0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
133 tayangan64 halaman

Analisis Hot Spot Panel Surya Termografi

Skripsi ini membahas analisis kerusakan panel surya dengan mendeteksi hot spot menggunakan kamera termograf. Tujuannya adalah mengetahui kerusakan panel surya berdasarkan lokasi dan besarnya suhu hot spot. Manfaatnya adalah dapat mengidentifikasi panel rusak sehingga dapat diganti dan meningkatkan efisiensi pembangkit listrik tenaga surya.

Diunggah oleh

Meiske Fahriah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
133 tayangan64 halaman

Analisis Hot Spot Panel Surya Termografi

Skripsi ini membahas analisis kerusakan panel surya dengan mendeteksi hot spot menggunakan kamera termograf. Tujuannya adalah mengetahui kerusakan panel surya berdasarkan lokasi dan besarnya suhu hot spot. Manfaatnya adalah dapat mengidentifikasi panel rusak sehingga dapat diganti dan meningkatkan efisiensi pembangkit listrik tenaga surya.

Diunggah oleh

Meiske Fahriah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS KERUSAKAN PANEL SURYA DENGAN

MENDETEKSI HOT SPOT MENGGUNAKAN KAMERA


TERMOGRAFI

Skripsi
Untuk memenuhi salah satu syarat mencapai derajat Pendidikan Strata (S-1)
sebagai Sarjana Sains dan Program Studi Fisika

Disusun Oleh :
GALANG ADIRA PRAYOGA
24040117130084

PROGRAM STUDI FISIKA


DEPARTEMEN FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG

DESEMBER, 2020

i
PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI

Yang bertanda tangan dibawah ini Dosen Pembimbing dari :


Mahasiswa : Galang Adira Prayoga
NIM : 24040117130084
Program Studi/Fakultas : Fisika/Sains dan Matematika
Judul Skripsi : Analisis Kerusakan Panel Surya dengan
Mendeteksi Hot Spot Menggunakan Kamera Termografi

Menyatakan bahwa mahasiswa tersebut telah melaksanakan Seminar Hasil Skripsi


sehingga menyetujui dan layak untuk melaksanakan Ujian Skripsi

Semarang, 20 November 2020

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

(Prof. Dr. Suryono, S.Si., M.Si) (Jatmiko Endro Suseno, S.Si., M.Si.,Ph.D.)
NIP. 197306301998021001 NIP. 197211211998021001

ii
PERNYATAAN ORISINALITAS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar akademik di suatu perguruan tinggi, dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah
ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Semarang, 20 November 2020

Galang Adira Prayoga


NIM 24040117130084

iii
HALAMAN PENGESAHAN
SKRIPSI

ANALISIS KERUSAKAN PANEL SURYA DENGAN


MENDETEKSI HOT SPOT MENGGUNAKAN KAMERA
TERMOGRAFI

Disusun Oleh :

GALANG ADIRA PRAYOGA


24040117130084

Telah diujikan dan dinyatakan lulus oleh Tim Penguji


Pada tanggal 28 Desember 2020

Tim Pembimbing dan Penguji,

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

(Prof. Dr. Suryono, S.Si., M.Si) (Jatmiko Endro Suseno, S.Si., M.Si., Ph.D.)
NIP. 197306301998021001 NIP. 197211211998021001
Penguji I Penguji II

(Dr. Drs. Catur Edi Widodo, M.T.) (Dr. Dra. Sumariyah, M.Si.)
NIP. 196405181992031002 NIP. 196103101988032001

Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan


untuk memperoleh gelar Sarjana Sains (S.Si)
Tanggal 28 Desember 2020

Ketua Program Studi Fisika

Prof. Dr. Heri Sutanto, S.Si., M.Si.


NIP. 197502151998021001

iv
PERNYATAAN PERSETUJUAN
PUBLIKASI SKRIPSI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Diponegoro, Saya yang bertanda tangan


dibawah ini:
Nama : Galang Adira Prayoga
NIM : 24040117130084
Program Studi : Fisika Elektronika dan Instrumentasi
Departemen : Fisika
Fakultas : Sains dan Matematika
Jenis karya : Penelitian
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada
Universitas Diponegoro Hak Bebas Royalti Non-eksklusif atas karya ilmiah saya
yang berjudul:

Analisis Kerusakan Panel Surya dengan Mendeteksi Hot Spot Menggunakan


Kamera Termografi

Beserta perangkat yang ada. Dengan Hak bebas Royalti Nonekslusif ini Program
studi Fisika Jurusan Fisika Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro
berhak menyimpan, mengalihmedia atau memformatkan, mengelola dalam bentuk
pangkalan data (database) merawat, dan mempublikasikan skripsi saya selama
tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis atau pencipta dan sebagai pemilik
Hak Cipta.

Dibuat di Semarang
Pada tanggal 28 Desember 2020
Yang menyatakan

Galang Adira Prayoga


NIM 24040117130084

v
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal
Penelitian Skripsi yang berjudul “Analisis Kerusakan Panel Surya dengan
Mendeteksi Hot Spot Menggunakan Kamera Termografi”.
Penelitian Skripsi merupakan kegiatan yang harus dilaksanakan oleh
mahasiswa sebagai persyaratan untuk menyelesaikan mata kuliah skripsi dan untuk
memenuhi salah satu syarat mencapai derajat Pendidikan Strata (S-1) sebagai
Sarjana Sains dan Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Matematika,
Universitas Diponegoro, Semarang.
Pelaksanaan penelitian ini dapat berjalan dengan baik berkat bantuan yang
telah diberikan oleh berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan terimakasih kepada :
1. Allah swt. Yang telah memberikan nikmat waktu dan kesehatan sehingga
penelitian ini dapat berjalan.
2. Keluarga tercinta yang memberikan dukungan.
3. Bapak Prof. Dr. Heri Sutanto, M.Si. selaku Ketua Departemen Fisika Fakultas
Sains dan Matematika Universitas Diponegoro Semarang.
4. Bapak Dr. Suryono S.Si., M.Si. selaku dosen pembimbing penelitian.
5. Bapak Dr. Jatmiko Endro Suseno, M.Si. selaku dosen pembimbing penelitian.
6. Bapak dan Ibu, serta kakak tercinta yang senantiasa menyertai penulis disetiap
situasi dan kondisi. Terima kasih atas segala doa, semangat, pengorbanan dan
kasih sayang yang sangat berarti sampai saat ini.
7. Serta pihak-pihak lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Semoga Penelitian ini dapat bermanfaat kepada pembaca. Penulis


menyadari bahwa dalam penulisan penelitian ini masih terdapat kekurangan, untuk
itu penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang membangun yang
dapat membantu untuk penyusunan yang lebih baik lagi.
Akhir kata, semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

vi
Semarang, 28 Desember 2020

Penulis

vii
DAFTAR ISI

Halaman Judul...........................................................................................................i
Persetujuan Ujian Tugas Skripsi.............................................................................. ii
Pernyataan Orisinalitas............................................................................................iii
Halaman Pengesahan Skripsi...................................................................................iv
Pernyataan Persetujuan Publikasi Skripsi untuk Kepentingan Akademis................v
Kata Pengantar........................................................................................................vi
Daftar Isi.................................................................................................................vii
Daftar Gambar..........................................................................................................x
Daftar Tabel.............................................................................................................xi
Daftar Lampiran.....................................................................................................xii
Arti Lambang dan Singkatan.................................................................................xiii
Abstrak..................................................................................................................xiv
Abstract..................................................................................................................xv

BAB I PENDAHULUAN......................................................................................1
1.1 Latar Belakang dan Permasalahan...........................................................1
1.2 Tujuan Penelitian .................................................................................... 2
1.3 Manfaat Penelitian ..................................................................................2
1.4 Luaran Penelitian.....................................................................................3

BAB II DASAR TEORI........................................................................................4


2.1 Cahaya..................................................................................................... 4
2.1.1 Intensitas energi cahaya................................................................. 4
2.1.2 Intensitas cahaya matahari di indonesia......................................... 5
2.2 Panel Surya ............................................................................................. 5
2.2.1 Efesiensi panel surya...................................................................... 5
2.2.2 Faktor penyebab kerusakan panel surya.........................................6
2.3 Mikrokontroler ....................................................................................... 7
2.4 Sensor ..................................................................................................... 7
2.4.1 Sensor termografi inframerah........................................................ 7
2.4.2 Sensor arus dan tegangan............................................................... 8
2.4.3 Sensor cahaya................................................................................ 8
2.5 Pemrograman PHP.................................................................................. 8
2.6 Wireless Sensor Network (WSN)............................................................ 9
2.7 Citra Digital............................................................................................. 9

BAB III METODE PENELITIAN ......................................................................10


3.1 Waktu dan Tempat Penelitian................................................................10
3.2 Alat dan Bahan.......................................................................................10
3.3 Prosedur Penelitian................................................................................ 11
3.3.1 Diagram alur penelitian............................................................... 12
3.3.2 Rancangan dan analisis sistem..................................................... 13
3.3.3 Rangkaian sensor arus dan tegangan.............................................15

viii
3.3.4 Rangkaian sensor cahaya........................ .....................................16
3.3.5 Rangkaian sensor termografi inframerah......................................17
3.4 Rancangan Sistem Akuisisi Data........................................................... 18
3.4.1 Rancangan pemrograman monitoring efesiensi panel surya.........20
3.4.2 Rancangan pemrograman web server...........................................20
3.4.3 Rancangan database ....................................................................22
3.4.4 Rancangan antarmuka web .......................................................... 22
3.4.5 Rancangan pemrograman sensor termografi................................23

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................. 25


4.1 Hasil Karakterisasi dan Kalibrasi Sensor Tegangan .............................25
4.2 Hasil Kalibrasi Sensor Arus...................................................................26
4.3 Hasil Kalibrasi Sensor Cahaya.............................................................. 27
4.4 Hasil Uji Sensor Termografi Inframerah................................................28
4.5 Hasil Pengukuran Daya dan Efesiensi pada Panel Surya.......................29
4.6 Hasil Pengukuran Suhu Permukaan Panel Surya Secara Termografi....32
4.7 Hasil Analisis Rasio Hot Spot Terhadap Efesiensi pada Panel Surya... 34

BAB V KESIMPULAN......................................................................................39
5.1 Kesimpulan............................................................................................39
5.2 Saran......................................................................................................39

Daftar Pustaka........................................................................................................ 41
Lampiran A............................................................................................................ 43
Lampiran B.............................................................................................................44
Lampiran C.............................................................................................................48
Lampiran D............................................................................................................ 50
Lampiran E.............................................................................................................53

ix
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Prinsip kerja dari p-n Junction...............................................................5


