0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
308 tayangan40 halaman

Flavonoid Daun Jambu Biji: Analisis KLT

Dokumen tersebut merupakan proposal karya tulis ilmiah yang membahas identifikasi senyawa flavonoid pada fraksi etil asetat daun jambu biji putih menggunakan kromatografi lapis tipis. Proposal ini disusun oleh Eri Puspita sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Diploma III Farmasi di Akademi Kesehatan Arga Husada.

Diunggah oleh

febyawp
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
308 tayangan40 halaman

Flavonoid Daun Jambu Biji: Analisis KLT

Dokumen tersebut merupakan proposal karya tulis ilmiah yang membahas identifikasi senyawa flavonoid pada fraksi etil asetat daun jambu biji putih menggunakan kromatografi lapis tipis. Proposal ini disusun oleh Eri Puspita sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Diploma III Farmasi di Akademi Kesehatan Arga Husada.

Diunggah oleh

febyawp
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

IDENTIFIKASI SENYAWA

FLAVONOID PADA FRAKSI ETIL ASETAT


DAUN JAMBU BIJI PUTIH ( Psidium guajava Linn )
SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

PROPOSAL
KARYA TULIS ILMIAH

Oleh :

ERI PUSPITA
NIM. 01.16.019

AKADEMI KESEHATAN ARGA HUSADA


PROGRAM STUDI DIPLOMA III FARMASI
PARE
2019
IDENTIFIKASI SENYAWA
FLAVONOID PADA FRAKSI ETIL ASETAT
DAUN JAMBU BIJI PUTIH ( Psidium guajava Linn )
SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

“Karya Tulis Ilmiah Ini Disusun Sebagai Salah Satu Syarat


Menyelesaikan Pendidikan Diploma III Farmasi Akademi
Kesehatan Arga Husada”

Oleh :

ERI PUSPITA
NIM. 01.16.019

AKADEMI KESEHATAN ARGA HUSADA


PROGRAM STUDI DIPLOMA III FARMASI
PARE
2019
LEMBAR PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah oleh : ERI PUSPITA


Judul : IDENTIFIKASI SENYAWA FLAVONOID PADA
FRAKSI ETIL ASETAT DAUN JAMBU BIJI
PUTIH (Psidium guajava Linn) SECARA
KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

Disetujui untuk diujikan di hadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah pada tanggal

Oleh :

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Ari Kristijono, M.Farm, Apt Anang Priyadi, S.Si, Apt

Mengetahui
Akademi Kesehatan Arga Husada

Anang Priyadi, S.Si, Apt


Kepala Program Studi Diploma III Farmasi
LEMBAR PENGESAHAN

Telah di Uji dan di setujui Tim Penguji pada Ujian di Program Diploma III Farmasi
Akademi Kesehatan Arga Husada Pare

Tanggal : 2 Pebruari 2019

Tim Penguji Tanda Tangan


Penguji I : Drs. Ary Kristijono, M.Farm, Apt …………………….

Penguji II : Anang Priyadi, S.Si, apt …………………….

Penguji III : Rony Setianto, S.Si., S.E, Apt …………………….

Mengetahui
Akademi Kesehatan Arga Husada
Direktur

Dra. Pudji Lestari, Apt


SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : ERI PUSPITA
NIM : 01.16.019
Tempat, tanggal lahir : PASURUAN, 30 JANUARI 1980
Institusi :

Menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang berjudul : “IDENTIFIKASI


SENYAWA FLAVONOID PADA FRAKSI ETIL ASETAT DAUN JAMBU BIJI
PUTIH (Psidium guajava Linn) SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS” adalah
bukan karya tulis ilmiah orang lain baik sebagian maupun keseluruhan, kecuali
dalam bentuk kutipan yang telah disebutkan.

Demikian surat pernyataan ini kami buat dengan sebenar-benarnya dan apabila
pernyataan ini tidak benar, kami bersedia mendapatkan sanksi.

Pare,
Yang menyatakan,

ERI PUSPITA

Mengetahui

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Ari Kristijono, M.Farm, Apt Anang Priyadi, S.Si, Apt


KATA PENGANTAR
Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas limpahan rahmat
dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan
judul “Identifikasi Senyawa Flavonoid Pada Fraksi Etil Asetat Daun Jambu Biji
Putih (Psidium guajava Linn) Secara Kromatografi Lapis Tipis. Karya tulis ini
disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Diploma III Farmasi di
Akademi Kesehatan Arga Husada Pare Kediri.
Dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis banyak mendapatkan
bimbingan, arahan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penulis
menyampaikan banyak terimakasih yang tulus dan sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu dr. Endang Herowatiningsih, MARS, selaku Ketua Yayasan Arga Husada
Pare Kediri.
2. Bapak Drs. Ari Kristijono, M.Farm, Apt selaku Dosen Pembimbing I yang
telah banyak meluangkan waktu dan pikiran serta memberikan banyak
masukan, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini
dengan baik dan tepat waktu.
3. Bapak Anang Priyadi, S.Si, Apt selaku Dosen Pembimbing II yang telah
banyak meluangkan waktu dan pikiran serta memberikan banyak masukan,
sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan baik
dan tepat waktu.
4. Bapak Rony Setianto, S.Si, S.E, Apt selaku Dosen Penguji yang telah banyak
meluangkan waktu dan pikiran serta memberikan banyak masukan, sehingga
penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan baik dan tepat
waktu.
5. Semua dosen, staf dan karyawan Akademi Kesehatan Arga Husada yang
telah membantu selama menjalani perkuliahan dan pembuatan Karya Tulis
Ilmiah ini.
6. Eko Yuliono suamiku tercinta, Raza Atalla Yuliono dan Farel Akhdan
Yuliono kedua buah hatiku, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya
Tulis ini.
7. Semua teman-teman satu angkatan Program Diploma III Akademi Kesehatan
Arga Husada Pare Kediri.
8. Semua pihak yang telah mendukung penulis dalam penyusunan Karya Tulis
Ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih
jauh dari sempurna. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca
sangat penulis harapkan demi perbaikan Karya Tulis Ilmiah ini di kemudian hari.
Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat memberikan manfaat, khususnya bagi penulis
dan umumnya bagi pembaca.
Pare, 15 Desember 2018
Penulis,

ERI PUSPITA
NIM 01.16.019
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL…………………………………………………... i
LEMBAR PERSETUJUAN…………………………………………… ii
LEMBAR PENGESAHAN……………………………………………. iii
SURAT PERNYATAAN……………………………………………… iv
KATA PENGANTAR…………………………………………………. v
DAFTAR ISI…………………………………………………………... vii
DAFTAR TABEL……………………………………………………... ix
DAFTAR GAMBAR………………………………………………….. x
DAFTAR BAGAN……………………………………………………. xi

