0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
93 tayangan5 halaman

Teori Alienasi Karl Marx dalam Kapitalisme

Teori alienasi atau keterasingan Karl Marx menjelaskan bagaimana sistem kapitalisme memisahkan pekerja dari produksi mereka dan identitas mereka sebagai manusia. Pekerja menjadi asing dari hasil kerja, proses kerja, dan potensi kemanusiaan mereka sendiri akibat eksploitasi oleh kelas kapitalis.

Diunggah oleh

Alma sopacua
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
93 tayangan5 halaman

Teori Alienasi Karl Marx dalam Kapitalisme

Teori alienasi atau keterasingan Karl Marx menjelaskan bagaimana sistem kapitalisme memisahkan pekerja dari produksi mereka dan identitas mereka sebagai manusia. Pekerja menjadi asing dari hasil kerja, proses kerja, dan potensi kemanusiaan mereka sendiri akibat eksploitasi oleh kelas kapitalis.

Diunggah oleh

Alma sopacua
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pengertian. Alienasi dari hasil kerja. Alienasi dari kerja. Alienasi terhadap sesama & diri sendiri.

Tinjauan
kritis

Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx, hlm 87-99

Das Kapital, alienasi dari pemikiran Karl Marx  di latar belakangi adanya kapitalisme yang
mengguncang negara eropa pasca  revolusi Industri. 
Alienasi merupakan upaya mengeluarkan sesuatu dari dirinya yang asing dari realita, apa yang ada
dalam dirinya dan merupakan esensi.
Pengamatan yang dilakukan Karl Marx pertama-tama adalah membagi masyarakat ke dalam dua kelas
yakni borjuis (kelas pengusaha / pemilik modal dan menengah) dan Proletar (Pekerja / Buruh).
Menurut Marx dalam tulisannya “Economi and Philosophic Manuscripts” keterasingan terdiri dari 3
elemen, yakni :
a. keterasingan pekerja dari produksi yang dihasilkannya,
b. keterasingan dari kegiatan produktifnya sehingga kegiatannnya sendiri menjadi suatu kegiatan yang
“terasing” dan sedemikian rupa mengasingkan pekerja tersebut dari dirinya  sendiri,
c. dan terakhir keterasingan manusia dari hakikat jenisnya (species being).[1]

keterasingan sering dilihat sebagai masalah dari kondisi saat ini, terutama pekerja-pekerja yang
melibatkan kerja rutin dan menoton.
Makannya Marx mengklasifikasikan bahwa manusia itu terasing kedalam 4 kelompok ; pertama, para
pekerja di dalam masyarakat kapitalis teralienasi dari aktivitas produktif mereka. Kedua,alienasi dari
produk. Ketiga, pekerja dalam kapitalisme teralienasi dari sesama pekerja.Keempat, keterasingan
pekerja akan potensi kemanusiaan mereka sendiri [2]

Alienasi membawa perbedaan yang sangat antara majikan dan buruh. Keterasingan ekonomi ini
berkaitan dengan bentuk-bentuk dengan keterasingan lainnya. Keterasingan politik berarti bahwa kaum
kaya  harus tuduk kepada kekuasaan negara yang sebenarnya telah terorganisir sedemikian rupa. Jadi
yang sebenarnya terjadi adalah terdapat pula kepentingan-kepentingan ekonomi dalam tubuh
pemerintah pada kapitalisme. Makan untuk menghilangkan keterasingan ini mungkin dapat dilakukan
dengan menghapus pemikiran pribadi.[3]

[1] Berry, David. Pokok-pokok pikiran dalam sosiologi (Jakarta : Rajawali, 1983), hlm. 161

[2] Ibid, hlm 161-169

[3] L. Layendecker. Tata, Perubahan, dan Ketimpangan: Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. (Jakarta: PT. Gramedia,
1983), hlm. 250

http://livescience7.blogspot.co.id/2014/01/konsep-alienasi-karl-marx.html
Alienisasi atau dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan menjadi proses menuju keterasingan, adalah
teori yang dikeluarkan oleh Karl Marx tentang munculnya sebuah keadaan di mana buruh
atau proletar mendapatkan sebuah keadaan yang terasing dari kehidupannya. Ia percaya bahwa
Alienisasi adalah hasil dari eksploitasi Kapitalisme terhadap buruh dengan mengartikanya
sebagai modal.

