara luas
berdasarkan pada pengaruh obat-obat yang dipilih pada neuregulator
(Potter & Perry. 2006).
c. Neurotransmitter
12
Sumber: Potts & Mandleco (2012)
13
4. Prinsip Pengkajian Nyeri
Respon anak terhadap nyeri mengikuti pola perkembangan dan
dipengaruhi temparemen, kemampuan koping, dan pajanan terhadap nyeri dan
prosedur yang menyakitkan sebelumnya. Pengkajian nyeri perlu menggunakan
berbagai strategi pengkajian untuk membantu dalam memperoleh hasil
pengkajian nyeri yang lebih akurat. Strategi-strategi ini termasuk menanyakan
anak (dengan kata-kata yang sesuai tingkat perkembangan kognitif dan
bahasa) dan orang tua, pengamatan perilaku dan respon psikologik, serta
penggunaan skala nyeri (Kathlellen, 2008).
Pengkajian nyeri pada anak yang menyeluruh dan akurat adalah kunci
untuk menentukan intervensi nyeri yang baik dan efektif (Potts & Mandleco,
2012). Pengkajian nyeri terdiri dari 2 komponen utama yaitu riwayat nyeri
untuk mendapatkan data klien dan observasi langsung terhadap respons
perilaku dan psikologis klien (Berman, Snyder, Kozier, & Erb, 2009).
Hockenberry & Wilson (2009) menyatakan bahwa terdapat tiga tipe
pengukuran nyeri yang telah dikembangkan untuk mengukur/menilai nyeri
pada anak, yaitu behavioral measures, physiologic measures, and self report
measures, yang penerapannya bergantung pada kemampuan kognitif dan
bahasa anak.
a. Wawancara Nyeri dan Riwayat Nyeri
14
mengungkapkan nyeri yang dirasakannya, perawat melakukan pengkajian
kepada orangtuanya. Informasi yang diberikan orang tua harus dihargai
sebagai jawaban klien (Tabel 2). Pengkajian nyeri secara sistematis untuk
memperoleh riwayat nyeri akan menunjukkan penilaian yang lebih
komprehensif (Potts & Mandleco, 2012).
Tabel 1. Format Pengkajian Nyeri: PQRST
Pengkajian Nyeri: PQRST
P-presence adanya nyeri: "Apakah kamu merasa sakit/nyeri hari
ini?" of pain
T-timing: waktu: "? Sudah berapa lama kamu merasakan rasa nyeri ini.
Berapa lama rasa nyeri itu kamu rasakan setiap kali nyeri itu
datang?"
15
b. Toddler
c. Pra Sekolah
d. Sekolah
- Menunjukkan penarikan
e. Remaja
16
- Menunjukkan penurunan aktivitas motorik
1) Behavioral Measures
17
a) FLACC Pain Assessment Tool
18
d) The Parent’s Postoperative Pain rating Scale (PPPRS)
Skala ini adalah skala yang dapat digunakan orang tua untuk
menilai nyeri yang dirasakan anak mereka dengan mencatat
perubahan perilaku anaknya.
e) Neonatal Infant Pain Scale (NIPS)
Skala ini mengkaji intensitas nyeri pada bayi dengan rata-rata
umur kehamilan 33,5 minggu. Skala terdiri dari 6 variabel
penilaian dengan total skor 0 untuk tidak ada nyeri sedangkan 7
nilai nyeri hebat. Variabel yang dinilai adalah ekspresi wajah
(0-1), menangis (0-2), pola pernafasan (0-1), tangan (0-1), kaki
(0-1), dan kepekaan terhadap rangsangan (0-1).
19
0 1 2
Menangis Tidak Nada tinggi Tidak nyaman
Perlu O2 untuk Tidak <30% >30%
saturasi > 95
%
Peningkatan Denyut jantung Denyut jantung Denyut jantung dan tekanan darah meningkat >20%
tanda vital dan tekanan dan tekanan dari keadaan praoperasi
darah = atau < darah
praoperasi meningkat
<20% dari
keadaan
praoperasi
Ekspresi Tidak ada Meringis Meringis/menyeringai
Skala ini digunakan untuk mengkaji nyeri pada bayi usia 1-7
bulan. Skala ini terdiri dari 10 penilaian dengan masing-masing
skor 0-2 dengan rentang skor total 0 untuk nyeri hebat dan 20
untuk tidak nyeri. Variabel yang dinilai adalah tidur (0-2),
fleksi jari-jari tangan maupun kaki (0-2), exoresi wajah (0-2),
kemampuan menghisap (0-2), kualitas menangis (0-2), suara
(0-2), gerakan spontan (0-2), rangsangan spontan (0-2),
consolability (kemampuan dihibur) (0-2), keramahan (0-2).
h) Pain Assessment Tool (PAT)
Skala ini digunakan untuk mengkaji intensitas nyeri pada bayi
dengan umur kehamilan 27 minggu sampai matur. Skala ini
terdiri dari 10 variabel penilaian dengan skor total 4 untuk
tidak ada nyeri dan 20 untuk nyeri hebat. Variabel tersebut
adalah sikap/suara (1-2), pernafasan (1-2), pola tidur (0-2),
frekuensi jantung (1-2), ekspresi (1-2), saturasi
(0-2), warna (0-2), tekanan darah (0-2), menagis (0-2), persepsi
perawat (0-2).
