Anda di halaman 1dari 20

ISOLASI PREPARATIF SENYAWA SINENSETIN

DARI DAUN KUMIS KUCING (Orthosiphon stamineus Benth.)


MENGGUNAKAN METODE EKSTRAKSI BERTAHAP

USULAN PENELITIAN

NANDA SINTA SETIYOWATI


A161038

SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA


YAYASAN HAZANAH
BANDUNG
2020
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia adalah negara tropis yang memiliki beraneka ragam tumbuhan yang
bermanfaat bagi masyarakat sebagai obat tradisional. Salah satu tanaman obat
tersebut adalah tanaman Kumis Kucing. Tanaman kumis kucing atau biasa disebut
Orthosiphon stamineus dari keluarga Lamiaceae adalah tanaman obat yang
banyak tumbuh di daerah tropis. Tanaman ini dapat diidentifikasi dengan bunga
berwarna putih atau ungu yang menyerupai kumis kucing. Ramuan ini dikenal
sebagai teh Jawa dan digunakan secara luas dalam bentuk teh herbal di Asia
(Arifianti, et al., 2017).
Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa daun kumis kucing memiliki
beberapa aktivitas farmakologis penting, seperti antimikroba, diuretik,
hipourikemik, antihipertensi, antikanker, antioksidan, antiinflamasi,
hepatoprotektif, antihiperlipidemia, gastroprotektif, dan aktivitas antidiabetes
(Ameer, et al., 2012).
Penelitian terkini mengungkapkan bahwa ada sekitar 116 senyawa kimia
diisolasi dari daun kumis kucing, yang memberikan manfaat pengobatan bagi
kesehatan manusia (Adnyana, et al., 2012). Selain itu, peneliti juga menemukan
bukti ilmiah tentang manfaat kesehatan dari ekstrak daun kumis kucing seperti
efek diuretik dan hipourikemik, aktivitas antiinfeksi, aktivitas antihiperglikemik
dan aktivitas antidiabetes (Mohamed, et al., 2015). Hal ini dibuktikan karena
keberadaan metabolit sekunder utama yang terkandung dalam ekstrak daun kumis
kucing antara lain asam rosmarinat, eupatorin, 5-hydroxy-3', 4', 6,7-
tetramethoxyflavone (TMF) dan sinensetin (Singh, et al., 2015).

Setelah membaca dan menelaah isi naskah proposal usulan penelitian, kami
memberikan persetujuan:

Pembimbing utama : Wiwin Winingsih, S. Si., M. Si., Apt./………………………………

Pembimbing serta : Adang Firmansyah, M. Si., Apt./.……………………………………

1
2

Sinensetin merupakan flavonoid yang aktif secara farmakologi yang


ditemukan dalam daun kumis kucing dan dapat dijadikan sebagai petunjuk adanya
daun kumis kucing dalam suatu campuran. Sinensetin memiliki efek farmakologi
antioksidan, antibakteri, dan memperlihatkan aktivitas diuretik (Ahmad, et al.,
2008). Sinensetin adalah salah satu senyawa aktif dalam daun kumis kucing yang
memiliki efek antibakteri dan antikanker (Arifianti, et al., 2017). Sinensetin
termasuk salah satu senyawa yang tidak menunjukkan toksisitas (Febjislami, dkk.,
2018). Selain itu sinensetin memiliki aktivitas antiangiogenesis (Aziz, et al.,
2018). Berdasarkan aktivitas farmakologi sinensetin tersebut, maka isolasi
sinensetin perlu dilakukan untuk mendapatkan bahan baku obat ataupun untuk
standardisasi simplisia kumis kucing.
Isolasi sinensetin telah dilakukan dengan menggunakan kromatografi kolom.
Tetapi metode ini mempunyai kelemahan yaitu membutuhkan waktu yang lama,
sedangkan rendemen yang dihasilkan dengan metode ini juga tidak optimal yaitu
sekitar 2,1µmol/gram (bunga ungu) dan 2,9 µmol/gram (bunga putih) (Sofiani,
2003). Tetapi ada beberapa penelitian yang menyatakan bahwa kadar sinensetin
dalam daun kumis kucing yaitu sebesar 0.365% menggunakan metode
kromatografi kolom (Suryana, 2010). Karena rendemen yang dihasilkan pada
proses isolasi sebelumnya tidak optimal, maka diperlukan metode isolasi
preparatif yang dapat menghasilkan sinensetin dengan rendemen yang lebih
optimal.
Sebagai solusi dari permasalahan diatas, maka akan dilakukan isolasi
preparatif senyawa sinensetin dari kumis kucing dengan cara ekstraksi bertahap
yang lebih sederhana menggunakan beberapa pelarut non polar sampai polar
dengan memanfaatkan sifat fisikokimia sinensetin. Keuntungan dari metode ini
yaitu selain dapat memisahkan senyawa berdasarkan kelarutan, metode ini juga
lebih sederhana serta dapat mengefisienkan waktu pengerjaan serta dari segi biaya
bisa menjadi teknik yang lebih ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk
mengisolasi preparatif senyawa sinensetin dari daun kumis kucing.
3