Keterasingan terjadi jika semakin banyaknya modal terkumpul untuk Kapitalis, dan semakin miskin
pula si Buruh akibat dari hasil eksploitasi si kapitalis. Artinya si kapitalis menimbun banyak harta
yang sebenarnya merupakan nilai lebih barang yang telah diciptakan si buruh. Karena buruh tidak
memiliki kekuasaan untuk menjual barang tersebut seperti layaknya yang dilakukan kapitalis, maka
si kapitalis yang memiliki hak untuk menjual barang tersebutlah yang akan mendapat nilai lebih
tersebut.

Jika nilai lebih ini diakumulasikan dengan apa yang di dapat si buruh -baca gaji-, akan memunculkan
variabel yang berbalik. Dimana si buruh akan menjadi lebih murah atau tak berharga saat nilai lebih
dari barang-barang yang dia buat jauh lebih tinggi dan tidak sepadan dengan nilai yang ia dapat. Hal
tersebut akan memunculkan keadaan yang disebut Karl Marx
sebagai obyektivikasi (Vergebrtandlichung) atau bisa dibilang buruh dijadikan obyek dalam
satuan modal di mata kapitalis, bukan sebagai subyek atau pencipta benda.

Pengendalian kapitalis terhadap apa yang diciptakan buruh dan keadaan sistem kemasyarakatan
yang tidak mendukungnya akan memunculkan sebuah kekuatan eksternal yang memaksanya.
Kekuatan tersebut seakan-akan (bagi buruh) memusuhinya. Artinya, sebagai barang modal milik
kapitalis, buruh tak lain dianggap sebagai budak dan bisa dipakai oleh si kapitalis asal dalam batas-
batas perjanjian atas buruh dan si majikan yang pro-keuntungan si majikan dan bukan perjanjian
yang balanced, sering ini menjadi sebagai perangkap kerja buat si buruh karena buruh yang tak
punya tak punya pilihan lain selain menerima perjanjian tersebut. Dengan kata lain, produk kerja dari
kaum buruh tidak menjadi kepunyaanya dan bersifat eksternal.
https://id.wikipedia.org/wiki/Alienasi
Teori alienasi atau keterasingan, sebagaimana diekspresikan dalam tulisan-tulisan Karl Marx muda
(khususnya dalam Manuskrip 1844), merujuk ke pemisahan hal-hal yang secara alamiah milik
bersama, atau membangun antagonisme di antara hal-hal yang secara pas sudah berada dalam
keselarasan. Dalam penggunaan yang terpenting, konsep itu mengacu ke alienasi sosial seseorang
dari aspek-aspek “hakikat kemanusiaannya” (Gattungswesen, biasanya diterjemahkan
sebagai species-essence atau 'esensi spesis,' atauspecies-being). Marx percaya bahwa alienasi
merupakan hasil sistematik dari kapitalisme.

Empat Jenis Alienasi

Marx mengatribusikan empat jenis alienasi pada buruh di bawah kapitalisme. Pertama, manusia
teralienasi dari alam. Kedua, manusia teralienasi dari dirinya sendiri, dari aktivitasnya sendiri.
Ketiga, manusia teralienasi dari species-being (dari dirinya –being—sebagai anggota dari human-
species). Kempat, manusia teralienasi dari manusia lain. [1]

Di bawah kapitalisme, pekerja dengan sesama pekerja juga terasing, karena manusia lebih
dipandang sebagai komoditi yang bisa diperdagangkan di pasar, ketimbang melihatnya dalam
konteks hubungan sosial. Pekerja terasing dari produk yang dikerjakannya, karena hal ini memang
yang dianggap layak oleh kelas kapitalis, yakni produk itu lepas dari kontrol si pekerja. Terakhir, si
pekerja juga terasing dari tindakan produksi itu sendiri, karena kerja itu menjadi aktivitas yang
tak bermakna, dengan hanya menawarkan sedikit atau tak ada kepuasan sama sekali di
dalamnya.

