Anda di halaman 1dari 6

Daun yang Sombong

Di sebuah hutan yang luas. terdapat banyak pohon yang rindang. Pohon-pohon itu berdaun lebat.

Di salah satu pohon, ada sebuah daun yang amat sombong. Ia merasa dirinyalah yang paling
berguna di dunia ini.

"Akulah yang paling berguna. Semua manusia membutuhkanku. Binatang juga. Ah. semua
makhluk sepertinya membutuhkanku," ujar daun itu.

"Jangan begitu, Daun. Semua yang ada di dunia ini memiliki kegunaannya masing-masing,"
balas batang pohon.

"Memang benar. Tetapi, akulah yang paling berguna di antara mereka. Coba kau lihat. Banyak
manusia yang berteduh di bawahku. Mereka tak kepanasan karena daun di pohon ini begitu
banyak," cetus daun.

"Sama halnya dengan para binatang, Mereka sering kali berlindung di bawahku dari terik
matahari. Tak hanya itu, manusia dan binatang juga sering memetikku sebagai obat atau
makanan mereka," lanjut daun.

Batang pohon dan akar yang mendengar perkataan daun, menghela napas. Tak seharusnya daun
seperti itu. Ia tak boleh sombong, meskipun memang benar banyak yang membutuhkannya.

"Kamu memang berguna, Daun. Tetapi tanpaku, kau tak akan mungkin hidup. Jadi tentulah aku
yang paling berguna." seru salah satu suara.

"Siapa yang herkata ini?" tanya daun.

"Aku adalah akar. Tanpaku, kau tak akan bisa hidup. Akarlah yang mengalirkan air nutrisi ke
dalam dirimu. Aku memang berada di dalam tanah. Tetapi, aku juga sama bergunanya seperti
kamu." seru akar.

"Maafkan aku, Akar. Aku pikir akulah yang terhebat. Rupanya, hidupku bergantung kepadamu."
balas daun yang seketika menyadari kesalahannya.

"Aku hanya tak ingin kau sombong. Kita semua hidup saling bergantung satu sama lain," sahut
akar.

Daun mengangguk senang. Ia amat berterima kasih kepada akar karena telah mengingatkannya.
Sejak saat itu, daun tak sombong lagi. Ia senang bisa menjadi makhluk yang bermanfaat untuk
makhluk lain.

Pesan moral dari Cerita Dan Dongeng Anak Pendek dari AESOP ini adalah jadilah orang yang
selalu bermanfaat untuk orang lain. Dan jangan pernah merasa sombong, karena setiap orang
memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Sumber : https://dongengceritarakyat.com/cerita-dan-dongeng-anak-pendek-dari-aesop/

Diakses : Tanggal 03 Februari 2020

Oleh : VII5_07_DevintaNurFauziah
Pemuda dan Seekor Burung Layang-layang
"Hore! Aku punya banyak uang. Uang ini akan kugunakan untuk makan makanan terlezat di
dunia, dan untuk pergi ke mana pun sesuka hatiku," ajar seorang pemuda.
Pemuda itu tidak munyadari bahwa apa yang dia lakukan sangat merugikan dirinya sendiri. Dia
menghabiskan uangnya untuk jalan-jalan ke tempat mewah dan makan masakan Eropa yang
amat mahal.
Hingga suatu ketika, si Pemuda tak memiliki apa-apa lagi, kecuali pakaian yang ia kenakan saat
itu. Dia benar-benar jatuh miskin karena keborosannya. Ketika mempunyai uang, si Pemuda tak
pernah memberikan sepeser pun uangnya untuk di tabung dan berbagi kepada orang yang
membutuhkan.
Si Pemuda mulai kebingungan. Dia terus mencari cara agar bisa kembali mendapatkan banyak
uang.
"Bagaiamana caranya, ya?" ujarnya di dalam hati.
Si Pemuda terus berjalan menyusuri tepi desa, berharap ada yang mau membantunya. Tak lama
kemudian, burung layang-layang melintas seraya berkicau riang.
"Apa yang sedang kau pikirkan, sahabatku?" tanya si burung.
Teks Cerita Dongeng Tentang Jangan Boros
"Saat ini aku tak memiliki banyak uang. Maukah engkau membantuku?" tanya si Pemuda dengan
penuh harap.
"Apa yang bisa aku bantu wahai sahabat?" si burung layang-layang kembali bertanya.
Si pemuda memohon kepada burung layang-layang agar mau membeli jubah dan celana
panjangnya. Cuaca saat itu amat panas, sehingga si Pemuda berpikir bahwa jubah dan celana
panjangnya tidak ia butuhkan. Dia pun ingin kembali memiliki banyak uang untuk herfoya-foya.
Akhirnya, burung layang-layang mau membantu si pemuda dengan membeli jubah dan celana
panjang milik si Pemuda. Kini si Pemuda hanya mengenakan baju tipis dan celana pendek.
Namun, dia tidak menghiraukannya. Ia merasa sangat gembira karena mendapatkan banyak uang
lagi.
"Hahaha." tawa si Pemuda dengan begitu kerasnya. "Aku bisa pergi jalan-jalan sesuka hatiku dan
makan masakan yang lezat."
Namun apa yang terjadi? Saat si Pemuda akan pergi ke kota tiba-tiba hujan deras mengguyur
dengan cepat.
Dalam sekejap, si Pemuda merasa kedinginan. Uang yang ia pegang pun telah basah karena
terkena hujan angin yang datang. Sekujur tubuh si Pemuda gemetar dan mukanya memucat.
Sungguh malang nasib si Pemuda, sekarang tak ada lagi yang bisa dijualnya.
Pesan moral yang dapat dipetik dari ini Teks Cerita Dongeng ini adalah jangan boros dan
menghambur-hamburkan uang.

