0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
619 tayangan23 halaman

Laporan 6

Dokumen tersebut memberikan informasi tentang identifikasi senyawa flavonoid dalam ekstrak Psidium guajava L. Secara singkat, dokumen tersebut menjelaskan tentang latar belakang Psidium guajava L., tujuan penelitian untuk mengidentifikasi senyawa flavonoid, dan tinjauan pustaka mengenai taksonomi, morfologi, kandungan kimia dan manfaat Psidium guajava L. serta penjelasan mengenai struktur dasar dan golongan sen

Diunggah oleh

Faiz Safira
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
619 tayangan23 halaman

Laporan 6

Dokumen tersebut memberikan informasi tentang identifikasi senyawa flavonoid dalam ekstrak Psidium guajava L. Secara singkat, dokumen tersebut menjelaskan tentang latar belakang Psidium guajava L., tujuan penelitian untuk mengidentifikasi senyawa flavonoid, dan tinjauan pustaka mengenai taksonomi, morfologi, kandungan kimia dan manfaat Psidium guajava L. serta penjelasan mengenai struktur dasar dan golongan sen

Diunggah oleh

Faiz Safira
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PRAKTIKUM FITOKIMIA

TUGAS 6
IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN FLAVONOIDA
(Ekstrak Psidium guajava L.)
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitokimia

KELOMPOK: 4

KELAS: G

1. Dicky Wahyudi (201810410311313)


2. Atina Setianingsih (201810410311314)
3. Alfi Nurma Cahyani (201810410311315)
4. Indah (201810410311316)
5. Faiz Nur Rendra S. (201810410311317)

DOSEN PEMBIMBING:
apt. Siti Rofida, M. Farm.
apt. Amaliyah Dina A., M. Farm.

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2021
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di Indonesia pada awalnya jambu biji ditanam sebagai tanaman pekarangan
atau pembatas kebun saja sehingga tidak perlu mendapat banyak perhatian. Hanya di
Pasar Minggu (Jakarta) jambu biji ditanam secara komersial. Dalam perdagangan
internasional jambu biji (Psidium guajava) disebut apple guava (Foragri, 2011).
Tanaman jambu biji merupakan tanaman asli dari Amerika Tropis, menurut de
Condolle diperkirakan berasal dari wilayah antara Meksiko (Amerika Tengah) dan
Peru (Amerika Selatan). Tanaman ini disebarkan ke Filipina oleh pelaut Spanyol, dan
oleh bangsa Portugis jambu biji diintroduksi dari Barat ke India (Ashari, 2006).
Sekarang tanaman ini sudah menyebar luas ke seluruh dunia, terutama di daerah
tropis. Diperkirakan terdapat sekitar 150 spesies Psidium yang menyebar ke daerah
tropis dan berhawa sejuk (Ashari, 2006).
Pemanfaatan buah jambu biji bisa dalam bentuk konsumsi buah segar atau
dalam bentuk produk olahan seperti jus, eskrim, jeli, pasta atau selai (Gould dan Raga
2002), gumdrop, nektar, dan dodol (Rismunandar 1989). Selain buahnya daun jambu
biji telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai obat diare (Soetopo 1992;
Ashari 2006).
Psidium guajava L. diketahui mengandung beberapa bahan aktif antara lain
tanin, flavonoid, guayaverin, leukosianidin, minyak atsiri, asam malat, damar, dan
asam oksalat, tetapi hanya komponen khusus seperti flavonoid, tanin, minyak atsiri,
dan alkaloid yang memiliki efek farmakologi sebagai antidiare terutama pada
penyakit diare yang disebabkan oleh bakteri (Fratiwi,2015).
Flavonoid adalah senyawa yang terdiri dari dari 15 atom karbon yang
umumnya tersebar di dunia tumbuhan. Quercetin adalah zat sejenis flavonoid yang
ditemukan dalam buah-buahan, sayuran, daun dan biji- bijian. Saponin adalah jenis
glikosida yang banyak ditemukan dalam tumbuhan. Saponin memiliki karakteristik
berupa buih. Sehingga ketika direaksikan dengan air dan dikocok maka akan
terbentuk buih yang dapat bertahan lama. Minyak atsiri adalah kelompok besar

