0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
670 tayangan24 halaman

Anchorage

Dokumen tersebut membahas tentang penggunaan alat ortodontik lepasan dan penjangkaran pada alat tersebut. Alat ortodontik lepasan digunakan untuk kasus-kasus tertentu seperti pengurangan overjet atau penutupan ruang pencabutan gigi. Penjangkaran penting untuk mencegah gerakan tidak diinginkan gigi selain gigi target. Penjangkaran dapat diperoleh secara intra oral atau ekstra oral.

Diunggah oleh

samudra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
670 tayangan24 halaman

Anchorage

Dokumen tersebut membahas tentang penggunaan alat ortodontik lepasan dan penjangkaran pada alat tersebut. Alat ortodontik lepasan digunakan untuk kasus-kasus tertentu seperti pengurangan overjet atau penutupan ruang pencabutan gigi. Penjangkaran penting untuk mencegah gerakan tidak diinginkan gigi selain gigi target. Penjangkaran dapat diperoleh secara intra oral atau ekstra oral.

Diunggah oleh

samudra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Alat ortodonti lepasan merupakan alat yang dapat dipasang dan dilepaskan sendiri oleh

pasien. Alat ini mulai digunakan sejak abad ke-19, namun alat dengan akrilik dan stainless steel

baru digunakan pada awal abad ke 20. Sekitar tahun 1950, Adam mengembangkan suatu

cangkolan (yang dikenal dengan cangkolan Adam) sehingga ruang lingkup penggunaan dan

efisiensi alat lepasan meningkat.

Sebelum alat cekat berkembang, alat lepasan digunakan untuk merawat hampir semua

kasus maloklusi. Dengan perkembangan ilmu dan teknologi dalam bidang ortodonti, maka

pemakaian alat lepasan banyak digantikan dengan alat cekat. Namun alat cekat masih menjadi

pilihan untuk menangani kasus-kasus tertentu. 1,2,3 Kerr (19) menyatakan bahwa dari populasi

yang dirawat menggunakan alat lepasan dengan kasus-kasus yang benar-benar terseleksi, 85 %

menunjukkan hasil yang memuaskan.3

Alat lepasan ini dapat terdiri dari berbagai macam piranti ortodontik lepasan. Alat

lepasan dapat digunakan sebagai alat untuk mengerakkan gigi-geligi aktif. Misalnya untuk kasus

interseptif pada pasien gigi campuran, space maintainer, alat fungsional untuk perawatan

modifikasi pertumbuhan, alat retensi pasca peraawatan menggunakan alat cekat, dan clear

aligner.1,2 Akhir-akhir ini penggunaan alat lepasan lebih luas digunakan karena bias

dikombinasikan dengan band, hook, dan alat ekstra oral. Namun harus ditekankan bahwa alat

lepasan tidak disarankan untuk mengoreksi maloklusi yang parah.2

1
Salah satu masalah yang sulit diatasi pada pemakaian alat lepasan adalah cara mengontrol

penjangkaran untuk menghindari anchorage loss. Penjangkaran adalah tempat dihasilkan

kekuatan perlawanan terhadap tekanan yang dikenakan pada gigi yang akan digerakkan.2

Kekuatan dikenakan pada satu gigi yang akan digerakkan akan menimbulkan kekuatan

reaksi, kekuatan ini akan mengenai gigi-gigi lain di dalam mulut. Kemampuan untuk bertahan

agar tidak bergerak yang dimiliki gigi-gigi untuk menyalurkan kekuatan ortodontik disebut

penjangkaran. Sedangkan kekuatan ortodontik merupakan kekuatan yang dihasilkan oleh

komponen aktif dari alat ortodontik yang digunakan untuk menggerakkan gigi yang akan

dikoreksi.2

2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah makalah ini adalah:

1. Bagaimanakah penggunaan alat ortodontik lepasan?

2. Jelaskan mengenai penjangkaran pada alat ortodontik lepasan!

3. Jelaskan mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan penjangkaran dalam

alat ortodontik lepasan!

4. Jelaskan mengenai manajemen penjangkaran!

5. Jelaskan jenis-jenis penjangkaran!

6. Jelaskan pengertian anchorage lost!

3. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui penggunaan alat ortodontik lepasan.

2. Untuk mengetahui penjangkaran pada alat ortodontik lepasan.

2
3. Untuk mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan penjangkaran dalam alat

ortodontik lepasan.

4. Untuk mengetahui manajemen penjangkaran.

5. Untuk mengetahui jenis-jenis penjangkaran.

6. Untuk mengetahui mengenai anchorage lost.

3
TINJAUAN PUSTAKA

1. Penggunaan Alat Ortodontik Lepasan

Pada umumnya, pasien memilih alat lepasan dengan alasan biaya lebih murah, mudah

dibuka dan dipasang sendiri, serta mudah dibersihkan. Namun alat ini mudah patah bahkan

hilang, seringkali mengganggu fungsi bicara, dan pemakaian pada rahang bawah lebih sulit

ditoleransi dibandingkan rahang atas sehingga pasien jarang yang menggunakannya dalam waktu

yang lama.

