0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
362 tayangan21 halaman

Kebudayaan Suku Banjar di Kalimantan

Teks tersebut membahas sejarah dan budaya suku Banjar di Kalimantan Selatan. Secara singkat, suku Banjar dipengaruhi oleh budaya Melayu, Jawa, Bugis, dan Arab. Mereka mengembangkan budaya yang berkaitan dengan agama Islam dan sungai/rawa, seperti madam, madihin, panting, batamat Al-Quran, dan batumbang apam."

Diunggah oleh

Nur Mukhlis
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
362 tayangan21 halaman

Kebudayaan Suku Banjar di Kalimantan

Teks tersebut membahas sejarah dan budaya suku Banjar di Kalimantan Selatan. Secara singkat, suku Banjar dipengaruhi oleh budaya Melayu, Jawa, Bugis, dan Arab. Mereka mengembangkan budaya yang berkaitan dengan agama Islam dan sungai/rawa, seperti madam, madihin, panting, batamat Al-Quran, dan batumbang apam."

Diunggah oleh

Nur Mukhlis
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tugas Terstruktur Dosen Pengampu

Pemikiran Ulama Banjar bidang Drs. Muhrin, M. Fil.I.


Kalam dan Tasawuf

KEBUDAYAAN BANJAR
Disusun Oleh
Kelompok 1:

Muhammad Nizar Alwi 170102011133


ST. Dina Farida 170102011093
Rabiatul Aulia 170102011107
Rahmah Mudah 170102011200

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ANTASARI


FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BANJARMASIN
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufiq, hidayah
serta inayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
Shalawat serta salam selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad
SAW.
Penulis menyadari bahwa penyusunan Makalah ini, bisa terwujud atas
bantuan dan jasa berbagai pihak, baik bantuan moral maupun material. Untuk itu
penulis tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada: Dosen Pengampu Mata
Kuliah Pemikiran Ulama Banjar bidang Kalam dan Tasawuf Bpk. Drs. Muhrin,
M. Fil.I. yang telah membimbing dan memberi masukan terhadap pembuatan
makalah ini.
Akhirnya penulis berharap, makalah ini bermanfaat bagi penulis dan
pembaca pada umumnya.

Banjarmasin, 06 Februari 2020

Kelompok 1

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ii

A. Latar Belakang..............................................................................................ii

B. Rumusan Masalah.........................................................................................ii

C. Tujuan...........................................................................................................ii

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................1

A. Sejarah Kebudayaan Banjar..........................................................................1

B. Budaya Banjar...............................................................................................2

1. Madam......................................................................................................2

2. Madihin ....................................................................................................3
3. Musik Panting...........................................................................................5

4. Batamat Al-Qur’an ...................................................................................8

5. Batumbang Apam .....................................................................................9

6. Baayun Maulid........................................................................................10

BAB III PENUTUP...............................................................................................12

Simpulan.............................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................14

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia adalah Negara kepulauan yang memiliki bermacam- macam suku,


kebudayaan dan bangsa. Kebudayaan yang beraneka ragamtersebut tentu dapat
terjadi karena perbedaan suku yang sangat terlihat pada setiap wilayahdan daerah
di Indonesia. Tentu saja ini menjadi sebuah tradisi yang turun- temurun sejak
dahulu.Kebudayaan ini tentu saja harus kita pelihara dan lestarikan
keberadaannya, inimerupakan bekal untuk generasi yang akan datang agar mereka
juga bisa mengetahui danmelihat keindahan, keunikkan dan keaslian dari
kebudayaan tersebut.Pada kesempatan kali ini, penulis ingin memberitahu tentang
kebudayaan yangada di Indonesia. Khususnya kebudayaan yang berada di daerah
Kalimantan Selatan yaitu³suku Banjar´.Melihat keunikkan dari daerah Kalimantan
selatan ini sendiri, kami tertarik untuk membahasnya lebih lanjut.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Sejarah Kebudayaan Banjar?


2. Apa Saja Budaya Banjar?

C. Tujuan

1. Untuk Mengetahui Sejarah Kebudayaan Banjar


2. Untuk Mengetahui Budaya-budaya Banjar

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Kebudayaan Banjar
Orang Banjar adalah suku bangsa yang tergolong mayoritas dan dominan
di Provinsi Kalimantan Selatan. Beragam pendapat tentang asal kata Banjar.
Kebanyakan orang beranggapan bahwa masyarakat ini mendapat pengaruh
dari Jawa pada abad ke-17. Setelah berbentuk kesultanan pengaruh tersebut
disebarkan kepada penduduk pedalaman.

