Anda di halaman 1dari 3

Mekanisme akomodasi yaitu mekanisme yang memfokuskan system lensa dari mata,

penting untuk meningkatkan ketajaman mata. Akomodasi terjadi akibat kontraksi atau relaksasi
muskulus siliaris, kontraksi menyebabkan peningkatan system lensa, dan relaksasi menyebabkan
penurunan kekuatan.

Akomodasi lensa diatur oleh mekanisme umpan balik negatif yang secara otomatis
mengatur kekuatan fokal lensa untuk tingkat tajam penglihatan yang paling tinggi. Bila mata
difiksasi pada beberapa objek yang jauh, kemudian difiksasi pada beberapa objek yang dekat,
biasanya lensa akan berakomodasi untuk tajam penglihatan maksimum dalam waktu kurng dari 1
detik. Walaupun mekanisme pengaturan yang sebenarnya yang menimbulkan fokus mata cepat
dan akurat masih tidak jelas, beberapa gambaran mekanisme yang diketahui adalah sebagai
berikut.

Pertama, bila mata sekonyong-konyong mengubah jarak titik fiksasi, lensa selalu
mengubah kekuatannya dalam arah yang sesuai untuk mencapai fokus yang baru. Dengan kata
lain lensa tidak membuat kesalahan dan mengubah kekuatan lensanya pada arah yang salah
dalam usaha untuk mendapatkan fokus.

Kedua, petunjuk lain yang dapat membantu lensa untuk mengubah kekuatan dalam arah
yang sesuai adalah dalam hal-hal berikut ini : (1) aberasi kromatik tampaknya penting. Dengan
demikian, sinar cahaya merah difokuskan sedikit di posterior cahaya biru, karena lensa lebih
membiaskan sinar biru daripada sinar merah. Mata tampaknya dapat mendeteksi kedua tipe sinar
ini yang mempunyai fokus lebih baik, dan mekanisme ini memberi informasi kepada mekanisme
untuk membuat lensa menjadi lebih kuat atau lebih lemah. (2) bila benda di fiksasi pada objek
yang dekat, mata juga berkonvergensi saling maju satu sama lain. Mekanisme syaraf untuk
konvergensi menimbulkan sinyal secara serentak untuk memperkuat lensa. (3) karena fovea
terletak pada lekukan lubang yang lebih dalam daripada yang lainnya dari retina, maka kejelasan
fokus didalam fovea berbeda dengan kejelasan fokus pada tepi-tepinya. Telah diduga ini juga
memberi petunjuk seperti carta yang dilakukan untuk mengubah kekuatan lensa. (4) telah
dijumpai bahwa tingkat akomodasi lensa telah bergetar sedikit sepanjang waktu, pada frekwensi
sampai dua kali perdetik. Bayangan terlihat menjadi lebih jelas bila getaran kekuatan lensa kuat
diubah dalam arah yang sesuai dan menjadi lebih lemah bila kekuatan lensa diubah dalam yang
salah. Ini dapat memberi petunjuk yang cepat seehingga kekuatan lensa perlu diubah fokus yang
lebih sesuai.

Disimpulkan bahwa area korteks otak yang mengatur akomodasi terletak paralel dengan
area yang mengatur gerakan fiksasi mata, dengan integrasi akhir berupa sinyal penglihatan dalam
area 18 dan 19 korteks Brodmann dan menjalankan sinyal motorik ke muskulus siliaris melalui
pretektal dalam batang otak dan kemudian masuk ke dalam inti Edinger Westphal.

Mekanisme akomodasi (memfokuskan mata)

Pada orang muda, lensa terdiri atas kapsul elastis yang kuat dan berisi cairan kental yang
mengandung banyak protein dan serabut-serabut transparan. Bila lensa berada dalam keadaan
relaksasi tanpa tarikan terhadap kapsulnya, maka lensa dianggap berbentuk hampir sferis.
Namun selain terdapat kapsul elastis, juga terdapat ligamen yang sangat tidak elastis, yaitu
zonula yang melekat disekeliling lensa, menarik tepi lensa kearah bola mata. Ligamen ini secara
konstan direnggangkan oleh perlekatannya ke badan siliar pada tepi anterior koroid dan retina.
Hal ini menyebabkan lensa relatif datar dalam keadaan mata istirahat.

Tempat perlekatan ligamen lensa di badan siliar merupakan suatu otot yang disebut otot
siliaris. Otot ini mempunyai dua perangkat serabut, yaitu serabut meridional dan serabut circular.
Serabut meridional membentang sampai peralihan kornea-sklera. Kalau serabut ini berkontraksi,
bagian perifer dari ligamen lensa tadi akan tertarik kedepan dan bagian medialnya ke arah
kornea, sehingga remangan terhadap lensa akan berkurang sebagian. Serabut sirkular akan
tersusun melingkar mengelilingi bagian dalam mata, sehingga pada waktu berkontraksi terjadi
gerakan sfingter, jarak antar pangkal ligamen mendekat, dan sebagai akibatnya regangan ligamen
terhadap kapsula lensa berkurang.

Jadi, kontraksi seperangkat serabut otot polos dalam otot siliaris akan mengendurkan
kapsula lensa, dan lensa akan lebih cembung seperti balon karena sifat elastisitas kapsulanya.
Oleh karena itu bila otot siliaris melakukan relaksasi lengkap, kekuatan dioptri lensa akan
berkurang menjadi sekecil mungkin yang dapat dicapai oleh lensa. Sebaliknya bila otot siliaris
berkontraksi sekuat-kuatnya, kekuatan lensa menjadi maksimal.
Pengaturan akomodasi melalui saraf parasimpatis

Otot siliaris hampir seluruhnya diatur oleh sinyal saraf parasimpatis yang dijalarkan ke
mata dari nukleus saraf kranial ketiga pada batang otak. Perangsangan saraf parasimpatis
menimbulkan kontraksi otot siliaris, yang selanjutnya mengendurkan ligamen lensa dan
meningkatkan daya bias. Dengan meningkatnya daya bias, mata mampu melihat objek lebih
dekat dibanding sewaktu daya biasnya rendah. Akibatnya dengan memendeknya objek kearah
mata, frekwensi impuls saraf parasimpatis ke otot siliaris secara progresif ditingkatkan agar
objek dapat tetap dilihat dengan jelas.