Berdasarkan sudut pandang kedokteran gigi, alat lepasan juga memiliki keuntungan, antara

lain penjangkaran dapat diperoleh dari palatum dan dapat digunakan pada pasien anak-anak

untuk mengurangi overjet. Tetapi alat ini mempunyai kekurangan yaitu gerakan yang bisa

dihasilkan hanya tipping, sulit menghasilkan penjangkaran intermaksiler dan tidak efektif untuk

pergerakkan sejumlah gigi secara bersamaan. Dengan pertimbangan bahwa kemampuan alat

lepasan sangat terbatas, maka kasus yang bisa dirawat menggunakan alat jenis ini juga harus

dibatasi.4,5

Menurut Proffit (2007), penggunaan alat lepasan ditujukan untuk kasus yang bisa diatasi

dengan mengekspansi lengkung gigi, yaitu dengan cara menggerakkan gigi gigi sehingga

menempati lengkung yang lebih lebar atau mereposisi gigi secara individual untuk masuk ke

dalam lengkung. Muir (1979) mengindikasikan alat lepasan untuk kasus-kasus:

 Maloklusi skeletal kelas I. Pengurangan atau penambahan overjet yang bisa dikoreksi

terbatas dan dilakukan dengan mengubah inklinasi gigi insisifus

 Malposisi satu gigi, posisi apikalnya dapat dikoreksi dengan tipping

4
 Perawatan dengan pencabutan yang hanya membutuhkan gerakan tipping untuk menutup

ruang bekas pencabutan

 Maloklusi dalam arah buko-lingual yang diikuti dengan pergeseran mandibular,

contohnya crossbite unilateral gigi posterior

 Penutupan ruang pencabutan yang menyisakan ruangan sehingga gigi bagian bukal harus

dimajukan.

Kontra indikasi pemakaian alat lepasan adalah:4

 Maloklusi skeletal, misalnya kelas I protrusif bimaksiler, kelas II dan kelas III skeletal,

openbite atau deepbite skeletal

 Perawatan yang memerlukan perbaikan relasi gigi antara rahang atas dan bawah

 Kelainan posisi apikal gigi dan rotasi yang parah, serta melibatkan banyak akar

 Membutuhkan pergerakan secara bodily

 Kelainan dalam arah vertikal seperti deepbite, openbite, dan kelainan ketinggian gigi

yang akut

 Masalah kekurangan atau kelebihan ruangan yang besar.

Kasus-kasus yang diindikasikan untuk alat lepasan juga harus mempertimbangkan faktor

usia. Alat lepasan lebih sesuai untuk pasien usia 6 hingga 16 tahun, waktu perawatan lebih

banyak memanfaatkan periode akhir gigi campuran dan awal periode gigi tetap.1

2. Penjangkaran pada Alat Ortodontik Lepasan

Pergerakan sebuah gigi maupun sekelompok gigi secara ortodonti terjadi akibat

penerapan gaya yang disalurkan oleh komponen aktif seperti pegas, busur kawat, elastik, atau

sekrup ekspansi. Ketika gigi-gigi digerakkan maka gaya reaksi akan disalurkan melalui alat

5
sehingga cenderung menghasilkan pergerakan gigi-gigi lain ke arah yang berlawanan. Keadaan

ini sesuai dengan Hukum Newton ke-3 yang mengatakan bahwa setiap aksi menghasilkan reaksi

yang besarnya sama dan berlawanan arah. Masalahnya adalah cara menghindari efek merugikan

dari gaya-gaya yang berlawanan tersebut, karena tujuan yang diharapkan dari suatu perawatan

adalah menggerakkan gigi yang dikehendaki sementara struktur lain tidak bergerak. 1,11

Kemampuan bertahan terhadap gaya yang dihasilkan oleh komponen aktif disebut

penjangkaran. Pengontrolan penjangkaran ditujukan untuk sebanyak mungkin menghasilkan

pergerakan gigi yang diinginkan sementara gerakan gigi yang tidak diharapkan dapat ditahan

atau diupayakan sekecil mungkin. Penjangkaran dapat diperoleh secara intra oral maupun ekstra

oral, namun penjangkaran intra oral lebih umum digunakan pada alat lepasan.

Alat lepasan biasanya bekerja menghasilkan tarikan intra maxillary yaitu kekuatan

penjangkar didapatkan dari lengkung gigi yang sama (intra arch).supaya gigi yang akan

dikoreksi dapat digerakkan tanpa menyebabkan gigi penjangkar ikut bergerak, kekuatan

penjangkar harus lebih besar dari kekuatan gaya ortodontik. Pada beberapa keadaan, penjangkar

bias menghasilkan kekuatan resiprokal. Kekuatan resiprokal yaitu suatu kekuatan yang

dihasilkan oleh dua atau kelompok gigi yang saling menahan. Misalnya, pada penutupan

diastema sentral dengan gerakan gigi insisivus sentral kanan dan kiri ke mesial atau pada kasus

penutupan kelebihan ruang dengan retrusi dengan retrusi gigi anterior untuk memperkecil overjet

dan gerakan ke anterior pada segmen bukal.

