Kebudayaan Suku Banjar di Kalimantan
Kebudayaan Suku Banjar di Kalimantan
KEBUDAYAAN BANJAR
Disusun Oleh
Kelompok 1:
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufiq, hidayah
serta inayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
Shalawat serta salam selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad
SAW.
Penulis menyadari bahwa penyusunan Makalah ini, bisa terwujud atas
bantuan dan jasa berbagai pihak, baik bantuan moral maupun material. Untuk itu
penulis tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada: Dosen Pengampu Mata
Kuliah Pemikiran Ulama Banjar bidang Kalam dan Tasawuf Bpk. Drs. Muhrin,
M. Fil.I. yang telah membimbing dan memberi masukan terhadap pembuatan
makalah ini.
Akhirnya penulis berharap, makalah ini bermanfaat bagi penulis dan
pembaca pada umumnya.
Kelompok 1
1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ii
A. Latar Belakang..............................................................................................ii
B. Rumusan Masalah.........................................................................................ii
C. Tujuan...........................................................................................................ii
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................1
B. Budaya Banjar...............................................................................................2
1. Madam......................................................................................................2
2. Madihin ....................................................................................................3
3. Musik Panting...........................................................................................5
6. Baayun Maulid........................................................................................10
Simpulan.............................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................14
2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Kebudayaan Banjar
Orang Banjar adalah suku bangsa yang tergolong mayoritas dan dominan
di Provinsi Kalimantan Selatan. Beragam pendapat tentang asal kata Banjar.
Kebanyakan orang beranggapan bahwa masyarakat ini mendapat pengaruh
dari Jawa pada abad ke-17. Setelah berbentuk kesultanan pengaruh tersebut
disebarkan kepada penduduk pedalaman.
Di daerah ini semula suku bangsa Maanyan, Lawangan, Dusun Deyah dan
Ngaju dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan Jawa, disatukan oleh
kerajaan yang beragama Budha, Shiwa, dan paling akhir oleh Kerajaan Banjar
yang beragama Islam, yang menumbuhkan kebudayaan Banjar dan bahasa
Banjar dengan berbagai dialeknya. Bahasa Banjar dan agama Islam dibawah
pengaruh kekuasaan dinasti Banjar di Kayu Tangi (Martapura), mengukuhkan
daerah Banjar dan suku bangsa Banjar menjadi satu kesatuan wilayah. Suku
bangsa Dayak yang ber kepercayaan Kaharingan dan baragama Kristen tetap
menyebut diri mereka orang Dayak. Sedangkan mereka orang-orang Dayak
yang memeluk agama Islam, berbahasa Banjar, meninggalkan bahasa ibu
mereka, lalu mereka menyebut diri orang Banjar.1
2
Kultur budaya yang berkembang sangat banyak hubungannya dengan
sungai, rawa dan danau, disamping pegunungan. Urang Banjar
mengembangkan sistem budaya, sistem sosial dan material budaya yang
berkaitan dengan relegi, melalui berbagai proses adaptasi, akulturasi dan
assimilasi. Masyarakat Banjar telah mengenal berbagai jenis dan bentuk
kesenian, baik Seni Klasik, Seni Rakyat, maupun Seni Religius Kesenian yang
menjadi milik masyarakat Banjar seperti tari-tarian juga suku banjar masih
melestarikan adat istiadat dari dulu hingga sekarang salah satunya seperti
berikut:
B. Budaya Banjar
1. Madam
2 Ahmad Barjie B, Urang Banjar Tulak Madam Datu Nini Merantau Hilang Cucu Buyut
Bertemu Kembali, (Banjarbaru: Penakita Publiser), hal. 1
3
Dalam satu makalah yang ditulis oleh Dr. Mohamed Salleh Lamry, mantan
dosen UKM, dinyatakan bahawa tempat tujuan orang Banjar madam pada masa
ini adalah seperti berikut:
a) Tempat yang tidak begitu jauh dengan Kalsel, seperti Kalteng, Kalbar,
Kaltim. dan Pulau Jawa. Mereka madam ke Kalteng, Kalbar dan
Kaltim terutamanya untuk mencari penghidupan yang lebih baik,
manakala ke Pulau Jawa pula terutamanya untuk menuntut ilmu, di
samping ada juga untuk bekerja.
b) Tempat yang lebih jauh sedikit, seperti Sabah dan Sarawak di Malaysia
Timur. Mereka madam ke tempat yang lebih jauh ini terutamanya
untuk mencari penghidupan yang lebih baik, antara lain dengan
berniaga.
