Anda di halaman 1dari 22

BAB 2

DASAR TEORI

II.1 Petir

II.1.1 Awan bermuatan

Petir merupakan fenomena alam yang terjadi di seluruh bumi, terutama pada daerah tropis.
Petir berasal dari awan cumulonimbus yang naik dalam arah vertikal dan memiliki muatan
listrik sehingga memunculkan beda potensial antara awan dengan permukaan bumi.
Pembentukan awan ini terjadi karena adanya:
1. Aliran udara naik (updraft); terjadi akibat penyinaran matahari ke permukaan bumi
2. Partikel aerosol; berasal dari polutan industri, garam laut, ataupun partikel
higroskopis lainnya seperti yang muncul dari kebakaran hutan
3. Kelembapan udara; partikel aerosol yang naik ke atas menyerap air yang ada di udara
dan pada tinggi tertentu menurun temperaturnya dan mengkristal menjadi kristal es
dalam awan. Karena massa jenis yang lebih besar, kristal es ini turun ke lapisan
bawah awan dan menumbuk uap air yang naik. Akibatnya, sebagian kristal memiliki
muatan positif dan sebagian lagi menjadi bermuatan negatif. Kristal tersebut
kemudian mengelompok dan membentuk awan bermuatan. Muatan positif biasanya
terletak pada permukaan atas sedangkan muatan negatif dibawahnya.

2.1 Cumulonimbus terbentuk 2.2 Muatan terdistribusi

7
II.1.2 Mekanisme sambaran petir

Petir adalah mekanisme pelepasan muatan listrik di udara yang dapat terjadi di dalam awan,
antara awan, awan dengan udara, dan antara awan dengan tanah. Antar awan dan permukaan
bumi dapat digambarkan sebagai dua keping pelat bermuatan. Pada saat gradien listrik telah
melebihi harga tembus udara, muncullah pilot streamer yang menentukan arah perambatan
muatan awan ke udara yang ionisasinya rendah, mencari jumlah muatan lawan yang cukup.
Muatan lawan tersebut kemudian akan terionisasi menuju pilot leader. Saat kedua aliran ini
bertemu, terbentuk kanal dan terjadi discharge muatan.

2.3 Tahapan sambaran petir ke tanah

Titik bertemunya kedua aliran yang berbeda muatan ini disebut titik pukul (striking point) -
Gambar 2.3.c. Sesaat setelah itu terjadi perpindahan muatan dari tanah ke awan melalui
sambaran balik (return stroke). Perpindahan muatan dari awan ke tanah akan kembali
memunculkan beda potensial yang tinggi antara pusat muatan di awan - Gambar 2.3.d.
Akibatnya, terjadi pelepasan muatan susulan atau yang disebut pelepasan muatan berulang
(multiple stroke).

II.1.3 Parameter petir

Beberapa parameter petir yang penting adalah : arus puncak, I [kA], bentuk gelombang petir,


tf, tp, th [s], sambaran berulang, n , kecuraman arus, di/dt [kA/s], muatan arus, Q = I.dt ,

8
 I .dt , kecepatan arus sambaran balik, v , dan kerapatan sambaran
2
integral kuadrat arus, E =

petir ke tanah, Ng.

Parameter petir tersebut dinyatakan dalam fungsi distribusi frekuensi. Menurut Berger, yang
diadopsi menjadi standar oleh CIGRE Working Group tahun 1991, fungsi distribusi frekuensi
dari semua parameter petir dapat didekati dalam bentuk distribusi lognormal, yaitu:
2
1  ln( x / M ) 
  
1
f (x)  e 2  
2x

dengan M adalah median (nilai tengah) dan  adalah log dari standar deviasi. Median adalah
statistik 50/50 dimana 50% pengamatan adalah diatas median dan 50% dibawahnya.

