Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah Pembangunan jangka panjang (PJP II) Mengamanatkan bahwa pembangunan industri harus terus ditingkatkan dan diarahkan agar sektor industri menjadi penggerak utama ekonomi. Dengan sasaran, terwujudnya sektor industri yang kuat dan maju sehingga mampu menunjang terciptanya perekonomian yang mandiri dan handal (GBHN, 1993). Agar terciptanya dan tercapainya sasaran pembangunan industri, maka prioritas pengembangan industri mengarah kepada agroindustri. Salah satu agroindustri yang sangat strategis dalam perekonomian nasional adalah industri rokok. Industri rokok kretek baik di sisi hulu maupun hilir telah terbukti memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional. Efek pelipatgandaan yang ada di dalam rantai panjang mulai dari hulu ke hilir telah menciptakan aliran ekonomi yang besar. Beberapa indikator penting yang dapat digunakan untuk mengukur tentang besarnya peranan dan kontribusi sektor agroindustri ini misalnya dapat dilihat dari sumbangan devisa hasil eksport, sektor cukai pita rokok, pembayaran berbagai pajak, jumlah tenaga kerja yang dapat diserap serta bentukbentuk sumbangan pembangunan dan kontribusi yang bersifat sosial lainnya. Sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi peta perekonomian nasional.

Rokok kretek ini merupakan industri yang sangat khas dan spesifik. Dapat dikatakan tidak satupun negara yang memiliki jaringan industri rokok kretek setua dan seluas Indonesia. Rokok kretek ini produk industri yang terbukti tangguh mampu bersaing dengan rokok putih yang buatan luar negeri. Produksi rokok kretek selama enam tahun terakhir selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 1995 produksi rokok kretek sebanyak 162,619 milyar batang, kemudian pada tahun 1996 produksi meningkat sebesar 170,436 milyar batang. Kemudian tahun 1997 meningkat menjadi 179,051 milyar batang. Pada tahun 1998 kembali mengalami peningkatan menjadi 188,265 milyar batang. Sedangkan tahun 1999 meningkat menjadi 198,995 milyar batang dan tahun 2000 kembali meningkat menjadi 203,103 milyar batang. Hal tersebut dapat di lihat pada tabel. 1.1 di bawah ini : Tabel .1.1 Jumlah Produksi Rokok kretek Indonesia tahun1995 -2000 No Tahun Jumlah Produksi yang di hasilkan 1. 1995 162,619 milyar batang 2. 1996 170,436 milyar batang 3. 1997 179,051 milyar batang 4. 1998 198,265 milyar batang 5. 1999 198,995 milyar batang 6. 2000 203,103 milyar batang Sumber : Jurnal Pasar Modal Indonesia April 2000 Sebagai suatu industri, sumbangan rokok kretek terhadap perekonomian tidak kecil, terutama dari pembelian pita cukai dan penyerapan tenaga kerja. Cukai rokok telah menjadi salah satu sumber penerimaan negara yang potensial. Bahkan dibandingkan pajak lainnya, cukai rokok memiliki proporsi menentukan dalam penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam.

Selain cukai, sumbangan industri rokok juga diperoleh dari ekspor rokok. Perkembangan ekspor rokok kretek ini terus meningkat sesuai dengan permintaan dan mulai diterimanya produk rokok kretek di dunia internasional. Industri rokok kretek merupakan industri yang mempunyai rantai produksi yang panjang. Penyerapan tenaga kerja pada industri hasil tembakau dan rokok kretek dapat di pilah menjadi dua bagian. Pertama, penyerapan tenaga kerja langsung (agribisnis primer) kurang lebih 3,5 juta orang bekerja di sektor perkebunan (tembakau dan cengkeh) mulai dari penanaman, pengolahan, dan sortasinya. Kedua penyerapan tenaga kerja tidak langsung (agribisnis sekunder) di industri hilirnya mulai dari produksi (buruh pabrik rokok kretek) sebanyak 226.175 orang pada tahun 1997, pemasaran (pedagang dan pengecer lainnya) lebih dari satu juta tenaga kerja, sampai kepada transportasi dan tenaga kerja di bidang periklanan lebih dari 500 tenaga kerja. Industri rokok kretek sampai saat ini masih menjadi sandaran akhir bagi petani tembakau dan cengkeh untuk menampung hasil jerih payahnya. Sebab selama ini hampir seratus persen produksi tembakau, cengkeh rakyat diserap untuk industri tersebut, yang merupakan bahan baku utama. Menurut ketua umum Gappri, Ismanu Sumiran, setiap tahunnya pabrik rokok di Indonesia yang berjumlah hampir 150 pabrik, ratarata memproduksi rokok kretek mencapai 120 miliar batang, dengan kebutuhan tembakau dan cengkeh tidak kurang dari 200.000 ton dan 100.000 ton. Dengan sumbangan ekonomi dan sosial seperti tersebut di atas, sulit untuk dibantah bahwa industri rokok kretek telah berkembang menjadi industri yang mapan. Kepulan asap di atas cerobong dan di ujung rokok kretek

