Makalah
Tradisi Ngadi Wunu-wunungo di Gorontalo
(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam dosen
Pengampuh Bapak Dr. Mashadi)
Ridwan Humolungo
NIM. 223022036
Kelas: B
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH
IAIN SULTAN AMAI GORONTALO
2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan yang telah memberikan rahmat dan hidayah-
Nya, sehingga Kami dapat menyelesaikan tugas Makalah ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan Makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pada
mata kuliah SKI dan Budaya Lokal. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk
menambah wawasan kepada pembaca.
Kami menyadari makalah yang kami susun ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan
demi kesempurnaan Makalah ini. Demikian yang dapat kami sampaikan. Akhir
kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat.
Gorontalo , 9 Juni 2023
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................1
DAFTAR ISI...........................................................................................................3
BAB I.......................................................................................................................4
PENDAHULUAN...................................................................................................4
1.1 Latar Belakang...............................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................4
1.3 Tujuan.............................................................................................................4
BAB II.....................................................................................................................5
KAJIAN TEORI....................................................................................................5
1.1 Pengertian Kearifan Lokal..............................................................................5
BAB III....................................................................................................................8
METODE PENILITIAN.......................................................................................8
3.1 Waktu dan Tempat Penilitian.........................................................................8
3.2 Metode Penilitian...........................................................................................8
3.3 Jenis Penilitan.................................................................................................8
3.4 Alat dan Bahan...............................................................................................8
3.5 Teknik Pengumpulan Data.............................................................................8
3.6 Analisi Data....................................................................................................8
3.7 Sumber Data...................................................................................................8
BAB IV....................................................................................................................9
HASIL DAN PEMBAHASAN..............................................................................9
4.1 Pengertian Wunungo......................................................................................9
4.2 Syair Wunungo.............................................................................................10
BAB V....................................................................................................................13
PENUTUP.............................................................................................................13
5.1 Kesimpulan...................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................14
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Literasi ialah sebuah istilah yang mengacu kepada kemampuan serta
kemahiran individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung,
menyelesaikan persoalan dan sebagainya yang dibutuhkan dala kehidupan sehari-
hari. Literasi sejatinya tidak hanya berupa kemampuan Dasar atau pendukung
dalam proses pembelajaran saja, melainkan literasi telah jadi aspek penyokong
kebutuhan setiap individu akan kemampuan berpikir saat mengatasi persoalan,
sekaligus etika perilaku sosial dalam bersosialisasi antar kelompok di masyarakat
(Pratiwi, 2019). Secara umum literasi budaya ialah daya seseorang untuk
memahami dan berperilaku mengenai kebudayaan Indonesia (Hadiansyah et al,
2017).
Kearifan lokal merupakan suatu bentuk kearifan lingkungan yang ada dalam
kehidupan bermasyarakat berupa tata nilai atau perilaku hidup masyarakat lokal
dalam berinteraksi dengan tempat atau daerah hidupnya. Sebagai salah satu
bentuk perilaku manusia, kearifan lokal bukanlah suatu hal yang statis, melainkan
berubah sejalan dengan waktu atau dinamis, tergantung dari tatanan dan ikatan
sosial budaya yang ada di masyarakat.
Kesenian tradisional merupakan aset budaya lokal sebagai cirri khas bangsa
Indonesia, yang harus dipertahankan dan dilestarikan oleh generasi muda.
Kebudayaan hidup dan berkembang harus menunjang kebudayaan nasional yang
mencerminkan adat, tradisi, kearifan lokal atau norma-norma luhur berlaku di
daerah tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana struktur puisi lisan wunungo?
2. Bagaimana aspek religius sastra lisan wunungo?
1.3 Tujuan
1. Mendeskripsikan struktur puisi lisan wunungo.
2. Mendeskripsikan aspek religius sastra lisan wunungo
BAB II
KAJIAN TEORI
1.1 Pengertian Kearifan Lokal
Kearifan lokal adalah identitas atau kepribadian budaya sebuah bangsa yang
menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap, bahkan mengolah kebudayaan
yang berasal dari luar/bangsa lai menjadi watak dan kemampuan sendiri Wibowo
(2015). Identitas dan Kepribadian tersebut tentunya menyesuaikan dengan
pandangan hidup masyarakat sekitar agar tidak terjadi pergesaran nilai-nilai.
