Anda di halaman 1dari 12

FONOLOGI GENERATIF

TUGAS

LINGUISTIK LANJUT

Pembina:

Prof. Dr. H. Suparno


Prof. Dr. Anang Santoso

Oleh

MUHAM MAD L UQMAN

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PROGRAM PASCASARJANA
PRODI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
2010
FONOLOGI GENERATIF

1. Pendahuluan
Tata batrasa Generatif pertama kali diperkenalkan oleh Noam Chomsky dengan
bukunya yang pertama yaitu Syntatic Structure ( 1957). Gagasan dasar Chomsky dalam
buku tersebut yang lebih lanjut disebut sebagai Tata Bahasa Generatif Transformasi tahap
Pertama( TGT- l), ialah penolakan terhadap asumsi utama strukturalisme yang
beranggapan bahwa kelayakan kajian kebahasaan ditentukan oleh deskripsi data
kebahasaan secara induktif. Bagi Chomsky kajian linguistik berkaitan dengan aktivitas
mental yang berkaitan dengan probalititas, dan bukan berhadapan dengan data kajian yang
tertutup dan selesai hingga dapat dianalisis dan dideskripsikan secara pasti. Sebab itu teori
linguistik haruslah dikembangkan dengan bertolak dari cara kerja secara deduktif yang
dibangun oleh konstruk hipotesis tertentu.
Menurut model tata bahasa generatif, proses pembentukan kalimat harus melewati
tiga rumus, yakni (1) rumus struktur frase,(2) rumus transformasi, dan (3) rumus
morfofonemik. Apabila ketiga rumus tersebut diterapkan, kita akan mendapatkan hasil
berupa serangkaian fonem (string of phonemes) dalam bahasa yang bersangkutan dan
direalisasikan dalam struktur fonetik berupa ujaran yang kita dengar (atau lambang grafem
yang kita baca).
Rumus struktur frase bersama-sama dengan daftar kata (lexem) merupakan struktur
dalam (deep structure) yang menjadi pengetahuan para penutur bahasa. Untuk dapat
direalisasikan menjadi penggunaan bahasa yang sebenarnya atau unsur luar (surface
structure) diperlukan rumus transformasi. Sementara rumus-rumus fonologi dibutuhkan
agar untaian proses tadi dapat diucapkan dengan bentuk ujar.
Morris Halle yang pertama menerapkan prinsip generatif dalam bidang fonologi.
Karangan-karangan Halle yang terkenaly ang menjadi awal perkembangan fonologi
generatifa dalah The Sound Pattern of Russian yang terbit tahun 1959.
Chomsky dan Halle mengungkapkan pengertian fonologi sebagai berikut. ".... .an
interpretativ device projects surface representation to photnetic forms". Fonologi adalah
"piranti penafsir" yang menjembatani struktur luar (surface structure) dengan bentuk
fonetisnya.

2
2. Struktur Bunyi Bahasa
Ada tiga bagian penting dari bunyi bahasa yang dapat kita amati. Bagian-bagitan itu
tersusun secara teratur dalam strukfur bunyi yang bertahap dan nonlinear. Bagian yang
paling bawah yang merupakan unit terkecil dalam analisis bunyi adalah ciri distingtif.
Bagian kedua adalah segmen yang tersusun atas beberapa ciri distingif. Bagian ketiga yang
merupakan struktur bagian teratas dalam analisis buyi bahasa adalah suku kata yang
terbentuk atas beberapa segmen. Struktur bunyi itu dapat kita gambarkan dalam tree
diagram berikut.
μ

suku kata σ σ σ σ

segmen i n d o n e s a

Ciri [+sil] [+nas][+voice][+round][+nas][-back][+kor][+low]


Pada kata Indonesia di atas, yang biasanya diucapkan [indonesia], kata itu (μ)
terdiri atas empat suku kata (σ) yang tersusun atas delapan segmen yang juga terbentuk atas
beberapa ciri. Dalam contoh di atas hanya dicantumkan satu dari sekian banyak ciri
distingtif, yaitu yang membedakan antara konsonan dan bukan konsonan, misalnya ciri
silabis [+sil], ciri bunyi sengau [+nas], ciri untuk membedakan konsonan suara dan nirsuara
[+voice], ciri vokal bundar atau tidak bundar [+round], ciri bunyi vokal depan atau
belakang [-back], ciri untuk konsonan koronal atau bukan [+kon], satu ciri untuk vokal atas
atau vokal bawah [+low].

