100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
11K tayangan19 halaman

25 Ilustrasi

Dokumen tersebut merupakan catatan mengenai ilustrasi khotbah yang berisi 8 contoh kisah dan pesan moral. Ringkasannya adalah: Dokumen tersebut berisi ilustrasi khotbah yang menggunakan berbagai contoh kisah untuk menyampaikan pesan-pesan moral seperti pentingnya mengubah diri sendiri, anugerah kasih Allah, serta bahaya bermain-main dengan dosa.

Diunggah oleh

apip
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
11K tayangan19 halaman

25 Ilustrasi

Dokumen tersebut merupakan catatan mengenai ilustrasi khotbah yang berisi 8 contoh kisah dan pesan moral. Ringkasannya adalah: Dokumen tersebut berisi ilustrasi khotbah yang menggunakan berbagai contoh kisah untuk menyampaikan pesan-pesan moral seperti pentingnya mengubah diri sendiri, anugerah kasih Allah, serta bahaya bermain-main dengan dosa.

Diunggah oleh

apip
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Delvia Elcha Agustina Situmorang

Semester : IV A

NIM : 2017-098-1370

Mata Kuliah : Homiletika

Dosen Pengampu : Pdt. Reni Tiar Linda Purba, M.Th

ILUSTRASI KHOTBAH

1.Seorang istri memiliki suami yang punya kebiasaan meletakan handuk basah begitu saja di
atas kasur.Si istri sering ngomel-ngomel pada suaminya. Suaminya tak berubah.

Capek marah-marah, si istri mulai ganti cara dengan menyindirnya. “Bagus sekali ada handuk
basah di tempat tidur!” ujarnya dengan suara sinis.  Atau, “Kapan handuk bisa jalan sendiri
ke jemuran?” Apakah suaminya berubah? Tidak! Bahkan makin sebel sama si istri. Akhirnya
si istri merasa capek, marah sudah, nyindir sudah, tapi tak ada hasilnya. Mengubah orang lain
susah, apalagi untuk hal yang sudah jadi kebiasaan sejak kecil. Akhirnya ia mengubah
pikirannya sendiri.

“Baiklah, handuk basah ini akan menjadi permadani di surga nanti. Makin banyak aku
memindahkan handuk basah ke jemuran, makin banyak permadani indahku di surga.” Setiap
melihat handuk basah di kasur si istri tersenyum dan bergegas menjemurnya. Perasaannya
bahagia. Apakah handuknya berubah? Tidak! Handuk basah tetap ada di kasur. Yang berubah
cara pandang dirinya terhadap handuk basah tersebut.Waktu berlalu, Si istri kaget. Tak ada
lagi handuk basah di kasurnya. Ia sudah lupa sejak kapan ia tak lagi melakukannya. Rupanya
melihat keikhlasan istrinya sang suami tergerak untuk melakukannya sendiri.

Kadang ada hal yang sulit kita ubah pada orang lain. Jika ingin hasil yang lebih baik, maka
ubahlah diri kita lebih dulu.

2.Suatu hari, seorang istri sedang bersiap menyantap sepiring pisang goreng yang masih
panas...

Suami : "Ma... bagi dong..."

Istri : "Ada tertulis: janganlah kamu mengingini milik orang lain."


Suami : "Ada tertulis juga: mintalah, maka kamu akan diberi."

Istri : "Hai pemalas, pergilah kepada semut dan contohilah lakunya!"

Suami : "Ada tertulis: Kasihilah sesamamu manusia..."

Akhirnya, dengan terpaksa sang istri menyerahkan sebuah pisang goreng kepada suaminya...

Istri : "Nih, ambillah!! dan jangan berbuat dosa lagi!!!!"

3. Jika seorang mendapat rumah besar, itu adalah berkat. Tapi harus membersihkannya


setiap hari itu adalah beban.

Jika seorang mempunyai bayi, itu adalah berkat. Tapi harus bangun tengah malam, dan
merawatnya itu adalah beban.

Jika seorang mencapai gelar sarjana tinggi, itu adalah berkat. Tapi harus belajar dengan
konsisten tiap hari, itu adalah beban.

Jika kita mendapat kesembuhan yang sempurna, itu adalah berkat. Tapi harus hati-hati
memelihara kesehatannya, itu adalah beban.

Berkat dan beban adalah suatu paket yang tidak dapat dipisahkan. Kita tidak dapat hanya
meminta berkat tanpa mendapat beban. Jika kita memusatkan perhatian kita
kepada beban, maka kita tidak pernah merasakan berkat. Tapi apabila kita memusatkan
perhatian kita kepada berkat yang akan kita terima, maka kita akan merasa ringan untuk
menanggung bebannya. Ingatlah bahwa beban yang kita pikul tidak akan melampaui
kekuatan kita. Sebab itu… Bersyukurlah setiap hari, karena tiap hari adalah berkat.

4. Banyak pengusaha sukses dunia saat ini telah menunjukkan kedermawanan. Mereka
menyisihkan sejumlah besar kekayaan yang mereka punya untuk membangun karya kasih
bagi kemanusiaan. Sebut saja misalnya Henry Ford-pengusaha otomotif, Bill Gates-pendiri
Microsoft, Larry Page dan Sergey Brinn-pemilik Google. Mereka tidak mengumpulkan
kekayaan hanya untuk diri sendiri, tetapi mau berbagi dengan sesama yang membutuhkan.
Mereka telah memberi sumbangsih sangat besar bagi dunia pendidikan, pengentasan
kemiskinan, penanggulangan kesehatan, dan bencana alam.
Tuhan Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang kaya yang bodoh. Orang itu
mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, bersikap tamak, dan berpikir bahwa dengan
menjadi kaya maka semua urusannya pasti beres. Kepada orang yang demikian, Tuhan Yesus
berkata, "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil darimu, dan
apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?".

Memang berbahaya kalau kita hanya sibuk mengumpulkan kekayaan untuk diri sendiri.
Sebab betapapun harta kekayaan-seperti juga jabatan dan popularitas-tidaklah abadi. Cepat
atau lambat akan kita tinggalkan. Maka, bila kita diberkati dengan kekayaan lebih, baiklah
kita menjadikan itu juga sebagai berkat bagi sesama yang membutuhkan. Itu akan jauh lebih
berarti. Sebab nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak kekayaan yang ia
kumpulkan, tetapi oleh seberapa besar hidupnya menjadi berkat dan mendatangkan kesukaan
bagi sesamanya. Oleh karena itu, jangan biarkan hati kita dijerat oleh ketamakan akan harta
benda.