a. Arus Puncak
Arus puncak petir (peak current) yang dimaksud adalah arus puncak dari sambaran balik
(return stroke). Arus puncak dibedakan dari polaritasnya, negatif atau positif, dan juga
dibedakan dari sambaran pertama (first stroke) atau sambaran susulannya (subsequent
strokes). Besar arus puncak ini dinyatakan dalam probabilitas kumulatif:
1
P( I ) 
1 I 
31
2 .6

b. Bentuk gelombang petir


Surja petir adalah bentuk gelombang petir berdasarkan fungsi waktu. Petir mencapai
amplitudo yang sangat tinggi orde kiloampere dalam waktu yang sangat singkat orde
mikrodetik. Menurut IEC 60-2.73, surja petir untuk tegangan adalah 1.2/50 us dan untuk
arus 8/20 us.

9
2.4 Surja Arus dan Tegangan Petir menurut IEC

tf adalah waktu muka, untuk tegangan 1,2 s dan arus 8 s. th adalah waktu ekor atau
waktu mencapai setengah arus puncak, untuk tegangan 50 s dan arus 20 s.

c. Sambaran berulang
Multiple strokes adalah statistik jumlah sambaran yang terjadi dalam satu kilat yang
sama. Sambaran susulan terjadi dalam kanal yang sama ataupun berbeda.

d. Kecuraman arus
Rate of rise of current adalah laju perubahan arus tehadap waktu mencapai puncak.

e. Muatan arus
Muatan arus merupakan luas dari surja petir atau integrasi arus terhadap waktu.

f. Integral kuadrat arus


Integral kuadrat arus menjadi dasar efek mekanik dan termal petir.

g. Kecepatan arus sambaran balik

10
Para peneliti mencoba menurunkan hubungan antara arus puncak dengan kecepatan arus
sambaran balik. Menurut Rusck, kecepatan arus sambaran balik:
1
v
1  500 / I

h. Kerapatan sambaran petir ke tanah


Ground flash density dapat diturunkan dari jumlah rata-rata hari guruh (thunderstorm
days) per tahun, yaitu:
Ng = a.THDb
Hari guruh adalah hari dimana guruh terdengar minimal satu kali dalam 24 jam.

Seiring dengan kemajuan teknologi, cara lain untuk mendapatkan kerapatan sambaran
petir adalah dengan menggunakan alat pendeteksi petir, seperti LLS/LDN dan lightning
flash counter. Melalui pengumpulan data jumlah sambaran petir pada suatu daerah selama
selang waktu tertentu, kemudian dibuat peta kerapatan sambaran petir pada daerah
tersebut.

II.1.4 Pemodelan jarak sambar

Konsep elektrogeometri atau metode bola gelinding menghubungkan jarak sambar petir
dengan arus puncaknya. Konsep ini mengatakan bahwa sebuah bola imajiner dengan ujung
leader pada pusat bola menggelinding ke sebuah struktur. Semua titik kontak yang mengenai
permukaan bola kemudian akan disambar petir.

2.5 Konsep Elektrogeometri

11
Metode ini didasarkan pada hipotesis berikut:
 Jika sebuah leader petir bergerak mendekati objek di permukaan bumi dan radius bola
mengenai objek maka petir akan menyambar ke objek yang terdekat.
 Jarak sambar didefinisikan dari amplituda arus pada sambaran pertama. Armstrong dan
Whitehead menurunkan koefisien rumus jarak sambar sebagai radius bola berdasarkan
rumus Wagner dari eksperimen Paus dan Watanabe sebagai berikut:
rs = 6,71 I 0,85 (m)
I = arus puncak sambaran pertama [kA]
 Perhitungan sudut lindung dengan batang franklin konvensional didefinisikan dari rumus
empirik Hasse dan Wiesinger yaitu:

 htotal 
 o  Sin 1 1  
 rs 

 o = sudut lindung dari batang finial [o]


htotal = tinggi struktur dan batang finial [m]
rs = jarak sambar [m]

Di samping proteksi konvensional seperti batang franklin, sangkar faraday, dan konsep
elektrogeometri alternatif desain lainnya adalah Collection Volume Method (CVM). Metoda
desain ini diusulkan oleh Dr.A.J.Eriksson. Parameter desain dari CVM ini meliputi tinggi
struktur, intensifikasi medan, muatan leader, ketinggian tempat, dan kecepatan propagasi
leader.

