0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
340 tayangan59 halaman

Puisi: Definisi dan Penyair Besar

Dokumen tersebut membahas tentang definisi puisi menurut beberapa ahli, struktur puisi, contoh puisi, dan penyair-penyair besar Indonesia. Secara ringkas, puisi adalah bentuk karya sastra yang memanfaatkan bahasa yang dipadatkan secara ritmik dan emosional untuk menyampaikan pengalaman intelektual dan imajinatif.

Diunggah oleh

Fiqih Stevy
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
340 tayangan59 halaman

Puisi: Definisi dan Penyair Besar

Dokumen tersebut membahas tentang definisi puisi menurut beberapa ahli, struktur puisi, contoh puisi, dan penyair-penyair besar Indonesia. Secara ringkas, puisi adalah bentuk karya sastra yang memanfaatkan bahasa yang dipadatkan secara ritmik dan emosional untuk menyampaikan pengalaman intelektual dan imajinatif.

Diunggah oleh

Fiqih Stevy
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PUISI

• DEFINISI
• Coleridge “bahasa yg terpilih dengan gagasan yang di
seleksi yang paling bagus.”
• Clive Sansom “bentuk pengucapan bahasa yg ritmis yg
mengungkapkan pengalaman intelektual yg bersi- fat
imajinatif dan emosional.
• Herbert Spencer: “bentuk pengucapan gagasan yg bersifat
emosional dengan mempertimbangkan efek keindahan”
• Samuel Johnson:”luapan spontan dari perasaan yg penuh
daya berasal dari emosi dan menciptakan keselarasan.
• P.B.Shelley: “rekaman dari saat-saat yg paling baik dan
paling menyenangkan “ (mood)
PENGERTIAN MENURUT HERMAN W.
• Puisi adalah bentuk karya sastra yang bahasanya dipadatkan
untuk memperoleh kekuatan pengucapan dan untuk
memperindah digunakan diksi, citraan, kata kongkret, bahasa
figuratif, versifikasi, dan tipografi.
• Dalam sejarahnya, puisi paling tua adalah mantra, yang sangat
mementingkan persamaan bunyi dan pilihan kata dan sangat
mementingkan efek kekuatan gaib yang ditimbulkan oleh pilihan
kata dan persamaan bunyi yang menimbulkan efek
kekhusyukan.
• Dalam kebudayaan Jawa, ada puisi lama, seperti: parikan,
wangsalan, sanepa, syair, tembang (macapat, tengahan, dan
tembang gedhe) yang sangat populer.
• Puisi diciptakan oleh seseorang pada saat khusus, yaitu jika
orang tersebut mengalami perasaan jiwa yang luar biasa (mood),
misalnya: cinta, sedih, gembira, terharu, dsb.
PARA PENYAIR BESAR
• PENYAIR BESAR INDONESIA adalah: Amir Hamzah (untuk Periode
Balai Pustaka & Pujangga Baru), Chairil Anwar (untuk Angkatan
‘45), w.S. RENDRA (untuk Periode 50-an sampai 76, dan Sutardji
Calzoum Bachri (untuk Periode 1976 sampai 2000). Untuk
periode selanjutnya belum terpilih penyair-penyair terkemuka
karena belum ada penyair yang memiliki kelebihan yang cukup
menonjolkan dalam penciptaan struktur puisi yang menjadi
kecenderungan kuat pada periode-periode tertentu.
• PENYAIR BESAR DI BAWAH 4 NAMA TERSEBUT: Subagio
Sastrowardojo, Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono,
Taufiq Ismail, Darmanto Jatman, Asrul Sani, Toeti Herati,
Dorothea Rosa Herliany, Emha Ainun Nadjib, Sitor Situmorang,
D.Zawawi Imron, Linus Suryadi, Afrizal Malna, Joko Pinurbo,
Mustofa Bisri, .....
LANJUTNYA .....
• yang nampak jiwa Chairil di sana, menunjuk kan human
Ahmadun Y. Herfanda, Hamid Jabar, F. Rahardi, Acep Zamzam
Noer, Agus R. Sardjono, Abdul Hadi W.M, Wiji Thukul, Omi Intan
Naomi, Oka Rusmini, Mardi Luhung, dan Eka Budianta. Nama-
nama terdepan diharapkan dikuasai dgn karya-karyanya
dibandingkan nama-nama di belakang.
• Chairil memiliki keintimewaan karena oleh Majalah TEMPO
DINYATAKAN sebagai salah satu dari 10 besar manusia Indonesia
Abad 20. Jasanya paling utama memper kenalkan bahasa
Indonesia yang demokratis (peng- hargaan individu manusia
Indonesia) dengan keberanian menyebut dirinya AKU dan bukan
BETA atau HAMBA seperti RUSTAM EFENDI. Juga “Surat
Kepercayaan Gelanggang dignity, atau humanisme universal !
STRUKTUR PUISI
• STRUKTUR TEMATIK (STR. BATIN)
– Tema
– Perasaan
– Nada (sikap penyair dalam menulis)
– Amanat (pesan)
• STRUKTUR SINTAKTIK (STR. FISIK)
– Diksi (pilihan kata)
– Imagery (citraan)
– Kata kongkret
– Bahasa figuratif (lambang dan kiasan)
– Versifikasi (rima, ritme, dan metrum/metre)
– Gaya pengungkapan
CONTOH PUISI (2)
• HUJAN BULAN JUNI
• tak ada yang lebih tabah
• dari hujan bulan juni
• dirahasiakannya rintik rindunya
• kepada pohon berbunga itu
• tak ada yang lebih bijak
• dari hujan di bulan juni
• dihapusnya jejak-jenak kakinya
• yang ragu-ragu di jalan itu
• tak ada yang lebih arif
• dari hujan di bulan juni
• Dibiarkannya yang tak terucapkan
• Diserap akar pohon bunga itu. (1994)
SENJA DI PELABUHAN KECIL
• buat Sri Ayati
BU
• Ini kali tidak ada yang mencari cinta,
• Di antara gudang rumah tua pada cerita
• tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut,
• menghembus diri dalam mempercaya mau bertaut
• Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
• menyinggung muram, desir hari lari berenang
• menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
• dan kini tanah, air tidur, hilang ombak
• Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
• menyisir semenanjung. Masih pengap harap
• sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
• dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