1
minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah menguap
sehingga memberikan aroma yang khas. Tanin merupakan substansi yang tersebar
luas dalam tanaman dan digunakan sebagai energi dalam proses metabolisme dalam
bentuk oksidasi, Tanin juga sebagai sumber asam pada buah (Rudi,2014).
Salah satu teknik analisis yang banyak digunakan untuk pengembangan
metode identifikasi dan autentifikasi tumbuhan obat menggunakan pendekatan
analisis sidik jari yaitu kromatografi seperti, kromatografi lapis tipis (KLT),
kromatografi gas, kromatografi cair kinerja tinggi, dan jenis kromatografi lainnya.
Kromatografi lapis tipis dapat memberikan resolusi pemisahan yang baik sehingga
memungkinkan identifikasi simultan dari berbagai zat dalam sekali elusi. Profil sidik
jari KLT dapat digunakan untuk mengetahui kesamaan atau ketidaksamaan dan untuk
mengetahui ada atau tidaknya suatu senyawa fitokimia tertentu sehingga dapat pula
digunakan untuk metode deteksi adanya pemalsuan bahan tumbuhan obat yang
digunakan dalam suatu produk obat herbal ( Mohamad Rafi, 2017).

1.2 Tujuan
Mahasiswa mampu melakukan identifikasi senyawa golongan antrakinon dalam
tanaman.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jambu Biji


A. Definisi
Jambu biji (Psidium guajava L.) merupakan tanaman yang berbuah
sepanjang tahun. Apabila dibudidayakan secara komersial, tanaman jambu biji
dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pada setiap rantai agribisnisnya
sekaligus meningkatkan pendapatan negara. Jambu biji (Psidium guajava L.)
sangat disukai banyak orang karena rasa buahnya yang manis dan
menyegarkan serta kandungannya yang beragam. (Fadhilah et al., 2018)
Jambu biji (Psidium guajava L.) tersebar meluas sampai ke Asia
Tenggara termasuk Indonesia, sampai Asia Selatan, India dan Sri Lanka.
Jumlah dan jenis tanaman ini cukup banyak, diperkirakan kini ada sekitar 150
spesies di dunia. Tanaman ini (L.) mudah dijumpai di seluruh daerah tropis
dan subtropis. Seringkali ditanam di pekarangan rumah. Tanaman ini sangat
adaptif dan dapat tumbuh tanpa pemeliharaan. Di Jawa sering ditanam sebagai
tanaman buah, sangat sering hidup alamiah di tepi hutandan padang rumput
(Rudi, 2014).
2.2 Jambu Biji (Psidium guajava L.)

Taksonomi

Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Genus : Psidium
Spesies : Psidium guajava Gambar 2.1 Jambu Biji (Psidium guajava L.)

B. Morfologi

3
Jambu biji merupakan tanaman semak atau perdu, tingginya dapat
mencapai 9 m. Batang muda berbentuk segiempat , berwarna hijau atau merah
muda, dengan rambut berwarna keabu-abuan. Batang tua bulat dan keras, kulit
batang licin berwarna coklat kemerahan dengan lapisan yang tipis dan mudah
terkelupas jika sudah mengering. Bila kulitnya dikelupas akan terlihat bagian
dalam batangnya berwarna hijau dan berair. Daun jambu biji mengeluarkan
aroma jika diremas, berwarna hijau, mempunyai daun tunggal dan bertangkai
pendek. Kedudukan daunnya dapat bersilangan, letak daunnya berhadapan
dan bertulang daun menyirip. Bentuk daunnya bulat atau bulat telur dengan
pinggiran rata melingkar dan ujung meruncing.

Gambar 2.2 Batang Jambu

Buah jambu biji memiliki variasi yang besar baik dalam ukuran buah,
bentuk buah, maupun warnanya (Panhwar 2005). Buah berdompolan,
bentuknya globose, bulat telur, lonjong atau berbentuk buah pir. Periode
pematangan buah buah setelah antesis juga bervariasi pada setiap varietas.
Jambu biji Bangkok memerlukan waktu 5-6 bulan sejak antesis sampai buah
dapat dipanen.
C. Kandungan Kimia & Manfaat
Setiap 100 gram daging buah jambu biji mengandung air sebanyak
83,3 g, protein 1 g, lemak 0,4 g, pati 6,8 g, serat 3,8 g, abu 0,7 g, dan vitamin
C 337 mg. Kandungan energi untuk setiap 100 g sebesar 150-210 kJ.
Kandungan vitamin C bervariasi antara 10-2.000 mg/100 g buah, bergantung

