LAPORAN RESMI
PEMBUATAN TABLET SECARA KEMPA LANGSUNG
Disusun oleh :
Hanifah Nur Aini Irianto
(19484011014)
LABORATORIUM TERPADU II
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SAMARINDA
TAHUN AJARAN 2020/2021
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Aspirin yang memiliki titik lebur 141o C – 143o C (Depkes RI, 1979), dicetak
menjadi tablet dengan metode kempa langsung. Hal ini disebabkan karena
Aspirin memiliki sifat stabil dalam udara kering, mudah terhidrolisis menjadi asam
asetat dan asam salisilat jika dalam keadaan lembab dan Aspirin memiliki sifat
tidak tahan terhadap pemanasan (Depkes RI, 1995). Aspirin juga memiliki
fluiditas dan kompresibilitas yang baik (Wang, 2003).
Metode kempa langsung didefinisikan sebagai proses pembuatan tablet
dengan langsung mengempa campuran serbuk (zat aktif dan eksipien), dan tidak
ada proses sebelumnya kecuali penimbangan dan pencampuran. Material yang
dapat dikempa langsung hanya material yang mempunyai sifat alir dan
kompresibilitas yang baik (Sulaiman, 2007). Bahan pengisi yang dapat
digunakan untuk kempa langsung disebut dengan filler-binders.
Filler-binders adalah bahan pengisi yang sekaligus memiliki kemampuan
meningkatkan daya alir dan kompaktibilitas massa tablet. Persyaratan suatu
material dapat berfungsi sebagai filler-binders adalah mempunyai fluiditas dan
kompaktibilitas yang baik. Material yang mempunyai sifat demikian biasanya
mempunyai ukuran partikel yang relatif besar (bukan fines) dengan bentuk yang
sferis (Sulaiman, 2007). Microcrystalline cellulose sering disebut Avicel,
merupakan suatu zat yang dapat dicetak langsung. Avicel memiliki sifat
kompresibilitas yang sangat baik, daya alirnya cukup baik dan dapat
meningkatkan / mempercepat waktu hancur tablet (Sulaiman, 2007). Oleh
karena itu, dilakukan praktikum membuat tablet asetosal dengan bahan pengisi
Avicel menggunakan meted kempa langsung
B. Tujuan
a. Mahasiswa dapat membuat sediaan tablet dengan metode cetak langsung
beserta evaluasinya.
b. Mahasisa mengetahui dan memahami pengaruh eksipien terhadap
karakteristik fisik tablet.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
TABLET
Tablet dapat didefinisikan sebagai bentuk sediaan solid yang
mengandung satu atau lebih zat aktif dengan atau tanpa berbagai eksipien
(yang meningkatkan mutu sediaan tablet, kelancaran sifat aliran bebas, sifat
kohesivitas, kecepatan desintegrasi, dan sifat anti lekat) dan dibuat dengan
mengempa campuran serbuk dalam mesin tablet ( Siregar dan Wikarsa, 2010).
Definisi kedua dari tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan
atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan, dapat digolongkan
sebagai tablet cetak dan tablet kempa. Sebagian besar tablet dibuat dengan
cara pengempaan dan merupakan bentuk sediaan yang paling banyak
digunakan. Tablet kempa dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada
serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. Tablet dapat dibuat dalam
berbagai ukuran, bentuk dan penandaan permukaan tergantung pada desain
cetakan (Depkes, 1995).
Metode kempa langsung yaitu pembuatan tablet dengan mengempa
langsung campuran zat aktif dan eksipien kering tanpa melalui perlakuan awal
terlebih dahulu. Metode ini merupakan metode yang paling mudah, praktis dan
cepat pengerjaannya. Namun, hanya dapat digunakan pada kondisi zat aktif
yang kecil dosisnya dan zat aktif yang tidak tahan terhadap panas dan lembab. (
Chaerunnissa, dkk.2009 )
Keuntungan Metode Kempa Langsung :
a. Lebih singkat prosesnya, karena proses yang dilakukan lebih sedikit, maka
waktu yang diperlukan untuk menggunakan metode ini lebih singkat, tenaga
dan mesin yang dipergunakan juga sedikit.
b. Dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan tidak tahan
lembab.
c. Waktu hancur dan disolusinya lebih baik karena tidak melewati proses granul,
tetapi langsung menjadi partikel, tablet kempa langsung berisi partikel halus,
sehingga tidak melaului proses dari granul ke partikel halus terlebih dahulu.
