Anda di halaman 1dari 60

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit adalah melalui pelayanan
penunjang medik, khususnya dalam pengelolaan laundry dan linen di rumah sakit. Rumah Sakit
............... menyadari pentingnya peran dan keberadaan unit laundry dan linen dalam mendukung
kegiatan pelayanan yang bermutu & profesional pada pasien atau customers. Linen di rumah sakit
dibutuhkan di setiap ruangan. Kebutuhan akan linen di setiap ruangan ini sangat bervariasi, baik jenis ,
jumlah, dan kondisinya. Alur pengelolaan linen cukup panjang, membutuhkan pengelolaan khusus &
banyak melibatkan tenaga kesehatan dengan bermacam-macam klasifikasi. Klasifikasi tersebut terdiri
dari ahli manajemen, teknisi, perawat, tukang laundry, penjahit, tukang setrika, ahli sanitasi, serta ahli
kesehatan & keselamatan kerja.
Untuk mendapatkan kualiatas linen yang baik, nyaman dan siap pakai, diperlukan perhatian
khusus, seperti kemungkinan terjadinya pencemaran infeksi dan efek penggunaan bahan kimia. Untuk
mendukung dan melaksanakan program menjaga mutu terpadu rumah sakit Semen Gresik,maka
dibutuhkan manajemen laundry dan linen yang baik dan sesuai standar dari Departemen Kesehatan RI
tentang pedoman manajemen linen tahun 2004.
Buku pedoman ini diharapkan dapat membantu para pimpinan, staff dan pelaksana unit kerja
terkait dalam melaksanakan tugasnya dengan acuan buku pedoman dari unit laundry dan linen

B. RUANG LINGKUP
Pelayanan laundry dan linen di rumah sakit Semen Gresik meliputi :
1. Penerimaan linen kotor
2. Pemisahan linen kotor
3. Penimbangan linen kotor
4. Pencucian linen kotor infeksius dan non infeksius
5. Pengeringan dan Penyetrikaan linen
6. Perbaikan linen rusak dan penjahitan linen baru
7. Pemusnahan linen tidak layak pakai
8. Distribusi linen bersih
9. Pembersihan ruang laundry dan linen

1
C. BATASAN OPERASIONAL
Kegiatan yang ada di ruang laundry dan linen dilaksankan sesuai dengan standar prosedur
yang ada
dan mengacu pada jadwal kerja di setiap harinya.Pengertian dari beberapa pelayanan yang ada di
laundry dan linen adalah sebagai berikut :
1. Penerimaan linen kotor : adalah proses penerimaan linen kotor dari ruangan unit kerja
masing-masing yang dikirim ke ruang laundry dan diterima oleh petugas laundry, dengan
membawa buku ekpedisi dan sesuai dengan SPO yang sudah distandarkan.
2. Pemisahan linen kotor : adalah proses pemisahan linen kotor yang dilakukan oleh petugas
laundry berdasarkan jenis tingkat kekotoran, jenis bahan dan warna linen, serta sesuai dengan
label yang sudah distandarkan. Untuk label warna Merah : untuk linen kotor bernoda ), label
warna Kuning ( untuk linen kotor infeksius ), dan label Hijau ( untuk linen kotor tidak bernoda )
3. Penimbangan linen kotor : adalah proses menimbang semua linen kotor dari ruangan yang
dilaksanakan oleh petugas laundry ( dilakukan di ruang laundry ), baik linen infeksius maupun
linen non infeksius.
4. Pencucian linen Infeksius dan Non Infeksius : adalah proses pencucian linen Infeksius yang
dilaksanakan oleh petugas laundry sesuai dengan SPO ( menggunakan chlorine 0,5 % ) dan
pencucian linen Non Infeksisus sesuai dengan SPO yang berlaku.
5. Pengeringan dan Penyetrikaan : adalah proses pengeringan linen yang sudah dicuci dengan
menggunakan mesin pengering ataupun dengan penjemuran bantuan sinar matahari untuk linen
yang jumlah besar / berat.
6. Perbaikan linen yang rusak dan pejahitan linen baru :adalah proses perbaikan lien yang
rusak, baik permintaan dari ruangan ataupun langsung dari petugas laundry saat menemukan
linen yang membutuhkan perbaikan. Pembuatan linen baru : menjahit linen sesuai dengan
permintaan dari pengadaan dan ruangan, seperti : sprei, steek laken, sarung bantal dan alas
kasur.
7. Pemusnahan linen tidak layak pakai : adalah proses pemusnahan linen yang tidak layak pakai
dari ruangan melalui suatu proses sortir dari ruangan.
8. Pembersihan ruang laundry dan linen : adalah proses pembersihan ruang laundry dan linen
setelah dipakai bekerja sesuai dengan SPO, yaitu pembersihan lantai 2X selama 1 hari dengan
menggunakan desinfeksi.
9. Dekontaminasi : dalah suatu proses untuk mengurangi jumlah pencemaran mikroorganisme
atau substansi lain yang berbahaya sehingga aman untuk penanganan lebih lanjut.
2
10. Desinfeksi adalah proses inaktivasi mikroorganisme melalui sitem
11. Infeksi adalah proses dimana seseorang yang rentan terkena invasi agen patogen atau infeksi
yang timbuh berkembang biak dan menyebabkan sakit
12. Infeksi Nosokomial adalah infeksi yang di dapat di rumah sakit dimana pada saat masuk rumah
sakit tidak ada tanda/gejala atau tidak dalam masa inkubasi
13. Linen adalah bahan/alat yang terbuat dari kain, tenun
14. Linen kotor terinfeksi adalah linen yang terkontaminasi dengan darah, cairan tubuh dan feses
terutama yang berasal dari infeksi TB paru, HBV, dan HIV ( jika terdapat noda darah ) dan
infeksi lainnya yang spesifik ( SARS ) dimasukkan ke dalam kantung dengan segel yang dapat
terlarut di air dan kembali ditutup dengan kantung luar berwarna kuning bertuliskan terinfeksi.
15. Linen kotor tidak terinfeksi : adalah linen yang tidak terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh
dan feses yang berasal dari pasien lainnya secara rutin, meskipun linen yang diklasifikasikan
dari seluruh pasien berasal dari sumber ruang isolasi yang terinfeksi.
16. MSDS ( Material Safety Data Sheets ) : Adalah lembar petunjuk yang berisi informasi tentang
sifat fisika, kimia dari bahan berbahaya, jenis bahay yang didapat ditimbulkan, cara penanganan
dan tindakan khusus yang berhubungan dengan keadaan darurat di dalam penanganan bahan
berbahaya.
17. Upaya kesehatan kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan
lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya
sendiri maupun masyarakat sekelilingnya, untuk memperoleh produktivitas kerja yang optimal.
18. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan alat kerja, beban dan proses
pengolahannya, tempat kerja dan lingkungan serta cara-cara melakukan pekerjaan.
19. Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tak terduga dan tak diharapkan, dapat menyebabkan
kerugian material ataupun penderitaan dari yang paling ringan sampai paling berat.
20. Bahaya ( Hazard ) adalah suatu keadaan yang perpotensi menimbulkan dampak merugikan atau
menimbulkan kerusakan.

D. LANDASAN HUKUM
1. UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan
2. UU No. 23 tahun 1997 tentang Pengeloaan Lingkungan Hidup.
3. UU N0. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan kerja.
4. PP No. 85 / 1999 tentang perubahan PP No. 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah
Berbahaya dan Racun.
3
5. PP No. 20 tahun 1990 tentang Pencemaran Air
6. PP. No. 27 tahun AMDAL
7. Permankes RI No.472/Menkes/Peraturan/V/1996 tentang Penggunaan Bahan Berbahaya bagi
kesehatan
8. Permenkes No. 416/Menkes/Per/IX/1992 tentang Penyediaan Air Bersih dan Air Minum.
9. Permenkes No. 986/Menkes/Per/XI/1992 tentang Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit
10. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 983/Menkes/SK/XI/1992 tentang Pedoman Organisasi
Rumah Sakit
11. Kepmen LH No.58/MENLEH/12/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi kegiatan Rumah
Sakit.
12. Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia tahun 1992 tentang Pedoman Pengelolaan linen
13. Buku Pedoman Infeksi Nosokomial tahun 2009
14. Standar Pelayanan Rumah Sakit tahun 1999
15. Pedoman Manjemen Linen Rumah Sakit tahun 2004, Direktoral Jenderal Pelayanan Medik ,
Departemen Kesehatan RI

4
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA


Sebagai unit laundry dan linen yang ditetapkan oleh Ka.Rumah Sakit untuk menangani masalah
laundry dan linen di Rumah Sakit Semen Gresik, maka berdasrkan kualifikasi SDM yang ada
adalah sebgai berikut :
NO NAMA PENDIDIKAN JABATAN
1 M.SYAFI'I SLTP PELAKSANA ( Pj. Laundry )
2 AMIRUL MUKMININ SLTP PELAKSANA ( Pj. Linen )
3 SAMSUL HUDA STM PELAKSANA
4 ZAINUL ARIF STM PELAKSANA
5 SLAMET WAHYUDI SMK PELAKSANA
6 TUTIK SRI WAHYUNI SMK PELAKSANA
Total tenaga 6 Orang
Ketenagaan di unit laundry dan linen Rumah Sakit Semen Gresik sebanyak 6 orang dan secara
bergantian dalam melaksanakan job disnya sesuai dengan jadwal kerja yang ada serta sesuai
dengan kemampuan dan keahliannya.

B. DISTRIBUSI KETENAGAAN
Dari 6 tenaga laundry dan linen di Rumah Sakit Semen Gresik dibagi tugasnya sesuai dengan
jadwal kerja setiap harinya sebagai berikut :
NO JAM KERJA TENAGA BAGIAN KEGIATAN /
KETERANGAN
1 SIFT 1 ( 06.00 S/D 13.00 ) 2 ORANG LAUNDRY Pencucian linen kotor
2 SIFT 2 ( 07.00 S/D 14.00 ) 1 ORANG LAUNDRY Pencucian linen kotor
Pengeringan linen
Penyetrikaan linen
3 SIFT 1 A ( 08.00 S/D 15.00 ) 1 ORANG LINEN Pengeringan linen
Penyetrikaan linen
Penataan linen bersih
4 SIFT MIDLE ( 09.00 S/D 16.00 ) 1 ORANG LINEN Penyetrikaan linen
Penataan linen bersih
5 07.00 S/D 13.00 1 ORANG PENJAHITAN Penjahitan linen rusak dan
linen baru

5
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. DENAH RUANG
Agar unit linen & laundry dapat melaksankan kegiatan pengelolaan linen dengan baik dan sesuai
dengan tugasnya, maka perlu dibuat lay out sesuai dengan kondisi di Rumah Sakit Semen Gresik :
DENAH RUANG LAUNDRY DAN LINEN
RS SEMEN GRESIK

BAK BAK BAK WASHTAFEL


MESIN CUCI I MESIN CUCI II RENDAM RENDAM RENDAM III
I II K.MANDI

SPOTING /
INFEKSIUS LEMARI
CHEMICAL
MESIN DRYING I MESIN CUCI III
BAK

PINTU PENERIMAAN
MESIN DRYING II KINEN
AREA LAUNDRY KOTOR

PINTU PINTU
PINTU
L
MEJA SETRIKA O
WASHTAFEL C
K
ROLL MESIN JAHIT E
R
IRONER
I
AREA LINEN BERSIH
PENGAMBILAN
LINEN
MEJA BERSIH
PELIPATAN
LINEN
ROLL
IRONER RAK LINEN
II BERSIH

PINTU

Denah Ruang Laundry dan linen Rumah Sakit Semen Gresik sudah diatur sesuai dengan fisik
bangunan yang ada.Untuk counter permintaan linen bersih dan pengambilan linen kotor sudah
terpisah.Ruang laundry Rumah Sakit Semen Gresik berada di belakang dan untuk ruang linen
mengikuti di sebelahnya dengan sistim penyekatan / barrier.

6
Ruang laundry terdiri dari :
1. Ruang penerimaan linen kotor
2. Ruang Spoting / linen infeksius dan bernoda
3. Ruang / kamar mandi petugas
4. Ruang proses perendaman dan pencucian
5. Tempat mesin cuci dan pengering
6. Tempat penyimpanan chemical / bahan pembersih
Ruang linen terdiri dari :
1. Ruang mesin Roll Ironer / setrika roll
2. Ruang Penyetrikaan manual
3. Ruang Penjahitan
4. Ruang Linen Bersih
5. Counter pengambilan linen bersih

B. STANDAR FASILITAS
1. Sarana fisik untuk laundry dan linen harus diatur secara matang untuk memudahkan
kelancaran dalam operasional laundry dan linen. Sarana fisik instalasi pencucian terdiri dari
bebrapa ruang antara lain :
1. Ruang Penerimaan linen
Ruangan ini memuat :
 Ruangan penerima yaitu untuk linen infeksisus dan non infeksius. Linen yang
diterima harus sudah terpisah, kantung warna kuning dan kabel kuning untuk linen
infeksius, label warna merah untuk linen bernoda, label warna hijau untuk linen non
infeksius / ringan ( tidak bernoda )
 Timbangan duduk
 Ruangan yang cukup untuk troley pembawa linen kotor untuk dilakukan desinfeksi
sesuai Standar sanitasi RS. Sirkulasi udara perlu diperhatikan dengan memasang
exhaust fan dan pencahayaan minimal C = 100-200 Lux
2. Ruang Pemisahan linen
Ruangan untum mensortir linen jenis linen yang tidak terinfeksi dengan linen yang
bernoda / linen infeksius. Pencahayaan D=200-500 Lux.