Eriksson (1987) menguju validitas CVM dengan perhitungan pada berbagai tinggi struktur
(10 – 200 meter) dengan parameter petir. Hubungan antara radius atraktif, tinggi struktur, dan
arus puncak diturnkan menjadi persamaan:

Ra = 0.84k. Ip0.74 H0.6


Ra = radius atraktif [m]
Ip = arus puncak [kA]
H = tinggi struktur [m]
k = faktor lokal

12
II.2 Tegangan Lebih Petir pada Saluran Udara Tegangan Tinggi 150 kV

Tegangan lebih adalah tegangan yang hanya dapat ditahan untuk waktu terbatas. Berdasarkan
sumber-sumbernya, IEC mengklasifikasikan tegangan lebih menjadi tegangan lebih petir,
tegangan lebih switching, dan tegangan lebih temporer.

Tegangan lebih petir yang terjadi pada sistem tenaga listrik disebabkan oleh dua macam
sambaran, yaitu sambaran langsung dan tidak langsung. Pada saluran udara, sambaran
langsung tersebut dapat mengenai kawat fasa, kawat tanah, dan menara, sedangkan sambaran
tidak langsung adalah sambaran ke tanah yang berada didekat saluran udara. Untuk saluran
transmisi seperti SUTT 150 kV, dampak sambaran tidak langsung dapat diabaikan.

II.2.1 Sambaran Langsung

a. Sambaran pada Kawat Fasa


Jika sambaran tersebut mengenai kawat fasa pada suatu titik maka akan muncul gelombang
berjalan ke dua arah yang berlawanan pada saluran tersebut. Tegangan yang terjadi pada
suatu titik di saluran akan dibaca oleh isolator sebagai berikut:
Zc.I
V
2

Impedansi surja kawat fasa dapat ditentukan dari persamaan berikut ini [Hileman]:

Z c  Z 0 Z c1

Dengan :

L
Z0 
C
Z0 = impedansi surja natural
2h f
Z c1  60 ln 
R
hf = Jarak rata-rata kawat fasa ke tanah (m)
R = Jari-jari efektif kawat fasa dipengaruhi korona (m)

13
Tabel 2.1 Nilai Z0 menurut IEC Publication 71-2
Jumlah Subkonduktor Z0 yang diasumsikan (Ω)
1 450
2 350
3 atau 4 320
6 atau 8 300

b. Sambaran pada Menara


Tegangan lebih yang timbul pada menara akibat terkena sambaran petir akan dibaca oleh
isolator sebagai berikut:
dI
V  I .R  L
dt
R = tahanan kaki menara (tower footing resistance)

Menurut guidelines dari IEEE tahanan kaki menara dianggap konstan sedangkan menurut
CIGRE tahanan dipengaruhi juga oleh ionisasi tanah.

Menara dapat direpresentasikan sebagai impedansi surja atau induktansi. Tegangan lebih yang
terjadi pada menara sebagai impedansi surja berbanding lurus dengan arus puncak, sedangkan
pada menara sebagai induktansi tegangan lebih berbanding lurus dengan kecuraman arus.

