Anda di halaman 1dari 1

Hypertermi b/d proses infeksi Faktor keturunan (genetik) merupakan salah satu faktor risiko Kelompok 4

Tujuan : Suhu tubuh stabil 36-37 C SPIDER WEB : KEJANG terbesar penyumbang terjadinya kejang demam sederhana
Intervensi : Termoregulasi pada anak. (Wardhani AK., 2013). Ai Ifah Hanifah
Infeksi
Pantau suhu klien (derajat dan pola) Faktor risiko yang mempengaruhi kejadian KD berulang adalah Eli
perhatikan menggigil/diaforesis, suhu tubuh ≤38,50C dan diagnosis KDK saat KD pertama. Wulan Yully Nugraha
Pantau suhu lingkungan, Probabilitas terjadinya KD berulang pada anak dengan suhu Elis Tintin Gustini
Batasi/tambahkan linen tempat tidur Peradangan tubuh di bawah 38,50C, dan didiagnosis mengalami KDK adalah Euis Rokayah
sesuai indikasi, Berikan kompres 48%. (Prastiya Indra Gunawan, Darto Saharso, 2012). Otong Adiharyanto
hangat hindari penggunaan akohol, Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi rekurensi Yayat Rohaeti
Resiko Kejang kejang demam, di antaranya adalah suhu pasien ketika
Berikan minum sesuai kebutuhan,
Kolaborasi untuk pemberian Suhu tubuh berulang kejang, riwayat keluarga dengan kejang demam, usia
antipiretik, pertama kali kejang, dan tipe kejang pasien. (Dewanti, at Kejang secara internasional dibagi
Anjurkan menggunakan pakaian
meningkat all, Sari Pediatri 2012). menjadi 2 yaitu
tipis menyerap keringat., Metabolisme basal Faktor status paritas, cara persalinan dan masa gestasi 1. Kejang Parsial
Hindari selimut tebal tidak berpengaruh terhadap terjadinya kejang pada a. Sederhana
Kebutuhan O2 meningkat neonatus. Faktor infeksi intrauterin, gawat janin, resusitasi, b. Kompleks
meningkat berat lahir dan umur ibu bila berdiri sendiri memiliki c. Sekunder menyeluruh
hubungan dengan kejadian kejang pada neonatus. Jika 2. Kejang Umum
Faktor resiko (teks book) : digabung bersama faktor lain, resusitasi menjadi tidak a. Kejang tonik klonik
1. Riwayat kejang demam dan atau Gangguan keseimbangan membran sel berhubungan.(Atika Nurmalitasari, at all, 2014) b. Absence
epilepsi dlm keluarga.
neuron c. Kejang Mioklonik
2. Usia dibawah 18 bulan. Resiko d. Kejang Atonik
3. Suhu tubuh sebelum kejang. Aspiksia e. Kejang Klonik
4. Lamanya demam sebelum kejang. PENATALAKSANAAN f. Kejang Tonik
+, + -
Difusi Na K dan Cl berlebih Bila penderita datang dalam keadaan status Kejang Demam dibagi dua :
konfusifus, Diazepam yang diberikan secara IV. 1. Kejang Demam Sederhana
Resiko tinggi terjadi injury b.d a. BB kurang dari 10 kg : 0,5 – 0,75 mg/kg BB.
ketidakefektifan orientasi, 2. Kejang Demam Kompleks
Metabolisme Perubahan potensial membran sel neuron b. BB 10 – 20 kg : 0,5 mg /kg BB.
aktivitas kejang. c. BB diatas 20 kg : 0,5 mg /kg BB.
Tujuaan : Cedera tidak terjadi meningkat Dosis 0,3mg/kgBB tiap kali maks 5mg (umur < 5
Intervensi : thn) & 10mg (>5thn) Manifestasi klinik Bangkitan kejang
a. Pre Konvulsif dpt terjadi bersamaan dgn kanaikan
Pelepasan muatan listrik
· Mengidentifikasi faktor resiko pre suhu tubuh yg tinggi dan cepat karena
konvulsif untuk penyakit kejang. infeksi di luar SSP, spt ; Tonsilitis,
Singkirkan benda-benda yang ada di OMA, bronkhitis dll.
Aktivitas otot Gangguan Peredaran
sekitar anak yang dapat melukainya. Serangan berlangsung singkat, tonik
Kejang
Monitor cardiopulmonal secara meningkat Darah klonik, tonik, klonik, fokal atau kinetik.
terus-menerus. Kaji kadar gula Dpt berlangsung lama dan atau parsial.
darah. Sediakan dan dekatkan Pada kejang unilateral kadang diikuti
Suplai darah ke otak Kerusakan
peralatan suction. Sediakan O2
Kesadaran menurun Hipoksia hemiplegi sementara (Todd’s
sesuai dengan indikasi turun sel neuron hemiplegi), beberapa jam/hari.
b.Konvulsif Pemeriksaan Diagnostik Kejang unilateral yg lama dpt diikuti
· Baringkan anak ditempat yang rata. Pungsi lumbal, Darah lengkap, oleh hemiplegi yg menetap.
Posisikan miring. Catat waktu, Gula darah, Elektrolit (Kalium, Refleks menelan turun Permeabilitas Edema otak
durasi, bagian tubuh yang terlibat Magnesium, Natrium), Faal
dan frekuensi kejang. Atur hati, Foto tengkorak, EEG, kapiler meningkat
pemberian pengobatan ( contoh Enchepalografi Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak bd gangguan aliran
Diazepam ). Pertahankan jalan nafas darah ke otak akibat kerusakan sel neuron otak, hipoksia dan oedema,
( Airway ). Pastikan klien dalam kejang
Tidak efektifnya jalan nafas b.d spasme otot pernapasan, aspirasi. NOC : Circulation Status, Tissue Perfusion : Cerebral
keadaan aman.
Tujuan : Jalan nafas efektif NIC : Monitor TTV, Monitor AGD, ukuran pupil, ketajaman, kesimetrisan
c. Post Konvulsi
Intervensi : dan reaksi, Monitor adanya diplopia, pandangan kabur, nyeri kepala,
· Monitor TTV dan kesadaran klien.
Baringkan pasien dengan sikap extensi / miringkan kepala klien untuk mencegah aspirasi. Monitor level kebingungan dan orientasi, Monitor tonus otot pergerakan,
Pertahankan jalan nafas efektif.
Berikan O2 (1- 2 liter/menit) bila berat, berikan hingga 4 liter. Monitor tekanan intrkranial dan respon nerologis, Catat perubahan pasien
Setelah anak bangun dan sadar
Pada saat kejang berikan sudip lidah untuk mencegah supaya lidah tidak tergigit. dalam merespon stimulus, Monitor status cairan, Pertahankan parameter
berikan minum hangat, cairan untuk
Lepaskan pakaian yang menggangu pernafasan (misalnya ikat pinggang, gurita dan lain sebagainya). hemodinamik, Tinggikan kepala 0-45o tergantung pada kondisi pasien dan
rehidrasi. Sediakan oral hygiene.
Observasi TTV secara kontinue setiap ½ jam. order medis.