Flavonoid Daun Jambu Biji: Analisis KLT
Flavonoid Daun Jambu Biji: Analisis KLT
PROPOSAL
KARYA TULIS ILMIAH
Oleh :
ERI PUSPITA
NIM. 01.16.019
Oleh :
ERI PUSPITA
NIM. 01.16.019
Disetujui untuk diujikan di hadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah pada tanggal
Oleh :
Pembimbing I Pembimbing II
Mengetahui
Akademi Kesehatan Arga Husada
Telah di Uji dan di setujui Tim Penguji pada Ujian di Program Diploma III Farmasi
Akademi Kesehatan Arga Husada Pare
Mengetahui
Akademi Kesehatan Arga Husada
Direktur
Demikian surat pernyataan ini kami buat dengan sebenar-benarnya dan apabila
pernyataan ini tidak benar, kami bersedia mendapatkan sanksi.
Pare,
Yang menyatakan,
ERI PUSPITA
Mengetahui
Pembimbing I Pembimbing II
ERI PUSPITA
NIM 01.16.019
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL…………………………………………………... i
LEMBAR PERSETUJUAN…………………………………………… ii
LEMBAR PENGESAHAN……………………………………………. iii
SURAT PERNYATAAN……………………………………………… iv
KATA PENGANTAR…………………………………………………. v
DAFTAR ISI…………………………………………………………... vii
DAFTAR TABEL……………………………………………………... ix
DAFTAR GAMBAR………………………………………………….. x
DAFTAR BAGAN……………………………………………………. xi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………………………………... 1
B. Rumusan Masalah…………………………………….. 2
C. Tujuan Penelitian……………………………………... 3
D. Manfaat Penelitian……………………………………. 3
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………….26
LEMBAR KONSULTASI
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1 Uji Pendahuluan Flavonoid Daun Jambu Biji Putih……….. 24
Halaman
Gambar 2.1 Tanaman Jambu Biji Putih ……………………….. 4
DAFTAR BAGAN
Halaman
Bagan 2.1 Kerangka Konsep Identifikasi Kadar Flavonoid pada Daun
Jambu Biji putih …………………………………………… 18
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia mempunyai bermacam-macam jenis tumbuhan yang bisa
digunakan sebagai tanaman obat tradisional atau biasa di sebut tanaman herbal.
Adapun tanaman obat tersebut antara lain daun kumis kucing untuk diuretik atau
melancarkan kencing, daun meniran untuk meredakan batuk, daun jambu biji
untuk mengobati diare, daun kelor untuk meningkatkan ketahanan alamiah
tubuh, buah mengkudu untuk menurunkan tekanan darah tinggi dan masih
banyak yang lainnya (Hariana, 2013)
Jambu biji ada bermacam-macam, misalnya jambu kristal, jambu sukun,
jambu Bangkok, jambu lokal dan jambu australia. Jambu biji putih termasuk
jambu biji lokal. Jambu biji putih dipilih karena dari segi manfaat mempunyai
banyak khasiat. Bagian yang digunakan adalah daunnya. Daun yang dipilih
adalah daun yang belum terlalu tua dan masih segar serta tidak terkena hama.
Jambu biji putih (Psidium guajava, L) adalah tanaman tropis yang berasal dari
Brasil yang disebarkan ke Indonesia melalui Thailand. Jambu biji putih
(Psidium guajava,L) mempunyai beberapa nama daerah, misal jambu batu
(Sunda), jambu klutuk (Jawa), giawas (Papua), jambu bender (Madura) (BPOM
RI, 2011)
Tanaman jambu biji putih (Psidium guajava,L) mempunyai kandungan
metabolit sekunder saponin, tannin, steroid, flavonoid, alkaloid dan triterpenoid
(Egi Azikin dkk, 2016). Flavonoid terdapat dalam semua tumbuhan hijau dan
merupakan metabolit sekunder yang termasuk golongan fenol alam terbesar.
Flavonoid memiliki banyak khasiat dan aktivitas biologik antara lain sebagai
antioksidan, anti kanker, anti inflamasi dan lain-lain. Senyawa flavonoid yang
terkandung dalam daun jambu biji putih (Psidium guajava Linn) adalah
guaijavarin, kuersentin, isokuersentin,guajavarin dan asam guajavolat (Menkes
RI, 2016). Ekstrak air daun jambu biji putih menunjukkan adanya efek antidiare
dengan mengurangi efek peristaltik.