Beberapa suku bangsa seperti Maanyan, Lawangan, Dusun Deyah, Ngaju


dan lainnya yang mengalami proses percampuran darah dengan suku bagsa
Melayu, Jawa, Bugis, Mandar, juga Arab dan Cina, melahirkan suku bangsa
Banjar.
Identitas utama yang mengikat suku bangsa Banjar adalah bahasa Banjar
sebagai media umum dalam komunikasi yang telah menjadi ”lingua franca”.
Pembanjaran dalam segi bahasa ini tidak hanya terjadi di Kalimantan Selatan,
juga tidak terkecuali terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Di daerah ini semula suku bangsa Maanyan, Lawangan, Dusun Deyah dan
Ngaju dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan Jawa, disatukan oleh
kerajaan yang beragama Budha, Shiwa, dan paling akhir oleh Kerajaan Banjar
yang beragama Islam, yang menumbuhkan kebudayaan Banjar dan bahasa
Banjar dengan berbagai dialeknya. Bahasa Banjar dan agama Islam dibawah
pengaruh kekuasaan dinasti Banjar di Kayu Tangi (Martapura), mengukuhkan
daerah Banjar dan suku bangsa Banjar menjadi satu kesatuan wilayah. Suku
bangsa Dayak yang ber kepercayaan Kaharingan dan baragama Kristen tetap
menyebut diri mereka orang Dayak. Sedangkan mereka orang-orang Dayak
yang memeluk agama Islam, berbahasa Banjar, meninggalkan bahasa ibu
mereka, lalu mereka menyebut diri orang Banjar.1

1 Ramli Nawawi, http://ramlinawawiutun.blogspot.com/2012/02/sekilas-tentang-


kebudayaan-banjar.html di akses pada tanggal 01/02/2020 pukul 21.47

2
Kultur budaya yang berkembang sangat banyak hubungannya dengan
sungai, rawa dan danau, disamping pegunungan. Urang Banjar
mengembangkan sistem budaya, sistem sosial dan material budaya yang
berkaitan dengan relegi, melalui berbagai proses adaptasi, akulturasi dan
assimilasi. Masyarakat Banjar telah mengenal berbagai jenis dan bentuk
kesenian, baik Seni Klasik, Seni Rakyat, maupun Seni Religius Kesenian yang
menjadi milik masyarakat Banjar seperti tari-tarian juga suku banjar masih
melestarikan adat istiadat dari dulu hingga sekarang salah satunya seperti
berikut:

B. Budaya Banjar

1. Madam

"Madam" jelas merupakan satu bentuk migrasi di kalangan orang Banjar,


seperti tradisi "merantau" di kalangan etnik Minangkabau. Sebelum Perang Dunia
Kedua dahulu banyak orang Banjar yang madam ke Semenanjung Malaysia dan
ke Indragiri Hilir, di Sumatera. Banyak di antara mereka yang terus menetap di
tempat tujuan mereka. Jadi madam pada masa itu nampaknya ialah "madam yang
tidak pulang". Kini sangat kurang sekali orang Banjar yang madam ke
Semenanjung Malaysia. Akan tetapi, ini bukan bererti orang Banjar tidak lagi
madam ke luar Kalsel. Cuma tempat tujuan mereka madam nampaknya sudah
berubah.
Menurut Mochtar Naim (Taufik Arbain 2007), etnis Banjar dikategorikan
sebagai perantau ulung abad-abad bersamaan dengan jayanya etnis Bugis
melakukan perantauan keluar dari daerah asalnya, baik ke Sumatra maupun
Semenanjung Malaya. Hal ini menunjukkan bahwa urang Banjar merupakan suku
perantau, sama atau bahkan lebih dahulu daripada perantau lain seperti suku Jawa,
Minang, Madura, Batak dan lainnya.2

2 Ahmad Barjie B, Urang Banjar Tulak Madam Datu Nini Merantau Hilang Cucu Buyut
Bertemu Kembali, (Banjarbaru: Penakita Publiser), hal. 1

3
Dalam satu makalah yang ditulis oleh Dr. Mohamed Salleh Lamry, mantan
dosen UKM, dinyatakan bahawa tempat tujuan orang Banjar madam pada masa
ini adalah seperti berikut:

a) Tempat yang tidak begitu jauh dengan Kalsel, seperti Kalteng, Kalbar,
Kaltim. dan Pulau Jawa. Mereka madam ke Kalteng, Kalbar dan
Kaltim terutamanya untuk mencari penghidupan yang lebih baik,
manakala ke Pulau Jawa pula terutamanya untuk menuntut ilmu, di
samping ada juga untuk bekerja.

