Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH BAHASA INDONESIA

TEPATKAH KENAIKAN CUKAI ROKOK TEMBAKAU?

Disusun Oleh:

Gagah Baskoro Azhari

(20190420004)

Kelas:

Akuntansi A

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendapatan negara Indonesia berasal dari beberapa sektor seperti pajak,
BUMN, bea, cukai, dan lain lain. Salah satu pendapatan negara yang paling
besar yaitu berasal dari cukai rokok. Dilansir dari tirto.id, pendapatan negara
dari cukai rokok tembakau telah mencapai Rp 77 T per Agustus 2019. Namun
disatu sisi, Indonesia saat ini sedang mengalami ancaman serius akibat
meningkatnya jumlah perokok di Indonesia. Menurut Riskesdas pada tahun
2013, diprediksi 97 juta penduduk Indonesia akan terpapar asap rokok. Selain
itu, penyebab kematian akibat kanker di Indonesia sebagian besar diakibatkan
oleh kanker paru sebesar 12,6% (Globacon, 2018). Oleh karena itu, pemerintah
akan menaikkan tarif cukai rokok tembakau per tanggal 1 Januari 2020 dari
Rp590,00 menjadi Rp740,00 per batang sehingga batas harga jual eceran per
batang naik dari Rp1.120,00 menjadi Rp1.790,00 per batang (CNN Indonesia,
2019). Walaupun di satu sisi rokok menjadi salah satu pendapatan terbesar
negara, Indonesia juga berusaha untuk mengurangi para pengguna rokok yang
saat ini bahkan tidak hanya para orang dewasa saja yang hanya menggunkan,
namun juga anak kecil telah ikut mencoba untuk menggunakan rokok.
Kenaikan tarif rokok tembakau ini menuai pro dan kontra. Kenaikan
tersebut memiliki dampak positif yang dapat mengurangi pengguna rokok
sehingga dianggap dapat menurunkan angka pengidap kanker di Indonesia.
Namun, kebijakan tesebut diresahkan oleh masyarakat terutama para perokok.
Beberapa tidak mempersalahkan karena telah beralih dari rokok tembakau ke
rokok elektrik. Akan tetapi, masyarakat yang tetap bertahan pada rokok
tembakau meresahkan harga rokok tembakau yang dinaikkan per tanggal 1
Januari 2020. Disisi lain,kebijakan ini mendapat dukungan dari para kalangan
yang tidak merokok. Kebijakan ini dapat menekan jumlah pengguna rokok

1
sehingga hak para masyarakat yang tidak merokok dapat terpenuhi. Pemerintah
telah melakukan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tembakau sebanyak 6x
yaitu pada tahun 2001, 2003, 2004, 2008, 2014, dan terakhir 2018. Sehingga
kebijakan ini dianggap tidak terlalu berpenaruh terhadap pendapatan negara
dari sektor cukai dan diharapkan kebijakan ini dapat mengurangi jumlah
pengguna rokok di Indonesia.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, pokok permasalahan yang akan
dibahas adalah sebagai beikut:
1. Apakah kenaikan tarif cukai rokok tembakau dapat mengurangi
pendapatan negara dari sektor cukai?
2. Apakah penderita kanker paru di Indonesia akan menurun setelah
kebijakan ini ditetapkan?
3. Mengapa pemerintah menaikkan tarif cukai rokok tembakau?
4. Bagaimana penerapan kebijakan menaikkan tarif cukai rokok
tembakau?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembahasan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengaruh kenaikan tarif cukai rokok tembakau
terhadap pendapatan negara
2. Untuk mengetahui pengaruh kenaikan tarif cukai rokok tembakau
tehadap jumlah penderita kanker paru di Indonesia
3. Untuk mengetahui alasan pemerintah menaikkan tarif cukai rokok
tembakau
4. Untuk mengetahui langkah pemerintah dalam penerapan kebijakan
kenaikan tarif cukai rokok tembakau