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………………………………... 1
B. Rumusan Masalah…………………………………….. 2
C. Tujuan Penelitian……………………………………... 3
D. Manfaat Penelitian……………………………………. 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian Daun Jambu Biji………………………….. 4
1. Klasifikasi Jambu Biji……………………………. 4
2. Morfologi Tanaman………………………………. 5
3. Identitas Tanaman………………………………… 5
B. Simplisia……………………………………………… 6
1. Pengertian Simplisia……………………………… 6
2. Macam-macam Simplisia………………………… 6
3. Cara Pembuatan Simplisia………………………... 7
4. Pengeringan Simplisia…………………………..... 8
5. Pengujian Simplisia………………………………. 9
C. Ekstraksi………………………………………………. 10
D. Fraksinasi……………………………………………… 12
E. Flavonoid……………………………………………… 12
1. Pengertian Flavonoid……………………………… 13
2. Klasifikasi Flavonoid…………………………....... 13
3. Fungsi Flavonoid………………………………….. 13
4. Reaksi Pendahuluan untuk Flavonoid…………….. 14
F. Kromatografi Lapis Tipis……………………………… 14
1. Pengertian Kromatografi Lapis Tipis……………... 14
2. Prinsip Kerja Kromatografi Lapis Tipis…………... 15
3. Fase Dalam Kromatografi Lapis Tipis……………. 15
4. Penotolan …………………………………………. 16
5. Warna Noda ………………………………………. 16
6. Harga Rf………………………………………........ 16
G. Hipotesa Penelitian……………………………………. 17
H. Kerangka Konsep……………………………………… 18

BAB III METODE PENELITIAN


A. Rancangan Penelitian…………………………………... 19
B. Waktu dan Tempat Penelitian………………………….. 19
C. Populasi dan Sampel……………………………………. 19
D. Kriteria Inklusi dan Eksklusi…………………………… 20
1. Kriteria Inklusi……………………………………… 20
2. Kriteria Eksklusi……………………………………. 20
E. Kerangka Kerja…………………………………………. 21
F. Prosedur Kerja dan Analisis……………………………. 22
G. Perhitungan Rendeman…………………………………. 23
H. Cara Kerja Fraksinasi…………………………………… 23
I. Analisis Data……………………………………………. 24
1.Uji Pendahuluan Flavonoid……………………………
24
2. Uji Penegasan Flavonoid…………………………….. 24
3. Uji Kromatografi Lapis Tipis………………………… 24

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………….26
LEMBAR KONSULTASI
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 3.1 Uji Pendahuluan Flavonoid Daun Jambu Biji Putih……….. 24

Tabel 3.2 Uji Penegasan Flavonoid Daun Jambu Biji Putih………….. 24

Tabel 3.3 Uji Kromatografi Lapis Tipis………………………………… 25


DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Tanaman Jambu Biji Putih ……………………….. 4
DAFTAR BAGAN

Halaman
Bagan 2.1 Kerangka Konsep Identifikasi Kadar Flavonoid pada Daun
Jambu Biji putih …………………………………………… 18

Bagan 3.1 Kerangka Penelitian Identifikasi Flavonoid pada Daun


Jambu Biji Putih secara Kromatografi Lapis Tipis ……….. 21
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia mempunyai bermacam-macam jenis tumbuhan yang bisa
digunakan sebagai tanaman obat tradisional atau biasa di sebut tanaman herbal.
Adapun tanaman obat tersebut antara lain daun kumis kucing untuk diuretik atau
melancarkan kencing, daun meniran untuk meredakan batuk, daun jambu biji
untuk mengobati diare, daun kelor untuk meningkatkan ketahanan alamiah
tubuh, buah mengkudu untuk menurunkan tekanan darah tinggi dan masih
banyak yang lainnya (Hariana, 2013)
Jambu biji ada bermacam-macam, misalnya jambu kristal, jambu sukun,
jambu Bangkok, jambu lokal dan jambu australia. Jambu biji putih termasuk
jambu biji lokal. Jambu biji putih dipilih karena dari segi manfaat mempunyai
banyak khasiat. Bagian yang digunakan adalah daunnya. Daun yang dipilih
adalah daun yang belum terlalu tua dan masih segar serta tidak terkena hama.
Jambu biji putih (Psidium guajava, L) adalah tanaman tropis yang berasal dari
Brasil yang disebarkan ke Indonesia melalui Thailand. Jambu biji putih
(Psidium guajava,L) mempunyai beberapa nama daerah, misal jambu batu
(Sunda), jambu klutuk (Jawa), giawas (Papua), jambu bender (Madura) (BPOM
RI, 2011)
Tanaman jambu biji putih (Psidium guajava,L) mempunyai kandungan
metabolit sekunder saponin, tannin, steroid, flavonoid, alkaloid dan triterpenoid
(Egi Azikin dkk, 2016). Flavonoid terdapat dalam semua tumbuhan hijau dan
merupakan metabolit sekunder yang termasuk golongan fenol alam terbesar.
Flavonoid memiliki banyak khasiat dan aktivitas biologik antara lain sebagai
antioksidan, anti kanker, anti inflamasi dan lain-lain. Senyawa flavonoid yang
terkandung dalam daun jambu biji putih (Psidium guajava Linn) adalah
guaijavarin, kuersentin, isokuersentin,guajavarin dan asam guajavolat (Menkes
RI, 2016). Ekstrak air daun jambu biji putih menunjukkan adanya efek antidiare
dengan mengurangi efek peristaltik.
Untuk melakukan penelitian ini, kami menggunakan simplisia daun jambu
biji putih ( Psidium guajava Linn ) yang diperoleh dari desa Kedungwaru,
kecamatan Kedungwaru, Tulungagung. Tanaman tumbuh dengan subur dengan
tinggi pohon mencapai sekitar 3-5 meter. Wilayah kabupaten Tulungagung
menunjukkan adanya dataran rendah, perbukitan bergelombang serta daerah
lereng gunung. Desa Kedungwaru masuk dalam dataran rendah yang subur
dimana dataran ini dilalui oleh sungai Brantas dan sungai Ngrowo beserta
cabang-cabangnya. Kabupaten Tulungagung terletak pada ketinggian 100m-
1000m diatas permukaan laut atau dpl. Hal ini sesuai dengan tempat tumbuh
tanaman jambu biji putih yaitu pada ketinggian1200m dpl.
Preparasi sampel di mulai dari daun jambu biji putih (Psidium guajava
Linn) yang diperoleh dibuat serbuk simplisia dan dilakukan penyarian. Metode
yang di pilih ialah maserasi yang telah di modifikasi yaitu remaserasi karena
dengan remaserasi akan didapat kadar metabolit yang lebih tinggi atau rendemen
yang lebih banyak. . Selanjutnya dilakukan isolasi flavonoid dengan cara
fraksinasi dengan pelarut n-Heksan dan etil asetat yang bertujuan untuk
memisahkan senyawa-senyawa yang terkandung dalam daun jambu biji putih.
Untuk membuktikan adanya flavonoid dalam daun jambu biji putih (Psidium
guajava Linn) di lakukan uji pendahuluan dengan uji warna atau Uji
Shinoda(Markham, 1988).Dilanjutkan dengan uji penegasan dan uji
kromatografi lapis tipis.
Identifikasi senyawa flavonoid akan dilakukan dengan menggunakan
metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Kromatografi Lapis Tipis adalah
suatu metode pemisahan komponen menggunakan fase diam berupa plat dengan
lapisan bahan adsorben inert. Metode Kromatografi Lapis Tipis di pilih karena
merupakan metode yang tepat dan sistematis, selain itu ketepatan penentuan
kadar akan lebih baik karena komponen yang akan ditentukan merupakan bercak
yang tidak bergerak.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang disebut diatas, rumusan permasalahan yang
akan dijawab melalui penelitian ini adalah ” Apakah terdapat senyawa
Flavonoid dalam Fraksi Etil Asetat Daun Jambu Biji Putih (Psidium guajava
Linn) dengan metode Kromatografi Lapis Tipis “.