TAMAK DAN HANYA MEMIKIRKAN DIRI SENDIRI ADALAH AWAL


KEHANCURAN

5. Banyak tokoh di dunia ini terus menginspirasi masyarakat luas untuk jangka waktu yang
cukup lama. Di antaranya Martin Luther King, Jr., yang berjuang melawan diskriminasi ras di
Amerika Serikat dan William Wilberforce, yang berjuang menghapus perbudakan di Inggris.
Apakah kunci keberhasilan mereka? Mereka terus menjagai komitmen yang telah dibuat.
Walaupun harus mengalami masa-masa berat, mereka pantang menyerah sehingga mencapai
akhir perjuangan.

Alkitab juga mencatat tokoh-tokoh yang menjaga komitmen hingga akhir. Contohnya Paulus.
Setelah bertobat, ia memberitakan Injil, terutama kepada bangsa bukan Yahudi. Dan itu
sungguh tak mudah. Begitu banyak tantangan berat menghampirinya; dari kaum Yahudi, dari
orang-orang bukan Yahudi, bahkan dari penyakit tubuhnya. Namun, ia tetap dapat menjaga
komitmennya. Rahasianya? Dari waktu ke waktu ia menjalani pertandingan iman dengan
selalu melupakan apa yang di belakang (dalam bahasa Yunani kata "melupakan" di sini tidak
sama seperti kalau kita lupa sesuatu. Ini lebih berarti tidak berfokus ke masa lalu, tetapi
kepada tujuan, visi hidup di depan) dan mengarahkan diri pada tujuan hidupnya, yakni
memenuhi panggilan Tuhan (Filipi 3:13,14).
Apakah berbagai tantangan juga terus menghantam hingga Anda sulit menjaga komitmen --
terhadap keluarga, pekerjaan, studi, atau pelayanan? Seperti Paulus, kita ini hamba yang
dituntut untuk taat, maka mintalah kekuatan dari Dia. Seperti Paulus, kita ini hamba yang
Tuhan pilih dan layakkan untuk menjadi saksi-Nya, maka ingatlah pentingnya tugas yang
harus terus kita kerjakan.

KOMITMEN MEMBUTUHKAN KETEKUNAN


YANG MEMANDANG JELAS PADA TUJUAN AKHIR

6. Ketika berusia 24 tahun, Ernest Gordon menjadi seorang tahanan perang di bawah
kekuasaan Jepang. Bersama tahanan lainnya, mereka dipaksa membangun jalan kereta api di
hutan Birma. Proses ini memakan korban sekitar 16.000 jiwa. Namun, Gordon bertahan
hidup, malahan ia makin meresapi arti hidup dan pengorbanan. Suatu hari, seorang rekannya
menyerahkan diri agar komandannya tidak dibunuh. Akibatnya orang itu dianiaya dengan
sangat kejam melalui penyaliban. Cucuran darah orang itu mengingatkannya bahwa
penebusan berharga mahal.

Pada dasarnya kita semua sudah mati karena pelanggaran dan dosa. Akibatnya, kita
memerlukan seseorang yang mampu menolong kita agar tetap hidup. Dalam hal ini, darah
menjadi unsur terpenting sebagai syarat kehidupan. Tanpa penumpahan darah, pengampunan
tidak akan terjadi. Inilah standar yang ditetapkan agar seseorang bisa dihidupkan kembali dari
kematian akibat dosa.

Kebangkitan Yesus dari kematian menjawab bagaimana kita bisa memperoleh hidup. Kita tak
mungkin diselamatkan karena perbuatan baik, karena kita sudah mati karena dosa. Mungkin
banyak orang dikatakan "baik". Namun, apakah yang sesungguhnya dapat disebut "baik"?
Kriteria"baik" menurut kacamata Sang Penebus adalah bila seseorang percaya kepada
anugerah kasih Allah dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Inilah
pemberian Allah, bukan usaha kita.

Semuanya hanya oleh anugerah. Tak satu pun usaha kita bisa menyelamatkan. Setiap
perbuatan baik kita hanyalah kesaksian bahwa kita sudah memiliki hidup yang baru.

KITA DISELAMATKAN
HANYA KARENA ANUGERAH
7. Seorang ayah menemukan majalah porno di kamar anak laki-lakinya yang masih remaja. Ia
sangat terkejut. Dibukanya majalah itu. "Ya, ampun!" serunya dengan mata terbelalak. Lalu
dibukanya lagi. "Ya, Tuhan!" ia makin kaget. Dan, ia terus membukanya. Sampai di halaman
terakhir, "Ya, habis!" serunya pula. Itu hanya cerita humor. Humor itu hendak menunjukkan
kebiasaan orang, yang saat tahu bahwa sesuatu itu dosa, bukannya menjauh, tetapi malah
sengaja mendekat dan mencoba-coba.

Yusuf tidak bersikap demikian terhadap dosa. Ia terus digoda oleh istri Potifar, tetapi dengan
tegas ia menolak. "Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah
ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak
lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari
pada engkau, sebab engkau istrinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang
besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?". Sampai suatu hari, pada saat di rumah sedang
tidak ada siapa-siapa, godaan itu datang lagi. Dan, apa yang dilakukan Yusuf? Yusuf pun lari
keluar.

Kita perlu meniru Yusuf yang berani bersikap tegas terhadap dosa. Lari keluar. Menjauh.
Tidak lari di tempat, apalagi lari mendekat. Iblis sangat cerdik. Ketika kita belum jatuh, ia
terus-menerus menggoda kita, "Ayolah, sekali-kali tidak apa-apa." Akan tetapi, begitu kita
terjatuh Iblis akan berkata kepada kita, "Yah, sudah telanjur jatuh. Sudahlah, ibarat kepalang
basah, mandi saja sekalian!".