2
D. Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil pembahasan ini adalah
sebagai berikut:
1. Pemerintah diharapkan dapat menjadikan pembahasan ini sebagai
pertimbangan dalam membuat kebijakan kenaikan tarif cukai rokok
tembakau
2. Menjadikan pertimbangan masyarakat untuk mengurangi jumlah
perokok dan jumlah penderita kanker paru di Indonesia
3. Sebagai pertimbangan para pengusaha tempat makan dalam mengelola
area merokok dan bagi pemerintah dalam menetapkan beberapa tempat
bebas asap rokok

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Hubungan Kenaikan Tarif Cukai Rokok Terhadap Pendapatan Negara


Cukai merupakan pungutan yang dilakukan oleh negara terhadap suatu
produk. Cukai diberlakukan untuk mengendalikan peredaran barang di suatu
negara. Chaloupka et al. dalam Budilaksono dan Rustiningsih (2000)
melakukan penelitian tentang konsumsi tembakau untuk negara yang
berpenghasilan rendah, berpenghasilan menengah, dan berpenghasilan tinggi,
dan menemukan bahwa harga yang lebih rendah akan menyebabkan kenaikan
konsumsi tembakau. Permintaan akan tembakau lebih besar di negara
berpenghasilan rendah dibandingkan dengan negara berpenghasilan tinggi.
Meihat hasil penelitian terebut, kenaikan tarif cukai rokok dapat menurunkan
angka para pengkonsumsi rokok di Indonesia. Hal ini dapat menekan jumlah
pengidap kanker paru di Indonesia. Namun, fokus pemerintah dalam
menaikkan kenaikan tarif cukai rokok yaitu memfokuskan pada aspek
pendapatan negara, kemudian kesehatan, dan tenaga kerja. Dengan adanya
kenaikan tarif cukai rokok, maka pendapatan negara dari sektor cukai rokok
akan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (Budilaksono dan
Ratuningsih, 2013).
Semakin meningkatnya jumlah pengkonsumsi rokok di Indonesia
membuat pemerintah tidak ragu dalam menaikkan tarif cukai rokok. Hal ini
dikarenakan Indonesia menduduki urutan pertama di ASEAN sebagai negara
dengan jumlah perokok terbanyak sebesar 46,16% dari keseluruhan penduduk
ASEAN. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara dengan harag rokok
termurah di ASEAN. Dilain sisi, sebesar 40% perokok di Indonesia adalah
orang miskin. Sebesar 60% pendapatan digunakan untuk membeli rokok
(UMY, 2018). Melihat dari data tersebut, kenaikan tarif cukai rokok ini
memiiki pengaruh terhadap pendapatan negara. Pendapatan negara dari sektor

4
cukai akan mengalami kenaikan karena meihat dari track record tahun
sebelumnya ketika Indonesia menaikkan tarif cukai rokok, pendapatan negara
terus mengalami kenaikan dari sektor cukai rokok. Hal ini dikarenakan
penduduk Indonesia yang menjadikan rokok sebagai kebutuhan primer
sehingga kenaikan tarif rokok tidak akan mengurangi jumlah konsumsi rokok
masyarakat Indonesia.

B. Hubungan Kenaikan Tarif Cukai Rokok Terhadap Jumlah Penderita


Kanker Paru Di Indonesia
Kanker paru merupakan sel yang tumbuh tidak terkendali yang terjadi
di paru. Salah satu faktor risiko kanker paru yaitu rokok. Berdasarkan data
Globacon tahun 2012, kanker paru merupakan penyebab kematian nomor dua
setelah kanker payudara, yaitu sebesar 15,9%. Laki-laki merupakan pengidap
kanker paru terbanyak. Hal ini dikarenakan jumlah pengkonsumsi rokok
sebagian besar adalah para laki-laki (Kemenkes, 2018). Melihat data terebut,
kenaikan tarif cukai rokok yang dilakukan oleh pemerintah selain untuk
meningatkan pendapatan negara dari sektor cukai rokok, juga untuk
mengurangi pengkonsumsi rokok di Indonesia. Dengan sedikitnya
pengkonsumsi rokok, maka akan menurunkan angka pengidap kanker di
Indonesia. Namun, Indonesia saat ini telah memasuki MEA (Masyarakat
Ekonomi ASEAN) sehingga membuat perdagangan lebih bebas bagi negara
kawasan Asia Tenggara. Akibat dari perdangan yang semakin bebas
menyebabkan salah satunya perusahaan tembakau transnasional seperti Philip
Moris, British American Tobacco, dan Japan Tobacco International masuk ke
Indonesia sehingga membuat produksi rokok di Indonesia semakin besar dan
membuat penawaran terhadap rokok akan semakin agresif. Upaya pemerintah
dalam mengurangi jumlah rokok yang beredar dengan menaikan tarif cukai
rokok akan terhambat dengan adanya perusahaan transnasional ini karena