PUISI (lanjutan …)

• Thomas Carlyle: “ungkapan pikiran yang bersifat


musikal”.
• Marjorie Boulton: “puisi terdiri atas dua bagian,
yaitu: physical form(bentuk fisik) dan mental
form(bentuk mental), yang oleh Pradopo disebut
struktur semantik atau struktur tematik dan
struktur sintaktik.
• Perrine :”poetry is universal as language and
LANJUTAN

• Perrine :”poetry is universal as language and


almost as ancient. The most primimitive people
have used it, and in all countries, poetry has been
written – and eagerly read or listened to – by all
kinds or conditions of people, by soldiers,
statesment, lawyers, farmers, doctors, scientists,
clergymen, philosophers, kings, and queens. In all
ages it has been especially the concern of the
educated, the intelligent, and the sensitive, and it
has appealed, in it simple form, to the uneducated
and to childrens. WHY ?
PUISI (lanjutan…)
• WHY ? Because
– It has given pleasure
– A kind of language that says more and more intensely than
ordinary language.
• DALAM PUISI :
– Ada intensitas (pemadatan) pengucapan bahasa
– Ada musikalisasi berupa rima (ulangan bunyi)
– Ada irama yang padu sebagai sarana memperkuat pengu- capan
gagasan penyair
– Ada suasana khusus yang luar biasa (mood) yang menonjol- kan
segi emosional.
– Tatawajah mewakili pengucapan gagasan yang intens itu, yaitu
pemadatan baris-baris, bait, dan bukan kalimat terurai. Tatawajah
membedakan puisi dari prosa.
PUISI (LANJUTAN…)
• Between poetry and other form of imaginative lite-
rature there is no sharp distinction. Poetry can be
recognized by the arrangement of its lines on the page
or by its use of rhyme and metre.
• Poetry is a kind of multidimensional language.Ordi- nary
language – the kind that we use to commu- nicate
information – is one dimension. It is directed only part
of the listener, his understanding. Its one dimension is
intellectual. Poetry which is langua- ge used to
communicative experience has at least four dimensions:
(1) intellectual; sensuous; (3) emotional; and (4)
imaginative dimension.
PUISI (lanjutan …)
• Poetry achieves its extra dimension by drawing more fully and
more consistently than does ordinary language on a number of
language resources more of which is peculiar to poetry. Among the
various resounces are: connotation, imagery, metaphor, symbol,
paradox, irony, allusion, sound, repetition, rhythm, and pattern.
• MEMBACA PUISI
– Read the poem more than once
– Keep a dictionary by you and used it
– Read so as to hear the sounds of the words in your mind
– Always pay careful attention to what the poem is saying.
– Practice reading poem aloud: (1) read in affectionally; (2) re-
ading too fast offers greater danger than reading too slow; (3)
reading the poem so that the rhytmical pattern is felt but not
exagerated.
PENYAIR JAWA MODERN
• PERIODE 1940 – 50
– Subagio I.N., Nirmala, dan Samatha (baca puisinya)
• PERIODE 1950 -- 60
– Iesmaniasita, N. Sakdani, Trim Sutidjo, dan Soesilo murti
(baca: Ngangsag, Kartu Ceki, dan Jakarta).
• PERIODE 1960 – 70
– Basuki Rahmad, Suripan Sadi Hutomo, Nusyahid, Anie
Soemargo, Iwan Respati, Napsiah Sastrosis woyo
(bacalah puisi Paman Tani, Kincil Angin, Su rat Putih, Dak
sawang Nggegawang, Potret).
PATEMON SEPTEMBER (Herwa)
• Ing patemon September, patemon sepi
• kidung megatruh kumandhang selaning pucuk gunung
• sesahutan karo lungiting ati
• jawaban kang digawa angin lan ati liwung
– geneyo isih dadi panglimbang
– yen kabeh cathetan bab prahara lan bebungah wis ngegla
– ora susah nganggo sanepo lan pralambang
– ati lugu madhep ing tengahing ara-ara.
• ing patemon September kokkandhakke bab pamitan
• mung mawar putih alum koktampakke tangan
• wus seminggu nunggu purnama liwat
• ngestreni pepisahan lan patemon kang pungkasan.
– sugeng tindak, rayi, kretamu bakal mlaku ngetan
– nututi semburating surya lan alas jati kang ngilak-ilak
– aja lali, mengko buwangen kabeh angen-angen
– sing digegontha nalika isih cedhak.
• ana semiliring angin sore, mung swaraning suling
• isih rerambatan ing pasawahan ngrengga sepining wengi
• ing pinggiring lurung pepaes ati nglangut lan melati
• ngimpekake dina ngarep bisiking tresnamu kang isih dumeling.
• Majaksingi, September 1963
JEMPARING SEKTI (Nirmala, 40-an )