Kaitannya dengan Kelas

Marx berpandangan, kaum kapitalis dan proletar sama-sama teralienasi, namun masing-masing
mengalami keterasingan (alienasi) mereka dengan cara yang berbeda. Kelas pemilik dan kelas
proletar menyajikan keterasingan-diri manusia yang sama. Namun kelas kapitalis merasa tenteram
dan diperkuat dalam keterasingan-diri ini. Kelas kapitalis mengenali keterasingan itu sebagai
kekuatannya sendiri dan di dalam kekuatan itu terdapat kesamaan eksistensi manusia.
Sebaliknya, kelas proletariat merasa dilenyapkan dalam keterasingan. Mereka melihat dalam
keterasingan itu kondisi ketidakberdayaannya sendiri dan realitas dari sebuah eksistensi yang tidak
manusiawi.
Hal ini –jika menggunakan ekspresi dari Hegel—dalam kehinaan diri tersebut terdapat kemarahan
terhadap kehinaan itu. Yaitu, suatu kemarahan yang digerakkan oleh kontradiksi antara hakikat
kemanusiaan dan kondisi kehidupannya, yang bersifat palsu, pasti dan negasi menyeluruh terhadap
hakikat tersebut.
Di dalam antitesis ini, pemilik properti swasta karena itu adalah sisi konservatif, sedangkan kaum
proletar di sisi destruktif. Dari pihak pemilik properti muncullah tindakan untuk melestarikan antitesis
ini, sedangkan dari kaum proletar muncul tindakan untuk menghancurkannya.
Sebagai penutup, dapat dikatakan bahwa alienasi merupakan proses di mana manusia menjadi
asing terhadap dunia tempat mereka hidup. Konsep alienasi ini juga tertanam secara mendalam
pada semua agama besar serta teori-teori sosial dan politik zaman peradaban.

Referensi:

Boangmanalau, Singkop Boas. 2008. Marx, Dostoievsky, Nietzsche, Menggugat Teodisi & Merekonstruksi
Antropodisi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Kearney, Richard (ed.). 2006. Twentieth-Century Continental Philosophy. Knowledge History of Philosophy Volume
VIII. New York: Routledge.
Goldstein, Laurence. 1990. The Philosopher’s Habitat: An Introduction to Investigations in, and Applications of,
Modern Philosophy. New York: Routledge.
Honderich, Ted. 1995. The Oxford Companion to Philosophy. Oxford/New York: Oxford University Press.
Russell, Bertrand. 1948. History of Western Philosophy and Its Connection with Political and Social Circumstances
from the Earliest Times to the Present Day. London: George Allen and Unwin Ltd.

[1] Lihat Boangmanalau, Singkop Boas. 2008. Marx, Dostoievsky, Nietzsche, Menggugat Teodisi & Merekonstruksi
Antropodisi.Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Hlm. 135.

http://satrioarismunandar6.blogspot.co.id/2009/06/alienasi-manusia-di-bawah-sistem.html

