Laporan 6
Laporan 6
TUGAS 6
IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN FLAVONOIDA
(Ekstrak Psidium guajava L.)
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitokimia
KELOMPOK: 4
KELAS: G
DOSEN PEMBIMBING:
apt. Siti Rofida, M. Farm.
apt. Amaliyah Dina A., M. Farm.
PENDAHULUAN
1
minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah menguap
sehingga memberikan aroma yang khas. Tanin merupakan substansi yang tersebar
luas dalam tanaman dan digunakan sebagai energi dalam proses metabolisme dalam
bentuk oksidasi, Tanin juga sebagai sumber asam pada buah (Rudi,2014).
Salah satu teknik analisis yang banyak digunakan untuk pengembangan
metode identifikasi dan autentifikasi tumbuhan obat menggunakan pendekatan
analisis sidik jari yaitu kromatografi seperti, kromatografi lapis tipis (KLT),
kromatografi gas, kromatografi cair kinerja tinggi, dan jenis kromatografi lainnya.
Kromatografi lapis tipis dapat memberikan resolusi pemisahan yang baik sehingga
memungkinkan identifikasi simultan dari berbagai zat dalam sekali elusi. Profil sidik
jari KLT dapat digunakan untuk mengetahui kesamaan atau ketidaksamaan dan untuk
mengetahui ada atau tidaknya suatu senyawa fitokimia tertentu sehingga dapat pula
digunakan untuk metode deteksi adanya pemalsuan bahan tumbuhan obat yang
digunakan dalam suatu produk obat herbal ( Mohamad Rafi, 2017).
1.2 Tujuan
Mahasiswa mampu melakukan identifikasi senyawa golongan antrakinon dalam
tanaman.
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Taksonomi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Genus : Psidium
Spesies : Psidium guajava Gambar 2.1 Jambu Biji (Psidium guajava L.)
B. Morfologi
3
Jambu biji merupakan tanaman semak atau perdu, tingginya dapat
mencapai 9 m. Batang muda berbentuk segiempat , berwarna hijau atau merah
muda, dengan rambut berwarna keabu-abuan. Batang tua bulat dan keras, kulit
batang licin berwarna coklat kemerahan dengan lapisan yang tipis dan mudah
terkelupas jika sudah mengering. Bila kulitnya dikelupas akan terlihat bagian
dalam batangnya berwarna hijau dan berair. Daun jambu biji mengeluarkan
aroma jika diremas, berwarna hijau, mempunyai daun tunggal dan bertangkai
pendek. Kedudukan daunnya dapat bersilangan, letak daunnya berhadapan
dan bertulang daun menyirip. Bentuk daunnya bulat atau bulat telur dengan
pinggiran rata melingkar dan ujung meruncing.
Buah jambu biji memiliki variasi yang besar baik dalam ukuran buah,
bentuk buah, maupun warnanya (Panhwar 2005). Buah berdompolan,
bentuknya globose, bulat telur, lonjong atau berbentuk buah pir. Periode
pematangan buah buah setelah antesis juga bervariasi pada setiap varietas.
Jambu biji Bangkok memerlukan waktu 5-6 bulan sejak antesis sampai buah
dapat dipanen.
C. Kandungan Kimia & Manfaat
Setiap 100 gram daging buah jambu biji mengandung air sebanyak
83,3 g, protein 1 g, lemak 0,4 g, pati 6,8 g, serat 3,8 g, abu 0,7 g, dan vitamin
C 337 mg. Kandungan energi untuk setiap 100 g sebesar 150-210 kJ.
Kandungan vitamin C bervariasi antara 10-2.000 mg/100 g buah, bergantung
4
pada kultivar, tingkat kematangan buah serta kondisi lingkungan setempat
(Ashari 2006).
Selain itu kandungan beberapa senyawa dalam tanaman jambu biji
terutama dalam daunnya seperti tanin, fenol, triterpen, minyak atsiri
(eugenol), zat samak, damar, asam malat, asam lemak, dan asam apfel
(Dalimartha 2005), jambu biji memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai
obat herbal. Beberapa penggunaan daun jambu biji yaitu sebagai antidiare,
menurunkan glukosa darah, obat demam berdarah, obat batuk, obat luka,
sariawan, dan sebagainya (Agromedia 2008). Ekstrak etanol daun jambu biji
putih dan merah mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare
(Escherichia coli, Shigella dysenteriae, Shigella flexneri, dan Salmonella
typhi) pada konsentrasi tertentu (Adnyana et al. 2004). Selain obat diare, daun
jambu biji yang mengandung senyawa tanin dan flavonoid juga memiliki
potensi sebagai obat demam berdarah (Balitbu 2008).