4
pada kultivar, tingkat kematangan buah serta kondisi lingkungan setempat
(Ashari 2006).
Selain itu kandungan beberapa senyawa dalam tanaman jambu biji
terutama dalam daunnya seperti tanin, fenol, triterpen, minyak atsiri
(eugenol), zat samak, damar, asam malat, asam lemak, dan asam apfel
(Dalimartha 2005), jambu biji memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai
obat herbal. Beberapa penggunaan daun jambu biji yaitu sebagai antidiare,
menurunkan glukosa darah, obat demam berdarah, obat batuk, obat luka,
sariawan, dan sebagainya (Agromedia 2008). Ekstrak etanol daun jambu biji
putih dan merah mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare
(Escherichia coli, Shigella dysenteriae, Shigella flexneri, dan Salmonella
typhi) pada konsentrasi tertentu (Adnyana et al. 2004). Selain obat diare, daun
jambu biji yang mengandung senyawa tanin dan flavonoid juga memiliki
potensi sebagai obat demam berdarah (Balitbu 2008).
2.2 Flavonoid
Flavonoid merupakan salah satu golongan senyawa fenol alam yang
terbesar dalam tanaman. dan tersusun oleh 15 atom karbon sebagai inti dasarnya.
Tersusun dari konfigurasi C6- C3 - C6 yaitu 2 cincin aromatik dan dihubungkan
oleh tiga atom karbon yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin ketiga.
Seperti yang ditunjukkan oleh gambar berikut ini :

Gambar 2.3 Struktur Dasar Senyawa Flavonoid

Senyawa flavonoid ada yang berupa aglikon saja dan ada pula yang
berbentuk glikosida (aglikon dan gula). Flavonoid juga ada yang berikatan dengan
gugus sulfat yang disebut flavonoid sulfat dan ada yang terikat dengan flavonoid
lainnya disebut biflavonoid.

5
A. Aglikon Flavonoid
Aglikon Flavonoid dibagi dalam beberapa golongan dengan struktur
dasar seperti flavon, flavonol, isoflavon, katekin, flavanon, leukoantosianin,
auron, kalkon dan dihidroflavonol. Adapun struktur dasar dari flavonoid
ditunjukkan oleh gambar berikut ini

Gambar 2.4 Struktur Dasar Flavonoid

B. Flavonoid Glikosida
Flavonoid glikosida adalah flavonoid dimana aglikonnya berikatan
dengan satu atau lebih gugus gula. Flavonoid glikosida dikelompokkan
menjadi 2 yaitu flavonoid-O-glikosida dan flavonoid-C-glikosida. Flavonoid-
O-glikosida adalah flavonoid dimana salah satu gugus hidroksil yang terikat
pada flavonoid berikatan dengan gula. Flavonoid-C-glikosida adalah
flavonoid dimana gula yang terikat langsung pada atom C daripada flavonoid
atau inti benzena dari flavonoid. Dalam kenyataaannya keberadaan di alam
flavonoid-O-glikosida jauh lebih banyak dibandingkan dengan flavonoid-C-
glikosida.

2.3 Identifikasi Senyawa Flavonoid


A. Uji Bate Smite-Metcalfe
Sejumlah tertentu sampel ditambahkan beberapa tetes H 2 SO 4 pekat,
kemudian dipanaskan di atas penangas air selama 15 menit. Reaksi positif jika
berwarna merah. Pereaksi Bate Smite-Metcalfe merupakan H 2 SO 4 yang
kemudian dipanaskan, H 2 SO 4 merupakan katalis asam yang menyebabkan