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya kandungan senyawa
flavonoid Fraksi Etil Asetat pada Daun Jambu Biji Putih(Psidium guajava
Linn) dengan metode Kromatografi Lapis Tipis.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti
Dapat menambah pengetahuan peneliti tentang tumbuhan jambu biji
putih dan kandungan kimia didalamnya.

2. Bagi Akademi
Hasil penelitian dapat di jadikan rujukan bagi upaya pengembangan
penelitian selanjutnya serta berguna menjadi referensi mahasiswa yang ingin
melakukan kajian tentang tanaman tersebut.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Daun Jambu Biji

Gambar 2.1 Tanaman Jambu Biji Putih

Jambu biji putih(Psidium guajava Linn) merupakan tanaman tropis dan


sangat mudah di jumpai dimana saja. Daun jambu biji puth(Psidium guajava
Linn) yang hijau dan segar mempunyai banyak khasiat untuk pengobatan
tradisional. Daun jambu biji putih(Psidium guajava Linn) muda mempunyai rasa
yang sepet atau pahit dan bias digunakan untuk pengobatan diare.
1. Klasifikasi Jambu Biji (UPT Materia Medika Batu)
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berbuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Dicotyledonae (berkeping 2/ dikotil)
Subkelas : Rosidae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae (suku jambu-jambuan)
Genus : Psidium
Species : Psidium guajava L

2. Morfologi Tanaman
Tanaman jambu biji termasuk ke dalam jenis tanaman perdu atau pohon
kecil dengan tinggi kira-kira 2- 10 m, mempunyai cabang yang banyak.
Batangnya berkayu dan keras, kulit batang licin, mengelupas, berwarna coklat
kehijauan. Habitat atau tempat tumbuh tanaman jambu biji putih di Jawa
umumnya terdapat pada ketinggian pada 1200meter diatas permukaan laut dan
sering tumbuh liar pada tanah yang gembur maupun liat, banyak air dan tempat
terbuka (BPOM RI, 2011)

Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan. Daun yang muda


berambut halus dan permukaan atas daun tua licin. Tanaman ini sangat adaptif
dan mampu tumbuh tanpa perawatan. Daun jambu biji putih(Psidium guajava
Linn) termasuk daun tidak lengkap, karena hanya terdiri dari tangkai dan helaian
saja yang disebut daun bertangkai. Bagian terlebar daun jambu biji putih(Psidium
guajava Linn) terletak di tengah-tengah dan memiliki bagian jorong. Daun jambu
biji putih(Psidium guajava Linn) mempunyai tulang daun yang menyirip. Ujung
daun jambu biji putih(Psidium guajava Linn) tumpul dan biasanya warna daun
bagian atas tampak lebih hijau di bandingkan dengan sisi bagian bawah daun.
3. Identitas Tanaman
1. Nama daerah : jambu batu (Sunda), jambu klutuk (Jawa), giawas (Papua),
jambu bender (Madura) (BPOM RI, 2011)
2. Nama simplisia : Psidii Folium / Daun Jambu Biji Putih.
3. Bagian yang di gunakan : Daun jambu biji putih.
4. Kandungan senyawa : flavonoid, saponin, tannin, steroid, alkaloid dan
triterpenoid (Maulana E A dkk, 2016)
5. Kegunaan : mengobati diare dan disentri, mengobati luka memar, sebagai
deodorant alami, mengobati sariawan, mengusir kembung .

B. SIMPLISIA
1. Pengertian Simplisia
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan
yang telah di keringkan (Depkes RI, 1985 : 1).
Syarat-syarat simplisia yang baik :
a. Simplisia harus bebas dari serangga atau kotoran hewan dan mikroba
patogen lainnya.
b. Simplisia tidak boleh mengandung lender dari cendawan atau menunjukkan
tanda-tanda pengotoran yang lain.
c. Bau dan warna simplisia tidak boleh menyimpang dari tanaman sebenarnya.
d. Simplisia tidak boleh mengandung bahan beracun dan berbahaya.
e. Simplisia disimpan dalam wadah yang kering dan tertutup rapat serta
terhindar dari paparan sinar matahari langsung.
2. Macam-macam Simplisia (Depkes RI, 1995)
Simplisia dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian
tumbuhan atau eksudat. Eksudat tumbuhan ialah isi sel yang secara spontan
keluar dan tumbuhan atau isi sel yang dengan cara tertentu di keluarkan dari
selnya atau senyawa nabati lainnya yang dengan cara tertentu di pisahkan dari
tumbuhannya dan belum berupa senyawa kimia murni.
2. Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh, bagian
hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa
bahan kimia murni, misalnya minyak ikan dan madu .
3. Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau
mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum
berupa bahan kimia murni, contoh : serbuk seng dan serbuk tembaga.