.Sumber : https://dongengceritarakyat.com/teks-cerita-dongeng-tentang-jangan-boros-bisa-
untuk-ide-naskah-drama/
Diakses : 03 Februari 2020
Oleh : VII5_23_PutriSetiaNingrum
Katak yang Bermulut Besar
Di sebuah tepi desa, terdapat kawanan rubah yang sedang bermain dengan binatang lainnya.
Mereka terlihat senang menikmati indahnya senja. Mereka bahkan tidak sadar akan kehadiran
seekor katak di tengah mereka.

"Hai, semuanya." sapa Katak kepada semua tetangganya.

"Hai! Apa kabarmu, Katak? Sepertinya kau telah lama meninggalkan desa ini?" tanya salah satu
binatang.

"Kabarku amat baik," jawab Katak.

Katak dan binatang lainnya pun berbincang-bincang. Katak bercerita tentang dirinya, bahwa ia
telah belajar menjadi dokter.

"Aku adalah seekor katak yang mampu menyembuhkan segala bentuk penyakit. Kemarin ketika
aku tidak disini, sebenarnya aku sedang belajar menjadi dokter yang andal," ujarnya.

Cerita Dongeng Mancanegara untuk Anak TK dan SD

Namun, Rubah sepertinya kurang percaya dengan pengakuan Katak. Dia terus bertanya-tanya
dalam hatinya, apakah benar yang dikatakan si Katak? Bukankah menjadi seorang dokter tidak
mudah? Akhirnya, Rubah mengajukan pertanyaan.

"Maaf, Tuan Katak. Jika memang benar kau mampu menyembuhkan segala penyakit, aku
meminta bukti dari mu wahai tuan katak." Ucap Rubah kepada Katak.

"Apa yang ingin kau minta sebagai bukti, Rubah?" tanya Katak.

"Aku ingin engkau membuat sebuah obat untuk penyakitmu kulitmu sendiri. Jika engkau
berhasil, berarti engkau memang Katak yang hebat," ujar Rubah.

Katak pun berusaha meracik sendiri sebuah obat untuk mengobati dirinya sendiri. Tak lama
kemudian, obat itu sudah jadi. Namun apa yang terjadi, setelah katak meminum obat itu, sakitnya
justru semakin parah.

"Hahahha" tawa Rubah." Kini aku semakin yakin bahwa kamu hanya katak yang bermulut besar.
Sebenarnya kamu tidak pernah belajar menjadi Dokterkan?"

Si Katak tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kesombongannya telah mempermalukan dirinya sendiri
di hadapan semua binatang.

Pesan moral dari Cerita Dongeng Mancanegara untuk Anak TK dan SD ini adalah jangan pernah
berbohong mengakui hal-hal yang sebenarnya kamu tidak bisa. Suatu saat kamu akan
mempermalukan diri sendiri jika ternyata apa yang kamu katakan tidak terbukti.