7
1. Ruang Pencucian dan Pengeringan linen
Ruang ini memuat :
 Mesin cuci 3 mesin
 Mesin pengering 2 mesin
2. Ruang penyetrikaan linen :
Ruang ini memuat :
Penyetrikaan linen menggunakan Flatwork ironer, pressing ironer yang membutuhkan
tenaga listrik sekitar 3,8 Kva – 4 Kva per alat atau jenis linen yang menggunakan
tenaga listrik sekitar 1 kva per unit alat.
Alat setrika biasa atau manual yang menggunakan listrik sekitar 200 va per alat.
Sirkulasi udara perlu untuk diperhatikan dengan memasang fan atau exhaust fan untuk
penerangan minimal kategori pencahayaan D = 200-500 Lux sesuai pedoman
pencahyaaan rumah sakit.
1. Ruang Penyimpanan linen :
Ruangan ini memuat :
Lemari dan rak untuk menyimpan linen
Meja administrasi
Ruang ini bebas dari debu dan pintu selalu tertutup. Sirkulasi udara dipertahankan
tetap baik dengan memasang fan atau exhaust fan dan penerangan minimal
kategori pencahayaan D = 200-500 Lux, suhu 22 – 27 C dan kelembaban 45 – 75
% RH
2. Ruang Distribusi linen.
Ruang ini memuat :
Meja untuk penyerahan linen bersih kepada pengguna.
Sirkulasi udara perlu diperhatikan dengan memasang fan penerangan minimal
kategori pencahayaan C = 100 – 200 Lux sesuai pedoman pencahayaan rumah sakit.

2. Prasarana listrik
Sebagian besar peralatan pencucian mengunakan daya listrik. Kabel yang dipergunakan untuk
instalasi listrik sebagai penyalur daya digunakan kabel dengan jenis NYY untuk instalasi dalam
gedung dan jenis NYFGBY untuk instalasi luar gedung pada kabel Feeder antara panel induk
utama sampai panel gedung instalasi pencucian.
Pada persyaratan umum instalasi listrik 2000 ( PUIL 2000 ) untuk pendistribusian daya listrik
8
yang besar, kabel feeder harus disambung langsung dengan Panel Utama ( main panel ) rumah
sakit, atau panel utama distribusi ( kios ) jika rumah sakit berlangganan tegangan menengah
( TM ) 20 KV dan sudah menggunakan sistim ring TM 20 KV. Adapun tenaga listrik yang
digunakan di instalsi pencucian terbagi dua bagian ( line ) antara lain :
a. Instalasi penerangan
b. Instalasi tenaga
Daya di instalasi pencucian cukup besar terutama untuk mesin cuci, mesin pemeras, mesin
pengering, dan alat setrika. Disarankan menggunakan kabel dengan jenis NYY terutama pada
kontak langsung ke peralatan tersebut, dan menggunakan tuas kontak ( hand switch ), atau
kotak kontak dengan sistim plug dengan kemampuan 25 amper agar tidak terjadi loncatan
bunga api pada saat pembebanan sesaat. Grounding harus dilakukan, terutama untuk peralatan
yang menggunakan daya besar, digunakan instalasi kabel dengan diameter minimal sama
dengan kabel daya yang tersalurkan.
Untuk instalasi kontak biasa disarankan untuk memperhatikan penempatan, yaitu harus
menjahui daerah yang lembab dan basa. Jenis kotak kontak hendaknya yang tertutup agar
terhindar dari udara bebas, sentuhan langsung dan paralel yang melebihi kapasitas penggunaan.

3. Prasarana air
Prasarana air untuk instalasi pencucian memerlukan sedikitnya 40 % dari kebutuhan air di
rumah sakit atau diperkirakan 200 liter per tempat tidur per hari. Kebutuhan air untuk proses
pencucian dengan kualitas air bersih sesuai standar air. Resorvir dan pompa perlu disiapkan
untuk menjaga tekanan air 2 kg/cm2.
Standar air yang digunakan untuk mencuci mempunyai standar air bersih berdasarkan
PerMenkes No.416 tahun 1992 dan standar khusus bahan kimia dengan penekanan tidak adanya
:
a. Hardness – Garam ( calcium, carbonate dan cloride )
Standar baku mutu : 0 – 90 ppm
Tingginya kosentrasi garam dalam air menghambat kerja bahan kimia pencuci sehingga
proses pencucian tidak berjalan sebagaimana seharusnya.
Efek pada linen dan mesin
Garam akan mengubah warna linen putih menjadi keabu-abuan dan linen warna akan
cepat pudar. Mesin cuci akan berkerak ( scale forming ), sehingga dapat menyumbat
saluran-saluran air dan mesin
9
b. Iron -( besi )
Standar baku mutu : 0 – 0,1 ppm
Kandungan zat besi pada air mempengaruhi kosentrasi bahan kimia, dan proses
pencucian
Efek pada linen dan mesin
Linen putih akan menjadi kekuning-kuningan ( yellowing ) dan linen warna akan cepat
pudar. Mesin cuci akan berkarat.
Kedua polutan tersebut ( hardness dan besi ) mempunyai sifat alkali, sehingga linen
yang rusak akibat kedua kotoran tersebut harus dilakukan proses penetralan pH

4. Prasarana uap
Prasarana uap pada instalasi pencucian digunakan untuk pada proses pencucian, pengeringan
dan setrika, yakni penggunaan uap panas dengan tekanan uap minimun 5 kg/cm2. Kualitas uap
yang baik adalah fraksi kekeringan minimun 70 % ( pada skala 0 – 100 % ) dan temperatur 70
C

5. Peralatan Dan Bahan Pencuci


1. Peralatan kerja untuk laundry / linen.
Di Rumah Sakit Semen Gresik untuk peralatan laundry sudah memenuhi standar dalam
proses laundry. Baik peralatan yang berupa mesin, chemical, dan peralatan untuk petugas.
a. Peralatan Manual.
1. Trolley / kereta dorong :
- untuk linen kotor bahan dari fiber atau terpal ( ada di ruangan masing-masing
unit )
- untuk linen bersih bahan dari stainless di ruang linen 1 buah
2. Bucket / Ember :
- ember untuk cucian ruangan
- ember untuk linen yang infeksius
- ember untuk linen yang non infeksius
- ember untuk linen kantor / tempat lain
3. Folding : meja untuk melipat linen
4. Lemari linen bersih / Valet rack : setiap kotak pada valet rack diberikan kode yang
10
disesuaikan dengan kode-kode cucian. Pada setiap kotak ditempatkan daftar cucian
dari
masing- masing ruangan.Fungsiny aagar tidak sampai tertukar.
5. Vallet trolley : trolley yang digunakan untuk mengirim laundry ke ruangan-ruangan.
6. Wash tub ( bak cuci )
7. Hanger
8. Bottle sprayer
9. Handbrush / sikat tangan

Peralatan Mesin
Di Rumah Sakit Semen Gresik memiliki fasilitas mesin sebagai beikut :
1. Mesin cuci. Kapasitas mesin cuci ada 3 unit yaitu :
- kapasitas besar : 22 kg
2. Mesin pengering ada 2 unit . Kapasitas 20 kg 1 unit dan 15 kg 1 unit
3. Flat / roll ironers mesin ada 2 unit ( mesin untuk menyetrika )
4. Mesin jahit 1 unit ( untuk perbaikan linen yang rusak da buat linen baru )
5. Setrika tangan ada 3 unit

c. Perlengkapan Petugas Laundry


Di Rumah Sakit Semen Gresik untuk petugas laundry memakai perlengkapan pelindung diri
dalam pelaksaaan proses pencucian. Hal ini dilaksanakan untuk menghindari terjadinya
Infeksi
Nosokomial terhadap petugas. Perlengkapan untuk petugas laundry yang dipakai di Rumah
Sakit Semen Gresik yaitu :
- Sarung tangan Rumah Tangga / handscoen
- Tutup Muka / masker
- Tutup kepala / Shower cap/ Topi
- Appron plastik
- Sepatu boot
- Goggle / kaca mata

d. Alat-alat Pendukung di Linen Room ( ruangan )


Untuk melaksanakan tugasnya, seksi linen membutuhkan peralatan sebagai berikut :
11
1. Linen counter : adalah meja pemisah antara petugas yang mengirim linen kotor dengan
linen seksi yang menyiapkan linen bersih.
2. Meja : meja digunakan untuk meletakkan dan melipat linen bersih yang baru datang
dari laundry, misalkan : sprei, handuk, sarung bantal.
3. Rak : rak bisa terbuat dari kayu / alumunium yang digunakan untuk menyimpan
persediaan linen yang bersih.
4. Meja tulis : meja tulis untuk digunakan linen seksi saat menulis untuk keperluan
mencatat dan merecord hasil dari daftar cucian.
5. Trolley : alat pengangkut / kereta dorong untuk linen kotor dan bersih.
6. Mesin jahit : mesin jahit digunakan untuk memperbaiki linen yang rusak.
7. Fire Extinguisher : alat pemadam kebakaran yang diletakkan di linen room.

Untuk menunjang opereasional linen atau laundry di Rumah Sakit Semen Gresik maka
ruangan untuk linen memiliki fasilitas syarat sebagai berikut :
1. Ruang linen dekat dengan laundry dan cukup luas.
2. Lantai terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan.
3. Adanya counter pemisah antara linen seksi dan tempat linen bertugas yang akan
mengirim maupun mengambil linen yang bersih.
4. Tersedianya meja untuk melipat linen dan meja tulis.
5. Tersedianya rak untuk menyimpan macam-macam linen dalam jumlah yang cukup.
6. Ventilasi memadai untuk ventilasi udara / Fan / Exhasut Fan.
7. Fire hidrant maupun fireextinguisher untuk menghindari kebakaran.
8. Tersedianya trolley untuk menbawa linen kotor ke laundry / linen bersih ke laundry.
9. Tersedianya mesin jahit untuk memperbaiki linen yang rusak.
10. Tersediannya telpon untuk komunikasi dengan unit lain.

6. Bahan Kimia Cucian


Proses kimiawai akan berfungsi dengan baik apabila 3 faktor di atas bereaksi dengan baik.
Menggunakan bahan kimia berlebihan tidak akan membuat hasil menjadi lebih baik, begitu
juga apabila kekurangan. Jenis-jenis yang dipergunakan dalam proses pencucian di masing-
masing rumah sakit pada prinsipnya sama, hanya saja dari tiap-tiap jenis chemical ini merk /
namannya berbeda-beda.
 Klasifikasi chemical berdasarkan tingkatannya:
12
1. ALKALI : fungsinya melepaskan kotoran yang berat, bereaksi pada suhu ± 50° C.
Contoh alkali: Booster
Wujud alkali: batangan, powder, liquid (cair)
2. DETERGENT : fungsinya melepas kotoran yang medium soiled, bereaksi pada suhu
± 50°C.Contoh detergent: - Eco Brite
3. EMULSIFER : fungsinya untuk mengemulsikan kotoran-kotoran yang berupa minyak,
lemak, gemuk. Dengan memberikan chemical jenis emulsifer pada artikel yang
kotorannya berupa minyak, lemak, gemuk.
Contoh: F.g.o
4. BLEACH : fungsinya memutihkan kotoran yang berwarna putih atau tetap menjadi
bersih,
menghilangkan warna akibat kelenturan warna lain.
Macam-macam bleach:
 oksigen bleach suhu 60° C - 90° C.
 chlorine bleach suhu 50° C - 60° C.
contoh : Super B dan Hidrigen Peroxida atau H2O, Oxsigen beach
Catatan penggunaan bleach dalam proses pencucian:
- Bleach hanya digunakan untuk artikel yang berwarna putih.
- Setiap bahan cucian polyester yang berwarna putih dapat di bleach.
- Tidak setiap catatan warna putih dapat diberi bleach.
5. SOUR : fungsi mempercepat proses penetralan pH air cucian, menurunkan kadar alkali
menghilangkan busa deterjen, mempercepat proses pembilasan.
Contoh : sour
Contoh penggunaan sour: pada saat main wash, pH air adalah 11-12 atau air cucian dalam
keadaan basa. Untuk menetralkan pH air, menjadi 7 (pH=7) maka dalam pembilasan
terakhir cucian diberikan sour yang sifatnya asam. Penggunaan sour harus tepat atau tidak
berlebihan. Bila kelebihan sour artikel juga menjadi rusak, sebab air cucian masih tetap
basa atau menjadi asam kareana penggunaan sour yang berlebihan, maka artikel akan
menjadi kekuning-kuningan bagi yang putih dan warna cerah menjadi kusam.
6. SOFTENER : adalah chemical yang dipakai dalam proses pencucian untuk melembutkan
bahan cucian. Penggunaan softener dilakukan pada pembilasan terakhir , bersamaan
dengan penggunaan sour, dengan suhu air yang dingin. Softener tidak boleh digunakan
untuk jenis linen yang dikanji seperti : taplak meja, topi cook, lap meja. Softener
13
digunakan untuk cucian seperti : sprei, sarung bantal. Contoh softener : Molto

7. Chemical Yang Dipakai Di Rumah Sakit Semen Gresik


ECO BRITE / detergen :
1. Mengandung zat aktif warna dan anti redeposisi.
2. Mengandung zat anti korosif.
3. Berfungsi untuk linen berwarna dan putih.
4. 5 – 15 grams per kg cucian kering.
BOOSTER / alkali :
1. Untuk kotoran berat seperti darah, minyak dll.
SUPER-B / bleach :
1. Mengandung chorine organik untuk kotoran berat.
2. Untuk membersihkan kain cotton dan polycotton putih.
3. Mengandung disenfektan untuk membunuh kuman pada linen.
4. 2-5 grams per kg cucian kering.
OXIGEN BLEACH :
1. Untuk menghilangkan noda darah dan kotoran berat.
MOLTO :
1. Mengandung kationik wax.
2. Mengandung Germicide
3. Mengharumkan dan melembutkan cucian.
4. Mengandung desinfectant.
5. 5 grams untuk 1 kilogram cucian.
6. pH 7
7. Bau product floral
F.G.O :
1. Melepaskan kotoran lemak, minyak, dan oli dengan emulsifikasi.
2. 3-5 ml per kilograms cucian.

STAIN BLESTER/ANTI KARAT :


1. Menghilangkan noda karat pada linen.
B-29 / detergen multipurpose:
14
1. Untuk mencuci bayi dan linen kantor.
LYSOL & PRECEPT :
1. Untuk membunuh kuman.
2. Dipakai pada proses perendaman linen infeksius.