Impedansi surja menara diturunkan dari bentuk geometri menara. Menurut Sargent dan
Darveniza, impedansi surja menara ZT tipe kerucut adalah seperti pada gambar a di bawah ini:

14
2r
h
h
2r 2r

2r b
Zt = 1/2 ( zs + zm )   2h  
Z t = 30 ln
2 (h2+r2)
Z S = 60 ln ( h/r ) + 90 ( r/h ) - 60
Zt = 60 ln 2 r   1
r2    
Z m = 60 ln ( h/b ) + 90 ( b/h ) - 60

(a) (b) (c)


2.6 Penampang Menara Transmisi Untuk Menghitung Impedansi Surja Menara

Induktansi menara didapatkan dari:

Effective Tower Inductance per Meter of Length as Function of Tower Surge Impedance and
Tower Footing Resistance1

Anderson, J.G., Chapter 12: Lightning Performance of Transmission Line, Transmission Line
1

Reference Book, 345 kV and Above, 2nd ed., Palo Alto, California: Electric Power Research Institute,
1982

15
c. Sambaran pada Kawat Tanah
Jika kawat tanah disambar petir, sebagian arus yang muncul akan mengalir ke menara.
Tegangan yang timbul pada menara adalah:
dI
V M  I .R  L
dt
dI/dt = kecuraman arus puncak [kA/s]
L = induktansi menara [H]
R = tahanan kaki menara []

Besar tegangan lebih yang timbul pada isolator adalah :


V  k.VM
k = faktor kopling kawat tanah dan kawat fasa
hg = tinggi kawat tanah rata-rata = h – 2/3 s [m]
h = tinggi menara [m]
s = sag kawat tanah [m]

Untuk menghitung faktor kopling (k), terlebih dahulu dihitung impedansi surja bersama
(mutual surge impedance) dari kawat tanah seperti pada gambar 2.7, yaitu:

x a13

#1 a12 #2 a23 #3 KAWAT TANAH

af3
a12 a f 2 b
KAWAT FASA

hF
yF

b13
2 hF 2 yF TANAH
b12 bf 1 b bf 3
f2

KAWAT FASA BAYANGAN

KAWAT TANAH BAYANGAN

2.7 Bayang-Bayang Kawat Transmisi

16
1. Impedansi Surja Bersama
Mutual surge impedance tidak dipengaruhi korona dapat dinyatakan dengan :
bf 1 bf 2
Z f 1  60 ln  Z f 2  60 ln 
af1 af2

bf 3
Z f 3  60 ln 
af3

b12 b13
Z12  Z 23  60 ln  Z13  60 ln 
a12 a13
2. Impedansi Surja Sendiri Kawat Tanah
Pada saat terjadi korona, jari efektif kawat tanah akan bertambah. Hal ini berpengaruh
terhadap impedansi surja sendiri kawat tanah. Setelah dipengaruhi korona, impedansi
surja sendiri kawat tanah dapat dinyatakan dengan :

2 hF 2 hF
Z11  Z 22  Z 33  60 ln ln 
R0 r
r = jari-jari kawat tanah (m)
R0 = jari-jari efektif kawat tanah dipengaruhi korona (m)

Jumlah kawat tanah mempengaruhi harga impedansi surja ekivalen kawat tanah (Zg) dan
faktor kopling (k). Persamaan Zg dan k untuk berbagai jumah kawat tanah didapat sebagai
berikut :

1. Satu kawat tanah


Untuk hantaran dengan satu kawat tanah (kawat tanah #1 dan #3 pada Gambar 2.6
dianggap tidak ada),
Z g  Z 22 

Zf2
k
Z 22

2. Dua kawat tanah


Untuk hantaran dengan dua kawat tanah (kawat tanah #2 pada Gambar 2.6 dianggap
tidak ada),

17
Z11  Z13
Zg  
2
Z f1  Z f 3
k
Z 11  Z 13

3. Tiga kawat tanah


Untuk hantaran dengan tiga kawat tanah,

Zg 
Z11 2  Z11Z13  2( Z12 ) 2 
3Z11  4 Z12  Z13

Z11 Z f 1  Z f 2  Z f 3   Z12 Z f 1  Z f 2  Z f 3   Z13Z f 2


k
Z11 2  Z11Z13  2Z12 2

Jika tegangan lebih V yang muncul pada tiap-tiap kejadian diatas melebihi ketahanan isolator
(CFO isolator) maka akan terjadi lewat denyar (flash over) pada isolator. Untuk sambaran
pada menara atau pada kawat tanah biasanya disebut lewat denyar balik (back flash over).

