Anda di halaman 1dari 7

KRITERIA PASIEN MASUK ICU

RUMAH SAKIT
H. L. MANAMBAI
ABDULKADIR No Dokumen : No Revisi : Halaman :
00 1/7
.
Ditetapkan
Direktur
RS. H. L. Manambai Abdulkadir
STANDAR
Tanggal Terbit
PROSEDUR
OPERASIONAL

dr. ARINDRA KURNIAWAN


NIP. 19780330 201001 1 009
PENGERTIAN Kriteria dan prioritas masuk ICU pasien medikca dan paska
bedah/surgical
TUJUAN 1. Bagi rumah sakit: pemanfaaatn tempat tidur yang optimal melalui
prosedur dengan tata cara yang telah ditetapkan
2. Bagi pasien: pasien yang indikasi rawat ICU mendapat pelayanan
yang optimal

KEBIJAKAN 1. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor


1778/Menkes/SK/XII/2010 tentang pedoman Penyelenggaraan
Pelayanan Intensive Care Unit di RS
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
519/Menkes/Per/III/2011 tentang pedoman penyelenggaraan
pelayanan anestesiologi dan terapi intensif di Rumah Sakit

PROSEDUR Kriteria masuk berdasarkan sistem organ


A. Penilaian Sistem Kardiovaskular
1. Infark miokard akut dengan komplikasi
2. Syok kardiogenik
3. Aritima complex yang membutuhkan monitoring dan
intervensi ketat
4. Gagal jantung kongestif disertai gagal nafas dan / atau
membutuhkan dukungan hemodinamik
5. Hypertensive emergencies
6. Angina tidak stabil, terutama yang dengan disritmia,
instibilitas hemodinamik atau nyeri dada yang menetap
7. Pasca pemulihan setelah henti jantung
8. Temponade jantung atau konstriksi disertai instabilitas
hemodinamik
9. Diseksia anuresmia aorta
10. Blok jantung komplit
11. Sindrom koroner akut tanpa perbaikan nyeri iksemik
12. Laju lantang<50x/mnt atau >150x/menit dengan instiblitias
hemodinamik
13. Pompa balon intraaorta atau alat bantu ventrikel mekanik
yang lain
14. Pemantauan kateter arteri pulmonal atau tekanaan vena sentral
yang terkait dengan masalah jantung
15. Gagal jantung kronis dekompensata yang membutuhkan
pemantauan invasif
KRITERIA PASIEN MASUK ICU

RUMAH SAKIT
H. L. MANAMBAI
ABDULKADIR No Dokumen : No Revisi : Halaman :
00 2/7
.

B. Penilaian sistem respirasi


1. Gagal pernafasan akut yang membutuhkan bantuan ventilator
2. Emboli paru disertai instabilitas hemodinamik
3. Pasien ruang perawatan High Care Unit yang menunjukkan
perburukan pernafasan
4. Hemoptisis masif
5. Gagal nafas yang membutuhkan intubasi
6. Laju pernafasan >30 atai <8 kali permenit, retraksi/
penggunaan otot bantu pernafasan yang tidak stabil (misalnya
pernfasan cheyne-stokes)
7. PaO2< 60 mmHg atau Sa02 <90% dan sudah dilakukan
terapi oksigen
8. Fi02 >0,50 atau peningkatan kebutuhan Fi02 lebih dari 4-8
jam
9. PaCO2 >60 mmHg dan pH >7,7 dengan instibilitas
hemodinmaik
10. Pertimbangan bahwa intubasi endotrakeal dibuuthkan dalam
4-8 jam
11. Ventilasi atau oksigenasi yang bergantung pada ventilator
mekanik
12. Obstruksi jalan nafas akut atau yang baru terjadi atau
gangguan refleks perlindungan jalan nafas akut

C. Penilaian sistem Gastrontestinal


1. Perdarahan gastrointestinal yang mengancam nyawa
termasuk hipotensi, angina, perdaraahan yang berlanjut atau
terdapat penyakit penyerta
2. Kegagalan hati fulminan
3. Pankreatitis berat
4. Perforasi esophageal
5. Obstruksi intestinal akut karena gangguan motalitas usus
6. Abdomen yang tegang dengan pertimbangan adanya
hipertensi intra abdomen dan perlu pemantauan ketat tekanan
intra abdomen

