Anchorage
Anchorage
1. Latar Belakang
Alat ortodonti lepasan merupakan alat yang dapat dipasang dan dilepaskan sendiri oleh
pasien. Alat ini mulai digunakan sejak abad ke-19, namun alat dengan akrilik dan stainless steel
baru digunakan pada awal abad ke 20. Sekitar tahun 1950, Adam mengembangkan suatu
cangkolan (yang dikenal dengan cangkolan Adam) sehingga ruang lingkup penggunaan dan
Sebelum alat cekat berkembang, alat lepasan digunakan untuk merawat hampir semua
kasus maloklusi. Dengan perkembangan ilmu dan teknologi dalam bidang ortodonti, maka
pemakaian alat lepasan banyak digantikan dengan alat cekat. Namun alat cekat masih menjadi
pilihan untuk menangani kasus-kasus tertentu. 1,2,3 Kerr (19) menyatakan bahwa dari populasi
yang dirawat menggunakan alat lepasan dengan kasus-kasus yang benar-benar terseleksi, 85 %
Alat lepasan ini dapat terdiri dari berbagai macam piranti ortodontik lepasan. Alat
lepasan dapat digunakan sebagai alat untuk mengerakkan gigi-geligi aktif. Misalnya untuk kasus
interseptif pada pasien gigi campuran, space maintainer, alat fungsional untuk perawatan
modifikasi pertumbuhan, alat retensi pasca peraawatan menggunakan alat cekat, dan clear
aligner.1,2 Akhir-akhir ini penggunaan alat lepasan lebih luas digunakan karena bias
dikombinasikan dengan band, hook, dan alat ekstra oral. Namun harus ditekankan bahwa alat
1
Salah satu masalah yang sulit diatasi pada pemakaian alat lepasan adalah cara mengontrol
kekuatan perlawanan terhadap tekanan yang dikenakan pada gigi yang akan digerakkan.2
Kekuatan dikenakan pada satu gigi yang akan digerakkan akan menimbulkan kekuatan
reaksi, kekuatan ini akan mengenai gigi-gigi lain di dalam mulut. Kemampuan untuk bertahan
agar tidak bergerak yang dimiliki gigi-gigi untuk menyalurkan kekuatan ortodontik disebut
komponen aktif dari alat ortodontik yang digunakan untuk menggerakkan gigi yang akan
dikoreksi.2
2. Rumusan Masalah
3. Jelaskan mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan penjangkaran dalam
3. Tujuan Penulisan
2
3. Untuk mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan penjangkaran dalam alat
ortodontik lepasan.
3
TINJAUAN PUSTAKA
Pada umumnya, pasien memilih alat lepasan dengan alasan biaya lebih murah, mudah
dibuka dan dipasang sendiri, serta mudah dibersihkan. Namun alat ini mudah patah bahkan
hilang, seringkali mengganggu fungsi bicara, dan pemakaian pada rahang bawah lebih sulit
ditoleransi dibandingkan rahang atas sehingga pasien jarang yang menggunakannya dalam waktu
yang lama.
Berdasarkan sudut pandang kedokteran gigi, alat lepasan juga memiliki keuntungan, antara
lain penjangkaran dapat diperoleh dari palatum dan dapat digunakan pada pasien anak-anak
untuk mengurangi overjet. Tetapi alat ini mempunyai kekurangan yaitu gerakan yang bisa
dihasilkan hanya tipping, sulit menghasilkan penjangkaran intermaksiler dan tidak efektif untuk
pergerakkan sejumlah gigi secara bersamaan. Dengan pertimbangan bahwa kemampuan alat
lepasan sangat terbatas, maka kasus yang bisa dirawat menggunakan alat jenis ini juga harus
dibatasi.4,5
Menurut Proffit (2007), penggunaan alat lepasan ditujukan untuk kasus yang bisa diatasi
dengan mengekspansi lengkung gigi, yaitu dengan cara menggerakkan gigi gigi sehingga
menempati lengkung yang lebih lebar atau mereposisi gigi secara individual untuk masuk ke
Maloklusi skeletal kelas I. Pengurangan atau penambahan overjet yang bisa dikoreksi
4
Perawatan dengan pencabutan yang hanya membutuhkan gerakan tipping untuk menutup
Penutupan ruang pencabutan yang menyisakan ruangan sehingga gigi bagian bukal harus
dimajukan.