b) Tempat yang lebih jauh sedikit, seperti Sabah dan Sarawak di Malaysia
Timur. Mereka madam ke tempat yang lebih jauh ini terutamanya
untuk mencari penghidupan yang lebih baik, antara lain dengan
berniaga.

c) Tempat yang agak jauh, seperti Mekah dan Madinah. Kedua-dua


tempat ini pula merupakan tempat untuk menuntut ilmu agama dan
berniaga. Jika kita berkunjung ke Mekah misalnya kita akan berjumpa
dengan wanita Banjar yang berjual makanan, tudung dan telekung
bersulam, dan barang perhiasan (emas). Banyak juga pelajar lelaki dari
Banjar yang bekerja sebagai mutawif pada musim umrah dan haji.

d) Tradisi madam orang Banjar ke Mekah dan Madinah mungkin paling


menarik untuk dikaji, kerana walaupun Mekah dan Madinah agak jauh
dari Kalsel, tetapi tradisi madam ke tempat itu, yang berkaitan dengan
pengajian agama dan perniagaan, terus berlanjutan sehingga sekarang.3

2. Madihin

3 Andin Salleh, https://kulaan-banjar.blogspot.com/2007/11/tradisi-madam-dalam-


budaya-banjar.html diakses tanggal 27/01/20 pukul 19.37

4
Madihin berasal dari kata madah dalam bahasa arab artinya nasihat. Madihin
dapat diartikan sebagai sejenis puisi lama dalam sastra Indonesia, karena ia
nenyanyikan syair-syair yang berasal dari kata akhir persamaan bunyi atau
sebagai kalimat puji-pujian ( bahasa arab) karena bisa dilihat dari kalimat dalam
madihin yang kadang kala berupa puji-pujian. Menurut (2006) mendifinisikan
madihin yaitu puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan
dalam bahasa Banjar. Penyampaian syair-syair yang dibacakan oleh seniman
madihin yang disebut Pamadihin.

Pamadihinan termasuk profesi yang lekat dengan dunia mistik, karena para
pengemban profesinya harus melengkapi dirinya dengan tunjangan kekuatan
supranatural yang disebut Pulung. Pulung ini konon diberikan oleh seorang tokoh
gaib yang tidak kasat mata yang mereka sapa dengan sebutan hormat Datu
Madihin. Datu Madihin yang menjadi sumber asal-usul Pulung diyakini sebagai
seorang tokoh mistis yang bersemayam di Alam Banjuran Purwa Sari. Datu
Madihin diyakini sebagai orang pertama yang secara geneologis menjadi cikal
bakal keberadaan Madihin di kalangan etnis Banjar di Kalsel.

Kesenian madihin pada umumnya dipergelarkan pada malam hari, lamanya


sekitar 2 sampai 3 jam ditempatkan diarena terbuka. Seniman pamadihin ini
terdiri dari 1 samapai 4 orang pria atau wanita.Seorang pamadihin harus memiliki
keterampilan memukul terbang sesuai dengan penyajian syair-syair yang
dibacakan, madihin ini temanya saling sindir menyindir antara pamadihinnya.4

Tradisi penuturan madihin diperkirakan sudah ada sejak masuknya Islam ke


wilayah Kesultanan Banjar, pada tahun 1526 (Antemas, 1981). Ada juga pendapat
yang menyatakan, madihin ada sejak abad ke-18 memasuki abad ke-19 pada
Syekh Arsyad Al-banjari yang pulang kebanua Banjar dari menuntut ilmu di tanah
Suci (Ismail, 2000;1). Sejak itu pula berkembang seni madihin yang bernafaskan
4Dwi alfina, https://diakuin.blogspot.com/2014/01/budaya-banjar-madihin.html diakses
tanggal 27/01/20 pukul 19.55

5
nilai-nilai agama (Islam), kedua pendapat itu cukup beralasan, karena madihin
sangat kental dengan pengaruh Islam dan akulturasi budaya Arab-Banjar.