6
terjadinya reaksi subtitusi elektrofilik yang ditandai dengan perubahan warna
menjadi merah. (Theodora, Gunawan and Swantara, 2019) .
B. Uji Wilstater
Sejumlah tertentu sampel ditambahkan beberapa tetes HCl pekat dan
sedikit serbuk Mg. perubahan warna menjadi kuning menandakan sampel
positif flavonoid. Pereaksi Wilstater berfungsi untuk mereduksi inti
benzopiron pada struktur flavonoid sehingga terjadi perubahan warna menjadi
kuning sampai merah (Theodora, Gunawan and Swantara, 2019) .
C. Uji NaOH 10%
Sejumlah tertentu sampel ditambahkan beberapa tetes pereaksi NaOH
10%. Setelah itu sampel ditotolkan pada plat tetes. Reaksi positif jika terjadi
perubahan warna orange/jingga pada plat tetes. Pereaksi NaOH 10%
merupakan katalis basa yang menyebabkan terjadinya penguraian senyawa
flavonoid menjadi molekul asetofenon yang berwarna kuning sampai coklat
(Theodora, Gunawan and Swantara, 2019) .
D. Kromatografi Lapis Tipis
merupakan salah satu bentuk/model dari kromatografi cair dimana
sampel diaplikasikan sebagai noda atau goresan pada lapisan penyerap tipis
yang dilaburkan diatas lempeng plastic, gelas, atau logam (Sari,2011).
Beberapa alsan digunakan KLT diantaranya adalah penggunaan mudah,
dapat digunakan secara luas pada sampel yang berbeda, sensitivitasnya
tinggi, kecepatan pemisahan dan biaya yang relative murah. KLT dapat
digunakan untuk :
 Mengetahui kemurnian suatu senyawa.
 Memisahkan dan mengidentifikasi komponen dalam suatu campuran.
 Analisis kuantitatif dari satu atau lebih komponen yang terdapat dalam
sampel.
Keuntungan daripada pemakaian KLT antara lain :
 Solven yang digunakan sedikit,
 Polaritas dari solven dapat dirubah dan diatur dalam beberapa menit,

7
 Jumlah sampel yang diukur dalam satu kali pengukuran/pengembangan
lebih banyak, dalam satu palt KLT berukuran 20x20 cm dapat ditotolkan
lebih kurang 20 titik awal (Sari, 2011) .
2.4 Teknik Kromatografi Lapis Tipis
Teknik pemisahan kromatografi adalah metode pemisahan multi tahap
dimana komponen suatu sampel didistribusikan antara dua fase, yaitu fase diam
dan fase gerak. Keuntungan utama metode analisis kromatografi lapis tipis
dibandingkan metode analisis kromatografi cair kinerja tinggi adalah analisis
beberapa sampel dapat dilakukan secara simultan dengan menggunakan fase
gerak dalam jumlah kecil sehingga lebih hemat waktu dan biaya analisis serta
lebih ramah lingkungan (Wulandari, 2011).
Pada KLT, identifikasi awal suatu senyawa didasarkan pada perbandingan
nilai Rf dibandingkan Rf standar. Nilai Rf merupakan parameter yang
menyatakan posisi noda pada fase diam setelah dielusi. Penentuan harga Rf analit,
yaitu membandingkan jarak migrasi noda analit dengan jarak migrasi fase
gerak/eluen. Faktor-faktor yang menyebabkan nilai Rf bervariasi meliputi dimensi
dan jenis ruang, sifat dan ukuran lempeng, arah aliran fase gerak, volume dan
komposisi fase gerak, kondisi kesetimbangan, kelembaban, dan metode persiapan
sampel KLT sebelumnya (Wulandari, 2011).

Gambar 2.5 Retardation Factor


A. Prinsip KLT
Prinsip pemisahan pada KLT adalah berdasarkan polaritas. Afinitas
analit tehadap fase diam dan fase gerak tergantung kedekatan polaritas analit
terhadap fase diam dan fase gerak (like dissolve like). Analit akan cenderung
larut dalam fase dengan polaritas sama. Analit akan berpartisi diantara dua fase
yaitu fase padat-cair dan fase cair-cair. Ketika analit berpartisi antara fase padat
dan cair faktor utama pemisahan adalah adsorbsi. Sedangkan bila analit berpartisi

