Anda di halaman 1dari 11

14 Tugas Tambahan Guru yang Diakui

Dapodikdasmen Untuk Tunjangan


Sertifikasi
Merdekabelajar
Senin, 09 Maret 2020
Maret 09, 2020

   
Komentar0

Merdekabelajar.my.id - Tugas tambahan guru menjadi sangat penting apabila pada kenyataannya  jumlah guru mata
pelajaran melebihi ketentuan struktur kurikulum yang mengatur distribusi jam pelajaran dalam satu rombongan
belajar (rombel) dibandingkan dengan jumlah rombel keseluruhan.  Dengan bahasa yang sederhana guru berlebih
sementara jam pelajaran tidak mencukupi. Aturan untuk mencari jam tambahan disekolah lain pun sudah di perketat,
yaitu maksimal hanya boleh mengajar 6 jam di sekolah non induk.

Dulu sebelum keluar Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 guru dapat mencukupi jam mengajarnya di sekolah non
induk apabila telah mengajar 6 jam di sekolah induk. Tetapi seiring dengan keluarnya Permendikbud tersebut maka
guru harus mengajar minimal 12 jam di sekolah induk dan hanya boleh mengajar 6 jam di sekolah non induk.
Perubahan drastis ini menjadi kabar baik bagi sebagian guru sekaligus kabar yang tidak baik bagi sebagian lainnya.

Untuk mengatasi polemik tersebut maka ada beberapa tugas tambahan yang selama ini tidak ekuivalen dengan jam
tatap muka menjadi ekuivalen dan diakui sebagai jam mengajar. Adapun tugas tambahan yang mempunyai
ekuivalensi dengan jumlah jam tatap muka per minggu hanya berlaku pada satuan Administrasi pangkal (satminkal)
atau lebih populer dengan sekolah induk.

Ketentuan yang lain yang harus kita pahami juga adalah bahwa apabila guru kekurangan jam mengajar selain boleh
diberi tugas tambahan yang mempunyai ekuivalensi dengan jumlah jam tatap muka per minggu, maka guru yang
bersangkutan juga boleh menambah jam di sekolah non induk denga ketentuan jumlah maksimal jam di sekolah non
induk sebanyak 6 jam.

Ketentuan tersebut bersifat final dan apabila tidak mengikuti aturan tersebut maka sangat kecil kemungkinan guru
akan mendapatkan tunjangan sertifikasi. Hal tersebut terjadi karena ketentuan dan syarat untuk menerima tunjangan
profesi guru (sertifikasi) tidak terpenuhi. Oleh karena itu, guru harus memahami tugas tambahan yang mempunyai
ekuivalensi dengan jumlah jam tatap muka per minggu dan diakui aplikasi dapodikdasmen pada masing-masing
sekolah.

Secara keseluruhan ada 14 tugas tambahan yang dapat membantu para guru dalam mengatasi kekurangan jam
mengajar sesuai dengan Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018. Adapun ke 14 tugas tambahan guru yang
mempunyai ekuivalensi dengan jumlah jam tatap muka per minggu adalah sebagai berikut:

1. Kepala sekolah mempunyai ekuivalensi  24 jam tatap muka per minggu

Dalam Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 Pasal 1 dinyatakan bahwa “  Kepala Sekolah adalah Guru yang diberi
tugas untuk memimpin dan mengelola Taman Kanak-Kanak/Taman Kanak-Kanak Luar Biasa (TK/TKLB) atau bentuk
lain yang sederajat, Sekolah Dasar/Sekolah Dasar Luar Biasa (SD/ SDLB) atau bentuk lain yang sederajat, Sekolah
Menengah Pertama/Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMP/ SMPLB) atau bentuk lain yang sederajat,
Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMA/SMK/SMALB) atau
bentuk lain yang sederajat, atau Sekolah Indonesia di Luar Negeri (SILN)”.

Tugas tambahan guru sebagai kepala sekolah yang mempunyai ekuivalensi 24 jam mengajar perminggu sebagai
salah satu syarat minimal untuk meneriman Tunjangan Profesi Guru (Tunjangan Sertifikasi) didasari oleh lampiran II
Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari Permendikbud itu
sendiri.