D. Penilaian Sistem Renal


1. Gagal ginjal yang baru didiagnosis dengan azotemia berat
(ureum>200mg/dL)
2. Produksi urine <0.5 ml/kg-jam selama lebih dari 3 jam dan
adanya pertimbangan hemodinamik yang tidak membaik
dengan tes cairan
3. Penuruanan akut bersihan keratainin <30ml
4. Membutuhkan terapi pengganti ginjal (CRRT, Contonous renal
placement theraphy)
KRITERIA PASIEN MASUK ICU

RUMAH SAKIT
H. L. MANAMBAI
ABDULKADIR No Dokumen : No Revisi : Halaman :
00 3/7
.

E. Penilaian Sistem Endokrin


1. Ketoasidosis diabetic dengan komplikasi instabilitas
hemodinamik, perubahan status mental, gangguan pernafasan
atau asidosis berat
2. Thyroid storm atau koma mixedema dengan instabilisasi
hemodinamik
3. Keadaan hyperosmolar disertai koma dan / atau instabilitas
hemodinamik
4. Permasalahan endokrin lainnya seperti krisis adrenal dengan
instabilitas hemodinamik.
5. Kalsium serum < 5 mg/dL atau > 12 mg/dL disertai
perubahan status mental atau membutuhkan monitoring
hemodinamik.
6. Natrium serum < 120 mEq/L atau >155 mEq/L disertai
kejang atau perubahan status mental.
7. Kalium serum < 2.0 mEq/L atau > 6.0 mEq/L disertai
disritmia atau kelemahan otot.
8. Hipofosfatemia disertai kelemahan atct.
9. Glukosa serum < 60 or > 300 mg/dl disertai perubahan status
mental.
10. Hipo atau Hipermagnesemia dengan instabilitas
hemodinamik atau disritmia.

F. Penilaian Sistem Hematologi


1. Trombositopeni (platelet <70.000) dengan bukti perdarahan
aktif
2. Koagulopati (INR > 2.5 atau activated Partial Thromboplastin
Time [aPTT] > 40-50 detik) dengan bukti perdarahan aktif
3. Bukti hemolisis aktif dengan penurunan hematokrit
4. Leukosit > 100.000/mcl, dan terutama dengan bukti disfungsi
organ target

G. Penilaian Sistem Syaraf Pusat


1. Stoke akut dengan perubahan status mental
2. Koma : metabolik, toxic, anoxic.
3. Perdarahan intracranial potensial terjadi hemiasi atau terdapat
perubahan status mental
4. Meningitis akut dengan perubahan status mental atau
gangguan pefnapasan.
5. Gangguan sistem saraf pusat atau neuromuskular disertai
perburukan secara neurologis atau fungsi
6. Status epileptikus.
7. Kematian otak atau pasien yang berpotensi mati otak yang
sedang dikelola dengan agresif sementara menunggu status
donasi.
8. Pasien cedera kepala berat akut potensial terjadi perburukan.
9. Glasgow Coma Score < 9
KRITERIA PASIEN MASUK ICU

RUMAH SAKIT
H. L. MANAMBAI
ABDULKADIR No Dokumen : No Revisi : Halaman :
00 4/7
.
10. Kejang yang tidak terkontrol
11. Kelemahan otot progresif dengan keterlibatan otot-otot
pemapasan
12. Delirium berat akut
13. Cedera korda spinalis untuk pemantauan hemodinamik
14. Setiap kondisi yang membutuhkan kraniotomy atau
ventrikulostomi dengan risiko vasospasme
15. Pemantauan pasca prosedur endarterektomi karotis, stent
karotis atau aneorisma/ coi/ing.
16. Setiap kondisi yang dihubungkan dengan peningkatan
tekanan intrakranial yang dihubungkan dengan defek
neurologis yang progresif.

H. Penilaian Sepsis
1. Bukti adanya syok dengan tekanan darah sistolik < 90 mmHg
atau menurun 20 mmHg dari tekanan darah normalnya dan
sudah dilakukan rasusitasi cairan yang adekuat.
2. Asidosis laktat (laktat >4.0 mmol/L
3. Syok yang tidak dapat dijelaskan, dengan atau tanpa
hipotensi dan perlu hemodinamik monitoring yang intensif.
4. Syok septic dengan instabilitas hemodinamik.

