Anda di halaman 1dari 25

INDONESIA DAN PERDAMAIAN DUNIA

Dosen Pembimbing :
Dra. Hj. SYARWINI, S.Kep. M.Biomed

Disusun oleh Kelompok I :


ADE SURYA NINGSIH ( 193110121 )
AVIS YUDI PUTRA ( 193110129 )
INDAH TRIANA PUTRI ( 193110137 )
PUTRI FHARAS SWANDI ( 193110145 )
SINTA ARYA NINGSIH ( 193110153 )

DIII KEPERAWATAN PADANG


POLTEKKES KEMENKES PADANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya saya
dapat menyelesaikan makalah tentang “ Lingkungan dan Kesehatan ” ini. Sholawat
dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, Nabi
Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita semua jalan yang lurus
berupa ajaran agama Islam yang sempurna dan menjadi anugrah terbesar bagi seluruh
alam semesta.

Saya sangat bersyukur karena dapat menyelesaikan makalah yang menjadi


tugas lingkungan dan kesehatan ini. Di samping itu,saya mengucapkan banyak terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan tugas ini.
saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Saya pun menyadari bahwa di dalam makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya mengharapkan adanya
kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan saya buat di masa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Padang,10 November 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ................................................................................... i
Daftar Isi ............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................. 1
A. Latar Belakang ......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 1
C. Tujuan ................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ............................................................... 3


A. Posisi negara dalam era global ................................................... 3
B. Pengertian dari perdamaian dunia ................................................ 5
C. Apakah Indonesia sudah turut serta dalam perdamaian dunia .............. 6
D. Cara mewujudkan perdamaian dunia ............................................. 9
E. Sistem pertahanan dan keamanan Negara ..................................... 18
BAB III PENUTUP ........................................................................ 21
A. Kesimpulan .................................................................................. 21

Daftar Pustaka ................................................................................. 22

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam suatu negara tidak dapat berdiri sendiri. Seperti halnya individu
sebagai makhluk sosial. Negara tentunya akan memerlukan negara atau komponen
yang lain. Bahkan ada pula negara yang memiliki keterkaitan serta ketergantungan
dalam aspek ekonomi, sosial, dan politik. Jika adanya keterkaitan antar negara
dengan negara lain tersebut tentunya ada sebuah hubungan yang baik. Salah
satunya merupakan negara kita sendiri yaitu negara indonesia dengan negara-
negara lain.
Dinamakan masyarakat global, ditandai adanya saling ketergantungan
antar bangsa, adanya persaingan yang ketat dalam suatu kompetisi dan dunia
cenderung berkembang kearah perebutan pengaruh antar bangsa, baik lingkup
regional, ataupun lingkup global. Namun pada kenyataanya masih banyak
hubungan yang bertentangan antara negara satu dengan yang lain. Yang
mengakibatkan terjadinya konflik dan terusiknya perdamaian dunia. Konflik
biasanya dipicu dengan adanya masalah dalam hal sosial, ekonomi, politik,
agama maupun kebudayaan.
Terjadinya konflik akibat adanya keserakahan, kurang saling menghargai
dan mengerti antara satu dengan yang lain. Dari masalah di atas dalam makalah ini
akan membahas mengenai apa yang dimaksud dengan perdamaian dunia itu sendiri,
cara mewujudkan perdamaian dunia serta partisipasi indonesia dalam perdamaian
dunia.

B. TOPIK PEMBAHASAN
1.Posisi negara dalam era global
2.Pengertian dari perdamaian dunia
3.Apakah Indonesia sudah turut serta dalam perdamaian dunia

1
4.Cara mewujudkan perdamaian dunia
5.Sistem pertahanan dan keamanan Negara

C.TUJUAN
1.Mengetahui bagaimana posisi negara dalam era global.
2.Mengetahui yang dimaksud perdamaian dunia.
3.Mengetahui partisipasi Indonesia dalam perdamaian dunia.
4.Mengetahui bagaimana cara mewujudkan perdamaian dunia.
5.Mengetahui sistem pertahanan dan keamanan negara.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. POSISI NEGARA DALAM ERA GLOBAL


Sebagai suatu pendekatan, kondisi dan sebuah doktrin dasar nasional,
ketahanan nasional merupakan strategi pengembangan kemampuan nasional
melalui penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang pada
seluruh aspek pendidikan. Kemampuan nasional yang dikembangkan diharapkan
mampu menghadapi ancaman yang dapat membahayakan kelangsungan hidup bangsa
dan negara.
Dalam membahas ketahanan nasional, sekarang ini kita tidak dapat
melepaskan diri dari pengaruh seluruh serta perkembangan kehidupan internasional.
Hal ini karena globalisasi dan perkembangan diluar negara turut mempengaruhi
kelangsungan hidup bangsa dan negara. Globalisasi adalah proses sosial yang
muncul sebagai akibat dari kemajuan dan inovasi tekhnologi serta perkembangan
informasi dan komunikasi.

Namun, sebagai sebuah proses, globalisasi memiliki karakteristik sebagai


berikut :
1.Terkait erat dengan kemajuan teknologi, arus informasi, dan komunikasi lintas
batas negara.
2.Tidak dapat dilepaskan dari adanya akumulasi kapital, tingginya arus investasi,
keuangan, dan perdagangan global.
3.Berkaitan dengan semakin tingginya intesitas perpindahan manusia, barang,
jasa, dan pertukaran budaya yang lintas batas negara.
4.Ditandai dengan semakin meningkatnya tingkat keterkaitan dan ketergantungan
tidak hanya antar bangsa / negara tetapi juga antar masyarakat.