Adapun penjelasan dari jabatan kepala sekolah yang mempunyai ekuivalensi 24 jam mengajar perminggu adalah
sebagai berikut:

1. Dalam menjalankan tugas-tugas manajerial sebagaimana telah dibuat rincian tugas dan bukti fisiknya maka kepala
sekolah telah memenuhi beban kerja 18-24 jam kerja perminggu yang dalam hal ini setara dengan 14-16 Tatap Muka
per minggu.

2. Dalam menjalankan tugas-tugas pengembangan kewirausahaan  sebagaimana telah dibuat rincian tugas dan
bukti fisiknya maka kepala sekolah telah memenuhi beban kerja 4-6 jam kerja per minggu yang dalam hal ini setara
dengan 3-4  Tatap Muka per minggu.

3. Dalam menjalankan tugas-tugas supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan  sebagaimana telah dibuat
rincian tugas dan bukti fisiknya maka kepala sekolah telah memenuhi beban kerja 6-10 jam kerja per minggu yang
dalam hal ini setara dengan 4-6  Tatap Muka per minggu.

Atas dasar pertimbangan diatas maka sudah selayaknya kepala sekolah tidak harus mengajar lagi di dalam kelas
karena tugas-tugas yang diamanahkan kepadanya juga sebenarnya sangat banyak. Apabila kita jumlahkan
ekuivalensi dari tugas-tugas kepala sekolah per minggu tersebut maka sebenarnya kepala sekolah mempunyai
beban kerja dan jam kerja yang lebih banyak dibandingkan minimal tatap muka yang dilakukan oleh guru dikelas.

Selain itu, apabila mengacu ke Standar Nasional Pendidikan (SNP), Kepala Sekolah memiliki peran dan tugas yang
cukup banyak dan juga berat. Ini menjadi alasan mengapa Tugas tambahan Kepala Sekolah memiliki ekuivalen
beban kerja setara 18 – 24 jam.  Kepala Sekolah adalah guru yang memiliki tugas tambahan sebagai Kepala
Sekolah, tetapi tugas kepala sekolah lebih difokuskan ke Tugas Manajerial dan mengatur manajemen sekolah.
Beban kerja yang diakui oleh dapodik untuk Kepala Sekolah dan Guru adalah minimal 24 jam.

Berdasarkan Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 baik guru maupun Kepala Sekolah harus memiliki beban kerja
minimal 24 jam jika ingin mendapatkan tunjangan sertifikasinya, tentunya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
Dibawah ini adalah rincian tugas kepala sekolah dan ekuivalensi beban kerjanya. Dalam PP 19 Tahun 2017 itu
disebutkan bahwa beban tugas kepala sekolah meliputi tugas manajerial, pengembangan kewirausahaan, serta
supervisi guru dan tenaga kependidikan. Namun Sumarna memberi pengecualian kepala sekolah tetap bisa
mengajar apabila di sekolah tersebut memang kekurangan guru dan tenaga kependidikan.

2. Wakil Kepala sekolah mempunyai ekuivalensi 12 jam tatap muka per minggu
Tugas-tugas tambahan yang mempunyai ekuivalensi dengan jam tatap muka berminggu hanya berlaku pada guru
yang mengajar pada satuan administrasi pangkalnya (sekolah induknya) dan tidak berlaku pada sekolah yang bukan
satuan administrasi pangkalnya (sekolah non induk).

Adapun tugas tambahan wakil kepala sekolah yang mempunyai ekuivalensi 12 jam tatap muka mempunyai
ketentuan sebagai berikut:

1. Tugas Tambahan Wakil Kepala Sekolah SLTP ( sesuai dapodikdasmen) mempunyai ketentuan jika jumlah rombel
(kelas)  1 sampai 9 maka hanya akan di akui 1 orang wakil kepala sekolah,  jika jumlah rombel 10 sampai 18 maka
akan diakui 2 wakil kepala sekolah, dan apabila jumlah rombel  diatas  19 maka akan diakui 3 orang wakil kepala
sekolah.

2. Tugas Tambahan Wakil Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) mempunyai ketentuan jika jumlah rombel (kelas) 
1 sampai 9 maka hanya akan di akui 1 orang wakil kepala sekolah,  jika jumlah rombel 10 sampai 18 maka akan
diakui 2 wakil kepala sekolah, jika jumlah rombelnya 19-27 maka akan diakui 3 orang wakil kepala sekolah dan 
apabila jumlah rombel  diatas  27 maka akan diakui 4 orang wakil kepala sekolah.