3. Cara Pembuatan Simplisia


Simplisia yang bermutu baik dan berkualitas, tentunya di buat dengan
menggunakan cara pembuatan yang baik dan benar pula. Proses pembuatan
simplisia harus melalui beberapa tahapan agar di dapat hasil simplisia yang baik
(Agoes, 2007:12-14)
Tahapan dalam membuat simplisia :
1. Pengumpulan bahan baku
Kadar bahan aktif dalam simplisia bergantung pada:
a. Bagian tanaman yang digunakan
b. Usia tanaman atau bagian tanaman saat panen
c. Waktu panen
d. Lingkungan tumbuh
2. Sortasi basah
Sortasi basah ini dilakukan langsung setelah proses pemanenan. Tujuan
sortasi basah ini untuk memisahkan bahan organik asing yang terbawa saat
pemanenan seperti tanah, pasir, batu dan lain-lain yang dapat mengganggu
pada proses selanjutnya.
Walaupun namanya sortasi basah tapi proses ini tidak menggunakan air
untuk mengerjakannya.
3. Pencucian
Proses ini dilakukan menggunakan air bersih yang mengalir agar air yang
membersihkan tanaman yang akan di buat simplisia selalu bersih serta dapat
membersihkan sisa-sisa bahan organik asing yang masih menempel pada saat
sortasi basah.
4. Perajangan
Tujuan dari proses ini ialah untuk memperluas permukaan bagian tanaman
yang digunakan agar pada saat proses pengeringan dapat mengering secara
merata dan dengan waktu yang cepat.
5. Pengeringan
Pengeringan dapat dilakukan dengan 3 cara, tergantung dari sifat kandungan
kimia yang spesifik dimiliki oleh tanaman yang akan dibuat simplisia :
a. Secara modern : menggunakan oven dengan suhu 40 – 50’C .
b. Cara tradisional : menggunakan pemanasan di bawah sinar matahari
langsung.
c. Dapat dilakukan dengan proses mengangin-anginkan.
6. Sortasi kering
Bertujuan untuk memisahkan bahan organik asing yang kemungkinan timbul
pada proses pemanasan atau pengeringan, misalnya apabila ada yang gosong
atau pengeringan tidak merata.
7. Penggilingan
Apabila simplisia yang digunakan akan di buat serbuk maka diperlukan
proses penggilingan agar mempermudah saat proses ekstraksi apabila akan
melakukan pengujian lanjutan.
8. Pengayakan
Bertujuan memisahkan simplisia yang telah digiling apabila ada ukuran yang
belum rata. Biasanya untuk simplisia menggunakan ayakan mesh 20.
9. Pengemasan
Simplisia di simpan dalam wadah yang higroskopik kedap udara dan terbuat
dari kaca, agar simplisia yang ada di dalamnya tidak cepat mengalami
pembusukan atau di tumbuhi mikroba.

4. Pengeringan Simplisia
Tujuan pengeringan simplisia ialah untuk mengurangi kadar air, menjamin
dalam penyimpanan, mencegah pertumbuhan jamur, serta mencegah proses atau
reaksi enzimatika yang dapat menurunkan mutu.
Hal-hal yang diperhatikan selama proses pengeringan adalah suhu
pengeringan, kelembaban udara aliran udara, waktu pengeringan dan luas
permukaan bahan.
Pada dasarnya di kenal 2 cara pengeringan simplisia, yaitu:
1. Pengeringan alamiah
Tergantung dari senyawa aktif yang dikandung dalam bagian tanaman yang
di keringkan, dapat dilakukan 2 cara pengeringan:
a. Dengan panas sinar matahari langsung
Cara ini dilakukan untuk mengeringkan bagian tanaman yang relative
keras seperti kayu, kulit kayu, biji dan sebagainya dan mengandung
senyawa aktif yang relatif stabil.
b. Dengan diangin-anginkan dan tidak dipanaskan dengan sinar matahari
langsung.
Cara ini terutama digunakan untuk mengeringkan bagian tanaman yang
lunak seperti bunga, daun dan sebagainya dan mengandung senyawa
aktif mudah menguap.
2. Pengeringan buatan
Prinsip pengeringan buatan ialah udara dipanaskan oleh suatu sumber panas
seperti lampu, kompor, mesin diesel atau listrik, udara dialirkan dengan kipas
ke dalam ruangan atau lemari yang berisi bahan yang akan dikeringkan yang
telah disebarkan diatas rak-rak pengering.
5. Pengujian Simplisia
Untuk mengetahui kebenaran dan mutu obat tradisional termasuk
simplisia, maka dilakukan analisis yang meliputi analisis kuantitatif dan
kualitatif. Analisis kuantitatif terdiri atas pengujian organoleptis, pengujian
makroskopik, pengujian mikroskopik dan pengujian histokimia (Depkes RI,
1995: XI-XII)
1. Uji Organoleptis
Uji ini dilakukan untuk mengetahui kebenaran simplisia menggunakan panca
indra dengan mendiskripsikan bentuk, warna, bau dan rasa.
2. Uji Makroskopik
Dilakukan dengan menggunakan kaca pembesar atau tanpa menggunakan
alat. Cara ini dilakukan untuk mencari khususnya morfologi, ukuran dan
warna simplisia yang diuji.
3. Uji Mikroskopik
Uji mikroskopik dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang derajat
pembesarannya disesuaikan dengan keperluan. Simplisia yang diuji dapat
berupa sayatan melintang, radial, paradermal maupun membujur atau berupa
serbuk. Pada uji mikroskopik dicari unsure-unsur anatomi jaringan yang khas.

4. Uji Histokimia
Uji histokimia bertujuan untuk mengetahui berbagai macam zat kandungan
yang terdapat dalam jaringan tanaman. Dengan pereaksi spesifik zat-zat
kandungan tersebut akan memberikan warna yang spesifik pula sehingga
mudah di deteksi.
C. EKSTRAKSI
Ekstraksi adalah proses untuk memperoleh sediaan yang
mengandung senyawa aktif dari suatu bahan alam dengan menggunakan
pelarut yang sesuai (Marjoni, 2016).
Jenis- jenis ekstraksi :
1. Ekstraksi secara Maserasi
Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi
dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari.
Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif
yang mudah larut dalam cairan penyari.
Modifikasi- modifikasi dalam metode maserasi :
a. Metode Digestasi
Yaitu maserasi yang dilakukandengan menggunakan pemanas
lemah, pada suhu 40-50⁰C terutama untuk sampel yang mengandung
komponen kimia yang tahan pemanasan.
b. Modifikasi dengan menggunakan mesin pengaduk
Penggunaan mesin pengaduk ditujukan untuk mempercepat
penyarian.
c. Remaserasi
Remaserasi adalah penyarian yang dilakukan setelah penyarian
pertama selesai, ampas diperas dan ditambahkan dari cairan penyari.
Penambahan pelarut ke dalam simplisia yang di ekstraksi, maserat (hasil
maserasi) pertama disaring, sisa simplisia (residu) di ekstraksi dengan
menambahkan pelarut yang baru dengan cara yang sama.
Keuntungan remaserasi adalah peralatan yang digunakan
sederhana dan tehnik pengerjaannya relatif mudah dilakukan.
Sedangkan kerugiannya memerlukan banyak waktu dalam
pengerjaannya.