Asal mula timbulnya kesenian madihin sulit ditegaskan. Ada yang


berpendapat dari kampung Tawia, Angkinang, Hulu Sungai Selatan. Dari Kampun
Tawia inilah kemudian tersebar keseluruh Kalimantan Selatan bahkan Kalimantan
Timur. Pemain madihin yang terkenal umumnya berasal dari kampung Tawia. Ada
juga yang mengatakan kesenian ini berasal dari Malaka sebab madihin
dipengaruhi oleh syair dan gendang tradisional dari tanah semenanjung Malaka
yang sering dipakai dalam mengiringi irama tradisional Melayu asli.5

a. Media Pendidikan dan dakwah

Fungsi terpenting dari madihin adalah fungsi pendidikan. Syair dan pantun
yang tuturkan dalam madhin banyak sekali mengandung nasihat dan nilai-nilai
pendidikan, termasuk agama, moral, dan sosial kemasyarakatan. Fungsi ini sesuai
dengan latar sejarah madihin dan berkembangnya Islam di Kalimantan Selatan.
Madihin menjadi media dakwah yang cukup efektif dalam mendidik
masyarakat tentang pesan-pesan agama (Islam). Saat ini fungsi dakwah dalam
madihin tidak lagi digunakan, karena peran ulama dan para ustadz sudah sangat
memadai. Demekian juga dalam acara-acara peringatan hari-hari besar Islam, seni
madihin kurang mendapat tempat. Masyarakat lebih memilih syair-syair Maulid
Al-Habsyi, yang sekarang marak. Pemadahinan lebih focus pada penyampaian
pesan pendidikan, berupa nasihat atau kritik untuk menyempurnakan tatanan
kehidupan masyarakat.6

3. Musik Panting

5 Abdul Salam, Seni Tutur Madihin (Ekspresi Bahasa dan Sastra Banjar), (Yogyakarta:
CV BUDI UTAMA, 2018), hlm. 66-67
6 Ibid,.Abdul Salam...hlm. 65

6
Kesenian daerah musik panting yang berasal dari Kalimantan Selatan. Disebut
musik Panting karena didominasi oleh alat musik yang dinamakan Panting,
sejenis gambus yang memakai senar (panting) maka disebut musik Panting.
Musik panting merupakan musik campuran (ansambel),karena disajikan
bersamaan berbagai jenis alat musik.Biasanya,musik panting menggunakan 3
buah alat musik panting dan beberapa alat musik lain seperti gong,biola,suling
bambu,tamburin dan sebagainya. Syair-syair yang berupa pantun merupakan salah
satu yang menarik dari musik panting,isi dari pantun tersebut juga beraneka
macam,ada pantun berisi nasehat sampai pantun jenaka.Pemain musik panting
umunya menggunakan pakaian banjar,bagi laki-laki menggunakan peci dan yang
perempuan menggunakan kerudung.Pemain musik panting memainkan alat
musiknya dengan posisi duduk,pemain laki-laki duduk bersila dan pemain
perempuan duduk bertelimpuh.

Pada awalnya musik Panting berasal dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan.
Panting merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gambus Arab
tetapi ukurannya lebih kecil. Pada waktu dulu musik panting hanya dimainkan
secara perorangan atau secara solo. Karena semakin majunya perkembangan
zaman dan musik Panting akan lebih menarik jika dimainkan dengan beberapa
alat musik lainnya, maka musik panting sekarang ini dimainkan dengan alat-alat
musik seperti babun, gong,dan biola dan pemainnya juga terdiri dari beberapa
orang. Nama musik panting berasal dari nama alat musik itu sendiri, karena pada
musik Panting yang terkenal alat musiknya dan yang sangat berperan adalah
Panting, sehingga musik tersebut dinamai musik panting. Orang yang pertama kali
memberi nama sebagai musik Panting adalah A. Sarbaini. Dan sampai sekarang
ini musik Panting terkenal sebagai musik tradisional yang berasal dari Kalimantan
Selatan.
Dalam sejarah singkat kesenian musik panting menurut AW. Syarbaini di desa
Barikin Kec. Haruyan Kab. Hulu Sungai Tengah adalah:

7
1. A.W. Syarbaini pada tahun 1969 mengenal dan mempelajari kesenian
Musik Tradisional Bajapin.

2. Pada tahun 1973 membentuk kasenian tradisional bajapin tersebut


dengan alat yang sangat sederhana yang terdiri :

a. Panting

b. Babun

c. Gong

3. Setelah itu pada tahun 1976 musik bajapin ditampilkan dalam bentuk
sajian musik, yakni musiknya saja tanpa mengiringi tarian japin
dengan membawakan lagu-lagu melayu Banjar pahuluan.

4. Pada tanggal 15 November 1977 khususnya di desa Barikin musik


bajapin tersebut kembali ditampilkan dalam bentuk acara resipsi
perkawinan dan pada waktu itulah diberi nama Musik Panting, dalam
acara tersebut telah hadir beberapa orang tokoh seniman Kalimantan
Selatan yang ikut menyaksikan pagelaran musik panting tersebut,
antara lain :

a. Yustan Azidin

b. Marsudi, BA

c. H. Anang Ardiansyah

d. Drs. H. Bahtiar Sanderta

Menurut Yustan Azidin karena kesenian ini alat utamanya adalah


panting maka dari itulah musik tersebut alangkah baiknya diberi nama
” Musik Panting ”.