( Syamsuni, 2006 )
Kerugian Metode Kempa Langsung :
a. Perbedaan ukuran partikel dan kerapatan bulk antara zat aktif dengan pengisi
dapat seragamnya kandungan zat aktif didalam tablet.
b. Zat aktif dengan dosis yang besar tidak mudah untuk dikempa langsung
karena itu biasanya digunakan 30% dari formula agar memudahkan proses
pengempaan sehingga yang dibutuhkan pun makin banyak dan mahal.
c. Sulit dalam pemilihan eksipien karena eksipien yang digunakan harus bersifat
mudah mengalir, kompresibilitas yang baik, kohesifitas yang baik dan
adhesifitas yang baik.
BAB III
STUDI PRAFORMULASI
A. Formulasi
Bahan Jumlah
Acetosal 100 mg
Explotab 2.5%
Avicel 102 Qs
Mg Stearat 1%
Talk 2%
Aerosil 0.5%
B. Uraian Bahan
1. Acetosal
a. Nama latin : ACIDUM ACETYLSALICYLICUM
b. Nama lain : Asam asetilsalisilat
c. RM/BM : 180,158 g/mol
d. Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau
atau hamper tidak berbau, rasa asam
e. Kelarutan : agak sukar larut dalam air, mudah arut dalam etanol (95%) p,
larut dalam kloroform p dan dalam eter p
f. Khasiat : analgetikum(anti nyeri), antipiretikum (menurunkan deman)
2. Explotab
a. Nama latin :
b. Nama lain : Sodium starch glycolat
c. Pemerian : berwarna putih tidak berbau, tidak berasa sebagai salah satu
merk dagang natrium amilum glicolate: Explotab
d. Khasiat : Penggunaannya dalam pembuatan tablet sebagai bahan
penghancur yang lebih murah dari karboksimetilselulosa, digunakan
dengan konsentrasi rendah yaitu 1-8 % dilaporkan 4 % optimum (Banker
and Anderson, 1994).
3. Avicel 102
a. Nama lain : Avicel PH 102 (mikrokristalin selulosa)
b. BJ : 500.000-11.000.000
c. Pemerian : selulosa yang terdepolimerasi parsial berwarna putih, tidak
berasa, tidak berbau, serbuk kristal yang terdiri atas partikel porous, tidak
larut dalam asam encer dan sebagian pelarut organik (Rowe dkk, 2006).
d. Khasiat : sebagai bahan pengisi
4. Mg stearate
a. Nama latin : MAGNESII STEARAS
b. Nama lain : magnesium stearate
c. RM/BM : 591,27 g/mol
d. Pemerian : serbuk halus, putih, licin dan mudah melekat pada kulit,
bau khas
e. Kelarut an : praktis tidak larut dalam air, dalam etanol (95%) p,
dan eter p
f. Khasiat : bahan pelicin
5. Talk
a. Nama latin :TALCUM
b. Nama lain : talk
c. RM/BM : 2,5-2,8 g/mol
d. Pemerian : sebuk hablur, sangat halus licin, mudah melekat pada kulit,
bebas dari butiran, warna putih atau putih kelabu
e. Kelarutan : tidak larut dalam hamper semua pelarut
f. Khasiat : bahan pelicin
6. Aerosil
a. Nama Latin : COLLOIDAL SILICON DIAXIDE
b. Nama Lain : Aerosil
c. BJ : 0,0 29-0,042 g/ml
d. Pemerian : Terhidrat sebagian, amorf, terdapat dalam bentuk granul
seperti kaca dengan berbagai ukuran
e. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam solven organik, air dan asam,
kecuali HCL, Larut dalam larutan panas alkali hidroksida. Membentuk
dispersi koloid dengan air. Untuk aerosil kelarutan dalam air 150 mg / l
f. Khasiat : bahan pelincir
BAB VI
PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN BAHAN
Bobot satu tablet @200 mg, 200 mg x 250 tab = 50 g
1. Acetosal = 100 mg x 250 tab = 25000 mg / 25 g
2. Explotab 2.5% = 2.5/100 x 50 g = 1.25 g
3. Mg Stearat 1% = 1/100 x 50 g = 0.5 g
4. Talk 2% = 2/100 x 50 g = 1 g
5. Aerosil 0.5% = 0.5/100 x 50 g = 0.25 g
6. Avicel 102 = 50 g – (25+1.25+0.5+1+0.25) g
= 50 g – 28 g
= 22 g
BAB V
PROSEDUR PEMBUATAN
Ditimbang semua bahan sesuai dengan
formula
Asetosal ditambahkan dengan Avicel 102, Explotab, Aerosil aduk ad homogen
selama 15 menit, ayak melalui ayakan mesh 40
Tambahkan Talkum dan Mg. Stearat melalui ayakan mesh 40, aduk homogen
5 menit
Lakukan evaluasi terhadap campuran massa 3, meliputi uji aliran granul dan uji
kompresibitas ( Bulk Density )
Cetak dengan mesin tablet, dengan bobot tablet 200 mg dan diameter
10 mm
Lalu tambahkan talkum 0,75gram , mg. Stearat 0,5 gram dan zat
warna 0,05gram melalui ayakan mesh 40 aduk ad homogen
selama 5 menit.