Maloklusi skeletal, misalnya kelas I protrusif bimaksiler, kelas II dan kelas III skeletal,
Perawatan yang memerlukan perbaikan relasi gigi antara rahang atas dan bawah
Kelainan posisi apikal gigi dan rotasi yang parah, serta melibatkan banyak akar
Kelainan dalam arah vertikal seperti deepbite, openbite, dan kelainan ketinggian gigi
yang akut
Kasus-kasus yang diindikasikan untuk alat lepasan juga harus mempertimbangkan faktor
usia. Alat lepasan lebih sesuai untuk pasien usia 6 hingga 16 tahun, waktu perawatan lebih
banyak memanfaatkan periode akhir gigi campuran dan awal periode gigi tetap.1
Pergerakan sebuah gigi maupun sekelompok gigi secara ortodonti terjadi akibat
penerapan gaya yang disalurkan oleh komponen aktif seperti pegas, busur kawat, elastik, atau
sekrup ekspansi. Ketika gigi-gigi digerakkan maka gaya reaksi akan disalurkan melalui alat
5
sehingga cenderung menghasilkan pergerakan gigi-gigi lain ke arah yang berlawanan. Keadaan
ini sesuai dengan Hukum Newton ke-3 yang mengatakan bahwa setiap aksi menghasilkan reaksi
yang besarnya sama dan berlawanan arah. Masalahnya adalah cara menghindari efek merugikan
dari gaya-gaya yang berlawanan tersebut, karena tujuan yang diharapkan dari suatu perawatan
adalah menggerakkan gigi yang dikehendaki sementara struktur lain tidak bergerak. 1,11
Kemampuan bertahan terhadap gaya yang dihasilkan oleh komponen aktif disebut
pergerakan gigi yang diinginkan sementara gerakan gigi yang tidak diharapkan dapat ditahan
atau diupayakan sekecil mungkin. Penjangkaran dapat diperoleh secara intra oral maupun ekstra
oral, namun penjangkaran intra oral lebih umum digunakan pada alat lepasan.
Alat lepasan biasanya bekerja menghasilkan tarikan intra maxillary yaitu kekuatan
penjangkar didapatkan dari lengkung gigi yang sama (intra arch).supaya gigi yang akan
dikoreksi dapat digerakkan tanpa menyebabkan gigi penjangkar ikut bergerak, kekuatan
penjangkar harus lebih besar dari kekuatan gaya ortodontik. Pada beberapa keadaan, penjangkar
bias menghasilkan kekuatan resiprokal. Kekuatan resiprokal yaitu suatu kekuatan yang
dihasilkan oleh dua atau kelompok gigi yang saling menahan. Misalnya, pada penutupan
diastema sentral dengan gerakan gigi insisivus sentral kanan dan kiri ke mesial atau pada kasus
penutupan kelebihan ruang dengan retrusi dengan retrusi gigi anterior untuk memperkecil overjet
kekuatan yang dibutuhkan untuk menggerakkan gigi. Kekuatan yang dibutuhkan untuk
menghasilkan gerakan tipping sederhana pada gigi berakar tunggal pada satu regio antara 30-50
gram, dengan batas terendah 20 gram lebih rendah dari itu gerakan gigi tidak akan terjadi.1
6
3. Merencanakan Penjangkaran Alat Ortodontik Lepasan
Penjangkaran bisa dihasilkan secara intra oral, ekstra oral, atau keduanya. Penjangkaran
ekstra oral memiliki potensi keberhasilan yang besar jika digunakan pada pasien yang kooperatif,
namun penampilan alat ini tidak disukai pasien dan tidak nyaman pada saat digunakan.