8
5. Pada tahun 1977 Musik Panting khusus membawa lagu-lagu melayu
banjar pahuluan yang ditampilkan pada siang hari dengan irma slow,
sedangkan syair lagunya bernafaskan nasehat.

6. Pada tahun 1978 telah diciptakan lagu dan syair dengan diberi nama
Musik Panting.

7. Pada tahun 1978 telah diciptakan lagu dan syair dengan diberi nama
Musik Panting.

a. Panting : 3 buah.

b. Talinting : 1 buah.

c. Gong : 2 buah.

d. Giring-giring : 1 set.

e. Suling : 1 buah.

f. Biola : 1 buah.

g. Kulimpat : 5 buah (alat ini berasal dari musik dayak).

8. Pada tahun 1980 Musik Panting diperkaya dengan memakai Sound


Sistem.

9. Pada tahun 1981 disetiap Kabupaten sudah punya kesenian Musik


Panting.

10. Pada tahun 1982 sampai dengan 1985 Musik Panting telah
berkembang di masyarakat.

11. Pada tahun 1985 Musik Panting disebarkan ke sekolah-sekolah


dengan melalui kantor Kanwil Depdikbud Prop. Kalsel.7

7 http://khaidirjhutekz.blogspot.com/2014/07/a.html, di akses pada tanggal 30/01/2020


pukul 22.40

9
4. Batamat Qur’an

Batamat itu artinya sudah tamat atau selesai belajar mengaji Alquran,
khususnya bagi kalangan anak-anak dan remaja. Tradisi 'Batamat' ini memadukan
beberapa unsur budaya lokal dan luar atau pendatang, khususnya dari Arab (Timur
Tengah), Melayu, dan sebagainya. Kombinasi dan perpaduan budaya tersebut
dapat dilihat dari pakaian yang dipakai oleh yang 'batamat' dan pernak-pernik
yang mengiringinya. Ada pun budaya lokalnya nampak terlihat dari sisi sajian
makanan yang menjadi ciri khas utama tradisi Batamat, yaitu nasi ketan dan
sebagainya.
Kegiatan yang dilakukan dalam Batamat ini, anak atau orang yang sudah
selesai belajar mengaji Alquran sampai tamat 30 juz tersebut, maka pada saat
Batamat itu dia membaca surat-surat pendek pada Juz Amma atau juz yang ke-30.
Satu per satu surat pendek pada juz ke-30 tersebut dibaca, dan pada setiap akhir
ayat pada surat tersebut diikuti membacanya oleh hadirin. Hingga selesai dengan
pembacaan doa khatam Alquran oleh guru mengaji atau orang lain yang dituakan.
Setelah selesai doa dilanjutkan dengan bagi makanan tanda syukur telah tamat
belajar Alquran, dan kemudian anak-anak bahkan juga orang dewasa yang hadir
berebut 'papayungan' yang digantungkan uang kertas ribuan dan lainnya.

Kegiatan Batamat ini dapat dilakukan secara invidual maupun berkelompok,


setelah selesai atau tamat mengaji Alquran sebanyak 30 juz. Batamat secara
individu dilaksanakan di rumah sendiri dengan mengundang tetangga terdekat,
keluarga, dan teman anak belajar mengaji Alquran, dan tidak ketinggalan guru
mengaji anak tersebut. Tradisi Batamat Alquran ini menjadi sebuah simbol dan
pesan yang dalam, bahwa kehidupan anak atau calon pengantin harus
berlandaskan pada ajaran dan petunjuk kitab suci Alquran, sehingga dalam
perjalanan hidup akan mendapat berkah dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Di Dalam Pagar dan kampung Melayu anak-anak batamat pada umur sekitar 9
sampai 12 tahun; mereka malu apabila peristiwa itu terjadi pada umur yang lebih
tua. Di Akar Bagantung dan Kalampayan sering seorang gadis batamat sebagai

10
bagian dari upacara perkawinannya, meskipun adakalanya si gadis sebenarnya
belum menyelesaikan keseluruhan al Qur'an, sedangkan pemudanya ada yang
sampai masa kawinnya tidak penah batamat. Di Rangas dan Anduhum upacara
batamat hampir selalu dilakukan dalam rangka upacara perkawinan seorang
kerabat dekat atau perkawinannya sendiri apabila tidak ada kerabat dekat yang
kawin, namun sebelum upacara besar-besaran telah dilaksanakan upacara yang
lebih sederhana di rumah gurunya dan untuk itu ibunya telah mengirimkan nasi
ketan dan inti ke rumah guru tersebut.8