Untuk dapat mempertimbangkan kekuatan penjangkar yang dibutuhkan, harus diketahui

kekuatan yang dibutuhkan untuk menggerakkan gigi. Kekuatan yang dibutuhkan untuk

menghasilkan gerakan tipping sederhana pada gigi berakar tunggal pada satu regio antara 30-50

gram, dengan batas terendah 20 gram lebih rendah dari itu gerakan gigi tidak akan terjadi.1

6
3. Merencanakan Penjangkaran Alat Ortodontik Lepasan

Penjangkaran bisa dihasilkan secara intra oral, ekstra oral, atau keduanya. Penjangkaran

ekstra oral memiliki potensi keberhasilan yang besar jika digunakan pada pasien yang kooperatif,

namun penampilan alat ini tidak disukai pasien dan tidak nyaman pada saat digunakan.

Penjangkaran intra oral lebih bisa diterima oleh pasien, namun kemampuan menjangkarnya

sangat kecil. 7

Penjangkaran akan lebih baik jika dipersiapkan sejak awal dibandingkan apabila sudah

terjadi anchorage loss. Jika penjangkaran ekstra oral digunakan sejak awal perawatan, sebaiknya

dinilai apakah pasien sanggup untuk mematuhi waktu pemakaian, sebelum tahap rencana

perawatan berikutnya dilanjutkan. Jika ragu terhadap nilai penjangkaran yang dihasilkan, maka

nilai penjangkaran harus dievalusi pada setiap kunjungan. Operator harus selalu memperhatikan

pergerakan gigi yang terjadi dan membandingkannya dengan keadaan sebelum perawatan. 7

Pada prakteknya, sangat sulit untuk menentukan nilai penjangkar secara akurat. Hal-hal

mendasar yang menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan nilai penjangkaran adalah:

 Besar gaya yang digunakan

Tekanan optimum adalah tekanan yang dapat menghasilkan pergerakan gigi yang

maksimal dengan resiko terhadap jaringan pendukung gigi yang minimal. Gaya optimum

identik dengan tekanan optimum dikalikan dengan luas permukaan akar gigi yang akan

digerakkan. Hal ini merupakan dasar pemikiran dari konsep pertama penjangkaran, yaitu

bahwa gigi atau kelompok gigi dengan luas permukaan akar yang besar memiliki nilai

penjangkar yang lebih besar dibandingkan dengan gigi atau kelompok gigi dengan luas

permukaan akar yang kecil. Namun yang terpenting adalah bukan berapa gaya yang harus

7
diberikan pada gigi tetapi berapa tekanan optimum yang diterima oleh ligamen

periodontal.

Dalam mengelola penjangkaran, untuk mempertahankan kedudukan gigi atau

kelompok gigi yang tidak diharapkan bergerak maka tekanan atau gaya per unit luas

permukaan di daerah tersebut harus kecil. Sementara itu, gigi atau kelompok gigi yang

akan digerakkan menerima gaya dalam batas optimum. 2,7

Nilai penjangkaran sebuah gigi identik dengan luas permukaan akarnya. 2 Namun

untuk menentukan luas permukaan akar setiap gigi secara pasti sangat sulit. Tabel 1 dapat

digunakan sebagai acuan untuk memperkirakan berapa luas permukaan akar rata-rata dari

setiap gigi, namun tentu saja nilai ini berbeda untuk beberapa keadaan, misalnya jika

terjadi resorpsi tulang alveolar dan pemendekan akar maka luas permukaan akarnya

berkurang. 2,7

Tabel 1. Luas permukaan akar gigi sebanding dengan nilai penjangkaran. 7

Apabila diberikan gaya yang melebihi gaya optimal, maka akan terjadi

undermining resorption, secara klinis pergerakan gigi tidak teratur dan melambat. Pada

8
keadaan seperti ini sebaiknya gaya tidak ditambah karena dapat mengakibatkan

kerusakan struktur pendukung gigi yang lebih parah dan menimbulkan rasa nyeri. 2,7

 Tekanan yang disalurkan pada membran periodontal

Nilai penjangkar sangat dipengaruhi oleh pendistribusian tekanan terhadap

ligament periodontal. Distribusi tekanan ditentukan oleh kompleksitas gaya yang

diterapkan, misalnya apakah gaya tunggal atau couple. Prinsip ke-dua dari penjangkaran

adalah bahwa gigi yang bebas bergerak secara tipping memiliki nilai penjangkar yang

lebih kecil dibandingkan dengan gigi yang diberi gaya couple. 7


Proffit menyarankan

besar gaya optimum yang berbeda untuk setiap gerakan. 2

Tipe gerakan gigi Kekuatan optimal (gram) *


Tipping 50 – 75
Bodily (translasi) 100 – 150
Penegakan akar 75 -- 125
Rotasi 50 -- 100
Ekstrusi 50 -- 100
Intrusi 15 -- 25
   Tabel 2:  Nilai ini tergantung pada ukuran bagian permukaan gigi, ukuran yang lebih kecil lebih cocok untuk
gigi insisivus dan ukuran yang lebih besar untuk gigi posterior