Penjangkaran intra oral lebih bisa diterima oleh pasien, namun kemampuan menjangkarnya
sangat kecil. 7
Penjangkaran akan lebih baik jika dipersiapkan sejak awal dibandingkan apabila sudah
terjadi anchorage loss. Jika penjangkaran ekstra oral digunakan sejak awal perawatan, sebaiknya
dinilai apakah pasien sanggup untuk mematuhi waktu pemakaian, sebelum tahap rencana
perawatan berikutnya dilanjutkan. Jika ragu terhadap nilai penjangkaran yang dihasilkan, maka
nilai penjangkaran harus dievalusi pada setiap kunjungan. Operator harus selalu memperhatikan
pergerakan gigi yang terjadi dan membandingkannya dengan keadaan sebelum perawatan. 7
Pada prakteknya, sangat sulit untuk menentukan nilai penjangkar secara akurat. Hal-hal
mendasar yang menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan nilai penjangkaran adalah:
Tekanan optimum adalah tekanan yang dapat menghasilkan pergerakan gigi yang
maksimal dengan resiko terhadap jaringan pendukung gigi yang minimal. Gaya optimum
identik dengan tekanan optimum dikalikan dengan luas permukaan akar gigi yang akan
digerakkan. Hal ini merupakan dasar pemikiran dari konsep pertama penjangkaran, yaitu
bahwa gigi atau kelompok gigi dengan luas permukaan akar yang besar memiliki nilai
penjangkar yang lebih besar dibandingkan dengan gigi atau kelompok gigi dengan luas
permukaan akar yang kecil. Namun yang terpenting adalah bukan berapa gaya yang harus
7
diberikan pada gigi tetapi berapa tekanan optimum yang diterima oleh ligamen
periodontal.
kelompok gigi yang tidak diharapkan bergerak maka tekanan atau gaya per unit luas
permukaan di daerah tersebut harus kecil. Sementara itu, gigi atau kelompok gigi yang
Nilai penjangkaran sebuah gigi identik dengan luas permukaan akarnya. 2 Namun
untuk menentukan luas permukaan akar setiap gigi secara pasti sangat sulit. Tabel 1 dapat
digunakan sebagai acuan untuk memperkirakan berapa luas permukaan akar rata-rata dari
setiap gigi, namun tentu saja nilai ini berbeda untuk beberapa keadaan, misalnya jika
terjadi resorpsi tulang alveolar dan pemendekan akar maka luas permukaan akarnya
berkurang. 2,7
Apabila diberikan gaya yang melebihi gaya optimal, maka akan terjadi
undermining resorption, secara klinis pergerakan gigi tidak teratur dan melambat. Pada
8
keadaan seperti ini sebaiknya gaya tidak ditambah karena dapat mengakibatkan
kerusakan struktur pendukung gigi yang lebih parah dan menimbulkan rasa nyeri. 2,7
diterapkan, misalnya apakah gaya tunggal atau couple. Prinsip ke-dua dari penjangkaran
adalah bahwa gigi yang bebas bergerak secara tipping memiliki nilai penjangkar yang
Morfologi akar
sehingga mempengaruhi nilai penjangkarannya. Salah satu contoh adalah bentuk akar
mesiodistal gigi insisif bawah lebih sempit dibandingkan bukolingual, sehingga memiliki
resistensi yang lebih kecil terhadap gerakan proklinasi dan retroklinasi dibandingkan
9
Pada kasus gigi berjejal yang membutuhkan pencabutan, nilai penjangkarannya
bergantung pada seberapa banyak gigi penjangkar boleh bergerak mengisi ruang
bahwa setelah pencabutan, tanpa penarikan pun gigi regio bukal cenderung untuk
penjangkaran maksimum jika 100% ruangan untuk retraksi anterior (tidak boleh terjadi anchorage loss di
posterior) hingga retraksi anterior 75% (25% penutupan oleh segmen posterior). Group B atau
penjangkaran moderat dimana penutupan ruangan oleh segmen anterior dan posterior sama banyak. Group
C atau penjangkaran minimum dimana 75% hingga 100% penutupan ruangan adalah oleh segmen
posterior.9
Kualitas tulang di sekitar akar menentukan nilai penjangkaran sebuah gigi. Gigi lebih
mudah bergerak atau membutuhkan gaya yang lebih kecil apabila tulang pendukungnya
cancellous. Jika akar berkontak dengan tulang kortikal, maka gerakannya akan melambat.Jika hal
10
Gigi yang bersebelahan, baik yang sudah maupun belum erupsi, dapat menambah nilai
penjangkaran. Defisiensi tulang alveolar, misalnya pasca pencabutan, dapat mengurangi nilai
penjangkar dari gigi yang bersebelahan. Alveolus pasca pencabutan dengan trauma yang besar