1.2 Identifikasi Masalah


Dari latar belakang di atas, maka identifikasi masalah pada penelitian ini
adalah:
1. Pelarut apa saja dan tahapan apa saja yang dapat mengisolasi sinensetin
dari kumis kucing?
2. Berapa rendemen yang dihasilkan dari isolasi preparatif ini?
3. Berapa kemurnian isolat sinensetin yang dihasilkan?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi sinensetin dari daun kumis
kucing dengan cara ekstraksi menggunakan berbagai pelarut.

1.4 Kegunaan Penelitian


Kegunaan penelitian ini diharapkan dapat memanfaatkan kumis kucing
sebagai sumber sinensetin yang dapat dijadikan bahan baku farmasi atau standar
pembanding.

1.5 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia, Sekolah Tinggi Farmasi
Indonesia (STFI), Jl. Soekarno – Hatta (Parakan Resik), Bandung, Jawa Barat,
40266 pada Bulan Maret hingga Bulan Juli 2020.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Kumis Kucing (Orthosipon stamineus)


2.1.1 Klasifikasi Tanaman Kumis Kucing

Gambar 2.1 Tanaman Kumis Kucing (Orthosipon stamineus Benth.)


(Dokumen pribadi)

Klasifikasi
Kingdom : Plantae (Plants)
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Lamiales
Famili : Lamiaceae / Labiatae
Genus : Orthosiphon Benth.
Spesies : Orthosiphon aristatus (Blume) Miq. (USDA,
2015)

2.1.2 Nama Daerah


Sumatera : Kumis kucing
Sunda : Kumis kucing

4
5

Jawa : Remujung
Madura : Se-salaseyan, songkot koceng

2.1.3 Morfologi dan Penyebaran Tanaman


Tanaman terna yang tumbuh tegak, pada bagian bawah berakar di
bagian buku-bukunya, tinggi 1-2 m, batang segi empat agak beralur, berbulu
pendek atau gundul. Daun tunggal, bundar telur lonjong, lanset atau belah
ketupat, berbulu halus, pinggir bergerigi kasar tak teratur, kedua permukaan
berbintik-bintik karena ada kelenjar minyak atsiri. Bunga berupa tandan yang
keluar di ujung cabang, wama ungu pucat atau putih (ada yang warna biru
dan putih), benang sari lebih panjang dari tabung bunga. Buah geluk wama
coklat gelap.
Tumbuh di dataran rendah dan daerah ketinggian sedang. Ditemukan
di Indonesia, Asia tengah, Cina, Kepulauan pasifik dan Australia.

2.1.4 Manfaat Tanaman Kumis Kucing (Orthosipon stamineus)


Beberapa penelitian pra klinik tentang manfaat tanaman kumis kucing
dalam pengobatan beberapa penyakit yaitu sebagai antihiperlipidemia
(Umbare, et al., 2009), antimikroba dan antioksidan, anti-angiogenic agent,
sebagai penyeimbang level nitrat oksida, antipiretik dan analgesik (Basheer
and Abdil, 2010), sebagai pengatur gula darah sehingga digunakan untuk
pengobatan alternatif diabetes, memiliki aktivitas dalam menghambat
penempelan platelet-platelet darah dan memiliki sifat hemolitik kuat yang
dapat menurunkan tekanan darah sehingga dapat menjadi alternatif
pengobatan untuk tekanan darah tinggi serta mengurangi kolesterol, yang
sering digunakan dalam obat tradisional, berguna untuk membersihkan racun
dalam proses detoksifikasi dan juga dapat menghapus sisa metabolisme
didalam tubuh sehingga berguna dalam upaya penurunan berat badan, sebagai
diuretik, sebagai penghambat produksi asam urat yang dapat digunakan
dalam membantu kondisi seperti gout dan radang sendi karena tingginya
kadar asam urat dalam tubuh dan sebagai antiinflamasi yang dapat digunakan
dalam pengobatan herbal untuk arthritis dan rematik (Himani, et al., 2013).
6