20
i) Pain Ratting Scale (PRS)
Skala ini digunakan untuk mengakji intensitas nyeri pada bayi
umur 136 bulan. Skala ini terdiri dari 6 penilaian dengan skor
total 0 untuk tidak ada nyeri dan 5 untuk nyeri hebat. Penilaian
tersebut adalah tersenyum, tidur tidak ada perubahan ketika
digerakkan maupun disentuh (0), membutuhkan sedikit kata-
kata, gelisah bergerak, menangis (1), perubahan perilaku, tidak
mau makan/minum, menangis dengan periode pendek,
mengalihkan perhatian dengan bergoyang atau dot (2), peka
rangsang, tangan dan kaki bergerak-gerak, wajah meringis (3),
menggapai-gapai, meratap dengan nada tinggi, orang tua
meminta obat untuk mengurangi nyeri, tidak dapat
mengalihkan perhatian (4), tidur yang lama terganggu
sentakan, menangis terus-menerus, pernafasan cepat dan
dangkal (5).
21
l) Behavioral Pain Score (BPS)
Skala ini digunakan untuk mengkaji intensitas nyeri pada anak
usia 3-36 bulan. Skala ini terdiri dari 3 penilaian dengan skor
total 0 tidak ada nyeri dan 8 untuk nyeri hebat. Penilaian
tersebut adalah ekspresi wajah (0-2), menangis (0-3) dan
bergerak (0-3).
m) Modified Behavioral Pain Score (MBPS)
Skala ini digunakan untuk mengkaji intensitas nyeri pada usia
4-6 bulan.
Skala ini terdri dari 3 penilaian dengan skor total 0 tidak ada
nyeri dan 10 untuk nyeri hebat. Penilaian tersebut adalah
ekspresi wajah (0-3), menangis (0-4), dan gerak (0, 2, 3).
n) Riley Infant Scale (RIPS)
Skala ini digunakan untuk mengkaji intensitas nyeri pada usia
lebih dari 36 bulan. Skala ini terdiri daro 3 penilaian dengan
skor total 0 untuk tidak ada nyeri dan 3 untuk nyeri hebat.
Penilaian tersebut adalah wajah netral, tenang, tidur tenang,
tidak ada teriakan, consolable, bergerak dengan mudah (0);
mengerutkan kening, gerakan tubuh gelisah, susah tidur,
merintih, meringis, dengan sentuhan (1), gigi terkatup, agitasi
moderat, tidur sebentar-sebentar, sulit untuk dihibur, menangis
(2), dan ekspresi menangis penuh, meronta-ronta, tidur waktu
yang lama terganggu oleh sentakan atau tidak tidur, menangis
dengan nada tinggi, tidak dapat dihibur, menjerit ketika
disentuh / pindah (3).
2) Physiologic Measures
Pengukuran fisiologis tidak dapat dipisahkan dari respon tubuh
terhadap nyeri dan bentuk stress lainnya pada tubuh. Perubahan
fisiologis secara mendalam/besar seringkali menyertai pengalaman
nyeri. Parameter fisiologis, antara lain denyut nadi, pernapasan,
tekanan darah, telapak tangan berkeringat, level kortison, oksigen
22
transkutaneus, vagal tone, dan konsentrasi endorphin. Parameter
ini tidak menunjukkan lokasi nyeri, tetapi memberikan informasi
yang berguna mengenai tingkat distress (keadaan bahaya) anak
secara umum yang mengalami nyeri. Penilaian nyeri secara
fisiologis berguba pada infant dan anak yang tidak bisa
berkomunikasi secara verbal (Hockenberry & Wilson, 2009).
b. Pengukuran Subjektif (Subjective- Self Report Measures)
Semua jenis rasa nyeri, informasi terpenting dapat diperoleh ketika
anak mengukur rasa nyeri itu sendiri. Beberapa metode membantu
anak-anak dalam mengukur nyeri mereka sendiri. Pemilihan ukuran
tertentu harus didasarkan pada tingkat perkembangan anak dan
kesukaan, kebijakan institusi, dan ketersediaan instrumen. Sebuah
ukuran kuantitatif nyeri juga menambah validitas ketika
mendiskusikan pengobatan nyeri dengan anggota tim perawatan
kesehatan karena melaporkan nyeri anak dengan angka atau langkah-
langkah yang lebih kredibel daripada mengatakan "dia bilang dia
sakit"( Potts & Mandleco, 2012). Terdapat beberapa skala pengukuran
nyeri pada anak, antara lain (Hockenberry & Wilson, 2009):
1) FACES Pain Rating Scale (Wong and Baker, 1988)
Skala ini digunakan pada anak usia 3 tahun dan usia yang lebih tua.
23
2) Oucher (Beyer, Denyes, and Villarruel, 1992)
Skala ini digunakan pada anak usia 3-13 tahun.