bukan sekedar asap semata, melainkan telah menjadi saksi tentang peran industri rokok di dalam pembangunan ekonomi baik di daerah maupun pada skala nasional. Industri rokok kretek di Indonesia selain menjadi suatu industri yang mempunyai peran besar dalam perekonomian, terutama penerimaan

pemerintah dari cukai, devisa dari ekspor, juga dalam penyerapan tenaga kerja. Tetapi pada sisi lain komoditi rokok, termasuk rokok kretek adalah merupakan suatu komoditi yang merugikan kesehatan, baik bagi perokok maupun bagi orang lain yang ada di sekitarnya. Dalam mengembangkan usahanya rokok kretek tidak lepas dari ancaman yang menghadang. Seperti gerakan anti rokok yang sedang gencar di laksanakan baik oleh pemerintah maupun kelompokkelompok yang mendukung ini. Gemuruh gelombang anti rokok yang terus mencoba menghempaskan industri rokok diberbagai belahan dunia, agaknya tetap menjadi arus yang sangat besar. Dengan di komandani oleh WHO, gelombang anti rokok terus mencoba menyudutkan industri rokok. Berbagai laporan kesehatan dikeluarkan untuk memperkuat argumentasi tentang buruknya rokok bagi kesehatan. Selain itu langkahlangkah pembatasan rokok dilakukan untuk mereduksi konsumsi rokok di masyarakat luas. Negaranegara industri maju merupakan sponsor utama kampanye anti penggunaan produk rokok ini. Kampanye ini akhirnya juga di ikuti oleh negaranegara berkembang melalui tekanantekanan yang dilakukan oleh WHO.

Ada berbagai cara yang dilakukan di beberapa negara untuk membatasi laju pertumbuhan rokok. Diantaranya dengan menaikkan harga penjualan rokok, cara yang efektif lain dengan cara membatasi promosi dan iklan rokok di sejumlah media, pembatasan lainnya adalah dengan mempersempit ruang gerak penjualan rokok, hal tersebut efektif untuk menghindarkan perluasan konsumsi rokok. Selain itu pencantuman tanda peringatan bahaya merokok pada bungkus rokok maupun iklan dan promosi. Meskipun gerakan anti rokok ini di Indonesia masih lemah, tetapi dampaknya setidaknya mengurangi kesempatan para konsumen rokok. Di masamasa yang akan datang gerakan ini akan terus. Di Indonesia, pemerintah melalui regulasiregulasinya yang meliputi hampir seluruh proses produksi rokok, seperti dalam hal pengenaan harga pita cukai rokok, pengadaan bahan baku cengkeh, penetapan harga jual eceran (HJE), penentuan pemakaian mesin dan lainnya. Regulasiregulasinya pemerintah ini sering bergantiganti, sehingga hal ini menyulitkan industri rokok kretek, karena rokok kretek mempunyai karakteristik pasar yang spesifik dan sensitif. Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka dalam penelitian ini saya tertarik untuk mengadakan penelitian dengan mengambil judul ANALISIS FAKTORFAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENAWARAN 19902000 . ROKOK KRETEK DI INDONESIA PERIODE

B.

Perumusan Masalah Dalam penulisan skripsi di atas serta telah dikemukakan latar belakang masalah, maka timbullah beberapa permasalahan sebagai berikut : 1. Seberapa besar pengaruh input (biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja, harga tembakau dan harga cengkeh) terhadap jumlah rokok kretek yang ditawarkan ? 2. Seberapa besar pengaruh kebijaksanaan pemerintah terhadap jumlah rokok kretek yang ditawarkan ? 3. Seberapa besar pengaruh teknologi terhadap jumlah rokok kretek yang ditawarkan ? 4. Diantara variabel input (biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja, harga tembakau, harga cengkeh), Kebijaksanaan Pemerintah dan Teknologi, (model regresi dalam penelitian ini) Manakah yang paling dominan berpengaruh terhadap penawaran rokok kretek ? Penelitian menggunakan data sekunder, tahun yang diambil antara tahun 19902000. Rentang waktu tersebut diambil untuk mengetahui kondisi penawaran rokok kretek di Indonesia dari masa sebelum krisis ekonomi dan memasuki krisis ekonomi.