8. PEMELIHARAAN RINGAN PERALATAN


Alat pencucian pada mesin cuci dijalankan oleh operator / staff laundry, dengan demikian para
petugas laundry harus memeilara peralatannya. Berbagai kelainan atau kerusakan pada saat
pengoperasiannya, misalnya kelainanya bunyi pada alat dapat segera dikenali oleh para operator
:
a. Pembersihan peralatan sebelum dan sesudah pemakaian. Dilakukan setiap hari dengan lap
basah dicampur dengan bahan kimia MPC ( Multi Purpose Cleaner ) dan keringkan dengan
lap kering. Untuk bagian tombol / kontrol digunakan lap kering dan jangan terlalu ditekan,
dikarenakan pada bagian ini biasanya tertulis prosedur dengan semacam stiker yang
terhapus.
b. Pembersihan filter pengering. Dilakukan setelah pemakaian mesin pengering dengan cara
mengambil serat-serat kain atau debu yang menempel pada bagian filter. Hal ini untuk
memperlancar dan mengontrol pergerakan mesin pengering, agar selalu terawat dan terjaga
kondisnya.

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

15
A. PENGELOLAAN LINEN DAN LAUNDRY
Di Rumah Sakit Semen Gresik telah ditetapkan bahwa untuk pengelolaan laundry dan linen
sebagai beikut :
1. Pengelolaan Linen
1. Pengertian Pengelolaan linen adalah suatu kegiatan yang di mulai dari pengumpulan
linen kotor dari masing-masing ruangan mulai dari pengangkutan, pencucian,
penyetrikaan, pemilihan jenis linen, kepemilikan, penyimpanan dan penggunaan
kembali linen bersih
2. Pengertian pencucian Proses pencucian adalah proses pembersihan suatu benda
( kain/pakaian ) dengan menghilangkan kotoran ( dirty ) dari noda (stain) serta kuman-
kuman dengan menggunakan bahan-bahan pembersih secara efektif dan efisien sehingga
pakaian tetap asli, bersih cemerlang, dan tak cepat rusak.

Standar Linen Rumah Sakit Semen Gresik.


1. Standar bahan dari cotton dan Polyster untuk linen yang ada di ruangan.
2. Standar warna putih untuk linen pasien dan penunggu pasien
3. Standar ukuran sesuai dengan linen yang ada di Rumah Sakit Semen Gresik.
4. Standar jumlah sesuai dengan kebutuhan yang dipakai di ruangan.

Standar ini mengacu pada standar linen yang ditetapkan oleh Rumah Sakit Semen Gresik.
Sedangkan untuk standar lain juga sangat penting adalah standar kualitas meliputi:
a. bahan tidak panas
b. bahan tidak mengandung nylon
c. bahan lembut dan tidak menimbulkan iritasi
d. Standar bahan linen di Rumah Sakit Semen Gresik di ruangan IRNA, IRJ, IGD, Laborat,
Radiologi, IPSRS, Bidang Umum dan Administrasi menggunakan bahan dari cotton.
e. Untuk standar bahan dari IBS menggunakan linen Taipan drill.
f. Untuk standar baju dokter memakai bahan Oxsford/Cotton.

Dampak pengelolaan linen.


Dampak pengelolan linen yang tidak benar dan penyimpanan fungsi linen akan
menimbulkan kejadian infeksi nosokomial di Rumah Sakit Semen Gresik.
16
Karakteristik dan Sumber paparan Infeksi.
Di Rumah Sakit Semen Gresik linen dibedakan atas sifatnya linen kotor infeksius dan non
infeksius.Sumber linen kotor di bagi menjadi :
 Linen kotor infeksius : linen kotor yang digunakan di ruang perawatan, rawat jalan,
kamar operasi, perlengkapan medik, radiologi, laboratorium.
 Linen kotor non infeksius : semua linen yang digunakan di ruang administrasi, juga
ruang dapur

2. Tujuan Proses Pencucian


Dari pengertian diatas, maka dapat dikemukakan tujuan proses pencucian adalah sebagai
berikut:
a. menghilangkan noda-noda/ kotoran.
b. menjaga agar linen pakaian bebas dari kuman
c. menjaga agar sifat asli dari pakaian atau linen tetap bertahan, misalnya kehalusan seratnya.
d. Mencegah agar pakaian linen tidak cepat rusak misalnya oleh bahan kimia.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap hasil pencucian adalah :


1. Jenis kotoran
2. Jenis bahan dasar cucian
3. Jenis bahan pencucian
4. Jenis proses pencucian yang meliputi :chemical action, mechanical action, temperatur, waktu.
1. Jenis Kotoran.
Pengotoran yang melekat pada linen/pakaian dapat berasal dari berbagai kotoran
sehingga kemampuan/ daya letaknya pada linen dan pakaian berbeda-beda. Perbedaan
daya dari pengotoran pada pakaian dibedakan menjadi 2 yaitu ikatan fisik dan ikatan
kimia.
a.Kotoran adalah pengotor yang lebih banyak berikatan fisik dari pada ikatan kimia
sehingga relatif lebih banyak gaya mekanis yang diperlukan untuk menghilangkannya.
Beberapa jenis pengotor yang termasuk dalam kotoran adalah sebagai berikut:
 kotoran yang larut dalam air : gula, garam, kopi
 kotoran yang dihilangkan dengan disabunkan: jenis kotoran yang dapat mudah
terlepas dengan reaksi kimia penyabunan adalah kotoran berupa minyak/ lemak
17
hewan dan nabati. Proses penyabun jenis kotoran ini akan lebih cepat apabila
didukung oleh: temperatur air yang tinggi, adanya gaya mekanis, adanya bahan
kimia alkali
 kotoran yang di hilangkan dengan tenaga mekanis yang dibantu detergen. Jenis
kotoran yang dapat dihilangkan dengan menggunakan tenaga mekanis adalah
debu, abu, kotoran.
 Kotoran yang di hilangkan dengan di emulasikan jenis kotoran yang dapat di
hilangkan atau dilepaskan dari minyak bumi dan gemuk.Bahan kimia yang
dipakai untuk mengemulasikan adalah deterjen yang mengandung minyak.
b.Noda adalah pengotor yang lebih banyak berikatan kimia dari pada berikatan fisik,
sehingga relatif banyak bereaksi kimia yang diperlukan untuk menghilangkannya.
Pakaian/linen yang terkena noda disebut Spot. Dalam usaha menghilangkan noda ang
melekat pada pakaian akan lebih mudah apabila dapat :
 mengetahui penyebab noda
 menentukan & menggunakan spoting egent ( obat penghilang noda ) yang tepat.
 mengusahakan agar secepatnya noda tersebut dihilangkan sebelum menyatu
dengan serat-serat pakaian/linen.Untuk pakaian yang akan dicuci pada mesin dry
cleaning maka bahan cucian yang dimasukkan ke dalamnya tidak boleh
mengandung air. Jika bahan cuciannnya spot, maka noda itu dihilangkan dengan
solvent. Solvent akan mudah menguap apabila kena hawa/udara panas.
 Dalam kenyataannya, jarang dilakukan pemisahan pakaian/linen kotor
berdasarkan jenis kotoran. Di samping sulit menentukan jenis kotoran apa yang
melekat pada pakaian juga pemisahan pakaian kotor berdasarkan jenis kotoran
yang memerlukan waktu yang lama. Karena itu klasifikasi linen kotor dilakukan
berdasarkan : tingkat pengotor, jenis bahan dasar cucian, putih dan warna.

Tingkat pengotor yang melekat pada linen di bagi atas 3 jenis yaitu :
 tingkat pengotor ringan
 tingkat pengotor sedang
 tingkat pengotor berat

Prinsip-prinsip penangan linen yang bernoda.

18
Noda darah :
a. Linen yang terkena noda darah di spoting/disikat terlebih dahulu
b. kemudian linen direndam dengan Lysol selama kurang lebih 30 menit.
c. Setelah direndam linen disikat dengan sabun batanagan dan Oxigen Bleach.
d. Setelah proses perendaman dan penyikatan baru dimasukkan ke mesin cuci dengan
chemical Ionic, Booster, ovigen bleach.
Noda Tinta :
 Untuk noda tinta di Semen Gresik belum memiliki chemical khusus untuk
membersihkan tinta, jadi untuk penanganannya sangat sulit.
Noda B.A.B dan muntah :
1. Linen yang terkena B.A.B dan muntah dispoting / disikat terlebih dahulu.
2. Kemudian direndam dengan Precept / Lysol / clorine selama 30 menit.
3. Setelah direndam linen disikat kembali dengan sabun batangan dan Oxigen Bleach.
4. Setelah hilang dari noda baru dimasukkan ke mesin cuci dengan chemical Ionic, dan
booster.

2. Jenis Bahan Dasar Cucian.


2.1. Cucian yang bahan dasarnya dari hewan :
1. Wool : bahan cucian yang bahandasarnya dari wool dan sutera asli dalam
pencuciannya harus di dry cleaning agar kehalusan serat- serat linen tetap dapat
dipertahankan. Wool yang asli apabila dicuci dengan air dapat menyebabkan
mengkerut dan bulu-bulunya tidak halus lagi tetapi terpilih-pilih/bergumpal-gumpal,
sedangkan sutera hanya mengkerut saja.
2. Sutera : untuk bahan dari suter sama dengan wool pencuciannya dengan di dry
cleaning agar tidak mengkerut.
2.2. Cucian yang bahan dasarnya dari katun
Bahan sintestis :
1. cucian yang bahan dasarnya rayon :Serat rayon lebih mudah menyerap air dari pada
cotton, banyak berkurang pada keadaan basah. Oleh sebab itu perlu penanganan
yang hati-hati pada serat cuci.Ada pula jenis rayon yang menjadi lunak apabila
terkena panas.
2. cucian yang bahan dasarnya polyester :Sebaiknya jangan di cuci pada mesin cuci
sebab pada saat kena air akan mengeras dan mudah robek. Jadi harus di dry cleaning.
19
3. cucian yang bahan dasarnya dari acrylic :Bahan dasar dari acrylic juga sukar
menyerap air, jadi sebaiknya bisa dengan dry cleaning.

3. Jenis Bahan Pencuci.


a. Air
Pada proses pencucian biasa, air merupakan media dalam pelepasan kotoran dan
pakaian. Sifat dan jenis air sangat berpengaruh terhadap hasil pencucian. Sifat air itu
sendiri sangat di pengaruhi oleh beberapa sumber :
 air hujan, air sungai, air sumur, air dari mata air. Untuk mendapatkan air yang
berkualitas baik, maka sebelum pemakaian di proses melalui berbagai tahapan air :
 Pengendapan partikel yang kasar
 Penyaringan dan penambahan kimia untuk pengendapan partikel yang halus
 Tahap akhir ditambahkan zat pelunak air yang disebut water softener.
Untuk mengetahui kualitas air biasanya di lakukan beberapa analisa berikut ini:
kesadahan, yaitu banyaknya zat kapur yang terkandung di dalam air.
1. pH, jumlah ion-ion hidrogen yang menyatakan kondisi air yang bersangkutan
yaitu : jika pH > 7 : air basa, jika pH = 7 : air netral, jika pH < 7 : air asam
2. Alkalimitas : jumlah senyawa natrium dan kalium yang terdapat di dalam air
yang di nyatakan dalam bentuk Na 2 dalam tiap 1 liter air.
3. analisa kadar besi, jumlah ion-ion yang terdapat dalam air.
4. analisa kadar chlorida, jumlah ion-ion chlorida yang terkandung dalam air
Air yang soft/ lembut akan memudahkan bahan pembersih untuk bereaksi.
Di Rumah Sakit Semen Gresik air yang digunakan adalah dari hasi Water Treatment
PT. Semen Gresik ( Persero ) Tbk.
2. Deterjen.
Untuk melepas ikatan pengotor diperlukan bahan kimia yang disebut detergent.
Untuk dapat mengetahui bagaimana proses pelepasan kotoran tersebut harus di
ketahui dahulu prinsip dasar dari detergency. Deterjen merupakan bahan campuran
dari berbagai bahan kimia seperti : surfactant, alkali, pelunak air, dan lain-lain.

4. Jenis Proses Pencucian.


Dengan kemajuan teknologi proses pencucian yang ada pada mulanya di lakukan dengan

20
tangan, selanjutnya diganti dengan mesin cuci. Pengoperasian mesin cuci ada yang secara
manual dengan tangan, dan ada pula yang otomatis dengan car washing, card program. Dari
setiap jenis proses pencucian yang digunakan, kualitas hasil proses pencucian akan
dipengaruh oleh 4 faktor :
1. AKSI KIMIA ( Chemical action )
Reaksi kimia yang terjadi pada suatu proses pencucian ditentukan oleh jenis dan
jumlah bahan pencuci ( detergen ) yang digunakan. Reaksi kimia dari suatu bahan
pencuci juga dipengaruhi oleh temperatur air dari proses pencucian. Jadi temperatur
air proses pencucian juga menentukan sampai sejauh mana reaksi kimia tersebut
berlangsung.
2. AKSI MEKANIS ( Mechanical Action )
Besarnya gaya mekanis yang diterima oleh pakaian/linen ditentukan oleh :
Jenis mesin cuci yang meliputi : jumlah putaran/bantingan tromol mesin cuci,
besarnya motor penggerak, besarnya volume tromol mesin cuci.
Tinggi air dalam tromol
Kapasitas / berat bahan cucinya yang dimasukan ke mesin cuci
Jarak jatuhnya [bantingan] linen di dalam mesin cuci
3. TEMPERATUR
Tinggi temperatur air menentukan jumlah panas yang diberikan pada waktu
pencucian. Jumlah panas yang diberikan di batasi oleh bahan dasar pakaian dan kadar
kotor pakaian.
4. WAKTU
Waktu yang diperlukan dalam proses pencucian mulai dari washing hingga extracting
berkisar antara 30-35 menit.