Konsep alienasi atau keterasingan yang lahir dari pemikiran Karl Marx adalah muncul akibat
adanya kapitalisme yang mengguncang Eropapasca revolusi industri. Teori Alienasi Marx
didasarkan pada pengamatannya bahwa di dalam produksi industri yang muncul di bawah
kapitalisme, para buruh tak terhindarkan kehilangan kontrol atas hidup mereka, karena
tidak lagi memiliki kontrol atas pekerjaan mereka. Para pekerja ini tak pernah menjadi
otonom, yakni manusia yang mencoba untuk mandiri mengembangkan diri selalu
terkotakkan oleh kaum borjuis. Karl Marx (1970) memopulerkan istilah ini dalam
karya Economic and Philosophical Manuscripts tahun 1844 sebagai penjelasan atas kondisi
keterasingan seseorang dari sifat sejati kemanusiaan mereka. Sebab, pada dasarnya
manusia adalah makhluk kreatif. Manusia membuat bentuk dari materi atau bahan di mana
mereka mewujudkan jati diri mereka ke dalam apa yang mereka buat. Dalam masyarakat
prakapitalis, manusia menjadi utuh ketika mereka menciptakan barang untuk mereka pakai
sendiri atau mereka pertukarkan secara adil [1].
Namun, di dalam masyarakat kapitalis, karena para pekerja tidak mempunyai keinginan
sendiri akan tetapi karena mereka menjual tenaga mereka, bisa dikatakan bahwa mereka
teralienasi dalam empat hal[2]. Empat dasar yang diusung dalam keterasingan ini
menurut Marx adalah pertama, para pekerja di dalam masyarakat kapitalis teralienasi dari
aktivitas produktif mereka. Para pekerja tidak bekerja sesuai dengan tujuan mereka sebagai
manusia untuk bekerja dan mendapatkan suatu produksi yang berguna untuk mereka, akan
tetapi aktivitas produktif mereka hanya berguna untuk kaum kapitalis. Para borjuis lah yang
menentukan kepada kaum buruh pekerjaan apa yang akan mereka lakukan dan hasilnya
menjadi milik pemegang kapitalis.
Yang kedua adalah alienasi dari produk. Kepentingan pemegang kapitalis benar-benar
dipisahkan dengan para buruhnya. Apabila si buruh bekerja pada majikannya, mereka tetap
harus membayar atas produk yang diproduksinya karena produk merupakan hak milik para
kapitalis. Yang ketiga, pekerja dalam kapitalisme teralienasi dari sesama pekerja.
Kapitalisme melarang para pekerja untuk bekerjasama dengan pekerja lainnya sehingga
mereka tidak saling kenal sekalipun berada di tempat yang berdampingan. Kapitalis
mengadu para pekerja sejauh mana mereka mampu berproduksi. Situasi yang demikian
-permusuhan di kalangan pekerja- akan menguntungkan pihak kapitalis karena para
pekerja akan kembali ke para majikannya dan otomatis keuntungan kembali kepada kaum
kapitalis.

Yang terakhir adalah keterasingan pekerja akan potensi kemanusiaan mereka sendiri,
artinya pekerja dikontrol secara ketat hubungannya dengan manusia lain dan alam
sehingga potensi diri mereka terpuruk. Mereka hanya dicetak untuk menjadi ,mesin
produksi yang hanya menguntungkan kapitalis tanpa memikirkan bagaimana jiwa dan
kualitas pekerja sebagai seorang manusia.

Adanya alienasi pada kapitalisme membuat perbedaan yang sangat kentara antara majikan
dan buruh. Keterasingan ekonomi ini berkaitan dengan bentuk-bentuk dengan keterasingan
lainnya. Keterasingan politik berarti bahwa kaum kaya  harus tuduk kepada kekuasaaan
negara yang sebenarnya telah terorganisir sedemikian rupa. Jadi yang sebenarnya terjadi
adalah terdapat pula kepentingan-kepentingan ekonomi dalam tubuh pemerintah pada
kapitalisme[3].
Keterasingan akan dapat dihilangkan apabila sebab-sebabnya dilenyapkan yaitu
menghapus kepemikikan pribadi. Keterasingan yang telah terjadi merupakan hal yang
muncul akibat dari kapitalisme yang memungkinkan untuk dihilangkan walaupun dalam
jangka waktu tertentu dalam sejarah.

[1]Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2219707-pengertian-alienasi/ diakses
pada 14 Maret 2013 pukul 01.55  WIB
[2] George Ritzer, Douglas J. Gooodman. TEORI SOSIOLOGI. 2009. Bantul: Kreasi Wacana (Hal.
54)
[3] L. Layendecker. Tata, Perubahan, dan Ketimpangan: Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. 1983.
Jakarta: PT. Gramedia (Hal. 250)
https://tutinayati.wordpress.com/2013/03/14/konsep-alienasi-karl-marx/

Anda mungkin juga menyukai