Kearifan lokal adalah salah satu sarana dalam mengolah kebudayaan dan
mempertahankan diri dari kebudayaan asing yang tidak baik.
Haryanto (2014) menyatakan bentuk-bentuk kearifan lokal adalah Kerukunan
beragaman dalam wujud praktik sosial yang dilandasi suatu kearifan dari budaya.
Bentuk-bentuk kearifan lokal dalam masyarakat dapat berupa budaya (nilai,
norma, etika, kepercayaan, adat istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus).
Nilai-nilai luhur terkait kearifan lokal meliputi Cinta kepada Tuhan, alam
semester beserta isinya,Tanggung jawab, disiplin, dan mandiri, Jujur, Hormat dan
santun, Kasih sayang dan peduli, Percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang
menyerah, Keadilan dan kepemimpinan, Baik dan rendah hati,Toleransi,cinta
damai, dan persatuan.
Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai
strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal
dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Dalam
bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat local wisdom
atau pengetahuan setempat “local knowledge” atau kecerdasan setempat local
genious Fajarini (2014). Berbagai strategi dilakukan oleh masyarakat setempat
untuk menjaga kebudayaannya.
Sejak awal abad XX daerah Gorontalo telah dikenal sebagai salah satu daerah
budaya/daerah adat, yang ke-9 dari 19 daerah adat di Indonesia. Unsur-unsur
budaya daerah yang dikenal itu misalnya, bahasa Gorontalo, busana adat, sastra
lisan, senjata kuno, ilmu perbintangan, tarian tradisional 48 dan lain sebagainya.
Pada masyarakat Gorontalo, unsur-unsur budaya di atas banyak dipengaruhi oleh
ajaran agama Islam, sehingga beberapa unsur budaya yang dianggap bertentangan
dengan Islam kemudian dihilangkan. Sementara adat istiadat atau unsur budaya
yang relevan dengan ajaran agama dipelihara dan dikembangkan oleh masyarakat
dan terutama para pemangku adat.
Hal tersebut berarti nilai-nilai adat, tradisi, kearifan atau norma-norma luhur
yang berlaku, merupakan komponen penting bagi kebudayaan lokal. Warisan
budaya ini mencerminkan nilai-nilai luhur yang harus dihargai dan dijaga
kelestariannya. Generasi muda mampu menggali potensi kekayaan seni tradisional
sekaligus melestarikannya. Pengembangan kesenian tradisional perlu diangkat ke
permukaan agar lebih dikenal oleh masyarakat dan menjadi kekayaan bagi
kehidupan bangsa. Hal ini sesuai dengan keputusan Mentri Kebudayaan pada
tanggal 13 Juli 2008 Nomor 014.6a/U/08 tentang pengembangan kesenian
tradisional dan peningkatan operasional dan kreativitas seni masyarakat. Usaha-
usaha penggalian, pengembangan, penyebarluasan, dan peningkatan mutu seni
dalam masyarakat perlu terus dikembangkan.
Gorontalo merupakan salah satu daerah adat dari 9 daerah adat di Nusantara,
Seperti daerah lain, Gorontalo memiliki adat daerah yang agak berbeda dengan
daerah daerah lainnya. Masyarakat Gorontalo memiliki latar budaya progresif
yang kuat, hal ini terlihat pada banyaknya adat istiadat yang ada dan tetap
dipertahankan kelestariannya oleh masyarakat Gorontalo hingga sekarang.
Munculnya kearifan lokal (local genius) di Gorontalo terkait erat dengan proses
akulturasi kebudayaan. Akulturasi kebudayaan ini diperoleh dari kemampuan
manusia membentuk, memanfaatkan, mengubah hal-hal yang paling sesuai
dengan kebutuhannya.