d. Maserasi melingkar
Yaitu penyarian yang dilakukan dengan cara penyari yang selalu
bergerak dan menyebar sehingga kejenuhan cairan penyari dapat merata.
2. Ekstraksi dengan Perkolasi
Perkolasi adalah metode penyarian yang dilakukan dengan
menyalurkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi.
Cairan penyari ditambahkan secara kontinu hingga penyarian sempurna.
Perkolat yang diperoleh dikumpulkan kemudian dipekatkan.
3. Ekstraksi secara Refluks
Ekstraksi dengan metode ini digunakan untuk simplisia yang
mempunyai komponen kimia yang tahan terdapat pemanasan dan
mempunyai tekstur yang keras. Ekstraksi dilakukan selama 3-4 jam. Filtrat
yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan dengan alat rotavapor.
4. Ekstraksi dengan Soxhletasi
Cara ini pada dasarnya adalah ekstraksi berkesinambungan cairan
penyari dipanaskan hingga mendidih.
Alat soxhlet dibuat dari bahan gelas yang terbagi menjadi tiga bagian:
bagian tengah untuk menampung serbuk simplisia yang akan di ekstraksi
yang disebut klonsong yang dilengkapi dengan pipa pada bagian kiri dan
kanan. Satu untuk jalannya yang berkondensasi uap menjadi cairan penyari.
Sedangkan bagian bawah terdapat labu alas bulat yang berisi cairan penyari
dan ekstrak.
5. Ekstraksi secara Infus
Infudasi adalah penyarian yang umumnya digunakan untuk menyari
zat kandungan aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati. Penyarian
dengan cara ini menghasilkan sari yang tidak stabil dan mudah tercemar oleh
kuman dan kapang. Oleh sebab itu sari yang diperoleh dengan cara ini tidak
boleh disimpan lebih dari 24 jam.
6. Ekstraksi secara Destilasi
Ekstraksi destilasi uap air dipertimbangkan untuk menyari serbuk
simplisia yang mengandung komponen yang mempunyai titik didih tinggi
pada tekanan normal.
D. FRAKSINASI
Fraksinasi adalah suatu proses pemisahan senyawa-senyawa
berdasarkan tingkat kepolaran. Jumlah dan senyawa yang dapat dipisahkan
menjadi fraksi berbeda-beda tergantung pada jenis tumbuhan.
Fraksinasi atau pemisahan dilakukan dengan tehnik yang bermacam-
macam seperti kromatografi dan ekstraksi cair-cair. Terkadang digunakan
kombinasi keduanya. Seringkali dilakukan secara berulang-ulang agar di dapat
fraksi yang lebih banyak.
Pemisahan ini dilakukan berdasarkan sifat fisik-kimia umum dari
molekul seperti :
1. Kecenderungan molekul untuk melarut dalam cairan (kelarutan)
2. Kecenderungan molekul untuk melekat pada permukaan serbuk halus
(adsorbs/penyerapan)
3. Kecenderungan molekul untuk menguap atau berubah ke keadaan uap
(keatsirian)

E. FLAVONOID
Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok fenol terbesar yang
ditemukan dialam yang tersusun atas 15 buah atom karbon dengan 2 cicin
aromatik yang di hubungkan dengan sebuah jembatan 3 buah karbon,
sehingga membentuk susunan C6-C3-C6. Senyawa flavonoid merupakan zat
pemberi warna kuning, merah, biru dan ungu pada tanaman (Raharjo, 2013)
1. Pengertian Flavonoid
Flavonoid adalah suatu golongan metabolit sekunder yang
tersebar merata dalam dunia tumbuh-tumbuhan, termasuk salah satu
golongan fenol alam terbesar.
Flavonoid ditemukan pada hampir semua bagian tumbuhan
termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, nectar,bunga, buah dan biji.
Dengan adanya sejumlah gugus hidroksil maka flavonoid termasuk
senyawa polar sehingga flavonoid dapat larut dalam senyawa polar
seperti etanol, methanol, dimetilfuran dan lain-lain.
Untuk membuktikan adanya senyawa flavonoid dalam daun
jambu biji putih dapat dimulai dengan uji warna atau uji shinoda
(Markham, 1988) dimana larutan ekstrak dengan ditambahkan pereaksi
tertentu akan berubah warna menjadi jingga.

2. Klasifikasi Flavonoid
Flavonoid dapat di klasifikasikan ke dalam beberapa golongan
seperti (Raharjo, 2013) :
a. Flavon
b. Flavonol
c. Flavanol
d. Flavanon
e. Isoflavon
f. Antosianidin
Flavonoid yang terkandung dalam ekstrak Daun Jambu Biji Putih
(Psidium guajava Linn) adalah flavonoid golongan flavon (Egi Azikin
Maulana dkk, 2016).
3. Fungsi Flavonoid:
a. Flavonoid sering digunakan sebagai pigmen dan zat warna.
b. Sebagai antioksidan
c. Sebagai antibakteri, karena flavonoid sebagai derivate dari fenol
dapat menyebabkan rusaknya susunan dan perubahan permeabilitas
dari dinding sel bakteri
d. Terlibat dalam proses fotosintesis, transfer energy, aktivitas hormon
pertumbuhan tanaman dan pengendalian respirasi (Raharjo, 2013:
111-112)

4. Reaksi Pendahuluan untuk Flavonoid (Depkes, 1979: 171)


a. 1gr ekstrak + serbuk magnesium + 3 tetes HCl pekat, lalu dikocok,
akan terbentuk warna jingga menunjukkan adanya flavonoid.
b. 1gr ekstrak + 3 tetes HCl pekat, dipanaskan selama 15 menit, akan
terbentuk warna merah menunjukkan adanya flavonoid.
Uji Shinoda (Markham, 1988)
Ekstrak + 1-2 tetes etanol + serbuk magnesium + 1tetes HCl 5M, periksa
dengan latar belakang putih warna akan menjadi merah lembayung.
F. KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
Kromatografi adalah suatu tehnik pemisahan molekul berdasarkan
perbedaan pola pergerakan antara fase gerak dan fase diam untuk memisahkan
komponen (berupa molekul) yang berada pada larutan. Molekul yang terlarut
dalam fase gerak, akan melewati kolom yang merupakan fase diam .
Berdasarkan tehnik pemisahan, Kromatografi Lapis Tipis merupakan salah satu
tehnik Kromatografi.
1. Pengertian Kromatografi Lapis Tipis
Kromatografi Lapis Tipis merupakan salah satu analisis kualitas dari
suatu sampel yang ingin dideteksi dengan memisahkan komponen-
komponen sampel berdasarkan perbedaan kepolaran. Kromatografi Lapis
Tipis menggunakan fase gerak berupa eluen, serta fase diam berupa plat
dengan lapisan adsorben yang tidak mudah bereaksi, misalnya silica gel,
aluminium oksida atau selulosa. Kromatografi lapis tipis digunakan pada
pemisahan zat secara cepat, dengan menggunakan zat penyerap berupa
serbuk halus yang dilapiskan serba rata pada lempeng kaca (Depkes RI,
1995: 313).
Beberapa keunggulan dari KLT :
- Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi
warna, fluoresensi atau dengan radiasi menggunakan sinar ultraviolet.
- Dapat untuk memisahkan senyawa hidrofobik (lipid dan hidrokarbon)
yang tidak bisa dengan metode kromatografi kertas.
- KLT banyak digunakan untuk tujuan analisis.
- Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang akan
ditentukan merupakan bercak tak bergerak.
- Hanya membutuhkan sedikit pelarut.
- Waktu analisis tidak lama.
- Biaya yang dibutuhkan ringan.
- Preparasi sampel yang mudah.
- Kebutuhan ruangan minim.