Gambar 2.2 Klasifikasi kerusakan panel surya.........................................................6
Gambar 3.1 Diagram alur penelitian.......................................................................13
Gambar 3.2 Diagram sistem monitoring efesiensi dan hot spot panel surya............15
Gambar 3.3 Diagram sistem sensor arus INA219...................................................16
Gambar 3.4 Rangkaian pembagi tegangan.............................................................16
Gambar 3.5 Rangkaian skematik sensor cahaya BH1750.......................................17
Gambar 3.6 Rangkaian skematik sensor termografi MLX90640............................18
Gambar 3.7 Diagram sistem akuisisi data efesiensi panel surya.............................19
Gambar 3.8 Diagram sistem akuisisi data citra digital permukaan panel surya.......19
Gambar 3.9 Diagram alir rancangan pemrograman monitoring efesiensi panel
surya................................................................................................. 21
Gambar 3.10 Mengaktifkan fungsi Apache dan MySQL.........................................22
Gambar 3.11 Rancangan antarmuka pada web .......................................................23
Gambar 3.12 Rancangan pemrograman sensor termografi.....................................24
Gambar 4.1 Grafik karakterisasi sensor tegangan...................................................25
Gambar 4.2 Monitoring arus, tegangan dan suhu panel surya serta intensitas
cahaya matahari..................................................................................29
Gambar 4.3 Grafik daya dan nilai efesiensi panel surya kondisi normal...............30
Gambar 4.4 Grafik daya dan nilai efesiensi panel surya kondisi rusak
(glass cracking)..................................................................................31
Gambar 4.5 Grafik daya dan nilai efesiensi panel surya kondisi berpasir..............31
Gambar 4.6 Grafik daya dan nilai efesiensi panel surya kondisi tertutup
daun................................................................................................... 32
Gambar 4.7 Kondisi panel surya (a) normal (b) rusak (glass cracking)
(c) berpasir (d) tertutup daun .............................................................33
Gambar 4.8 Citra hot spot panel surya (a) normal (b) rusak (glass cracking)
(c) berpasir (d) tertutup daun .............................................................34
Gambar 4.9 Hasil seleksi citra hotspot panel surya (a) normal (b) rusak
(glass cracking) (c) berpasir (d) tertutup daun ..................................35
Gambar 4.10 Citra segmentasi K-Means clustering L*a*b colour panel surya
(a) normal (b) rusak (glass cracking) (c) berpasir (d) tertutup daun..36
Gambar 4.11 Citra segmentasi hot spot panel surya (a) normal (b) rusak (glass
cracking) (c) berpasir (d) tertutup daun.............................................37

x
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Kalibrasi sensor tegangan......................................................................26


Tabel 4.2. Kalibrasi sensor arus..............................................................................27
Table 4.3. Kalibrasi sensor cahaya..........................................................................27
Tabel 4.4. Uji sensor termografi inframerah...........................................................28
Tabel 4.5. Rasio hot spot dan efesiensi panel surya kondisis normal......................37
Tabel 4.6. Rasio hot spot dan efesiensi panel surya kondisis glass cracking..........38
Tabel 4.7. Rasio hot spot dan efesiensi panel surya kondisis berpasir.....................38
Tabel 4.8. Rasio hot spot dan efesiensi panel surya kondisis tertutup daun............38

xi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Data-data Penelitian............................................................................40


Lampiran B Grafik Data Penelitian.........................................................................41
Lampiran C Gambar Alat dan Bahan Sampel Penelitian........................................42
Lampiran D Listing Program Arduino IDE untuk Sistem Monitoring Efesiensi
Panel Surya.........................................................................................43
Lampiran E Listing Program pada Python untuk Sistem Monitoring Hot Spot Panel
Surya.................................................................................................. 44

xii
ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN

1. c : Kecepatan cahaya (m/s)


2. Vmpp : Tegangan maksimum (Volt)
3. Impp : Arus maksimum (Ampere)
4. R : Resistor (Ohm)
5. Ω : Hambatan listrik (Ohm)
6. 𝜂 : Efesiensi panel surya
7. V : Tegangan listrik (Volt)
8. I : Arus listrik (Ampere)
9. E : Energi radiasi matahari (Watt/m2)
10. A : Luas permukaan panel surya (m2)
11. Hz : Frekuensi (Herzt)

xiii
ABSTRAK

Industri energi fotovoltaik surya (sel surya) sedang berkembang dan karena
itu ada kebutuhan untuk meningkatkan efesiensi dan memperbaiki perawatannya,
biaya operasional, keandalan panel, keselamatan lingkungan serta siklus hidup
panel. Usaha untuk melakukan perawatan terhadap panel surya agar kesetabilan
efesiensi dan gejala-gejala kerusakan panel surya dapat termonitoring maka
dilakukan penelitian analisis sebaran hotspot pada panel surya terhadap gejala
kerusakan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan sensor termografi
inframerah untuk mendeteksi sebaran hotspot dan sistem monitoring efeseinsi panel
surya secara real time. Panel surya yang digunakan pada penelitian dengan kondisi
normal, rusak (glass cracking), berpasir dan tertutup daun. Hasil pengamatan yang
diperoleh menunjukkan karakteristik yang berbeda pada setiap kondisi. Pada panel
surya kondisi normal diperoleh sebaran hotspot dengan rasio 0,38 terhadap luas
total panel surya, suhu 50 oC dan efesiensi maksimum 9,68 %. Pada panel surya
kondisi rusak (glass cracking) diperoleh sebaran hotspot dengan rasio 0,48 terhadap
luas total panel surya, suhu 51,2 oC dan efesiensi maksimum 7,03%. Pada panel
surya kondisi berpasir diperoleh sebaran hotspot dengan rasio 0,46 terhadap luas
total panel surya, suhu 54,7oC dan efesiensi maksimum 2,26%. Pada panel surya
kondisi tertutup daun diperoleh sebaran hotspot dengan rasio 0,62 terhadap luas
total panel surya, suhu 48,1oC dan efesiensi maksimum 2,42 %. Berdasarkan
analisis data yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa dengan mendeteksi
sebaran hotspot dan peningkatan suhu dari suhu normal yang telah ditentukan maka
dapat diketahui pula kondisi panel surya normal dan yang mengalami gejala
kerusakan.
Kata kunci : sensor termografi inframerah, monitoring efesiensi panel surya, rasio
hotspot, deteksi kerusakan panel surya.

xiv
ABSTRACT

The solar photovoltaic (solar cell) energy industry is growing and therefore
there is a need to increase efficiency and improve its maintenance, operating costs,
panel reliability, environmental safety and the life cycle of the panels. Efforts to
carry out maintenance on solar panels so that the stability of the efficiency and
symptoms of solar panel damage can be monitored, a research on the analysis of
the distribution of hotspots on solar panels is carried out on symptoms of damage.
The research was conducted using an infrared thermography sensor to detect the
distribution of hotspots and a real time solar panel efficiency monitoring system.
The solar panels used in the study were in normal conditions, broken (glass
cracking), sandy and covered with leaves. The observations obtained show different
characteristics in each condition. In normal conditions, the distribution of hotspots
is obtained with a ratio of 0.38 to the total area of the solar panel, a temperature
of 50 ° C and a maximum efficiency of 9.68%. In the damaged condition (glass
cracking) solar panels, the distribution of hotspots is obtained with a ratio of 0.48
to the total area of the solar panels, a temperature of 51.2 oC and a maximum
efficiency of 7.03%. In the sandy condition solar panels, the distribution of hotspots
is obtained with a ratio of 0.46 to the total area of the solar panel, a temperature
of 54.7oC and a maximum efficiency of 2.26%. In a closed leaf solar panel, the
distribution of hotspots is obtained with a ratio of 0.62 to the total area of the solar
panel, a temperature of 48.1oC and a maximum efficiency of 2.42%. Based on the
data analysis that has been done, it can be seen that by detecting the distribution of
hotspots and an increase in temperature from a predetermined normal temperature,
it can also be seen that the condition of normal solar panels and those experiencing
symptoms of damage.
Keywords: infrared thermography sensor, solar panel efficiency monitoring,
hotspot ratio, solar panel damage detection.

xv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Permasalahan


Indonesia merupakan negara tropis yang mendapatkan cahaya matahari
sepanjang tahun. Hal ini membuat indonesia memiliki potensi besar dalam
pengembangan energi tenaga surya. Intensitas radiasi rata-rata di seluruh kepulauan
indonesia sekitar 4.800 Wh/m2. Data hasil pengukuran intensitas radiasi tenaga
surya di seluruh indonesia yang sebagian besar dilakukan oleh BPPT dan sisanya
oleh BMKG menunjukkan bahwa intensitas terbesar berada di nusa tenggara barat
dan papua (5.747 dan 5720 Wh/m2) sedangkan terendah di bogor (2.558 Wh/m2)
(Budiyanto et al., 2020).
Penggunaan panel surya merupakan salah satu sumber pembangkit listrik
yang menjadi perhatian khusus. Menggunakan panel surya sebagai pembangkit
listrik memiliki banyak keuntungan. Panel surya tidak menghasilkan emisi
sehingga sangat ramah lingkungan. Menggunakan panel surya untuk
membangkitkan listrik memiliki manfaat efesiensi ekonomi dalam waktu yang
lama. Meskipun biaya investasi untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya
membutuhkan biaya yang mahal. Ini disebabkan oleh fakta bahwa industri panel
surya membuat silikon murni dengan teknologi tinggi dengan investasi yang besar.
Oleh karena itu dibutuhkan metode untuk meningkatkan efesiensi panel surya agar
dapat memperoleh keuntungan dari sisi ekonomi (Suryono et al., 2019).
Industri energi fotovoltaik surya (sel surya) sedang berkembang dan karena
itu ada kebutuhan untuk meningkatkan efesiensi dan memperbaiki perawatannya,
biaya operasional, ketersediaan panel, keandalan panel, keselamatan lingkungan,
siklus hidup panel, dan lainnya (Pedro et al., 2019). Usaha melakukan perawatan
terhadap panel surya untuk menjaga kesetabilan efesiensi dan biaya operasional
telah dilakukan dengan penelitian-penelitian yang telah dilaksanakan. Salah satu
penelitian yang ada yaitu mengamati gejala-gejala kerusakan yang diakibatkan oleh
hot spot pada panel surya, panas yang berlebih akibat hubungan singkat, hot spot

1
2

pada junction box, hot spot pada sambungan busbar ke junction box, dan seluruh
modul yang terlalu panas (Gallardo-saavedra et al., 2019). Namun pada penelitian
sebelumnya ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan yaitu berupa kehadalan
sistem dalam proses pemantauan kerusakan panel surya. Sistem pemantauan
kondisi menggunakan sebuah sensor kamera inframerah yang dihubungkan dengan
platform mikroprosesor raspberry pi 3. Penelitian ini berdasarkan pada analisis
produksi emisivitas diatas permukaan panel dan karakterisasi dengan citra digital
ketika bagian panel rusak. Mikroprosesor raspberry pi 3 juga digunakan untuk
memvalidasi hasil yang dibaca oleh sensor kamera inframerah. Data citra
termografi disimpan dan dianalisis dengan menggunakan peranan memory internal
mikroprosesor raspbery pi 3 dan sensor kamera inframerah akan berjalan dengan
proses yang berkelanjutan. Beberapa sekenario yang digunakan dalam percobaan
ini seperti monitoring efesiensi daya keluaran dan monitoring hot spot permukaan
panel surya dengan perlakuan panel surya normal, rusak (glass cracking), berpasir
dan tertutup daun.