• Wis tatas rontang ranting


• kataman lungiding jemparing
• sedya arsa angendhani
• ywa kongsi keneng braja sineksi
– teka tan mawa sebawa
– lepasing jemparing braja
– kataman wus tanpa daya
– ngalumpruk lir kena ing wisa.
• dhuh dewa Kamajaya
• asunga usada asri
• kataman jemparing paduka
• ywa kongsi neniwasi.
NAPISAH
• Napisah kembang dhukuhan
• ayune pinunjul tandhing
• gedhe dening kali bening
• rerungkudan, glagah alasan
• enggon dolane lan blusukan
– Napisah sabane sawah
– tegalan wangkitan alas
– capinge dawir pinggire
– lan ebor cangkingane
– tugas sadina natas
– utawa ngindhit briyet
– liron wutahing kringet
– mudhun, dhasar ana pasar
APA KOWE WIS LEGA (Iesmaniasita)
• Aku bisa nyipta Palgunadi lan Anggraini
• Panji lan Candrakirana
• Edining kuncup melathi
• Jingga lan aruming ludira.
– O, zaman Kanwa
– Sedhah pepuspan amrik
– Mekar endah
– Uriping zaman sesindhenan
– Ngumbara turut pesisir
– Nasak wana saklumahing bawana
• O, sumitra
• Apa sliramu wis lega
• Sesindhenan lagu kuna ?

• Panyebar Semangat 1954


Teruse Napisah…

• Napisah kembang dhukuhan


• ayune pinunjul tandhing
• gedhe dening kali bening
• rerungkudan, glagah alasan
• enggon dolane lan blusukan
– Napisah sabane sawah
– tegalan wangkitan alas
– capinge dawir pinggire
– lan ebor cangkingane
– tugas sadina natas
– utawa ngindhit briyet
– liron wutahing kringet
– mudhun, dhasar ana pasar
Trim Sutijo: KARTU-KARTU CEKI
• kertu-kertu ceki iki
• aja dirampas maneh saka tanganku
• amarga ya mung kuwiwoding uripku
• dalanku tekan sabrang
• marang donyaku sing wis ilang ing kasunyatan
• marang donyaku, donya khayali
• nglipur atiku sing sumendhe ing lintang-lintang
• amarga donya kang nyata pranyata dudu darbekku
• nanging donyane para brewu sing bisa nuku.
– kertu-kertu ceki iki
– aja dirampas meneh saka tanganku
– marga ya mung karana kuwi aku lali
– atise wengi ing ril-ril sepur kuwi
– bantaling turuku woding impenku
– marang donyaku, donya khayali ing lintang-lintang
– amarga saiki
– saben toko lan longe kreteg kabeh wis dipageri wesi.
Bacute ….
• mongka aku ngerti
• sesuk sore ril-ril sepur kuwi ya mesthi wis dipageri
• ora perlu dak pikir sesuk bengi aku kudu turu ngendi
• anggere kok rampas maneh kertu-kertu ceki iki.
» Jakarta, 1972, Trim Sutijo

» KUCING (Efix Mulyadi)


– Nong. Kucing kuwuk
– Lung. Kucing gandhik
– Ring. Kucing rabi
» huurrah. Mbribeni bayi
» siji
» loro
» telu
» o, kucinge tanggaku.
» (PUISI KONGKRET)
INVERCARGIRL ING POJOK KIDUL

• sorene
• invercargirl
• pojok paling kidul
• ombak cilik oyak-oyakan
• angin lembut, wit-witan sepi
• gegodhongan ngawe-awe
• ing pojok paling kidul
• Srengenge semaput
• ing antaraning gunung salju putih
• jejer pojok kulon keprungu dumeling
• rintih swarane sindhen bule
• langit semburat klawu
• ombak-ombak cilik
• oyak-oyakan
• ing pinggir
• segara biru
LAYANG SAKA BOYOLALI (Irul Es Budianto)
• Dina iki aku isih bisa crita, dhik
• padhang lan seger tumancep ing ati,
• plataran resik lan mekaring mlathi
• ngawe-awe gegayuhan kasimpen jroning ati
• kapan bakal bisa dadi siji
• kowe ora ngerti
• tresnaku kaya panase gunung Merapi
– kabeh pakaryan mung kagem kengslira
– ati mung tansah nyathet obahing dhadha
– nalika kita sakkloron ing jurang lungit
– alas Klego sing kesuwur wingit
– sirahku sumeleh ana pundhakmu
– kowe nangis nyawang Merbabu
– tumibaning luh bareng lan tangising ati
• apa isih ana tresna saka sliramu, rayi
• nalika ombak Pantai Kuta nyempyok padoning lathi
• rerangkulan lan priya bule saka Ustrali
• apa isih ana enggon kanggo tresnaku iki
• lan kowe isih eling priya Boyolali ?
Teruse …………
• ijazah sarjanaku isih durung payu
• golek panguripan ing tengahing dahuru
• mung bisa nangis, ngekep map kucel warna biru
• kabeh kantor datan nggubris marang tekaku.
• priyayi-priyayi luhur mung mesem ngempreti aku.
– muga sliramu mulya, adhiku
– aja lali yen wis tekan tanah Kanguru
– Boyolali isih nunggu
– jaka nganggur apa wis tan dipaelu
– atiku isih duwekmu
– semono uga tresnaku
• najan mung sesambat lirih
• kanti ati kang ringkih
• kowe takculake kanthi perih.
• kapan bisa mulih ?
• Panyebar Semangat Febr. 97