3. Tugas Tambahan Wakil Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mempunyai ketentuan jika jumlah rombel
(kelas)  1 sampai 9 maka hanya akan di akui 1 orang wakil kepala sekolah,  jika jumlah rombel 10 sampai 18 maka
akan diakui 2 wakil kepala sekolah, jika jumlah rombelnya 19-27 maka akan diakui 3 orang wakil kepala sekolah dan 
apabila jumlah rombel  diatas  27 maka akan diakui 4 orang wakil kepala sekolah.

3. Kepala perpustakaan mempunyai ekuivalensi 12 jam tatap muka per minggu

Tugas tambahan sebagai Kepala Perpustakaan akan diperhitungkan setara dengan 12 jam tatap muka per minggu,
tentunya akan sangat membantu bagi rekan guru yang masih mengalami kekurangan jam yang banyak. Syaratnya
harus bisa mengelola Perpustakaan Sekolah/Madrasah dengan baik serta mempunyai kelengkapan administrasi
yang dibutuhkan dan tentunya sesuai dengan kondisi sebenarnya yaitu mempunyai sertifikat pengelola perpustakaan
dari Badan Perpustakaan dan Arsip Nasional dan juga benar-benar ada perpustakaan di sekolah/madrasah tempat
bertugas.

Diakuinya ekuivalensi kepala perpustakaan 12 jam tatap muka karena kepala perpustakaan sendiri mempunyai tugas
dan tanggung jawab yang besar. Adapun tugas dan tanggung jawab kepala sekolah adalah sebagai berikut:

1. Membuat perencanaan pembinaan dan pengembangan perpustakaan pada awal tahun ajaran.

2. Mendayagunakan semua sumber yang ada .

3. Mengadakan koordinasi dan pengawasan terhadap semua kegiatan perpustakaan

4. Mengadakan pembinaan terhadap anggota pustaka

5. Membuat kebijaksanaan-kebijaksanaan tertentu sehubungan dengan pembinaan dan pengembangan


perpustakaan.

6. Melakukan kerjasama dengan perangkat sekolah untuk meningkatkan efesiensi dan efektifitas kegiatan
perpustakaan.

7. Mengadakan penilaian terhadap penyelenggaraan perpustakaan.

8. Mengadakan hubungan kerja sama dengan pihak luar / perpustakaan lain dalam upaya pengembangan
perpustakaan

9. Membuat laporan kegiatan perpustakaan pada akhir tahun ajaran.

Sementara untuk melakukan pelayanan teknis kepala sekolah harus melaksanakan hal-hal berikut ini:

1. Merencanakan dan melakukan pengadaan bahan-bahan pustaka sesuai dengan kebutuhan.

2. Mengiventarisasi bahan-bahan pustaka ke dalam buku induk dan buku iventaris.

3. Mengklasifikasikan bahan-bahan pustaka menurut  sistem klasifikasi tertentu.


4. Mengkatalog dan melabel  buku-buku perpustakaan sekolah

5. Membuat perlengkapan buku (kartu buku, barkot, slip tanggal)

6. Menyusun koleksi/ bahan-bahan pustaka di rak menurut peraturan yang berlaku.

Pelayanan Pembaca/Sirkulasi meliputi:

1. Melayani peminjaman buku-buku

2. Melayani pengembalian buku-buku yang telah dipinjam

3. Memberikan pelayanan bimbingan belajar

4. Mengadakan pembinaan minat baca

5. Memberikan bantuan informasi kepada semua pihak.

6. Menyusun koleksi/ bahan-bahan pustaka menurut peraturan yang berlaku

Apabila terdapat perpustakaan digital di sekolah maka kepala perpustakaan dapat melakukan
Pelayanan Pustaka Maya (digital) seperti langkah berikut ini:

1. Mendukumentasikan bahan ajar (power point), perangkat pembelajaran guru.

2. Mendukumentasikan, PTK guru dan karya tulis siswa yang dikutsertakan dalam lomba

3. Melengkapi Pustaka Maya dengan buku digital, bahan ajar (Materi) berupa bank informasi sesuai dengan
kebutuhan guru.

4. Mempublikasikan karya siswa dan guru, aktifitas sekolah di Web Sekolah

5. Memberikan pelayanan dan bimbingan pada  pemakai Pustaka Maya

6. Menata koleksi pustaka dalam server Pustaka Maya sehingga mudah ditemukan

4. Kepala laboratorium mempunyai ekuivalensi 12 jam tatap muka per minggu

Kepala Laboratorium juga diperhitungkan setara dengan 12 jam tatap muka per minggu. Syarat menjadi kepala
laboratorium di sebuah sekolah maka harus mempunyai sertifikat pengelola laboratorium.

Catatan penting dari kepala laboratorium ini adalah misalnya sekolah mempunyai lebih dari satu Jika anda termasuk
guru yang mempunyai kemampuan mengelola laboratorium baik itu Laboratorium Komputer, Laboratorium IPA,
Bahasa dan yang lainnya sesuai dengan jumlah laboratorium yang dimiliki oleh sekolah. Syarat yang tidak boleh
ditinggalkan adalah sekolah benar-benar mempunyai laboratorium.

Tenaga laboratorium sekolah merupakan salah satu tenaga kependidikan yang sangat diperlukan untuk mendukung
peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah melalui kegiatan laboratorium. Sebagaimana tenaga
kependidikan lainnya, tenaga laboratorium sekolah juga merupakan tenaga fungsional. Oleh karena itu diperlukan
adanya kualifikasi, standar kompetensi dan sertifikasi.Empat kompetensi utama yang harus dipenuhi sebagai
seorang laboran atau teknisi sebagaimana yang tercantum dalam Permen No. 26 tahun 2008 tersebut adalah 1)
Kompetensi Kepribadian; 2) Kompetensi Sosial; 3) Kompetensi Administratif; dan 4). Kompetensi Profesional.

Adapun Kualifikasi kepala laboratorium Sekolah/Madrasah menurut permendiknas ini adalah sebagai berikut:

a. Jalur guru

1.Pendidikan minimal sarjana (S1);

2.Berpengalaman minimal 3 tahun sebagai pengelola praktikum;


3.Memiliki sertifikat kepala laboratorium sekolah/madrasah dari perguruan tinggi atau lembaga lain yang ditetapkan
oleh pemerintah.

b. Jalur laboran/teknisi

1.Pendidikan minimal diploma tiga (D3);

2.Berpengalaman minimal 5 tahun sebagai laboran atau teknisi;

3.Memiliki sertifikat kepala laboratorium sekolah/madrasah dari perguruan tinggi atau lembaga lain yang ditetapkan
oleh pemerintah.

Sementara itu Kualifikasi teknisi laboratorium sekolah/madrasah adalah sebagai berikut:

1. Minimal lulusan program diploma dua (D2) yang relevan dengan peralatan laboratorium, yang diselenggarakan
oleh perguruan tinggi yang ditetapkan oleh pemerintah;

2. Memiliki sertifikat teknisi laboratorium sekolah/madrasah dari perguruan tinggi atau lembaga lain yang ditetapkan
oleh pemerintah

Sedangkan Kualifikasi laboran sekolah/madrasah adalah sebagai berikut:

1.Minimal lulusan program diploma satu (D1) yang relevan dengan jenis laboratorium, yang diselenggarakan oleh
perguruan tinggi yang ditetapkan oleh pemerintah;

2.Memiliki sertifikat laboran sekolah/madrasah dari perguruan tinggi yang ditetapkan oleh pemerintah.

5. Kepala bengkel mempunyai ekuivalensi 12 jam tatap muka per minggu

Kepala bengkel pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mempunyai ekuivalensi 12 jam karena
mempunyai uraian tugas sebagai berikut:

a.Membantu kepala program dalam membuat program kerja jurusan

b.Membantu kepala program dalam mengembangkan kurikulum dijurusan

c.Membuat layout bengkel dan menata peralatan / bahan dibengkel

d.Membuat daftar invertaris peralatan dan bahan yang ada dijurusan

e.Menjaga kebersihan bengkel dan lingkungannya

f.Menjaga keamanan dan kenyamanan dibengkel dan jurusan

g.menjaga kondisi ruangan dan peralatan / bahan / alat praktik yang ada dijurusan