2. Madihin
4
Madihin berasal dari kata madah dalam bahasa arab artinya nasihat. Madihin
dapat diartikan sebagai sejenis puisi lama dalam sastra Indonesia, karena ia
nenyanyikan syair-syair yang berasal dari kata akhir persamaan bunyi atau
sebagai kalimat puji-pujian ( bahasa arab) karena bisa dilihat dari kalimat dalam
madihin yang kadang kala berupa puji-pujian. Menurut (2006) mendifinisikan
madihin yaitu puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan
dalam bahasa Banjar. Penyampaian syair-syair yang dibacakan oleh seniman
madihin yang disebut Pamadihin.
Pamadihinan termasuk profesi yang lekat dengan dunia mistik, karena para
pengemban profesinya harus melengkapi dirinya dengan tunjangan kekuatan
supranatural yang disebut Pulung. Pulung ini konon diberikan oleh seorang tokoh
gaib yang tidak kasat mata yang mereka sapa dengan sebutan hormat Datu
Madihin. Datu Madihin yang menjadi sumber asal-usul Pulung diyakini sebagai
seorang tokoh mistis yang bersemayam di Alam Banjuran Purwa Sari. Datu
Madihin diyakini sebagai orang pertama yang secara geneologis menjadi cikal
bakal keberadaan Madihin di kalangan etnis Banjar di Kalsel.
5
nilai-nilai agama (Islam), kedua pendapat itu cukup beralasan, karena madihin
sangat kental dengan pengaruh Islam dan akulturasi budaya Arab-Banjar.
Fungsi terpenting dari madihin adalah fungsi pendidikan. Syair dan pantun
yang tuturkan dalam madhin banyak sekali mengandung nasihat dan nilai-nilai
pendidikan, termasuk agama, moral, dan sosial kemasyarakatan. Fungsi ini sesuai
dengan latar sejarah madihin dan berkembangnya Islam di Kalimantan Selatan.
Madihin menjadi media dakwah yang cukup efektif dalam mendidik
masyarakat tentang pesan-pesan agama (Islam). Saat ini fungsi dakwah dalam
madihin tidak lagi digunakan, karena peran ulama dan para ustadz sudah sangat
memadai. Demekian juga dalam acara-acara peringatan hari-hari besar Islam, seni
madihin kurang mendapat tempat. Masyarakat lebih memilih syair-syair Maulid
Al-Habsyi, yang sekarang marak. Pemadahinan lebih focus pada penyampaian
pesan pendidikan, berupa nasihat atau kritik untuk menyempurnakan tatanan
kehidupan masyarakat.6
3. Musik Panting
5 Abdul Salam, Seni Tutur Madihin (Ekspresi Bahasa dan Sastra Banjar), (Yogyakarta:
CV BUDI UTAMA, 2018), hlm. 66-67
6 Ibid,.Abdul Salam...hlm. 65
6
Kesenian daerah musik panting yang berasal dari Kalimantan Selatan. Disebut
musik Panting karena didominasi oleh alat musik yang dinamakan Panting,
sejenis gambus yang memakai senar (panting) maka disebut musik Panting.
Musik panting merupakan musik campuran (ansambel),karena disajikan
bersamaan berbagai jenis alat musik.Biasanya,musik panting menggunakan 3
buah alat musik panting dan beberapa alat musik lain seperti gong,biola,suling
bambu,tamburin dan sebagainya. Syair-syair yang berupa pantun merupakan salah
satu yang menarik dari musik panting,isi dari pantun tersebut juga beraneka
macam,ada pantun berisi nasehat sampai pantun jenaka.Pemain musik panting
umunya menggunakan pakaian banjar,bagi laki-laki menggunakan peci dan yang
perempuan menggunakan kerudung.Pemain musik panting memainkan alat
musiknya dengan posisi duduk,pemain laki-laki duduk bersila dan pemain
perempuan duduk bertelimpuh.
Pada awalnya musik Panting berasal dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan.