UDAN JANUARI (Sugeng Wiyadi)
• Januari, udane tanpa ngetung wanci
• nepusi dalan Jemursari aku njedhindhil thili-thili
• bemo lan taksi pating sliri
• grapyak ngawe-awe, aku nanggapi
• dakresepi tumetese banyu udan
• krasa atis ing kulit tumus embun-embun.
– jumangkah ing dalan aspalan
– awak katise, ndrodhog wel-welan
– angen-angen nggiwar marang Karang Padesan
– kelingan jaman cilikan
– playon ing tengah galengan
– kepleset tiba klumah ing endhut ler-leran
– ya ngene
– jantraning sejarah urip si bocah ndesa
– ngulandara tekan Surabaya
– kepalang Januari kang kebes
Teruse ……….
• kesurang-surang lan apes
• kadya mustika murtya saking embanan
• anak lanang luput saka kudangan
• dadi amun-amun ana ing palagan panguripan.
• Panyebar Semngat, Feb. 96

• DONGA WONG TANI (Turiyo Ragil P.)


• lemah iki wis dadi bojoku sing pungkasan
• sawuse tresnaku digondhol manuk pegunungan
• sing saba menyang kutha tanpa kirim pekabaran
• wis darbe emas barleyan cakrik kurungan
• yen aku mati, yayi
• kabarna sanak kadang
• kareben bocah-bocah katut ing pangimpen
• urip pulasan kebak ing rubeda.
• Kebumen, 3 Januari 96
JAKARTA (Jaimin K.)
• dak lakoni adu nasib
• ing gorehing pencakar langit
• ngawe-awe mega
• kutha kang kebak gebyar donya
• nambahi ati bingar mulya
– angka-angka sing takpasang
– kepenthang rubuh ing dalan simpang
– niba nangi kebak ing pepalang
– nemoni tegal suwung kebak ing alang-alang.
• kumandhange tembang padesan sing dakremehake
• cetha ngegla ing pikiran
• gebyar mompyoring metropolitan
• wujud lahir kang tanpa rega
• bareng tresnamu, biyung, ing tanah padesan
• ora leleh kena sorot lampu pelabuhan
– tetahunan sing daktemu mung kuciwa
– sandiwara urip kejem ngegla saben dina
– urip lelamisan paes donya kang sakwetara
– adhuh, embok
– adhuh Meniek, aku bali ing sisihmu
– arep takgarap tegal bera sumbering mulya
– ing ngarsamu tanpa lamis lan sandiwara. Jogyakarta, 94.