2.2 Flavonoid
Flavonoid merupakan salah satu golongan senyawa fenol alam yang
terbesar dalam tanaman. dan tersusun oleh 15 atom karbon sebagai inti dasarnya.
Tersusun dari konfigurasi C6- C3 - C6 yaitu 2 cincin aromatik dan dihubungkan
oleh tiga atom karbon yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin ketiga.
Seperti yang ditunjukkan oleh gambar berikut ini :
Senyawa flavonoid ada yang berupa aglikon saja dan ada pula yang
berbentuk glikosida (aglikon dan gula). Flavonoid juga ada yang berikatan dengan
gugus sulfat yang disebut flavonoid sulfat dan ada yang terikat dengan flavonoid
lainnya disebut biflavonoid.
5
A. Aglikon Flavonoid
Aglikon Flavonoid dibagi dalam beberapa golongan dengan struktur
dasar seperti flavon, flavonol, isoflavon, katekin, flavanon, leukoantosianin,
auron, kalkon dan dihidroflavonol. Adapun struktur dasar dari flavonoid
ditunjukkan oleh gambar berikut ini
B. Flavonoid Glikosida
Flavonoid glikosida adalah flavonoid dimana aglikonnya berikatan
dengan satu atau lebih gugus gula. Flavonoid glikosida dikelompokkan
menjadi 2 yaitu flavonoid-O-glikosida dan flavonoid-C-glikosida. Flavonoid-
O-glikosida adalah flavonoid dimana salah satu gugus hidroksil yang terikat
pada flavonoid berikatan dengan gula. Flavonoid-C-glikosida adalah
flavonoid dimana gula yang terikat langsung pada atom C daripada flavonoid
atau inti benzena dari flavonoid. Dalam kenyataaannya keberadaan di alam
flavonoid-O-glikosida jauh lebih banyak dibandingkan dengan flavonoid-C-
glikosida.
6
terjadinya reaksi subtitusi elektrofilik yang ditandai dengan perubahan warna
menjadi merah. (Theodora, Gunawan and Swantara, 2019) .
B. Uji Wilstater
Sejumlah tertentu sampel ditambahkan beberapa tetes HCl pekat dan
sedikit serbuk Mg. perubahan warna menjadi kuning menandakan sampel
positif flavonoid. Pereaksi Wilstater berfungsi untuk mereduksi inti
benzopiron pada struktur flavonoid sehingga terjadi perubahan warna menjadi
kuning sampai merah (Theodora, Gunawan and Swantara, 2019) .
C. Uji NaOH 10%
Sejumlah tertentu sampel ditambahkan beberapa tetes pereaksi NaOH
10%. Setelah itu sampel ditotolkan pada plat tetes. Reaksi positif jika terjadi
perubahan warna orange/jingga pada plat tetes. Pereaksi NaOH 10%
merupakan katalis basa yang menyebabkan terjadinya penguraian senyawa
flavonoid menjadi molekul asetofenon yang berwarna kuning sampai coklat
(Theodora, Gunawan and Swantara, 2019) .
D. Kromatografi Lapis Tipis
merupakan salah satu bentuk/model dari kromatografi cair dimana
sampel diaplikasikan sebagai noda atau goresan pada lapisan penyerap tipis
yang dilaburkan diatas lempeng plastic, gelas, atau logam (Sari,2011).
Beberapa alsan digunakan KLT diantaranya adalah penggunaan mudah,
dapat digunakan secara luas pada sampel yang berbeda, sensitivitasnya
tinggi, kecepatan pemisahan dan biaya yang relative murah. KLT dapat
digunakan untuk :
Mengetahui kemurnian suatu senyawa.
Memisahkan dan mengidentifikasi komponen dalam suatu campuran.
Analisis kuantitatif dari satu atau lebih komponen yang terdapat dalam
sampel.