3. Ciri‐ciri Pembeda (Feature Destingtif)


Dalam perkembangan deskripsi linguistik berikutnya para ahli belum ada
kesepakatan dalam hal bentuk ciri yang diperlukan untuk mendeskripsikan pola bunyi yang
terjadi dalam bahasa. Akan tetapi, sudah terdapat dua ciri yang sering digunakan. Ciri
pertama adalah ciri yang disebut dengan ciri utama dan ciri kedua adalah ciri yang
dikemukakan oleh Noam Chomsky dan Morris Halle (Ladefoged, 1978:5) yang dikenal
dengan istilah ciri Chomsky‐Halle.

3
Ciri utama adalah sebuah properti yang dapat diukur dan dapat digunakan untuk
mengelompokkan bunyi‐bunyi bahasa. Contohnya, ciri utama nasal yang mengelompokkan
fonem bahasa Indonesia menjadi [+ nasal], yaitu /m, n, η, ñ/ dan [‐nasal], yaitu yaitu semua
konsonan lain bahasa Indonesia. Ciri utama juga dapat digunakan untuk menentukan bunyi
yang memiliki kaidah fonologis yang sama. Contohnya, [‐bersuara] digunakan sebagai
penentu fonem bahasa Indonesia /p, c, t, k, s/.
Chomsky dan Halle mengungkapkan bahwa setiap ciri memiliki nilai biner, sebagai
contoh digunakan enam ciri biner untuk menentukan daerah artikulasi bunyi. Ciri pertama
adalah ciri anterior‐nonanterior. Ciri kedua adalah ciri koronal-nonkoronal. Ciri ketiga
adalah ciri tersebar‐tak tersebar. Ciri keempat adalah belakang‐tak belakang. Ciri kelima
adalah tinggi‐taktinggi, dan ciri keenam adalah rendah‐takrendah.
Schane (1973) menyatakan bahwa fonem bukanlah merupakan satuan yang paling
kecil. Masih ada satuan yang lebih kecil lagi dari fonern, yaitu ciri‐ciri pembeda. Ciri
pembeda itu dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
Pertama, ciri‐ciri golongan/kelas utama meliputi silabis (sil), sonoran (son), dan
konsonantal (kon). Ciri silabis menggambarkan peran suatu segmen dalam struktur
silabenya. Pada umumnya vokal adalah (+silabis), sedangkan konsonan (‐silabis). Ciri ini
juga diperlukan untuk membeda‐kan bunyi nasal dan likuid silabis [+silabis] dengan
pasangannya nonsilabis.
Ciri sonoran merujuk ke kualitas resonan atau bunyi. Vokal selalu (+sonoran)
seperti halnya bunyi nasal, likuid, dan semi vokal. Bunyi obstruen konsonan hambat,
frikatif, afrikatif dan luncuran laringal yaitu [‐sonoran].
Ciri konsonantal merujuk ke hambatan dalam rongga mulut, baik hambat total
maupun geseran. Bunyi hambat, frikatif, tanpa tingkat penyempitan, adalah [+konsonantal],
sedangkan vokal dan semi vokal tanpa tingkat penyempitan adalah [‐konsonantal],
termasuk bunyi laringal.
Kedua, ciri‐ciri cara artikulasi yang meliputi malar (kontinuan), pelepasan tertunda
[pelepasan tak segera], kasar [strident], [nasal], dan [lateral]. Malar (kontinuan) adalah
kelompok bunyi yang dihasilkan dengan mengalirkan udara ke rongga mulut dengan bebas.
[+Kont] seperti bunyi‐bunyi frikatif, trill [r], vokal dan semi vokal. [-Kont] adalah bunyi‐
bunyi hambat, nasal, dan lateral [l]. Pelepasan tertunda adalah bunyi yang dihambat di