3
Globalisasi abad XXI diyakini berpengaruh besar terhadap kehidupan
suatu bangsa. Globalisasi akan menimbulkan ancaman dan tantangan yang
ditengarai bisa berdampak negatif bagi bangsa dan negara. Namun, disisi lain
globalisasi memberikan peluang yang akan berdampak positif bagi kemajuan suatu
bangsa.
Oleh karena itu, dalam era seluruh ini perlu kita ketahui macam-macam
ancaman atau tantangan apa yang diperkirakan dapat melemahkan posisi Negara
- bangsa. Perlu disadari bersama bahwa globalisasi menghadirkan fenomena -
fenomena baru yang sebelumnya belum pernah dihadapi oleh Negara - bangsa.
Fenomena baru itu misalnya hadirnya perusahaan multinasional, semakin luasnya
perdagangan seluruh, dan persoalan lingkungan hidup.

Dalam mengahadapi globalisasi ini, bangsa-bangsa di dunia member respons


atau tanggapan yang dapat dikategorikan sebagai berikut :
a. Sebagian bangsa menyambut positif globalisasi karena dianggap sebagai jalan
keluar baru untuk perbaikan nasib umat manusia.
b.Sebagian masyarakat yang kritis menolak globalisasi karena dianggap sebagai
bentuk baru penjajahan (kolonialisme) melalui cara-cara baru yang bersifat
transnasional dibidang politik, ekonomi, dan budaya.
c.Sebagian yang lain tetap menerima globalisasi sebagai sebuah keniscayaan
akibat perkembangan teknologi informasi dan transportasi, tetapi tetap kritis
terhadap akibat negatif globalisasi.

Tampaknya bagi negara-negara Indonesia, globalisasi merupakan sesuatu


yang tidak bisa ditolak. Berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah
Indonesia menyiratkan bahwa Indonesia ikut serta dalam arus global. Misalnya
dengan ikut serta dalam forum WTO, APEC, dan AFTA. Globalisasi perlu
diwaspadai dan dihadapi dengan sikap arif bijaksana. Salah satu sisi negatif
dari globalisasi adalah semakin menguatnya nilai-nilai materialistik pada

4
masyarakat Indonesia. Disisi lain nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan,
keramahtamahan sosial dan rasa cinta tanah air yang pernah dianggap sebagai
kekuatan kekuatan pemersatu dan ciri khas bangsa Indonesia, makin pudar. Sisi
negatif ini dimungkinkan karena masuknya nilai-nilai global. Inilah yang
menyebabkan krisis pada jati diri bangsa.

Disamping itu, diupayakan pula pembangunan moral bangsa yang


mengedepankan nilai-nilai kejujuran, amanah, keteladanan, sportifitas, disiplin,
etos kerja, gotong royong, kemandirian, sikap toleransi, rasa malu, dan
tanggung jawab. Tujuan tersebut dilaksanakan pula melalui pengarusutamaan
nilai-nilai budaya pada setiap aspek pembangunan. Kegiatan pokok yang akan
ditempuh antara lain adalah :
1. Aktualisasi nilai moral dan agama.
2. Revitalisasi dan reaktualisasi budaya lokal yang bernilai luhur
termasuk didalamnya pengembangan budaya maritim.
3. Transformasi budaya melalui adopsi dan adaptasi nilai-nilai baru yang
positif untuk memperkaya dan memperkokoh khazanah budaya
bangsa, seperti orientasi pada peningkatan kinerja, budaya kritis,
akuntabilitas dan penerapan iptek.

B. PENGERTIAN PERDAMAIAN DUNIA


Dalam studi perdamaian, perdamaian dipahami dalam dua pengertian.
Pertama, perdamaian adalah kondisi tidak adanya atau berkurangnya segala jenis
kekerasan. Kedua, perdamaian adalah transformasi konflik kreatif non-kekerasan.
Dari dua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa perdamaian adalah apa yang kita
miliki ketika transformasi konflik yang kreatif berlangsung secara tanpa kekerasan.
Perdamaian selain merupakan sebuah keadaan, juga merupakan suatu
proses kreatif tanpa kekerasan yang dialami dalam transformasi (fase
perkembangan) suatu konflik. Umumnya pemahaman tentang kekerasan hanya

5
merujuk pada tindakan yang dilakukan secara fisik dan mempunyai akibat secara
langsung. Batasan seperti ini terlalu minimalistis karena rujukannya berfokus
pada peniadaan atau perusakan fisik semata. Kendati pun demikian, pengertian
perdamaian tidak berhenti di situ. Perdamaian bukan sekedar soal ketiadaan
kekerasan atau pun situasi yang anti kekerasan. Lebih jauh dari itu perdamaian
seharusnya mengandung pengertian keadilan dan kemajuan.
Perdamaian dunia tidak akan dicapai bila tingkat penyebaran penyakit,
ketidakadilan, kemiskinan dan keadaan putus harapan tidak diminimalisir.
Perdamaian bukan soal penggunaan metode kreatif non-kekerasan terhadap setiap
bentuk kekerasan, tapi semestinya dapat menciptakan sebuah situasi yang seimbang
dan harmoni, yang tidak berat sebelah bagi pihak yang kuat tetapi sama-sama
sederajat dan seimbang bagi semua pihak. Jadi perdamaian dunia merupakan
tiadanya kekerasan, kesenjangan, terjadinya konflik antar negara di seluruh dunia.