Keuntungan daripada pemakaian KLT antara lain :
Solven yang digunakan sedikit,
Polaritas dari solven dapat dirubah dan diatur dalam beberapa menit,
7
Jumlah sampel yang diukur dalam satu kali pengukuran/pengembangan
lebih banyak, dalam satu palt KLT berukuran 20x20 cm dapat ditotolkan
lebih kurang 20 titik awal (Sari, 2011) .
2.4 Teknik Kromatografi Lapis Tipis
Teknik pemisahan kromatografi adalah metode pemisahan multi tahap
dimana komponen suatu sampel didistribusikan antara dua fase, yaitu fase diam
dan fase gerak. Keuntungan utama metode analisis kromatografi lapis tipis
dibandingkan metode analisis kromatografi cair kinerja tinggi adalah analisis
beberapa sampel dapat dilakukan secara simultan dengan menggunakan fase
gerak dalam jumlah kecil sehingga lebih hemat waktu dan biaya analisis serta
lebih ramah lingkungan (Wulandari, 2011).
Pada KLT, identifikasi awal suatu senyawa didasarkan pada perbandingan
nilai Rf dibandingkan Rf standar. Nilai Rf merupakan parameter yang
menyatakan posisi noda pada fase diam setelah dielusi. Penentuan harga Rf analit,
yaitu membandingkan jarak migrasi noda analit dengan jarak migrasi fase
gerak/eluen. Faktor-faktor yang menyebabkan nilai Rf bervariasi meliputi dimensi
dan jenis ruang, sifat dan ukuran lempeng, arah aliran fase gerak, volume dan
komposisi fase gerak, kondisi kesetimbangan, kelembaban, dan metode persiapan
sampel KLT sebelumnya (Wulandari, 2011).
8
antara fase cair dan fase cair, faktor utama pemisahan adalah kelarutan
(Wulandari, 2011).
Cara menggunakan KLT :
1. Potong plat sesuai ukuran. Biasanya, untuk satu spot menggunakan
plat selebar 1 cm. berarti jika menguji 3 sampel (3 spot) berarti
menggunakan plat selebar 3 cm.
2. Buat garis dasar (base line) dibagian bawah, sekitar 0,5 cm dari ujung
bawah plat, dan garis akhir di bagian atas.
3. Menggunakan pipa kapiler, totolkan sampel cairan yang telah
disiapkan sejajar, tepat di atas base line. Jika sampel padat, larutkan
pada pelarut tertentu. Keringkan totolan.
4. Dengan pipet yang berbeda, masukkan masing-masing eluen ke dalam
chamber dan campurkan.
5. Tempatkan plat pada chamber berisi eluen. Base line jangan sampai
tercelup oleh eluen. Tutuplah chamber.
6. Tunggu eluen mengelusi sampel sampai mencapai garis akhir, di sana
pemisahan akan terlihat
7. Setelah mencapai garis akhir, angkat plat dengan pinset keringkan dan
ukur jarak spot. Jika spot tidah kelihatan, amati pada lampu UV. Jika
masih tak terlihat, semprot dengan pewarna tertentu seperti kalium
kromat, asam sulfat pekat dalam alcohol 96% atau ninhidrin.
B. Fase Diam
Fase diam berupa lapisan tipis, kering merata, terbuat dari bahan serbuk
halus dilapiskan secara akurat pada suatu lempeng kaca, plastik, atau aluminium.
Fase diam dari lempeng kromatografi lapis tipis (KLT) mempunyai ukuran
partikel rata-rata 10-15 µm (Depkes RI, 2020). Biasanya fase diam yang
digunakan pada metode ini adalah plat Silica Gel, seperti KLTKT silika gel 60 F
254, Kiesel Gel 254, dll. Alasan digunakannya silica gel karena senyawa
berflouresensi pada sinar UV terutama pada panjang gelombang 254 nm. Sinar
UV yang mengeksitasi zat pada panjang gelombang 254 nm tidak dapat
9
mencapai indikator flouresensi masing-masing zat sehingga bercak akan tampak
gelap yang dikelilingi bagian yang berflouresensi. Bagian berflouresensi
diakibatkan adanya senyawa sulfida yang ditambahkan pada permukaan silica gel
(Asra, Zulharmita and Amrul, 2017).