4
dalam rongga mulut yang dilepaskan secara perlahan‐lahan sehingga menghasilkan bunyi
afrikatif [+pts] dan [‐pts] adalah bunyi‐bunyi lainnya, terutama bunyi hambat.
Strident [strid] adalah kelompok bunyi yang dihambat dengan pelepasan bunyi
dalam intensitas yang tinggi, yaitu bunyi‐bunyi frikatif dan afrikatif [+strid] adalah bunyi‐
bunyi sibilan [s dan z] dalam bahasa Inggris dan bunyi [ f dan v], [‐strid] adalah bunyi‐
bunyi lainnya.
Nasal [nasal], bunyi ini ditandai dengan ditariknya langit‐langit lunak (velum ke
bawah dan menyentuh bagian belakang lidah), sehingga aliran udara berhembus melewati
hidung [+nasal] adalah konsonan, vokal, semi vokal, alir yang disengaukan, [‐nasal] adalah
semua bunyi‐bunyi oral.
Lateral [lat], ciri ini membedakan antara bunyi lateral alir [l] dan nonlateral,
misalnya [r], [+Lat] adalah bunyi lainnya terutama [l] dalam bahasa Inggris, [‐lat] adalah
bunyi lainnya terutama [r].
Ketiga, ciri‐ciri daerah artikulasi meliputi anterior dan koronal. Anterior [ant],
bunyi ujar dengan ciri menghasilkan pusat penyempitan sebagai sumber bunyi berada di
sebelah depan pangkal gusi. [+ant] adalah bunyi‐bunyi labial, dental, dan alveolar, [‐ant]
adalah bunyi‐bunyi palato‐alveolar, palatal velar, dan laringal.
Koronal [kor], bunyi konsonan yang ditandai dengan: posisi glotis menyempit,
langit‐langit lunak terangkat dan posisi bagian depan terangkat sampai berada di atas posisi
“netral", [+kor] adalah bunyi‐bunyi dental, alveolar, palato-alveolar dan palatal. [‐kor]
adalah bunyi‐bunyi labial, velar uvular dan laringal.

5. Rumus Fonologi
Pada dasarnya pengikut fonologi generatif lebih tertarik kepada perubahan-
perubahan bunyi sebagai akibat penggunaan bahasa dalam berbagai situasi dan kondisi
serta dalam aneka wilayah pemakaiannya. Perubahan itu baik bersifat diakronis maupun
sinkronis, diungkapkan dalam berbagai rumus sesuai dengan gejala kebahasaan yang
terjadi.
Rumus-rumus fonologi diformulasikan untuk menangkap gejala kebahasaan yang
muncul, khususnya gejala perubahan bunyi. Oleh karena itu, kalau kita ingin
mengelompokan rumus-rumus fonologi kita dapat melakukannya dengan mengamati gejala

5
perubahan bunyi tersebut, yaitu antara lain pelepasan segmen (deletion) dan penambahan
(addition) segmen, permutasi (permutation), perubahan urutan segmen (metathesis),
perubahan ciri distingtif segmen (feature change), asimilasi dan disimilasi, penyatuan
segmen (coalescence). Beberapa diantaranya diuraikan secara singkat di bawah ini.

