Anda di halaman 1dari 12

KONDUKTIVITAS

Daya hantar listrik adalah ukuran seberapa kuat suatu larutan dapat
menghantarkan listrik. DHL merupakan kebalikan dari hambatan listrik (R),
dimana:L

R = ρ L/A

Suatu hambatan dinyatakan dalam ohm disingkat Ω, oleh karena itu


DHL dinyatakan : DHL = 1/R = k A/L

Dimana, k = 1/R x L/A

DHL disebut konduktivitas. Satuannya ohm-1 disingkat Ω-1, tetapi


secara resmi satuan yang digunakan adalah siemen, disingkat S, dimana S =
Ω-1 maka satuan k adalah Sm-1 atau SCm-1.

Konduktivitas digunakan untuk ukuran larutan / cairan elektrolit.


Konsentrasi elektrolit sangat menentukan besarnya konduktivitas, sedang
konduktivitas sendiri tidak dapat dapat digunakan untuk ukuran suatu larutan.
Ukuran yang lebih spesifik yaitu konduktivitas molar (∆m). Konduktivitas
molar adalah konduktivitas suatu larutan apabila konsentrasi larutan sebesar
satu molar, yang dirumuskan sebagai:

∆m = k/C

Dimana, k : Konduktivitas spesifik (SCm-1)

C : Konsentrasi larutan (mol/L)

∆m: Hantaran molar (SCm2mol-1)

Jika satuan volume yang digunakan adalah cm3 maka persamaan yang
digunakan adalah

∆m = 1000k

C
Dimana satuan-satuannya sama dengan diatas.

(Tim Kimia Anorganik,2009)

Besarnya daya hantar jenis dapat dicari dari tahanan larutan. Jadi
dengan mengukur tahanan larutan dapat ditentukan daya hantar ekivalen.
Untuk ini biasanya dipakai jembatan wheat stone.

Daya hantar suatu larutan tergantung dari

a. Jumlah ion yang ada

b. Kecepatan dari ion pada beda potensial antara kedua elektroda

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan ion adalah

1. Berat dan muatan ion

2. Adanya hidrasi

3. Orientasi atmosfer pelarut

4. Gaya tarik antar ion

5. Temperatur

6. Viskositas

(Pike,1999)

Jika larutan diencerkan maka untuk elektrolit lemah α-nya semakin


besar dan untuk elektrolit kuat gaya tarik antar ion semakin kecil. Pada
pengenceran tidak terhingga, daya hantar ekivalent elektrolit hanya
tergantung pada jenis ionnya. Masing-masing ion mempunyai daya hantar
ekivalent yang tergantung pada:

- Jumlah ion yang ada

- Kecepatan ion pada beda potensial antara kedua elektroda yang ada
Jumlah ion yang ada tergantung dari jenis elektrolit (kuat/lemah) dan
konsentrasi selanjutnya pengenceran baik untuk elektrolit lemah/kuat
memperbesar daya hantar dan mencapai harga maksimum pada pengenceran
tak berhingga.

(Sukardjo,1990)

Penghantar logam disebut penghantar kelas utama, dalam penghantar


ini listrik mengalir sebagai electron. Tekanan dari penghantar ini bertambah
dengan naiknya temperatur. Larutan elektrolit juga dapat menghantarkan
listrik, penghantar ini disebut penghantar kedua. Dalam penghantar ini
disebabkan oleh gerakan dari ion-ion kutub satu ke kutub lainnya. Berbeda
dengan penghantar logam, penghantar elektrolit tahanannya berkurang bila
temperature naik.

Daya hantar listrik suatu larutan tergantung dari:

1. Jumlah ion yang ada

Jumlah ion yang ada tergantung dari elektrolit (kuat/lemah) dan


konsentrasi. Pengenceran larutan baik untuk elektroda memperbesar
daya hantar dan mencapai harga maksimal pada pengancaran tak
tarhingga.