2. Prinsip Kerja Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


Prinsip dari KLT adalah memisahkan sampel berdasarkan perbedaan
kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Tehnik ini biasanya
menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya
disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan. Larutan atau
campuran larutan yang digunakan dinamakan eluen. Komponen yang
tertahan pada fase diam akan tertinggal, sedangkan komponen yang mudah
larut dalam fase gerak akan bergerak lebih dulu (Marjoni, 2016)
Biasanya KLT dilakukan dengan cara pengembangan naik di dalam
suatu bejana yang dindingnya dilapisi kertas saring sehingga atmosfer di
dalam bejana jenuh dengan fase pelarut (Harborne, 1983: 14).
3. Fase dalam Kromatografi Lapis Tipis
- Fase Diam (adsorben atau lapisan penyerap)
Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penyerap berukuran
kecil dengan diameter partikel antara 10 – 30 µm. Semakin kecil ukuran
rata-rata partikel fase diam dan semakin sempit kisaran ukuran fase diam,
maka semakin baik kinerja KLT dalam hal efisiensi dan resolusinya.
Fase diam yang biasa digunakan yaitu silika gel, alumina, magnesium
trisilikat, kalsium sulfat, kieselghur (tanah diatome) dan selulosa.
- Fase Gerak
Fase gerak pada KLT dapat dipilih dari pustaka, tetapi lebih sering
dengan mencoba-coba karena waktu yang diperlukan hanya sebentar.
Sistem yang paling sederhana ialah campuran dua pelarut organik, karena
daya elusi campuran kedua pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian
rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal .
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam memilih dan mengoptimasi fase
gerak :
1. Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi karena
KLT merupakan tehnik yang sensitif.
2. Untuk memaksimalkan pemisahan, daya elusi fase gerak harus diatur
sehingga harga Rf terletak antara 0,2 – 0,8.
3. Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti silika
gel, polaritas fase gerak akan menentukan nilai Rf.
4. Penotolan
Pemisahan kromatografi lapis tipis yang optimal akan diperoleh
hanya jika menotolkan sampel dengan ukuran bercak sekecil mungkin.
5. Warna Noda
Bercak pemisahan pada KLT umumnya bercak tidak berwarna.
Untuk menentukannya secara kimia (warna noda) dapat dilakukan
dengan mereaksikan bercak dengan suatu pereaksi melalui penyemprotan
sehingga bercak menjadi jelas. Secara fisika yang dapat untuk
menampakkan bercak ialah dengan fluoresensi sinar UV dengan panjang
gelombang 254 nm.
6. Harga Rf
Faktor retensi ( Rf ) adalah jarak yang ditempuh oleh komponen atau
zat yang terlarut dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh eluen atau
pelarut.
Rumus faktor retensi adalah :

Jarak Tempuh Komponen


Rf =
Jarak Tempuh Eluen

Senyawa yang mempunyai Rf lebih besar berarti mempunyai


kepolaran yang rendah, begitu juga sebaliknya. Hal tersebut dikarenakan fasa
diam bersifat polar.
Senyawa yang bersifat lebih polar akan tertahan kuat pada fasa diam,
sehingga menghasilkan nilai Rf yang rendah. Rf KLT yang bagus berkisar
0,2 - 0,8. Jika Rf terlalu tinggi, yang harus dilakukan adalah mengurangi
kepolaran eluen, dan sebaliknya.

G. HIPOTESA PENELITIAN
Hipotesa penelitian adalah jawaban sementara terhadap masalah yang
masih bersifat praduga karena masih harus di buktikan kebenarannya.
Hipotesa dari penelitian ini adalah:
H0 : Tidak ada Flavonoid pada Fraksi Etil Asetat Daun Jambu Biji Putih
(Psidium guajava Linn) yang di identifikasi secara Kromatografi Lapis
Tipis
H1 : Ada Flavonoid pada Fraksi Etil Asetat Daun Jambu Biji Putih (Psidium
guajava Linn) yang di identifikasi secara Kromatografi Lapis Tipis
H. Kerangka Konsep
Kerangka Konsep Penelitian adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang
akan diamati atau diukur melalui penelitian yang dilakukan ( Notoatmadja, 2010).
Penuaan Dini
Oksidasi
Kanker

Alami Anti Oksidan Sintesis

Daun Pepaya

Daun Jambu Biji Putih Flavonoid


Alkaloid

Pembuatan Simplisia Saponin


Tannin

Uji Pendahuluan Serbuk Simplisia Yang Sudah Halus


Ekstraksi dengan cara Remaserasi dengan Pelarut Etanol 70%

positi negati
f f
Maserat

Fraksinasi n-Heksan 3x30ml

Fase n-Heksan
Fase Etanol

Fraksinasi Etil Asetat 3x30ml

Fraksi Etil Asetat

Uji Identifikasi KLT Fase Gerak = n-Heksan : Etil Asetat : n-butanol (8:2:1)
Uji Penegasan Fase Diam = Silika Gel GF 254 nm Pembanding = Pustaka (Rf Daun Jambu
Biji Australia 0,68)
Keterangan :

Diteliti

Tidak diteliti Analisis data Kesimpulan


an
Bagan 2.1
Kerangka Konsep Identifikasi Senyawa Flavonoid pada Daun Jambu Biji Putih
BAB III

METODE PENELITIAN

Metode Penelitian adalah proses atau cara ilmiah untuk mendapatkan


data yang akan digunakan untuk keperluan penelitian.
A. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian proposal diartikan sebagai strategi mengatur
latar penelitian agar peneliti memperoleh data yang valid yang sesuai dengan
karakteristik variable dan tujuan penelitian. Jenis penelitian yang digunakan
peneliti dalam proposal Karya Tulis Ilmiah atau KTI ini adalah penelitian
deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang di rancang untuk
menggambarkan subjek penelitian dengan cara yang akurat (sistematis, logis,
empiris atau nyata) (Zainudin, 2000).
Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif karena untuk
mengetahui ada atau tidaknya kandungan flavonoid pada daun jambu biji
putih (Psidium guajava Linn). Selain penelitian deskriptif juga penelitian
eksperimental yang dilakukan untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan
dari suatu perlakuan yang diberikan secara sengaja oleh peneliti
(Notoatmodjo, 2010). Rancangan ini dipilih karena untuk mengidentifikasi
ada atau tidaknya kandungan flavonoid pada daun jambu biji putih (Psidium
guajava Linn) di desa Kedungwaru, kecamatan Kedungwaru, Tulungagung.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
- Waktu penelitian : bulan Pebruari 2019
- Tempat penelitian : Laboratorium Farmakognosi Akademi Kesehatan
Arga Husada Pare, Kediri.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan obyek atau obyek yang diteliti tersebut
(Notoatmodjo, 2010).
Populasi yang akan diteliti adalah daun jambu biji putih yang berasal dari
lingkungan sekitar peneliti yaitu di desa Kedungwaru, kecamatan
Kedungwaru, Tulungagung.