B. PROSES PENGELOLAAN LAUNDRY


Untuk kegiatan pengolahan laundry di Rumah Sakit Semen Gresik, masih dilakukan pencucian
secara manual tetapi juga memakai mesin cuci.
1. Pencucian secara manual adalah proses pencucian
yang sepenuhnya dikerjakan dengan tangan/tenaga manusia, yang dalam hal ini juga serin
disebut handwash/mesin cuci tangan.
TAHAPAN / LANGKAH LANGKAH MENCUCI MANUAL.
1. PEMBASAHAN :
21
 Pemberian air pada awal pencucian sehingga pencucian menjadi basah dan lembut.
 Langkah ini dimaksudkan disamping untuk melembutkan artikel
 ( bahan cucian ) juga untuk melarutkan jenis kotoran yang dapat dilarutkan dengan air,
memudahkan proses pencucian selanjutnya dan penghematan penggunaan detergen.
2. PENYIKATAN :
 Dengan didahului proses penyabunan untuk mendapatkan hasil cucian yang bersih perlu
tindakan penyikatan [brushing] atau linen/pakaian dikucek-kucek sehingga kotoran akan
mudah dilepas.
3. PEMBILASAN :
 Membilas dengan memberikan air pada cucian sehingga sisa-sisa busa detergen sampai
3/4 kali. Sebab apabila sisa-sisa busa detergen masih tersisa pada cucian dapat
menyebabkan artikel yang berwarna tidak cerah lagi dan artikel putih menjadi kekuning-
kuningan.
4. PEMERASAN :
 Pemerasan cucian yang telah selesai di bilas agar artikel menjadi lembab, extracting
yang dilakukan dengan baik akan mempercepat proses pengeringan.
5. PENGERINGAN :
 Merupakan langkah terakhir dai proses pencucian, dengan menggantungkan artikel pada
jemuran/hanger sehingga mendapatkan sinar matahari yang cukup.

2. Pencucian secara mechanical adalah proses pencucian yang dilakukan dengan menggunakan
mesin cuci. Dilihat dari bahan pembersih yang digunakan sebagai media pelepas kotoran, ada 2
mesin yaitu : Washing machine dan Dry cleaning machine.
 Pengoperasian mesin cuci ( washing machine ) proses pencucian dengan menggunakan
mesin cuci dimana dengan menekan tombol-tombol mesin.
 Pengoperasian mesin cuci secara computer adalah pengoperasian washing machine dengan
memasukkan washing card program ke mesin, maka akan berlangsung pelaksanaaan proses
pencucian secara otomatis mulai dari tahap Flush sampai Extract ( pemerasan ) dengan
waktu yang konstan sesuai dengan yang telah terprogram pada washing card program.

PROSEDUR PROSES PENCUCIAN PADA MESIN CUCI


Tahap persiapan proses pencucian secara komputer atau manual adalah sama. Adapun tahap
persiapan yang dimaksud meliputi :
22
1. Tahap pengumpulan
2. Tahap pemisahan
3. Tahap penimbangan
4. Tahap bahan pencucian kotromol mesin ( loading )
5. Tahap menyiapkan bahan chemical

1. Mengumpulkan bahan cucian


Bahan cucian yang dikumpulkan di laundry meliputi : linen-linen yang ada di ruangan,
linen yang ada dikantor, linen yang ada di dapur. Beberapa hal yang dilakukan oleh
petugas ruangan : mengumpulkan bahan cucian, menghitung jumlah masing-masing
jenis bahan cucian, mengisi daftar cucian sesuai dengan jumlah dan jenis bahan cucian
yang telah terhitung, serta menandatangani daftar cucian.
2. Memisah-misahkan bahan cucian
Untuk menghindari “komplain” dari pasien maka pencucian linen antara ruangan-
ruangan dengan ruang dapur, dan ruang kantor tidak dapat digabungkan sebab untuk
linen-linen ruangan membutuhkan penanganan yang lebih cermat. Untuk linen ruangan
sebaiknya dipisahkan berdsarkan :warna, jenis bahan, jenis/tingkat kotoran. Klarifikasi
berdasarkan warna dibagi atas : bahan cucian warna putih, bahan cucian warna cerah,
seperti hijau muda, merah muda, kuning muda, bahan cucian warna tua/gelap seperti
hitam, coklat tua, biru tua.
Jenis bahan dasar cucian : Setelah dikelompokkan berdasarkan warna, selanjutnya
masing-masing kelompok disortir berdasarkan jenis bahan dasarnya :
 bahan cucian yang dapat di cuci pada washing machine yang menggunakan air
sebagai media pelepas kotoran.
 bahan cucian yang harus dicuci pada dry cleaning machine yang menggunakan
solvent sebagai media pelepas kotoran. Bahan yang di dry cleaning : wool, sutera,
rayon, acrylic, polyester terryline.
Jenis dan tingkat kotoran bahan cucian : jenis pengotor pada bahan cucian apakah
noda, maka harus dibersihkan dengan bahan pembersih noda.
3. Menimbang bahan cucian.
Langkah menimbang bahan cucian atau artikel yang akan di cuci merupakan langkah yang
penting, sebab dengan mengetahui berat bahan cucian yang akan di cuci maka akan dapat
ditentukan dengan tepat ukurannnya/takaran chemical yang dibutuhkan dalam proses
23
pencucian.
 Memasukkan bahan cucian
Bahan cucian dimasukkan dalam tromol mesin cuci maksimal 80% dari kapasitas mesin.
Bila kelebihan berat bahan cucian maka menyebabkan over loading ( kelebihan muatan ).
Over loading menyebabkan : kerusakan mesin, hasil pembilasan tidak baik, hasil cucian
setelah kering akan nampak tidak cerah/tidak bersih dan yang warna putih menjadi
kekuning-kuningan. Memasukkan semua chemical Eco Brite 1 s/d 2 gr untuk tiap 1 kg
bahan cucian, Booster 1 s/d 3 gr untuk tiap 1 kg bahan cucian, Molto 5 s/d 10 ml untuk
tiap 1 kg bahan cucian.

TAHAP PELAKSANAAN PROSES PENCUCIAN


Tahapan kerja di laundry :

1. Penerimaan linen kotor denganprosedur pencatatan dan serah terima


2. Pemilahan dan penimbangan linen kotor
3. Pencucian
4. Pemerasan
5. Pengeringan
6. Penyetrikaan
7. Pelipatan
8. Penyimpanan
9. Distribusi
10. Penjahitan linen yang rusak
Setelah melakukakan tahap persiapan untuk suatu proses pencucian yang meliputi pengumpulan
linen, menyortir, menimbang, memasukkan ke mesin dan menyiapkan chemical yang akan
dipergunakan, maka selanjutnya dilakukan tahap pelaksanaan proses pencucian, yaitu:

1. FLUSH.
 Pembilasan awal bahan cucian, dengan tujuan:
 Membasahi linen yang tebal.
 Membantu melepaskan kotoran.
 Memudahkan pencucian selanjutnya.

24
 Melembutkan cucian.
 Penghematan deterjen.
Spesifikasi:
 Dilakukan pada proses awal.
 Mempermudah proses break.
 Temperatur 30-50° C.
 Level air tinggi.
 Waktu proses 3-5 menit.
 Tanpa deterjen.

2.BREAK.
 Proses pencucian awal, tujuannya menghilangkan kotoran, mempermudah proses suds.
Spesifikasi:
 Digunakan untuk proses pencucian yang sangat kotor ( berminyak ).
 Didahului dengan proses flush.
 Temperatur 50-80° C.
 Level air rendah.
 Waktu proses 10-15 menit.
 Deterjen: Eco brite

3.SUDS / WASH.
 Proses pencucian utama dengan menuangkan Ionic ke mesin cuci dengan ukuran yang
disesuaikan dengan berat bahan cucian/banyaknya cucian. Tujuan: melepaskan kotoran,
noda, minyak pada linen.
Spesifikasi:
 Proses setelah flush/ break.
 Temperatur 50-80° C.
 Waktu proses 8-15 menit.
 Deterjen : Eco brite , FGO.

4.BLEACHING.

25
 Proses pemutihan, bleach tidak dilakukan pada semua proses pencucian. Jadi apabila
artikel yang dicuci tidak berwarna putih maka tahap penggunaan bleach ini tidak
dilakukan. Tujuan: memutihkan linen, menghilangkan spot yang ringan.
Spesifikasi:
 Proses setelah suds/ wash untuk chlorin bleach.
 Proses bersama dengan suds untuk Oxigen bleach.
 Temperatur 60-80° C.
 Level air rendah
 Waktu proses 5-10 menit.
 Deterjen: Super B

5.RINSE.
 Pembilasan I & II, pembilasan dengan menggunakan air yang sangat panas/hangat.
Tujuan untuk menetralkan air dengan tahap menjaga suhu badan cucian. Dalam
pembilasan I ini tidak boleh langsung menggunakan air dingin. Sebab dapat
menimbulkan kerusakan terhadap serat-serat pakaian.Tujuan : menghilangkan sisa
deterjen, membuang kotoran yang terlarut di air, dan menurunkan temperatur secara
bertahap.
Spesifikasi:
 Dilakukan setelah proses suds/bleach sebanyak 2 atau 3 kali.
 Temperatur penurunan bertahap 15 %.
 Level air tinggi.
 Waktu proses 2-5 menit.

6.ANTI CHLOR.
 Proses penetralan sisa chlorine bleach. Tujuan: menetralkan sisa chlorine bleach,
mencegah terjadinya warna kekuning-kuningan pada linen.
Spesifikasi:
 Dilakukan setelah proses rinse I
 Temperatur sama dengan rinse
 Waktu proses 2-5 menit
 Level air tinggi

26
7. SOFTENING.
Proses pelembutan.Tujuan: melembutkan cucian ( handuk ), mempercepat proses
pengeringan, mensterilkan cucian ( di Rumah Sakit ) dengan menggunakan chemical
Molto pada pembilasan akhir ( 3-5 menit ).

8. SOURING.
 Proses penetralan sisa deterjen.

9. STARCHING.
 Proses pengkanjian. Tujuan: memperlicin permukaan linen, mempermudah linen di
bentuk, mencegah kotoran menyerap ke linen.
Spesifikasi:
 Dilakukan bersama proses souring.
 Temperatur 25-35° C.
 Level air rendah.
 Waktu proses 3-5 menit.

METODE TEKNIS MENCUCI LINEN DI RUMAH SAKIT


SEMEN GRESIK
NO OPERASIONAL BHN KIMIA SUHU WAKTU DOSIS PH / Air LEVEL
C menit
1 Cuci awal / pre Non Normal 3 s/d 5 100 gr 10 s/d 11 Tinggi
wash
2 Buang - - - - -
3 Cuci / Main Detergen 45 s/d 50 2 100 gr 12 s/d 13 Rendah
wash alkali 60 s/d 80 8 50 gr 11 s/d 12
4 Buang - - - - - -
5 Bleaching Chlorine 65 10 50 gr 8 s/d 9 Rendah
Oxygen 71 3 100 gr
6 Buang - - - - - -
7 Bilas I / Rinse Air Normal 3 s/d 5 - - -
8 Buang - - - - - -
9 Bilas II / Rinse Air Normal 3 s/d 5 - - Tinggi

27
10 Buang - - - - - -
11 Pelembut Molto - 5 200 ml - -
pewangi
12 Buang - - - - - -
13 Pemerasan / - - 5 s/d 8 - - -
exctraktor

Keterangan :
 W = Linen warna : oxygen bleach = untuk linen bernoda
 P = linen putih : chlorine bleach untuk linen putih
 Operasional Bleaching : wajib dilakukan untuk linen kotor infekius dimana
fungsi chlorine / oxsigen bleach sebagai desinfeksi ( % sesuai dengan
persyaratan ) dan suhu serta waktu merupakan satu kesatuan
 Operasional choliren juga sebagai pencermelang
 Dosis disesuaikan dengan tingkat noda ( ringan, sedang, berat )

TENAGA LAUNDRY / STAF OPERTOR


Untuk mencegah infeksi yang terjadi di dalam pelaksanaan kerja terhadap tenaga
pencuci maka perlu ada pencegahan dengan :
 Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, pemeriksaan berkala
 Pemberian imunisasi poliomyelitis, tetanus, BCG dan hepatitis
 Pekerja yang memiliki permasalahan dengan kulit : luka-luka, terbuka, kondisi
eksfoliatif tidak boleh melakukan pencucian.

C. PROSEDUR PELAYANAN LINEN


Bahan cucian disortir berdasarkan :
1. warna bahan cucian .Dikelompokkan menjadi 3 yaitu :
 warna putih
 warna muda, kuning muda, merah muda
 warna gelap/ tua, merah tua, coklat tua, biru tua, hitam
2. bahan dasar cucian.
 wool, sutera harus dicuci dengan dry cleaning machine
 rayon, acrylic, polyester dengan dry cleaning machine

28
 cotton dicuci dengan washing machine ( mesin cuci )
3. Tingkat kotoran dibedakan menjadi 3 :
 kotoran ringan
 kotoran sedang
 kotoran berat
Bahan cucian yang tingkat ringan dan sedang dapat langsung di masukkan ke dalam mesin
cuci untuk dicuci. Sedangkan tingkat kotoran yang berat sebelum dimasukkan ke mesin harus
di cuci awal dulu untuk dibersihkan kotorannya.

