Anda di halaman 1dari 29

Hipertensi, Preeklampsia/Eklampsia

Teori dibalik sindroma plasental-maternal


hipertensi dan dampaknya terhadap janin & bayi
baru lahir
Klasifikasi
• Hipertensi pada ibu hamil, dapat terjadi sebelum atau
sesudah usia gestasi 20 minggu

• Preeklampsia adalah sindroma spesifik pada kehamilan usia


gestasi ≥ 20 minggu atau hipertensi kronik dengan TD ≥ 140/
≥ 90 mm Hg disertai proteinuria yang nyata (mis., ≥ 0.3 G
protein/24 jam).

• Tekanan darah pada ibu dengan hipertensi gestasional dan


preeklampsia yang timbul pada usia gestasi > 34 minggu,
pada umumnya kembali normal dalam beberapa hari/minggu
setelah bersalin.

• Disebut sebagai Eklampsia apabila terjadi kejang (bukan oleh


sebab lain) pada ibu dengan preeklampsia
Klasifikasi Hipertensi Dalam Kehamilan
(ACOG)
Diagnostic Criteria
ACOG Committee on Obstetric Practice. ACOG practice bulletin. Diagnosis and
management of preeclampsia and eclampsia. No. 33, January 2002. American College
of Obstetricians and Gynecologists. Obstet Gynecol 2002;99:159-67.

Report of the National High Blood Pressure Education Program Working Group on High
Blood Pressure in Pregnancy. Am J Obstet Gynecol 2000;183:S1-22.
• Preeklampsia sebelum usia gestasi 34 minggu adalah
risiko tinggi preeklampsia (40%) pada kehamilan berikut
nya dibandingkan dengan preeklampsia yang baru timbul
pada kehamilan lanjut (10%).

• Perempuan dengan preeklampsia preterm mempunyai


risiko tinggi morbiditas kardiovaskuler dimana hal
tersebut tidak terjadi pada preeklampsia kehamilan
lanjut.

• Hubungan dengan gangguan pertumbuhan janin in-utero


hanya terjadi pada preeklampsia di awal kehamilan.
Preeklampsia kehamilan lanjut berhubungan dengan
insidens bayi berat lahir diatas normal
• Preeklampsia lebih sering terjadi pada kehamilan tanpa
janin (mola hidatidosa). Jadi, janin bukan merupakan
kontributor utama preeklampsia

• Plasenta dikaitkan dengan preeklampsia tetapi dari


semua kehamilan hanya 5% yang menjadi
preeklamptik

• Gangguan perfusi berhubungan dengan preeklampsia


(implantasi abnormal yang diikuti dengan defisit
vaskularisasi di tempat implantasi) adalah karakteristik
untuk preeklampsia .

• Reduksi perfusi diangap sebagai tahap 1 preeklampsia


yang kemudian berlanjut menjadi tahap 2 yang dikenal
dengan sindroma maternal preeklampsia
Gambaran utama patofisiologi preeklampsia
adalah:

• Reduksi perfusi sistemik akibat vasokonstriksi merupakan


reaksi penyerta dari peningkatan sensitifitas vaskuler 
peningkatan aktifitas organ dan resistensi perifer.
• Aktivasi sistem koagulasi menghasilkan mikrotrombi.
Reduksi volume plasma disebabkan oleh kebocoran endotel
sehingga menyebabkan ekstravasasi cairan yang berlanjut
dengan gangguan perfusi.

• Disfungsi endotelial  gangguan fungsi organ  sindroma


klinik preeklampsia (disfungsi endotelial merupakan
karakteristik utama preeklampsia).
• Penderita preeklampsia mengalami
peningkatan reversibel dari triacylglycerols &
LDL cholesterol (prediktor anomali lipoprotein
untuk atherosclerosis dan berkontribusi dalam
terjadinya oxidative stress) dan reduksi HDL
cholesterol.

• Lipoprotein ini menyusup ke ruang


subendothelial sehingga terlindungi dari
antioxidant yang besirkulasi. Padatan LDLs
sangat sensitif terhadap oksidasi, kemudian
membentuk komposit oxidized LDLs, yang
sangat toksik terhadap struktur normal endotel.
• Komposit ini merusak endotel dan mengaktifasi cell
surface antigen untuk menumpuk monosit (yang
melepaskan radikal bebas) di permukaan endotel 
terjadi penumpukan lemak dan lempengan
aheromatous seperti pada atherosclerosis.