Panting merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gambus Arab
tetapi ukurannya lebih kecil. Pada waktu dulu musik panting hanya dimainkan
secara perorangan atau secara solo. Karena semakin majunya perkembangan
zaman dan musik Panting akan lebih menarik jika dimainkan dengan beberapa
alat musik lainnya, maka musik panting sekarang ini dimainkan dengan alat-alat
musik seperti babun, gong,dan biola dan pemainnya juga terdiri dari beberapa
orang. Nama musik panting berasal dari nama alat musik itu sendiri, karena pada
musik Panting yang terkenal alat musiknya dan yang sangat berperan adalah
Panting, sehingga musik tersebut dinamai musik panting. Orang yang pertama kali
memberi nama sebagai musik Panting adalah A. Sarbaini. Dan sampai sekarang
ini musik Panting terkenal sebagai musik tradisional yang berasal dari Kalimantan
Selatan.
Dalam sejarah singkat kesenian musik panting menurut AW. Syarbaini di desa
Barikin Kec. Haruyan Kab. Hulu Sungai Tengah adalah:
7
1. A.W. Syarbaini pada tahun 1969 mengenal dan mempelajari kesenian
Musik Tradisional Bajapin.
a. Panting
b. Babun
c. Gong
3. Setelah itu pada tahun 1976 musik bajapin ditampilkan dalam bentuk
sajian musik, yakni musiknya saja tanpa mengiringi tarian japin
dengan membawakan lagu-lagu melayu Banjar pahuluan.
a. Yustan Azidin
b. Marsudi, BA
c. H. Anang Ardiansyah
8
5. Pada tahun 1977 Musik Panting khusus membawa lagu-lagu melayu
banjar pahuluan yang ditampilkan pada siang hari dengan irma slow,
sedangkan syair lagunya bernafaskan nasehat.
6. Pada tahun 1978 telah diciptakan lagu dan syair dengan diberi nama
Musik Panting.
7. Pada tahun 1978 telah diciptakan lagu dan syair dengan diberi nama
Musik Panting.
a. Panting : 3 buah.
b. Talinting : 1 buah.
c. Gong : 2 buah.
d. Giring-giring : 1 set.
e. Suling : 1 buah.
f. Biola : 1 buah.
10. Pada tahun 1982 sampai dengan 1985 Musik Panting telah
berkembang di masyarakat.
9
4. Batamat Qur’an
Batamat itu artinya sudah tamat atau selesai belajar mengaji Alquran,
khususnya bagi kalangan anak-anak dan remaja. Tradisi 'Batamat' ini memadukan
beberapa unsur budaya lokal dan luar atau pendatang, khususnya dari Arab (Timur
Tengah), Melayu, dan sebagainya. Kombinasi dan perpaduan budaya tersebut
dapat dilihat dari pakaian yang dipakai oleh yang 'batamat' dan pernak-pernik
yang mengiringinya. Ada pun budaya lokalnya nampak terlihat dari sisi sajian
makanan yang menjadi ciri khas utama tradisi Batamat, yaitu nasi ketan dan
sebagainya.
Kegiatan yang dilakukan dalam Batamat ini, anak atau orang yang sudah
selesai belajar mengaji Alquran sampai tamat 30 juz tersebut, maka pada saat
Batamat itu dia membaca surat-surat pendek pada Juz Amma atau juz yang ke-30.
Satu per satu surat pendek pada juz ke-30 tersebut dibaca, dan pada setiap akhir
ayat pada surat tersebut diikuti membacanya oleh hadirin. Hingga selesai dengan
pembacaan doa khatam Alquran oleh guru mengaji atau orang lain yang dituakan.
Setelah selesai doa dilanjutkan dengan bagi makanan tanda syukur telah tamat
belajar Alquran, dan kemudian anak-anak bahkan juga orang dewasa yang hadir
berebut 'papayungan' yang digantungkan uang kertas ribuan dan lainnya.
Di Dalam Pagar dan kampung Melayu anak-anak batamat pada umur sekitar 9
sampai 12 tahun; mereka malu apabila peristiwa itu terjadi pada umur yang lebih
tua. Di Akar Bagantung dan Kalampayan sering seorang gadis batamat sebagai
10
bagian dari upacara perkawinannya, meskipun adakalanya si gadis sebenarnya
belum menyelesaikan keseluruhan al Qur'an, sedangkan pemudanya ada yang
sampai masa kawinnya tidak penah batamat. Di Rangas dan Anduhum upacara
batamat hampir selalu dilakukan dalam rangka upacara perkawinan seorang
kerabat dekat atau perkawinannya sendiri apabila tidak ada kerabat dekat yang
kawin, namun sebelum upacara besar-besaran telah dilaksanakan upacara yang
lebih sederhana di rumah gurunya dan untuk itu ibunya telah mengirimkan nasi
ketan dan inti ke rumah guru tersebut.8
Tradisi Batamat ini juga menjadi dapat menginspirasi dan memotivasi bagi
yang lain, agar pandai baca-tulis Alquran, baik anak-anak maupun orang dewasa.