C.

Tujuan Penelitian Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang faktorfaktor yang mempengaruhi penawaran rokok kretek di Indonesia. Setelah mengetahui latar belakang dan permasalahan yang dikemukakan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

5. Untuk mengetahui pengaruh input (biaya tenaga kerja, harga tembakau dan harga cengkeh) terhadap jumlah rokok kretek yang ditawarkan. 6. Untuk mengetahui pengaruh kebijaksanaan pemerintah terhadap jumlah rokok kretek yang ditawarkan. 7. Untuk mengetahui pengaruh teknologi terhadap jumlah rokok kretek yang ditawarkan. 8. Untuk mengetahui variabel input (biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja, harga tembakau, harga cengkeh), kebijaksanaan pemerintah dan teknologi yang paling dominan berpengaruh terhadap penawaran rokok kretek.

D.

Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan sebagai pertimbangan : 9. Bagi Produsen rokok kretek . Menentukan kebijaksanaan dalam menentukan produksi. 10. Bagi Petani Cengkeh dan Tembakau. Sebagai acuan untuk meningkatkan kualitas hasil tembakau. Mengetahui harga cengkeh dan tembakau. 11. Bagi Pemerintah Berguna menentukan kebijaksanaan yang banyak memainkan peran bagi industri tersebut.

E.

Kerangka Pemikiran Harga Tenaga Kerja (P1) Harga Tembakau (Pt) Harga Cengkeh (Pc) Kebijaksanaan Pemerintah (D) Teknologi (T) Gambar.1.1. Kerangka Pemikiran Dari teori dan model yang digunakan di atas, maka dapat di buat suatu kerangka pemikiran penawaran rokok kretek di Indonesia, seperti pada gambar1.1. Pada gambar tersebut dijelaskan jika harga input yang terdiri dari biaya atau harga tenaga kerja, harga tembakau dan harga cengkeh mengalami kenaikan maka jumlah rokok yang ditawarkan akan berkurang. Sedangkan jika kebijaksanaan pemerintah dan teknologi mengalami kenaikan maka jumlah rokok yang ditawarkan (Qs) akan meningkat. Jadi faktor yang mempengaruhi jumlah rokok yang ditawarkan (Qs) yaitu biaya atau harga tenaga kerja (P1), harga tembakau (Pt) dan harga cengkeh (Pc), kebijaksanaan pemerintah (D) dan teknologi (T). Jumlah yang ditawarkan(Qs)

F.

Hipotesis Untuk mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi penawaran rokok kretek di Indonesia diajukan hipotesis sebagai berikut : 12. Diduga input (harga atau biaya tenaga kerja, harga tembakau, harga cengkeh) mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah rokok kretek yang ditawarkan. 13. Diduga kebijaksanaan pemerintah mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah rokok kretek yang ditawarkan. 14. Diduga teknologi mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah rokok kretek yang ditawarkan. 15. Diduga diantara variabel input (biaya yang digunakan untuk tenaga kerja, harga tembakau, harga cengkeh), kebijaksanaan pemerintah dan teknologi yang paling dominan berpengaruh adalah variabel harga tembakau.

G.

Metode Penelitian 16. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini bersifat analisis deskritif dengan cara mengumpulkan data, mengklasifikasikan data kemudian menginterprestasikan. Dalam hal ini penulis mengambil lokasi seluruh Indonesia. Metode yang penelitian ini adalah data sekunder dari tahun19902000. 17. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari tahun 1990 sampai 2000, dan sumber yang diambil dari: a. Badan Pusat Statistik (BPS).