2.1.5 Kandungan Kimia Tanaman Kumis Kucing (Orthosipon stamineus)


Himani et al., (2013) melaporkan tentang beberapa studi yang
menjelaskan tentang kandungan kimia tanaman kumis kucing. Kumis kucing
banyak mengandung flavon, polifenol, protein aktif, glikosida, minyak atsiri
dan kalium. Lebih dari 12 senyawa fenolik yang telah diisolasi dari tanaman
kumis kucing seperti: flavon lipofilik, glikosida flavonol, turunan asam kafeat
(asam rosmarinat dan 2,3-dicaffeoyltartaric acid), asam oleanolat, asam
ursolat dan β-sitosterol. Metabolit sekunder utama yang terkandung dalam
ekstrak Daun Kumis Kucing antara lain asam rosmarinat, eupatorin, 5-
hydroxy-3', 4', 6,7-tetramethoxyflavone (TMF) dan sinensetin (Septya, 2015).
Sinensetin merupakan senyawa fitokimia paling penting dan menjadi
senyawa marker dari tanaman kumis kucing (Himani, et al., 2015).

2.2 Sinensetin
Sinensetin adalah salah satu senyawa aktif dalam tanaman kumis kucing yang
memiliki efek antibakteri dan antikanker (Arifianti, et al., 2017). Sinensetin
termasuk salah satu senyawa yang tidak menunjukkan toksisitas (Febjislami, dkk.,
2018). Sinensetin merupakan flavonoid yang aktif secara farmakologi yang
ditemukan dalam daun kumis kucing. Keberadaan senyawa sinensetin dapat
dijadikan sebagai petunjuk adanya daun kumis kucing dalam suatu campuran,
karena sinensetin merupakan senyawa yang paling stabil dalam kumis kucing.
Sinensetin memiliki potensi antioksidan, antibakteri, dan memperlihatkan
aktivitas diuretik (Suryana, 2010). Sinensetin tidak banyak dieksplorasi untuk
aktivitas antikankernya (Samidurai, et al., 2019).
Penelitian Wini 2010 menyakatakan bahwa rendemen sinensetin pada daun
kumis kucing bunga putih dalam ekstrak kloroform adalah 4.93% dan 6.24%
dalam ekstrak etanol. Walaupun kadarnya relatif kecil, berdasarkan riset
dilaporkan bahwa sinensetin mempunyai aktivitas diuretik dan potensi sebagai
antioksidan dan antibakteri.
Pada penelitian Sofiani 2003 mengungkapkan bahwa komponen aktif
sinensetin dari daun kumis kucing yang berasal dari Bekasi dengan rendemen
50.31% (b/b) dari 150 kg bobot simplisia telah berhasil diisolasi. Kandungan
7

senyawa sinensetin di dalam daun kumis kucing relatif kecil, berada sekitar
2,1µmol/gram (bunga ungu) dan 2,9 µmol/gram (bunga putih). Tapi ada beberapa
penelitian yang menyatakan bahwa kadar sinensetin dalam daun kumis kucing
yaitu sebesar 0.365% (Wini, 2010).

2.2.1 Sifat Fisikokimia Sinensetin

Gambar 2.2 Struktur Sinensetin


(Dokumen pribadi: ChemDraw)

Sinensetin (C20H20O7) termasuk dalam kelompok flavon. Sinensetin


merupakan senyawa aglikon flavonoid yang bersifat semipolar. Senyawa ini
merupakan turunan flavonoid dengan metilasi gugus hidroksil. Senyawa ini
perlu dijauhkan dari bahan-bahan pengoksidasi kuat dan disimpan dalam
kondisi dingin (Suryana, 2010). Bentuk fisik sinensetin adalah serbuk atau
kristal berwarna kuning muda, tidak berbau dan memiliki bobot molekul
372,28 g/mol serta memiliki titik leleh 172-179˚ C. Senyawa ini memiliki
titik didih 547-548˚ C dan titik nyala 240,6˚ C (Cayman, 2016).
Sinensetin larut dalam metanol, etanol, etil asetat, n-heksan,
diklorometan, kloroform, aseton, asetonitril, dimetil formamida, dimetil
sulfoksida, butanol dan sedikit larut dalam air atau larut sebagian dalam air.