C. MEWUJUDKAN PERDAMAIAN DUNIA


Ketika ada seseorang ataupun Negara yang lebih suka menyerukan
peperangan, mungkin saja hati nuraninya telah mati. Sebab semua yang hati
nuraninya masih berfungsi tentu akan memilih perdamaian. Bukankah perdamaian
itu tidak sulit dan lebih memberikan harapan? Mengapa harus kita persulit?
Sebenarnya tidak sesulit yang kita bayangkan, andai saja semua orang dan
seluruh Negara di dunia ini mau bersama-sama “saling bergandengan tangan” dan
berkomitmen untuk terus menyerukan dan mewujudkan perdamaian dunia.
Sudah saatnya kini kita hapuskan paradigma bahwa mewujudkan sebuah
perdamaian itu sulit. Paradigma bahwa mewujudkan perdamaian itu sulit hanya akan
terus membelenggu fikiran kita dan menjadi batu sandungan yang menjegal segala
upaya perdamaian itu sendiri. Penulis terkadang merasa miris, mengapa begitu
mudahnya kita serukan konflik dan peperangan? Sementara itu begitu sulit
hanya untuk sebuah perdamaian yang mana demi kehidupan bangsa juga

6
seluruh Negara yang lebih baik. Ini tentu menjadi PR untuk bangsa Indonesia
khususnya dan seluruh Negara di dunia yang masih bernurani tentunya.
Kita bersama harus yakin bahwa suatu saat nanti perdamaian dunia akan
benar-benar terwujudkan. Tentu yakin saja tidak cukup dan tidak akan pernah
mengubah keadaan. Harus ada upaya-upaya nyata yang kita lakukan bersama
Negara-negara di seluruh penjuru dunia. Selama ini memang sering ada upaya-
upaya diplomasi dan pertemuan antar Negara guna menciptakan perdamaian
dunia. Pada akhirnya yang dihasilkan seperti biasa yaitu butir-butir kesepakatan atau
semacam perjanjian bersama yang selama ini belum banyak mampu merubah
keadaan.
Ada beberapa solusi atau upaya menurut Cipto Wardoyo yang harus
dilakukan demi mewujudkan perdamaian dunia, antara lain:
1. Melalui Pendekatan Cultural (Budaya)
Untuk mewujudkan perdamaian kita harus mengetahui budaya tiap-tiap
masyarakat ataupun sebuah Negara. Jika tidak akan percuma saja segala upaya
kita. Dengan mengetahui budaya tiap-tiap masyarakat atau sebuah Negara maka
kita bisa memahami karakteristik dari masyarakat atau Negara tersebut. Atas dasar
budaya dan karakteristik masyarakat atau suatu Negara, kita bisa mengambil
langkah-langkah yang tepat dan efektif dalam mewujudkan perdamaian disana.
Pendekatan budaya ini merupakan cara yang paling efektif dalam
mewujudkan perdamaian di masyarakat Indonesia serta dunia.
2.Melalui Pendekatan Sosial dan Ekonomi
Dalam hal ini pendekatan sosial dan ekonomi yang dimaksudkan terkait
masalah kesejahteraan dan faktor-faktor sosial di masyarakat yang turut
berpengaruh terhadap upaya perwujudan perdamaian dunia. Ketika
masyarakatnya kurang sejahtera tentu saja lebih rawan konflik dan kekerasan di
dalamnya. Masyarakat atau Negara yang kurang sejahtera biasanya akan “tidak
perduli” atas isu dan seruan perdamaian. Maka untuk mendukung upaya
perwujudan perdamaian dunia yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah

7
meningkatkan pemerataan kesejahteraan seluruh masyarakat dan Negara di dunia
ini.
3. Melalui Pendekatan Politik
Melalui pendekatan budaya dan sosial ekonomi saja belum cukup efektif
untuk mewujudkan perdamaian dunia. Perlu adanya campur tangan politik, dalam
artian ada agenda politik yang menekankan dan menyerukan terwujudnya
perdamaian dunia. Terlebih lagi bagi Negara-negara maju dan adidaya yang
memiliki power atau pengaruh dimata dunia. Negara-negara maju pada saat-saat
tertentu harus berani menggunakan power-nya untuk “melakukan sedikit
penekanan” pada Negara-negara yang saling berkonflik agar bersedia
berdamai kembali. Bukan justru membuat situasi semakin panas, dengan niatan
agar persenjataan mereka terus dibeli.
4. Melalui Pendekatan Religius (Agama)
Pada hakikatnya seluruh umat beragama di dunia ini pasti menginginkan
adanya perdamaian. Sebab saya kira tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan,
kekerasan ataupun peperangan. Semua Negara mengajarkan kebaikan, yang
diantaranaya kepedulian dan perdamaian. Maka dari itu setiap kita yang
mengaku beragama dan ber-Tuhan tentu harus memiliki kepedulian dalam
turut serta mewujudkan perdamaian di masyarakat maupun di kancah dunia.
Para tokoh agama yang dianggap memiliki karisma dan pengaruh besar di
masyarakat harus ikut serta aktif menyerukan perdamaian.Di lingkungan
masyarakat sekarang ini banyak kita telah menemukan masalah-masalah yang
terjadi dan sering menimbulkan masalah di tengah tengah masyarakat yang
kurang memahami satu dengan yang lainnya. Sebaiknya agar terjadi
perdamaian dunia adalah kesadaran dari diri sendiri dan pemikiran, perbuatan
yang tidak semena-mena agar tidak terjadi kesalahpahaman dan konflik atau
keributan di tengah masyarakat.

