TINJAUAN DASAR SALEP
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Formulasi Dasar I
yang Diampu oleh Ibu Ika Ratna Hidayati, S.Farm., M.Sc., Apt.
Disusun oleh :
Nama : Rieka Nurul Dwi Anggraeni
NIM : 201510410311053
PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG TAHUN 2018
KATA PENGANTAR
ii
DAFTAR ISI
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topical pada kulit atau selaput lendir.
Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok: dasar salep senyawa
hidrokarbon, dasar salep serap, dasar salep yanng dapat dicuci dengan air, dasar salep larut dalam air.
Setiap salep obat mengandung salah satu dasar salep tersebut. (FI IV : 18).
Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa factor seperti khasiat yang diinginkan, sifat bahan
obat yang dicampurkanm ketersediaan hayati, stabilitas, dan ketahanan sediaan jadi.Dalam beberapa
hal, perlu menggunakan dasar salep yang kurang ideal
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana tinjauan dari setiap bahan dasar salep?
2. Bagaimana persyaratan dan pengujian salep menurut Farmakope Indonesia V?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui tinjauan dari setiap bahan dasar salep
2. Mengetahui persyaratan dan pengujian salep menurut Farmakope Indonesia V
iv
v
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tinjauan Dasar Salep
2.1.1 Vaselin
2.1.2 Parafin cair
2.1.3 Parafin padat
2.1.4 Lemak Bulu Domba
2.1.5 Malam/Lilin/Wax
2.1.6 Setil Alkohol
2.1.7 Minyak Tumbuh-tumbuhan
2.1.8 Dasar Salep Serap
Dasar salep absorbsi dapat menjadi dua tipe, yaitu :
a) Yang memungkinkan percampuran larutan berair, basil dan pembentukan emulsi
air dan minyak.
Misalnya : Petrotalum Hidrofilik dan Lanolin Anhidrat.
b) Yang sudah menjadi emulsi air minyak (dasar emulsi), memungkinkan
bercampurnya sedikit penambahan jumlah larutan berair.
Misalnya : Lanolin dan Cold cream
Dasar salep ini berguna sebagai emolien walaupun tidak mampu menutupi seperti yang
dihasilkan dasar salep berlemak.
Seperti dasar salep berlemak, dasar salep absorbsi tidak mudah dihilangkan dari kulit oleh
pencucian air.
a. Petrolatum Hidrofilik; dan kolesterol, alkohol stearat, lilin putih dan petrolatum
putih. Dasar salep ini memiliki kemampuan mengabsorbsi air dengan membentuk
emulsi dalam minyak.
vi
b. Lanolin Anhidrat adalah zat serupa lemak yang dimurnikan, diperoleh dari bulu
domba yang dibersihkan dan dihilangkan warna dan baunya dapat mengandung
tidak lebih dari 0,25% air. Massa seperti lemak, lengket, warna kuning, bau khas.
c. Lanolin adalah setengah padat, bahan seperti lemak diperoleh dari bulu domba,
merupakan emulsi air dan minyak yang mengandung air antara 25% - 30%.
Penambahan air dapat dicampurkan kedalam lanolin dengan pengadukan.
d. Cold Cream ( krim pendingin ), merupakan emulsi air dalam minyak, setengah
padat, putih, dibuat dengan lilin setil ester, lilin putih, minyak mineral, Natrium
Tetraborat dicampur dengan asam lemak bebas yang terdapat dalam lilin-lilin akan
membentuk sabun Natrium yang berfungsi sebagai zat pengemulsi.
Krim pendingin digunakan sebagai emolien dan dasar salep.
e. Campuran terdiri dari:
30 bagian kolesterol
30 bagian stearil alkohol
80 bagian malam putih
860 bagian vaselin putih.
Dasar salep ini mempunyai kemampuan mengabsorbsi air dalam membentuk
emulsi air dalam minyak.
f. Unguentum Molle terbuat dari :
Paraffin 22 bagian
Wolfet 10 bagian
Paraffin Liquidum 68 bagian
vii
Dilebur pada suru serendah mungkin, massa lembek seperti Vaselin dan tahan lama.