1
Caucasian 2
African American 3
Hispanic
4
Asian Boy & Girl Oucher
5
Sumber: www.oucher.org
24
4) Numeric Scale
Skala ini digunakan pada anak usia 5 tahun dan usia yang lebih tua.
Tidak Nyeri
Nyeri Hebat
7. Penatalaksanaan Nyeri
a. Penatalaksanaan Non Farmakologis
25
Penatalaksanaan nyeri secara non farmakologis pada anak antara
lain (James & Ashwill, 2007; Potts & Mandleco, 2012): a. Distraksi
Anak-anak kurang dari 6 tahun merespon dengan baik untuk teknik
distraksi. Prinsip distraksi adalah mengalihkan fokus anak terhadap
nyeri yang dirasakan kepada hal/kegiatan lain yang disenangi.
Teknik distraksi dapat dilakukan melalui meniup gelembung,
mendengarkan musik, bermain, menoton video, dan lainnya.
b. Breathing Techniques
c. Guided Imagery
Imajinasi dipandu adalah proses relaksasi dan fokus konsentrasi
pada membayangkan gambar. Teknik ini menggunakan suara dan
gambaran dalam imajinasi seseorang untuk menghasilkan rasa
kesejahteraan. Guided imagery berguna untuk kecemasan pra
operasi dan manajemen nyeri pasca operasi. Anak didorong untuk
membayangkan berada di tempat favorit dan kemudian
membayangkan pemandangan, suara dan bau di tempat favorit
tersebut.
d. Progressive Muscle Relaxation
Anak dapat mencapai relaksasi, mengurangi kecemasan dan nyeri
melalui identifikasi bagian tubuh yang nyeri. Teknik ini
mengajarkan anak secara sistematik progresif, fokus pada tujuan
merelaksasi tubuh tahap demi tahap. Hal ini dirancang untuk
membantu anak-anak mengenali dan mengurangi ketegangan
tubuh berhubungan dengan nyeri. Instruksi yang diberikan kepada
26
kelompok otot yang tegang dan tahan dalam kondisi itu selama 10
detik dan perhatikan cara otot terasa tegang ketika dibandingkan
dengan bagaimana rasanya ketika ketegangan itu santai.
e. Biofeedback
Prinsipnya adalah untuk menerjemahkan keadaan fisik tubuh
menjadi sinyal audio-visual. Teknik ini menggunakan alat,
elektroda dipasang secara eksternal diatas setiap pelipis. Elektroda
mengukur ketegangan kulit dalam microvolt. Anak belajar
mencapai relaksasi yang optimal dengan menggunakan umpan
balik dari poligraf sementara ia menurunkan tingkat ketegangan
actual yang sedang dialami. Terapi ini sangat efektif untuk
mengatasi ketegangan otot dan nyeri kepala.
f. Hypnosis
27
B. Konsep Pemasangan Infus
Pemasangan infus merupakan salah satu tindakan dasar dan pertama yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan – khususnya perawat – sebagai awal dari
rangkaian kegiatan pengobatan dan perawatan terhadap hampir semua jenis kasus
baik itu gawat, darurat, kritis, ataupun sebagai tindakan profilaksis. Karenanya,
sebagai tenaga kesehatan – khususnya perawat – adalah sebuah keharusan untuk
bisa melakukan tindakan pemasangan infus yang baik dan benar sesuai standar
operasional prosedur yang berlaku agar hal-hal yang tidak diinginkan dapat
dihindari. Untuk SOP pemasangan infus, setiap instansi pelayanan kesehatan pasti
mempunyai SOP yang berbeda-beda, tergantung referensi mana yang digunakan.
Namun secara garis besar, terapi intravena semuanya sama. Pemasangan infus
adalah salah satu cara atau bagian dari pengobatan untuk memasukkan obat atau
vitamin ke dalam tubuh pasien (Darmawan, 2008). Sementara itu menurut
Lukman (2007), terapi intravena adalah memasukkan jarum atau kanula ke dalam
vena (pembuluh balik) untuk dilewati cairan infus / pengobatan, dengan tujuan
agar sejumlah cairan atau obat dapat masuk ke dalam tubuh melalui vena dalam
jangka waktu tertentu.Tindakan ini sering merupakan tindakan life saving seperti
pada kehilangan cairan yang banyak, dehidrasi dan syok, karena itu keberhasilan
terapi dan cara pemberian yang aman diperlukan pengetahuan dasar tentang
keseimbangan cairan dan elektrolit serta asam basa.