2.3 Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses penarikan komponen atau zat aktif suatu simplisia
dengan menggunakan pelarut tertentu. Disamping itu ekstraksi merupakan proses
penarikan senyawa kimia dari suatu bahan dengan menggunakan metode yang
8

sesuai. Prinsip ekstraksi adalah “like dissolve like” senyawa polar akan larut
dalam pelarut polar dan senyawa non polar akan larut dalam pelarut non polar.
Jenis-jenis metode ekstraksi yang dapat digunakan adalah sebagai berikut :
1. Maserasi
Metode ekstraksi ini merupakan salah satu jenis teknik ekstraksi yang
bertujuan menarik suatu komponen tertentu dari contoh dengan pelarut
tertentu. Maserasi dilakukan dengan merendam sampel dengan pelarut
yang sesuai dalam jangka waktu tertentu sehingga interaksi antara
senyawa yang ingin diekstrak dengan pelarutnya dapat berlangsung
maksimal (Suryana, 2010). Kerugian utama dari metode maserasi ini
adalah memakan banyak waktu, pelarut yang digunakan cukup banyak,
dan besar kemungkinan beberapa senyawa hilang. Namun di sisi lain,
metode maserasi dapat menghindari rusaknya senyawa-senyawa yang
bersifat termolabil (Mukhriani, 2014).
2. Perkolasi
Pada metode perkolasi, serbuk sampel dibasahi secara perlahan dalam
sebuah perkolator (wadah silinder yang dilengkapi dengan kran pada
bagian bawahnya). Pelarut ditambahkan pada bagian atas serbuk sampel
dan dibiarkan menetes perlahan pada bagian bawah. Kelebihan dari
metode ini adalah sampel senantiasa dialiri oleh pelarut baru. Sedangkan
kerugiannya adalah jika sampel dalam perkolator tidak homogen maka
pelarut akan sulit menjangkau seluruh area (Mukhriani, 2014).
3. Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada suhu
40 – 50˚ C (Fauzana, 2015).
4. Ultrasound - Assisted Solvent Extraction
Merupakan metode maserasi yang dimodifikasi dengan menggunakan
bantuan ultrasound (sinyal dengan frekuensi tinggi, 20 kHz). Wadah yang
berisi serbuk sampel ditempatkan dalam wadah ultrasonic dan ultrasound.
Hal ini dilakukan untuk memberikan tekanan mekanik pada sel hingga
menghasilkan rongga pada sampel. Kerusakan sel dapat menyebabkan
9

peningkatan kelarutan senyawa dalam pelarut dan meningkatkan hasil


ekstraksi (Mukhriani, 2014).
5. Ekstraksi Sinambung
Metode ini dilakukan dengan menempatkan serbuk sampel dalam sarung
selulosa (dapat digunakan kertas saring) dalam klonsong yang ditempatkan
di atas labu dan di bawah kondensor. Pelarut yang sesuai dimasukkan ke
dalam labu dan suhu penangas diatur di bawah suhu refluks. Keuntungan
10

dari metode ini adalah proses ektraksi yang kontinyu, sampel terekstraksi
oleh pelarut murni hasil kondensasi sehingga tidak membutuhkan banyak
pelarut dan tidak memakan banyak waktu. Kerugiannya adalah senyawa
yang bersifat termolabil dapat terdegradasi karena ekstrak yang diperoleh
terus-menerus berada pada titik didih (Mukhriani, 2014).
6. Refluks
Pada metode reflux, sampel dimasukkan bersama pelarut ke dalam labu
yang dihubungkan dengan kondensor. Pelarut dipanaskan hingga mencapai
titik didih. Uap terkondensasi dan kembali ke dalam labu (Mukhriani,
2014).
7. Destilasi Uap
Destilasi uap memiliki proses yang sama dan biasanya digunakan untuk
mengekstraksi minyak esensial (campuran berbagai senyawa menguap).
Selama pemanasan, uap terkondensasi dan destilat (terpisah sebagai 2
bagian yang tidak saling bercampur) ditampung dalam wadah yang
terhubung dengan kondensor. Kerugian dari kedua metode ini adalah
senyawa yang bersifat termolabil dapat terdegradasi (Mukhriani, 2014).
8. Infus
Infus adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur penangas air (bejana
infus tercelup dalam penangas air mendidih), temperatur 96 - 98˚C selama
15 – 20 menit (Fauzana, 2015).
9. Dekok
Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai
titik didih air > 30˚C (Fauzana, 2015).