YEN KEDHASIH SERAK CELUK (A.Nugroho)
• Upama kudu daktresnani sliramu
• Dudu rupa, nanging watak lan pribadimu
• Ngayawara uga bakal rila
• Ana pager paraga sakjuga
– Upama kudu daklali sliramu
– Dudu pribadi, nanging liring lan esem palsumu
– Sing ora tumon dadi katon
– Tansah laku sesimpangan
– Tumapake cakrawala rinungkeban langit
– Katrien, atiku takgantung nantang ayang-ayang.
• Iki, mung kari geguritan kang pungkasan
• Gambarmu musna kaya bun tinerjang padhange awan
• Yen ana kedhasih serak ngasih-asih kudu kok sauri
• Ing kana dalan simpangan
• Lumah kurebe tembang tresna lan pepisahan
• perang gunung durung rampung
• Trien, durung rampung. Jogyakarta 87
ING SAKNDUWURING LAUT MATI (Herwa)
• ing
• sakndhuwuring
• laut mati kaya mung
• serambut pinara sewu
• wates antaraning urip lan mati
• ing
• aburing pesawat
• sakndhuwung pedhut dan mega
• bulak panas lan segara pasir
• atiku mung pasrah
• urip matiku
• Gusti paring
• berkah
• ing
• sakidule
• pegunungan Alpen
• angin sore mawa teja
• bates langit
• lan bumi
Teruse ……
• ing
• pinggiring laut mati
• patemon putih lan langit
• sorene candikala
• segara anakan
• pasemon ireng
• terus mangulon
• mlipir gisik
• mlebu bandhara
• Heathrow
• lan ati
• goreh
• reh
• reh
• . London, 95
KINCIR ANGIN (Suripan Sadi Hutomo)
• Dhuwur endheke kincir angin
• Ing sacedhake Kali Riyn kang nakal
• Cave-cave nyebar lelagon
• Tangan alus kenya bule ngawe-awe
• Nganggo kapal cilik
• Kesempyok ombak ing landheyan
• Pelabuhan kanthi banyu ricik-ricik
• Kutha Rotterdam sinorot rembulan.
– Kabut kandel
– Manglung udel
– Sangsaya kendel
– Keluking piyandel
• Lonceng greja
• Ngoyak swarga
• Nadyan kenya bule teka
• ora dak sapa. Leiden, Januari 79
AKU LAN DHEWEKE (Poer Adie Prawoto)
• satemene
• wis kepara lawas
• aku mendhem pengarep kapan
• bisa kumpul lan sarana kumpul bisa
• dheweke dakgawe sayah, lemes, lan lungkrah
• ananging riwe kang tumetes mbaka siji ing pasuryan
• neteske wiji kasetyan kang mulus lan ing lemes lungkrah
• bisa wae dheweke pasrah pinrajaya ing aku dadya sarana
• kang isih nyisa jroning angga saengga bisa dinulat ing surya
• memanising ati kang tansah ngujiwat ing telenging jiwa
• kayadene cahya sumorot ing tengahing pepeteng
• wengi nggameng ya mung dheweke kuwi
• mitra sinarawedi leladi aweh daya
• apa sing duweke njaba njero
• diwenehake dadi duwekku
• mabur ing alam impen
• necep madu asmara
• aku karo
• dhewek
• e Solo, Agustus 90
STRUKTUR PUISI (lanjutan…)
• IMAGERY: “the representation through language as
sense representation. The word image perhaps most often
suggests a mental picture, something seen in the
mind’s eye – and visual imagery is the most
frequently occuring kind of imagery in poetry. An image
also represent a sound,smell,a tactile ex-
perience such as: hunger, thirst, or nausea, or mo
vement or tension in the muscles or joints.
• FIGURE OF SPEECH: is any way of saying some-
thing other than the ordinary way, and some rhetori- cans
have classified as manyas 250 separate figures. (a way of
saying one thing and meaning another and we need
be corcerned with no more than a dozen 
simile/methafor and symbol)
STRUKTUR (lanjutan …)
• SIMILE : personification, synecdoche, metonimy,
overstatement (hyperbola), understatement (euphe-
memism), irony (verbal irony, dramatic irony, irony of
situation, satire, sarcasm), and allusion (sindiran).
• SYMBOL: “something that means more than what is it.
Image, metaphor, and symbol shade into each other and
sometimes difficult to distinguish. “An ima- ge means
only what is it, a metapor means something
other what it is; and a symbol means what
it is and something more too”. There are
symbol of sond, emotion, collour,si- tuation,
and tactile.
STRUKTUR (lanjutan ….)
• ALLEGORY: is a narrative or description that has a second
meaning beneath the surface one. Allegory has been defined
sometimes as a series of related symbols. All is less po-
pular in modern literature than it was in medieval and Renai- ssance
writing, and it is much less often found in short poems than in long
works.
• FIGURATIVE LANGUAGE efektif utk :
– Affords us immaginative pleasure
– A way of bringing additional imagery in to verse, of making the
abstract concrete, of making poetry more sensuous;
– A way of adding emotional entensity to otherwise merely
informative statements and of conveying attitudes along with
information.
– A means of concentration, a way of saying much
in breef compass.
STRUKTUR (lanjutan…)
• FIGURE OF SPEECH: is any way of saying some-
thing other than the ordinary way, and some rhetori- cians
have classified as many as 250 separate figures
– Metaphor and simile (simile dgn like,as, than,seem, etc)
– Personification
– Synecdoche & metonymy
– Symbol & allegory
– Paradox, overstatement, understatement, irony
• GAYA BAHASA & SARANA RETORIKA: tauto-
logi, pleonasme, enumerasi, paralelisme, retisense (dg titik-
titik), hiperbola, dan paradoks.
• GAMATIKA: pemendekan kata, ganti fonem
GAMATIKA(lanjutan…)
• Penghilangan imbuhan, penyimpangan str. kalimat, ha
puskan tanda baca, pemutusan kata, pembalikan,pem
bentukan kata (ungkapan) baru, ( misal: yang paling
mawar), kata-kata nonsense (tak bermakna diberi mak na
atau yg sudah bermakna diberi makna lain).
• TONE : the writer’s or speaker’s attitude towards his
subject, his audience, or himself.
• ALLUSION: reinforsing the emotion or the idea
of one’s own work with the emotion or ideas of another
work or occasion.
• RHYTHM: any wafelike reccurrence of motion so- und.
In speech it is natural rise and fall of language.
STRUKTUR (lanjutan …)
• METER : is metrical the accents are so arranged as to
occur apparently equal intervals of time, and it is this
interval we mark off with of our foot.
• TIPOGRAFI : tatawajah puisi yang akan nampak da- ri
penulisan baris dn bait. Ada yang konvensional (se- bagian
besar puisi) dan ada yang non-konvensional, misalnya
puisi kongkret : (poem for the eye)
• t
• ttt
• rrrrr
• rrrrrrr
• eeeeeeeee
• ???
STRUKTUR (lanjutan …)
• PUISI NON-KONV. : karya-karya Sutardji Calzoum
Bachri, F.Rahardi, Yudhistira ANM, Mustofa Bisri, Af- risal
Malna, Hamid Jabar, dan Leon Agusta (sebagi- an
karya mereka juga konvensional).
• THEME: is sometimes used interchangeably with mo
tive, is the subject matter, thesis,or doctrine which an
imaginative work is designed to incorporate and make
persuasive to the reader (sifat: umum, suby. kias)
• AMANAT : tujuan, pesan, maksud karya sastra ber
dasarkan penerimaan/tafsiran pembaca (bersifat ako-
modatif): khusus, lugas, dan objektif.
• NADA (sikap penyair thd topik), PERASAAN (pera-
saan yang mendasari penciptaan puisi tsb.)
STRUKTUR (lanjutan …)
• PATTERN: (1) continuous form;(2) stanzaic form;(3)
fixed form; (4) Italian sonnet; and (5) English sonnet)
• PUISI AGUNG: (1)mengajak pembaca merespons
secara menyeluruh perasaan, imajinasi, sensitivitas, dan
inteleknya; (2) tidak hanya menyenangkan, tapi juga
membawa pembaca kepada kesenangan sejati, wawasan
yang jernih, baru, penting, ke dalam the na- ture of human
experience; (3) memberikan pemikiran yg lebih mendalam
ttg pemahaman thd kehidupan, thd orang lain, thd diri
sendiri, dan selalu memperhatikan kualitas perhatian
bahwa puisi itu dapat direnungkan sebagai ajaran moral.
PUISI KONGKRET