Untuk melakukan penelitian ini, kami menggunakan simplisia daun jambu
biji putih ( Psidium guajava Linn ) yang diperoleh dari desa Kedungwaru,
kecamatan Kedungwaru, Tulungagung. Tanaman tumbuh dengan subur dengan
tinggi pohon mencapai sekitar 3-5 meter. Wilayah kabupaten Tulungagung
menunjukkan adanya dataran rendah, perbukitan bergelombang serta daerah
lereng gunung. Desa Kedungwaru masuk dalam dataran rendah yang subur
dimana dataran ini dilalui oleh sungai Brantas dan sungai Ngrowo beserta
cabang-cabangnya. Kabupaten Tulungagung terletak pada ketinggian 100m-
1000m diatas permukaan laut atau dpl. Hal ini sesuai dengan tempat tumbuh
tanaman jambu biji putih yaitu pada ketinggian1200m dpl.
Preparasi sampel di mulai dari daun jambu biji putih (Psidium guajava
Linn) yang diperoleh dibuat serbuk simplisia dan dilakukan penyarian. Metode
yang di pilih ialah maserasi yang telah di modifikasi yaitu remaserasi karena
dengan remaserasi akan didapat kadar metabolit yang lebih tinggi atau rendemen
yang lebih banyak. . Selanjutnya dilakukan isolasi flavonoid dengan cara
fraksinasi dengan pelarut n-Heksan dan etil asetat yang bertujuan untuk
memisahkan senyawa-senyawa yang terkandung dalam daun jambu biji putih.
Untuk membuktikan adanya flavonoid dalam daun jambu biji putih (Psidium
guajava Linn) di lakukan uji pendahuluan dengan uji warna atau Uji
Shinoda(Markham, 1988).Dilanjutkan dengan uji penegasan dan uji
kromatografi lapis tipis.
Identifikasi senyawa flavonoid akan dilakukan dengan menggunakan
metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Kromatografi Lapis Tipis adalah
suatu metode pemisahan komponen menggunakan fase diam berupa plat dengan
lapisan bahan adsorben inert. Metode Kromatografi Lapis Tipis di pilih karena
merupakan metode yang tepat dan sistematis, selain itu ketepatan penentuan
kadar akan lebih baik karena komponen yang akan ditentukan merupakan bercak
yang tidak bergerak.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang disebut diatas, rumusan permasalahan yang
akan dijawab melalui penelitian ini adalah ” Apakah terdapat senyawa
Flavonoid dalam Fraksi Etil Asetat Daun Jambu Biji Putih (Psidium guajava
Linn) dengan metode Kromatografi Lapis Tipis “.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya kandungan senyawa
flavonoid Fraksi Etil Asetat pada Daun Jambu Biji Putih(Psidium guajava
Linn) dengan metode Kromatografi Lapis Tipis.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti
Dapat menambah pengetahuan peneliti tentang tumbuhan jambu biji
putih dan kandungan kimia didalamnya.
2. Bagi Akademi
Hasil penelitian dapat di jadikan rujukan bagi upaya pengembangan
penelitian selanjutnya serta berguna menjadi referensi mahasiswa yang ingin
melakukan kajian tentang tanaman tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. Morfologi Tanaman
Tanaman jambu biji termasuk ke dalam jenis tanaman perdu atau pohon
kecil dengan tinggi kira-kira 2- 10 m, mempunyai cabang yang banyak.
Batangnya berkayu dan keras, kulit batang licin, mengelupas, berwarna coklat
kehijauan. Habitat atau tempat tumbuh tanaman jambu biji putih di Jawa
umumnya terdapat pada ketinggian pada 1200meter diatas permukaan laut dan
sering tumbuh liar pada tanah yang gembur maupun liat, banyak air dan tempat
terbuka (BPOM RI, 2011)
B. SIMPLISIA
1. Pengertian Simplisia
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan
yang telah di keringkan (Depkes RI, 1985 : 1).
Syarat-syarat simplisia yang baik :
a. Simplisia harus bebas dari serangga atau kotoran hewan dan mikroba
patogen lainnya.
b. Simplisia tidak boleh mengandung lender dari cendawan atau menunjukkan
tanda-tanda pengotoran yang lain.
c. Bau dan warna simplisia tidak boleh menyimpang dari tanaman sebenarnya.
d. Simplisia tidak boleh mengandung bahan beracun dan berbahaya.
e. Simplisia disimpan dalam wadah yang kering dan tertutup rapat serta
terhindar dari paparan sinar matahari langsung.