C.1. PENANGANAN DAN PENGELOLAAN LINEN


Linen kotor merupakan sumber kontaminasi penting di rumah sakit. Penanganan linen rutin
waktu membersihkan tempat tidur, pengangkutan linen sepanjang koridor dan ruang-ruang
di rumah sakit dapat menebarkan mikroba keseluruh bagian rumah sakit. Ditempat
pencucian, penumpukan linen kotor akan menimbulkan gangguan kesehatan kepada para
pekerja dan dapat mengotori linen bersih. Mengurangi terjadinya kontaminasi udara akibat
linen kotor selama penanganan dan pengangkutan dapat dilakukan melalui berbagai cara.
Pada prakteknya agak sulit untuk menurunkan kontaminasi sama sekali, tetapi dengan
penyediaan kantong plastik untuk mengumpulkan linen kotor akan sangat menbantu dalam
mengurangi penyebaran kuman. Pada Rumah Sakit maju disarankan untuk menggunakan
linen bukan tenun atau bahkan menggunakan jenis disposable. Kantong plastik linen kotor
lebih disarankan di banding kantong kain/ kanvas.Alat pengangkut utama linen di Rumah
Sakit adalah kereta dorang. Kereta dorong untuk linen terpisah untuk linen bersih dan
kotor. Untuk membedakan biasanya kereta didesain berbeda, baik bentuk dan warnanya
sehingga tidak terjadi kekeliruan penggunaan. Dengan penggunaan kereta dorong dari
bahan kanvas yang sering dijumpai di rumah sakit dimana relatif sulit dibersihkan, maka
pemisahan ini semakin penting artinya. Bila terpaksa harus menggunakan kereta yang
sama, maka perlu disediakan pelapis plastik yang kuat untuk menghindari kontaminasi dan
kereta harus di cuci secara secara berkala.Disarankan kereta tersebut terbuat dari kerangka
stainless steel yang dapat dan mudah di cuci dengan steam setelah digunakan untuk linen
kotor. Di Rumah Sakit Semen Gresik untuk trolley kotor dengan trolley bersih sudah
dibedakan sendiri-sendiri. Untuk trolley bersih terbuat dari Stainless steel dan ditutup
dengan kain. Untuk trolley kotor terbuat dari besi dan ada penutup dari kain berwarna
coklat.

29
Prosedur Penangan linen di Rumah Sakit Semen Gresik :
 Lokasi untuk melakukan proses penangan linen merupakan tempat khusus dan terpisah dari
unit perawatan, tempat penyimpanan barang steril.
 Memiliki fasilitas terpisah untuk penerimaaan linen kotor dan pengambilan linen bersih
 Membedakan kereta/trolley linen bersih dan linen kotor.
 Penting diperhatikan penangan linen yang bersih dan kotor untuk mengurangi terjadinya
infeksi pada pekerja dan pasien.
 Harus diperhatikan proses pengumpulan, pemisahan, pencucian, dan penyimpanan linen
sebagai prosedur yang cukup sederhana dan mudah dikerjakan.
 Fasilitas lain yang dimiliki adalah : penyediaaan linen bersih dalam jumlah yang memadai,
cara pengiriman linen bersih yang baik sehingga terhindar dari kontaminasi kuman, serta
cara penanganan linen kotor sehingga tidak mengakibatkan kontaminasi kepada lingkungan.

Pengumpulan,Pencucian, Penyimpanan dan Transportasi Linen :


 Linen kotor harus dikumpulkan, dipisahkan serta ditempatkan pada tempat khusus dimana
kegiatan yang mengakibatkan linen menjadi kotor.
 Meminimalkan kontaminasi pada petugas dan lingkungan dengan tidak memanipulasi
terlalu banyak kegiatan.
 Linen yang terkontaminasi cairan tubuh, darah diperlakukan khusus dengan cara
menggulung dan melipat dan dimasukkan ke kantong tersendiri serta diberi label berwarna
merah.
 Linen terkontaminasi / infeksius tempatkan pada plastik kuning dan diberi tanda warna
kuning
 Letakkan linen yang paling kotor pada bagian yang paling dalam sehingga resiko
kontaminasi dan penularan menjadi minimal.

Pemilahan linen kotor :


 Pemilahan linen kotor dilakukan ditempat pencucian jangan disekitar ruang perawatan.
 Petugas yang menangani linen harus menggunakan ( APD ) sarung tangan, masker, tutp
kepala, appron dan sepatu boot.
 Penambahan air sesuai dengan petunjuk pabrik mengenai proses pengenceran, pengocokkan

30
serta pengeringan.
 Kedua proses terbukti cukup efektif dan tidak memberikan perbedaaan bermakna dalam
menghilangkan maupun mengurangi jumlah kuman pada linen.
 Dari sisi penghematan dan efesiensi biaya maka cara yang terakhir lebih baik dari cara suhu
tinggi.
 Rantai infeksi akibat linen juga harus diputuskan pada tahap terakhir yaitu saat penangan
linen bersih. Linen ini harus dipisahkan dan disimpan pada tempat yang bersih serta tertutu[,
pada saat pembagian linen ke ruangan harus selalu tertutup rapat untuk menghindari
kontaminasi lingkungan.

Proses Pengolahan linen kotor dari ruang perawatan ke cucian.


1. Pengumpulan.
Linen kotor dimasukkan kedalam ember yang dilapisi kantong plastik warna pada saat
mengganti linen pasien dan ditempatkan pengumpulan linen kotor dan diangkut ke
ruang cucian dengan kereta dorong yang sesuai standar. Syarat tempat pengumpulan
linen kotor di ruangan :
 pintu keluar tersendiri dan tertutup / dapat ditutup.
 Jauh dari ruang perawatan pasien.
 Lantai kedap air/ mudah dibersihkan
2. Pengangkutan
Pengangkutan linen kotor harus segera mungkin dapat diangkut / pagi hari dengan
menggunakan kereta dorong yang dilengkapi dengan warna biru gelap. Setelah kereta
dorong digunakan mengangkut linen kotor harus dilakukan pencucian terhadap kereta
dorong dengan cara :
 kereta diguyur dengan air mengalir
 disikat dengan sabun
 dimiringkan dan di jemur dibawah matahari.
Jalur pengangkutan linen kotor dari ruangan laundry tidak boleh melewati instalasi gizi
atau dapur.
3. Pemisahan
Pemisahan linen harus dilakukan secara benar agar bisa dibedakan mana linen yang
terbuka / tidak bernoda dan yang menular / yang tidak menular. Hal ini bertujuan agar

31
tidak tercampur dalam pencucianya .Pemisahan linen kotor yang bernoda :
 noda darah
 noda muntah
 noda kotoran manusia
Linen yang infeksius dibersihkan dahulu kotorannya dan jika ada sudah bisa
dimasukkan
dalam bak tertutup di rendam dengan lysol.Untuk linen infeksius harus dipisahkan
dengan
linen lain dan dimasukkan dalam kresek berwarna merah. Noda darah dihilangkan
dengan
Booster, kemudian di rendam dengan lysol. Apabila masih sulit dihilangkan, bisa
mengunakan Oxigen Bleach.
4. Pencucian linen kotor
adalah proses pencucian linen-linen yang kotor yang sudah disortir lebih dahulu.
Tujuannya agar linen-linen yang kotor menjadi bersih dan bebas dari kuman-kuman.

Langkah-langkah proses pencucian meliputi:


1. Pembilasan pertama.
Guyurkan air dingin biasa, dipakai sebagai pembilasan pertama untuk menghilangkan noda-
noda terutama noda darah. Linen kotor infeksius setiba diruang cucian segera dilakukan
desinfeksi dengan chlorine 0,5 % selama 15 s/d 30 menit.
Kemudian dilakukan pemilihan dan dicuci, sedangkan linen kotor non infeksius setiba di
laundry segera dilakukan pencucian biasa.
2. Tahap penyabunan dan pencucian.
 Pada proses pembilas I digunakan air biasa.
 Proses penyabunan digunakan pemanasan dengan suhu 65-77° C, dengan standart bahan
pencuci mengandung desinfektan, selama 30 menit.
 pH sekitar 8-10 tidak banyak menghasilkan busa.
 Proses pembilasan II dilakukan 3 kali yaitu pertama dengan air panas dan diberikan
pelembut.
 Proses pemerasan menggunakan ekstraktor.
3. Tahap pengeringan dan penyetrikaan.

32
Dapat dilakukan dengan 2 proses:
 Manual (dengan setrika tangan).
 2. sistem silinder berputar atau roll (dengan mesin rol).
4. Tahap penyimpanan dan penataan linen.
Linen bersih disimpan di almari penyimpanan linen yang memenuhi persyaratan tempat
penyimpanan linen, yaitu:
 Ruang penyimpanan harus bersih dan kering.
 Penerangan memenuhi syarat yaitu 200% lux.
 Kelembaban memenuhi syarat yaitu 45% S/D 75 % alat pengukur suhu.
 Suhu ruang memenuhi syarat yaitu 22-27°C dan harus terpasang pengukur suhu.
 Linen harus terpasang rapi dan disusun dalam almari yang telah dibagi sesuai
kepemilikannya.
5. Pengembalian linen / distribusi linen.
Mengembalikan linen yang bersih dan rapi ke ruangan-ruangan. Sebelum pengembalian
linen dilakuakan, petugas linen menata linen tersebut dirak sesuai dengan daftar cucian dan
menurut ruangan-ruangan yang disendirikan. Petugas ruangan dapat mengambil linen bersih
sesuai dengan daftar cucian dan menggunakan kereta dorong yang bersih dan dilengkapi
kantong plastik untuk penutup. Sebelum diambil, petugas perawat harus mengecek kembali
dan menandatangani daftar cucian. Jalur pengangkutan yang digunakan untuk linen bersih
tidak boleh melalui daerah laundry dan lokasi penampungan sampah.
6. Evaluasi pengelolaan linen.
Evaluasi pada pengelolaan linen sangat diperlukan, antara lain dalam bentuk:
 Laporan rutin yang berisi input dan output / infeksius dan non infeksisus (jumlah linen
yang dicuci)
 Pengamatan langsung secara uji petik dari proses pengelolaan linen.
 Evaluasi kepatuhan pengiriman linen kotor
 Evaluasi kelembaban dan suhu ruang linen
 Evaluasi barang temuan / tertinggal di linen
 Evaluasi pembersihan ruang laundry dan linen serta troley linenDilakukan analisa cost
output/input.

D. PENATALAKSANA AN LINEN

33
Penatalaksana linen dibedakan menurut lokasi dan kemungkinan transmisi organisme berpindah
:
 Di ruangan – ruangan
 Perjalanan transportasi linen kotor
 Pencucian di laundry
 Penyimpanan linen bersih
 Distribusi lienen bersih
Linen kotor uang dapat dicuci di laundry dikategorikan :
 Linen kotor infeksius : linen yang terkontaminasi dengan darah cairan tubuh dan fases
terutama yang berasal dari infeksi TB paru, infeksi Salmonella dan Shigella, HBV dan
HIV ( jika terdapat noda darah ) dan infeksi lainnya yang spesifik ( SARS )
dimasukkan ke dalam kantung plastik warna kuning dan diberi label warna kuning
 Linen kotor tidak terinfeksi : lienen yang tidak terkontaminasi darah, cairan tubuh, dan
feses yang berasal dari pasien lainnya secara rutin sungguh pun mungkin linen yang
diklasifikasikan dari seluruh pasien-pasien yang berasal dari sumber ruang isolasi yang
terinfeksi.
Untuk lebih terperinci penanganan linen dibedakan dengan lokasi sebagai beikut :
a. Pengelolaan linen di ruangan
Prosedur untuk linen infeksius :
1. Biasakan mencuci tangan hygines dengan sabun dan air mengalir paling tidak 40-
60detik sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan.
2. Gunakan APD : sarung tangan, masker, appron, tuutp kepala, sepatu boot dan goggle
( bial diperlukan )
3. Persiapkan alat dan bahan : sikat, sprayer, ember dengan tulisan linen infeksius, kantung
plasrik kuning, dan label warna kuning.
4. Lipat bagian yang terinfeksi di bagian dalam lalu masukkan linen kotor infeksius ke
dalam ember tertutup dan bawa ke spool hock atau langsung ke ruang laundry untuk
dilakukan proses desinfeksi.
5. Lakukan desinfeksi linen infeksisus di ruang laundry dilaksankan oleh petugas laundry
sesuai dengan SPO yang ada.

b. Transportasi

34
Transportasi dapat merupakan bahaya potensial dalam menyebarkan organisme, jika
linen kotor tidak tertutup dan bahan troley tidak mudah dibersihkan. Persyaratan alat
tranportasi linen :
1. Dipisahkan antara triley kotor dengan troley bersih, jika tidak maka wadah penampung
yang berbeda
2. Bahan troley terbuat dari Stainless steel
3. Jika menggunakan wadah dan warna yang berbeda
4. Wadah mudah dilepas dan setiap saat habis difungsikan selalu dicuci, demikain juga
troleynya.
5. Muatan / loading linen kotor atau bersih tidak berlebihan
6. Wadah memiliki tutup

c. Dokumen
Dokumen yang dibutuhkan pada penatalaksanaan linen mulai dari ruangan hingga
didistribusikan terdiri dari :
1. Formulir daftar cucian pengiriman linen kotor dari ruangan
2. Buku ekpedisi serah terima linen kotor infeksius dan non infeksisus
3. Pencatatan jumlah linen kotor infeksius dan non onfeksius
4. Formulir pencatatan linen yang tidak layak pakai
5. Surat permintaan barang untuk linen baru
6. Buku serah terima pengambilan linen bersih

E. PERENCANAAN LINEN
E.1 SENTRALISASI LINEN
Sentralisasi merupakan suatu yang di mulai dari proses perencanaan, pemantauan, dan
evaluasi, dimana merupakan suatu siklus berputar. Sifat linen adalah barang habis pakai.
Supaya terpenuhi persyaratan mutlak yaitu kondisi yang selalu siap baik segi kualitas
maupun kuantitas, maka diperlukan sistim pengadaan satu pintu yang sudah terprogram
dengan baik. Untuk itu diperlukan kesepakatan-kesepakatan baku dan merupakan satu
kebijakan yang turun dari pihak Top level Management yang kemudian diaplikasikan
menjadi suatu standar yang harus dijalankan dan dilaksanakan dengan prosedur tetap
( protap ) dan petunjuk teknis ( juknis ) yang selalu dievaluasi