JANGAN BERMAIN-MAIN DENGAN DOSA

8. Apakah orang kristiani boleh merayakan Valentine? Boleh, bahkan kalau bisa setiap hari
dijadikan hari Valentine untuk mengungkapkan kasih kepada sesama. Ada banyak pasangan
suami istri yang bermasalah dalam hubungan mereka, ada keluarga-keluarga yang broken
home, ada banyak anak yang tidak memperoleh kasih dari orangtua, dan banyak orang lain
yang juga kehilangan kasih. Oleh karena itu, mari kita isi hari Valentine ini bukan hanya
dengan pesta atau kado dan ucapan, tetapi biarlah hari ini menjadi titik tolak bagi kita untuk
membagikan kasih yang kita terima dari Allah kepada mereka yang membutuhkan,
khususnya orang-orang yang mungkin selama ini tidak pernah dipedulikan.

Tak ada kekuatan yang sedahsyat kasih. Sebab itu jika kita hidup di tengah keluarga yang
mengalami krisis kasih dan berada di ambang kehancuran, jangan tunda-tunda untuk
menghidupkan kasih Allah kepada keluarga kita. Demikian juga dalam hubungan
persahabatan, dan hubungan-hubungan lainnya. Kasih yang kita berikan dapat mengubah
keadaan menjadi lebih baik. Mari nyatakan kepada dunia bahwa Allah yang penuh kasih
berdiam dalam diri kita; lewat ucapan dan tindakan kita.

TERKADANG KASIH TAMPAK BEGITU LANGKA


NAMUN BIARLAH ORANG MENEMUKANNYA PADA ANAK-ANAK ALLAH

9. Seusai kebaktian, dua pemuda berjalan sambil bercakap-cakap. "Keterlaluan sekali Bapak
yang duduk di depan kita tadi! Sudah tidur, dengkurannya keras lagi." Pemuda pertama
mengomel. Tak mau kalah, pemuda kedua juga ikut mengomel, "Bapak tadi memang
keterlaluan, dengkurannya membuat saya terbangun."

Melihat kelemahan orang lain memang mudah, tetapi tak mudah menyadari kesalahan
sendiri. Banyak orang kristiani juga mengomel dan mengeluhkan kelemahan orang lain atau
mencela mereka yang berbuat salah. Tanpa disadari mereka juga bisa melakukan kesalahan
yang sama.

Mari kita belajar untuk berhenti menghakimi dan mencari-cari kesalahan orang lain, sebab
jika hal ini terus kita lakukan, kita tidak akan pernah memiliki waktu untuk menilai diri
sendiri. Itu bisa menjadikan kita munafik, seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang dikecam
oleh Tuhan Yesus. Hal ini kelihatannya sepele, tetapi kalau tidak cepat diatasi, tanpa sadar
kita membangun tembok kesombongan yang tinggi. Kita akan selalu merasa paling benar,
paling suci, paling rohani.

Firman Allah hari ini menasihati; daripada kita mencari-cari kesalahan orang lain yang dapat
dikritik dan dihakimi, lebih baik kita melihat keberadaan diri sendiri di hadapan Allah. Kita
harus belajar menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada manusia yang
tak pernah berbuat salah. Kalau kita mau jujur, bukankah kita juga pernah salah? Kalau kita
sendiri kadang juga berbuat salah, mengapa kita sibuk mencari-cari kesalahan orang lain?

LEBIH MUDAH MENEMUKAN KESALAHAN KECIL ORANG LAIN


DARIPADA MENYADARI KESALAHAN BESAR DIRI SENDIRI
10. Dulu, setiap kali berangkat kerja saya selalu terjebak kemacetan. Selama dua jam saya
terperangkap di belakang setir. Hal itu tentu saja sangat menjengkelkan, apalagi jika melihat
ulah para pengemudi kendaraan yang saling serobot. Suatu hari, ketika lalu lintas sedang
macet total, saya mencoba melantunkan pujian. Hasilnya? Pikiran saya tak lagi terfokus pada
kemacetan yang sedang terjadi, tetapi kepada Tuhan. Suasana hati saya berubah. Kejengkelan
pun sirna. Jalanan tetap macet, namun saya dapat melaluinya dengan rasa damai.

Pujian dapat mengubah fokus hati. Tak heran, Paulus dan Silas berusaha menyanyi sewaktu
mereka dipenjarakan. Padahal, ini bukanlah reaksi yang wajar. Dalam kondisi babak belur,
biasanya orang lebih suka meratap. Mengapa mereka memilih untuk memuji? Karena mereka
sadar bahwa puji-pujian mampu mengubah fokus hati. Saat memuji, mereka tidak lagi
melihat besarnya suatu masalah, tetapi hanya kehadiran Tuhan di sana. Malam itu, penjara
berubah menjadi gereja. Para tahanan mendengarkan puji-pujian dengan saksama. Kuasa
Tuhan pun dinyatakan. Bahkan, kepala penjara bertobat dan dibaptiskan.

Dalam perjalanan hidup ini, kita bisa menghadapi situasi "macet total". Masalah datang
bertubi-tubi. Kita terjebak di dalamnya. Atau, seperti Paulus dan Silas, kejutan hidup datang
tak terduga. Tiba-tiba kita merasa dipenjara. Dibelenggu masalah. Jalan keluar tampak sukar.
Di saat seperti itu, janganlah berputus asa. Pujilah Tuhan! Biarkan pujian mengubah fokus
hati kita, sehingga kita dapat melihat hadirnya Tuhan di dalam persoalan!

SAAT KITA TAK MAMPU MENGUBAH SITUASI


PUJIAN MAMPU MENGUBAH CARA KITA MENGHADAPI SITUASI

11. Apakah Allah tidak hadir secara kejam? Itulah yang ditanyakan Robert McClory, seorang
profesor emeritus bidang jurnalisme di Northwestern University’s Medill School of
Jurnalism, setelah badai Katrina menghancurkan daerah New Orleans, Amerika Serikat.

Mungkin kita ingin mencoba menjelaskan bahwa Sang Mahakuasa tidaklah bersalah karena
Dia telah mengizinkan bencana yang memorak-porandakan masyarakat. Akan tetapi, apakah
Allah tidak hadir dalam situasi seperti ini? Tidak, McClory tetap bersikeras. Berbicara
tentang tragedi Katrina, ia mengatakan bahwa Allah ada, tetapi Dia mungkin secara kasat
mata tidak terlihat hadir "bersama orang yang menderita dan hampir mati. Dia ada pada
masing-masing pribadi, masyarakat, gereja, dan sekolah yang mengorganisasi bantuan bagi
korban serta mengevakuasinya ke kota serta rumah mereka. Dia ada bersama ratusan ribu
orang yang menunjukkan belas kasihan berupa dukungan doa dan keuangan".