 Morfologi akar

Morfologi akar gigi menentukan distribusi gaya terhadap ligamen periodontal

sehingga mempengaruhi nilai penjangkarannya. Salah satu contoh adalah bentuk akar

mesiodistal gigi insisif bawah lebih sempit dibandingkan bukolingual, sehingga memiliki

resistensi yang lebih kecil terhadap gerakan proklinasi dan retroklinasi dibandingkan

gerakan di sepanjang garis lengkung. 7

 Ruangan yang tersedia

9
Pada kasus gigi berjejal yang membutuhkan pencabutan, nilai penjangkarannya

bergantung pada seberapa banyak gigi penjangkar boleh bergerak mengisi ruang

pencabutan tanpa menggunakan ruangan yang dibutuhkan untuk memperbaiki gigi

berjejal. Penjangkaran bisa maksimum, moderat, atau minimum Harus diperhitungkan

bahwa setelah pencabutan, tanpa penarikan pun gigi regio bukal cenderung untuk

bergeser ke mesial. 7,9,11

Gambar 1. Klasifikasi penjangkaran berdasarkan tersedianya ruang pencabutan. Group A atau

penjangkaran maksimum jika 100% ruangan untuk retraksi anterior (tidak boleh terjadi anchorage loss di

posterior) hingga retraksi anterior 75% (25% penutupan oleh segmen posterior). Group B atau

penjangkaran moderat dimana penutupan ruangan oleh segmen anterior dan posterior sama banyak. Group

C atau penjangkaran minimum dimana 75% hingga 100% penutupan ruangan adalah oleh segmen

posterior.9

 Struktur jaringan di sekitar gigi. 7

Kualitas tulang di sekitar akar menentukan nilai penjangkaran sebuah gigi. Gigi lebih

mudah bergerak atau membutuhkan gaya yang lebih kecil apabila tulang pendukungnya

cancellous. Jika akar berkontak dengan tulang kortikal, maka gerakannya akan melambat.Jika hal

ini terjadi, besar gaya sebaiknya tidak ditambah. 7

10
Gigi yang bersebelahan, baik yang sudah maupun belum erupsi, dapat menambah nilai

penjangkaran. Defisiensi tulang alveolar, misalnya pasca pencabutan, dapat mengurangi nilai

penjangkar dari gigi yang bersebelahan. Alveolus pasca pencabutan dengan trauma yang besar

akan mengalami penyempitan dan menimbulkan daerah dense bone sehingga pergerakan gigi

untuk mengisi daerah tersebut menjadi sulit.

Secara teoritis, gaya-gaya yang berasal dari jaringan lunak di sekitar mulut meskipun

kecil dapat mempengaruhi nilai penjangkaran. Alat cekat pada rahang bawah yang

dikombinasikan dengan lip bumper, memanfaatkan penjangkaran yang dihasilkan oleh tekanan

bibir bawah untuk mencegah gigi molar bergerak ke depan. Busur palatal ditambah button akrilik

yang diletakkan pada lekukan anterior dari palatum, dapat menambah nilai penjangkar untuk gigi

molar dari pergerakan ke depan. Gigi ankilosis dan implant screw juga dapat menambah nilai

penjangkaran. 7

4. Manajemen penjangkaran

Manajemen penjangkaran pada dasarnya adalah menambah penjangkaran hingga nilainya

cukup untuk menahan pergerakan gigi yang tidak diharapkan. Dalam kasus yang berbeda, dan

pada tahap perawatan yang berbeda, penjangkaran yang dibutuhkan bias bervariasi. Resistensi

suatu kelompok gigi harus disesuaikan dengan kelompok lainnya sehingga pada akhir perawatan

kedudukan gigi yang diharapkan dapat tercapai. Upaya untuk mengelola penjangkaran adalah: 2

 Menjaga agar gaya tetap ringan

Gerakan yang dapat dihasilkan oleh alat lepasan adalah tipping. Gaya yang

dibutuhkan untuk gerakan tipping relatif kecil, demikian pula gaya reaksi yang

ditimbulkannya. Gaya reaksi dapat dikurangi dengan membatasi jumlah gigi yang

digerakkan. Pada setiap kunjungan, gigi yang boleh digerakkan hanya satu buah per

11
kuadran dengan arah yang sama, dan apabila sedang meretraksi segmen anterior untuk

mengurangi overjet, maka tidak boleh ada gigi lain yang digerakkan ke arah palatal atau

distal. Namun tidak bisa diamsusikan bahwa apabila sudah digunakan gaya yang ringan

maka akan terbebas dari anchorage loss.4

 Menambah resistensi penjangkar

Resistensi yang dihasilkan oleh keakuratan kontak antara pelat landasan dengan

permukaan gigi dan mukosa mempengaruhi penjangkaran yang dihasilkan oleh alat

lepasan. Penjangkaran dapat dimaksimalkan dengan menjaga permukaan akrilik agar

selalu berkontak sebanyak mungkin dengan permukaan gigi. 4

Hubungan bonjol yang mengunci antara gigi rahang atas dengan rahang bawah

bias menambah resistensi terhadap anchorage loss. Masalahnya, pencabutan di kedua

rahang yang berlawanan bisa mengakibatkan gigi tersebut bergeser bersama-sama ke

mesial dalam keadaan tetap mengunci. Kemungkinan ini dapat dihindari apabila

menggunakan bite plane.