8
Kita harus memiliki suatu tujuan yang sama dengan orang lain untuk bersatu
dan berjuang demi mewujudkan perdamaian dunia. Kita juga harus saling mengalah,
tidak egois dan selalu menghargai orang lain. Jika kita hanya berpikir untuk
kepentingan kita sendiri tanpa memikirkan dampaknya terhadap orang lain,
kebersamaan pun tentu tidak akan terbentuk dengan baik. Dari kebersamaan
tersebut, akan menjadi awal mula bisa terbentuknya perdamaian. Setelah
terbentuknya kebersamaan juga diiperlukan kesadaran. Maksud dari kesadaran itu
adalah kita dituntut untuk sadar terhadap situasi sekitar kita.
Contohnya dengan :
- Sadar dibentuknya peraturan, kita patut dan wajib mematuhi peraturan.
- Sadar terhadap kekurangan dan kelebihan orang lain.
- Sadar bahwa kita memiliki perbedaan dengan orang lain seperti suku, adat
- istiadat, agama, ras, dan status sosial.
- Sadar untuk mengendalikan diri dan menempatkan diri
Jadi dengan semua cara itu, kita dituntut untuk menjalin hubungan sesama
dengan baik, sehingga perdamaian dunia akan cepat terwujud.

D. PARTISIPASI INDONESIA BAGI PERDAMAIAN DUNIA

1.Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955


Berakhirnya Perang Dunia II pada bulan Agustus 1945, tidak berarti
berakhir pula situasi permusuhan di antara bangsa-bangsa di dunia dan tercipta
perdamaian dan keamanan. Ternyata di beberapa pelosok dunia, terutama di belahan
bumi Asia Afrika, masih ada masalah dan muncul masalah baru yang
mengakibatkan permusuhan yang terus berlangsung, bahkan pada tingkat perang
terbuka, seperti di Jazirah Korea, Indo Cina, Palestina, Afrika Selatan, Afrika
Utara.
Masalah-masalah tersebut sebagian disebabkan oleh lahirnya dua blok
kekuatan yang bertentangan secara ideologimaupun kepentingan, yaitu Blok Barat

9
dan Blok Timur. Blok Barat dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur
dipimpin oleh Uni Sovyet. Tiap-tiap blok berusaha menarik negara-negara Asia
dan Afrika agar menjadi pendukung mereka. Hal ini mengakibatnkan tetap
hidupnya dan bahkan tumbuhnya suasana permusuhan yang terselubung diantara dua
blok itu dan pendukungnya. Suasana permusuhan tersebut dikenal dengan nama
“Perang Dingin”.
Timbulnya pergolakan di dunia disebabkan pula masih adanya penjajahan di
bumi kita ini, terutama di belahan Asia dan Afrika. Memang sebelum tahun 1945,
pada umumnya dunia Asia dan Afrika merupakan daerah jajahan bangsa Barat
dalam aneka bentuk. Tetapi sejak tahun 1945, banyak di daerah Asia Afrika
menjadi negara merdeka dan banyak pula yang masih berjuang bagi kemerdekaan
negara dan bangsa mereka seperti Aljazair, Tunisia, dan Maroko di wilayah Afrika
Utara; Vietnam di Indo Cina; dan di ujung selatan Afrika.
Beberapa negara Asia Afrika yang telah merdeka pun masih banyak yang
menghadapi masalah-masalah sisa penjajahan seperti Indonesia tentang Irian
Barat, India dan Pakistan.Sementara itu bangsa-bangsa di dunia, terutama bangsa-
bangsa Asia Afrika, sedang dilanda kekhawatiran akibat makin dikembangkannya
senjata nuklir yang bisa memusnahkan umat manusia. Situasi dalam negeri di
beberapa Asia Afrika yang telah merdeka pun masih berjuang bagi kemerdekaan
negara dan bangsa mereka seperti Aljazair, Tunisia, dan Maroko di wilayah Afrika
Utara; Vietnam di Indo Cina; dan di ujung selatan Afrika.