Mampu menyerap air 100%.
g. Unguentum Durum ( Pharmacope Jennan )
Paraffin 20 bagian
Wolfet 10 bagian
Paraffin Liquidum 50 bagian
Dibuat sama dengan unguentum Molle, konsistensinya agak keras dibanding
dengan unguentum Molle dan digunakan sebagai salep penutup. Sangat kuat
menyerap air sama dengan unguentum Molle.
Dasar ini juga berfaedah dalam farmasi untuk pencampuran larutan berair kedalam
larutan berlemak karena mudah menyerap air.
2.1.9 Krim Emulgid, Hydrophilic Oint, Vanishing Cream
2.1. 9. 1 Emulgide cream
adalah salap yang mengandung air, sering dibatasi hanya yang berjenis minyak dalam air.Emulgid atau
emulgide itu adalah salah satu pharmaceutical exipients yakni suatu emulgator bersifat asam (selain itu juga
punya kemampuan sebagai pengental) yang biasanya digunakan sebagai basis krim.
Warna: putih atau hampir putih, hampir tidak berwarna
Bau: mempunyai bau yang khas
Rasa: tidak berasa
Pemerian : berupa cairan lilin
Kelarutan:
- mudah larut dalam aerosol propelan, kloroform, dan Hidrokarbon.
- Cukup larut dalam etanol 95%
- Larut dalam bagian eter
- Tidak larut dalam eter
Bobot jenis : 0,94 g/cm3
viii
Stabilitas : emulsi non ionik paraffin
disimpan ditempat dingin dan kering yang tertutup rapat.
Inkompatibilitas : dengan tannin, phenol, dan bahan – bahan phenol, resorsinol dan benzokain
2.1.9.2 Hydrophilic oint
adalah basis salep terdiri dari 25 % masing-masing petrolatum putih dan alkohol stearil , 12 % propil glikol
emulsi dalam air 37 % dengan 1 % dari lauryl sulfate ; diawetkan dengan paraben . Cocok untuk
penggabungan berbagai obat dimaksudkan untuk aplikasi lokal, basis salep dicuci.
salep hidrofilik sering digunakan sebagai dasar atau kendaraan untuk bahan aktif lainnya atau obat-obatan
. Persiapan berkisar dari krim kering kulit untuk produk resep diperparah oleh apoteker untuk gangguan
kulit lainnya
2.1.9 3 Vanishing cream
umumnya emulsi minyak dalam air, mengandung air dalam presentase yang besar dan asam stearat. Setelah
pemakaian cream, air menguap meninggalkan sisa berupa selaput asam stearat yang tipis.
Banyak dokter dan pasien yang suka pada cream dari pada salep, untuk satu hal, umumnya mudah menyebar
rata dan dalam hal cream dari emulsi jenis minyak dalam air lebih mudah di bersihkan dari pada kebanyakan
salep pabrik farmasi sering memasarkan preparat topikalnya dalam bentuk dasar cream maupun salep,
kedua-duanya untuk memuaskan kesukaan dari dokter dan pasien.
2.1.10 Salep Polietilenglikol
Pemerian: umumnya ditentukan dengan bilangan yang menunjukkan bobot molekul rata-rata. Bobot
molekul rata-rata menambah menambah kelarutan dalam air, tekanan uap, higroskopisitas, dan
mengurangi kelarutan dalam pelarut organik, suhu beku, berat jenis, suhu nyala, dan naiknya kekentalan.
Bentuk cair umumnya jernih dan berkabut, cairan kental, tidak berwarna atau praktis tidak berwarna, agak
higroskopis, bau khas lemah. Bobot jenis pada suhu 25° lebih kurang 1,12.
Bentuk padat biasanya praktis tidak berbau dan tidak berasa, putih, licin, seperti plastik
mempunyai konsistensi seperti malam, serpihan butiran atau serbuk, putih gading.
Kelarutan : Bentuk cair bercampur dengan air. Bentuk padat mudah larut dalam air, larut dalam aseton,
dalam etanol 95%, dalam kloroform, dalametilen glikol mono etil eter, dalam etil asetat, dalam toluene;
tidak larut dalam eter dan heksan.