35
E.2 STANDARISASI LINEN
Linen adalah istilah untuk menyebutkan seluruh produk tekstil yang berada di rumah
sakit yang meliputi linen di ruang perawatan maupun baju bedah di ruang operasi
( OK ), sedangkan baju perawat, jas dokter maupun baju kerja biasanya tidak
dikelompokkan pada kategori linen tetapi sebagai uniform.
Berhubung setiap bagain rumah sakit mempunyai spesifikasi pekerjaan, jumlah
kebutuhan yang besar, frekuensi cuci yang tinggi, keterbatasan persediaan, penggunaan
yang majemuk dan image yang ingin di capai. Untuk itu diperlukan standar linen antara
lain :
1. Standar produk
Berhubungan sarana kesehatan bersifat universal, maka sebaiknya setiap rumah
sakit mempunyai standar produk yang sama, agar bisa diproduksi massal dan
mencapai skala ekonomi. Produk dengan kualitas tinggi akan memberikan
kenyamanan pada waktu pemakaiannya dan mempunyai waktu penggunaan yang
lebih lama, sehingga secara ekonomi lebih optimun dibandingkan produk yang
lebih murah.Standar kain linen di Rumah Sakit Semen Gresik ada dua yaitu linen
untuk IRNA dan penunjang memakai stndar jenis kain Battam. Dan untuk linen
IBS merk Taipan Drill
2. Standar desain
Pada dasarnya baju rumah sakit lebih mementingkan fungsinya dari pada
estetikanya, maka desain yang sederhana, ergonomis dan unisex merupakan
pilihan yang ideal, terutama pada baju bedah dan baju pasien. Sizing system
dengan pembedaan warna, diaplikasikan pada baju-baju tertentu untuk
mengakomodasikan individu pemakai. Untuk kepentingan “ praktis “ beberapa
rumah sakit menggunakan sprei / laken yang fitted selain yang flat. Yang tidak
kalah pentingnya adalah pertimbangan pada waktu pemeliharaan, penggunaan
kancing dan sambungan-sambungan baju lebih baik dihindari.
3. Standar material
Pemilihan material harus disesuaikan dengan fungsi, cara perawatan dan
penampilan yang diharapkan. Beberapa kain yang digunakan di rumah sakit
antara lain Cotton 1Cvc cotton 50 % dan Polyester 50 % dengan anyaman plat
atau twill / drill, dengan proses akhir yang lebih spesifik, seperti :
watter repellent, soil release, PU coated, dan sebagainya yang mempunyai sifat
36
dan penggunaan-penggunaan tertentu. Dengan adanya berbagai pilihan tersebut
memungkinkan bagi kita untuk mendapatkan hasil terbaik untuk setiap
produk.Warna pada kain / baju juga memberikan nuansa tersendiri, sehingga
secara psikologis mempunyai pengaruh terhadap lingkungannya.

Oleh karena itu, pemilihan warna sangat penting. Alternatif dari kain warna yang
polos adalah kain dengan corak motif, trend ini memberikan nuansa yang lebih
santai dan modern.
4. Standar Ukuran
Ukuran linen sebaiknya dipertimbangkan tidak hanya dai sisi penggunaan, tetapi juga
dari biaya pengadaan dan biaya operasional yang timbul. Makin luas dan berat, makin
mahal biaya pengadaan dan pengoperasionalnya. Dengan adanya ukuran tempat tidur
yang standar , misalnya : 90 x 200 cm, maka ukuran linen bisa distandarkan menjadi :

LINEN IBS :

 DOEK BESAR : P. 235 X L. 193

 DOEK KECIL : P. 116 X L. 104

 SARUNG MAYO : P. 99 X L. 59 ( PLIPIT MASUK KE DALAMNYA Cm )

 TAPLAK MEJA : P.142 X L. 110

LINEN IRNA / PENUJANG MEDIK :

 SPREI : P. 240 X L. 180

 STEEK LAKEN: P. 180 X L. 120

 SARUNG BANTAL : P. 65 X L. 50

 PERLAK BESAR: P.195 X L. 135

 PERLAK KECIL : P.90 X.L.150

 ALAS BANTAL : P.60 X L.45

5. Standar Jumlah

37
Idealnya jumlah stok linen 5 par ( kapasitas ) dengan posisi 3 par berputar di ruangan :
stok 1 par terpakai, stok 1 par di cuci, stok 1 par disimpan bersih, dan 1 par steril dan 1
par di steril untuk linen OK. Untuk linen di IRNA cukup 3 par stock dan % par stock
untuk linen IBS
Untuk jumlah linen yang digunakan di ruang rawat inap dan operasi perhitungan
rincinya sebagai berikut :
Linen kamar
 Penggantian linen kamar di rumah Sakit Semen Gresik tergantung dari jenis linennya
1 x 2 hari. Untuk sprei dan 1 x 1 untuk steek laken
 Linen Kamar
 Persediaan linen OK yang ideal sangat krusial, mengingat standar prosedur di ruang
OK sangat ketat.
Apabila rumah sakit dengan 5 ruang OK maka frekuensi operasi 5 kali / hari, yang
masing-masing di tangani oleh 7 operator, lama cuci linen 1 hari dan par stock 5.
6. Standar penggunaan
Linen yang baik seharusnya tahan cuci sampai 350 kali dengan prosedur normal.
Sebaiknya setiap rumah sakit menentukan standar kelaikan sebuah linen, apakah dengan
umur linen, kondisi fisik atau dengan frekuensi cuci. Untuk itu sebaiknya linen diberi
identitas. Seperti : tanggal beredar, logo rumahsakit, item dan ukuran,
no item, nama ruangan. Di rumah sakit Semen Gresik memakai tanggal dan bulan
beredar dan nama Rumah Sakit Semen Gresik
Contoh Kode linen di Rumah Sakit Semen Gresik :

KODE – JENIS LINEN – NO.ITEM – BULAN – TAHUN BEREDAR


RSSG – SPREI – 1 -1 - 13
RSSG – SP- 1-1-13 ( ditulis dibawah sudut linen )

BAB V
LOGISTIK

38
A. BAHAN PEMBERSIH / CHEMICAL DI LAUNDRY
Di Rumah Sakit Semen Gresik telah ditetapkan bahwa untuk bahan pembersih proses
pengadaannya melalui unit pengadaan dan untuk pemilihan produk atau bahan pembersih sesuai
dengan spesifikasi dari unit laundry melalui proses trial sebelumnya<sesuai dengan standar
Rumah Sakit untuk chemical yang dipakai.
Bahan pembersih atau chemical yang dipakai oleh Rumah Sakit Semen Gresik adalah sebagai
beikut :
1. Detergen : Eco brite
2. Alkali : Booster
3. Chlorine bleach : Super B
4. Elmusifier : FGO
5. Oxsigen bleach : H202 Hidrogen Peroxida
6. Pelembut / pewangi : Molto
7. Chlorine : precept ( desinfektan )
8. Lisol
9. B-29 ( detergen multi purpose )

B. PERALATAN PENDUKUNG
Di Rumah Sakit Semen Gresik untuk mendukung proses laundry diperlukan alat untuk mencuci
linen yang kotor. Untuk proses pengadaannya sama yaitu melalui unit pengadaan dan untuk
pemilihan produk atau bahan pembersih sesuai dengan spesifikasi dari unit laundry.
Peralatan yang dipakai oleh Rumah Sakit Semen Gresik adalah sebagai beikut :
1. Sikat tangan
2. Timba / Ember
3. Hanger
4. Bak cuci
5. Bottle spayer
6. Gelas ukur
7. Kursi plastik duduk

C. PERMINTAAN LINEN BARU

39
Di Rumah Sakit Semen Gresik untuk sistim pengadaan linen baru untuk kebutuhan linen di
ruangan / unit harus melalui pengadaan. Sistim permintaan linen baru di Rumah Sakit Semen
Gresik dibagi menjadi 2 Cara :
1. Untuk linen yang bisa dijahit oleh unit linen sendiri : seperti ( sprei, sarung bantal, steek
laken ) tetap membuat Surat permintaan ke bagian pengadaann tetapi dari pengadaan
membelikan kain berupa global dan akan dibiayakan ke masing-masing unit melalui
issut ssuai dengan jumlah / jenis linen yang dihasilkan oleh unit laundry. Jadi unit linen
membuat linen tersebut dan membagikannya sesuai dengan permintaan ruangan.
Kesimpulannya unit linen yang menjahit dan membaginya setelah barang jadinya.
2. Untuk linen yang tidak bisa dijahit sendiri / pembelian melalui vendor : unit membuat
surat permintaan barang dan langsung disampaikan ke bagian umum dan administrasi,
kemudian bagian umum dan administrasi menyampaikan ke bagian gudang, dari bagian
gudang membuatkan OP ( order pembelian ) ke pangadaan, dari OP inilah bagian
pengadaan membelikan barang sesuai dengan permintaan ruangan / unit.

D. SISTIM PENGADAAN LOGISTIK


Di Rumah Sakit Semen Gresik untuk sistim pengadaan baik bahan atau peralatan untuk
kebutuhan laundry dan linen harus melalui pengadaan dengan cara :
1. Pembuatan Surat Permintaan Barang ke gudang
2. Penyampaian anggaran ke bagian umum dan administrasi
3. Pengembalian SPB ke bagian gudang
4. Bagian Gudang membuatkan Order Pembelian dan Permintaan Pembelian
5. Bagian Pengadaan membelikan permintaan yang diminta dengan kordinasi lagi ke
bagian laundry bila diperlukan informasi mengenai barang yang baru / tidak jelas.

40
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

A. KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA


A.1. LATAR BELAKANG
Upaya kesehatan kerja menurut UU No.23 tahun 2009 tentang kesehatan khususnya
pasal 23 tentang kesehatan kerja, menyatakan bahwa kesehatan kerja khususnya harus
diselenggarakan di semua tempat kerja, khususnya di tempat kerja yang mempunyai
resiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan lebig
dari sepuluh. Pada hakekatnya kesehatan kerja merupakan penyeresaian antara kapasitas
kerja, beban kerja dan lingkungan kerja, bila bahaya di lingkungan kerja tidak
diantisipasi dengan baik akan menjadi beban tambahan bagi pekerjanya. Khusus untuk
petugas Rumah Sakit di unit laundry menerima ancaman kerja potensial dari lingkungan
bila keselamatan kerja tidak diperhatikan dengan tepat.

A.2. PRINSIP DASAR USAHA KESEHATAN KERJA


Prinsip dasar usaha kesehatn kerja terdiri atas :
1. Ruang lingkup usaha kerja
2. Kapasitas kerja dan beban kerja
3. Lingkungan kerja dan penyakit akibat kerja yang ditimbulkan

A.3. POTENSI BAHAYA PADA UNIT LAUNDRY


1. Bahaya Mikrobiologi
Bahaya mikrobiologi adalah penyakit atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh
mikroorganisme hidup seperti bakteri, virus, ricktesia, parasit dan jamur. Petugas
laundry yang menangani linen kotor senantiasa kontak dengan bahan dan menghirup
udara yang tercemar kuman patogen. Penelitian bakteriologis pada unit laundry
menunjukkan bahwa jumlah otak bakteri meningkat 50 kali selama periode waktu
sebelum cucian mulai diproses.Mikroorganisme tersebut adalah :
 Mycobacterium tubercolosis : menyerang paru-paru,penularan melalui percikan
dan dahak penderita.
Pencegahan :
a) Meningktakan pengertian dan kepedulian petugas laundry terhadap penyakit
41
TBC dan penularannya.
b) Mengupayakan ventilasi dan pencahayaan yang baik dalam ruangan laundry
c) Menggunakan APD sesuai dengan SOP
d) Melakukan tindakan dekontaminasi, desinfeksi terhadap bahan dan alat yang
dipakai digunakan
e) Secara teknis setiap petugas harus melaksanakan tugas pekerjaan sesuai
dengan SOP
 Virus Hepatitis B : selain manifestasi sebagai hepatitis B akut dengan segala
komplikasinya, lebih penting dan berbahaya lagi adalah manifestasi dalam
bentuk sebagai pengidap ( carrier ) kronik, yang dapat merupakan sumber
penularan bagi lingkungan. Penularan dapat melalui darah dan cairan tubuh
lainnya. Pencegahnnya :
a) Meningktakan pengetahuan dan kepedulian petugas laundry terhadap
penyakit hepatitis B dan penularannya.
b) Memberikan vaksinasi pada petugas
c) Menggunakan APD sesuai dengan SOP
d) Melakukan tindakan dekontaminasi, desinfeksi terhadap bahan dan alat yang
dipergunakan bila terkena bahan infeksi.
a) Secara teknis setiap petugas harus melaksanakan tugas pekerjaan sesuai
dengan SOP
 Virus HIV : Penyakit yang ditimbulkannya disebut AIDS. Virus HIV menyerang
terget sel dalam jangka waktu lama. HIV dapat hidup di dalam darah, cairan
vagina, sperma, air susu ibu, sekreta dan ekskreta tubuh. Penularannya melalui
darah, jaringan, sekreta, ekskreta tubuh yang mengandung virus dan kontak
langsung dengan kulit yang terluka. Pencegahannya :
a) Menggunakan APD sesuai dengan SOP
b) Linen yang terkontaminasi berat ditempatkan dikantong plastik keras yang
berisi desinfektan, berlapis ganda, tahan tusukan, kedap air, dan berwarna
khusus / kuning infeksius, serta diberi label HIV AIDS selanjutnya dibakar.
2. Bahaya Bahan Kimia
 Debu : pada unit linen debu dapat berasal dari bahan linen itu sendiri
Pengendalian :
 Pencegahan terhadap sumber
42
 Memakai APD sesuai dengan SOP
 Ventilasi yang baik
 Bahaya bahan kimia : Sebagian besar dari bahaya di unit laundry diakibatkan
oleh zat kimia seperti deterjen, desinfektan, zat pemutih, dll. Tingkat resiko yang
diakibatkan tergantung besar, luas danlama pejanan. Sebagian informasi kimia
tersebut dapat dibaca pada label kemasan dari produk / MSDS. Penanganan zat
kimia di unit laundry :
a. ALKALI
Sifat : bila terkena panas akan terkontaminasi menjadi gas yang mungkin beracun
dan iritasi, tidak mudah terbakar.
Bahaya kesehatan :
 Iritasi mata, iritasi kulit
 Bila terhirup menyebabkan edema paru
 Bila tertelan menyebabkan kerusakan hebat pada selaput lendir
Pertolongan pertama :
 Mata : cuci dengan secepatnya dan sebanyaknya
 Kulit : cuci kulit secepatnya dengan air, ganti pakaian yang
terkontaminasi
 Terhirup : pindahkan dari sumber
 Tertelan : cuci mulut, minum satu atau dua gelas air atau susu
Pertolongan selanjutnya : dengan mencari pertolongan medis tanpa
ditunda

Tindakan pencegahan :
 Memakai APD
 Kontrol teknis, gunakan ventilasi setempat, peralatan pernafasan
sendiri
 Penyimpanan dan pengakutan : simpan ditempat aslinya, wadah
tertutup, dibawah kondisi kering, ventilasi yang baik, jauhkan dari
asam dan hindarkan dari suhu ekstrim.