Beberapa negara Asia Afrika yang telah merdeka pun masih banyak yang
menghadapi masalah-masalah sisa penjajahan seperti Indonesia tentang Irian
Barat, India dan Pakistan.Sementara itu bangsa-bangsa di dunia, terutama bangsa-
bangsa Asia Afrika, sedang dilanda kekhawatiran akibat makin dikembangkannya
senjata nuklir yang bisa memusnahkan umat manusia. Situasi dalam negeri di
beberapa Asia Afrika yang telah merdeka pun masih terjadi konflik antar
kelompok masyarakat sebagai akibat masa penjajahan (politik divide et impera)

10
dan perang dingin antara Blok dunia tersebut. Walaupun pada masa itu telah ada
badan internasional yaitu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berfungsi
menangani masalah-masalah dunia, namun nyatanya badan ini belum berhasil
menyelesaikan persoalan tersebut.
Sedangkan kenyataannya, akibat yang ditimbulkan oleh masalah-masalah ini,
sebagian besar diderita oleh bangsa-bangsa di Asia Afrika. Keadaan itulah yang
melatarbelakangi lahirnya gagasan untuk mengadakan Konferensi Asia Afrika. Pada
awal tahun 1954, Perdana Menteri Ceylon (Srilangka) Sir Jhon Kotelawala
mengundang para Perdana Menteri dari Birma (U Nu), India (Jawaharlal Nehru),
Indonesia (Ali Sastroamidjojo), dan Pakistan (Mohammed Ali) dengan maksud
mengadakan suatu pertemuan informal di negaranya.
Konferensi Kolombo telah menugaskan Indonesia agar menjajaki
kemungkinan untuk diadakannya Konferensi Asia Afrika. Dalam rangka
menunaikan tugas itu Pemerintah Indonesia melakukan pendekatan melalui
saluran diplomatik kepada 18 negara Asia Afrika. Maksudnya, untuk
mengetahui sejauh mana pendapat negara-negara tersebut terhadap ide
mengadakan konferensi tersebut. Ternyata pada umumnya negara-negara yang
dihubungi menyambut baik ide tersebut dan menyetujui Indonesia sebagai tuan
rumah pelaksanaan konferensi.
Pada tanggal 18 April 1955 Konferensi Asia Afrika dilangsungkan di Gedung
Merdeka Bandung. Konferensi dimulai pada jam 09.00 WIB dengan pidato
pembukaan oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno. Sidang-sidang
selanjutnya dipimpin oleh Ketua Konferensi Perdana Menteri RI Ali
Sastroamidjojo.Konferensi Asia Afrika di Bandung melahirkan suatu kesepakatan
bersama yang merupakan pokok-pokok tindakan dalam usaha menciptakan
perdamaian dunia. Ada sepuluh pokok yang dicetuskan dalam konferensi
tersebut, maka itu disebut Dasasila Bandung.

11
Dasasila Bandung
1.Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan, serta asas-asas kemanusian
yang termuat dalam piagam PBB.
2.Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
3.Mengakui persamaan semua suku-suku bangsa dan persamaan semua bangsa besar
maupun kecil.
4. Tidak melakukan campur tangan dalam soal-soal dalam negara lain.
5. Menghormati hak-hak tiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian
atau secara kolektif, yang sesuai dengan piagam PBB.
6. Tidak melakukan tekanan terhadap negara-negara lain.
7. Tidak melakukan tindakan-tindakan atau ancaman agresi terhadap
integritas teritorial dan kemerdekaan negara lain.
8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai
seperti perundingan, persetujuan, dan lain-lain yang sesuai dengan piagam PBB.
9. Memajukan kerjasama untuk kepentingan bersama.
10.Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.

2.Gerakan Non-Blok/ Non Align Movement(NAM)


Gerakan Non-Blok (GNB) atau Non Align Movement (NAM) adalah
suatu gerakan yang dipelopori oleh negara-negara dunia ketiga yang
beranggotakan lebih dari 100 negara-negara yang berusaha menjalankan
kebijakan luar negeri yang tidak memihak dan tidak menganggap dirinya
beraliansi dengan Blok Barat atau Blok Timur. Gerakan Non Blok
merepresentasikan 55 persen penduduk dunia dan hampir 2/3 keanggotaan
PBB. Mayoritas negara-negara anggota GNB adalah negara-negara yang baru
memperoleh kemerdekaan setelah berakhirnya Perang Dunia II, dan secara
geografis berada di benua Asia, Afrika dan Amerika Latin.
Setelah berakhirnya Perang Dunia II, tepatnya di era 1950-an negara–negara
di dunia terpolarisasi dalam dua blok, yaitu Blok Barat di bawah pimpinan Amerika

12
Serikat dan Blok Timur di bawah pimpinan Uni Soviet. Pada saat itu terjadi
pertarungan yang sangat kuat antaraBlok Barat dan Timur, era ini dikenal sebagai era
perang dingin (Cold War) yang berlangsung sejak berakhirnya PD II hingga
runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1989. Pertarungan antara Blok Barat dan Timur
merupakan upaya untuk memperluas sphere of dan sphere of influence. Dengan
sasaran utama perebutan penguasaan atas wilayah-wilayah potensial di seluruh dunia.