akan mengalami penyempitan dan menimbulkan daerah dense bone sehingga pergerakan gigi
Secara teoritis, gaya-gaya yang berasal dari jaringan lunak di sekitar mulut meskipun
kecil dapat mempengaruhi nilai penjangkaran. Alat cekat pada rahang bawah yang
dikombinasikan dengan lip bumper, memanfaatkan penjangkaran yang dihasilkan oleh tekanan
bibir bawah untuk mencegah gigi molar bergerak ke depan. Busur palatal ditambah button akrilik
yang diletakkan pada lekukan anterior dari palatum, dapat menambah nilai penjangkar untuk gigi
molar dari pergerakan ke depan. Gigi ankilosis dan implant screw juga dapat menambah nilai
penjangkaran. 7
4. Manajemen penjangkaran
cukup untuk menahan pergerakan gigi yang tidak diharapkan. Dalam kasus yang berbeda, dan
pada tahap perawatan yang berbeda, penjangkaran yang dibutuhkan bias bervariasi. Resistensi
suatu kelompok gigi harus disesuaikan dengan kelompok lainnya sehingga pada akhir perawatan
kedudukan gigi yang diharapkan dapat tercapai. Upaya untuk mengelola penjangkaran adalah: 2
Gerakan yang dapat dihasilkan oleh alat lepasan adalah tipping. Gaya yang
dibutuhkan untuk gerakan tipping relatif kecil, demikian pula gaya reaksi yang
ditimbulkannya. Gaya reaksi dapat dikurangi dengan membatasi jumlah gigi yang
digerakkan. Pada setiap kunjungan, gigi yang boleh digerakkan hanya satu buah per
11
kuadran dengan arah yang sama, dan apabila sedang meretraksi segmen anterior untuk
mengurangi overjet, maka tidak boleh ada gigi lain yang digerakkan ke arah palatal atau
distal. Namun tidak bisa diamsusikan bahwa apabila sudah digunakan gaya yang ringan
Resistensi yang dihasilkan oleh keakuratan kontak antara pelat landasan dengan
permukaan gigi dan mukosa mempengaruhi penjangkaran yang dihasilkan oleh alat
Hubungan bonjol yang mengunci antara gigi rahang atas dengan rahang bawah
mesial dalam keadaan tetap mengunci. Kemungkinan ini dapat dihindari apabila
Penambahan inclined bite plane pada pelat rahang atas dapat menambah
penjangkaran dengan cara menyalurkan gaya dorong yang ditimbulkan oleh insisifus
rahang bawah pada saat oklusi. Namun bukan tidak mungkin penambahan inclined bite
plane dapat mengakibatkan proklinasi gigi insisif. Oleh karena itu, untuk mengurangi
Mungkin bisa digunakan pada rahang atas untuk mendukung alat cekat di rahang bawah,
tetapi tetap lebih baik jika digunakan pada perawatan dengan alat cekat di kedua
rahangnya. Traksi ekstra oral adalah metoda yang paling memungkinkan untuk
12
menambah penjangkaran pada alat lepasan. Pemakaian alat traksi ekstra oral dapat
diterima oleh pasien dan dapat memperluas ruang lingkup kasus alat lepasan. 1,4,6
5. Jenis-jenis penjangkaran
a. Penjangkaran intramaksiler
dengan rahang yang dipasangi alat ortodontik lepasan. Penjangkaran jenis ini
adalah yang sering dipilih dalam pemakaian alat lepasan aktif. Penjangkaran
cangkolan atau gigi-gigi yang tertahan pada tempatnya oleh busur labial, pelat
landasan yang beradaptasi baik dengan palatum dan dengan permukaan gigi
yang tidak digerakkan, serta interdigitasi antara gigi-gigi rahang atas dengan
rahang bawah.1
b. Penjangkaaran intermaksiler.
perawatan menggunakan alat fungsional dan alat cekat, tetapi sulit untuk
diterapkan pada pemakaian alat lepasan untuk pergerakkan aktif gigi karena
yang dikombinasikan dengan alat cekat pada salah satu rahangnya. Salah satu
13
contoh kasus adalah pada maloklusi kelas II dengan susunan gigi rahang bawah
yang baik. Pada rahang bawah digunakan alat lepasan dengan ditambahkan hook
menghasilkan tarikan bagi segmen anterior dari alat cekat yang dipasang pada
rahang atas. Pada kasus maloklusi kelas III, alat lepasan pada rahang atas bisa
digunakan untuk menghasilkan traksi kelas III, dan bisa juga digunakan alat
Gambar 2. Penjangkaran intermaksiler. Elastik digunakan alat cekat atas, dan alat lepasan bawah sebagai
penjangkar. Retensi cangkolan alat lepasan harus baik dan cangkolan Adam dimodifikasi dengan hook
oral, dapat pula sebagai sumber utama penjangkaran, misalnya untuk retraksi regio bukal.