10

b. Gabungan Perusahaan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI). c. Departemen Perindustrian. d. Jenis data yang digunakan data sekunder dari tahun 1990 sampai 2000. 18. Definisi Operasional Variabel Variabelvariabel yang akan digunakan untuk penelitian secara Pertanian dan Departemen Perdagangan serta

operasional dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Harga atau biaya tenaga kerja (P1) adalah besarnya pengeluaran yang dikeluarkan oleh produsen untuk biaya tenaga kerja pada industri besar dan sedang dalam satuan rupiah. b. Harga input tembakau (Pt) adalah tingkat harga tembakau pada perdagangan besar di propinsi seluruh Indonesia dalam satuan rupiah per ton. c. Harga input cengkeh (Pc) adalah tingkat harga cengkeh pada perdagangan besar di propinsi seluruh Indonesia dalam satuan rupiah per ton. d. Kebijaksanaan Pemerintah (D) adalah suatu kebijaksanaan dimana pemerintah melalui regulasinya dalam produksi rokok, untuk menentukan cukai rokok dalam satuan rupiah. e. Teknologi (T) adalah suatu alat proses produksi dimana perusahaan tersebut menggunakan teknologi mesin dalam satuan unit.

11

f. Jumlah rokok kretek yang ditawarkan (Qs) adalah banyaknya rokok kretek yang ditawarkan oleh perusahaan di Indonesia selama kurun waktu tahun 1990 sampai dengan tahun 2000 dan dinyatakan dalam satuan batang. 19. Metode Analisis Data Dalam melakukan penelitian ini dilakukan beberapa tahapan analisis data, yaitu : a. Mengumpulkan datadata yang menjadi obyek penelitian. b. Menentukan bentuk persamaan yang digunakan untuk penawaran rokok kretek di Indonesia. c. Melakukan analisis data. d. Mengevaluasi dan menganalisa model yang dihasilkan dari analisis data. Evaluasi model dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Analisa kualitatif dimaksudkan untuk memberi gambaran lebih jelas tentang perkembangan industri rokok kretek di Indonesia dan faktorfaktor yang mempengaruhinya. Sedangkan analisa kuantitatif dengan model ekonometrik dimaksudkan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Dalam penelitian ini sebagai variabel terikatnya adalah variabel jumlah rokok yang ditawarkan dimana satuan yang digunakan yaitu satuan batang. Sedangkan untuk variabel bebas dalam penelitian ini adalah variabel input (biaya yang digunakan untuk tenaga kerja, harga tembakau dan harga cengkeh), kebijaksanaan pemerintah dan teknologi.

12

Untuk membuktikan hipotesis yang telah diuraikan di atas maka akan digunakan model regresi Double Log. Model tersebut merupakan pengembangan dari fungsi CobbDouglas. Fungsi CobbDouglas adalah suatu fungsi persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel dependen (merupakan variabel yang dijelaskan yaitu: Variabel Y) dan yang lain disebut variabel independen (merupakan Variabel yang menjelaskan yaitu Variabel X). Penyelesaian hubungan antara Y dan X adalah biasanya dengan cara regresi dimana variasi dari variabel Y akan dipengaruhi variasi dari variabel X. Bila fungsi CobbDouglas tersebut dinyatakan oleh hubungan Y dan X maka : Y = f (X1, X2, X3,.Xn). Adapun model fungsi CobbDouglas secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut : (Soekartawi, 1990 : 160) Y = aX1b1, X2b2, X3b3,.Xnbn..en Dimana : Y X = Variabel yang dijelaskan = Variabel yang menjelaskan

a, b = Besaran yang akan diduga u e = Kesalahan (disturbance term) = Logaritma Natural diubah menjadi bentuk

Selanjutnya bentuk persamaan tersebut

persamaan linier melalui transformasi logaritma sebagai berikut : Y = Ln 0 + B1 Ln X1+ B2 Ln X2+ B3 Ln X3+ Bn Ln Xn+ ei Dimana :

13

Y Xn 0

= Out put = Input = Konstanta atau intersep

B1, B2, .., Bn = Koefisien regresi ei = Variabel penganggu

Sedangkan dalam penelitian ini model yang digunakan adalah sebagai berikut : Qs = Ln 0 + + B1 Ln P1 + B2 Ln Pt + B3 Ln Pc + B4 Ln D + B5 Ln T + ei Dimana : Qs 0

= Jumlah rokok kretek yang ditawarkan (batang) = Konstanta atau intersep

B1, B2, B3 ,B4, B5 = Koefisien regresi yang ditransformasikan dalam bentuk logaritma masingmasing variabel, menunjukkan

elastisitas dari masingmasing variabel X terhadap variabel Y . P1 Pt Pc D T ei = Biaya upah tenaga kerja yang dikeluarkan (Rp) = Harga input tembakau (Rp/ton). = Harga input cengkeh (Rp/ton). = Kebijaksanaan Pemerintah (Rp). = Teknologi (Unit). = Kesalahan Penganggu. Jenis data yang digunakan untuk mengetahui hubungan variabel variabel tersebut di atas adalah data sekunder, dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2000.