2. Sampel
Sampel adalah obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh
populasi (Notoatmodjo, 2010).
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun jambu biji putih
yang diperoleh dari desa Kedungwaru, kecamatan Kedungwaru,
Tulungagung.

D. Kriteria Inklusi dan Eksklusi


1. Kriteria Inklusi
a. Daun jambu biji putih yang berasal dari desa Kedungwaru,
kecamatan Kedungwaru,Tulungagung.
b. Daun jambu biji putih yang tidak terlalu tua
c. Daun jambu biji putih yang masih utuh dan tidak terkena hama.
2. Kriteria Eksklusi
a. Daun jambu biji putih yang tidak berasal dari desa Kedungwaru,
kecamatan Kedungwaru, Tulungagung.
b. Daun jambu biji putih yang sudah layu atau kering
c. Daun jambu biji putih yang telah rusak dan terkena hama.
E. Kerangka Kerja
Populasi Daun Jambu Biji Putih
Desa Kedungwaru Tulungagung

Sampel Daun Jambu Biji Putih

Pembuatan Simplisia

Uji Pendahuluan
Serbuk Simplisia yang Sudah Halus
1. 1 gr ekstrak daun
jambu biji putih +
serbuk Mg + 2-4 Remaserasi Daun Jambu Biji Putih Dengan Etanol 70
HCL pekat, dikocok %
akan berubah warna
jingga Maserat Dipekatkan Hingga ½ - 1/3 Volume
2. 1 gr ekstrak daun
jambu biji putih + 3 Ekstrak
tetes HCL pekat,
dipanaskan selama 15
menit akan berubah Fraksinasi n-Heksan 3 x 30 ml
warna merah selama 15 menit

Fase Etanol
Fase n-Heksan
Dipekatkan

Etil Asetat 3 x 30 ml
Fraksinasi Selama 15 menit
Uji Penegasan
1.1 ml fraksi etil asetat Fraksi Etil Asetat
+ serbuk Mg + 2-4
tetes HCL pekat,
dikocok akan Dipekatkan
berubah warna jingga
2.1 ml fraksi etil asetat Uji Identifikasi dengan KLT
+3 tetes HCL pekat, Fase Gerak = n-Heksan : Etil Asetat : n-butanol (8:2:1)
dipanaskan akan Fase Diam = Silika Gel GF 254 nm
berubah warna merah Pembanding = Pustaka (Rf Daun Jambu Biji
Australia0,68 )

positi negati
f f
positi negati
f f
Analisa Data
Kesimpulan
Penyajian Data
Bagan 3.1
Kerangka Kerja Penelitian IdentifikasiSenyawa Flavonoid Fraksi Etil Asetat Daun
Jambu Biji Putih (Pesidium guajava Linn) dengan Metode KLT

F. Prosedur Kerja dan Analisis


Prosedur pengumpulan bahan
a. Bahan yang digunakan : serbuk daun jambu biji putih
b. Bahan kimia : etanol 70%, n-Heksan, etil asetat, n-butanol, HCl pekat,
serbuk Magnesium, aquadest
c. Alat yang digunakan : beaker glass, kertas saring, batang pengaduk,
corong, gelas ukur, cawan penguap, corong pemisah, lampu uv, pipet
volume dan bejana
d. Pengambilan dan pengolahan simplisia :
1. Dipilih daun jambu biji putih yang utuh dan segar
2. Daun dicuci dengan air bersih yang mengalir
3. Daun dikeringkan dengan cara di angin-anginkan
4. Setelah daun kering, kemudian dihaluskan
e. Cara pembuatan ekstrak daun jambu biji putih
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Menimbang serbuk daun jambu biji putih 200 gram dan ukur pelarut
yang akan digunakan yaitu etanol 70% sebanyak 1500 ml
3. Cairan penyari dibagi 2 sama banyak yaitu larutan penyari I 750ml
dan larutan penyari II 750ml
4. Seluruh serbuk simplisia ditambahkan ke dalam larutan penyari I
dengan menggunakan pelarut sebanyak 2x bobot simplisia yaitu
400ml, biarkan selama 2jam kemudian tambahkan sisa pelarut 350ml,
lalu diamkan selama 2 x 24jam sambil sesekali diaduk pada pagi dan
sore hari
5. Setelah 2 x 24jam, filtrat di tuang atau dimasukkan ke dalam beaker
glass (tidak boleh diaduk) lalu ditutup dengan aluminium foil
6. Ampas kembali ditambahkan dengan cairan penyari II yaitu sebanyak
750ml, biarkan 1 x 24jam dan sesekali diaduk pada pagi dan sore hari
kemudian ditutup dengan aluminium foil
7. Setelah itu filtrat dituang kedalam beaker glas , dijadikan satu dengan
filtrat sebelumnya. Lalu di ad-kan hingga 100 bagian (300ml) dan
tutup kembali dengan aluminium foil kemudian peras ampasnya.
Biarkan selama 2x24 jam tanpa pengadukan
8. Filtrat yang diperoleh dipekatkan di atas waterbath pada suhu 30⁰-
50⁰C sehingga diperoleh ekstrak kental daun jambu biji putih
9. Ekstrak kental yang sudah diperoleh lalu ditimbang dan dihitung
rendemennya

G. Perhitungan Rendeman
Rendemen didapat dari berat ekstrak kental yang diperoleh dibagi
berat simplisia yang digunakan dikalikan 100%.

Berat simplisia yang diperoleh


Rendemen = x 100%
Berat simplisia yang digunakan

H. Cara Kerja Fraksinasi


1. Timbang ekstrak etanol sebanyak 3gram dan masukkan ke dalam corong
pemisah, tambahkan pelarut n-Heksan 30ml, lakukan penggojokan
selama 15 menit dan diamkan hingga terbentuk 2 lapisan.
2. Lapisan n-Heksan dibuang atau ditampung dan lapisan ekstrak etanol
didalam corong pemisah ditambahkan pelarut n-Heksan lagi sebanyak
30ml, gojok selama 15 menit .
Proses fraksinasi ini dilakukan sebanyak 3x hingga didapatkan fase
etanol.
3. Kemudian fase etanol yang diperoleh diuapkan sampai 50%, tambahkan
pelarut etil asetat sebanyak 30ml pada fase etanoldan dilakukan
penggojokan selama 15 menit. Diamkan beberapa saat hingga terbentuk
2 lapisan.
4. Lapisan etil asetat ditampung dan lapisan ekstrak etanol dalam corong
pemisah ditambahkan etil asetat sebanyak 30ml, proses ini diulang
sebanyak 3x. Lapisan etil asetat yang diperoleh diuapkan.
5. Hasil yang diperoleh kemudian dilakukan identifikasi senyawa
menggunakan metode KLT.
I. Analisis Data
1. Uji pendahuluan flavonoid
a. 1gram ekstrak daun jambu biji putih + serbuk Mg + 2-4 tetes HCl
pekat, kemudian di kocok, akan terjadi warna jingga.
b. 1gram ekstrak daun jambu biji putih + 3 tetes HCl pekat, dipanaskan
selama 15 menit akan terjadi warna merah.
Tabel 3.1 Uji Pendahuluan Daun Jambu Biji Putih
No Pereaksi Sampel Pembanding
1
2