Tradisi Batamat ini juga menjadi dapat menginspirasi dan memotivasi bagi
yang lain, agar pandai baca-tulis Alquran, baik anak-anak maupun orang dewasa.
Oleh sebab itu, saat kegiatan Batamat ini dengan mengundang banyak orang,
sehingga semakin banyak pula yang terinspirasi dan termotivasi untuk belajar
membaca Alquran, terutama kalangan anak-anak dan remaja pada era globalisasi
ini.

Tradisi Batamat kini masih cukup banyak dilakukan oleh masyarakat Suku
Banjar, meski dalam kepungan dan desakan budaya dan tradisi luar yang tidak
sesuai dengan nilai-nilai bangsa. Semoga tradisi Batamat ini tetap lestari dalam
menjadi menjadi nilai budaya dan relegi di dalam masyarakat 'Banua' Banjar
Kalimantan Selatan. 9

5. Batumbang Apam

Batumbang apam adalah selamatan dengan kue apam (setinggi anak yang
diselamati).10 Batumbang apam merupakan tradisi yang dilaksanakan turun
temurun oleh sebagian masyarakat suku Banjar khususnya masyarakat Barabai.
8 Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar Deskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar,
(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1997), hal. 248-249
9 Maslani, https://www.kompasiana.com/maslani/5c33103e6ddcae225b1563a8/batamat-
tradisi-orang-banjar-tamat-belajar-mengaji# di akses tanggal 1/02/2020 pukul 17.55
10Abdul Djebar Hapip, Kamus Bahasa Banjar-Indonesia, Banjarmasin: PT Grafika
Wangi Kalimantan,1997), hlm. 193

11
Tradisi batumbang apam ini sudah menjadi kebiasaan atau tradisi masyarakat
Hulu Sungai Tengah, tempat pelaksanaan batumbangapam ini adalah di Masjid
Al-A’la, mesjid tertua kedua di kota Barabai setelah Masjid Keramt Desa Pelajau,
karena mesjid dan desa ini banyak mempunyai sejarah maka dari iru menjadi
salah satu latar belakang adanya tradisi batumbang apam.

Alat yang dipersiapkan untuk pelaksanaan tradisi batumbang apam ini adalah
kue apam. Masjid A’la tidak menetapkan peraturan alat-alat apa saja yang
dipersiapkan untuk pelaksanaan tradisi tersebut.

Tata cara melaksanakan tradisi batumbang apam adalah membawa kue apam
yang diletakkan di atas kepala si anak dibacakan sholawat dan surah al fatihah,
kemudian di bacakan doa selamat, sebagai pelengkap tata cara tradisi batumbang
apam ini adalah uang receh yang dibagikan pada anak-anak yang ada disekitar
Masjid Al-A’la dengan cara dihamburkan di muka masjid dan dibacakan sholawat,
selain uang receh menaikkan anak ke mimbar khatib yang lima tangga dan
memeluk tiang guru di dalam masjid Al-A’la.

Adapun yang menjadi perlengkapan tradisi Tumbang Apam adalah sebagai


berikut:Dua batang pelepah kelapa yang diukur setinggi orang yang akan
melakukan tradisi ini.

a. Berteh beras kuning (yang melambangkan mas atau perak)

b. Lilin sambang ( lilin yang terbuat dari kain yang dilumuri lilin kuning )

c. Setanggi atau Dupa

d. Lima helai kain dan uang perak yang diletakan dibawah kain

e. Apam Tiga warna, terdiri dari : Kuning (terbuat dari Kunyit), Merah
(terbuat dari gula merah), dan Putih (dari tepung beras)

12
f. Tepung tawar

g. Air tolak bala ( dua buah terdiri dari air parit dan air hujan

h. Minyak bauk

Kemudian urutan dalam tradisi Tumbang Apam adalah sebagai


berikut:

a. Dalam tradisi Tumbang Apam ini diawali dengan salah satu peserta berdiri
diatas kain lima helai dan menghadap kehilir atau mengikuti aliran sungai

b. Kedua pelepah kelapa yang telah dilengkapi dengan apam dan lilin yang
telah dinyalakan, diletakkan atau didirikan didepan peserta Tumbang
Apam.