2.4 Pemurnian Senyawa


A. Kromatografi Lapis Tipis
Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan bagian dari kromatografi cair
dengan fase gerak berupa cairan dan fase diam berupa adsorben yang
dilapiskan pada lempeng kaca atau aluminium yang bertindak sebagai
penunjang fase diam dan diposisikan sebagai suatu lapisan tipis dengan
permukaan yang rata. Teknik ini biasa digunakan untuk pemisahan campuran
11

komponen berdasarkan distribusi komponen tersebut diantara dua fase, yaitu


fase diam dan fase gerak. Kelebihan KLT adalah kecepatan pemisahan tinggi
dan sensitif. Selain itu, teknik ini juga mudah dalam preparasi contoh,
kesederhanaan dalam prosedur kerja, relatif murah karena contoh dan standar
dapat dirunning dalam waktu yang sama serta volume pelarut yang digunakan
sedikit (Suryana, 2010).
B. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) atau High Performance Liquid
Chromatography (HPLC)
Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) merupakan salah satu jenis
kromatografi cair yang menggunakan zat cair sebagai fase geraknya.
Pemisahan dengan KCKT didasarkan pada kesetimbangan
komponenkomponen campuran diantara fase gerak dan fase diam. KCKT
digunakan untuk pemisahan dan analisis senyawa yang tidak tahan panas atau
tidak atsiri secara kualitatif dan kuantitatif. Teknik pemisahan ini juga dapat
digunakan untuk menganalisis senyawasenyawa yang bersifat termolabil atau
sangat polar atau yang memiliki bobot molekul yang tinggi (Suryana, 2010).
Keuntungan menggunakan KCKT dalam menganalisis suatu bahan adalah
jumlah contoh yang digunakan sedikit (mikroliter), waktu retensi hanya
beberapa menit (Suryana, 2010).
C. Rekristalisasi
Rekristalisasi adalah teknik pemurnian suatu zat padat dari pengotornya
dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah dilarutkan dalam
pelarut yang sesuai. Prinsip dasar dari proses rekristalisasi adalah perbedaan
kelarutan antara zat yang akan dimurnikan dengan zat pengotornya. Karena
konsentrasi total pengotor biasanya lebih kecil dari konsentrasi zat yang
dimurnikan, dalam kondisi dingin konsentrasi pengotor yang rendah tetap
dalam larutan sementara zat yang berkonsentrasi tinggi akan mengendap
(Pinalia, 2011).

2.5 Metode Identifikasi


Identifikasi yang paling penting dan digunakan secara luas ialah pengukuran
spektrum serapan dengan menggunakan spektrofotometer. Pengukuran ini tidak
12

merusak senyawa dan senyawa dapat dipakai lagi untuk uji-uji yang lain. Metode
yang biasanya digunakan dalam penelitian adalah spektrofotometer Uv-Vis dan
Spektrofotometer IR atau FTIR (Mukhriani, 2014).
Spektrofotometer Uv-Vis memiliki daerah pengukuran spektrofotometer UV
adalah pada panjang gelombang 200-400 nm dan Visible pada panjang gelombang
400-800 nm. Spektrum UV disebut juga spektrum elektronik karena terjadi
sebagai hasil interaksi radiasi UV terhadap molekul yang mengakibatkan molekul
tersebut mengalami transisi elektronik. Apabila radiasi elektromagnetik dikenakan
pada suatu molekul atau atom maka sebagian dari radiasi tersebut diserap oleh
molekul atau atom tersebut sesuai dengan strukturnya yang mempunyai gugus
kromofor (Mukhriani, 2014).
Sedangkan spektrofotometer IR adalah radiasi infrared (IR) merupakan
bagian dari spektrum elektro magnetik antara daerah gelombang cahaya tampak
dan gelombang mikrowafe. Radiasi IR dalam daerah panjang gelombang 10000-
100 cm-1 diabsorbsi dan diubah oleh sebuah molekul organik ke dalam energi
vibrasi molekul. Serapan ini juga dihitung. Tapi, spektrum vibrasi muncul sebagai
tanda lebih baik karena sebuah perubahan energi vibra tunggal diikuti oleh
sejumlah perubahan energi rotasi. Absorbsi frekuensi atau panjang gelombang
tergantung pada massa relatif atom, gaya konstan ikatan dan geometri atom
(Mukhriani, 2014).
BAB III
TATA KERJA