C. Fase Gerak
Dalam kromatografi lapis tipis pemilihan sistem pelarut yang dipakai
didasarkan atas prinsip like dissolves like (Gafur, Isa and Bialangi, 2012) . Fase
gerak atau pelarut pengembang digunakan dalam jumlah yang sesuai.
Perpindahan fase gerak melalui lempeng tipis disebabkan oleh gaya kapiler.
Adanya partikel fase diam yang berinteraksi dengan pelarut fase gerak
mengakibatkan timbulnya efek kapiler aglomerasi. Pelarut atau campuran pelarut
memasuki ruangan kapiler dalam kromatografi yang tersusun atas padatan,
berusaha untuk menurunkan kedua sifatnya yaitu luas permukaan bebas dan
energi bebasnya (Wulandari, 2011)
2.5 Eluen
A. Etil Asetat
Etil asetat adalah senyawa semi polar (Hidayah et al., 2016) berbentuk
cairan bening tidak berwarna dengan bau buah. Titik nyala 24 ° F. Kurang
padat dari air. Uap lebih berat dari udara. Sangat larut dalam air (64 g / L pada
25 ° C), dapat bercampur dengan etanol, etil eter dan kloroform; sangat larut
dalam aseton, benzena. Etil asetat dapat digunakan sebagai fase gerak (eluen)
dalam metode analisis denga KLT, dengan nilai eluent strength sebesar 0,94
(Meyer and Palamareva, 1993).
10
B. Toluene
Toluena adalah hidrokarbon aromatik yang terdiri dari cincin benzen
yang dihubungkan dengan satu gugus metil dan merupakan senyawa non-
polar. Toluena berwujud cairan tidak berwarna yang tidak dapat larut dalam
air. Toluene adalah turunan benzena tersubstitusi tunggal yang digunakan
sebagai pelarut atau sebagai zat antara kimia dalam berbagai aplikasi industri.
Menghirup toluena konsentrasi tinggi secara cepat dapat menyebabkan
komplikasi neurologis yang parah (Drugbank.com).
Toluena memiliki bau aromatik yang khas. Titik nyala 40 ° F. Kurang
padat dari air (7,2 lb / gal) dan dapat mengapung di atas air. Uap toluene lebih
berat dari udara. Toluena muncul secara alami dalam minyak mentah dan
pohon tolu. Ini juga diproduksi dalam proses pembuatan bensin dan bahan
bakar lain dari minyak mentah dan pembuatan kokas dari batubara (NCBI,
2021).
11
Gambar 2.8 Struktur kimia asam asetat glasial
minyak bumi. Senyawa ini memiliki peran sebagai pelarut protik, pengatur
keasaman makanan, dan pengawet makanan (NCBI, 2021)
BAB III
PROSEDUR KERJA
B. Reaksi Warna
1. Uji Bate-Smith dan Metcalf
12
2. Uji Wilstater
13
Noda kuning intensif = adanya flavonoida
- Uap ammonia = noda kuning sementara
- Sitrat-borat = noda kuning permanen
B. Reaksi warna
1. Larutan IIIA sebagai blanko, larutan IIIB ditambah 0,5 ml HCl pekat dan
diamati perubahan warna yang terjadi, kemudian dipanaskan di atas
penangas air dan diamati lagi perubahan warna yang terjadi.
2. Uji Wilstater
1. Larutan IIIA sebagai blanko, larutan IIIC ditambah 0,5 ml HCl pekat dan 4
potong magnesium.
14
2. Diamati perubahan warna yang terjadi, diencerkan dengan 2 mL air suling
melewati dinding tabung, kemudian ditambah 1 ml butanol secara
perlahan-lahan melewati dinding tabung.
1. Larutan IIID dan fase n-heksan (3.2.a.1) ditotolkan pada fase diam.
4. Noda kuning yang ditimbulkan oleh uap ammonia akan hilang secara
perlahan ketika amonianya menguap meninggalkan noda.