5.1 Rumus Pelepasan dan Penambahan Segmen


Hilang atau munculnya segmen dirumuskan dengan merumuskan tanda kosong (Ø).
Untuk pelepasan digunakan simbol sebagai berikut.
A → Ø / B_____ C
Dan penambahan d engan cara
A → A / B_____ C
Misalnya, pelepasan bunyi /r/ pada akhir kata.
Penyisipan vocal, misalnya vocal /ə/ yang disisipkan atau ditambahkan pada gugus
konsonan /str/ dalam kata structure [sətrakcə] dapat dirumuskan sebagai berikut.
Ø → ə / #C_____ CC

5.2 Rumus Permutasi dan Metatesis


Rumus metatesis dari perubahan urutan segmen (permutasi) dituliskan dalam
berbagai bentuk. Rumus itu dapat berupa:
A B → BA atau CC_____ CC
Sebagai contoh banyak orang mengucapkan kata [aks] dan bukan [ask]. Secara sederhana
rumus metatesis [sk] menjadi [ks] ini berbentuk:
sk → ks ______ #

5.3 Rumus Perubahan Ciri Distingtif


Beberapa ahli merumuskan rumus ini sebagai bagian dari rumus asimilasi, karena
biasanya perubahan yang dimaksudkan dalam rumus ini adalah perubahan yang melibatkan
perubahan ciri distingtif [voice]. Bunyi obstruen [-son] yang berubah menjadi [-voice] pada
posisi akhir kata dapat digambarkan sebagai berikut.
[-son] → [-voice] / _______ #
Karena pada input [-son] di atas tidak dicantumkan ciri distingtif [voice], apakah
[+voice] atau [-voice]. Dapat dipahami secara tersirat bahwa rumus tersebut dapat

6
diterapkan pada kedua ciri distingtlf tersebut, baik [+voice] maupun [-voice]. Dengan
demikian maka hanya [-son] dan [+voice] saja yang dapat diubah oleh rumus di atas.

5.4 Rumus Asimilasi dan Desimilasi


Pada rumus asimilasi tergambar keadaan sebuah segmen bunyi yang dipengaruhi
oleh segmen tetangganya, yakni segmen bunyi output yang melebur bersama
lingkungannya dan dengan demikian menjadi berbeda dengan inputnya.
Apabila segmen yang menjadi penyebab asimilasi tersebut berada dalam posisi
sebelum segmen yang mengalami asimilasi, gejala demikian disebut asimilasi progresif.
Sebaliknya jika segmen penyebab terjadinya asimilasi berada di belakang segmen yang
mengalami asimilasi disebut asimilasi regresif. Asimilasi bunyi nasal dalam bahasa Inggris
dan Sunda adalah contoh dari kedua jenis tersebut. Pada bahasa Inggris terjadi asimilasi
regresif, sementara dalam bahasa Sunda terjadi asimilasi progresif. Contoh vokal oral
bahasa Inggris akan menjadi nasal apabila ada konsonan nasal segera setelah vokal oral
tersebut. Gejala demikian digambarkan sebagai berikut.
[+sill] → [+nasal] / ______ [+nasal]
Misalnya, kata ben diucapkan [be῀n].
Sementara dalam bahasa Sunda, keadaannya terbalik
[+sill] → [+ nasal] / [+nasal] ______
Misalnya kata nakol 'memukul' diucapkan [nãkol]
Disimilasi tedadi pada dua segmen bunyi yang sama karena terlalu berdekatan akan
berubah menjadi dua segmen yang berbeda. Chomsky dan Halle (1968) menggambarkan
proses disimilasi sebagai berikut.
[αF] → [-αF] / ______ [αF]
Di dalam bahasa Sunda, infiks –ar- jika disisipkan ke dalam kata dahar 'makan',
tidak menjadi *darahar (d-ar-ahar), melainkan dalahar (d-al-ahar). Oleh karena itu infiks
-ar- selalu dikatakan memiliki alomorf –al-. Demikian pula kata para putra 'anak-anak'
biasa diucapkan pala putra karena terjadi proses disimilasi bunyi trill [r] dengan bunyi
lateral [l].
5.5 Rumus Penyatuan Segmen
Beberapa gugus segmen bisa diucapkan menjadi satu segmen. Gejala demikian
sering kita temukan pada ucapan anak-anak atau orang yang sedang belajar bahasa asing.