1.2 Tujuan Penelitian


Tujuan khusus dari penelitian ini yaitu :
1) Membuat prototype penelitian alat detektor analisis kerusakan dengan kamera
termografi inframerah menggunakan raspberry pi.
2) Melakukan pengamatan pengaruh kenaikan temperatur permukaan panel surya
terhadap kerusakan panel surya.
3) Melakukan analisis kerusakan panel surya berdasarkan citra sebaran hot spot
dan efesiensi yang dihasilkan.

1.3 Manfaat Penelitian


Manfaat dari penelitian ini yaitu :
1) Mempermudah perawatan panel surya dalam sekala besar pada pembangkit
listrik tenaga surya.
2) Mengurangi biaya operasional perawatan dan memaksimalkan produktifitas
panel surya.
3

3) Sustainability pembangkit listrik tenaga surya.

1.4 Luaran Penelitian


Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah terciptanya metode
perawatan yang terkontrol untuk meningkatkan efektifitas dan efesiensi panel
surya. Hasil penelitian dibuat artikel ilmiah dan publikasi jurnal.
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Cahaya
Cahaya adalah gelombang elektromagnetik yang dapat merambat dalam
ruang hampa atau medium tertentu. Sampainya cahaya matahari dan bintang-
bintang ke bumi menunjukkan kemampuan gelombang elektromagnetik merambat
dalam ruang hampa. Cahaya yang menembus air dan gelas menunjukan
kemampuan perambatan gelombang elektromagnetik dalam sejumlah bahan. Tetapi
tidak semua bahan dapat dilewati gelombang elektromagnetik. Logam adalah
contoh bahan yang tidak dapat dilewati gelombang elektromagnetik. Dalam ruang
hampa laju perambatan gelombang elektromagnetik adalah
c = 2,99792458 x 108 m/s.
Laju perambatan gelombang elektromagnetik dalam ruang hampa
merupakan batas maksimum laju yang dapat dicapai di alam semesta. Gelombang
elektromagnetik merupakan gelombang dengan sebaran frekuensi yang paling luas.
Frekuensi gelombang elektromagnetik tersebar mulai dari 102 Hz sampai diatas
1023 Hz. Pada frekuensi tertentu cahaya dapat menimbulkan efek fotolistrik
(Abdullah, 2006).

2.1.1 Intensitas energi cahaya


Intensitas cahaya yang dipancarkan dari matahari sangat berpengaruh
terhadap efesiensi sel surya. Selain itu, banyak faktor-faktor yang lain yang
mempengaruhi unjuk kerja sel surya seperti : kecepatan angin, suhu lingkungan,
debu yang menempel pada sel surya, temepratur sel surya, sudut panel surya, serta
karakteristik dari bahan sel surya tersebut. Intensitas cahaya mempunyai pengaruh
terhadap max power current (Impp) dan max power voltage (Vmpp) yang
dihasilkan oleh panel surya. Semakin besar intensitas cahaya yang mengenai panel
surya, maka Impp dan Vmpp yang dihasilkan oleh panel surya akan semakin besar.
Hal ini dikarenakan pada saat sel surya terkena cahaya, maka terjadilah hubungan

4
5

elektron dan hole melalui bahan semikonduktor sehingga timbullah aliran elektron
pada satu arah dan juga timbul aliran hole pada satu arah yang berlawanan dan
timbul aliran arus yang bila dihubungkan pada suatu beban menimbulkan tenaga
listrik (Tira et al., 2017).

2.1.2 Intensitas cahaya matahari di indonesia


Indonesia terletak di garis katulistiwa, sehingga indonesia mempunyai
sumber energi surya yang berlimpah dengan intensitas radiasi matahari rata-rata
sekitar 4.800 Wh/m2 per hari di seluruh wilayah indonesia. Data hasil pengukuran
intensitas radiasi tenaga surya di seluruh Indonesia yang sebagian besar dilakukan
oleh BPPT dan sisanya oleh BMKG (Budiyanto et al., 2020).

2.2 Panel Surya


Panel surya (Solar cell) adalah peralatan zat padat elektronika (p-n junction)
yang mengubah energi pancaran cahaya menjadi arus DC menggunakan konsep
efek photovoltaik. Proses pengubahan bergantung pada bahan yang menyerap
energi matahari (photon) dan mengeksitasikan elektron ke tingkat keadaan energi
yang lebih tinggi. Kemudian elektron mengalir pada rangkaian berupa arus DC.
Material yang digunakan pada penelitian ini berupa silikon (Roy et al., 2014).

Gambar 2.1 Prinsip kerja dari p-n Junction


6

2.2.1 Efesiensi panel surya


Cahaya yang mencapai permukaan panel surya tidak seluruhnya bisa diubah
menjadi energi listrik. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu salah satunya
berupa energi gap pada material semikonduktor. Energi gap (energi celah pita)
merupakan energi minimum yang dibutuhkan untuk membebaskan elektron dari
ikatan kovalen dalam kristal semikonduktor. Pada aplikasi sel surya, semakin kecil
energi gap-nya maka semakin baik pula efesiensinya (Li et al., 2018). Berikut
persamaan 2.1 untuk mengitung besar efesiensi panel surya sebagai berikut :
𝑉𝑥𝐼
𝜂= (2.1)
𝐸𝑥𝐴
Dimana V adalah tegangan listrik (Volt), I adalah arus listrik (Ampere), E
merupakan intensitas energi radiasi matahari (W/m2), dan A adalah luas panel surya
(m2).

2.2.2 Faktor penyebab kerusakan panel surya


Banyak hal yang dapat menyebabkan kerusakan pada panel surya. Semua
kerusakan dapat diklasifikasikan berdasarkan gejalanya, efeknya dan
konsekuensiya. Berikut klasifikasi kerusakannya pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Klasifikasi kerusakan panel surya

Berdasarkan klasifikasi penyebab kerusakannya sebagian besar diakibatkan


oleh first failure dan second failure. Kerusakan first failure disebabkan oleh panel
7

yang tidak dapat dioperasikan, isolasi yang buruk antara modul dan inverter,
kekuatan mekanik panel yang buruk, tidak dipasang dengan benar, dan modul yang
diproduksi tidak sesuai standart. Sedangkan kerusakan second failure disebabkan
oleh tempelan debu, degradasi enkapsulisasi karena ultraviolet, terdapat sarang
serangga, degradasi karena panas, bencana alam, retakan pada panel, aruss singkat
dan banyak hal lainnya. Efek yang merugikan dari penyebab kerusakan first failure
dan second failure yaitu menyebabkan hot spot cell dan akhirnya cell dapat terbakar
(Triki-Lahiani et al., 2018).

2.3 Mikrokontroler
Mikrokontroler adalah chip yang dapat melakukan pemrosesan data secara
digital sesuai dengan program perintah yang diberikan. perintah-perintah tersebut
berupa kode mesin yang digunakan untuk menjalankannya dan harus sesuai dengan
kode yang diberikan perusahaan pembuatnya. Kode tersebut dapat berupa program
komputer dalam bahasa assembly atau bahasa translasi lainnya yang dibuat oleh
perusahaan software misalnya : Bahasa C, Basic, atau Bahasa dari developer
lainnya. Mikrokontroler memiliki potensi untuk diprogram menjadi interface card
data sensor ke dalam komputer. Mikrokontroler merupakan chip tunggal yang dapat
menjalankan instruksi tanpa peripheral pendukung dari luar karena pheripheral
telah diintegrasikan di dalam chip tersebut (Suryono, 2018).

2.4 Sensor
Sensor adalah perangkat elektronika yang dapat mengubah besaran fisis
menjadi sinyal listrik. Sensor dapat dijadikan sebagai perangkat input besaran-
besaran fisis ke perangkat pengolah data seperti mikrokontroler, komputer,
Programeable Logic Controller (PLC), Distributed Control System (DCS), maupun
Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) (Suryono, 2018).

2.4.1 Sensor termographi inframerah


Termografi adalah penggunaan pencitraan inframerah dan kamera
pengukuran untuk menunjukkan dan mengukur energi termal yang dipancarkan dari
8

suatu objek. Inframerah adalah sinar yang tidak dapat dideteksi manusia karena
panjang gelombangnya terlalu panjang untuk dideteksi. Prinsip kerja dari kamera
termografi inframerah yaitu dengan memancarkan gelombang sinar inframerah ke
suatu objek. Semakin tinggi suhu suatu objek, semakin tinggi pula radiasi
inframerah yang dipancarkan. Kamera termografi memungkinkan untuk melihat
apa yang mata manusia tidak bisa lihat (Malexis, 2019).

2.4.2 Sensor arus dan tegangan


Sensor arus merupakan komponen yang digunakan untuk mendeteksi arus
pada suatu kabel dalam instalasi listrik yang dipasang secara seri. Modul sensor
arus dapat digunakan untuk mengukur arus searah (DC) dan arus bolak-balik (AC)
menggunakan prinsip efek hall. Efek Hall terjadi ketika magnet ditempatkan tegak
lurus dengan salah satu sisi plat konduktor yang dialiri arus sehingga timbul beda
potensial pada tepi yang berlawanan. Tegangan yang ditimbulkan sebanding
dengan arus yang mengalir melalui konduktor dan kerapatan fluks atau induksi
magnetik yang tegak lurus dengan konduktor (Tiano et al., 2020). Sedangkan sensor
tegangan digunakan untuk mengukur tegangan pada suatu kabel yang terpasang
secara paralel. Pengukuran tegangan dilakukan dengan membuat rangkaian
pembagi tegangan.