28
a.Tujuan Pemasangan Infus
Menurut Hidayat (2008), tujuan utama terapi intravena adalah
mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit,
vitamin, protein, lemak dan kalori yang tidak dapat dipertahankan melalui oral,
mengoreksi dan mencegah gangguan cairan dan elektrolit, memperbaiki
keseimbangan asam basa, memberikan tranfusi darah, menyediakan medium
untuk pemberian obat intravena, dan membantu pemberian nutrisi parenteral.
b.Indikasi Pemasangan Infus
Secara garis besar, indikasi pemasangan infus terdiri dari 4 situasi yaitu ;
Kebutuhan pemberian obat intravena, hidrasi intravena, transfusi darah atau
komponen darah dan situasi lain di mana akses langsung ke aliran darah
diperlukan. Sebagai contoh :
1. Kondisi emergency (misalnya ketika tindakan RJP), yg memungkinkan
untuk pemberian obat secara langsung ke dalam pembuluh darah Intra
Vena
2. Untuk dapat memberikan respon yg cepat terhadap pemberian obat (seperti
furosemid, digoxin)
3. Pasien yg mendapat terapi obat dalam jumlah dosis besar secara terus-
menerus melalui pembuluh darah Intra vena
29
8. Upaya profilaksis pada pasien-pasien yg tidak stabil, contohnya syok
(meneror nyawa) & risiko dehidrasi (kekurangan cairan) , sebelum
pembuluh darah kolaps (tak teraba), maka tak mampu dipasang
pemasangan infus.
30
bisa menyebabkan “speed shock” dan komplikasi tambahan dapat timbul,
yaitu : kontaminasi mikroba melalui titik akses ke sirkulasi dalam periode
tertentu, iritasi vascular, misalnya flebitis kimia, dan inkompabilitas obat
dan interaksi dari berbagai obat tambahan.
31
e. Lokasi Pemasangan Infus
Menurut Perry dan Potter (2005), tempat atau lokasi vena perifer yang
sering digunakan pada pemasangan infus adalah vena supervisial atau perifer
kutan terletak di dalam fasia subcutan dan merupakan akses paling mudah untuk
terapi intravena.
32
Menurut Dougherty, dkk, (2010), Pemilihan lokasi pemasangan terapi intravana
mempertimbangkan beberapa faktor yaitu:
1. Umur pasien : misalnya pada anak kecil, pemilihan sisi adalah sangat
penting dan mempengaruhi berapa lama intravena terakhir
2. Prosedur yang diantisipasi : misalnya jika pasien harus menerima jenis
terapi tertentu atau mengalami beberapa prosedur seperti pembedahan,
pilih sisi yang tidak terpengaruh oleh apapun
4. Jenis intravena: jenis larutan dan obat-obatan yang akan diberikan sering
memaksa tempat-tempat yang optimum (misalnya hiperalimentasi adalah
sangat mengiritasi vena-vena perifer)
6. Ketersediaan vena perifer bila sangat sedikit vena yang ada, pemilihan sisi
dan rotasi yang berhati-hati menjadi sangat penting ; jika sedikit vena
pengganti
33
10. Kesukaan pasien : jika mungkin, pertimbangkan kesukaan alami pasien
untuk sebelah kiri atau kanan dan juga sisi
34
meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak).
Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose
5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate.
1. Standar infus
2. Cairan infus sesuai kebutuhan
4. Perlak
5. Tourniquet
6. Plester
7. Guntung
8. Bengkok
12. Betadine
1. Cuci tangan
2. Dekatkan alat
35
3. Jelaskan kepada klien tentang prosedur dan sensasi yang akan dirasakan
selama pemasangan infus
5. Siapkan cairan dengan menyambung botol cairan dengan selang infus dan
gantungkan pada standar infus
7. Pasang alas
18. Pasang label pelaksanaan tindakan yang berisi : nama pelaksana, tanggal
dan jam pelaksanaan
36
21. Observasi dan evaluasi respon pasien, catat pada dokumentasi
keperawatan
1. Phlebitis
Inflamasi vena yang disebabkan oleh iritasi kimia maupun mekanik. Kondisi ini
dikarakteristikkan dengan adanya daerah yang memerah dan hangat di sekitar
daerah insersi/penusukan atau sepanjang vena, nyeri atau rasa lunak pada area
insersi atau sepanjang vena, dan pembengkakan.
2. Infiltrasi
Infiltrasi terjadi ketika cairan IV memasuki ruang subkutan di sekeliling tempat
pungsi vena. Infiltrasi ditunjukkan dengan adanya pembengkakan (akibat
peningkatan cairan di jaringan), palor (disebabkan oleh sirkulasi yang menurun) di
sekitar area insersi, ketidaknyamanan dan penurunan kecepatan aliran secara
nyata. Infiltrasi mudah dikenali jika tempat penusukan lebih besar daripada tempat
yang sama di ekstremitas yang berlawanan. Suatu cara yang lebih dipercaya untuk
memastikan infiltrasi adalah dengan memasang torniket di atas atau di daerah
proksimal dari tempat pemasangan infus dan mengencangkan torniket tersebut
secukupnya untuk menghentikan aliran vena. Jika infus tetap menetes meskipun
ada obstruksi vena, berarti terjadi infiltrasi.
3. Iritasi vena
Kondisi ini ditandai dengan nyeri selama diinfus, kemerahan pada kulit di atas
area insersi. Iritasi vena bisa terjadi karena cairan dengan pH tinggi, pH rendah
atau osmolaritas yang tinggi (misal: phenytoin, vancomycin, eritromycin, dan
nafcillin).