5
perusahaan tembakau transnasional ini pendukung kuat kebijakan penurunan
tarif dan pasar pedagangan bebas. (Budilaksono dan Ratuningsih, 2013).
Dalam komunitas ekonomi ASEAN semua hambatan perdagangan
harus dihilangkan, semua langkah-langkah dalam pengendalian tembakau bisa
menjadi sengketa di WTO. Sehingga upaya pemerintah Indonesia untuk
mengendalikan peredran rokok akan semakin sulit. Beberapa upaya yang telah
dilakukan pemerintah Indonesia yaitu dengan memasang peringatan kesehatan
di bungkus rokok. Namun, hal ini tidak membuat jumlah perokok di Indonesia
menurun dan bahkan meningkat. Upaya lain yang dilakukan oleh pemerintah
Indonesia yaitu dengan menaikan tarif rokok eceran dipasar melalui kenaikan
tarif cukai rokok. Namun, melihat dari upaya pemerintah menaikkan tarif cukai
rokok dari tahun ke tahun, tidak membuat pengkonsumsi rokok di Indonesia
menurun. Melihat fenomena tersebut, kenaikan tarif cukai rokok ini tidak akan
mengurangi jumlah perokok di Indonesia dan jumlah pengidap kanker paru di
Indonesia dan bahkan ada kemungkinan pengidap kanker paru akan meningkat
melihat semakin meningkatnya jumlah perokok di Indonesia.

C. Alasan Kenaikan Tarif Cukai Rokok Tembakau


Pemerintah Indonesia tidak hanya kali ini saja menaikkan tarif cukai
rokok. Hal ini dilakukan pemerintah dikarenakan harga rokok di Indonesia
sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya. Akibat terlalu
murahnya harga rokok menyebabkan masyrakat dengan mudah memperoleh
rokok tanpa terkecuali anak dibawah umur (Depari, 2019). Data Riskedas tahun
2018 menunjukkan telah terjadi peningkatan perokok usia 18 tahun dari 7,2%
pada tahun 2013 menjadi 9,1% pada tahun 2018 (Irianto, 2019). Kenaikan tarif
cukai rokok yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi jumlah
pengkonsumsi rokok dibawah umur serta untuk mengurangi jumlah pengidap
kanker paru di Indonesia yang tiap tahun terus mengalami kenaikan. Dilain sisi,
kenaikan tarif cukai rokok ini juga untuk meningkatkan pendapatan negara dari

6
sektor cukai rokok melihat dari tahun-tahun sebelumnya pendapatan negara
terus mengalami kenaikan.

D. Penerapan Kebijakan
Kenaikan tarif cukai rokok pada tahun 2020 telah dikonfirmasi oleh
Menteri Keuangan RI, Ibu Sri Mulyani. Kebijakan ini menetapkan empat aspek
yaitu pengendalian konsumen, pemberantasan rokok ilegal, kelangsungan pasar
tenaga kerja, dan penerimaan negara dari penerimaan cukai. Kebijakan ini akan
mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2020. Perusahaan tembakau akan mulai
menjual produknya sesuai dengan harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Perusahaan industri rokok akan membayar cukai kepada pemerintah sehingga
apabila perusahaan terebut memasang harga dibaawah harga kebijakan
pemerintah, maka perusahaan tersebut akan mengalami kerugian. Hal ini
dilakuan pemerintah untuk meningkatkan pendapatan negara dari sektor cukai
dan untuk mengendalikan jumlah peredaran rokok di Indonesia.
Besarnya tarif cukai yang ditetapkan oleh pemerintah ditetapkan dengan
dua cara, yaitu:
1. Advarolem (tarif prosentase)
Cukai dikenakan dengan cara menetapkan besaran prosentase
tarif terhadap harga jual barang kena cukai.