Dalam pertarungan perebutan pengaruh ini, negara-negara dunia ketiga


(di Asia, Afrika, Amerika Latin) yang mayoritas sebagai negara yang baru
merdeka dilihat sebagai wilayah yang sangat menarik bagi kedua blok untuk
menyebarkan pengaruhnya. Akibat persaingan kedua blok tersebut, muncul
beberapa konflik terutama di Asia, seperti Perang Korea, dan Perang Vietnam.
Dalam kondisi seperti ini, muncul kesadaran yang kuat dari para pemimpin dunia
ketiga saat itu untuk tidak terseret dalam persaingan antara kedua blok tersebut.
GNB menempati posisi khusus dalam politik luar negeri Indonesia
karena Indonesia sejak awal memiliki peran sentral dalam pendirian GNB.
KAA tahun 1955 yang diselenggararakan di Bandung dan menghasilkan Dasa
Sila Bandung yang menjadi prinsip-prinsip utama GNB, merupakan bukti peran
dan kontribusi penting Indonesia dalam mengawali pendirian GNB. Tujuan GNB
mencakup dua hal, yaitu tujuan ke dalam dan ke luar. Tujuan kedalam yaitu
mengusahakan kemajuan dan pengembangan ekonomi, sosial, dan politik yang jauh
tertinggal dari negara maju. Tujuan ke luar, yaitu berusaha meredakan ketegangan
antara Blok Barat dan Blok Timur menuju perdamaian dan keamanan dunia.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, negera-negara Non Blok menyelenggarakan
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT). Pokok pembicaraan utama adalah membahas
persoalan-persoalan yang berhubungan dengan tujuan Non Blok dan ikut mencari
solusi terbaik terhadap peristiwa-peristiwa internasional yang membahayakan
perdamaian dan keamanan dunia.

13
Dalam perjalanan sejarahnya sejak KTT I di Beograd tahun 1961, Gerakan
Non Blok telah 16 kali menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi, yang
terakhir KTT XVI yang berlangsung di Teheran pada Agustus 2012. Indonesia
sebagai salah satu pendiri GNB pernah menjadi tuan rumah penyelenggaraan KTT
GNB yang ke X pada tahun 1992. KTT X ini diselenggarakan di Jakarta,
Indonesia pada September 1992 –7 September 1992, dipimpin olehSoeharto. KTT ini
menghasilkan “Pesan Jakarta” yang mengungkapkan sikap GNB tentang berbagai
masalah, seperti hak azasi manusia, demokrasi dan kerjasama utara selatan dalam era

pasca perang dingin. KTT ini dihadiri oleh lebih dari 140 delegasi, 64 Kepala
Negara.KTT ini juga dihadiri oleh Sekjen PBB Boutros Boutros Ghali.

3.Misi Pemeliharaan Perdamaian Garuda


Dalam rangka ikut mewujudkan perdamaian dunia, maka Indonesia memainkan
sejumlah peran dalam percaturan internasional. Peran yang cukup menonjol yang
dimainkan oleh Indonesia adalah dalam rangka membantu mewujudkan
pemeliharaan perdamaian dan keamanan internasional. Dalam hal ini Indonesia
sudah cukup banyak pengirimkan Kontingen Garuda (KONGA) ke luar negeri.
Sampai tahun 2014 Indonesia telah mengirimkan kontingen Garudanya sampai
dengan kontingen Garuda yang ke duapuluh tiga (XXIII).

4. Pembentukan ASEAN
Menjelang berakhirnya konfrontasi Indonesia-Malaysia, beberapa
pemimpin bangsa-bangsa Asia Tenggara semakin merasakan perlunya
membentuk suatu kerjasama regional untuk memperkuat kedudukan dan kestabilan
sosial ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Pada tanggal 5-8 Agustus di Bangkok
dilangsungkan pertemuan antarmenteri luar negeri dari lima negara, yakni Adam
Malik (Indonesia), Tun Abdul Razak (Malaysia), S Rajaratman (Singapura),
Narciso Ramos (Filipina) dan tuan rumah Thanat Khoman (Thailand). Pada 8

14
Agustus 1967 para menteri luar negeri tersebut menandatangani suatu deklarasi yang
dikenal sebagai Bangkok Declaration.
Deklarasi tersebut merupakan persetujuan kesatuan tekad kelima negara
tersebut untuk membentuk suatu organisasi kerja sama regional yang disebut
Association of South East Asian Nations (ASEAN).
Menurut Deklarasi Bangkok, Tujuan ASEAN adalah:
1.Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan
kebudayaan di Asia Tenggara.
2.Memajukan stabilisasi dan perdamaian regional Asia Tenggara.
3.Memajukan kerjasama aktif dan saling membantu di negara-negara anggota
dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, teknik, ilmu pengetahuan dan administrasi.
4.Menyediakan bantuan satu sama lain dalam bentuk fasilitas-fasilitas latihan
dan penelitian.
5.Kerjasama yang lebih besar dalam bidang pertanian, industri,
perdagangan, pengangkutan, komunikasi serta usaha peningkatan standar
kehidupan rakyatnya.
6.Memajukan studi-studi masalah Asia Tenggara.
7.Memelihara dan meningkatkan kerjasama yang bermanfaat dengan
organisasi-organisasi regional dan internasional yang ada.

Dari tujuh pasal Deklarasi Bangkok itu jelas, bahwa ASEAN merupakan
organisasi kerjasama negara-negara Asia Tenggara yang bersifatnon politik dan non
militer. KeterlibatanIndonesia dalam ASEAN bukan merupakan suatu penyimpangan
dari kebijakan politik bebas aktif, karena ASEAN bukanlah suatu pakta militer seperti
SEATO misalnya. ASEAN sangat selaras dengan tujuan politik luar negeri
Indonesia yang mengutamakan pembangunan ekonomi dalam negeri, karena
terbentuknya ASEAN adalah untuk mempercepat pembangunan ekonomi, stabilitas
sosial budaya, dan kesatuan regional melalui usaha dengan semangat

15
tanggungjawab bersama dan persahabatan yangakan menjamin bebasnya
kemerdekaan negara-negara anggotanya.