h.Membantu kelancaran kegiatan KBM dibengkel bekerjasama dengan guru bersangkutan

i.Menggantikan (menginval) guru atau memberi tugas kepada siswa apabila ada guru yang tidak masuk (izin)

j.Memelihara dan memeriksa serta memperbaiki peralatan/bahan/alat dibengkel atau jurusan secara berkala

k.Membuat daftar hadir harian guru dijurusan dan rekapnya tiap bulan

Dari uraian tugas kepala bengkel diatas yang harus di selesaikan setiap minggu, maka sudah sesuai apabila kepala
bengkel SMK diakui ekuivalen dengan 12 jam tatap muka perminggu sehingga guru yang bersangkutan hanya
membutuhkan waktu 12 jam mengajar di kelas.

6. Pembina asrama pada sekolah inklusi mempunyai ekuivalensi 12 jam tatap muka per minggu.

Pada Pendidikan Khusus dan dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) yang mempunyai pembimbingan khusus
pada satuan pendidikan yang bersangkutan menyelenggarakan pendidikan inklusi atau pendidikan terpadu yang
mempunyai pembina asrama maka tugas tambahan guru sebagai pembina asrama mempunyai ekuivalensi 12 jam
tatap muka per minggu. Adapun tugas pokok pembina asrama adalah sebagai berikut:

a. Mengkoordinir penyusunan rencana kegiatan pembinaan penghuni asrama dan tata-tertib / peraturan asrama.

b. Mengawasi pelaksanaan kegiatan pembinaan penghuni asrama dan tata-tertib / peraturan asrama.

c. Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan pembinaan penghuni asrama dan tata-tertib / peraturan asrama.

Bagi sekolah yang meyelenggarakan pendidikan inklusi maka tugas tambahan sebagai pembina asrama di akui
ekuivalen dengan 12 jam tatap muka per minggu.

7. Wali Kelas mempunyai ekuvalensi 2 jam tatap muka per minggu

Berdasarkan Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018, pasal 6 ayat 4 berbunyi” Tugas tambahan lain sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat diekuivalensikan secara kumulatif dengan paling banyak 6 (enam) jam Tatap Muka per
minggu bagi Guru mata pelajaran. “

Adapun ayat 1 dari pasal 6 Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 tersebut berbunyi “Tugas tambahan lain sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (7) huruf f meliputi: a. wali kelas; b. pembina Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS); c. pembina
ekstrakurikuler; d. koordinator Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)/Penilaian Kinerja Guru (PKG) atau
koordinator Bursa Kerja Khusus (BKK) pada SMK;  e. Guru piket; f. ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP-
P1); g. penilai kinerja Guru;  h. pengurus organisasi/asosiasi profesi Guru; dan/atau i. tutor pada pendidikan jarak jauh
pendidikan dasar dan pendidikan menengah”

Sahabat laman24 yang budiman! Tugas tambahan guru sebagai wali kelas walaupun dinyatakan pada pasal 6 ayat 4
tersebut diekuivalensikan secara kumulatif  paling banyak 6 jam tatap muka, tetapi wali kelas hanya di akui ekuvalen
dengan 2 jam tatap muka.

Adapun tugas wali kelas secara umum adalah sebagai berikut: Wali Kelas adalah Guru yang membantu Kepala
Sekolah untuk membimbing siswa dalam mewujudkan disiplin kelas, sebagai manajer dan motivator untuk
membangkitkan gairah /minat siswa  untuk beprestasi di kelas. Tugas pokok dan fungsi wali kelas sebagai berikut :

1. Pengelola kelas.

2. Mengenal dan memahami situasi kelasnya.

3. Menyelenggarakan Administrasikan kelas meliputi :

a.Denah  tempat duduk siswa.

b.Papan Absen siswa.

c.Daftar Pelajaran di kelas.

d.Daftar Piket Kelas.

e.Struktur Organisasi Pengurus Kelas.

f.Tata Tertib siswa di kelas.

g.Buku Kemajuan Belajar.

h.Buku Mutasi Kelas.

i.Buku Peta Kelas.

j.Buku Inventaris barang-barang di kelas.

k.Buku Bimbingan kelas/ kasus siswa.

l.Buku Rapor.
m.Buku Daftar Siswa Berprestai di kelas.