14

Dalam analisa regresi yang ditransformasikan dalam bentuk logaritma kita mengenal variabel dependent dan variabel independen.

Penilaian terhadap variabel independen dapat dilihat dari besarnya koefisien regresi yang ditransformasikan dalam bentuk logaritma. Semakin besar koefisiennya maka semakin besar pengaruh masingmasing variabel independen terhadap variabel dependen, atau sebaliknya. Untuk mengetahui persamaan di atas benarbenar signifikan antara variabel dependen dan variabel independen maka diperlukan uji statistik yaitu: ttest dan Ftest, selain itu akan di uji dengan uji asumsi klasik antara lain uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas dan uji

autokorelasi. Serta di interprestasikan koefisien determinasi. Hal ini akan diuraikan sebagai berikut: 1. Uji t Ttest digunakan untuk menguji signifikansi koefisien secara individu (dimana n 30). Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah masingmasing variabel independen berpengaruh signifikan atau tidak terhadap variabel dependen. Dengan langkah langkah pengujiannya sebagai berikut: 1. Ho : = 0 Ha : 0 2. Nilai t tabel t = / 2 (N K) di mana : N = Jumlah data yang diobservasi K = Jumlah parameter dalam model termasuk intersep

15

3. Daerah kritis

H ditolak H diterima

H ditolak

(-/2; nk)

(/2;nk)

Gambar 1.2. Daerah kritis Uji t 4. thitung Rumus : i t = Se(i) Di mana : = koefisien regresi

S() = Standart error koefisien regresi

5. Kriteria pengujian a) .Apabila nilai t hitung < t tabel, maka H diterima. Artinya variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen secara signifikan. b). Apabila nilai t hitung > t tabel, maka H ditolak. Artinya variabel independen mampu mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.

16

2. Uji F Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui secara serentak variabel independent berpengaruh terhadap variabel dependent secara signifikan atau tidak. Dimana langkahlangkah pengujian adalah : 1. H : 0 = 1 = 2 = 3 = 4 = 5 = 0 H a : 0 1 2 3 4 5 0 2. Nilai F tabel F = ,( N k ) ;( k 1 )

Dimana : N k = jumlah data yang di observasi = jumlah parameter dalam model termasuk intersep

3. Daerah Kritis
H oditolak Ho diterima Ho ditolak

,(n-k);(k-1) gambar .1.3. Daerah Kritis Uji F

4.

Fhitung Rumus : R2 / ( k 1) F = ( 1 R2 ) / ( N k ) Di mana: R2 N = koefisien determinasi berganda

= jumlah data yang diobservasi

17

k = jumlah parameter dalam model termasuk intersep 5 . Kriteria Pengujian a). Apabila nilai F hitung < F tabel, maka H o diterima, artinya variabel independen secara serentak tidak mempengaruhi variabel dependen dengan signifikan. b). Apabila nilai F hitung > F tabel, maka H o ditolak, artinya variabel independen secara serentak mempengaruhi

variabel dependen dengan signifikan.

3. Koefisien Determinasi (R2) Analisis koefisien determinasi dilakukan untuk mengukur kebaikan sesuai goodness of fit dari model yang digunakan untuk proporsi variasi independen. Nilai R2 yaitu angka yang menunjukkan besarnya kemampuan menerangkan dari variabel independen terhadap variabel dependen dalam suatu model regresi. Nilai R 2 yaitu angka yang menunjukkan besarnya kemampuan menerangkan dari variabel independen terhadap variabel dependen dalam suatu model regresi. Atau dengan kata lain untuk melengkapi analisa regresi berganda, digunakan analisa korelasi berganda yaitu untuk mengukur derajat hubungan antara variabel dependen dan variabel independen, nilai R2 berkisar antara 0<R2<1 dan kecocokan model dikatakan lebih baik kalau nilai R2 mendekati 1, bila R2 = 1 berarti prosentase sumbangan variabel X1, X2, X3, terhadap variabel Y adalah 100%. Apabila sumbangan R2 = 0 berarti tidak dapat digunakan untuk

18

membuat

ramalan.