Lakukan evaluasi tablet meliputi uji kekerasan, kerenyahan,
waktu hancur, dan keseragaman ukuran.
Buat desain kemasan tablet
EVALUASI
A. EVALUASI GRANUL
1. Kadar Lembab
Kadar lembab yang terlalu rendah meningkatkan terjadinya capping dan
laminasi ,sedangkan kandungan lembab yang terlalu tinggi meningkatkan
terjadinya penempelan pada dinding die sehingga tablet menjadi gumpil.
Alat :
Cawan / kaca arloji
Oven / lemari pengering
Cara:
Timbang seksama 5,0 gram granul, panaskan dalam lemari pengering
sampai bobot konstan (105 C ) selama 2 jam
Perhitungan:
% MC = W0 - W1 x 100%
W0
MC = Moisture content, kandungan lembab
W0 =bobot granul awal
W1 = bobot granul setelah pengeringan
Persyaratan : 2 – 4 %
Untuk granul effervescent, kadar lembab yang baik memiliki kandungan
lembab 0,4 – 0,7%
Data yang di dapat
W0 = g
W1 = g
% lembab = g- g x 100%
g
% lembab = %
2. Sifat alir
Untuk mendapatkan sifat alir yang baik maka bahan harus mempunyai
bentuk yang samadan memiliki kontak antar partikel yang kecil. Pengukuran
sifat alirdapat dengan metode langsung, yaitu mengukur kecepatan air granul
dan metode sudut diam/ sudut baring. Kecepatan air merupakan hal yang
sangant berpengaruh terhadap keseragaman bobot tablet yang dihasilkan.
Alat :
Corong alat uji waktu alir (metode langsung)
Stopwatch
Cara :
Timbang 25,0 gram granul yang ditempat kan pada corong alat uji waktu alir
dalam keadaan tertutup, penutupnya biarkan granul mengalir, catat
waktunya, lalukan 3 kali.
Persyaratan :
100 g granul waktu alirnya lebih dari 10 detik
Data yang didapat
Waktu yang didapat
Percobaan Ke Berat Granul ( g ) (detik)
1
2
3
Rata – rata
3. Uji sudut diam
Uji sudut diam merupakan salah satu metode untuk mengevaluasi fluiditas
granul secara tidak langsung, menggunakan alat silinder tetap dengan
penyangga dengan cara memasukkan sejumlah granul kedalam silinder
dalam keadaan lubang bagian bawah ditutup kemudian setelah pengisian
selesai penutup dibuka dan granul dibiarkan mengalir. Sudut diam yang
diukur merupakan tinggi gundukan granul yang terdapat diatas penyangga
dibagi dengan diameter penyangga.
Nilai sudut diam dapat menggambarkan seberapa baik fluiditas granul
yang diukur, dimana jika granul memiliki fluiditas yang kurang baik maka akan
sulit mengalir melalui lubang di bagian dasar silinder sehingga akan
membentuk gundukan tinggi di atas penyangga. Sebaliknya jika granul
memiliki fluiditas baik akan lebih mudah mengalir melalui lubang silinder
sehingga gundukan yang tersisa diatas penyangga tidak terlalu banyak.
Data yang didapat :
Tg α = h/r ( Lachmaned III hal 615 )
h = gundukan tinggi
d = diameter
A (angle of repose ) Tipealiran
<25 Excellent
25 – 30 Good
30 – 40 Passable
>40 Very poor
4. Kompresibilitas
Kompresibilitas merupakan salah satu factor penting dalam menentukan
kemampuan granulat untuk menjadi bentuk lebih stabil
Jika mendapat tekanan, dan akhirnya menjadi massa yang kompak dan
stabil. Kompresibilitas juga berhubungan dengan sifat alir granul.