4. Memberikan motivasi kepada siswa agar belajar sungguh-sungguh baik di sekolah maupun di luar sekolah.

5. Memantapkan siswa di kelasnya, dalam melaksanakan tatakrama, sopan santun, tata tertib baik di sekolah
maupun di luar sekolah.
BACA JUGA

 KABAR TERBARU JADWAL PENCAIRAN Gaji ke-13 PNS, Anggota TNI/Polri, Langsung dari Menteri Keuangan
 Kabar Gembira untuk Guru! Rupanya Tak Semua Tunjangan Profesi Distop, Anda Masuk yang Dikecualikan?

 Daftar Tunjangan Profesi Guru yang Dihentikan Mendikbud Nadiem Makarim, Ini Aturan Resminya

BACA JUGA

Pelajar Indonesia temukan cara pulihkan diabetes secara permanen!


Herbal Glucoactive

Rasa sakit di persendian anda akan hilang selamanya


Artropant
Kembalikan penglihatan 100% tanpa operasi!
Bioseefit

Cara menghilangkan papiloma secara alamiah (3 hari)


Intoxic
5. Menangani / mengatasi hambatan dan gangguan terhadap kelancaran kegiatan kelas dan atau kegiatan sekolah
pada umumnya.

6. Mengerahkan siswa di kelasnya untuk mengikuti egiatan-kegiatan sekolah seperti: upacara bendera, ceramah,
pertandingan dan kegiatan lainnya.

7. Membimbing siswa kelasnya dalam melaksanakan kegiatan Ekstrakurikuler (Peran serta kelas dalam hal
pengajuan calon pengurus OSIS, pemilihan ketua kelas, pemilihan siswa berprestasi, acara kelas, dll).

8. Melakukan home visit (kunjungan ke rumah/oang tua) atau keluarganya.

9. Memberikan masukan dalam penentuan kenaikan kelas bagi siswa di kelasnya.

10. Mengisi / membagikan Buku Laporan Pendidikan (Rapor) kepada Wali siswa.

11.Mengajukan saran dan usul kepada pimpinan sekolah mengenai siswa yang menjadi bimbingannya.

12.Mengarahkan siswa agar peduli dengan kebersihan dan peduli dengan lingkungannya

13.Membuat Laporan tertulis secara rutin setiap bulan.

8. Pembina Pramuka mempunyai ekuivalensi 2 jam tatap muka per minggu

Dalam kurikulum 2013 ditegaskan bahwa pembina Pramuka merupakan tugas tambahan guru yang mempunyai
ekuivalensi 2 jam tatap muka per minggu. Dengan ketetapan bila mempunyai 1 s. d 6 rombel mempunyai 1 pembina,
bila 7 s. d 12 rombel mempunyai 2 pembina, bila 13 s. d 18 rombel mempunyai 3 pembina apabila 19 lebih jadi 4
pembina.

Ketentuan untuk menjadi pembina pramuka adalah:

1. Telah mengikuti pendidikan pelatihan Pembina, sedikitnya telah dapat menyelesaikan “Kursus Pembina Pramuka
Mahir Tingkat dasar”.

2. Memiliki Surat Hak Bekerja atau Surat Hak Bina yang dikeluarkan oleh Kwartirnya melalui usulan gugusdepannya.

3. Dapat menjadi teladan bagi peserta didiknya, maupun masyarakat lingkungannya.

4. Memahami dan menerapkan AD & ART Gerakan Pramuka.

5. Memahami dan menerapkan Struktur Organisasi Gerakan Pramuka.

6. Memahami dan menerapkan Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan.

7. Memahami tentang anggota Gerakan Pramuka dan program pendididikan anggota muda, serta anggota dewasa
muda.

8. Memahami dan menerapkan tentang cara mengelola gugusdepan dan satuan secara umum.

9. Memahami dan menerapkan bagaimana cara membina Siaga, Penggalang, Penegak atau Pandega yang baik.

10.Memahami dan menerapkan berbagai upacara Siaga, Penggalang, Penegak atau Pandega.

11.Mengetahui, memahami dan dapat menerapkan cara membentuk dan menyelenggarakan kegiatan forum Siaga,
Penggalang, Penegak atau Pandega.