3.1 Alat
Alat yang diperlukan dalam penelitian ini adalah HPLC (Water 1525), neraca
analitik (Ohaus Carot Series), chamber KLT, kertas saring, spektrofotometer Uv-
Vis (Shimadzu), FTIR (Shimadzu), plat silika gel GF 254 dan alat-alat gelas
(Pyrex).

3.2 Bahan
Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah daun kumis kucing
(Manoko), standar sinensetin (Sigma Aldric), n-heksana teknis, kloroform teknis,
magnesium, amil alkohol, etanol teknis, etil asetat teknis, tetrahidrofuran, HCl
pekat, metanol pro analis dan aquades pro analis (Merck).

3.3 Metode
3.3.1 Persiapan Bahan Baku
Sejumlah daun kumis kucing disortasi basah untuk dipisahkan dari
kotoran kotoran atau bahan-bahan asing, dicuci dengan air sebanyak 3 kali
hingga bersih, ditiriskan agar bebas dari air sisa cucian kemudian
dikeringkan. Pengeringan dilakukan dengan matahari langsung selama 7 hari,
setelah kering kemudian disortasi kering. Ditimbang kemudian dihaluskan
menggunakan blender hingga menjadi serbuk. Kemudian serbuk simplisia
disimpan dalam wadah bersih dan kering.

3.3.2 Skrining Fitokimia Terhadap Flavonoid


Sebanyak 1 gram serbuk ditambah dengan 100 ml air mendidih,
kemudian dipanaskan selama 15 menit, campuran kemudian disaring. Filtrat
diambil sebanyak 5 ml kemudian ditambahkan serbuk magnesium, 1 ml HCl
dan 1 ml alkohol kemudian dikocok kuat. Ditambahkan amil alkohol dan
dibiarkan memisah. Terbentuknya warna merah, kuning, dan jingga pada
lapisan amil alkohol menunjukkan adanya flavonoid.
3.3.3 Ekstraksi Daun Kumis Kucing
Sebanyak 1 kg serbuk simplisia daun kumis kucing direndam dengan
n-heksan sebanyak 8 L selama 3 kali 24 jam kemudian disaring menggunakan
kertas saring. Filtrat diuapkan hingga mendapat ekstrak kering.

3.3.4 Pemurnian Senyawa


Pemurnian senyawa dilakukan dengan cara menambahkan kloroform
kedalam ekstrak kering n-heksan kemudian disaring. Filtrat diuapkan dan
diambil beberapa ml untuk diuji KLT. Setelah itu ditambahkan etil asetat
kemudian disaring, filtrat diuapkan dan diambil beberapa ml untuk diuji KLT.
Kemudian ditambahkan etanol kemudian disaring, filtrat diuapkan dan
diambil beberapa ml untuk diuji KLT. Filtrat etanol diuapkan didalam lemari
asam sampai terbentuk isolat sinensetin.