Di Gorontalo, ada dua sistem nilai yang hidup dan dipelihara dan
dipertahankan di Gorontalo. Kedua sistem nilai hidup yaitu (1) sistem nilai yang
diberikan oleh agama Islam. Perangkatnya nilai ini yang dipandang amat mulia
oleh masyarakat. Karena sistem nilai ajaran Islam diakui sebagai nilai paling asasi
yang bersumber dari kebenaran yang mutlak yaitu Allah swt, (2) sistem nilai yang
diberikan oleh adat. Sistem ini memberikan ukuran dan ketentuan ketentuan
terhadap bagaimana manusia harus berbuat dan bertingkah laku. Sistem nilai yang
diberikan adat merupakan hasil pemikiran yang mendalam dari raja-raja
terdahulu. Tujuan sistem nilai adat ini berupaya membuat sistem yang bersifat
keselarasan antara manusia dengan manusia. Dari kedua sistem nilai ini telah
melahirkan falsafah hidup dari masyarakat Gorontalo, yaitu sebagai daerah yang
memiliki filosofis hidup yang sangat terkenal yaitu: "adati hula hula'a to syara'a,
syara'a hula hulo a to kuru'ani" atau "Adat bertumpu pada Syara. Syara bertumpu
pada Kitabullah". (Zohra Yasin dkk, 2013). Filosofis hidup ini telah melahirkan
Gorontalo sebagai daerah yang mendapat julukan kota "Serambi Madinah".
BAB III
METODE PENILITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penilitian
Penitian ini dilakukan pada hari Selasa, 9 November 2022 di Desa Ilangata
Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo.
3.2 Metode Penilitian
Penilitian ini dilakukan dengan metode kualitatif untuk dapat menggali
informasi atau data tentang proses Wunungo.
3.3 Jenis Penilitan
Jenis penilitian dipakai dalam penilitian ini yaitu menggunakan deskripsi
kualitatif.
3.4 Alat dan Bahan
1. Kamera
2. Alat tulis menulis
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan dokumentasi.
3.6 Analisi Data
Analisis data menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penilitian
deskrptif kualitatif ini untuk menggambarkan secara utuh dan mendalam
mengenai proses Wunungo ini.
3.7 Sumber Data
1. Data Primer
Wawancara melalui tanya jawab dengan sumber atau pihak yang
mengetahui tentang proses tradisi tersebut.
2. Data sekunder
Tahap pengumpulan informasi ini berupa data-data yang diambil dari luar
konteks yang berupa literatur-literatur terkait dengan penilitian yang
dilakukan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengertian Wunungo
Wunungo merupakan nyanyian yang syair-syairnya berisikan tentang
penghormatan, anjuran dan ucapan terima kasih yang biasanya dilakukan pada
Tadarus Al-qur’an. Pelaksanaan Wunungo pada Tadarus Al-qur’an dilaksanakan
di rumah warga dan di masjid. Wunungo yang dilaksanakan di rumah warga dan
di masjid memiliki perbedaan. Wunungo awal, tengah dan akhir dilaksanakan di
rumah warga. Sedangkan Wunungo yang dilaksanakan di masjid tidak
melantunkan Wunungo akhir, tetapi hanya Wunungo awal dan tengah. Awal
Tadarus Al-qur’an, Wunungo dilantunkan sebagai penghormatan kepada tuan
rumah atau pelaksana Tadarus Al-qur’an yang telah menyelenggarakan acara
tersebut.
Wunungo atau sering disebut juga sadela adalah tradisi menyanyikan syair-
syair dalam bentuk pantun berbahasa Gorontalo yang diserap dari kitab suci
AlQur’an. Tradisi ini dilaksanakan pada acara-acara tertentu salah atunya pada
acara-acara kematian dan juga pada bulan ramadhan dan pada acara majelis
taklim, sebagaimana Gorontalo memiliki budaya modayango (tarian ritual
pemujaan kepada pencipta) wunungo dengan keunikannya memiliki daya tarik
tersendiri atau mungkin asimilatif dalam ragam perkawinan gaya budaya dan
ataupun asosiasi budaya yang disematkan dalam pesan moral dan seruan serta
perintah dalam hidup yang konsisisten dalam teks-teks kitab suci Al-Qur’an.
Wunungo berhubungan erat dengan kehidupan masyarakat,dalam sastra
lisan di daerah Gorontalo wunungo merupakan salah satu sastra lisan daerah yang
masih dilestarikan oleh masyarakat Gorontalo, sehingga dalam penelitian ini
peneliti menggunakan nilai-nilai religius karena dalam syair wunungo memiliki
nasehat kepada masyarakat untuk berbuat baik selama hidup didunia sesuai ajaran
agama islam. Dalam perkembangan pola hidup masyarakat lebih lanjut
menyadarkan bahwa wunungo memiliki aspek-aspek religius.