Definisi

koefisien

determinasi

(Damodar

Gujarat,1995: 10)

ESS R = TSS e R2 Keterangan : ESS = 1 y2


2

RSS atau R
2

= 1 TSS

= Explained Sum of Square (jumlah kuadrat yang di jelaskan)

TSS RSS

Total Sum of Square

= Residual Sum of Square (jumlah kuadrat residual)

4. Uji Penyimpangan Asumsi Agar penelitian dapat dipakai sebagai bahan informasi, maka diharapkan koefisienkoefisien yang diperoleh menjadi penaksir terbaik dan tidak bisa (BLUE = Best Linier Unbias Estimat). Hal tersebut hanya dapat terjadi bila dalam pengujian tidak melanggar uji asumsi klasik, yaitu : 1) Uji Multikolinearitas Multikolinearitas adalah keadaan di mana satu variabel atau lebih variabel independen terdapat kolerasi atau hubungan dengan variabel independen lainnya, di samping itu masalah ini juga timbul bila antara variabel independen berkolerasi dengan

19

variabel pengganggu. Multikolinearitas sendiri diartikan sebagai suatu keadaan dimana satu atau lebih variabel independen mempunyai suatu fungsi linier dari variabel independen yang lain. Menurut L.R. Klein, masalah multikolinearitas baru menjadi masalah apabila derajatnya lebih tinggi di bandingkan dengan kolerasi di antara seluruh variabel secara serentak. Metode Klein membandingkan nilai (r2), X1, X2, X3,
.

Xn dengan nilai R2

(Adjusted R Square). Apabila R2 > (r2) berarti tidak ada gejala multikolinearitas. Apabila R2 < (r2) berarti ada gejala

multikolinearitas (Damodar Gujarati, 1991:157 168). 2) Pengujian Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas adalah keadaan di mana faktor pengganggu bervarian tidak sama, E(e2) e ini ditunjukkan dengan nilai F yang relatif kecil. Apabila hal ini terjadi maka akibatnya prediksi akan menjadi salah (bias). Untuk menguji ada tidaknya heteroskedastisitas dalam model. 3) Pengujian autokorelasi Autokorelasi adalah keadaan di mana faktor pengganggu e pada model dalam periode tertentu berkorelasi dengan kesalahan pengganggu sebelumnya hal ini mengakibatkan terjadinya autokorelasi maka kita akan memperoleh nilai bias dalam mengestimasikan () ditunjukan adanya varian yang besar alat yang digunakan adalah uji Durbin Watson test (DW) untuk menguji gejala autokorelasi lebih dulu ditentukan nilai kritis dL

20

dan dU berdasarkan jumlah observasi dan banyaknya variabel bebas. Jika Ho diterima baik positif maupun negatif maka tidak ada autokorelasi. Pengujian dengan uji Durbin Watson yaitu nilai Durbin Watson dihitung dan dibandingkan dengan nilai Durbin Watson tabel, pada derajat kebebasan (N,k 1) dan tingkat signifikansi tertentu. Angka dalam Durbin Watson menunjukkan nilai distribusi antara batas bawah (dL) dan batas atas (dU). (Damodar Gujarati,1991:201 218) Adapun langkahlangkah pengujiannya adalah sebagai berikut: 1. Lakukan regresi OLS dan dapatkan residual e 2. Hitung nilai d d = Di mana: (et et 1) et2

et

= Simpangan pada variabel independen

3. Dapatkan nilai kritis dL, dan dU, yang lebih dahulu menentukan nilai k terlebih dahulu. 4. Merumuskan Hipotesis, yaitu : a). Jika hipotesa Ho tidak ada serial korelasi positif : d < dL d > dU d d dU = menolak Ho = tidak menolak Ho = pengujian tidak meyakinkan.

b). Jika hipotesis Ho tidak ada serial korelasi negatif : d > 4 dl d < 4 dU = menolak Ho = tidak menolak Ho

21

4 dU d 4 dL = pengujian tidak meyakinkan c). Jika hipotesa Ho tidak ada serial autokorelasi positif ataupun d < dL d > 4 dL dU < d < 4 dU dL d dU negatif : = menolak Ho = menolak Ho = menerima Ho = pengujian tidak meyakinkan

4 dU d 4 dL = pengujian tidak meyakinkan

menol ak Ho bukti autokorelasi positif daerah Keraguraguan menerima H o atau H*o atau kedua-duanya daerah Keraguraguan Menolak H *o bukti autokorelasi negatif d

dL

dU

4 dU

4 dL

Gambar 1.4. Pengujian Autokorelasi