Kerjasama dalam bidang ekonomi juga merupakan pilihan bersama para


anggota ASEAN. Hal itu disadari karena negara-negara ASEAN pada saat itu
adalah negara-negara yang menginginkan pertumbuhan ekonomi. Meskipun
demikian kerja sama dalam bidang lain seperti bidang politik dan militer tidak
diabaikan. Indonesia dan Malaysia misalnya melakukan kerja sama militer untuk
meredam bahaya komunis di perbatasan kedua negara di Kalimantan.
Malaysia dan Thailand melakukan kerja sama militer di daerah
perbatasannya untuk meredam bahaya komunis. Akan tetapi Deklarasi Bangkok
dengan tegas menyebutkan bahwa pangkalan militer asing yang berada di negara
anggota ASEAN hanya bersifat sementara dan keberadaannya atas persetujuan
negara yang bersangkutan.Pada masa-masa awal berdirinya ASEAN telah
mendapat berbagai tantangan yang muncul dari masalah-masalah negara
anggotanya sendiri. Seperti masalah antara Malaysia dan Filipina menyangkut
Sabah,sebuah wilayah di Borneo/Kalimantan Utara. Kemudian persoalan hukuman
mati dua orang anggota marinir Indonesia di Singapura, kerusuhan rasialis di
Malaysia, dan permasalahan minoritas muslim di Thailand Selatan.
Selain menghadapi permasalahan-permasalahan yang muncul dari negara
-negara anggotanya sendiri, seperti potensi konflik yang telah dijelaskan
sebelumnya. Tantangan ASEAN pada awal berdirinya adalah masalah
keraguan dari beberapa negara-negara anggotanya sendiri. Singapura
misalnya, menampakan sikap kurang antusias terhadap ASEAN, sementara
Filipina dan Thailand meragukan efektivitas ASEAN dalam melakukan kerja
sama kawasan. Hanya Indonesia dan Malaysia yang menunjukkan sikap serius
dan optimis terhadap keberhasilan ASEAN sejak organisasi tersebut didirikan.
Keraguan beberapa negara anggota ASEAN sendiri dapat dimaklumi karena
pada masa 1969-1974 dapat dikatakan sebagai tahap konsolidasi ASEAN. Pada

16
tahap tersebut secara perlahan rasa solidaritas ASEAN terus menebal dan hal itu
menumbuhkan keyakinan bahwa lemah dan kuatnya ASEAN tergantung partisipasi
negara-negara anggotanya. Pada perjalanan selanjutnya ASEAN mulai menunjukkan
sebagai kekuatan ekonomi yang mendapat tempat di wilayah Pasifik dan kelompok
ekonomi lainnya di dunia seperti Masyarakat Ekonomi Eropa dan Jepang.
Selain sikap meragukan yang muncul dari beberapa negara anggotanya,
tantangan lainnya adalah munculnya citra kurang menguntungkan bagi ASEAN
dari beberapa negara luar. RRC menuduh bahwa ASEAN merupakan suatu proyek
“pemerintah fasis Indonesia” yang berupaya menggalang suatu kelompok
kekuatan di kawasan Asia Tenggara yang menentang Cina dan komunisme.
RRC juga menuduh bahwa dalang dari kegiatan yangdiprakarsai oleh
“pemerintah fasis Indonesia” tersebut adalah Amerika Serikat. Uni Soviet tidak
menunjukkan sikap penentangan, tetapi menganjurkan agar ASEAN digantikan
oleh sebuah lembaga keamanan bersama bangsa-bangsa Asia, yaitu Asian
Collective Security System. Citra kurang menguntungkan dari ASEAN juga muncul
dari Jepang. Jepang bahkan meramalkan ASEAN akan bubardalam waktu yang
singkat. Sikap dan penilaian berbeda dari negara luar ASEAN muncul dari negara-
negara Barat, terutama Amerika Serikat. Mereka menyambut positif berdirinya
ASEAN. Hal itu dapat dipahami karena negara-negara Barat sangat
menginginkan suatu kawasan damai dan perkembangan ekonomi di kawasan tersebut
untuk meredam bahaya komunisme di Asia Tenggara.

5. Peran Indonesia pada Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa


Selain keikutsertaan melalui Kontingen Garuda dalam operasi
pemeliharaan PBB, Indonesia tercatat sebagai anggota tidak tetap Dewan
Keamanan PBB. Sampai saat ini, Indonesia sudah 3 (tiga) kali menjadi anggota
tidak tetap Dewan Keamanan PBB, yaitu :
1.Keanggotaan Pertama Periode 1973 –1974.