• Suatu gang panjang menuju lumpur dan terang tubuhku


mengapa panjang.Seekor Kucing menjinjit tikus yang
menggelepar tengkuknya. Seorang perempuan dan
seorang lelaki bergigitan. Yang mana kucing yang mana
tikusnya ? Ngiau! Ah ! Gangyang panjang.Cobalah
tentukan! Aku kenal Afrika aku kenal Eropa aku tahu
Benua aku kenal jam aku tahu jentera aku kenal terbang.Tapi
bila dua manusia salinggigitan menanamkan gigi-gigi sepi mereka,
aku ragu menetapkan yang mana sukayang mana luka yang
mana hampa yang mana makna yg mana orang yang
manakera yang mana dosa yang mana sorga.

• O, 1971 Sutardji Calzoum Bachri



TERUSNYA ...
• betapa gembira hati pisang yang dikuliti dan
• dimakan oleh manusia, karena demikianlah tugas
• luhurnya di dunia, pasrah di pengolahan usus para
• hamba, menjadi sari inti kesehatan dan kesejahteraannya
• aku bersembahyang kepadamu, berjamaah demikian pun betapa
riang udara dihirup, air yang direguk, sungai yang mengaliri
persawahan,

• bermilyar ikan, serta kandungan bumimu yang


• menyiapkan berjuta macam hiasan
• dengan langit dan bumimu, dengan siang dan malammu, dengan
matahari yang setia bercahaya dan angin yang berhembus
menyejukkan desa-desa

EMHA AINUN NAJIB

• atas padi yang kautumbuhkan dari sawah


• ladang bumimu, kupanjatkan syukur dan
• kunyanyikan lagu gembira sebagaimana padi itu
• sendiri berterima kasih kepadamu dan bersuka ria.

• lahir dari tanah, menguning di sawah, menjadi
• beras di tampah, kemudian sebagian nasi memasuki
• tenggorokan hambamu yang gerah, adalah cara
• paling mulia bagi padi untuk tiba kembali di pangkuanmu
• betapa gembira hati pisang yang dikuliti dan
• dimakan oleh manusia, karena demikianlah tugas
• luhurnya di dunia, pasrah di pengolahan usus para
• hamba, menjadi sari inti kesehatan dan kesejahteraannya