37
4. Hematoma
Hematoma terjadi sebagai akibat kebocoran darah ke jaringan di sekitar area
insersi. Hal ini disebabkan oleh pecahnya dinding vena yang berlawanan selama
penusukan vena, jarum keluar vena, dan tekanan yang tidak sesuai yang diberikan
ke tempat penusukan setelah jarum atau kateter dilepaskan. Tanda dan gejala
hematoma yaitu ekimosis, pembengkakan segera pada tempat penusukan, dan
kebocoran darah pada tempat penusukan.
5. Trombophlebitis
Trombophlebitis menggambarkan adanya bekuan ditambah peradangan dalam
vena. Karakteristik tromboflebitis adalah adanya nyeri yang terlokalisasi,
kemerahan, rasa hangat, dan pembengkakan di sekitar area insersi atau sepanjang
vena, imobilisasi ekstremitas karena adanya rasa tidak nyaman dan
pembengkakan, kecepatan aliran yang tersendat, demam, malaise, dan
leukositosis.
6. Trombosis
Trombosis ditandai dengan nyeri, kemerahan, bengkak pada vena, dan aliran infus
berhenti. Trombosis disebabkan oleh injuri sel endotel dinding vena, pelekatan
platelet.
7. Occlusion
Occlusion ditandai dengan tidak adanya penambahan aliran ketika botol
dinaikkan, aliran balik darah di selang infus, dan tidak nyaman pada area
pemasangan/insersi. Occlusion disebabkan oleh gangguan aliran IV, aliran balik
darah ketika pasien berjalan, dan selang diklem terlalu lama.
8. Spasme vena
Kondisi ini ditandai dengan nyeri sepanjang vena, kulit pucat di sekitar vena,
aliran berhenti meskipun klem sudah dibuka maksimal. Spasme vena bisa
disebabkan oleh pemberian darah atau cairan yang dingin, iritasi vena oleh obat
atau cairan yang mudah mengiritasi vena dan aliran yang terlalu cepat.
38
9. Reaksi vasovagal
Digambarkan dengan klien tiba-tiba terjadi kollaps pada vena, dingin, berkeringat,
pingsan, pusing, mual dan penurunan tekanan darah. Reaksi vasovagal bisa
disebabkan oleh nyeri atau kecemasan.
10. Kerusakan syaraf, tendon dan ligament
Kondisi ini ditandai oleh nyeri ekstrem, kebas/mati rasa, dan kontraksi otot. Efek
lambat yang bisa muncul adalah paralysis, mati rasa dan deformitas. Kondisi ini
disebabkan oleh tehnik pemasangan yang tidak tepat sehingga menimbulkan injuri
di sekitar syaraf, tendon dan ligament.
j. Pencegahan pada Komplikasi Pemasangan Infus
1. Ganti lokasi tusukan setiap 48-72 jam dan gunakan set infus baru
2. Ganti kasa steril penutup luka setiap 24-48 jam dan evaluasi tanda infeksi
4. Jika infus tidak diperlukan lagi, buka fiksasi pada lokasi penusukan
6. Tekan lokasi penusukan menggunakan kasa steril, lalu cabut jarum infus
perlahan, periksa ujung kateter terhadap adanya embolus
39
11. Penghitungan cairan yang sering digunakan adalah penghitungan
millimeter perjam (ml/h) dan penghitungan tetes permenit.
C. Mekanisme
1. Identifikasi Pertanyaan
a. Analisa PICOT
P ( Problem and Patient ) : Pasien anak usia sekolah
I ( Intervention ) : Kompres dingin (ice pack)
C ( Comparation ) : Tidak ada perbandingan
O (Outcame) : Menurunkan tingkat nyeri sebelum
pemasangan infus
T ( Time ) : Dilakukan setiap pemasangan infus
dalam selama 3 hari dari tanggal 02
Desember 2019 s/d 04 Desember 2019
b. Pertanyaan Klinis
Apakah Kompres dingin dapat menurunkan tingkat nyeri pada
anak sekolah akibat pemasangan infus?
40
Ekstraksi Data dan Critical Appraisal
Penelitian Sampel
Hasil Level
No ( peneliti & (karakteristik,ukuran, Desain/seleksi responden Intervensi Komentar reviewer
temuan/kesimpulan penelitian
waktu ) setting)
1. Harry Sampel penelitian ini Jenis penelitian ini adalah - Perkenalan diri kepada - Hasil penelitian ini Quasy Keterbatasan :
S.Hutchins sebanyak 100 orang quasy eksperimenttwo group pasien dan keluarga menunjukkan experiment
JR,Franklin A yang diambil dengan pre and post test. - Jelaskan tujuan perbedaan yang tanpa - Sampel tidak homogen
Young teknik purposive - Wawancara tentang data signifikan secara randomisasi (jenis kelamin)
(2017) sampling. Kriteria Inklusi : demografi statistic pada kedua (Level III) - Tidak mencantumkan
- Usia anak 8 – 12 tahun - Anastesi pre cooling kelompok (P <0,001), ijin penelitian.