Adapun alasan peneliti memilih penelitian nilai religius dalam sastra lisan
wunungo di desa ilangata kecamatan anggrek, Gorontalo utara sebagai objek
penelitian karena, melihat kondisi untuk memudahkan memperoleh data yang
diinginkan dari masyarakat sekitar yang memahami syair wunungo. Hal ini
seharusnya dapat dipertahankan oleh kalangan masyarakat yang memahami syair
wunungo, karena didalam kandungan syair wunungo berisikan ajaran tentang
moral, budaya, pendidikan, terutama pendidikan agama. Semua hal-hal yang
berkaitan dengan kebaikan Al-Quran dan ajaran nabi besar Muhamad SAW.
4.2 Syair Wunungo
Syair Wunungo awal yakni:
“Assalamu alaikum
Hadirin walhadirat
Muslimin walmuslimat
Sekalian yang terhormat
Aduhai ibu dan bapak
Pikirkan sedalam-dalam
Agama islam mulia
Amin-amin illah yaumiddin” (Lisna, 9 November 2022)
Dipertengahan tadarus Wunungo dilantunkan apabila ada orang yang
sering salah dalam membaca al-qur’an. Syairnya berisi tentang anjuran untuk
memperbaiki dan belajar lagi cara membaca al-qur’an yang baik dan benar karena
ketika mengaji, para nabi berada disamping dan mendengarkan orang yang sedang
melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an. Adapun syair Wunungo tengah yaitu:
“Poopiyohe ngadimu
Poopiyohe ngadimu
Poopiyohe ngadimu
Nabi-nabi totilimu
Ngadimu poopiyohe
Ngadimu poopiyohe
Ngadimu poopiyohe
Nabi-nabi hidungohe” (Lisna, 9 November 2022)
Pada akhir tadarus Wunungo dilantunkan sebagai ucapan terimakasih atas
kebaikan tuan rumah dan permohonan maaf apabila ada kesalahan danm
mendoakan agar diberikan umur panjang dan kelancaran rejeki sehingga masih
bertemu kembali dalam acara yang sama. Syair Wunungo akhir yaitu:
“Amiyatiya mamohintu mohuwalingo
Bolo maapu allah bolo maapu
Malo oganggu lo buluhuto
Mohile du’a, du’a to allah otutumulo’/
Modudunggaya poli
to tadarus peentha mayi
Bolo maapu allah bolo maapu
amiyatiya mamohinthu” (Lisna, 9 November 2022)
Wunungo terdiri dari beberapa bait dan bahasa yang digunakan dalam
Wunungo tersebut adalah bahasa Indonesia, arab dan bahasa daerah gorontalo itu
sendiri serta memiliki alunan melodi. Peneliti tertarik untuk menganalisis dan
mentranskripsi syair Wunungo dalam tadarus al-qur’an.
Syair wunungo ini dapat dikatakan sebagai symbol dari daerah Gorontalo
yang memegang teguh nilai-nilai agama, dapat dilihat dari daerah yaitu “Adat
bersendikan sara, sara bersendikan kitabullah”. Relevansinya dengan kehidupan
masyarakat saat ini, wunungo sebenarnya dapat menjadi alat bantu bagi para ahli
agama untuk memperbaiki perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran agama islam,
dan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama islam. Secara teoritis, sastra
lisan wunungo tidak tercipta dengan sendirinya, melainkan telah dibangun oleh
unsur-unsur pembangun karya sastra, dalam hal ini yang dimaksud ialah unsure
pembangun karya sastra puisi, atau yang disebut dengan unsure intrinsic puisi.
Berdasarkan Uraian di atas maka perlu menjelaskan bahwa manusia harus
mengetahui aspek religius yang terkandung dalam syair wunungo, karena syair
dapat memberikan pelajaran bagi setiap pembaca syair untuk dijadikan sebagai
pedoman hidup. Maka dalam penelitian ini difokuskan pada aspek dan nilai
religius.
1. Dilihat dari aspek strukrural, gagasan utama pada tema dari puisi lisan ini
yaitu tentang berbakti terhadap ajaran dan perintah Allah SWT. Permasalahan
ini telah terlihat pada sikap dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-
hari, sikap yang beragam seperti perasaan sedih, gembira dalam puisi lisan
wunungo. Wunungo dapat dikategorikan sebagai puisi yang religius apabila
dilihat dari pilihan kata yang digunakan. Selain itu, kata-kata yang digunakan
dalam imajinasi pendengar pembaca dengan menggunakan rima yang
memperindah puisi lisan wunungo yang di bacakan.