43
b. DETERJEN
Sifat : bila terkena panas akan terkontaminasi menjadi gas yang mungkin beracun
dan iritasi, tidak mudah terbakar.
Bahaya kesehatan :
 Iritasi mata, iritasi kulit
 Bila terhirup menyebabkan edema paru
 Bila tertelan menyebabkan kerusakan hebat pada selaput lendir
Pertolongan pertama :
 Mata : cuci dengan secepatnya dan sebanyaknya
 Kulit : cuci kulit secepatnya dengan air, ganti pakaian yang
terkontaminasi
 Terhirup : pindahkan dari sumber
 Tertelan : bersihkan bahan dari mulut, minum 1 atau 2 gelas air
atau susu
Pertolongan selanjutnya : dengan mencari pertolongan medis tanpa
ditunda
Tindakan pencegahan :
 Memakai APD
 Kontrol teknis, gunakan ventilasi setempat, peralatan pernafasan
sendiri
 Penyimpanan dan pengakutan : simpan ditempat aslinya, wadah
tertutup, dibawah kondisi kering, ventilasi yang baik, jauhkan dari
asam dan hindarkan dari suhu ekstrim
c. ELMULSIFIER
Sifat : rusak oleh sinar matahri, stabil dan tidak mudah terbakar
Bahaya kesehatan :
 Iritasi mata, iritasi kulit
 Bila terhirup menyebabkan iritasi
 Bila tertelan menyebabkan iritasi
Pertolongan pertama :
 Mata : aliri dengan air selama 15 menit
 Kulit : cuci kulit secepatnya dengan air, ganti pakaian yang
terkontaminasi
44
 Terhirup : pindahkan dari sumber
 Tertelan : cuci mulut, minum satu atau dua gelas air jangan
berusaha untuk muntah
Pertolongan selanjutnya : dengan mencari pertolongan medis tanpa
ditunda
Tindakan pencegahan :
 Memakai APD
 Kontrol teknis, gunakan ventilasi exhaust , peralatan pernafasan
sendiri
 Penyimpanan dan pengakutan : simpan ditempat yang sejuk dan
kering, jauhkan sinar matahari langsung, hindari sumber panas.
d. BLEACH
Sifat : bereaksi dengan bahan-bahan produksi, tidak mudah terbakar.
Bahaya kesehatan :
 Iritasi berat pada mata, ras terbakar pada kulit
 Bila terhirup menyebabkan iritasi, oedema paru
 Bila tertelan menyebabkan rasa terbakar
Pertolongan pertama :
 Mata : cuci secepatnya dengan air s
 Kulit : cuci kulit secepatnya dengan air, ganti pakaian yang
terkontaminasi
 Terhirup : pindahkan dari sumber
 Tertelan : cuci mulut, minum satu atau dua gelas atau susu
Pertolongan selanjutnya : dengan mencari pertolongan medis tanpa
ditunda
Tindakan pencegahan :
 Memakai APD
 Kontrol teknis, gunakan ventilasi exhaust , peralatan pernafasan
sendiri
 Penyimpanan dan pengakutan : simpan ditempat yang sejuk dan
kering, jauhkan sinar matahari langsung, hindari sumber panas

45
e. CHLORINE BLEACH
Sifat : bereaksi dengan asam akan mengeluarkan keluarnya gas klorin dengan
cepat, tidak mudah terbakar.
Bahaya kesehatan :
 Iritasi berat pada mata, rasa terbakar pada kulit
 Bila terhirup menyebabkan iritasi saluran napas, asma, edema paru
dan kanker paru
 Bila tertelan menyebabkan rasa terbakar
Pertolongan pertama :
 Mata : cuci secepatnya dengan air
 Kulit : cuci kulit secepatnya dengan air, ganti pakaian yang
terkontaminasi
 Terhirup : pindahkan dari sumber
 Tertelan : cuci mulut, minum satu atau dua gelas atau susu
Pertolongan selanjutnya : dengan mencari pertolongan medis tanpa
ditunda
Tindakan pencegahan :
 Memakai APD
 Kontrol teknis, gunakan ventilasi setempat , peralatan pernafasan
sendiri mungkin diperlukan untuk penggunaan yang lama
 Penyimpanan dan pengakutan : simpan ditempat yang sejuk dan
kering, jauhkan sinar matahari langsung, hindari sumber panas.
f. SOFTENER
Sifat : stabil, tidak mengandung bahan berbahaya, tidak mudah terbakar
Bahaya kesehatan :
 Iritasi berat mata, iritasi pada kulit
 Bila terhirup menyebabkan iritasi
 Bila tertelan menyebabkan iritasi
Pertolongan pertama :
 Mata : cuci secepatnya dengan air
 Kulit : cuci kulit secepatnya dengan air, ganti pakaian yang
terkontaminasi
 Terhirup : pindahkan dari sumber
46
 Tertelan : cuci mulut, minum satu atau dua gelas air atau susu
Pertolongan selanjutnya : dengan mencari pertolongan medis tanpa
ditunda
Tindakan pencegahan :
 Memakai APD
 Kontrol teknis, gunakan ventilasi exhaust , peralatan pernafasan
sendiri mungkin diperlukan untuk penggunaan yang lama
 Penyimpanan dan pengakutan : simpan ditempat yang sejuk dan
kering, hindari suhu yang ekstrim
3. Bahaya Fisika
 Bising
Dalam kesehtan kerja, bising dapat disalah artikan sebagai suara yang dapat
menurunkan pendengaran secara kuantitatif ( peningkatan ambang pendengaran )
maupun secara kualitatif ( penyempitan spektrum pendengaran ), berkaitan
dengan faktor intensitas, frekuensi, durasi dan pola waktu.

Di rumah sakit, bising merupakan masalah yang salah satunya berasal dari mesin
cuci dam ducting exhaust fan. Pajanan bising yang terjadi pada intesitas relatif
rendah ( 85 dB atau lebih ), dalam waktu yang lama membuat efek kumulatif
yang bertingkat dan menyebabkan gangguan pendengaran berupa Noise Induce
Hearing Loss ( NIHL ).
 Pengkuran :
Untuk mengetahui untensitas bising di lingkungan kerja, digunakan
sound level meter, sedangkan untuk lebih tepat digunakan moise dose
meter karena pekerja umumnya tidak menetap pada suatu tempat kerja
selama delapan jam ia bekerja. Nilai ambang batas ( NAB ) intensitas
bising adalah 85 dB dan waktu bekerja maksimun delapan jam per hari.
 Pengendalian
1. Sumber : mengurangi intesitas bising
 Desain akustik
 Menggunakan mesin / alat yang kurang bising
2. Media : mengurangi transmisi bising dengan cara :
 Menjahukan sumber darei pekerja
47
 Mengabsorbsi dan mengurangi pantulan bising secara
akustik pada dinding, lamgit-langit dan lantai.
 Menutup sumber bising dengan barrier
3. Pekerja : mengurangi penerimaan bising
 Menggunakan APD
Berupa sumber telinga ( ear plug ) yang dapat menurunkan
pajanan sebesar 6-30 dB atau penutup telinga ( ear muff )
yang dapat menurunkan 20-40 dB
 Ruang isolasi untuk istirahat
 Rotasi pekerja untuk periode waktu tertentu antara
lingkungan kerja yang bising dengan yang tidak bising
 Pengendalian secara administrasi dengan menggunakan
jadwal kerja sesuai NAB
 Cahaya
Pencahayaan di instalasi laundry perlu karena berhubungan langsung dengan :
- keselamtan petugas
- peningkatan pencemaran
- kesehatan yang lebih baik
- suasana yang nyaman
Petugas yang terpajan gangguan pencahayaan akan mengeluh kelelahan mata dan
kelainan lain berupa :
- iritasi ( konjungtivitis )
- ketajaman penglihatan terganggu
- akomodasi dan konvergensi terganggu
- sakit kepala
Pencegahan : dengan pencahayaan yang cukup sesuai dengan standar rumah sakit
( minumal 200 Lux )
 Listrik
Kecelakaan tersengat listrik dapat terjadi pada petugas laundry oleh karena
dukungan pengetahuan listrik yang belum memadai. Pada umumnya yang terjadi
di rumah sakit adalah kejutan listrik microshok dimana listrik mengalir ke badan
petugas melalui sistim peralatan yang tidak baik.

48
Efek kesehatan :
1. Luka bakar di tempat tersengat aliran listrik
2. Kaku pada otot ditempat yang tersengat listrik
Pengendalian :
Enginering :
1. Pengukuran jaringan / instalasi listrik
2. NAB bocor arus 50 milliamper, 60 Hz ( sakit )
3. Pemasangan pengaman / alat pengamanan sesuai ketentuan
4. Pemasangan tanda-tanda bahaya dan indikator
Administrasi :
1. Penempatan petugas sesuai dengan ketrampilan
2. Waktu kerja petugas digilir

 Panas
Panas dirasakan bila suhu udara di atas suhu nyaman ( 26-28 C ) dengan
kelembaban antara 60-70%. Pada unit laundry panas yang terjadi adalah panas
lembab.
Pengukuran : dengan mempergunakan Wet Bulb Globe Temperatur ( MBGT )
Efek Kesehatan :
1. Heat syncope ( pingsan karena panas )
2. Heat disorder ( kumpulan gejala yang berhubungan dengan kenaikan
suhu tubuh dan mengakibatkan kekurangan cairan tubuh ) seperti :
 Heat stress / heat exhaustion, terasa panas dan tidak nyaman,
karena dehidrasi, tekanan darah turun menyebabkan gejala pusing
dan mual.
 Heat Cramps adalah spasme otor yang disebabkan cairan dengan
elektrolit yang rendah, masuk ke dalam otot, akibat banyak cairan
tubuh keluar melalui keringat, sedangkan penggantinya hanya air
minum biasa tanpa elektrolit
 Heat stroke disebabkan kegagalan bekerja SSP dalam mengatur
pengeluaran keringat, suhu tubuh dapat mencapai 40,5 C
Pengendalian :
 Terdapap lingkungan
49
 Isolasi peralatan yang menimbulkan panas
 Menyempurnakan sistim ventilasi dengan :menarik udara panas
keluar ruangan, kipas angin untuk petugas, pemasangan pendingin
atau exhaust ducting fan.
Terhadap pekerja :
 Menyediakan persediaan air minum yang cukup dan memenuhi
syarat dekat tempat kerja dan kalau perlu disediakan extra salt
 Hindarkan petugas yang harus bekerja di lingkungan panas apabila
berbadan gemuk sekali dan berpenyakit kardiovaskular.
 Pengaturan waktu kerja dan istirahat berkaitan dengan suhu
ruangan

Secara administratif yaitu pengaturan waktu kerja dan istirahat berkaitan


dengan suhu ruangan.
 Getaran
Getaran atau vibrasi adalah faktor fisik yang ditimbulkan oleh subjek dengan
gerakan isolasi. Vibrasi dapat terjadi lokal atau seluruh tubuh.
Mesin pencucian yang bergetar dapat memajani petugas melalui tranmisi /
penjalaran, baik getaran yang mengenai seluruh tubuh ataupun getaran setempat
yang merambat melalui tangan atau lengan operator.
Efek kesehatan :
 Terhadap sistim peredaran darah : dapat berupa kesemutan jari tangan
waktu bekerja
 Terhadap sistim tulang, sendi dan otot, berupa ganguan osteoarticular
( gangguan pad sendi jari tangan )
 Terhadap sistim saraf : parastesi, menurunnya sensitivitas, gangguan
kemampuan membedakan dan selanjutnya atrofi.
 Pemajanan terhadap getaran seluruh tubuh dengan frekuensi 4-5 Hz dan
6-12 Hz dikaitkan dengan fenomena resonansi ( kenaikan amplitudo
getaran organ ), terutama berpengaruh buruk pada susunan saraf pusat.
Pengukuran : alat yang digunakan adalah vibration meter ( alat untuk mengukur
frekuensi dan intesitas di are kerja )
50
Pengendalian :
 Terhadap sumber, diusahakan menurunkan getaran dengan bantalan anti
vibrasi/ isolator dan pemeliharaan mesin yang baik
 Pengendalian administarsi dilakukan dengan pengaturan jadwal kerja
sesuai TLV ( Treshold Limit Value )
 Terhadap pekerja, tidak ada pelindung khusus, hanya dianjurkan
menggunakan darung tangan untuk menghangatkan tangan dan
perlindungan terhadap gangguan vaskular.
4. Ergonomi adalah penyesuaian tugas pekerjaan dengan pekerja. Posisi tubuh yang salah
atau tidak alamiah, apalagi dalam sikap paksa dapat menimbulkan kesulitandalam
melaksanakan kerja, mengurangi ketelitian, mudah lelah sehingga kerja menjadi kurang
efesien. Hal ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan fisik dan psikologi.
 Gejala : penyakit sehubungan dengan alat gerak yaitu persendian, jaringan otot, saraf
atau pembuluh darah
 Pengukuran : dinilai dari banyaknya keluhan yang ada hubungannya pada saat
melakukan pekerjaan
 Pengendalian
Mengengkat barang berat
Tubuh kita mampu mengangkat beban seberat badan sendiri, kira-kira 50 kg bagi
laki-laki, dan 40 kg bagi wanita.
5. Keselamatan dan kesehatan kerja
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan alat kerja, bahan dan
proses pengolahannya, tempat kerja, dan lingkungannya serta cara-cara melakukan
pekerjaan. Kecelakaan adalah kejadian yang tak terduga oleh karena dibelakang
peristiwa itu tidak terdapat unsur kesengajaan, lebih-lebih dalam bentuk
perencanaan.Beberapa bahaya potensial untuk terjadinya kecelakaan kerja di unit
laundry :
a) Kebakaran
Kebakaran terjadi apabila terdapat tiga unsur bersama. Unsur unsur tersebut
adalah zat asam, bahan yang mudah terbakar dan panas.
Penanggulangan :
 Sistim penyimpanan yang baik terhadap bahan yang mudah terbakar