12.Memahami dan menerapkan seluk-beluk SKU/TKU; SKK/TKK untuk Siaga, Penggalang, Penegak atau Pandega,
serta paham cara mengujinya.

13.Memahami dan menerapkan berbagai keterampilan dasar dan keterampilan lanjutan mengenai ”latihan dan teknik
kepramukaan” untuk golongan Siaga, Penggalang, Penegak atau Pandega yang diampunya/dipimpinnya.

14.Memahami dan dapat menerapkan prinsip-prinsip latihan di alam terbuka.

15.Mengetahui, memahami dan menerapkan administrasi regu, satuan dan Gudep.

16.Memahami peran dan fungsi Majelis Pembimbing.

17.Dapat membuat program latihan sepanjang masa baktinya sebagai Pembina Pramuka.

9. Pembina OSIS mempunyai ekuivalensi 2 jam tatap muka per minggu

Tugas tambahan guru sebagai pembina OSIS mempunyai ekuivalensi 2 jam tatap muka per minggu sesuai dengan 
Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 pasal 6 ayat 1 “Tugas tambahan lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (7)
huruf f meliputi: a. wali kelas; b. pembina Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS); c. pembina ekstrakurikuler; d. koordinator
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)/Penilaian Kinerja Guru (PKG) atau koordinator Bursa Kerja Khusus (BKK)
pada SMK;  e. Guru piket; f. ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP-P1); g. penilai kinerja Guru;   h. pengurus
organisasi/asosiasi profesi Guru; dan/atau i. tutor pada pendidikan jarak jauh pendidikan dasar dan pendidikan menengah”

Adapun bunyia pasak 4 ayat 7 Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 adalah sebagai berikut: “Tugas tambahan yang
melekat pada pelaksanaan tugas pokok sesuai dengan beban kerja Guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf e
meliputi: a. wakil kepala satuan pendidikan; b. ketua program keahlian satuan pendidikan; c. kepala perpustakaan satuan
pendidikan; d. kepala laboratorium, bengkel, atau unit produksi/ teaching factory satuan pendidikan; e. pembimbing khusus
pada satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan inklusif atau pendidikan terpadu; atau f. tugas tambahan selain
sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai dengan huruf e yang terkait dengan pendidikan di satuan pendidikan”

10. Pembina ekstra kurikuler mempunyai ekuivalensi 2 jam tatap muka per minggu
Tugas tambahan guru sebagai pembina ekstra kurikuler mempunyai ekuivalensi 2 jam tatap muka per minggu sesuai
dengan  Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 pasal 6 ayat 1 “Tugas tambahan lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal
4 ayat (7) huruf f meliputi: a. wali kelas; b. pembina Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS); c. pembina ekstrakurikuler; d.
koordinator Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)/Penilaian Kinerja Guru (PKG) atau koordinator Bursa Kerja
Khusus (BKK) pada SMK;  e. Guru piket; f. ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP-P1); g. penilai kinerja
Guru;  h. pengurus organisasi/asosiasi profesi Guru; dan/atau i. tutor pada pendidikan jarak jauh pendidikan dasar dan
pendidikan menengah”

Di setiap sekolah biasanya ada sederet daftar kegiatan tambahan ekstrakuriluler atau yang disingkat dengan sebutan
ekskul yang diizinkan sekolah dengan siswa sekolah atau mahasiswa perguruan tinggi tersebut sebagai anggotanya.
Manfaat, fungsi dan tujuan diadakannya kegiatan ekskul baik di sekolah maupun di kampus adalah sebagai wadah
penyaluran hobi, minat dan bakat para siswa / mahasiswa secara positif yang dapat mengasah kemampuan, daya
kreativitas, jiwa sportivitas, meningkatkan raa percaya diri, dan lain sebagainya.

Akan lebih baik lagi apabila mampu memberikan prestasi yang gemilang di luar sekolah sehingga dapat
mengharumkan nama sekolah atau kampus kita. Walaupun secara akademis nilai dari ekstrakurikuler tidak masuk
secara langsung ke nilai rapot, namun kegunaannya jauh lebih bermanfaat daripada tidak melakukan banyak hal di
luar jam belajar.