I. Logistic Organ Dysfunction Score (LODS)


1. Skor 1-6 kriteria masuk prioritas 1 dan 2
2. Score diatas 6 akan dipertimbangkan dengan melihat score
paliatif (melihat penilaian pada form LOD score dan
penafisan paliatif

J. Pemantauan Sebelum atau Sesudah Pembedahan


1. Pasien sebelum atau sesudah pembedahan yang memerlukan
monitoring ketat (terutama hemodinamik / bantuan ventilasi
mekanik ) atau perawatan intensif

K. Luka Bakar
1. Setiap pasien luka bakar dewasa ≥ 30% dengan atau tanpa
trauma inhalasi (<24 jam pasca trauma).
2. Setiap pasien luka bakar anak ≥ 10% dengan atau tanpa
trauma inhalasi (<24 jam pasca trauma).
3. Setiap pasien luka bakar dewasa ≥ 30% 24 jam
pascatrauma dengan salah satu atau lebih gangguan saluran
nafas (airway), pernafasan (breathing), sirkulasi (circulation)
4. Setiap pasien luka bakar anak ≥ 10% , ≥ 24 jam
pascatrauma dengan salah satu a\au lebih gangguan saluran
nafas (airway), pernafasan (breathing), sirkulasi (circulation)
5. Setiap pasien luka bakar dewasa dan anak dengan trauma
inhalasi.
KRITERIA PASIEN MASUK ICU

RUMAH SAKIT
H. L. MANAMBAI
ABDULKADIR No Dokumen : No Revisi : Halaman :
00 5/7
.

L. Penilaian Kondisi Lain


1. Cidera akibat lingkungan (petir, hampir tenggelam,
hipo/hipertermia)
2. Pengobatan baru / eksperimental yang potensial mengalami
komplikasi.
3. Intoksikasi obat akut dengan gangguan refleks jalan napas,
ketidakstabilan hemodinamik, aritmia jantung, dan/atau
membutuhkan pengawasan tindakan bunuh diri
4. lntoksikasi obat akut yang membutuhkan obat-obatan infus
kontiniu atau pemberian berkala obat- obat intravena
5. Intoksikasi obat akut yang membutuhkan dialysis.
6. Kondisi metabolik lainnya (misai: rabdomiolisis berat) yang
memerlukan pemantauan berkala atau intervensi medis).

Kriteria masuk berdasarkan prioritas:


Pada prinsipnya panduan untuk memasukkan pasien medical adalah
memberikan prioritas pada pasien yang akan memperoleh manfaat
dari intervensi dan support di ICU. Dapat digolongkan menjadi:

Prioritas 1:
Kelompok ini merupakan pasien sakit kritis, tidak stabil yang
memerlukan terapi intensif dan tertitrasi, seperti:
dukungan/bantuan ventiiasi dan alat bantu suportif organ/sistem
yang Iain, infus obat-obat vasoaktif kontinyu, obat anti aritmia
kontinyu, pengobatan kontinyu tertitrasi, dan Iain- lainnya.
Contoh pasien kelompok ini antara Iain, pasca bedah
kardiotorasik, pasien sepsis berat, gangguan keseimbangan asam
basa dan elektrolit yang mengancam nyawa. lnstitusi setempat
dapat membuat kriteria spesifik untuk masuk ICU, seperti derajat
hipoksemia, hipotensi dibawah tekanan darah tertentu. Terapi
pada pasien prioritas 1 (satu) umumnya tidak mempunyai batas.
Prioritas 2:
Pasien ini memerlukan pelayanan pemantauan canggih di ICU,
sebab sangat berisiko bila tidak mendapatkan tempi intensif
segera, misalnya pemantauan intensif menggunakan pulmonary
arterial cafne/er. Contoh pasien seperti ini antara lain rnereks
yang menderita penyakit dasar jantung-paru, gagal ginja! akut dan
berat atau yang telah mengalami pembedahan major. Terapi pada
pasien prioritas 2 tidak mempunyai batas, karena kondisi
mediknya senantiasa berubah.
Prioritas 3:
Pasien golongan ini adalah pasien sakit kritis, yang tidak stabil
status kesehatan sebelumnya, penyakit yang mendasarinya,
atau penyakit akutnya, secara sendirian atau kombinasi.
Kemungkinan sembuh dan/atau manfaat terapi di iCU pada
golongan ini sangat kecil. Contoh pasien ini antara Iain pasien
KRITERIA PASIEN MASUK ICU