ANEKA PANDANGAN
• PUISI BAGUS MENJAWAB:(1) what is its central
purpose ? (2) How fully has this purpose been
accomplished ? (perfection) (3) How important is this
purpose ? (significance)
• JAMES REEVES ttg puisi & pendidikan
– The educative power of poetry is unlimited if only we
can discover how choose ightly.
– Without teacher’s personal enthusiasm for his object,
the prospect is blick; with enthusiasm, it is immense.
– In appreciation, emotion is involved as it is not in sports
or in car design, the emotion is involved,per- sonal
considerations, enter to distort or reinforce- ment
judgement (mengubah).
JAMES REEVES (lanjutan …)
• Since without enthusiasm, poetry can not be taught, it
follows that with enhusiasm bad poetry can be thought
as succesfully as good.
• In poetry lesson is particularly important if we are to
achieve the aim of making it an active experience.
• Everything must be done to make it active and lively.
• Every poem needs a different treatment.
• Teaching poetry is continuous process of trial and error,
and anything approaching sureness of touch comes only
many failures.
• There are few problems of vocabulary but enjoy -ment
will be increased by some knowledge of history back-
ground.
JAMES REEVES (lanjutan …)
• The sound of poetry is not unimportant, and some -thing
may be gined from an oral reading, this element is less
vital.
• Every poetry is different and must be taught differently
• The practice of reading round the class selected at
random is widespread and seem harmless/tak berb.
• All experience of poetry should be of high quality.
• Choral speech or the organized speaking of poetry a- loud,
or as active appreciation, or as the acting poetic form.
• Biographical commentary is appropriate must be left to the
teacher as he considers the needs and interests of
different classes.
JAMES REEVES (lanjutan…)
• Should children learn poetry by heard ? No, but they
should know a good many poem by hard.
• Poetry should be so taught that a poem is centre of an
active and pleasurable experience, not a text in black and
white on the page of book.
• The poetry lesson should be lively, and methods sho- uld be
constantly varied.
• BROOKS AND WARREN: (1) poem are written by
human beings and the form of a poem is an individu- al’s
attempt to deal with specific problem, poetic and
personal; (2) poems come out of historical moment, and
since they are written in language, the form is tied to whole
cultural context.
BROOKS (lanjutan …)
• (3) Poems are read by human beings, which means that the
reader unlike a robot, must be able to recog- nize the
dramatic implication of the form. Poetry is not an isolated
and eccentric thing, but springs from the most fundamental
interests which human being have.
• BALLAD: a song (poetry) that tells a story : folk ba- llad,
literary ballad, ballad stanza (puisi naratif).
• PENYIMPANGAN BHS.: pemendekan kata, peng-
hilangan afiks, penyimpangan klm, penghapusan tan- da
baca (bisa juga penambahan), pemutusan kata,
pembentukan jenis kata baru, dan penggabungan dua kata
(RDP).
GREAT POETRY
• ENGAGES the whole man in this response – sense
imagination, emotion, and intellect; it does
not touch him merely on one or two sides of his natu- re.
GP seeks not merely to entertain the reader but to bring
him along with pure pleasure, fresh in- sights, or renewed
insights, and important insights, in to the natu re of human
experience.
• GP gives its readers a broader and deeper understan- ding
of live, of his fellow men, and of himself, always with the
qualification, of course, that the kind of insight literature
gives is not necessarily the kind that can be summed up in
a simple “lesson” or “moral”. It is know- ledge of the
complexities of human nature and of the tragedis and
suffering, the excitements and joys, that characterize
human experience.
JENIS-JENIS PUISI
• Puisi prismatis: puisi yang indah, meskipun ada imaji dan
bahasa figuratif menimbulkan kesulitan menafsir- kan,
namun masih dapat ditafsirkan maknanya (mung- kin arti
banyak seperti cahaya terurai melalui prisma).
• Puisi parnasian dan inspiratif: parnasian (dicipta dgn
pertimbangan ilmiah dan keilmuan tanpa figuratif la-
nguage, misal karyaProf. Jujun, Dali. Ispiratif dengan
“mood” dan “passion”. Karya-karya Arifin parnasian.
• Puisi demonstrasi dan puisi pamflet (Taufiq Ismail dan
Rendra)
• Stansa:puisi terdiri atas 8 baris (karya Rendra “ Malam
Stansa” dalam Empat Kumpulan Sajak.
PUISI IMAJIS
• Tokoh puisi imajist Indonesia adalah Sapardi Djoko
Damono.
• Penyair lain: Goenawan Mohamad dan Subagio Sw.
• Kenyataan harus dilukiskan dalam imaji visual yg jer- nih
dan jelas.Kata-kata cermat dan efisien. Bahasanya
sederhana (sehari-hari) tidak mengikat. Biasa berisi cerita
yang tidak selengkapnya. Mirip dgn prosa.Cerita
diasumsikan sudah diketahui pembaca, karena itu langsung
ke tengah,tepi, atau akhir cerita.
• Karya Sapardi: “Perahu Kertas”, “Telinga”, “Pertapa”,
“Setangan Kenangan”, “peristiwa Pagi Tadi”. Gagasan
dibiarkan menggantung di akhir puisi, pembaca dibe- rikan
untuk melengkapinya sendiri.
LANJUTAN IMAJIST
• Disamping itu, penyair imajist lain adalah: Adhi Darmaji Woko, Kriapur, B.Y.Tand,
Beny Setia, dsb. Tokoh imajist dari luar negeri adalah: T.E.Hulme, Ezra Pound,
Richard Aldington, Hilda Doolitle, Merianne Moonre, Amy Lowell, dsb.
• Kata-kata dan kalimat harus mampu menciptakan imaji visual dan auditif,
ekonomis,bahasa sehari-hari, dan ritmenya baru.
• “to arrest you, and to make you continuously see a physical thing, to prevend you
gliding through an abstract process. It choose fresh abstract epithets and fresh
methaphor, not so much because the old cease to convey a physical thing and
become abstract counters”.
• TELINGA (SAPARDI DJOKO DAMONO)
– masuklah ke telingaku” bujuknya
» gila:
– Ia digoda untuk masuk ke telinganya sendiri
– agar bisa mendengar apa pun
– secara terperinci: setiap kata, setiap huruf
– bahkan letupan dan desis
– yang menciptakan suara. (1983)
CONTOH PUISI IMAJIST (SDD)
• SETANGAN KENANGAN
• Siapakah gerangan yg sengaja menjatuhkan setangan dilorong
• yang berlumpur itu. Soalnya, tengah malam ketika seluruh
• kota kena sihir menjelma hutan kembali,ia seperti menggelepar-
• gelepar ingin terbang menyampaikan pesan kepada Rama
• tentang rencana ……………….. (diselesaikan pembaca).
• PERTAPA
• Jangan mengganggu: aku, satria itu, sedang bertapa dalam sebuah
• gua, atau sebutir telur, atau sepatah kata --- ah, apa pula
• bedanya. Pada saatnya nanti, kalau aku sudah dililit akar
• sudah merupakan benih, sudah mencapai makna --- masih
• beranikah kau menyapaku, Saudara ?
• PESAN
• Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri, bahwa
• memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya
• kami saling menyinta, dan antara disengaja dan tidak disengaja
• sama sekali tidak ada pembatasnya.
PUISI IMAJIST GOENAWAN M.
• DONGENG SEBELUM TIDUR
• “Cikcak itu, cintaku berbicara tentang kita
• yaitu nonsense”
• Itulah yang dikatakan Baginda kepada permaisurinya
• pada malam itu. Nafsu di ranjang telah teduh
• dan senyap merayap antara sendi dan sprei