Topical - Bersedia dilakukan dilakukan pada sisi kanan dengan pengurangan
Aplicatition of penelitian sedangkan pada sisi kiri yang lebih besar pada
local anesthetic - Laki/perempuan diberikan anastesi local. kelompok es Kekuatan :
gel VS ice in - Bersedia mengikuti - Pasien diminta secara - Alat ukur jelas 100
pediatric patient instruksi yang diberikan individual menilai pasien dengan
fol infiltration pengalaman rasa nyeri menggunakan skala
anasthesia Kriteria eksklusi : mereka di setiap sisi ukur VAS
- Kondisi kritis dan infeksi menggunakan skala - Waktu penelitian 1
International gigi dan kulit yang sensitif analog visual Tahun
Journal of BMJ - Gangguan psikis dan - Skor ditabulasi dan - Kriteria responden
Open 2017 mental dijadikan Analisa statistic jelas
DOI - Pasien yang tidak menggunakan uji t - Ada kelompok kontrol
10.1136/bmjope kooperatif student dan eksperiment.
n2017 - Signifikasi statistic di
definisikan pada P
<0,001
41
2 Gugus Graha Sampel yang diambil Quasy experiment pre dan - Peneliti memperkenalkan - Hasil penelitian ini Quasy Kekuatan :
Ramadani, sebanyak 50 post test only non equivalent diri menunjukkan experiment - Alat ukur jelas dan
Bambang Aditya responden , dibagi control grup - Kelompok pertama perbedaan pada dengan sudah teruji secara
Nugraha menjadi 2 ,kelompok mendapat perlakuan kelompok Emla yang randomisasi validitas dan
( 2018) kontrol& kelompok berupa pemberian EMLA mengalami sedikit (Level III). releabilitas.(Wong
eksperiment. dan kelompok kedua nyeri 36% , dan pada Baker Scale)
Kompres dingin mendapat perlakuan kelompok Ice Pack - Waktu penelitian 1
menggunakan Kriteria inklusi : berupa kompres dingin yang mengalami bulan
cool pack efektif - Anak yang berada di - Pasien dinilai sedikit nyeri 44%. - Kriteria responden
menurunkan RS saat menggunakan Wong - Ada perbedaan antara jelas
nyeri saat pengumpulan data Baker Faces Pain Rating kelompok EMLA dan
tindakan pungsi (6-12 Tahun) Scale Ice Pack sebesar 8% Keterbatasan :
vena pada anak - Mendapatkan - Sampel tidak homogen
usia sekolah prosedur pungsi - Tidak ada alur
vena baik untuk penelitian.
ISBN 978-602- pengambilan darah
72636-3-5 maupun pemasangan
infus
- Sadar
Kriteria Eksklusi :
- Pasien luar ruang
anak
- Kritis, sakit akut,
baru selesai post op,
Picu
- Pasien di rumah
- Berkebutuhan
special/khusus.
42
3. I Gusti Ayu Putu Jumlah responden Desain penelitian - Kompres dingin - Hasil penelitian Quasy Kekuatan :
Satya Laksmi, terdiri dari 20 menggunakan true dilakukan 3 menit menunjukkan rata- experiment - Terdiri dari kelompok
Ni Made respondenyang dibagi ekperimental dengan sebelum pemasangan rata tingkat nyeri tanpa intervensi dan
Suryanti, Ni Luh dalam dua kelompok. rancangan post test only infus pada area yang pada anak kelompok randomisasi kelompok kontrol.
Gede Puspita control design akan dilakukan kontrol 6,4 termasuk (Level III) - Kriteria
Ynti pemasangan infus nyeri sedang. responden/sampel
(2018) Kriteria inklusi : - Pada kelompok nya jelas.
- Pasien anak usia 6 – 12 perlakuan 2,7 - Waktu penelitian 1
Pengaruh thn. termasuk nyeri bulan
Kompres dingin - Tidak dalam kondisi ringan. - Skala/alat ukur yang
terhadap tingkat kritis. - Beda rata-rata digunakan jelas
nyeri saat tingkat nyeri pada :FLAC
pemasangan kelompok kontrol
infus pada anak dan kelompok Keterbatasan :
usia sekolah perlakuan sebesar - Sampel tidak homogen
2018 3,7 - Tidak ada alur
penelitian.
43
D. MANAJEMEN
E. TEKNIK /CARA
44
BAB III
STRATEGI PEMECAHAN MASALAH
A. Jenis Intervensi
Pemberian kompres dingin dengan menggunakan ice pack pada daerah
pemasangan infus.
Subyek dalam penelitian ini yaitu pasien anak yan gmemenuhi kriteria
inklusi, usia 6 - 12 tahun, dirawat di Flamboyan C tidak memiliki gangguaan
psikis dan mental, dalam kondisi sadar dan kondisipasien memungkinkan
dilakukan tindakan pemasangan infus
B. Tujuan
Untuk mengurangi tingkat nyeri sebagai efek dari tindakan invasive
pemasangan infus.
C. Waktu (tanggal dan jam pelaksanaan)
Pelaksanaan dilakukan pada tanggal 02 – 05 Desember 2019 pada pukul
13.00-21.00 WITA.