2. Kecepatan dari ion pada beda potensial antara kedua elektroda.

( Tony Bird, 1997)

Pengukuran daya hantar listrik mempunyai arti penting dalam proses-


proses kimia. Pada pembuatan akuades, efisiensi dari penghilang zat terlarut
yang berupa garam-garam dapat diikuti dengan mudah dengan cara mengukur
daya hantar larutan selama titrasi dan dengan menggunakan grafik dapt
digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi. Derajat ionisasi elektrolit
lemah dapat ditentukan dengan pengukuran daya hantarnya. Seperti
diketahui, daya hamtar berbanding lurus dengan jumlah ion yang ada dalam
larutan.
Tabel jumlah ion dan ∆m dalam pelarut air

Jumlah ion Range ∆m

2 118-131

3 235-273

4 408-435

5 >560

Tabel jumlah ion dan∆m dalam pelarut DMF

Jumlah ion Range ∆m

1:1 65-90

2:1 130-170

3:1 200-240

4:1 >300

Daya hantar ekuivalen didefenisikan sebagai daya hantar satu gram


ekuivalen suatu zat terlarut diantara 2 elektroda dengan jarak kedua elektroda
1 cm. Daya hantar ekuivalen pada larutan encer diberi symbol “0” yang
harganya tertentu untuk setiap ion.

Pengaruh konsentrasi pada daya hantar ekuivalen, misal:

Konsentrasi NaCl 0
0,1 106,7

0,01 118,5

0,001 123,7

~ 126,4

(Sumar Hendayana,1994)

Konduktivitas molar elektrolit tidak tergantung pada konsentrasi. Jika


K tepat sebanding dengan konsentrasi elektrolit. Walaupun demikian pada
praktiknya, konduktivitas molar bervariasi terhadap konsentrasi, salah satu
alasannya adalah jumlah ion dalam larutan mungkin tidak sebanding dengan
konsentrasi larutan elektrolit, misalnya konsentrasi ion dalam larutan asam
lemah tergantung pada konsentrasi asam secara rumit dan penduakalian
konsentrasi nominal asam itu tidak menduakalikan jumlah ion tersebut.
Kedua, karena ion saling berinteraksi dengan kuat, maka konduktivitas
larutan tidak tepat sebanding dengan jumlah ion yang ada.

Pengukuran konduktivitas mula-mula pada konsentrasi menunjukkan


adanya dua golongan elektrolit yaitu:

- Elektrolit kuat

Konduktivitas mula-mula elektrolit kuat hanya sedikit berkurang dengan


bertambahnya konsentrasi

- Elektrolit lemah

Konduktivitas molar elektrolit lemah normal pada konsentrasi mendekati


nol, tetapi turun tajam sampai nilai terendah saat konsentrasi bertambah.

Pada percobaan akan ditentukan jumlah muatan larutan sampel dengan


metode pengukuran daya hantar listriknya kemudian dilakukan pendekatan
antara larutan sampel tehadap larutan standar elektrolit yang juga telah
diketahui jumlah muatan ionnya. Daya hantar listrik pada larutan diukur
dengan menggunakan konduktivity meter menghasilkan harga konduktivitas
larutan dalam satuan µscm-1

Pengukuran konduktivitas larutan standar yang telah diketahui jumlah


muatan ionnya dilakukan pada beberapa jenis larutan baik elektrolit kuat dan
elektrolit lemah. Suatu larutan elektrolit kuat memiliki konduktivitas lebih
tinggi dari pada larutan elektrolit lemah. Karena dalam elektrolit kuat, zat
elektrolit akan terdisosiasi sempurna menjadi ion-ionnya.
Jumlah ion pada suatu larutan juga berpengaruh pada nilai konduktivitas
larutan.

Daya hantar listrik (konduktivitas) adalah ukuran seberapa kuat suatu larutan
dapat menghantarkan listrik. Konduktivitas digunakan untuk ukuran larutan
atau cairan elektrolit. Semakin besar jumlah ion dari suatu larutan maka akan
semakin tinggi nilai konduktivitasnya. Jumlah muatan dalam larutan
sebanding dengan nilai hantar molar larutan dimana hantaran molar juga
sebading dengan konduktivitas larutan. Konsentrasi elektrolit sangat
menentukan besarnya konduktivitas molar (∆m). Konduktivitas molar adalah
konduktivitas suatu larutan apabila konsentrasi larutan sebesar satu molar,
sehingga secara matematis dirumuskan :

∆m = k/C

Jika satuan volume yang digunakan adalah cm3 maka persamaan yang
menjadi

∆m = 1000k

Dimana, k : Konduktivitas spesifik (SCm-1)

C : Konsentrasi larutan (mol/L)

∆m: Hantaran molar (SCm2mol-1)

Dalam percobaan digunakan larutan standar dan larutan sampel


dengan konsentrasi sama, sehingga C dianggap constant. Jika nilai C konstan,
maka hantaran molar (∆M) hanya diperbaharui oleh konduktivitas larutan
(K), dimana ∆M sebanding dengan nilai K. Nilai K didapat dari hasil
percobaan. Jadi, semakain tinggi konduktivitas larutan maka hantaran molar
(∆M) larutan tsb akan meningkat. Jumlah muatan juga berpengaruh pada
hantaran molarnya. Pada kosentrasi yang sama, semakin besar jumlah muatan
suatu larutan, maka akan semakin besar pula hantaran molarnya (∆M).