Gaya ekstra oral bergantung pada elastisitas dari elastik penghubung yang terdapat pada
headgear. Penjangkaran ekstra oral dapat diperoleh dengan menggunakan headgear, bisa
berupa headcap atau high pull headgear. Penghubung antara headgear dengan alat
a. Pemakaian headgear
14
Headgear yang digunakan adalah jenis headcap atau high pull headgear. Pada saat
memasang headcap, tinggi kaitan elastik bisa diatur sehingga menghasilkan pergerakan
ke arah gaya yang diinginkan. Arah tarikan harus horisontal (penjangkaran occipital) atau
bisa juga dibuat sedikit lebih tinggi untuk menambah retensi. Komponen gaya ke arah
Penghubung antara headgear dengan alat lepasan dapat menggunakan face bow
atau ‘J’ hook dengan alat traksi ekstra oral. Facebow dipasang ke dalam tube yang
disolder pada bagian atas jembatan cangkolan di gigi premolar atau molar. Walaupun
facebow tersedia dalam ukuran yang bervariasi, pada saat pemasangan tetap harus
disesuaikan lagi dengan pasien sehingga mudah dimasukkan ke dalam tube. Bisa juga
digunakan band untuk memasang tube facebow sekaligus cangkolan dari alat lepasan,
namun cangkolan yang digunakan bukan cangkolan Adam tetapi cangkolan flyover.
Inner bow harus sesuai dengan bentuk dan panjang lengkung gigi. Inner bow
diletakkan beberapa milimeter dari gigi insisifus dan setinggi garis bibir aktif. Selama
perawatan, loop ‘U’ mungkin perlu disesuaikan lagi untuk mengatur panjang inner bow.
Outer bow terletak sedekat mungkin dengan bibir dan pipi namun tidak bersentuhan,
letak hook untuk sangkutan elastik adalah setinggi permukaan mesial molar pertama,
dengan alat cekat, tinggi dan panjang outer bow menentukan vektor gaya yang
pemasangan pada alat lepasan semata-mata agar arah tarikan tidak mengakibatkan alat
15
Gambar 3. Penjangkaran ekstra oral. A) Pada pemakaian headgear, tinggi elastik bisa diatur. B) Facebow
‘J’ hook merupakan alternatif penghubung antara alat traksi ekstra oral dengan
alat lepasan. Alat ini disolder pada cangkolan yang terletak pada gigi insisifus atau
kaninus atas. Pada perawatan menggunakan alat cekat, ‘J’ hook digunakan untuk intrusi
regio labial rahang atas, namun pada perawatan dengan alat lepasan hasilnya belum
Gambar 4. Penjangkaran ekstra oral menggunakan ‘J’ hook dan alat traksi ekstra oral. A) ‘J’ hook dipatri
pada cangkolan anterior. B) Alat lepasan pada rahang atas digabungkan dengan alat traksi ekstra oral untuk
Tegangan elastik diperlukan untuk menyeimbangkan gaya yang timbul saat gaya
dari komponen aktif diaplikasikan. Besar gaya yang digunakan tiap sisi untuk penguat
penjangkaran mulai dari 150 gram hingga 200 gram dan untuk distalisasi segmen bukal
16
mulai 400 gram hingga 500 gr. Gaya bisa diukur menggunakan tension gauge atau
Jika periode awal perawatan dengan alat ekstra oral sebagai penguat
penjangkaran telah selesai, penggunaannya dapat dikurangi menjadi malam hari saja,
yaitu pada saat tidur. Apabila diyakini tidak terjadi anchorage loss, maka penggunaan
headgear selama 10 hingga 12 jam per hari. Untuk retraksi aktif regio bukal,
Ketika memperagakan cara pemasangan alat ekstra oral kepada pasien dan orang
tuanya, kita harus menjelaskan bahwa facebow atau alat traksi ekstra oral kemungkinan
bias terpental ke luar mulut. Keadaan ini bisa terjadi apabila pada saat melepas facebow,
elastik penghubungnya masih terpasang pada headcap, biasanya karena pasien lupa atau