• “Mengapakah tak percaya? Mimpi akan meyakinkan


• seperti matahari pagi!”

• Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan


• kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin
• meskipun ia mengecup rambutnya.

• Esok hari permaisuri membunuh diri dalam api


DONGENG …
• Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus
• melarikan diri dengan pertolongan dewa-dewa entah
• dari mana – untuk tidak setia.

• “Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus patihku ?


• mengapa harus seseorang mencintai kesetiaan lebih dari
• kehidupan dan sebagainya dan sebagainya ?”
• Goenawan Mohamad

• Puisi Goenawan imajis lainnya: “Asmaradana” (berkaitan dg


perpisahan Damarwulan dgn Anjasmara), dan “Pariksit”
(berkaitan dengan raja Pariksit yang justru gugur ketika se- dang
berada di puncak kekuasaan sbg raja besar Hastina)
• Karya Subagio Sw.: “Simphoni”, “Bulan Ruwah”, ttg kehidu- pan
dan ketidaksempurnaan manusia (bangsa yg beda-be- dan dgn
kelebihan dan kelemahan masing-masing).
JENIS-JENIS PUISI
• Puisi naratif, lirik, dan deskripti: naratif (epik, romansa,
ballada), lirik (ungkapan gagasan “aku lirik” ode, him- ne,
seranada, elegi) dan deskriptif (memberi kesan, misal kritik
sosial).
• Puisi kamar dan auditorium
• Puisi fisikal, platonik, dan metafisik: fisikal (realistis,
kenyataan apa adanya); platonik (sepenuhnya spiri- tual) ;
metafisik (filosofis merenungkan hakikat hidup, misalnya
karya Subagio S dan Goenawan Mohamad)
• Puisi kongkret: poem for the eye bersifat visual, grafik,
ideomatik, word imagery.
• Puisi diafan, Gelap, dan Prismatis: diafan tanpa imaji atau
bahasa figuratif; gelap (penuh imaji & figuratif).
KREDO PUISI
• Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian Dia bukan seperti
pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia
bebas.
• Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang
membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penja- jahan lain
seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pa- da kata tertentu
dengan dianggap kotor (obscene) serta penja- jahan gramatika.
• Sebagai penyair saya menjaga sepanjang tidak mengganggu,
kebebasannya agar kehadirannya yang bebas sebagai pemben tuk
pengertiannya sendiri, dapat mendapatkan aksentualisasi maksimal.
• Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata, yang berarti
mengembalikan kata pada awal mulanya.Pada mulanya adalah kata.
Kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya
mengembalikan kata kepada mantra.
PENYAIR PUJANGGA BARU & A’45
• Amir Hamzah: Nyanyi Sunyi dan Buah Rindu
– Puisi lepas: “Pada-mu Jua, “Doa”, “Berdiri Aku”
• Sanusi Pane : “Wijaya Kusuma”, “Teratai: kepada Ki Hajar”
• Sutan Takdir A : Tebaran Mega, “Menuju ke Laut”,”Perjuangan”
• Y.E.Tatengkeng : Rindu Dendam, “Anakku”, “nelayan Sangihe”, dsb.
• PENYAIR ANGKATAN ’45 (dasar: SURAT KEP.GELANGGANG)
• Chairil Anwar: Kerikil Tajam, Deru Campur Debu, Tiga Me- nguak Takdir,
“Aku”, “Doa”, “Senja di Pelabuhan Kecil”, “Krawang Bekasi”,
“Diponegoro”, “Persetujuan Buat Bung Karno”, “Cintaku Jauh di
Pulau”, “Yang Terempas dan yg Putus”, dan “Mirat Muda ……”
• Sitor Situmorang: Pertempuran dan Salju di Paris, Peta Per jalanan,
Surat Kertas Hijau, Dalam Sajak, Jalan Mutiara, Wa jah Tak
Bernama, Zaman Baru, Dinding Waktu, “Malam Le baran: Bulan di
Atas Kuburan”,”Chatedrale des Chartres”
• ASRUL SANI: Mantera, Tiga Menguak Takdir, “Anak Laut”, “Surat
dari Ibu”.
• KE  R

Anda mungkin juga menyukai