II.2.2 Tingkat Isolasi Saluran Udara Tegangan Tinggi dan Gardu Induk

Bagian yang paling rentan dari saluran udara adalah piringan isolator. Sambaran petir yang
terjadi baik pada kawat fasa, menara, maupun kawat tanah berpotensi menimbulkan flash
over atau back flash over jika isolator tidak mampu menahan tegangan lebih yang muncul.

Saluran udara dibangun dengan bermacam-macam konstruksi dan isolator biasanya terdiri
dari berbagai jenis material isolasi dengan kekuatan yang berbeda-beda. Faktor-faktor yang
mempengaruhi jumlah flash over pada isolator di antaranya:
a. Kondisi atmosfer; misalnya kelembapan udara, curah hujan, kontaminan
b. Polaritas dan laju perubahan tegangan lebih
c. Faktor fisik; misalnya bentuk isolator, bahan konduktifnya, konfigurasi

Kekuatan material isolasi terhadap tegangan lebih dinyatakan sebagai Tingkat Isolasi
Dasar/TID (Basic Insulation Level/BIL). Besar BIL menggambarkan besar tegangan impuls
maksimum yang dapat diberikan pada material isolasi sehingga material akan tahan dengan
probabilitas 90%.

18
Untuk isolator digunakan ukuran ketahanan yang berbeda dari BIL. Ukuran ini adalah
tegangan Critical Flash Over. CFO berarti besar tegangan impuls petir maksimum dengan
probabilitas ketahanan isolator sama dengan 50%. Kombinasi dan konfigurasi isolator pada
saluran udara akan memberikan nilai CFO yang berbeda-beda. Dalam perhitungan analisis
digunakan CFO yang terkecil.

Kurva V-t dan koordinasi isolasi peralatan adalah sebagai berikut :

19
2.8 Kurva V-t Peralatan

Gardu induk adalah suatu instalasi listrik yang berfungsi untuk menerima dan menyalurkan
tenaga listrik melalui sistem tegangan ekstra tinggi, tegangan tinggi, atau tegangan menengah.
Peralatan utama yang ada dalam suatu gardu induk adalah :
1. Trafo
a. Trafo daya
b. Trafo instrumen/pengukuran
c. Trafo arus (CT)
d. Trafo tegangan (PT)
2. Pemutus Tenaga (PMT/CB)
3. Pemisah (PMS/DS)
4. Rel daya (busbar)
5. Isolator
6. Lightning arrester

20
7. Reaktor (XL)
8. Static Capacitor (SC)
9. Peralatan sistem pentanahan (grounding)
10. Peralatan komunikasi (PLC/JWOTS)

Pada gardu induk sebagian besar peralatan seperti trafo, circuit breaker, pemisah, trafo arus,
dan trafo tegangan dirancang dengan tingkat isolasi dasar yang sama. Namun, trafo biasanya
memiliki tingkat isolasi yang lebih rendah karena alasan ekonomis dan umumnya telah
dilengkapi dengan lightning arrester.

II.3 Proteksi SUTT dan Gardu Induk 150 kV terhadap Petir

Pada sistem transmisi tegangan tinggi khususnya sistem 150 kV petir merupakan penyebab
utama timbulnya tegangan lebih. Tegangan lebih petir digolongkan menjadi tegangan lebih
akibat sambaran langsung dan akibat sambaran tidak langsung. Pada sistem transmisi
tegangan tinggi 150 kV keberadaan saluran udara tegangan tinggi (SUTT) dan gardu induk di
tempat lapang dan terbuka memudahkan petir menyambar langsung pada struktur. Oleh sebab
itu, sambaran langsung berpengaruh besar terhadap kinerja SUTT 150 kV. Untuk sambaran
petir tidak langsung pada dasarnya akan berdampak pada timbulnya tegangan induksi
elektromagnetik di kawat fasa maupun kawat tanah. Namun, pada SUTT tegangan induksi ini
sedikit lebih rendah dari tegangan sistem sehingga pengaruhnya dapat diabaikan.