15
16
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
B. Uji Wilstater
17
C. Nilai Rf
7,1
Rf 1 (Larutan IIIA) = = 0,89
8
6,5
Rf 2 (Larutan IIID) = = 0,8
8
18
4.2 Pembahasan
Uji warna yang pertama yaitu uji Bate-Smith dan Metcalf pada ekstrak
Psidium guajava L. dilakukan dengan penambahan 0,5 asam pekat HCl yang
kemudian dipanaskan. Tujuan penambahan dari HCl pekat adalah untuk
menghidrolisis atosianin menjadi aglikon atosianin dan memutuskan ikatan
glikosida pada senyawa organik. Sebelum dipanaskan tidak terjadi perubahan
warna, kemudian larutan dipanaskan dipenangas air untuk mempercepat
terjadinya hidrolisis. Hasil yang didapatkan pada praktikum sampel menunjukkan
perubahan warna menjadi merah tua. Hasil positif uji Smith dan Metcalf untuk
leukoantosianin akan memberikan warna merah kuat atau orange. Warna orange
atau merah yang terbentuk pada uji Bate Smith-Metcalf disebabkan karena
terbentuknya garam flavilium (Achmad, 1986). Hal ini menunjukan bahwa dalam
ekstrak Psidium guajava L. positif mengandung senyawa leukoantosianin.
Uji warna yang kedua yaitu uji Wilstater. Larutan ditambah HCL pekat dan
serbuk magnesium. Penambahan HCL pekat berfungsi untuk menghidrolisis
flavonoid menjadi aglikonnya yaitu dengan menghidrolisis O-glikosil. Glikosil
akan tergantikan oleh H+ dari asam karena sifatnya yang elektrofilik. Reduksi
dengan Mg dan HCL pekat ini menghasilkan senyawa kompleks yang berwarna
merah atau jingga pada flavonol, flavanon, flavanol dan xanton (Mariana, 2013).
Pada praktikum ini, didapatkan perubahan warna menjadi jingga. sehingga
terbentuk warna menjadi merah, kuning atau jingga. Hal ini menunjukan bahwa
19
dalam ekstrak Psidium guajava L. positif mengandung senyawa flavon. Reaksi
yang terjadi pada uji flavonoid ditunjukan oleh gambar :
20
BAB V
KESIMPULAN
21
DAFTAR PUSTAKA
Adnyana IK, Yulinah E, Sigit JI, Fisheri KN, Insanu M. 2004. Efek ekstrak daun
jambu biji daging buah putih dan jambu biji daging buah merah sebagai
antidiare. Acta Pharmaceutica Indonesia 29(1):19-27.
AgroMedia. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta: PT Agromedia Pustaka.
Ashari S. 2006. Hortikultura: Aspek Budidaya. Edisi revisi. Jakarta: UI-Press.
[Balitbu] Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. 2008. Tanaman yang berkhasiat
mengatasi demam berdarah dengue. Warta penelitian dan pengembangan
pertanian Vol. 30, No. 6 2008.
Fadhilah, A., Susanti, S., & Gultom, T. (2018). Karakterisasi Tanaman Jambu Biji
(Psidium guajava L.) di Desa Namoriam Pancur Batu Kabupaten Deli
Serdang Sumatera Utara. Prosiding Seminar Nasional Biologi dan
Pembelajarannya, 1670.
Fratiwi, Y. (2015). The Potential Of Guava Leaf (Psidium guajava L .) For Diarrhea,
Majority, 4(1), pp. 113–118.
[Foragri] Forum Kerjasama Agribisnis. 2011. Berkebun apple guava.
http://foragri.wordpress.com/2011/01/10/berkebun-apple-guava. [20 Januari
2011].
Gould WP, Raga A. 2002. Pest of guava. Di dalam: Pena JE, Sharp JL, Wysoki M,
editor. Tropical Fruit Pests and Pollinators: Biology, Economic Importance,
Natural Enemies, and Control. New York: CABI. Hlm 295- 313.
Mohamad Rafi, R. H. d. D. A. S., 2017. ATLAS Kromatografi Lapis Tipis Tumbuhan
Obat Indonesia. Kota Bogor-Indonesia: IPB Press.
Panhwar F. 2005. Genetically evolved of guava (Psidium gaajava) and its future in
Pakistan. Virtual Lybrary Chemistry. Http://www.ChemLin.com.
Rismunandar. 1989. Tanaman Jambu Biji. Bandung: Sinar Baru.
Rudi. (2014). Tanaman Daun Jambu Biji.
22