Dalam suatu larutan elektrolit bila diberi dua batang elektroda inert
dan diberi tegangan listrik diantaranya, maka anion-anion akan bergerak ke
elektroda negatif (katoda). Proses ini merupakan fenomena transport seperti
halnya yang terjadi dalam molekul gas adalah adanya pengaruh medan listrik
dan molekul pelarut. Analisis kimia yang didasarkan pada daya hantar listrik
berhubungan dengan pergerakan suatu ion didalam larutan ion yang mudah
bergerak mempunyai daya hantar listrik yang besar.

Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat larutan KCl 0,01M


sebagai larutan yang mengkalibrasi alat konduktivitymeter.
Konduktivitymeter dikalibrasi hingga menunjukkan sekitar angka 1413 µs
(bias kurang atau lebih/mendekati). Dalam hal ini pelarut yang digunakan
adalah aquadest. Pada percobaan ini juga menggunakan larutan blanko yaitu
larutan KCL 0,01 M , yang dalam teoritis memiliki konduktivitas 1413 µScm -
1
, sehingga sebelum digunakan alat harus kalibasi dengan larutan. KCL 0,01
M dan diseting untuk menunjukan angka 1413 µScm-1 larutan alat digunakan.
Hal ini dilakukan untuk mengetahui kesensitifan konduktivitymeter, apabila
pengukuran larutan KCl menunjukkan 1413 µs, maka alat tersebut
sensitif/baik. Untuk membuat larutan KCl 0,01M, diambil 4ml KCl 0,25 lalu
diencerkan dengan akuades hingga volume 100ml. Larutan ini kemudian
digunakan untuk kalibrasi alat. Dimana larutan blanko KCl dimasukkan
dalam gelas beker, lalu dimasukkan sebuah magnet dan diletakkan di atas
stirrer. Kemudian stirrer dihidupkan, fungsi dari stirrer dan memasukkan
magnet adalah agar larutan homogen. Kemudian elektroda di masukkan
dalam larutan, lalu di ukur dengan konduktymeter dan di setting hingga
menunjukkan angka 1413 µScm-1. . Dalam hal ini, diantara 2 elektroda
terdapat 2 elektroda, yaitu katoda dan anoda, Antara kedua elektroda tersebut
terdapat beda potensial akibat dari desakan electron atau aktivitas elektron.
Bila kedua elektroda tersebut dihubungkan, maka akan terjadi ariran listrik
dari kutub negatif ke kutub positif melalui hubungan luar.

Setelah itu dibuat larutan standar. Larutan standar yang pertama,


dibuat dengan mengambil 2ml larutan KCl, NaCl, KNO3, CuSO4.5H2O,
NiSO4.6H2O, MgCl2, CuCl2.2H2O, AlCl3.6H2O masing-masing mempunyai
konsentrasi 0,25 gram yang diencerkan dengan 100ml akuades untuk
menjadika konsentrasi 5.10-3M. Semua larutan dalam konsentrasi sama yaitu
5.10-3M, sehingga dalam percobaan ini konsentrasi dianggap konstan.

Larutan standar yang kedua, dibuat dengan mengambil 2ml larutan


KCl, NaCl, KNO3, CuSO4.5H2O, NiSO4.6H2O, MgCl2, CuCl2.2H2O,
AlCl3.6H2O masing-masing mempyunyai konsentrasi 0,125 yang diencerkan
dengan 50ml metanol untuk menjadika konsentrasi 5.10-3M. Hal ini sesuai
persaman

V1M1=V2M2.

Dalam percobaan digunakan konsentrasi larutan sama yaitu 5.10-3M.


Konsentrasi elektrolit sangat menentukan besarnya konduktivitas suatu
larutan. Dari harga konduktivitas yang terukur dapat digunakan untuk
mencari harga konduktivitas molarnya sehingga dapat diketahui jumlah
muatan yang terdapat dalam larutan standar.