Alat :
Jouling volumenter
Cara :
Timbang seksama 20.0 gram granul
Masukan kedalam gelas ukur dari alat joulimg volumeter
Catat volume awal (ml)
Hitung 100 ketukan. Catat volumenya sampai volume konstan
Perhitungan :
V0 -Vn
Kp = x 100%
V0
Kp = % pemampatan/ kompresibilitas bobot granul awal
V0 = Volume Awal
Vn = Volume pada jumlah tiap ketukan
Persyaratan :
Jika Kp (%Pemampatan) kurang dari 20% keteraturan fabrikasi akan
tercapai.
Data yang didapat :
ΣKetukan V0 (ml) Vn (ml)
10 ketukan
50 ketukan
100 ketukan
200 ketukan
V0 -Vn
Kp = x 100%
V0
Kp = %.
B. EVALUASI TABLET
1. Keseragaman Bobot
Bobot tablet diatur untuk mengontrol kualitas dari granulat yang ekuivalen
dengan dosis pemberian atau takaran suatu bahan aktif. Penyimpangan dari
bobot tablet akan sangat mempengaruhi dosis obat untuk mencapai tujuan
terapi yang diharapkan.
Alat:
Timbangan
Cara:
Timbang 20 tablet, dihitung bobot rata-rata tiap tablet. Jika ditimbang satu-
persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang menyimpang dari bobot rata-rata
lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A dan tidak boleh 1 tablet pun
yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari harga dalam kolom
B. Jika perlu dapat digunakan 10 tablet dan tidak ada 1 tablet yang bobotnya
menyimpang dari bobot rata-rata yang ditetapkan dalam kolom A dan B.
Penyimpangan Bobot Rata-rata (%)
Bobot Rata-rata A B
25 mg atau kurang 15 30
26 mg – 150 mg 10 20
151 mg – 300 mg 7,5 15
Lebih dari 300 mg 5 10
Data yang didapat
Penimbangan 20 tablet = mg
Bobot rata-rata 1 tablet= mg
Penimbangan kembali satu-persatu tablet
Tablet Ke Berat (mg) Tablet Ke Berat (mg)
1 11
2 12
3 13
4 14
5 15
6 16
7 17
8 18
9 19
10 20
A % penyimpangan dari bobot rata-rata =
B % penyimpangan dari bobot rata-rata =
2. Keseragaman Ukuran
Ketebalan tablet yang diinginkan tergantung pada volume dan berat bahan
yang diisikan dan juga pada garis tengah cetakan dan tekanan pada bahan
yang diisikan selama proses kompresi. Keseragaman ukuran digunakan
untuk tujuan estetika.
Alat:
Jangka Sorong
Cara:
Menggunakan 20 tablet, ukur diameter dan ketebalannya menggunakan
jangka sorong. Hitung rata-rata dan SD nya.
Persyaratan:
Kecuali dinyatakan lain, diameter tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari
4/3 kali tebal tablet.
Tebal tablet pada umumnya tidak lebih besar dari 50% diameter.
Data yang didapat
Tablet Ke Diameter (mm) Ketebalan (mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Rata-rata
Range: Range:
3. Kekerasan
Tablet harus mempunyai kekuatan atau kekerasan tertentu agar dapat
bertahan terhadap berbagai guncangan mekanik saat manifacturing,
packaging dan shipping.
Alat:
Pengukur Kekerasan
Cara:
Ambil 20 tablet ukur kekerasan menggunakan alat ukur kekerasan. Hitung
rata-rata dan SD nya.
Persyaratan:
Ukuran yang didapat per tablet minimal 4 kg/cm 2, maksimal 10 kg/cm2.
Data yang didapat
Tablet Ke Ukuran yang didapat (kg/cm2)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Rata-rata
Range:
4. Friabilitas (Kerenyahan)
Merupakan cara untuk menguji kerapuhan tablet terhadap bantingan atau
gesekan selama waktu tertentu.
Alat:
Fribilator
Cara:
Ambil 20 tablet, bersihkan dari serbuk halus, timbang. Masukkan ke dalam
alat uji (Fribilator), putar sebanyak 100 putaran. Keluarkan tablet, bersihkan
dari serbuk yang terlepas dan timbang kembali.