2.4.3 Sensor cahaya


Foto dioda merupakan sensor cahaya yang memiliki konfigurasi dioda
semikonduktor yang mengkonversikan energi cahaya menjadi energi listrik. Proses
fisis kerja foto dioda menggunakan efek foto listrik, yaitu peristiwa terjadinya
eksitasi elektron pada bahan akibat energi foton dari luar yang melebihi energi ikat
elektron pada bahan tersebut. Setiap bahan memiliki energi gap yang berlainan
sehingga energi foton dari cahaya yang mengenai bahan tersebut memiliki fungsi
kerja yang berlainan pula (Peng et al., 2017). Pada sensor foto dioda terdapat pita
valensi dimana tempat elektron terikat. Jika energi foton mengenai elektron tersebut
maka menyebabkan elektron tereksitasi menjadi elektron bebas dan berada di pita
konduksi. pada saat energi level dipita konduksi menurun maka elektron kembali
9

lagi melakukan rekombinasi ke pita valensi. peritiwa pergerakan elektron ini secara
elektronik menghasilkan arus listrik. besar arus listrik yang dihasilkan sebanding
dengan intensitas foton dari cahaya yang mengenai foto dioda tersebut (Suryono,
2018).

2.5 Pemrograman PHP


PHP adalah bahasa pemrograman yang biasa digunakan untuk server-side
scripting. PHP merupakan bahasa pemrograman yang simpel namun powerful dan
tepat untuk digunakan pada web server. PHP dapat berjalan pada dapat berjalan
pada semua sistem operasi yang sering digunakan, seperti UNIX, Windows, dan
Mac OS (Harismawan et al., 2018).

2.6 Wireless Sensor Network (WSN)


Wireless sensor networ adalah kumpulan node yang memiliki kemampuan
untuk mengambil data pada parameter ukur, node yang dimaksud berupa sensor.
Kumpulan node kemudian mengirimkan data ke sebuah server untuk dilakukan
pengolahan data. Wireless sensor network merupakan teknologi yang
mengombinasikan sistem tertanam (embedded system) dan jaringan komunikasi
sehingga menjadikannya lebih efesien dan efektif (Prihtiadi & Djamal, 2017).

2.7 Citra Digital


Citra digital merupakan representatif dari citra yang diambil oleh sensor
dengan bentuk pendekatan berdasarkan sampling dan kuantisasi. Sampling
menyatakan besarnya kotak-kotak yang disusun dalam baris dan kolom atau besar
kecilnya ukuran pixel (titik) pada citra. Kuantisasi menyatakan besarnya nilai
tingkat kecerahan yang dinyatakan dalam nilai tingkat keabuan (gray scale) sesuai
dengan jumlah bit biner yang digunakan oleh sensor atau menyatakan jumlah warna
yang ada pada citra (Ramadijanti et al., 2014).
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


3.1.1 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2020-November 2020,
dengan jadwal penelitian sebagai berikut :
a. Seminar proposal penelitian pada tanggal 31 Agustus 2020
b. Revisi proposal penelitian pada tanggal 1-7 September 2020
c. Perijinan penelitian pada tanggal 8-14 September 2020
d. Pelaksanaan penelitian pada tanggal 15 September-31 Oktober 2020
e. Analisis data pada tanggal 21-31 Oktober 2020
f. Penulisan laporan penelitian pada tanggal 24 Oktober-20 November 2020

3.1.2 Tempat Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di :
a. Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi Jurusan Fisika, Fakultas Sains
dan Matematika Universitas Diponegoro

3.2 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini berupa hardware dan
software antara lain :
a. Mikrokontroler
Perangkat monitoring efesiensi panel surya berupa mikrokontroler yang
digunakan adalah modul ESP8266. Modul ESP8266 merupakan tempat
untuk menjalankan instruksi dan perintah yang terhubung dengan sensor
arus, tegangan dan intensitas cahaya.
b. Mikroprosesor

10
11

Perangkat pemrosesan citra digital berupa mikroprosesor yang digunakan


adalah raspberry pi 3. Raspberry pi 3 merupakan tempat untuk menjalankan
instruksi dan perintah yang terhubung dengan sensor termografi inframerah.
c. Sensor
Sensor termografi yang digunakan adalah sensor kamera termografi
inframerah MLX90640. Sensor arus yang digunakan adalah INA219.
Sensor intensitas cahaya yang digunakan BH1750.
d. Panel Surya
Perangkat yang mengubah intensitas cahaya menjadi energi listrik.
e. Komputer
Perangkat yang digunakan untuk mengolah data input dan menghasilkan
output berupa data informasi sesuai tujuan penelitian.
f. Kabel USB
Penghubung perangkat mikrokontroler ESP8266 dengan komputer agar
dapat diberikan perintah program yang akan dijalankan.
g. Papan PCB
Media yang digunakan untuk mencetak rangkaian elektronika.
h. Solder
Untuk menghubungkan rangkaian komponen elektronik pada PCB.
i. Router
Perangkat yang digunakan untuk mengrim data dari lapangan ke database.
j. Bahasa Pemrograman
Bahasa pemrograman dalam penelitian ini menggunakan software Arduino
IDE, PHP dan Phyton. Arduino IDE yaitu untuk membuat dan mengirimkan
program ke perangkat mikrokontroler. PHP yaitu untuk membuat database.
Python yaitu untuk membuat dan mengirimkan program ke perangkat
mikroprosesor.

3.3 Prosedur Penelitian


Pada prosedur penelitian ini terdapat beberapa tahapan sebagai berikut :
12

3.3.1 Diagram alur penelitian


Penelitian ini dimulai dengan melakukan studi literatur mengenai apa saja
yang dibutuhkan dalam menunjang penelitian, kemudian dilanjutkan dengan
inisialisasi perancangan program dan sistem yang dapat diterapkan pada penelitian.
Pembuatan sistem dan program adalah tahapan selanjutnya, dimana pada tahap ini
penelitian membuat sistem dan program yang sebelumnya telah dipelajari pada saat
melakukan studi literatur. Sistem yang dirancang ada dua jenis yaitu sistem
monitoing efesiensi panel surya dan sistem monitoing sebaran hot spot panel surya.
Pada tahap pertama adalah pembuatan sistem monitoring efesiensi panel surya
kemudian dilanjutkan pembuatan program yang dibantu dengan beberapa aplikasi
penunjang. Setelah pembuatan sistem dan program telah dilakukan, selanjutnya
memulai pengaplikasian sistem dan program yang telah dibuat. Hasil kejadian fisis
yang diterima oleh sensor kemudian didapatkan nilai atau data pada saat
pengaplikasian. Data yang diperoleh akan dikirim ke web dan data base, sehingga
harus dilakukan pembuatan web dan data base dengan server local host. Kemudian
data pada sistem monitoring efesiensi ditransfer menuju database menggunakan
wireless dan diterima secara real time. Pada tahap kedua adalah perancangan sistem
monitoring sebaran hot spot panel surya kemudian dilanjutkan pembuatan program
yang dibantu dengan beberapa aplikasi penunjang. Data pada sistem monitoring
sebaran hot spot disimpan di memori internal berupa citra digital. Tahap ketiga
adalah pengujian sistem monitoring efesiensi dan monitoring sebaran hot spot panel
surya. Setelah pengujian selesai maka dilanjutkan proses pengambilan data di
lapangan dengan kondisi panel surya yang berbeda-beda. Setelah data didapatkan
maka data disimpan dan diolah untuk mendapatkan karakteristik nilai efesiensi dan
sebaran hot spor panel surya. Pengolahan data citra sebaran hot spot dilakukan
dengan metode ekstraksi ciri RGB untuk dapat memisahkan citra hot spot dengan
citra sebaran panas sekelilingnya sehingga diperoleh nilai rasio hot spot terhadap
luasan panel surya. Setelah data diolah kemudian dianalisis sehingga dapat ditarik
kesimpulan. Berikut diagram alur penelitian digambarkan pada Gambar 3.1.
13

Gambar 3.1 Diagram alur penelitian

3.3.2 Rancangan dan analisis sistem


Rancangan sistem pada penelitian ini terdiri dari dua sistem. Sistem yang
pertama digunakan untuk memonitoring daya keluaran dan efesiensi panel surya.
Sistem yang pertama terdiri dari alat dan bahan mikrokontroler ESP8266, sensor
arus, sensor tegangan, sensor cahaya, komputer dan router. Sistem yang kedua
digunakan untuk memonitoring sebaran hot spot pada panel surya. Sistem yang
kedua terdiri dari alat dan bahan mikroprosesor raspberry pi 3, sensor termografi
14

inframerah dan monitor LCD. Mikroprosesor raspberry pi 3 dan mikrokontroler


ESP8266 pada penelitian ini berfungsi sebagai pemrosesan data yang sebelumnya
berupa besaran fisis yang diterima menjadi sinyal dan data terbaca. Komputer
berfungsi untuk menerima dan kemudian menyimpan data yang diterima. Router
berfungsi sebagai media pengirim data menuju server. Kemudian softwere pada
penelitian ini berupa database yang diterima oleh server dan kemudian ditampilkan
pada serial monitor komputer. Kinerja sistem pada penelitian ini adalah pada saat
matahari yang mengandung energi radiasi memancarkan cahaya kemudian energi
tersebut ditangkap oleh panel surya. Penel surya yang menangkap radiasi matahari
akan menimbulkan panas pada permukaan panel surya. Ada empat kondisi panel
surya yang digunakan yaitu normal, rusak, berpasir, dan tertutup daun yang
kemudian akan dideteksi mengenai hot spot-nya yang memungkinkan penyebab
kerusakan dan berpengaruh terhadap efesiensi panel surya. Deteksi hot spot pada
panel surya menggunakan mikroprosesor raspberry pi 3, sensor termografi
infamerah MLX90640 dan LCD 3.5 inch. Sedangkan intensitas yang terdapat pada
cahaya matahari ditangkap oleh sensor cahaya yaitu BH1750 sehingga intensitas
cahaya dapat terukur. Cahaya matahari yang ditangkap oleh penel surya
menghasilkan keluaran berupa tegangan dan arus. Tegangan dan arus kemudian
diukur menggunakan sensor arus yaitu INA219 dan rangkaian pembagian tegangan.