Begitu pula dengan tragedi menghancurkan hati yang terjadi dalam hidup kita, misalnya
kematian seseorang yang kita kasihi. Kita tak punya jawaban yang cukup memuaskan atas
berbagai masalah hidup yang menyakitkan seperti ini. Namun, kita tahu Tuhan bersama kita,
karena Dia berkata bahwa Dia tak akan meninggalkan kita. Yesus disebut "Imanuel" yang
secara harfiah berarti "Allah menyertai kita"

Meskipun penderitaan membuat kita bingung, kita dapat memercayai bahwa Allah ada di
dekat kita dan sedang melaksanakan maksud-Nya.

BADAI HIDUP MEMBUKTIKAN SEBERAPA KUAT SAUH KITA

12. Pada suatu pesta pernikahan yang saya hadiri, kakek mempelai perempuan mengutip di
luar kepala sebuah pilihan yang mengharukan dari Kitab Suci tentang hubungan suami dan
istri. Kemudian, seorang teman dari pasangan itu membacakan "Soneta 116" karya William
Shakespeare. Pendeta yang memimpin upacara memakai sebuah kalimat dari soneta itu untuk
melukiskan jenis kasih yang harus menjadi ciri pernikahan kristiani: "Bukan kasih namanya
jika ia berubah ketika mendapati perubahan." Sang penyair ingin mengatakan bahwa kasih
yang sejati tidak berubah dalam keadaan apa pun.

Pendeta itu mencatat banyaknya perubahan yang akan dialami pasangan ini dalam kehidupan
bersama mereka, termasuk kesehatan dan akibat-akibat penuaan yang tak terhindarkan.
Kemudian, ia menantang mereka untuk mengembangkan cinta kasih alkitabiah sejati yang
tidak akan goyah ataupun pudar meskipun mereka pasti akan menghadapi berbagai
perubahan.

Ketika saya menyaksikan sukacita dan kegembiraan pasangan muda ini, saya teringat akan
sebuah ayat yang dikatakan Yakobus, "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang
sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada
perubahan atau bayangan karena pertukaran". Allah tidak pernah berubah, demikian pula
kasih-Nya kepada kita. Kita adalah penerima kasih sempurna dari Bapa surgawi kita, yang
mengasihi kita "dengan kasih yang kekal.

Kita dipanggil untuk menerima kasih-Nya yang tidak pernah pudar, agar kasih itu dapat
membentuk hidup kita, sehingga kita dapat menunjukkannya juga kepada orang lain.

KASIH ALLAH TETAP BERTAHAN


SAAT SEGALA HAL TIDAK BERJALAN LANCAR

13. Paul Gerhardt, seorang pendeta di Jerman pada abad 17, memiliki segudang alasan untuk
tak bersukacita. Istri dan keempat anaknya meninggal dunia; Perang Tiga Puluh Tahun telah
membinasakan warga dan menghancurkan Jerman; konflik gereja dan guncangan politik
mengisi hidupnya dengan penderitaan. Namun, di tengah-tengah penderitaan pribadinya yang
hebat, ia menulis lebih dari 130 himne yang kebanyakan diwarnai sukacita dan ketaatan
kepada Yesus Kristus.

Berikut kutipan lirik salah satu himne karya Gerhardt, "Holy Spirit, Source of Gladness":

Biarkan kasih yang tidak mengenal batas


Mengalir bagai hujan yang deras,
Memberi kita harta tak ternilai harganya
Yang didamba manusia, dan yang Allah beri;
Dengarkan kesungguhan permohonan kami,
Tiap hati yang berat menjadi berseri;
Tinggal dalam persekutuan,
Roh yang penuh kedamaian.

Karena kasih Allah telah dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus adakah situasi di mana
kita tak dapat mengalami sukacita yang Dia berikan?

Selama melewati masa penderitaan besar, Rasul Paulus menggambarkan pengalamannya itu
seperti "sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin,
namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki
segala sesuatu".

Duka dan penderitaan adalah kenyataan hidup yang tak dapat dihindari. Namun, Roh Kudus
adalah sumber sukacita kita, "memberi kita harta tak ternilai harganya yang didamba
manusia, dan yang Allah beri".

KEBAHAGIAAN BERGANTUNG PADA PERISTIWA YANG KITA ALAMI


TETAPI SUKACITA BERGANTUNG PADA YESUS

14. Ketika anak-anak laki-laki kami masih kecil, kami suka bermain "Sarden-sardenan".
Kami mematikan semua lampu di rumah dan saya bersembunyi dalam lemari atau tempat-
tempat sempit lainnya. Anggota keluarga yang lain meraba-raba dalam gelap untuk
menemukan tempat persembunyian saya, kemudian bersem-bunyi bersama saya sampai kami
berde-sak-desakan seperti ikan sarden. Dari situlah kami menamai permainan itu.

Ada kalanya anggota keluarga saya yang paling kecil takut berada dalam ge-lap, jadi ketika ia
mendekat, saya berbisik kepadanya, "Ayah di sini." Namun ia sege-ra berteriak, "Aku
menemukan Ayah!" ujarnya sambil menubruk saya dalam gelap, tanpa sadar bahwa ia
membuat saya "ditemukan".

Demikian juga kita diciptakan untuk mencari Allah, yaitu untuk "menemukan Dia",
sebagaimana yang disampaikan Paulus dengan begitu jelas. Namun, inilah kabar baiknya:
Dia tidak sulit ditemukan, karena "Ia tidak jauh dari kita masing-masing". Dia ingin
menyatakan diri-Nya. "Dalam dahaga dan kerinduan Allah, ada harta yang tersimpan. Dia
rindu memiliki kita," tulis Dame Julian dari Norwich berabad-abad lalu.