3.3.5 Karakterisasi Sinensetin


A. Karakterisasi Menggunakan Spektrofotometer Uv-Vis
Sejumlah tertentu isolat hasil isolasi sinensetin dilarutkan dalam
etanol. Kemudian dilakukan pengukuran pada panjang gelombang
200-400 nm. Kemudian dibandingkan dengan standar.
B. Karakterisasi Menggunakan HPLC
Sampel dianalisis dengan HPLC menggunakan kolom C18 dengan
diameter dan panjang kolom masing-masing 4.6 mm dan 150 mm;
suhu kolom 25˚C; fase gerak metanol:air (pH 3.0):tetrahidrofuran
(45:50:5); laju alir 1 ml/menit; volume injeksi 20 µl; λ detektor UV
340 nm (Suryana, 2010).
C. Karakterisasi Menggunakan FTIR
Sejumlah tertentu isolat hasil isolasi dibuat pelet ATR. Kemudian
dilakukan pengukuran dengan menggunakan Spektrofotometer Infra
Red.
D. Pengujian Titik Leleh
Sejumlah tertentu isolat hasil isolasi dimasukkan kedalam pipa kapiler
kemudian dimampatkan. Titik leleh diamati menggunakan Melting
Point Tester (Handayani, 2018).
DAFTAR PUSTAKA

Adnyana, I. K., Setiawan, F., and Insanu, M. 2013. “From Ethnopharmacology To


Clinical Study Of Orthosiphon Stamineus Benth.” International Journal of
Pharmacy and Pharmaceutical Sciences 5: 66.

Ahmad, M. A. 2008. “Disposable array sensor strip for quantification of


sinensetin in Orthosiphon stamineus Benth samples.” Journal of
Microchimica Acta 163: 113.

Ameer, O. Z., I. M. Salman, M.Z., Asmawi, Z.O., Ibraheem., and M. F. Yam.


2012. “Orthosiphon stamienus: Traditional uses, phytochemistry,
pharmacology, and toxicology: A review.” J. Med. Food 15: 13.

Arifianti, L., Sukardiman, and Santosa, M. H. 2017. “Sinensetin-Rich Fraction


Solid Dispersion Inhibits Cancer Cell Cycle.” The Veterinary Medicine
International Conference. P. 437.

Aziz, A. H. A., Mohd Azizi Che Yunus, Lee Nian Yian, Zuhaili Idham, Fahim
Rithwan, Hafizah Mohd Hadzri, Ana Najwa Mustapha. 2018.
“Enhancement And Optimization Of Sinensetin Extract From Orthosiphon
stamineus Using Supercritical Carbon Dioxide Extraction.” Malaysian
Journal Of Analytical Sciences 22(5): 868.

Basheer, A., And Abdil, M. 2010. “Medical Potentials Of Orthosiphon stamineus


Benth.” Webmed Central Cancer 1: 12.

Fauzana, M. D. 2015. “Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol 96% Herba Kumis


Kucing (Orthosiphon stamineus Benth) Terhdap Penurunan Kadar
Kolesterol Total Pada Tikus Jantan Yang Diinduksi Pakan
Hiperkolesterol”. Skripsi. Jurusan Farmasi FKIK. Jakarta: UIN Syarif
Hidayatullah. Hal. 4-9.

Febjislami, S., Maya, M., Ani, K., dan Yudiwanti, W. 2018. “Karakter Agronomi
dan Kadar Sinensetin Beberapa Aksesi Tanaman Kumis Kucing
(Orthosiphon stamineus).” J. Hort. Indonesia. Hal: 207.

Handayani, B. 2018. “Isolasi Katekin Dari Teh Hijau (Camellia sinensin L.).”
Skripsi. Jurusan Farmasi. Bandung: Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia.
Hal. 17.

Himani, B., Bisht, S., Nath, B., Yadav, M., Singh, V., and Singh, M. 2013. “Misai
Kuching: A Glimpse of Maestro. International Journal of Pharmaceutical
Sciences Review and Research 22(2): 55-59.
Mohamed, E. A., Ahmad, M., Ang, L. F., Asmawi, M. Z., and Yam, M. F. 2015.
“Evaluation Of Α-Glucosidase Inhibitory Effect Of 50% Ethanolic
Standardized Extract Of Orthosiphon stamineus Benth In Normal
AndStreptozotocin-Induced Diabetic Rats.” Evidence-Based
Complementary and Alternative Medicine 15: 1.

Mukhriani. 2014. “Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, Dan Identifikasi Senyawa


Aktif.” Jurnal Kesehatan 7(2): 362-363; 366.

Pinalia, A. 2011. “Penentuan Metode Rekristalisasi Yang Tepat Untuk


Meningkatkan Kemurnian Kristal Amonium Perklorat (AP).” Majalah
sains dan teknologi dirgantara 6(2): 65-66.