c. Acara ini dimulai dengan pembacaan Ayat-ayat suci Al-Qur’an, yang


terdiri dari surat Yasin Ayat 15 dan Ayat 17, setelah selesai pembacaan
ayat-ayat Al-Qur’an. Kemudian diadakanlah pembacaan doa selamat oleh
semua yang hadir

d. Kemudian arang dari lilin tersebut di tempelkan ke dahi peserta tersebut


dan lanjut ke tepung tawar dan berteh beras kuning

Setelah acara ini selesai dilaksanakan, diadakanlah acara penutup yaitu makan
seprahan bersama-sama11

Menurut masyarakat tujuan mereka melaksanakan tradisi batumbang apam di


Masjid Al-A’la ini sebagai rasa syukur kepada Allah Swt karena mereka telah
diberikan seorang anak, karena tidak semua orang bisa mendapatkan seorang

11Een Paris, http://eenparis.blogspot.com/2014/03/tradisi-banjar.html diakses pada


tanggal 29 januari 2020 jam 09:56 WITA

13
anak, selain rasa syukur mereka juga menepati nazar kepada Allah dan sebagai
rasa syukur juga karena terhindar dari bahaya atau masalah.

Waktu pelaksanaan tradisi batumbang apam itu adalah pada Hari Raya Idul
Fitri dan Hari Raya Idul Adha tapi pada hari-hari biasa juga ada.

6. Baayun Maulid

Baayun Mauilid, baayun asal katanya “ayun” yang diartikan “melakukan


proses ayunan”. Asal kata mauilid berasal dari peristiwa mauled (kelahiran) Nabi
Muhammad SAW. Sebelum mendapat pengaruh Islam, maayun anak sudah
dilaksanakan ketika masyarakat masih menganut kepercayaan nenek moyang.
Tradisi asalnya dilandasi oleh kepercayaan keharingan. Setelah Islam masuk dan
berkembang serta berkat perjuangan dakah para ulama, akhirnya upacara tersebut
bisa “diislimisasikan”. Dengan demikian, baayun anak menjadi salah satu symbol
pertemuan antara tradisi dan pertemuan agama.12

Seiring dengan masuk dan berkembangnya ajaran agama Islam dalam


kehidupan urang Banjar, maka terjadilah proses akulturasi antara ajaran yang
dibawa oleh para penyebar agama Islam dengan kebudayaan lokal yang sudah ada
sebelumnya, salah satunya mewujud dalam penyelenggaraan upacara Baayun
Mulud atau Baayun Anak.

Kehidupan masyarakat Banjar mengenal beberapa jenis upacara adat yang


terhimpun dalam bingkai upacara daur hidup. Rangkaian upacara daur hidup itu
sendiri meliputi upacara kehamilan, kelahiran, masa kanak-kanak menjelang

12 Taruna Ngeblog, Sepenggal Kisah dari penjuru Negeri, (Jogja: Stiletto Indie Book,
2017) hlm. 129

14
dewasa, perkawinan, dan kematian. Upacara Baayun Mulud/Baayun Anak
termasuk ke dalam upacara yang ditujukan untuk anak-anak menjelang dewasa,
tepatnya ketika usia si anak antara 0-5 tahun.

Sebenarnya, upacara ini telah menjadi ritual wajib yang sudah menjadi tradisi
jauh sebelum ajaran Islam dianut oleh orang-orang Suku Banjar. Dulu, upacara
adat ini dikenal dengan sebutan upacara Baayun Anak. Sejalan dengan masuknya
Islam, maka kemudian upacara Baayun Anak dipadukan dengan ajaran agama
Islam dan lantas disebut dengan istilah Baayun Mulud.

Sebelum beralkulturasi dengan ajaran Islam, upacara Baayun Anak


dilaksanakan sebagai sarana atau media untuk mengenalkan si anak kepada Datu
Ujung, yakni sosok leluhur yang digambarkan sakti mandraguna dan memiliki
pengaruh yang sangat besar. Urang Banjar pada zaman dahulu meyakini bahwa
anak-anak mereka bisa memperoleh keberkatan dalam hidupnya, tidak mudah
menangis, dan terhindar dari segala marabahaya. Untuk itu, pada zaman dahulu,
setiap anak harus melalui upacara Baayun Anak sebagai tanda penghormatan dan
sekaligus memberi persembahan kepada Datu Ujung.
Baayun Anak atau Baayun Mulud adalah proses budaya yang menjadi salah
satu simbol kearifan dakwah ulama Banjar dalam mendialogkan makna hakiki
ajaran agama dengan budaya masyarakat Banjar. Maulid adalah simbol agama dan
menjadi salah satu manifestasi untuk menanamkan, memupuk, dan menambah
kecintaan sekaligus pembumian sosok manusia pilihan, manusia teladan, Nabi
pembawa Islam, untuk mengikuti ajaran dan petuahnya. Sedangkan Baayun Anak
menjadi penterjemahan dari manifestasi tersebut, karena dalam Baayun Anak
terangkum deskripsi biografi Nabi Muhammad sekaligus doa, upaya, dan harapan
untuk meneladaninya.13