2. Macam-macam Simplisia (Depkes RI, 1995)
Simplisia dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian
tumbuhan atau eksudat. Eksudat tumbuhan ialah isi sel yang secara spontan
keluar dan tumbuhan atau isi sel yang dengan cara tertentu di keluarkan dari
selnya atau senyawa nabati lainnya yang dengan cara tertentu di pisahkan dari
tumbuhannya dan belum berupa senyawa kimia murni.
2. Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh, bagian
hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa
bahan kimia murni, misalnya minyak ikan dan madu .
3. Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau
mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum
berupa bahan kimia murni, contoh : serbuk seng dan serbuk tembaga.
4. Pengeringan Simplisia
Tujuan pengeringan simplisia ialah untuk mengurangi kadar air, menjamin
dalam penyimpanan, mencegah pertumbuhan jamur, serta mencegah proses atau
reaksi enzimatika yang dapat menurunkan mutu.
Hal-hal yang diperhatikan selama proses pengeringan adalah suhu
pengeringan, kelembaban udara aliran udara, waktu pengeringan dan luas
permukaan bahan.
Pada dasarnya di kenal 2 cara pengeringan simplisia, yaitu:
1. Pengeringan alamiah
Tergantung dari senyawa aktif yang dikandung dalam bagian tanaman yang
di keringkan, dapat dilakukan 2 cara pengeringan:
a. Dengan panas sinar matahari langsung
Cara ini dilakukan untuk mengeringkan bagian tanaman yang relative
keras seperti kayu, kulit kayu, biji dan sebagainya dan mengandung
senyawa aktif yang relatif stabil.
b. Dengan diangin-anginkan dan tidak dipanaskan dengan sinar matahari
langsung.
Cara ini terutama digunakan untuk mengeringkan bagian tanaman yang
lunak seperti bunga, daun dan sebagainya dan mengandung senyawa
aktif mudah menguap.
2. Pengeringan buatan
Prinsip pengeringan buatan ialah udara dipanaskan oleh suatu sumber panas
seperti lampu, kompor, mesin diesel atau listrik, udara dialirkan dengan kipas
ke dalam ruangan atau lemari yang berisi bahan yang akan dikeringkan yang
telah disebarkan diatas rak-rak pengering.
5. Pengujian Simplisia
Untuk mengetahui kebenaran dan mutu obat tradisional termasuk
simplisia, maka dilakukan analisis yang meliputi analisis kuantitatif dan
kualitatif. Analisis kuantitatif terdiri atas pengujian organoleptis, pengujian
makroskopik, pengujian mikroskopik dan pengujian histokimia (Depkes RI,
1995: XI-XII)
1. Uji Organoleptis
Uji ini dilakukan untuk mengetahui kebenaran simplisia menggunakan panca
indra dengan mendiskripsikan bentuk, warna, bau dan rasa.
2. Uji Makroskopik
Dilakukan dengan menggunakan kaca pembesar atau tanpa menggunakan
alat. Cara ini dilakukan untuk mencari khususnya morfologi, ukuran dan
warna simplisia yang diuji.
3. Uji Mikroskopik
Uji mikroskopik dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang derajat
pembesarannya disesuaikan dengan keperluan. Simplisia yang diuji dapat
berupa sayatan melintang, radial, paradermal maupun membujur atau berupa
serbuk. Pada uji mikroskopik dicari unsure-unsur anatomi jaringan yang khas.
4. Uji Histokimia
Uji histokimia bertujuan untuk mengetahui berbagai macam zat kandungan
yang terdapat dalam jaringan tanaman. Dengan pereaksi spesifik zat-zat
kandungan tersebut akan memberikan warna yang spesifik pula sehingga
mudah di deteksi.
C. EKSTRAKSI
Ekstraksi adalah proses untuk memperoleh sediaan yang
mengandung senyawa aktif dari suatu bahan alam dengan menggunakan
pelarut yang sesuai (Marjoni, 2016).
Jenis- jenis ekstraksi :
1. Ekstraksi secara Maserasi
Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi
dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari.
Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif
yang mudah larut dalam cairan penyari.