11. Koordinator PPKB/PKG/BKK mempunyai ekuivalensi  2 jam tatap muka per minggu.

Tugas tambahan guru sebagai koordinator PPKB/PKG/BKK pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mempunyai
ekuivalensi 2 jam tatap muka per minggu sesuai dengan  Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 pasal 6 ayat
1 “Tugas tambahan lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (7) huruf f meliputi: a. wali kelas; b. pembina Organisasi
Siswa Intra Sekolah (OSIS); c. pembina ekstrakurikuler; d. koordinator Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
(PKB)/Penilaian Kinerja Guru (PKG) atau koordinator Bursa Kerja Khusus (BKK) pada SMK;  e. Guru piket; f. ketua Lembaga
Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP-P1); g. penilai kinerja Guru;  h. pengurus organisasi/asosiasi profesi Guru; dan/atau i.
tutor pada pendidikan jarak jauh pendidikan dasar dan pendidikan menengah”

12. Penilai Kinerja Guru (PKG) mempunyai ekuivalensi 2 jam tatap muka per minggu

Tugas tambahan guru sebagai penilai kinerja guru (PKG) mempunyai ekuivalensi 2 jam tatap muka per minggu
sesuai dengan  Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 pasal 6 ayat 1 “Tugas tambahan lain sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (7) huruf f meliputi: a. wali kelas; b. pembina Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS); c. pembina
ekstrakurikuler; d. koordinator Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)/Penilaian Kinerja Guru (PKG) atau
koordinator Bursa Kerja Khusus (BKK) pada SMK;  e. Guru piket; f. ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP-
P1); g. penilai kinerja Guru;  h. pengurus organisasi/asosiasi profesi Guru; dan/atau i. tutor pada pendidikan jarak jauh
pendidikan dasar dan pendidikan menengah”

13. Ketua lembaga sertifikasi profesi pihak pertama (LPS-P1) mempunyai ekuivalensi 1 jam tatap muka per
minggu.

Tugas tambahan guru sebagai ketua lembaga sertifikasi profesi pihak pertama (LPS-P1) pada Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) mempunyai ekuivalensi 2 jam tatap muka per minggu sesuai dengan  Permendikbud Nomor 15
Tahun 2018 pasal 6 ayat 1 “Tugas tambahan lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (7) huruf f meliputi: a. wali
kelas; b. pembina Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS); c. pembina ekstrakurikuler; d. koordinator Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan (PKB)/Penilaian Kinerja Guru (PKG) atau koordinator Bursa Kerja Khusus (BKK) pada SMK;   e.
Guru piket; f. ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP-P1); g. penilai kinerja Guru;   h. pengurus
organisasi/asosiasi profesi Guru; dan/atau i. tutor pada pendidikan jarak jauh pendidikan dasar dan pendidikan menengah”

14. Pengurus organisasi/asosiasi profesi guru, tingkat nasional 3 jam, provinsi 2 jam dan kab/kota 1 jam

Tugas tambahan guru sebagai pengurus organisasi/asosiasi profesi guru, tingkat nasional 3 jam, provinsi 2 jam dan
kab/kota 1 jam sesuai dengan  Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 pasal 6 ayat 1 “Tugas tambahan lain
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (7) huruf f meliputi: a. wali kelas; b. pembina Organisasi Siswa Intra Sekolah
(OSIS); c. pembina ekstrakurikuler; d. koordinator Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)/Penilaian Kinerja Guru
(PKG) atau koordinator Bursa Kerja Khusus (BKK) pada SMK;  e. Guru piket; f. ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak
Pertama (LSP-P1); g. penilai kinerja Guru;  h. pengurus organisasi/asosiasi profesi Guru; dan/atau i. tutor pada pendidikan
jarak jauh pendidikan dasar dan pendidikan menengah”.

Dalam pelaksanaanya ada beberapa kendala seiring dengan dikeluarkan nya Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018.
Aplikasi Data Pokok Pendidikan Dasar dan Menengah (Dapodikdasmen) terkadang belum di upgrade dan
disesuaikan dengan Permendikbud terbaru, sehingga operator sekolah dan juga guru mata pelajaran kebingungan
untuk memasukkan tugas tambahan tersebut agar di akui sebagai ekuivalensi jumlah jam tatap muka

Anda mungkin juga menyukai