Pada larutan encer, ion-ion dalam larutan tersebut mudah bergerak


sehingga daya hantarnya semakin besar. Pada larutan yang pekat, pergerakan
ion lebih sulit sehingga daya hantarnya menjadi lebih rendah. Hal lain yang
mempengaruhi daya hantar listrik selain konsentrasi adalah jenis larutan.
Pengukuran ketergantungan konduktivitas molar pada konsentrasi tertentu
menunjukkan adanya 2 golongan elektrolit, yaitu elektrolit lemah dan
elektrolit kuat. Sifat umum dari elektrolit kuat adalah konduktivitas akan
berkurang dengan bertambahnya konsentrasi, sedangkan elektrolit lemah
konduktivitas molarnya normal pada konsentrasi mendekati nol, tetapi turun
tajam sampai nilai yang rendah pada saat konsentrasi bertambah. Larutan
elektrolit kuat mempunyai konduktiviyaslebih tinggi daripada elektrolit
lemah, hal ini karena zat elektrolit terdisosiasi secara sempurna didalam
larutan, berarti larutan elektrolit kuat dapat menghantarkan listrik dengan
baik. Penggolongan dengan cara ini juga bergantung pada zat terlarut dari
pelarut yang digunakan.

jumlah ion dan ∆m dalam pelarut air sesuai literatur:


Jumlah ion Range ∆m

2 118-131

3 235-273

4 408-435

5 >560

( Ronald M. Pike,1991)

Dalam pengukuran konduktivitas spesifik larutan dipilih harga yang


paling konstan karena harga konduktivitas cenderung berubah setiap saat
sehingga harga yang paling konstan merupakan harga yang mendekati harga
sebenarnya. Setiap pergantian larutan, alat cuci dengan akuades. Pengukuran
disertai dengan pengukuran akuades (pelarut) karena harga konduktivitas
spesifik merupakan koreksi dari konduktivitas larutan dengan konduktivitas
pelarut

k= klarutan - kpelarut

Menurut batasan yang sangat sederhana, asam adalah suatu zat yang
apabila dilarutkan dalam air akan terionisasi menghasilkan ion hidrogen (H+)
yang merupakan satu-satunya ion positif dalam larutan. Tetapi ternyata ion
H+ atau proton tersebut tidak terdapat dalam keadaan bebas di dalam larutan,
melainkan setiap proton akan bergabung dengan satu molekul air melalui
ikatan kovalen koordinasi menjadi hironium (H3O+).

Asam-asam yang dalam larutan terionisasi sempurna atau hampir


sempurna disebut asam-asam kuat, misalnya HCl, HNO3, HI, dll. Sedangkan
asam-asam yang dalam larutan hanya terionisasi sedikit disebut asam lemah,
misalnya CH3COOH.

Basa adalah suatu zat yang apabila dilarutkan dalam iar akan
mengalami ionisasi menghasilkan ion hidroksida (OH-) sebagai satu-satunya
ion negatif, misalnya NaOH, KOH, dll. Basa kuat mengalami ionisasi
sempurna atau hampir sempurna menghasilkan ion OH-. Pada larutan
amonium hidroksida, dalam larutan hanya terionisasi sebagian dan
menghasilkan ion hidroksida sangat sedikit, sehingga disebut basa lemah.
Larutan (air) dari NaCl dan senyawaan ion lain, maupun larutan air
beberapa senyawaan kovalen tertentu merupakan penghantar kelistrikan yang
sangat bagus. Zat yang berbeda dalam seluruhnya atau hampir seluruhnya
atau dalam bentuk ion disebut elektrolit kuat.

Sebaliknya, larutan air dari banyak senyawaan kovalen merupakan


penghantar kelistrikan yang jelek. Larutan amonia dan asam asetat dalam air
merupakan contoh zat-zat yang hanya sebagian kecil molekulnya yang larut
bereaksi dengan air untuk membentuk ion,disebut elektrolit lemah. Sebagian
besar zat yang terlarut itu masih berada sebagai molekul kovalen.(Keenan,
1994)

Konduktansi (G) larutan merupakan kebalikan dari tahanan R; makin


rendah tahanan larutan, makin besar konduktannya. Karena tahanan
dinyatakan dalam ohm, maka konduktansi sampel d dinyatakan W-1.