Sumber : https://dongengceritarakyat.com/cerita-dongeng-mancanegara-untuk-anak-tk-
dan-sd/

Diakses : Tanggal 03 Februari 2020

Oleh : VII5_13_KeyssaWidyaFebrianty
Gembala dan Kambing yang Tanduknya Patah
Seorang tuan yang tinggal di pedesaan memiliki banyak kambing. Tuan itu mempercayakan
kambing-kambingnya kepada si Gembala.
"Tolong, jagalah kambing-kambing ini. Bawa mereka ke padang rumput yang lebat," perintah
sang Tuan kepada si Gembala.
"Dengan senang hati, Tuan. Saya akan menjaga kambing-kambing ini dengan baik," sahut si
Gembala dengan penuh keyakinan.
Tetapi, apa yang dilakukan si Gembala? Olala, ia malah membawa kambing milik tuannya ke
padang rumput yang tidak begitu banyak rumputnya. Tanpa sepengetahuan si Gembala, salah
satu kambing memisahkan diri dari kawanannya.
Si Gembala sedang asyik bermain bersama kambing-kambing itu. Saat si Gembala menghitung
para kambing, ternyata kambingnya kurang satu. Si Gembala pun menjadi panik. Ia segera
mencari ke sana kemari.
"Kambing! Kambing! Engkau di mana?" teriak si Gembala.
Beberapa kali si Gembala memanggil kambing, tetapi kambing itu tak juga terlihat. Si Gembala
kemudian pergi menyusuri padang rumput yang lebih hijau. Di sana, si Gembala melihat
kambing yang terpisah dari kawanannya.
"Hai, kambing! Sedang apa kamu di situ? Ayo, cepat kemari! Hari sudah sore, sudah saatnya kita
pulang ke rumah," teriak si Gembala.
Tetapi, kambing itu tidak menghiraukan si Gembala. Ia masih asyik menyantap rerumputan yang
amat hijau. Ya, di padang rumput yang pertama, rumputnya kurang lebat dan tidak
menyegarkan.
Si Gembala pun berteriak untuk kesekian kalinya. Karena teriakannya tidak di gubris si Gembala
menjadi sangat marah, akhirnya ia mengambil batu dan melemparkannya ke kepala si kambing.
Batu itu tepat menghantam salah satu tanduk kambing, sehingga membuat tanduk kambing itu
patah seketika.
"Maafkan aku, kambing," teriak si Gembala sambil mengelus-clus tanduk kambing yang patah.
Dia berlutut dun meminta maaf kepada si kambing yang telah ia lukai.
Dongeng tentang Pentingnya Menjaga Kerpercayaan
"Aku mohon, jangan beri tahu hal ini kepada tuanku," pinta si Gembala.
"Aku tak perlu bersusah payah memberi tahu Tuan. Tanduk ini yang akan berbicara sendiri
nantinya," jawab kambing.
Dengan hati yang amat ketakutan. si Gembala kembali ke rumah sembari menggiring semua
kambing milik tuannya. Di perjalanan, si Gembala merasa tidak tenang. Dia menyesal karena
telah berbuat salah dan tidak bisa menjaga kambing-kambing dengan baik.
Pesan moral dari Dongeng tentang Pentingnya Menjaga Kerpercayaan ini adalah jagalah
kepercayaan orang lain sebaik baiknya. Kepercayaan yang bisa kamu jaga akan membuat kamu
di percaya.

Sumber : https://dongengceritarakyat.com/dongeng-tentang-pentingnya-menjaga-
kerpercayaan/
Diakses : 03 Februari 2020
Oleh : VII5_16_MayaFadila
Memberi Lonceng Pada Kucing
"Meong... Meong... Meong..." terdengar suara meongan kucing saat melihat tikus-tikus yang
berkeliaran di depannya. Tanpa membuang waktu, kucing pun melahap salah satu tikus yang
sedang melamun.
Hal ini membuat keluarga tikus amat marah sekaligus takut. Jika tikus mendengar eongan
kucing, pasti mereka segera bersembunyi dan melindungi diri masing-masing agar tidak
dimangsa kucing. Sementara kucing amat senang jika ia bisa menangkap tikus-tikus nakal yang
memakan makanan di dapur.
Suatu ketika, keluarga tikus berkumpul. Mereka mencari cara agar bisa terbebas dari kucing.
Tikus-tikus amat ketakutan dan hidup mereka terganggu bila seekor kucing masih berkeliaran.
Keluarga tikus pun bingung. Mereka hanya ingin tahu kapan kucing datang dan kapan pula
kucing pergi, agar mereka tidak tertangkap begitu saja. Memang tidak mudah mengusir seekor
kucing.
Tiba-tiba, seekor tikus muda memiliki rencana yang bagus.
"Aha! Aku punya ide!" cetus tikus muda.
"Apa idemu?" tanya tikus yang lain.
"Menurutku, ini adalah cara yang sederhana," jawab tikus muda.
"Cara apa? Coba kau jelaskan kepada kami," perintah tikus lain.
"Kita buat lonceng dan kita kalungkan lonceng itu di leher kucing. Jadi, ketika dia datang, kita
akan tahu melalui bunyi loncengnya," jelas tikus muda.
"Wah. ide yang bagus. Aku setuju." sahut tikus-tikus lain.
Contoh Dongeng yang Singkat dari AESOP
Semua tikus merasa bahagia. Rencana ini belum pernah terpikirkan oleh mereka. Tikus
berjingkrak-jingkrak kegirangan. Namun. tiba-tiba seekor tikus tua menghentikan kegembiraan
tersebut.
Tikus tua berkata, "Itu memang ide yang amat bagus. Tetapi yang jadi persoalan, siapa yang
akan mengalungkan lonceng itu kepada kucing?"
Semua tikus pun terdiam. Mereka kembali berpikir. Ah, rencana yang bagus tersebut menjadi
percuma karena para tikus tidak segera berbuat sesuatu.
Pesan moral dari Contoh Dongeng yang Singkat ini adalah pikirkan matang-matang idemu agar
bisa di lakukan dengan berhasil. Namun ide yang paling baik adalah ide yang di praktekan. Jadi
jangan khawatir jika idemu berlum berhasil yah. Terus menjadi anak yang kreatif dengan
mencoba cara cara baru.