17
2.Keanggotaan Kedua Periode 1995 –1996.
3.Keanggotaan Ketiga Periode 2007 –2008.
Dukungan yang luas terhadap keanggotaan Indonesia di Dewan Keamanan ini
merupakan cerminan pengakuan masyarakat internasional terhadap peran dan
sumbangan Indonesia selama ini dalam upaya menciptakan keamanan dan per
damaian baik pada tingkat kawasan maupun global. Peran dan kontribusi
Indonesia tersebut mencakup antara lain keterlibatan pasukan Indonesia di
berbagai misi penjagaan perdamaian PBB sejak tahun 1957, upaya perdamaian
di kawasan seperti Kamboja dan Filipina Selatan, dalam konteks ASEAN ikut serta
menciptakan tatanan kawasan dibidang perdamaian dan keamanan, serta peran aktif
diberbagai forum pembahasan isu perlucutan senjata dan non-proliferi nuklir.
Dengan terpilih menjadi anggota, berarti Indonesia akan mengemban
kepercayaan masyarakat internasional untuk berpatisipasi menjadi Dewan
Keamanansebagai badan yang efektif untuk menghadapi tantangan –tantangan
global dibidang perdamaian dan keamanan saat ini.
Proses lahirnya kebijakan politik luar negeri Indonesia bebas aktif dan
dinamikanya sejak kemerdekaan hingga masa reformasi, serta peran aktif
Indonesia dalam memelihara perdamaian dunia baik di tingkat regional dan global.
Peran tersebut sesuai dengan komitmen bangsa sebagaimana tertuang dalam alinea
keempat UUD 1945, yang menekankan pentingnya peran Indonesia dalam ikut
serta mewujudkan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan dan
perdamaian abadi.

E. KEAMANAN DAN PERTAHANAN NEGARA


Sistem Pertahanan dan Keamanan negara adalah suatu sistem pertahanan dan
keamanan yang komponennya terdiri dari seluruh potensi, kemampuan, dan
kekuatan nasional untuk mewujudkan kemampuan dalam upaya pertahanan dan
keamanan negara dalam mencapai tujuan nasional. Komponen kekuatannya terdiri
dari berikut ini:

18
1.Komponen utama, yaitu ABRI dan cadangan TNI.
2.Komponen Perlindungan Masyarakat (Linmas).
3.Komponen pendukung, yaitu sumber daya dan prasarana nasional.
Undang-Undang Dasar 1945 Bab XII berjudul "Pertahanan dan
Keamanan Negara". Dalam bab itu, Pasal 30 Ayat (1) menyebut tentang hak dan
kewajiban tiap warga negara ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara.
Ayat (2) menyebut "usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui
sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia
dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai kekuatan utama, dan rakyat
sebagai kekuatan pendukung".Keterlibatan pasukan TNI dalam misi pemeliharaan
perdamaian dunia sesuai dengan ketentuan hukum nasional. Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara menyebutkan bahwa salah satu
tugas TNI adalah melaksanakan kebijakan pertahanan negara yang salah satunya ikut
serta secara aktif dalam tugas pemeliharaan perdamaian regional dan internasional.
Selanjutnya, Undang-Undang No.34 Tahun 2004 tentang TNI lebih
mempertegas lagi dimana disebutkan bahwa salah satu tugas pokok TNI dalam
Operasi Militer.Selain Perang adalah Operasi Pemeliharaan Perdamaian Dunia.
Tentunya pelaksanaan dari penugasan tersebut selalu dilakukan sesuai
dengankebijakan politik luar negeri Indonesia serta ketentuan yang berlaku dalam
hukum nasional.
Hakikat pertahanan negara adalah segala upaya pertahanan bersifat semesta,
yang penyelenggaraannya didasarkan pada kesadaran atas hak dan kewajiban
warga negara serta keyakinanpada kekuatan sendiri. Penyelenggaraan
Pertahanan dan Keamanan Negara berdasarkan prinsip-prinsip seperti berikut:
1. Bangsa Indonesia berhak dan wajib membela serta mempertahankan
kemerdekaan negara.
2. Bahwa upaya pembelaan negara tersebut merupakan tanggung
jawab dan kehormatan setiap warga negara yang dilandasi asas:
a.Keyakinan akan kekuatan dan kemampuan sendiri

19
b.Keyakinan akan kemenangan dan tidak kenal menyerah (keuletan)
c.Tidak mengandalkan bantuan atau perlindungan negara atau kekuatan
asing.
3. Pertentangan yang timbul antara Indonesia dengan bangsa lain
akan selalu diusahakan dengan cara-cara damai. Perang adalah jalan
terakhir yang dilakukan dalam keadaan terpaksa.
4. Pertahanan dan keamanan keluar bersifat defensif-aktif yang mengandung
pengertian tidak agresif dan tidak ekspansif. Ke dalam bersifat preventif-aktif yang
mengandung pengertian sedini mungkin mengambil langkah dan tindakan
guna mencegah dan mengatasi setiap kemungkinan timbulnya ancaman.
5. Bentuk perlawanan rakyat Indonesia dalam membela serta
mempertahankan kemerdekaan bersifat kerakyatan dan kesemestaan.

20
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Perdamaian dunia merupakan tiadanya kekerasan, kesenjangan, terjadinya
konflik antar negara di seluruh dunia. Upaya untuk mewujudkan perdamaian dunia
dilakukan dalam pendekatan budaya, pendekatan sosial dan ekonomi, pendekatan
politik dan pendekatan kebudayaan.Selain itu, dengan melaksanakan amanat
Pembukaan UUD 1945 Alenia IV Indonesia berpartisipasi dalam perdamaian dunia.

21
DAFTAR PUSTAKA

https://sejarahlengkap.com/indonesia/peran-indonesia-dalam-perdamaian-dunia"
Indonesia. 2017. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jakarta :
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
https://docplayer.info/72746177-Makalah-dinamika-peran-indonesia-dalam-
perdamaian-dunia-sesuai-dengan-uud-1945.html

22