Hitung % friabilitas (F)
Perhitungan:
W 0−W 1
F= x 100 %
W0
W0 = Bobot awal W1 = Bobot setelah pengujian
Persyaratan:
Nilai F dinyatakan baik jika < 1%, jika F > 1% maka tablet dapat diperbaiki
dengan meningkatkan/menambah kekerasan tablet.
Data yang didapat
W0 = mg
W1 = mg
F = mg- mg x 100%
mg
5. Waktu Hancur
Uji ini penting dilakukan untuk tablet yang diberikan lewat mulut, kecuali untuk
tablet yang harus dikunyah sebelum ditelan, atau tablet lepas lambat. Sediaan
dinyatakan hancur sempurna, bila sisa sediaan yang tertinggal pada ayakan
(kasa) alat uji merupakan massa lunak yang tidak mempunyai inti yang jelas.
Alat:
Disintegration tester
Cara:
Masukkan masing-masing 1 tablet ke dalam tabung dari alat uji waktu hancur,
masukkan 1 cakram pada tiap tabung dan jalankan alat. Gunakan air sebagai
media dengan suhu 37 ± 2 oC. Semua tablet harus hancur sempurna. Bila 1
atau 2 tablet tidak hancur sempurna, ulangi pengujian dengan 12 tablet
lainnya. Tidak kurang dari 16 dari 18 tablet yang diuji harus sempurna.
Persyaratan:
Kecuali dinyatakan lain semua tablet harus hancur tidak lebih dari 15 menit
untuk tablet yang tidak bersalut dan tidak lebih dari 60 menit untuk tablet salut
selaput.
Data yang didapat
Tablet Ke Waktu hancur (menit ; detik)
1
2
3
4
5
6
Range:
BAB VI
HASIL & KEMASAN
BAB VII
PEMBAHASAN
EVALUASI PENGARUH PENGGUNAAN AMILUM SINGKONG
PREGELATINASI SEBAGAI BAHAN PENGHANCUR TERHADAP SIFAT FISIK
TABLET ASPIRIN
Formulasi
Bahan FI F2 F3 F4 F5 F6
Aspirin 500 500 500 500 500 500
Amylum 32,5 65 97,5 - - -
Singkong
pregelatinasi - - - 32,5 65 97,5
Amilum 108,25 75,7 43,25 108,25 75,75 43,25
Singkong 3,25 5 3,25 3,25 3,25 3,25
Dekstrosa 3,25
Asam Stearat 6 6 6 6 6
(0,5%) 6
Talk (1%)
Keterangan : Konsentrasi amilum singkong pregelatinasi sebagai bahan
penghancur FI (5%), F2 (10%), F3 (15%), dan konsentrasi amilum singkong
F4 (5%), F5 (10%), F6 (15%).
Hasil Uji Sifat Fisik Tablet
Sifat Fisik F1 F2 F3 F4 F5 F6
Waktu alir 4,04±0,12 3,48±0,22 3,31±0,03 4,16±0,0 3,74±0.10 3,52±0,04
granul 0 6 0 5 8 7
(100g/detik
)
Bobot 658,71 657,80 658,14 655,98 653,7 655,39
tablet (mg)
Kerapuhan 0,44±0,03 0,46±0,02 0,52±0,01 0,79±0,0 0,89±0,07 1,02±0,05
(%) 1
Kekerasan 6,4±0,41 5,67±0,17 4,7±0,17 5,96±0,2 5,04±0,28 4,01±0,11
(Kg) 1
Waktu 0,76±0,03 0,58±0,02 0,41±0,03 0,65±0,0 0,40±0,01 0,33±0,04
hancur 6 2
(Menit)
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari uji kecepatan waktu alir diatas diketahui
bahwa keenam formula memenuhi persyaratan dimana setiap 100gr granul
yang diuji mempuyai waktu alir ≤ 10 detik artinya granul pada semua formulasi
menunjukkan sifat alir ang baik. Berdasarkan hasil uji waktu alir pada tabel 2
di atas terlihat bahwa amilum singkong pregelatinasi mempunyai waktu alir
yang lebih cepat dibandingkan amilum singkong. Hal ini berarti, amilum
singkong pregelatinasi menghasilkan sifat alir yang lebih baik (Soebagyo,
1994). Amilum singkong pregelatinasi menyebabkan perubahan ukuran
partikel semakin besar ehingga porositasnya semakin besar maka semakin
kecil kontak antar partikel maka kecepatan alir akan semakin baik.