Data termografi yang diterima mikroprosesor raspberry pi 3 berupa citra


digital hot spot panel surya yang kemudian disimpan pada memori internal
mikroprosesor raspberry pi 3. Citra digital hot spot panel surya kemudian dihitung
rasio penyebaran panasnya menggunakan aplikasi matlab dan dianalisis terhadap
pengaruh kerusakan serta efesiensi panel surya. Data arus, tegangan, dan intensitas
cahaya yang telah diterima kemudian ditransfer oleh mikrokontroler ESP8266
menuju komputer untuk ditampilkan pada monitor menggunakan router yang
sebelumnya telah dikonfigurasi untuk dapat melakukan komunikasi data sehingga
dapat diakses secara real time menggunakan web browser yang telah memiliki
alamat IP Address yang sebelumnya telah terkonfigurasi. Untuk mengukur daya
panel surya sebelumnya dilakukan terlebih dahulu karakterisasi pada sensor agar
alat dapat terkalibrasi dengan baik kemudian pengambilan data menggunakan
15

empat kondisi panel surya yang normal, rusak, berpasir dan tertutup daun agar
didapat sebuah perbandingan sehingga dapat mengukur efesiensi panel surya
tersebut. Diagram blok penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.2.

Gambar 3.2 Diagram sistem monitoring efesiensi dan hot spot panel surya

3.3.3 Rangkaian sensor arus dan tegangan


Sensor arus INA219 merupakan modul sensor arus yang didalamnya telah
terintegrasi pengondisian sinyal penguat sensor serta ADC (Analog to Digital
Converteri) senilai 16 bit. Keluaran dari sensor arus INA219 dapat langsung berupa
sinyal digital sehingga tidak memerlukan konverter ADC (Analog to Digital
Converter) eksternal dan perhitungan karakterisasi untuk mendapatkan nilai arus.
Sensor arus INA219 memiliki kaki yang terhubung dengan ground, pin SDA yang
terhubung dengan tegangan pin D2, pin SCL terhubung dengan D1 dan VCC
terhubung dengan tegangan input sebesar 3,3 volt. Adapun skematik sensor arus
INA219 dapat dilihat pada gambar 3.3.
16

Gambar 3.3 Diagram sistem sensor arus INA219

Sensor tegangan yang digunakan adalah dengan menggunakan rangkaian


pembagi tegangan yang berfungsi untuk menurunkan tegangan tinggi yang
dihasilkan oleh panel surya sehingga tegangan tersebut dapat terbaca oleh ADC
mikrokontroler ADS1115 adalah hanya sebesar 5,5 volt. Rangkaian pembagi
tegangan terdiri dari sebuah tegangan input dan output. Adapun tegangan input
yang digunakan yaitu minimal dua buah resistor yang memiliki nilai 10 kohm dan
1 kohm ysng ditunjukkan pad gambar 3.4. Pada gambar tersebut dapat dijelaskan
bahwa input yang berupa tegangan tinggi berasal dari panel surya masuk kedalam
rangkaian sehingga menghasilkan tegangan output yang masuk kedalam ADC
mikrokontroler diantara dua buah resistor yaitu R1 dan R2 yang disusun secara seri,
kemudian salah satu kaki pada R2 dihubungkan dengan ground.

Gambar 3.4 Rangkaian pembagi tegangan


17

3.3.4 Rangkaian sensor cahaya


Sensor cahaya BH1750 merupakan modul sensor cahaya yang didalamnya
telah terintegrasi komponen sensor foto dioda, pengondisian sinyal penguat sensor,
serta ADC (Analog to Digital Converter) senilai 16 bit. Keluaran dari sensor cahaya
BH1750 dapat langsung berupa sinyal digital sehingga tidak memerlukan konverter
ADC (Analog to Digital Converter) eksternal dan perhitungan karakterisasi untuk
mendapatkan nilai intensitas cahaya dengan luxmeter (lx). Sensor cahaya BH1750
memiliki kaki yang terhubung dengan ground, pin SDA yang terhubung dengan
tegangan pin D2, pin SCL terhubung dengan D1 dan Vcc terhubung dengan
tegangan input sebesar 3,3 volt. Adapun skematik sensor cahaya BH1750 dapat
dilihat pada gambar 3.5.

Gambar 3.5 Diagram skematik sensor cahaya BH1750

3.3.5 Rangkaian sensor termografi inframerah


Pada penelitian ini sensor pendeteksi hot spot pada panel surya adalah
termografi inframerah MLX90640 yang merupakan perangkat elektronika yang
dapat mendeteksi suhu yang ditampilkan dalam bentuk citra digital, citra digital
tersebut merepresentasikan keadaan suhu suatu objek. Sensor termografi
MLX90640 bekerja dengan menerapkan prinsip gelombang inframerah yang
terabsorbsi oleh sensor yang dipancarkan oleh suatu objek. Pembacaan sensor
termografi MLX90640 memiliki tingkat keakurasian yang tinggi pada rentang
18

pengukuran suhu -70 - 380oC. Adapun rangkaian skematik sensor termografi


MLX90640 dapat dilihat pada Gambar 3.6.
Prinsip kerja dari sensor termografi MLX90640 adalah inframerah termal
yang dikalibrasi sepenuhnya 32x24 pixel sesuai standar industri dengan antarmuka
digital. MLX90640 memuat 768 FIR pixel. Sensor terintegrasi untuk mengukur
temperatur sekeliling chip dan tegangan supply (VDD). Output dari sensor
termografi inframerah, suhu sekeliling (Ta) dan VDD adalah disimpan dalam RAM
internal dan dapat diakses melalui I2C. Proses pengukuran dengan mode terus
berjalan. Tergantung pada frame rate FPS yang dipilih dalam kontrol, data pixel
inframerah dan Ta akan diperbarui di masing-masing RAM. Dalam mode ini
mikrokontroler eksternal memiliki akses penuh ke register internal dan memori
perangkat.

Gambar 3.6 Diagram skematik sensor termografi MLX90640

3.4 Rancangan Sistem Akuisisi Data


Rancangan sistem akuisisi data monitoring daya keluaran dan efesiensi
panel surya terdiri dari sensor arus INA219, sensor tegangan yang menggunakan
pembagi tegangan, sensor cahaya BH1750 dan mikrokontroler ESP8266. Pada
rangkaian ini komponen sensor melakukan komunikasi dengan mikrokontroler
ESP8266 yaitu mengirim maupun menerima data antara komputer dan
mikrokontroler. Pada saat server host diaktifkan melalui XAMPP Control Panel
dan mikrokontroler ESP8266 mengirimkan data yang sebelumnya telah diterima
19

dari sensor intensitas cahaya, sensor arus dan sensor tegangan menuju database
yang kemudian disimpan dan ditampilkan didalam komputer, adapun rangkaian
sistem akuisisi data ditunjukan pada Gambar 3.7.

Gambar 3.7 Diagram sistem akusisi data efesiensi panel surya

Rancangan sistem akuisisi data untuk memonitoring sebaran hotspot pada


panel surya terdiri dari sensor termografi infrared dan mikroprosesor raspbery pi 3.
Pada rangkaian, komponen sensor kamera termografi inframerah melakukan
komunikasi dengan raspberry pi yaitu mengirim maupun menerima data antara
sensor termografi dan mikroprosesor. Pada saat data citra digital telah ditampilkan
pada LCD 3,5 inch kemudian akan dilakukan penyimpanan citra digital hot spot
panel surya pada memori internal raspberry pi selanjutnya dilakukan pengolahan
citra dan analisis terhadap kerusakan dan efesiensi panel surya, adapun rangkaian
sistem akuisisi data ditunjukan pada Gambar 3.8.

Gambar 3.8 Diagram sistem akuisisi data citra digital permukaan panel
surya
20

Proses akuisisi data citra digital hot spot panel surya dengan raspberry pi
menggunakan bahasa pemrograman phyton. Sedangkan proses akuisisi data
efesiensi panel surya dan pembuatan antarmuka pada komputer menggunakan
software Arduino IDE dan bahasa pemrograman php. Hal utama untuk melakukan
akuisisi data adalah melakukan pemrograman pada mikroprosesor dan
mikrokontroler untuk pembacaan sensor. Proses akuisisi data dan pembuatan
antarmuka diawali dengan pemrograman untuk membaca data dari sensor,
kemudian data disimpan ke dalam database. Setelah itu menapilkan data pada
website menggunakan pemrograman php.

3.4.1 Rancangan pemrograman monitoring efesiensi panel surya


Pada Gambar 3.9 menunjukkan diagram alir rancangan pemrograman
menggunakan software Arduino IDE serta masukan berupa mikrokontroler
ESP8266, sensor cahaya BH1750 dan sensor INA219. Variabel-variabel yang
dihasilkan adalah intensitas cahaya, tegangan, arus, serta daya listrik. Selang waktu
kelauaran antar setiap variabel adalah selama 1 detik, apabila semua variabel
terpenuhi maka akan menampilkan nilai setiap variabel kemudian pada selang
waktu 2 detik akan melakukan pengulangan.

3.4.2 Rancangan pemrograman web server


Host pada server digunakan untuk mengirim data yang terbaca oleh
mikrokontroler ESP32 menuju database menggunakan jaringan Wi-Fi. Protokol
komunikasi atau Host dapat dijalankan dengan alamat
http://localhost/CODE_SKRIPSI_WEB_DATABASE/ViewWeb.php
pemrograman bahasa php. Berikut listing program yang digunakan untuk
menjalankan protokol:
<html>
<head>
<title>NodeMCU ESP8266 MySQL Database</title>
<meta charset="utf-8">
<!-- Script for updating pages without
refreshing the page -->
<script src="jquery.min.js"></script>
21

<script>

Pada listing script menggunakan jquery.min.js berfungsi untuk menyederhanakan


dokumen HTML. Perintah read_db.php adalah script terpisah yang berisi membaca
database untuk ditampilkan di web server.

Gambar 3.9 Diagram alir rancangan pemrograman monitoring efesiensi


panel surya
22

3.4.3 Rancangan database


Pada sistem akuisisi data, database diperlukan untuk menyimpan data yang
diterima sehingga dapat ditampilkan kembali melalui alamat yang telah
terkonfigurasi. Pembuatan database diperlukan program XAMPP Control Panel
dan mengaktifkan fungsi Apache dan MySQL. Jika fungsi Apache dan MySQL telah
diaktifkan maka database dapat diakses melalui website dengan alamat
localhost/phpmyadmin/. Penyimpanan dan pengolahan database yang telah
diterima menggunakan MySQL dapat dilihat pada Gambar 3.10.