Sebelum mulai mengenal Kristus, kita meraba-raba Allah dalam kegelapan. Akan tetapi,
apabila kita mencari Dia dengan sungguh-sungguh, Dia akan menyatakan diri-Nya, karena
Dia memberi upah orang yang sungguh-sungguh mencari-Nya. Dia akan memanggil kita
dengan lembut, "Aku di sini."

Dan, Dia menanti jawaban kita, "Aku menemukan-Mu!".

Manusia meraba-raba di lorong gelap kehidupan;


Memanjatkan doa kepada ilah yang tak dikenalnya,
Sampai suatu hari ia berjumpa dengan Anak Allah --
Akhirnya ia menemukan Sang Kehidupan!

CARILAH TUHAN SELAMA IA BERKENAN DITEMUI;


BERSERULAH KEPADA-NYA SELAMA IA DEKAT!

15. Mengapa kegairahan rohani begitu cepat pudar? Saat pertama kali mengalami kasih
Allah, kita menghabiskan waktu berjam-jam untuk memikirkan-Nya, mempelajari firman-
Nya, dan memberi tahu orang lain betapa berartinya Dia bagi kita. Lalu, terjadilah. Jadwal
kita yang padat perlahan-lahan menurunkan gairah kita. Kerinduan kita kepada Yesus dan
hasrat kita untuk mengenal sifat-Nya menjadi sambil lalu saja. Tentu sasaran kasih kita belum
berubah!

Jemaat di Efesus juga bergumul untuk mempertahankan gairah rohani mereka. Yesus,
melalui Yohanes, ingin membantu mereka memulihkan dan mempertahankan kasih serta
antusiasme mereka bagi-Nya. Walau Yesus memuji pekerjaan jemaat gereja ini, Dia melihat
mereka telah mengabaikan kasih mereka yang mula-mula, yakni diri-Nya.

Jemaat Efesus telah kehilangan gairah rohani mereka kepada Yesus. Gairah mereka menjadi
dingin dan kolot. Saya bertanya-tanya apakah mereka telah membiarkan masalah agama dan
kesibukan diam-diam merasuki hati mereka. Apa pun itu, sesuatu telah mencuri kasih yang
tadinya mereka sediakan bagi Tuhan.

Pernahkah Anda membiarkan sesuatu mencuri gairah Anda? Jika ya, gairah Anda dapat
dipulihkan dan dipertahankan jika Anda selalu ingat kasih-Nya yang menakjubkan, yang Dia
tunjukkan di atas Kalvari. Bertobatlah dari kelakuan Anda yang penuh dosa dan tanpa kasih,
serta dari kasih yang hilang bagi Yesus. Lakukan lagi yang semula Anda lakukan.

Hati yang semula penuh ketakjuban


Kini hampa dan membeku;
Kembalikan, ya Tuhan, ketakjuban itu,
Jangan lagi meredup dan layu.
KESETIAAN KEPADA YESUS
MERUPAKAN KUNCI MENUJU GAIRAH ROHANI

16. Seorang wanita berkata bahwa saat ia tumbuh dewasa, anak-anak tetangganya tidak
diizinkan orangtua mereka untuk bermain bersamanya karena ia tidak ke gereja. Kemudian,
saat ia menjadi seorang kristiani dan memberi tahu ibunya, sang ibu berkata, "Kamu tidak
akan mulai bertindak bahwa seakan-akan kamu lebih baik daripada kita semua kan?" Sang
ibu memperoleh kesan yang salah tentang orang kristiani dari para tetangganya.

Mewaspadai berbagai hal yang memengaruhi kehidupan anak-anak kita adalah baik, tetapi
kita pun harus membagikan kasih Allah kepada tetangga kita. Kata-kata Yesus yang ada
dalam mengingatkan kita: "Kamu adalah terang dunia .... Hendaknya terangmu bercahaya di
depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang
di surga."

Kita mungkin merasakan tarikan antara hidup suci yang "terpisah" (2 Korintus dan perintah
yang terbesar untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Kedua konsep ini tidak
benar-benar berlawanan. Inti dari kehidupan yang taat kepada Allah adalah menunjukkan
perhatian dan kasih bagi mereka yang masih tersesat.

Karena kita tidak dapat melakukan apa-apa yang membuat kita layak diselamatkan, maka kita
tidak dapat memegahkan diri sendiri. Paulus menulis, "Sebab karena anugerah kamu
diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil
pekerjaanmu, supaya tidak ada orang yang memegahkan diri".

Bagikanlah hadiah anugerah ini kepada orang lain!

SAKSI TERBAIK BAGI KRISTUS MENUNJUKKAN ANUGERAH ALLAH


DAN MEMBAGIKAN KASIH-NYA

17. Ketika kami sekeluarga sedang berada di Disney World, Tuhan memberikan berkat
sederhana-Nya bagi kami. Disney World adalah tempat sangat luas -- 43,3 hektar tepatnya.
Anda dapat mengelilinginya selama berhari-hari tanpa berjumpa dengan orang yang Anda
kenal. Saat itu saya dan istri memutuskan untuk berpisah dari anak-anak, sementara mereka
mencoba wahana permainan yang mengasyikkan bagi mereka. Kami berpisah pukul 09.00
dan merencanakan untuk berkumpul kembali pada pukul 18.00.

Pada pukul 14.00, saya dan istri ingin sekali makan taco [makanan dari Meksiko]. Lalu kami
melihat peta dan menuju anjungan Spanyol untuk menikmati masakan Meksiko. Baru saja
kami duduk dan menikmati makanan, kami mendengar, "Hai Ma, hai Pa." Ternyata pada saat
yang sama, ketiga anak kami juga sedang menyantap burrito panas.

Sepuluh menit setelah kami berkumpul, datanglah topan di tempat itu disertai angin yang
kencang. Hujan lebat pun menyapu, diiringi guntur yang menggelegar. Istri saya kemudian
berkata, "Aku pasti akan sangat khawatir jika anak-anak tidak bersama kita saat ini!"
Sepertinya Allah telah merancangkan pertemuan kami sekeluarga.

Apakah Anda pernah mengalami berkat seperti ini? Pernahkah Anda meluangkan waktu
untuk mengucapkan syukur atas perhatian dan pemeliharaan-Nya? Renungkan betapa luar
biasanya bahwa Dia yang menciptakan alam semesta ini ternyata sangat peduli untuk terlibat
dalam kehidupan kita. "Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah.