Modifikasi- modifikasi dalam metode maserasi :
a. Metode Digestasi
Yaitu maserasi yang dilakukandengan menggunakan pemanas
lemah, pada suhu 40-50⁰C terutama untuk sampel yang mengandung
komponen kimia yang tahan pemanasan.
b. Modifikasi dengan menggunakan mesin pengaduk
Penggunaan mesin pengaduk ditujukan untuk mempercepat
penyarian.
c. Remaserasi
Remaserasi adalah penyarian yang dilakukan setelah penyarian
pertama selesai, ampas diperas dan ditambahkan dari cairan penyari.
Penambahan pelarut ke dalam simplisia yang di ekstraksi, maserat (hasil
maserasi) pertama disaring, sisa simplisia (residu) di ekstraksi dengan
menambahkan pelarut yang baru dengan cara yang sama.
Keuntungan remaserasi adalah peralatan yang digunakan
sederhana dan tehnik pengerjaannya relatif mudah dilakukan.
Sedangkan kerugiannya memerlukan banyak waktu dalam
pengerjaannya.
d. Maserasi melingkar
Yaitu penyarian yang dilakukan dengan cara penyari yang selalu
bergerak dan menyebar sehingga kejenuhan cairan penyari dapat merata.
2. Ekstraksi dengan Perkolasi
Perkolasi adalah metode penyarian yang dilakukan dengan
menyalurkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi.
Cairan penyari ditambahkan secara kontinu hingga penyarian sempurna.
Perkolat yang diperoleh dikumpulkan kemudian dipekatkan.
3. Ekstraksi secara Refluks
Ekstraksi dengan metode ini digunakan untuk simplisia yang
mempunyai komponen kimia yang tahan terdapat pemanasan dan
mempunyai tekstur yang keras. Ekstraksi dilakukan selama 3-4 jam. Filtrat
yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan dengan alat rotavapor.
4. Ekstraksi dengan Soxhletasi
Cara ini pada dasarnya adalah ekstraksi berkesinambungan cairan
penyari dipanaskan hingga mendidih.
Alat soxhlet dibuat dari bahan gelas yang terbagi menjadi tiga bagian:
bagian tengah untuk menampung serbuk simplisia yang akan di ekstraksi
yang disebut klonsong yang dilengkapi dengan pipa pada bagian kiri dan
kanan. Satu untuk jalannya yang berkondensasi uap menjadi cairan penyari.
Sedangkan bagian bawah terdapat labu alas bulat yang berisi cairan penyari
dan ekstrak.
5. Ekstraksi secara Infus
Infudasi adalah penyarian yang umumnya digunakan untuk menyari
zat kandungan aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati. Penyarian
dengan cara ini menghasilkan sari yang tidak stabil dan mudah tercemar oleh
kuman dan kapang. Oleh sebab itu sari yang diperoleh dengan cara ini tidak
boleh disimpan lebih dari 24 jam.
6. Ekstraksi secara Destilasi
Ekstraksi destilasi uap air dipertimbangkan untuk menyari serbuk
simplisia yang mengandung komponen yang mempunyai titik didih tinggi
pada tekanan normal.
D. FRAKSINASI
Fraksinasi adalah suatu proses pemisahan senyawa-senyawa
berdasarkan tingkat kepolaran. Jumlah dan senyawa yang dapat dipisahkan
menjadi fraksi berbeda-beda tergantung pada jenis tumbuhan.
Fraksinasi atau pemisahan dilakukan dengan tehnik yang bermacam-
macam seperti kromatografi dan ekstraksi cair-cair. Terkadang digunakan
kombinasi keduanya. Seringkali dilakukan secara berulang-ulang agar di dapat
fraksi yang lebih banyak.
Pemisahan ini dilakukan berdasarkan sifat fisik-kimia umum dari
molekul seperti :
1. Kecenderungan molekul untuk melarut dalam cairan (kelarutan)
2. Kecenderungan molekul untuk melekat pada permukaan serbuk halus
(adsorbs/penyerapan)
3. Kecenderungan molekul untuk menguap atau berubah ke keadaan uap
(keatsirian)
E. FLAVONOID
Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok fenol terbesar yang
ditemukan dialam yang tersusun atas 15 buah atom karbon dengan 2 cicin
aromatik yang di hubungkan dengan sebuah jembatan 3 buah karbon,
sehingga membentuk susunan C6-C3-C6. Senyawa flavonoid merupakan zat
pemberi warna kuning, merah, biru dan ungu pada tanaman (Raharjo, 2013)
1. Pengertian Flavonoid
Flavonoid adalah suatu golongan metabolit sekunder yang
tersebar merata dalam dunia tumbuh-tumbuhan, termasuk salah satu
golongan fenol alam terbesar.