8
antara fase cair dan fase cair, faktor utama pemisahan adalah kelarutan
(Wulandari, 2011).
Cara menggunakan KLT :
1. Potong plat sesuai ukuran. Biasanya, untuk satu spot menggunakan
plat selebar 1 cm. berarti jika menguji 3 sampel (3 spot) berarti
menggunakan plat selebar 3 cm.
2. Buat garis dasar (base line) dibagian bawah, sekitar 0,5 cm dari ujung
bawah plat, dan garis akhir di bagian atas.
3. Menggunakan pipa kapiler, totolkan sampel cairan yang telah
disiapkan sejajar, tepat di atas base line. Jika sampel padat, larutkan
pada pelarut tertentu. Keringkan totolan.
4. Dengan pipet yang berbeda, masukkan masing-masing eluen ke dalam
chamber dan campurkan.
5. Tempatkan plat pada chamber berisi eluen. Base line jangan sampai
tercelup oleh eluen. Tutuplah chamber.
6. Tunggu eluen mengelusi sampel sampai mencapai garis akhir, di sana
pemisahan akan terlihat
7. Setelah mencapai garis akhir, angkat plat dengan pinset keringkan dan
ukur jarak spot. Jika spot tidah kelihatan, amati pada lampu UV. Jika
masih tak terlihat, semprot dengan pewarna tertentu seperti kalium
kromat, asam sulfat pekat dalam alcohol 96% atau ninhidrin.
B. Fase Diam
Fase diam berupa lapisan tipis, kering merata, terbuat dari bahan serbuk
halus dilapiskan secara akurat pada suatu lempeng kaca, plastik, atau aluminium.
Fase diam dari lempeng kromatografi lapis tipis (KLT) mempunyai ukuran
partikel rata-rata 10-15 µm (Depkes RI, 2020). Biasanya fase diam yang
digunakan pada metode ini adalah plat Silica Gel, seperti KLTKT silika gel 60 F
254, Kiesel Gel 254, dll. Alasan digunakannya silica gel karena senyawa
berflouresensi pada sinar UV terutama pada panjang gelombang 254 nm. Sinar
UV yang mengeksitasi zat pada panjang gelombang 254 nm tidak dapat

9
mencapai indikator flouresensi masing-masing zat sehingga bercak akan tampak
gelap yang dikelilingi bagian yang berflouresensi. Bagian berflouresensi
diakibatkan adanya senyawa sulfida yang ditambahkan pada permukaan silica gel
(Asra, Zulharmita and Amrul, 2017).
C. Fase Gerak
Dalam kromatografi lapis tipis pemilihan sistem pelarut yang dipakai
didasarkan atas prinsip like dissolves like (Gafur, Isa and Bialangi, 2012) . Fase
gerak atau pelarut pengembang digunakan dalam jumlah yang sesuai.
Perpindahan fase gerak melalui lempeng tipis disebabkan oleh gaya kapiler.
Adanya partikel fase diam yang berinteraksi dengan pelarut fase gerak
mengakibatkan timbulnya efek kapiler aglomerasi. Pelarut atau campuran pelarut
memasuki ruangan kapiler dalam kromatografi yang tersusun atas padatan,
berusaha untuk menurunkan kedua sifatnya yaitu luas permukaan bebas dan
energi bebasnya (Wulandari, 2011)

2.5 Eluen
A. Etil Asetat
Etil asetat adalah senyawa semi polar (Hidayah et al., 2016) berbentuk
cairan bening tidak berwarna dengan bau buah. Titik nyala 24 ° F. Kurang
padat dari air. Uap lebih berat dari udara. Sangat larut dalam air (64 g / L pada
25 ° C), dapat bercampur dengan etanol, etil eter dan kloroform; sangat larut
dalam aseton, benzena. Etil asetat dapat digunakan sebagai fase gerak (eluen)
dalam metode analisis denga KLT, dengan nilai eluent strength sebesar 0,94
(Meyer and Palamareva, 1993).

Gambar 2.6 Struktur kimia etil asetat

10
B. Toluene
Toluena adalah hidrokarbon aromatik yang terdiri dari cincin benzen
yang dihubungkan dengan satu gugus metil dan merupakan senyawa non-
polar. Toluena berwujud cairan tidak berwarna yang tidak dapat larut dalam
air. Toluene adalah turunan benzena tersubstitusi tunggal yang digunakan
sebagai pelarut atau sebagai zat antara kimia dalam berbagai aplikasi industri.
Menghirup toluena konsentrasi tinggi secara cepat dapat menyebabkan
komplikasi neurologis yang parah (Drugbank.com).
Toluena memiliki bau aromatik yang khas. Titik nyala 40 ° F. Kurang
padat dari air (7,2 lb / gal) dan dapat mengapung di atas air. Uap toluene lebih
berat dari udara. Toluena muncul secara alami dalam minyak mentah dan
pohon tolu. Ini juga diproduksi dalam proses pembuatan bensin dan bahan
bakar lain dari minyak mentah dan pembuatan kokas dari batubara (NCBI,
2021).