DENGAN MENJADI MILIK ALLAH


KITA AKAN MENIKMATI BERKAT YANG MELIMPAH

18. Seorang petani mempunyai petunjuk arah angin di lumbungnya yang di atasnya tertulis
"Allah adalah kasih". Ketika teman-temannya menanyakan alasannya membuat tulisan itu, ia
menjawab, "Ini untuk mengingatkan saya bahwa ke mana pun angin bertiup, Allah adalah
kasih."

Pada saat "angin selatan" yang hangat dengan desaunya yang menyejukkan dan lembut
membawa hujan berkat, Allah adalah kasih. "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah
yang sempurna, datangnya dari atas".
Saat "angin utara" pencobaan yang dingin menerpa Anda, Allah adalah kasih. "Allah turut
bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi
Dia".

Saat "angin barat" bertiup keras menerpa Anda dengan maksud menghukum, Allah adalah
kasih. "Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya".

Saat "angin timur" mengancam akan menyapu semua yang Anda miliki, Allah adalah kasih.
"Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam
Kristus Yesus".

Barangkali saat ini Anda sedang berkecil hati dan merasa putus asa. Apabila benar demikian
kondisi yang Anda alami, ingatlah bahwa Allah tetap memelihara Anda. Sesuatu yang sedang
Anda alami saat ini memang telah dikirim atau diizinkan terjadi oleh-Nya, demi kebaikan
Anda.

Ya benar sekali, ke arah mana pun angin bertiup, Allah adalah kasih.

TAK ADA PENDERITAAN YANG MENYUSAHKAN KITA


JIKA KITA TAHU ALASAN ALLAH MENGIZINKANNYA HADIR

19. Saya telah mendengar bahwa ada tiga hal yang dibutuhkan seseorang untuk bahagia:

1. sesuatu untuk dikerjakan-pekerjaan yang berarti atau menolong orang lain;

2. seseorang yang dikasihi-seseorang yang kepadanya kita dapat memberikan diri, seperti
suami/istri, anak, atau teman; dan

3. sesuatu yang dinanti-nantikan-liburan, kunjungan dari orang terkasih, kesehatan yang


membaik, mimpi yang menjadi kenyataan.

Hal-hal tersebut hanya membawa kebahagiaan sementara. Untuk memperoleh kepuasan


kekal, semua hal itu dapat ditemukan dalam hubungan dengan Yesus, Anak Allah.
Sesuatu untuk dikerjakan. Sebagai orang-orang percaya, kita telah diberi karunia dari Roh
Kudus untuk melayani Juru Selamat kita dengan melayani orang lain di dalam keluarga
Allah. Kita pun dipanggil untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia.

Seseorang yang dikasihi. Kita mengasihi Allah karena Dia lebih dahulu mengasihi kita. Dan
kita mengasihi orang lain, “sebab kasih itu berasal dari Allah”.

Sesuatu yang dinanti-nantikan. Suatu hari nanti kita akan disambut dalam hadirat Allah
selamanya, di mana kita akan menikmati sebuah tempat yang sempurna yang disiapkan
khusus bagi kita. Kita akan melihat Yesus dan menjadi seperti Dia.

Untuk kepuasan yang kekal, hanya Yesus Kristus yang benar-benar kita perlukan

DI MANA TERDAPAT PENGHARAPAN


DI SANA TERDAPAT KEBAHAGIAAN

20. Di budaya Barat, masa Natal merupakan saat untuk memberikan hadiah secara besar-
besaran. Sebuah toko serbaada yang terkenal di dunia, setiap tahunnya menerbitkan sebuah
katalog hadiah-hadiah yang mewah. Salah satu dari hadiah yang mewah itu adalah zeppelin
senilai 10 juta dolar. Zeppelin adalah sebuah balon udara yang memiliki panjang 69 meter
dan lebar 15 meter. Balon udara tersebut sanggup terbang selama 24 jam tanpa melakukan
pengisian ulang bahan bakar.

Hadiah seperti itu memang tampak mewah bukan main-terutama apabila kita
membandingkannya dengan palungan sederhana di mana Allah mengirimkan hadiah, yaitu
Putra-Nya. Kerap kali, ketika kita saling bertukar hadiah, hadiah dari Allah itu pun menjadi
terlupakan.

Kita dapat menghindari kealpaan ini dengan mengingat untuk memberikan sesuatu dari hati.
Kita dapat diilhami oleh kasih dan rasa syukur, tidak hanya kepada orang-orang terkasih,
tetapi juga terutama untuk Sang Pemberi Agung dari semua hadiah yang baik, yaitu Bapa
surgawi kita.

Bahkan hadiah yang paling kecil dan paling murah pun dapat mengembalikan ingatan kita
kepada kota Betlehem. Di kota kecil itulah Allah memberikan hadiah kasih-Nya yang tak
ternilai kepada dunia, yaitu Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Bersama dengan setiap
hadiah yang kita terima dan yang kita berikan, kita dapat mengucapakan kata-kata ini dari
dalam hati, “Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu.

KRISTUS ADALAH BAGIAN TERPENTING DARI NATAL

21. Pada tahun 1700-an, John Newton pergi berlayar bersama ayahnya dengan sebuah kapal
dagang. Tak lama setelah ayahnya pensiun, Newton terpaksa bekerja di sebuah kapal perang.
Akan tetapi, karena menghadapi kondisi yang tak tertahankan, ia pun melarikan diri,
kemudian memohon agar dipindahkan ke sebuah kapal budak yang akan segera berlayar ke
Afrika.

Kemudian, Newton tanpa perasaan melakukan perdagangan manusia, dan akhirnya ia


menjadi kapten kapal budaknya sendiri. Akan tetapi, pada tanggal 10 Mei 1748, hidupnya
mengalami perubahan untuk selamanya. Kapalnya mengalami badai yang hebat dan
menakutkan. Ketika kapal itu hampir tenggelam, Newton berteriak keras-keras, “Tuhan,
kasihanilah kami!”