13 Ina Khairina, https://inakharina.wordpress.com/2012/05/30/baayun-mulud/ di akses


pada tanggal 31/01/2020 pukul 20.29

15
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan
1. Identitas utama yang mengikat suku bangsa Banjar adalah bahasa Banjar
sebagai media umum dalam komunikasi yang telah menjadi ”lingua
franca”. Pembanjaran dalam segi bahasa ini tidak hanya terjadi di
Kalimantan Selatan, juga tidak terkecuali terjadi di Kalimantan Tengah
dan Kalimantan Timur.Di daerah ini semula suku bangsa Maanyan,
Lawangan, Dusun Deyah dan Ngaju dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu
dan Jawa, disatukan oleh kerajaan yang beragama Budha, Shiwa, dan
paling akhir oleh Kerajaan Banjar yang beragama Islam, yang
menumbuhkan kebudayaan Banjar dan bahasa Banjar dengan berbagai
dialeknya. Bahasa Banjar dan agama Islam dibawah pengaruh kekuasaan
dinasti Banjar di Kayu Tangi (Martapura), mengukuhkan daerah Banjar
dan suku bangsa Banjar menjadi satu kesatuan wilayah. Suku bangsa
Dayak yang ber kepercayaan Kaharingan dan baragama Kristen tetap
menyebut diri mereka orang Dayak. Sedangkan mereka orang-orang
Dayak yang memeluk agama Islam, berbahasa Banjar, meninggalkan
bahasa ibu mereka, lalu mereka menyebut diri orang Banjar
2. Macam macam kebudayaan banjar antara lain madihin, musik panting,
madam, beayun maulid, batamat alquran, batampung apam.
3. Madihin yaitu puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau
dituliskan dalam bahasa Banjar. Penyampaian syair-syair yang dibacakan
oleh seniman madihin yang disebut Pamadihin.
4. Kesenian daerah musik panting yang berasal dari Kalimantan Selatan.
Disebut musik Panting karena didominasi oleh alat musik yang dinamakan
Panting, sejenis gambus yang memakai senar (panting) maka disebut
musik Panting

16
5. Baayun Mauilid, baayun asal katanya “ayun” yang diartikan “melakukan
proses ayunan”. Asal kata mauilid berasal dari peristiwa mauled
(kelahiran) Nabi Muhammad SAW
6. Batamat itu artinya sudah tamat atau selesai belajar mengaji Alquran,
khususnya bagi kalangan anak-anak dan remaja.
7. Tradisi batumbang apam adalah Selamatan dengan Kue Apam setinggi
anak yang di selamati

17
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Djebar Hapip,1997. Kamus Bahasa Banjar-Indonesia, Banjarmasin: PT


Grafika Wangi Kalimantan

Abdul Salam,2018. Seni Tutur Madihin (Ekspresi Bahasa dan Sastra Banjar),
Yogyakarta: CV BUDI UTAMA

Barjie B, Ahmda. Urang Banjar Tulak Madam Datu Nini Merantau Hilang Cucu
Buyut Bertemu Kembali. Banjarbaru: Penakita Publiser

Daud, Alfani. 1997. Islam dan Masyarakat Banjar Deskripsi dan Analisa
Kebudayaan Banjar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Andin Salleh, https://kulaan-banjar.blogspot.com/2007/11/tradisi-madam-dalam-


budaya-banjar.html

Dwi alfina, https://diakuin.blogspot.cpm/2014/01/budaya-banjar-madihin.html

Een Paris, http://eenparis.blogspot.com/2014/03/tradisi-banjar.html

Ina Khairina, https://inakharina.wordpress.com/2012/05/30/baayun-mulud/

Khaidir, http://khaidirjhutekz.blogspot.com/2014/07/a.html

Maslani,
https://www.kompasiana.com/maslani/5c33103e6ddcae225b1563a8/b
atamat-tradisi-orang-banjar-tamat-belajar-mengaji#

Ramli Nawawi, http://ramlinawawiutun.blogspot.com/2012/02/sekilas-tentang-


kebudayaan-banjar.html

Taruna Ngeblog,2017. Sepenggal Kisah dari penjuru Negeri, Jogja: Stiletto Indie
Book

18

Anda mungkin juga menyukai