Gambar 2.7 Struktur kimia toluene


C. Asam Asetat Glasial
Asam Asetat adalah asam karboksilat sintetis dengan sifat antibakteri
dan antijamur. Asam asetat adalah asam monokarboksilat sederhana yang
mengandung dua karbon, merupakan senyawa polar protik yang sangat baik.
Asam asetat glasial berwujud cairan bening tidak berwarna dengan bau cuka
yang menyengat. Titik nyala 104°F, dengan densitas 8,8 lb/gal. Karena
keasamannya dapat menimbulkan korosif pada logam dan jaringan (NCBI,
2021)
Asam asetat, sebagai asam lemah, dapat menghambat metabolisme
karbohidrat yang mengakibatkan kematian organisme selanjutnya. Digunakan
untuk membuat bahan kimia lain, sebagai aditif makanan, dan produksi

11
Gambar 2.8 Struktur kimia asam asetat glasial

minyak bumi. Senyawa ini memiliki peran sebagai pelarut protik, pengatur
keasaman makanan, dan pengawet makanan (NCBI, 2021)

BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1 Bagan Alir


A. Preparasi Sampel

0,3g ekstrak + 3,l Residu IIIA IIIB IIIC IIID


n-heksana, kocok dilarutkan
ad fase n-heksana dalam 20 Bagi
tidak berwarna ml etanol menjadi 4
bagian

B. Reaksi Warna
1. Uji Bate-Smith dan Metcalf

Larutan IIIA larutan IIIB + 0,5 panaskan di


sebagai ml HCl pekat dan penangas air,
blanko diamati amati perubahan
perubahan warna warna

Bila perlahan-lahan menjadi warna merah terang atau ungu


menunjukkan adanya senyawa leukoantosianin (dibandingkan
dengan blanko)

12
2. Uji Wilstater

Larutan IIIA larutan IIIC + 0,5 ml + 2 ml aquadest


sebagai HCl pekat + 4 dan + 1ml
blanko potong magnesium, butanol satu per
diamati perubahan satu melalui
warna dinding tabung

Diamati warna yang terjadi di setiap lapisan. Perubahan warna


jingga = flavon ; merah pucat = flavonol ; merah tua = flavanon.

A. Kromatografi Lapis Tipis

Larutan IIID dan fase n-heksan ditotolkan pada fase


diam (Kiesel Gel 254)

Eluasi dengan fase gerak Kloroform : aseton : asam


formiat (6 : 6: (I gtt))

Lihat di bawah sinar UV 254nm dan 365nm

Berikan penampak noda : pereaksi sitrat borat atau


uap ammonia atau asam sulfat 10%

13
Noda kuning intensif = adanya flavonoida
- Uap ammonia = noda kuning sementara
- Sitrat-borat = noda kuning permanen

3.2 Deskripsi Prosedur Kerja


A. Preparasi sampel

1. 0,3 gram ekstrak dikocok dengan 3 ml n-heksana berkali-kali dalam tabung


reaksi sampai fase n-heksan tidak berwarna.

2. Residu dilarutkan dalam 20 mL etanol dan dibagi menjadi 4 bagian,


masing-masing disebut sebagai larutan IIIA, IIIB, IIIC, dan IIID.

B. Reaksi warna

1. Uji Bate-Smith dan Metcalf

1. Larutan IIIA sebagai blanko, larutan IIIB ditambah 0,5 ml HCl pekat dan
diamati perubahan warna yang terjadi, kemudian dipanaskan di atas
penangas air dan diamati lagi perubahan warna yang terjadi.

2. Bila perlahan-lahan menjadi warna merah terang atau ungu menunjukkan


adanya senyawa leukoantosianin (dibandingkan dengan blanko)

2. Uji Wilstater

1. Larutan IIIA sebagai blanko, larutan IIIC ditambah 0,5 ml HCl pekat dan 4
potong magnesium.

14
2. Diamati perubahan warna yang terjadi, diencerkan dengan 2 mL air suling
melewati dinding tabung, kemudian ditambah 1 ml butanol secara
perlahan-lahan melewati dinding tabung.

3. Diamati warna yang terjadi di setiap lapisan. Perubahan warna jingga


menunjukkan adanya flavon, merah pucat menunjukkan adanya flavonol,
merah tua manunjukkan adanya flavanon.

C. Kromatografi Lapis Tipis

1. Larutan IIID dan fase n-heksan (3.2.a.1) ditotolkan pada fase diam.

2. Uji kromatografi lapis tipis ini menggunakan :


Fase diam : lapisan tipis selulosa (diganti Kiesel Gel 254)
Fase gerak : Kloroform:aseton:asam formiat(6:6:(I gtt))
Penampak noda : pereaksi sitrat borat/uap amonia/asam sulfat 10%

3. Adanya flavonoid ditunjukkan dengan timbulnya noda berwarna kuning


intensif.