Target waktu pemakaian headgear sebaiknya dicapai secara bertahap. Selama dua
minggu pertama, biasanya pasien diminta untuk memakai headgear di sore hari. Apabila
pasien dapat melaluinya dengan baik, maka dianjurkan untuk menambah waktu
pemakaian, yaitu pada saat tidur. Headgear harus diperiksa pada setiap kunjungan dan
pasien harus ditanya apakah selama tidur alatnya pernah lepas. Penyebab lepasnya alat
harus segera dicari dan diatasi, jika tidak maka pasien tidak akan mau memakai alatnya
pada saat tidur. Keterangan mengenai penyesuaian dan pemeriksaan headgear pada
6. Anchorage loss
17
Pada saat menggerakkan gigi secara ortodonti, walaupun penjangkaran telah diperkuat,
kadang-kadang pergeseran gigi lain yang tidak diharapkan tidak dapat dihindari, inilah yang
disebut dengan anchorage loss. Namun pada beberapa kasus pencabutan untuk retraksi gigi
anterior, ada sisa ruangan di belakang gigi kaninus yang justru diharapkan akan tertutup oleh
pergeseran segmen bukal ke anterior. Pada kasus dengan nilai penjangkaran minimum
seperti ini, maka alat lepasan harus dapat menfasilitasi penutupan ruangan tersebut. 2,8
Pada setiap kunjungan, pergerakan gigi harus dievaluasi dengan cara diukur
menggunakan jangka dan penggaris, lalu dibandingkan dengan keadaan awal pada model
studi apakah perawatan berjalan sesuai rencana atau terjadi penyimpangan yang harus
segera diatasi. Pengukuran bisa dilakukan untuk setiap pergerakan gigi, misalnya pada
kasus retraksi kaninus, pengukuran dilakukan dari garit bukal molar pertama hingga
ujung kaninus; kasus pergerakan molar ke distal bisa diukur dari garit bukal molar
tersebut dengan sudut mesial insisif pertama; selama ekspansi lengkung gigi ke lateral,
bisa digunakan gigi-gigi yang sama yang letaknya berseberangan sebagai titik acuan;
menggunakan penggaris berskala milimmeter dengan angka nol di bagian tepi ujungnya.
1,4
menggunakan titik acuan yang sama pada setiap kunjungan. Harus diperhatikan bahwa
pengukuran terhadap gigi dengan titik acuan gigi lain pada rahang yang sama, hasilnya
bisa salah, karena seluruh gigi yang berkontak dengan pelat landasan bisa bergerak
bersama-sama dengan jarak yang sama tanpa mengubah hubungan interdentalnya, namun
hubungan dengan gigi lawannya bisa berubah. Pada keadaan seperti ini, lebih baik
18
menggunakan gigi-gigi pada rahang lawannya sebagai titik acuan, namun gigi-gigi
tersebut juga bisa bergerak jika sudah ada gigi yang dicabut.
Gigi yang paling baik untuk dijadikan acuan adalah gigi bawah segmen labial
karena posisinya pada rahang bawah relatif stabil, tetapi apabila premolar rahang bawah
sudah diekstraksi, maka keadaan berjejal pada gigi segmen labial akan mengalami
perbaikan spontan, gigi insisif mungkin akan bergerak sedikit ke belakang sehingga pada
pengukuran selanjutnya overjet akan bertambah. Bila gigi rahang atas secara keseluruhan
tidak berubah dan tetap berkontak dengan pelat landasan, namun secara keseluruhan
relatif lebih maju dibandingkan titik acuan pada gigi rahang bawah, misalnya overjet
bertambah dan hubungan molar menjadi kelas II, menunjukkan adanya kecenderungan
anchorage loss, namun apabila telah dilakukan pencabutan pada rahang bawah, maka
penilaian menjadi sulit. Pengukuran harus selalu dilakukan dalam posisi mandibula
paling belakang, hal ini harus sangat diperhatikan terutama pada pasien yang memiliki
yang nyaman.