Pada malam itu di kabinnya, ia mulai merenungkan belas kasih Allah. Melalui iman akan
pengurbanan Kristus untuknya, John Newton dapat mengalami kasih karunia Allah yang luar
biasa secara pribadi. Akhirnya, ia pun meninggalkan bisnis perdagangan budak dan
memasuki pelayanan kristiani. Meskipun ia menjadi seorang pengkhotbah Injil, ia kemudian
justru lebih dikenang karena kidung pujiannya yang disukai begitu banyak orang, yaitu lagu
Amazing Grace. Lagu ini merupakan kesaksian menakjubkan dari pengalamannya sendiri.

Roh Allah menunjukkan dosa kita dan memberi kita kuasa untuk melepaskannya. Apabila
kita menerima Kristus sebagai Juru Selamat, maka Dia melakukan bagi kita hal-hal yang
tidak dapat kita lakukan dengan kekuatan sendiri. Itulah kasih karunia yang luar biasa.

ALLAH MENYATAKAN KASIH KARUNIA


KEPADA MEREKA YANG TIDAK PANTAS MENERIMANYA

22. Seorang ayah kristiani yang masih muda menjalankan perannya sebagai orangtua secara
serius. Ketika putranya masih bayi, ia melindunginya. Saat putranya itu semakin besar, sang
ayah bermain bola dengannya, memberikan dorongan, dan berusaha mengajarkan tentang
Allah dan kehidupan kepadanya. Tetapi ketika remaja, anak laki-laki itu membuat jarak dan
dengan cepat meninggalkannya untuk menikmati kebebasan.
Seperti anak yang hilang dalam, ia menolak nilai-nilai yang diajarkan ayahnya. Ia membuat
keputusan bodoh dan terlibat dalam masalah. Ayahnya sangat kecewa, tetapi selalu sabar
terhadapnya. “Tak peduli apa pun yang telah ia lakukan,” katanya, “ia tetap anak saya. Saya
tidak akan pernah berhenti mengasihinya. Ia akan selalu diterima di rumah saya.” Hari penuh
sukacita itu akhirnya tiba ketika ayah dan anak dipersatukan kembali.

Orang-orang pada zaman Hosea mengikuti pola yang serupa. Meskipun Allah telah
menyelamatkan mereka dari Mesir dan memelihara mereka, mereka menolak-Nya. Mereka
menghina nama-Nya dengan menyembah ilah-ilah orang Kanaan. Akan tetapi Allah tetap
mengasihi mereka dan merindukan mereka untuk kembali.

Apakah Anda merasa takut telah menyimpang terlalu jauh dari Allah untuk dapat dipulihkan?
Dia yang menyelamatkan dan memelihara Anda rindu agar Anda kembali. Tangan-Nya
terbuka dalam pengampunan dan penerimaan. Dia tidak akan pernah membuang Anda.

Betapa kita gembira atas kasih Bapa

KASIH ALLAH TIDAK ADA BATASNYA

23. Beberapa ratus kilometer selepas Pantai Guam terdapat Parit Mariana. Itu merupakan
tempat yang paling dalam di tengah lautan. Pada tanggal 23 Januari 1960, Jacques Piccard
dan Donald Walsh naik kapal selam kemudian diturunkan masuk ke dalam kegelapan yang
dingin dan sepi di dalam parit laut itu. Penyelaman mereka ke kedalaman tersebut, yang
memecahkan rekor dunia, tidak akan pernah terulang lagi.

Kedalaman lautan memang benar-benar membuat pikiran kita takjub. Parit Mariana
dalamnya hampir 12 kilometer. Dan lagi, tekanan air di dasar parit itu sebesar 1.120,079
kg/cm2. Namun dengan keadaan seperti itu, ternyata di sana masih ada kehidupan. Walsh
melihat ikan pipih di dasar lautan, yang tetap hidup meskipun di sana tekanan dan
kegelapannya luar biasa.

Sebagian besar dari kita sulit untuk memahami betapa dalamnya Parit Mariana. Tetapi kasih
Allah jauh lebih sulit untuk dipahami. Paulus berusaha keras menggambarkannya, tetapi ia
berdoa agar pembacanya akan mampu memahami “betapa lebarnya dan panjangnya dan
tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui
segala pengetahuan”.
Mengapa kita tidak pernah bisa menjangkau kedalaman kasih Allah adalah karena kasih itu
tidak terbatas-tidak mungkin diukur. Jika Anda pernah merasa sendirian dan tidak dicintai,
sampai-sampai Anda tenggelam ke dalam keputusasaan yang gelap, renungkanlah. Kasih
Allah kepada Anda lebih dalam daripada Parit Mariana!

ANDA TIDAK MUNGKIN LEPAS DARI JANGKAUAN KASIH ALLAH

24. Suatu kali saya membaca tulisan berbau teologi pada bemper mobil di depan saya.
Bunyinya, “Jika Anda masuk neraka, jangan salahkan Yesus!” Slogan itu jelas merupakan
usaha si sopir untuk melakukan penginjilan. Saya menghargai usahanya, tetapi saya ragu
apakah orang yang membaca peringatan itu merasa bahwa tulisan itu ditempelkan dengan
penuh kasih.

Pendeta Newman Smith berselisih paham mengenai doktrin dengan pengkhotbah Baptis
Robert Hall. Maka Smith menulis pamflet pedas yang mencela Hall. Karena tidak bisa
memilih judul yang tepat, ia mengirim pamflet itu ke seorang teman dan meminta nasihatnya.

Sebelumnya Smith pernah menulis sebuah traktat yang berjudul “Datang Kepada Yesus”.
Setelah temannya membaca kecaman pedas terhadap Hall ini, ia kemudian
mengembalikannya dengan catatan pendek. “Judul yang saya anjurkan untuk pamflet Anda
adalah: ‘Pergi ke Neraka’ oleh penulis ‘Datang kepada Yesus’.”

Salah satu pernyataan yang paling menakutkan dalam Alkitab adalah bahwa orang-orang
yang menolak Yesus akan terpisah dari Allah selamanya. Bahkan yang lebih menakutkan
lagi, hampir semua yang kita ketahui mengenai neraka berasal dari mulut Yesus. Namun
ketika Yesus berbicara mengenai neraka, Dia melakukannya dengan penuh kasih.

Ketika bersaksi kepada tetangga kita, kita harus merenungkan pertanyaan ini: “Apakah ini
yang Allah kehendaki untuk saya katakan?” dan “Apakah ini cara yang dikehendaki Allah
bagi saya untuk mengatakannya?”.