Oleh sebab itu, saat kegiatan Batamat ini dengan mengundang banyak orang,
sehingga semakin banyak pula yang terinspirasi dan termotivasi untuk belajar
membaca Alquran, terutama kalangan anak-anak dan remaja pada era globalisasi
ini.
Tradisi Batamat kini masih cukup banyak dilakukan oleh masyarakat Suku
Banjar, meski dalam kepungan dan desakan budaya dan tradisi luar yang tidak
sesuai dengan nilai-nilai bangsa. Semoga tradisi Batamat ini tetap lestari dalam
menjadi menjadi nilai budaya dan relegi di dalam masyarakat 'Banua' Banjar
Kalimantan Selatan. 9
5. Batumbang Apam
Batumbang apam adalah selamatan dengan kue apam (setinggi anak yang
diselamati).10 Batumbang apam merupakan tradisi yang dilaksanakan turun
temurun oleh sebagian masyarakat suku Banjar khususnya masyarakat Barabai.
8 Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar Deskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar,
(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1997), hal. 248-249
9 Maslani, https://www.kompasiana.com/maslani/5c33103e6ddcae225b1563a8/batamat-
tradisi-orang-banjar-tamat-belajar-mengaji# di akses tanggal 1/02/2020 pukul 17.55
10Abdul Djebar Hapip, Kamus Bahasa Banjar-Indonesia, Banjarmasin: PT Grafika
Wangi Kalimantan,1997), hlm. 193
11
Tradisi batumbang apam ini sudah menjadi kebiasaan atau tradisi masyarakat
Hulu Sungai Tengah, tempat pelaksanaan batumbangapam ini adalah di Masjid
Al-A’la, mesjid tertua kedua di kota Barabai setelah Masjid Keramt Desa Pelajau,
karena mesjid dan desa ini banyak mempunyai sejarah maka dari iru menjadi
salah satu latar belakang adanya tradisi batumbang apam.
Alat yang dipersiapkan untuk pelaksanaan tradisi batumbang apam ini adalah
kue apam. Masjid A’la tidak menetapkan peraturan alat-alat apa saja yang
dipersiapkan untuk pelaksanaan tradisi tersebut.
Tata cara melaksanakan tradisi batumbang apam adalah membawa kue apam
yang diletakkan di atas kepala si anak dibacakan sholawat dan surah al fatihah,
kemudian di bacakan doa selamat, sebagai pelengkap tata cara tradisi batumbang
apam ini adalah uang receh yang dibagikan pada anak-anak yang ada disekitar
Masjid Al-A’la dengan cara dihamburkan di muka masjid dan dibacakan sholawat,
selain uang receh menaikkan anak ke mimbar khatib yang lima tangga dan
memeluk tiang guru di dalam masjid Al-A’la.
b. Lilin sambang ( lilin yang terbuat dari kain yang dilumuri lilin kuning )
d. Lima helai kain dan uang perak yang diletakan dibawah kain
e. Apam Tiga warna, terdiri dari : Kuning (terbuat dari Kunyit), Merah
(terbuat dari gula merah), dan Putih (dari tepung beras)
12
f. Tepung tawar
g. Air tolak bala ( dua buah terdiri dari air parit dan air hujan
h. Minyak bauk
a. Dalam tradisi Tumbang Apam ini diawali dengan salah satu peserta berdiri
diatas kain lima helai dan menghadap kehilir atau mengikuti aliran sungai
b. Kedua pelepah kelapa yang telah dilengkapi dengan apam dan lilin yang
telah dinyalakan, diletakkan atau didirikan didepan peserta Tumbang
Apam.
Setelah acara ini selesai dilaksanakan, diadakanlah acara penutup yaitu makan
seprahan bersama-sama11
13
anak, selain rasa syukur mereka juga menepati nazar kepada Allah dan sebagai
rasa syukur juga karena terhindar dari bahaya atau masalah.