D. Setting
Di Rumah Sakit Umum Dr.Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan di ruang
Flamboyan C .
E. Media / alat yang digunakan
1.Ice Pack
2.Infus Set
3.Lingkungan yang tenang.
4. Wong Baker Scale
F. Prosedur operasional tindakan yang dilakukan
1.Fase Orientasi
a.Salam terapeutik
b.Perkenalan diri terapis dengan menyebutkan nama lengkap dan
namapanggilan.
2. Validasi
a.Tanya perasaan responden dan kesiapan responden dalam mengikuti
prosedur.
b.Tanyakan perasaan yang dirasakan oleh responden.
3.Kontrak
a. Jelaskan tujuan dari pemberian kompres dingin degan ice pack sebelum
pemasangan infus
b. Waktu :10-15 menit
c. Tempat: Ruangan Falamboyan C
45
d. Tujuan tindakan : Mengurangi rasa nyeri akibat prosedur pemasangan
infus
4. Fase Kerja
1. Memberikan kompres dingin 3-5 menit pada daerah yang akan
dilakukan pemasangan infus
2. Melakukan pemasangan infus pada daerah yang dilakukan kompres
dingin.
3. Mempersilahkan anak untuk mengekpresikan perasaannya setelah
dilakukan pemasangan infus.
4. Menilai tingkat nyeri pasien dengan menggunakan Wong Baker Scale
5. Memberikan kesempatan pada anak untuk bertanya
6. Mendokumentasikan hasil pelaksanaan tindakan.
5. Evaluasi
a. Menanyakan perasaan anak setelah dipasang infus .
b. Memberikan reinforcement positif terhadap anak.
c. Mengucapkan salam dan terima kasih.
46
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan
Pelaksanaan di lakukan pada tanggal 2 – 4 Desember 2019 di ruang Flamboyan C
Rumah Sakit Dr.Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan.
Hari,
Paraf dan
tanggal, Implementasi Evaluasi
nama
Jam
Senin, 02 - Melakukan BHSP kepada pasien - Pasien setiap 2 minggu sekali tranfusi
Des 2019 - Mengompres dengan ice pack daerah darah.
Pukul yang akan dilakukan pemasangan - Ekspresi wajah pasien sedikit nyeri
17.00 infus selama 5 menit. - Skala nyeri 2
WITA - Melakukan pemasangan infus pada - Pasien mengatakan lebih nyaman bila
daerah yang sudah dilakukan dikompres dulu sebelum pemasangan
kompres dingin. infus.
- Melakukan observasi reaksi - Rencana Tranfusi PRC 200 cc
pasien terhadap pemasangan
infus yang sudah diberikan
kompres dingin dengan skala
wong baker
- Mendokumentasikan hasil yang
dilakukan
Senin,02 - Melakukan BHSP kepada pasien - Pasien setiap12 jam cek DL
Des 2019 - Mengompres dengan ice pack daerah - Ekspresi wajah pasien sedikit nyeri
Pukul yang akan dilakukan pengambilan - Skala nyeri 2
18.00 darah selama 5 menit. - Pasien mengatakan nyeri berkurang bila
WITA - Melakukan pegambilan darah pada dikompres dulu sebelum pengambilan
daerah yang telah dilakukan kompres darah.
dingin.
- Melakukan observasi reaksi
pasien terdahap pengamblan
darah yang sudah diberikan
kompres dingin dengan skala
wong baker
- Mendokumentasikan hasil yang
dilakukan
Selasa, - Melakukan BHSP kepada pasien
03Des - Mengompres dengan ice pack daerah - Ekspresi wajah pasien sedikit nyeri
2019 yang akan dilakukan pemasangan - Skala nyeri 2
Pukul infus selama 5 menit. - Pasien mengatakan lebih nyaman bila
17.20 - Melakukan pemasangan infus pada dikompres dulu sebelum pemasangan
WITA daerah yang sudah dilakukan infus.
kompres dingin.
- Melakukan observasi reaksi
pasien terhadap pemasangan
infus yang sudah diberikan
kompres dingin dengan skala
wong baker
- Mendokumentasikan hasil yang
dilakukan
Selasa, 03 - Mengompres dengan ice pack daerah - Pasien setiap12 jam cek DL
Des 2019 yang akan dilakukan pengambilan - Ekspresi wajah pasien sedikit nyeri
Pukul darah selama 5 menit. - Skala nyeri 2
18.00 - Melakukan pegambilan darah pada - Pasien mengatakan nyeri berkurang bila
WITA daerah yang telah dilakukan kompres dikompres dulu sebelum pengambilan
47
dingin. darah.
- Melakukan observasi reaksi
pasien terdahap pengambilan
darah yang sudah diberikan
kompres dingin dengan skala
wong baker
- Mendokumentasikan hasil yang
dilakukan
Kamis 05
- Mengompres dengan ice pack daerah
Des 2019 - Pasien setiap12 jam cek DL
Pukul yang akan dilakukan pengambilan
- Ekspresi wajah pasien sedikit nyeri
17.00 darah selama 5 menit.