1. Uji Keseragaman Bobot Tablet
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari uji keseragaman bobot di atas
menunjukkan tidak ada satupun tablet yang bobotnya menyimpang lebih
besar dari 10% dan tidak lebih dari 2 tablet yang bobotnya menyimpang
lebih besar dari 5%. Berarti tablet dari keenam formula telah memenuhi
persyaratan keseragaman bobot dalam Farmakope Indonesia IV.
2. Uji Kekerasan Tablet
Tablet dengan bahan penghancur amilum singkong pregelatinasi memiliki
kekerasan yang lebih besar dibanding dengan tablet yang menggunakan
amilum singkong. Hal ini berarti bahwa amilum singkong pregelatinasi
mempunyai sifat kompresibilitas yang lebih baik (Soebagyo, 1990) karena
kemungkinan amilum singkong pregelatinasi mempunyai daya kohesifitas
yang baik. Gaya kohesif ini akan mempercepat proses konsolidasi,
sehingga saat diberi tekanan pada pencetakan tablet akan menghasilkan
tablet yang keras.
3. Uji Kerapuhan Tablet
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari uji kerapuhan tablet F1, F2, F3, F4,
dan F5 memenuhi persyaratan tetapi untuk F6 tidak memenuhi syarat
dikarenakan lebih dari 1%, hal ini karenatablet yang dihasilkan terlalu
banyak fines sehingga daya ikatnya berkurang maka tablet yang dihasilkan
mudah rapuh.
Berdasarkan hasil kerapuhan pada tabel 2 di atas terlihat bahwa nilai
kerapuhan amilum singkong pregelatinasi lebih rendah di banding amilum
singkong. Hal ini berkaitan juga dengan kekerasan tablet yang dihasilkan.
Formula yang menggunakan amilum singkong pregelatinasi mempunyai
kekerasan yang lebih tinggi dibanding dengan amilum singkong, juga
memberikan kerapuhan yang lebih kecil. Hal ini dikarenakan amilum
singkong pregelatinasi yang membentuk tablet dengan kekerasan lebih
tinggi, tentu lebih kompak dan kekompakan ini akan menyebabkan tablet
tidak mudah rusak akibat perlakuan pengujian
4. Uji Waktu Hancur Tablet
Berdasarkan hasil diatas menunjukkan bahwa keenam formula
memberikan tablet dengan waktu hancur yang memenuhi persyaratan
yaitu kurang dari 15 menit. Amilummempunyai kekuatan pada aksi kapiler
yang akan membentuk suatu cairan yang masuk ke dalam tablet, aksi ini
akan membantu pengembangan dari beberapa komponen yang akan
membantu hancurnya tablet (Voight, 1995).
Berdasarkan pada tabel di atas terlihat bahwa waktu hancur amilum
singkong pregelatinasi lebih lama dibanding amilum singkong.
Kemungkinan, apabila amilum singkong pregelatinasi kontak dengan air
akan mengembang, menghasilkan cairan yang kental akan memperlambat
penetrasi air masuk ke dalam tablet dan akibatnya akan memperlama
waktu hancur tabletnya (soebagyo, 1994).
Dimana mekanisme aksi dari amilum adalah dengan aksi kapiler,
deformasi dan pengembangan ketika kontak dengan air, sehingga dapat
memutuskan ikatan hidrogen yang terbentuk pada saat pengempaan,
amilum akan terdistribusi. Pada seluruh bagian tablet sehingga dapat
membentuk jembatan hidrofil yang kontinyu. Apabila tablet kontak dengan
air, air akan segera diserap dengan cepat oleh tablet melalui jembatan
hidrofil.
BAB VIII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
bahwa Amilum singkong pregelatinasi menghasilkan sifat fisik tablet
(waktu alir granul lebih cepat,kekerasan tablet lebih besar, kerapuhan
tablet lebih kecil dan waktu hancur lebih lama) dibandingkan amilum
singkong.
B. Saran
Lebih berhati-hati saat menggunakan alat
DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Voight, R. 1995. Pelajaran Tekhnologi Farmasi ed ke5. Penerjemah Noerono.
Yogyakarta: UGM Press. Terjemahan dari: Lehrguch Der Pharmazeutischen Technologi
Wade A, Weller J.1994. Hand Book Of Pharmaceutical Excipients. Second
edition. London: American Pharmaceutical Association Society of Great Britain.
Ansel, HC. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Ed ke4.Penerjemah,
Farida. Jakarta : UI press. Terjemahan dari:Introduction to pharmaceutical Dosage
forms