Penambahan inclined bite plane pada pelat rahang atas dapat menambah

penjangkaran dengan cara menyalurkan gaya dorong yang ditimbulkan oleh insisifus

rahang bawah pada saat oklusi. Namun bukan tidak mungkin penambahan inclined bite

plane dapat mengakibatkan proklinasi gigi insisif. Oleh karena itu, untuk mengurangi

overbite lebih baik menggunakan bite plane yang datar.

Traksi Intermaksiler jarang sekali diterapkan pada pemakaian alat lepasan.

Mungkin bisa digunakan pada rahang atas untuk mendukung alat cekat di rahang bawah,

tetapi tetap lebih baik jika digunakan pada perawatan dengan alat cekat di kedua

rahangnya. Traksi ekstra oral adalah metoda yang paling memungkinkan untuk

12
menambah penjangkaran pada alat lepasan. Pemakaian alat traksi ekstra oral dapat

diterima oleh pasien dan dapat memperluas ruang lingkup kasus alat lepasan. 1,4,6

5. Jenis-jenis penjangkaran

 Penjangkaran intra oral

Penjangkaran intra oral ada dua macam, yaitu:

a. Penjangkaran intramaksiler

Penjangkaran intramaksiler diperoleh dari lengkung rahang yang sama

dengan rahang yang dipasangi alat ortodontik lepasan. Penjangkaran jenis ini

adalah yang sering dipilih dalam pemakaian alat lepasan aktif. Penjangkaran

intramaksiler dapat diperoleh dari gigi-gigi yang dijadikan sandaran

cangkolan atau gigi-gigi yang tertahan pada tempatnya oleh busur labial, pelat

landasan yang beradaptasi baik dengan palatum dan dengan permukaan gigi

yang tidak digerakkan, serta interdigitasi antara gigi-gigi rahang atas dengan

rahang bawah.1

b. Penjangkaaran intermaksiler.

Penjangkaran intermaksiler menggunakan lengkung rahang lawan untuk

memperoleh penjangkaran. Penjangkaran jenis ini biasa digunakan pada

perawatan menggunakan alat fungsional dan alat cekat, tetapi sulit untuk

diterapkan pada pemakaian alat lepasan untuk pergerakkan aktif gigi karena

cenderung dapat melepaskan alat dari gigi.1

Penjangkaran intermaksiler dapat diperoleh pada penggunaan alat lepasan

yang dikombinasikan dengan alat cekat pada salah satu rahangnya. Salah satu

13
contoh kasus adalah pada maloklusi kelas II dengan susunan gigi rahang bawah

yang baik. Pada rahang bawah digunakan alat lepasan dengan ditambahkan hook

pada cangkolan di gigi molarnya untuk mengaitkan elastik intermaksiler sehingga

menghasilkan tarikan bagi segmen anterior dari alat cekat yang dipasang pada

rahang atas. Pada kasus maloklusi kelas III, alat lepasan pada rahang atas bisa

digunakan untuk menghasilkan traksi kelas III, dan bisa juga digunakan alat

ekspansi untuk proklinasi insisifus. 1

Gambar 2. Penjangkaran intermaksiler. Elastik digunakan alat cekat atas, dan alat lepasan bawah sebagai

penjangkar. Retensi cangkolan alat lepasan harus baik dan cangkolan Adam dimodifikasi dengan hook

untuk sangkutan elastik. 1

 Penjangkaran ekstra oral

Penjangkaran ekstra oral dapat digunakan untuk memperkuat penjangkaran intra

oral, dapat pula sebagai sumber utama penjangkaran, misalnya untuk retraksi regio bukal.

Gaya ekstra oral bergantung pada elastisitas dari elastik penghubung yang terdapat pada

headgear. Penjangkaran ekstra oral dapat diperoleh dengan menggunakan headgear, bisa

berupa headcap atau high pull headgear. Penghubung antara headgear dengan alat

lepasan adalah facebow atau ‘J’ hooks. 1,6

a. Pemakaian headgear

14
Headgear yang digunakan adalah jenis headcap atau high pull headgear. Pada saat

memasang headcap, tinggi kaitan elastik bisa diatur sehingga menghasilkan pergerakan

ke arah gaya yang diinginkan. Arah tarikan harus horisontal (penjangkaran occipital) atau

bisa juga dibuat sedikit lebih tinggi untuk menambah retensi. Komponen gaya ke arah

bawah harus dihindari karena menyebabkan alat lepasan cenderung terlepas. 1

Penghubung antara headgear dengan alat lepasan dapat menggunakan face bow

atau ‘J’ hook dengan alat traksi ekstra oral. Facebow dipasang ke dalam tube yang

disolder pada bagian atas jembatan cangkolan di gigi premolar atau molar. Walaupun

facebow tersedia dalam ukuran yang bervariasi, pada saat pemasangan tetap harus

disesuaikan lagi dengan pasien sehingga mudah dimasukkan ke dalam tube. Bisa juga

digunakan band untuk memasang tube facebow sekaligus cangkolan dari alat lepasan,

namun cangkolan yang digunakan bukan cangkolan Adam tetapi cangkolan flyover.