Tahanan sampel bertambah dengan pertambahan panjang l dan


berkurang dengan pertambahan luas penampang lintang A. Oleh karena itu
kita menuliskan:

R=rx

Konstanta perbandingan r disebut resistensi sampel. Konduktivitas k


merupakan kebalikan resistivitas Dengan tahanan dalam W dan dimensi m,
maka satuan k adalah sm-1 .Perhitungan konduktivitas secara langsung dari
tahanan. Sampel dan dimensi sel l dan A tidak dapat diandalkan, karena
distribusi arusnya rumit. Dalam prakteknya, sel dikalibrasikan dengan sampel
yang diketahui konduktivitasnya k*, dan konstanta sel C ditentukan dengan R
merupakan standar. Dimensi C adalah (panjang)-1. Jika sampel mempunyai
tahanan R dalam sel yang sama, maka konduktivitasnya. Konduktivitas
larutan bergantung pada jumlah ion yang ada dan kita biasa memperkenalkan
konduktivitas molar Lm. Konduktivitas molar elektrolit kuat mentaati hukum
Kohl Rausch yaitu bahwa konduktivitas molar sebanding dengan akar dari
konsentrasi:

Lm = Lom - k c1/2
Lom merupakan konduktivitas molar pembatas, yaitu konduktivitas
molar dalam limit konsentrasi nol (jika ion tidak saling berinteraksi. k adalah
koefisien yang bergantung pada stoikiometri elektrolit. Kohlrausch juga
membuktikan bahwa Ùom dapat dinyatakan sebagai jumlah kontribusi dari
ion individunya. Jika konduktivitas molar pembatas kation dinyatakan dengan
l+ dan untuk anion dinyatakan dengan l-.

Konduktivitas bergantung pada jumlah ion dalam larutan, dan


karenanya juga pada derajat ionisasi elektrolit a. Derajat ionisasi
didefinisikan, sehingg untuk asam H4 pada konsentrasi nominal C, pada
kesetimbangan:

[H3O+] = aC [A-] = aC [H4] = (1-a)C

Jika konduktivitas elektrolit terionisasi sempurna hipotesa adalah


L1m, sehingga hanya fraksi a sebenarnya terdapat dalam larutan sebagai ion,
maka konduktivitas molar terukur Ùm dinyatakan dengan:

Lm = a L1m dan Lm = a Lom

Setelah mengetahui Ka, kita dapat menggunakan persamaan a untuk


meramalkan ketergantungan konduktivitas molar pada konsentrasi. Pada
elektrolit lemah, dengan hukum aksi massa, maka tetapan keseimbangan
antara molekul-molekul yang tidak terionisasi dengan ion-ionnya yang
terdapat dalamlarutan. Hukum aksi massa tidak dapat digunakan pada
elektrolit-elektrolit kuat karena dalam larutan akan terionisasi sempurna
sehingga di dalam larutan tidak terdapat kesetimbangan antara molekul yang
tidak terionisasi dengan ion-ionnya.

Karena konsentrasi air cukup besar, sehingga yang tinggal dalam


larutan dapat dianggap tetap.

Dari rumus tersebut di atas, terlihat apabila V bertambah besar


(karena pengenceran) maka harga a juga akan bertambah besar, sebab pada
suhu tetap harga Ka adalah tetap. Rumus ini lebih dikenal sebagai Hukum
Pengenceran Ostwald.(Respati, 1982)Arus listrik di dalam larutan dibawa
oleh ion-ion sehingga daya hantar listrik suatu larutan pada suhu tertentu
besarnya tergantung pada derajat ionisasi.
Tahanan jenis suatu larutan (r) adalah tahanan dari suatu larutan yang
diukur pada jarak 1 cm antara elektroda-elektrodanya dan mempunyai satuan
ohm (W). Kebalikan dari tahanan jenis disebut daya hantar jenis (k) yang
satuannya W-1.

Untuk larutan-larutan elektrolit yang sering digunakan adalah daya


hantar ekivalen ( ). Daya hantar ekivalen adalah daya hantar suatu larutan
yang mengandung 1 gram ekivalen suatu zat elektrolit yang terlarut antara
dua buah elektroda yang ukurannya tertentu dan berjarak 1 cm. Menurut
Kohlrausch, daya hantar ekivalen suatu larutan elektrolit akan naik karena
pengenceran dan akhirnya akan mencapai suatu batas. Sedang menurut
Arhennius, derajat ionisasi suatu larutan elektrolit akan naik karena
pengeceran sehingga akhirnya akan mencapai harga: 1 yaitu ionisasi
sempurna. Harga batas dari daya hantar dimana terjadi proses ionisasi

sempurna dinyatakan dengan simbol atau sehingga besarnya derajat


ionisasi (a) pada suatu konsentrasi dapat dinyatakan dengan rumus:

Α = Lc/L0

Dimana adalah daya hantar ekivalen pada konsentrasi tersebut.

(Bird, 1993).