2. Spesifik (tarif normal)


Cukai dikenakan dengan menetapkan besaran rupiah terhadap
satuan volume barang kena cukai, seperti Rp/batang atau Rp/liter.

7
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kenaikan tarif cukai rokok yang dilakukan pemerintah Indonesia pada
tahun 2020 bukan yang pertama kalinya. Indonesia telah lama menaikkan tarif
cukai rokok. Hal ini dilakukan pemerintah melihat tarif cukai rokok di
Indonesia tergolong rendah dibandingkan negara Asia yang lain. Selain itu,
kenaikan tarif cukai rokok yang dilakukan pemerintah bertujuan untuk
mengurangi pengkonsumsi rokok di Indonesia terutama pada masyarakat
dibawah umur dan untuk mengurangi pengidap kanker paru di Indonesia serta
meningkatkan pendapatan negara dari sektor cukai. Dalam perumusan
kebijakan ini, pemerinttah menggunakan dua cara, yaitu:
1. Advarolem (tarif prosentase)
Cukai dikenakan dengan cara menetapkan besaran prosentase
tarif terhadap harga jual barang kena cukai.
2. Spesifik (tarif normal)
Cukai dikenakan dengan menetapkan besaran rupiah terhadap
satuan volume barang kena cukai, seperti Rp/batang atau Rp/liter.

B. Saran
Langkah pemerintah dalam menaikkan tarif cukai sangatlah tepat.
Namun, langkah pemerintah dalam mengurangi jumlah perokok di Indonesia
hanya menaikkan tarif cukai rokok masih dinilai kurang. Hal ini melihat
semakin banyaknya masyarakat yang beralih ke rokok elektrik. Apabila
pemerintah tidak mengenakan tarif bea cukai terhadap rokok elektrik, maka
jumlah perokok di Indonesia tidak akan menurun. Oleh karrena itu, pemerintah
sebaiknya menaikkan tarif cukai rokok dan juga membuat menetapkan bea
cukai terhadap rokok elektrik untuk menekan angka perokok di Indonesia dan
penambahan pendapatan negara dari sektor bea cukai.

8
DAFTAR PUSTAKA

Depari, I. (2019, Juli 9). Cukai rokok di Indonesia. Diambil kembali dari Wikipedia:
https://id.wikipedia.org/wiki/Cukai_rokok_di_Indonesia
Indonesia, C. (2019, Oktober 24). Sri Mulyani Resmi Naikkan Tarif Cukai Rokok
Sebesar 25 Persen. Diambil kembali dari CNN Indonesia:
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20191024135356-532-442525/sri-
mulyani-resmi-naikkan-tarif-cukai-rokok-sebesar-25-persen
Irianto, R. P. (2019, Oktober 4). Jumlah Perokok di Bawah 18 Tahun di Indonesia
masih Tinggi. Diambil kembali dari Media Indonesia:
https://mediaindonesia.com/read/detail/263411-jumlah-perokok-di-bawah-18-
tahun-di-indonesia-masih-tinggi
Kemenkes. (2018). Pedoman pengendalian risiko kanker paru. Jakarta: Kementrian
Kesehatan RI,
http://p2ptm.kemkes.go.id/uploads/VHcrbkVobjRzUDN3UCs4eUJ0dVBndz0
9/2018/04/Buku_Pedoman_Pengendalian_Faktor_Risiko_Kanker_Paru_Tahu
n_2018.pdf
Ratuningsih, H., Budilaksono A. (2013). ANALISIS KEBIJAKAN TARIF CUKAI
ROKOK DALAM MENGHADAPI PASAR TUNGGAL ASEAN ECONOMIC
COMMUNITY 2015. Jakarta: Kementrian Keuangan Republik Indonesia Badan
Pendidikan dan Pelatihan Keuangan,
https://bppk.kemenkeu.go.id/id/publikasi/kajian-
akademis?download=78:kajian-akademis-2013-agung-budilaksono-hanik-
rustiningsih&start=20
UMY, B. (2018, Juni 5). Jumlah Perokok di Indonesia Masih Tinggi. Diambil kembali
dari UMY web site: http://www.umy.ac.id/jumlah-perokok-di-indonesia-
masih-tinggi.html