4. Noda kuning yang ditimbulkan oleh uap ammonia akan hilang secara
perlahan ketika amonianya menguap meninggalkan noda.

5. Sedangkan noda kuning yang ditimbulkan oleh pereaksi sitrat-borat sifatnya


permanen.

15
16
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

A. Uji Bate-Smith dan Metcalf

Gambar Keterangan Interpretasi


Timbul warna merah Positif leukoantosianin
tua

B. Uji Wilstater

Gambar Keterangan Interpretasi


Timbul warna jingga Positif Flavon

17
C. Nilai Rf

7,1
Rf 1 (Larutan IIIA) = = 0,89
8

6,5
Rf 2 (Larutan IIID) = = 0,8
8

D. Hasil Pengamatan Sinar UV

Sinar UV 254 nm Sinar UV 365 nm

18
4.2 Pembahasan

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa flavonoida


dalam tanaman Psidium guajava. Identifikasi senyawa ini menggunakan 2 metode
yaitu pewarnaan (uji Bate-Smith & Metcalf dan Wilstater) dan uji KLT. Sebelum
dilakukan pengujian warna, sampel ekstraksi dikocok dengan 3 ml n-heksana
berkali-kali dalam tabung reaksi sampai fase n-heksan tidak berwarna atau warna
hijaunya hilang. Proses ini  bertujuan untuk menarik senyawa nonpolar seperti
klorofil, lipid, protein pada ekstrak sehingga tidak mengganggu pengamatan
senyawa flavonoid. Pemilihan  pelarut n-heksan karena pelarut polar akan
melarutkan senyawa polar, begitu juga dengan pelarut non polar yang akan
melarutkan senyawa yang non polar. Pelarut yang memiliki konstanta dielektrik
yang besar akan lebih melarutkan senyawa polar sebaliknya pelarut yang
konstanta dielektriknya yang kecil akan melarutkan senyawa non-  polar (cotton,
(cotton, 2007). Kemudian hasil residu yang sudah di ekstraksi dengan n-heksana
dilarutkan dengan etanol 20 ml yang untuk menarik senyawa polar dan semipolar.
Larutan kemudian dibagi menjadi empat bagian yaitu III A, III B, III C, dan III D.

Uji warna yang pertama yaitu uji Bate-Smith dan Metcalf pada ekstrak
Psidium guajava L. dilakukan dengan penambahan 0,5 asam pekat HCl yang
kemudian dipanaskan. Tujuan penambahan dari HCl pekat adalah untuk
menghidrolisis atosianin menjadi aglikon atosianin dan memutuskan ikatan
glikosida pada senyawa organik. Sebelum dipanaskan tidak terjadi perubahan
warna, kemudian larutan dipanaskan dipenangas air untuk mempercepat
terjadinya hidrolisis. Hasil yang didapatkan pada praktikum sampel menunjukkan
perubahan warna menjadi merah tua. Hasil positif uji Smith dan Metcalf untuk
leukoantosianin akan memberikan warna merah kuat atau orange. Warna orange
atau merah yang terbentuk pada uji Bate Smith-Metcalf disebabkan karena
terbentuknya garam flavilium (Achmad, 1986). Hal ini menunjukan bahwa dalam
ekstrak Psidium guajava L. positif mengandung senyawa leukoantosianin.

Uji warna yang kedua yaitu uji Wilstater. Larutan ditambah HCL pekat dan
serbuk magnesium. Penambahan HCL pekat berfungsi untuk menghidrolisis
flavonoid menjadi aglikonnya yaitu dengan menghidrolisis O-glikosil. Glikosil
akan tergantikan oleh H+ dari asam karena sifatnya yang elektrofilik. Reduksi
dengan Mg dan HCL pekat ini menghasilkan senyawa kompleks yang berwarna
merah atau jingga pada flavonol, flavanon, flavanol dan xanton (Mariana, 2013).
Pada praktikum ini, didapatkan perubahan warna menjadi jingga. sehingga
terbentuk warna menjadi merah, kuning atau jingga. Hal ini menunjukan bahwa