2.9 Topologi sambaran pada saluran udara

21
Catatan :
1. sambaran petir pada jarak y = 0 < y < ymin adalah sambaran langsung
2. sambaran petir pada jarak ymin < y < ymax adalah sambaran tidak langsung (induksi)
3. sambaran petir pada jarak y > ymax tidak mempengaruhi saluran tersebut

Unjuk kerja saluran udara terhadap petir (lightning performance) merupakan suatu ukuran
kinerja sistem yang dinyatakan dengan angka jumlah gangguan, didefinisikan sebagai jumlah
gangguan akibat sambaran petir yang terjadi pada saluran udara per 100 km panjang saluran
per tahun. Jumlah gangguan tersebut didekati dengan flash over rate (FOR) dengan asumsi
satu gangguan adalah satu kali flash over terjadi pada isolator. Jadi, lightning performance
(LP):
LP  FOR

Parameter yang mempengaruhi FOR adalah :


Data petir
 Kerapatan sambaran petir (Ng)
 Distribusi arus puncak f(I)
 Distribusi waktu muka surja petir f(tf)
 Distribusi kecuraman arus f(Sm  dI/dtf)
Data saluran
 Isolator CFO, BIL
 kawat fasa, kawat tanah, dan menara : konfigurasi, geometri, konstruksi,
dimensi
 Topografi saluran dan sistem pentanahan
 Line arrester

Dengan mengetahui jumlah gangguan maka perbaikan lightning performance (LP) dapat
dilakukan dengan menganalisis parameter-parameter sistem proteksi tegangan lebih petir.
Usulan rancangan sistem proteksi petir untuk memperbaiki LP memuat perbandingan sistem
di mana angka FOR sistem baru lebih kecil daripada FOR dengan kondisi eksisting.
Rancangan tersebut di antaranya adalah perbaikan sudut lindung, CFO isolator, dan besar
impedansi pentanahan menara. Selain itu, proteksi eksternal dengan metode CVM dapat
dilakukan untuk mendapat proteksi tambahan.

22
Pada gardu induk proteksi terhadap tegangan lebih petir merupakan proteksi dari gelombang
berjalan yang mengalir dari saluran menuju gardu induk.

II.3.1 Unjuk kerja saluran udara terhadap sambaran langsung

Unjuk kerja saluran udara terhadap sambaran langsung, selanjutnya disebut lightning
performance (LP), diturunkan dari kerapatan sambaran petir ke tanah. Sambaran petir ke
tanah pada suatu luas daerah berpotensi mengenai suatu struktur di dalam daerah tersebut.
Sambaran petir ke tanah yang mungkin mengenai sebuah struktur ditentukan dengan
mengetahui daerah bayang-bayang struktur tersebut.

Daerah bayang-bayang dari saluran udara diilustrasikan sebagai berikut :

2.10 Daerah bayang-bayang

2.11 Tampak samping

Menurut rekomendasi CIGRE :

28h0.6  d
NL  N g ( )
10
NL = sambaran yang mungkin mengenai struktur [sambaran/100km/tahun]

23
Ng = Number Flash to Ground / kerapatan sambaran petir [sambaran/km2/tahun]
h = tinggi struktur [m]
d = lebar struktur = 2b [m]

Ketika sambaran petir mengenai kawat fasa, hal ini menunjukkan kegagalan perlindungan
dari kawat tanah. Pada arus petir cukup besar terjadi flash over pada isolator karena isolator
tidak dapat menahan tegangan lebih yang muncul. Jumlah flash over yang terjadi dalam kasus
ini disebut shielding failure flash over rate (SFFOR), yang besarnya:

SFFOR  N L  Xs. f ( I ).dI  N L . Xs.P( I c )
Ic

Xs = lebar daerah akibat kawat fasa yang terekspose dan tidak terlindungi oleh kawat tanah
f(I) = fungsi distribusi kumulatif arus petir
P(Ic) = probabilitas arus puncak yang menyebabkan flash over pada arus kritis Ic

24
2.12 Lebar Daerah Tak Terlindung

Jika sambaran petir mengenai kawat tanah atau menara, flashover yang terjadi disebut back
flashover yang besarnya:

NC = jumlah kawat fasa


t = waktu pada fasa i dominan
Pi = probabilitas arus puncak melebihi harga kritis BFO

Jadi, lightning performance saluran udara terhadap petir akan terhitung sebagai:
FOR = SFFOR + BFOR

II.3.2 Perlindungan Gardu Induk dengan Lightning Arrester

Tingkat pengenal dari sebuah lightning arrester dinyatakan sebagai berikut:

1. Tegangan nominal atau tegangan pengenal (UA) (Nominal Voltage Arrester)


Adalah tegangan dimana lightning arrester masih dapat bekerja sesuai dengan
karakterisiknya. Lightning arrester tidak dapat bekerja pada tegangan maksimum sistem
yang direncanakan, tetapi masih tetap mampu memutuskan arus ikutan dari sistem secara
efektif.

25
Lightning arrester umumnya tidak dapat bekerja jika ada gangguan fasa ke tanah di satu
tempat dalam sistem, karena itu tegangan pengenal dari lightning arrester harus lebih
tinggi dari tegangan fasa sehat ke tanah, jika tidak demikian maka, lightning arrester akan
melalukan arus ikutan sistem yang terlalu besar yang menyebabkan lightning arrester
rusak akibat beban lebih termal (thermal overloading).

Untuk mengetahui tegangan maksimum yang mungkin terjadi pada fasa yang sehat ke
tanah sebagai akibat gangguan satu fasa ke tanah perlu diketahui.
- Tegangan sistem tertinggi (the highest system voltage), umumnya diambil harga 110
% dari harga tegangan nominal sistem.
- Koefisien Pentanahan
Didefinisikan sebagai perbandingan antara tegangan rms fasa sehat ke tanah dalam
keadaan gangguan pada tempat dimana lightning arrester dipasang, dengan tegangan
rms fasa ke fasa tertinggi dari sistem dalam keadaan tidak ada gangguan.
Jadi, tegangan pengenal dari suatu lightning arrester (arrester rating)
= Tegangan rms fasa ke fasa tertinggi x koefisien pentanahan
= Tegangan rms fasa ke fasa x 1.10 x koefisien pentanahan
1. Sistem yang ditanahkan langsung koefisien pentanahannya 0.8. Lightning
arresternya disebut sebagai lightning arrester 80 %.
2. Sistem yang tidak ditanahkan langsung koefisien pentanahannya 1.0. Lightning
arresternya disebut sebagai penangkap 100 %.

2. Arus Pelepasan Nominal (Nominal Discharge Current)


Adalah arus pelepasan dengan harga puncak dan bentuk gelombang tertentu yang
digunakan untukmenentukan kelas dari lightning arrester sesuai dengan :
a. kemampuannya melalukan arus
b. karakteristik pelindungnya
Bentuk gelombang arus pelepasan tersebut adalah :
- Menurut standard Inggris/Eropa (IEC) 8 s/20 s.
- Menurut standard Amerika 10 s/20 s dengan kelas PP 10 kA; 2.5 kA dan 1.5 kA.
a. Kelas Arus 10 kA, untuk perlindungan gardu induk yang besar dengan frekuensi
sambaran petir yang cukup tinggi dengan tegangan sistem diatas 70 kv.
b. Kelas Arus 5 kA sama seperti (a), untuk tegangan sistem dibawah 70 kV.