• Oxidative stress berinteraksi dengan dislipidemia


pada athero sclerosis, yang secara hipotesis
berperan penting dalam gangguan fungsi endotel
Seizures
Mackay AP, Berg CJ, Atrash HK. Pregnancy-related mortality from preeclampsia and
eclampsia. Obstet Gynecol 2001;97:533-8.

• Preeclampsia-eclampsia may develop before, during, or


after delivery.

• Up to 40 percent of eclamptic seizures occur before


delivery; approximately 16 percent occur more than 48
hours after delivery.

• Death associated with preeclampsia-eclampsia may be


due to cerebrovascular events, renal or hepatic failure,
HELLP syndrome, or other complications of hypertension
Pengaruh Preeklampsia/Eklampsia terhadap Janin

• Hipoperfusi menyebabkan gangguan


pertumbuhan akibat defisit nutrien esensial
bagi janin

• Gangguan pertukaran gas respiratif ibu-janin


disebabkan oleh vasokonstriksi arteri spiralis
yang ditunjukkan melalui pewarnaan
mekoneum pada cairan amnion

• Takikardia pada janin sebagai kompensasi


kekurangan oksigen baik saat ada dan tanpa
kontraksi
• Systemic Inflammatory Response Syndrome
menyebabkan iritabilitas reaksi organ dan
sistem organ pada janin

• Kejang berulang pada eklampsia


menyebabkan hipoksia berat/gawat janin
Komplikasi pada Janin

• Prematuritas pada hipertensi gestasional (12-34%),


preeklampsia berat (15-60%)

• Gangguan pertumbuhan janin intrauterin pada


hipertensi gestasional (8-15%) dan preeklampsia berat
(10-25%)

• Hipoksia bersamaan dengan oligohidramnion (3%)

• Kematian janin akibat Solusio Plasenta (1,5%)

• Kematian perinatal HDK/PEB (1-2%), Eklampsia (25%)

• Hipoksemia dan gangguan neurologik (> 1%)


• Keluaran perinatal sangat tergantung dari usia
gestasi and derajat hipertensi/preeklampsia/
eklampsia

• Preeklampsia berat berhubungan dengan


berbagai tingkatan morbiditas atau jumlah
kematian bayi
• Angka morbiditas dan mortalitas bayi dari ibu
dengan preeklampsia meningkat tajam sebagai
akibat dari insufisiensi uteroplasental yang
berkepanjangan, risiko solusio plasenta,
menurunnya kesehatan ibu, dan tingginya
kelahiran prematur

• Memburuknya kondisi ibu atau ketidak-


mampuan janin untuk mentoleransi kondisi
intrauterin dapat memicu terjadinya persalinan
prematur
• Dalam 3 dekade terakhir, persalinan sebelum
usia gestasi 34 minggu pada preeklampsia
meningkat 3 kali lipat. Kondisi tersebut
menyebabkan lebih banyak bayi lahir hidup
sekaligus jumlah bayi prematur

• Gangguan pertumbuhan janin intrauterin


membawa risiko tambahan untuk BBL dari ibu
preeklampsia
• Eklampsia dan HELLP syndrome sebelum usia
gestasi 37 minggu masing-masing terjadi pada 50%
dan 80% kasus.

• Mortalitas perinatal umumnya disebabkan oleh


prematuritas, IUGR, solusio plasenta, dan asfiksia
intrauterine
• Bayi prematur dan mengalami gangguan
pertumbuhan intrauterin dari ibu hamil dengan
insufisiensi plasenta adalah risiko tinggi untuk
mengalami necrotizing enterocolitis (NEC).

• Bayi yang dengan aliran balik diastolik di arteri


umbilikalis akan mengalami gangguan persisten
sirkulasi darah splanikus yang berakibat pada
intoleransi makanan dan risiko NEC
• Gangguan pertumbuhan janin intrauterin
umumnya bersifat disproporsional atau
asimetrik karena hal tersebut disebabkan oleh
malnutrisi

• Pertumbuhan kepala tetap berlanjut melalui


perubahan prioritas aliran darah janin untuk
memasok otak dan jantung
• Insidens dan derajat gangguan pertumbuhan janin
akan meningkat seiring dengan berkurangnya
volume plasma.