Sumber : https://dongengceritarakyat.com/contoh-dongeng-yang-singkat-dari-aesop/
Diakses : 03 Februari 2020
Oleh : VII5_19_NabilaIsdiani
Ular Berbisa dan Burung Elang
Burung Elang amat senang jika duduk di pohon sambil bernyanyi. Dia juga senang menikmati
sejuknya udara pagi hari.
Tiba-tiba, seekor ular berbisa memanjat pohon dan melilitkan tubuhnya pada burung Elang.
Namun, makin burung Elang berusaha melepaskan lilitan Ular, makin kencang pula Ular melilit
burung Elang.
"Tolong! Lepaskan aku, Ular!" teriak burung Elang.
"Diam kamu! Aku tak akan melepaskanmu!" seru Ular.
"Apa yang kau mau dariku, Ular berbisa?" tanya burung Elang.
"Hahaha! Aku tak menginginkan apa-apa darimu. Aku hanya ingin membuatmu takut kepadaku,
dan kau bisa melihat kehebatanku," ujar Ular sambil tertawa.
Burung Elang terus berusaha melepaskan diri. Tetapi, paruhnya tak bisa mematuk Ular.
Cakarnya pun tak dapat digunakan, karena tubuh Elang dililit sangat kuat oleh Ular.
Seorang kakek yang membawa keranjang berisi air, melihat pertarungan burung Elang dan Ular.
Kakek segera menghampiri mereka dengan membawa tongkat. Ia hendak memukul Ular.
Namun, ternyata Ular sudah terlebih dahulu melata dengan cepat dan berhasil meloloskan diri.
Burung Elang pun jatuh ke tanah.
“Apa kau baik-baik saja, burung Elang?" tanya si kakek sembari mengelus-elus burung Elang.
"Aku baik-baik saja, Kek. Terima kasih telah menolongku," ucap burung Elang.
"Sama-sama. Lain kali, kau harus berhati-hati," pesan si kakek. Ia pun melanjutkan
perjalanannya untuk mengambil air.
Sementara itu, Ular menjadi amat marah, karena dia belum sempat memangsa burung Elang.
Ular pun berencana ingin mencelakai kakek.
Saat kakek pergi mengambil air di danau, Ular dengan liciknya mematuk keranjang berisi air itu
dan mengeluarkan racun dari tubuhnya. Namun, diam-diam burung Elang melihat kejahatan
Ular.
Setelah keranjangnya terisi penuh oleh air, si kakek pulang ke rumah. Karena kelelahan dan
kehausan, Kakek berhenti sejenak. Saat akan membuka tutup keranjang, burung Elang pun
datang.
"Kakek, jangan kau minum air itu!" seru burung Elang.
"Tetapi, aku sangat kehausan. Mengapa kau melarangku meminumnya?" tanya si kakek.
"Saat kau mengambil air di danau. Ular berbisa itu mematuk air yang berada dalam keranjangmu
sembari meninggalkan racun berbisa," jelas burung Elang.
"Benarkah? Terima kasih, burung Elang. Kau telah menyelamatkanku," ucap si kakek.
Burung Elang pun terbang membawa keranjang berisi racun dan membuangnya. Akhirnya,
kakek dan burung Elang menjadi sahabat yang saling membantu.
Pesan moral dari Cerita Dongeng Untuk Anak2 ini adalah perbuatan baik akan mendapatkan
balasan yang baik pula.

Sumber : https://dongengceritarakyat.com/cerita-dongeng-untuk-anak2-terpendek/
Diakses : 03 Februari 2020
Oleh : VII5_21_OliviaCahyaRahmadani