Inner bow harus sesuai dengan bentuk dan panjang lengkung gigi. Inner bow

diletakkan beberapa milimeter dari gigi insisifus dan setinggi garis bibir aktif. Selama

perawatan, loop ‘U’ mungkin perlu disesuaikan lagi untuk mengatur panjang inner bow.

Outer bow terletak sedekat mungkin dengan bibir dan pipi namun tidak bersentuhan,

letak hook untuk sangkutan elastik adalah setinggi permukaan mesial molar pertama,

sekitar 4 cm di depan hook dari headcap. Apabila headgear dipakai bersama-sama

dengan alat cekat, tinggi dan panjang outer bow menentukan vektor gaya yang

diaplikasikan pada gigi-gigi dan mempengaruhi gerakan yang dihasilkan, namun

pemasangan pada alat lepasan semata-mata agar arah tarikan tidak mengakibatkan alat

mudah lepas (Gambar 3). 1,6

15
Gambar 3. Penjangkaran ekstra oral. A) Pada pemakaian headgear, tinggi elastik bisa diatur. B) Facebow

menghubungkan headcap dengan alat lepasan di dalam mulut. 1

‘J’ hook merupakan alternatif penghubung antara alat traksi ekstra oral dengan

alat lepasan. Alat ini disolder pada cangkolan yang terletak pada gigi insisifus atau

kaninus atas. Pada perawatan menggunakan alat cekat, ‘J’ hook digunakan untuk intrusi

regio labial rahang atas, namun pada perawatan dengan alat lepasan hasilnya belum

diketahui (Gambar 4). 1,6

Gambar 4. Penjangkaran ekstra oral menggunakan ‘J’ hook dan alat traksi ekstra oral. A) ‘J’ hook dipatri

pada cangkolan anterior. B) Alat lepasan pada rahang atas digabungkan dengan alat traksi ekstra oral untuk

retraksi regio bukal. 1

Tegangan elastik diperlukan untuk menyeimbangkan gaya yang timbul saat gaya

dari komponen aktif diaplikasikan. Besar gaya yang digunakan tiap sisi untuk penguat

penjangkaran mulai dari 150 gram hingga 200 gram dan untuk distalisasi segmen bukal

16
mulai 400 gram hingga 500 gr. Gaya bisa diukur menggunakan tension gauge atau

correx spring gauge

Jika periode awal perawatan dengan alat ekstra oral sebagai penguat

penjangkaran telah selesai, penggunaannya dapat dikurangi menjadi malam hari saja,

yaitu pada saat tidur. Apabila diyakini tidak terjadi anchorage loss, maka penggunaan

headgear selama 10 hingga 12 jam per hari. Untuk retraksi aktif regio bukal,

penggunaannya selama 12 hingga 14 jam per hari. 1,6

Ketika memperagakan cara pemasangan alat ekstra oral kepada pasien dan orang

tuanya, kita harus menjelaskan bahwa facebow atau alat traksi ekstra oral kemungkinan

bias terpental ke luar mulut. Keadaan ini bisa terjadi apabila pada saat melepas facebow,

elastik penghubungnya masih terpasang pada headcap, biasanya karena pasien lupa atau

kadang-kadan terlepas pada saat bermain.1,6

Target waktu pemakaian headgear sebaiknya dicapai secara bertahap. Selama dua

minggu pertama, biasanya pasien diminta untuk memakai headgear di sore hari. Apabila

pasien dapat melaluinya dengan baik, maka dianjurkan untuk menambah waktu

pemakaian, yaitu pada saat tidur. Headgear harus diperiksa pada setiap kunjungan dan

pasien harus ditanya apakah selama tidur alatnya pernah lepas. Penyebab lepasnya alat

harus segera dicari dan diatasi, jika tidak maka pasien tidak akan mau memakai alatnya

pada saat tidur. Keterangan mengenai penyesuaian dan pemeriksaan headgear pada

setiap kunjungan harus dicatat dalam rekaman medik pasien. 1

6. Anchorage loss

17
Pada saat menggerakkan gigi secara ortodonti, walaupun penjangkaran telah diperkuat,

kadang-kadang pergeseran gigi lain yang tidak diharapkan tidak dapat dihindari, inilah yang

disebut dengan anchorage loss. Namun pada beberapa kasus pencabutan untuk retraksi gigi

anterior, ada sisa ruangan di belakang gigi kaninus yang justru diharapkan akan tertutup oleh

pergeseran segmen bukal ke anterior. Pada kasus dengan nilai penjangkaran minimum

seperti ini, maka alat lepasan harus dapat menfasilitasi penutupan ruangan tersebut. 2,8