Waktu pelaksanaan tradisi batumbang apam itu adalah pada Hari Raya Idul
Fitri dan Hari Raya Idul Adha tapi pada hari-hari biasa juga ada.
6. Baayun Maulid
12 Taruna Ngeblog, Sepenggal Kisah dari penjuru Negeri, (Jogja: Stiletto Indie Book,
2017) hlm. 129
14
dewasa, perkawinan, dan kematian. Upacara Baayun Mulud/Baayun Anak
termasuk ke dalam upacara yang ditujukan untuk anak-anak menjelang dewasa,
tepatnya ketika usia si anak antara 0-5 tahun.
Sebenarnya, upacara ini telah menjadi ritual wajib yang sudah menjadi tradisi
jauh sebelum ajaran Islam dianut oleh orang-orang Suku Banjar. Dulu, upacara
adat ini dikenal dengan sebutan upacara Baayun Anak. Sejalan dengan masuknya
Islam, maka kemudian upacara Baayun Anak dipadukan dengan ajaran agama
Islam dan lantas disebut dengan istilah Baayun Mulud.
15
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
1. Identitas utama yang mengikat suku bangsa Banjar adalah bahasa Banjar
sebagai media umum dalam komunikasi yang telah menjadi ”lingua
franca”. Pembanjaran dalam segi bahasa ini tidak hanya terjadi di
Kalimantan Selatan, juga tidak terkecuali terjadi di Kalimantan Tengah
dan Kalimantan Timur.Di daerah ini semula suku bangsa Maanyan,
Lawangan, Dusun Deyah dan Ngaju dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu
dan Jawa, disatukan oleh kerajaan yang beragama Budha, Shiwa, dan
paling akhir oleh Kerajaan Banjar yang beragama Islam, yang
menumbuhkan kebudayaan Banjar dan bahasa Banjar dengan berbagai
dialeknya. Bahasa Banjar dan agama Islam dibawah pengaruh kekuasaan
dinasti Banjar di Kayu Tangi (Martapura), mengukuhkan daerah Banjar
dan suku bangsa Banjar menjadi satu kesatuan wilayah. Suku bangsa
Dayak yang ber kepercayaan Kaharingan dan baragama Kristen tetap
menyebut diri mereka orang Dayak. Sedangkan mereka orang-orang
Dayak yang memeluk agama Islam, berbahasa Banjar, meninggalkan
bahasa ibu mereka, lalu mereka menyebut diri orang Banjar
2. Macam macam kebudayaan banjar antara lain madihin, musik panting,
madam, beayun maulid, batamat alquran, batampung apam.
3. Madihin yaitu puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau
dituliskan dalam bahasa Banjar. Penyampaian syair-syair yang dibacakan
oleh seniman madihin yang disebut Pamadihin.
4. Kesenian daerah musik panting yang berasal dari Kalimantan Selatan.
Disebut musik Panting karena didominasi oleh alat musik yang dinamakan
Panting, sejenis gambus yang memakai senar (panting) maka disebut
musik Panting
16
5. Baayun Mauilid, baayun asal katanya “ayun” yang diartikan “melakukan
proses ayunan”. Asal kata mauilid berasal dari peristiwa mauled
(kelahiran) Nabi Muhammad SAW
6. Batamat itu artinya sudah tamat atau selesai belajar mengaji Alquran,
khususnya bagi kalangan anak-anak dan remaja.
7. Tradisi batumbang apam adalah Selamatan dengan Kue Apam setinggi
anak yang di selamati
17
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Salam,2018. Seni Tutur Madihin (Ekspresi Bahasa dan Sastra Banjar),
Yogyakarta: CV BUDI UTAMA
Barjie B, Ahmda. Urang Banjar Tulak Madam Datu Nini Merantau Hilang Cucu
Buyut Bertemu Kembali. Banjarbaru: Penakita Publiser
Daud, Alfani. 1997. Islam dan Masyarakat Banjar Deskripsi dan Analisa
Kebudayaan Banjar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Khaidir, http://khaidirjhutekz.blogspot.com/2014/07/a.html
Maslani,
https://www.kompasiana.com/maslani/5c33103e6ddcae225b1563a8/b
atamat-tradisi-orang-banjar-tamat-belajar-mengaji#
Taruna Ngeblog,2017. Sepenggal Kisah dari penjuru Negeri, Jogja: Stiletto Indie
Book
18