7
Seorang anak kecil yang mengucapkan kata spoon sebagai [fun] atau sneak menjadi [nik].
Dapat digambarkan dalam rumus penyatuan segmen sebagai berikut.
sp → f / # _______
sn → n / # _______
Rumus ini bagi beberapa ahli fonologi disebut proses asimilasi yang diikuti dengan
pelesapan (deletion).

6. Rumus Fonologi dan Derivasi


Proses derivasi adalah tahapan dalam merealisasikan bentuk abstrak kepada bentuk
kongkret. Dalam fonologi ada dua tataran yaitu kompetensi yang berhubungan dengan
phonemic level (kemampuan dasar berbahasa manusia) dan performens yang berhubungan
dengan phonetic level (pengucapan yang sebenarnya).
Seorang anak yang masih dalarn taraf peniruan berusaha mengucapkan kata stop,
misalnya, namun yang ia ucapkan adalah kata [da]. Kita tentu ingin mengetahui tentang
apa yang berada di dalam pikiran (underlying representation) anak itu, apakah kata [stap]
seperti yang ia dengar dari pengucapan orang tuanya. Atau bunyi [da] seperti yang ia
ucapkan sendiri. Para ahli fonologi akan mengasumsikan bahwa bunyi [stap] inilah yang
ada dalam otak anak itu yang setelah melewati beberapa tahapan dan proses keluaran
menjadi [da]. Edward dan Shriberg (1983) mengungkapkan tahapan derivasinya sebagai
berikut.
1) Underlyingrepresentation /stap/
2) /s/ - cluster reduction /tap/
3) Initiating voicing /dap/
4) Final consonant deletion /da/
5) Surface from /da/
Menurut mereka, sekurang-kurangnya ada tiga tahap analisis yang dilakukan oleh
anak itu di dalam otaknya. Tanda / / yang mengapit segmen bunyi adalah proses yang
terjadi di dalam benak si anak (underlying representation) berikut “para penghubungnya”,
yaitu pelesapan konsonan /s/ pada posisi awal kata gugus konsonan /st/. penyuaraan bunyi
hambat tak bersuara /t/ → /d/, dan pelesapan konsonan akhir /p/ → Ø. Setelah melewati
proses itulah keluar bunyi [da].

7. Analisis fonologi

8
Untuk menganalisis fonologi suatu bahasa, menurut fonologi generatif, yaitu fase
pertamanya adalah menentukan dulu hipotesis representasi dasar dari representasi fonetik
yang ada. Hal ini ditempuh karena fonologi generatif percaya bahwa beberapa aspek
realisasi fonetik sesuatu morfem merupakan ciri idiosinkratik dari morfem itu, sedangkan
aspek realisasi yang lain mengikuti prinsip keteraturan yang sistemik. Oleh karena itu,
sesudah hipotesis mengenai representasi dasar ditentukan, dicari aturan-aturan yang dapat
mengubah representasi dasar menjadi representasi fonetik. Aturan-aturan yang disusun itu
harus diaplikasikan kepada data yang tersedia. Hipotesis-hipotesis diverifikasi untuk
memperoleh hipotesis yang paling bisa diterima. Barulah disimpulkan sistem fonologi
bahasa itu (Wahab, 1990:17).
Sekarang perhatikanlah contoh data dari bahasa Papago, yaitu bahasa Uto-Astec
yang dipakai oleh suku bangsa Indian di Arizona.
tatai
tatal
tams
tohnto
tokih
todsid
ċuagia
ċuċul
ċukma
ċiposid
ċilwin
ċigitog

Pada data di atas dapat dilihat keteraturan pola distribusi dental stop t dan d versus
palatal affiicate c dan j, khususnya ċ dan j muncul pada posisi sebelum vokal tinggi tetapi t
dan d tidak pernah muncul pada posisi yang demikian, tetapi bisa muncul dalam
lingkungan bunyi yang lain. Pada data bahasa Papago ini dapat diajukan dua hipotesis:
Pertama, dental stop dapat dianggap sebagai representasi dasar, sehingga diperlukan aturan
yang mengubah dental stop ke palatal affricate; Kedua, palatal afticate yang dianggap