2. Sastra tidak hanya dapat menghibur, akan tetapi dapat memberikan
pengajaran bagi penikmatnya, pengajaran tersebut dapat dipetik dari makna
atau pesan-pesan yang terkandung dalam puisi lisan wunungo. didalam
wunungo berisi nasehat kepada manusia gara senantiasa melaksanakan puasa
yang telah diperintahkan oleh Allah SWT. Amalan-malan juga merupakan
yang akan memberikan kenikmatan dunia dan akhirat. untuk itu, wunungo
memiliki fungsi dalam kehidupan manusia antara lain
(1) sebagai media pengajaran atau pendidikan,
(2) membangun jiwa sosial,
(3) meningkatkan kereligiusan umat manusia.
3. Sebagai salah satu produk budaya masyarakat Gorontalo, wunungo telah
mewariskan religius untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehar-hari, dapat
dibuktikan melalui nilai/aspek religius yang terkandung dalam wunungo.
1) nilai religius dalam aspek keimanan yang menyangkut tentang
keyakinan dan hubungan manusia dengan tuhan
2) nilai religius dalam aspek keislaman terdapat dalam intensitas
pelaksanaan ibadah misalnya, sholat, puasa, dan zakat,
3) aspek ihsan menyangkut tentang pengalaman perasaan tentang
kehadiran tuhan,
4) aspek keilmuan yaitu tentang ajran-ajaran islam yang harus
dilaksanakan,
5) aspek religius ditinjau dari amalan yang menyangkut tingkah laku
dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya tolong menolong dan
bekerja sama dalam kehidupan sehari-hari
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilalui, akhirnya peneliti dapat
menyimpulkan mengenai Wunungo. Wunungo merupakan tradisi Gorontalo yang
dilaksanakan pada tadarus al-1qur’an yang terdiri dari Wunungo awal, tengah, dan
akhir. Wunungo diperkirakan terjadi pada abad ke 18 setelah masyarakat sudah
banyak mengenal dan membaca Al-qur’an.
Masyarakat suku Gorontalo adalah masyarakat adat, yang menempatkan
adat bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitabullah, sehingga secara
kultural, masyarakat Gorontalo sangat menghargai tradisi-tradisi baik secara
simbolik, naskah-naskah klasik yang mengandung syiar agama bahkan dalam
bentuk penuturan sastra lisan bernuansa pesan pesan moral yang islami tetap
dipelihara dan dilestarikan.
DAFTAR PUSTAKA
Didipu, Herman. 2011. Sastra Daerah. Jakarta : Ideas Publishing
Kasim, D. (2018). Transformasi Tadarus al-Qur’an ke dalam Budaya (Analisis
terhadap Tradisi Ngadi Wunu-wunungo di Kota Gorontalo Perspektif
Maslahah) (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Alauddin
Makassar).
Tuloli, Nani. 1995. Khazanah Sastra Lisan. Gorontalo: STKIP.
Une, Darwin, dkk. 2010. Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama Islam
untuk Perguruan Tinggi Umum. Gorontalo: Akasyah
TANYA JAWAB
1. LUTHFIANA : apakah wunungo ini hanya dilakukan oleh ibu-ibu saja? Dan
mengapa wunungo ini hanya ada di beberapa daerah di Gorontalo?
JAWAB : wunungo bisa dilakukan oleh siapa saja, entah itu para kaum muda
laki-laki dan perempuan Bahkan bisa juga dilakukan oleh bapak-bapak.
Hanya saja wunungo ini sering dilakukan oleh ibu-ibu pengajian Al-quran,
sehingganya jarang sekali bapak-bapak melakukan wunungo ini.
Sebenarnya tradisi wunungo ini sudah ad di tiap-tiap daerah digorontalo,
hanya saja jarang direalisasikan di tempat-tempat umum, dan seolah-olah
tradisi ini hanya ada dibeberapa daerah di Gorontalo, padahal tiap-tiap daerah
itu memang sudah ad tradisi ini. Sehingganya ini jadi PR buat kita selaku
masyarakat Gorontalo untuk merealisasikan tradisi ini agar dapat dikenal oleh
masyarakat luas dan khusunya para pendatang digorontalo.
2. TIRSA : apakah tradisi wunungo ini bisa dilakukan di tempat-tempat duka?
JAWAB : tentu saja bisa. Karena wunungo ini memiliki syair yang berupa
nasehat sehingga sangat cocok jika di lakukan di tempat duka.