- Skala nyeri 2
WITA - Melakukan pegambilan darah pada
- Pasien mengatakan nyeri berkurang bila
daerah yang telah dilakukan kompres
dikompres dulu sebelum pengambilan
dingin.
darah.
- Melakukan observasi reaksi
pasien terdahap pengambilan
darah yang sudah diberikan
kompres dingin dengan skala
wong baker
- Mendokumentasikan hasil yang
dilakukan.
Kamis, 05
Des 2019 - Melakukan BHSP kepada pasien • Skala nyeri 3
Pukul - Mengompres dengan ice pack daerah • Pasien tidak rewel
19.00 yang akan dilakukan pemasangan
WITA infus selama 5 menit.
- Melakukan terapi bermain
membacakan cerita.
- Melakukan pemasangan infus pada
daerah yang sudah dilakukan
kompres dingin.
- Melakukan observasi reaksi pasien
terhadap pemasangan infus yang
sudah diberikan kompres dingin
dengan skala wong baker
- Mendokumentasikan hasil yang
dilakukan
B. Faktor Pendukung
1. Pasien kooperatif.
2. Pasien bisa mengekspresikan reaksi terhadap kompres dingin
sebelum pemasangan infus.
3. Pasien mempunyai pengalaman sebelumnya terhadap pemasangan
infus
C. Faktor Penghambat
1. Terbatasnya jumlah pasien yang memenuhi kriteria inklusi.
D. Evaluasi Kegiatan
Selama dilakukan kompres dingin dengan ice pack sebelum pemasangan
infus tidak ada pasien yang rewel atau menangis. Pada pasien yang dilakukan
48
kompres dingin dengan ice pack sebelum pengambilan darah pasien merasa
lebih nyaman skala nyeri 2-3 (nyeri ringan).
49
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kompres dingin merupakan terapi nonfarmakologi yang cocok
diberikan sebelum dilakukan pemasangan infus. Dingin akan
menimbulkan mati rasa sebelum rasa nyeri timbul. Kompres dingin dapat
menimbulkan efek anastesi lokal pada luka tusuk akibat pemasangan infus.
Kompres dingin menggunakan es memperlambat konduksi serabut saraf
perifer dan menurunkan pelepasan mediator inflamasi dan nosiseptor
sehingga menimbulkan efek anastesi kulit yang relatif cepat. Dalam
aplikasi yang telah diterapkan pada pasien yang akan dilakukan
pemasangan infus dan pengambilan darah, tingkat nyeri pasien menurun
rata-rata skala nyeri 2-3 (nyeri ringan).
B. Saran
1. Pentingnya Pihak Rumah Sakit untuk dapat menerapkan kompres
dingin sebelum pemasangan infus dan pengambilan darah pada anak
sekolah.
2. Bagi tenaga kesehatan khususnya bidan dan perawat sangat penting
untuk menguasai tehnik dalam melakukukan pemasangan infus yang
baik dan benar sesuai SPO.
3. Institusi pendidikan perlu untuk mengenalkan metode kompres dingin
dengan ice pack untuk mengurangi nyeri akibat tindakan pemasangan
infus.
4. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melanjutkan penelitian ini
dengan agar dapat dijadikan standar dalam pemasangan infus dan
pengambilan darah pada anak .
50
SKALA PENGUKURAN TINGKAT NYERI MENGGUNAKAN
WONG BAKER SCALE
51
DAFTAR PUSTAKA
American Heart Association (AHA). 2012. Adult Basic Life Support: Guidelines
for CPR and Emergency Cardiovascular Care, (online),
(http://circ.ahajournals.org/content/122/18_suppl_3/S685, diakses tanggal
20 Pebruari 2018).
Hockenberry & Wilson. 2012. Essential of Pediatric Nursing. St. Louis Missoury:
Mosby
Kozier. B. 2012. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis. Alih Bahasa: Eny
Meiliya, Esty Wahyuningsih, dan Devi Yulianti. Jakarta: EGC.
Lestiawati. 2016. Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Nyeri Pemasangan
Infus Pada Anak Usia Sekolah. Universitas Respati Yogyakarta
Nurchairiah. 2015. Efektifitas Kompres Dingin Terhadap Intensitas Nyeri Pada
Pasien Fraktur Tertutup Di Ruang Dahlia Rsud Arifin Achmad. (online),
Available: (http://repository.usu.ac.id/bitstream.pdf diakses tanggal 2
Maret 2018)
Potter, P.A. & Perry, A.G. 2013. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,
Proses dan Praktek, Alih Bahasa : Yasmin Asih. Jakarta: EGC
Prasetyo, S. N. 2013. Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri. Yogyakarta: Graha
Ilmu
Riskesdas Bali. 2013. Data Riset Kesehatan Dasar Provinsi Bali. Dinas Kesehatan
Provinsi Bali
Smeltzer & Bare. 2013. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah: Brunner&
Suddarth (edisi 8 ed., Vol.2). Jakarta: EGC
52
Soetjiningsih. 2012. Tumbuh KembangAnak. Jakarta: EGC
53