Samidurai, D., Ashok, K. P., Senthil, K. K., Madan, K. P., Raaman, N. 2019.
“Sinensetin Isolated From Orthosiphon Aristatus Inhibits Cell
Proliferation And Induces Apoptosis In Hepatocellular Carcinoma Cells.”
Journal Pre-proof 19: 4.

Septya, A. A. 2015. “Optimasi Formula Tablet Kombinasi Ekstrak Buah


Mengkudu (Morinda citrifolia L.), Daun Seledri (Apium graveolens L.),
dan Daun Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus (Bl.) Miq.).” Skripsi.
Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Hal. 11.

Singh, M. K., Gidwani, B., Gupta, A., Dhongade, H., Kaur, C. D., Kashyap, P. P.
and Tripathi, D. K. 2015. “A review of the medicinal plants of genus
orthosiphon (Lamiaceae).” International Journal of Biological Chemistry
9(6): 318.

Sofiani, Y. S. 2003. “Isolasi, Pemurnian, dan Uji Aktivitas Antibakteri Senyawa


Sinensetin Dari Ekstrak Daun Kumis Kucing (Orthosiphonis aristatus).”
Skripsi. Jurusan Kimia FMIPA. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Hal. 2; 9.

Suryana, W. N. 2010. “Optimisasi Ekstraksi Sinensetin Dari Daun Kumis


Kucing.” Skripsi. Jurusan Kimia FMIPA. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Hal. 2.

Umbare, R. P., Patil, S. M., Mate, G. S., and Dongare, S. S. 2009. “Hypolipidemic
Activity of Orthosiphon Stamineus Benth Bark Extract.” Journal of
Pharmacy Research 2(11): 1735.

USDA. 2015. “Natural resources conservation service.” Avaible at:


http://plants.usda.gov/core/profile?symbol=ORTHO7

Yam, M. F., Chu, S. T., Mariam, A., and Ruan, S. 2016. “Vasorelaxant Action of
the Chloroform Fraction of Orthosiphon stamineus via NO/cGMP
Pathway, Potassium and Calcium Channels.” The American Journal of
Chinese Medicine 44(7): 1414.
LAMPIRAN
ALUR KERJA PENELITIAN

1. Persiapan Bahan Baku


Daun kumis kucing
- Disortasi basah
- Dicuci dengan air sebanyak 3 kali
- Ditiriskan
- Dikeringkan selama 7 hari
- Disortasi kering
Simplisia daun kumis
kucing
- Ditimbang
- Dihaluskan menggunakan blender
Serbuk simplisia daun kumis kucing
Disimpan dalam wadah tertutup

2. Skrining Fitokimia Terhadap Flavonoid


1 gram serbuk simplisia
- Ditambahkan dengan 100 ml air
- Dipanaskan selama 15 menit
- Disaring

Residu Filtrat
- Diambil sebanyak 5 ml
- Ditambahkan serbuk magnesium dan 1 ml
HCl pekat
- Dikocok kuat
- Ditambahkan amil alkohol
- Dibiarkan memisah
Terbentuk warna merah, kuning dan jingga pada
lapisan amil alkohol menunjukkan adanya flavonoid

3. Ekstraksi
Serbuk simplisia daun kumis kucing
- Ditimbang sebanyak 1 kg
- Direndam menggunakan n-heksan sebanyak 8 L (3 × 24 jam)
- Disaring

Residu Filtrat
18

- Diuapkan didalam lemari asam


Ekstrak kering n-heksan

4. Pemurnian Senyawa
Ekstrak kering n-heksan
- Ditambahkan kloroform
- Disaring

Residu Filtrat
Diuji KLT - Diuapkan
- Diuji KLT
Ekstrak kering kloroform
- Ditambahkan etil asetat
- Disaring

Residu Filtrat
Diuji KLT - Diuapkan
- Diuji KLT
Ekstrak kering etil asetat
- Ditambahkan etanol
- Disaring

Residu Filtrat
Diuji KLT - Diuapkan
- Diuji KLT
Ekstrak etanol
- Diuapkan dalam lemari
asam
Isolat sinensetin

5. Karakterisasi Sinensetin
Isolat sinensetin
- Dikarakterisasi menggunakan spektrofotometer Uv-Vis,
HPLC dan FTIR
- Diuji titik lelehnya
Hasil