Kesempurnaan melarut dan warna larutan : Larutan 5 g dalam 50 ml air tidak berwarna : Jernih untuk
bentuk cair dan tidak lebih dari agak berkabut dari bentuk padat.
2.1.11 Salep Gliserin
ix
Gliserin mengandung tidak kurang dari 95,0% dan tidak lebih dari 101,0% C3H8O3
Pemerian : cairan; jenih seperti sirup; tidak berwarna; rasa manis; hanya boleh berbau khas lemah (tajam
atau tidak enak. Higroskopik; netral terhadap lakmus.
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air dan dengan etano; tidak larut dalam kloroform, dalam eter,
dalam minyak lemak dan dalam minyak penguap.
Dalam pembuatan salep, gliserin harus ditambahkan ke dalam dasar dalep yang dingi, sebab tidak bisa
dicampur dengan bahan dasar salep yang sedang mencair dan ditambahkan sedikit demi sedikit, sebab
tidak bisa diserap dengan mudah oleh dasar salep.
2.2 Persyaratan dan Pengujian Salep Menurut Farmakope Indonesia V
2.2.1 Persyaratan Salep
a) Pemerian : tidak boleh berbau tengik
b) Kadar : kecuali dinyatakan lain dan untuk salep yang mengandung obat keras atau
obat narkotik, kadar bahan obat adalah 10%
c) Dasar salep : kecuali dinyatakan lain, sebagai bahan dasar yang digunakan vaselin
putih
d) Homogenitas : Jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang
cocok, harus menunjukkan susunan yang homogeny
e) Penandaan : pada etiket harus juga tertera “OBAT LUAR”
2.2.2 Pengujian Salep
a) Pengamatan organoleptis
Pengamatan organoleptis suatu sediaan dilakukan dengan mengamati bentuk, warna,
bau dan tekstur sediaan,
b) Pemeriksaan homogenitas
Suatu sediaan harus menunjukkan susunan homogen dan tidak terlihat adanya butiran
kasar
c) Pengujian pH
Pengujian pH dilakukan untuk melihat pH salep yang dibuat berada pada rentang pH
normal kulit yaitu 4,5-7 atau tidak. pH yang terlalu basa akan mengakibatkan kulit
menjadi kering, sedangkan pH yang terlalu asam akan memicu terjadinya iritasi kulit.
d) Pengujian daya proteksi salep
Pengujian daya proteksi salep bertujuan untuk mengetahui kemampuan salep untuk
melindungi kulit dari pengaruh luar seperti asam, basa, debu, polusi, dan sinar
matahari. Sediaan salep yang baik seharusnya mampu memberikan proteksi terhadap
semua pengaruh luar supaya tidak berpengaruh pada efektifitas salep terhadap kulit.
e) Uji daya sebar
Uji daya sebar pada salep dilakukan untuk melihat kemampuan sediaan menyebar
pada kulit, di mana suatu basis salep sebaiknya memiliki daya sebar yang baik untuk
menjamin pemberian bahan obat yang baik.
f)
x
BAB III
PENUTUPAN
3.1 Kesimpulan
1. Masing-masing basis atau dasar salep memiliki karakteristik yang berbeda-beda, hal ini tentu
mempengaruhi pula dalam pembuatan sediaan salep. Harus dimengerti bahwa tidak ada dasar
yang ideal dan juga tidak ada yang memiliki semua sifat yang diinginkan. Pemilihan dasar salep
adalah untuk mendapatkan dasar salep yang secara umum menyediakan segala yang dianggap
sifat yang paling diharapkan untuk menghasilkan sediaan salep yang baik, cocok dengan bahan
aktif obat, dan dapat memberikan efek terapeutik yang diharapkan kepada pasien.
2. Beberapa basis atau dasar salep yang sering digunakan dalam proses pembuatan sediaan salep
antara lain :
Vaselin
Parafin Cair
Parafin Padat
Lemak Bulu Domba atau Adeps Lanae
Malam atau Lilin
Setil Alkohol
Minyak tumbu-tumbuhan
Dasar salep serap
Krim emulgid, Hydrophilic ointment, Vanishing cream
Salep Polietilenglikol
Salep Gliserin
xi