Gambar 3.10 Mengaktifkan fungsi Apache dan MySQL

Setelah mengakses database, maka muncul seperti yang ditunjukkan pada


Gambar 3.10, database yang digunakan yaitu ”Monitoring_Panel” sehingga data
yang diperoleh oleh mikrokontroler ESP8266 dikirm langsung menuju database
dan dapat dilihat melalui command prompt atau web dengan menunjukkan tabel
yang mewakili objek yang sedang dideteksi.

3.4.4 Rancangan antarmuka web


Menampilkan antarmuka yaitu database dalam bentuk tabel dan grafik
dapat diakses melalui web dibuat menggunakan bahasa pemrograman php. Didalam
23

pemrograman php dilakukan proses waktu real time dan temperatur terbaca dari
panel surya kemudian nilai tersebut dapat ditampilkan pada web dengan mengakses
alamat yang sebelumya telah dikonfigurasi.
Menampilkan database kedalam web, hal pertama yang perlu dilakukan
adalah menentukan alamat server yang ingin dihubungkan kemudian memilih
database yang diinginkan lalu memilih tabel atau data yang telah diambil. Setelah
data dipilih kemudian memasukkan data tersebut kedalam tabel pada web yang
ditunjukkan pada Gambar 3.11.

Gambar 3.11 Rancangan antarmuka pada web

3.4.5 Rancangan pemrograman sensor termografi


Pada gambar 3.12 menunjukkan diagram alir rancangan pemrograman
menggunakan mikroprosesor raspberry pi dan bahasa pemrograman python serta
masukan berupa sensor termografi inframerah. Variabel-variabel yang dihasilkan
adalah citra termografi suatu objek yang terdeteksi oleh sensor. Apabila variabel
terpenuhi maka dilakukan penyimpanan citra digital ke dalam SD card untuk
dilakukan analisis rasio penyebaran panas terhadap luas panel dan efeknya terhadap
efesiensi daya yang dihasilkan panel surya.
24

Gambar 3.12 Rancangan pemrograman sensor termografi


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Karakterisasi dan Kalibrasi Sensor Tegangan


Hasil karakterisasi pengukuran tegangan menggunakan sensor tegangan
terhadap ADC ditujukkan oleh gambar 4.1. pengukuran data karakterisasi
didapatkan nilai persamaan regresi linier yaitu y = 0,0009x – 0,0385. Pada gambar
4.1 sumbu-x adalah variabel nilai ADC yang didapatkan pada pembacaan
mikrokontroler dan sumbu-y merupakan variabel nilai tegangan yang terbaca pada
alat ukur standar. `

14
Tegangan pada alat ukur standar (Volt)

12

10 y = 0,0009x - 0,0385

0
0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000
-2
Bobot ADC

Gambar 4.1 Grafik karakterisasi sensor tegangan

Persamaan yang didapat dimasukkan ke dalam code program dan digunakan


untuk menyesuaikan nilai keluaran sensor tegangan dengan nilai pada alat ukur
standar melalui perhitungan dan ditampilkan pada antarmuka.
Setelah dilakukan karakterisasi sensor tegangan maka tahap selanjutnya
adalah kalibrasi sensor tegangan. Kalibrasi sensor tegangan dilakukan dengan cara
membandingkan nilai tegangan yang dibaca pada komputer terhadap nilai tegangan

25
26

yang terbaca oleh alat ukur standar. Tabel kalibrasi sensor tegangan ditunjukkan
pada tabel 4.1, dengan nilai error rata-rata 3,83 %. Error kalibrasi yang didapatkan
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor suhu lingkungan, noise pada
mikrokontroler atau sensor, dan sensitivitas sensor tegangan.

Tabel 4.1 Kalibrasi sensor tegangan


Tegangan pada
Tegangan referensi
No sistem yang dibuat Error (%)
(Volt)
(Volt)
1 3,57 3,75 4,80
2 3,83 3,90 1,79
3 3,89 4,00 2,75
4 4,30 4,50 4,44
5 4,78 5,00 4,40
6 5,28 5,54 4,69
7 5,76 6,04 4,63
8 6,28 6,50 3,38
9 6,69 7,00 4,42
10 7,24 7,50 3,46
11 7,73 8,00 3,37
12 8,24 8,50 3,05
13 8,71 9,00 3,22
14 9,10 9,50 4,21
15 9,58 10,00 4,20
16 10,06 10,50 4,19
17 10,55 11,00 4,09
18 11,00 11,50 4,34
19 11,64 12,00 3,00
20 12,02 12,56 4,29
Error rata-rata = 3,83 %

4.2 Hasil Kalibrasi Sensor Arus


Kalibrasi sensor arus dilakukan dengan membandingkan nilai arus pada
sistem yang dibuat dengan arus cahaya alat ukur standar. Hasil kalibrasi
ditunjukkan pada tabel 2. Error rata-rata yang dihasilkan sangat kecil yaitu 0,42 %.
Jika nilai error semakin kecil maka data pengukuran semakin akurat. Dari error
rata-rata yang didapat menandakan kedekatan data sangat kuat antara arus yang
terbaca pada komputer (sistem yang dibuat) dengan arus pada alat ukur standar.
27

Tabel 4.2 Kalibrasi sensor arus


Arus pada sistem Arus referensi
No Error (%)
(Ampere) (Ampere)
1 1,294 1,290 0,31
2 1,160 1,170 0,85
3 1,193 1,200 0,58
4 1,122 1,120 0,18
5 1,057 1,060 0,28
6 1,003 1,000 0,30
7 0,954 0,960 0,62
8 0,904 0,910 0,66
9 0,831 0,830 0,12
10 0,767 0,770 0,39
11 0,648 0,650 0,31
12 0,649 0,650 0,15
13 0,858 0,860 0,23
14 0,723 0,730 0,96
15 0,688 0,690 0,29
Error rata-rata = 0,42 %

4.3 Hasil Kalibrasi Sensor Cahaya


Kalibrasi sensor cahaya dilakukan dengan membandingkan nilai intensitas
cahaya pada sistem yang dibuat dengan intensitas cahaya alat ukur standar. Hasil
kalibrasi ditunjukkan pada Tabel 3.

Table 4.3 Kalibrasi sensor cahaya


Lux pada sistem
No Lux referensi (lx) Error (%)
yang dibuat (lx)
1 97 96 1,04
2 376 373 0,80
3 517 515 0,39
4 824 823 0,12
5 1627 1626 0,06
6 851 850 0,12
7 734 733 0,14
8 1071 1070 0,09
9 478 475 0,63
10 1107 1106 0,09
11 614 615 0,16
12 1058 1057 0,09
28

13 1035 1037 0,19


14 1011 1011 0
15 974 973 0,10
16 960 961 0,10
17 971 970 0,10
18 1128 1127 0,09
19 1137 1136 0,09
20 1149 1148 0,09
Error rata-rata = 0,22 %

Error rata-rata yang dihasilkan sangat kecil yaitu 0,22 %. Jika nilai error
semakin kecil maka data pengukuran semakin akurat. Dari error rata-rata yang
didapat, menandakan kedekatan data sangat kuat antara intensitas cahaya yang
terbaca pada komputer (sistem yang dibuat) dengan intensitas cahaya pada alat ukur
standar.

4.4 Hasil Uji Sensor Termografi Inframerah


Pengujian sensor termografi inframerah dilakukan dengan membandingkan
nilai suhu pada sistem yang dibuat dengan suhu cahaya alat ukur standar dengan
variasi jarak ukur objek dengan sistem yang dibuat. Hasil pengujian ditunjukkan
pada tabel 4.

Tabel 4.4 Uji sensor termografi inframerah


Suhu referensi Suhu pada
No Jarak (cm) Error (%)
(Celcius) sistem (Celcius)
1 1 38,59 38,50 0,23
2 5 39,04 39,00 0,10
3 7 38,14 38,00 0,37
4 10 36,73 36,00 1,99
5 12 36,56 36,00 1,53
6 15 36,68 35,80 2,40
7 17 36,62 35,30 3,60
8 20 39,22 36,20 7,70
9 25 39,52 36,40 7,89
10 30 39,54 36,60 7,43
11 35 40,05 37,00 7,61
12 40 40,03 36,40 9,07
13 45 40,05 36,20 9,61
14 50 40,03 36,20 9,57
29

15 100 40,03 36,00 10,06

Hasilnya menunjukkan bahwa nilai temperatur yang dideteksi sensor


semakin kecil dengan bertambahnya jarak. Nilai error terkecil diperoleh pada
rentang jarak pengukuran 1-12 cm dan error terbesar diperoleh pada jarak 100 cm.
Hal ini menunjukkan sensor semakin tidak sensitif jika diletakkan semakin jauh
dari objek. Jika nilai error semakin kecil maka data pengukuran semakin akurat.
Dari error yang didapat menandakan kedekatan data sangat kuat antara suhu yang
terbaca pada komputer (sistem yang dibuat) dengan suhu pada alat ukur standar
yang dilakukan pada jarak pengukuran 1-35 cm.

4.5 Hasil Pengukuran Daya dan Efesiensi pada Panel Surya


Akuisisi data menggunakan sensor arus, sensor tegangan, dan sensor cahaya
diperoleh data berupa arus, tegangan dan intensitas cahaya matahari, data disimpan
ke dalam database menggunakan MySQL melalui jaringan Wi-Fi. Data yang telah
tersimpan ke dalam database dapat dilihat melalui web dengan membuka
http://localhost/CODE_SKRIPSI_WEB_DATABASE/ViewWeb.php seperti yang
ditunjukkan pada gambar 4.2.

Gambar 4.2 Monitoring arus, tegangan dan suhu panel surya serta intensitas
cahaya matahari
30

Perhitungan daya dan efesiensi panel surya menggunakan software microsoft excel
dengan parameter tegangan, arus, intensitas cahaya, dan luas panel surya, yang
kemudian ditampilkan dalam bentuk grafik. Perhitungan daya dan efesiensi ini
dilakukan untuk melihat perbedaan antara kondisi panel yang normal (gambar 4.3),
rusak (glass cracking) (gambar 4.4), berpasir (gambar 4.5), dan tertutup daun
(gambar 4.6).
Pada gambar 4.3 memperlihatkan hasil monitoring daya keluaran panel
surya dengan kondisi normal. Daya maksimum dihasilkan sebesar 6,10 watt saat
kondisi terik matahari dan daya minimum 1,98 watt saat kondisi matahari tertutup
awan. Efesiensi maksimum panel surya kondisi normal saat terik matahari yaitu
9,68%.