Flavonoid ditemukan pada hampir semua bagian tumbuhan
termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, nectar,bunga, buah dan biji.
Dengan adanya sejumlah gugus hidroksil maka flavonoid termasuk
senyawa polar sehingga flavonoid dapat larut dalam senyawa polar
seperti etanol, methanol, dimetilfuran dan lain-lain.
Untuk membuktikan adanya senyawa flavonoid dalam daun
jambu biji putih dapat dimulai dengan uji warna atau uji shinoda
(Markham, 1988) dimana larutan ekstrak dengan ditambahkan pereaksi
tertentu akan berubah warna menjadi jingga.
2. Klasifikasi Flavonoid
Flavonoid dapat di klasifikasikan ke dalam beberapa golongan
seperti (Raharjo, 2013) :
a. Flavon
b. Flavonol
c. Flavanol
d. Flavanon
e. Isoflavon
f. Antosianidin
Flavonoid yang terkandung dalam ekstrak Daun Jambu Biji Putih
(Psidium guajava Linn) adalah flavonoid golongan flavon (Egi Azikin
Maulana dkk, 2016).
3. Fungsi Flavonoid:
a. Flavonoid sering digunakan sebagai pigmen dan zat warna.
b. Sebagai antioksidan
c. Sebagai antibakteri, karena flavonoid sebagai derivate dari fenol
dapat menyebabkan rusaknya susunan dan perubahan permeabilitas
dari dinding sel bakteri
d. Terlibat dalam proses fotosintesis, transfer energy, aktivitas hormon
pertumbuhan tanaman dan pengendalian respirasi (Raharjo, 2013:
111-112)
G. HIPOTESA PENELITIAN
Hipotesa penelitian adalah jawaban sementara terhadap masalah yang
masih bersifat praduga karena masih harus di buktikan kebenarannya.
Hipotesa dari penelitian ini adalah:
H0 : Tidak ada Flavonoid pada Fraksi Etil Asetat Daun Jambu Biji Putih
(Psidium guajava Linn) yang di identifikasi secara Kromatografi Lapis
Tipis
H1 : Ada Flavonoid pada Fraksi Etil Asetat Daun Jambu Biji Putih (Psidium
guajava Linn) yang di identifikasi secara Kromatografi Lapis Tipis
H. Kerangka Konsep
Kerangka Konsep Penelitian adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang
akan diamati atau diukur melalui penelitian yang dilakukan ( Notoatmadja, 2010).
Penuaan Dini
Oksidasi
Kanker
Daun Pepaya
positi negati
f f
Maserat
Fase n-Heksan
Fase Etanol
Uji Identifikasi KLT Fase Gerak = n-Heksan : Etil Asetat : n-butanol (8:2:1)
Uji Penegasan Fase Diam = Silika Gel GF 254 nm Pembanding = Pustaka (Rf Daun Jambu
Biji Australia 0,68)
Keterangan :
Diteliti
METODE PENELITIAN
2. Sampel
Sampel adalah obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh
populasi (Notoatmodjo, 2010).
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun jambu biji putih
yang diperoleh dari desa Kedungwaru, kecamatan Kedungwaru,
Tulungagung.