9
sebagai representasi dasar, sehingga diperlukan aturan yang bisa mengubah palatal affricate
menjadi dental stop.
Ada dua alasan mengapa hipotesis lebih bisa diterima dari pada hipotesis kedua.
Pertama, palatalisasi dental di muka bunyi vokal tinggi itu merupakan aturan yang lebih
alamiah dalam semua bahasa. Kedua aturan yang mengubah dental stop ke palatal affricate
itu mempunyai interpretasi fonetik yang rasional. Vokal tinggi dihasilkan dengan cara
meninggikan letak batang lidah. Demikian juga dalam menghasilkan bunyi palatal afticate,
batang lidah diangkat menuju langit-langit. Sebaliknya mengubah palatal afticate menjadi
dental stop itu tidak ada dasar gerakan biologis yang bisa memberikan interpretasi fonetik
rasional seperti kemungkinan yang pertama tadi.
Dalam bentuk formula aturan yang mengubah dental stop menjadi palatal afticate
itu bisa dinyatakan sebagai berikut:
stop affricate vocal
→ / _____
dental palatal tinggi

Untuk memperoleh konsep yang lebih jelas lagi mengenai representasi dasar,
representasi fonetik dan aturan-aturan fonologi dalam dunia fonologi generatif, perhatikan
analisis fonologis terhadap bahasa Chatino, yaitu bahasa yang dipakai suku bangsa Indian
yang ada di Meksiko berikut ini.

10
Catatan: Huruf besar A, I, dan U adalah lambang untuk vokal tak bersuara, dan ’ adalah
lambang untuk suku kata yang memperoleh stres.
Pengamatan terhadap data di atas memberikan generalisasi distribusi vocal yang
mempunyai ciri voiceless.
(1) Vokal voiceless terbatas posisinya di antara konsonan yang juga voiceless;
(2) Semua vocal yang mempunya ciiri voiceless tidak memperoleh stress; dan
(3) Tidak ada vocal bercirikan voiced yang tidak memperoleh stress di antar konsonan
yang bercirikan voiceless. Sebagai tambahan generalisas di atas dapat dikatakan bahwa
stress selalu muncul pada vocal akhir dari suatu kata.
Oleh karena vocal yang bercirikan voiced dan voiceless mempunyai distribusi yang
komplementer, dapatlah dikatakan bahwa salah satu menjadi dasar dan satunya diturunkan
dari dasar itu melalui aturan fonologi. Atas dasar prinsip alami yang berlaku dalam
memproduksi vocal, maka vocal yang bercirikan voiced-lah yang menjadi dasar, sedangkan
yang bercirikan voiceless diturunkan dari dasar.
Dengan demikian aturan yang cocok untuk data bahasa Chatino ini dapat
diformulasikan sebagai berikut:
Penempatan stress:

Vokal → stress / ______C#

Peniadaan suara vocal:


Vokal vokal konsonan konsonan
→ / ______
-stress -suara -suara -suara

Rujukan

Alwasilah, Chaedar.A. 1989, Beberapa Madhab dan Dikotomi Teori Linguistik, Bandung:
Angkasa.

Ibrahim, Abdul Syukur. 1987, Model L inguistik Dewasa Ini. Surabaya: Usaha Nasional.

Marsono. 1993. Fonetik, Yogiakarta : Gajah Mada University Press.

Robins, R .H. 1964. General Linguistics An Introductory Survey, London: University

11
Samsuri. 1998. Berbagai Aliran Linguistik Abad XX, Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.

Schane, Sanford A . 1973. Generative Phonologi, San Diego: University of California.

Verhaar.1 999. Asas-asas Linguistik Umum, Yogjakarta: Gajah Mada University

Wahab, Abdul. 1990. Butir-Butir Linguistik, Surabaya; Airlangga University Press.

Yusuf, Suhendra. 1998. Fonetik dan Fonologi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

12