6
Daya Keluaran (Watt)

0
11:02 11:09 11:16 11:24 11:31 11:38 11:45 11:52 12:00 12:07
Waktu (WIB)

Gambar 4.3 Grafik daya keluaran dan nilai efesiensi panel surya kondisi
normal

Pada gambar 4.4 memperlihatkan hasil monitoring daya keluaran panel


surya dengan kondisi rusak (glass cracking). Daya maksimum dihasilkan sebesar
4,42 watt saat kondisi terik matahari dan daya minimum 0,38 watt saat kondisi
matahari tertutup awan. Efesiensi maksimum panel surya kondisi rusak (glass
cracking) saat terik matahari yaitu 7,03%.
31

5
4,5
Daya keluaran (Watt) 4
3,5
3
2,5
2
1,5
1
0,5
0
09:50 10:04 10:19 10:33 10:48 11:02 11:16
Waktu (WIB)

Gambar 4.4 Grafik daya keluaran dan nilai efesiensi panel surya kondisi rusak
(glass cracking)

Pada gambar 4.5 memperlihatkan hasil monitoring daya keluaran panel


surya dengan kondisi berpasir. Daya maksimum dihasilkan sebesar 1,42 watt saat
kondisi terik matahari dan daya minimum 0,30 watt saat kondisi matahari tertutup
awan. Efesiensi maksimum panel surya kondisi berpasir saat terik matahari yaitu
2,26%.

1,6

1,4

1,2
Daya keluaran (Watt)

0,8

0,6

0,4

0,2

0
09:07 09:14 09:21 09:28 09:36 09:43 09:50 09:57 10:04 10:12
Waktu (WIB)

Gambar 4.5 Grafik daya keluaran dan nilai efesiensi panel surya kondisi
Berpasir
32

Pada gambar 4.6 memperlihatkan hasil monitoring daya keluaran panel


surya dengan kondisi tertutup daun. Daya maksimum dihasilkan sebesar 1,52 watt
saat kondisi terik matahari dan daya minimum 0,22 watt saat kondisi matahari
tertutup awan. Efesiensi maksimum panel surya kondisi tertutup daun saat terik
matahari yaitu 2,42%.

1,8
1,6
1,4
Daya keluaran (Watt)

1,2
1
0,8
0,6
0,4
0,2
0
10:26 10:33 10:40 10:48 10:55 11:02 11:09 11:16 11:24 11:31 11:38
Waktu (WIB)

Gambar 4.6 Grafik daya keluaran dan nilai efesiensi panel surya kondisi
tertutup daun

4.6 Hasil Pengukuran Suhu Permukaan Panel Surya Secara Termografi


Pengukuran citra hot spot panel surya 10 wattpeak dilakukan saat kondisi
terik matahari pada siang hari rentang pukul 09.00-15.00. Percobaan ini dilakukan
menggunakan panel surya dalam kondisi yang baik (normal), rusak (glass
cracking), berpasir dan tertutup daun. Data yang diambil dalam percobaan ini yaitu
berupa efesiensi daya keluaran terhadap rasio hot spot panel surya. Data yang telah
disebutkan digunakan untuk mengambil korelasi atau hubungan terhadap kelayakan
kerja dan potensi kerusakan panel surya. Kondisi panel surya yang digunakan pada
penelitian ini ditunjukkan pada gambar 4.7.
33

Gambar 4.7 Kondisi panel surya (a) normal (b) rusak (glass cracking)
(b) berpasir (d) tertutup daun

Dari kondisi-kondisi panel surya yang telah disebutkan selanjutnya


dilakukan monitoring efesiensi panel surya dan citra hot spot. Citra hot spot panel
surya hasil monitoring masing-masing kondisi ditunjukkan pada gambar 4.8
dibawah ini.
34

Gambar 4.8 Citra hotspot panel surya (a) normal (b) rusak (glass cracking)
(c) berpasir (d) tertutup daun

Citra termografi permukaan panel surya pada keempat kondisi


memperlihatkan titik panasnya (hot spot). Secara kasatmata dapat dibedakan
berdasarkan tingkat kecerahan citra yang merepresentasikan tingkatan panasnya.
Semakin cerah menyala maka semakin panas posisi tersebut. Pada monitoring
sebaran titik panas (hot spot) panel surya kondisi normal menunjukkan titik panas
(hot spot) sebesar 50 oC, kondisi rusak (glass cracking) 51,2 oC, kondisi berpasir
54,7 oC dan kondisi tertutup daun 48,1 oC.
Panel surya dengan kondisi rusak (glass cracking) mengalami peningkatan
suhu dikarenakan pada permukaan lapisan glass terbentuk retakan seperti jalur siput
sehingga menyebabkan cahaya yang terbias terperangkap pada celah-celah retakan
jalur siput ini. Sedangkan panel surya dengan kondisi berpasir mengalami
peningkatan suhu dikarenakan sifat dari pasir dengan daya serap panas yang tinggi
sehingga menyebabkan cahaya matahari terserap dan hanya sedikit yang terpantul.

4.7 Hasil Analisis Rasio Hot Spot Terhadap Efesiensi pada Panel Surya
Citra hot spot hasil monitoring masing-masing kondisi kemudian dilakukan
seleksi citra. Seleksi citra dilakukan untuk mendapatkan citra yang hanya berupa
objek panel surya yang dimonitoring. Sehingga proses ekstraksi ciri bentuk dan
RGB dapat dilakukan dengan efektif. Berikut citra hasil seleksi pada gambar 4.9
dibawab ini.
35

Gambar 4.9 Hasil seleksi citra hot spot panel surya (a) normal (b) rusak
(glass cracking) (c) berpasir (d) tertutup daun

Citra hot spot panel surya kemudian diolah dengan menggunakan aplikasi
Matlab untuk mengetahui ciri ekstraksi citra yang berupa luasan, keliling dan rasio
hot spot. Proses yang digunakkan untuk melakukan ekstraksi ciri citra RGB yaitu
konvolusi, k-means clustering dan operasi morfologi. Proses konvolusi digunakkan
untuk mendeteksi tepi atau memperoleh batas-batas citra hot spot.
Proses selanjutnya melakukan segmentasi citra dengan metode k-means
clustering tujuannya untuk memisahkan objek hot spot (foreground) dengan
background. Proses ini dilakukan dengan cara mengkonversi ruang warna citra
yang semula RGB menjadi ruang warna L*a*b. Selanjutnya komponen a dan b dari
citra L*a*b digunakan sebagai nilai masukan dalam algoritma k-means. Hasil
proses k-means clustering ditunjukkan pada gambar 4.3 berikut.
36

Gambar 4.10 Citra segmentasi K-Means clustering L*a*b colour panel surya
(a) normal (b) rusak (glass cracking) (c) berpasir (d) tertutup daun

Setelah kluster objek dapat dipisahkan maka diperoleh kluster objek citra
yang berupa hot spot. Kemudian dilanjutkan dengan proses operasi morfologi
dengan tujuan untuk filling holes agar menyempurnakan hasil segmentasi dan
bwareaopen untuk menghilangkan noise. Sehingga diperoleh hasil citra objek hot
spot yang ingin diukur luasan, keliling dan rasionya seperti ditunjukkan pada
gambar 4.4 berikut.
37

Gambar 4.11 Citra hot spot panel surya (a) normal (b) rusak (glass cracking)
(c) berpasir (d) tertutup daun

Setelah citra hot spot hasil segmentasi diperoleh dilajutkan dengan proses
perhitungan luasan dan rasio. Perhitungan luasan hotspot dihitung berdasarkan
jumlah pixel yang menyusun objek. Hasil perhitungan diperoleh data yaitu kondisi
panel surya normal terdapat sebaran hot spot sebesar 38,67 % dengan temperatur
50 oC dan efesiensi yang dihasilkan panel surya maksimal sebesar 9,68%. Pada
panel surya kondisi rusak (glass cracking) terdapat sebaran hot spot 48,80 %
dengan temperatur 51,2 oC dan efesiensi yang dihasilkan panel surya maksimal
sebesar 7,03 %. Pada panel surya kondisi berpasir terdapat sebaran hot spot sebesar
46,91 % dengan temperatur 54,7 oC dan efesiensi yang dihasilkan panel surya
maksimal sebesar 2,26 %. Pada panel surya kondisi tertutup daun terdapat sebaran
hot spot sebesar 62,31 % dengan temperatur 48,1 oC dan efesiensi yang dihasilkan
panel surya maksimal sebesar 2,42 %. Berikut data hasil analisis panel surya
kondisi normal pada tabel 4.5 , kondisi rusak (glass cracking) pada tabel 4.6,
kondisi berpasir pada tabel 4.7, dan kondisi tertutup daun pada tabel 4.8.

Tabel 4.5 Rasio hot spot dan efesiensi panel surya kondisis normal
Besaran terukur Nilai Satuan
Luas area total 90112 pixel
Luas objek hotspot 34853 pixel
Rasio hotspot 38,67 %
Suhu hotspot 50 Celcius
Efesiensi maksimum 9,68 %
Daya keluaran maksimum 6,10 Watt
38

Tabel 4.6 Rasio hot spot dan efesiensi panel surya kondisis glass cracking
Besaran terukur Nilai Satuan
Luas area total 75829 pixel
Luas objek hot spot 37066 pixel
Rasio hot spot 48,80 %
Suhu hot spot 51,2 Celcius
Efesiensi maksimum 7,03 %
Daya keluaran maksimum 4,42 Watt

Tabel 4.7 Rasio hot spot dan efesiensi panel surya kondisis berpasir
Besaran terukur Nilai Satuan
Luas area total 62944 pixel
Luas objek hot spot 29529 pixel
Rasio hot spot 46,91 %
Suhu hot spot 54,7 Celcius
Efesiensi maksimum 2,26 %
Daya keluaran maksimum 1,42 Watt

Tabel 4.8 Rasio hot spot dan efesiensi panel surya kondisis tertutup daun
Besaran terukur Nilai Satuan
Luas area total 60976 pixel
Luas objek hot spot 38000 pixel
Rasio hot spot 62,31 %
Suhu hot spot 48,1 Celcius
Efesiensi maksimum 2,42 %
Daya keluaran maksimum 1,52 Watt
BAB V
KESIMPULAN

5.3 Kesimpulan
Berdasarkan pengujian dan analisis yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa :
1) Sistem monitoring gejala kerusakan panel surya berdasarkan sebaran titik
panas (hot spot) menggunakan raspberry pi, dan sensor termografi MLX90640
serta sistem monitoring efesiensi panel surya secara real time menggunakan
ESP8266, sensor intensitas cahaya BH1750, sensor arus INA219, dan sensor
tegangan telah berhasil dirancang bangun dan dapat bekerja dengan baik.
2) Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dengan sistem yang telah dirancang
dan dengan objek panel surya dengan kondisi normal, rusak (glass cracking),
berpasir dan tertutup daun didapatkan perubahan efesiensi panel surya serta
sifat dan rasio sebaran titik panas (hotspot) yang berbeda-beda yang
merepresentasikan masing-masing keadaan. Gejala kerusakan pada panel surya
yang disebabkan tempelan pasir dan glass cracking mengalami peningkatan
temperatur.
3) Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa dengan
mendeteksi sebaran titik panas (hotspot) dan peningkatan suhu dari suhu
normal yang telah ditentukan maka dapat diketahui pula kondisi panel surya
normal dan rusak (hal yang dapat menyebabkan panel surya rusak seperti glass
cracking dan berpasir).