Tanda-tanda yang pasti telah terjadi anchorage loss pada rahang atas adalah
ditemukannya kecenderungan buccal crossbite. Jika molar atas maju ke depan sementara
jarak transpalatal ditahan oleh pelat landasan, maka gigi rahang atas akan berkontak
dengan gigi rahang bawah pada lebar lengkung yang lebih sempit. 1,4
perlu dimotivasi untuk terus meningkatkan waktu pemakain hingga target waktu
pemakaian tercapai. Apabila pasien tidak kooperatif maka baik pasien maupun orang
tuanya harus terus dimotivasi, namun apabila tidak berhasil juga maka kita dapat
19
mengatakan kepada pasien bahwa hasil perawatan tidak akan memuaskan dan waktu
Jika terjadi anchorage loss, maka harus segera dicari penyebabnya dan
ditindaklanjuti agar keadaan tidak semakin parah. Besar gaya yang digunakan untuk
aktivasi harus diperiksa. Menurut Proffit2, besar gaya yang dibutuhkan untuk gerakan
tipping antara 30 gram hingga 60 gram, bergantung pada luas permukaan akar gigi.
Menurut Isaacson1, gerakan tipping sebuah gigi berakar tunggal dibutuhkan gaya sebesar
30 gram hingga 40 gram. Untuk aktisnya, biasanya aktivasi dilakukan sebesar kira-kira
sepertiga lebar mesio-distal gigi atau 3 mm hingga 4 mm. Namun diameter dan panjang
kawat yang digunakan untuk membuat pegas harus diperhitungkan karena menentukan
Pegas yang terbuat dari kawat berdiameter besar dan pendek akan menghasilkan
gaya yang besar, misalnya retraktor kaninus dari kawat berdiameter 0,7 mm, jika
menginginkan gaya di bawah 40 gram maka aktivasinya tidak boleh lebih dari sepertiga
lebar kaninus. Dengan aktivasi yang sama, jika kawat yang digunakan berdiameter lebih
kecil, maka gaya yang dihasilkan lebih ringan. Namun besar gaya akan lebih baik jika
diukur menggunakan alat ukur yang valid, yaitu tension gauge atau correx spring gauge.
1,2
Jika jumlah gigi yang digerakkan pada saat yang bersamaan terlalu banyak maka
harus ditinjau kembali apakah nilai penjangkar seluruh gigi tersebut sudah sesuai dengan
nilai penjangkaran dari komponen penjangkar. Jika tidak, maka penarikan gigi sebaiknya
dilakukan satu per satu. Ruangan sisa pencabutan yang masih tersedia harus
yang tersedia hanya tersisa sedikit maka harus diupayakan penguatan penjangkaran. Jika
penjangkaran intra oral tidak mungkin untuk ditambah, maka cara yang paling efektif
PENUTUP
1. Kesimpulan
21
Alat lepasan aktif bisa digunakan secara efektif untuk merawat kasus-kasus
maloklusi tertentu. Salah satu yang harus diperhatikan pada saat merencanakan
Penjangkaran pada alat lepasan dapat diperoleh secara intra oral, yaitu
Faktor yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan penjangkaran adalah besar gaya
yang dihasilkan, tekanan yang diterima oleh membran periodontal, morfologi akar,
ruangan yang tersedia, dan struktur jaringan di sekitar gigi yang akan digerakkan maupun
Pada dasarnya manajemen penjangkaran bertujuan untuk menjaga agar gaya yang
digunakan tetap ringan dan menambah resistensi penjangkaran, sehingga gigi yang
diharapkan bisa bergerak sementara gigi yang tidak diharapkan pergerakkannya bisa
ditahan atau diminimalisir. Selama perawatan, anchorage loss harus bisa segera
dideteksi, kemudian dicari penyebabnya, dan ditangani secepatnya agar tidak terjadi
kesalahan yang lebih parah sehingga hasil perawatan bisa sebaik mungkin.
2. Saran
Dalam penggunaan alat ortodontik perlu diperhatikan besar gaya ortodontik yang
perawatan.
22
Daftar Pustaka
23
2. Proffit W, Fielsd H W Jr, Sarver Drg. M. Contemporary orthodontics. 4th ed. St. Louis:
3. Kerr W J, Buchanan I B, McColl J H. Use of the PAR index in assesing the effectiveness of
6. Adams C.P., Kerr W.J. The design, construction and use of removable orthodontic
appliances. 6th ed. Jordan Hill: Butterworth-Heinemann Ltd. 1996: 10-11, 82, 89, 149.
1997: 156-187.
24