KEBENARAN YANG SUKAR


HARUS DIBUNGKUS DALAM BAHASA KASIH
25. Anda mungkin baru-baru ini menerima sebuah surat dan terkejut melihat perangkonya.
Pada perangko itu tidak terpampang wajah seorang yang terkenal atau figur bersejarah,
melainkan saudara laki-laki Anda bersama anjingnya.

Pada sebuah uji kasus, Pos Amerika mengizinkan sebuah perusahaan swasta untuk menjual
perangko resmi. Dengan harga dua kali lipat dari nilai perangko, pelanggan dapat
mengirimkan sebuah foto digital pilihan mereka ke sebuah situs, dan dalam waktu kurang
lebih seminggu mereka dapat menempelkan perangko berisi foto pernikahan mereka ke atas
kartu terima kasih. Banyak orang berharap bahwa teknologi itu akan membangkitkan kembali
seni mengirimkan pesan pribadi lewat surat.

Memang baik mengingat kembali bahwa kelahiran Yesus merupakan pesan yang paling
pribadi dari Allah. Seorang malaikat memberi tahu Yusuf bahwa bayi ajaib ini akan menjadi
penggenapan nubuatan Kitab Perjanjian Lama: Sesungguhnya, anak dara itu akan
mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia
Imanuelyang berarti: Allah menyertai kita.

Rasul Paulus meneguhkan identitas Yesus Kristus pada saat ia menulis: [Yesus] adalah
gambar Allah yang tidak kelihatan, dan bahwa seluruh kepenuhan Allah diam di dalam diri-
Nya.

Allah sendiri datang ke dunia di dalam pribadi Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita dari
dosa-dosa kita. Apakah mungkin ada yang lebih pribadi dari hal itu?

ALLAH MENJANGKAU UMAT MANUSIA DENGAN TANGAN YESUS

Common questions

Didukung oleh AI

Perayaan Valentine hanya simbolis bila tidak diiringi dengan tindakan nyata menyampaikan kasih karena tanpa perwujudan, cinta menjadi hampa. Hal ini bisa diwujudkan dengan terus menunjukkan kasih tidak hanya melalui perayaan, tetapi juga melalui perhatian dan dukungan konstan kepada orang-orang di sekitar kita setiap hari, khususnya mereka yang kurang mendapatkan perhatian .

Dari pengalaman John Newton, kita belajar bahwa perubahan hidup sejati terjadi ketika seseorang menyadari kelemahan dan dosanya, kemudian menerima kasih karunia Allah melalui iman. Ini menunjukkan bahwa siapa pun dapat mengalami transformasi spiritual dengan menerima pengampunan dan kasih tak bersyarat dari Tuhan. Relevansi ini mendasari perjalanan spiritual individu dalam pencarian kebangkitan dan kedamaian pribadi .

Kasih Allah dijelaskan dengan perumpamaan arah angin yang menggambarkan bahwa apa pun keadaan yang dihadapi, baik itu cobaan, hukuman, ataupun berkat, semuanya merupakan perwujudan dari kasih Allah. Pandangan ini menuntun seseorang untuk selalu melihat cobaan sebagai bagian dari rencana Allah yang lebih besar, yang bertujuan mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya .

Pengalaman Ernest Gordon sebagai tahanan perang membuatnya makin meresapi arti hidup dan pengorbanan. Ketika seorang rekannya menyerahkan diri agar komandannya tidak dibunuh, penyaliban orang tersebut menunjukkan bahwa penebusan memerlukan pengorbanan mahal. Ini menguatkan pemahaman bahwa keselamatan tidak diperoleh dari perbuatan baik melainkan oleh anugerah melalui pengorbanan Yesus .

Sikap seorang ayah yang tetap mengasihi anaknya meski ditolak mencerminkan sikap Allah yang senantiasa mengasihi dan siap menerima manusia yang kembali kepada-Nya, tidak peduli seberapa jauh mereka menyimpang. Ini meningkatkan pemahaman tentang pengampunan sebagai suatu tindakan cinta tak bersyarat, memberikan kesempatan kedua, dan menegaskan bahwa kasih dan penerimaan Allah selalu tersedia bagi mereka yang mau kembali .

Pujian dapat mengalihkan fokus dari keadaan yang bikin stres seperti kemacetan ke hal yang lebih positif, yaitu sisi spiritual dan kehadiran Tuhan. Ini memberikan kedamaian dan mengurangi kejengkelan. Implikasinya, pujian secara mental dapat menenangkan pikiran dan secara spiritual memperkuat iman dan ketenangan dalam menghadapi situasi sulit .

Kunci keberhasilan tokoh seperti Martin Luther King, Jr. dan William Wilberforce terletak pada komitmen mereka yang terus dijaga dengan tidak berfokus pada masa lalu, serta memiliki visi yang jelas menuju tujuan akhir perjuangan mereka. Mereka pantang menyerah dan terus menatap ke depan meski menghadapi berbagai kesulitan .

Yusuf menghadapi godaan dengan tegas menolak dan langsung meninggalkan situasi yang menjerumuskannya. Pendekatannya ini relevan sebagai pelajaran moral dan spiritual dengan menghindari dosa sepenuhnya alih-alih menunda atau bermain-main dengan godaan. Ini mengajarkan pentingnya ketegasan dan ketulusan untuk menjalani kehidupan yang bersih dari dosa .

Para pengusaha sukses seperti Bill Gates dan Henry Ford memanfaatkan kekayaan mereka dengan memberikan sumbangan besar bagi pendidikan, pengentasan kemiskinan, kesehatan, dan bencana alam. Tindakan ini dianggap penting karena menunjukkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh jumlah kekayaan yang mereka miliki, tetapi oleh seberapa besar mereka bermanfaat bagi orang lain .

Pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya introspeksi diri untuk mencegah sikap munafik dan sombong. Dalam konteks kehidupan beragama dan sosial, seharusnya kita lebih fokus mengevaluasi diri sendiri ketimbang menghakimi orang lain, agar bisa mengembangkan rasa kerendahan hati dan pemahaman bahwa semua manusia tidak sempurna dan sesama juga layak diberi kesempatan untuk memahami kesalahan mereka .

Anda mungkin juga menyukai