5.4 Saran
Beberapa saran untuk mengatasi dan melengkapi kelemahan pada sistem
ini yaitu sebagai berikut :

39
40

1) Proses monitoring kondisi panel surya dilakukan dengan manual dengan


merekam citranya dengan bantuan smartphone, untuk pengembangannyadapat
dilakukan sistem yang terautomatisasi sehingga proses perekaman citra dapat
dilakukan lebih mudah.
2) Proses analisis citra masih dilakukan dengan tahap yang berbeda menggunakan
bantuan aplikasi matlab, agar terbentuk sistem cerdas dapat menganalisis objek
secara real time maka dapat dikembangkan dengan Open CV pada sistem
menggunakan raspberry pi.
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. (2006). Tahap Persiapan Bersama Itb. Institute Teknologi


Bandung.
Budiyanto, M. A., Nasruddin, & Lubis, M. H. (2020). Turbidity factor coefficient
on the estimation of hourly solar radiation in Depok City, Indonesia. Energy
Reports, 6, 761–766. https://doi.org/10.1016/j.egyr.2019.11.152
Gallardo-saavedra, S., Hernádez-callejo, L., Duque-pérez, Ó., Gallardo, S., &
Hernández, L. (2019). Analysis and characterization of PV module defects by
thermographic inspection Análisis y caracterización de defectos en módulos
fotovoltaicos por medio de termografía CITE THIS ARTICLE AS : ARTICLE
INFO : 93, 92–104. https://doi.org/10.17533/udea.redin.20190517
Harismawan, A. F., Kharisma, A. P., & Afirianto, T. (2018). Analisis
Perbandingan Performa Web Service Menggunakan Bahasa Pemrograman
Python , PHP , dan Perl pada Client Berbasis Android. Jurnal
Pengembangan Teknologi Informasi Dan Ilmu Komputer (J-PTIIK)
Universitas Brawijaya, 2(January), 237–245. http://j-
ptiik.ub.ac.id/index.php/j-ptiik/article/view/781
Li, J., Jian, H., Yao, L., Zhao, M., Shu, J., Xiao, X., & Jiu, T. (2018). Highly
efficient regular polymer solar cells based on Li-TFSI doping ZnO as
electron-transporting interlayers. Solar Energy, 169(March), 49–54.
https://doi.org/10.1016/j.solener.2018.04.018
Malexis. (2019). MLX90640 32x24 IR array. 1–60.
Pedro, F., Márquez, G., & Ramírez, I. S. (2019). Condition monitoring system for
solar power plants with radiometric and thermographic sensors embedded in
unmanned aerial vehicles. 139, 152–162.
https://doi.org/10.1016/j.measurement.2019.02.045
Peng, Z., Herfatmanesh, M. R., & Liu, Y. (2017). Cooled solar PV panels for
output energy efficiency optimisation. Energy Conversion and Management,
150, 949–955. https://doi.org/10.1016/j.enconman.2017.07.007
Prihtiadi, H., & Djamal, M. (2017). The reliability of wireless sensor network on
pipeline monitoring system. Journal of Mathematical and Fundamental
Sciences, 49(1), 51–56. https://doi.org/10.5614/j.math.fund.sci.2017.49.1.5
Ramadijanti, N., Basuki, A., & Fahrul, F. (2014). Buku Ajar Pengolahan Citra
Program Studi Teknik Informatika Departemen Teknik Informatika dan
Komputer.
Roy, S., Sharmin, R. S., & Ferdous, T. (2014). Performance Analysis Of Mono-
Crystalline And Poly-Crystalline Silicon Solar Cells Under Different
Climatic Conditions: A Comparative Study (Issue December). BRAC
University.
Suryono. (2018). Teknologi Sensor (Pertama). UNDIP PRESS.
Suryono, S., Khuriati, A., & Mantoro, T. (2019). A fuzzy rule-based fog – cloud
computing for solar panel disturbance investigation. Cogent Engineering,
6(00), 1–19. https://doi.org/10.1080/23311916.2019.1624287

41
42

Tiano, F. A., Rizzo, G., Marino, M., & Monetti, A. (2020). Evaluation of the
potential of solar photovoltaic panels installed on vehicle body including
temperature effect on efficiency. ETransportation, 5, 100067.
https://doi.org/10.1016/j.etran.2020.100067
Tira, H. S., Natsir, A., & Anwar, M. S. (2017). Studi Eksperimental pada
Emulator Surya Berdasarkan Intensitas Matahari Terhadap Unjuk Kerja Sel
Surya 10 Wp Tipe Polycristalline. Rotasi, 19(4), 237.
https://doi.org/10.14710/rotasi.19.4.237-242
Triki-Lahiani, A., Bennani-Ben Abdelghani, A., & Slama-Belkhodja, I. (2018).
Fault detection and monitoring systems for photovoltaic installations: A
review. Renewable and Sustainable Energy Reviews, 82(October 2017),
2680–2692. https://doi.org/10.1016/j.rser.2017.09.101
LAMPIRAN A
Data-Data Penelitian
Tabel A.1 Monitoring efesiensi panel surya kondisi normal
Nilai Lux Volt miliampere Celcius Daya Efesiensi
keluaran
Max 54612 16,26 444,10 50,53 6,10 9,68
Min 29465 13,17 147,70 29,74 1,98 5,66
Avrg 49061 13,68 322,30 43,86 4,42 7,61

Tabel A.2 Monitoring efesiensi panel surya kondisi rusak (glass cracking)
Nilai Lux Volt miliampere Celcius Daya Efesiensi
keluaran
Max 54612 13,79 324,3 55,26 4,43 7,03
Min 29173 13,00 28,70 29,81 0,38 0,61
Avrg 54427 13,58 273,84 49,48 3,72 5,92

Tabel A.3 Monitoring efesiensi panel surya kondisi berpasir


Nilai Lux Volt miliampere Celcius Daya Efesiensi
keluaran
Max 54612 13,31 108,60 57,64 1,42 2,26
Min 29580 12,96 22,80 27,84 0,30 0,88
Avrg 54214 13,26 92,58 51,24 1,23 1,95

Tabel A.4 Monitoring efesiensi panel surya kondisi tertutup daun


Nilai Lux Volt miliampere Celcius Daya Efesiensi
keluaran
Max 54612 13,29 116,50 52,35 1,53 2,43
Min 19800 12,96 17,50 29,96 0,23 0,93
Avrg 49924 13,21 83,54 46,22 1,10 1,84

43
LAMPIRAN B
Grafik Data Penelitian

Intensitas Cahaya Matahari


60000
50000
40000
Lux

30000
20000
10000
0
11:02 11:09 11:16 11:24 11:31 11:38 11:45 11:52 12:00 12:07
Waktu

Tegangan Keluaran
18
16
14
12
10
Volt

8
6
4
2
0
11:02 11:09 11:16 11:24 11:31 11:38 11:45 11:52 12:00 12:07
Waktu

Arus Keluaran
500

400
miliampere

300

200

100

0
11:02 11:16 11:31 11:45 12:00 12:14
Waktu

Gambar B.1 Intensitas matahari, tegangan, dan arus keluaran panel surya
kondisi normal

44
45

Intensitas Cahaya Matahari


60000

50000

40000
Lux

30000

20000

10000

0
09:50 10:04 10:19 10:33 10:48 11:02 11:16
Waktu

Tegangan Keluaran
13,9
13,8
13,7
13,6
13,5
Volt

13,4
13,3
13,2
13,1
13
12,9
09:50 10:04 10:19 10:33 10:48 11:02 11:16
Waktu

Arus Keluaran
350
300
250
miliampere

200
150
100
50
0
09:50 10:04 10:19 10:33 10:48 11:02 11:16
waktu

Gambar B.2 Intensitas matahari, tegangan, dan arus keluaran panel surya
kondisi rusak (glass cracking)
46

Intensitas Cahaya Matahari


60000

50000

40000
Lux

30000

20000

10000

0
09:07 09:14 09:21 09:28 09:36 09:43 09:50 09:57 10:04 10:12
Waktu

Tegangan Keluaran
13,35
13,3
13,25
13,2
13,15
volt

13,1
13,05
13
12,95
12,9
09:07 09:14 09:21 09:28 09:36 09:43 09:50 09:57 10:04 10:12
Waktu

Arus Keluaran
120

100
mili ampere

80

60

40

20

0
09:07 09:14 09:21 09:28 09:36 09:43 09:50 09:57 10:04 10:12
Waktu

Gambar B.3 Intensitas matahari, tegangan, dan arus keluaran panel surya
kondisi berpasir
47

Intensitas Cahaya Matahari


60000

50000

40000
Lux

30000

20000

10000

0
10:26 10:33 10:40 10:48 10:55 11:02 11:09 11:16 11:24 11:31 11:38
Waktu

Tegangan Keluaran
13,35
13,3
13,25
13,2
13,15
Volt

13,1
13,05
13
12,95
12,9
10:26 10:33 10:40 10:48 10:55 11:02 11:09 11:16 11:24 11:31 11:38
Waktu

Arus Keluaran
140
120
100
mili ampere

80
60
40
20
0
10:26 10:33 10:40 10:48 10:55 11:02 11:09 11:16 11:24 11:31 11:38
Waktu

Gambar B.3 Intensitas matahari, tegangan, dan arus keluaran panel surya
kondisi tertutup daun
LAMPIRAN C
Gambar Alat dan Bahan Sampel Penelitian

Gambar C.1 Sistem instrumen monitoring hotspot panel surya

Gambar C.2 Sistem instrumen monitoring efesiensi panel surya

48
49

Gambar C.3 Sampel panel surya dengan berbeda kondisi

Anda mungkin juga menyukai