19
dalam ekstrak Psidium guajava L. positif mengandung senyawa flavon. Reaksi
yang terjadi pada uji flavonoid ditunjukan oleh gambar :

Gambar 4.1 Uji Flavonoid


Uji yang terakhir adalah uji KLT. Pada praktikum ini sampel larutan IIIA dan
IIID di totolkan pada plat KLT lalu dicek dengan sinar UV dengan panjang
gelombang 254 nm dan 365 nm untuk mengecek apakah tampak noda. Uji
dilakukan dengan fase diam kiesel gel GF 254, fase gerak Kloroform: aseton:
asam formiat (6 : 6 : (I gtt)) dengan penampak noda uap amoniak. Adanya
flavonoid ditunjukkan dengan timbulnya noda berwarna kuning intensif. Setelah
dieluasi terdapat satu noda pada masing-masing totolan. Pada totolan larutan IIIA
nilai Rf yang didapatkan sebesar 0,89 , totolan larutan IIID didapatkan nilai Rf
sebesar 0,81. Jika dibandingkan dengan nilai Rf yang didapatkan nilai Rf
kelompok kami tidak sesuai dengan teori yang merujuk kepada nilai Rf flavonoid
esktrak Psidium guajava L. pada Farmakope Herbal Indonesia Edisi II yaitu
sebesar 0,70, Hal ini kemungkinan disebabkan karena perbedaan eluen yang
digunakan dan kurang teliti saat melakukan preparasi sampel.

20
BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa:


1. Untuk mengidentifikasi senyawa flavonoida pada ekstrak Psidium guajava L.
dapat digunakan beberapa pengujian seperti berikut : uji warna Bate Smith dan
Metcalf, Uji Wilstater, dan uji KLT
2. Pada uji warna Bate-Smith dan Metcalf menunjukan hasil bahwa Psidium
guajava L. positif mengandung leukoantosianin ditandai dengan timbulnya
warna merah tua.
3. Pada uji warna Wilstater positif mengandung flavon, hal ini ditunjukkan dengan
timbulnya warna jingga.
4. Pada uji KLT Psidium guajava  positif mengandung flavonoid yang ditandai
ditandai dengan noda berwarna kuning pada plat KLT.

21
DAFTAR PUSTAKA

Adnyana IK, Yulinah E, Sigit JI, Fisheri KN, Insanu M. 2004. Efek ekstrak daun
jambu biji daging buah putih dan jambu biji daging buah merah sebagai
antidiare. Acta Pharmaceutica Indonesia 29(1):19-27.
AgroMedia. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta: PT Agromedia Pustaka.
Ashari S. 2006. Hortikultura: Aspek Budidaya. Edisi revisi. Jakarta: UI-Press.
[Balitbu] Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. 2008. Tanaman yang berkhasiat
mengatasi demam berdarah dengue. Warta penelitian dan pengembangan
pertanian Vol. 30, No. 6 2008.
Fadhilah, A., Susanti, S., & Gultom, T. (2018). Karakterisasi Tanaman Jambu Biji
(Psidium guajava L.) di Desa Namoriam Pancur Batu Kabupaten Deli
Serdang Sumatera Utara. Prosiding Seminar Nasional Biologi dan
Pembelajarannya, 1670.
Fratiwi, Y. (2015). The Potential Of Guava Leaf (Psidium guajava L .) For Diarrhea,
Majority, 4(1), pp. 113–118.
[Foragri] Forum Kerjasama Agribisnis. 2011. Berkebun apple guava.
http://foragri.wordpress.com/2011/01/10/berkebun-apple-guava. [20 Januari
2011].
Gould WP, Raga A. 2002. Pest of guava. Di dalam: Pena JE, Sharp JL, Wysoki M,
editor. Tropical Fruit Pests and Pollinators: Biology, Economic Importance,
Natural Enemies, and Control. New York: CABI. Hlm 295- 313.
Mohamad Rafi, R. H. d. D. A. S., 2017. ATLAS Kromatografi Lapis Tipis Tumbuhan
Obat Indonesia. Kota Bogor-Indonesia: IPB Press.
Panhwar F. 2005. Genetically evolved of guava (Psidium gaajava) and its future in
Pakistan. Virtual Lybrary Chemistry. Http://www.ChemLin.com.
Rismunandar. 1989. Tanaman Jambu Biji. Bandung: Sinar Baru.
Rudi. (2014). Tanaman Daun Jambu Biji.

22

Anda mungkin juga menyukai