Keterangan :
Positif (+) = adanya warna
Negatif (-) = tidak ada warna
2. Uji Penegasan Flavonoid
a. 1ml fraksi etil asetat + serbuk Mg + 2-4 tetes HCl pekat, akan terjadi
warna jingga
b. 1ml fraksi etil asetat + 3 tetes HCl pekat lalu dipanaskan , akan
terjadi warna merah
Tabel 3.2 Uji Penegasan Flavonoid Daun Jambu Biji Putih
No Pereaksi Sampel Pembanding
1
2
Keterangan :
Positif (+) = adanya warna
Negatif (-) = tidak ada warna
3. Uji Kromatografi Lapis Tipis atau KLT
a. Penyiapan fase diam
Silika gel GF 254 dipotong dengan ukuran 10cm x 2,5cm dan diberi
garis 1,5cm dari bawah dan 0,5cm dari atas.
b. Penyiapan fase gerak
1. n-Heksan : etil asetat : n-butanol ( 8:2:1 )
2. masukkan fase gerak dalam bejana kemudian ditutup
c. Penjenuhan bejana
1. Masukkan kertas saring hingga ke dasar bejana, kemudian ditutup
2. Bejana dikatakan jenuh apabila kertas saring telah basah sampai
atas
d. Penyiapan sampel atau ekstrak daun jambu biji putih
Fraksi etil asetat diambil dengan pipa kapiler kemudian ditotolkan
e. Penotolan sampel
1. Ekstrak etil asetat ditotolkan pada lempeng menggunakan pipa
kapiler sekecil mungkin
2. Lempeng yang telah ditotol dimasukkan dalam bejana yang telah
dijenuhkan dengan eluen (n-Heksan, etil asetat, n-butanol) pada
posisi miring
3. Bejana ditutup dan lempeng dibiarkan terelusi sampai batas atas
4. Keluarkan lempeng dari bejana, kemudian di angin-anginkan
hingga kering
5. Amati penampakan noda dengan sinar uv 254 nm dan di tandai
(dilingkari)
6. Hitung nilai Rf
f. Perhitungan nilai Rf

Jarak tempuh zat yang terlarut


Nilai Rf =
Jarak tempuh zat pelarut
Tabel 3.3 Kromatografi Lapis Tipis
Hasil Pengamatan
Sampel Replikasi Jarak Jarak Warna Warna Noda
Tempuh Tempuh Noda Pembanding
Sampel Pembanding Sampel
I
A II
III

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1979. Materia Medika Indonesia Jilid III. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.

Anonim, 1995. Materia Medika Indonesia Jilid VI. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.

Anonim, 2011. Acuan Sediaan Herbal volume 6 edisi 1. Badan Pengawas Obat dan
Makanan. Jakarta.

Anonim, 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 6 tahun


2016 tentang Formularium Obat Herbal Aseli Indonesia. Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.

Anonim, 1985. Cara Pembuatan Simplisia. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia. Jakarta.

Anonim, 2018. Determinasi Tanaman Jambu Biji. UPT Materia Medica Batu. Batu.
Markham, K.R, 1988. Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Penerbit ITB. Bandung.

Notoatmodjo, Soekidjo, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta.


Jakarta.

Harborne, JB, 1983. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis


Tumbuhan. Penerbit ITB. Bandung.

Agoes, Goeswin. 2007. Teknologi Bahan Alam. ITB.

Hariana, H. Arief, 2008. Tumbuhan Obat Dan Khasiatnya seri 2. Penebar Swadaya.
Jakarta.

Zainuddin, Muhammad. 2000. Metodologi Penelitian. Surabaya.

Marjoni, R. 2016. Dasar-Dasar Fitokimia Untuk Diploma III Farmasi. Jakarta.

Raharjo,J.T. 2013. Kimia Hasil Alam. Yogyakarta.

Maulana, Egi A dkk, 2016. Isolasi Dan Uji Aktivitas Antioksidan Senyawa
Flavonoid Dari Ekstrak Daun Jambu Biji Putih ( Psidium guajava Linn).
Universitas Udayana. Bali.

Manihuruk, Rickson Y, 2016. Isolasi Senyawa Flavonoida Dari Daun Tumbuhan


Jambu Biji Australia ( Psidium guajava Linn). Universitas Sumatera Utara.
Medan.
LEMBAR KONSULTASI

NAMA : ERI PUSPITA


NIM : 01.16.019
JUDUL : IDENTIFIKASI SENYAWA FLAVONOID PADA FRAKSI ETIL
ASETAT DAUN JAMBU BIJI PUTIH (Psidium guajava Linn)
SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
Pembimbing I : Drs. Ari Kristijono, M.Farm, Apt

NO TANGGAL KONSULTASI TANDA TANGAN


1 04 Nopember 2018 Bab 1 s.d 3 1.

2 10 Nopember 2018 Bab 1 s.d 3 2.

3 20 Nopember 2018 Bab 1 s.d 3 3.

4 25 Nopember 2018 Bab 1 s.d 3 4.

5 9 Desember 2018 Bab 1 s.d 3 5.

Mengetahui,
Koordinator
Proposal dan Karya Tulis Ilmiah

Vita Kresnawati, S. Farm, Apt


LEMBAR KONSULTASI

NAMA : ERI PUSPITA


NIM : 01.16.019
JUDUL : IDENTIFIKASI SENYAWA FLAVONOID PADA FRAKSI ETIL
ASETAT DAUN JAMBU BIJI PUTIH (Psidium guajava Linn)
SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
Pembimbing II : Anang Priyadi, S.Si, Apt

NO TANGGAL KONSULTASI TANDA TANGAN


1 09 September 2018 Bab 1 dan 2 1.

2 07 Oktober 2018 Bab 1 dan 2 2.

3 02 Desember 2018 Bab 1 s.d 3 3.

4 12 Desember 2018 Bab 1 s.d 3 4.

Mengetahui,
Koordinator
Proposal dan Karya Tulis Ilmiah

Vita Kresnawati, S. Farm, Apt


LEMBAR KONSULTASI

NAMA : ERI PUSPITA


NIM : 01.16.019
JUDUL : IDENTIFIKASI SENYAWA FLAVONOID PADA FRAKSI ETIL
ASETAT DAUN JAMBU BIJI PUTIH (Psidium guajava Linn)
SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
Penguji : Rony Setianto, S.Si, S.E, Apt

NO TANGGAL KONSULTASI TANDA TANGAN


1 1.

2 2.

3 3.

4 4.

Mengetahui,
Koordinator
Proposal dan Karya Tulis Ilmiah

Vita Kresnawati, S. Farm, Apt

Anda mungkin juga menyukai