 Cara mendeteksi terjadinya anchorage loss

Pada setiap kunjungan, pergerakan gigi harus dievaluasi dengan cara diukur

menggunakan jangka dan penggaris, lalu dibandingkan dengan keadaan awal pada model

studi apakah perawatan berjalan sesuai rencana atau terjadi penyimpangan yang harus

segera diatasi. Pengukuran bisa dilakukan untuk setiap pergerakan gigi, misalnya pada

kasus retraksi kaninus, pengukuran dilakukan dari garit bukal molar pertama hingga

ujung kaninus; kasus pergerakan molar ke distal bisa diukur dari garit bukal molar

tersebut dengan sudut mesial insisif pertama; selama ekspansi lengkung gigi ke lateral,

bisa digunakan gigi-gigi yang sama yang letaknya berseberangan sebagai titik acuan;

retraksi segmen anterior, mengukur pengurangan overjet bisa secara langsung

menggunakan penggaris berskala milimmeter dengan angka nol di bagian tepi ujungnya.
1,4

Operator harus menjadikan pengukuran ini sebagai suatu kebiasaan dan

menggunakan titik acuan yang sama pada setiap kunjungan. Harus diperhatikan bahwa

pengukuran terhadap gigi dengan titik acuan gigi lain pada rahang yang sama, hasilnya

bisa salah, karena seluruh gigi yang berkontak dengan pelat landasan bisa bergerak

bersama-sama dengan jarak yang sama tanpa mengubah hubungan interdentalnya, namun

hubungan dengan gigi lawannya bisa berubah. Pada keadaan seperti ini, lebih baik
18
menggunakan gigi-gigi pada rahang lawannya sebagai titik acuan, namun gigi-gigi

tersebut juga bisa bergerak jika sudah ada gigi yang dicabut.

Gigi yang paling baik untuk dijadikan acuan adalah gigi bawah segmen labial

karena posisinya pada rahang bawah relatif stabil, tetapi apabila premolar rahang bawah

sudah diekstraksi, maka keadaan berjejal pada gigi segmen labial akan mengalami

perbaikan spontan, gigi insisif mungkin akan bergerak sedikit ke belakang sehingga pada

pengukuran selanjutnya overjet akan bertambah. Bila gigi rahang atas secara keseluruhan

tidak berubah dan tetap berkontak dengan pelat landasan, namun secara keseluruhan

relatif lebih maju dibandingkan titik acuan pada gigi rahang bawah, misalnya overjet

bertambah dan hubungan molar menjadi kelas II, menunjukkan adanya kecenderungan

anchorage loss, namun apabila telah dilakukan pencabutan pada rahang bawah, maka

penilaian menjadi sulit. Pengukuran harus selalu dilakukan dalam posisi mandibula

paling belakang, hal ini harus sangat diperhatikan terutama pada pasien yang memiliki

kecenderungan untuk memajukan mandibula sebagai upaya untuk memperoleh oklusi

yang nyaman.

Tanda-tanda yang pasti telah terjadi anchorage loss pada rahang atas adalah

ditemukannya kecenderungan buccal crossbite. Jika molar atas maju ke depan sementara

jarak transpalatal ditahan oleh pelat landasan, maka gigi rahang atas akan berkontak

dengan gigi rahang bawah pada lebar lengkung yang lebih sempit. 1,4

Apabila menggunakan headgear, maka lama pemakaian sebaiknya dicatat. Pasien

perlu dimotivasi untuk terus meningkatkan waktu pemakain hingga target waktu

pemakaian tercapai. Apabila pasien tidak kooperatif maka baik pasien maupun orang

tuanya harus terus dimotivasi, namun apabila tidak berhasil juga maka kita dapat

19
mengatakan kepada pasien bahwa hasil perawatan tidak akan memuaskan dan waktu

perawatan menjadi panjang.1,4

 Penanganan anchorage loss

Jika terjadi anchorage loss, maka harus segera dicari penyebabnya dan

ditindaklanjuti agar keadaan tidak semakin parah. Besar gaya yang digunakan untuk

aktivasi harus diperiksa. Menurut Proffit2, besar gaya yang dibutuhkan untuk gerakan

tipping antara 30 gram hingga 60 gram, bergantung pada luas permukaan akar gigi.

Menurut Isaacson1, gerakan tipping sebuah gigi berakar tunggal dibutuhkan gaya sebesar

30 gram hingga 40 gram. Untuk aktisnya, biasanya aktivasi dilakukan sebesar kira-kira

sepertiga lebar mesio-distal gigi atau 3 mm hingga 4 mm. Namun diameter dan panjang

kawat yang digunakan untuk membuat pegas harus diperhitungkan karena menentukan

besar gaya yang dihasilkan.