51
 Pengawasan : pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya kebakaran
dilakukan secara terus menerus
 Jalan untuk menyelamatkan diri.Secara ideal semua bangunan harus
memiliki sekurang kurangnya 2 jalan penyelamat diri pada 2 arah yang
bertentangan terhadap setiap kebakaran yang terjadi, sehingga tak
seorangpun terpaksa bergerak ke arah api untuk menyelamatkan diri.
 Perelengkapan pemadam apar dan penanggulangan kebakaran
Alat Pemadam dan penanggulangan kebakaran meliputi 2 jenis :
1. Terpasang ditetap ditempat
2. Dapat bergerak atau dibawah
Alat-alat pemadam kebakaran harus ditempatkan pada tempat-tempat yang
rawan terjadi kebakaran, mudah terlihat dan mudah diambil
b) Terpeleset / terjatuh
 Terpeleset atau jatuh pada lantai yang sama adalah bentuk kecelakaan
kerja yang dapat terjadi pada unit laundry
 Walaupun jarang terjadi kematian tetapi dapat mengakibatkan cedera
yang berat seperti fraktura, dislokasi, salah urat, memar otak.
 Penanggulangan :
1. Jangan memakai sepatu hak tinggi, sol yang rusak atau memakai
tali sepatu yang longgar
2. Kontruksi lantai harus rata dan sedapat mungkin dibuat dari bahan
yang tidak licin
3. Pemeliharaan lantai :
 Lantai harus selalu dibersihkan dari kotoran-kotoran
seperti pasir, debu, minyak yang memudahkan terpeleset
 Lantai yang cacat misalnya banyak lubang atau
permukaannya miring harus segera diperbaiki.
6. Bahaya Psikososial
Faktor psikososial juga memerlukan perhatian antara lain :
 Stress yaitu ancaman fissik dan psikologis dari faktor lingkungan terhadap
kesejahteraan individu. Stres dapat disebabkan oleh :
1. Tuntutan pekerjaan.
Beban kerj yang berlebihan maupun yang kurang, tekanan waktu,
52
tanggung jawab yang berlebihan maupun yang kurang
2. Dukungan dan kendala
Hubungan yang tidak baik dengan atasan, teman sekerja, adanya berita
yang tidak dikehendaki / gosip, adanya kesulitan uang, dll
Manifesti klinik : depresi, ansietas, sakit kepala, kelelahan dan kejenuhan,
gangguan pencernaan dan gangguan fungsi organ lainnya.
Pengendalian :
 Menjaga kebugaran jasmani dan dari pekerja
 Kegiatan-kegiatan yang menumbulkan rasa menyenangkan dalam
bekerja, misalnya adanya makan siang bersam, adanya kegiatan piknik
bersama.

53
BAB VII
PENGENDALIAN MUTU

Linen dan laundry adalah juga bagian yang berperan dalam kegiatan operasional Rumah Sakit
khususnya dalam hal per linenan,maka tiap tahun pimpinan melakukan evaluasi baik atas
kegiatan yang telah berlangsung setahun yang lalu, juga terkait sistem dan proses serta
pengendalian mutu pelayanan. Dalam Program Menjaga Mutu Terpadu di Rumah Sakit Semen
Gresik, maka unit linen dan laundry dan Panitia Peningkatan Mutu Pelayanan Rumah Sakit
terlibat langsung dalam program menjaga mutu yang bertujuan untuk menerapkan manajemen
linen yang sesuai stndar dan prosedur pelayanan di rumah sakit.
Unit linen dan laundry harus mempunyai rencana dan proses yang sistematis untuk memantau
dan mengevaluasi mutu dan kelayakan semua unsur pelayanan kebersihan di Rumah Sakit.
Pimpinan diharapkan melaksanakan pengembangan strategi dengan mengembangkan indikator
kinerja instalasi agar dapat dijadikan pedoman dalam mengembangkan rencana kegiatan,
rencana pemasaran dan sebagainya.

A. MONITORING
Yang dimaksud dengan monitoring adalah upaya untuk mengamati pelayanan dan
cakupan program pelayanana seawal mungkin, untuk dapat menemukan dan selanjutnya
memperbaiki masalah dalam pelaksanaan program.
Tujuan monitoring adalah :
1. Untuk mengadakan perbaikan, perubahan orientasi atau desain dari sistem
pelayanan ( bila perlu )
2. Untuk menyesuaikan strategi atau pedoman pelayanan yang dilaksanakan di
lapangan, sesuai dengan temuan-temuan dilapangan
3. Hasil analisis dari monitoring digunakan untuk perbaiakan dalam pemberian
pelayanan di rumah sakit.
Aspek-aspek yang dimonitoring mencakup :
1. Sarana, prasarana, dan peralatan
2. Standar / pedoman pelayanan laundry dan linen, SOP, kebijakan-kebijakan
direktur rumah sakit.
3. Pengamatan dengan penglihatan pada linen, yaitu warna yang kusam, pudar,
tidak cerah / putih, atau menggambarkan usia pakai. Atau linen yang sudah tipis
54
terlihat transfaran.
4. Dari perabaan bila ditarik terjadi perobekan atau pelapukan.
5. Apabila ada penandaan tahun pengadaan / penggunaan, tinggal menghitung umur
lamanya, sehingga bisa dihitung frekuensi pencuciannya. Standar untuk linen
IRNA adalah 200-250 kali cuci, sedangkan untuk linen IBS 100-150 kali cuci
hatus dihapus ( tidak layak pakai ) itupun tergantung kwalitas bahan linen / kain
yang dipakai.

B. EVALUASI
Setiap kegiatan harus selalu dievaluasi pada tahap proses akhir seperti pada tahap
pencucian, pengeringan, dan sebagainya, juga evaluasi secara keseluruhan dalam rangka
kinerja dari pengelolaan linen di rumah sakit .
Tujuan dari evaluasi tersebut antara lain :
1. Meningkatkan kinerja pengelolaan linen rumah sakit
2. Sebagai acuan /masukan dalam perencanaan pengadaan linen, bahan kimia
pembersihan sarana dan prasarana kamar cuci
3. Sebagai acuan dalam perencanaansistim pemeliharaan mesin-mesin.
4. Sebagai acuan perencanaan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan SDM
Salah satu cara yang mudah untuk melaksanakan evaluasi adalah dengan menyebarkan
kuesioner ke unit kerja pemakai linen secara berkala setiap semester atau minimal
setahun sekali
1. Kuantitas dan kualitas linen
 Kuantitas linen
Kuantitas /jumlah linen yang beredar di ruangan sangat menentukan kualitas
pelayanan, demikian pula linen yang berputar di ruangan yang diam akan
mengakibatkan linen yang satu cepat rusak dan linen yang lainnya terlihat belum
digunakan.Hal ini dapat menggangu pada saat penggantian linen berikutnya
maupun jika linen tersebut hendak diturunkan kelasnya.
Untuk itu perlu ada monitoring ke ruangan dengan frekuensi minimal 3 bulan
sekali atau setiap kali ada pencatatan di buku administrasi yang baik tidak
mengindahkan prisip FIFO ( first in first Out )
 Kualitas linen
Kualitas linen yang diutamakan dari linen adalh bersih ( fisik linen ), awet (tidak
55
rapuh) dan sehat ( bebas dari mikroorganisme patogen )
Frekuensi :
 Untuk memonitoring bersih dapat dilakukan dengan memanfaatkan panca
secara indera fisik mualai dari bau ( harum dan bebas dari bau yang tidak
sedap ), rasa ( lembut dikulit ) dan skala noda. Dilakukan pada tahap sortir di
dalam perputaran pencucian. Jika terdapat kekurangan dari tiga aspek tersebut,
maka perlu adap encucian ulang sesuai dengan permasalah masing-masing.
 Awet ( tidak rapuh ) dapat dilakukan dengan mengendalikan
penggunaanformulasi bahan kimia yang serendah mungkin tanpa mengabaikan
hasil.
 Subtitusi penggunaan bahan kimia yang mempunyai sifat melapukan.
 Sehat ( bebas mikroorganisme patogen ) dilakukan dengan pemeriksaan linen
bersih melalui pemeriksaan angka kuman di laboratorium untuk mengetahui
adanya mikroorganisme patogen ataupun mikroorganisme non - patogen dalam
jumlah yang banyak ( rekontaminasi )
2. Bahan kimia
 Fisik dan karakteristik bahan kimia
Fisik dan karakteristik bahan kimia dapat berupa warna, butiran serta bau yang
khas dari bahan kimia. Penjelasan spesifikasi bahan kimia pada awal pembelian
menjadi penting serta melihat pembanding bahan kimia dari produk bahan kimia
lainnya akan sangat membantu dalam memonitor kualitas bahan kimia yang
dikirim pihak rekanan. Untuk menjaga kualitas selalu dilakukan monitoring
setiap bahan kimia akan digunakan.
 PH ( Power Hidrogen ) dan presentase bahan aktif
Bahan kimia yang digunakan memiliki pH dan bahan aktif seperti yang
dipersyaratkan dalam LDP ( Lembar Data Pengaman ) MSDS.
Informasi pH penting dalam mengetahui kualitas bahan kimiayang akan
digunakan apakah mengalami perubahan pada saat penyimpanan dan
penggunaan Frekuensi pemeriksaaan dilakukan pada awal penggunaan,
pertengahan dan akhir.

56
3. Baku mutu air bersih
 Persyaratan Permenkes 416
Persyaratan dasar air yang digunakan adalah standar air bersih Depkes
( Permenkes 416 ) yaitu dilakukan monitoring sedikitnya 6 bulan sekali.
 Persyaratan khusus kandungan besi dan garam-garam
Jika standar yang diinginkan tidak perpenuhi, maka harus dilakukan usulan utnuk
menurunkan tingkat polutan di air yang akan digunakan. Sebaiknya sama
dilakukan setiap 6 bulan sekali.
4. Baku mutu limbah cair
 Berdasarkan PP No.85 tahun 1999 tentang Pengelolahan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun, dengan lampiran dikategorikan sebagai limbah B3 :
Kode limbah : D 239
Jenis kegiatan : Laundry
Sumber pencemaran : Proses cleaning yang memakai pelarut organik kuat dan
pelarut kostik
Asal/uraian limbah : Pelarut bekas, larutan kostik bekas,proses cleaning
Pencemaran utama : Pelarut organik, hidrokarbon terhalogenasi, lemak dan
gemuk/minyak
Dengan demikian limbah laundry harus dikelola sesuai dengan standar Baku
Mutu sesuai dengan tingkat pencemar yang dimaksud, namun Permen LH No 58
tahun 1995 tidak boleh/belum mengakomodir untuk limbah cair laundry rumah
sakit.
Polutan yang mencemari : phospat, senyawa aktif biru metilen dan sulfida
Frekuensi pemeriksaan dilakukan setiap 3 bulan sekali
Hasil evaluasi diberikan kepada penanggungjawab dan pengelola linen di rumah
sakit dan umpan balik yang diberikan dapat menjadi bahan laporan dan
pertimbangan dalam pembuatan perencanaan sesuai tujuan evaluasi.

57
BAB VIII
PENUTUP

Buku Pedoman Pedoman Manajemen laundry dan linen Rumah Sakit .....................
terdiri dari 8 bab, yang diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dan pedoman bagi staf dan
seluruh unit pelayanan yang terkait dengan laundry dan linen.
Penyusun mengucapkan banyak terimakasih atas terselesainya buku pedoman laundry
dan linen. Atas kerjasama tim laundry dan linen serta pengendalian infeksi nosokomial Rumah
Sakit ..................... diharapkan mampu memberikan pelayanan yang sesuai dengan pedoman
pelayanan rumah sakit.
Buku pedoman ini masih jauh dari sempurna, sehingga kami mengharapkan partisipasi
dari berbagai pihak untuk memberikan sumbang saran, kritik demi perbaikan dan
penyempurnaannya.

Ditetapkan di : Gresik
Pada tanggal : 5 Juni 2013
Rumah Tangga
Asisten Manajer,

...........................

58
DAFTAR PUSTAKA

- Pedoman Manajemen linen di rumah sakit, Depkes RI.Direktoral Jenderal Pelayanan Medik,
Jakarta, 2004
- Buku Pedoman Infeksi Nosokomial tahun 2001
- Pedoman sanitasi Rumah Sakit di Indonesia tahun 1992 tentang pengelolaan linen.
- Darsono agustinus, Tata Graha ( Housekeeping ), PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta
1995
- Perwani, Yayuk Sri, S.E, Teori dan Petunjuk Praktek Housekeeping Untuk Akademi
Perhotelan : Make Up Room, PT. Gramedia, Jakarta, 1997
- Sofyan, Dadang, Drs, & Noor, Sjirad Mudamdiat, Housekeeping I : Tehnik dan Prosedur, BPLP
(a), Bandung, 1993
- Sofyan, Dadang, Drs, & Noor, Sjirad Mudamdiat, Housekeeping II : Tehnik dan Prosedur,
BPLP (a), Bandung, 1993
- Sihite, Richard, S.sos, Pengetahuan Dasar Housekeeping ( Tata Graha ) untuk Hotel, SIC,
Bandung.
- Sihite Richard, S.Sos, Laundry & Dry cleaning, SIC, Surabaya

59
60