26
c. Kelas Arus 2.5 kA, untuk gardu-gardu kecil dengan tegangan sistem dibawah 22
kV, dimana pemakaian kelas 5 kA tidak lagi ekonomis.
d. Kelas Arus 1.5 kA, untuk melindungi trafo-trafo kecil di daerah-daerah pedalaman.

3. Tegangan Percikan Frekuensi Jala-jala (Power Frequency Spark Over Voltage)


Lightning arrester tidak boleh bekerja pada gangguan lebih dalam (interval over voltage)
dengan amplituda yang rendah karena dapat membahayakan sistem.
Untuk alasan ini maka ditentukan tegangan percikan frekuensi jala-jala minimum.
- Menurut standard Inggris (B.S)
Tegangan percikan frekuensi jala-jala minimum = 1.6 x tegangan pengenal lightning
arrester
- Menurut standard IEC
Tegangan percikan frekuensi jala-jala minimum = 1.5 x tegangan pengenal lightning
arrester

4. Tegangan Percikan Impuls Maksimum (Maximum Impulse Spark Over Voltage)


Adalah tegangan gelombang impuls tertinggi yang terjadi pada terminal lightning arrester
sebelum lightning arrester tersebut bekerja.
Bentuk gelombang impuls tersebut menurut IEC Publ. 60 - 2 adalah 1.2 s/50 s. Hal ini
menunjukkan bahwa jika tegangan puncak surja petir yang datang mempunyai harga yang
lebih tinggi atau sama dengan tegangan percikan maksimum dari lightning arrester, maka
lightning arrester tersebut akan bekerja memotong surja petir tersebut dan
mengalirkannya ke tanah.

5. Tegangan Sisa (Residual Discharge Voltage)


Adalah tegangan yang timbul diantara terminal lightning arrester pada saat arus petir
mengalir ke tanah.Tegangan sisa dan tegangan nominal dari suatu lightning arrester
tertentu tergantung pada kecuraman gelombang arus yang datang (di/dt dalam A/s) dan
amplituda dari arus pelepasan (discharge current). Untuk menentukan tegangan sisa ini
digunakan impuls arus sebesar 8 s/ 20 s (IEC Standard) dengan harga puncak 5 kA dan
10 kA.
Untuk harga arus pelepasan yang lebih tinggi maka tegangan sisa ini tidak akan naik lebih
tinggi lagi. Hal ini disebabkan karena karakteristik tahanan yang tidak linier dari lightning
arrester.

27
Umumnya tegangan sisa tidak akan melebihi Bil (Basic Insulation Level = Tingkat Isolasi
Dasar = TID) daripada peralatan yang dilindungi walaupun arus pelepasan maksimumnya
(Maximum Discharge Current) mencapai 65 kA atau 100 kA.

6. Arus Pelepasan Maksimum (Maximum Discharge Current)


Adalah arus surja maksimum yang dapat mengalir melalui lightning arrester setelah
tembusnya sela seri tanpa merusak atau merubah karakteristik dari lightning arrester.

Tabel 2.2 Kelas Lightning Arrester


KELAS LIGHTNING ARRESTER HARGA PUNCAK ARUS TERPA
(ARUS PELEPASAN NOMINAL) [KILO AMPERE]
[AMPERE]
10.000 (Heavy Duty) 100
10.000 (Light Duty) 100
5 65
2.5 25
1.5 10

Jarak lindung antara lightning arrester dengan peralatan yang dilindungi adalah:
U T  U LA
L V
dU
2
dt
Dengan :
dU di

dt dt
L = jarak lindung maksimum dari posisi LA ke peralatan yang diproteksi [m]
UT = tegangan BIL peralatan, missal trafo [kV]
ULA = tegangan kerja impuls arrester [kV]
V = kecepatan rambat gelombang : di udara 300 [m/s], di kabel 300/r [m/s]
 = impedansi surja : hantaran udara 200 – 500 ohm, kabel 30 – 80 ohm
dU/dt = kecuraman gelombang tegangan datang [kV/s]
di/dt = kecuraman gelombang arus datang [kA/s]

28