Pegas yang terbuat dari kawat berdiameter besar dan pendek akan menghasilkan

gaya yang besar, misalnya retraktor kaninus dari kawat berdiameter 0,7 mm, jika

menginginkan gaya di bawah 40 gram maka aktivasinya tidak boleh lebih dari sepertiga

lebar kaninus. Dengan aktivasi yang sama, jika kawat yang digunakan berdiameter lebih

kecil, maka gaya yang dihasilkan lebih ringan. Namun besar gaya akan lebih baik jika

diukur menggunakan alat ukur yang valid, yaitu tension gauge atau correx spring gauge.
1,2

Jika jumlah gigi yang digerakkan pada saat yang bersamaan terlalu banyak maka

harus ditinjau kembali apakah nilai penjangkar seluruh gigi tersebut sudah sesuai dengan

nilai penjangkaran dari komponen penjangkar. Jika tidak, maka penarikan gigi sebaiknya

dilakukan satu per satu. Ruangan sisa pencabutan yang masih tersedia harus

diperhitungkan. Apabila masih mencukupi untuk memperbaiki keadaan berjejal atau


20
overjet, maka kehilangan sedikit penjangkaran masih bisa diterima. Namun bila ruangan

yang tersedia hanya tersisa sedikit maka harus diupayakan penguatan penjangkaran. Jika

penjangkaran intra oral tidak mungkin untuk ditambah, maka cara yang paling efektif

adalah dengan menambah penjangkaran ekstra oral, biasanya menggunakan headgear.1

PENUTUP

1. Kesimpulan

21
Alat lepasan aktif bisa digunakan secara efektif untuk merawat kasus-kasus

maloklusi tertentu. Salah satu yang harus diperhatikan pada saat merencanakan

perawatan menggunakan alat lepasan adalah memperhitungkan nilai penjangkarannya.

Penjangkaran pada alat lepasan dapat diperoleh secara intra oral, yaitu

intramaksiler dan intermaksiler, penjangkaran ekstra oral, atau kombinasi keduanya.

Faktor yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan penjangkaran adalah besar gaya

yang dihasilkan, tekanan yang diterima oleh membran periodontal, morfologi akar,

ruangan yang tersedia, dan struktur jaringan di sekitar gigi yang akan digerakkan maupun

di sekitar sumber-sumber yang bisa dijadikan penjangkar.

Pada dasarnya manajemen penjangkaran bertujuan untuk menjaga agar gaya yang

digunakan tetap ringan dan menambah resistensi penjangkaran, sehingga gigi yang

diharapkan bisa bergerak sementara gigi yang tidak diharapkan pergerakkannya bisa

ditahan atau diminimalisir. Selama perawatan, anchorage loss harus bisa segera

dideteksi, kemudian dicari penyebabnya, dan ditangani secepatnya agar tidak terjadi

kesalahan yang lebih parah sehingga hasil perawatan bisa sebaik mungkin.

2. Saran

Dalam penggunaan alat ortodontik perlu diperhatikan besar gaya ortodontik yang

diberikan dan kekuatan penjangkaran. Gaya ortodontik dan penjangkaran yang

tidak seimbang dapat menyebabkan anchorage loss dan mempengaruhi hasil

perawatan.

22
Daftar Pustaka

1. Isaacson K G, Muir J D, Reed R T. Removable orthodontic appliances. Singapore:

Elsevier.2002: 1-2, 39-46, 93-7.

23
2. Proffit W, Fielsd H W Jr, Sarver Drg. M. Contemporary orthodontics. 4th ed. St. Louis:

Mosby Inc. 2007: 340, 395-407.

3. Kerr W J, Buchanan I B, McColl J H. Use of the PAR index in assesing the effectiveness of

removable orthodontic appliances. Br J Orthodontics. 1983, 10: 73-7.

4. Muir J D, Reed R T. Tooth movement with removable appliances. England: Pitman

Publishing. 1979: 1-10, 71-81.

5. Littlewood S J, Tait A G, Mandall N A, Lewis D H. The role of removable appliance in

contemporary orthodontics. Br Den Jl. 2001, 191 (6): 304-310.

6. Adams C.P., Kerr W.J. The design, construction and use of removable orthodontic

appliances. 6th ed. Jordan Hill: Butterworth-Heinemann Ltd. 1996: 10-11, 82, 89, 149.

7. Williams J K. Cook P A, Isaacson K G, Thom A R. Fixed orthodontic appliance. Jordan Hill:

Butterworth-Heinemann Ltd. 1996: 7-14.

8. Geron S, Shpack N, Kandos S, Davidovitch M, Vardimon A D. Anchorage loss-A

multifactorial response. Angle Orthodontist. 2003, 73(6): 730-737.

9. Nanda R. Biomechanics in clinical orthodontic. Philadelphia : W. B. Saunders Company.

1997: 156-187.

10. Feldmann I, Bondemark L. Orthodontic anchorage: A systematic review. Angle

Orthodontist. 2006, 76(3): 493-501.

11. Nanda R. Biomechanics and esthetic strategies in clinical orthodontics. Philadelphia:

Elsevier Saunders. 2005: 1-37, 194-210.

24

Anda mungkin juga menyukai