RUMAH SAKIT
H. L. MANAMBAI
ABDULKADIR No Dokumen : No Revisi : Halaman :
00 6/7
.
dengan keganasan metastatik disertai penyulit infeksi,
pericardial tamponade, sumbatan jalan napas, atau pasien
penyakit jantung, penyakit paru terminal disertai
komplikasi penyakit akut berat. Pengelolaan pada pasien
golongan ini hanya untuk mengatasi kegawatan akutnya saja,
dan usaha terapi mungkin tidak sampai melakukan intubasi atau
resusitasi jantung paru.

Pengecualian:
Dengan pertimbangan luar biasa, dan atas persetujuan kepala
ICU, indikasi masuk pada beberapa golongan pasien bisa
dikecuaiikan, dengan catatan bahwa pasien-pasien golongan
demikian sewaktu waktu harus bisa dikeluarkan dari ICU agar
fasilitas ICU yang terbatas tersebut dapat digunakan untuk
pasien prioritas 1, 2, 3 (satu, dua, tiga). Pasien yang tergolong
demikian antara Iain:
1. Pasien yang memenuhi kriteria masuk tetapi menolak terapi
tunjangan hidup yang agresif dan hanya demi “perawatan
yang aman" saja. Ini tidak menyingkirkan pasien dengan
perintah “DNR (Do Not Resuscitate)“. Sebenamya pasien-
pasien ini mungkin mendapat manfaat dari tunjangan canggih
yang tersedia di ICU untuk meningkatkan kemungkinan
survivalnya.
2. Pasien dalam keadaan vegetatif permanen.
3. Pasien yang telah dipastikan mengalami mati batang otak.
Pasien-pasien seperti itu dapat dimasukkan ke ICU untuk
menunjang Nngsi organ hanya untuk kepentingan donor
organ.

Prosedur memasukkan pasien dan staf yang terlibat:


1. Dokter penangugjawab (DPJP) ICU wajib dihubungi jika
pasien memerlukan masuk ICU, baik secara elektif maupun
emergency.
2. Pemesanan tempat ICU untuk pasien pasca bedah elektif
dapat dilakukan pada hari sebelum operasi. Tetapi bila ada
yang masuk secara emergency, bisa mengubah ketersediaan
bed untuk operasi elektif. Oleh karena itu operasi - operasi
yang memerlukan ICU, ketersediaan bed di ICU harus dicek
lagi pada hari operasi, SEBELUM operasi dimuiai. Bila ICU
penuh pasien harus keruang rawat inap. Bila tidak ada bed
tersedia, operasi harus ditunda. Kasus — kasus khusus akan
dipertimbangkan kasus demi kasus.
3. Bila oeprasi tetap dilanjutkan walaupun tidak ada tempat
tersedia di ICU atau HCU, pasien dan ahli bedah harus
menerima dan bertanggungjawab atas kondisi pasca bedah
pasien diruang rawat inap
4. Bila kapasistas bed ICU untuk pasca bedah penuh, maka ahli
KRITERIA PASIEN MASUK ICU

RUMAH SAKIT
H. L. MANAMBAI
ABDULKADIR No Dokumen : No Revisi : Halaman :
00 7/7
.
bedah dari berbagai disiplin bedah akan diinformasikan

Pada kondisi dimana ruangan ICU tetap tidak tersedia, maka upaya
pemindahan ke ICU Iain harus diinformasikan kepada keluarga
pasien oleh petuges tim ICU atau dokter penanggungjawa pasien
(DPJP). Untuk kasus emergency, operasi masih dapat dilakukan
tetapi pascabedah ditransfer ke ICU rumah sakit lain. Tidak
dibolehkan untuk merawat pasien di ruang pulih dengan ventilator.

UNIT TERKAIT 1. ICU


2. HCU
3. Instalasi Gawat Darurat (IGD)
4. IBS
5. Ruang rawat inap