Pembuatan Simplisia
Uji Pendahuluan
Serbuk Simplisia yang Sudah Halus
1. 1 gr ekstrak daun
jambu biji putih +
serbuk Mg + 2-4 Remaserasi Daun Jambu Biji Putih Dengan Etanol 70
HCL pekat, dikocok %
akan berubah warna
jingga Maserat Dipekatkan Hingga ½ - 1/3 Volume
2. 1 gr ekstrak daun
jambu biji putih + 3 Ekstrak
tetes HCL pekat,
dipanaskan selama 15
menit akan berubah Fraksinasi n-Heksan 3 x 30 ml
warna merah selama 15 menit
Fase Etanol
Fase n-Heksan
Dipekatkan
Etil Asetat 3 x 30 ml
Fraksinasi Selama 15 menit
Uji Penegasan
1.1 ml fraksi etil asetat Fraksi Etil Asetat
+ serbuk Mg + 2-4
tetes HCL pekat,
dikocok akan Dipekatkan
berubah warna jingga
2.1 ml fraksi etil asetat Uji Identifikasi dengan KLT
+3 tetes HCL pekat, Fase Gerak = n-Heksan : Etil Asetat : n-butanol (8:2:1)
dipanaskan akan Fase Diam = Silika Gel GF 254 nm
berubah warna merah Pembanding = Pustaka (Rf Daun Jambu Biji
Australia0,68 )
positi negati
f f
positi negati
f f
Analisa Data
Kesimpulan
Penyajian Data
Bagan 3.1
Kerangka Kerja Penelitian IdentifikasiSenyawa Flavonoid Fraksi Etil Asetat Daun
Jambu Biji Putih (Pesidium guajava Linn) dengan Metode KLT
G. Perhitungan Rendeman
Rendemen didapat dari berat ekstrak kental yang diperoleh dibagi
berat simplisia yang digunakan dikalikan 100%.
Keterangan :
Positif (+) = adanya warna
Negatif (-) = tidak ada warna
2. Uji Penegasan Flavonoid
a. 1ml fraksi etil asetat + serbuk Mg + 2-4 tetes HCl pekat, akan terjadi
warna jingga
b. 1ml fraksi etil asetat + 3 tetes HCl pekat lalu dipanaskan , akan
terjadi warna merah
Tabel 3.2 Uji Penegasan Flavonoid Daun Jambu Biji Putih
No Pereaksi Sampel Pembanding
1
2
Keterangan :
Positif (+) = adanya warna
Negatif (-) = tidak ada warna
3. Uji Kromatografi Lapis Tipis atau KLT
a. Penyiapan fase diam
Silika gel GF 254 dipotong dengan ukuran 10cm x 2,5cm dan diberi
garis 1,5cm dari bawah dan 0,5cm dari atas.
b. Penyiapan fase gerak
1. n-Heksan : etil asetat : n-butanol ( 8:2:1 )
2. masukkan fase gerak dalam bejana kemudian ditutup
c. Penjenuhan bejana
1. Masukkan kertas saring hingga ke dasar bejana, kemudian ditutup
2. Bejana dikatakan jenuh apabila kertas saring telah basah sampai
atas
d. Penyiapan sampel atau ekstrak daun jambu biji putih
Fraksi etil asetat diambil dengan pipa kapiler kemudian ditotolkan
e. Penotolan sampel
1. Ekstrak etil asetat ditotolkan pada lempeng menggunakan pipa
kapiler sekecil mungkin
2. Lempeng yang telah ditotol dimasukkan dalam bejana yang telah
dijenuhkan dengan eluen (n-Heksan, etil asetat, n-butanol) pada
posisi miring
3. Bejana ditutup dan lempeng dibiarkan terelusi sampai batas atas
4. Keluarkan lempeng dari bejana, kemudian di angin-anginkan
hingga kering
5. Amati penampakan noda dengan sinar uv 254 nm dan di tandai
(dilingkari)
6. Hitung nilai Rf
f. Perhitungan nilai Rf
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1979. Materia Medika Indonesia Jilid III. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.
Anonim, 1995. Materia Medika Indonesia Jilid VI. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.
Anonim, 2011. Acuan Sediaan Herbal volume 6 edisi 1. Badan Pengawas Obat dan
Makanan. Jakarta.
Anonim, 2018. Determinasi Tanaman Jambu Biji. UPT Materia Medica Batu. Batu.
Markham, K.R, 1988. Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Penerbit ITB. Bandung.
Hariana, H. Arief, 2008. Tumbuhan Obat Dan Khasiatnya seri 2. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Maulana, Egi A dkk, 2016. Isolasi Dan Uji Aktivitas Antioksidan Senyawa
Flavonoid Dari Ekstrak Daun Jambu Biji Putih ( Psidium guajava Linn).
Universitas Udayana. Bali.
Mengetahui,
Koordinator
Proposal dan Karya Tulis Ilmiah
Mengetahui,
Koordinator
Proposal dan Karya Tulis Ilmiah
2 2.
3 3.
4 4.
Mengetahui,
Koordinator
Proposal dan Karya Tulis Ilmiah