• Diuretika: merupakan kontraindikasi relatif karena


dapat mengurangi volume plasma dan gangguan
pertumbuhan intrauterin

• Diet garam tidak direkomendasikan karena dapat


menurunkan volume plasma

• Belum diketahui secara pasti tentang hubungan


ketidak-seimbangan volume plasma dan cairan
interstitial dengan IUGR
• Level magnesium bayi dari ibu preeklampsia yang mendapat
MgSO4 lebih tinggi dari bayi normal (vena dan arteri
umbilikalis) pada 2, 12 dan 24 jam setelah bayi lahir dan
menurun setelah 48 jam.

• Penelitian lain menyebutkan kadar Mg serum tetap tinggi


hingga 72 jam pascapersalinan (rerata pada 72 jam = 3.0
mg/dl) dan Mg serum lebih tinggi pada bayi prematur, asfiksia
dan/atau hipotonia.

• Konsentrasi Ca serum lebih tinggi dan paratiroid hormon lebih


rendah pada bayi hipermagnesemia (case-control study).
Hipotesis: Elevasi Mg serum menyebabkan perpindahan Ca
tulang ke plasma, dan kondisi ini menyebabkan supresi
paratiroid neonatal
Dilution and Plasma Levels

• Intramuscular administration of the undiluted 50%


solution results in therapeutic plasma levels in 60
minutes, whereas I.V. doses will provide a therapeutic
level almost immediately

• Solutions for intravenous infusion must be diluted to a


concentration of 20% or less prior to administration.
The diluents commonly used are 5% Dextrose
Injection, USP and 0.9% Sodium Chloride Injection,
USP.
Pengaruh Pengobatan HDK terhadap Janin

• Antihipertensi:
– Methyldopa: perbaikan hemodinamik ibu tetapi:
• dosis yang tinggi dapat mengganggu fungsi hati janin
• dapat melalui sawar uri
• Diekskresikan melalui ASI

– Labetalol : menyebabkan penurunan cardiac output dan


bila berlangsung lama akan menyebabkan BBLR

– Nifedipine: penggunaan jangka panjang mengganggu


pasokan kalsium bagi pertumbuhan otot-rangka dan
blokade neuromuskuler pada bayi jika digunakan
bersamaan dengan MgSO4

– Angiotensin-converting enzyme [ACE] inhibitors tidak


dianjurkan karena menimbulkan malformasi, IUGR,
oligohidramnion, gagal ginjal, dan kematian neonatal.
Terminasi Kehamilan

• Bila amniosentesis mengindikasikan paru janin cukup


matang, baik pada kehamilan cukup atau kurang bulan, ini
merupakan indikasi untuk terminasi kehamilan. Upaya ini
dapat memperbaiki kondisi atau tekanan darah ibu hamil.

• Terminasi kehamilan juga dilakukan pada impending


eclampsia, multi-organ dysfunction, fetal distress, dan usia
gestasi diatas 34 minggu.

• Tatalaksana ekspektatif menjadi pilihan pada preeklampsia


berat tanpa gangguan nyata multi organ dan usia gestasi
dibawah 34 minggu.
Risiko Cara Terminasi Kehamilan terhadap BBL

• Seksio Sesaria
– Risiko anestesi: hipoksia, lethargy, inisiasi bernapas,
hipotonia
– Risiko tindakan: prematuritas, infeksi/sepsis, hipoksia,
anemia, fraktur

• Forseps
– Trauma hidung, mata dan orbita, nervus fascialis,
nervus trigeminus

• Ekstraksi Vakum
– Cefalhematoma, subdural hematoma, perdarahan
intrakranial, hipoksia
• Valium menyebabkan lethargy, menghambat inisiasi
bernapas, dan mengurangi tonus otot BBL

• Blokade Spinal pada penderita preeklampsia berat yang


mendapat MgSO4 dapat menyebabkan hipotensi berat
dan blokade neuromuskuler yang membahayakan ibu dan
bayi

• Anestesi umum pada PEB + MgSO4 + succinyl choline


atau turbocurarine membuat blokade neuromuskuler
sistem respirasi BBL